Anda di halaman 1dari 76

BAB IV

INTEGRAL LIPAT
Bab ini hanya menyajikan pengenalan singkat tentang integral
lipat. Akan dibahas tentang penggunaan integral lipat dalam fisika antara
lain untuk menghitung luas bidang, volume, massa, koordinat pusatmassa dan momen inersia. Di samping itu, dibahas pula transformasi
koordinat pada variabel integrasi sebagai upaya untuk memudahkan
perhitungan integral lipat yaitu dengan memperkenalkan konsep
Jacobian.

4.1. Pengertian Integral Lipat Dua


Luas di bawah kurva pada Gambar 4.1 dapat didekati
dengan menjumlahkan persegi-persegi panjang yang panjangnya
f(x) dan lebarnya x . Geometri menunjukkan bahwa dengan
membuat lebar x 0, maka jumlah luas persegi-persegi panjang
tersebut akan cenderung sama dengan luas daerah di bawah kurva,
yang bentuk penjumlahan ini dinyatakan sebagai integral. Sehingga
luas daerah di bawah kurva y f ( x ) dinyatakan sebagai:
b

Luas lim

x 0

f ( x) x f ( x)dx ydx
a

(4.1)

Matematika untuk Fisika

Jadi integral

f ( x)dx

merupakan limit dari jumlah luas persegi-

persegi panjang pada Gambar 4.1.

y
y(x)

a x

Gambar 4.1 Menghitung luas daerah di bawah kurva y f (x )

Uraian di atas dapat dikembangkan untuk menghitung


volume benda di bawah permukaan z f ( x, y ), misal volume
silinder di bawah binang seperti tampak pada Gambar 4.2. Mulamula bidang xy dibagi menjadi beberapa luasan kecil sebesar

A (x)(y ). Dari setiap luasan ini dibentuk kotak vertikal ke


atas sampai permukaan z f ( x, y ). Volume silinder ini dapat
didekati dengan menjumlahkan seluruh volume kotak. Jika volume
kotak diperkecil yaitu dengan membuat x dan y 0, maka

Integral Lipat

secara geometris jumlah seluruh volume kotak akan cenderung


mendekati volume silinder. Integral lipat-dua dari f ( x, y ) meliputi
seluruh luasan A dalam bidang xy tidak lain merupakan pendekatan
dari jumlah luasan A (x)(y ). Hal ini dapat dinyatakan dengan
ungkapan
volume lim

x 0
y 0

f ( x, y ) xy zdxdy
A

f ( x, y )dxdy

(4.2)

Pernyataan (4.2) inilah yang dikenal sebagai integral lipat dua dari
fungsi f ( x , y ) terhadap daerah A.
Pada integral lipat dua berlaku beberapa sifat sebagi berikut:
(i). Jika f f ( x, y ) dan g g ( x , y ) dua fungsi terdefinisi pada
daerah A, maka

( f g )dxdy fdxdy gdxdy


A

(4.3)

(ii). Jika c sebuah tetapan, maka

(cf )dxdy c fdxdy


A

(4.4)

(iii). Jika A merupakan gabungan dua daerah A1 dan A2, maka

fdxdy fdxdy fdxdy


A

A1

(4.5)

A2

Matematika untuk Fisika

z=f(x,y)
O

y x

Gambar 4.2 Integral lipat-dua dari z f ( x , y )

4.2. Integral Berulang


Integral lipat biasanya dihitung dengan menggunakan integral
berulang. Untuk memahami perhitungan ini perhatikan sketsa luas
A berikut ini. Untuk menghitung

f ( x, y )dxdy , dapat dilakukan


A

dengan menggabungkan segiempat kecil-kecil dxdy sehingga


membentuk pita tipis, kemudian menjumlahkan seluruh pita ini
untuk menghasilkan luas daerah yang diinginkan.
Luasan A yang ditunjukkan pada Gambar 4.4, seluruhnya
merupakan daerah yang normal terhadap sumbu-x artinya setiap
garis yang tegak lurus sumbu-x hanya memotong dua kurva pada
4

Integral Lipat

batas daerah A. Untuk mengintegralkan pada daerah yang normal


terhadap sumbu-x ini, maka pertama-tama mengintegralkan
terhadap y, baru selanjutnya terhadap x. Batas bawah dan atas
daerah A adalah kurva y1 ( x ) dan y2 ( x ) , sedangkan batas kiri dan
kanannya berupa konstanta yitu x = a dan x = b. Sehingga bentuk
integral berulang yang tepat untuk digunakan sebagai berikut:
y2 ( x )

f ( x, y )dxdy f ( x, y )dy dx.

x a y y1 ( x )

y2(x)

(4.6)

y
y2(x)

y2(x)
y1(x)
O

y1(x)

y1(x)
b x O

b x O

b x

Gambar 4.3 Menghitung integral lipat untuk daerah A yang normal


terhadap sumbu-x
Luasan A yang ditunjukkan pada Gambar 4.5, seluruhnya
merupakan daerah yang normal terhadap sumbu-y artinya setiap
garis yang tegak lurus sumbu-y hanya memotong dua kurva pada
batas daerah A. Untuk mengintegralkan pada daerah yang normal
terhadap sumbu-y ini, maka pertama-tama mengintegralkan
terhadap x, baru selanjutnya terhadap y. Batas batas kiri dan

Matematika untuk Fisika

kanannya daerah A adalah kurva x1 ( y ) dan x 2 ( y ) , sedangkan


bawah dan atasnya berupa konstanta yitu y = c dan y= d. Sehingga
bentuk integral berulang yang tepat untuk digunakan sebagai
berikut:
x2 ( y )

f ( x , y )dxdy f ( x, y )dx dy.

y c x x1 ( y )

y
d

y
d
x1(y)

y
d
x1(y)

x2(y)

x2(y)

x1(y)

(4.7)

x2(y)

Gambar 4.3 Menghitung integral lipat untuk daerah A yang normal


terhadap sumbu-y
Gambar 4.6, mengilustrasikan daerah A yang normal
terhadap sumbu-x maupun sumbu-y, sehingga untuk menghitung
integral meliputi daerah tersebut dapat digunakan persamaan (4.6)
ataupun (4.7), sebagai berikut:
x b y2 ( x )

x d x2 ( y )

f ( x, y)dxdy f ( x, y)dydx f ( x, y )dxdy


x a y y1 ( x )

y
d

y
d

y
d

y c x x1 ( y )

b x

Integral Lipat

bx

bx

Gambar 4.6 Menghitung integral lipat untuk daerah A yang normal


terhadap sumbu-y maupun sumbu-x
Jika

f ( x, y ) dapat dinyatakan sebagai perkalian dua fungsi,

misalnya f ( x, y ) g ( x )h( y ), maka


b

b
d

f ( x , y )dxdy g ( x )h( y )dydx g ( x )dx h( y )dy (4.8)


x a y c
a
c

Contoh 4.1
Dengan menggunakan integral, hitunglah nilai

2 x 3 y dx dy dengan R merupakan

daerah berarsir berikut!

y
1

Matematika untuk Fisika

Penyelesaian:
Persamaan garis yang melalui titik (0,0) dan (2,1) adalah y
x2

1
x
2

1
y x
2

2 x 3 y dxdy 2 x 3 y dydx
x 1 y 0

3 2

2 xy y 2 dx
2 0
x 0

x3 x3
3

x 2 x 2 dx
8
3 8 0
x 0

5
8
1 0
3
3

Contoh 4.2
Hitunglah

x dx dy

dengan R luasan pada gambar berikut !

y
4

(4,4)

R
O

Penyelesaian:
Persamaan garis yang melalui titik (0,0) dan (4,4) adalah x y

Integral Lipat

Persamaan garis yang melalui titik 4,4 dan 6,0

y y1
x x1
y4 x4

04 64
y2 y1 x2 x1
y 4 2 x 4 y 2 x 12 x 6

1
y
2

Maka,
y 4

1
x 6 y
2

y 4

x dx dy x dx dy 2
y 0

x y

y 0

1
6 y
2

dx dy
y

6 12 y 2 y 2

dy

2
2
y 0
y 4

36 6 y 14 y 2 y 2
dy
y0
2
2
y 4

y 4

y2
1 2

dy

18

3
y

8
y0
2

y 4

18 3 y

3
8

y 2 dy

y 0

3
1

18 y y 2 y 3
2
8 0

40

Contoh 4.3
Hitunglah nilai integral

x dx dy , dengan R merupakan

daerah

berarsir pada gambar berikut!

y x2

y 2x 8

Matematika untuk Fisika

Penyelesaian:
x 4 y 2 x 8

x 4

x dx dy x dy dx xy

2 x 8
x2

x 2 y x 2

dx

x 2

x 4

2 x 8
1
2
8 x x 3 x 2 dx x 3 4 x 2 x 4
4 -2
3
x 2
1 4 2
1
2 3
2
3
2
4
4 44 4 2 4 2 2
4
4
3
3

128
16

64 64 16 4
3
3

2 x

144
12
3
36

4.3. Integral Lipat Tiga


Pada pembahasan sebelumnya telah ditunjukkan bagaimana
menghitung volume benda dengan menggunakan integral lipat dua,
yaitu dengan membagi-bagi seluruh volume dalam volume balokbalok kecil setinggi z yang luas penampangnya xy (lihat Gambar
4.2). Seluruh volume juga dapat dibagi-bagi menjadi kubus-kubus
kecil dengan volume xyy , sehingga

10

Integral Lipat

volume lim xyz dxdydz


x 0
y 0
z 0

(4.9)

Pernyataan (4.9) ini dikenal sebagai integral lipat tiga. Sedangkan


bentuk umum integral lipat tiga adalah
I f ( x , y , z )dxdydz

(4.10)

4.4. Penerapan Integral Lipat Dalam Fisika


Luas
Telah dijelaskan di muka, bahwa luas dapat dihitung dengan rumus
integral (4.1). sedangkan untuk menghitung luas suatu daerah
menggunakan integral lipat, misalnya pada Gambar 4.1, maka
seluruh luasan dibagi-bagi menjadi elemen luasan persegi sangat
kecil xy kemudian menjumlahkannya (Gambar 4.70), sehingga
diperoleh

luas lim xy dxdy


x 0
y 0

(4.11)

y
y(x)
y
O

Matematika untuk Fisika

11

(Gambar 4.70). Elemen luas


Sedangkan elemen panjang busur (Gambar 4.71), dapat
dinyatakan sebagai
(a) Elemen panjang busur ds didefinisikan seperti ditunjukkan pada
Gambar 4.8, yaitu
ds 2 dx 2 dy 2

(4.11)

atau
2

dy
ds dx 2 dy 2 1 dx
dx
2

dx
1dy.
dy

y
ds

dy

dx
O

12

Integral Lipat

(4.12)

Gambar 4.71. Elemen Panjang Busur


Dengan demikian, panjang busur dari y = f(x) antara a dan b,
yaitu
b

dy
1 dx
dx

(4.13)

dx
1dy
dy
a
Volume
Untuk menghitung volume suatu benda dapat digunakan persamaan
(4.2) atau persamaan (4.9), yaitu
volume zdxdy atau volume dxdydz
A

Massa
Secara umum massa suatu benda M dinyatakan sebagai M dm .
Massa elemen luasan M yang rapat massanya (x, y) pada daerah
R dalam bidang-xy, dinyatakan oleh
M ( x , y ) dxdy
(4.12)
R

Massa benda ruang M yang kerapatannya (x, y, z) pada daerah G


dalam ruang-xyz, dinyatakan oleh
M ( x, y , z )dxdydz
(4.13)
G

Pusat massa
Matematika untuk Fisika

13

Secara umum koordinat pusat massa benda bermassa


M
dinyatakan sebagai
xdm xdm
x
(4.14)
M
dm

Koordinat pusat massa elemen luasan ( x , y ) rapat massanya


(x, y)
R x ( x, y )dxdy
R y ( x, y )dxdy
x
, y
(4.15)

(
x
,
y
)
dxdy

(
x
,
y
)
dxdy

Koordinat pusat massa elemen luasan dengan kerapatan homogen


R xdxdy
R ydxdy
x
,
y
dxdy

dxdy
R

Koordinat pusat massa ( x , y , z ) elemen ruang yang kerapatannya


(x, y, z) adalah

x ( x, y, z )dxdydz
x

( x, y, z )dxdydz
G

y ( x, y, z )dxdydz
, y

( x, y, z )dxdydz

z ( x, y, z )dxdydz
z

(4.16)

( x, y, z )dxdydz
G

Sedangkan Koordinat pusat massa elemen ruang homogen ( x , y , z )

xdxdydz
x

dxdydz

ydxdydz
, y

dxdydz
G

zdxdydz
, z

dxdydz

(4.17)

Momen inersia
Momen inersia suatu benda yang berjarak l dari sumbu putar
dinyatakan sebagai

14

Integral Lipat

I l 2dM

(4.18)

Sehingga momen inersia elemen luasan terhadap sumbu putar


sumbu-x dan sumbu-y dinyatakan sebagai
I x y 2 dM y 2 ( x, y )dxdy
A

I y x 2dM x 2 ( x , y )dxdy

(4.19)

Terhadap sumbu-z elemen massa berjarak

x 2 y 2 , sehingga

momen inersia terhadap sumbu putar sumbu-z adalah


I y x 2 dM ( x 2 y 2 ) ( x , y )dxdy
A

Iz Ix I y

(4.20)

Ungkapan (4.20) dinamakan teorema sumbu tegak lurus. Selain itu


juga berlaku teorema sumbu sejajar, yaitu momen inersia pada
sumbu sejajar I// yang berjarak d dari pusat massa dirumuskan
sebagai
I // I cm Md 2

(4.21)

Contoh 4.4
Dengan menggunakan integral lipat, hitunglah luas daerah berarsir
berikut!

y x2

y4

-2

x
Matematika untuk Fisika

15

Penyelesaian:
Cara 1

A dy dx
x2 2 y 4


x1 2 y x

x2 2

x2 2 y 4

dy dx
2


x1 2 y x

x2 2

dy dx
2

4
x2

dx

x1 2

1
8

8
4-x dx 4 x- x 3 8 8
3 2 3
3

x1 2

16

16 48 16 32

satuan luas
3
3
3

Cara 2:
y 4 x y

A dx dy

y 4

dx dy

y 0 x y
y 4

y4

1
2

y - y dy

y 0
4

y 4

y0

dy

y0

4
2 y dy 2 y dy 3 y

y 0

3
2

32
4 3 4 3 4
2 2 02 .8
satuan luas
3
3
3
3
(jika kerapatannya seragam tentukan: massa, pusat massa,
momen inersia terhadap sumbu Y, momen inersia terhadap sumbu
pada garis x=1)

16

Integral Lipat

Contoh 4.5:
Dengan menggunakan integral lipat, hitunglah luas daerah berarsir
berikut !
y

y x2

Penyelesaian:
Persamaan garis melalui titik (6,0) dan (3,9)

y0 90
y
9

x 6 36
x6 3
3 y 9 x 54 y 3x 18 x

18 y
3

A dx dy
y 9

18 y
3
y

x
y 0

y 9

dy

18 y

y dy

y 0

Matematika untuk Fisika

17

y 9

y
y2 2 32

6 y 2 dy 6 y
y
3
6
3

0
y0
2

9 2 32

69
9 0
6
3

81

45
54 18
satuan luas
6

(jika kerapatannya seragam tentukan: massa, pusat massa,


momen inersia terhadap sumbu y, momen inersia terhadap sumbu
pada garis x=1)

Contoh 4.6
Sebuah pelat panjangnya 20 cm dan lebarnya 8 cm dapat
digambarkan sebagai berikut.

y
4
20 cm
8 cm

Jika (rapat massa) berubah linear sepanjang sumbu x ( pada

x 0 , 20 gram
dan pada
cm 2

x 20 cm , 60 gram
)
cm 2

Tentukan :
a.) Massa pelat
b.) Pusat massa pelat
20

18

Integral Lipat

g
cm 2

60 cmg 2

c.) Momen inersia pelat, jika (i) diputar terhadap sisi x ; (ii)
diputar terhadap sisi y; (iii) diputar terhadap sumbu putar
sejajar x melalui pusat massa; (iv) diputar terhadap sumbu
putar sejajar y melalui pusat massa.
Penyelesaian:
Pertama-tama ditentukan persamaan sebagai fungsi x:
(gr/cm2)

x(cm)

20

60

20

x0
20 0
x
1

2 x 20
20 60 20 20 2

a.) Menentukan Massa ( m )


8 20

20

m x, y dx dy 2 x 20 dx dy x 2 20 x 0 dy
0 0

800 dy 800 y 0 6400 gram


8

b). Menentukan pusat massa ( x, y )


8 20

x x, y dx dy
x

x, y dx dy

x2 x 20 dx dy

0 0

6400

8 20
8 20

1
1
2
x

2
x

20

dx
dy

2 x 20 x dx dy
6400 0 0
6400 0 0

20
8
8

1 2 2
1 28000
2

dy
x 10 x dy

6400 0 3
0 6400 0 3

Matematika untuk Fisika

19

1000 28

6400 3
11,67 cm

1000 224 35
y

0 6400 3 3
8 20

y x, y dx dy
y

x, y dx dy

y 2 x 20 dx dy

0 0

6400

8 20
8 20

1
1

2
xy

20
y

dx
dy

2 xy 20 y dx dy
6400 0 0
6400 0 0

8
8

1 2
20
1
1

400 y 2
x y 20 xy 0 dy
800 y dy
6400 0
6400
6400

1
25600
40082
4 cm
6400
6400

atau dengan menggunakan sifat simetri maka y

8
4 cm
2

35
Jadi, pusat massa pelat adalah ( x, y ) , 4 cm
3
c). Menentukan Momen Inersia
(i). Momen inersia bila diputar terhadap sumbu x
8 20

I x y 2 x , y dx dy y 2 2 x 20 dx dy
0 0
8 20

2 xy 2 20 y 2 dx dy y 2 x, y dx dy
0 0
8 20

8 20

0 0

0 0

y 2 2 x 20 dx dy 2 xy 2 20 y 2 dx dy

20

Integral Lipat

8
0

x y 20 xy
2

2 20
0

dy 800 y 2 dy

0
8

800 3 409600

y
136533,33 gcm 2
3
3
0

(ii). Momen Inersia bila diputar terhadap sumbu y


8 20

I x x 2 x, y dx dy x 2 2 x 20 dx dy
0 0
8 20

20

x4
x3
2 x 20 x dx dy 20 dy
2
3 0
0 0
0
8
400000
400000 8

dy
y 0
3
3
0
3

3200000
1066666,67 g.cm2
3

(iii). Momen Inersia bila diputar terhadap sumbu putar sejajar x


melalui pusat massa
Dengan menggunakan teorema sumbu sejajar

I // I cm md 2 I x I cmx md 2
I cmx I x md 2
2

I cmx 136533,33 6400 4

136533,33 102400
34133,3 g.cm 2
(iv). Momen Inersia bila diputar terhadap sumbu putar sejajar y
melalui pusat massa
Dengan menggunakan teorema sumbu sejajar

Matematika untuk Fisika

21

I // I cm md 2 I y I cmy md 2
I cmy I y md 2
2

35
1066666,67 6400 195555,56 g.cm 2
3

Contoh 4.7
Sebuah pelat persegi dengan sisi b mempunyai kerapatan
homogen , sehingga massanya

. Jika pelat tersebut

diputar dengan sumbu putar salah satu diagonalnya, tentukan


momen inersia pelat dan nyatakan jawaban anda dalam m dan b.

Penyelesaian:
Dengan menggunakan sifat simetri benda, maka dapat
diselesaikan dengan menghitung seperempat bagian dari pelat
tersebut.

Dengan

menempatkan

diagonal

pada

sumbu

koordinat, maka dalam bidang kartesian persegi dapat


digambarkan sebagai berikut:
y
1b 2
2

Gambar di atas merupakan seperempat pelat, dengan


meletakkan diagonal pelat pada kedua sumbu koordinat. Untuk
menghitung momen inersia dengan sumbu putar salah satu
diagonal, maka dapat dihitung dari 4 kali momen inersia pelat
segitiga dengan sumbu putar sumbu y. Sehingga diperoleh:
22

Integral Lipat

4.5. Transformasi Variabel dalam Integral


Pada perhitungan integral tunggal, sering kali dilakukan
substitusi variabel untuk mempermudah perhitungan. Demikian
pula untuk mempermudah perhitungan integral lipat, sering kali
perlu melakukam transformasi variabel atau mengubah variabel
integrasi x dan y.
Selain sistem koordinat kartesian, dalam matematika ada
bermacam-macam sistem koordinat yang dikenal. Untuk sistem
koordinat dua dimensi antara lain koordinat kutub (polar).
Sedangkan untuk sistem koordinat tiga dimensi antara lain
koordinat silinder dan koordinat bola. Pilihan sistem koordinat

Matematika untuk Fisika

23

yang digunakan bergantung pada persoalan yang dihadapi. Oleh


karena itu, perlu diketahui transformasi (alih bentuk) dari satu
sistem koordinat ke sistem koordinat yang lain.
Untuk melakukan transformasi sistem koordinat, selain
secara geometris dapat pula digunakan cara determinan. Cara
determinan ini dikenal sebagai metode Jacobi. Metode ini ini
berkaitan dengan pengertian Jacobian. Misal variabel (x,y) dapat
dinyatakan dalam variabel baru (u,v). Pengertian Jacobian (x,y)
terhadap (u,v) dinyatakan dalam ungkapan berikut:
x
x
,
y

(
x
,
y
)

J J
u

u, v (u, v ) y
u

x
v
y
v

(4.22)

x
x, y
( dibaca do x
J J
disebut faktor Jacobian. Ungkapan
u
u, v

do u) menyatakan turunan parsial x terhadap u yang nilainya sama


dengan turunan x terhadap u untuk variabel v tetap.
Dengan menggunakan faktor Jacobian, elemen luas dA dalam
koordinat (u,v) adalah
x, y
dA dxdy J
dudv
u, v

(4.23)

Penggunaan Jacobian dapat dikembangkan untuk tiga


variabel. Misal variabel (x,y,z) dapat dinyatakan dalam variabel
baru (u,v,w), faktor Jacobian (x,y,z) terhadap (u,v,w) dinyatakan
dalam ungkapan berikut:

24

Integral Lipat

x
u
( x, y , z ) y
J

(u, v, w) u
z
u

x
v
y
v
z
v

x
w
y
w
z
w

(4.24)

Transformasi koordinat kartesian (x,y) menjadi koordinat


polar ( , )
Hubungan antara sistem koordinat kartesian (x,y) dan polar

( , ) diberikan oleh persamaan


x cos ,

y sin

(4.25)

Dengan mengunakan persamaan (4.22), diperoleh faktor Jacobian


(x,y) terhadap koordinat polar ( , ) ,
x
( x, y )
J

( , ) y

x
cos

y
sin

sin

cos

(4.26)

Dengan demikian,

dA dd

(4.27)

dA dxdy dd

(4.28)

dan

Secara geometris elemen luas pada koordinat polar disajikan pada


Gambar 4.60.

Matematika untuk Fisika

25

dd
d

+d
r
d

Gambar 4.60. Elemen Luas Pada Koordinat Polar

Sedangkan elemen panjang busur dapat dilihat pada Gambar 4.61.


y
d

ds

d
d

26

Integral Lipat

Gambar 4.61.
Dengan melihat daerah yang diarsir pada Gambar 4.61, maka
panjang busur ds
ds 2 d 2 2 d 2 ,
2

d
ds 2 d
d

(4.21)

d
1 2 d
d

Transformasi koordinat kartesian (x,y,z) menjadi koordinat


silinder ( , , z )
Sistem koordinat silinder merupakan perluasan sistem koordinat
polar. Gambar 4.16, menunjukkan koordinat titik P( , , z ) .

( , ) merupakan koordinat polar proyeksi titik P pada bidang-xy,


sedangkan z adalah koordinat z titik P seperti pada sistem kartesian.
Hubungan antara koordinat kartesius (x,y,z) dan koordinat silinder

( , , z ) , dapat dinyatakan sebagai


x cos ,

y sin , z z.

(4.29)

Matematika untuk Fisika

27

z
P(,,z)
z

Gambar 4.16. Koordinat silinder


Dalam koordinat bola, bidang-bidang berikut mempunyai
pernyataan yang sederhana:
-

bidang datar sejajar dengan bidang xy: z = konstan

separo bidang datar yang dibatasi sumbu z: konstan

bidang (kulit) silinder dengan poros sumbu z: = konstan

Ketiga permukaan ini selalu ortogonal, dan perpotongannya


merupakan kedudukan titik P.
Dengan menggunakan persamaan (4.24), diperoleh faktor
Jacobian koordinat kartesian (x,y,z) terhadap koordinat silinder

( ,, z)

28

Integral Lipat

( x, y , z ) y
J

( , , z )
z

cos
sin
0

x
z
y
z
z
z

(4.30)

sin 0
cos 0
0
1

Dengan demikian,

dV dddz

(4.31)

dan

dV dxdydz dddz
V

(4.32)

Transformasi koordinat kartesian (x,y,z) menjadi koordinat


bola ( r, , )
Gambar 4.17, menunjukkan sebuah titik yang dinyatakan dalam
koordinat kartesian P(x,y,z) dan dalam koordinat bola dinyatakan
sebagai P (r , , ) . Koordinat r adalah panjang vektor posisi titik P,
adalah sudut antara vektor posisi dengan sumbu z dan adalah
sudut yang dibentuk antara proyeksi vektor posisi pada bidang xy
dengan sumbu +x. Perhatikan bahwa sudut terbatas pada nilai
0 , sedangkan sudut nilainya 0 2 .
z
P(r,,)
r

z
y
Matematika
untuk Fisika
x

29

Gambar 4.17. Koordinat Bola


Hubungan antara koordinat kartesian (x,y,z) dan koordinat
bola (r , , ) dinyatakan sebagai

x r sin cos ,

y r sin cos , z r cos .

(4.23)

Dalam koordinat bola, bidang-bidang berikut mempunyai


pernyataan yang sederhana:
-

Separo bidang datar yang dibatasi sumbu z: konstan

bidang (kulit) kerucut dengan poros sumbu z yang berpusat


di titik asal: konstan

bidang (kulit) bola berjari-jari R: r = R

Berdasarkan (4.24), diperoleh faktor Jacobian

30

Integral Lipat

x
r
( x , y , z ) y
J

( r , , ) r
z
r
sin cos
sin sin
cos

r cos cos
r cos sin
r sin

r sin sin
r sin cos
0

(4.32)

r 2 sin
Dengan demikian, elemen volume dalam koordinat bola adalah
dV r 2 sin dr d d

(4.33)

dan

dV dxdydz r
V

sin dr d d

(4.34)

Contoh 4.8
Sebuah benda berupa pelat tipis berbentuk seperempat lingkaran
dengan jari-jari a dan kerapatan massa serba sama sebesar c.
Dengan menggunakan integral lipat koordinat polar, tentukan:
(a) Luas pelat
(b) Massa pelat
(c) Pusat massa pelat
(d) Momen inersia pelat jika diputar menurut sumbu putar pada
sisi yang saling tegak lurus ( I y atau I x )
(e) Momen inersia pelat jika diputar menurut sumbu putar melalui
O dan tegak lurus pelat ( I z )

Matematika untuk Fisika

31

(f) Momen inersia pelat jika diputar menurut sumbu putar melalui
pusat massa dan tegak lurus pelat ( I cmz )
Penyelesaian:
y

(a) Luasnya

2a

d d
0 0

2
a 2 2 a 2
2 d 2 0 4 satuan luas
0

(b) Massanya

2a

m , d d c d d c d d
0 0

ca 2
satuan massa
4

(c) Pusat Massanya x y , karena simetris dan seragam

32

Integral Lipat

x dm cos c d d
x

dm

2a

1
2
0 0 c cos d d ca 2

2a

c
4

cos d d

0 0

4c 3
4 a3

sin

sin sin 0
0

2
2

ca 3 0
a 3 2

4 a3
1 0 4a

2
a 3
3

yx

4a
3

4a 4a
Jadi, pusat massanya adalah ( x , y ) ,
3 3
(d) Momen inersia jika diputar menurut sumbu putar pada sisi
yang saling tegak lurus
I x y 2 dm
2 sin 2 , d d 3 sin 2 c d d

2a

4 a
c sin d d c sin 2 d
4 0 0
0 0
3

ca 4 a 1 1
ca 4 1
1

cos
2

sin
2

4 2
4

0
4 0 2 2

Matematika untuk Fisika

33

ca 4 1
1


sin 0 sin 0

4 4 4
ca 4

Iy Ix

ca 4

0 0 0
16
4

ca 4 ma 2

16
4

(e) Dengan menggunakan teorema sumbu tegak lurus, momen


inersia terhadap sumbu putar pada sumbu z

Iz Ix I y

ca 4 ca 4 ca 4 ma 2

16
16
8
2

(f) Dengan menggunakan teorema sumbu sejajar, I cmz


I // I cm m d 2 I cm I // m d 2
2

2
2
32a 2
4a 4a 16a 16a
d x y

9 2
9 2
9 2
3 3
2

ca 4 ca 2 32a 2 ca 4 8ca 4

2
8
8
9 2
4 9
8
ca 4 2 ca 4 0,39 0,28
8 9

I cmz I z m d 2

0,11 ca 4

Contoh 4.9
Dengan menggunakan integral lipat tiga dalam koordinat bola,
tunjukkan bahwa rumus volume bola yang berjari-jari a adalah

V 43 a 3 .
Penyelesaian:
Dengan menggunakan persamaan (4.34) diperoleh,
34

Integral Lipat

2 a

1 dV
V

0 0 0 r

sin dr d d

2
r 2 dr sin d 1 d

0
0
0

r3
a3

2
cos 0 0 0 1 1 2 0
3 0
3

sehingga diperoleh V 43 a 3
Contoh 4.10
Hitunglah momen inersia bola pada contoh 4.9, terhadap sumbu
putar melalui pusatnya, jika bola homogen dengan massa jenis .
Penyelesaian:
Dengan menggunakan persaman (4.18), maka dengan memilih
sumbu putar z, diperoleh
I l 2dM
2
2

( x y )dM

(r

sin 2 )r 2 sin drdd

0 0 r 0

a

2

r 4dr sin 3 d d
0
0
0

a 5 4
2
5 3

8 a 5
15

Matematika untuk Fisika

35

subsitusi

Dengan

m
m
3m
4 3
, maka
V 3 a
4a 3

momen

inersia bola bermassa m dengan jari-jari a terhadap sumbu putar


melalui pusatnya adalah:
I

2
ma 2
5

Contoh 4.11
Massa jenis sebuah benda sama dengan kebalikan dari jaraknya
dari titik asal, ( r, , ) 1 / r . Dengan menggunakan koordinat
bola, tentukan massa dan massa jenis rata-rata untuk bola berjarijari a.
Penyelesaian:
Massa:
2 a

dV

0 0 0 r r

sin dr d d

a

2
r dr sin d 1 d

0
0
0

r2
a2

2
cos 0 0 0 1 1 2 0
2 0
2

2a 2
Massa jenis rata-rata sama dengan massa total dibagi volumenya,
mass
m
2 a 2
3

3
volume
V
2a
3 a

3
2a

Contoh 4.12

36

Integral Lipat

Sebuah bola yang jari-jarinya 2cm dilubangi dengan menggunakan


mata bor yang jari-jarinya 1cm. Jika lubang menyinggung garis
tengah bola, tentukan volume bola yang tersisa.
Penyelesaian:
Untuk menyelesaikan permasalahan ini digunakan koordinat
silinder dengan memilih sumbu z melalui pusat bola sejajar dengan
sumbu lubang.
Gambar dibawah ini, menunjukkan tampang lintang bola tegak
lurus dengan sumbu lubang.

Dari gambar dapat dilihat bahwa cos r / 2 . Sehingga persamaan


lingkaran batas lubang dengan titik acuan pusat bola dalam
koordinat polar adalah
r 2 cos

Sudut untuk satu putaran melingkari lubang


2
2
Salah satu tampang lintang bola yang sejajar dengan sumbu lubang
digambarkan sebagai berikut,

Matematika untuk Fisika

37

Pada setiap nilai r , tinggi (jarak) titik pada permukaan lubang dari
bidang ekuator (z=0) adalah

z 22 r 2
sehingga elemen volume lubang
dV 2 z dA 2 4 r 2 r dr d
Volume lubang
/ 2 2 cos

2 4 r 2 r dr d


/2
0

Integral ini tidak dapat dipisahkan karena r sebagai fungsi , yaitu


r = 2 cos .
Lubang pada bola simetris terhadap bidang ( = 0)
/2 2 cos

V 4

/2

38

/2

4 r 2 r dr d

2 3/ 2

2 cos

32 2

0
4r

8 8sin d 323

Integral Lipat

/2

0 1

sin 3 d

32

/2

32

/2

/2

0 1 d
0

sin 2 sin d

/2

1 d

0 1

cos2 sin d

Dengan substitusi variabel u = cos , maka du = sin d, dan

batas integrasinya 0 u 1 , u 0 .
2

32 / 2
u3
32

0 u

0 0

3
3 0
3 2

16
64

3
9
= 9,6508 cm3
4 .23
Volume bola secara keseluruhan V
33,5338 cm 3 .
3
Sehingga volume bola setelah dilubangi sama dengan volume bola

dikurangi volume lubang yaitu 23,873 cm3.

RANGKUMAN

1. Integral lipat-dua didefinisikan sebagai

f ( x, y )dxdy,
A

dengan A adalah luasan pada bidang xy.


2. Koordinat pusat massa ( x , y , z ) dapat dihitung berdasarkan
persamaan
Matematika untuk Fisika

39

x dM xdM , ydM ydM , zdM zdM .


3. Momen inersia I benda bermassa m yang berjarak l dari sumbu
putar didefinisikan sebagai I ml 2 .
4. Transformasi koordinat antara sistem koordinat polar dan
sistem koordinat kartesius dapat dinyatakan dengan persamaan
x r cos dan y r sin .

5. Transformasi koordinat antara sistem koordinat kartesius dan


sistem koordinat silinder dapat dinyatakan dengan persamaan

x r cos , y r sin , z = z.
6. Transformasi koordinat antara sistem koordinat kartesius dan
sistem koordinat bola dapat dinyatakan dengan persamaan

x r sin cos , y r sin sin , z r cos .


7. Elemen volume untuk sistem koordinat kartesius, silinder, dan
bola berturut-turut dapat dinyatakan sebagai berikut:

dV dxdydz,
dV dddz,
dV r 2 sin drdd.
8. Jacobian (x,y) terhadap (s,t) dinyatakan dalam ungkapan
berikut:
x
x , y ( x , y ) s
J J

y
s, t ( s, t )
s

x
t .
y
t

11. Jacobian (u, v, w) terhadap (r, s, t) dinyatakan dalam ungkapan


berikut:

40

Integral Lipat

u
r
u, v, w (u , v, w) v
J J

r
r , s, t ( r , s, t )
w
r

u
s
v
s
w
s

u
t
v
.
t
w
t

SOAL-SOAL
1.

Hitunglah
1

a.

8xdydx
x 0 y 1
1

b.

8
2

6 xy dxdy
y 2 x 1
x2

c.

ydydx
x 0 y 0

d.

( x 2 ye

2. Hitunglah

) dydx

(6 x y )dxdy, dengan A adalah segitiga yang titikA

titik sudutnya (0,0), (6,4), dan (8,0)


3.

Hitunglah

16 x 2 y 2 dA , dengan D adalah keping

lingkaran x 2 y 2 16 , dengan pertama-tama mengidentifikasi


integral sebagai volume benda padatan.
4.

Tentukan

y 2 dA

dengan D luasan yang dibatasi oleh

y 1, y 2, x 0, and x y
3

5.

Hitunglan integral

4 1 z 2

5ze 3 y dxdzdy

Matematika untuk Fisika

41

6.

Dengan menggunakan koordinat polar tentukan volume benda


padat di bawah paraboloida z x 2 y 2 dandi atas bidang
lingkaran x 2 y 2 49 .

7.

Dengan menggunakan integral lipat, hitunglah volume kotak


dengan ukuran tinggi 6cm, panjang 4cm dan lebar 3cm.

8.

Gunakan koordinat polar untuk menghitung volume bola yang


berjari-jari 8 cm.

9.

Sebuah bola yang jari-jarinnya 10 cm dilubangi dengan mata


bor berjari-jari 1 cm melewati pusatnya. Tentukan volume
cincin-bola yang tersisa.

10. Tentukan luas bidang bagian bola x 2 y 2 z 2 9 yang berada


di atas bidang z = 2.
11. Tentukan pusat massa pelat tipis yang dalam bidang koordinat
xy dibatasi oleh parabola y 64 x 2 dan sumbu x, jika
kerapatannya ( x, y ) 2 y.
12. Dengan menggunakan koordinat polar hitunglah

y2

y2

sin( x 2 y 2 ) dxdy

13. Tentukan momen inersia sebuah kubus terhadap sumbu putar


x, jika salah satu titik sudutnya berada pada pangkal koordinat
dan ketiga rusuknya berada pada sumbu koordinat.
14. Find the area of the part of the sphere x 2 y 2 z 2 4 z that lies
inside the paraboloid z x 2 y 2 .
15. Dengan menggunakan koordinat silinder hitunglah integral
lipat tiga

y dV

42

Integral Lipat

, dengan E benda padat yang terletak antara

silinder x 2 y 2 3 dan x 2 y 2 7 di atas bidang xy dan di


bawah bidang z x 4 .
16. Dengan menggunakan koordinat bola hitunglah integral lipat
tiga

xe x

y2 z2

dV , dengan E benda padat yang terletak


2

antara bola x 2 y 2 z 2 9 dan x 2 y 2 z 2 16 pada oktan


pertama.
17. Dengan menggunakan koordinat bola hitunglah volume benda
padat yang berada dalam bola x 2 y 2 z 2 9 di atas bidang xy
dan di bawah kerucut z x 2 y 2 .
18. Dengan menggunakan koordinat bola atau silinder, hitunglah
integral lipat tiga

z dV

, dengan E benda padat di atas

paraboloida z x 2 y 2 dan di bawah bidang z 4 y .


19. Tentukan faktor Jacobian untuk transformasi
x

u
v
, y
2u 7v
4u 8v

20. Dengan menggunakan koordinat bola hitunglah volume di atas


kerucut z 2 x2 y 2 dan di dalam bola x2 y 2 z 2 2az .
21. Hitunglah volume daerah oktan pertama yang dibatasi oleh
bidang y z 2 dan silinder x 4 y 2 .
22. Dengan menggunakan integral lipat hitunglah volume benda
padat yang dibatasi oleh bidang-bidang koordinat dan bidang
z 4 2y x
23. Dari soal no.21, hitunglah massanya jika kerapatan benda
( x, y , z ) yz .

Matematika untuk Fisika

43

17 Use spherical coordinates to find the moment of inertia of the


. solid homogeneous hemisphere of radius 3 and density 1 about a
diameter of its base.
Select the correct answer.
a. 203.58
195.22

1.
4.

b. 198.08

c. 205.13

d. 213.5

e.

(how do you check your answer?)

Gambar 4.13 Elemen luas koordinat polar.


Demikian pula elemen panjang bususr ds diperlihatkan pada
Gambar 4.14, yaitu

44

Integral Lipat

Gambar 4.14 Elemen panjang busur koordinat polar.


Oleh karena itu, menurut (4.27) elemen luas dalam koordinat polar
adalah rdrd . Ini merupakan hasil yang telah diperoleh hasil
sebelumnya [Persamaan (4.20)].

merupakan Jacobian u, v, w terhadap r, s, t, maka dalam variabel


baru integral lipat-tiga (4.29) dapat dituliskan sebagai

f (u, v, w)dudvdw.
(4.31)
Tentu saja f dan J harus dinyatakan dalam variabel r, s, t dan batas
integralnya harus disesuaikan dengan variabel baru. Kita dapat
menggunakan (4.30) untuk membuktikan elemen volume dalam
sistem koordinat silinder dan bola [Persamaan (4.24)]. Sebagai
contoh, kita akan menentukan elemen volume untuk koordinat
bola.

CONTOH SOAL

Matematika untuk Fisika

45

Gambar 4.15 menunjukkan bahan tipis berbentuk setengah


lingkaran dengan jari-jari a dan kerapatan konstan . Hitunglah (a)
pusat massa bahan dan (b) momen inersia bahan terhadap sumbu
putar y.

Gambar 4.15 Bahan tipis setengah lingkaran dengan jari-jari a.

Penyelesaian
(a) Berdasarkan sifat simetri,

y 0. Untuk menghitung

digunakan rumus sebagai berikut:

xdA xdA.
Dengan mengubah x ke dalam koordinat polar serta mengingat
(4.20), diperoleh
a

/2

/2

rdrd r cosdrdrd ,

r 0 / 2

r 0 / 2

a2
a3
x
sin
3
2
4a
x
.
3

/2

/ 2

2a 3
,
3

(b) Momen inersia terhadap sumbu putar y diberikan oleh


persamaan

46

Integral Lipat

I y x 2 dM .

dM dA rdrd ,

Dalam koordinat polar

dengan

konstan. Dengan demikian,


a
2

I y x rdrd

/2
2
2
r cos drd

r 0 / 2

Dengan mengingat M rdrd

a 4
.
8
/2

rdrd

r 0 / 2

a 2
,
2

maka

Iy

2 M a 4 Ma 2

.
4
a 2 8

Dalam fisika, persoalan tiga-dimensi yang berbentuk silinder


atau simetri bola sebenarnya dapat diselesaikan dengan sistem
koordinat kartesius. Tetapi, dalam banyak hal penyelesaiannya
menjadi terlalu rumit. Untuk mengatasi penyelesaian yang rumit ini
biasanya dilakukan transformasi sistem koordinat dari kartesius ke
silinder atau bola. Dengan alasan ini, di samping sistem koordinat
kartesius dibahas pula sistem koordinat silinder dan bola. Kedua
sistem koordinat ini bersama-sama dengan sistem koordinat
kartesius akan dibahas lebih mendalam untuk menjelaskan
kesamaan dan perbedaannya.

Matematika untuk Fisika

47

(a)

(b)

(c)

Gambar 4.16 Tiga sistem koordinat: (a) kartesius, (b) silinder, dan
(c) bola.

Gambar 4.16 menunjukkan titik P yang dinyatakan dalam


tiga sistem koordinat, (x,y,z) dalam koordinat kartesius, (r , , z )
dalam koordinat silinder, dan (r , , ) dalam koordinat bola.
Urutan penulisan koordinat ini penting dan harus diikuti dengan
konsisten. Sebagai contoh, sudut muncul pada sistem koordinat
silinder dan bola. Dalam koordinat silinder muncul pada urutan
kedua, sedangkan dalam koordinat bola muncul pada urutan
ketiga. Simbol r digunakan baik dalam koordinat silinder maupun
bola, tetapi menjelaskan dua hal yang berbeda. Dalam koordinat
silinder, r menyatakan jarak titik terhadap sumbu z, sedangkan
koordinat bola r menunjukkan jarak titik terhadap titik asal.
Dari Gambar 4.16 tampak bahwa kaitan antara koordinat
kartesius (x,y,z) dan koordinat silinder (r , , z ) adalah

x r cos ,
(4.22)

48

Integral Lipat

y r sin , z z.

Demikian pula kaitan antara koordinat kartesius (x,y,z) dan


koordinat bola (r , , ) diberikan oleh persamaan

x r sin cos ,

y r sin cos , z r cos .

(4.23)
Sebuah titik merupakan perpotongan antara tiga permukaan
ortogonal (Gambar 4.17). Dalam koordinat kartesius, permukaan
ini berupa bidang datar takhingga untuk x = konstan, y = konstan,
dan z = konstan. Dalam koordinat silinder, z = konstan adalah
permukaan

yang

sama

pada

koordinat

kartesius.

Untuk

konstan berbentuk separo bidang datar yang dibatasi sumbu


z,sedangkan r = konstan berbentuk silinder tegak dengan
penampang lingkaran. Ketiga permukaan ini selalu ortogonal, dan
perpotongannya merupakan kedudukan titik P. Dalam koordinat
bola, konstan adalah (separo) bidang datar yang sama seperti
pada koordinat silinder, r = konstan adalah permukaan bola yang
berpusat di titik asal, dan konstan adalah suatu kerucut
lingkaran tegak dengan poros sumbu z dan berpuncak di titik asal.
Perhatikan bahwa sudut terbatas pada nilai 0 .

Matematika untuk Fisika

49

Gambar 4.17 Tiga permukaan ortogonal pada sistem koordinat


(a) kartesius,
(b) silinder, dan (c) bola.
Jika

koordinat

titik

( x dx, y dy , z dz ) atau
(r dr , d , d ),

dikembangkan

pada

(r dr , d , z dz ),

atau

akan terbentuk elemen volume dari

masing-masing sistem koordinat (Gambar 4.18). Elemen volume


masing-masing sistem koordinat berturut-turut adalah

dV dxdydz

(kartesius)

(4.24a)

dV rdrddz

(silinder)

(4.24b)
dV r 2 sin drdd (bola)
(4.24c)

Gambar 4.18 Elemen volume untuk sistem koordinat (a) kartesius,


(b) silinder,
dan (c) bola.
Untuk elemen panjang busur ds berturut-turut diberikan
oleh

50

Integral Lipat

ds 2 dx 2 dy 2 dz 2

(kartesius)

(4.25a)
ds 2 dr 2 r 2 d 2 dz 2

(silinder)

(4.25b)
ds 2 dr 2 r 2 d 2 r 2 sin 2 d 2

(bola)

(4.25c)

CONTOH SOAL
Sebuah benda berbentuk kerucut mempunyai tinggi h, jari-jari alas
r, dan kerapatan konstan (Gambar 4.19). Jika h = r, hitunglah
(a) pusat massa z dan (b) momen inersia kerucut terhadap sumbu
z.

Gambar 4.19 Kerucut dengan tinggi h, jari-jari alas r, dan


kerapatan konstan.

Penyelesaian
(a) Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4.19, persamaan
kerucut dalam koordinat silinder adalah r = z. Elemen massa

dM dV rdrddz, dengan konstan. Dengan demikian,

Matematika untuk Fisika

51

M dV

2
rdrddz 2 12 z dz

z 0 r 0 0

h 3
.
3

Pusat massa dihitung dengan rumus berikut:


h

z dV zdV

3
zrdrddz 2 12 z dz

z 0 r 0 0

h 4
,
4

h 3 h 4
3h

z
, z .
4
4
3

(b) Momen inersia terhadap sumbu z adalah


h

h
2

4
r rdrddz 2 14 z dz

z 0 r 0 0

h 5
.
10

Tetapi M h 3 / 3, sehingga

3M h 5
3
Mh 2 .
3
h 10 10
(4.33)

CONTOH SOAL
Tentukan momen inersia bola pejal dengan jari-jari R terhadap
diameternya.

Penyelesaian
Dalam koordinat bola, persamaan bola adalah r = R. Jadi, massa
bola adalah
2

M dV
(4.34)

52

Integral Lipat

r

0 0 r 0

4
sin drdd R 3 .
3

Momen inersia terhadap sumbu z adalah

I ( x 2 y 2 )dM

(r

0 0 r 0

4
sin 2 )r 2 drdd R 3
3

R 4
8R
2

,
15
5 3
I

2
MR 2 .
5

(4.35)

CONTOH SOAL 4.10


Tentukan momen inersia dari terhadap sumbu putar z dari
ellipsoida pejal

x2 y2 z2

1.
a2 b2 c2

Penyelesaian

Matematika untuk Fisika

53

Kita akan menghitung M dxdydz dan


I ( x 2 y 2 )dxdydz, dengan integral lipat-tiga

meliputi seluruh volume elipsoida. Dengan melakukan


perubahan variabel x ax' , y by' , z cz ' , maka
x' 2 y ' 2 z ' 2 1. Dengan demikian, integral berubah
menjadi seluruh volume bola dengan jari-jari 1 satuan.
Dengan demikian,
M abc dx ' dy ' dz ' abc (volume benda dengan jarijari 1).

Dengan menggunakan Persamaan (4.34), diperoleh


M abc( 43 )(1) 3 43 abc. Dengan cara yang sama,
I abc (a 2 x' 2 b 2 y ' 2 )dV '.
Disini integral lipat-tiga meliputi seluruh volume bola dengan
jari-jari satu satuan. Berdasarkan sifat simetri,
1
2
2
2
2
x' dV ' y ' dV ' z ' dV ' 3 r ' dV ',
dengan r ' 2 x' 2 y ' 2 z ' 2 . Dengan menggunakan sistem koordinat
bola, diperoleh

2
2
r ' dV '

2
2
4
r ' (r ' sin ' dr ' d ' d ' 4 r ' dr '

0 0 r 0

4
.
5

Dengan demikian,

I abc a 2 x ' 2 dV ' b 2 y ' 2 dV ' abc(a 2 b 2 )( 13 )( 45 ),


atau

54

Integral Lipat

I 13 M (a 2 b 2 ).

(4.36)

Latihan
1. Dengan

x2 y 2

menggunakan

koordinat

polar,

hitunglah

dxdy.

0 0

2. Dengan mengganti variabel u x y dan v x y , hitunglah


1

1 y

dy e
0

( x y )( x y )

dx.

KATA KUNCI
koordinat polar

momen inersia

koordinat silinder

pengertian titik berat

koordinat bola

titik berat
transformasi koordinat

Matematika untuk Fisika

55

56

Integral Lipat

1. Hitunglah integral lipat-dua berikut ini:


a.

xdxdy, dengan A adalah daerah yang dibatasi oleh


A

parabola y x 2 dan garis lurus 2 x y 8 0.


b.

dxdy meliputi daerah yang dibatasi oleh

y ln x,

y e 1 x, dan sumbu x.

c.

sin x
dxdy.
x
y 0 x y

2. Buktikan bahwa
2

sin x
sin x
4( 2)
x1 2 y dydx x2 2 y dydx 3 .
y x
y x
3. Hitunglah volume benda yang dibatasi oleh permukaan bola
x 2 y 2 z 2 4 dan paraboloida x 2 y 2 3z.
4. Bahan tipis berbentuk segiempat mempunyai titik-titik sudut
(0,0), (0,2), (3,0), dan (3,2). Jika kerapatan bahan xy, hitunglah
(a) massa benda M, (b) koordinat pusat massa ( x , y ), (c)
momen inersia terhadap sumbu x dan sumbu y, dan (d) momen
inersia terhadap sumbu yang melewati pusat massa dan sejajar
dengan sumbu z.
1

5. Nyatakan integral integral I dx


0

1 x 2
x
e

y2

dy sebagai integral

dalam koordinat polar, kemudian tentukan nilainya.


6. Tentukan Jacobian ( x, y ) / (u, v ) dari variabel (x,y) ke
variabel (u,v) jika x 12 (u 2 v 2 ), y uv.
Pengantar Mekanika Analitik

69

7. Dengan

menggunakan

transformasi

koordinat

u x 2 y 2 , v 2 xy , hitunglah integral berikut:

x2 y2
e 2 xy dxdy.
2
2 2
1 (x y )
0 0

8. Jika

u x 2 y 2 , v 2 xy, x r cos , y r sin ,

buktikan

bahwa (u, v ) / (r , ) 4r 3 .
9. Tentukan (a) volume dan (b) pusat massa daerah A yang
dibatasi oleh silinder parabolik z 4 x 2 dan bidang-bidang x
= 0, y = 0, y = 6, dan z = 0 jika kerapatannya konstan.
10. Hitunglah massa benda yang dibatasi oleh bidang koordinat dan
bidang

x y z
1, jika massa jenis benda diberikan oleh
a b c

kxyz.

70

Pengantar Mekanika Analitik

Belum terpakai
Penyelesaian
Massa

segiempat

kecil

dengan

luas

A xy

adalah

f ( x, y )xy. Kita dapat menjumlahkan seluruh massa, yaitu


dM xydxdy. Besaran dM ini disebut sebagai elemen massa.
Dengan demikian,
2

M xydxdy
A

2
1

y )dy 1.
xy
dydx

xdx
x0 y0

0
0

Integral lipat tiga dari f ( x, y , z ) meliputi seluruh volume V ditulis


sebagai

f ( x, y, z )dxdydz
V

didefinisikan pula sebagai limit jumlah dan dihitung dengan


integral berulang. Sebagai ilustrasi perhitungan volume, perhatikan
Contoh Soal 4.2.

CONTOH SOAL 4.3


Hitunglah volume benda pada Gambar 4.3 dengan menggunakan
integral lipat-tiga.

Pengantar Mekanika Analitik

71

Penyelesaian
Untuk menyelesaikan soal ini, bayangkan benda tersebut dipotongpotong menjadi kotak kecil-kecil dengan volume xyz sehingga
diperoleh elemen volume dxdydz. Mula-mula jumlahkan volume
dari kotak kecil-kecil itu sehingga diperoleh volume kolom. Ini
berarti mengintegralkan terhadap z dari 0 ke 1 + y dengan x dan y
tetap. Selanjutnya, kita menjumlahkan semua volume kolom
tersebut untuk memperoleh lapisan volume. Akhirnya, kita
menjumlahkan seluruh lapisan volume ini untuk menghasilkan
volume benda yang diinginkan. Oleh karena itu,
1 2 2 x1 y

V dxdydz
V

1 2 2 x

dzdydx

x 0 y 0 z 0

(1 y )dydx 3 ,

x 0 y 0

sebagaimana hasil sebelumnya.

CONTOH SOAL 4.4


Hitunglah massa benda padat pada Gambar 4.3 jika kerapatannya
(massa per satuan volume) adalah x + z.

Penyelesaian
Elemen massa adalah dM ( x z)dxdydz, sehingga
1 2 2 x1 y

1 y

1 2 2 x

( x z )dzdydx ( xz

x 0 y 0 z 0

1
2

z )

x 0 y 0

dydx
x0

1 2 2 x

[ x(1 y)

1
2

(1 y ) 2 ]dydx 2.

x 0 y 0

72

Pengantar Mekanika Analitik

1. Hitunglah
2

a.

2x yx

dzdydx

x 1 y x z 0
2

b.

dydxdz

z 0 x z y 8 x

Diberikan kurva y x 2 dari x = 0 ke x = 1. Hitunglah (a) Luas di


bawah kurva, yaitu daerah yang dibatasi oleh kurva, sumbu-x, dan
garis x = 1 (Gambar 4.7). (b) Massa dari luas bidang pada jawaban
(a), jika kerapatannya (massa per satuan luas) adalah xy. (c)
Panjang kurva. (d) Dari jawaban (a), tentukan pusat massanya. (d)
Dari jawaban (c), tentukan pusat massanya. (f) Momen inersia
terhadap sumbu putar x, y, dan z.

Penyelesaian

(b) Luas di bawah kurva diberikan oleh


1

x3
A ydx x dx
3
x 0
x 0

1
.
3

Sebagai alternatif, kita dapat menghitung luas di bawah kurva


dengan integral lipat-dua dari elemen luas dA = dxdy (Gambar
4.7). Diperoleh,

Pengantar Mekanika Analitik

73

x2

x3
A dydx x dx
3
x 0 y 0
x 0

1
.
3

Gambar 4.7 Kurva y x 2 yang dibatasi x = 0 dan x = 1.

(c) Elemen luas, sebagaimana telah digunakan dalam jawaban (a)


adalah dA dydx. Karena kerapatan xy, sehingga elemen
massa dM xydxdy. Dengan demikian,

x2

2
xydydx xdx( 12 y )

x 0 y 0

x2
0

12 x 5 dx
0

1
.
12

Perhatikan bahwa kita tidak dapat menyelesaikan soal ini


dengan integral tunggal, sebab kerapatan bergantung pada x
dan y.

74

Pengantar Mekanika Analitik

Gambar 4.8 Menghitung panjang busur pada kurva y x 2 .

Untuk kurva y x 2 , panjang busur antara x = 0 dan x = 1


adalah
2

2 5 ln( 2 5 )
dy
s 1 dx 1 4 x 2 dx
.
dx
4

0
0
Perhatikan bahwa dalam perhitungan ini telah digunakan
tabel integral, yaitu

a 2 x 2 dx

x a2 x2 a2

ln x a 2 x 2 .
2
2

(d) Dalam fisika dasar, koordinat pusat massa ( x , y , z ) diberikan


oleh persamaan

xdM xdM , ydM ydM , zdM zdM ,


(4.14)
dengan dM menyatakan elemen massa dan integral meliputi
seluruh benda. Meskipun rumus koordinat pusat massa
berbentuk integral tunggal, tetapi dalam kenyataannya dapat
berupa integral tunggal, lipat-dua, atau lipat-tiga, bergantung
pada persoalan yang dihadapi serta metode penyelesaiannya.
Mengingat x , y , z konstan, kita dapat mengeluarkannya dari
tanda integral. Di samping itu, untuk kasus sederhana
Persamaan (4.14) dapat diselesaikan dengan mudah. Sebagai
contoh, untuk benda berupa bidang datar yang berada pada
Pengantar Mekanika Analitik

75

bidang xy maka z 0. Elemen massa dM dA dxdy ,


dengan menyatakan kerapatan (dalam hal ini massa per
satuan luas). Substitusi ke dalam ungkapan (4.14) dan
mengintegralkan kedua ruas akan menghasilkan koordinat
pusat massa. Untuk konstan, integral pertama Persamaan
(4.14) menjadi

x dA xdA atau xdA xdA.


Dengan cara yang sama, untuk konstan dapat dihilangkan
dari semua integral pada ungkapan (4.14). Pada contoh soal
ini, kita mempunyai
1

x2

x2

xdydx xdydx

x 0 y 0

x A 14 x 4
1

atau

x 0 y 0

1
0

x2

1
,
4

x2

ydydx ydydx

x 0 y 0

atau

x 0 y 0

yA 101 x 5

1
0

1
.
10

Tetapi A = 1/3, sehingga diperoleh x 3 / 4 dan y 3 / 10.


(e) Pusat massa panjang busur ( x , y ) dari kurva y = f(x) diberikan
oleh persamaan

x ds xds, yds yds,


(4.15)
dengan adalah kerapatan (massa per satuan panjang). Jika

konstan, Persamaan (4.15) menjadi


76

Pengantar Mekanika Analitik

xds xds, yds yds,


dengan ds diberikan oleh ungkapan (4.12). Dalam soal ini kita
mempunyai,
1

2
2
x 1 4 x dx x 1 4 x dx
0

1
2

1 4 x dx y 1 4 x dx x 2 1 4 x 2 dx.

Dengan menggunakan rumus integral

(x 2 a 2 )3/ 2
x x a dx
3
2

dan

x( x 2 a 2 ) 3 / 2 a 2 x a 2 x 2 a 2
x a dx

ln x a 2 x 2 ,
4
8
8
2

hitunglah nilai x dan y.


(f) Momen inersia I dari massa m yang berjarak l dari sumbu putar
dirumuskan sebagai I ml 2 . Untuk benda yang bukan terdiri
atas titik-titik massa diskret, melainkan memiliki sebaran massa
yang malar, rumus ini menjadi bentuk integral. Kita bayangkan
benda dibagi-bagi menjadi elemen-elemen massa kecil dM. Jika
jarak elemen massa ini ke sumbu putar adalah l, maka

I l 2 dM .
(4.16)

Pengantar Mekanika Analitik

77

Dalam

contoh

soal

ini

kerapatan

xy,

sehingga

dM xydxdy. Jarak dM terhadap sumbu x dan sumbu y


berturut-turut adalah y dan x (Gambar 4.9). Jarak dM terhadap

x2 y2

sumbu z adalah

(sumbu z tegak lurus bidang

gambar). Oleh karena itu, diperoleh tiga momen inersia


terhadap sumbu koordinat, yaitu

Gambar 4.9 Menghitung momen inersia.

Ix

x2

1
2

x 0 y 0

Iy

xydydx 14 x 9 dx
0

x2

2
7
x xydydx 14 x dx

x 0 y 0

Iz

1
,
40
1
,
16

x2

(x

y 2 )xydydx I x I y

x 0 y 0

7
.
80

Dengan menggunakan besaran massa M = 1/12 (jawaban (b)),


diperoleh
Ix

12
3
M M,
40
10

Iy

12
3
M M,
16
4

Iz

84
21
M
M.
80
20

CONTOH SOAL 4.16


78

Pengantar Mekanika Analitik

Putarlah daerah pada Contoh Soal 4.5 terhadap sumbu x sehingga


membentuk volume dan permukaan benda putar, kemudian
hitunglah (a) volume benda putar, (b) momen inersia benda
terhadap sumbu x jika kerapatannya konstan, (c) luas permukan
kurva, dan (d) pusat massa permukaan kurva.

Penyelesaian
(a) Cara yang paling mudah untuk memperoleh volume benda
putar adalah mengambil elemen volume berbentuk lapisan tipis
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4.10. Lapisan ini
mempunyai ketebalan dx dan tampang lintang berbentuk
lingkaran dengan jari-jari y, sehingga elemen volume
dV y 2 dx. Dengan demikian,
1

1
2

V y dx x 4 dx
0

Pengantar Mekanika Analitik

.
4

79

Gambar 4.10 Permukaan kurva y x 2 yang diputar


terhadap sumbu x.
Sebagai alternatif, soal ini dapat pula diselesaikan dengan
menggunakan integral lipat-tiga. Jika kurva y f (x ) diputar
terhadap sumbu x, setiap titik pada kurva akan mengelilingi
lingkaran dengan jari-jari f(x) yang sejajar dengan bidang xy.
Dengan demikian, diperoleh persamaan lingkaran
y 2 z 2 r 2 [ f ( x )]2 .
(4.17)
Ini tidak lain merupakan persamaan permukaan kurva. Untuk
f ( x) x 2 , kita mempunyai
y 2 z2 r 2 x4.
(4.18)

Gambar 4.11 Penampang permukaan kurva y x 2 yang


diputar terhadap sumbu x.
Seperti telah diuraikan di depan, dalam melakukan integral
lipat-tiga, lapisan tipis dx dipotong-potong menjadi kotak
80

Pengantar Mekanika Analitik

kecil-kecil sehingga diperoleh elemen volume dxdydz (Gambar


4.11). Dengan demikian,

x2

V dxdydz
1

x4 z2

1 x2

dxdydz 2

x 0 z x 2 y x 4 z 2

x2

x 4 z 2 dz

0 x2

x2

1
z
dx 2 x z dz dx.2. z x 4 z 2 x 4 arcsin 2
x 4 dx,
2
x x2 0
0
0
x2
4

sebagaimana telah diperoleh sebelumnya.


(b) Untuk memperoleh momen inersia benda terhadap sumbu x,
kita melakukan integral l 2 dM ke sumbu x. Karena sumbu x
tegak lurus bidang gambar, maka l 2 y 2 z 2 (Gambar 4.11).
Mengingat kerapatan konstan sehingga besaran dapat ditulis
di luar integral. Dengan demikian,
1

Ix

x2

x4 z2

(y

jawaban

(a)

z 2 )dydzdx

x 0 z x 2 y x 4 z 2

Dari

diperoleh

.
18
V / 5,

sehingga

M V / 5. Dengan demikian.
Ix

5
5
M M.
18
18

(c) Elemen luas permukaan kurva ditunjukkan pada Gambar 4.12,


yaitu dA 2yds. Dengan demikian,
1

2ydy 2 x
x 0

Pengantar Mekanika Analitik

1 4 x 2 dx.

x 0

81

Gambar 4.12 Elemen luas permukaan kurva y x 2 yang


diputar terhadap sumbu x.
(d) Dengan sifat simetri dapat dipahami bahwa y z 0. Untuk
x dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

xdA xdA,
Dengan mengingat dA 2ydx dan luas total A dari jawaban
(c), diperoleh
1

xA

2
2
x(2ydy )ds x 2x 1 4 x dx.
x 0

Volume Under A Surfacez = f(x, y),

V f ( x, y ) dxdy
R

Properties of Double Integrals and Figure 15.1.4 (P1016)


f ( x, y)dxdy f ( x, y)dxdy f ( x, y)dxdy
R

R1

R2

15.1.3 Double Integrals Over a Rectangle and Figures 15.1.5,


15.1.6 (P1018)
82

Pengantar Mekanika Analitik

f ( x, y)dxdy

f ( x, y ) dxdy

f ( x, y ) dxdy

15.2 Double Integrals Over Nonrectangular Regions


15.2.2 and Figure 15.2.1 (P1022)
(a) If a region R is bounded by x=a, b and y=g1(x) and g2(x), then
b

g 2( x )

g1( x )

f ( x, y ) dxdy
R

f ( x, y ) dydx

(b) If a region R is bounded by y=c, d and x=h1(y) and h2(y), then


d

h 2( y )

h1( y )

f ( x, y ) dxdy
R

f ( x, y ) dxdy

Volume Calculated From Integration of Area and Figure 15.2.2


(P1022)
b

V A( x ) dx ,
a

A( x )

g 2( x )

g1( x )

f ( x, y )dy

Area Calculated As A Double Integral and Figure 15.2.11 (P1026)


A dxdy
R

Example 7 and Figure 15.2.12 (P1026)

15.3 Double Integral In Polar Coordinates


15.3.1 Simple Polar Regions (P1029) and Figure 15.3.1 (P1030)
A region enclosed by r=r1(), r2() and =, ,
where , - 2 and 0 r1() r2()
15.3.3 Polar Double Integrals (P1032) and Figures 15.3.5, 15.3.6
(P1031)
If R is a simple region shown in Figure 15.3.6, then
r 2( )

f ( r, )dA
R

r1( )

f ( r, )rdrd

Example 1 and Figure 15.3.8 (P1032), Example 2 and


Figure 15.3.9 (P1033)
Pengantar Mekanika Analitik

83

Finding Area Using Polar Double Integrals (P1033)

r 2( )

r1( )

rdrd

Example 3 and Figure 15.3.10 (P1033)


Double Integrals from Rectangular to Polar Coordinates (P1034)
f ( x, y )dA f (r cos , r sin )rdrd
R

Example 4 and Figure 15.3.11 (P1034)


Exercise Set 15.39,11,13-17,27,31-33,36,37,39

15.5 Triple Integrals


15.5.1 Triple Integrals Over Rectangular Boxes (P1049)
Let G be the rectangular box defined by a x b, c y d, k z l,
then

b d

a c

f ( x, y , z )dV

f ( x, y , z )dzdydx

Integral on the right can be evaluated by altering the order


of integration.
15.5.2 Triple Integrals Over General Regions and Figure 15.5.3
(P1050)
Let G be a solid with lower surface z=g1(x,y) and upper
surface z=g2(x,y),
and let R be the projection of G on the xy-plane, then
g 2( x , y )
f ( x , y , z )dV
f ( x, y , z )dz dA

g1( x , y )

G
R
Example 2 and Figure 15.5.4 (P1050, 1051)
Volume Calculated as a Triple Integral (P1051)
dxdydz

V=

Example 4 and Figure 15.5.6 (P1052)

84

Pengantar Mekanika Analitik

Integration in Other Orders and Figure 15.5.7 (P1053)


g 2( x , z ) f ( x, y , z )dy dA
f
(
x
,
y
,
z
)
dV

R g1( x, z )

xz solid

f ( x, y, z )dV

yz solid

g 2( y , z )

g1( y , z )

f ( x, y, z )dx dA

Example 5 and Figure 15.5.8 (P1053)

Exercise Set 15.58,10,17,18,25,26,30


15.6 Centroid, Center Of Gravity, Theorem of Pappus
15.6.1 Mass of a Lamina and Figure 15.6.3 (P1056)
If a lamina with a density function (x, y) on a region R in the
xy-plane, then its total mass M is given by
M ( x, y )dxdy
R

Center of Gravity ( x , y ) of a Lamina (P1059)


_

x ( x, y )dxdy

( x, y )dxdy

y ( x, y )dxdy

( x, y )dxdy
R

Centroid of a Region R (P1060)


R xdxdy
_
x
dxdy

ydxdy
R

dxdy
R

Example 3 and Figure 15.6.9 (P1060)


Mass of a Solid G (P1061)

M ( x, y, z )dxdydz ,

(x, y,

z): density function


_

Center of Gravity ( x , y, z ) of a Solid G (P1061)

Pengantar Mekanika Analitik

85

x ( x, y, z )dxdydz
G

( x, y, z )dxdydz

y ( x, y, z )dxdydz

, y

( x, y, z )dxdydz

z ( x, y, z )dxdydz
G

( x, y, z )dxdydz
G

Centroid of a Solid G (P1061)


xdxdydz
ydxdydz

_
_
_
x G
, y G
, z
dxdydz
dxdydz
G

zdxdydz
G

dxdydz
G

Example 4 and Figure 15.6.11 (P1061)


15.6.3 Theorem of Pappus and Figure 15.6.12 (P1062)
Pappus of Alexandria (4th centry A.D.)Greek mathematician.
Pappus lived during the early Christian era. His main contributions
to mathematics survive only partially. Swiss mathematician, Paul
Guldin (1577-1643), rediscovered it independently.
If R is a bounded plane region and L is a line on one side of R,
then the volume formed by revolving R about L is
V 2 xdxdy
R

Exercise Set 15.67,9,11,13,19,23,25,29,33,34


15.7 Triple Integrals in Cylindrical and Spherical Coortdinates
15.7.1 Triple Integrals in Cylindrical Coordinates and Figure 15.7.4
(P1067)
Let G be a solid with lower surface z=g1(r,) and upper surface
z=g2(r,), and if the projection of the solid on the xy-plane is
bounded by r=r1(), r2() and =1,2, then
2

f ( r, , z )dV
G

r 2 ( )

r1( )

g 2( r , )

g1( r , )

f ( r, , z )rdzdrd

Example 2 and Figure 15.7.6 (P1068)

86

Pengantar Mekanika Analitik

15.7.2 Triple Integrals in Spherical Coordinates and Figure 15.7.9


(P1070)
2

f ( , , )dV

f ( , , ) 2 sin d d d

Ditinjau integral tunggal sebagai berikut


b

I f ( x )dx

(4.22)

Jika silakukan substitusi variabel

x x(u ) atau u u(x ) ,

(4.23a)

maka akan mengalihkan integral tunggal (4.22) dalam tiga hal


yaitu:
(i). Pengalihan interval (daerah) integrasi
Interval integrasi dalam x yaitu D x a x b , teralihkan ke
interval integrasi yang baru yaitu Du u (a ) u u(b)
(ii). Pengalihan elemen diferensial dx , menjadi
df
dx
du

Latihan
1. Sebuah batang homogen panjangnya l dan kerapatannya .
Hitunglah (a) M, (b) momen inersia terhadap sumbu yang tegak
lurus batang, dan (c) momen inersia terhadap sumbu yang tegak
lurus batang melalui salah satu ujung batang.
2. Sebuah batang yang panjangnya 10 m mempunyai kerapatan
yang bervariasi dari ujung satu ke yang lain 4 kg/m ke 24 kg/m.
Hitunglah (a) M, (b) x , (c) momen inersia terhadap sumbu

Pengantar Mekanika Analitik

87

yang tegak lurus batang; (d) momen inersia terhadap sumbu


yang tegak lurus batang melalui ujung batang yang lebih
ringan.

88

Pengantar Mekanika Analitik