Anda di halaman 1dari 3

STOP KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN ..!!!

Oleh. Libby SinlaEloE


Koord. Rumah Perempuan Kupang
Setiap tanggal 25 November, dunia memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap
Perempuan (HAKTP). Tanggal ini dipilih sebagai bentuk peringatan atas meninggalnya
Mirabal bersaudara (Patria, Minerva, dan Maria Teresa) yang dibunuh secara kejam
pada 55 tahun yang lalu oleh Rezim diktator Dominika, Trujilio.
Kekerasan terhadap perempuan merupakan setiap tindakan yang berakibat
kesengsaraan atau penderitaan pada perempuan, baik itu secara fisik, non fisik, verbal,
seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau
perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum
atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.
Pengalaman Rumah Perempuan, selama 15 tahun melakukan advokasi kasus kekerasan
terhadap perempuan, menemukan bahwa perempuan korban akibat kekerasan selalu
mengalami: Pertama, Dampak Fisik: Lebam, lecet, patah tulang, kepala bocor,
pusing dan ada pula korban yang mengalami cacat permanen. Kedua, Dampak
Psikis: Korban takut berhubungan seks, hilangnya keinginan untuk berhubungan seks,
trauma, gangguan kejiwaan. Semua korban juga mengalami gangguan psikis seperti
cemas, gelisah, malu, rendah diri, keinginan untuk bercerai, gangguan ingatan.
Ketiga, Dampak Terhadap Kesehatan Korban: Terganggunya organ reproduksi,
korban mengalami perdarahan, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (NB: Khususnya
Kasus Incest).Keempat, Dampak Ekonomi: Korban dililit utang, karena harus
meminjam uang ke orang lain untuk membiayai hidup. Kelima, Dampak Sosial:
Korban akan menarik diri dari pergaulan dan keluarga, tetangga, bahkan untuk
sementara waktu ada juga korban yang berhenti melakukan akstivitas sosial maupun
ritual keagamaan.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), kasus kekerasan terhadap perempuaan meningkat dari
tahun ke tahun. Data pendampingan kasus dari Rumah Perempuan Kupang pada 3
(tiga) tahun terakhir menunjukan bahwa pada tahun 2013 Rumah Perempuan Kupang
menangani 250 kasus kekerasan terhadap perempuan dan pada tahun 2014 sejumlah
457 kasus. Di tahun 2015, Rumah Perempuan Kupang melakukan advokasi terhadap
501 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan perincian sebagai berikut: KDRT
sebanyak 102 Kasus, Ingkar Janji Menikah 54 Kasus, Kekerasan dalam Pacaran 16
kasus, Kekerasan Seksual 147 Kasus, Trafficking 182 kasus. Jika dilihat dari usia
perempuan korban kekerasan, maka dari 501 kasus yang ditangani oleh Rumah
Perempuan Kupang ini, terdapat 289 korban yang berusia anak (usia 18 tahun
Kebawah) dan yang dewasa sebanyak 212 korban.

Pada konteks hukum pidana, kekerasan terhadap perempuan dikategorikan sebagai


misdrijven atau yang dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai kejahatan. Mengingat
bahwa Kekerasan terhadap perempuan sudah semakin marak, maka pemberantasannya
(Penindakan dan Pencegahan) adalah sesuatu yang urgent untuk dilakukan. usahausaha rasional untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kejahatan tidak
hanya cukup dengan menggunakan sarana hukum pidana (Penal), tetapi dapat juga
mempergunakan sarana-sarana non penal (sarana diluar hukum pidana). Penggunaan
sarana hukum pidana (penal) hanya sebagai Ultimum Remidium, yakni sanksi pidana
dipergunakan manakala sanksi-sanksi yang lain sudah tidak berdaya (Paul SinlaEloE,
2013).
Menurut, Barda Nawawi Arief (2010:77), Kebijakan kriminal merupakan bagian integral
dari upaya perlindungan masyarakat (social defence) dan upaya untuk mencapai
kesejahteraan masyarakat (social welfare). Oleh karenannya, tujuan akhir atau tujuan
utama dari politik kriminal adalah perlindungan masyarakat untuk mencapai
kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan sosial sebagai kebijakan umum terdiri dari kebijakan dalam rangka
mensejahterakan masyarakat (Social Welfare Policy) dan kebijakan perlindungan
masyarakat (Social Defense Policy). Kebijakan perlindungan masyarakat dituangkan
dalam kebijakan kriminal yang dalam upayanya untuk mencapai tujuan menggunakan
sarana penal dan non penal, sehingga kebijakan penal dan non penal merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari upaya perlindungan masyarakat dan upaya untuk
mencapai kesejahteraan masyarakat atau dengan kata lain merupakan kebijakan
integral.
Upaya pencegahan dan penanggulangan kejahatan menurut Paul SinlaEloE (2013),
harus dilaksanakan secara sistematis dan integral dengan mengutamakan
keseimbangan antara upaya perlindungan masyarakat (Social Defence) serta upaya
kesejahteraan masyarakat (Social Welfare). Penegasan tentang perlunya pendekatan
integral penanggulangan kejahatan yang diintergrasikan dengan keseluruhan kebijakan
sosial dan perencanaan pembangunan, juga disampaiakn oleh Sudarto (1977:96)
bahwa apabila hukum pidana hendak digunakan sebagai sarana untuk menanggulangi
kejahatan, maka penggunannya tidak terlepas dalam hubungan keseluruhan politik
kriminal atau "planning for social defence". Social Defence Planning ini pun harus
merupakan bagian yang integral dari rencana pembangunan nasional. Ini berarti, politik
kriminal pada hakekatnya juga merupakan bagian intergral dari politik sosial, yaitu
kebijakan atau upaya untuk mencapai kesejahteraan sosial.
Bertolak dari konsep pemberantasan kekerasan terhadap perempuan diatas, maka pada
moment kampanye HAKTP tahun 2015, Panitia Bersama HAKTP di NTT melakukan
berbagai kegiatan yang dimulai sejak tanggal 25 Nopember 2015 sampai dengan 10
Desember 2015, dalam rentang waktu tersebut ada berbagai hari besar yang di

peringati yakni dimulai tanggal 25 Nopember yang diperingati sebagai hari anti
kekerasan terhadap perempuan sedunia, dialnjutkan dengan tanggal 1 Desember yang
diperingati sebagai hari HIV/AIDS, tanggal 9 Desember diperingati sebagai hati Anti
Korupsi dan diakhiri pada tanggal 10 Desember untuk memperingati Hari Hak Asasi
Manusia.
Dalam memperingati kampanye 16 HAKTP, Rumah Perempuan bersama 12 lembaga
lainnya melakukan berbagai aktivitas, diantaranya: Akhirnya Kami dari panitia Bersama
HAKTP 2015 yang terdiri dari PIAR NTT, Perkumpulan Tafena Tabua, ANBTI, Harian
Umum Victory News, Bagian Pemberdayaan Perempuan Kota Kupang, GMKI Cabang
Kupang, Aliansi Jusnalis Independen, IRGSC, JPIT dan Yayasan Alfa Omega (YAO),
Lopo Cerdas Nasdem dan Yayasan Tanpa Batas (YTB) mengucapkan selamat
merayakan HAKTP yang ke 34. LAWAN KEKERASAN SEKSUAL. STOP KEKERASAN
TERHADAP PEREMPUAN..!!! (Tulisan ini pernah dipublikasikan dalam Harian
Umum Victory News, tanggal 25 November 2015).