Anda di halaman 1dari 5

NAMA :ANTO SUNANTO

NIM :021020744
UBJJ :BANDAR LAMPUNG
POKJAR
:BANDAR SRIBHAWONO
LAMPUNG TIMUR

Jelaskan pandangan saudara tentang kontribusi agama dalam mewujudkan persatuan


dan kesatuan bangsa!
Jawab:
Menurut saya, Al-quran mengajarkan bahwa kehidupan politik harus dilandasi dengan empat
hal yang pokok yaitu:
1. Sebagai bagian untuk melaksanakan amanat.
2. Sebagai bagian untuk menegakkan hukum dengan adil.
3. Tetap dalam koridor taat kepada Allah, Rasu-Nya, dan ulil amri.
4. Selalu berusaha kembali kepada Al-quran dan Sunnah Nabi SAW.
Islam memberi kontribusi bagaimana seharusnya memilih dan mengangkat seorang yang
akan diberi amanah untuk memegang kekuasaan politik. Yaitu orang tersebut haruslah:
1. Seorang yang benar dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya serta jujur.
2. Seorang yang dapat dipercaya.
3. Seorang memiliki keterampilan dalam komunikasi.
4. Seorang yang cerdas.
5. Yang paling penting Anda seorang yang dapat menjadi teladan dalam kebaikan.
Secara naluriah manusia tidak dapat hidup secara individual. Sifat sosial pada hakikatnya
adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT agar manusia dapat menjalani hidupnya
dengan baik. Dalam faktanya manusia memiliki banyak perbedaan antara satu individu
dengan individu lainnya, di samping tentunya sejumlah persamaan. Perbedaan tersebut kalau
tidak dikelola dengan baik tentu akan menimbulkan konflik dan perpecahan dalam kehidupan
bermasyarakat. Dari kenyataan tersebut perlu dicari sebuah cara untuk dapat mewujudkan
persatuan dan kesatuan. Pendekatan terbaik untuk melakukan tersebut adalah melalui agama.

Secara normatif agama Islam lebih khusus Al-quran banyak memberi tuntunan dalam rangka
mewujudkan persatuan dan kesatuan.
2) Di antara prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Al-quran untuk mewujudkan
persatuan dan kesatuan bangsa adalah prinsip persamaan, persatuan dan tolongmenolong. Jelaskan maksud masing-masing prinsip tersebut!
prinsip persatuan dan kesatuan bangsa:
Al-Quran menggambarkan persatuan dari berbagai sisi. Pertama, Al-Quran mengisyaratkan
bahwa kecenderungan untuk bersatu, merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
eksistensi manusia. Sejak umat pertama tercipta dan menghuni dunia, saat itu pula keinginan
untuk bersatu muncul. Manusia, dengan tujuan untuk melangsungkan kehidupan serta
mengurangi berbagai kesulitan, saling membantu antara satu dengan yang lainnya. Tetapi,
karena berbagai faktor terjadilah pertikaian dan peperangan. Kedua, Al-Quran menjelaskan
bahwa salah satu tugas kenabian adalah meluruskan perselisihan yang terjadi di tengah umat
serta mengembalikannya kepada seruan Al-Quran. Ketiga, Quran menyebutkan tentang
dampak dan pengaruh persatuan. Misalnya, dengan persatuan, umat Islam akan mencapai
kemenangan serta kemuliaan. Selain itu, masih banyak sisi-sisi lainnya yang dijelaskan dalam
Al-Quran. Dengan terciptanya persatuan maka kemenangan dan kemuliaan umat Islam akan
tercipta sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Quran. Oleh sebab itu tidak ada alasan
bagi kita untuk tidak melakukan persatuan, sebab ancaman yang akan menghancurkan umat
Islam sudah didepan mata.
Prinsip tolong-menolong
Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Dunia ini hanya untuk
empat golongan manusia: (satu di antaranya) hamba Allah yang mendapat harta dan ilmu,
lalu ia bertakwa kepada Allah dalam mengelola hartanya tersebut, dan menyambung
silaturahim, dan ia sadar bahwa hartanya itu adalah hak Allah. Itulah kedudukan yang paling
baik (bagi seorang hamba Allah).''
Islam mengajarkan bahwa harta dan kekayaan mengandung fungsi sosial dan merupakan
sumber kehidupan bagi anggota masyarakat lainnya. Dalam rangka menegakkan dasar-dasar
kehidupan bersama serta mewujudkan tatanan sosial dan ekonomi berkeadilan, maka sangat
diperlukan semangat tolong-menolong di antara seluruh lapisan masyarakat. Pujangga Islam
A Hamid Al Chatib berkata, ''Persaudaraan dalam Islam takkan berdiri kecuali dengan jalan
tolong-menolong.''
Tolong-menolong yang dimaksud di sini tiada lain dalam konteks kebaikan dan ketakwaan
kepada Tuhan. Sebaliknya, Islam melarang tolong-menolong yang menjurus kepada dosa dan
permusuhan. Guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Sayid Sabiq, ketika menjelaskan
makna ayat Alquran surat Al-Hujurat ayat 10 'Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
bersaudara', antara lain menulis, ''Arti persaudaraan di sini, yang kuat melindungi yang
lemah, yang kaya bersedia membantu yang miskin. Tidak ada arti lain bagi persaudaraan
yang dimaksudkan oleh Islam kecuali dengan kriteria di atas.'' (Anashirul Quwwah Fil
Islam).
Dalam kaitan ini Islam menekankan pentingnya perbuatan kedermawanan atau filantropi,
yaitu kewajiban menunaikan zakat, sedekah sunah, infak, wakaf, hibah, hadiah, serta wasiat.

Infak, sedekah, dan zakat saling terkait satu sama lain. Infak secara umum artinya
pengeluaran. Ini adalah konsep besarnya. Infak terbagi dua, yaitu infak wajib, terdiri atas
nafkah keluarga dan zakat, dan infak sunat, yaitu sedekah.
Dalam surat Al-Baqarah, kewajiban menafkahkan harta di jalan kebajikan dinyatakan setelah
penegasan kebenaran Alquran, keimanan kepada Allah dalam kegaiban, kewajiban
menegakkan shalat, dan diteruskan, ''wa mimma razaqnaahum yun fiquun (dan menafkahkan
sebagian rezeki yang Kami karuniakan).'' (Al-Baqarah: 3).
Allah SWT berfirman, ''Dan barang siapa terpelihara dari kekikiran dirinya, maka merekalah
orang-orang yang beruntung.'' (Al-Hasyar: 9). Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah
SAW mengenai sedekah yang paling utama, Rasulullah menjawab, ''Sedekah yang paling
utama ialah sedekah yang engkau berikan dalam keadaan sehat dan memerlukan harta, dan
ketika engkau khawatir jatuh miskin dan bercita-cita menjadi kaya.'' Wallahu a'lam bis
shawab. (M Fuad Nasar)

3) Musyawarah adalah salah satu cara yang sangat dianjurkan oleh agama Islam
dalam memecahkan masalah yang timbul dalam masyarakat. Bagaimana pandangan
Islam tentang musyawarah dan apa kaitannya dengan usaha mewujudkan persatuan
dan kesatuan bangsa?
Jawab:
Pentingnya masalah musyawarah dalam pandangan Islam sehingga satu di antara 114 surat
dalam AlQuran bernama Assyura artinya musyawarah. Surat Assyura bersifat Makkiyah
artinya Surat ini diturunkan di Mekkah ketika kaum muslimin masih merupakan kelompok
minoritas di tengah-tengah kesombongan kaum musyrikin Quraisy yang mayoritas.
Ketika menghadapi perang Badar, Rasul bermusyawarah dengan kaum Muhajirin dan Anshar,
setelah sepakat barulah Beliau dan pengikutnya menuju ke medan perang. Setelah tiba di
medan perang timbul musyawarah kedua. Para sahabat semua tahu bahwa hal-hal yang
berhubungan dengan ibadah murni mereka akan taat dan patuh kepada perintah Rasullullah,
namun sebaliknya terhadap perintah yang bukan bersifat ibadah murni seperti siasat perang
misalnya mereka akan balik bertanya kepada Rasul. Demikian yang dilakukan oleh Al
Habbab Bin Al Munzir, ketika Rasullullah memerintahkan berhenti para pasukan pada tempat
yang jauh dari sumber air. Lalu Habbab bertanya kepada Rasul: Apakah perintah berhenti di
tempat ini datang dari Allah SWT yang tidak mungkin kami bantah atau perintah ini hanyalah
pendapat pribadi dalam rangka berperang dan siasat. Rasul menjawab: ini semata-mata
pendapat pribadi. Habbab berkata lagi: Kalau begitu ya Rasullullah tempat ini tidak pantas
sebagai tempat berhenti pasukan, lebih baik kita berhenti yang dekat dengan sumber air
sebelum diduduki musuh. Rasul menjawab, pendapat Habbab sangat tepat, lalu Rasul
memerintahkan seluruh pasukan untu berpindah ke tempat yang ditunjuk Habbab al Munzir.
Setelah perang Badar usai dan mendapat kemenangan yang mampu menawan pasukan musuh
sebanyak 70 orang, Rasul bermusyawarah dengan para sahabat tentang perlakuan terhadap
para tawanan dengan pilihan; dibebaskan semuanya, dibunuh semuanya atau diberikan
kebebasan untuk menebus diri mereka. Tegasnya seluruh perintah yang bukan wahyu dan
yang menyangkut kepentingan orang banyak Rasul berpesan: Antum `alamu bi umuri
dunyakum (Kamu lebih mengetahui tentang urusan dunia kamu).

Pelaksanan hasil musyawarah pula dalam Alquran Allah berfirman: Dan bermusyawarahlah
kamu dengan mereka dalam urusan itu, maka apabila telah bulat hatimu, maka bertaqwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal. Dengan
perkataan lain bahwa apabila keputusan hasil musyawarah telah disepakati maka dengan
ketetapan hati keputusan itu harus dilaksanakan dengan menyerahkan diri kepada Allah.
Ironinya dalam kehidupan kita meski keputusan telah diambil dengan kesepakatan bersama,
namun tak jarang hasilnya tidak berani dijalankan. Hal ini persis seperti musyawarah tikus
untuk mengetahui kedatangan kucing-musyawarah itu digelar dengan satu kata putus yaitu
dengan cara mengikat lonceng di leher kucing. Namun ketika hasil musyawarah ini hendak
dijalankan tidak seekor pun para tikus yang bersedia mengikat lonceng di leher sang
kucing---tentunya sebuah keputusan yang sia-sia.
Untuk mempertegas ayat di atas, kita ikuti musyawarah Rasullullah dalam menghadapi
perang Uhud. Rasul bermusyawarah dengan segenap pasukan muslim untuk menetapkan
apakah musuh dihadapi dalam kota atau diluar kota. Rasul pribadi dan sebagian para sahabat
berpendapat sebaiknya musuh dihadapi di dalam kota. Sebaliknya sebagian yang lain dan
kebanyakan suara dari kalangan para pemuda berpendapat supaya musuh dihadapi di luar
kota, pendapat ini didukung oleh massa terbanyak. Akhirnya Rasul memutuskan untuk
melawan musuh di luar kota. Sesudah Rasul memakai pakaian perang para pemuda yang
membuat usul untuk menghadapi musuh di luar kota mencabut usulnya dan mendukung
pendapat Rasul yaitu berperang di dalam kota dengan mempergunakan segala sumber daya
yang ada, fasilitas kota yang istilah sekarang sering disebut dengan istilah perang semesta.
Hal itu ditolak Rasul dengan mengatakan: Tidak layak bagi seorang Nabi apabila telah
memakai pakaian perang lalu menanggalkannya kembali sebelum Allah memberi putusan
antara diri dan musuhnya. Perhatikanlah apa yang saya perintahkan kepadamu dan turutilah
dia dan kemenangan pasti berpihak kepadamu selama kamu tetap sabar
Semua kita wajib melaksanakan semua ketetapan yang telah diputuskan apa pun risikonya.
Intinya adalah syura telah menjadi dasar utama dalam pemerintahan sebuah negara, inilah
dasar politik pemerintahan dan masyarakat dalam perang dan damai. Dalam Surat Asyura
ayat 38 Allah berfirman: Dan orang-orang yang memperkenankan perintah Tuhan mereka
dan mendirikan shalat dan segala urusan mereka dan bermusyawarahlah diantara mereka dan
mereka menginfaqkan apa yang telah kami berikan.
Ayat ini memberi gambaran bahwa musyawarah pasti timbul dengan adanya jamaah. Setiap
muslim wajib menjunjung tinggi panggilan Tuhannya lalu mengerjakan shalat bersama-sama.
Mengerjakan shalat berjamaah harus selalu diawali dengan musyawarah, terutama dalam
menetapkan imam yang memimpin shalat berjamaah, dan dengan sabar para jamaah mau
menginfaqkan hartanya untuk kemashlahatan.
Waktu di Mekkah kaum Muslim merupakan kelompok kecil, maka timbullah musyawarah
dalam skala kecil, dan setelah di Madinah, umat Islam telah berubah menjadi kelompok
besar, maka timbullah musyawarah dalam skala besar, masyarakat yang masih terbatas dalam
kota Madinah musyawarah dilaksanakan dalam Masjid Rasul. Rasul menganjurkan untuk
terus bermusyawarah-sampai kepada masyarakat paling kecil sekalipun seperti sekelompok
orang melakukan perjalanan untuk mengangkat seorang amir atau ketua rombongan dengan
musyawarah. Demikian pula dengan Khalifah setelah Rasullullah mengangkat amir atau wali
di wilayah Islam dengan kewajiban antara lain menghidupkan kembali sistem aturan
musyawarah ini.

Pertumbuhan dan perkembangan musyawarah Islam hampir sama dengan pertumbuhan


demokrasi di kota-kota Yunani kuno di mana pemungutan suara dilakukan secara langsung
kemudian demokrasi itupun berkembang sesuai zaman dan tempat, ruang dan waktu. Yang
sangat penting perlu diketahui bahwa Rasul tidak meninggalkan wasiat yang rinci tentang
sistem dan cara menyusun serta melaksanakan demokrasi itu. Padahal dengan ilham Allah
Rasul telah mengetahui sepeninggal beliau Islam akan berkembang ke segenap penjuru dunia.
Allah dan Rasulnya tidak mengikat kita dengan salah satu sistem demokrasi yang ada--karena
sistem ini akan berkembang dan terus berubah. Sebagai bahan perbandingan, bahwa
Rasullullah SAW dalam bermusyawarah telah memakai Menteri utama yaitu Abubakar dan
Umar Bin Ibn Khattab dan Menteri utama tingkat dua yaitu usman Ibn Affan dan Ali Bin Abi
Thalib--kemudian ada Menteri berenam: Saad bin Abi Waqqas, Abu Ubaidah, Zubair bin
Awwan, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman Bin Auf dan Said bin Al-ash.
Dengan demikian, karena Islam tidak mengikat dengan salah satu sistem demokrasi maka
masing-masing masyarakat Muslim bebas memilih sistem apa yang paling sesuai dengan
masyarakatnya.
Hal itu adalah musyawarah yang dibuat oleh manusia, untuk bermusyawarah dalam system
pemerintahannya dengan dirinya sendiri, sedangkan musyawarah dalam Islam adalah tukar
pendapat antara orang-orang yang mempunyai pemikiran yang cerdas dari ahlul halli wal
aqdi, untuk sampai pada keputusan terbaik dalam menerapkan hukum Allah atas
manusia.Oleh karena itu masyarakat dalam Islam sangat mulia, karena ia adalah perintah
Allah, tidak boleh bagi penguasa menghapusnya untuk memaksakan kekuasaannya pada
manusia:
Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. ((QS. Ali Imran: 156)
Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka;
((QS. Asssyuura: 38)
sedangkan dalam Negara yang menggunakan undang-undang buatan manusia, seorang
penguasa boleh membekukan konstitusi, dan memberlakukan hukum darurat dengan alasan
keamanan, disinilah terjadi sikap otoriter dan kezaliman.
Oleh karena musyawarah dalam Islam bersumber dari Tuhan, maka pemimpin muslim yang
bertakwa tidak akan merasa gusar jika mendengar kritikan dari rakyat yang mana saja, ia
akan menerimanya dengan lapang dada dan menjawabnya dengan kebesarah jiwa,
sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khattab kepada seorang wanita yang
membantahnya dalam masalah pembatasan Mahar: "Umar salah dan wanita ini benar"