Anda di halaman 1dari 12

asuhan keperawatan paringitis pada anak

BAB I
PEMBAHASAN
A. Definisi
Faringitis adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring). Faringitis (dalam
bahasa Latin; pharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok
atau faring. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok.
Radang tenggorokan berarti dinding tenggorokan menebal atau bengkak, berwarna
lebih merah, ada bintik-bintik putih dan terasa sakit bila menelan makanan.
B. Klasifikasi
Secara umum faringitis dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
Faringitis Akut
Faringitis virus atau bakterialis akut adalah penyakit yang sangat penting. Beberapa usaha
dilakukan pada klasifikasi peradangan akut yang mengenai dinding faring. Yang paling logis
untuk mengelompokkan sejumlah infeksi-infeksi ini dibawah judul yang relatif sederhana
Faringitis Akut. Disini termasuk faringitis akut yang terjadi pada pilek biasa sebagai akibat
penyakit infeksi akut seperti eksantema atau influenza dan dari berbagai penyebab yang tidak
biasa seperti manifestasi herpesdan sariawan.
Faringitis Kronis
1. Faringitis Kronis Hiperflasi
Pada faringitis kronis hiperflasi terjadi perubahan mukosa dinding posterior. Tampak mukosa
menebal serta hipertofi kelenjar limfe di bawahnya dan di belakang arkus faring posterior
(lateral band). Dengan demikian tampak mukosa dinding posterior tidak rata yang disebut
granuler.
2. Faringitis Kronis Atrofi (Faringitis sika)
Faring kronis atrofi sering timbul bersama dengan rinitis atrofi. Pada rinitis atrofi udara
pernapasan tidak diatur suhu serta kelembapannya sehingga menimbulkan rangsangan serta
infeksi faring.
Faringitis Spesifik
1) Faringitis Luetika
1. Stadium Primer
Kelainan pada stadium ini terdapat pada lidah, palatum mole, tonsil, dan dinding faring
posterior. Kelainan ini berbentuk bercak keputihan di tempat tersebut.

2. Stadium Sekunder
Stadium ini jarang ditemukan. Pada stadium ini terdapat pada dinding faring yang menjalar
ke arah laring.
3. Stadium Tersier
Pada stadium ini terdapat guma. Tonsil dan pallatum merupakan tempat predileksi untuk
tumuhnya guma. Jarang ditemukan guma di dinding faring posterior.
2) Faringitis Tuberkulosa
Kuman tahan asam dapat menyerang mukosa palatum mole, tonsil, palatum durum, dasar
lidah dan epiglotis. Biasanya infeksi di daerah faring merupakan proses sekunder dari
tuberkulosis paru, kecuali bila terjadi infeksi kuman tahan asam jenis bovinum, dapat timbul
tuberkulosis faring primer.
C. Gejala
Baik pada infeksi virus maupun bakteri, gejalanya sama yaitu nyeri tenggorokan dan nyeri
menelan. Selaput lendir yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan
tertutup oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan nanah. Gejala lainnya
adalah:
1. Demam
2. Pembesaran kelenjar getah bening di leher
3. Peningkatan jumlah sel darah putih.
Gejala tersebut bisa ditemukan pada infeksi karena virus maupun bakteri, tetapi lebih
merupakan gejala khas untuk infeksi karena bakteri.
Kenali gejala umum radang tenggorokan akibat infeksi virus sebagai berikut:
1. Rasa pedih atau gatal dan kering.
2. Batuk dan bersin.
3. Sedikit demam atau tanpa demam.
4. Suara serak atau parau.
5. Hidung meler dan adanya cairan di belakang hidung.

D. Etiologi
1.

Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus,
termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV. Bakteri
yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A, korinebakterium, arkanobakterium,

Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.


1. Virus, 80 % sakit tenggorokan disebabkan oleh virus, dapat menyebabkan demam .
2. Batuk dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan teriritasi.
3. Virus coxsackie (hand, foot, and mouth disease).

4. Alergi. Alergi dapat menyebabkan iritasi tenggorokan ringan yang bersifat kronis (menetap).
5. Bakteri streptokokus, dipastikan dengan Kultur tenggorok. Tes ini umumnya dilakukan di
laboratorium menggunakan hasil usap tenggorok pasien. Dapat ditemukan gejala klasik dari
kuman streptokokus seperti nyeri hebat saat menelan, terlihat bintik-bintik putih, muntah
muntah, bernanah pada kelenjar amandelnya, disertai pembesaran kelenjar amandel.
E. Patofisiologi
Organisme yang menghasilkan eksudat saja atau perubahan kataral sampai yang
menyebabkan edema dan bahkan ulserasi dapat mengakibatkan faringitis. Pada stadium awal,
terdapat hiperemia, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa
tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus dan kemudian cenderung menjadi kering dan
dapat

melekat

pada

dinding

faring.

Dengan hiperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi melebar. Bentuk sumbatan yang
berwarna putih, kuning atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak
adanya tonsilia, perhatian biasanya difokuskan pada faring dan tampak bahwa folikel limfoid
atau bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral, menjadi
meradang dan membengkak. Tekanan dinding lateral jika tersendiri disebut faringitis lateral.
Hal ini tentu saja mungkin terjadi, bahkan adanya tonsilia, hanya faring saja yang terkena.

F. Komplikasi
1. Otitis media purulenta bakterialis
Daerah telinga tengah normalnya adalah steril. Bakteri masuk melalui tube eustacius akibat
2.

kontaminasi sekresi dalam nasofaring.


Abses Peritonsiler
Sumber infeksi berasal dari penjalaran faringitis/tonsilitis akut yang mengalami supurasi,

menembus kapsul tonsil.


3. Glomerulus Akut
Infeksi Streptokokus pada daerah faring masuk ke peredaran darah, masuk ke ginjal. Proses
autoimun kuman streptokokus yang nefritogen dalam tubuh meimbulkan bahan autoimun
yang merusak glomerulus.
4. Demam Reumatik
Infeksi streptoceal yang awalnya ditandai dengan luka pada tenggorok akan menyebabkan
peradangan dan pembentukan jaringan parut pada katup-katup jantung, terutama pada katup
mitral dan aorta.
5. Sinusitis
Sinusitis adalah radang sinus yang ada disekitar hidung dapat berupa sinusitis maksilaris /
frontalis. Sinusitis maksilaris disebabkan oleh komplikasi peradangan jalan napas bagian atas

(salah satunya faringitis), dibantu oleh adanya faktor predisposisi. Penyakit ini dapat
disebabkan oleh kuman tunggal dan dapat juga campuran seperti streptokokus, pneumokokus,
hemophilus influenza dan kleb siella pneumoniae.
6. Meningitis
Infeksi bakteri padadaerah faring yang masuk ke peredaran darah, kemudian masuk ke
meningen dapat menyebabkan meningitis.Akan tetapi komplikasi meningitis akibat faringitis
jarang terjadi.
G. Petalaksanaan
1. Antibiotik golongan penicilin atau sulfanomida
a. Faringitis streptokokus paling baik diobati peroral dengan penisilin (125-250 mg penisilin V
tiga kali sehari selama 10 hari)
b. Bila alergi penisilin dapat diberikan eritromisin (125 mg/6 jam untuk usia 0-2 tahun dan 250
mg/6 jam untuk usia 2-8 tahun) atau klindamisin.
2. Tirah Baring
3. Pemberian cairan yang adekuat
4. Diet ringan
5. Obat kumur hangat.
Berkumur dengan 3 gelas air hangat. Gelas pertama berupa air hangat sehingga penderita
dapat menahan cairan dngan rasa enak. Gelas kedua dan ketiga dapae diberikan air yang
lebihhangat. Anjurkan setiap 2 jam.
Obatnya yaitu:
a. Cairan saline isotonik ( sendok teh garam dalam 8 oncesair hangat)
b. Bubuk sodium perbonat (1 sendok teh bubuk dalam 8 ounces air hangat). Hal ini terutama
berguna pada infeksi vincent atau penyakit mulut. (1 ounce = 28 g)
6. Pendidikan Kesehatan.
a. Instruksikan pasien menghindari kontak dengan orang lain sampai demam hilang. Hindari
penggunaan alkohol, asap rokok, tembakau dan polutan lain.
b. Anjurkan pasien banyak minum. Berkumur dengan larutan normal salin dan pelega
tenggorokan bila perlu.
H. Pemeriksaan Penunjang.
1. Pada pemeriksaan dengan mempergunakan spatel lidah, tampak tonsil membengkak,
hiperemis, terdapat detritus, berupa bercak (folikel, lakuna, bahkan membran). Kelenjar
submandibula membengkak dan nyeri tekan, terutama pada anak.
2. Pemeriksaan Biopsi
Contoh jaringan untuk pemeriksaan dapat diperoleh dari saluran pernapasan (sekitar faring)
dengan menggunakan teknik endoskopi. Jaringan tersebut akan diperiksa dengan mikroskop
untuk mengetahui adanya peradangan akibat bakteri atau virus.

3. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum makroskopik, mikroskopik atau bakteriologik penting dalam diagnosis
etiologi penyakit. Warna bau dan adanya darah merupakan petunjuk yang berharga.
4. Pemeriksaan Laboratorium
a. Sel darah putih (SDP)
Peningkatan komponen sel darah putih dapat menunjukkan adanya infeksi atau inflamasi.
b. Analisa Gas Darah
Untuk menilai fungsi pernapasan secara adekuat, perlu juga mempelajari hal-hal diluar paru
seperti distribusi gas yang diangkut oleh sistem sirkulasi.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
1.
a.
b.
c.
d.
e.
2.
a.

Pengkajian
Riwayat Kesehatan
Adanya riwayat infeksi saluran pernapasan sebelumnya: batuk, pilek, demam.
Riwayat alergi dalam keluarga
Riwayat penyakit yang berhubungan dengan imunitas seperti malnutrisi
Anggota keluarga lain yang mengalami sakit saluran pernapasan
Ada/tidak riwayat merokok
Pemeriksaan Fisik
Pernapasan
Pernapasan dangkal, dipneu, takipneu, tanda bunyi napas ronchi halus dan melemah, wajah

b.

pucat atau sianosis bibir atau kulit


Aktivitas atau Istirahat

Kelelahan, malaise, insomnia, penurunan toleransi aktivitas, sirkulasi takikardi, dan pucat
c. Makanan dan cairan
Gejala
3.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
B.

Kehilangan nafsu makan, disfagia, mual dan muntah.

Tanda : Hiperaktivitas bunyi usus, distensi abdomen, turgor kulit buruk.


Observasi
Adanya retraksi atau pernapasan cuping hidung
Adanya kepucatan atau sianosis warna kulit
Adanya suara serak, stridor, dan batuk
Perilaku: gelisah, takut
Adanya sakit tenggorok, adanya pembesaran tiroid, pengeluaran sekret, kesulitan menelan.
Tanda-tanda: nyeri dada, nyeri abdomen, dispnea
Diagnosa Keperawatan.

1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi


2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan
4.
5.
6.
C.
1.
1.

menelan
Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, kesulitan bernapas
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif
Kurang pengetahuan berhubungan dengan terbatasnya informasi
Intervensi.
Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
Level Nyeri
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri pasien berkurang / hilang
dengan skala hasil

a.
b.
c.
d.
e.
f.
2.

Kriteria Hasil:
Laporkan frekuensi nyeri
Kaji frekuensi nyeri
Lamanya nyeri berlangsung
Ekspresi wajah terhadap nyeri
Kegelisahan
Perubahan TTV
Kontrol Nyeri
Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri pasien terkontrol dengan

skala hasil 4
a.
b.
c.
d.

Kriteri Hasil:
Mengenal faktor penyebab
Gunakan tindakan pencegahan
Gunakan tindakan non analgetik
Gunakan analgetik yang tepat
Ket Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
Manajemen Nyeri

a.

Kaji secara menyeluruh tentang nyeri termasuk lokasi, durasi, frekuensi, intensitas, dan

b.

faktor penyebab.
Observasi isyarat non verbal dari ketidaknyamanan terutama jika tidak dapat berkomunikasi

secara efektif.
c. Gunakan tindakan lokal (berkumur, menghisap, kompres hangat) untuk mengurangi sakit
tenggorok.

d. Berikan analgetik dengan tepat.


e. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berakhir dan
antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.
f. Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya: relaksasi, guide, imagery, terapi musik, distraksi)
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan napas pasien
kembali efektif dengan skala hasil
a.
b.
c.
d.

Kriteria Hasil:
Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih
Tidak ada dipsneu
Sekret dapat keluar
Mampu batuk efektif
Ket Skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan

e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

5. Selalu menunjukkan
Pengelolaan Jalan Napas
Kaji frekuensi atau kedalaman pernapasan dan gerakan dada
Auskultasi area paru, catat area penurunan udara
Bantu pasien latihan nafas dalam dan melakukan batuk efektif.
Berikan posisi semifowler dan pertahankan posisi anak
Lakukan penghisapan lendir sesuai indikasi.
Kaji vital sign dan status respirasi.
Kolaborasi pemberian oksigen

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan


menelan
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan status nutrisi pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil:
a.

Mempertahankan pemasukan nutrisi

b.

Mempertahankan berat badan

c.

Melaporkan keadekuatan tingkat energi

d.

Daya tahan tubuh adekuat

Ket Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan

5 = Selalu menunjukkan
Manajemen nutrisi
a.

Kaji status nutrisi pasien

b.

Ketahui makanan kesukaan pasien

c. Anjurkan pasien makan sedikit demi sedikit tapi sering


d.

Kaji membran mukosa dan turgor kulit setiap hari untuk monitor hidrasi

e.

Timbang BB pada interval yang tepat

f. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diet yang sesuai


4. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, kesulitan bernapas
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pasien dan keluarga tidak
mengalami kecemasan dengan skala hasil
a.
b.
c.
d.
e.
1.
2.
3.
4.
5.
a.
b.

Kriteria Hasil:
Monitor intensitas kecemasan
Menurunkan stimulasi lingkungan ketika cemas
Menggunakan strategi koping efektif
Mencari informasi untuk menurunkan cemas
Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas
Ket Skala:
Tidak pernah dilakukan
Jarang dilakukan
Kadang dilakukan
Sering dilakukan
Selalu dilakukan
Penurunan Kecemasan
Tenangkan Klien
Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada

saat melakukan tindakan


c. Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis, dan tindakan.
d. Temani pasien untuk mendukung keamanan dan menurunkan rasa sakit.
e. Instruksikan pasien untuk menggunakan metode/ teknik relaksasi.
5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif
Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder

dengan skala hasil


a.
b.
c.
d.

Kriteria Hasil:
Mengindikasikan status gastrointestinal, pernapasan, dan imun dalam batas normal
Terbebas dari tanda dan gejala infeksi
Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan
Mampu mengidentifikasi faktor resiko
Ket Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2. = Jarang menunjukka

3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan

a.
b.
c.
d.

5 = Selalu menunjukkan
Pengendalian Infeksi
Pantau tanda/gejala infeksi (suhu, kulit, suhu tubuh, lesi, kulit, keletihan, malaise)
Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi (usia, tinggkat imun rendah, malnutrisi)
Pertahankan lingkungan aseptik dengan teknik mencuci tangan yang baik.
Berikan diet bergizi sesuai kemampuan anak untuk mengkonsumsi nutrisi untuk mendukung

pertahanan tubuh alami.


e. Instruksikan pada keluarga pasien untuk menjaga hygiene anaknya untuk melindungi tubuh
terhadap infeksi.
f. Kolaborasi: pemberian antibiotik
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan pasien dan
keluarga tentang penyakitnya bertambah dengan skala hasil
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Kriteria Hasil:
Mengenal tentang penyakit
Menjelaskan proses penyakit
Menjelaskan penyebab/faktor yang berhubungan
Menjelaskan faktor resiko
Menjelaskan komplikasi dari penyakit
Menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit
Ket Skala:
1. Tidak pernah menunjukkan
2. Jarang menunjukkan
3. Kadang menunjukkan
4. Sering menunjukkan
5. Selalu menunjukkan
A. Health Care Information exchange

a. Identifikasi pemberi pelayanan keperawatan yang lain


b. Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga dalam mengimplementasikan keperawatan
setelah penjelasan
c. Jelaskan peran keluarga dalam perawatan yang berkesinambungan
d. Jelaskan program perawatan medik meliputi; diet, pengobatan, dan latihan.
e. Jelaskan rencana tindakan keperawatan sebelum mengimplementasikan
B. Health Education
a. Jelaskan faktor internal dan eksternal yang dapat menambah atau mengurangi dalam
perilaku kesehatan.

b.
c.
d.
D.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Jelaskan pengaruh kesehatan dan perilaku gaya hidup individu, keluarga/lingkungan.


Identifikasi lingkungan yang dibutuhkan dalam program perawatan.
Anjurkan pemberian dukungan dari keluarga dan keluarga untuk membuat perilaku kondusif.
Evaluasi
Kariteria hasil yang d harapkan
DX I:
Laporkan frekuensi nyeri
Kaji frekuensi nyeri
Lamanya nyeri berlangsung
Ekspresi wajah terhadap nyeri
Kegelisahan
Perubahan TTV
DX II :

a.
b.
c.
d.

Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih


Tidak ada dipsneu
Sekret dapat keluar
Mampu batuk efektif
DX III :

a.
b.
c.
d.

Mempertahankan pemasukan nutrisi


Mempertahankan berat badan
Melaporkan keadekuatan tingkat energi
Daya tahan tubuh adekuat
DX IV:

a.
b.
c.
d.
e.

Monitor intensitas kecemasan


Menurunkan stimulasi lingkungan ketika cemas
Menggunakan strategi koping efektif
Mencari informasi untuk menurunkan cemas
Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan cemas
DX V :

a.
b.
c.
d.

Mengindikasikan status gastrointestinal, pernapasan, dan imun dalam batas normal


Terbebas dari tanda dan gejala infeksi
Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan
Mampu mengidentifikasi faktor resiko
DX VI :

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Mengenal tentang penyakit


Menjelaskan proses penyakit
Menjelaskan penyebab/faktor yang berhubungan
Menjelaskan faktor resiko
Menjelaskan komplikasi dari penyakit
Menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Faringitis adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring). Faringitis (dalam
bahasa Latin; pharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok
atau faring. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok.
Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus,
termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV. Bakteri
yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A, korinebakterium, arkanobakterium,
Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.
Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan pada klien dengan faringitis yaitu:
2. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi
3. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan
menelan
5. Cemas berhubungan dengan hospitalisasi, kesulitan bernapas
6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif
7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan terbatasnya informasi
B. SARAN.
Kami selaku penulis berharap kepada pembaca khususnya kami sendiri agar dapat
meningkatkan lagi ilmu dan pengetahuan yang dimiliki khususnya dibidang Keperawatan
Anak.

DAFTAR PUSTAKA

Adams, George L. 1997. Buku Ajar Penyakit THT, ed.6. Jakarta: EGC.
Behrman, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, vol.2, ed.15. Jakarta: EGC.
Iskandar, Nurbaiti, dkk. 1993. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, ed.2.
Jakarta: Balai penerbit FKUI..
Kee, Joyce LeFever. 1997. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dengan
Implikasi Keperawatan. Jakarta: EGC.
Mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, ed 3, jilid 1. Jakarta: Media Ausculapius.
MsCloskey, Cjoane, dkk. 1995. NIC. Jakarta: Morsby
NANDA. 2006. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi dan
Klasifikasi. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, ed 2. Jakarta: EGC.
Smeltzer, suzannec. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth,
ed.8, vol.1. Jakarta: EGC.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, ed.4. Jakarta: EGC.
Sumber : http://mydocumentku.blogspot.com/2012/04/asuhan-keperawatan-padapasien_17.html#ixzz20MYaPNrv