Anda di halaman 1dari 13

BAB I

Nama

: Tn. Suryana

LAPORAN KASUS

Umur

: 46 tahun

Jenis kelamin

: laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: karyawan

I.IDENTITAS

PASIEN
No. Medrek

: 00.22.69.78

Tanggal pemeriksaan : 11 september 2015


I.

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis
Keluhan utama:
Os mengeluh hidung sering tersumbat hilang timbul sejak 1 bulan yang lalu.
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang ke RS dengan keluhan hidung sering tersumbat hilang timbul sejak
1 bulan semakin memburuk, dan keluhan ini sudah di rasakan sejak 10 tahun yang lalu.
Hidung kanan dirasakan sering tersumbat dibandingkan hidung kiri. Os juga mengeluh
sering keluar cairan encer dari hidung. Pada pagi hari setelah bangun tidur warna hijau
dan kental, terkadang jika dipaksakan keluar terdapat darah sedikit bercampur. Os
mengeluh sering bersin pada pagi hari, jika terkena debu tidak selalu bersin, keluhan
mata dan hidung sering terasa gatal disangkal. Os juga mengalami gangguan penghidu.
sakit kepala kadang2 dirasakan dan membaik setelah pemberian obat dan
berulang. Demam dan nyeri pada wajah disangkal keluhan nyeri dan gangguan
pendengaran pada telinga disangkal, dan nyeri saat menelan juga disangkal.
Riwayat penyakit dahulu:
Keluhan seperti ini sudah sejak 10 tahun yang lalu. Sering batuk pilek berulang,
os pernah terkena TB paru dan diobati sampai sembuh, Riwayat asma disangkal. Riwayat
penyakit hipertensi, kencing manis, dan operasi disangkal.

Riwayat penyakit keluarga:


Keluarga pasien ada yang mengalami keluhan serupa seperti yang dialami oleh
pasien yaitu ibu pasien. Riwayat hipertensi, penyakit kencing manis, dan asma disangkal.
Riwayat pengobatan:

Pasien sudah minum obat warung untuk meringankan sakit kepala, membaik
namun kembali berulang.
Riwayat alergi
Alergi obat (-), makanan (-), debu (-), bulu binatang (-)
Riwayat kebiasaan:
Pasien merokok, minum alcohol disangkal, dan sering minum es.
II.

PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital

Frekuensi Nadi

: 94 x/mnt

Frekuensi Napas : 20 x/mnt


Suhu Tubuh

: Afebris

Kepala

: normocephali

Mata

: CA -/-, SI -/-

Leher

: KGB tidak teraba membesar

Thorax

: dalam batas normal

Abdomen

: dalam batas normal

Ekstremitas

: dalam batas normal

B. STATUS THT
1. Pemeriksaan telinga

Bentuk telinga luar


Aurikula

Preaurikula

Retroaurikula

DEXTRA
Normal
Normotia, nyeri
tarik (-), nyeri
tekan tragus (-)
Tanda radang (-),
nyeri tekan (-),
benjolan (-), fistula
(-)
Edema (-), fistel (-),

SINISTRA
Normal
Normotia, nyeri
tarik (-), nyeri
tekan tragus (-)
Tanda radang (-),
nyeri tekan (-),
benjolan (-), fistula
(-)
Edema (-), fistel (-),
2

MAE

Membrane timpani

Tes Rinne
Tes Weber
Tes Swabach

sikatriks (-), nyeri


tekan (-)
Lapang (+),
hipermi (-), edema
(-), serumen (-),
sekret (-), massa
(-)
Intak, reflek
cahaya (+) jam 5,
perforasi (-),
hiperemis (-)
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

sikatriks (-), nyeri


tekan (-)
Lapang (+),
hipermi (-), edema
(-), serumen (-),
sekret (-), massa
(-)
Intak, reflek
cahaya (+) jam 7 ,
perforasi (-),
hiperemis (-)
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

DEXTRA
Normal
Dahi (-), pipi (-),
sudut mata medial
(-)
Dahi (-), pipi (-),
sudut mata medial
(-)
-

SINISTRA
Normal
Dahi (-), pipi (-),
sudut mata medial
(-)
Dahi (-), pipi (-),
sudut mata medial
(-)
-

DEXTRA

SINISTRA

Sekret (-), krusta


(-)
Sempit
Hipertrofi (+),
hiperemis (+)
Sulit dinilai
Tidak terlihat
Pus (+), polip (-)

Sekret (-), krusta


(-)
Sempit
Hipertrofi (-),
hiperemis (+),
Sulit dinilai
Tidak terlihat
Pus (+), polip (-)

(-)

(-)

2. Pemeriksaan hidung
NASAL
Bentuk
Deformitas
Edema

Nyeri tekan

Krepitasi

Rinoskopi
Anterio
Vestibulum
Kavum nasi
Konka inferior
Konka media
Konka superior
Meatus nasi
media
Massa

Sekret
Septum

(+)
Deviasi (-)

(+)
Deviasi (+)

PEM.OROFARING
MULUT
Mukosa mulut
Lidah
Palatum mole
Gigi geligi
Uvula
TONSIL
Mukosa
Beasar
Kripta
Detritus
Perlengketan

SINISTRA

3. Pemeriksaan tenggorok
DEXTRA
Tenang
Bersih basah
Tenang
Karies (-)
Simetris
Tenang
T1
Tidak melebar
-

Laringoskopi indirek
Epigotis
Plika ariepiglotika
Plika ventrikularis
Plika vokalis
Rima glottis

Tenang
Bersih basah
Tenang
Karies (-)
Simetris
Tenang
T1
Tidak melebar
-

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

4. Pemeriksaan Penunjang

III.

Kesan:
Sinusitis maksilaris bilateral dan etmoidalis dekstra
Deviasi septum
RESUME
4

Pasien datang ke RS dengan keluhan hidung sering tersumbat hilang timbul


sejak 1 bulan semakin memburuk, dan keluhan ini sudah di rasakan sejak 10 tahun
yang lalu. Hidung kanan dirasakan sering tersumbat dibandingkan hidung kiri. Os
juga mengeluh sering keluar cairan encer dari hidung. Pada pagi hari setelah bangun
tidur warna hijau dan kental, terkadang jika dipaksakan keluar terdapat darah sedikit
bercampur. Os mengeluh sering bersin pada pagi hari, jika terkena debu tidak selalu
bersin, keluhan mata dan hidung sering terasa gatal disangkal. Os juga mengalami
gangguan penghidu. sakit kepala kadang2 dirasakan dan membaik setelah pemberian
obat dan berulang.
Pada pemeriksaan fisik status general DBN. Status lokalisasi : Hidung kanan:
kavum nasi sempit, konka inferior hipertrofi (+) hiperemis (+), meatus media pus (+).
Hidung Kiri: kavum nasi sempit, konka inferior hiperemis (+), meatus media pus (+),
deviasi (+). Telinga dan tenggorokan dalam batas normal.
Periksaan penunjang : rontgen kesan sinusitis maksilaris bilateral, sinusitis etmoidalis
dekstra, deviasi septum.
IV.

DIAGNOSIS KERJA
Sinusitis maksilaris bilateral + sinusitis etmoidalis dekstra et causa deviasi septum

V.

TATALAKSANA
Medikamentosa
Antibiotic golongan penicillin 10-14 hari
Dekongestan
Mukolitik
Analgetik
Pencuci rongga hidung dengan Nacl
Nonmedikamentosa
Makan makanan bergizi
Menjaga daya tahan tubuh
Operasi
Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

SINUSITIS
A. Definisi
Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktek dokter seharihari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di
seluruh dunia.
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya
disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyakit utamanya
6

adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat
diikuti oleh infeksi bakteri. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis,
sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis.
Sinus paranasal yang sering terkena ialah sinus ethmoid dan maksila, sedangkan
sinus frontal lebih jarang dan sinus sfenoid lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut juga
antrum Highmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah
menyebar ke sinus, disebut sinusitis dentogen.
Sinusitis dapat menjadi berbahaya karena meyebabkan komplikasi ke orbita dan
intrakranial, serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati.
B. Etiologi dan faktor predisposisi
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus, bermacam
rhinitis terutama rhinitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung,
kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks osteomeatal, infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia silia seperti pada
sindroma Kartegener, dan di luar negeri adalah penyakit fibrosis kistik.
Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis
sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan
menyembuhkan rhinosinusitisnya. Hipertrofi adenoid dapat didiagnosis dengan foto
polos leher posisi lateral. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan yang
berpolusi, udara dingin dan kering, serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama
menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.
C. Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya
klirens mukosiliar di dalam kompleks osteo-meatal. Mukus juga mengandung substansi
antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap
kuman yang masuk bersama dengan udara pernapasan.

Organ-organ yang membentuk kompleks osteo-meatal letaknya berdekatan dan


bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak
dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga
sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi ini bisa
dianggap rhinosinusitis non-bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa
pengobatan.
Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupakan media
yang baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen. Keadaan
ini disebut dengan rhinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik.

Jika terapi tidak berhasil (misalnya karena ada faktor predisposisi), inflamasi
berlanjut, terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang. Mukosa makin membengkak
dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa
menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan
ini mungkin diperlukan tindakan operasi.
D. Klasifikasi dan Mikrobiologi
Konsensus internasional tahun 1995 membagi rhinosinusitis hanya akut dengan
batas sampai 8 minggu dan kronik jika lebih dari 8 minggu. Konsensus tahun 2004
membagi menjadi akut dengan batas sampai 4 minggu, subakut dengan batas 4 minggu
sampai dengan 3 bulan, dan kronik jika lebih dari 3 bulan.

Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari


sinusitis akut yang tidak terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya faktor
predisposisi harus dicari dan diobati secara tuntas.
Menurut berbagai penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut
adalah Streptococcus pneumonia (30 - 50%), Haemophylus influenzae (20 40%), da
Moraxella catarrhalis (4%). Pada anak, M. catarrhalis paling sering ditemukan (20%).
Pada sinusitis kronik, faktor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya bakteri yang
ada lebih condong ke arah bakteri gram negatif dan anaerob.
Sinusitis dentogen
Sinusitis dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis kronis. Dasar
sinus maksila adalah prosesus alveolaris tempat akar gigi rahang atas, sehingga rongga
sinus maksila hanya terpisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi. Bahkan kadangkadang tanpa tulang pembatas. Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi apikal akar gigi
atau inflamasi jaringan periodontal mudah menyebar secara langsung ke sinus, atau
melalui pembuluh darah dan limfe.
Harus curiga adanya sinusitis dentogen pada sinusitis maksila kronik yang
mengenai satu sisi dengan ingus purulen dan napas berbau busuk. Untuk mengobati
sinusitisnya, gigi yang terinfeksi harus dicabut atau dirawat, dan pemberian antibiotik
yang mencakup bakteri anaerob. Seringkali juga perlu dilakukan irigasi sinus maksila.
Sinusitis jamur
Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal, suatu keadaan yang
tidak jarang ditemukan. Angka kejadiannya meningkat dengan meningkatnya pemakaian
antibiotik, kortikosteroid, obat-obat imunosupresan dan radioterapi. Kondisi yang
merupakan predisposisi antara lain diabetes melitus, neutropenia, penyakit AIDS, dan
perawatan yang lama di rumah sakit. Jenis jamur yang sering menyebabkan infeksi sinus
paranasal ialah spesies Aspergilus dan Candida.
Perlu diwaspadai adanya sinusitis jamur pada kasus sebagai berikut: sinusitis
unilateral, yang sukar disembuhkan dengan terapi antibiotik. Adanya gambaran
kerusakan tulang dinding sinus, atau bila ada membran berwarna putih keabu-abuan pada
irigasi antrum.
Para ahli membagi sinusitis jamur sebagai bentuk invasif dan non-invasif.
Sinusitis jamur invasif terbagi menjadi invasif akut fulminan dan invasif kronik indolen.
9

Sinusitis jamur invasif akut, ada invasi jamur ke jaringan dan vaskular. Sering terjadi
pada pasien diabetes yang tidak terkontrol, pasien dengan imunosupresi seperti leukemia
dan neutropenia, pemakaian steroid lama dan terapi imunosupresan. Imunitas yang
rendah dan invasi pembuluh darah menyebabkan penyebaran jamur sangat cepat dan
dapat merusak dinding sinus, jaringan orbita, dan sinus kavernosus. Di kavum nasi,
mukosa berwarna biru kehitaman dan ada mukosa konka atau septum yang nekrotik.
Sering berakhir dengan kematian.
Sinusitis jamur invasif kronik biasanya terjadi pada pasien dengan gangguan
imunologik atau metabolik seperti diabetes. Bersifat kronik progresif dan bisa juga
menginvasi sampai ke orbita atau intrakranial, tetapi gambaran kliniknya tidak sehebat
yang bersifat fulminan karena perjalanan penyakitnya lebih lambat. Gejalanya seperti
sinusitis bakterial, tetapi sekretnya kental dengan bercak-bercak kehitaman, yang bila
dilihat dengan mikroskop merupakan koloni jamur.
Sinusitis jamur non-invasif, atau misetoma, merupakan kumpulan jamur di dalam
rongga sinus tanpa invasi ke dalam mukosa dan tidak sampai mendestruksi tulang. Sering
mengenai sinus maksila. Gejala klinis sering menyerupai sinusitis kronis berupa rinore
purulen, post nasal drip, dan napas bau. Kadang-kadang ada massa jamur juga di kavum
nasi. Pada operasi bisa ditemukan materi jamur berwarna cokelat kehitaman dengan atau
tanpa pus di dalam sinus.
Terapi untuk sinusitis jamur invasif ialah pembedahan, debridemen, anti jamur
sistemik, dan pengobatan terhadap penyakit dasarnya. Obat standar ialah amfoterisin B,
bisa ditambah dengan rifampisin atau flusitosin agar lebih efektif. Pada misetoma hanya
perlu terapi bedah untuk membersihkan massa jamur, menjaga ventilasi dan drainase
sinus. Tidak diperlukan anti jamur sistemik.
E. Menifestasi klinis
Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/rasa
tekanan pada muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal
drip). Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.
Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan ciri khas
sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat lain (referred pain). Nyeri
pipi menandakan sinusitis maksila, nyeri di antara atau di belakang orbita menandakan
sinusitis ethmoid, nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada

10

sinusitis sfenoid, nyeri dirasakan di verteks, oksipital, belakang orbita, dan daerah
mastoid. Pada sinusitis maksila kadang-kadang ada nyeri alih ke gigi dan telinga.
Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post nasal drip yang
menyebabkan batuk dan sesak napas pada anak.
Keluhan sinusitis kronik tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Kadang-kadang
hanya 1 atau 2 gejala-gejala di bawah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk
kronik, gangguan tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba
eustachius, gangguan ke paru seperti bronkhitis (sino-bronkhitis), bronkhiektasis dan
yang penting adalah serangan asma yang meningkat dan sulit diobati. Pada anak,
mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis.
F. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rhinoskopi anterior, dan posterior, pemeriksaan
naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas
ialah adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila dan ethmoid anterior dan
frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis ethmoidalis posterior dan sfenoid). Pada
rinosinusitis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan
dan kemerahan pada kantus medius.
Pemeriksaan pembantu yang penting adalah foto polos atau CT-Scan. Foto polos
posisi Waters, PA, lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar
seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, air-fluid level,
atau penebalan mukosa.
CT-Scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu
menilai secara anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara
keseluruhan dan perluasannya. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang
diagnosis sinusitis kronis yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi
sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus.
Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan ini sudah jarang dilakukan karena sangat terbatas kegunaannya.
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret dari
meatus medius/superior, untuk mendapatkan antibiotik yang tepat guna. Lebih baik lagi
bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila.

11

Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila


melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang
sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.
G. Terapi
Tujuan terapi sinusitis ialah mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi,
dan mencegah perubahan menjadi kronis. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan
di kompleks osteo-meatal sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial, untuk
menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium
sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika
diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat
diberikan amoksisilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis
antibiotik diberikan selama 10-14 hari walaupun gejala klinik sudah menghilang. Pada
sinusitis kronik diberikan antibiotik yang sesuai untuk kuman gram negatif dan anaerob.
Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan,
seperti analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCl
atau diatermi. Antihistamin tidak rutin diberikan karena sifat antikolinergiknya dapat
menyebabkan sekret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan
antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau Proetz displacement juga
merupakan terapi tambahan yang dapat bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan
jika pasien menderita kelainan alergi yang berat.
Tindakan operasi
Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan operasi terkini untuk
sinusitis kronik yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah menggantikan hampir
semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan
tindakan lebih ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa: sinusitis kronik yang tidak
membaik setelah terapi adekuat, sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang
ireversibel, polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.
H. Komplikasi
Komplikasi sinusitis yang berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada
sinusitis kronis dengan eksarsebasi akut, berupa komplikasi orbita atau intrakranial.
12

Kelainan orbita, disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata, yaitu
sinus ethmoid, kemudian frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui
tromboflebitis dan perikontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra,
selulitis orbita, abses periosteal, abses orbita, dan selanjutnya dapat terjadi trombosis
sinus kavernosus.
Kelainan intrakranial dapat berupa meningitis, abses ekstradural/subdural, abses
otak dan trombosis sinus kavernosus.
Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronis, berupa: Osteomielitis dan abses
periosteal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada
anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula
pada pipi.
Kelainan paru seperti bronkhitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus
paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sino-bronkhitis. Selain itu, dapat juga
menyebabkan kambuhnya asma bronkhial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya
disembuhkan.

13