Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM

PEMBUATAN PREPARAT APUS SEL DARAH

Oleh :
LELI EFFENDI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Histologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jaringan tubuh dan cara

jaringan ini menyusun organ-organ. Jaringan kebanyakan merupakan jaringan


filamen dan serat yang saling terjalin, baik selular maupun non selular dengan
lapisan membranosa. Histologi mencakup semua aspek biologi jaringan, yang
berfokus pada mekanisme susunan dan struktur sel dalam mengoptimalkan fungsi
yang spesifik untuk setiap organ (Anthony L, 2012).
Jaringan dibentuk oleh dua komponen yang saling berinteraksi yaitu, sel
dan matriks ekstrasel. Matriks ekstrasel terdiri atas banyak jenis molekul, dan
kebanyakan diantaranya sangat rumit dan membentuk struktur kompleks seperti
serabut kolagen dan membran basal. Fungsi utama yang dulu dikatakan sebagai
fungsi matriks ekstrasel adalah sebagai penunjang mekanis bagi sel-sel,
mengangkut nutrien ke sel-sel, dan membawa katabolit dan produk sekresi. Kita
kini mengetahiu bahwa, meskipun menghasilkan matriks ekstrasel, sel tersebut
dipengaruhi dan terkadang diatur oleh molekul-molekul matriks. Jadi, terdapat
semacam interaksi intensif antara sel-sel dan matriks, dengan sejumlah komponen
matriks yang dikenali dan tertambat pada reseptor-reseptor di permukaan
sel (Victor p, 2003).
Setiap jaringan fundamental dibentuk oleh beberapa jenis sel dan secara
khas dibentuk oleh asosiasi sel dan matriks ekstrasel yang spesifik. Asosiasi yang
khas ini mempermudah pengenalan sejumlah besar subtipe jaringan oleh
mahasiswa. Kebanyakan organ dibentuk oleh kombinasi. Kombinasi yang tepat
dari jaringan-jaringan tersebut memungkinkan berfungsinya setiap organ dan
organisme secara keseluruhan. Ukuran sel dan matriksnya yang kecil
menyebabkan histologi bergantung pada penggunaan mikroskop, sehingga kita
bisa membuat sendiri preparat jaringan tentang apus sel darah manusia (Anthony
L, 2012).
1.2

Tujuan

Tujuan diadakannya praktikum pembuatan preparat apus sel darah adalah :


1.

Mampu membuat preparat apus darah dengan metode apus dan pewarnaan

2.

metode Romanowski.
Mampu menganalisis hasil pembuatan preparat apus darah dengan metode
apus dan pewarnaan metode Romanowski.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Darah adalah suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma yang dapat
dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya darah
terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma.
Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel
diseluruh tubuh. Darah manusia bisa dijadikan suatu preparat untuk diamati,
prosedur yang paling sering dilakukan dalam pembuatan preparat atau jaringan
sediaan histology atau irisan jaringan yang dapat dipelajari dengan bantuan
mikroskop cahaya. Di bawah mikroskop cahaya, jaringan diamati melalui berkas
cahaya yang menembus jaringan. Karena jaringan dan organ biasanya terlalu tebal
untuk ditembus cahaya, jaringan tersebut harus diiris menjadi lembaran-lembaran
tipis yang translusendan kemudian diletakkan diatas kaca objek sebelum jaringan
tersebut diperiksa (Anthony L, 2012).
Sediaan jaringan mikroskop yang ideal harus dibuat sedemikian rupa
sehingga jaringan pada sediaan tersebut tetap memiliki struktur dan komposisi
molekul yang sama seperti di tubuh. Namun pada prakteknya hal ini jarang dapat
dilakukan dan hampir selalu terdapat artefak, distorsi, dan hilangnya komponenkomponen akibat proses persiapannya. Prosedur atau tahapan-tahapan yang
dilakukan dalam pembuatan sediaan atau preparat jaringan, yaitu :
1.

Fiksasi
Jika sediaan yang permanen dikehendaki, jaringan harus difiksasi. Untuk

menghindari penceraan jaringan oleh enzim di dalam sel (autolisis) atau oleh
bakteri dan untuk mempertahankan struktur dan komponen molekul, potongan
organ harus segera diolah dengan tepat, sebelum atau secepat mungkin setelah
organ atau darah yang di ambil dari manusia dan hewan. Pengolahan fiksasi ini
dapat dilakukan secara kimiawi. Pada fiksasi kimiawi, jaringan biasanya direndam
dalam larutan yang menstabilkan atau dalam bahan pengikat yang disebut bahan
fiksasi. Karena bahan fiksasi memerlukan waktu untuk meresap menjadi fragmen
kecil sebelum difiksasi untuk mempermudah penetrasi bahan fiksasi dan untuk

menjamin pengawetan jaringan. Penyuntikan intravaskular bahan fiksasi dapat


dilakukan. Dalam hal ini, bahan fiksasi sampai dijaringan secara cepat melali
pembuluh darah sehingga fiksasi semakin baik (Anthony L, 2012).
Salah satu bahan fiksasi terbaik untuk pemeriksaan mikroskop cahaya
rutin adalah larutan dapar isotonik dari formaldehid 37%. Proses kimiawi yang
terlibat dalam fiksasi tersebut sangat rumit dan tidak selalu dimengerti dengan
baik. Formaldehida dan glutaraldehida, yaitu bahan fiksasi lain yang banyak
dipakai, diketahui bereaksi dengan gugus amina (NH2) protein jaringan. Pada
glutaraldehida, kerja fiksasinya diperkuat karena zat ini merupakan dialdehida
yang dapat membentuk ikatan silang antar protein (Anthony L, 2012).
Mengingat tingginya resolusi yang dihasilkan oleh mikroskop elektron
diperlukan lebih banyak perhatian dalam proses fiksasi untuk mempertahankan
rincian struktur ultranya. Untuk itu, prosedur fiksasi ganda dengan menggunakan
larutan dapar glutaraldehid, yang diikuti fiksasi kedua dengan dapar osmium
tetroksida, menjadi prosedur baku persiapan pengkajian struktur yang halus, efek
osmium tetroksida adalah mempertahankan dan memulas lipid dan protein
(Wildan, 1996).
2.

Pemendaman dan Pemotongan


Jaringan umum nya dipendam dalam medium padat untuk memudahkan

pemotongan. Untuk memperoleh sediaan yang tipis dengan mikrotom, jaringan


harus diinfiltrasi sesudah fiksasi dengan substansi pemendaman yang memberi
sifat padat pada jaringan. Bahan pemendaman meliputi parafin, dan damar plastik.
Parafin digunakan secara rutin untuk mikroskop cahaya, damar digunakan baik
untuk mikroskop cahaya maupun elektron. Proses pemendaman parafin, atau
impregnasi jaringan, biasanya didahului oleh dua tahap utama yaitu, pengeringan
dan penjernihan. Air mula-mula dihilangkan dari potongan jaringan yang ingin
dipendam dengan cara merendamnya berturut-turut secara bertahap dalam larutan
etanol dan air, biasanya dari etanol 70% sampai 100% (pengeringan). Etanol
kemudian digantikan dengan larutan yang dapat bercampur dengan alkohol dan
media pemendaman. Sewaktu jaringan diinfiltrasi oleh pelarut, jaringan biasanya
menjadi jernih (transparan). Setelah jaringan tersebut dipenuhi (terimpregnasi)

dengan larutan, jaringan dimasukkan dalam parapin cair di dalam oven, pada suhu
52-60 . Panas akan menguapkan pelarut dalam jaringan dan celah jaringan yang
ditinggalkan akan diisi dengan parafin. Setelah dikeluarkan dari oven, potongan
jaringan dengan parafin didalamnya akan menjadi keras. Jaringan yang akan
dipendam dalam damar plastik juga menjadi kering dalam etanol dan bergantung
pada jenis damar yang dipakai dan kemudian diinfiltrasi dengan larutan plastik
(Anthony L, 2012).
Cara lain untuk menyediakan sediaan jaringan adalah pemaparan jaringan
dengan pembekuan cepat. Pada proses ini, jaringan difiksasi melalui pembekuan
dan sekaligus menjadi keras dan siap untuk dipotong. Pembekuan jaringan juga
efektif untuk studi histokimiawi enzim yang sangat sensitif atau molekul kecil,
karena pembekuan tidak seperti fiksasi dan tidak menginaktifkan sebagian besar
enzim (Victor p, 2003).
3.

Pemulasan
Agar dapat di lihat dibawah mikroskop, sediaan harus di pulas atau

diwarnai karena kebanyakan jaringan tidak berwarna. Oleh sebab itu sejumlah
metode pemulasan jaringan telah dirancang agar berbagai unsur jaringan jelas
terlihat dan dapat dibedakan satu dengan yang lain. Pewarna memulas berbagai
unsur jaringan kurang lebih secara selektif. Kebanyakan pewarna ini bersifat
sebagai senyawa asam atau basa dan cenderung membantuk ikatan elektrostatik
(garam) dengan radikal yang dapat terionisasi di jaringan. Komponen jaringan
dengan muatan negatif (anionik) lebih mudah dipulas dengan pewarna basa dan
disebut basofilik, komponen kationik, seperti protein dengan banyak gugus amino
yang terionisasi, memiliki afinitas untuk pewarna asam dan disebut asidofilik
(Victor p, 2003).
Dari semua pewarna, kombinasi hematoksilin dan eosin (H & E) paling
banyak dipakai. Hematoksilin memulas DNA inti sel dan struktur asam lainnya di
sel menjadi biru. Sebaliknya, eosin memulas sitoplasma dan kolagen menjadi
merah muda. Banyak pewarna lain, seperti trikrom, dipakai pada prosedur
histology lainnya (Anthony L, 2012).

Pada banyak prosedur, struktur tertentu seperti inti sel menjadi terlabel,
tetapi bagian sel lain sering tidak nampak. Dalam hal ini pulasan balik digunakan
untuk memberikan informasi tambahan, pemulasan balik biasanya adalah pewarna
tunggal yang diberikan pada suatu sediaan dengan metode lain untuk
mempermudah pengenalan inti atau struktur lain (Victor p, 2003).
Lama keseluruhan prosedur mulai dari saat fiksasi sampai pengamatan
jaringan dibawah mikroskop cahaya dapat memerlukan waktu yang cukup lama
bergantung pada pembuatan jaringan tersebut. Kemudian sediaan yang telah
dibuat diletakkan pada kaca objek dengan media prekat (Anthony L, 2012).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1

Waktu dan Tempat


Waktu pelaksanaan praktikum dilaksanakan pada hari ........................

Tempat

pelaksanaan

praktikum

di

laboratorium

biologi

Universitas

Muhammadiyah Sukabumi
3.2

Alat dan bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatan preparat apus

sel darah, yaitu :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

3.3

Mikroskop
Obyek glass
Cover glass
Blood lancet
Giemsa fluka
Etanol
Methanol
Darah (manusia atau mencit)
Cara kerja
Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum pembuatan preparat

apus sel darah adalah :


1.

Ambil setetes darah (manusia, katak, mencit) dan diteteskan pada obyek

2.

glass.
Ditipiskan darah dengan menggunakan tepi obyek glass dan ditunggu sampai

kering.
3. Hapusan yang sudah kering ditetesi dengan methanol (obyek glass
4.

dimiringkan) hingga merata dan ditunggu hingga kering 1 jam.


Pembuatan pewarna sel dengan cara mencampurkan giemsa fluka dan buffer

5.

giemsa / etanol (1:9).


Diteteskan pewarna giemsa pada apusan dan ditunggu selama 15-30 menit
(hingga warna berubah menjadi ungu).

6.

Kemudian dibilas dengan air mengalir hingga tidak ada pewarna giemsa yang

7.

tersisa dan dikeringkan.


Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran lemah kemudian dengan
perbesaran kuat.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil
Hasil yang diperoleh dalam melakukan praktikum pembuatan preparat

apus sel darah manusia adalah :

4.2

Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan, tentang pembuatan preparat

apus sel darah, bahwa darah adalah suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma
yang dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada

dasarnya darah terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang
berbentuk plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang
diperlukan oleh sel-sel diseluruh tubuh. Didalam darah terdapat eritrosit dan
leukosit.
Dalam pembuatan preparat ini, pengambilan darah harus diperhatikan
dengan hati-hati agar pada saat pembuatan dapat mudah dilakukan, dan juga agar
dapat membuat dengan hasil yang bagus saat dilihat dengan mikroskop. Preparat
yang dihasilkan tidak begitu sama dengan hasil aslinya karena dalam pembuatan
mungkin terdapat kesalahan seperti preparatnya masih basa atau belum kering.
Tetapi setelah dilihat dengan mikroskop dengan perbesaran yang sesuai, preparat
terlihat jelas dan bagus, dan terlihat bagian-bagian darahnya seperti yang terlihat
adanya eritrosit dan leukosit didalam preparat yang telah kami buat.

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Darah adalah suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma yang dapat

dianggap sebagai jaringan pengikat. Pembuatan preparat apus sel darah dengan
suatu metode yang disebut metode oles (metode smear) yang merupakan suatu
sediaan dengan jalan mengoles atau membuat selaput (film) dan substansi yang
berupa cairan atau bukan cairan diatas gelas benda yang bersih dan bebas lemak
untuk kemudian difiksasi, diwarnai dan ditutup dengan gelas penutup dan
diwarnai dengan HE (hemotoksin dan eosin) dan juga digunakan methanol dan
pewarna giemsa fluka dan buffer giemsa / etanol. Hasil yang telah jadi di lihat
dengan menggunakan miksroskop dengan perbesaran yang sesuai, dan hasilnya
pun berhasil bahkan hampir sama dengan preparat yang aslinya.
5.2

Saran
Sebaiknya dalam praktikum, praktikan harus lebih berhati-hati agar tidak

terjadi kesalahan dalam praktikum pembuatan preparat apus sel darah, dan juga
harus berhati-hati dalam menggunakan alat dan bahannya agar hasil yang didapat
bagus dan memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Eroschenko, Victor P, 2003. Atlas Histologi. Edisi 9. Jakarta. Buku Kedokteran


EGC
Mescher, Anthony L, 2012. Histologi Dasar JUNQUIERA. Jakarta. Buku
Kedokteran EGC
Yatim, Wildan, 1996. HISTOLOGI DASAR. Bandung. Pustaka Setia