Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pada tahun 1861, dokter asal Prancis bernama Prosper Meniere

menggambarkan sebuah kondisi yang sekarang kondisi tersebut diabadikan


dengan menggunakan namanya. Penyakit Meniere adalah kelainan telinga bagian
dalam yang menyebabkan timbulnya episode vertigo (pusing berputar), tinnitus
(telinga berdenging), perasaan penuh dalam telinga, dan gangguan pendengaran
yang bersifat fluktuatif. Adapun struktur anatomi telinga yang terkena dampaknya
adalah seluruh labirin yang meliputi kanalis semisirkularis dan kokhlea. Temuan
yang khas adalah hidrops endolimfe idiopatik. Saccule adalah organ kedua yang
paling sering ditemukannya hidrops endolimfa.

Pendapat ini kemudian

dibuktikan oleh Hallpike dan Cairn tahun 1938, dengan ditemukannya hidrops
endolimfa setelah memeriksa tulang temporal pasien dengan dugaan penyakit
Meniere (Hain & Yacovino, 2003).
Penyakit Meniere adalah salah satu penyebab tersering vertigo pada
telinga dalam. Sebagian besar kasus bersifat unilateral dan sekitar 10-20% kasus
bersifat bilateral. Insiden penyakit ini mencapai 0,5-7,5 : 1000 di Inggris dan
Swedia, Serangan khas dari Meniere didahului oleh perasaan penuh pada satu
telinga. Gangguan pendengaran yang bersifat fluktuatif dan dapat disertai dengan
tinnitus. Sebuah episode penyakit Meniere umumnya melibatkan vertigo, ketidak

seimbangan, mual, dan muntah. Serangan rata-rata berlangsung selama dua


sampai empat jam. Setelah serangan yang parah, kebanyakan pasien mengeluhkan
kelelahan dan harus tidur selama beberapa jam. Ada beberapa variabilitas dalam
durasi gejala. Beberapa pasien mengalami serangan singkat sedangkan penderita
lainnya dapat mengalami ketidakseimbangan konstan. Beberapa penyakit
memiliki gejala yang mirip dengan penyakit Meniere. Dokter biasanya
menegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik telinga.
Beberapa pemeriksaan dilakukan seperti pemeriksaan audiometri, CT scan kepala
atau MRI dilakukan untuk menyingkirkan suatu tumor saraf kranial ke delapan
(nervus vestibulokokhlearis) serta penyakit lain dengan gejala serupa. Karena
tidak adanya uji yang defintif untuk penyakit Meniere, maka biasanya penderita
tersebut biasanya didiagnosis ketika semua penyebab lain disingkirkan (Hain &
Yacovino, 2003).
Pada Penyakit Meniere terdapat keluhan berupa vertigo berulang. Vertigo
adalah sensasi abnormal berupa gerakan berputar. Vertigo terbagi secara umum
berdasarkan keterlibatan vestibulum yaitu vertigo vestibuler (disertai gejala
otonom, seperti mual, muntah, nistagmus) dan non-vestibuler (tidak ditemukan
gejala otonom, tetapi terdapat kesalahan proses informasi pada sistem syaraf
pusat). Vertigo diklasifikasi menjadi dua tipe yaitu tipe sentral dan perifer. Pada
tipe sentral umumnya adalah gangguan vaskuler (batang otak atau serebellum),
sedangkan pada tipe perifer umumnya idiopatik atau sesuai dengan manifestasi
patologis di telinga (seperti gangguan di saluran kanalis semisirkularis, yaitu di
telinga bagian tengah yang bertugas mengkontrol keseimbangan dan juga dapat

disebabkan oleh gangguan fungsi pendengaran). Vertigo pada Penyakit Meniere


termasuk pada jenis vertigo vestibuler dan tipe perifer (Adams G, Boies,1997).
Penggunaan vestibular evoked myogenic potentials (VEMP) adalah untuk
menentukan apakah saccule salah satu bagian dari otolith dan untuk mengukur
fungsi sensor di bagian terdepan dari telinga bagian dalam di mana sensor tersebut
membantu Anda ketika mendeteksi gerakan. Sensor ini sedikit sensitif terhadap
suara. Ketika sensor bereaksi terhadap suara, otot di leher dan mata akan
mengalami kontraksi. Hal inilah yang digunakan untuk mengukur fungsi dari
telinga bagian dalam Saccule merupakan organ sensorik di telinga bagian dalam
terutama menanggapi seperti orientasi gravitasi, tapi saccule juga agak sensitif
terhadap suara dan ini adalah dasar dari tes vestibular evoked myogenic potentials
(VEMP) (Hain & Yacovino, 2003).
Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan segala kesempurnaan. Baik
kesempurnaan jasmani maupun

rohani yang

perkembangan manusia. Saat terjadinya

sangat berpengaruh pada

proses penciptaan manusia

serta

terbentuknya organ-organ tubuh, hal itu sangat berperan penting di dalam proses
suatu kehidupan. Salah satu organ tubuh yang ada pada hampir setiap manusia
adalah telinga. Telinga berfungsi sebagai alat pendengaran dan alat keseimbangan
dalam tubuh. Walaupun pendengaran dan penglihatan hampir selalu bergandengan
berjalan, Allah SWT menyebutkan kata pendengaran dalam Al-Qur'an selalu
didahulukan daripada penglihatan (Hamzah, 2012). Penyakit Meniere merupakan
suatu penyakit pada telinga bagian dalam yang dapat mempengaruhi pendengaran
dan keseimbangan. Jika telinga mengalami kerusakan, maka fungsi pendengaran

akan terganggu dan keseimbangan dalam tubuh tidak akan berfungsi dengan baik
(Hain & Yacovino, 2003).
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penulis merasa perlu untuk
membahas lebih lanjut mengenai penggunaan vestibular evoked myogenic
potential (VEMP) sebagai pemeriksaan penunjang penyakit meniere ditinjau dari
kedokteran dan Islam.
1.2.

Permasalahan
1. Apakah yang di maksud penyakit meniere?
2. Bagaimana efektifitas vestibular evoked myogenic potential (VEMP)
pada penyakit meniere ?
3. Bagaimana pandangan Islam mengenai penggunaan vestibular evoked
myogenic potential (VEMP) sebagai pemeriksaan penunjang dan fungsi
telinga sebagai indera pendengaran dan keseimbangan pada penyakit

meniere?
1.3.
Tujuan Penulisan
1.3.1. Tujuan Umum
Memberikan informasi mengenai penggunaan vestibular evoked
myogenic potential (VEMP) sebagai pemeriksaan penunjang penyakit
meniere ditinjau dari kedokteran dan islam.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Memberikan informasi penyakit meniere.
2. Memberikan informasi pandangan islam mengenai fungsi telinga
sebagai indera pendengaran dan keseimbangan dalam tubuh.
3. Memberikan informasi pandangan Islam mengenai penggunaan
vestibular evoked myogenic potential (VEMP) sebagai pemeriksaan
1.4.

penunjang pada penyakit Meniere.


Manfaat
1. Bagi Penulis

Dalam pembuatan skripsi ini, untuk mengetahui penggunaan


vestibular evoked myogenic potential (VEMP) sebagai pemeriksaan
penunjang pada penyakit Meniere dan memenuhi salah satu
persyaratan kelulusan sebagai dokter muslim di Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI.
2. Bagi Universitas YARSI
Skripsi ini merupakan bahan masukan bagi civitas akademika
Universitas YARSI dan memperkaya perbendaharaan karya tulis di
Universitas YARSI.
3. Bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Diharapkan skripsi ini dapat memberikan informasi dan menambah
pengetahuan mengenai penggunaan vestibular evoked myogenic

potential (VEMP) sebagai pemeriksaan penunjang pada penyakit


Meniere.
4. Bagi Perkembangan Ilmu Agama
Diharapkan skripsi ini dapat memberikan informasi dan menambah
pengetahuan mengenai penggunaan vestibular evoked myogenic

potential (VEMP) sebagai pemeriksaan penunjang pada penyakit


Meniere ditinjau dari pandangan Islam.
BAB II
PENGGUNAAN VESTIBULAR EVOKED MYOGENIC POTENTIAL
SEBAGAI PEMERIKSAAN PENUNJANG PENYAKIT MENIERE DI
TINJAU DARI KEDOKTERAN

2.1. Anatomi Dan Fisiologi Telinga


2.1.1. Anatomi Telinga

Gambar 1. Anatomi Telinga


Sumber : http://www.vestibular.org

Telinga merupakan organ pendengaran dan juga memainkan peran penting


dalam mempertahankan keseimbangan. Bagian-bagian yang berperan dalam
pendengaran adalah telinga bagian Luar, bagian tengan, bagian dalam, dan
bagian-bagian yang berperan dalam keseimbangan : kanal semisirkular, utrikel,
sakulus.
Struktur telinga terbagai menjadi bagian luar, tengah, dan dalam :
1. Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran
timpani. Daun telinga terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran
timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga

berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar,
sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya
kira-kira 2,5 3 cm (Soepardie EA, Iskandar N, Bashirudin J,2007).
Pada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen
dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh liang telinga.Pada duapertiga
bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen (Soepardie EA, Iskandar
N, Bashirudin J,2007).

2. Telinga Tengah
Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari (Soepardie EA, Iskandar N,
Bashirudin J,2007).

Membran timpani yaitu membran fibrosa tipis yang berwarna kelabu


mutiara. Berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga
dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani dibagi
ats 2 bagian yaitu bagian atas disebut pars flasida (membrane sharpnell)
dimana lapisan luar merupakan lanjutan epitel kulit liang telinga
sedangkan lapisan dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, dan pars tensa

merupakan bagian yang tegang dan memiliki satu lapis lagi ditengah, yaitu

lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin.
Tulang pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes. Tulang

pendengaran ini dalam telinga tengah saling berhubungan.


Tuba eustachius, yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan
nasofaring.

3. Telinga dalam

Gambar 2. Anatomi Telinga Dalam


sumber : http://galileo.phys.virginia.edu/classes/304/pix.htm
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah
lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung
8

atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani


dengan skala vestibule (Virtual Medical Centre,2010).
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan
membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak
skala vestibule sebelah atas, skala timpani sebelah bawah dan skala media (duktus
koklearis) diantaranya. Skala vestibule dan skala timpani berisi perilimfa
sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa
berbeda dengan endolimfa. Dimana cairan perilimfe tinggi akan natrium dan
rendah kalum, sedangkan endolimfe tinggi akan kalium dan rendah natrium. Hal
ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran
vestibuli (Reissners Membrane) sedangkan skala media adalah membran basalis.
Pada membran ini terletak organ corti yang mengandung organel-organel penting
untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ corti terdiri dari satu baris sel
rambut dalam (3000) dan tiga baris sel rambut luar (12000). Sel-sel ini
menggantung lewat lubang-lubang lengan horizontal dari suatu jungkat jangkit
yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf aferen dan eferen menempel
pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia
yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar, bersifat
gelatinosa dan aselular, dikenal sebagai membrane tektoria. Membran tektoria
disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial disebut
sebagai limbus (Adams G & Boies L, 1997).

Gambar 3. Potongan melintang koklea (Virginia merril bloedel)


Sumber : http://depts.washington.edu/hearing/InnerEarHairCellRegeneration.php
Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang diebut
membran tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari
sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis Corti, yang membentuk organ Corti.
2.1.2. Fisiologi Pendengaran
Pendengaran
Sampai tingkat tertentu pinna adalah suatu pengumpul suara, sementara liang
telinga karena bentuk dan dimensinya dapat memperbesar suara dalam rentang 2
sampai 4 kHz; perbesaran pada frekuensi ini adalah sampai 10 hingga 15 Db.
Maka suara dalam rentang frekuensi ini adalah yang paling berbahaya jika ditinjau
dari sudut trauma akustik (Adams G & Boies L, 1997).
Suara bermula dari gelombang tekanan udara, yang akan menggetarkan
gendang telinga. Getaran ini akan disampaikan ke dalam telinga dalam oleh tiga

10

tulang pendengaran, stapes bergerak ke dalam dan keluar dari telinga dalam
seperti piston. Pergerakan pompa ini akan menimbulkan gelombang tekanan di
dalam cairan telinga dalam atau koklea. Pada koklea secara bergantian akan
mengubah gelombang tekanan menjadi aktifitas elektrik di dalam nervus
auditorius yang akan menyampaikan informasi ke otak. Proses transduksi di
dalam koklea membutuhkan fungsi kerjasama dari berbagai jenis tipe sel yang
berada di dalam duktus koklearis. Duktus ini berisi endolimfe, cairan ekstraselular
yang kaya akan potassium dan rendah akan sodium. Ruangan endolimfatik
memiliki potensial elektrik yang besar yaitu 100mV. Komposisi ion dan potensial
elektrik dari ruangan endolimfatik dijaga oleh sekelompok sel yang dikenal
sebagai stria vaskularis (Probes R & Grevers G,2006).
Pada manusia, duktus koklearis berputar sepanjang 35 mm dari dasar
koklea (dekat stapes) hingga ke apeks. Ukuran, massa dan kekakuan dari banyak
elemen selulae, terutama pada organ corti, berubah secara sistematis dari satu
ujung spiral ke ujung yang lain. Keadaan ini menyebabkan pengaturan mekanik
sehingga gelombang tekanan yang diproduksi oleh suara berfrekuensi tinggi
menyebabkan organ tersebut bergetar pada basisnya, sedangkan suara frekuensi
rendah menyebabkan getaran pada ujung puncak (Probes R & Grevers G,2006).
Proses transduksi, dibentuk oleh dua jenis sel sensori pada organ corti,
yaitu sel rambut dalam dan sel rambut luar. Gelombang tekanan yang ditimbulkan
suara pada cairan koklea membengkokkan rambut sensori yang disebut stereosilia,
yang berada di atas sel rambut. Pembengkokan ini akan merenggangkan dan
memendekkan ujung penghubung yang menghubungkann adjasen stereosilia.
11

Ketika ujung penghubung meregang, ini akan menyebabkan terbukanya kanal ion
pada membran stereosilia dan ion K dapat masuk ke dalama sel rambut dari
endolimfe. Masuknya ion K ini menyebabkam perubahan potensial elektrik dari
sel rambut, sehingga menyebabkan pelepasan neurotransmitter dari vesikel sinaps
pada dasar sel rambut. Serabut saraf auditorius, yang kontak dengan sel rambut,
respon terhadap neurotransmitter dengan memproduksi potensial aksi, yang akan
berjalan sepanjang serabut saraf unutk mencapai otak dalam sekian seperdetik.
Pola aktifitas elektrik yang melalui 40.000 serabut saraf auditorius diterjemahkan
oleh otak dan berakhir dengan sensasi yang kita kenal dengan pendengaran
(Probes R & Grevers G,2006).
Sel rambut dalam dan sel rambut luar memerankan peranan dasar yang
berbeda pada fungsi telinga dalam. Sebagian besar serabut saraf auditorius kontak
hanya dengan sel rambut dalam. Sel rambut dalam adalah transduser sederhana,
yang merubah energy mekanik menjadi energi listrik. Sel rambut dalam adalah
penguat kecil yang dapat meningkatkan getaran mekanik dari organ corti.
Kontribusi sel rambut luar ini penting untuk sensitifitas normal dan selektifitas
frekuensi dari telinga dalam (Probes R & Grevers G,2006).

2.2.

Penyakit Meniere

2.2.1.

Definisi Penyakit Meniere


Penyakit Meniere adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo,

tinnitus, berkurangnya pendengaran yang bersifat fluktuatif dan perasaan penuh di


12

telinga. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan manusia
tidak mampu mempertahankan posisi dalam berdiri tegak. Hal ini disebabkan oleh
adanya hidrops (pembengkakan) rongga endolimfa pada kokhlea dan vestibulum.
Penyakit ini ditemukan oleh Meniere pada tahun 1861 dan dia yakin bahwa
penyakit itu berada dalam telinga. Namun para ahli saat itu menduga bahwa
penyakit itu berada dalam otak. Pendapat Meniere kemudian dibuktikan oleh
Hallpike dan Cairn tahun 1938, dengan ditemukannya hidrops endolimfa setelah
memeriksa tulang temporal pasien dengan dugaan menderita penyakit Meniere
(Hain, TC & Yacovino,2003).
Vertigo berasal dari bahasa Yunani yang berarti memutar. Pengertian vertigo
adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitar dapat
disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat
keseimbangan tubuh. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing
saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik
(nistagmus, unstable), gejala otonom seperti pucat, keringat dingin, mual, muntah,
dan pusing (Bashiruddin J & Hadjar E,2007).
Tinnitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu mendengar
bunyi namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Sumber bunyi tersebut berasal
dari tubuh penderita itu sendiri (impuls sendiri). Namun tinnitus hanya merupakan
gejala, bukan penyakit, sehingga harus dicari penyebabnya (Bashiruddin J &
Hadjar E,2007).
Gangguan pendengaran biasanya berfluktuasi dan progresif dengan pendengaran
yang semakin memburuk dalam beberapa hari. Gangguan pendengaran pada
penyakit Meniere yang parah dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran secara
permanen (Hain, TC & Yacovino D,2003).

13

Gambar 4. Labirin pada Penyakit Meniere


Sumber : http://d132a.wordpress.com/2008/12/26/pengobatan-gangguankeseimbangan-vertigo/

2.2.2. Epidemiologi Penyakit Meniere


Penyakit Meniere adalah salah satu penyebab tersering vertigo pada
telinga dalam. Sebagian besar kasus timbul pada laki-laki atau perempuan dewasa.
Paling banyak ditemukan pada usia 20-50 tahun. Kemungkinan ada komponen
genetik yang berperan dalam penyakit Meniere karena ada riwayat keluarga yang
positif sekitar 21% pada pasien dengan penyakit Meniere. Pasien dengan resiko
besar terkena penyakit Meniere adalah orang-orang yang memiliki riwayat alergi,
merokok, stres, kelelahan, alkoholisme, dan pasien yang rutin mengonsumsi
aspirin.

Pada tabel di bawah ini akan menggambarkan tentang insidensi penyakit Meniere
di beberapa negara.
Tabel I. Insiden penyakit Meniere di beberapa negara
Tahun

Negara

1973
1977

Swedia
Jepang
14

Kasus
(per juta penduduk)
114
160

1979
India
200
1985
Italia
85
1990
Amerika Serikat
153
Distribusi pasien dengan penyakit Meniere berdasarkan usia dan jenis
kelamin di Amerika Serikat pada tahun 1990 (Hain, TC &
Yacovino,2003).

2.2.3. Etiologi Penyakit Meniere


Penyebab pasti Meniere belum diketahui. Namun terdapat berbagai teori
termasuk pengaruh neurokimia dan hormonal abnormal pada aliran darah yang
menuju labirin dan terjadi gangguan elektrolit dalam cairan labirin, reaksi alergi
dan autoimun (Hadjar E & Bashiruddin,2007).
Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi
ketidakseimbangan cairan telinga yang abnormal dan diduga disebabkan oleh
terjadinya malabsorbsi dalam sakus endolimfatikus. Selain itu para ahli juga
mengatakan terjadinya suatu robekan endolimfa dan perilimfa bercampur. Hal ini
menurut para ahli dapat menimbulkan gejala dari penyakit Meniere. Para peneliti
juga sedang melakukan penyelidikan dan penelitian terhadap kemungkinan lain
penyebab penyakit Meniere dan masing-masing memiliki keyakinan tersendiri
terhadap penyebab dari penyakit ini, termasuk faktor lingkungan seperti suara
bising, infeksi virus HSV, penekanan pembuluh darah terhadap saraf
(microvascular compression syndrome). Selain itu gejala dari penyakit Meniere
dapat ditimbulkan oleh trauma kepala, infeksi saluran pernapasan atas, aspirin,
merokok, alkohol, atau konsumsi garam berlebihan. Namun pada dasarnya belum

15

ada yang tahu secara pasti apa penyebab penyakit Meniere (Hadjar E &
Bashiruddin,2007).

2.2.4. Patofisiologi Penyakit Meniere


Gejala klinis penyakit Meniere disebabkan oleh adanya hidrops endolimfa
(peningkatan endolimfa yang menyebabkan labirin membranosa berdilatasi) pada
kokhlea dan vestibulum. Hidrops yang terjadi dan hilang timbul diduga
disebabkan oleh meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri, menurunnya
tekanan

osmotik

dalam

kapiler,

meningkatnya

tekananosmotik

ruang

ekstrakapiler, jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat (akibat jaringan parut


atau karena defek dari sejak lahir) (Hadjar E & Bashiruddin,2007).
Hidrops endolimfa ini lama kelamaan menyebabkan penekanan yang bila
mencapai dilatasi maksimal akan terjadi ruptur labirin membran dan endolimfa
akan bercampur dengan perilimfa. Pencampuran ini menyebabkan potensial aksi
di telinga dalam sehingga menimbulkan gejala vertigo, tinnitus, dan gangguan
pendengaran serta rasa penuh di telinga. Ketika tekanan sudah sama, maka
membran akan sembuh dengan sendirinya dan cairan perilimfe dan endolimfe
tidak bercampur kembali namun penyembuhan ini tidak sempurna (Hadjar E &
Bashiruddin,2007).
Penyakit Meniere dapat menimbulkan : (Paparella MM,2006).
1. Kematian sel rambut pada organ korti di telinga tengah
Serangan berulang penyakit Meniere menyebabkan kematian sel rambut
organ korti. Dalam setahun dapat menimbulkan tuli sensorineural unilateral.

16

Sel rambut vestibuler masih dapat berfungsi, namun dengan tes kalori
menunjukkan kemunduran fungsi.
2. Perubahan mekanisme telinga
Dimana disebabkan periode pembesaran kemudian penyusutan utrikulus dan
sakulus kronik. Pada pemeriksaan histopatologi tulang temporal ditemukan
perubahan morfologi pada membran Reissner. Terdapat penonjolan ke dalam
skala vestibuli terutama di apeks kokhlea (helikoterma). Sakulus juga
mengalami pelebaran yang sama yang dapat menekan utrikulus. Pada
awalnya pelebaran skala media dimulai dari apeks kokhlea kemudian dapat
meluas mengenai bagian tengah dan basal kokhlea. Hal ini dapat menjelaskan
tejadinya tuli saraf nada rendah pada penyakit ini.
2.2.5. Manifestasi klinis Penyakit Meniere
Tanda-tanda dan gejala utama dari penyakit Meniere adalah (Phasya,
2013) :
1 Vertigo yang berulang. Vertigo adalah sensasi yang mirip dengan pengalaman
ketika tubuh berputar cepat beberapa kali dan tiba-tiba berhenti. Tubuh akan
merasa seolah-olah ruangan berputar dan kehilangan keseimbangan.
2 Episode vertigo terjadi tanpa peringatan dan biasanya berlangsung selama 20
menit sampai dua jam atau lebih, bahkan hingga 24 jam. Vertigo yang berat
dapat menyebabkan mual dan muntah.
3 Gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran pada penyakit Meniere dapat
berfluktuasi, terutama pada permulaan penyakit. Kebanyakan penderita
Meniere mengalami gangguan pendengaran permanen akhirnya.

17

4 Tinnitus. Tinnitus adalah suara dering, mendengung, meraung, bersiul atau


mendesis di telinga. Pada penyakit Meniere, tinnitus sering terdengar pada
nada rendah.
5 Kepenuhan aural. Kepenuhan aural adalah perasaan penuh atau tekanan dalam
telinga.
Gejala penyakit Meniere dimulai dengan perasaan penuh di telinga, kemudian
terjadi tinnitus dan penurunan fungsi pendengaran diikuti dengan vertigo yang
berat disertai mual dan muntah. Gejala ini bisa berlangsung dua sampai tiga jam.
Tingkat keparahan, frekuensi, dan durasi gangguan bervariasi, terutama pada awal
penyakit. Sebagai contoh, bisa saja hanya muncul gejala vertigo berat yang sering,
sedangkan gejala lainnya hanya ringan. Atau bisa saja vertigo dan kehilangan
pendengaran yang dialami hanya ringan dan jarang, namun tinnitus yang lebih
sering mengganggu (Adams G, Boies,197).

2.3. Pemeriksaan Penunjang Penyakit Meniere


2.3.1.

Pemeriksaan Audiometric
Tes audiometri adalah untuk mengetahui kemampuan kita mendengar

bunyi. Kelantangan suara sangat bervariasi dan juga vibrasi kecepatan suara
sangat bervariasi. Pendengaran terjadi ketika gelombang suara di stimulasi oleh
nervus pada telinga dalam. Pada akhirnya perjalanan bunyi melalui jalur saraf
yang dihantar menuju ke otak (Levine SC,1997).

18

Gambar 5. Audiogram tuli sensorineural pada penyakit Meniere


Sumber : http://www.dizziness-andbalance/disorders/menieres/menieres_english.html

2.3.2.

Elektronistagmografi (ENG) dan Tes Keseimbangan


Untuk mengetahui secara objektif kuantitas dari gangguan keseimbangan

pada pasien. Pada sebagian besar pasien dengan penyakit Meniere mengalami
penurunan respons nistagmus terhadap stimulasi dengan air panas dan air dingin
yag digunakan pada tes ini (Levine SC,1997).
2.3.3. Elektrokokleografi (ECOG)
Mengukur akumulasi cairan di telinga dalam dengan cara merekam
potensial aksi neuron auditoris melalui elektroda yang ditempatkan dekat dengan
kokhlea. Pada pasien dengan penyakit Meniere, tes ini juga menunjukkan

19

peningkatan tekanan yang disebabkan oleh cairan yang berlebihan pada telinga
dalam yang ditunjukkan dengan adanya pelebaran bentuk gelombang bentuk
gelombang dengan puncak yang multiple (Levine SC,1997).
2.3.4. Brain Evoked Response Audiometry (BERA)
Biasanya normal pada pasien dengan penyakit Meniere, walaupun
terkadang terdapat penurunan pendengaran ringan pada pasien dengan kelainan
pada sistem saraf pusat (Levine SC,1997).
2.3.5. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Dengan kontras yang disebut gadolinium spesifik memvisualisasikan
n.VII. Jika ada bagian serabut saraf yang tidak terisi kontras menunjukkan adanya
neuroma akustik. Selain itu pemeriksaan MRI juga dapat memvisualisasikan
kokhlea dan kanalis semisirkularis (Levine SC,1997).

2.3.6. Tes Gliserin


Khusus mengetahui adanya hidrops endolimfe pada meniere, caranya ialah
pasien diberi minuman gliserin 1,2 ml/kg/BB, setelah diperiksa tes kalori dan
audiometri. Kemudian setelah 2 jam dilakukan kembali tes kalori dan audiometri
dan hasilnya dibandingkan dengan hasil yang pertama. Bila ada perbedaan yang
bermakna, maka terbukti adanya hidrops endolimfe (Supardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J & Restuti RD,2007).
2.3.7. Tes Kalori
Stimulasi kalorik adalah pemeriksaan yang menggunakan perbedaan
temperature untuk mendiagnosis kerusakan saraf pada telinga Tes kalori
dianjurkan oleh Dick dan Hallpike. Pada cara ini digunakan 2 macam air, dingin
dan panas. Suhu air dingin adalah 300c, sedangkan air panas/hangat dengan suhu
440c. volume air yang dialirkan ke dalam liang telinga masing-masing 250 ml,

20

dalam waktu 40 detik. Diperiksa telinga kiri dan kanan (Supardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J & Restuti RD,2007).
2.3.8. Tes Vestibular Evoked Myogenic Vestibular
Pengujian Vestibular Evoked Myogenic Potentials (VEMP) ini dilakukan
untuk mengukur fungsi sensor di bagian terdepan dari telinga bagian dalam di
mana sensor tersebut membantu Anda ketika mendeteksi gerakan. Sensor ini
sedikit sensitif terhadap suara. Ketika sensor bereaksi terhadap suara, otot di leher
dan mata akan mengalami kontraksi. Hal inilah yang digunakan untuk mengukur
fungsi dari telinga bagian dalam (Timothy C. Hain,2015).
2.4. Tatalaksana Penyakit Meniere
2.4.1. Medikamentosa
Pasien yang datang dengan keluhan khas Penyakit Meniere awalnya hanya
diberikan pengobatan yagng bersifat simptomatik, seperti sedatif dan bila perlu
diberikan antiemetik. Pengobatan paling baik adalah sesuai dengan penyebabnya.
Penatalaksanaan pada Penyakit Meniere adalah sebagai berikut :
Untuk penyakit ini diberikan obat-obatan vasodilator perifer, antihistamin,
antikolinergik, steroid, dan diuretik untuk mengurangi tekanan pada endolimfe.
Obat-obat antiiskemia dapat pula diberikan sebagai obat alternatif dan neurotonik
untuk menguatkan sarafnya selain itu jika terdapat infeksi virus dapat diberikan
antivirus seperti asiklovir. Transquilizer seperti diazepam (valium) dapat
digunakan pada kasus akut untuk membantu mengontrol vertigo, namun karena
sifat adiktifnya tidak digunakan tidak digunakan sebagai pengobatan jangka
panjang. Antiemetik seperti prometazin tidak hanya mengurangi mual dan muntah
tapi juga mengurangi gejala vertigo. Diuretik seperti tiazide dapat membantu

21

mengurangi gejala penyakit Meniere dengan menurunkan tekanan dalam sistem


endolimfe. Pasien harus diingatkan untuk banyak makanan yang mengandung
kalium seperti pisang, tomat, dan jeruk ketika menggunakan diuretik yang
menyebabkan kehilangan kalium (Levine SC,1997 & Becker W,2004).
2.4.2. Non medikamentosa
1. Diet dan gaya hidup
Diet rendah garam memiliki efek yang kecil terhadap konsentrasi sodium pada
plasma, karena tubuh telah memiliki sistem regulasi dalam ginjal untuk
mempertahankan

level

sodium

dalam

plasma.

Untuk

mempertahankan

keseimbangan konsentrasi sodium, ginjal menyesuaikan kapasitas untuk


kemampuan transport ion berdasarkan intake sodium. Penyesuaian ini diperankan
oleh hormon aldosteron yang berfungsi mengontrol jumlah transport ion di ginjal
sehingga akan memengaruhi regulasi sodium di endolimfe sehingga mengurangu
serangan penyakit Meniere (Levine SC,1997 & Becker W,2004).
Banyak pasien dapat mengontrol gejala hanya dengan mematuhi diet rendah
garam (2000 mg/hari). Jumlah sodium merupakan salah satu faktor yang
mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Retensi natrium dan cairan dalam
tubuh dapat merusak keseimbangan antara endolimfe dan perilimfe di dalam
telinga (Levine SC,1997 & Becker W,2004).
Garam natrium yang ditambahkam ke dalam makanan biasanya berupa ikatan
natrium klorida atau garam dapur, monosodium glutamat (vetsin), natrium
bikarbonat (soda kue), natrium benzoat (daging kornet).
Pemakaian alkohol, rokok, coklat harus dihentikan. Kafein dan nikotin juga
merupakan stimulan vasoaktif dan menyebabkan terjadinya vasokonstriksi dan
penurunan aliran darah arteri kecil yang memberi nutrisi saraf dari telinga tengah.

22

Dengan menghindari kedua zat tersebut dapat mengurangi gejala (Levine SC,1997
& Becker W,2004).
Olahraga yang rutin dapat menstimulasi sirkulasi aliran darah sehingga perlu
untuk dianjurkan ke pasien. Pasien juga harus menghindari penggunaan obatobatan yang bersifat ototoksik seperti aspirin karena dapat memperberat tinnitus.
Selama serangan akut dianjurkan untuk berbaring di tempat yang keras, berusaha
untuk tidak bergerak, pandangan mata difiksasi pada satu objek tidak bergerak,
jangan mencoba minum walaupun ada perasaan mau muntah, setelah vertigo
hilang pasien diminta untuk bangun secara perlahan karena biasanya setelah
serangan akan terjadi kelelahan dan sebaiknya pasien mencari tempat yang
nyaman untuk tidur selama beberapa jam untuk memulihkan keseimbangan
(Levine SC,1997 & Becker W,2004).
2. Latihan
Rehabilitasi penting dilakukan sebab dengan melakukan latihan sistem vestibuler
ini sangat menolong. Kadang-kadang gejala vertigo dapat diatasi dengan latihan
yang teratur danbaik. Orang-orang yang karena profesinya menderita vertigo
dapat diatasi dengan latihan yang intensif sehingga gejala yang timbul tidak lagi
mengganggu pekerjaan sehari-hari (Hadjar E, Bashiruddin J,2007).
Ada beberapa latihan, yaitu : canalit reposition treatment (CRT) / epley manouver
dan brand-darroff exercise. Dari beberapa latihan ini kadang memerlukan
seseorang untuk membantunya tapi ada juga yang dapat dikerjakan sendiri. Dari
beberapa latihan, umumnya yang dilakukan pertama adalah CRT jika masih terasa
ada sisa baru dilakukan brand-darroff exercise (Hadjar E, Bashiruddin J,2007).

23

Gambar 6. canalit reposition treatment (CRT) / epley maneuver


Sumber : http://d132a.wordpress.com/2008/12/26/pengobatan-gangguankeseimbangan-vertigo/

Gambar 7. brand-darroff exercise


Sumber : http://d132a.wordpress.com/2008/12/26/pengobatan-gangguankeseimbangan-vertigo/
3. Operatif
Operasi yang direkomendasikan bila serangan veertigo tidak terkontrol antara
lain:
a. Dekompresi sakus endolimfatikus
Operasi ini mendekompresikan cairan berlebih di telinga dalam dan menyebabkan
kembali normalnya tekanan terhadap ujung saraf vestibulokokhlearis. Insisi
dilakukan di belakang telinga yang terinfeksi dan air cell mastoid diangkat agar
dapat melihat telinga dalam. Insisi kecil dilakukan pada sakus endolimfatikus
untuk mengalirkan cairan ke rongga mastoid.
Secara keseluruhan sekitar 60% pasien serangan vertigo menjadi terkontrol, 20%
mengalami serangan yang lebih buruk. Fungsi pendengaran tetap stabil namun
jarang yang membaik dan tinnitus tetap ada, 2% mengalami tuli total dan vertigo
tetap ada.
24

b. Labirinektomi
Operasi ini mengangkat kanalis semisirkularis dan saraf vestibulokokhlearis.
Dilakukan dengan insisi di telinga belakang dan air cell mastoid diangkat, bila
telinga dalam sudah terlihat, keseluruhan labirin tulang diangkat. Setelah satu atau
dua hari paskaoperasi, tidak jarang terjadi vertigo berat. Hal ini dapat diatasi
dengan pemberian obat-obatan. Setelah seminggu, pasien mengalami periode
ketidakseimbangan tingkat sedang tanpa vertigo, sesudahnya telinga yang normal
mengambil alih seluruh fungsi keseimbangan. Operasi ini menghilangkan fungsi
pendengaran telinga.
c. Neurektomi vestibuler
Bila pasien masih dapat mendengar, neurektomi vestibuler merupakan pilihan
untuk menyembuhkan vertigo dan pendengaran yang tersisa. Dilakukan insisi di
belakang telinga dan air cell mastoid diangkat, dilakukan pembukaan pada fossa
durameter dan n.VIII dan dilakukan pemotongan terhadap saraf keseimbangan.
Pemilihan operasi ini mirip labirinektomi. Namun karena operasi ini melibatkan
daerah intrakranial, sehingga harus dilakukan pengawasan ketat paskaoperasi.
Operasi ini diindikasikan pada pasien di bawah 60 tahun yang sehat.
Sekitar 5% mengalami tuli total pada telinga yang terinfeksi, paralisis wajah
sementara dapat terjadi selama beberapa hari hingga bulan, sekitar 85% vertigo
dapat terkontrol.
d. Labirinektomi dengan zat kimia
Merupakan operasi dimana menggunakan antibiotik (streptomisin atau gentamisin
dosis kecil) yang dimasukkan ke telinga dalam. Operasi ini bertujuan mengurangi
proses penghancuran saraf keseimbangan dan mempertahankan pendengaran yang

25

masih ada. Pada kasus penyakit Meniere, diberikan streptomisin intramuskular


dapat menyembuhkan serangan vertigo dan pendengaran dapat dipertahankan.
e. Endolimfe shunt
Operasi ini masih kontroversi karena banyak peneliti yang menganggap operasi
ini merupakan plasebo
Ada dua tipe dari operasi ini yaitu:
a) Endolimfe subaraknoid shunt : dengan mempertahankan tuba diantara endolimfe
dan kranium
b) Endolimfe mastoid shunt : dengan menempatkan tuba antara sakus endolimfatikus
dan rongga mastoid (Becker W,2004).

Gambar 8. Skema pentalaksanaan penyakit Meniere


Sumber : http://d132a.wordpress.com/2008/12/26/pengobatan-gangguankeseimbangan-vertigo/
2.5.

Vestibular Myogenic Evoked Potential (VEMP)

2.5.1.

Definisi
VEMP adalah penilaian neurofisiologis teknik yang digunakan untuk

menentukan fungsi organ otolithic ( utrikulus dan saccule ) dari telinga bagian
dalam. Ini melengkapi informasi yang diberikan oleh lainnya bentuk pengujian
aparatus vestibular (Manzari et al,2010).
2.5.2.

Tujuan

26

Salah satu gejala yang timbul dari penyakit ini adalah vertigo di mana
ketika Anda mengalaminya, keseimbangan tubuh Anda akan terganggu. Oleh
karena itu, dokter akan melakukan tes pada keseimbangan tubuh Anda, Memang
keseimbangan

tubuh

akan

kembali

normal

dengan

sendirinya,

namun

keseimbangan tubuh dari beberapa orang akan tetap bermasalah, walaupun sudah
diobati. Beberapa jenis tes keseimbangan yang mungkin akan dilakukan oleh
dokter Anda, antara lain: Vestibular myogenic evoked potensial (VEMP) (Timothy
C. Hain,2015).
Pengujian Vestibular Evoked Myogenic Potentials (VEMP) ini dilakukan
untuk mengukur fungsi sensor di bagian terdepan dari telinga bagian dalam di
mana sensor tersebut membantu Anda ketika mendeteksi gerakan. Sensor ini
sedikit sensitif terhadap suara. Ketika sensor bereaksi terhadap suara, otot di leher
dan mata akan mengalami kontraksi. Hal inilah yang digunakan untuk mengukur
fungsi dari telinga bagian dalam (Timothy C. Hain,2015).

Gambar 9 . skema urtikulus dan sakulus


Sumber : http://www.dizziness-and-balance.com/testing/vemp.html
Skema utrikulus dan sakulus ini adalah organ sensorik di telinga bagian
dalam terutama menanggapi percepatan linear seperti karena orientasi gravitasi,

27

tapi saccule juga agak sensitif terhadap suara dan ini adalah dasar dari tes VEMP
(Timothy C. Hain,2015).

2.5.3. Aplikasi Diagnosis


1. Patologis menurunkan ambang batas :
- superior kanal dehiscence (SCD)
- jinak proxysmal posisi vertigo (BPPV)
- gangguan vestibular hipersensitivitas
2. Absen atau potensi penurunan :
- Mnire's penyakit
- vestibular schwannoma (akustik neuroma)
- vestibular neuritis (neuronitis, neuropati)
- sklerosis
- otosclerosis
3. Meningkatkan latency :
- vestibular schwannoma (akustik neuroma)
- jinak proxysmal posisi vertigo (BPPV)
- sklerosis
- Sindrom Guillain-Barr (GBS)
2.5.4. Jenis VEMP dan Jenis Stimulasi.
1. Jenis VEMP
cVEMP (serviks VEMP ): elektroda yang pada SCM otot leher.
oVEMP (okular VEMP) : elektrodadi bawah mata.
2. Jenis Stimulasi.
AC (Air konduksi)-merangsang sebagian besar saccule.
BC (tulang konduksi)-merangsang kedua saccule dan utricle.

28

Gambar : 10. AC oVEMP: electrodes and responses


Sumber : (Manzari et al,2010).

2.5.5. Metode Dan Alat

Gambar 11. Peralatan yang digunakan untuk merekam VEMP


Sumber : http://www.dizziness-and-balance.com/testing/vemp.html

Metode
Suara merangsang saccule melintasi saraf vestibular dan ganglion untuk
mencapai inti vestibular di batang otak. Dari sana, impuls dikirim ke otot-otot

29

leher melalui saluran vestibulospinal medial (MVST). Bagi kebanyakan otot, efek
bersih dari stimulasi saccule adalah penghambatan. VEMPs dicatat menggunakan
komputer membangkitkan respon, generator suara, dan elektroda permukaan
untuk mengambil aktivasi otot leher (kingma,2011).
Pasien
Pasien menjalani standar pemeriksaan telinga , Audiometri nada murni ,
tes kalori dan pencitraan magnetik dari sudut cerebellopontine untuk
mengecualikan

penyakit

audiovestibular

lainnya,

untuk

mengeksplorasi

kemungkinan ini dan untuk menguji hipotesis bahwa VEMP sensitif terhadap
perubahan struktural dalam saccule indikasi hidrops endolymphatic asimtomatik
atau presymptomatic, pertanda kemungkinan berkembang penyakit meniere
(kingma,2011).

2.5.6. Gambaran VEMP


Parameter VEMP memiliki peran klinis penting di penyakit meniere,
terutama hasil pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menilai penyakit meniere.
Hasil pemeriksaan yang abnormal dapat digunakan sebagai prediksi tahap awal
penyakit meniere (Min-Beom Kim,2013).

30

Gambar : 12. Gambaran normal dan tidak normal pada VEMP


Sumber : (Manzari et al,2010).

2.5.7. Efektivitas Vestibular Evoked Myogenic potential (VEMP)


Menurut beberapa penelitian, Hasil dari pemeriksaan tahap awal penyakit
meniere VEMP memiliki efektivitas sebagai prediksi penyakit meniere (MinBeom Kim,2013).

31

Gambar : 13. Gambaran normal dan meniere pada VEMP


Sumber : (Min-Beom Kim,2013).
Dari gambar diatas pada pemeriksaan VEMP, Hasil pada orang normal memiliki
gelombang amplitude di atas 120 sedangkan pada penyakit meniere memiliki
gelombang amplitudo yang lebih rendah dari orang normal (Min-Beom
Kim,2013).

BAB III
PENGGUNAAN VESTIBULAR EVOKED MYOGENIC POTENSIAL
SEBAGAI PEMERIKSAAN PENUNJANG PENYAKIT MENIERE
DILIHAT DARI SUDUT PANDANG ISLAM
32

3.1.

Pandangan Islam Tentang Penyakit Meniere


Penyakit Meniere adalah kelainan telinga bagian dalam yang

menyebabkan timbulnya episode vertigo (pusing berputar), tinnitus (telinga


berdenging), perasaan penuh dalam telinga, dan gangguan pendengaran yang
bersifat fluktuatif dan keseimbangan. Penyakit ini disebabkan oleh peningkatan
volume dan tekanan dari endolimfe (hidrops endolimfe) pada telinga dalam (Hain
& Yacovino, 2003).
Dalam kehidupan, manusia akan diuji dengan bermacam-macam ujian
antara lain dihadapi oleh suatu penyakit, baik rohani maupun jasmani. Semua itu
didatangkan oleh Allah SWT sebagai suatu ujian yang harus dihadapi (Kurnia,
2013). Sesuai dengan firman Allah SWT :

Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.
(QS. Al-Baqarah (2); 155)
Ayat di atas menjelaskan sesungguhnya dunia adalah darul-bala (tempat
ujian). Siapa yang tidak mendapat ujian atau musibah dalam hartanya, akan diuji
jasadnya. Maka sudah merupakan sunnatullah bahwa setiap insan pastilah akan
mendapatkan ujian dan cobaan baik berupa keburukan atau kebaikan. Allah SWT
telah menjelaskan bahwa kehidupan di dunia ini adalah ujian dan cobaan
sebagaimana dalam firman-Nya (Kurnia, 2013) :

33

Artinya : "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun.(Q.S. Al-Mulk (2); 67)
Berdasarkan ayat di atas, Allah SWT akan menguji setiap orang dengan
ujian atau cobaan dan manusia tidak bisa menghindar. Hikmah dari ujian atau
cobaan itu agar manusia dapat mempersiapkan diri untuk bisa bersikap sabar.
Sebagaimana firman Allah SWT (Putra, 2009) :

Artinya : Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan


dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar
(imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.
(Q.S Al-Baqarah (2); 177)

Allah SWT akan memberikan balasan kepada orang yang sabar :

34

Artinya : Sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang


sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
)(Q.S An Nahl (16); 96

Seorang muslim bersifat sabar akan meningkat ketakwaan dan keimanan


kepada Allah SWT dan mendapatkan pahala yang dilipat gandakan, sesuai dengan
hadits Nabi SAW (Hafis, 2009) :




























] [
: Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah
Shallallahualaihi wasallam sebagaimana dia riwayatkan dari
Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi : Sesungguhnya Allah
telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal
tersebut : Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak

35

Artinya

mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan


penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian
melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh
kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang
banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia
tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan
jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya
sebagai satu keburukan.
(HR. Bukhori dan Muslim)

Berdasarkan uraian di atas, Penyakit Meniere adalah suatu penyakit pada telinga
dalam yang bisa mempengaruhi fungsi pendengaran dan keseimbangan tubuh.
Dalam suatu kehidupan, manusia nantinya akan mengalami penyakit yang
berbeda-beda. Semua itu didatangkan oleh Allah SWT sebagai suatu ujian atau
cobaan yang harus dihadapi. Manusia tidak akan terhindar dari cobaan atau ujian,
maka setiap orang harus mempersiapkan diri untuk bisa bersikap sabar. Allah
SWT tidak akan memberi cobaan atau ujian di luar kemampuan umatnya.
Seseorang yang mempunyai sifat sabar, ketakwaan dan keimanannya kepada
Allah SWT akan ditingkatkan serta pahala yang didapatkan akan dilipat gandakan.
3.2.
Pandangan Islam Tentang Penggunaan Vestibular Evoked
Myogenic Potential (VEMP)
Penyakit Meniere adalah kelainan telinga bagian dalam yang
menyebabkan timbulnya episode vertigo (pusing berputar), tinnitus (telinga
berdenging), perasaan penuh dalam telinga, dan gangguan pendengaran yang
bersifat fluktuatif dan keseimbangan. Penyakit ini disebabkan oleh peningkatan
volume dan tekanan dari endolimfe (hidrops endolimfe) pada telinga dalam, yaitu
suatu keadaan dimana jumlah cairan endolimfe mendadak meningkat, Pada
penyakit meniere terdapat keluhan vertigo berulang, hal itu disebabkan karena
adanya hidrops endolimfe pada koklea dan vestibulum (Hain & Yacovino, 2003).

36

Vertigo yang berulang dapat mengganggu fungsi keseimbangan tubuh.


Pada diri manusia, fungsi keseimbangan dalam tubuh mempunyai peranan
penting. Jika keseimbangan tidak berfungsi dengan baik, seseorang tidak dapat
berdiri seimbang dan tidak bisa melakukan aktivitas sehari-harinya dengan baik.
Allah SWT menganjurkan kepada setiap manusia agar seimbang dalam segala
sesuatunya, dalam menjalani kehidupan ataupun penyakit diri. Allah SWT tidak
menyukai hal yang berlebih-lebihan, Allah Taala berfirman (An-Najah, 2010 ) :

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan.(Q.S Al-A'raaf (7); 31)
Dari penggalan ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT mengajarkan kepada
manusia untuk hidup seimbang dan Allah SWT tidak menyukai hal yang kadarnya
berlebih-lebihan (Ridwan, 2012). Oleh karena itu, untuk pemeriksaan ini
dilakukan untuk mengetahui fungsi dari organ otholitic (urtikulus dan sakulus)
dari telinga bagian dalam apakah cairan endolimfe seimbang.

3.3.

Pandangan Islam Tentang Penggunaan Vestibular Evoked Myogenic


Potential (VEMP) Sebagai Pemeriksaan Penunjang Penyakit Meniere.
Pada dasarnya pengujian Vestibular Evoked Myogenic Potentials

(VEMP) ini dilakukan untuk mengukur fungsi sensor di bagian terdepan dari
telinga bagian dalam di mana sensor tersebut membantu Anda ketika mendeteksi
gerakan. Sensor ini sedikit sensitif terhadap suara. Ketika sensor bereaksi terhadap

37

suara, otot di leher dan mata akan mengalami kontraksi, Hal inilah yang
digunakan untuk mengukur fungsi dari telinga bagian dalam (Timothy C.
Hain,2015).
Penggunaan vestibular evoked myogenic potential (VEMP) menggunakan
peralatan yang aman di bidang kedokteran dan tidak ada yang mengandung unsur
mengancam jiwa. Rasulullah melarang berobat dengan barang haram dan berobat
kepada dukun, paranormal dan sejenisnya, atau menggunakan jimat (Yafie et al,
1997). Rasulullah SAW bersabda :










Artinya: Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat. Dan
menjadikan untuk kalian bahwa setiap penyakit ada obatnya. Karena
itu, berobatlah, tetapi jangan berobat dengan barang haram.
(HR. Abu Daud)
Dari hadits di atas dijelaskan bahwa Allah SWT menurunkan penyakit
kepada manusia dan Allah SWT pula yang memberi obat dari setiap penyakitnya.
Dalam berobat tidak boleh mengandung unsur haram.
Pada dasarnya di dalam Islam seorang muslim dianjurkan untuk menjaga 5
pokok kemaslahatan yang menjadi prinsip dasar dalam syariat, yaitu memelihara
agama (Hifzh Ad-Din), memelihara jiwa (Hifzh An-Nafs), memelihara akal (Hifzh
Al-Aql), memelihara keturunan (Hifzh An-Nasl), memelihara harta (Hifzh Al-Mal).
Kelima pokok kemaslahatan tersebut harus dijaga demi tegaknya syariat dan

38

aturan Islam. Memelihara jiwa (Hifzh An-Nafs) merupakan salah satu pondasi
eksistensi manusia. Hidup yang dijalani harus dipelihara karena merupakan
rahmat Allah SWT yang harus disyukuri dengan sebaik-baiknya. Berikhtiar dan
mengupayakan pengobatan termasuk dalam memelihara jiwa (Hifzh An-Nafs)
(Lismanto, 2012). Terapi rehabilitasi vestibular merupakan pengobatan yang
termasuk memelihara jiwa (Hifzh An-Nafs) manusia, bertujuan untuk mengurangi
gejala vertigo berulang dengan harapan dapat mengembalikan keseimbangan
cairan di telinga dan meminimalisir gangguan fungsi pendengaran. Organ telinga
tersebut nantinya digunakan manusia sebagai indera pendengaran untuk
menjalankan ibadah kepada Allah SWT, yang sebagaimana dalam firman-Nya
Q.S. Adh-Dhariyat (51); 56 (Yazid, 2007).

BAB IV
KAITAN PANDANGAN ANTARA KEDOKTERAN DAN ISLAM
TENTANG PENGGUNAAN VESTIBULAR EVOKED MYOGENIC POTENTIAL
SEBAGAI PEMERIKSAAN PENUNJANG PADA PENYAKIT MENIERE

Berdasarkan uraian pada bab II dan bab III, maka kaitan pandangan antara
kedokteran dan Islam tentang penggunaan VEMP pada penyakit meniere adalah

39

sebagai berikut : menurut ilmu kedokteran Penyakit Meniere adalah suatu


penyakit pada telinga bagian dalam yang dapat mempengaruhi pendengaran dan
keseimbangan. Penyakit ini ditandai dengan keluhan berupa vertigo berulang,
tinnitus, dan pendengaran yang berkurang,

biasanya pada satu telinga. Pada

Penyakit Meniere terdapat keluhan berupa vertigo berulang. Hal ini disebabkan
oleh adanya hidrops endolimfe pada koklea dan vestibulum, untuk mengetahui
atau mendiagnosis penyakit meniere tersebut dilakukan mengukur fungsi sensor
di bagian terdepan dari telinga bagian dalam menentukan apakah saccule salah
satu bagian dari otolith dimana sensor tersebut membantu mendeteksi gerakan.
Menurut beberapa penelitian, Hasil dari pemeriksaan tahap awal penyakit
meniere VEMP memiliki efektivitas sebagai prediksi penyakit meniere. Vestibulae
evoked myogenic potential (VEMP) merupakan suatu pemeriksaan tahap awal
satu gejala yang timbul dari penyakit ini adalah vertigo di mana ketika anda
mengalaminya, keseimbangan tubuh Anda akan terganggu. Oleh karena itu,
dokter akan melakukan tes pada keseimbangan tubuh Anda, Memang
keseimbangan

tubuh

akan

kembali

normal

dengan

sendirinya,

namun

keseimbangan tubuh dari beberapa orang akan tetap bermasalah, walaupun sudah
diobati. Beberapa jenis tes keseimbangan yang mungkin akan dilakukan oleh
dokter Anda, antara lain: Vestibular myogenic evoked potential (VEMP).
Berdasarkan pandangan Islam penggunaan vestibular evoked myogenic
potential (VEMP) dapat digunakan untuk pemeriksaan penyakit Meniere dan
menggunakan peralatan yang aman di bidang kedokteran dan tidak ada yang
mengandung unsur mengancam jiwa. Rasulullah melarang berobat dengan barang

40

haram dan berobat kepada dukun, paranormal dan sejenisnya, atau menggunakan
jimat dalam rangka memelihara jiwa (Hifzh An-nafs) manusia dan bermanfaat
untuk mengurangi keluhan berupa gejala vertigo yang berulang pada Penderita
Meniere. Substansi dan teknik suntikan obat yang diberikan dalam terapi tersebut
tidak mengandung unsur haram dan tidak bertentangan dengan syariat Islam
maka diperbolehkan berobat oleh dokter ahlinya.
Pendapat Kedokteran dan Islam dalam hal penggunaan vestibular evoked
myogenic potensial (VEMP) sebagai pemeriksaan penunjang penyakit meniere
bermanfaat untuk mendiagnosis penyakit meniere.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN
1. Penyakit Meniere adalah suatu penyakit pada telinga bagian dalam yang dapat
mempengaruhi pendengaran dan keseimbangan. Pada Penyakit Meniere terdapat
keluhan vertigo berulang yang disebabkan adanya hidrops endolimfe pada koklea
dan vestibulum, untuk mengetahui atau mendiagnosis penyakit meniere tersebut
dilakukan mengukur fungsi sensor di bagian terdepan dari telinga bagian dalam
menentukan apakah saccule salah satu bagian dari otolith dimana sensor tersebut

41

membantu mendeteksi gerakan. Penggunaan VEMP tersebut bermanfaat untuk


mengetahui dan menditeksi gejala awal pada penyakit meniere.
2. Penggunaan VEMP pada penyakit meniere merupakan suatau pemeriksaan
yang efektifitas dan dapat digunakan sebagai prediksi tahap awal penyakit
meniere. Penggunaan VEMP menggunakan peralatan yang aman di bidang
kedokteran dan tidak ada yang mengandung unsur mengancam jiwa serta tidak
bertentangan dengan syariat Islam maka pemeriksaa dalam hal ini hukumnya
diperbolehkan, Menurut beberapa penelitian, Hasil dari pemeriksaan tahap awal
penyakit meniere VEMP memiliki efektivitas sebagai prediksi penyakit meniere.
3. Menurut pandangan islam organ telinga berfungsi sebagai indera pendengaran
dan keseimbangan dalam tubuh. Telinga sebagai indera pendengaran difungsikan
dengan baik untuk beribadah kepada Allah SWT, sedangkan pada keseimbangan
telinga berfungsi agar manusia berdiri seimbang serta melakukan aktivitas seharihari dengan baik. Dalam hal ini, Allah SWT menganjurkan manusia untuk hidup
seimbang dan tidak berlebih-lebihan untuk kesehatan dirinya sendiri.
5.2. SARAN
1

Kepada masyarakat haruslah menjaga kebersihan tubuh seperti organ


telinga yang berfungsi sebagai indera pendengaran dan keseimbangan
dalam tubuh.

Kepada dokter muslim agar lebih meningkatkan pengetahuan dalam


perkembangan

ilmu

kedokteran

yang

berkembang

pesat

disertai

pengetahuan tentang agama agar dokter muslim mempunyai pengetahuan

42

untuk edukasi mengurangi, mencegah dan mengobati gejala vertigo pada


Penyakit Meniere.
3

Kepada peneliti diharapkan lebih menjelaskan secara detail penggunaan


VEMP sebagai pemeriksaan penunjang pada penyakit meniere.

Bagi para ulama disarankan agar selalu mengingatkan umat muslim untuk
menjaga kebersihan tubuh salah satunya organ telinga. Selain itu juga
menerangkan betapa pentingnya anjuran berobat dengan bekerja sama.

DAFTAR PUSTAKA

Al Quran dan Terjemahnya 2004. Syamil Cipta Media, Bandung.


Adams G, Boies L, Higler P. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC. 1997.
Anatomy of Inner Ear. 2010; http://galileo.phys.virginia.edu/classes/304/pix.htm
(Diakses 20 Januari 2016).
Bashiruddin J, Hadjar E, Alviandi W. Gangguan Keseimbangan. Dalam : Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidunng, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi
ke-6. Editor : Soepardi EA, Iskandar N. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2007. 94-101.
Becker W, Naumann HH, Pfalfz CR. A Pocket Reference Ear, Nose, and Throat
Disease. Second Revised Edition. New York : Thiemes; 2004. 100-101.

43

Hadjar E, Bashiruddin J. Penyakit Meniere. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan


Telinga, Hidunng, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi ke-6. Editor :
Soepardi EA, Iskandar N. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2007. 102-103.
Hain, TC, Yacovino D. Meniere Disease. 2003. Available at :
http://www.dizziness-and
balance/disorders/menieres/menieres_english.html.
(Diakses 20 Januari 2016).
Kingma.c.m.asymmetric vestibular evoked myogenic potentials in unilateral
meniere patients : Eur Arch Otorhinolaryngol (2011) 268:5761.
Levine SC. Penyakit Telinga Dalam. Dalam : BOEIS Buku Ajar THT Edisi ke 6.
Editor : Efendi H, Santosa K. Jakarta : EGC. 1997. 136-137.
Malik A (2009). Meniti Kesempurnaan Iman. Majelis Rasulullah SAW. Jakarta.
Min-Beom Kim1Jeesun Choi2Ga Young Park2Yang-Sun Cho2Sung Hwa
Hong2Won-Ho Chung, Clinical Value of Vestibular Evoked Myogenic
Potential in Assessing the Stage and Predicting the Hearing Results in
Mnires Disease : Clinical and Experimental Otorhinolaryngology Vol. 6,
No. 2: 57-62, June 2013.
Muhadi dan Muadzin (2009). Buku Semua Penyakit Ada Obatnya. Mutiara
Media. Jakarta.
Paparella MM. Pathogenesis and Pathophysiology of Meniere Disease. Acta
Otolaryngol (Stockh). 2006 ; (suppl 485)26.
Probes R, Grevers G, Iro H. Basic Otorhinolaryngology. New York: Thieme. 2006
Qarahawi (2005). Haram dan Halal Dalam Islam. Toko Buku Hanam. Jakarta
Qoyyim I 2012. Rasulullah dokterku penyembuhan cara Rasulullah.Mitra
Buku,Yogyakarta.hh.19, 23-28, 29, 166-171.
Sayyid M. B. A. (2012).Rasulullah Sang Dokter.Tiga Serangkai, Solo: 57, 62 ,
87-89.
Soepardie EA, Iskandar N, Bashirudin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.
Stimulasi
caloric
[serial
online].
Available
from :http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003429.htm
Supardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. buku ajar ilmu kesehatan
telinga hidung tenggorok kepala & leher.6th ed. Jakarta: FKUI; 2007.

44

Virginia
Merril
Bloedel
Hearing
Research
Center.
2010;
http://depts.washington.edu/hearing/InnerEarHairCellRegeneration.php
(Diakses 20 Januari 2016).
Virtual Medical Centre. 2010; http://www.vestibular.org (diakses 1 Desember
2010)
Zulmaizarna (2009). Akhlak Mulia Bagi Para Pemimpin. Toko Buku Mitra
Ahmad. Jakarta.
Zuhroni
(2009).
Pandangan
Islam
Kesehatan.Depatemen Agama. Jakarta.

Terhadap

Kedokteran

dan

Zuhroni, Riani N dan Nazaruddin 2003. Islam untuk Disiplin Ilmu Kesehatan &
Kedokteran, jilid 2. Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta : 119124.

45