Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trauma adalah penyebab utama kematian pada manusia. Beberapa
orang pernah mengalami cedera parah wajah yang memerlukan terapi yang
tepat. Trauma maksilofasial, adalah setiap trauma fisik pada wajah. Trauma
facial dapat melibatkan cedera jaringan lunak, seperti luka bakar, lebam dan
memar, atau fraktur tulang wajah seperti patah tulang hidung dan patah tulang
rahang, serta trauma seperti cedera mata. Gejala khusus untuk jenis cedera,
misalnya patah tulang yang menyebabkan rasa sakit, bengkak, hilangnya
fungsi, atau perubahan bentuk struktur wajah.
Fraktur maksila sendiri sebagai bagian dari trauma maxillofacial
cukup sering ditemukan, walaupun lebih jarang dibandingkan dengan fraktur
mandibula. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab tersering
fraktur maksila maupun fraktur wajah lainnya. Pada fraktur maksila juga
dapat muncul berbagai komplikasi yang cukup berat, dimana apabila tidak
ditangani dengan baik dapat mengakibatkan kecacatan dan kematian.
1.2 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui klasifikasi
dari fraktur maxilla yaitu fraktur Le Fort I, Le Fort II dan Le Fort III. Serta
mengetahui penyebab terjadinya fraktur maxilla.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penyebab Terjadinya Fraktur Maxilla
Fraktur pada midface seringkali terjadi akibat kecelakan kendaraan
bermotor, terjatuh, kekerasan, senjata api dan akibat trauma benda tumpul
lainnya. Disamping mekanisme yang disebutkan di atas, osteoporosis ternyata
juga berpengaruh terhadap insiden fraktur maksilofasial termasuk maksila.
Didapat bahwa semakin parah kondisi osteoporosis, semakin besar
kemungkinan jumlah fraktur maksilofasial yang dialami. Oleh karena itu,
benturan yang lebih ringan akibat terjatuh bisa menimbulkan fraktur
maksilofasial multipel sebagaimana yang terjadi pada kecelakaan kendaraan
bermotor jika pasien mengalami osteoporosis yang parah.
Pada anak-anak prevalensi fraktur tukang wajah secara keseluruhan
jauh lebih rendah dibandingkan pada dewasa. Mekanisme terjadinya trauma
wajah termasuk maksila pada anak mirip dengan yang terjadi pada dewasa.
Paling tinggi akibat kecelakaan kendaraan bermotor, kemudian akibat cedera
saat berolahraga, terjatuh, kekerasan dan sebagainya.
2.2 Klasifikasi Fraktur Maxilla
Pembagian pola trauma wajah pertama kali diungkapkan oleh Rene
Le Fort pada 1901, melaporkan penelitian pada jenazah yang mengalami
trauma tumpul. Disimpulkan terdapat pola prediksi fraktur berdasarkan
kekuatan dan arah trauma. Terdapat tiga predominan tipe yaitu Le Fort I, Le
Fort II dan Le Fort III.

a. Le Fort I (Fraktur Guerin / Transversal)


Fraktur Le Fort I dikenal juga dengan low level frature terjadi di
atas level gigi yang menyentuh palatum, meliputi keseluruhan prosesus
alveolar dari maksila, kubah palatum, 7 dan prosesus pterigoid dalam
blok tunggal. Garis fraktur pada maksila bagian bawah dapat
memisahkan palatum dari korpus maksila. Bila komplit garis fraktur
dapat meliputi septum nasi bagian bawah, dasar hidung, bagian lateral
apertura piriformis, fosa kanina, dasar sinus maksilaris dan dinding
anterolateral maksila
b. Le Fort II (Fraktur Piramidal)
Merupakan 35-55% dari fraktur maksilofasial, arah dapat juga dari
horizontal. Terjadi akibat pukulan pada maksila atas atau pukulan yang
berasal dari arah frontal menimbulkan fraktur dengan segmen
maksilari sentral yang berbentuk piramida. Bila komplit garis fraktur
pada tulang nasal, prosesus frontalis maksila, tulang lakrimal, daerah
infra orbita (mendekati garis sutura zygomatiko maksilaris) dan lateral
inferior dinding sinus maksilaris. Karena sutura zygomaticomaxillary
dan frontomaxillary (buttress) mengalami fraktur maka keseluruhan
maksila akan bergeser terhadap basis kranium.
c. Le Fort III (craniofacial disjunction)
Selain pada pterygomaxillary buttress, fraktur terjadi pada
zygomatic arch berjalan ke sutura zygomaticofrontal membelah lantai
orbital sampai ke sutura nasofrontal. Merupakan tipe terberat karena
dapat memisahkan bagian bawah maksila dengan basis kepala, namun
tipe ini jarang dijumpai sekitar 5-15%. Arah trauma dapat oblik
maupun horizontal. Garis fraktur seperti itu akan memisahkan struktur
midfasial dari kranium sehingga fraktur ini juga disebut dengan
craniofacial dysjunction. Maksila tidak terpisah dari zygoma ataupun
dari struktur nasal. Keseluruhan rangka wajah tengah lepas dari basis
kranium dan hanya disuspensi oleh soft tissue. Bila komplit garis
fraktur terletak pada sisi atas hidung (sutura fronto nasal) yaitu fraktur
3

tulang nasal, prosesus frontal maksila, tulang lakrimal, lamina


papirasea, sinus ethmoid dan fisura orbitalis inferior. Fraktur Le Fort
III umumnya disertai multiple fraktur dari tulang wajah.
Skema dibawah ini menunjukkan komponen unik untuk masingmasing tipe Le Fort. Pada Le Fort I, margin anterolateral nasal fossa (tanda
panah) mengalami fraktur, struktur ini tetap utuh pada Le Fort II dan III.
Sedangkan pada Le Fort II, rima orbita inferior (tanda panah) 11 yang
mengalami fraktur, tapi utuh pada Le Fort I dan III. Pada Le Fort III, yang
mengalami fraktur adalah zygomatic arch (tanda panah) namun utuh pada Le
Fort I dan II.

KESIMPULAN
Fraktur maksila merupakan salah satu bentuk trauma pada wajah yang
cukup sering terjadi dimana kecelakaan kendaraan bermotor merupakan penyebab
utama. Pada fraktur maksila juga dapat muncul berbagai komplikasi yang cukup
berat, dimana apabila tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan kecacatan
dan kematian.
Pembagian pola trauma wajah pertama kali diungkapkan oleh Rene Le
Fort pada 1901, melaporkan penelitian pada jenazah yang mengalami trauma
tumpul. Disimpulkan terdapat pola prediksi fraktur berdasarkan kekuatan dan arah
trauma.

Terdapat

tiga

predominan

tipe

yaitu

Le

Fort

(Fraktur

Guerin/Transversal) terjadi di atas level gigi yang menyentuh palatum, meliputi


keseluruhan prosesus alveolar dari maksila, kubah palatum, 7 dan prosesus
pterigoid dalam blok tunggal, Le Fort II (Fraktur Piramidal) terjadi akibat pukulan
pada maksila atas atau pukulan yang berasal dari arah frontal menimbulkan
fraktur dengan segmen maksilari sentral yang berbentuk piramida, dan yang
terakhir adalah Le Fort III (craniofacial disjunction) yang merupakan tipe terberat
karena dapat memisahkan bagian bawah maksila dengan basis kepala.

DAFTAR PUSTAKA
Suardi, Ni Putu Enny Pratiwi; AA GN Asmara Jaya; Sri Maliawan dan Siki
Kawiyana. 2013. Fraktur Pada Tulang Maksila. [online].
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=127229&val=970).
Yusuf, Muhtarum dan Emmy Pramesthi D.S. 2009. Penatalaksanaan Fraktur
Maksilofasial Dengan Menggunakan Mini Plat. [online].
(http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-PENATALAKSANAAN
%20FRAKTUR%20MAKSILOFASIAL%20DENGAN%20MENGGUNAKAN
%20MINI%20PLAT%20JURNAL%20THT-KL%20UNAIR.pdf)