Anda di halaman 1dari 11

ADJUNCTS TO

ANESTHESIA

FISIOLOGI HISTAMIN
Kardiovaskular
H1 reseptor : meningkatkan
permeabilitas kapiler dan
meningkatkan iritabilitas
ventrikel
H2 reseptor : meningkatkan
denyut jantung dan kontraktilitas
Pernapasan
H1 reseptor : vasodilatasi paru
H2 reseptor : vasokintriksi paru
Gastrointestinal
H1 reseptor : kontraksi otot
polos usus
H2 reseptor : meningkatkan
asam lambung

Kulit
H1 reseptor : peningkatan
permeabiliitas kapiler dan
vasodilatasi
Imunobiologi
H1 reseptor : menarik leukosit
ke lokasi terjadinya proses
inflamasi dan menginduksi
sintesis prostaglandin
H2 reseptor : mengaktifkan
limfosit T-supresor

H1 reseptor antagonis
Mekanisme Kerja :
antagonis H1-reseptor serta antidopaminergic dan alat
untuk -Adrenergik-blocking
Penggunaan klinis :
Supresi gejala alergi (urtikaria, rinitis,konjungtivitis),
vertigo, nausea, vomitus, sedasi,supresi batuk, diskinesia
dan mencegah bronkokonstriksi
Dosis :
difenhidramin 25-50 mg
(0,5-1,5 mg/kgbb) oral, IM,
IV tiap 4-6 jam
Interaksi obat :
sebagai efek sedative bila diberikan
bersama opioid

H2 reseptor antagonis
Mekanisme :
agen kompetitif menghambat reseptor H2 mengurangi hcl dan
menaikan ph
Penggunaan klinis :
peptic duodenal, ulkus lambung, GERD, pnemonia aspirasi
Efek samping :
hipotensi, bradikardi, aritmia, dan cardiac arest, ginekomastia dan impoten
(simetidin)
Dosis diberikan pada waktu tidur, pengulangan paling tidak 2 jam sebelum
operasi
Interaksi Obat
Simetidin dapat mengurangi aliran darah menuju hati dan mengikat sitokrom P450 oksidase. Efek ini memperlambat metabolisme obat

Antasid
Mekanisme
menetralisasi keasaman cairan lambung dengan menghasilkan basa
yg bereaksi denga hidrogen menjadi air
Penggunaan klinis
peptic duodenal, ulkus lambung, GERD, pnemonia aspirasi
Dosis
15-30 mL secara oral, 15-30 menit sebelum induksi.
Interaksi Obat
Karena antasida mengubah pH lambung dan urine, maka mengubah
penyerapan dan eliminasi banyak obat

Metocloropramide
Mekanisme
cholinomimetic ( perifer), dopamin antagonis ( sentral)
Penggunaan klinis
meningkatkan tonus LES, mempercepat pengosongan lambung dan
mengurangi volume cairan lambung, anti emetik dengan memblok
CTZ di CNS
Efek samping
kram abdomen dan kontra indikasi dengan obstruksi intestinal total,
krisis hipertensi (pasien dengan pheochromocytoma), sedasi.
Dosis
10-20 mg (0,25 mg/kg)
Onset lebih cepat parenteral (3-5 menit) daripada diberikan secar oral
(30-60 menit)
Interaksi obat
obat antimuskarinik dapat memblok GI effect. Mengurangi absorpsi
oral simetidine.

Ondansentron dan
Granisetron
Kegunaan klinis
Antiemetik efektif pada post-op
5-HT3 antagonis (sebagai single agent) provide superior antiemetik
prophylaxis dibanding metoclopramide/droperidol
Metoclopramide+droperidol = ondansetron
Efek samping
Efek samping paling sering nyeri kepala
Prolong QT interval (paling sering dolasetron)
Dosis :

IV

PO

Ondansetron

4 mg

idem

Granisetron

1 mg

idem

Dolasetron

12,5 mg

100 mg

Ketorolac
Mekanisme kerja
NSAID parenteral yang memberikan analgesi dengan inhibisi sintesis prostaglandin
Kegunaan klinis:
Untuk management nyeri short-term (<5 hari)
Dosis standar ketorolac = fungsi morphin 6-12 mg. Onset sama, tetapi durasi lebih lama >> (68 jam)
Opioid alternatif u/ analgesi post-op karena efek minimal pada CNS
Secara spesifik ketorolac tidak akibatkan depresi napas, sedasi atau mual & muntah
Efek anagesi >> prosedur orthopedi dan gineologi drpd pembedahan intraabdominal
Efek samping :
Inhibisi agregasi trombosit, meningkatkan bleeding time
Pemberian jangk panjang
1. renal toxicity 2. GIT ulcer dgn bleeding & perforasi
Kontraindikasi pada pasien alergi aspirin
Dosis
Pasien orang tua clearance ketorolac lebih lambat, maka dosis diturunkan
IV: 30 mg; IM: 60 mg
15-30 mg/ 6 jm
(maintenance)

Doxapram
Mekanisme kerja
Doxapram merupakan stimulan sistem saraf pusat dan sistem saraf
perifer. Aktivasi selektif dari kemoreseptor carotis melalui penurunan
dosis doxapram menstimulasi hipoksia, menimbulkan peningkatan
volume tidal serta meningkatkan frekuensi nafas.
Efek samping :
perubahan status mental (bingung, puaing, kejang), takhikardia,
aritmia, hipertensi, disfungsi paru-paru (wheezing, takhipnea), muntah
serta spasme laring.
Tidak boleh diberikan pada pasien epilepsi, CVD, trauma kepala akut,
coronary artery disease, hipertensi, serta asma.
Dosis
Bolus secara intravena diberikan 0,5-1 mg/kgBB dapat meningkatkan
ventilasi (onset kerjanya adalah 1 menit; durasi kerja adalah 5-12
menit)
Interaksi Obat
Stimulasi simpatis yang dihasilkan oleh doxapram mungkin dapat
memperberat efek kardiovaskular dari obat adrenergik

Naloxone
Mekanisme

Kerja
Nalokson merupakan antagonis kompetitif pada reseptor opioid.
Kegunaan

klinis
Nalokson mengembalikan aktivitas agonis yang berhubungan dengan bahan opioid endogen
atau kandungan opioid eksogen
Efek

samping
Pembalikkan yang mendadak terhadap analgesic opioid dapat menghasilkan stimulasi simpatis
(takikardi, iritabilitas ventrikel, hipertensi, edema paru)
Dosis
Depresi pernapasan pada pasien postoperative karena kelebihan opioid dapat diberikan
nalokson intravena (0,4mg/ml diencerkan hingga 0,04 m/ml) dapat dititrasi dengan
penambahan 0,5g/kg setiap 3-5 menit hingga ventilasi yang adekuat dan kewaspadaan
tercapai.
Interaksi obat
Efek nalokson pada agen anestesi non opioid seperti nitrrat oksida masih kontroversi dan
mungkin tidak signifikan. Nalokson mungkin berlawanan dengan efek antihipertensi dari klonidin

Flumazenil
Mekanisme
antagonis spesifik dan kompetitif pada reseptor benzodiazepine
Penggunaan klinis
mengembalikan sedasi benzodiazepinen dan pengobatan overdosis
benzodiazepine
Efek samping
reaksi kecemasan pada pasien yang sebelumnya di sedasi dan gejala
withdrawl pasien terapi jangka panjang benzodiazepine
Dosis
Titrasi bertahap 0,2mg/menit , total 0,6 - 1 mg
pemberian infus yang terus menerus (0,5 mg/jam) membantu dalam
keadaan overdosis benzodiazepine
Interaksi obat
induksi kejang bila benzodiazepine telah diberikan sebagai konvulsan
atau bersama dengan dosis antidepresan trisiklik yang berlebih