Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara alami tubuh mempunyai benteng yang dapat mencegah serangan
berbagai penyakit yang disebut antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa
penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan dapat menyelamatkan sel sel
tubuh dari kerusakan akibat adanya radikal bebas. Tubuh manusia
menghasilkan senyawa antioksidan, tetapi tidak cukup kuat untuk mengatasi
radikal bebas yang dihasilkan setiap harinya oleh tubuh sendiri. Kekurangan
antioksidan dalam tubuh membutuhkan asupan antioksidan dari luar. Contoh
sumber antioksidan yang baik adalah vitamin C (Hernani dan Rahardjo, 2005).
Vitamin C mempunyai fungsi fisiologis yang penting bagi tubuh. vitamin
ini berperan sebagai antioksidan yang tangguh yang dapat memperbaiki sistem
kekebalan tubuh. Kebutuhan vitamin C yang di anjurkan adalah sebesar 30-60
mg/hari (Kumalaningsih, 2006). Kekurangan asupan vitamin C dapat
menyebabkan penyakit skorbut. Efek yang lain vitamin C dalam dosis tinggi
dapat menyebabkan sakit kepala, peningkatan jumlah urin, diare dan mual.
Bagi seseorang dengan kecendrungan pembetukan batu ginjal (Bobroff, 2010).
Sumber vitamin C yang penting di dalam makanan terutama berasal dari
buah buahan yaitu jeruk manis(Sediaoetama, 2008). Pada umumnya buah
jeruk merupakan sumber vitamin C yang berguna untuk kesehatan manusia.
Sari buah jeruk mengandung 40-70 mg vitamin C per 100 g bahan tergantung
varietasnya. Makin tua buah jeruk, biasanya makin berkurang kandungan

vitamin C nya. Vitamin C terdapat dalam sari buah, daging, terutama lapisan
terluar kulit buah(Pracaya, 2000).
Jeruk manis (Citrus Sinensis, L) merupakan komoditi hasil pertanian
Indonesia yang sangat diminati konsumen dari dalam dan luar negeri(Silalahi,
2006). Buah jeruk tersedia sepanjang tahun, karena tanaman jeruk tidak
mengenal musim berbunga yang khusus, serta dapat ditanam dimana saja, baik
di dataran rendah maupun di dataran tinggi(Ayu, 2014). Menurut Dinas
Pertanian Kota Batu(2010), produksi jeruk di Kota Batu pada tahun 2010
sebanyak 24,554 ton. Hasil produksi tergantung iklim dan kondisi tanah. Buah
jeruk dapat di konsumsi langsung sebagi buah segar. Jeruk manis berkulit
tebal kurang lebih 4 mm, berbentuk bulat, pada kulit luar berwarna hijau
sampai jingga atau orange, warna daging buah kuning-pucat sampai dengan
kuning segar. Kandungan kimia buah jeruk manis adalah sukrosa10,08%,
asam sitrat 0,113%, vitamin C 52,49%(Soelarso, 1996).
Jeruk termasuk komoditas holtikultura yang mempunyai sifat bawaan
mudah rusak karena mengandung banyak air. Buah jeruk harus mendapatkan
teknologi pascapanen yang tepat agar kesegaran sekaligus umur simpanya
dapat bertahan lama. Buah jeruk segar setelah dipetik masih melangsungkan
proses biokimia. Proses tersebut menurunkan mutu kesegaran buah jeruk yang
dapat

dilihat

dari

penampakan,

susut

bobot

dan

penurunan

nilai

gizinya(Handoko, et al.,2000). Untuk mendapatkan hasil yang baik, suhu


ruang penyimpanan dijaga agar stabil. Suhu optimumuntuk penyimpanan buah
jeruk adalah 5-100 C. Jika suhu nterlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan
buah.(Sutopo, 2011). Selain itu dalam penyimpanan terjadi perubahan

komposisi kimia khususnya senyawa-senyawa yang labil seperti vitamin C


akibat proses oksidasi(Pracaya, 2003). Proses oksidasi dapat menyebabkan
berkurangnya vitamin C, karena vitamin C sangat peka terhadap oksidasi
terutama oleh adanya enzim vitamin C oksidase yang terdapat dalam jaringan
tanaman(Sinurat, 2012)
Metode yang dikembangkan untuk penentuan kadar Vitamin C yaitu
Spektrofotometri UV-Vis. Metode ini berdasarkan pada kemampuan vitamin C
yang terlarut dalam air untuk menyerapa sinar ultraviolet, dengan panjang
gelombang maksimum pada 265 nm. Sehingga vitamin C dalam larutan
mudah sekali mengalami kerusakan, maka pengukuran dilakukan secepat
mungkin (Moffat, 2005). Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk
penetapan kadar vitamin C yang mempunyai ikatan yang akan memberikan
serapan kuat dalam daerah UV apabila terkonjugasi satu dengan lainya
(Wardani, 2012). Kelebihan dari Metode Spektrofotometri UV-Vis adalah
panjang gelombang dari sinar putih dapat terseleksi, caranya sederhana, dan
dapat menganalisa larutan dengan konsentrasi sangat kecil. Kekurangan dari
metode ini adalah sinar yang dipakai harus monokromatis (Dewinta, 2014).
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan penelitan kadar Vitamin C
dalam Jeruk Manis dilihat dari lama penyimpanan, untuk mengetauhi
perbandingan hasil kadar Vitamin C dengan menggunakan metode
Spektrofotometri UV-Vis, dimana diketauhi pada buah jeruk jeruk dengan
lama penyimpanan yang berbeda akan berpengaruh terhadap kadar vitamin C.
B. Rumusan Masalah
1.
Berapa kadar vitamin C pada buah jeruk manis(Citrus Sinensis L) dengan
metode Spektrofotometri UV-Vis?

2.

Bagaimana pengaruh lama penyimpanan terhadap kadar vitamin C pada


buah jeruk manis(Citrus Sinensis L) dengan metode Spektrofotometri UV-

Vis ?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
a. Mengetauhi kadar vitamin C pada buah jeruk manis(Citrus Sinensis
L) dengan metode Spektrofotometri UV-Vis.
b. Mengetauhi ada atau tidaknya perbedaan kadar vitamin C pada buah
jeruk manis(Citrus Sinensis L) yang disebabkan oleh perbedaan lama
penyimpanan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis.
2. Tujuan khusus
a. Mengetauhi kadar vitamin C pada buah jeruk manis(Citrus Sinensis L)
dengan metode Spektrofotometri UV-Vis Penyimpanan 1 hari,
Penyimpanan 7 hari, dan Penyimpanan 14 hari.
D. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
a. Menambah wawasan penulis tentang cara penetapan kadar Vitamin C
pada buah jeruk manis(Citrus Sinensis L).
b. Menambah informasi tentang metode yang digunakan untuk
menganalisa Vitamin C dalam buah jeruk manis(Citrus Sinensis L).
c. Menambah wawasan mengenai pengaruh lama penyimpanan terhadap
kadar vitamin C pada buah jeruk manis(Citrus Sinensis L) secara
Spektrofotometri UV-Vis.
2. Bagi Masyarakat
a. Memberi informasi pada masyarakat tentang kandungan vitamin C
pada buah jeruk manis(Citrus Sinensis L) dengan perbedaan lama
penyimpanan.
3. Bagi Institusi
a. Diharapkan dari penelitian ini, dapat memberikan bahan evaluasi dan
masukan guna penelitian selanjutnya di bidang analisa makanan dan
minuman.

E. Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah :
Buah Jeruk segar yang digunakan diperoleh dari Petani Jeruk di daerah Dau,
Batu.
F. Penelitian Terkait
Adapun penelitian Penetapan kadar Vitamin C telah dilakukan Peneliti
sebelumnya, diantaranya :
1. Maria Angelina Nova, 2007, Penetapan kadar Vitamin Cpada buah Jeruk
Manis (Citrus Sinensis L) dfengan metode Iodimetri.
2. Sundari Ayu Wardani, 2014, Penetapan Kadar Vitamin C dalam Daging
dan Kulit Buah Jeruk Keprok (Citrus reticulata).
3. Yunita Herwidiani Setiawani, 2014 , Perbandingan Kadar Vitamin C pada
Buah Nanas Segar dan Buah Nanas Kalengan dengan Metode
Spektrofotometri UV-Vis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan tentang Jeruk Manis(Citrus Sinensis L)
1. Jeruk manis
Tanaman jeruk dikenal dengan nama latin Citrus sinensis L.
Tumbuhan ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah
tropis dan subtropis. Jeruk manis dapat beradaptasi dengan baik didaerah
tropis pada ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut dan udara
senantiasa

lembab,

serta

mempunyai

persyaratan

air

tertentu

(Rismunandar, 1986). Tanaman jeruk manis dapat mencapai ketinggian


3-10 m. Tangkai daun 0,5-3,5 cm. Daun berbentuk elips atau bulat telur
memanjang. Buah jeruk berbentuk bulat atau bulat rata dan memiliki
kulit buah yang tebal (sekitar 0,3 0,5 cm), daging buah kuning, jingga
atau kemerah-merahan. Daging buah terbagi-bagi atas 8-13 segmen yang
mengelilingi sumbu buah. Biji jeruk berbentuk bulat telur dan berwarna
putih atau putih keabuan (Steenis, 1987).
Buah jeruk manis mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi, banyak
mengandung vitamin C untuk mencegah penyakit sariawan dan
menambah selera makan. Selain vitamin C, buah jeruk mengandung
vitamin dan mineral lainnya yang berguna untuk kesehatan. Bila kita
memakan jeruk manis setiap hari, maka tubuh akan sehat (Pracaya,
2000).
Sebagai komoditas hortikultura, buah jeruk segar pada umumnya
memiliki sifat mudah rusak karena mengandung banyak air dan setelah
dipanen komoditas ini masih mengalami proses hidup, yaitu proses

respirasi, transpirasi dan pematangan. Buah jeruk harus mendapatkan


teknologi pascapanen yang tepat agar kesegaran sekaligus umur
simpannya dapat bertahan lama (Handoko, et al., 2000).
Buah jeruk segar setelah dipetik masih melangsungkan proses
hidup. Beberapa proses hidup yang penting pada buah jeruk adalah
respirasi, transpirasi, dan proses pematangan buah. Proses (sifat)
biokimia tersebut menurunkan mutu kesegaran buah jeruk yang dapat
dilihat dari penampakan, susut bobot dan penurunan nilai gizinya
(Handoko, et al., 2000).
Penyimpanan di ruang dingin dapat mengurangi aktivitas respirasi
dan metabolisme, pelunakan, kehilangan air dan pelayuan, kerusakan
karena aktivitas mikroba. Jeruk yang disimpan hendaknya bebas dari
lecet kulit, memar, busuk dan kerusakan lainnya. Untuk mendapatkan
hasil yang baik, suhu ruang penyimpanan dijaga agar stabil. Suhu
optimum untuk penyimpanan buah jeruk adalah 5 10oC. Jika suhu
terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan buah (Sutopo, 2011),

2. Klasifikasi Jeruk manis


Jeruk manis disebut juga jeruk peras mempunyai nama ilmiah
Citrus sinensis L. Klasifikasi tanaman jeruk manis sebagai berikut
ini(Pracaya, 2010):
Kingdom : Plantae (Tumbuhan )
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super divisi : Spermatophyta ( Menghasilkan biji )
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : magnoliopsida ( berkeping dua/ dikotil )
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales

Family : Rutaceae ( suku jeruk-jerukan)


Genus : Citrus
Spesies : Citrus sinensis L

3. Komposisi Kimia dan Nilai Gizi Buah Jeruk Manis


Adapun komposisi kimia buah jeruk manis dapat dilihat pada Tabel
berikut:
Tabel II.1 Komposisi kimia per 100 g sari buah jeruk manis
Komponen
Jumlah
Kalori (Kal)
44,0
Protein (g)
0,8
Lemak (g)
0,2
Karbohidrat (g)
11,0
Kalsium (mg)
19,0
Fosfor (mg)
16,0
Vitamin A(SI)
190,0
Vitamin B1 ( mg)
0,08
Vitamin C (mg)
49,0
Air (g)
87,5
Departemen kesehatan RI (1989)
Komposisi buah jeruk terdiri dari bermacam - macam, diantaranya
air 70-92 % (tergantung kualitas buah), gula, asam organik, asam amino,
vitamin, zat warna, mineral dan lain-lain. Kandungan asam sitrat pada
waktu cukup muda, tetapi setelah buah masak makin berkurang.
Kandungan asam sitrat jeruk manis yang telah masak akan berkurang
sampai duapertiga bagian (Pracaya, 2000).
Pada umumnya buah jeruk merupakan sumber vitamin C yang
berguna untuk kesehatan manusia. Sari buah jeruk mengandung 40-70
mg vitamin C per 100 g bahan, tergantung jenisnya. Makin tua buah
jeruk, biasanya makin berkurang kandungan vitamin C-nya. Vitamin C
terdapat dalam sari buah, daging dan kulit, terutama pada lapisan terluar
kulit buah (Pracaya, 2000).
4. Varietas Jeruk Manis

Jeruk manis dalam bahasa inggris disebut sweet orange dengan


nama ilmiah Citrus sinensis L. Jeruk manis pada dasarnya dikonsumsi
sebagai buah peras, disebut jeruk manis karena rasanya manis, tetapi ada
juga yang rasanya manis disertai rasa asam sedikit, sehingga bisa
menambah rasa segar bila dimakan atau diminum sebagai sari buah.
Jeruk manis mempunyai banyak jenis atau varietas.
Di Indonesia terdapat beberapa varietas jeruk manis yang telah
beradaptasi baik di berbagai daerah, sering kali jeruk manis disebut pula
dengan nama daerah asalnya, adapun varietas jeruk manis di indonesia
diantaranya sebagai berikut:
a. Jeruk Manis Pacitan
Ciri khas jeruk pacitan adalah rasanya yang manis tanpa
asam, kulitnya tipis dan lunak, berbentuk buahnya bulat ke
samping, produktivitas buah mencapai 4 kuintal/ pohon/ tahun
dan warna kuning pucat. Buah jeruk manis pacitan memiliki
bentuk bulat dengan bagian atas hampir meruncing dan bagian
bawah mendatar. Kulitnya lebih tebal dibandingkan dengan jeruk
siam. Daging buahnya berwarna kuning atau merah orange,
rasanya manis, kandungan air dalam dagingnya banyak dan
buahnya sangat rapat satu sama lain. Jeruk varietas ini telah
ditanam dipacitan sejak 1920-an yang didatangkan dari dusun
b.

Gobeg, desa Jetak, kecamatan Tulakan, kabupaten Pacitan.


Jeruk Manis Sunkis Lau Kawar
Jeruk manis varietas sunkis lau kawar dikembangkan
dikecamatan simpang empat kabupaten Kari (Sumatera Utara).
Jeruk ini ditandai dengan rasanya yang manis, kulit buah halus

berbintik-bintik, bentuk buah bulat dan terdapat semacam pusar


(udel) pada pantatnya, bewarna kuning kemerah-merahan atau
orange, tekstur daging buah agak keras, kandungan airnya banyak
c.

dan rasanya manis.


Jeruk Manis Sunkis atau Washington Orange (WNO)
Jeruk manis varietas ini sangat popular di pasar dunia. Ciri
khas jeruk bentuknya kecil, bersifat parthenocarpi (tak berbiji),
kulit buah yang masak berwarna kuning menarik dan hanya cocok
ditanam di dataran tinggi. Didataran rendah buahnya tidak akan

d.

masak kuning dan rasanya menjadi campah.


Jeruk Manis Medan
Jeruk manis medan merupakan produk buah yang berasal
dari Sumatera Utara. Jeruk medan memiliki nama ilmiah Citrus
sinensis. Buah jeruknya berukuran sedang, tangkainya kuat.
Bentuknya bulat, bulat lonjong atau bulat rata (papak) dengan
bagian dasar, ujungnya bulat, bergaris tengah 4-12 cm. buahnya
masak bewarna orange, kuning atau hijau kekuningan bebau
sedikit harum, agak halus, tidak berbulu, kusam dan sedikit
mengkilat. Kulit buahnya tebalnya 0,30-0,5 cm, dari tepi bewarna
kuning atau orange tua dan makin ke dalam bewarna kekuningan
sampai putih, berdaging dan kuat melekat pada dinding

buah(Pracaya, 2000).
5. Kegunaan Jeruk Manis
Buah jeruk manis mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi, banyak
mengandung vitamin C untuk mencegah penyakit sariawan dan
menambah selera makan. Selain vitamin C, buah jeruk mengandung

vitamin dan mineral lainnya yang berguna untuk kesehatan. Bila kita
memakan jeruk manis setiap hari, maka tubuh akan sehat (Pracaya,
2000).
Jeruk manis mengandung betakaroten dan bioflavanoid yang dapat
memperkuat dinding pembuluh darah kapiler. Pektinnya juga banyak
terdapat dalam buah dan kulit jeruk, manfaatnya membantu
menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol
baik (HDL). Jeruk juga berlimpah kandungan flavanoidnya yang
berfungsi sebagai antioksidan menangkap radikal bebas penyebab
kanker juga menghalangi reaksi oksidasi LDL yang menyebabkan darah
mengental dan mencegah pengendapan lemak pada dinding pembuluh
darah. (Prahasta, 2010)
Jeruk juga kaya akan kandungan gula buah yang dapat
memulihkan energi secara cepat. Serat jeruk dapat mengikat zat
karsinogen didalam saluran pencernaan sehingga dapat menghindari
sembelit, wasir dan kanker kolon. Dipercaya dapat menyembuhkan
penyakit batuk, demam, dan membuat suara merdu (Prahasta, 2010).
B. Tinjauan tentang Vitamin C
Vitamin C adalah kristal putih yang mudah larut dalam air. Dalam
keadaan kering vitamin C cukup stabil, tetapi dalam keadaan larut, vitamin C
mudah rusak karena bersentuhan dengan udara(oksidasi) terutama bila
terkena panas. Oksidasi dipercepat dengan kehadiran tembaga dan besi.
Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali, tetapi cukup stabil dalam larutan
asam. Vitamin C adalah vitamin yang paling stabil(Almatsier, 2009).
Vitamin C bisa disebut juga asam askorbat sebagai antisariawan. Tahun
1790 diketauhi bahwa jeruk dapat menyembuhkan sariawan dimulut . sifatnya

yang mudah teroksidasi ini dapat melindungi zat lain dari pengaruh oksidasi
udara. Oleh karena itu vitamin C popular dengan antioksidan(Panil, 2007).
Angka kecukupan gizi harian(AKG) untuk vitamin C terutama
berdasarkan pola pencegahan defisiensi daripada pencegahan penyakit kronis
dan peningkatan kesehatan yang optimum, individu yang merokok
memerlukan tambahan sebesar 35 mg/ hari vitamin C yang melebihi
kebutuhan yang bukan perokok.
Tabel II.2 Angka Kecukupan Gizi Vitamin C yang dianjurkan
Wanita mg/hari
19 th dan lebih
75
Kehamilan
85
Menyusui
120
(sumber : Gorber, 2012)
Tabel II.3 Angka Kecukupan Gizi Vitamin C
Golongan
Umur
0-6 bln
7-11 bln
1-3 th
4-6 th
7-9 th

AKC **)
(mg)
40
40
40
45
45

Pria mg/hari
90

Golongan
Umur
wanita
10-21 th
13-15 th
16-18 th
19-29 th
30-49 th
50- 64 th
65 th

Pria :
10-12 th
50
13-15 th
75
Hamil
16-18 th
90
19-29 th
90
Menyusui
30-49 th
90
0-6 bln
50-64 th
90
7-12 bln
65 th
90
Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004
**) Angka Kecukupsn Vitamin C

AKC **)
(mg)
50
65
75
75
75
75
75
+ 10
+ 25
+ 25

1. Susunan kimia vitamin C


Asam askorbat (vitamin C) dalah turunan heksosa dan
klasifikasikan

sebagai

karbohidrat

yang

erat

kaitanya

dengan

monosakrida. Vitamin C terdapat dalam dua bentuk di alam, yaitu Lasam askorbat(bentuk tereduksi) dan L-asam dehidro askorbat (bentuk
teroksidasi). Oksidasi bolak-balik L-asam dehidro askorbat terjadi
apabila

bersentuhan

dengan

tembaga,

panas,

atau

alkali(Akhilender,2003).

Gambar II.1 Struktur Vitamin C (Asam askorbat) (Hart,1987)


2. Sumber Vitamin C
Vitamin C pada umumnya hanya terdapat didalam pangan
nabati, yaitu sayur dan buah terutama yang asam, seperti jeruk, nanas,
rambutan, pepaya, dan tomat, vitamin C juga banya terdapat didalam
sayuran daun-daunan jenis kol. Kandungan Vitamin C beberapa bahan
makanan dapt dilihat pada tabel berikut(Almatsier, 2009):
Tabel II.4 Nilai Vitamin C Berbagai Bahan Makanan(mg/100 g)

No.
1.

Bahan

Mg

No.

Bahan

Mg

makanan
Daun singkong

275

13.

makanan
Jambu

197
110

2.

Daun katuk

200

14.

monyet buah
Gandaria

3.

Daun melinjo

150

15.

(masak)
Jambu biji

95

4.

Daun pepaya

140

16.

Pepaya

78

5.

Sawi

102

17.

Mangga muda

65

6.

Kol

50

18.

Mangga

41

7.

Kol kembang

65

19.

masak pohon
Durian

53

8.

Bayam

60

20.

Kedondong

50
49

Kemangi

50

21.

masak
Jeruk manis

10. Tomat masak

40

22.

Jeruk nipis

27

11. Kangkung

30

23.

Nanas

24

pohon 30

24.

Rambutan

58

9.

12. Ketela

kuning
Sumber : Daftar Analisa Bahan Makanan, FKUI, 1992
3. Fungsi Vitamin C
Asam askorbat bersifat reduktor sehingga dapt digunakan sebagai
antioksidan.
Selain itu asam askorbat memiliki fungsi antara lain:
a)
Merangsang pembentukan jaringan ikat

b)
c)
d)
e)

Memperkuat epitel
Pertumbuhan tulang dan gigi
Memperkuat dinding pembuluh darah
Menurunkan kadar kolesterol(Panil,2007).
Penelitian menunjukkan bahwa vitamin C memegang peranan
penting dalam mencegah timbulnya aterosklerosis. Vitamin C
mempunyai hubungan dengan metabolisme kollesterol. Kekurangan
vitamin C dapat meningkatkan sintesis kolesterol. Kekurangan vitamin
C dapat meningkatkan sintesis kolesterol. Peran vitamin C dalam
metabolisme kolesterol adalah melalui cara:
a) Vitamin C meningkatkan laju kolesterol dibuang dalam bentuk
asam empedu.
b) Vitamin C meningkatkan kadar HDL, tingginya kadar HDL akan
menurunkan resiko penyakit aterosklerosis.
c) Vitamin C dapat berfungsi sebagai pencahar sehingga dapat
meningkatkan pembuangan kotoran(Khomsan, 2010).
Studi yang dilakukan WHO (1976) menyimpulkan bahwa
progresi pengapuran koroner bertambah sebesar 3% per tahun sejak
usia seseorang melewati 20 tahun. Kenyataan ini membuktikan bahwa
progresivitas pengapuran pembuluh koroner sesungguhnya memang
menggulir secara tersembunyi dan meniumbulkan bahaya yang bersifat
laten. Penelitian klinis menunjukkan bahwa vitamin C menunjukkan
menurunkan kolesterol dan trigliserida pada orang-orang yang
mempunyai kadar kolesterol yang tinggi, tetapi tidak pada orang-orang
yang mempunyai kadar kolesterol yang normal. Ini membuktikan
bahwa vitamin C berperan sebagai homeostatis. Konsumsi vitamin C 1

g per hari setelah tiga bulan akan menurunkan kolesterol 10% dan
trigliserida 40%(Khomsan, 2010).
4. Metabolisme vitamin C
Vitamin C mudah diabsorbsi secar aktif dan mungkin pula secara
difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke peredaran darah
melalui vena porta. Rata-rata absorbsi adalah 90% untuk konsumsi
antar 20-120 mg sehari. Konsumsi tinggi sampai 12 g (sebagai pil)
hanya diabsorbsi sebanyak 16%. Vitamin C kemudian dibawa kesemua
jaringan. Konsentrasi tertinggi adalah didalam jaringan adrenal,
pituitari, dan retina.
Tubuh dapat menyimapn hingga 1500 mg vitamin C bila
konsumsi mencapai 100 mg sehari. Jumlah ini dapat mencegah
terjadinya skorbut selama 3 bulan. Tanda-tanda skorbut terjadi bila
persediaan tinggal 300 mg, konsumsi melebihi taraf kejenuhan berbagai
jaringan dikeluarkan melalui urine dalam bentuk asam askorbat. Pada
konsumsi melebihi 100 mg sehari kelebihan akan dikeluarkan sebagai
asam askorbat atau sebagai karbon dioksida melalui pernafasan.
Walaupun tubuh mengandung sedikit vitamin C sebagian tetap akan
dikeluarkan. Makanan yang tinggi dalam seng atau pektin dapat
mengurangi absorpsi sedangkan zat-zat didalam ekstrak jeruk dapat
meningkatkan absorpsi.
Status vitamin C tubuh ditetapkan melalui tanda-tanda klinik
antara lain, peredaran gusi dan pendarahan kapiler dibawah kulit. Tanda
dini kekurangan vitamin C dapat diketauhi bila kadar vitamin C darah
dibawah 0,20/dl(Almatsier,2009).
5. Kelebihan dan kekurangan vitamin C

Gejala awal hipovitaminosis C adalah mudah tersinggung,


gangguan emosi, hiperkeratosis, folikel rambut, pendarahan hidung.
Kekurangan vitamin C juga menyebabkan terhentinya pertumbuhan
tulang(Rosmiati dan wardini, 1995).
Kelebihan vitamin C dapat menimbulkan efek toksik yang serius,
yaitu batu ginjal, hiperoksaluria, diare yang berlangsung terus menerus,
serta iritasi mukosa saluran cerna(Fernandes, 2006).kelebihan vitamin
C dapat berefek pada sistem saluran kemih(Warner, 2007)
C. Tinjauan tentang Spektrofotometri UV-Vis
1. Spektrofotometri
Spektroskopi adalah studi mengenai interaksi cahaya dengan
atom dan molekul. Radiasi cahaya dan elektromagnetik dapat dianggap
menyerupai gelombang(Creswell et al., 2005). Teknik spektroskopi
adalah adalah salah satu teknik analisis fisiko-kimia yang mengamati
tentang interaksi atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik
(REM). Pada prinsipnya interaksi REM dengan molekul akan
menghasilkan satu atau dua macam dari tiga kejadian yang mungkin
terjadi. Ketiga macam kejadian yang mungkin terjadi sebagai akibat
interaksi atom molekul dengan REM adalah hamburan (scattering),
absorpsi (absorption), dan emisi (emision) REM oleh atom atau molekul
yang diamati Ada 2 macam instrumen pada teknik spektroskopi yaitu
spektrometer

dan

spektrofotometer.

Instrumen

yang

memakai

monokromator celah tetap pada bidang fokuys disebut spektrometer.


Spektrometer dilengkapi dengan detektor yang bersifat fotoelektrik maka
disebut spektrofotometer(Mulja dan Suherman, 1995).

Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang


terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan
sinar dari dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu. Fotometer
adalah alat pengukur intensitas cahay yang ditransmisikan, direfleksikan,
dan diemisikansebagai fungsi dari panjang gelombang. Kelebihan
spektrofotometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari
sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai
seperti prisma, gratis, atau celah optis(Khopkar,1990).
Hamburan REM oleh atom atau molekul

melahirkan

spektrofotometri Raman, absorpsi melahirkan spektrofotometri UV-Vis


dan infra merah sedangkan absorpsi yang disertai emisi melahirkan
fotoluminrsensi yang kemudian lebih dikenal sebagai flouresensi dan
fosforesensi. Dari bermacam-macam metode spektrofotometri tersebut
diatas, antara satu dengan yang lain memberikan kegunaan dan
keunggulan yang berbeda-beda dalam bidang analisis instrumen. Untuk
lebih memahami kegunaan dan keunggulan masing-masing metode
spektrofotometri
mendasarnya.

tersebut
Sebelum

terlebih

dahulu

membahas

harus

dipahami

masing-masing

teori

metode

spektrofotometri secara luas akan lebih baik secara umum terlebih dahulu
dibahas tentang REM, struktur molekul dan kejadian sebagai akibat
interaksi molekul dengan REM (Mulja dan Suharman, 1995).
Radiasi elektromagnetik atau cahaya merupakan suatu bentuk
energi yang tingkah lakunya digambarkan dengan sifat-sifat gelombang
dan partikel. Sifat-sifat optis radiasi elektromagnetik seperti difraksi

paling sesui dijelaskan dengan menggambarkan cahaya sebagai suatu


gelombang. Beberapa interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan
materi absorpsi dan emisi lebih baik dijelaskan dengan memperlakukan
cahaya sebagai suatu partikel (Gandjar dan Rohman,2012).
2. Spektrofotometeri UV-Vis
Spektrofotometri UV-Vis merupakan salah satu teknik analisis
spektroskopi yang memakai sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet
dekat (190-380) dan sinar tampak (380-780) dengan memakai instrumen
spektrofotometer. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik
yang cukup besar pada molekul yang dianalisi sehingga spektrofotometri
UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif daripada
kualitatif(Muldja dan Suherman, 1995).
Spektrofotometer UV-Vis dapat melakukan penentuan terhadap
sampel yang berupa larutan, gas, atau uap. Untuk sampel yang berupa
larutan harus diperhatikan pelarut yang dipakai antara lain(Muldja dan
Suherman, 1995):
a. Pelarut yang dipakai tidak mengandung sistem ikatan rangkap
terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna.
b. Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis.
c. Kemurnianya harus tinggi atau untuk derajat analisis.
Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai
berikut. Tempatkan larutan pembanding misalnya blanko dalam sel
pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua.
Kemudian pilih fotosel yang cocok 200-650 nm (650-1100 nm) agar
daerah panjang gelombang yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang
fotosel dalam keadaan tertutup 0 galvanometer didapat dengan
memutar tombol sensivitas. Dengan menggunakan tombol transmittan,

kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada


larutan sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan
absorbansi sampel(Khopkar, 2008).
Prinsip kerja dari spektrofotometri yaitu adanya interaksi dari
energi

radiasi

elektromagnetik(REM)

dengan

zat

kimia

yang

menimbulkan hamburan absorbsi. Dengan cara membandingkan absorbsi


energi radiasi pada suatu panjang gelombang tertentu oleh suatu larutan
contoh yterhadap larutan standard(Sastrohamidjojo,1991).
Perhitungan Penggunaan spektrofotometri serapan

dalam

penetapan kadar dan pengujian umumnya mempersyaratkan penggunaan


pembanding. Beberapa pengukuran, terutama pada penetapan kadar,
rumus yang ada digunakan untuk menghitung hasil yang diinginkan.
Bilangan konstanta biasanya termasuk dalam rumus. Penurunan rumus
berikut menunjukkan pendekatan logika pada penetapan kadar konstanta
yang terdapat pada rumus penetapan kadar yang tertera pada beberapa
monografi (Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2008).
Hubungan Hukum Lambert-Beer absah untuk larutan
pembanding (P) dan larutan uji (U)
(1) Ap = abCp
(2) Au= abCu
Ap adalah serapan larutan pembanding, Cp adalah konsentrasi
larutan pembanding, Au adalah serapan larutan uji dan Cu adalah
konsentrasi larutan uji. Jika Cp dan Cu ditunjukkan dengan unit yang sama
dan serapan dari kedua larutan diukur menggunakan sel.
Pembanding yang mempunyai dimensi yang sama, daya serap
(a) dan ketebalan sel (b) sama, maka kedua rumus dapat digabung untuk
menetapkan Cu

(3) Cu = Cp

Au
Ap

Jumlah contoh uji bentuk padat yang digunakan untuk analisis


biasanya dinyatakan dalam mg. Petunjuk pengenceran diberikan pada
penetapan kadar dan konsentrasi enceran larutan yang digunakan untuk
pengukuran serapan, biasanya dinyatakan dalam g per mL. Jumlah
dalam mg bahan uji dari senyawa atau bentuk sediaan padat untuk
analisis, mengikuti volume (Vu) dalam L, konsentrasi (Cu) yang didapat
dari jumlah zat uji yang terkandung dalam bobot (Wu) dalam mg dari
senyawa [Catatan Cu dinyatakan dalam g per mL atau mg per L].
(4) Wu = VuCu
Bentuk rumus yang ditunjukkan pada penetapan kadar dalam
monografi zat padat dapat diturunkan dengan mengganti Cu pada rumus
(3) ke dalam rumus (4). Pada rangkuman digunakan rumus (4) dengan
pertimbangan keperluan konversi beberapa unit untuk mencapai
kesamaan pada rumus (5), hingga diperoleh rumus akhir
Au
(5) Wu = VuCp Ap
Penurunan yang sama digunakan pada rumus yang tertera pada
moografi untuk zat cair yang kadarnya ditetapkan dengan menggunakan
metode spektrofotometri serapan. Untuk sediaan cair, hasil perhitungan
umumnya dinyatakan dalam jumlah mg bahan tiap mL sediaan. Jadi
perlu untuk memasukkan dalam rumus tambahan persyaratan volume (V)
dalam mL larutan uji yang digunakan (Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan, 2008).
Penetapan kadar pada daerah sinar tampak biasanya digunakan
untuk membandingkan kesesuaian serapan Larutan Uji dan Larutan

Pembanding yang mengandung sejumlah Pembanding yang lebih kurang


sama.

Pada

keadaan

tertentu,

dibolehkan

tidak

menggunakan

Pembanding. Hal ini dapat dilakukan jika kadar ditetapkan dengan


menggunakan metode spektrofotometri. Untuk analisa rutin dibuat kurva
baku dari Larutan Pembanding sebelumnya. Kadar Larutan uji dapat
ditetapkan dengan menginterpolasikan pada kurva baku (Dirjen Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2008).
Kurva baku harus selalu dikonfirmasi secara teratur, dan dibuat
baru pada penggunaan spektrofotometer atau pereaksi baru (Dirjen Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2008).
Penetapan kadar dengan metode spektrofotometri lebih baik
dilakukan dengan penyiapan langsung dan menggunakan kurva baku.
Jika penetapan kadar dilakukan tidak rutin, jangan gunakan kurva baku
tetapi gunakan perbandingan langsung dengan Pembanding yang
jumlahnya lebih kurang setara dengan bahan uji dan diperlakukan sama
(Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2008).
Perbandingan Visual Jika warna atau kekeruhan dibandingkan
secara langsung, tabung pembanding warna yang digunakan, diameter
dalam dan semua bahan yang digunakan harus sesuai. Untuk pembanding
warna, tabung harus dapat dilihat dari bagian atas pada latar belakang
putih dengan sumber cahaya berasal dari dasar tabung. Untuk
pembanding kekeruhan, tabung harus dapat dilihat secara horisontal
dengan latar belakang gelap dan sumber cahaya langsung dari sisi tabung
(Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2008).

Pada penetapan uji batas yang menggunakan pembanding warna


dalam dua wadah yang serupa (misal tabung pembanding padanan
warna), lebih baik menggunakan alat yang sesuai daripada dengan mata
telanjang(Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2008).
Kesalahan yang mungkin timbul dalam spektrofotometri antara
lain(Underwood,1986):
- Panjang gelombang yang dihasilkan tidak cocok dengan yang
-

tertera pada instrumen.


Ukuran kuvet yang tidak seragam
Kuvet yang kotor atau telah tergores
Adanya gelombang udara / gas dalam lintasan radiasi
Penempatan kuvet yang tidak tepat posisinya
Sidik jari yang dapat menyerap radiasi
Kurangnya ketelitian dan ketidaktepatan larutan contoh
Hal hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan

spektrofotometri UV-Vis terutama untuk senyawa yang semula tidak


berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visible karena
senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang
berwarna.

Berikut

tahapan-tahapan

yang

harus

diperhatikan

(Gandjar&Rohman, 2007).
a. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis
Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang di analisis tidak
menyerap pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah
dengan merubah menjadi senyawa lain atau direaksikan
dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang digunakan harus
memenuhi beberapa persyaratan yaitu(Gandjar&Rohman,
2007):
1. Reaksi selektif dan sensitif
2. Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel
3. Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama
b. Waktu operasional

Cara ini biasa digunakan untuk mengukur hasil reaksi atau


pembentukan warna. Tujuanya adalah untuk mengetauhi waktu
pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan
mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi
larutan.
c. Pemilihan panjang gelombang
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisa kuantitatif
adalah

panjang

gelombang

yang

mempunyai

absorbansi

maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara


absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku
pada konsentrasi tertentu. Ada beberapa alasan mengapa harus
menggunakan

panjang

gelombang

(Ganjar&Rohman, 2007):
1. Pada panjang gelombang

maksimal,

maksimal,
kepekaanya

yaitu
juga

maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut,


perubahan absorbansi untuk setiap konsentrasi adalah yang
paling besar.
2. Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva
absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum LambertBeer akan terpenuhi.
3. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang
disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan
akan kecil sekali, ketika digunakan panjang gelombang
maksimal.
d. Pembuatan kurva baku
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisi dengan
berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan

berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang


merupakan hubungan antara absorbansi(y) dan konsentrasi (x)
e. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara
0,2 sampai 0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai
transmittan. Anjuran ini berdasarkan anggapan bahwa kesalahan
dalam pembacaan T adalah 0,005 atau 0,5%
3. Penampilan spektra UV-Vis
Spektrofotometer UV/tampak mengumpulkan data pada kisaran
yang diinginkan dan akan menghasilkan spektrum senyawa yang
dianalisis sebagai suatu grafik yang menggambarkan transmitan (atau
sebagai absorban) (sumbu y) sebagai fungsi panjang gelombang (sumbu
x), dalam nanometer yang merupakan satuan yang disarankan untuk
digunakan dalam daerah ini dibanding cm-1 (Gandjar dan Rohman,2012).
Dalam spektroskopi, transmitan T merupakan suatu ukuran
penguatan

berkas

sinar

monokromatik

yang

didasarkan

pada

perbandingan antara intensitas sinar yang ditransmisikan (I) dan sinar


yang mengenai (I0) sesuai dengan apakah sampel ditempatkan, atau
tidak, pada jalan optik antara sumber sinar dan deterktor. T diekspresikan
sebagai fraksi atau sebagai persentase :
I
T= Io
%T =

I
Io

x 100

Absorbansi (dulunya dinamakan kerapatan optis) didefinisikan


dengan:
A = -log T
Spektra senyawa yang terekam dalam fase terkondensasi,
apakah sebagai senyawa murni atau dalam larutan, pada umumnya

muncul sebagai pita-pita serapan yang sedikit dan lebar, sementara pitapita serapan dari sampel dalam keadaan dan dan dijaga pada tekanan
rendah akan menghasilkan suatu spektra yang secara rinci disebut dengan
struktur halus. Untuk senyawa-senyawa dengan komposisi atomik
yang sederhana, membuat spektrofotometer mempunyai daya pisah yang
cukup tinggi, transisi-transisi fundamental akan muncul seolah-olah
terisolasi. Dalam situasi yang ekstrim seperti ini, posisi-posisi serapan
direkam dalam cm-1, suatu satuan yang paling baik digunakan untuk
penunjukan yang tepat dibanding nm (Gandjar dan Rohman,2012).
a. Kromofor (gugus penyerap)
Kromofor merupakan semua gugus atau atom dalam senyawa
organik yang mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak.
Pada molekul organik dikenal pula istilah auksokrom yang merupakan
gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas, seperti: -OH; -O;
-NH2; dan OCH3yang memberikan transisi n *. Terikatnya gugus
auksokrom pada gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita
absorpsi menuju ke panjang gelombang yang lebih besar (pergeseran
merah = pergeseran batokromik), dan kadang-kadang disertai dengan
peningkatan intensitas (efek hiperkromik)(Gandjar dan Rohman,
2012)
b. Pengaruh pelarut
Spektrum serapan UV senyawa-senyawa obat sebagian
tergantung pada pelarut yang digunakan untuk melarutkan obat. Suatu

obat dapat menyerap sinar UV dalam jumlah yag maksimal disuatu


pelarut dan akan menyerap secara minimal di pelarut yang lain.
Perubahan-perubahan nyata spectrum ini secara eksklusif karena
gambaran sifat-sifat pelarut, sifat pita serapan, dan sifat solut. Dengan
demikian, pemilihan pelarut untuk digunakan dalam spektroskopi UVVis merupaka sesuatu yang penting. Kriteria pertama untuk pelarut
yang bagus adalah bahwa pelarut tersebut harus tidak menyerap
radiasi UV di daerah yang sama yang mana daerah spectrum senyawa
yang akan dianalisis digunakan. Biasanya, pelarut yang tidak
mengandung sistem terkonjugasi merupakan pelaru tpilihan (pelarut
yang paling sesuai) untuk tujuan ini, meskipun pelarut-pelarut ini
bervariasi tergantung pada panjang gelombang terpendek yang mana
pelarut-pelarut untuk melarutkan senyawa-senyawa obat yang akan
dianalisis masih bersifat transparan terhadap radiasi UV (Gandjar dan
Rohman,2012).
Sebagai

contoh

air,

mempunyai

panjang

gelombang

terpendek yang transparan sebesar 190 nm; dengan demikian air dapat
digunakan untuk melarutkan senyawa obat pada panjang gelombang
>190 nm dan ini cocok untuk analisis UV-Vis, yang beroperasi pada
panjang

gelombang

200-800

nm

(>190

nm)

(Gandjar

dan

Rohman,2012).
Kriteria kedua untuk pelarut yang baik adalah pengaruhnya
pada struktur halus dan tajam (fine structure) pada pita serapan.
Pelarut non polar tidak berikatan hidrogen dengan senyawa yang

terlarut, dengan demikian spektrum senyawa halus dan tajam teramati.


Dalam pelarut polar, ikatan hidrogen membentuk kompleks senyawa
pelarut, dan struktur halus dan tajam tidak muncul (Gandjar dan
Rohman,2012).
Kriteria

ketiga

untuk

pelarut

yang

baik

adalah

kemampuannya untuk mempengaruhi panjang gelombang sinar yang


akan diabsorpsi melalui stabilitas baik keadaan dasar atau keadaan
tereksitasi. Dalam kebanyakan transisi *, molekul dalam
keadaan dasar relatif non polar, dan keadaan tereksita sinya lebih polar
disbanding keadaan dasar. Jika pelarut polar digunakan pada molekul
yang mengalami transisi ini, maka akan menyebabkan pelarut polar
berinteraksi (stabilisasi) lebih kuat dengan keadaan tereksitasi
dibanding dengan keadaan dasar, sehingga perbedaan energi transisi
* pada pelarut yang polar ini lebih kecil. Akibatnya dari peristiwa
ini adalah bahwa transisi * digeser kepanjang gelombang yang
lebih besar (pergeseran batokromik) disbanding panjang gelombang
semula (Gandjar dan Rohman,2012).
Sementara itu pada transisi n *, keadaan dasar lebih polar
dibandingkan dengan keadaan tereksitasi. Secara khusus, pelarutpelarut yang berikatan hidrogen akan berinteraksi secara lebih kuat
dengan pasangan elektron yang tidak berpasangan pada molekul
dalam keadaan dasar dibanding pada molekul dalam keadaan
tereksitasi. Sebagai akibatnya, transisi n * akan mempunyai energi
yang lebih besar sehingga panjang gelombang transisi akan digeser

kepanjang gelombang yang lebih pendek dibanding panjang


gelombang semula yang disebabkan oleh kemampuan untuk
membentuk ikatan hidrogen (polaritas) pelarut meningkat (Gandjar
dan Rohman,2012).
Ikatan terkonjugasi

merupakan

ikatan

rangkap

yang

berselang-seling dengan satu ikatan tunggal. Dalam orbital molekul,


elektron-elektron phi mengalami delokalisasi lanjut dengan adanya
ikatan terkonjugasi. Adanya efek delokalisasi ini akan menyebabkan
penurunan tingkat energi * dan memberikan pengurangan karakter
anti ikatan. Sebagai konsekuensinya panjang gelombang molekul yang
mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi akan mengalami pergeseran
batokromik (Gandjar dan Rohman,2012).
c. Pengaruh Suhu
Suhu rendah menawarkan pita serapan senyawa-senyawa
obat yang lebih tajam dibandingkan suhu kamar. Resolusi-resolusi
(daya pisah) vibrasional akan lebih baik pada suhu rendah karena dua
alasan, yaitu (1) level vibrasional yang ditempati lebih sedikit dan (2)
tingkat

interaksi

solute-pelarut

diminimalkan

(Gandjar

dan

Rohman,2012).
d. Ion-ion anorganik
Sifat kromoforik yang terdapat dalam senyawa-senyawa
anorganik ada 2 jenis, yaitu: (1) melibatkan beberapa atom seperti
permanganate (MnO4-) dan dikromat (Cr2O72-), dan

(2) yang

melibatkan atom-atom tunggal yakni atom-atom yang mempunyai


kulit elektron terluar d- yang tidak lengkap seperti senyawa-senyawa
yang mengadakan ikatan koordinasi dengan Be, Sr, Ra serta unsurunsur transisi seperti Cr, Mn, Ni, Pt, Ag, Pd, Cd, Hg, dan Au (Gandjar
dan Rohman,2012).
4. Instrumentasi Spektofotometer UV-Vis
Spektrofotmeter yang sesuai untuk pengukuran di daerah
spektrum ultraviolet dan sinar tampak terdiri dari sistem optik dengan
kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang
gelombang 200-800 nm. Suatu diagram sederhana spektrofotometer UVVis ditunjukkan dalam gambar II.3 dengan komponen-komponennya
meliputi sumber sinar, monokromatik, dan sistem optik (Gandjar dan
Rohman,2012).

monokromat
or

Sumber sinar celah

detekto
r

I0 sampel

0.381

tampilan

Blanko

Gambar II.3 Alur Kerja Spektrofotometer


Sinar

tampak

dipancarkan

melalui

monokromator.

Monokromator menguraikan sinar yang masuk dari sumber cahaya


tersebut menjadi pita-pita panjang gelombang yang diinginkan untuk
pengukuran suatu zat tertentu, yang menunjukkan bahwa setiap gugus
kromofor mempunyai panjang gelombang maksimum yang berbeda. Dari
monokromator tadi cahaya atau energi radiasi diteruskan dan diserap oleh
suatu larutan yang akan diperiksa di dalam kuvet. Kemudian jumlah
cahaya yang diserap oleh larutan akan menghasilkan signal elektrik pada
detektor, yang mana signal elektrik ini sebanding dengan cahaya yang
diserap oleh larutan tersebut. Besarnya signal elektrik yang dialirkan ke
pencatat dapat dilihat sebagai angka (Gandjar dan Rohman,2012).

a. Sumber sinar
Sumber sinar atau lampu pada kenyataannya merupakan 2
lampu yang terpisah, yang secara bersama-sama, mampu
menjangkau keseluruhan daerah spektrum ultraviolet dan tampak.
Untuk sinar tampak, digunakan lampu tungsten. Lampu ini
terbuat dari logam tungsten. Lampu tungsten mengemisi sinar
pada panjang gelombang 350-2000 nm, karenanya cocok untuk
kolorimetri (Gandjar dan Rohman,2012).
Untuk senyawa-senyawa yang menyerap di spektrum daerah
ultraviolet, digunakan lampu deuterium. Deuterium merupakan
salah satu isotop hidrogen, yang mempunyai satu neutron lebih
banyak dibanding hidrogen biasa dalam inti atomnya. Suatu
lampu deuterium merupakan sumber energi tinggi yang
mengemisikan sinar pada panjang gelombang 200-370 nm dan
digunakan untuk semua spektroskopi dalam daerah ultraviolet
(Gandjar dan Rohman,2012).

b. Monokromator
Pada kebanyakan pengukuran kuantitatif, sinar harus bersifat
monokromatik, yaitu sinar dengan satu panjang gelombang
tertentu. Hal ini dicapai dengan melewatkan sinar polikromatik
(yakni sinar dengan beberapa panjang gelombang) melalui suatu
monokromator.

Terdapat

jenis

monokromator

dalam

spektrofotmeter modern, yaitu prisma dan kisidifraksi (Gandjar


dan Rohman, 2012).
Prisma merupakan suatu lempeng kuarsa yang membiaskan
(atau

membelokkan)

sinar

yang

melaluinya.

Banyaknya

pembiasan tergantung pada panjang gelombang sinar, dengan


demikian sinar putih dapat terpecah kedalam warna penyusunpenyusunnya melalui suatu prisma. Prisma selanjutny berputar
untuk memilih panjang gelombang tertentu yang diperlukan untuk
pengujian. Pengaruh ini identik dengan pembentukan pelangi jika
sinar dari cahaya matahari terpecah kedalam 7 komponen
warnannya (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan violet)
melalui pembiasan tetesan-tetesan air hujan. (Gandjar dan
Rohman, 2012).

Suatu kisi difraksi merupakan kepingan kecil gelas bercermin


yang didalamnya terdapat sejumlah garis yang berjarak sama
yang terpotong-potong, beberapa ribu per millimeter kisi, untuk
memberikan struktur yang nampak seperti suatu sisir kecil. Jarak
antar potongan kurang lebih sama dengan panjang gelombang
sinar sehingga berkas sinar monokromatik akan terpisah kedalam
kompone-komponen panjang gelombangnya oleh suatu kisi
(Gandjar dan Rohman, 2012).
c. Detektor
Setelah sinar melalui sampel, maka penurunan intensitas
apapun yang disebabkan oleh absorpsi diukur dengan suatu
detektor. Detektor biasanya merupakan kepingan elektronik yang
disebut dengan tabung pengganda foton, yang bereaksi untuk
mengubah intensitas berkas sinar kedalam sinar elektrik yang
dapat diukur dengan mudah, dan juga beraksi sebagai suatu
pengganda (amflifier) untuk meningkatkan kekuatan sinyal. Sinar
masukketabungdanmengenaikatoda; hal ini akan melepaskan
elektron, yang akan tertarik pada suatu anoda. Ketika elektron
menyerang/mengenai anoda ini maka akan melepas beberapa
elektron, yang tentunya, akan tertarik pada anoda, yang mana
proses ini akan terulang. Dalam cara ini, suatu aliran elektron
dihasilkan dan sinyal dikuatkan/diamflifikan (Gandjar dan
Rohman, 2012).

Begitu sinyal elektrik meninggalkan tabung penganda foton,


maka sinyal elektrik tersebut akan menuju perekam untuk
menampilkan

spektrum

serapannya.

Kebanyakan

spektrofotometer modern saat ini dihubungkan dengan komputer


sehingga dimungkinkan penyimpanan sejumlah data (Gandjar dan
Rohman, 2012).
5. Validasi Metode Analisis
Validasi metoda analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap
parameter

tertentu,

berdasarkan

percobaan

laboratorium,

untuk

membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk


penggunaannya(Harmita, 2004)
Validasi metode menurut United State Pharmacopeia (USP)
dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis akurat, spesifik,
reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis (Gandjar
dan Rohman, 2009).
Suatu metode analisis harus divalidasi untuk melakukan verifikasi
bahwa parameter-parameter kinerjanya cukup mampu untuk mengatasi
problem analisis, karenanya suatu metode harus divalidasi ketika:

a. Metode baru dikembangkan untuk mengatasi problem analisis


tertentu.
b. Metode yang sudah baku direvisi untuk menyesuaikan
perkembangan atau karena munculnya suatu problem yang
mengarah bahwa metode baku tersebut harus direvisi.
c. Penjaminan mutu yang mengindikasi bahwa metode baku telah
berubah seiring dengan berjalannya waktu.
d. Metode baku digunakan di laboraturium yang berbeda, atau
dikerjakan dengan alat yang berbeda.
Untuk mendemostrasikan kesetaraan antar 2 metode, seperti antara
metode baru dan metode baku (Gandjar dan Rohman, 2009).
Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam
validasi metode analisis diuraikan dan didefinisikan sebagaimana cara
penentukannya.
1. Kecermatan (accuracy)
Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat
kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya.
Kecermatan dinyatakan sebagai persen perolehan kembali
(recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan hasil analis
sangat tergantung kepada sebaran galat sistematik di dalam
keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu untuk mencapai
kecermatan yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara
mengurangi galat sistematik tersebut seperti menggunakan
peralatan yang telah dikalibrasi, menggunakan pereaksi dan

pelarut yang baik, pengontrolan suhu, dan pelaksanaannya


yang cermat, taat asas sesuai prosedur (Harmita, 2004).
Kecermatan ditentukan dengan dua cara yaitu metode
simulasi (spiked-placebo recovery) atau metode penambahan
baku (standard addition method). Dalam metode simulasi,
sejumlah analit bahan murni (senyawa pembanding kimia
CRM

atau

SRM)

ditambahkan

ke

dalam

campuran

bahanpembawa sediaan farmasi (plasebo) lalu campuran


tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar
analit yang ditambahkan (kadar yang sebenarnya). Dalam
metode penambahan baku, sampel dianalisis lalu sejumlah
tertentu analit yang diperiksa ditambahkan ke dalam sampel
dicampur dan dianalisis lagi. Selisih kedua hasil dibandingkan
sebagai rasio antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang
sebenarnya. % Perolehan kembali dapat ditentukan dengan
cara membuat sampel placebo (eksepien obat, cairan biologis)
kemudian

ditambah analit

dengan konsentrasi

tertentu

(biasanya 80% sampai 120% dari kadar analit yang


diperkirakan), kemudian dianalisis dengan metode yang akan
divalidasi (Harmita, 2004).
2. Keseksamaan (Precision)
Keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat
kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui
penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur

diterapkan secara berulang pada sampel yang diambil dari


campuran yang homogeny (Harmita, 2004).
Keseksamaan diukur sebagai simpangan baku atau
simpangan baku relatif (koefisien variasi). Keseksamaan dapat
dinyatakan sebagai keterulangan (repeatability) dan ketertiruan
(reproducibility) (Gandjar dan Rohman, 2009).
Menurut Harmita (2009), keterulangan adalah kesesamaan
motode jika dilakukan berulang kali oleh analis yang sama
pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek.
Keterulangan dinilai melalui pelaksaan penetapan terpisah
lengkap terhadap sampel-sampel identik yang terpisah dari
batch yang sama, jadi memberikan ukuran keseksamaan pada
kondisi yang normal. Sedangkan yang dimaksud dengan
ketertiruan adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pada
kondisi yang berbeda. Analisis dilakukan terhadap sampelsampel yang diduga identik yang dicuplik dari batch yang
sama. Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan
simpangan baku relatif atau koefisien variasi 2% atau kurang
(Harmita, 2004).
3. Linearitas
Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang
memberikan respon yang secara langsung atau dengan bantuan
transformasi matematik yang baik, proporsional terhadap
konsentrasi analit dalam sampel(Harmita,2004).
Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi
sekitar arah garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan

matematik data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam


sampel

dengan

matematik

dalam

berbagai

konsentrasi

pengujian

linearitas

analit.
adalah

Perlakuan
melalui

persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil antara


hasil analisis terhadap konsentrasi analit. Sebagai parameter
adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada
analisis regresi linier Y = a + bX. Hubungan linier yang ideal
dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau 1 bergantung pada arah
garis. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis
terutama instrumen yang digunakan(Harmita, 2004).
4. Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi
Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel
yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon
signifikan dibandingkan dengan blangko. Batas deteksi
merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi merupakan
parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas
terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi
kriteria cermat dan seksama(Harmita, 2004).
Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda
tergantung pada metode analisis itu menggunakan instrumen
atau tidak. Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen
batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam
sampel pada pengenceran bertingkat. Pada analisis instrumen
batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blangko

beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blangko


(Harmita, 2004).

BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
A. Kerangka Konsep
Buah Jeruk

Jeruk
Lemon

Jeruk
Manis

Jeruk
Grapefruit

Kandungan
dan Zat lain

Penyimpanan 1 hari

Vitamin C

Jeruk
Keprok

Vitamin A

Jeruk Nipis

Vitamin B

Uji Kualitatif
Penyimpanan 7 hari

Penyimpanan 14 hari

Penetapan kadar
Keterangan :

Spektrofotometri UV: Diteliti Vis


: Tidak diteliti

B. Hipotesis
H1
: Terdapat perbedaan hasil kadar vitamin C pada buah jeruk
manis
Penyimpanan 1 hari, Penyimpanan 7 hari,
Penyimpanan 14 hari dengan metode Spektrofotometri UV-Vis

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian dalam karya tulis ini adalah penelitian eksperimental atau
percobaan yaitu suatu penelitian dengan melakukan kegiatan percobaan atau
perlakuan terhadap variabel independenya, kemudian mengukur akibat atau
pengaruh percobaan tersebut pada dependen variabelnya, dengan pendekatan
analitik(Notoadmodjo, 2010)
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian untuk karya tulis ilmiah ini dilakukan di Laboratorium
Analisa Makanan Minuman dan Laboratorium Instrumen Analisa Obat,
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri.
2. Waktu
Waktu untuk melaksanakan penelitian karya tulis ini dimulai pada bulan
Januari sampai April 2016.
C. Populasi, Sampel, dan Teknik sampling
1. Populasi
Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang
diteliti(Notoadmodjo,2010). Populasi penelitian ini adalah buah jeruk
(Citrus sp).
2. Sampel
Sampel penelitian adalah objek yang diteliti dan di anggap mewakili
populasi(Notoadmodjo, 2010). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah jeruk manis (Citrus Sinensis L).
3. Teknik Sampling
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah random
sampling. Teknik random sampling dilakukan pengambilan sampel secara
acak sederhana atau simple random sampling, dimana setiap anggota atau

unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi


sebagai sampel(Notoadmodjo,2010).
D. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Variabel bebas atau Independent Variable merupakan variabel
resiko, sebab, dan yang mempengaruhi(Notoatmodjo, 2012).
Pada penelitian ini Variabel bebas atau Independent Variable
adalah jeruk manis(Citrus Sinensis L).
2. Variabel Terikat
Variabel terikat atau Dependent Variable merupakan variabel
akibat, yang terpengaruh atau yang dipengaruhi(Notoatmodjo, 2012).
Pada penelitian ini Variabel terikat atau Dependent Variable adalah
Kadar Vitamin C.
E. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi
yangdimaksud,

Operasional
atau

tentang

bersangkutan. Definisi

adalah
apa

Operasional

uraian
yang

tentang

diukur

berfungsi

batasan

oleh

untuk

variabel

variabel

yang

membatasi

ruang

lingkup atau pengertian variabel yang diteliti. Definisi Operasional ini


penting dan diperlukan agar pengukuran variabel atau pengumpulan data
itu konsisten secara sumber data (responden) satu dengan responden yang
lain(Notoatmodjo, 2012).
No.

Variabel
1. Buah Jeruk Manis

Definisi

Alat Ukur

Operasional
Buah

jeruk Neraca

berbentuk

bulat analitik

atau bulat rata dan

Skala Ukur

Hasil

Nominal

Ukur
Gram

memiliki kulit buah


yang tebal (sekitar
0,3

0,5

daging

cm),
buah

kuning, jingga atau


kemerah-merahan.
Daging

buah

terbagi-bagi atas 813 segmen yang


mengelilingi
2. Kadar Vitamin C

sumbu buah.
Kandungan

Spektrofot

Rasio

mg

Rasio

nm

Vitamin C dalam ometer


buah jeruk manis UV-Vis
yang

diukur

dengan
spektrofotometri
3. Spektrofotometri
UV-Vis

sinar tampak
Metode
yang Spektrofot
dipakai

untuk ometer

mengukur

kadar

vitamin

pada

buah jeruk manis


F. Alat dan Bahan
1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain: Tabung


reaksi(Pyrex), Labu ukur 100 ml, 500 ml(Pyrex), Neraca analitik, Corong
kaca, Kertas Saring Kaki tiga, Pembakar spiritus, Pipet volume 1 ml, 2
ml(Pyrex),, Pipet ukur 5 ml(Pyrex),, Beaker glass 250 ml(Pyrex),
Pengaduk kaca, Pipet Pasteur, Pushball, Kuvet, Spektrofotometer UV-Vis.

2. Bahan
Bahan atau sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu buah
jeruk manis segar yang disimpan 1 hari, 7 hari, dan 14 hari, sedangkan
reagen yang digunakan adalah L-Asam askorbat p.a, , Aqua bebas CO2,
Benedict, FeCl3, barfoed, Fehling A, Fehling B, NaoH, CuSO4
G. Prosedur Pengumpulan Data
1. Analisa kualitatif
a. 2 ml filtrat + FeCl3, terbentuk warna ungu segera hilang
b. 2 ml filtrat + barfoed, terbentuk warna merah bata
c. 2 ml filtrat + fehling A + fehling B, terbentuk warna merah bata
d. 2 ml filtrat+ NaOH + CuSO4(Cuprifil) , terbentuk endapan hijau
dipanaskan menjadi coklat
e. 2 ml filtrat + benedict dipanaskan selama 5 menit , terbentuk endapan
merah bata
2. Analisa Kuantitatif
a. Pembuatan baku induk 500 ppm sebanyak 500 mL
Cara kerja :
1) Ditimbang L-Asam askorbat sebanyak 250 mg.
2) Dimasukkan dalam beakerglass 250 mL.
3) Ditambah dengan aqua bebas CO2 sebanyak 200 mL, diaduk
hingga larut dan homogen.

4) Kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 500 mL.


5) Ditambah aqua bebas CO2 hingga tanda batas.
6) Dikocok hingga homogen.
b. Pembuatan baku seri 5; 10; 15; 20; dan 25 ppm
1) Dipipet 1 mL; 2 mL; 3 mL; 4 mL; 5 mL dari baku induk 500 ppm.
2) Dimasukkan masing-masing ke dalam labu ukur 100 mL.
3) Ditambahkan aqua bebas CO2 hingga tanda batas.
4) Dikocok hingga homogen
c. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
1) Di masukkan dalam kuvet baku seri konsentrasi 20 ppm
2) Diamati absorbansi pada panjang gelombang 200 300 nm setiap
interval 10
d. Pembuatan Kurva Kalibrasi
1) Dimasukkan konsentrasi Baku seri 5; 10; 15; 20; 25 ppm kedalam
2)

kuvet
Diukur

absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer

pada panjang gelombang maksimum


e. Penentuan Kadar
1) Jeruk dikupas, dan dicuci bersih, diperas, diambil larutanya lalu
disaring
2) Filtrat ditimbang sebanyak 5 g.
3) Filtrat yang dimasukkan dalam labu ukur 100ml lalu ditambahkan
aqua bebas CO2 sampai tanda batas kemudian di kocok hingga
homogen.
4) Filtrat di encerkan dengan memipet masing-masing sebanyak 10
mL dan di tambahkan aqua bebas CO2 sebanyak 100 mL
5) Diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer pada
panjang gelombang maksimum
3. Validasi Metode
a. Linearitas
1 Persamaan linear yang digunakan adalah y = a + bx dari
persamaan garis regresi kurva kalibrasi baku Vitamin C
konsentrasi 5; 10; 15; 20; dan 25 ppm

Menghitung simpangan baku residual (Sy) melalui hasil


pengukuran garis regresi kurva kalibrasi baku. Dinyatakan
dengan rumus:

y y

n2
Sy =
Keterangan:
Sy = simpangan baku residual
y = nilai dari masing-masing pengukuran
y
= rata-rata data
n = banyaknya data
b. Presisi
1 Dibuat larutan baku seri 5 ppm sebanyak 100 mL
2 Diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum
3 Dilakukan enam kali pengulangan dan dianalisis pada waktu
4

yang bersamaan untuk mendapatkan keterulangan


Ditentukan presisi dengan rumus:

x x

n 1

SB =

SB
x

SBR=
x 100%
Keterangan:
SB = simpangan baku
SBR= simpangan baku relatif
x = kadar vitamin C tiap pengulangan
x
= kadar vitamin C rata-rata
n = banyaknya pengulangan
c. Akurasi
1 Dibuat larutan baku seri 5; 10; 15; 20; 25 ppm sebanyak 100 ml
2 Diukur absorbansinya pada panjang gelomabang maksimum
3 Dilakukan 3 kali pengulangan
4 Diukur akurasi dengan menentukan nilai persen perolehan
kembali (%PK) dengan rumus:

CF C A
C*A

%PK =
x 100%
Keterangan:
CF = konsentrasi total sampel yang diperoleh dari pengukuran
CA = konsentrasi sampel sebenarnya
C*A = konsentrasi analit yang ditambahkan
d. Batas Deteksi / Limit of Detection (LOD) dan Batas Kuantifikasi /
Limit of Quantification (LOQ)
Ditentukan dari kurva kalibrasi baku dengan rumus:

LOD

3,3 Sy
b

Ditentukan dari kurva kalibrasi baku dengan rumus:

LOQ

10 Sy
b

Keterangan:
LOD

= batas deteksi

LOQ

= batas kuantifikasi

Sy

= simpangan baku residual

= arah garis liear (kepekaan arah) dari kurva kalibrasi baku


antara absorban terhadap konsentrasi = kemiringan / slope
(b pada persamaan garis regresi y = a + bx)

H. Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini adalah statistic parametric dengan


menggunakan uji Anova (F) yang digunakan untuk menguji suatu rancangan
eksperimen dengan rancangan lebih dari 2, jika data memenuhi syarat yaitu
data terdistribusi normal dan varians sama. Jika tidak memenuhi syarat maka
digunakan uji alternatifnya yaitu uji non parametric uji Kruskal-Wallis
I. Kerangka Kerja

Jeruk manis
Vitamin C

Uji kuantitatif dengan


Spektrofotometer UV-Vis:

Uji Kualitatif

1. Penyimpanan 1 hari
2. Penyimpanan 7 hari
3. Penyimpana 14 hari

Analisis Data

Uji statistik

Kesimpulan