Anda di halaman 1dari 39

TUGAS

METODE PENELITIAN ILMIAH


REVIEW JURNAL ILMIAH

ABDULLAH ALI
METEOROLOGI 4A

SEKOLAH TINGGI METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN


GEOFISIKA
2014

REVIEW MAKALAH 1

PENULIS
JUDUL
TAHUN
TERBIT
PENERBIT

August H. Auer Jr.


Hail Recognition through the Combined Use of Radar Reflectivity and CloudTop Temperature
1994
American Meteorology Society
Pendeteksian kejadian hujan es yang hanya berdasrkan radar cuaca sering

MASALAH

memberikan kesulitan dan misinterpretasi pada saat membedakan antara hujan


es dengan hujan lebat akibat awan konvektif. Perlu dikembangkan teknik baru
yang memudahkan berdasrkan kombinasi alat pengindraan jauh.
Mengembangkan suatu teknik untuk mengurangi kesulitan dalam membedakan

TUJUAN

antara hujan lebat dan hujan es dari awan konvektif dengan mengombinasikan
data pengamatan radar dan data pengamatan satelit.
1. Analisis korelasi Ze-TB (reflektivitas-suhu puncak awan). Dilakukan
dentgan menggunakan data temperatur puncak awan untuk mengurangi
ambigu pengamatan radar dalam membedakan hujan lebat dengan hujan es

METODOLOGI

berdasrkan suatu rumusan empiris


2. Perumusan persamaan empiris dengan menggunakan regresi.
3. Uji persamaan empiris dengan CSI (Critical Succes Index), POD
(Probability of Detection), dan FAR (False-alarm ratio)
1. Data radar Doppler MetService New Zealand Ericson pada 100 kasus di

DATA

New Zeland, pada 20 Oktober 1993 hingga 31 Januari 1994


2. Data temperatur puncak awan dari sateit infrared
1. Saat jumlah dari suhu puncak awan (<0C) ditambah dengan nilai
reflektivitas lebih dari 60, maka tedapat potensi besar terjadi hujan es
2. Kombinasi penggunaan suhu puncak awan pada 35 kasus menaikkan CSI

HASIL

dari 48% menjadi 81%, POD dari 56% menjadi 91%, dan FAR dari 22%
menjadi 12%.
3. Persamaan regresi yang digunakan untuk menentukan keberadaan hujan es
: 2.6Z(dBZ) + Tb 85. Z adalah refletivitas dan T b adalah suhu puncak
awan

KESIMPULAN

1. Potensi hujan es dan diameter hailstone dapat diperkirakan melaui


persamaan empiris antara reflektivitas radar dengan suhu puncak awan.

REVIEW MAKALAH 2

PENULIS
INSTITUSI

K. Aydin dan T. A. Seliga


Communication and Spcae Science Laboratory, Departement of Electrical
Engineering, Trhe Pennsylvania, University, PA 16802

JUDUL

Remote Sensing of Hail with a Dual Linear Polarization Radar

TAHUN

1986

TERBIT
PENERBIT

American Metoerology Society


Pengamatan Single- Polarization Weather Radar Doppler sering kali

MASALAH

menimbulkan keterbatasan dalam pendeteksian kejadian hujan es. Sehingga


perlu dikembangkan metode pengamatan berdasrkan teknologi radar dual
polarisasi.

TUJUAN

Mengembangkan teknik pendeteksian hail berdasarkan differential reflectivity


ZDR dengan menggunakan Dual- Polarization Weather Radar Doppler.
1. Analisis parameter differential reflectivity (ZDR) pada Dual- Polarization
Weather Radar Doppler berdasrkan horizontal reflectivity factor (ZH) dan
vertical reflectivity factor (ZV)

METODOLOGI

2. Analisis korelasi differential reflectivity (ZDR) dengan ukuran tetes hujan


3. Analisis korelasi horizontal reflectivity factor (ZH) dengan differential
reflectivity (ZDR)
4. Perumusan empiris hail signal (HDR) berdasarkan differential reflectivity
(ZDR) dan reflectivity factor (ZH)
1. Data radar CP-2 NCAR

pada proyek MAYPOLE (May Polarization

Experiment) pada kejadian sistemkonvektif tanggal 4 Juni 1983 di Greeley,


DATA

Colorado dan 13 Juni 1984 di sekitar Denverm, Colorado.


2. Data Jos and Waldvogel electromechanical disdrometer pada saat sistem
konvektif tanggal 4 Juni 1983 di Greeley, Colorado dan 13 Juni 1984 di
sekitar Denverm, Colorado.

HASIL

1. Parameter differential reflectivity (ZDR) pada Dual- Polarization Weather


Radar

Doppler

didasarkan

pada

persamaan

dengan ZDR adalah differential reflectivity, ZH adalah horizontal reflectivity


factor, dan ZV adalah vertical reflectivity factor.
2. Analisis korelasi horizontal reflectivity factor (ZH) dengan differential
reflectivity (ZDR) ditunjukkan dengan hasil plot :

Hasil plot diatas berdasrkan persamaan 4,5,6 sebagi berikut :

3. Pada pengamatan sistem konvektif di Greeley tanggal 3 Juni 1984 dan di


sekitar Denverm tanggal 13 Juni 1984, menunjukkan HDR bergantung pada

ZH , dimana ZH berkaitan dengan ukuran dari hailstone dan HDR berkaitan


dengan energy kinetic hailstone.
4. Pada pengamtan sistem konvektif di Greeley tanggal 3 Juni 1984
menunjukkan bahwa batas ambang Z H dalam pengukuran HDR adalah 55
dBZ.
5. Pada pengamtan sistem konvektif di sekitar Denverm tanggal 13 Juni
1984menunjukkan bahwa batas ambang Z H dalam pengukuran HDR adalah
kurang dari 55 dBZ.
1. Pengindraan jauh kejadian hujan es menggunakan Dual- Polarization
Weather

Radar Doppler

di demonstrasikan dengan signal HDR

mendiferensialkan reflektivitas radar pada polarisasi linier vertikal dan


horizontal
KESIMPULAN

2. Pengamtan in situ menggunakan sistem pengamatan mobile terhadap


semua studi kasus data badai di Colorado menunjukkan hasil konfirmasi
positif HDR sebagai sinyal kejadian hujan es.
3. Batas ambang nilai reflektivitas sebgai indikasi kejadian hujan es di
Colorado pada Dual- Polarization Weather Radar Doppler adalah 55 dBZ,
namun pada kejadian tempat lain perlu dilakukan koreksi.

ANALISA KEJADIAN HUJAN ES


DENGAN MENGGUNAKAN CITRA RADAR GEMATRONIK
(STUDI KASUS HUJAN ES NARMADA, TANGGAL 8 JANUARI 2014)
Kadek Setiya Wati
Prakirawan Stasiun Meteorologi Selaparang Bandara Internasional Lombok
Jalan Raya Mandalika Penujak, Praya, Telp: (0370) 6157025 FAX : (0370) 6157024
Email : kadek.setiya@gmail.com
Abstrak Wilayah perairan Indonesia yang luas mendukung tersedianya uap air dalam jumlah banyak di
atmosfer. Ketersediaan uap air dalam jumlah banyak didukung dengan pemanasan matahari yang cukup
memungkinkan untuk tumbuhnya awan-awan konvektif di wilayah Indonesia. Salah satu jenis awan konvektif
yang memberikan dampak signifikan terhadap cuaca di Indonesia yaitu awan Cumulonimbus (CB). Awan
Cumulonimbus merupakan penyebab terjadinya kilat (lightning), guntur (thunderstorm), downburst , hujan lebat,
angin kencang, dan hujan es (hail).
Hujan es merupakan hujan dengan butiran berupa es yang memiliki diameter antara 5 hingga 50
milimeter. Kejadian hujan es di Indonesia khususnya di NTB cukup jarang terjadi. Namun pada tanggal 8
Januari 2014 yang lalu berdasarkan laporan dari masyarakat telah terjadi hujan deras yang disertai dengan
butiran es di wilayah Narmada, Lombok Barat. Tidak ada kerugian yang ditimbulkan akibat kejadian ini, namun
hal ini cukup mengejutkan masyarakat karena frekuensi kejadiannya yang jarang.
Meskipun kejadian hujan es ini tidak menimbulkan kerugian namun tetap perlu dilakukan analisa.
Analisa dalam tulisan ini menggunakan data citra radar gematronik serta didukung dengan data meteorologi
lainnya. Produk citra radar yang digunakan yaitu MAX dan VCUT. Dari analisa citra tersebut dapat diketahui
seberapa besar reflektivitas yang ditampilkan oleh radar sehingga mengakibatkan terjadinya hujan es.
Kata Kunci : cumulonimbus, hujan es, radar gematronik
1.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara maritim dengan
total luas perairan mencapai 2/3 dari luas
keselurahan wilayahnya. Ditambah lagi dengan
posisi astronomisnya yang mengakibatkan
Indonesia menjadi negara tropis dengan
penyinaran matahari hampir sepanjang tahun.
Kedua hal tersebut memberikan dampak terhadap
pembentukan sistem cuaca di wilayah Indonesia
khususnya
pembentukan
awan-awan
konvektifnya.
Salah satu unsur cuaca yang sangat
berpengaruh adalah awan khususnya awan
konvektif seperti Cumulus dan Cumulonimbus.
Awan konvektif dari jenis cumulonimbus
merupakan penyebab terjadinya kilat, guntur,
hujan deras, angin kencang dan hujan es. Jika
kilat, guntur, hujan deras dan angin kencang
cukup sering terjadi di wilayah Indonesia berbeda
halnya dengan hujan es. Hujan es merupakan
peristiwa yang cukup jarang terjadi di wilayah
Indonesia pada umumnya dan wilayah Nusa
Tenggara Barat pada khususnya.
Menurut kamus meteorologi, hujan es
merupakan hujan berupa butir-butir es yang
terpisah-pisah atau bergabung menjadi gumpalan
dengan garis tengah butir antara 5 hingga 50
milimeter atau lebih.
Proses terbentuknya hujan es (hail) sebagai
berikut :

1.
2.

3.

4.

5.

Di dalam awan Cb terdapat arus kuat ke atas oleh


udara hangat dan arus kuat ke bawah oleh udara
dingin.
Jika sebuah tetesan air terangkat ke atas oleh arus
updraft, tetesan air tersebut dapat naik hingga
lapisan atas dari freezing level yang memiliki
suhu udara kurang dari 0C sehingga tetesan air
tersebut membeku.
Ketika tetesan air beku tersebut mulai jatuh
terbawa oleh arus downdraft dingin, saat
mencapai bagian bawah awan Cb yang lebih
hangat tetesan air yang membeku tersebut mulai
mencair.
Dalam keadaan setengah mencair,
tetesan
tersebut dapat terbawa kembali ke atas oleh arus
updraft hingga mencapai lapisan udara yang
sangat dingin dan membeku kembali. Perjalanan
tetesan tersebut menuju lapisan atas dan bawah
freezing level mengakibatkan bertambahnya
lapisan es yang menyelimuti tetesan tersebut.
Jika tetesan beku yang sudah diselimuti oleh
banyak lapisan es tersebut jatuh ke permukaan
inilah yang disebut hujan es (hail).

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
87

Gambar 1. Mekanisme terjadinya hujan es


( Sumber : NOAA)

Hujan es atau sering disebut hail biasanya


berasal dari awan cumulonimbus. Adanya liputan
awan cumulonimbus dapat dipantau dengan
bantuan radar cuaca. Di Pulau Lombok telah
dipasang radar cuaca gematronik sejak bulan
November 2013, tepatnya di daerah Penujak,
Lombok Tengah. Adanya radar cuaca ini sangat
membantu dalam memantau perkembangan cuaca
di wilayah Pulau Lombok dan dapat digunakan
sebagai salah satu sumber data untuk keperluan
analisa kejadian cuaca ekstrem.
Pada tanggal 8 Januari 2014, masyarakat
yang bertempat tinggal di sekitar wilayah
Narmada, Lombok Barat melaporkan adanya
kejadian hujan lebat yang disertai dengan butiranbutiran es. Tidak ada laporan kerugian maupun
korban jiwa akibat fenomena ini, namun
masyarakat sekitar cukup dibuat terkejut. Hal ini
dikarenakan hujan es tergolong fenomena yang
jarang terjadi di wilayah Lombok. Berdasarkan
hal itu maka kejadian hujan es ini perlu untuk
dibuat analisanya.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini
antara lain:
1. Menganalisa penyebab terjadinya hujan es di
Narmada tanggal 8 Januari 2014.
2. Mengetahui pola hasil pengamatan radar
cuaca yang menggambarkan kejadian hujan
es.

Gambar 2. Peta Pulau Lombok


(Sumber : Google)

2.

DATA DAN METODE


2.1. Data
Data yang digunakan dalam tulisan ini antara
lain:
1. Data citra radar Stasiun Meteorologi
Selaparang tipe Gematronik tanggal 8 Januari
2014. Data radar yang digunakan adalah
rawdata scan 120 km karena jarak lokasi
kejadian dengan pusat radar cukup dekat
sekitar 25 km. Dengan menggunakan
perangkat lunak Rainbow 5, rawdata digenerate menghasilkan reflektivitas produk
MAX dan VCUT.
2. Data synoptik yang digunakan sebagai
pembanding untuk melihat kondisi cuaca
secara umum
di Lombok Barat pada saat
kejadian hujan es.
2.2. Metode
Metode yang digunakan dalam tulisan ini
yaitu metode studi kasus. Metode studi kasus ini
dilakukan dengan tahapan sebagai berikut ;
1. Melakukan
analisa synoptik tanggal 8
Januari 2014, untuk melihat kondisi cuaca
secara umum yang mempengaruhi kondisi
cuaca lokal di tempat kejadian. Data synoptik
di ambil dari website www.bom.gov.au
2. Mengolah rawdata radar tanggal 8 Januari
2014 dengan bantuan perangkat lunak
Rainbow 5 untuk menghasilkan citra radar
dari produk MAX dan VCUT.

1.3. Daerah Studi


Daerah kajian dalam penulisan ini yaitu
sekitar daerah Narmada, Lombok Barat.

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
88

3.

ANALISA DAN PEMBAHASAN


3.1. Analisa
3.1.1 Analisa Tekanan Udara

G
ambar 3. Peta Analisa Tekanan Udara
(Sumber : BOM)

Dari peta analisa tekanan udara tanggal 8 Januari


2014 di atas, dapat dilihat bahwa terdapat beberapa
pusat tekanan rendah baik di BBU maupun di BBS.
Pusat tekanan rendah yang letaknya cukup dekat
dengan wilayah NTB yaitu pusat tekanan rendah di
Samudera Hindia sebelah Barat Daya Sumatera (1007
hpa) dan pusat tekanan rendah di sebelah Utara
Australia (1005 hpa).

3.
1.2. Analisa Streamline
Gambar 4. Peta Analisa Streamline 925 hpa
(Sumber : BOM)

Dari peta analisa streamline ketinggian 925 hpa di


atas, dapat dilihat bahwa terjadi belokan angin di
wilayah NTB. Hal ini memungkinkan tumbuhnya
awan-awan konvektif di atas wilayah NTB.
3.1.3. Analisa Citra Radar
Produk citra radar yang digunakan antara
lain MAX dan VCUT.
3.1.3.1. Analisa Citra Radar Sebelum Kejadian

Gambar 5. Citra Radar Produk MAX Pukul 05.00 UTC,


05.10 UTC, 05.20 UTC dan 05.30 UTC

Pada citra radar pukul 05.00 UTC atau sekitar


pukul 13.00 WITA terlihat liputan awan yang cukup
banyak di sebelah Utara Narmada, lokasi terjadinya
hujan es. Citra radar 10 menit selanjutnya masih
menunjukkan kondisi yang sama dengan liputan awan
yang semakin meluas ke bagian Tenggara dan Selatan

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
89

Gambar 6. Citra Radar Produk MVCUT Pukul 05.00 UTC,


05.10 UTC, 05.20 UTC dan 05.30 UTC

Hingga pantauan citra radar pukul 05.30 UTC,


kondisi di atas wilayah desa Narmada masih cukup
baik, dimana liputan awan mulai terlihat namun masih
dalam tingkat reflektivitas rendah.
3.1.3.2. Analisa Citra Radar Saat Kejadian
Pada citra radar pukul 05.40 UTC dan 05.50 UTC
liputan awan tampak semakin meluas ke wilayah desa
Narmada dengan nilai reflektivitas yang juga semakin
tinggi. Pada citra radar pukul 06.00 UTC di atas
wilayah Narmada tampak liputan awan dengan nilai
reflektivitas tertinggi yaitu di atas 64 dbz yang
ditandai dengan indikator warna ungu. Hal ini
diperkuat dengan citra radar dari produk MVCUT.
Terlihat adanya reflektivitas hingga mencapai lebih
dari 64 dbz di ketinggian 1 hingga 8 km. Setelah pukul
06.00 UTC liputan awan terus bergerak ke arah
Selatan. Nilai reflektivitas tampak terus berkurang dari
sebelumnya.

Gambar 7. Citra Radar Produk MAX Pukul 05.40 UTC,


05.50 UTC, 06.00 UTC, 06.10 UTC, 06.20 UTC
dan 06.30 UTC

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
90

Gambar 9. Citra Radar Produk MAX Pukul 06.40 UTC,


06.50 UTC, dan 07.00 UTC

Pada citra radar pukul 06.40 UTC hingga pukul


06.50 UTC tampak liputan awan di atas wilayah
Narmada berangsur-angsur mulai berkurang dan pada
pukul 07.00 UTC tampak hanya sedikit awan yang
masih tersisa. Hal ini didukung oleh citra radar produk
MVCUT dimana pada pukul 06.40 UTC masih terlihat
adanya nilai reflektivitas yang mencapai 44 dbz pada
ketinggian antara 1 hingga 2 km, kemudian berangsurangsur reflektivitasnya berkurang hingga menjadi
berwarna hitam yang mengindikasikan tidak adanya
echo dari wilayah tersebut.

Gambar 8. Citra Radar Produk MVCUT Pukul 05.40 UTC,


05.50 UTC, 06.00 UTC, 06.10 UTC, 06.20 UTC
dan 06.30 UTC

3.1.3.3. Analisa Citra Radar Setelah Kejadian


_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
91

reflektivitas mencapai lebih dari 64 dbz pada


ketinggian 1 hingga 8 km. Besar kemungkinan bahwa
telah terbentuk sel awan CB yang sudah matang di
wilayah tersebut. Reflektivitas mencapai lebih dari 64
dbz muncul di ketinggian yang cukup rendah yaitu
ketinggian sekitar 1 km. Besar kemungkinan nilai
reflektivitas tersebut berasal dari hujan deras yang
disertai dengan batu es karena melihat pola dari citra
radar dimana pola warna ungu (reflektivitas lebih dari
64 dbz) tampak cenderung terpisah-pisah tidak
menyatu secara
vertikal.
Setelah
mencapai
reflektivitas maksimum pukul 06.00 UTC berangsurangsur nilai reflektivitas menurun, hingga pukul 07.00
UTC nilai reflektivitas sudah jauh berkurang hingga
warna yang tampil dominan hitam.
4. KESIMPULAN
1. Sebelum terjadinya hujan es di sekitar lokasi
kejadian memang telah terjadi banyak presipitasi.
2. Pada saat kejadian hujan es, nilai reflektivitas
dari citra radar menunjukkan indikator warna
hingga berwarna ungu yang merupakan indikator
nilai reflektivitas tertinggi.
3. Adanya nilai reflektivitas yang sangat tinggi
lebih dari 64 dbz di ketinggian yang cukup
rendah dapat disinyalir sebagai reflektivitas yang
bersal dari hujan deras yang disertai dengan batu
es.
5.

Gambar 9. Citra Radar Produk MVCUT Pukul 06.40 UTC,


06.50 UTC, dan 07.00 UTC

3.2. Pembahasan
Berdasarkan analisa tekanan udara dan
streamline, pada tanggal 8 Januari 2014, terdapat pusat
tekanan rendah di sebelah Barat Daya Sumatera yang
mengakibatkan terjadinya belokan angin di atas
wilayah NTB. Hal ini mendukung pertumbuhan awanawan konvektif di atas wilayah NTB.
Dari citra radar pukul 05.00 UTC hingga pukul
05.20 UTC, di atas wilayah Narmada hanya terdapat
sedikit liputan awan. Hal ini terlihat dari citra produk
MAX dan VCUT dimana nilai reflektivitas yang
tampil bernilai rendah. Mulai pukul 05.40 UTC terjadi
peningkatan nilai reflektivitas yang cukup signifikan
di atas wilayah Narmada pada ketinggian 1 hingga 8
km, dapat diindikasikan sebagai pertumbuhan sel
awan CB di wilayah tersebut. Nilai reflektivitas dari
citra radar tampak semakin meningkat hingga
mencapai puncaknya pada pukul 06.00 UTC. Nilai

DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, Ahmad Sirait (2013). Mendeteksi
Puting Beliung Dengan Radar (Studi Kasus
Puting Beliung Sidrap Tanggal 24 Februari
2012). Tugas Akhir. Jurusan Meteorologi
AMG, Jakarta.
Fikroh, Nabila (2013). Analisa Pola Angin Pada
Citra Radar Saat Kejadian Puting Beliung
(Studi Kasus Pangkep, 12 Jnauari 2013.
Tugas Akhir. Jurusan Meteorologi AMG,
Jakarta.
Tyasjono Hk, Bayong & Harijono, Sri Woro B
(2006). Meteorologi Indonesia 2. Jakarta:
Badan Meteorologi dan Geofisika.
Rinehart, Ronald E. (2010). Radar For
Meteorologist.
Missouri
:
Rinehart
Publications.
http://bom.gov.au , diakses tanggal 9 Januari
2014.
http://erh.noaa.gov , diakses tanggal 27 Maret
2014.
http://pustakacuaca.blogspot.com
,
diakses
tanggal 27 Maret 2014.

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
92

REVIEW MAKALAH 3
PENULIS

Kadek Setyawati, Stasiun Meteorologi Selaparang Lombok


ANALISIS KEJADIAN HUJAN ES DENGAN MENGGUNAKAN CITRA

JUDUL

RADAR GEMTRONIK (STUDI KASUS HUJAN ES NARMADA TANGGAL 8


JANUARI 2014)

TAHUN
TERBIT
PENERBIT

2014
BMKG/ Prosiding Workshop Oprasional Radar dan Satelit Cuaca BMKG Volume
II Bulan Desember 2014
1. Apa penyebab terjadinya hujan es di Narmada tanggal 8 Januari 2014?

MASALAH

2. Bagaimana pola hasil pengamatan radar cuaca terhadap hujan es yang terjadi
di Narmada tanggal 8 Januaro 2014?
1. Menganalisa penyebab terjadnya hujan es di Narmada tanggal 8 Januari 2014

TUJUAN

2. Mengetahui pola hasil pengamatan radar cuaca yang menggambarkan


kejadian hujan es
1. Data mentah radar Gematronik Stasiun Meteorologi Selaparang tanggal 8

DATA

januari 2014.
2. Produk citra radar Rinbow berupaa MAX(Z), VCUT(Z), VCUT(V).
3. Data cuaca sinoptik Stasiun Meteoroogi Selaparang tanggal 8 Januari 2014

METODOLOGI

1. Analisis cuaca sinoptik


2. Analisis pola reflektivitas
1. Keadaan cuaca sinoptik tanggal 8 Januari 2014 berdasarka analisa streamline
memberikan informasi terjadinya belokan angin di atas pulau NTB akibat
adanya sistemtekanan rendah di Barat Daya Sumatera. Belokan angin tersebut
menyebabkan pertumbuhan awan konvektif di wlayah NTB.
2. Sistem awan konvektif mulai terdeteksi oleh radar cuaca pada pukul 05.40

HASIL

UTC di atas wilayah Narmad pada ketinggian 1-8 km. Nilai reflektivitas yang
terdeteksi mengindikasikan pertumbuhan awan kumulonimbus.
3. Nilai reflektivitas diatas 64 dBz terdeteksi pada pukul 06.00 UTC di
ketinggian sekitar 1 km. Nilai reflektivitas tersebut diduga sebagai hujan deras
disertai batu es karena struktur vertikal yang terpisah-pisah.
4. Setelah pukul 06.00 UTC nilai reflektivitas berangsur-angsur menurun hingga
pukul 07.00 UTC yang menandakan awan kumulonimbus mengalami tahap

disipasi.
1. Sebelum terjadinya hujan es di sekitar lokasi kejadian memang telah terjadi
banyak presipitasi.
2. Pada saat kejadian hujan es, nilai reflektivitas dari citra radar menunjukkan
indikator warna merah hingga berwarna ungu yang merupakan indikato nilai

KESIMPULAN

reflektivitas tertinggi.
3.

Adanya nilai reflektivitas yang sangat tinggi lebih dari 64 dbz di ketinggian
yang cukup rendah dapat disinyalir sebagai reflektivitas yang bersal dari
hujan deras yang disertai dengan batu es

PEMANFAATAN PRODUK RADAR BARON UNTUK MENGANALISIS


HUJAN ES/HAIL DISERTAI ANGIN KENCANG
DI KABUPATEN MAGELANG
Giyarto
Prakirawan Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang
e-mail : Stamet_ayani@yahoo.com; www.gie_74@yahoo.co.id

Abstrak - Sejumlah wilayah di Kabupaten Magelang, Selasa (18/3), sekitar jam15.00 wib, diguyur hujan es/hail
sebesar kelereng. Sementara sejumlah sukarelawan terpaksa menutup jembatan sabo dam oprit Gondosuli
diperbatasan Muntilan dan Sawangan, karena terjadi banjir lahar di alur Kali Pabelan. Berdasarkan pantauan
di lapangan hujan es/hail turun disertai angin kencang.Dengan melihat karakteristik awan hujan dan penelitian
terhadap Produk Reflectivity yang diambil dari contoh produk radar berupa MAXDISPLAY-Z (dBZ)/Maximum,
PPI (dBZ)/Plan Position Indicator, VXSECT-Z(dBZ)/Vertical Cross Section dan WARN-Z(dBZ) yang diambil
dari Radar Cuaca BMKG Semarang. Data diambil pada proses terbentuknya awan hujan sampai terjadinya
hujan es(hail) dan angin kencang di sekitar Kabupaten Magelang, yaitu mulai jam 06.00 07.48 wib tanggal 18
Maret 2014.
Metode yang digunakan dalam mengidentifikasi awan hujan ini adalah pancaran energi radar yang dipantulkan
kembali oleh butiran-butiran air di dalam awan dan digambarkan dengan Produk Reflectivity yang memiliki
besaran satuan dBZ (decibel). Makin besar energi pantul yang diterima radar maka makin besar juga nilai dBZ,
dan semakin besar nilai dBZ reflectivity menunjukkan adanya pertumbuhan awan hujan yang sangat besar dan
dapat menghasilkan intensitas hujan yang semakin besar pada lowest elevation, Volume Scan, Elevation Scan
dan analisis WARN-Z berupa sel Storm dari C-band Radar (BARON).
Analisis kejadian hujan es/hail dan angin kencang dilakukan dengan menggabungkan produk reflectivity dari
MAXDISPLAY-Z, VXSECT-Z, PPI-Z dan WARN-Z untuk masing-masing volume scan dan elevasi scan yang
menunjukkan adanya peningkatan gradasi warna dari satuan decibel rendah ke arah maksimum (63.2dBZ). Dan
juga terjadi peningkatan volume yang cukup signifikan/besar serta ketinggian puncak awan pada level lebih
dari 10 km dengan dasar awan yang cukup rendah. Hal ini dapat dilihat dari data VXSECT-Z dan PPI-Z yang
dapat dilihat pada level paling atas. Dengan memperhatikan karakteristik awan hujan (Cumulonimbus) di
daerah tropic dapat disimpulkan pada pembacaan produk radar adanya pembentukan awan Cumulonimbus di
tempat tersebut dengan cakupan yang sangat luas dan ketinggian sangat tinggi (>10km) dan dasar awan yang
sangat rendah dalam waktu tumbuh yang cepat serta proses hujan yang sangat cepat sehingga butiran es yang
terdapat di dalam awan belum sempat habis ketika sampai permukaan bumi. Pada saat yang bersamaan sisi lain
dari awan tersebut dapat menimbulkan adanya efek angin kencang.
Kata kunci : hujan es/hail, angin kencang, reflectivity, decibel.

I.
1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Untuk melaksanakan Peraturan Kepala BMKG
dalam Surat Keputusan Nomor : KEP.009 Tahun 2010
tentang Prosedur Standar Operasional Pelaksanan
Peringatan Dini, Pelaporan, dan Diseminasi Informasi
Cuaca Ekstrim serta adanya pemberitaan di media
masa yaitu Harian SUARA MERDEKA yang terbit
hari Rabu, tanggal 19 Maret 2014 di salah satu
kolomnya berjudul HUJAN ES DAN LISUS
RUSAK BELASAN RUMAH. Sebagai salah satu
Unit
Pelaksana
Teknis
yang
berkewajiban
memberikan layanan publik untuk tugas yang telah di
tetapkan seyogyanya kita selalu meningkatkan kualitas
daripada tugas tersebut. Salah satunya adalah
membuat analisis terhadap fenomena cuaca ekstrim
salah satunya adanya hujan es/hail disertai angin
kencang. Fenomena hujan es/hail dan angin kencang
pada masa-masa transisi sekarang ini sering terjadi di
wilayah Jawa Tengah. Awal terjadinya hujan es/hail

dan angin kencang ini karena tumbuhnya jenis awan


yang bersel tunggal berlapis-lapis (Cumulunimbus)
yang dekat dengan permukaan tanah atau dapat juga
berasal dari multi sel awan dengan luasan area
horisontal sekitar 3-5 km yang tumbuh vertikal ke atas
dengan ketinggian mencapai 30.000 feet atau lebih.
Dari penjelasan singkat mengenai terjadinya hujan
es/hail tersebut diindikasikan bahwa dalam
menganalisis kejadiaannya memerlukan penyebab
terjadinya pertumbuhan awan Cumulunimbus.
Radar di Semarang adalah C-Band dengan
merk BARON yang berguna untuk mengamati awan,
hujan dan badai guntur.
1.2
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pertumbuhan awan hujan/cumulonimbus hingga
terjadinya hujan es/hail dan angin kencang. Sehingga
diketahui luasan awan hujan, letak awan hujan dan
daerah hujan es, gerakan awan atau hujan struktur
vertikal awan hujan dan pertumbuhan awan hujan.

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
73

II. DATA DAN METODE


2.1
Tempat dan Waktu Pengamatan
Tempat pengamatan melalui radar BARON di
Stamet Ahmad Yani Semarang dengan daerah yang
diamati adalah sekitar pegunungan tengah tepatnya
daerah
Magelang
dan
sekitarnya.
Dengan
memperhatikan
waktu
pertumbuhan
awan
hujan/cumulonimbus di daerah tersebut, sehingga
waktu pengamatannya dimulai jam06.00 wib hingga
punahnya awan Cumulonimbus tersebut yaitu
jam08.48 wib dengan interval waktu scan 12 menit
pada tanggal 18 Maret 2014 (gambar terlampir).
2.2
Data Yang Digunakan
Data-data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah:
1. Data dari radar C-Band berupa produk
Reflektivity :
MAXDISPLAY-Z (dBZ), PPI (dBZ)/Plan
Position Indicator, VXSECT-Z (dBZ)/
Vertical Cross Section dan WARN-Z(dBZ).
2. Data labilitas udara dari Showalter Indeks
pada lapisan 925-700 hPa jam 00.00 UTC,
06.00 UTC, dan 12.00 UTC tanggal 18 Maret
2014 (produk KMA).
2.3 Identifikasi hasil Reflektisitas
Dari Data radar C-Band berupa rangkaian pixel
berwarna yang menggambarkan echo balik
(reflektivitas) yang diterima dari target. Skala warna
menyatakan tingkat kekuatan echo yang
menggambarkan intensitas dan distribusi target, jika
warna pada identikasi reflektivitas dari biru ke kuning
atau hingga merah bahkan sampai merah tua maka ada
beberapa jenis awan yang menjadi target mungkin
stratiform hingg awan konvektif.
Persamaan Radar :
Z = 1 r2 Pr
C
Dimana :
C = Radar Constan
Z = Reflectivity of Precipitation
r = Radial Distance
Pr = Radar Equation
Faktor reflektivitas :
5 | K| 2 Dmax D6 n(D) dD

0
Dimana :

= Panjang gelombang Radar


| K| 2 = indek refraksi
D
= diamaeter
Data MAXDISPLAY-Z (dBZ) pada pengamatan kami
melihat adanya pertumbuhan sel awan hujan yang
cukup cepat tumbuhnya. Jika awan konvektif tersebut
berada di wilayah sel badai atau sel core badai dan
konvergen, sehingga kita dapat menentukan jenis
awan yang terdeteksi mulai dari stratiform, konvektif
dan campuran dari kedua awan tersebut selnya masih
tetap tumbuh atau mati.
2.4
Kegunaan Citra Radar dan Informasi
Cuaca Radar.

Citra radar dapat digunakan untuk menaksir


sistem cuaca yang ada dalam skala kecil. Penaksiran
umumnya dilakukan dengan melakukan analisis pola
sebaran awan, mengidentifikasi lokasi daerah hujan,
kandungan butir air dalam awan, mengestimasi
kecepatan angin dan gerakan turun.

Gb.1 Bagan gerak awan dalan awan Kumulus

Dari pengamatan radar diperoleh data tentang


butir-butir awan, gerakan butir dan partikel-partikel di
dalam awan, tinggi awan, intensitas hujan. Karena
proses hidupnya awan dan berlangsungnya hujan
memakan waktu yang pendek, utamanya dikawasan
khatulistiwa Indonesia maka data radar berskala waktu
pendek. Selain itu pengamatan dengan radar hanya
dapat dilakukan dalam daerah yang sempit sehingga
awan cepat pulakeluar dari jangkauan radar, maka
pengamatan dengan radar harus dilakukan sesering
mungkin. Oleh karena itu data pengamatan radar pada
suatu saat hanya dapat digunakan dasar pembuatan
gawar jangka pendek dan untuk daerah yang sempit.
Berikut ini kami tampilkam tabel sifat awan di
kawasan tropik :
Daerah
pumpunan
Daerah
(convergence) angin, pusaran,
Sumber
siklon tropik
Golakan
(convektion),
Proses
pembentukan pengangkatan (lifting)
Gundukan menjulang ke atas
Bentuk awan
Berkelompok dalam skala kecil
Sebaran
Butir air, campuran butir air
Komposisi
kristal es
Agak suram, tidak rata
Ketampakan
Pendek
Lama hidup
Tabel 1. Sifat Awan di Kawasan Tropik

2.5
Perkembangan Labilitas Udara dilihat
dari Showalter Indeks.
Dari data labilitas udara Showalter Indeks
(KMA) menunjukan pada pagi hari cukup stabil. Pada
siang hari untuk daerah kabupaten Magelang
menunjukkan kondisi labil, dan berlanjut hingga sore
atau
malam
hari.

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
74

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Proses pertumbuhan awan hujan hingga
menjadi hujan es/hail dilihat dari produk
reflektivitas (MAXDISPLAY-Z, PPI-Z, dan
WARN-Z) pada Radar Baron Semarang.
A. Produk MAXDISPLAY-Z (dBZ)
Hasil pengamatan pada produk MAXDISPLAY-Z
yang diamati di Kabupaten Magelang mulai jam 06.36
wib 08.36 wib dalam interval waktu scan 12 (dua
belas) menit. Proses pertumbuhan awan hujan hingga
menjadi hujan es/hail disertai angin kencang dapat
kami tunjukkan pada tabel dibawah ini :
Gambaran yang dapat dijelaskan
Waktu
dari image produk
pengamatan
MAXDISPLAY-Z untuk masing(wib)
masing waktu interval.
06.36
Langit masih clear
06.48
Ada pertumbuhan awan hujan di
selatan
Kabupaten
Magelang
(Purworejo)
07.00
Pertumbuhan awan hujan semakin
besar dan arahnya ke utara
07.12
Volume
awan
hujan
makin
membesar
07.24
Volume awan hujan sudah memasuki
Kabupaten Magelang
07.36
Awan hujan yang sudah memasuki
Kabupaten Magelang menjadi lebih
besar dan ada pola pada echo yang
diterima ke radar menunjukkan
angka 56 dbz (decibel). Walaupun
pola ini masih kecil, hal ini
menunjukkan bahwa pada bagian
atas awan sudah terdapat butiran es.
07.48
Pada jam ini, kejadian hujan es/hail
disertai angin kencang berlangsung.
Hal ini dapat dijelaskan pada image
yang dilampirkan, karena pada image
jam tersebut luasan daerah yang
menunjukkan echo pada angka 63.2
dbz bertambah besar dengan di
kelilingi daerah yang lain pada
kondisi cerah/clear.
08.00
Di daerah Kabupaten Magelang
masih dalam kondisi hujan sedang
lebat akan tetapi luasannya sudah
tidak sebesar 12 (dua belas) menit
yang lalu, karena daerah tersebut
ditunjukkan pada echo 49.1 dbz.
08.12
Di daerah Kabupaten Magelang
masih hujan pada intensitas ringan.
08.24
Awan hujan sudah punah dan hujan
sudah reda, yang ada hanya awanawan stratiform.
08.36
Awan type stratiform makin meluas
di daerah tersebut.
Tabel 2. Gambaran image radar Baron pada masing-masing
waktu interval

B. Produk Reflektivitas PPI-Z (dBZ)/Plan


Position Indicator
Untuk produk PPI-Z ini dilihat dari image kejadian
hujan es/hail disertai angin kencang pada jam07.48
wib pada elevasi 2.4 derajat dan tampak lebih jelas
lagi pada elevasi 4.8 derajat dalam radius 200 km. Hal
ini menjelaskan bahwa awan hujan yan tumbuh di
tempat tersebut menjulang tinggi (Cumuluonimbus),
karena daerah target terletak sangat jauh dari radar dan
terhalang pegunungan. Sehingga hanya dapat terlihat
pada elevasi yang tinggi. Hasil image radar pada saat
kejadian seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 2. Image radar produk PPI-Z elevasi 2.4 derajat


radius 200 km jam07.48 wib

Gambar 3. Image radar produk PPI-Z elevasi 4.8 derajat


radius 200 km jam07.48 wib

C. Produk Reflektivitas VXSECT-Z(dBZ)/


Vertical Cross Section
Pada produk VXSECT-Z ini menjelaskan bahwa awan
hujan yang tumbuh dan berkembang di daerah target
menunjukkan cakupan yang luas dan menjulang tinggi
dengan dasar awan yang cukup rendah, yang di dalam
awan terdapat pola echo dengan derajat decibel sangat
tinggi (63.0 dBZ). Yang merupakan gambaran dari
adanya kristal es di dalam awan. Hal seperti ini adalah
menggambarkan bahwa awan hujan /cumulonimbus
yang terlihat pada target radar adalah jenis awan
Cumulonimbus yang sangat tinggi (lebih dari 10 km)
dan luas cakupannya. Hasil image radar pada saat
kejadian seperti terlihat pada gambar di bawah ini :

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
75

Gambar 4. Image radar produk VXSECT-Z dan


MAXDISPLAY-Z jam07.48 wib

pertumbuhan awan hujan yang tampak pada gambargambar terlampir.


3.2 Proses perkembangan labilitas udara dilihat
dari data Showalter Indeks (SSI).
Showalter Indeks merupakan indeks yang sering
digunakan untuk menentukan proses konveksi.
Showalter Indek hampir sama dengan Lifting Indeks
(LI),
yang
membedakan
Showalter
Indeks
menggunakan parcel udara yang terangkat dari lapisan
850 mb ke lapisan 500 mb. Pada lapisan 500 mb suhu
parcel merupakan hasil pengurangan dari suhu
lingkungan. Semakin negatif nilai Showalter Indeks
mengindikasikan kondisi atmosfer yang semakin tidak
stabil. Adapun formulanya sebagai berikut :
LI = T500 Tp500
Dengan T = temperatur lingkungan, Tp = temperatur
parcel ( terangkat dari 850 mb sampai 500 mb).
SSI
3-1
1 - (-2)
(-3) (-6)
< (-6)

Identification
Shower, Thundershower
Thundershower
Severe Thundershower
Severe Thundershower,
Tornadoes

Tabel 3. Indeks Showalter Indeks (SSI)

Gambar 5. Image radar produk VXSECT-Z jam07.48 wib

D. Produk Reflektivitas WARN-Z (dBZ)


Data pada produk WARN-Z (dBZ) jam07.48 wib di
sekitar target menunjukkan adanya kejadian hujan
es/hail yang ditunjukkan dengan echo yang tertangkap
menunk pada 63.2 dBZ. Hal ini menjelaskan bahwa di
daerah tersebut telah terjadi hujan es/hail karena angka
decibelnya melebihi 55 decibel.
Hasil image pada saat kejadian seperti terlihat pada
gambar di bawah ini :

Untuk daerah Kabupaten Magelang pada hari


terjadinya hujan es/hail disertai angin kencang dapat
dipaparkan adanya perkembangan keadaan atmosfer
yang menunjukkan semakin tidak stabilnya daerah
tersebut. Hal ini dapat dilihat dari data Showalter
Indeks yang ada di bawah ini :

Gambar 6. Showalter Stability Index For 925 -700 hPa


validitas 00 UTC

Gambar 5. Image radar produk WARN-Z jam07.48 wib

Pada saat kejadian hujan es/hail disertai angin kencang


dengan kecepatan lebih dari 20 knots. Bagaimana
perkembangan kecepatan angin mulai dari 18 knots
hingga lebih dari 20 knots terlihat pada proses

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
76

Gambar 7. Showalter Stability Index For 925 -700 hPa


validitas 06 UTC

V. DAFTAR PUSTAKA
[1] HUJAN ES DAN LISUS RUSAK BELASAN
RUMAH, SUARA MERDEKA , Rabu, 19
Maret 2014.
[2] Soerjadi Wh, Drs. Pemanfaatan Data Hasil
Pengamatan Radar dan Satelit Untuk Gawar
Cuaca Ekstrem.
[3] Selex System Integration GmbH, 2011. Rainbow
5 Training Manual.
[4] Wardoyo, Eko. Radar Cuaca Pengantar I.
[5] Achmad Sasmita, 2003. Kondisi Cuaca Pada
Saat Terjadi Banjir Bulan Februari Tahun 2007
dan 2008 di Wilayah DKI Jakarta.
[6] Asnani G.C. Ph.D. Tropical Meteorology. Indian
Instutute of Tropical Meteorology.
[7] Toruan, Kanton.L, 2008. Interprestasi Data
Radar Meteorologi.

Gambar 8. Showalter Stability Index For 925 -700 hPa


validitas 12 UTC

IV. KESIMPULAN
1. Perkembangan labilitas udara yang dilihat
pada data Showalter Indeks (SSI) di
Kabupaten Magelang yang merupakan
tempat terjadinya hujan es/hail disertai angin
kencang dari pagi hingga sore hari
menunjukkan adanya perkembangan dari
stabil menuju sangat tidak stabil. Pada jam
07.48 wib menunjukkan angka yang
mengidentifikasikan adanya hujan badai yang
berlangsung dalam waktu yang singkat.
2. Pada penelitian ini dari beberapa produk
reflektivitas yang dianalisis pada jam07.48
wib mulai MAXDISPLAY-Z, PPI-Z/Plan
Position Indicator , VXSECT-Z, dan WARNZ pada jam 07.48 reflektivitas pada radar
menunjukkan angka 63.2 dBZ (> 55dBZ)
dengan tampilan gradasi warna sangat merah
(merah tua). Yang berarti pada angka tersebut
telah terjadi hujan es/hail disertai angin
kencang di daerah target. Dikarenakan
ketinggian dasar awan hujan yang rendah
sehingga butir-butit kristal es yang berada di
dalam awan yang turun sebagai hujan belum
sempat mencair, maka dalam waktu yang
singkat terjadilah hujan es/hail disertai angin
kencang di daerah tersebut.

_________________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
77

REVIEW MAKALAH 4
PENULIS
INSTITUSI

Giyarto, Prakirawan
Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang
PEMANFAATAN PRODUK RADAR BARON UNTUK MENGANALISIS

JUDUL

HUJAN

ES/HAIL

DISERTAI

ANGIN

KENCANG

DI

KABUPATEN

MAGELANG
TAHUN
TERBIT
PENERBIT
MASALAH
TUJUAN

2014
BMKG/ Prosiding Workshop Oprasional Radar dan Satelit Cuaca BMKG Volume II
Bulan Desember 2014
Penyebab pertumbuhan cumulonimbus hingga menyebabkan hujan es.
Mengetahui pertumbuhan awan cumulonimbus hingga terjadinya hujan es, gerakan
awan, dan struktur vertikal awan
1. Data raw radar cuaca Doppler C-BAND Ahmad Yani Semarang tanggal 18
Maret 2014 pukul 06.00 -08.48

DATA

2. Produk radar cuaca BARON MAXDISPLAY(Z), PPI(Z), WARN(Z), dan


VXSECT(Z).
3. Data Labilitas Udara Showalter Index lapisan 925-700 hPa taggal 18 Maret 2014
pukul 00, 06, 12 UTC

METODOLOGI

1. Identifikasi echo reflectivity


2. Analisis labilitas udara
1. Hasil pengamatan radar cuaca melalui produk MAXDISPLAY(Z) menunjukkan
terdeteksi awan pada pukul 06.480 UTC dari selatan Kabupaten Magelang.
Pertumbuhan awan mula signifikan pukul 07.00 dan bergerak ke utara. Pada
pukul 07.24 awan sudah memasuki Kabupaten Magelang. Awan menadi lebih
besar dengan nilai reflektivias 56 dBz. Hujan es terjadi pada pukul 07.48 UTC

HASIL

dengan nilai reflektivitas 63.2 dBz. Awan cumulonimbus mulai memasuki tahap
disipasi pada pukul 08.24 dan menjadi awan statiform. Pada pukul 08.36 awan
statiform mulai meluas.
2. Produk VXSECT(Z) menunjukkan ketinggian awan lebih dari 10 km.
3. Nilai Showalter Indekx menunjukkan nilai -1. Nilai tersebut termasuk dalam
kategori thundershower.

KESIMPULAN

1. Hujan es di Kabupaten Magelang terjadi pada tanggal 18 Maret 2014 pada pukul

07.48 dengan ditandai nilai reflektivitas awan kumulonimbus dengan ketinggian


lebih dari 10 km diatas 55 dBz.
2. Nilai labilitas udara melalui Showalter Indeks menunjukan nilai -1 sebagai
indikasi thunderstorm.

ANALISA KEJADIAN CUACA EKSTRIM


STUDI KASUS HUJAN ES DI BOGOR TANGGAL 6 MARET 2014
Nurul Pramiftah
Staff Sub Bidang Cuaca Ekstrim Bidang Peringatan Dini Cuaca
Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika
Jl. Angkasa I No.2 Kemayoran Jakarta Pusat Telp : 021 6546315 Fax : 021 6546312
e-mail : nurul_geo05@yahoo.com, pramiftah@gmail.com
Abstrak Hujan es merupakan fenomena cuaca esktrim yang terjadi secara lokal dan dalam waktu yang sangat
singkat sehingga untuk dapat membuat analisa hujan es diperlukan data yang terupdate yaitu data radar.
Kejadian hujan es di Kawasan Cibinong Bogor pada tanggal 6 Maret 2014 merupakan kejadian hujan es yang
terjadi sangat singkat yaitu antara pukul 15.00 16.00 WIB. Analisa data synop menunjukkan bahwa cuaca di
daerah Bogor dan sekitarnya menunjukkan hujan lebat disertai guntur dengan kecepatan angin cenderung
lambat. Data satelit MTSAT menunjukkan bahwa suhu puncak awan <-67o. Berdasarkan analisa data radar
pada produk reflectivity sekitar waktu kejadian CAPPI & CMAX pukul 15.20 WIB (08.20 UTC) terlihat sel-sel
awan yang mempunyai intensitas hingga mencapai 57 dBz. Hal ini mengindikasikan adanya hujan lebat dan
hujan es.
Kata kunci : cuaca ekstrim, hujan es, radar
1. PENDAHULUAN
Fenomena cuaca di Indonesia sangatlah
kompleks karena letak geografis yang berada di
daerah equator dan diapit oleh samudera dan benua.
Selain itu, kondisi geomorfologi Indonesia yang
sangat beragam menyebabkan faktor lokal suatu
daerah bisa sangat berbeda dengan daerah
disekitarnya. Hal tersebut merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi terjadinya fenomena cuaca
ekstrim selain faktor meteorologi.
Salah satu fenomena cuaca ekstrim yang adalah
hujan es. Hujan es adalah salah satu bentuk dari
presipitasi yang berupa bola-bola, potongan, maupun
serpihan-serpihan es dan memiliki diameter antara 550 mm. Namun dalam pertumbuhan ekstrem, diameter
hail bisa lebih besar lagi. Hujan es (hail) dapat jatuh
secara terpisah atau terkumpul menjadi gumpalangumpalan yang tidak memiliki bentuk yang teratur [1].
Hujan es merupakan fenomena cuaca ekstrim yang
bersifat lokal (tidak merata) dan terjadi dalam waktu
yang sangat singkat sehingga sulit untuk diperkirakan.
Kejadian hujan es dapat terjadi kurang dari satu jam.
BMKG sebagai Lembaga Pemerintah Non
Kementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan
di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara
dan Geofisika, semakin hari dituntut untuk selalu
memberikan pelayanan yang akurat kepada
masyarakat, yang berupa prakiraan cuaca baik untuk
jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena
itu, untuk membuat analisa mengenai hujan es
diperlukan data yang terupdate maksimal 1 jam-an.
Data yang paling dibutuhkan untuk membuat analisa
hujan es adalah data radar cuaca yang terupdate setiap
10 menit sekali.

Radar cuaca adalah suatu cara pengamatan atau


penginderaan jarak jauh dengan menggunakan
gelombang radio untuk mengamati keadaan cuaca,
khususnya presipitasiRadar cuaca pada dasarnya
merupakan suatu instrumen untuk menentukan posisi
dan intensitas suatu target yaitu berupa hidrometeor
[2].
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa
mengidentifikasi kondisi atmosfer pada saat kejadian
hujan es menggunakan data radar sebagai data utama.
Sehingga analisa yang dihasilkan dapat dijadikan
acuan untuk memprediksi cuaca yang memiliki
parameter yang hampir sama.
2. DATA DAN METODE
2.1. Data
Data yang digunakan dalam penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut :
a. Data cuaca permukaan Stasiun Meteorologi
Dermaga dan Stasiun Meteorologi Citeko tanggal
6 Maret 2014 pukul 16.00 dan 19.00 WIB.
b. Data RADAR Tangerang tanggal 6 Maret 2014
pukul 07.50 - 08.40 UTC.
c. Data Satelit MTSAT kanal IR 1 tanggal 6 Maret
2014 pukul 08.00 09.00 UTC.
2.2. Metode
Metode yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Analisa data synoptik Stasiun Meteorologi
Dermaga dan Stasiun Meteorologi Citeko.
b. Analisa citra satelit MTSAT kanal IR 1 untuk
mengetahui suhu puncak awan pada saat kejadian
hujan es sehingga dapat diketahui jenis awannya.

_______________________________________________________________________________________________
__
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
102

c. Interpretasi dan analisa secara visual time series


citra radar pada produk CMAX, CAPPI dan
XSEC.
3. PEMBAHASAN
3.1. Analisa Data Synop
Hujan es terjadi pada tanggal 6 Maret 2014 di
daerah Bogor sekitar pukul 15.00-16.00. Hujan es
yang terjadi diawali dengan hujan lebat disertai
guntur. Ukuran diameter bola-bola es yang dihasilkan
sekitar 0 10 mm.
Stasiun Mateorologi
Data synop

Dermaga
16.00 WIB

Arah angin

130

Kec. Angin

03 KT

Cuaca
Cuaca 1 jam
sebelum nya
Suhu
Tekanan

16.00 WIB

19.00 WIB

310
calm

Guntur

Guntur

Berawan

Hujan

06 KT

calm

Hujan +
guntur
Hujan +
guntur

Hujan +
guntur
Hujan +
guntur

29

25

29

25

1010

1013.7

1010.7

1012.8

3 mm

0.2 mm

14 mm

Cb (600 M)

Cb (600 M)

Cb (600 M)

Cb (600 M)

Curah hujan
Awan

Citeko

19.00 WIB

Analisa citra satelit selain secara visual juga


dilakukan secara digital atau menggunakan bantuan
software. Citra MTSAT diolah dengan menggunakan
bantuan software SATAID (Satellite Animation and
Interactive Diagnosis). SATAID adalah sebuah
software yang digunakan untuk visualisasi dan
manipulasi data citra satelit, NWP (Numerical
Weather Prediction), hasil pengamatan dan data [4].
Data hasil olahan SATAID berupa kontur suhu
puncak awan (Gambar 2.) yang diturunkan menjadi
grafik suhu puncak awan (Gambar 3.). Berdasarkan
data tersebut diketahui bahwa terjadi pertumbuhan
awan konvektif yang signifikan pada pukul 08.0009.00 UTC yang ditandai dengan penurunan suhu
yang signifikan pada pukul 08.20 UTC. Suhu puncak
awan pada saat terjadi hujan adalah <-67o C. menurut
klasifikasi jenis awan, diketahui awan yang terbentuk
adalah awan Cumulus padat yang berpotensi
menghasilkan hujan sedang hingga lebat klasifikasi
jenis awan, diketahui awan yang terbentuk adalah
awan Cumulus padat yang berpotensi menghasilkan
hujan sedang hingga lebat.

Tabel 1. Data Synop Stasiun Meteorologi Dermaga dan


Stasiun Meteorologi Citeko tanggal 6 Maret 2014

Berdasarkan data synop, cuaca di daerah Bogor


bagian selatan umumnya hujan lebat disertai guntur
dengan awan Cumulonimbus pada ketinggian 600m
dari permukaan dengan kecepatan angin yang relatif
lambat. Hal ini menunjukkan adanya indikasi
terjadinya hujan es karena salah satu proses
pembentukan hujan es adalah ketika adanya updrafts
yang sangat kuat bertemu dengan tetes air yang sangat
dingin. Tetes air sangat dingin ini merupakan tetes air
yang jatuh diselubungi oleh udara yang dibawah titik
beku dan biasanya terjadi pada thunderstorm [3].
3.2. Analisa Citra Satelit
Citra satelit yang digunakan untuk analisa
kejadian hujan es ini adalah citra satelit MTSAT kanal
IR 1 pada jam 15.00 16.00 WIB. Analisa citra satelit
ini merupakan data pendukung untuk analisa citra
radar. Gambar 1. menunjukkan adanya awan yang
bergerak dari arah barat daya atau dari Samudera
Hindia yang membawa massa uap air.

Citra MTSAT IR 1
Citra MTSAT IR 1
6 Maret 2014 09.00 UTC
6 Maret 2014 08.00 UTC
Gambar 1. Citra satelit MTSAT IR pada saat kejadian.

Gambar 2. Kontur Puncak Awan 6 Maret 2014 08.47 UTC

Gambar 3. Grafik Suhu Puncak

_______________________________________________________________________________________________
__
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
103

3.3. Analisa Citra RADAR


Produk radar yang digunakan dalam analisa ini
adalah CAPPI, CMAX dan XSEC sebelum, saat dan
sesudah kejadian. Namun, data yang tersedia hanya
data pada pukul 07.50 UTC; 08.20 UTC; 08.30 UTC;
dan 08.40 UTC, untuk data pukul 08.00 dan 08.10
UTC tidak dapat diakses karena masalah komunikasi.
Data radar tersebut masih dapat digunakan untuk
melakukan analisa karena masih merepresentasikan
waktu sebelum, saat dan sesudah kejadian hujan es.

Gambar 4. Produk CMAX (6 Maret 2014), dari atas bawah


07.50 UTC, 08.20 UTC, 08.30 UTC, 08.40 UTC.

Gambar 3. Produk CAPPI 1 km (6 Maret 2014), dari atas


bawah 07.50 UTC, 08.20 UTC, 08.30 UTC, 08.40 UTC.

Berdasarkan citra radar pada di atas secara garis


besar tampak liputan awan yang bergerak dari arah
barat daya Bogor (07.50 UTC) dengan tingkat
reflektifitas sekitar 45 dBZ. Hal ini diperkuat dengan
data synop yang meyatakan bahwa kondisi cuaca di
Stasiun Meteorologi Citeko satu jam sebelum pukul
09.00 UTC adalah hujan disertai dengan guntur (Tabel
1.).

Liputan awan terus bergerak ke arah Bogor dan


semakin meluas ke arah utara dan timur laut. Pada
pukul 08.20 UTC terlihat liputan awan yang besar di
atas Bogor dengan nilai reflektifitas sebesar 57 dBZ
yang ditunjukkan pada produk CAPPI maupun
CMAX (Gambar 3. dan Gambar 4.). nilai reflekstifitas
yang tinggi menunjukkan bahwa indikasi terjadinya
hujan lebat dan hail sangat mungkin terjadi sesuai
dengan Tabel 2. tentang interpretasi reflektifitas dBZ.
dBZ

Rain Rate

10

~ 0.2

20

~1

Comments
Significant but mostly nonprecipitating cloud
Drizzle, very light rain

30

~3

Light rain

40

~ 10

50

~ 50

60

~ 200

Moderate rain, showers


Heavy rain, thundershowers,
some hail possible
Extremely heavy rain, severe
thunderstorm, hail likely

Tabel 2. Tabel Interpretasi faktor dBZ

_______________________________________________________________________________________________
__
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
104

Indikasi terjadinya hujan es di Bogor juga


ditunjukkan oleh produk radar XSEC (Gambar 5.)
yang merupakan cross section dari awan yang
terdeteksi oleh radar. Berdasarkan produk XSEC dapat
diketahui ketinggian lebar dari liputan awan. XSEC
pada pukul 08.20 UTC menunjukkan bahwa terdapat
pola nilai dBZ yang tinggi (warna keunguan) tidak
menyatu secara vertikal.

[3] http://www.wunderground.com/resources/
severe/hail.asp diakses pada tanggal 4 April 2014
[4] http://www.wis-jma.go.jp/cms/sataid/
diakses pada tanggal 4 April 2014

Gambar 5. XSEC pukul 08.20 UTC

Berdasarkan citra radar pukul 08.30 UTC hingga


08.40 UTC menunjukka bahwa liputan awan setelah
terjadinya hujan es terus bergerak ke arah Utara dan
Timur Laut sedangkan liputan di daerah terdampak
hujan es menunjukkan nilai reflektifitas yang
cenderung menurun.
4. KESIMPULAN
1.

Kondisi cuaca di daerah sekitar area terdampak


hujan es (sebelum terjadi hujan es) adalah hujan
disertai dengan guntur dengan nilai reflekstifitas
45 dBZ.

2.

Awan yang menyebabkan hujan es berdasarkan


analisa data synop, satelit dan radar adalah awan
Cumulus dan Cumulonimbus.

3.

Indikasi terjadinya hujan es ditunjukkan dengan


nilai reflektifitas sebesar 57 dBZ dan pola yang
terpisah-pisah secara vertikal
DAFTAR REFERENSI

[1] Byers, H.R., General Meteorology, New York:


McGraw-Hill Book Company Inc. London, 1974,
dalam Fadholi, A., Analisa Kondisi Atmosfer
pada Kejadian Cuaca Ekstrem Hujan Es (Hail),
SIMETRI Jurnal Ilmu Fisika Indonesia, 2012.
[2] Toruan, K.L., Dasar-Dasar Sistem Pengamatan
Radar Cuaca, Jakarta, 2010.

_______________________________________________________________________________________________
__
Prosiding Workshop Operasional Radar & Satelit Cuaca | Vol : II Desember 2014
105

REVIEW MAKALAH 5
PENULIS
JUDUL
TAHUN
TERBIT

Nurul Pramiftah, Sub Bidang Cuaca Ekstrem


ANALISA KEJADIAN CUACA EKSTREM STUDI KASUS HUJAN ES DI
BOGOR TANGGAL 6 MARET 2014
2014

BMKG/ Prosiding Workshop Oprasional Radar dan Satelit Cuaca BMKG Volume II
Bulan Desember 2014
1. Bagaimana kondisi atmosfer pada saat terjadi hujan es di Bogor tanggal 6 Maret
2014 berdasarkan data cuaca sinoptik dan satelit?
MASALAH
2. Apa indikasi kejadian hujan es di Bogor tanggal 6 Maret 2014 berdasarkan hasil
pengamtan radar cuaca?
Menganalisa kondisi atmosfer pada saat kejadian hujan es menggunakan data radar
TUJUAN
cuaca sebagai data utama
1. Analisis data cuaca sinpotik Stasiun Meteorologi Darmaga dan Stasiun
Meteoroogi Citeko
2. Analisis citra satelit MTSAT kanal IR 1 untuk mengetahui suhu puncka awan
METODOLOGI
pada saat kejadian hujan es
3. Interpretasi dan analisis secara visual timeseries citra radar produk CMAX(Z),
PPI(Z), dan XSEC(Z)
1. Data cuaca permukaan Stasiun Meteorologi Darmaga dan Stasiun Meteorologi
CIteko tangagl 6 Maret 2014 pukul 16.00 dan 19.00 WIB
DATA
2. Data satelit MTSAT kanal IR 1 tanggal 6 Maret 2014 pukul 08.00 -09.00 UTC
3. Data radar Tangerang tanggal 6 Maret 2014 pukul 07.50 08.40 UTC
1. Analisa data cuaca sinoptik Stasiun Meteorologi Darmaga Bogor pada umumnya
terjadi huan lebat disertai guntur dengan awan kumulonimbus pada ketinggian
sekitar 600 m dari permukaan dengan kecepatan angina yang relative lambat.
2. Hasil interpretasi kontur suhu puncak awan dari pengolahan data SATAID
menunjukkan terdapat penurunan suhu yang signifikan pada saat 08.20 dengan
nilai kurang dari -67C. Nilai suhu puncak awan tersebut mengindikasikan awan
HASIL
kumulonimbus yang dapat menimbulkan hujan lebat.
3. Hasil interpretasi citra radar, liputan awan secara garis besar bergerak dari arah
barat daya Bogor. Pada pukul 08.20 UTC, liputan awan terus bergerak ke arah
Bogor dan semakin meluas ke arah utara dan timur laut dengan nilai reflektivitas
sebesar 57 dBz yang ditunjukkan dengan produk CAPPI(Z) dan CMAX(Z).
1. Kondisi cuaca di daerah sekitar areat terdampak hujanes (sebelum terjadi hujan
es) adalah hujan disertai dengan guntur. Reflektivitas awan terdeteksi sebesar 57
dBz
KESIMPULAN 2. Awan yang menyebabkan hujan es berdasarkan analisa data sinoptik, satelit, dan
radar adalah awan cumulus dan kumulonimbus
3. Indikasi terjadinya hujan es ditunjukkan dengan nilai reflektivitas sebesar 57 dBz
dan pola yang terpisah-psisah secara vertikal
PENERBIT