Anda di halaman 1dari 15

c5.

Materi
CA MAMMAE
1.1 Definisi
Tumor
Dalam istilah kedokteran, semua benjolan disebut tumor. Dalam pengertian
lain tumor adalah benjolan atau pembengkakan yang abnormal atau tidak fisiologis
pada tubuh, tanpa membedakan apakah bersifat jinak atau ganas (Dawindo,2009).
Kanker
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian
dalam mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal,
cepat dan tidak terkendali (Setio, 2000).
Kanker payudara (Carcinoma mammae)
Kanker payudara adalah suatu penyakit neoplasma yang ganas berasal dari
parenchyma. Kanker payudara adalah tumor ganas yang berasal dari kelenjar
payudara, termasuk saluran kelenjar air susu dan jaringan penunjangnya yang
tumbuh infiltratif, destruktif, serta dapat bermetastase (Suryana, 2008).
1.2 Klasifikasi Kanker Payudara
Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker payudara
diklasifikasikan ke dalam :
1) Stadium I
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada kulit dan
otot pektoralis.
2) Stadium IIa
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.
3) Stadium IIb
Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.
4) Stadium IIIa

Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa


penyebaran jauh.
5) Stadium IIIb
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
terdapat penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan
limfonodus (LN) supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi /
menyebar ke kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema pada tangan.
6) Stadium IV
Tumor yang mengalami metastasis jauh.
(Setio, 2000)
Berikut dibawah ini merupakan gambaran dari stadium kanker payudara :

1.3 Penyebab Kanker Payudara


Sampai saat ini, penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti.
Penyebab kanker payudara termasuk multifaktorial, yaitu banyak faktor yang terkait satu
dengan yang lain. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan faktor risiko
tertentu lebih sering untuk berkembang menjadi kanker payudara dibandingkan yang
tidak memiliki beberapa faktor risiko tersebut. Beberapa faktor risiko tersebut :
1. Faktor genetik / riwayat keluarga
Setiap kanker bisa dipandang sebagai proses genetik karena kanker terjadi dari
perubahan genetik atau mutasi. Hanya sebagian kecil kanker herediter, sisanya
adalah sporadik dan berhubungan dengan mutasi somatik yang didapatkan selama
hidup. Indivisu yang membawa mutasi genetik, lahir satu langkah lebih dekat dengan
timbulnya tumor dan mempunyai kecenderungan menderita kanker pada usia muda.
Pada kanker payudara, proses ini berlangsung mulai dari mutasi genetik, hiperplasia,
karsinoma in situ, kemudian kanker metastatik. Pada kanker payudara herediter,
terjadi pertama kali adalah mutasi yang berhubungan dengan repair DNA dan
apoptosis.
2. Usia
Kemungkinan untuk menjadi kanker payudara semakin meningkat seiring
bertambahnya umur seorang wanita. Angka kejadian kanker payudara rata-rata pada
wanita usia 45 tahun ke atas. Hal ini berkaitan tentang jumlah paparan zat-zat
karsinogenik dalam kehidupan sehari-hari yang membuat terakumulasinya zat
karsinogenik tersebut di dalam tubuh terus meningkat di setiap peningkatan usia.
Semakin tua, ada lebih banyak kesempatan untuk kerusakan genetik (mutasi) di
dalam tubuh. Dan tubuh kita kurang mampu memperbaiki kerusakan genetik.

3. Hormonal
Hormon estrogen merupakan hormon utama pemicu timbulnya kanker
payudara. Pada wanita dengan kadar estrogen yang tinggi seperti nuliparitas,
menarche awal, usia paparan estrogen lama, tidak laktasi dan terapi sulih hormone
pada menopause akan mempunyai resiko lebih tinggi terkena kanker payudara.
Estrogen dan progesteron mempengaruhi perkembangan dan perubahan dari kelenjar
payudara yang memiliki berbagai macam reseptor hormon. Paparan estrogen akan
meningkatkan faktor-faktor proliferasi sel dan bila tidak terkendali secara biologis akan
berkembang menjadi kanker mengikuti tahapan-tahapannya.
4. Overweight atau obese setalah menopause
Kemungkinan untuk mendapatkan kanker payudara setelah menopause
meningkat pada wanita yang overweigh atau obese. Karena sumber estrogen utama
pada wanita post menopause berasal dari konversi androstenedine menjadi estrogen
yang berasal dari jaringan lemak, dengan kata lain obesitas berhubungan dengan
paparan estrogen jangka panjang.
5. Gaya Hidup
Beberapa penelitian menunjukan bahwa wanita yang sering minum alkohol
mempunyai resiko kanker payudara yang lebih besar. Karena alkohol akan
meningkatkan kadar estriol serum. Sering mengkonsumsi banyak makan berlemak
dalam jangka panjang akan meningkatkan kadar estrogen serum, sehingga
meningkatkan resiko kanker.
Wanita yang kurang aktivitas fisik sepanjang hidupnya, memiliki resiko tinggi
kanker payudara, karena dengan aktivitas fisik akan membantu mengurangi
peningkatan berat badan dan obesitas.
Faktor lingkungan yang mempunyai risiko terhadap kanker adalah paparan
rokok, terpapar bahan dari industri seperti formaldehid, asap kayu bakar, asap dupa,
tetapi hubungan yang jelas antara zat-zat tersebut dengan kanker belum dapat
dijelaskan. Selain itu konsumsi zat-zat karsinogenik seperti formalin, borax dan
pengawet makanan dapat meningkatkan resiko kanker
6. Riwayat kanker sebelumnya
Wanita dengan riwayat pernah mempunyai kanker pada satu payudara
mempunyai resiko untuk berkembang menjadi kanker payudara yang lainnya. Riwayat
kanker yang diderita seseorang sebelumnya baik itu kanker pada sistem reproduksi
(ca servik, ca ovarium), hematologi (leukimia), maupun kanker lainnya juga dapat
meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. Hal ini dapat terjadi karena
metastase yang dilakukan oleh kanker sebelumnya atau karena kekambuhan dari
kanker sebelumnya.

7. Riwayat infeksi virus


Protein DNA virus setelah menembuh membran sel mengadakan fusi dengan
protein DNA hospes. Fusi DNA virus dan hospes menimbulkan mutasi gen. Selain
virus dapat juga disebabkan oleh tertularnya seseorang karena terkena percikan sel
darah penderita kanker yang masuk kedalam tubuh melalui celah luka ataupun
tranfusi darah dari pendonor yang menderita kanker. Manifestasi timbulnya kanker
tergantung sistem imunitas tubuh dan mekanisme penghindaran virus. (Dwi, 2010)
8. Radiasi
Eksposur dengan radiasi dapat meningkatkan terjadinya risiko kanker payudara.
Hal ini dikarenakan radiasi dapat membuat perubahan dalam bahan genetik sel,
sehingga hal ini membuat risiko kanker.
1.4 Manifestasi Klinis Kanker Payudara
Menurut Anita (2011) tanda dan gejala kanker payudara:
- Gejala awal
Sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan payudara di
sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri, biasanya memiliki pinggiran tidak teratur.
-

Stadium awal
Jika didorong oleh jari tangan , benjolan bisa digerakkan dengan mudah di bawah
kulit.

Stadium lanjut
Benjolan melekat pada dinding dada atau kulit sekitarnya, benjolan dapat
membengkak, ata borok di kulit payudara, kadang kulit di atas benjolan mengkerut
dan nampak seperti kulit jeruk.

Gejala lainnya
Ditemukan benjolan atau massa di ketiak, perubahan ukuran atau bentuk payudara,
keluar cairan abnormal dari puting

susu (biasanya berdarah atau bernanah),

perubahanpada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu, maupun aerola,
payudara tampak kemerahan, kulit di sekitar puting susu bersisik, puting susu tertarik
ke dalam atau terasa gatal, nyeri payudara, atau pembengkakan salah satu
payudara. Pada stadium lanjut, bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan,
pembengkakan lengan, atau ulserasi kulit.
Menurut Dwi (2010) manifestasi klinis kanker payudara:
a. Penderita merasakan adanya perubahan pada payudara atau puting susunya
-

Benjolan atau penebalan dalam atau sekitarpayudara atau di daerah ketiak

Puting susu terasa mengeras

b. Penderita melihat perubahan pada payudara atau puting susunya:


-

Perubahan ukuran maupun bentuk payudara

Puting susu tertarik ke dalam payudara

Kulit payudara, aerola, atau puting bersisik, merah atau bengkak, kulit mungkin
berkerut seperti kulit jeruk

c. Keluarnya sekret atau cairan dari puting susu


Secara umum, tanda dan gejala kanker payudara adalah:
a. Terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, dari mulai ukuran kecil
menjadi besar dan teraba seperti melekat pada kulit, biasanya memiliki pinggiran
yang tidak teratur
b. Keluar cairan abnormal dari puting susu
c. Perubahan warna dan tekstur kulit payudara
d. Payudara tampak kemerahan dan kulit sekitar puting susu bersisik
e. Retraksi puting
f.

Konsistensi payudara yang padat dan keras

g. Edema dengan peaud orange (keriput seperti kulit jeruk)


h. Pada stadium lanjut timbul nyeri tulang, penurunan berat badan, pembengkakan
lengan.
1.6 Penatalaksanaan Kanker Payudara
a) ANAMNESA
Anamnesa dilakukan untuk mengetahui :
- Keluhan utama : adanya benjolan pada payudara, kadang disertai kadang tidak
nyeri, kadang disertai bengkak, dan pada stadium lanjut disertai pengeluaran
abnormal dan perubahan dalam bentuk, dan penampakan payudara (tidak
simetris, kulit payudara seperti kulit jeruk peau dorange putting tertarik ke
-

dalam)
Riwayat Menstruasi : usia menarche, siklus haid, lama haid, ganguan dalam

haid, umur menopause.


Riwayat Kehamilan, Persalinan,

Kontrasepsi.
Riwayat Kesehatan : riwayat pernah menderita Ca mammae pada satu

Nifas, laktasi dan Pemakaian Metode

payudara, ada keluarga (ibu/saudara wanita) menderita penyakit ini dan


dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena Ca. mammae, kelainan payudara lain
(benigna), pernah/ sedang menjalani terapi hormonal, infertil.
b) PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan inspeksi dan palpasi pada area payudara
dan sekitar ketiak untuk memeriksa adanya pembengkakan kelenjar, berikut
beberapa kondisi yang dapat ditemukan, yaitu:
1. Inspeksi

Salah satu atau kedua payudara tampak membesar dan ukuran tidak
simeteris

Kulit payudara, aerola, atau puting bersisik, merah atau bengkak, kulit
mungkin berkerut seperti kulit jeruk

Puting susu tertarik ke dalam payudara

Keluarnya sekret atau cairan dari puting susu yang abnormal (tanpa atau saat
ditekan)

2. Palpasi
Terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, dari mulai
ukuran kecil menjadi besar dan teraba seperti melekat pada kulit, biasanya

memiliki pinggiran yang tidak teratur


Benjolan dapat bergerak atau tidak bergerak jika ditekan

Konsistensi payudara yang padat dan keras

Mulai ada rasa nyeri ketika ditekan karena pembengkakan kelenjar (pada
stadium 2)

(Yayasan Kanker Indonesia, 2004) & (Otto, 2005)


c) PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut pendapat para ahli, berikut beberapa jenis pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Tes Laboratorium Darah
Tes darah diperlukan untuk lebih mendalami kondisi kanker. Tes-tesyang
dilakukan antara lain :
Level Hemoglobin ( HB ) : untuk mengetahui jumlah oksigen yang ada di dalam

sel darah merah.


Level Hematocrit : untuk mengetahui prosentase dari darah merah didalam

seluruh badan
Jumlah dari sel darah putih : untuk membantu melawan infeksi
Jumlah trombosit ( untuk membantu pembekuan darah )
Differential ( prosentase dari beberapa sel darah putih )
Alkaline Phosphatase : Jumlah enzyme yang tinggi bisa mengindikasikan

penyebaran kanker ke liver, hati dan saluran empedu dan tulang.


Kadar Ca 15-3 : Peningkatan kadar Ca 15-3 darah dijumpai pada kurang dari 10
% pasien dengan stadium awal dan sekitar 70 % pasien dengan stadium lanjut.
Kadar biasanya turun seiring keberhasilan terapi. Kadar normal biasanya kurang
dari 25 U/mL, tapi kadar sampai 100 U/mL kadang dijumpai pada wanita sehat.

2. USG Mammae
USG ini sangat menguntungkan karena memiliki keuntungan yaitu tidak
mempergunakan sinar pengion sehingga tidak ada bahaya radiasi dan pemeriksaan
bersifat non invasif, relatif mudah dikerjakan, serta dapat dipakai berulangulang.USG biasanya dapat untuk membedakan tumor padat dan kiste pada
payudara serta untuk menentukan metastasis di hati. Dengan USG dapat diketahui
lokasi dan ukuran dari kanker.
3. Photo Thorax & USG Abdomen
Untuk mengetahui apakah telah ada metastase ke paru-paru dan abdomen.
4. Computed Tomography ( CT-Scan)
Untuk melihat secara detail letak tumor. Disini pasien juga disuntik radioactive
tracer pada pembuluh vena, tapi volumenya lebih banyak sehingga sebenarnya
samadengan infuse. Setelah disuntik CT-scan bisa segera dilakukan. CT-scan akan
membuat gambar 3D bagian dalam tubuh yang diambil dari berbagai sudut. Hasilnya
akan terlihat gambar potongan melintang bagian dari tubuh yang discan 3D.
5. MRI
MRI menggunakan magnetic, MRI biasanya lebih baik dalam melihat suatu
kumpulan massa yang kecil pada payudara yang mungkin tidak terlihat pada saat
USG atau mammogram. Khususnya pada wanita yang mempunyai jaringan
payudara yang padat. Kelemahan MRI juga ada, kadang jaringan padat yang terlihat
pada saat MRI bukan kanker, atau bahkan MRI tidak bisa menunjukkan suatu
jaringan yang padat itu sebagai in situ breast cancer maka untuk memastikan lagi
harus dilakukan biopsy.
6. FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy)
Pemeriksaan sitologi biopsy aspirasi jarum sering dipergunakan sebagai
prosedur diagnosis berbagai tumor termasuk tumor payudara dengan indikasi :
- Diagnosis preoperative tumor klinik diduga maligna.
- Diagnosis konfirmatif klinik tumor maligna ataupun tumor rekuren
- Diagnosis tumor nonneoplastik ataupun neoplastik
- Mengambil bahan aspirat untuk kultur ataupun bahan penelitian.
Dengan jarum halus sejumlah kecil jaringan dari tumor diaspirasi keluar lalu
diperiksa mikroskopis.Jika tumor dapat terpalpasi dengan mudah, FNAB dapat
dilakukan dengan mempalpasi tumor.Jika tumor tak terpalpasi dengan jelas,
kombinasi dengan USG dapat dilakukan. Spesimen FNAB kadang tidak dapat
menentukan grade tumor dan kadang tidak memberi diagnosis yang jelas sehingga
membutuhkan biopsy lain.
7. Biopsi Insisional
Pemeriksaan dengan pengambilan sampel jaringan melalui pemotongan
dengan pisau bedah. Dengan pisau bedah, kulit disayat hingga menemukan massa
dan diambil sedikit untuk diperiksa. Biopsi insisional dilakukan jika masa berukuran
besar, dan hanya melibatkan pengangkatan sebagian masa.

(Abdul. 2011 ; Corwin, Elizabeth. 2009 ; Dwi, Asti, dkk. 2010 ; Dixon M, dkk, 2005,
hal : 15-66 ; Mardiana, Lina. 2010 ; Mansjoer, dkk, 2000 ; Pramudya. 2011 ;
Purwastuti, Endang. 2012 ; Supandiman, Iman. 1997 ; Suzanne. 2002)
d) PROSEDUR PEMBEDAHAN
Untuk kanker yang terbatas pada payudara, pengobatannya hampir selalu
meliputi pembedahan (yang dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan) untuk
mengangkat sebanyak mungkin tumor. Terdapat sejumlah pilihan pembedahan,
pilihan

utama

adalah

mastektomi

(pengangkatan

seluruh

payudara)

atau

pembedahan Breast Conserving Therapy (hanya mengangkat tumor dan jaringan


normal di sekitarnya). Pertimbangan dilakukannya pembedahan berdasarkan Ukuran
tumor, Lokasi tumor, Ukuran payudara, Pilihan dan pertimbangan pasien. Jika
persetujuan diberikan biopsi perioperatif dapat dilakukan selama operasi, sampel
akan diuji dalam beberapa menit sehingga ahli bedah dapat diberikan diagnosis dan
kemajuan dengan pengobatan yang tepat. Mamae Radikal Masektomi yaitu
pengambilan seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya seluruh
isi aksial dan ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna, dilakukan jika
ditemukan keganasan pada hasil biopsy sel kanker (Dixon M, dkk, 2005, hal : 15-66 ;
Sutoto J., 2005).
e) TERAPI SISTEMIK
Terapi sistemik kanker payudara meliputi penggunaan kemoterapi atau
manipulasi endokron untuk mengobati pasien dengan:
Penyakit lokal regional yang telah Penyebaran

kelenjar

getah

berkembang jauh.
bening aksila.
Prognosis buruk pada penyakit tanpa Metastasis jauh.
kelenjar yang terkena.
1) Kemoterapi
Efek samping dari kemoterapi bisa berupa mual, lelah, muntah, luka terbuka
di mulut yang menimbulkan nyeri atau kerontokan rambut yang sifatnya sementara.
Pada saat ini muntah relatif jarang terjadi karena adanya obat ondansetron.
Tanpa ondansetron, penderita akan muntah sebanyak 1-6 kali selama 1-3
hari setelah kemoterapi. Berat dan lamanya muntah bervariasi, tergantung kepada
jenis kemoterapi yang digunakan dan penderita. Selama beberapa bulan, penderita
juga menjadi lebih peka terhadap infeksi dan perdarahan. Tetapi pada akhirnya efek
samping tersebut akan menghilang.
2) Terapi hormonal

Tamoxifen : Awalnya diindikasikan untuk mengobati pasien pasca menopause


dengan reseptor estrogen dan nodus aksilaris positif. Efek samping: mual,
muntah, panas, retensi cairan.

Diethylstillbestrol : Menghambat pelepasan FSH dan LH dengan demikian


menurunkan pembentukan estrogen dan ikatan estrogen. Efek samping:
penambahan berat badan,mual, retensi cairan

Megestrol : Menurunkan jumlah reseptor estrogen. Efek samping: penambahan


BB

Fluksimesteron : Menekan estrogen dengan menekan LH dan FSH. Efek


samping: peningkatan libido, peningkatan pertumbuhan rambut di wajah

Aminoglutetimid : Menghambat aromatase, enzim yang bertanggung jawab


terhadap perubahn androgen dan estrogen. Efek samping: gatal, hipofungsi
kortikal adrenal.

3) Transplantasi sumsum tulang


Pengangkatan sumsum tulang dari pasien dan memberikan kemoterapi dosis
tinggi, sumsum tulang pasien yang dipisah kan dari efek kemoterapi kemudian
diinfuskan kembali secara intravena
(Abdul. 2011: Dwi, Asti, dkk. 2010: Mardiana, Lina. 2010: Doenges M.,
2000: Dixon M., dkk, 2005: Sjamsuhidajat R., 1997: Tapan, 2005:
Supandiman, Iman. 1997: Suzanne. 2002)
f) TERAPI RADIASI
Indikasi Terapi Radiasi Pada Kanker Payudara
Terapi radiasi diberikan apabila dalam keadaan sebagai berikut:

Setelah tindakan operasi


terbatas (BCS)

Tepi sayatan dekat (T

Tumor sentral/medial

KGB (+) dengan ekstensi


ekstra kapsuler

T2)/ tidak bebas tumor


Acuan pemberian radiasi adalah sebagai berikut:
Pada

dasarnya

diberikan

radiasi

lokoregional

(payudara

dan

aksila

besertasupraklavikula, kecuali:

Pada keadaan T T2 bila cn = 0 dan pn, maka tidak dilakukan radiasi pada
KGB aksila supraklavikula

Pada keadaan tumor di medial/sentral diberikan tambahan radiasi pada


mamaria interna

Dosis lokoregional profilaksis adalah 50Gy, booster dilakukan sbb:

Pada potensial terjadi residif ditambahkan 10Gy (misalnya tepi sayatan dekat
tumor atau post BCS)

Pada terdapat massa tumor atau residu post op (mikroskopik atau


makroskopik) maka diberikan boster dengan dosis 20Gy kecuali pada aksila
15Gy.

Cara Terapi Radiasi


Radioterapi eksternal dimulai 2-4 minggu setelah penyembuhan jaringan
bekas eksisi luas dan diseksi kelenjar getah bening aksila yang cukup baik.
Rencana terapi dilakukan untuk menjamin homogenitas dosis dengan kemampuan
mempertahankan pasien pada posisi tertentu penggunaan alat-alat bervoltase tinggi.
Setiap daerah harus diterapi setiap hari, Senin sampai Jumat, sampai mencapai
dosis total 4.500 sampai 5.000 cGy dengan 180 sampai 200 cGy per fraksi.
Prosedur ini biasanya memakan waktu 4-5 minggu. Radiasi dengan elektron dan
implantasi iridium 192 juga dapat digunakan.
External beam radiation atau radiasi dari luar adalah tipe radiasi paling umum
bagi penderita dengan kanker payudara.Radiasi tersebut diarahkan dari mesin ke
tubuh bagian luar di area yang terkena kanker.
Pada beberapa wanita, payudara menjadi lebih kecil dan keras setelah terapi
radiasi.Menjalani

radiasi,

juga

mempengaruhi

kesempatan

penderita

untuk

melakukan rekonstruksi payudara.Terapi radiasi pada kelenjar getah bening di


daerah ketiak juga dapat, menyebabkan timbulnya lympedema (pembengkakan
kelenjar getah bening).
Pada beberapa kasus yang jarang, terapi radiasi dapat melemahkan tulang
rusuk, sehingga dapat menyebabkan patah tulang.Di masa lalu, bagian dari paru
dan jantung juga mendapatkan sinar radiasi, yang pada jangka waktu yang lama
dapat menyebabkan kerusakan organ-organ tersebut pada penderita. Peralatan
terapi radiasi modern memungkinkan dokter untuk menfokuskan sinar radiasi,
sehingga maslah seperti di atas menjadi jarang.
(Abdul. 2011: Dwi, Asti, dkk. 2010: Mardiana, Lina. 2010: Doenges M., 2000: Dixon M.,
dkk, 2005: Sjamsuhidajat R., 1997: Tapan, 2005: Supandiman, Iman. 1997: Suzanne.
2002)
1.7 Komplikasi Kanker Payudara

Komplikasi utama dari kanker payudara adalah metastase jaringan sekitarnya


dan juga melalui saluran limfe dan pembuluh darah ke organ-organ lain. Tempat yang
sering untuk metastase jauh adalah paru-paru, pleura, tulang, dan hati.
Beberapa komplikasi kanker payudara, yaitu :
a. Metastase ke tulang menyebabkan fraktur patologis, nyeri kronik, dan hiperkalsemia
b. Metastase ke paru-paru akan mengalami gangguan ventilasi pada paru-paru
c. Metastase ke otak menyebabkan gangguan persepsi sensorik, gangguan bicara dan
dengar
d. Penyebaran langsung infiltrasi lokal ke otot dibawahnya dan kulit yang menutupinya
secara klinis dapat dideteksi, mengakibatkan adanya ulserasi atau kerutan
e. Hematogen, paling sering mengenai pulmo dan tulang juga hepar , adrenal, otak.
Infiltrasi ekstensif ke sumsum tulang dapat menyebabkan anemia leukoeritroblastik.
Destruksi tulang menyebabkan hiperkalsemia disertai komplikasi ginjal
f. Transelomik, menyebar ke rongga tubuh. Contoh pleura parietalis atau peritoneum
g. Implantasi tumor, pencemaran sel-sel dari tumor ke dalam luka pada saat
pembedahan awal
h. Duktus mammae, duktus yang berdekatan dengan suatu kanker payudara invasive
i.

terisi dengan sel-sel maligna


Limfogen, yaitu akibat infiltrasi ke saluran limfatik kulit menyebabkan timbulnya tanda
klinis seperti peau dorange. Misal pada kelenjar limfe axilaris.
(Sukardjo 2000)

1.8 Pencegahan Kanker Payudara


a. Menciptakan/membiasakan perilaku CERDIK :
- Cek kesehatan berkala
- Enyahkan asap rokok
- Rajin aktivitas fisik
- Diet sehat makanan yang mengandung banyak antioksidan dan menghindari
-

zat karsinogenik (makanan berpengawet, berformalin)


Istirahat cukup
Kelola stress

b. Melakukan SADARI setiap bulan, 7-10 hari setelah hari pertama haid terakhir.

Cara melakukan SADARI yang benar dapat dilakukan dalam 5 langkah yaitu :
1) Dimulai dengan memandang kedua payudara di depan cermin dengan posisi
lengan terjuntai ke bawah dan selanjutnya tangan berkacak pinggang.

Lihat dan bandingan kedua payudara dalam bentuk, ukuran dan warna
kulitnya.

Perhatikan kemungkinan kemungkinan dibawah ini :

Dimpling, pembengkakan kulit.

Posisi dan bentuk dari puting susu (apakah masuk ke dalam atau
bengkak)

Kulit kemerahan, keriput atau borok dan bengkak.

2) Tetap di depan cermin kemudian mengangkat kedua lengan dan melihat


kelainan seperti pada langkah 1.
3) Pada waktu masih ada di depan cermin, lihat dan perhatikan tanda-tanda
adanya pengeluaran cairan dari puting susu.

4) Berikutnya dengan posisi berbaring, rabalah kedua payudara, payudara kiri


dengan tangan kanan dan sebaliknya, gunakan bagian dalam (volar/telapak)
dari jari ke 2-4. Raba seluruh payudara dengan cara melingkar dari luar
kedalam atau dapat juga vertikal dari atas ke bawah.
5) Langkah berikutnya adalah meraba payudara dalam keadaan basah dan licin
karena sabun di kamar mandi; rabalah dalam posisi berdiri dan lakukan
seperti langkah-4.
c. Sekecil apapun benjolan yang ditemukan segera konsultasikan ke dokter
(Kemenkes RI, 2015)

DAFTAR PUSTAKA
Abdul. 2011. Kaitan Gizi dengan Kanker Payudara pada Wanita. Jakarta : Universitas
Muhammadiyah
Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Dixon M., dkk, 2005, Kelainan Payudara, Cetakan I, Dian Rakyat, Jakarta.
Doenges M., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta
Dwi, Asti, dkk. 2010. Penyakit Genetika Kanker Payudara. Purwokerto: Universitas Jendral
Sudirman.
Kemenkes RI. 2015. Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara. Jakarta.
Kemenkes RI. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun
2015.
Mansjoer, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta: EGC
Mardiana, Lina. 2010. Kanker pada Wanita. Jakarta: Niaga Swadaya
Pramudya. 2011. Carsinoma Mammae. Bandung: Sartika
Purwastuti, Endang. 2012. Kanker Payudara. Yogyakarta. Kanisius
Ris_Kan_Payudara_01

(Converted).pdf.

Kanser

Payudara.

Kesan

Awal

Dengan

Pemeriksaan Sendiri Payudara (PSP). Oktober, 2004


Sjamsuhidajat R., 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta
Supandiman, Iman. 1997. Pedoman Terapi Hematolog Onkologi. Bandung: PT.Alumni
Sutoto J. S. M., 2005. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital dalam Buku Ilmu Kandungan.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo, Jakarta.338-345
Suzanne. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC
Tapan, 2005, Kanker, Anti Oksidan dan Terapi Komplementer. Jakarta :Elex Media
Komputindo,.
Wijayakusuma, H. 2008.Atasi Kanker dengan Tanaman Obat. Jakarta: Puspaswara