Anda di halaman 1dari 158

SATUAN KERJA PERENCANAAN UMUM, PERENCANAAN TEKNIS

DAN MANAJEMEN RANTAI PENGADAAN


BAPPEDA PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Jalan Tgk. H.M. Daud Beureu-eh No. 26 Banda Aceh Telp. (0651) 21440

LAPORAN AKHIR
LAPORAN PERENCANAAN
DAN
NOTA PERHITUNGAN
DESA
: GAMPONG BARO
KECAMATAN : JAYA
KABUPATEN : ACEH JAYA

JALAN PEN D ID IKAN

PENYUSUNAN DETAIL ENGINEERING DESIGN (DED)


INFRASTRUKTUR DESA
DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
SURAT PERJANJIAN KERJA
NOMOR
: 074/20/III/2006
TANGGAL : 01 Maret 2006
PT. WASTUWIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

SATUAN KERJA PERENCANAAN UMUM, PERENCANAAN TEKNIS


DAN MANAJEMEN RANTAI PENGADAAN
BAPPEDA PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Jalan Tgk. H.M. Daud Beureu-eh No. 26 Banda Aceh Telp. (0651) 21440

LAPORAN AKHIR
LAPORAN PERENCANAAN
DAN
NOTA PERHITUNGAN

PEKERJAAN

: PENYUSUNAN DETAIL ENGINEERING DESIGN


INFRASTRUKTUR DESA DI PROVINSI
NANGGROE ACEH DARUSSALAM

NOMOR KONTRAK

: 074/20/III/2006

TANGGAL

: 1 MARET 2006

NOMOR DIPA

: 0001.0.l/094-01.0/I/2006
31 Desember 2005

TAHUN ANGGARAN

: 2006

DESA

: GAMPONG BARO

KECAMATAN : JAYA
KABUPATEN

: ACEH JAYA

PT. WASTUWIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Kata Pengantar

Sesuai dengan kontrak kerja Nomor : 074/20/III/2006, tanggal 1 Maret 2006


antara Satuan Kerja Sementara BRR Perencanaan Umum, Perencanaan Teknis dan
Manajemen Rantai Pengadaan, Bappeda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
dengan PT. Wastuwidyawan tentang Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Detail
Engineering Design (DED) Infrastruktur Desa di Provinsi NAD, maka bersama
ini kami sampaikan buku Laporan Akhir tentang :

Perencanaan dan Nota Perhitungan


( Desa Gampong Baro Kabupaten Aceh Jaya)
Laporan Perencanaan dan Nota Perhitungan ini berisi tentang Kondisi
Eksisting Desa, Survey Topografi, Review Perencanaan Desa sebelumnya, Kriteria
Perencanaan dan Analisa Perhitungan.
Demikian Laporan Perencanaan dan Nota Perhitungan ini kami sampaikan,
atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih.

Banda Aceh,

April 2006

PT. Wastuwidyawan

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Daftar Isi
Kata Pengantar ....
Daftar Isi .
Daftar Tabel
Daftar Gambar
BAB

BAB

BAB

BAB

BAB

Halaman
i
ii
vi
viii

I
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.
1.6.

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Maksud dan Tujuan

Sasaran

Lingkup Pekerjaan
....
Kebijakan dan Strategi Penanganan
..
Sumber Dana .

I-1
I-1
I-2
I-2
I-3
I-4

II
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.
2.7.

KONDISI EKSISTING INFRASTRUKTUR DESA


Kondisi Eksisting Jalan
.
Kondisi Eksisting Drainase
..
Kondisi Eksisting Air Bersih
..
Kondisi Eksisting Persampahan ..
Kondisi Eksisting Air Limbah/Kotor
....
Kondisi Eksisting Listrik
..
Kondisi Eksisting Telepon
..

II-1
II-1
II-2
II-2
II-2
II-2
II-2

III
3.1.
3.2.
3.3.
3.4.
3.5.
3.6.

SURVEY TOPOGRAFI
Umum

Pemasangan Benchmark (BM) ..


Pengukuran Kerangka Horisontal (Poligon)....
Pengukuran Kerangka Vertikal ..
Potongan Melintang Jalan
..
Penggambaran dan Buku Ukur ..
3.6.1 Penggambaran
..
3.6.2 Pembuatan Buku Ukur
.

III-1
III-1
III-1
III-2
III-2
III-3
III-3
III-3

IV
4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5.
4.6.
4.7.

REVIEW PERENCANAAN DESA


Jalan dan Transportasi.....................................................................
Drainase...........................................................................................
Air Bersih........................................................................................
Air Kotor/Limbah............................................................................
Persampahan....................................................................................
Listrik...............................................................................................
Telepon............................................................................................

IV-1
IV-2
IV-2
IV-3
IV-3
IV-3
IV-4

V
5.1.

KRITERIA PERENCANAAN
Perencanaan Jalan

5.1.1. Standar Teknis Jalan Desa


..
5.1.2. Definisi, Singkatan dan Istilah ..
5.1.3. Batas-Batas Penggunaan
..
5.1.4. Penggunaan

V-1
V-2
V-3
V-5
V-5

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

ii

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.1.5.

5.1.6.

5.1.7.

5.1.8.
5.1.9.
5.1.10.
5.1.11.
5.1.12.
5.1.13.
5.1.14.
5.1.15.
5.1.16.
5.1.17.
5.1.18.
5.1.19.
5.1.20.
5.1.21.
5.1.22.
5.1.23.
5.1.24.
5.1.25.
5.2.

Laporan Perencanaan

Perkerasan Jalan
...
5.1.5.1 Tanah Dasar ..
5.1.5.2 Lapis Pondasi Bawah ..
5.1.5.3 Lapis Pondasi ..
5.1.5.4 Lapis Permukaan
..
Parameter Perencanaan
..
5.1.6.1 Jumlah Jalur ...
5.1.6.2 Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan ..
5.1.6.3 Lalu Lintas Harian Rata-rata dan Rumus-rumus
Lintas Ekivalen
.. ..
Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) dan CBR.

5.1.7.1 Faktor Regional (FR) ..


5.1.7.2 Indeks Permukaan (IP) ..
5.1.7.3 Koefisien Kekuatan Relatif (a) .
5.1.7.4 Batas-batas Minimum Tebal Lapis Perkerasan...
Pelapisan Tambahan
...
Konstruksi Bertahap
...
Pertimbangan Drainase ...
Geometri Jalan
Tempat Persimpangan ...
Tanjakan Jalan
Tikungan pada Tanjakan Curam ..
Bentuk Badan Jalan
...
Bentuk Badan Jalan di Daerah Curam
Permukaan Jalan
..
Bahu Jalan
...
Pemadatan Tanah
..
Perlindungan Tebing ..
Saluran Pinggir Jalan ..
Gorong-gorong
..
Pembuangan dari Saluran Samping dan Gorong-Gorong ...
Stabilization
...
Pembangunan Jalan di Daerah Rawa

Perencanaan Drainase .
5.2.1. Maksud dan Tujuan
...
5.2.1.1 Maksud
...
5.2.1.2 Tujuan
...
5.2.2. Ruang Lingkup Pekerjaan
..
5.2.3. Pengertian

5.2.4. Persyaratan-persyaratan
..
5.2.5. Ketentuan-ketentuan
...
5.2.5.1 Umum
...
5.2.5.2 Saluran Samping Jalan
.....
5.2.6. Gorong-gorong Pembuang Air ..
5.2.7. Menentukan Debit Aliran
..
5.2.8. Penampang Basah Saluran dan Gorong-gorong ....
5.2.9. Tinggi Jagaan Saluran
5.2.10. Kemiringan Saluran dan Gorong-gorong
.
5.2.11. Kemiringan Tanah

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

V-6
V-6
V-6
V-7
V-7
V-8
V-8
V-9
V-10
V-10
V-12
V-12
V-14
V-16
V-17
V-17
V-18
V-18
V-19
V-20
V-20
V-21
V-22
V-23
V-24
V-25
V-26
V-27
V-28
V-32
V-32
V-33
V-35
V-35
V-35
V-35
V-35
V-35
V-36
V-36
V-36
V-37
V-38
V-40
V-48
V-50
V-50
V-51

iii

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.3.

5.4.

5.5

5.6

Laporan Perencanaan

Perencanaan Sistim Air Bersih


5.3.1. Ruang Lingkup .
5.3.2. Pengertian
.
5.3.3. Ketentuan-ketentuan

5.3.3.1 Fungsi
...
5.3.3.2 Pemasangan Pipa Distribusi
.....
5.3.3.3 Pekerjaan Galian
. .....
5.3.4. Pekerjaan Pengurugan.
5.3.5. Pekerjaan pemasangan pipa.
..
5.3.6. Testing Pekerjaan Pipa
5.3.7. Pekerjaan Penggelontoran atau Flushing ..
5.3.8. Lapisan pelindungan pipa

5.3.9. Trust block


..
5.3.10. Pipa driving

5.3.11. Jembatan pipa


5.3.12. Alat Ukur

5.3.13. Pekerjaan Pemasangan Alat Pelengkap .


5.3.14. Kriteria Perencanaan ...
Perencanaan Sanitasi/Sistim Air Kotor ..
5.4.1. Umum .
5.4.2. Kriteria Teknis
5.4.2.1 Bangunan Atas ( Jamban )
.
5.4.2.2 Septic Tank ( tangki septik )
.
5.4.2.3 Kriteria Perencanaan ..
Perencanaan Persampahan
...
5.5.1 Pewadahan Sampah
...
5.5.2 Pengumpulan Sampah ...
5.5.3 Pemindahan Sampah.
5.5.4 Optimalisasi Peran Serta Masyarakat
.............................
Kriteria Perencanaan Listrik

5.6.1 Umum

5.6.2 Instalasi Listrik Desa


5.6.3 Persyaratan Dasar

5.6.4 Perancangan .
5.6.4.1 Umum .
5.6.4.2 Karakteristik Suplai
..
5.6.4.3 Macam Kebutuhan Listrik
.
5.6.4.4 Suplai Darurat
5.6.4.5 Kondisi Lingkungan
...
5.6.5 Pemasangan Kabel Bawah Tanah
..
5.6.5.1 Umum .
5.6.5.2 Persilangan dan Pendekatan Kabel Tanah Dengan
Kabel Tanah Instalasi Telekomunikasi ....
5.6.5.3 Persilangan dan Pendekatan Kabel Tanah Dengan
Jalan Kereta Api dan Jalan Raya
....
5.6.5.4 Persilangan dan Pendekatan Kabel Tanah Dengan
Saluran Air dan Bangunan Pengairan ....
5.6.5.5 Pendekatan Kabel Tanah Dengan
Instalasi Listrik Diatas Tanah ....
5.6.5.6 Kabel Tanah yang Keluar dari Tanah
....

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

V-52
V-52
V-52
V-53
V-53
V-54
V-54
V-55
V-56
V-60
V-60
V-60
V-61
V-61
V-62
V-62
V-63
V-65
V-69
V-69
V-69
V-69
V-74
V-76
V-78
V-78
V-80
V-81
V-83
V-85
V-85
V-85
V-87
V-89
V-89
V-90
V-90
V-90
V-90
V-91
V-91
V-92
V-93
V-94
V-95
V-95

iv

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

BAB

5.7
5.8

Kriteria Perencanaan Telepon ..


Kriteria Perencanaan Lansekap.
5.8.1 Relasi antara Desain Tapak dengan Alam ...........................
5.8.2 Ruang Kawasan
5.8.3 Pohon/Tanaman Setempat dan Lokal ..................................

VI
6.1.

ANALISA PERHITUNGAN
Analisa Perhitungan Struktur Jalan
6.1.1. Data Yang Diperlukan
6.1.2. Standar Perencanaan
6.1.3. Penggunaan Nomogram.
6.1.4. Pelaksanaan
6.1.5. Bagan Alir Perencanaan Teknis Jalan ...
6.1.6. Flowchart Perencanaan Perkerasan Jalan Baru.
6.1.7. Data-data Teknis Perencanaan
6.1.8. Analisa Perhitungan Perencanaan Jalan Baru.
Analisa Perhitungan Drainase.
6.2.1. Tahapan Perhitungan..
6.2.1.1. Perhitungan Hidrologi dan Debit aliran (Q)..
6.2.1.2. Perhitungan dimensi saluran dan
bangunan pelengkap..
6.2.2. Bagan Alir Perhitungan..
6.2.3. Perhitungan Hidrologi dan Dimensi Saluran.
6.2.4. Perhitungan Volume Pekerjaan.
Analisa Perhitungan Air Bersih .
6.3.1. Proyeksi Jumlah Penduduk dan
Pengembangan Sistim Sarana Air Bersih..
6.3.2. Rencana Pengembangan Sistim Air Bersih Pedesaan...
Analisa Perhitungan Air Kotor
6.4.1. Jamban Umum
6.4.1.1. Bangunan Atas..
6.4.1.2. Bangunan Bawah..
6.4.1.3. Bidang Resapan
Analisa Perhitungan Persampahan.
Analisa Perhitungan Kelistrikan.
Analisa Perhitungan Telepon .
Analisa Perencanaan Lansekap Desa .
6.8.1. Rencana Pemilihan Lansekap
6.8.2. Rencana Lansekap..

6.2.

6.3.

6.4.

6.5.
6.6.
6.7.
6.8.

BAB

Laporan Perencanaan

VII

PENUTUP

7.1
7.2

Kesimpulan
Saran-saran

V-96
V-97
V-97
V-97
V-98

VI-1
VI-1
VI-1
VI-3
VI-4
VI-6
VI-7
VI-9
VI-9
VI-10
VI-10
VI-10
VI-11
VI-13
VI-15
VI-15
VI-16
VI-19
VI-20
VI-23
VI-23
VI-23
VI-25
VI-25
VI-26
VI-28
VI-29
VI-31
VI-31
VI-33

VII-1
VII-1

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 5.1.1.
Tabel 5.1.2.
Tabel 5.1.3.
Tabel 5.1.4.
Tabel 5.1.5.
Tabel 5.1.6.
Tabel 5.1.7.
Tabel 5.1.8.
Tabel 5.1.9.

Jumlah Jalur Berdasarkan Lebar Perkerasan

Koefisien Distribusi

Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan


Faktor Regional (FR)
Indeks Permukaan Pada Akhir, Umur REncana (IP)
Indeks Permukaan Pada Awal Umur REncana (IPo)
Koefisien Kekuatan Relatif (a) ..
Batas-batas Minimum Tebal Lapis Perkerasan
Nilai Kondisi Perkerasan Jalan
...........

V-8
V-8
V-9
V-12
V-13
V-13
V-14
V-16
V-17

Tabel 5.2.1.
Tabel 5.2.2.

Kecepatan aliran air yang diijinkan berdasarkan jenis material .


Hubungan kemiringan saluran samping jalan (i)
dan jenis material
.
Hubungan kemiringan saluran samping jalan (i)
dan jarak pematah arus (L)

Variasi fungsi periode ulang (Yt)


...........................................
Nilai Yang Tergantung Pada n ( Yn )
...........................................
Hubungan Deviasi Standar (Sn) dengan Jumlah Data (n) .
Hubungan kondisi permukaan dengan koefisien hambatan .
Hubungan kondisi permukaan tanah dan koefisien pengaliran ( C )..
Hubungan Kemiringan talud dan besarnya debit ..............................

V-37

Tabel 5.2.3.
Tabel 5.2.4.
Tabel 5.2.5.
Tabel 5.2.6.
Tabel 5.2.7.
Tabel 5.2.8.
Tabel 5.2.9.
Tabel 5.3.1.
Tabel 5.3.2.
Tabel 5.3.3.
Tabel 5.3.4.

V-37
V-38
V-41
V-42
V-43
V-45
V-46
V-48
V-54
V-57
V-58

Tabel 5.3.6.
Tabel 5.3.7.
Tabel 5.3.8.
Tabel 5.3.9.

Lebar Galian Yang Dianjurkan


Standar Untir Mur Pada Sambungan Pipa Flens .
Difleksi pada Tanah yang Lembek
..
Besar Sudut Defleksi Yang Diijinkan Untuk Sambungan Push Joint
Pada Tanah Keras
.
Besar Sudut Defleksi Yang Diijinkan Untuk Sambungan
Mechanical Joint Pada Tanah Keras

Kebocoran Yang Diijinkan/km saat Pengujian Pipa...


Bahan Pelapisan Pipa Baja dan Fitting
Spesifikasi Lebar Jacking Pit dan Lubang Penerima
.
Dimensi Rumah Meter Air
.

Tabel 5.4.1.
Tabel 5.4.2.
Tabel 5.4.3.
Tabel 5.4.4.

Alternatif Pemakaian Bahan Bangunan Untuk Tangki Septik ...


Type Jamban ...
Ukuran Septik Tank Berdasarkan Pemakai
...
Bidang Resapan
..

V-74
V-76
V-77
V-77

Tabel 5.5.1.
Tabel 5.5.2.

Jenis Peralatan dan Sumber Sampah


....
Jenis Peralatan
..

V-80
V-83

Tabel 5.3.5.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

V-59
V-59
V-60
V-60
V-61
V-63

vi

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Tabel 6.1.1.
Tabel 6.2.1.
Tabel 6.2.2.
Tabel 6.2.3
Tabel 6.2.4.
Tabel 6.2.5.
Tabel 6.2.6
Tabel 6.2.7.
Tabel 6.2.8.
Tabel 6.2.9.
Tabel 6.2.10.

Laporan Perencanaan

Data Teknis Perencanaan Jalan


Data hujan yang dipakai ..
Perhitungan parameter dasar statistik data hujan
Perbandingan hasil perhitungan statistik data hujan
dengan parameter sebaran standar. ..
Metode perhitungan hidrologi yang digunakan
Perhitungan Intensitas hujan
Perhitungan debit rencana tiap saluran
Perhitungan debit rencana komulatif saluran...
Perhitungan dimensi saluran
Rekapitulasi hasil perhitungan dimensi saluran...
Perhitungan elevasi dasar saluran

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

VI-#
VI-#
VI-#
VI-#
VI-#
VI-#
VI-#
VI-#
VI-#
VI-#
VI-#

vii

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1.

Potongan Melintang Jalan ...............................................................

III-2

Gambar 5.1.
Potongan Melintang Jalan

Gambar 5.1.1. Susunan Lapis Perkerasan Jalan


Gambar 5.1.2. Korelasi DDT dan CBR

III-2
V-6
V-11

Gambar 5.2.1.
Gambar 5.2.2.
Gambar 5.2.3.
Gambar 5.2.4.
Gambar 5.2.5.
Gambar 5.2.6.

Sistem Drainase Permukaan

Pematah Arus ..
Bagian Gorong-gorong

Tipe Penampang Gorong-gorong


...
Kurva Basis
..
Kemiringan Tanah
..

V-36
V-38
V-39
V-40
V-44
V-51

Gambar 5.5.1.
Gambar 5.5.2.
Gambar 5.5.3.
Gambar 5.5.4.
Gambar 5.5.5.
Gambar 5.5.6.
Gambar 5.5.7.

Bin atau Sampah yang Terbuat dari Plastik


..
Perletakan Wadah Sampah Non-Permanen
..
Armada Pengumpul Sampah Dengan Ukuran Kecil
.
Truk Pengangkut Sampah
.
Kontainer yang Terbuat dari Plastik/Fiber dan Logam ..
Perletakan Kontainer pada Tempat Tertutup
...
Skema Pengelolaan Sampah pada Kawasan Perumahan ..

V-78
V-79
V-81
V-81
V-82
V-83
V-83

Gambar 6.2.1. Kurva Basis hasil perhitungan Intensitas hujan..

VI-#

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

viii

DED Inrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Bab I
Pendahuluan
1.1.

Latar Belakang
Bencana Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember
2004, telah menyebabkan beberapa wilayah Kota/Kabupaten di Provinsi NAD telah
mengalami kerusakan berat yang diakibatkan oleh bencana tersebut. Kerusakan berat ini
terjadi hampir di seluruh sektor kegiatan perkotaan, pedesaan termasuk sarana dan
prasarana (infrastruktur) di tempat tersebut. Untuk mempercepat/menanggulangi kesulitan
masyarakat dalam mendapatkan pelayanan dari sarana dan prasarana yang hancur maka
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Propinsi Aceh-Nias telah membuat program
kegiatan guna mempercepat pemulihan atau merehabilitasi dan merekonstruksi kembali
sarana dan prasarana yang hancur tersebut.
Untuk merealisasikan percepatan pemulihan kondisi pedesaan tersebut, diperlukan adanya
tahapan-tahapan yang jelas dari Tahapan awal dengan perencanaan masterplannya sampai
dengan pelaksanaan fisiknya.
Untuk mendukung tahapan tersebut diperlukan adanya tindak lanjut melalui rencana Detail
Engineering Design (DED) yang sifatnya mendesak. Dengan penyusunan DED ini
diharapkan dapat menjadi pedoman dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana
dan prasarana yang hancur, sehingga masyarakat pedesaan tersebut dapat menikmati
kembali dan beraktifitas seperti semula.

1.2.

Maksud dan Tujuan


Maksud penyusunan DED adalah untuk menyusun program penanganan Infrastruktur
Perdesaan yang meliputi ;
1) Menyusun perencanaan teknis Desa untuk komponen Jalan, Drainase, Air Bersih,
Air kotor, Persampahan, Listrik, Telepon dan Lansekap.
2) Membuat Design Note untuk sistim terpilih
3) Mengukur topografi dan lainnya untuk seluruh komponen
4) Membuat gambar perencanaan untuk seluruh infrastruktur desa
5) Menyusun Rencana Anggaran Biaya
6) Menyusun Dokumen Tender

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

I-1

DED Inrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Adapun Tujuannya adalah mempercepat pemulihan kawasan pedesaan akibat gempa bumi
dan tsunami agar kondisi desa dapat berfungsi kembali seperti sedia kala dan memacu
terciptanya desa yang lebih baik dan lebih aman dari sebelumnya.
1.3.

Sasaran
Sasaran dari pekerjaan ini adalah tersusunnya suatu dokumen Detail Engineering Design
(DED) Infrastruktur Desa untuk Jalan, Drainase, Air Bersih, Air Kotor, Persampahan,
Listrik, Telepon dan Lansekap sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan.

1.4.

Lingkup Pekerjaan
Lingkup Pekerjaan Penyusunan DED Infrastruktur Desa ini meliputi 32 Lokasi desa yang
termasuk dalam penyusunan DED ini yang tersebar di beberapa kecamatan dan berada di 3
Daerah Tingkat II yaitu Kota Banda Aceh , Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh
Jaya.
Adapun tahapan pekerjaan adalah sebagai berikut :
i)

Survey Teknis

ii) Pengumpulan data pendukung


iii) Pemilihan Teknologi
iv) Analisa Perencanaan
v) Perhitungan Dimensi
vi) Perhitungan Estimasi Biaya
1.5.

Kebijakan dan Strategi Penanganan


Hampir 1/3 wilayah Propinsi Aceh mengalami bencana gempa bumi dan tsunami, maka
melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi pemerintah dalam hal ini Badan Rehabilitasi
dan Rekonstruksi Aceh-Nias melaksanakan pembangunan penyediaan prasarana dan sarana
yang hancur akibat bencana gempa dan tsunami.
Kebijaksanaan dalam rangka mendukung program tersebut diutamakan pada pemenuhan
kebutuhan prasarana dan sarana dasar.
Adapun strategi penanganan yaitu dalam proses penyusunan program kegiatan ini
dilaksanakan oleh Konsultan bersama masyarakat setempat, sedangkan peranan Pemerintah
hanya berupa bimbingan dan pembinaan teknis serta pengawasan dan pengendalian
program.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

I-2

DED Inrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Setelah program kegiatan berupa usulan kegiatan tersusun, maka tindak lanjut dari usulan
program kegiatan tersebut di sempurnakan oleh Konsultan untuk dibuat Detail Engineering
Design (DED). Dari DED itulah yang nantinya digunakan sebagai pedoman pelaksanaan
teknis dalam kegiatan fisik/konstruksi.
1.6.

Sumber Dana
Sumber dana kegiatan penyusunan Detail Engineering Design (DED) Infrastruktur Desa di
Propinsi NAD ini berasal dari APBN - P tahun 2006 yang dikoordinasikan dibawah Satuan
Kerja (Satker) Perencanaan Umum, Perencanaan Teknis dan Manajemen Rantai
Pengadaan, Bappeda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

I-3

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

BAB II
KONDISI EKSISTING
2.1. Jaringan Jalan
Jalan utama yang ada di Desa Gampong Baro merupakan jalan kolektor dengan lebar 4-5 m
yang menghubungkan Desa Gampong Baro dengan desa-desa sekitar serta merupakan akses
utama desa dari jalan arteri.
Jalan lingkungan yang berada di dalam desa memiliki lebar 3 m yang membentuk pola
jaringan internal pergerakan Desa Gampong Baro. Jalan lorong yang berada pada area
permukiman memiliki lebar 2 -3 m.
Sebelum terjadi bencana konstruksi perkerasan jalan kolektor menggunakan konstruksi
perkerasan aspal (penetrasi makadam). Setelah bencana mengalami kerusakan, dimana
konstruksi lapis perkerasannya terkelupas dan kontruksi pondasi jalannya terangkat
.Sedangkan jalan lingkungan dan jalan lorong masih berupa jalan tanah.
Tabel Kondisi Eksisting Jaringan Jalan Gampong Baro
No

Nama Jalan

Klasifik
asi

Leba
r
(m)

RO
W
(m)

Konstru
ksi

Kondisi Pasca
Tsunami

Jalan A

Utama

Aspal

Rusak

Jalan B, G, H, I, N

Tanah

Rusak sedang

Jalan C, D, E, F

Lokal
Lingkun
gan

Tanah

Rusak sedang

Jalan J, K, L

Lorong

Tanah

Rusak sedang

Tanah

Rusak

Tanah

Rusak sedang

Tanah

Rusak sedang

Dusun Melinteng
5

Jalan A

Jalan B

Utama
Lingkun
gan

Jalan C

Lokal

2.2. Drainase
Sistem drainase yang ada di Gampong Baro menggunakan sistem gravitasi, dimana pola
pengaliran air hujan dan air limbah (buangan) rumah tangga dari area tangkapan dialirkan
secara gravitasi ke tempat yang lebih rendah menuju ke saluran pembuang primer desa yang
ada di sekitar kawasan menuju ke areal persawahan. Jaringan drainase yang ada di Gampong
Baro berupa saluran sekunder di sisi jalan dengan lebar 0,5 m dengan konstruksi batu kali
yang berfungsi sebagai pengumpul air dari blok-blok kawasan untuk dialirkan menuju ke

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

II - 1

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

sungai dan areal persawahan. Setelah terjadi bencana kondisi konstruksi saluran drainase
mengalami kerusakan dan tertimbun lumpur.
2.3. Air Bersih
Sumber air bersih berasal dari sumur dangkal. Sebelum bencana kualitas air sumur masih
cukup baik. Oleh karena itu dapat digunakan sebagai sumber air minum dan kegiatan yang
membutuhkan air bersih lainnya. Setelah bencana kualitas air sumur mengalami penurunan,
yaitu air berasa asin.
2.4. Persampahan
Sampah di Gampong Baro berasal dari masing-masing rumah penduduk dan kantor atau
fasilitas umum. Sampah ini berupa sampah domestik yang bersifat organik dan mudah
membusuk. Baik sebelum maupun setelah bencana penanganan sampah tiap rumah dibuang
sendiri dengan ditimbun dan dibakar di halaman atau tanah kosong.
2.5. Air Limbah
Sarana sanitasi warga selama ini sudah menggunakan jamban umum dengan tangki septic
bantuan dari Oxfam, Jamban umum yang ada dibedakan antara pria dan wanita.
Kondisi eksisting sistem pembuangan air kotor Gampong Baro
Prasarana Pembuangan
Limbah

No

Jumlah (unit)

Kondisi Fisik

1.

Jamban Umum Pria

Jarak dengan sumur < 10 m

2.

Jamban Umum Wanita

Atap belum permanen

2.6. Listrik
Untuk infrastruktur listrik baik sebelum maupun sesudah bencana disediakan oleh PLN.
Sebelum tsunami jumlah rumah yang menggunakan fasilitas PLN mencapai 61 rumah tangga
(86%).
2.7. Telepon
Sebelum terjadi tsunami, kebutuhan telekomunikasi warga Gampong Baro dilayani oleh
jaringan telepon dari TELKOM. Jaringan kabel telepon dipasang dipinggir jalan menggunakan
tiang-tiang telepon.
Setelah terjadi tsunami kondisi jaringan telepon rusak dan terputus total.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

II - 2

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Bab III
Survey Topografi
3.1.

Umum

Yang dimaksudkan Survey Topografi disini adalah kegiatan di lapangan berupa pekerjaan
pengukuran trace jalan dan saluran drainase pada lokasi pekerjaan yang meliputi
pengukuran poligon dan sipat datar di seluruh lokasi pekerjaan. Adapun tujuannya adalah
untuk mendapatkan gambaran umum secara lengkap tentang kondisi lapangan baik kondisi
prasarana maupun teffrainnya.
Data topografi yang tersedia untuk lokasi rencana didapatkan dari peta masterplan hasil
perencanaan Desa (Village Planning).
Pekerjaan survey topografi ini meliputi pekerjaan pemasangan Benchmark (BM) sebagai
titik tetap, pengukuran titik kontrol vertikal dan horisontal, pembuatan tampang
memanjang dan melintang jalan dan saluran.

3.2.

Pemasangan Benchmark (BM)


Benchmark dibuat dari patok beton ukuran 20 cm x 20 cm x 100 cm yang terdiri dari
campuran semen, pasir dan batu split/kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3. Benchmark
dipasang di lokasi pekerjaan pada tempat yang mudah dijangkau untuk keperluan
pengukuran dan aman dari kemungkinan kerusakan akibat pelaksanaan pada masa
konstruksi ataupun paska konstruksi.
Setelah selesai pemasangan, patok BM tersebut diikatkan ke referensi BM yang sudah ada.
Jika di lokasi perencanaan tidak terdapat patok BM yang dapat digunakan sebagai
referensi, maka untuk menentukan elevasi patok BM digunakan koordinat lokal.

3.3.

Pengukuran Kerangka Horisontal (Poligon)


Pengukuran kerangka horisontal / Poligon ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
titik kontrol Horizontal (X ; Y) dari semua titik tetap (Bench Mark) dan titik-titik poligon
lainnya serta sebagai pengikat titik horizontal untuk keperluan pengukuran situasi dan
potongan melintang atau cross section.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

III - 1

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Pengukuran situasi dilakukan dengan metode Tachimetri dengan tujuan untuk


mendapatkan detail - detail permukaan tanah, bangunan, tumbuh-tumbuhan dan bendabenda lain di lokasi pekerjaan di sekitar jalan. Sebagai titik referensi pada pengukuran
situasi dipakai titik-titik poligon dari patok kayu dan untuk pelaksanaan digunakan alat
ukur theodolite dengan pengukuran jarak secara optis.
3.4.

Pengukuran Kerangka Vertikal


Pengukuran Waterpass (Sipat datar) dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan titik
kontrol vertikal (Z) dari semua titik tetap (Bench Mark) dan titik-titik poligon lainnya serta
sebagai pengikat titik tinggi untuk keperluan pengukuran situasi detail. Pengukuran
dilakukan dengan metode sipat datar menggunakan alat ukur waterpass.
Jalur pengukuran sipat datar utama mengikuti jalur pengukuran poligon sehingga dengan
demikian juga merupakan jaringan tertutup (kring). Pengukuran sipat datar dibuat perseksi
dimana tiap seksi dilakukan pengukuran pergi pulang dalam kurun waktu 1 (satu) hari.

3.5.

Potongan Melintang
Pembuatan potongan melintang jalan dan drainase dilakukan lebih utama untuk keperluan
perencanaan. Potongan melintang dilakukan tiap jarak 50 m dan untuk tikungan/belokan
tiap jarak 25 meter atau disesuaikan dengan kebutuhan.
Oleh karena itu data yang ditampilkan harus lengkap. Untuk potongan melintang jalan,
data yang ditampilkan adalah :
1. Elevasi as jalan
2. Elevasi tepi jalan
3. Elevasi dasar saluran tepi kiri
4. Elevasi dasar saluran tepi kanan
5. Jarak antar titik.

Gbr 3.1. Potongan melintang jalan


PT. WASTU WIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

III - 2

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

3.6.

Laporan Perencanaan

Penggambaran dan Buku Ukur


3.6.1.

Pengambaran
Penggambaran hasil pengukuran yang dilakukan adalah :
Pengambaran potongan memanjang jalan
Penggambaran Potongan melintang jalan skala 1 : 100

3.6.2.

Pembuatan buku ukur


Sebagai bentuk laporan akhir dari pekerjaan pengukuran ini, maka konsultan
menyusun Laporan hasil pengukuran berupa Laporan Penunjang (Pekerjaan
Pengukuran) yang berisi data-data asli dari pengukuran di lapangan maupun hasil
perhitungan di kantor dan gambar-gambar hasil perhitungan tersebut.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

III - 3

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

BAB IV
REVIEW PERENCANAAN DESA
4.1. Jalan dan Transportasi
Dusun Melinteng (Non Relokasi)
Perbaikan jalan (Overlay) yang mengalami kerusakan dengan aspal penetrasi

Jl. Utama lebar 5 m, ROW 9 m sepanjang 755 m.

Peningkatan jalan lokal dan peningkatan jalan lingkungan dari lapisan tanah/makadam
dengan aspal penetrasi.

Jl. Lingkungan B, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal G, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal H, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal I, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal N, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal M, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal C, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal D, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal E, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lokal F, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lorong J, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lorong K, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lorong L, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lorong O, lebar 4 m, ROW 9 m

Jl. Lorong P, lebar 4 m, ROW 9 m

Pelengkap jalan meliputi:

Saluran tepi jalan, yang difungsikan juga sebagai saluran drainase kawasan.

Lampu jalan, yang disesuaikan dengan penerangan kawasan

Dusun Pahlawansyah dan Dusun Krueng Remung (Relokasi)


Perbaikan jalan (Overlay) yang mengalami kerusakan dengan aspal penetrasi

Jl. Utama lebar 4 m, ROW 5,6 m sepanjang 755 m.

Jl. Lokal lebar 4 m, ROW 6 m sepanjang 294 m.

Peningkatan jalan lokal dan peningkatan jalan lingkungan dari lapisan tanah/makadam
dengan aspal penetrasi.

Jl. Mesjid Utama, lebar 5 m, ROW 6 m sepanjang 500 m.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

IV-1

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Jl. Lingkungan 2 m, ROW 3 m sepanjang 123 m.

Pelengkap jalan meliputi:

Saluran tepi jalan, yang difungsikan juga sebagai saluran drainase kawasan.

Lampu jalan, yang disesuaikan dengan penerangan kawasan

4.2. Drainase
Dusun Melinteng (Non Relokasi)
Pembangunan saluran drainase
Pembangunan saluran baru di kanan kiri jalan lingkungan, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri jalan lokal, dengan lebar 0,5 m.

Dusun Pahlawansyah dan Dusun Krueng Remung (Relokasi)


Pembangunan saluran drainase
Pembangunan saluran baru di kanan kiri jalan lokal B, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lokal G, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lokal H, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lokal I, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lokal N, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lokal M, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lingkungan C, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lingkungan D, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lingkungan E, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lingkungan F, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lorong J, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lorong K, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lorong L, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lorong O, dengan lebar 0,5 m.
Pembangunan saluran baru di kanan kiri Jl. Lorong P, dengan lebar 0,5 m.

4.3. Air Bersih

Jangka pendek
Sumber air minum desa Gampong Baro Relokasi untuk jangka pendek berasal dari
pembuatan sumur bor yang dialirkan ke kran umum, Kebutuhan air Desa Gampong Baro
Relokasi untuk jangka pendek sampai tahun 2007 adalah 7.710 l/hr

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

IV-2

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Jangka Panjang
Proyeksi kebutuhan air bersih warga Desa Gampong Baro Relokasi pada tahun 2016
adalah 0,59 l/dt untuk jangka panjang direncanakan adanya pembuatan sambungan
rumah sesuai dengan kemampuan dan keinginan warga setempat, dengan rencana
bangunan reservoir sebelum air didistribusikan ke warga dengan dimensi panjang 2 m,
lebar 2 m, tinggi 1 m dan free board 0,2 m.

4.4. Air Limbah


Untuk penanganan air limbah diterapkan rencana sebagai berikut:

Tahap awal bisa 1:50 dan ditingkatkan maksimum 20 orang pengguna untuk 1 jamban

Penggunaan jamban diatur oleh rumah-rumah tangga dan atau terpisahkan menurut jenis
kelamin

Jamban kolektif/umum dibersihkan atau dipelihara sedemikian rupa sehingga mereka


tetap digunakan oleh sasaran pengguna

Jamban berjarak tidak lebih dari 50 meter dari tempat tinggal

Pembangunan 5 jamban umum.


Sedangkan untuk jangka panjang diterapkan skenario setiap rumah mempunyai 1 WC.
Pembangunan jamban di masing-masing rumah harus memenuhi standar yang berlaku.

4.5. Persampahan
Dari proyeksi timbulan sampah dan pelayanan prasarana persampahan, maka program
pengelolaan persampahan sampai akhir tahun 2016 adalah:

Pengelolaan persampahan di Desa Gampong Baro non relokasi dan relokasi tidak
bergabung dalam sistem pengelolaan sampah kota karena lokasinya yang jauh dari pusat
kota.

Pengadaan 3 unit tong/bin sampah kapasitas 120 liter pada tahun 2006 dan meningkat
menjadi 4 buah pada tahun 2016.

Pengadaan 3 unit TPS kapasitas 1,5 m3 sampai dengan tahun 2016.

TPS di Desa Gampong Baro non relokasi tidak berfungsi sebagai tempat penampungan
sampah sementara, tetapi berfungsi sebagai tempat pembakaran sampah.

4.6. Listrik
Jangka Pendek

Penyediaan genset untuk suply tenaga listrik sesuai kebutuhan

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

IV-3

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tingkat kebutuhan daya listrik masing-masing rumah diasumsikan 100 watt (3 titik
lampu @ 25 watt = cadangan)

Kebutuhan daya listrik = jumlah Sambungan rumah (224 x 100 watt = 22400 watt)

Jumlah genset yang diperlukan adalah 2 unit (@ genset 20.000 watt),

Jangka Panjang

Penyediaan tenaga listrik melalui jaringan listrik PLN

Idealnya jaringan kabel listrik sistem jaringan distribusinya melalui jaringan bawah
tanah untuk menghindari kesan semrawut/tidak rapi dan pemasangan trafo pada setiap
jarak 50 s/d 100 m.

Kondisi jaringan direncanakan sedemikian rupa supaya teratur dan aman terutama di
pemukiman padat,

Lampu penerangan jalan ditempatkan pada beberapa ruas jalan, dimana ditempatkan
untuk tiang listrik dengan jarak diatur sedemikian dengan jalur lalu-lintas (jarak lampu
penerangan jalan tiap 20 m dan jarak lampu pedestrian tiap titik titik 10 m).

Penempatan jaringan direncanakan mengikuti jaringan jalan yang ada, dan ditanam di
bawah tanah, dengan pembagian klasifikasi dalam jaringan primer, sekunder dan
tersier.

7.7. Telepon
Untuk memenuhi kebutuhan telepon, jaringan yang melalui kawasan perencanaan agar
ditingkatkan baik jumlah maupun penyebarannya

sehingga dapat lebih merata dan

menjangkau seluruh kawasan. Kebutuhan akan prasarana telepon berdasarkan perkiraan


kebutuhan fasilitas telepon digunakan asumsi:

1 sambungan telepon dengan penduduk pendukung 10 jiwa

1 sambungan pelayanan umum dengan penduduk pendukung 100 jiwa

Sambungan telepon didasarkan pada standar yang berlaku. Penyediaan sambungan telepon
melalui jaringan PT. TELKOM. Jaringan kabel telepon menggunakan jaringan kabel yang
ditanam dalam tanah mengikuti rute sisi jalan guna mencapai pelanggan.
Jaringan tanpa kabel yaitu telepon tetap tanpa kabel (fixed wireless) atau juga disebut telepon
seluler, menggunakan satu menara pemancar / BTS (Base Transceiver System) yang bisa
mencakup area seluas 30 Km
Tabel Rencana Penanganan Telepon
No

Pekerjaan

Jenis

Type

Ukuran

Ket

Memakai Jaringan
kabel
dibawah

Disesuaikan dengan
standar Telkom

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

IV-4

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

tanah
2

Memakai jaringan
tanpa kabel (fixed
wireless)

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

Telepon
selular

CDMA

Disesuaikan operator
telepon yang masuk

IV-5

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Bab V
Kriteria Perencanaan
5.1.

Perencanaan Jalan
Jalan yang dimaksudkan dalam perencanaan ini adalah Jalan desa yaitu jalan yang dapat
dikategorikan sebagai jalan dengan fungsi lokal di daerah pedesaan. Artinya sebagai
penghubung antar desa atau ke lokasi pemasaran, sebagai penghubung antar hunian/
perumahan, juga sebagai penghubung desa ke pusat kegiatan yang lebih tinggi tingkatnya
(kecamatan).
Jalan Desa dibangun atau ditingkatkan untuk membangkitkan manfaat-manfaat untuk
masyarakat yang lebih tinggi tingkatnya seperti yang di bawah ini :

Memperlancar hubungan dan komunikasi dengan tempat lain,

Mempermudah pengiriman sarana produksi ke desa,

Mempermudah pengiriman hasil produksi ke pasar, baik yang di desa maupun yang
diluar dan,

Meningkatkan jasa pelayanan sosial, termasuk kesehatan, pendidikan dan penyuluhan.

Untuk pembuatan jalan desa dilakukan dengan meningkatkan jalan lama yang sudah ada.
Hal ini untuk menghindari banyaknya volume pekerjaan dan kesulitan pembebasan tanah.
Akan tetapi kadang-kadang tidak dapat dihindarkan untuk membuat jalan baru atau
peningkatan jalan setapak.
Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jalan baru antara lain :

Trase jalan mudah untuk dibuat.

Pekerjaan tanahnya relatif cepat dan murah

Tidak banyak bangunan tambahan (jembatan, gorong-gorong dan lain-lain)

Pembebasan tanah tidak sulit.

Tidak akan merusak lingkungan.

Yang perlu diperhatikan dalam peningkatan jalan lama antara lain :

Memungkinkan untuk pelebaran jalan.

Geometri jalan harus disesuaikan dengan syarat teknis.

Tanjakan yang melewati batas harus diubah sesuai syarat teknis.

System drainase dan pekerjaan tanah tidak akan merusak lingkungan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 1

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.1.1.

Laporan Perencanaan

Standar Teknis Jalan Desa


Standar standar di bawah ini disusun khusus untuk jalan desa, dengan keadaan tanah,
topografi, dan iklim yang sering menghambat pembuatan jalan yang baik. Standar ini tidak
dimaksud sebagai peraturan mati, tetapi diharapkan bermanfaat bagi para perancang dan
pengawas. Pengalaman dan penilaian mereka selalu harus diterapkan pada setiap desain
yang dibuatnya, karena setiap jalan mempunyai keadaan yang unik.
Pembangunan jalan di daerah pedesaan, selain perlu memperhatikan aspek teknis
konstruksi jalan, juga perlu mempertimbangkan aspek konservasi tanah mengingat kondisi
wilayah dengan topografi yang sering berbukit dan dengan tanah yang peka erosi.
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit erosi tanah yang berasal dari
jalan, khususnya berupa longsoran dari tampingan dan tebing jalan.
Tujuan pengendalian erosi pada jalan adalah utuk mengamankan jalan dan membangun
jalan yang tidak menjadi sumber erosi. Pengendalian erosi dapat dilakukan secara sipil
teknis atau secara vegetatif, dan masing-masing mempunyai kelebihan. Seorang perencana
harus memilih perlakuan pengendalian erosi dengan mempertimbangkan konservasi dan
biaya yang tidak terbatas pada waktu penyelesaian kontsruksi jalan, tetapi harus dipikirkan
sampai masa pemeliharaan. Kegiatan pengendalian erosi tidak dibatasi pada Daerah Milik
Jalan (Damija). Perencana wajib mempertimbangkan akibat konstruksi jalan di luar Daerah
Milik Jalan (misalnya, pembuangan dari saluran merusak lahan produktif) dan boleh
merencanakan perlakuan walaupun perlakuan tersebut agak jauh dari badan jalan (misalnya
untuk mengamankan jalan dengan ditanam pohon-pohon pada mini - catchment yang
terletak di atas jalan).
Tingginya curah hujan, lereng-lereng curam dan tanah rapuh menimbulkan banyak
kesulitan dalam perencanaan dan pembangunan jalan berkualitas tinggi, terutama bila
dimaksudkan untuk membangun jalan dengan biaya rendah dan tidak membahayakan
lingkungan. Dalam konteks seperti ini kita harus menyadari bahwa masalah erosi akan
terus muncul walaupun dapat dikurangi dan diatasi ketika terjadi.
Trase jalan harus dipilih untuk mengurangi masalah lingkungan misalnya dengan
mengurangi galian dan timbunan bilamana mungkin. Karena tidak mungkin di kawasan
perbukitan untuk menghilangkan masalah dengan pemilihan trase (dengan pemindahan
trase atau mengurangi tanjakan), maka perlu diusahakan teknik-teknik pengendalian erosi
termasuk pembangunan tembok Penahan Tanah dan bronjong atau penanaman bahanbahan vegetatif untuk menstabilkan lereng atau mengurangi erosi percik atau erosi alur
kecil.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 2

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.1.2.
5.1.2.1.

Laporan Perencanaan

Definisi, Singkatan dan Istilah


Jalur rencana adalah salah satu jalur lalu lintas dari suatu system jalan raya, yang
menampung lalu lintas terbesar. Umumnya jalur rencana adalah salah satu jalur dari jalan
raya dua jalur tepi luar dari jalan raya berjalur banyak.

5.1.2.2.

Umur Rencana (UR) adalah jumlah waktu dalam tahun dihitung sejak jalan tersebut
mulai dibuka sampai saat diperlukan perbaikan berat atau dianggap perlu untuk di beri
lapis permukaan yang baru.

5.1.2.3.

Indeks Permukaan (IP) adalah suatu angka yang dipergunakan untuk menyatakan
kerataan/kehalusan serta kekokohan permukaan jalan yang bertalian dengan tingkat
pelayanan bagi lalu lintas yang lewat.

5.1.2.4.

Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) adalah jumlah rata-rata lalu lintas kendaraan
bermotor beroda 4 atau lebih yang dicatat selama 24 jam sehari untuk kedua jurusan.

5.1.2.5.

Angka Ekivalen (E) dari suatu beban sumbu kendaraan adalah angka yang menyatakan
perbandingan tingkat kerusakan yamg ditimbulkan oleh suatu lintasan beban sumbu
tunggal kendaraan terhadap tingkat kerusakaan yang ditimbulkan oleh suatu lintasan
beban standar sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb).

5.1.2.6.

Lintas Ekivalen Permulaan (LEP) adalah jumlah lintasan ekivalen harian rata-rata dari
sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur yang diduga terjadi pada
permulaan umur rencana.

5.1.2.7.

Lintas Ekivalen Akhir (LEA) adalah jumlah lintas ekivalen harian rata-rata dari sumbu
tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana yamg diduga terjadi pada akhir
umur rencana.

5.1.2.8.

Lintas Ekivalen Tengah (LET) adalah jumlah lintas ekivalen harian rata-rata dari sumbu
tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb) pada jalur rencana pada pertengahan umur rencana.

5.1.2.9.

Lintas Ekivalen Rencana (LER) adalah suatu besaran yang dipakai dalam penetapan
tebal perkerasan untuk menyatakan jumlah lintas ekivalen sumbu tunggal seberat 8,16
ton (18.000 lb) pada jalur rencana.

5.1.2.10. Tanah Dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan
tanah timbunan, yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan
bagian-bagian perkerasan lainnya.
5.1.2.11. Lapis Pondasi Bawah adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan
tanah dasar.
5.1.2.12. Lapis Pondasi adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dengan
lapis pondasi bawah (atau dengan tanah dasar bila tidak menggunakan lapis pondasi
bawah).

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 3

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5.1.2.13. Lapis Permukaan adalah bagian perkerasan yang paling atas.


5.1.2.14. Daya Dukung Tanah (DDT) adalah suatu skala yang dipakai dalam nomogram penetapan
tebal perkerasan untuk menyatakan kekuatan tanah dasar.
5.1.2.15. Faktor Regional (FR) adalah faktor setempat, menyangkut keadaan lapangan dan iklim,
yang dapat mempengaruhi keadaan pembebanan, daya dukung tanah dasar dan
perkerasan.
5.1.2.16. Indeks Tebal Perkerasan (ITP) adalah suatu angka yang berhubungan dengan penentuan
tebal perkerasan.
5.1.2.17. Lapis Aspal Beton (LASTON) adalah merupakan suatu lapisan pada konstruksi jalan
yang terdiri dari agregat kasar, agregat halus, filler dan aspal keras, yang dicampur,
dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.
5.1.2.18. Lapis Penetrasi Macadam (LAPEN) adalah merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari
agregat pokok dengan agregat pengunci bergradasi terbuka dan seragam yamg diikat oleh
aspal keras dengan cara disemprotkan diatasnya dan dipadatkan lapis demi lapis dan
apabila akan digunakan sebagai lapis permukaan perlu diberi laburan aspal dengan batu
penutup.
5.1.2.19. Lapis Asbuton Campuran Dingin (LASBUTAG) adalah campuran yang terdiri dari
agregat kasar, agregat halus, asbuton, bahan peremaja dan filler (bila diperlukan) yang
dicampur, dihampar dan dipadatkan secara dingin.
5.1.2.20. Hot Rolled Asphalt (HRA) merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran antara
agregat bergradasi timpang, filler dan asphalt keras dengan perbandingan tertentu, yang
dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.
5.1.2.21. Laburan Aspal (BURAS) adalah merupakan lapis penutup terdiri dari lapisan aspal
taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 9,6 mm atau 3/8 inch.
5.1.2.22. Laburan Batu Satu Lapis (BURTU) adalah merupakan lapis penutup yang terdiri dari
lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam. Tebal
maksimum 20 mm.
5.1.2.23. Laburan Batu Dua Lapis (BURDA) adalah lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal
ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan. Tebal maksimum 35 mm.
5.1.2.24. Lapis Aspal Pondasi Atas (LASTON ATAS) adalah pondasi perkerasan yang terdiri dari
campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dicampur dan dipadatkan
dalam keadaan panas.
5.1.2.25. Lapis Aspal Beton Pondasi bawah (LASTON BAWAH) adalah pada umumnya
merupakan lapis perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar jalan yang

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 4

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dicampur dan
dipadatkan pada temperatur tertentu.
5.1.2.26. Lapis Tipis Aspal Beton (LATASTON) adalah lapis penutup yang terdiridari campuran
antara agregat bergradasi timpang, filler dan aspal keras dengan perbandingan tertentu
yang dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panaspada suhu tertentu. Tebal padat
antara 25 sampai 30 mm.
5.1.2.27. Lapis Tipis Aspal Pasir (LATASIR) adalah lapis penutup yang terdiri dari campuran
pasir dan aspal keras dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada
suhu tertentu.
5.1.2.28. Aspal Makadam adalah lapis perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dan/atau agregat
pengunci bergradasi terbuka atau seragam yamg dicampur dengan aspal cair, diperam
dan dipadatkan secara dingin.
5.1.3.

Batas-Batas Penggunaan
Penentuan tebal perkerasan dengan cara yang akan diuraikan hanya berlaku untuk
konstruksi perkerasan yang menggunakan material berbutir (granular material, batu pecah)
dan tidak berlaku untuk konstruksi yang menggunakan batu-batu besar (cara Telford atau
Pak laag)
Cara-cara perhitungan jalan, selain yang diuraikan disini dapat juga digunakan, asal saja
dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan hasil test oleh seorang ahli.

5.1.4.

Penggunaan
Petunjuk perencanaan ini dapat digunakan untuk :
-

Perencanaan perkerasan jalan baru (New Construction/Full Depth Pavement)

Perkuatan perkerasan jalan lama (Overlay)

Konstruksi bertahap (Stage Construction)

Khusus untuk penentuan tebal perkuatan perkerasan jalan lama, penggunaan nomogram 1
sampai dengan 9 (lampiran 1) hanya dapat dipergunakan untuk cara Analisa Lendutan
dibahas dalam Manual Pemeriksaan Perkerasan Jalan dengan Alat Benkelman Beam
No.01/mn/b/1983.
Perkuatan perkerasan lama harus terlebih dahulu dilakukan untuk meneliti dan mempelajari
hasil-hasil laboratorium. Penilaian ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab perencana
sesuai dengan kondisi setempat dan pengalamannya.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 5

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.1.5.

Laporan Perencanaan

Perkerasan Jalan
Bagian Perkerasan Jalan umumnya meliputi : Lapis Pondasi Bawah (Sub Base Course),
Lapis Pondasi (Base Course) dan Lapis Permukaan (Surface Course).
la p is p e rm u k a an

D1

la p is p o n d a si

D2

la p is p o n d a si b aw a h

D3

Gambar 5.1.1. Susunan Lapis Perkerasan Jalan


5.1.5.1. Tanah Dasar
Kekuatan dan ketahanan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat-sifat dan
daya dukung tanah dasar.
Umumya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut:
a) Perubahan bentuk tetap (Deformasi Permanen) dari macam-macam tanah tertentu
akibat beban lalu lintas,
b) Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air,
c) Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti daerah
dengan macam tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukan atau akibat
pelaksanaan,
d) Lendutan dan lendutan balik selama dan sesudah pembebanan lalu lintas dari
macam tanah tertentu.
e) Tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu lintas dan penurunan yang
diakibatkannya, yaitu pada tanah berbutir kasar (granular soil) yang tidak
dipadatkan secara baik pada saat pelaksanaan.
Untuk sedapat mungkin mencegah timbulnya persoalan diatas maka tanah dasar harus
dikerjakan sesuai dengan Peraturan Pelaksanaan Pembangunan Jalan Raya.
5.1.5.2. Lapis Pondasi Bawah
Fungsi lapis pondasi bawah antara lain ;
a) Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan
beban roda,

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 6

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

b) Mencapai efisiensi penggunaan material yang relative murah agar lapisan-lapisan


selebihnya dapat dikurangi tebalnya,
c) Untuk mencegah tanah dasar masuk kedalam lapis pondasi,
d) Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan dapat berjalan lancar.
Hal ini sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap roda-roda
alat-alat besar atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah
dasar dari pengaruh cuaca. Bermacam-macam tipe tanah setempat (CBR 20%, PI 10%)
yang relative lebih baik dari tanah dasar digunakan sebagai bahan pondasi bawah.
Campuran-campuran tanah setempat dengan kapur atau semen Portland dalam beberapa
hal sangat dianjurkan, agar dapat bantuan yang efektif terhadap kestabilan konstruksi
perkerasan.
5.1.5.3. Lapis Pondasi
Fungsi Lapis Pondasi antara lain :
a. Sebagai bahan perkerasan yang menahan beban roda
b. Sebagai perletakan terhadap lapis permukaan
Bahan-bahan untuk lapis pondasi harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan
beban-beban roda melalui lapis penutup. Sebelum menentukan suatu bahan untuk
digunakan sebagai bahan pondasi hendaknya dilakukan penyelidikan dan pertimbangan
sebaik-baiknya sehubungan dengan persyaratan teknik.
Bermacam-macam bahan alam/bahan setempat (CBR 50%, PI 4%) dapat digunakan
sebagai bahan lapis pondasi, antara lain : batu pecah, kerikil pecah dan stabilitas tanah
dengan semen atau kapur.
5.1.5.4. Lapis Permukaan
Fungsi lapis permukaan antara lain :
a. Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban roda
b. Sebagai lapisan kedap air untuk melindungi pondasi atas, bawah dan badan jalan
dari kerusakan akibat air
c. Sebagai lapisan aus (wearing course)
Bahan untuk lapis permukaan sama dengan bahan untuk lapis pondasi dengan persyaratan
yang lebih tinggi. Penggunaan bahan aspal diperlukan agar lapisan dapat bersifat kedap air,
disamping itu bahan aspal sendiri memberikan bantuan tegangan tarik yang mempertinggi
daya dukung lapisan terhadap beban roda lalu lintas.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 7

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Pemilihan bahan untuk lapis permukaan harus dipertimbangkan ketahanan kegunaan, umur
rencana serta pentahapan konstruksi, agar dicapai menfaat yang sebesar-besarnya dari
biaya yang dikeluarkan.
5.1.6.

Parameter Perencanaan

5.1.6.1.

Jumlah Jalur dan Koefisien Distribusi Kendaraan (C)


Jalur rencana merupakan salah satu jalur lalu lintas dari suatu ruas jalan raya yang
menampung lalu lintas terbesar. Jika jalan tidak memiliki tanda batas jalur maka
jumlah jalur ditentukan dari lebar perkerasan menurut daftar dibawah ini :
Tabel 5.1.1. Jumlah Jalur berdasarkan lebar perkerasan
Lebar Perkerasan ( L )

Jumlah Jalur ( n )

L < 5,50 m

1 jalur

5,50 m L < 8,25 m

2 jalur

8,25 m L < 11,25 m

3 jalur

11,25 m L < 15,00 m

4 jalur

15,00 m L < 18,75 m

5 jalur

18,75 m L < 22,00 m

6 jalur

Koefisien distribusi kendaraan ( C ) untuk kendaraan ringan dan berat yang lewat
pada jalur rencana ditentukan menurut daftar dibawah ini :
Tabel 5.1.2. Koefisien Distribusi
Kendaraan Ringan *)
Jumlah Jalur

Kendaraan Berat **)

1 arah

2 arah

1 arah

2 arah

1 jalur

1,00

1,00

1,00

1,00

2 jalur

0,60

0,50

0,70

0,50

3 jalur

0,40

0,40

0,50

0,475

4 jalur

0,30

0,45

5 jalur

0,25

0,425

6 jalur

0,20

0,40

*)

berat total < 5 ton, misalnya : mobil penumpang, pick up, mobil hantaran.

**)

berat total 5 ton, misalnya : bus, truk, traktor, semi trailler, trailler.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 8

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.1.6.2.

Laporan Perencanaan

Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan.


Angaka ekivalen (E) masing-masing golongan beban sumbu (setiap kendaraan)
ditentukan menurut rumus daftar dibawah ini :

beban satu sumbu

tunggal dalam kg

Angka ekivalen sumbu tunggal =

8160

ganda dalam kg
Angka ekivalen sumbu tunggal = 0,086

8160

Tabel 5.1.3. Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan


Beban Sumbu
Kg

Angka Ekivalen
Lb

Sumbu

Sumbu

Tunggal

Ganda

1000

2205

0,0002

2000

4409

0,0036

0,0003

3000

6614

0,0183

0,0016

4000

8818

0,0577

0,0050

5000

11023

0,1410

0,0121

6000

13228

0, 2923

0,0251

7000

15432

0, 5415

0,0466

8000

17637

0,9238

0,0794

8160

18000

1,0000

0,0860

9000

19841

1,4798

0,1273

10000

22046

2,2555

0,1940

11000

24251

3,3022

0,2840

12000

26455

4,6770

0,4022

13000

28660

6,4419

0,5540

14000

30864

8,6647

0,7542

15000

33069

11,4148

0,9820

16000

35276

14,7815

1,2712

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V- 9

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.1.6.3.

Laporan Perencanaan

Lalu Lintas Harian Rata-rata dan Rumus-rumus Lintas Ekivalen.


a. Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) setiap jenis kendaraan ditentukan pada awal
umur rencana, yang dihitung untuk dua arah pada jalan tanpa median atau masingmasing arah dengan median.
b. Lintas Ekivalen Permulaan (LEP) dihitung dengan rumus sebagai berikut :
n

LEP = LHR j x C j x E j
j =1

Catatan : j = jenis kendaraan


c. Lintas Ekivalen Akhir (LEA) dihitung dengan rumus :
n

LEA = LHR j (1 + i )

UR

j =1

xC j x E j

Catatan : i = perkembangan lalu lintas


j = jenis kendaraan
d. Lintas Ekivalen Tengah (LET) dihitung dengan rumus sebagai berikut :

LEP + LEA
LET =

e. Lintas Ekivalen Rencana (LER) dihitung dengan rumus sebagai berikut :

LER = LET x FP
Faktor Penyesuaian (FP) tersebut diatas ditentukan dengan rumus :

FP =

5.1.7.

UR
10

Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) dan CBR.


Daya dukung tanah dasar (DDT) ditetapkan berdasarkan grafik korelasi (gambar 5.1.2).
Yang dimaksud dengan harga CBR disini adalah harga CBR lapangan atau CBR
laboratorium.
Jika digunakan CBR lapangan maka pengambilan contoh tanah dasar dilakukan dengan
tabung (undisturb), kemudian direndam dan diperiksa harga CBR-nya. Dapat juga diukur
langsung di lapangan (musim hujan/direndam). CBR lapangan biasanya digunakan untuk
perencanaan lapis tambahan (overlay).

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 10

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Jika dilakukan menurut Pengujian Kepadatan Ringan (SKBI 3.3.30.1987/UDC. 624.131.43


(02) atau Pengujian Kepadatan Berat (SKBI 3.3.30.1987/UDC. 624.131.53 (02) sesuai
dengan kebutuhan.
CBR laboratorium biasanya dipakai untuk perencanaan pembangunan jalan baru.
Sementara ini dianjurkan untuk mendasarkan daya dukung tanah dasar hanya kepada
pengukuran nilai CBR. Cara-cara lain hanya digunakan bila telah disertai data-data yang
dapat dipertanggung jawabkan. Cara-cara lain tersebut dapat berupa : Group Index, Plate
Bearing Test atau R-value.
Harga yang mewakili dari sejumlah harga CBR yang dilaporkan, ditentukan sebagai
berikut :
a. Tentukan harga CBR terendah.
b. Tentukan berapa banyak harga CBR yang sama dan lebih besar dari masing-masing
nilai CBR.
c. Angka jumlah terbanyak ditentukan sebagai 100%. Jumlah lainnya merupakan
persentase dari 100%.
d. Dibuat grafik hubungan antara harga CBR dan persentase jumlah tadi.
e. Nilai CBR yang mewakili adalah yang didapat dari angka persentase 90%.

Gambar 5.1.2. Korelasi DDT dan CBR


Catatan : Hubungkan nilai CBR dengan garis mendatar kesebelah
kiri diperoleh nilai DDT.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 11

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5.1.7.1. Faktor Regional (FR).


Keadaan lapangan termasuk mencakup permeabilitas tanah, perlengkapan drainase, bentuk
alignment serta persentase kendaraan dengan berat 13 ton, dan kendaraan yang berhenti,
sedangkan keadaan iklim mencakup curah hujan rata-rata per tahun.
Mengingat

persyaratan

penggunaan

disesuaikan

dengan

Peraturan

Pelaksanaan

Pembangunan Jalan Raya edisi terakhir, maka pengaruh keadaan lapangan yang
menyangkut permeabilitas tanah dan perlengkapan drainase dapat dianggap sama. Dengan
demikian dalam penentuan tebal perkerasan ini, Faktor Regional hanya dipengaruhi oleh
bentuk alignemen (kelandaian dan tikungan), persentase kendaraan berat dan yang berhenti
serta iklim (curah hujan) sebagai berikut :
Tabel 5.1.4. Faktor Regional (FR)
Kelandaian I
( < 65% )
% kendaraan berat
30%

Kelandaian II
( 6 10 % )
% kendaraan berat
30%
> 30%

Kelandaian III
( > 10 % )
% kendaraan berat
30%
> 30%

Iklim I
0,5
1,0 1,5
1,0
1,5 2,0
1,5
2,0 2,5
< 900 mm/th
Iklim II
1,5
2,0 2,5
2,0
2,5 3,0
2,5
3,0 3,5
> 900 mm/th
Catatan : Pada bagian-bagian jalan tertentu, seperti persimpangan, pemberhentian
atau tikungan tajam (jari-jari 30 m) FR ditambah dengan 0,5. Pada daerah rawarawa FR ditambah dengan 1,0.
5.1.7.2. Indeks Permukaan (IP).
Indeks Permukaan ini menyatakan nilai daripada kerataan/kehalusan serta kekokohan
permukaan yang bertalian dengan tingkat pelayanan bagi lalulintas yang lewat. Adapun
beberapa nilai IP beserta artinya adalah seperti yang tersebut dibawah ini :
IP = 1,0 : adalah menyatakan permukaan jalan dalam keadaan rusak berat sehingga
Sangat menggangu lalu lintas kendaraan.
IP = 1,5 : adalah tingkat pelayanan terendah yg masih mungkin (jalan tidak terputus).
IP = 2,0 : adalah tingkat pelayanan rendah bagi jalan yang masih mantap.
IP = 2,5 : adalah menyatakan permukaa jalan masih cukup stabil dan baik.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 12

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Dalam menentukan indeks permukaan atau IP pada akhir umur rencana perlu
dipertimbangkan factor-faktor klasifikasi fungsional jalan dan jumlah lintas ekivalen
rencana (LER), menurut data dibawah ini :
Tabel 5.1.5. Indeks Permukaan Pada Akhir, Umur Rencana (IP)
LER = Lintas
Ekivalen
Rencana*)
< 10
10 100
100 1000
>1000

Klasifikasi Jalan
Lokal

Kolektor

Arteri

Tol

1,0 1,5
1,5
1,5 2,0
-

1,5
1,5 2,0
2,0
2,0 2,5

1,5 2,0
2,0
2,0 2,5
2,5

2,5

*) LER dalam satuan angka ekivalen 8,16 ton beban sumbu tunggal.
Catatan : Pada proyek-proyek penunjang jalan, JAPAT/Jalan Murah atau jalan darurat
maka IP dapat diambil 1,0
Dalam menentukan indeks permukaan pada awal umur rencana (IPo) perlu diperhatikan
jenis lapis permukaan jalan (kerataan/kehalusan serta kekokohan) pada awal umur rencana
menurut daftar dibawah ini :
Tabel 5.1.6. Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana (IPo)
Jenis Lapis Perkerasan

IPo

LASTON

4
3,9 3,5
3,9 3,5
3,4 3,0
3,9 3,5
3,4 3,0
3,9 3,5
3,4 3,0
3,4 3,0
2,9 2,5
2,9 2,5
2,9 2,5
2,9 2,5
2,4
2,4

LASBUTAG
HRA
BURDA
BURTU
LAPEN
LATASBUM
BURAS
LATASIR
JALAN TANAH
KERIKIL

Roughness *)
(mm/km)
1000
> 1000
2000
> 2000
2000
> 2000
< 2000
< 2000
3000
> 3000

*) Alat pengukur Roughness yang dipakai adalah roughometer NAASRA, yang dipasang
pada kendaraan standar Datsun 1500 stasiun wagon, dengan kecepatan kendaraan 32
km/jam.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 13

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Gerakan sumbu belakang dalam arah vertikal dipindahkan pada alat roughometer melalui
kabel yang dipasang ditengah-tengah sumbu belakang kendaraan, yang selanjutnya
dipindahakan kepada counter melalui Flexible drive.
Setiap putaran counter adalah sama dengan 15,2 mm gerakan vertikal antara sumbu
belakang dan body kendaraan.
Alat pengukur Roughness tipe lain dapat digunakan dengan mengkalibrasikan hasil yang
diperoleh terhadap roughometer NAASRA.
5.1.7.3. Koefisien Kekuatan Relatif ( a )
Koefisien Kekuatan Relatif (a) masing-masing bahan dan kegunaannya sebagai lapis
permukaan, pondasi, pondasi bawah, ditentukan secara korelasi sesuai nilai Marshall Test
(untukbahan dengan aspal), kuat tekan (untuk bahan yang distabilisasi dengan semen atau
kapur), atau CBR (untuk bahan lapis pondasi bawah).
Jika alat Marshall Test tidak tersedia, maka kekuatan (stabilisasi) bahan beraspal bias
diukur dengan cara lain seperti Hveem Test, Hubbard Field dan Smith Triaxial.
Tabel 5.1.7. Koefisien Kekuatan Relatif (a)
Koefisie Kekuatan Relatif
a1

a2

a3

Koefisien Kekuatan Bahan


MS

Kt

CBR

(kg)

(kg/cm)

(%)

Jenis Bahan

0,40

744

0,35

590

0,32

454

0,30

340

0,35

744

0,31

590

0,28

454

0,26

340

0,30

340

HRA

0,26

340

Aspal Macadam

0,25

Lapen (mekanis)

0,020

Lapen (manual)

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

Laston

Lasbutag

V - 14

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

0,28

590

0,26

454

0,24

340

0,23

Lapen (mekanis)

0,19

Lapen (manual)

0,15

22

Stab. Tanah dgn semen

0,13

18

0,15

22

0,13

18

0,14

100

Batu pecah (kelas A)

0,13

80

Batu pecah (kelas B)

0,12

60

Batu pecah (kelas C)

0,13

70

Sirtu/pitrun (kelas A)

0,12

50

Sirtu/pitrun (kelas B)

0,11

30

Sirtu/pitrun (kelas C)

0,10

20

Tanah/lempung

Laston Atas

Stab. Tanah dgn kapur

kepasiran
Catatan :

Kuat tekan stabilisasi tanah dengan semen; diperiksa pada hari ke 7. Kuat
tekan stabilisasi tanah dengan kapur diperiksa pada hari ke 21.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 15

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5.1.7.4. Batas-batas Minimum Tebal Lapis Perkerasan.


Tabel 5.1.8. Batas-batas Minimum Tebal Lapis Perkerasan
1. Lapis Permukaan.
ITP

Tebal

Bahan

Minimum (cm)
< 3,00

Lapis pelindung : (Buras/Burtu/Burda)

3,00 6,70

Lapen/Aspal Macadam, HRA, Lasbutag, Laston

6,71 7,49

7,5

Lapen/Aspal Macadam, HRA, Lasbutag, Laston

7,50 9 99

7,5

Lasbutag

10,00

Laston

2. Lapis Pondasi :
ITP

Tebal

Bahan

Minimum (cm)
< 3,00

15

Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,


stabilisasi tanah denan kapur

3,00 7,49

20*)

Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,


stabilisasi tanah denan kapur

7,50 9,99

10

Laston Atas

20

Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,


stabilisasi tanah denan kapur, pobdasi macadam
Laston Atas

10 12,14

15

Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,

20

stabilisasi tanah denan kapur, pobdasi macadam,


Lapen, Laston Atas
Batu pecah, stabilisasi tanah dengan semen,

12,25

25

stabilisasi tanah denan kapur, pobdasi macadam,


Lapen, Laston Atas.

*) batas 20 cm tersebut dapat diturunkan menjadi 15 cm bila untuk pondasi


bawah digunakan material berbutir kasar.
3. Lapis Pondasi Bawah.
Untuk setiap nilai ITP bila digunakan pondasi bawah, tebal minimum adalah 10 cm

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 16

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.1.8.

Laporan Perencanaan

Pelapisan Tambahan.
Untuk perhitungan pelapisan tambahan (overlay), kondisi perkerasan jalan lama (existing
pavement) dinilai sesuai daftar dibawah ini :
Tabel 5.1.9. Nilai Kondisi Perkerasan Jalan

1. Lapis Permukaan :
Umumnya tidak retak, hanya sedikit deformasi pada
jalur roda
Terlihat retak halus, sedikit deformasi pada jalur roda
Namun masih tetap stabil...
Retak sedang, beberapa deformasi pada jalur roda,
Pada dasarnya masih menunjukkan kestabilan..
Retak banyak, demikian juga deformasi pada jalur roda,
Menunjukkan gejala ketidak stabilan...

90 - 100 %
70 - 90 %
50 - 70 %
30 - 50 %

2. Lapis Pondasi :
a. Pondasi Aspal beton atau Penetrasi Macadam
Umumnya tidak retak, hanya sedikit deformasi pada
jalur roda .
Terlihat retak halus, sedikit deformasi pada jalur roda
Namun masih tetap stabil.
Retak sedang, beberapa deformasi pada jalur roda,
Pada dasarnya masih menunjukkan kestabilan
Retak banyak, demikian juga deformasi pada jalur roda,
Menunjukkan gejala ketidak stabilan...
b. Stabilisasi Tanah dengan Semen atau Kapur :
Indek Plastisitas (Plasticity Index = PI) 10 ..
c. Pondasi Macadam atau Batu Pecah :
Indek Plastisitas (Plasticity Index = PI) 6

80 100 %

3. Lapis Pondasi Bawah :


Indek Plastisitas (Plasticity Index = PI) 6
Indek Plastisitas (Plasticity Index = PI) > 6

90 100 %
70 100 %

5.1.9.

90 - 100 %
70 - 90 %
50 - 70 %
30 - 50 %
70 - 100 %

Konstruksi Bertahap.
Konstruksi bertahap digunakan pada keadaan tertentu, antara lain :
1. Keterbatasan biaya untuk pembuatan tebal perkerasan sesuai rencana (misalnya : 20
tahun). Perkerasan dapat direncanakan dalam dua tahap, misalnya tahap pertama untuk
5 tahun, dan tahap berikutnya untuk 15 tahun.
2. Kesulitan dalam memperkirakan perkembangan lalu lintas untuk jangka panjang
(misalnya : 20 sampai 25 tahun). Dengan adanya pentahapan, perkiraan lalu lintas
diharapkan tidak jauh meleset.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 17

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

3. Kerusakan setempat (weak spot) selama tahap pertama dapat diperbaiki dan
direncanakan sesuai data lalu lintas yang ada.
5.1.10. Pertimbangan Drainase
Air adalah musuh jalan yang paling kuat. Jalan menjadi jelek jika badan jalan tidak cepat
kering sehabis hujan. Jalan menjadi terputus apabila air dibiarkan merintangi permukaan
jalan. Jalan menjadi rusak apabila air dibiarkan mengalir ditengah jalan. Jalan menjadi
bergelombang apabila pondasi jalan tidak kering.
Perbaikan masalah di atas cukup mahal dan sulit, tetapi masalah seperti ini dapat dihindari
apabila masalah drainase dipertimbangkan pada waktu pra survey. Di tempat tertentu, tidak
akan ada masalah drainase. Ditempat lain, jalan hamper pasti mengalami masalah berat.
Pertimbangan yang paling sederhana adalah sebagai berikut :
Jalan yang dapat mengikuti punggung bukit tidak akan
mengalami drainase, karena air tidak perlu melintang
jalan.
Jalan yang dibuat pada lereng bukit, terpaksa
harus ada galian dan timbunan tanah, selokan
pinggir

jalan,

talud,

gorong-gorong

dan

sebagainya, dengan biaya konstruksi yang lebih


besar. Kemungkinan terkena erosi dan longsor
yang lebih besar.
Keadaan seperti ini harus dihindari
karena masalah drainase (pembuangan)
air. Kemungkinannya jalan tidak bisa
dikeringkan.

5.1.11. Geometri Jalan


Jalan direncanakan untuk kecepatan 15 s/d 20 Km/jam.
Pandangan bebas harus diperhatikan demi keselamatan pemakai jalan, baik kendaraan
maupun pejalan kaki. Tikungan vertical dengan pandangan bebas 30 meter.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 18

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tikungan horizontal dibuat dengan pandangan bebas 30 meter.

B U K IT

1 0 M e te r

Jari jari tikungan minimal 10 meter. Tikungan tajam dibuat dengan pelebaran perkerasan
dan kemiringan melintang miring ke dalam.
5.1.12. Tempat Persimpangan
Perkerasan yang hanya selebar tiga meter kurang lebar untuk dua kendaraan saling
melewati, maka harus disediakan tempat sebuah kendaraan dapat menunggu kendaraan
berjalan dari lain arah. Setiap tempat ini harus kelihatan dari tempat yang sebelumnya.

B U K IT
D a p a t d ilih a t
Tem pat 2

D a p a t d ilih a t
Tem pat 1

3 ,0 0 m

JA LA N
1 ,5 0
m in im a l

3
6

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 19

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5.1.13. Tanjakan Jalan


Tanjakan membatasi muatan yang dapat diangkut pada suatu jalan, serta membuat jalan
lebih berbahaya. Jalan yang sangat curam juga lebih sulit untuk dipadatkan dengan mesin
gilas, dan permukaan jalan dan saluran air lebih sering harus dipelihara dan diperbaiki.
Pengukuran tanjakan adalah dengan rumus jumlah meter naik per setiap seratus meter
horizontal (10 meter naik per 100 meter horizontal sama dengan tanjakan 10 %).

7
100
Panjang tidak dibatasi

Untuk meningkatkan penggunaan jalan serta keselamatan, pilih trase jalan supaya
tanjakkan tidak terlalu curam. Jika jalan menanjak terus, tanjakan maksimal dibatasi 7
%.

Pada bagian pendek, tanjakkan dibatasi 20 %. Setelah 150 meter, harus disediakan
bagian datar atau bagian menurun.

Apabila trase jalan belum memenuhi persyaratan ini, seharusnya dipindahkan supaya
trasenya lebih ringan.

20
100
Panjang maksimal 150 meter

5.1.14. Tikungan pada Tanjakan Curam


Di daerah perbukitan sering dijumpai jalan yang menanjak dengan kemiringan yang cukup
berat diatas 10%. Apabila terdapat tikungan tajam di daerah tersebut, jalan harus dibuat
seperti tercantum dalam gambar di bawah ini:

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 20

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

P e rke ra sa n d ip e rle b a r p ad a
tiku n g a n , m e n ja d i 4 + m e ter
SALU R

AN DAR
I ATAS

AWAH
SALURAN KE B

T iku n g a n d ib u a t p a d a b ag ia n d ata r
u n tu k m e m p e rm u d a h p e rja la n a n
b a g i ya n g n a ik a ta u tu ru n

D a ta r

Pembangunan air dari saluran pinggir jalan supaya air tidak melintangi jalan dan
mengganggu kendaraan :

Saluran dari atas diteruskan lurus ke depan dan airnya dibuang jauh dari jalan.

Saluran pada jalan bagian bawah dimulai di luar bagian datar (sesudah tikungan).

5.1.15. Bentuk Badan Jalan


Jalan harus dibuat dengan bentuk yang tepat. Pada keadaan biasa, bentuk jalan dibuat
seperti gambar yang ada di bawah ini. Pada daerah yang relative datar, badan jalan dibuat
dengan bentuk punggung sapi.

U k u ra n M in im a l
4 ,0 0
3 ,0 0

0 ,5 0

1
K e m irin g a n 4 -5 %

S a lu ra n P in g g ir

Perkerasan dengan lebar 3 meter adalah perkerasan standar pada proyek ini. Tetapi dapat
dibuat perkerasan yang lebih sempit (2,50 m) jika kebutuhan tersebut hanya untuk
melewatkan kendaraan-kendaraan kecil, sedangkan kebutuhan panjang jalannya lebih
diutamakan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 21

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Jika situasi mengijinkan, jalan dibuat dengan ukuran lebih besar daripada ukuran minimal.
Perkerasan dipasang selebar 4,00 meter untuk memudahkan arus lalu lintas dua arah. Bahu
jalan dibuat selebar 1,00 meter kiri kanan jalan, maka lebar badan jalan menjadi 6,00
meter.
Permukaan jalan dan bahu dibuat miring ke saluran pingir jalan. Di daerah yang relatif
datar, dibentuk seperti punggung sapi (lebih tinggi 6-8 cm di tengah; jika punggung sapi
kelihatan dengan mata telanjang berarti sudah cukup miring untuk drainase). Pada
tikungan, jalan dibuat miring ke dalam demi kenyamanan dan keselamatan. Pada jurang,
permukaan dibuat miring ke arah bukit dan saluran, demi keselamatan dan drainase.
Ukuran saluran dan perlindungan saluran akan dibahas pada Sub bab 5.3. Ukuran minimal
adalah 50 (dalam) x 30 (lebar dasar) dengan bentuk trapezium atau persegi panjang.
Saluran tidak diperlukan apabila terdapat kemiringan asli lebih dari 1% yang membawa air
ke arah luar dari jalan.
Disarankan kemiringan tebing 1:1 karena semakin landai tanah semakin stabil dan tanaman
tidak dapat tumbuh dengan baik pada tebing yang hampir vertikal. Tebing gundul perlu
dilindungi dengan salah satu cara efektif dan efesien, antara lain : pembuatan teras, saluran
diversi, penanaman rumput atau perdu, lapisan batu kosong, pemasangan batu, dan
bronjong kawat.
5.1.16. Bentuk Badan Jalan di Daerah Curam
Konstruksi jalan di daerah perbukitan perlu perhatian khusus untuk menjamin stabilitas,
untuk mengurangi longsor dan erosi, dan demi keselamatan.

1
1,5

4 m eter
m aksim al

1
2
4,00

1,50 m eter
m aksim al
1
2

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 22

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Ukuran saluran minimal 50 cm dalam x 30 cm lebar dasar, bentuk trapezium.


Badan jalan di daerah curam miring ke arah bukit dan saluran pinggir jalan.
Kemiringan tebing maksimal 2:1, dan dilindungi dengan cara yang efektif. Galian atau
keprasan maksimal disarankan 4,00 meter. Tanah yang digali harus dibuang secara aman
untuk mencegah erosi dan longsor.
Karena timbunan sulit dipadatkan secara padat karya, disarankan perkerasan tidak dibuat di
atas timbunan baru. Karena masalah stabilitas, timbunan maksimal dibatasi 1,50 meter.
Timbunan tinggi sering mangalami longsor dan erosi berat.
Lereng asli dengan kemiringan lebih dari 1:1,5 (33,7, atau 67%) tidak dapat dibuat sesuai
dua standar yang terakhir (seperti yang digambar di atas: lebar badan jalan 3 meter, dua
bahu, satu saluran, galian maksimal 4 meter dengan tebing 1:1 dan timbunan 1,5 meter
dengan tebing 2:1).
5.1.17. Permukaan Jalan
Tebalnya lapisan batu belah ditentukan sesuai dengan kebutuhan setempat (tergantung
jenis dan frekuensi lalu lintas) dan kesediaan batu. Biasanya batu belah dipasang dengan
ukuran 8/15 cm untuk lapisan 15 cm atau ukuran 15/20 untuk lapisan 20 cm.
Lapisan batu dapat diganti dengan lapisan sirtu (pasir campur batu, tebal 20 cm), terutama
di daerah yang kesulitan batu dan mempunyai tanah dasar yang tidak stabil.
Lapis pondasi dibuat dari batu belah/pecah hitam atau batu belah/pecah putih yang bersifat
keras serta mempunyai minimal tiga bidang pecah.

0,50

1,50

Tanah+pasir
Batu kunci
0,015 minimal

Rumput
Kemiringan 4-5%

Pasir

Batu pinggir ditanam


Tanah asli dipadatkan belah
Batu belah

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

0,05
minimal
As Jalan

V - 23

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tanah asli di bawah permukaan (pondasi) dipadatkan oleh mesin gilas, stemper, atau
timbres dengan kemiringan yang direncanakan untuk permukaan.
Lapisan paling bawah adalah lapisan pasir yang menjadi alas batu, untuk memudahkan
pemasangan batu permukaan dengan rata dan rapi.
Batu harus dipasang dan ditanam dengan teliti supaya permukaan rata dan rapi. Batu harus
berdiri tegak lurus dengan as jalan (melintang), ujung yang lebih runcing ke atas (kalau
runcing kebawah, batu yang dibebani akan tembus lapisan pasir dasar ).Disisipkan batu
kecil sebagai pengunci pada permukaan.
Lapisan paling atas terdiri dari campuran pasir dengan tanah yang terpilih. Tanah liat tidak
boleh dipergunakan. Pasir laut tidak boleh digunakan sebagai pasir urug. Sebagai alternatif,
lapisan atas dapat dibuat dari sirtu atau krosok dengan tebalnya 2 cm.
Sebagai langkah terakhir, dipadatkan dengan mesin gilas roda besi sambil permukaan
disempurnakan.
Khusus untuk tikungan tajam, permukan dibuat miring ke dalam, dengan kemiringan
maksimal 10 %. Hal ini untuk membuat tingkat pelayanan jalan selalu sama baik di jalan
lurus maupun di tikungan. Perkerasan diperlebar 50 cm pada bagian dalam tikungan.
5.1.18. Bahu Jalan
Bahu jalan berfungsi sebagai pelindung permukaan jalan dan sebagai perantara aliran air
hujan yang ada dipermukaan jalan menuju saluran pinggir dengan lancar. Bahu jalan juga
berfungsi sebagai tempat pemberhentian sementara bagian kendaraan. Bahu jalan tidak
boleh dilupakan dalam pelaksanaan jalan desa.
Adapun persyaratan teknis untuk bahu jalan adalah sebagai berikut :

Bahu jalan dibuat di sebelah kiri dan sebelah kanan sepanjang jalan, dengan lebar
minimal 50 cm.

Bahu harus dibuat dengan kemiringan sedikit lebih miring dari pada kemiringan
permukaan jalan, biasanya 6 8 % (sama dengan turun 3-4 cm persetiap 50 cm lari),
demi kelancaran pembuangan air hujan.

Bahan untuk bahu sebaiknya terdiri dari tanah yang dapat ditembusi air, sehingga
pondasi jalan dapat dikeringkan melalui proses rembesan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 24

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tanah pada bahu harus dipadatkan (lihat penjelasannya dalam sub bab pemadatan
tanah)

Ada baiknya kalau rumput ditanam disebelah luar bahu, dimulai sekitar 20 cm dari
pinggir. Rumput tersebut akan membantu stabilisasi pinggir jalan, tetapi harus
dipangkas secara rutin supaya tidak terlalu tinggi.

Penanaman perdu atau pohon diharapkan diluar bahu (dan saluran, bila ada). Tanaman
tersebut akan membantu stabilitas timbunan baru, tetapi tidak boleh terlalu dekat
dengan jalan.

5.1.19. Pemadatan Tanah


Tanah pada bagian galian tidak perlu dipadatkan lagi kecuali pernah mengalami gangguan
yang mengakibatkan tanah menjadi kurang padat. Sebelum kegiatan pemasangan
perkerasan jalan, semua daerah timbunan harus dipadatkan dengan mesin gilas, stemper,
atau timbrisan.
Pemadatan ini sangat membantu menjaga stabilitas dan daya tahan badan jalan. Jalan yang
tidak dipadatkan juga lebih mudah terkikis oleh pengaliran air, dan mudah terkena air dan
longsor.
Kadar air harus optimal sebelum dipadatkan. Kadar optimal adalah sedikit basah, tetapi
kalau digenggam tidak ada air mengalir ke luar. Tanah biasa yang terlalu basah tidak dapat
dipadatkan. Tanah yang terlalu kering memerlukan tenaga jauh lebih banyak untuk
dipadatkan.
Pemadatan harus secara lapis demi lapis, dengan setiap lapis maksimal 20 cm. Bila
dipadatkan dengan lapisan yang lebih tebal, bagian dalam kurang padat.
Pemadatan secara mesin dapat dilaksanakan dengan stemper atau dengan mesin gilas yang
berukuran 4-6 ton. Mesin gilas 2 ton bergetaran dianggap sama dengan mesin biasa
berukuran 4-6 ton. Mesin gilas 6-8 ton dapat digunakan apabila dapat masuk lokasi.
Pemadatan secara padat karya dilaksanakan dengan timbris.
Untuk daerah dimana tempat tanah dasarnya jelek, maka badan jalan harus diadakan
perkuatan, misalnya cerucuk atau stabilizer.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 25

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5.1.20. Perlindungan Tebing


Tebing jalan merupakan bagian jalan yang sering menjadi masalah karena longsoran atau
erosi tanah. Ada beberapa jalan yang sering menjadi masalah karena longsoran atau erosi
tanah. Ada beberapa cara yang dapat digunakan demi stabilitas tebing. Cara tersebut dapat
digunakan secara tunggal atau misalnya dibuat saluran diversi, diteras dan ditanami
rumput.
Dibawah ini dibahas jenis-jenis perlindungan yang dapat diterapkan pada tebing jalan.
1. Saluran diversi digunakan untuk menangkap air yang mengalir dari lereng di atas
menuju tebing, supaya air tidak terbuang melalui tebing. Isi saluran diversi harus
dibuang ke tempat yang lebih aman. Apabila air mengalir dengan cepat, saluran diversi
harus dilindungi dengan pasangan batu, batu kosong, rumput atau terjunan seperti
saluran-saluran yang lain. Saluran diversi digunakan terutama untuk tebing tempat
puncak lereng masih jauh di atas tebing jalan.
2. Teras bangku

sangat layak untuk tebing, asal lahan dapat dikorbankan untuk

membentuk teras dan jenis tanah dapat dibentuk dengan stabil. Teras dibuat sejajar
dengan kontur ( hampir datar, dengan kemiringan maksimal 2 % ). Setiap 10 meter lari,
air diterjunkan dari saluran teras ke bawah, dan penerjunan harus diperkuat seperti
bangunan terjun yamg lain. Teras dibuat dengan lebar minimal 50 cm dan tinggi
maksimal 1,00 meter.
3. Talud pasangan batu relative kuat, tetapi relatif mahal. Pasangan batu harus diberikan
suling untuk membuang air tanah dari belakang tembok. Ujung suling haruis diberi
saringan kecil dari ijuk. Pasangan batu harus dibuat dengan pondasi yang tidak akan
bergerak, karena pasangan batu tidak fleksibel sama sekali. Ukuran bawah pasangan
batu harus disesuaikan dengan Standar Bina Marga, maka perlu nasehat teknis.

SALURAN DRAINASE

IJUK
SULING

JA LAN

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 26

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

4. Bronjong adalah cara yang kuat dan cukup fleksibel, tetapi relative mahal. Supaya
posisi bronjong stabil dan tidak lari, pancangan diberikan pada tingkat bronjong yang
paling bawah, dengan jarak setiap 1-1,5 m dan ukuran pancangan 12-15 cm.
Dipancang sampai lapisan tanah atau batu yang keras.
Bronjong dibuat lapis demi lapis dan disambung, tetapi setiap lapis (baris) harus
dibuat datar ( sama tingginya ).
Bronjong digunakan untuk menahan timbunan baru atau melindungi tebing dari arus
air. Ukuran bronjong harus sesuai dengan Standar Bina Marga, maka perlu nasehat
teknis.

Gbr. Pengaman tebing dari bronjong.


5. Saluran air yang ada di kaki perlakuan batu kosong, pemasangan batu, atau bronjong
sebaiknya dilindungi talud pasangan batu, terutama pada tanah yang peka erosi.
6. Cara perlindungan yang relative efektif dan murah adalah cara vegetatif. Dengan cara
vegetatif, berbagai jenis tanaman digunakan untuk menambah stabilisasi tebing dan
untuk mencegah erosi.
5.1.21. Saluran Pinggir Jalan
Saluran pinggir jalan yang berdekatan dengan bahu jalan diperlukan di sebelah kiri dan
kanan jalan, kecuali :
a. Jalan yang dibuat di punggung bukit, tidak perlu saluran sama sekali.
b. Jalan yang dibuat di lereng bukit, tidak perlu saluran di sebelah luarnya.
c. Badan jalan diurug lebih dari 50 cm

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 27

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Pada keadaan biasa, setiap saluran harus berukuran 50 cm (dalam) x 30 cm (lebar dasar)
seperti yang diatas, dengan bentuk trapezium (lebar atas 50 cm). Saluran dibuat lebih besar
apabila diperkirakan debit air yang harus dibuang sangat besar.
Saluran dibuat sejajar dengan jalan, dan dasar saluran harus dibuat dengan kemiringan
sangat rendah untuk mengendalikan kecepatan aliran. Kecepatan tinggi menyebabkan erosi
tanah, maka perlu terjunan atau pasangan apabila kecepatan aliran air terlalu cepat. Tidak
benar jika dasar saluran datar, karena air tidak akan mengalir sama sekali. Ketinggian dasar
saluran harus lebih rendah daripada lapisan pasir yang ada di bawah batu perkerasan, demi
kelancaran proses perembesan dan pengeringan.
Saluran yang peka erosi perlu dilindungi. Perlindungan terdiri dari penguatan talud dan
dasar saluran serta pemberian bangunan drop struktur. Tujuan perlindungan saluran adalah
untuk mengurangi erosi tanah pada saluran supaya saluran tetap berfungsi dan jalan tidak
terkikis. Jenis perlindungan terdiri dari rumput (gebalan), turab, batu kosong, atau
pasangan. Bronjong dapat digunakan terutama pada tikungan di tanah yang sangat peka
erosi.
Jenis perlindungan dipilih setelah dipertimbangkan :
1. Kemiringan saluran dan kecepatan air
2. jenis tanah (harus yang peka erosi)
3. perubahan arah pengaliran pada belokan
4. debit air
5.1.22. Gorong-Gorong
Gorong-gorong adalah jenis bangunan yang berfungsi untuk mengalirkan air yang harus
melewati di bawah permukaan jalan.
Gorong-gorong diperlukan jika :
o

Terdapat sungai kecil atau saluran irigasi melewati jalan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 28

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Kapasitas saluran pinggir kurang mengalirkan volume air yang diperkirakan, dan
air harus melewati jalan untuk dibuang.

Saluran pinggir jalan memotong jalan lain pada persimpangan.


Gorong

JALAN

Di daerah perbukitan, setiap tempat terendah pada profil jalan. Kebutuhan ini dapat
dilihat pada gambar di bawah ini:

X = Lokasi yang salah


O = Lokasi yang betul
Tiap gorong-gorong dilengkapi bak penampungan air dan bak pembuang di ujungnya,
demi kelancaran pengaliran air dan untuk mencegah erosi.
Untuk mengurangi erosi, aliran alamiah tidak digangu. Baik di denah maupun di profil
kedua ujung gorong-gorong mengikuti garis aliran yang alamiah. Jika garis alamiah tidak
diikuti, saluran dan bak harus dilindungi.
Garis Aliran

Gorong gorong

J AL A N

Garis Aliran

Badan Jalan

Jenis gorong-gorong yang layak untuk jalan desa adalah gorong-gorong :


1. Buis beton (bulat), dengan ukuran garis tengah 40 cm sampai dengan 100 cm.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 29

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

2. Plat beton yang dibuat dengan pondasi dari pasangan batu dan lantai dari beton
bertulang, berukuran sisi layak di mana buis beton tidak ditanam cukup dalam.
3. Boog duiker, yang dibuat dari batu belah dan berukuran 40 s.d 60 cm.
4. Gorong-gorong kayu, dengan dimensi lebar minimal 0,60 m, lebar maksimal 1,00
m, dan tinggi minimal 0,60 m (untuk pemeliharaan).
Gorong-gorong buis beton, boog duiker, atau kayu harus ditanam supaya ada lapisan tanah
diatasnya minimal 30 cm atau setengah ukuran garis tengahnya, seperti gambar di bawah
ini :
ARUS LALU LINTAS

BUIS BETON

Keterangan gambar :
-

Lapisan batu permukaan jalan

Lapisan pasir di bawah batu

Jarak antara buis beton dan batu minimal setengah ukuran buis beton

Lapisan tanah yang dipadatkan lapis demi lapis. Tanah ini tidak boleh mengandung
batu.

Lapisan pasir di bawah buis beton.

Lapisan batu sebagai pondasi gorong-gorong buis bneton.

Dasar gorong-gorong dibuat dengan kemiringan 2% untuk memperlancar aliran air.


Ukuran gorong-gorong tergantung debit air yang akan mengalir.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 30

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

a. Luas lahan yang dapat dikeringkan gorong-gorong buis beton dan plat beton
diperkirakan sebagai berikut :
Luas lahan yang dapat dikeringkan di daerah pegunungan (kemiringan di atas 12 %) :
Buis beton :
40 cm - 0,5 ha
50
- 1,0
50
- 1,5
80
- 3,5
100
- 7,5

Plat beton :
60 X 60 cm - 2,5 ha
60 X 75 cm - 3,0 ha
75 X 75 cm - 4,5 ha
75 X 100 cm - 6,5 ha
100 X 100 cm - 7,5 ha

Luas lahan yang dapat dikeringkan di daerah berbukit (kemiringan 5 12 %):


Buis beton :
40 cm - 1,0 ha
50
- 2,5
60
- 4,0
80
- 9,5
100
- 17

Plat beton :
60 X 60 cm - 6 ha
60 X 75 cm - 8 ha
75 X 75 cm - 11 ha
75 X 100 cm - 16 ha
100 X 100 cm - 23 ha

Luas lahan yang dapat dikeringkan di daerah datar (kemiringan dibawah 5 %):
Buis beton :
40 cm - 5,0 ha
50
- 9,5
60
- 15
80
- 33
100
- 60

Plat beton :
60 X 60 cm - 21 ha
60 X 75 cm - 28 ha
75 X 75 cm - 38 ha
75 X 100 cm - 56 ha
100 X 100 cm - 82 ha

b. Luas lahan yang dapat dikeringkan gorong-gorong boog duiker dan kayu
diperkirakan sebagai berikut :
Luas lahan yang dapat dikeringkan di daerah pegunungan (kemiringan diatas 12 %):
Boog duiker
40 cm - 0,5 ha
50 cm - 2,0 ha
60 cm - 3,5 ha

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

60
60
75
75

Kayu
X 60 cm - 2,5 ha
X 75 cm - 3,0 ha
X 75 cm - 4,5 ha
X 100 cm - 6,5 ha

V - 31

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Luas lahan yang dapat dikeringkan di daerah berbukit (kemiringan 5 12 %):


Boog duiker
40 cm - 0,5 ha
50
- 5,5
60
- 9,5

60
60
75
75

Kayu
X 60 cm - 6 ha
X 75 cm - 8 ha
X 75 cm - 11 ha
X 100 cm - 16 ha

Luas lahan yang dapat dikeringkan di daerah datar (kemiringan dibawah 5 %):
Boog duiker
40 cm - 7,0 ha
50
- 20
60
- 32

60
60
75
75

Kayu
X 60 cm - 21 ha
X 75 cm - 28 ha
X 75 cm - 38 ha
X 100 cm - 56 ha

5.1.23. Pembuangan dari Saluran dan Gorong-Gorong


Pembuangan dari saluran dan gorong-gorong harus diperkirakan untuk mencegah
kerusakan akibat pengaliran air yang tidak terkendali. Pembuangan air dengan aman tetap
menjadi tanggung jawab perencana jalan.
Pembuangan yang aman adalah pembuangan yang mengantarkan aliran air ke sungai atau
ke saluran yang mampu mengalirkan volume air tanpa merusak lingkungannya, terutama
lahan petani atau rumah penduduk. Pembuangan tersebut dapat melalui sebuah saluran
baru khusus pembuangan.
Saluran pembuangan dimulai dari gorong-gorong, saluran pinggir jalan yang sudah
melebihi kapasitasnya, atau saluran pinggir jalan yang tidak dapat diteruskan. Saluran
tersebut berhenti pada sungai atau saluran besar yang sudah ada. Tidak dibatasi panjang
saluran pembuangan; panjangnya menurut kebutuhan setempat. Ukuran saluran
pembuangan disesuaikan dengan debit air yang terbesar, dengan ukuran minimal sama
dengan ukuran saluran pinggir jalan yang standar (50 x 30 cm). Saluran pembuangan harus
dilindungi seperti saluran-saluran yang lain, dengan diberi pasangan batu, rumput, terjunan,
dan sebagainya untuk mencegah erosi dasar dan talud saluran.
5.1.24. Stabilization
Dalam hal penggunaan tanah asli di lapangan, konsultan menghadapi tiga pilihan, yaitu:
1. Manfaatkan tanah yang ada di tempat.
2. Membuang tanah asli dan menggantinya dengan tanah daru dari luar.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 32

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

3. Memperbaiki tanah yang ada, barangkali dengan perlakuan mekanis (pemadatan) atau
perlakuan stabilisasi.
Ternyata dengan menambah sedikit bahan tertentu pada tanah asli, sifat tanah tersebut
dapat diperbaiki. Perlakuan tersebut sudah lama dipakai, dengan nama stabilisasi. Teknik
stabilisasi dengan semen atau kapur (hidrasi) dapat digunakan bila dinilai alternative
tersebut merupakan yang terbaik. Hal ini dapat dipertimbangkan terutama untuk lokasi
yang tidak mempunyai bahan yang layak untuk subgrade.
Tiap jenis tanah dapat diperbaiki dengan bahan tambahan seperti semen, kapur, bahan
kimia (polymer) atau bitumen, dan masing-masing mempunyai zona efesiensi yang
berbeda :
PASIR
KASAR

PASIR
HALUS

LANAU
KASAR

LANAU
HALUS

LEMPUNG LEMPUNG
KASAR
HALUS
KAPUR

SEMEN
BITUMEN

POLYMER

Stabilisasi tidak berlaku untuk tanah dengan kadar organik tinggi. Untuk menentukan
jumlah semen atau kapur yang dibutuhkan untuk memperbaiki struktur tanah, perlu
diadakan ujian tanah di laboratorium. Kadar air di lapangan juga harus dikendalikan
dengan ketat, berdasarkan kadar air optimal menurut hasil loboratorium. Hasil stabilisasi
ditutup plastik untuk menjaga tingkat kelembaban dan ditutup untuk lalu lintas selama satu
minggu.
Untuk mendapatkan peningkatan struktur yang baik, hasil stabilisasi harus segera
dipadatkan dengan mesin. Batas waktu adalah 2 jam untuk semen, 1 hari untuk kapur
(tetapi lebih baik 6 jam). Tebal lapisan stabilisasi adalah antara 15 s.d. 25 cm.
5.1.25. Pembangunan Jalan di Daerah Rawa
Jalan sulit dibangun secara padat karya di daerah rawa, tetapi terdapat beberapa teknologi
yang dapat diterapkan untuk jalan setapak dan jalan lokal. Terdapat pula tempat yang
memerlukan teknologi pembangunan jalan di daerah tanah lembek untuk bagian pendek,
misalnya hanya 100 meter dari jalan 2.500 meter.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 33

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Standar teknis untuk pembangunan jalan dan jembatan di daerah rawa dari dua buku
manual, yaitu manual pembangunan jalan dari Integrated Swamp Development Project
dan buku Teknologi Tepat Guna untuk Pembukaan Lahan Rawa di Kalimantan Tengah,
hasil produksi Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum.
Cara membangun jalan di daerah rawa biasanya menyangkut penggantian material dengan
volume yang cukup besar, kemudian dipasang perlakuan untuk meningkatkan daya tahan
tanah dasar.
Untuk rawa harus dibatasi pilihan teknologi, karena sebagian dari teknologi yang diusulkan
terlalu mahal untuk diterapkan dengan biaya porsi padat karya sangat minimal. Misalnya,
penggunaan Geotextile yang sangat baik untuk daerah rawa ternyata terlalu mahal dan
relative sulit dicari.
Teknologi yang dianjurkan termasuk penggantian dari lapisan atas agar tanah yang sangat
lembek diganti dengan yang lebih baik sebagai subbase. Kemudian dipasang matras galar
kayu, terucuk kayu, terucuk dengan papan atas (jamur kayu), atau yang lain, dengan
memperhatikan ketinggian air minimum agar kayu selalu dalam keadaan terendam.
Kemudian untuk lapisan atas dan perkerasan dibuat seperti biasa, dengan memperhatikan
ketinggian air maksimum agar base tidak terkena air tanah.
Timbunan di daerah rawa boleh terdiri atas timbunan tanah biasa atau timbunan terpilih.
Timbunan biasa tidak termasuk tanah lempung dengan plastisasi tinggi, tidak termasuk
bahan organic, dan mempunyai CBR di atas 6%. Tanah terpilih CBR di atas 10% dan PI di
atas 6%, dan dapat dipadatkan dengan baik.
Pekerjaan jalan di daerah rawa ini juga termasuk kegiatan drainase sementara di tempat
kerja, serta pembuatan saluran diversi. Teknologi lain yang dapat dimanfaatkan yaitu Tiang
Turap Kayu, atau Stabilisasi dengan terucuk.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 34

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.2.

Laporan Perencanaan

Drainase

5.2.1.

Maksud dan Tujuan

5.2.1.1.

Maksud
Tata cara perhitungan ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam
merencanakan struktur drainase permukaan jalan. Adapun yang dimaksud dengan
saluran drainase disini adalah :
a.

Saluran samping jalan


Yaitu saluran drainase yang terletak di sebelah kiri dan kanan jalan, karena saluran
juga difungsikan sebagai penampung limbah rumah tangga yang biasanya
menghadap ke arah jalan.

b.

Saluran drainase yang berdiri sendiri.

Kedua jenis saluran tersebut merupakan satu sistim pembuangan yang saling terkait.
5.2.1.2.

Tujuan
Tujuan tata cara ini adalah untuk mendapatkan keseragaman dalam cara merencanakan
drainase permukaan jalan yang sesuai dengan persyaratan teknis.

5.2.2.

Ruang Lingkup
Tata cara ini meliputi persyaratan-persyaratan, kemiringan melintang perkerasan dan
bahu jalan serta dimensi, kemiringan, jenis bahan, tipe saluran samping jalan dan goronggorong.

5.2.3.

Pengertian
Yang dimaksud dengan :
1) Drainase permukaan adalah sistim drainase yang berkaitan dengan pengendalian
air permukaan;
2) Intensitas hujan ( I ) adalah besarnya curah hujan maksimum yamg akan
diperhitungkan dalam desain drainase;
3) Waktu konsentrasi ( Tc ) adalah waktu yang diperlukan oleh butiran air untuk
bergerak dari titik terjauh pada daerah pengaliran sampai ke titik pembuangan;
4) Debit ( Q ) adalah volume air yang mengalir melewati suatu penampang melintang
saluran atau jalur air persatuan waktu;

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 35

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5) Koefisien pengaliran ( C ) adalah suatu koefisien yang menunjukkan perbandingan


antara besarnya jumlah air yang dialirkan oleh suatu jenis permukaan terhadap
jumlah air yamg ada;
6) Gorong-gorong adalah saluran tertutup yang berfungsi mengalirkan air, dan
biasanya melintang jalan;
7) Saluran samping jalan adalah saluran yang dibuat di sisi kiri dan kanan badan
jalan.
5.2.4.

Pesyaratan-persyaratan
Hal yang disyaratkan dalam perencanaan sistem drainase, adalah sebagai berikut :
1) Perencanaan drainase harus sedemikian rupa sehingga fungsi fasilitas drainase
sebagai penampung, pembagi dan pembuang air dapat sepenuhnya berdaya guna;
2) Pemilihan dimensi dari fasilitas drainase harus mempertimbangkan faktor ekonomi
dan faktor keamanan;
3) Perencanaan drainase harus mempertimbangkan pula segi kemudahan dan nilai
ekonomis terhadap pemeliharaan sistem drainase tersebut;
4) Sebagai bagian sistem drainase yang lebih besar atau sungai-sungai pengumpul
drainase;
5) Perencanaan drainase ini tidak termasuk untuk sistem drainase areal, tetapi harus
diperhatikan dalam perencanaan terutama untuk air keluar.

5.2.5.

Ketentuan-Ketentuan

5.2.5.1.

Umum
Sistem drainase permukaan jalan terdiri dari : kemiringan melintang perkerasan dan bahu
jalan, saluran samping, gorong-gorong dan saluran penangkap (lihat gambar).

Saluran Penangkap
Perkerasan Jalan

Bahu Jalan

ib%

i%

i = Kemiringan Perkerasan Jalan


ib = Kemiringan Bahu Jalan

i%

Bahu Jalan

ib%

Gorong - gorong

Gambar 5.2.1. Sistem Drainase Permukaan

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 36

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.2.5.2.

Laporan Perencanaan

Saluran samping jalan


Hal yang perlu diperhatikan pada perencanaan saluran adalah sebagai berikut :
1) Bahan bangunan saluran samping jalan ditentukan oleh besarnya kecepatan rencana
aliran air yang akan melewati saluran samping jalan ( lihat tabel 5.2.1.).
Tabel 5.2.1. Kecepatan aliran air yang diijinkan berdasarkan jenis material
Kecepatan AliranAir
Jenis Bahan

Yang diizinkan
(m/detik)

Pasir Halus

0.45

Lempung kepasiran

0.50

Lanau aluvial

0.60

Kerikil halus

0.75

Lempung kokoh

0.75

Lempung padat

1.10

Kerikil kasar

1.20

Batu-batu besar

1.50

Pasangan batu

1.50

Beton

1.50

Beton bertulang

1.50

2) Kemiringan saluran samping ditentukan berdasarkan bahan yang digunakan;


hubungan antara bahan yang digunakan dengan kemiringan saluran samping arah
memanjang yang dikaitkan dengan erosi aliran ( tabel berikut )
Tabel 5.2.2. Hubungan kemiringan saluran samping jalan ( i )
dan jenis material

Jenis material
Tanah Asli
Kerikil
Pasangan

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

Kemiringan saluran samping


i(%)
05
5 7.5
7.5

V - 37

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

3) Pematah arus untuk mengurangi kecepatan aliran diperlukan bagi saluran samping
jalan yang panjang dan mempunyai kemiringan cukup besar, ( lihat gambar pematah
arus ).

i%

Gambar 5.2.2. Pematah Arus

Tabel 5.2.3. Hubungan kemiringan saluran samping jalan ( i )


dan jarak pematah arus ( L )
i(%)

6%

6%

7%

9%

10 %

L(m)

16 m

10 m

8m

7m

6m

4) Tipe dan jenis bahan saluran samping didasarkan kondisi tanah dasar, kedudukan
muka air tanah dan kecepatan abrasi air
5) Penampang minimum saluran samping 0.5 m2.
5.2.6.

Gorong-gorong Pembuang Air


Gorong-gorong pembuang air meliputi hal-hal sebagai berikut :
1) Ditempatkan melintang jalan yang berfungsi untuk menampung air dari saluran
samping dan membuangnya.
2) Harus cukup besar untuk melewatkan debit air maksimum dari daerah pengaliran
secara efisien.
3) Harus dibuat dengan tipe yang permanen ( lihat gambar bagian gorong-gorong ).
Bagian gorong-gorong terdiri dari tiga bagian konstruksi utama, yaitu :
-

Pipa kanal air utama yang berfungsi untuk mengalirkan air dari bagian hulu
ke bagian hilir secara langsung.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 38

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tembok kepala yang menopang ujung dan lereng jalan ; tembok penahan
yang dipasang bersudut dengan tembok kepala, untuk menahan bahu dan
kemiringan jalan.

Apron ( dasar ) dibuat pada tempat masuk untuk mencegah terjadinya erosi
dan dapat berfungsi sebagai dinding penyekat lumpur ; bentuk goronggorong tergantung pada tempat yang ada dan tingginya timbunan.

Bak penampung diperlukan pada kondisi :


Pertemuan antara gorong-gorong dan saluran tepi.
Pertemuan lebih dari dua arah aliran.

4) Kemiringan gorong-gorong 0.5 2 %.

Tembok Kepala

0.5 - 2 %

Pipa kanal air utama

A pron ( dasar )

Bak penampung

Gambar 5.2.3. Bagian gorong-gorong.


5) Jarak gorong-gorong pada daerah datar maksimum 100 meter, di daerah pegunungan
dua kali lebih banyak.
6) Kemiringan gorong-gorong antara 0.5 2 % dengan pertimbangan faktor-faktor lain
yang dapat mengakibatkan terjadinya pengendapan erosi di tempat air masuk dan
pada bagian pengeluaran.
7) Tipe dan bahan gorong-gorong yang permanen ( lihat gambar tipe ) dengan desain
umur rencana :
- Jalan tol

: 25 tahun

- Jalan arteri

: 10 tahun

- Jalan lokal

: 5 tahun

8) Untuk daerah-daerah yang berpasir, bak pengontrol dibuat / direncanakan sesuai


kondisi setempat.
9) Dimensi gorong gorong minimum dengan diameter 80 cm, kedalaman gorong
gorong yang aman terhadap permukaan jalan, tergantung tipe :

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 39

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

No

Tipe gorong-gorong

Laporan Perencanaan

Potongan melintang

Material yang
dipakai
Metal gelombang,

Pipa tunggal atau lebih

beton

bertulang

atau beton tumbuk,


besi cor dll.

Pipa lengkung tunggal


atau lebih

Metal gelombang

Gorong gorong
3

persegi ( Box culvert )

Beton bertulang

Gambar 5.2.4. Tipe Penampang Gorong Gorong.

5.2.7.

Menentukan Debit Aliran


Faktor faktor untuk menentukan debit aliran, yaitu :
1) Intensitas curah hujan (I) dihitung berdasarkan data data sebagai berikut :
a) Data curah hujan :
Merupakan data curah hujan harian maksimum dalam setahun yang dinyatakan
dalam mm/ hari, data curah hujan ini diperoleh dari Lembaga Meteorologi dan
Geofisika, untuk stasiun curah hujan yang terdekat dengan lokasi sistem
drainase, jumlah data curah hujan paling sedikit dalam jangka waktu 10 tahun.
b) Periode ulang :
Karekteristik hujan menunjukkan bahwa hujan yang besar tertentu mempunyai
periode ulang tertentu, periode ulang rencana untuk saluran samping ditentukan
5 tahun.
c) Lamanya waktu curah hujan :
Ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan Van Breen, bahwa hujan harian
terkonsentrasi selama 4 jam dengan jumlah hujan sebesar 90 % dari jumlah
hujan 24 jam.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 40

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

d) Rumus menghitung intensitas curah hujan ( I ) menggunakan analisa distribusi


frekuensi menurut rumus sebagai berikut :
XT = x +

SX
(YT Yn ) )
Sn

90%. X T
4

Keterangan :

XT =

besarnya curah hujan untuk periode ulang T tahun ( mm ) / 24 jam.


nilai rata rata aritmatik, hujan komulatif.

SX =

standart deviasi

YT =

variasi yang merupakan fungsi periode ulang

Yn =

nilai yang tergantung pada n ( Lihat Tabel 6 )

Sn =

standart deviasi merupakan fungsi dari n ( Lihat Tabel 7 )

intensitas curah hujan mm/jam.

Tabel 5.2.4. Variasi Fungsi Periode Ulang (Yt)

T (thn)

Yt

0.3665

1.4999

10

2.2502

25

3.1985

50

3.9019

100

4.6001

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 41

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tabel 5.2.5. Nilai Yang Tergantung Pada n ( Yn )

Yn

Yn

Yn

Yn

10

0.4592

33

0.5388

56

0.5508

79

0.5567

11

0.4996

34

0.5396

57

0.5511

80

0.5569

12

0.5053

35

0.5402

58

0.5518

81

0.5570

13

0.5070

36

0.5410

59

0.5518

82

0.5572

14

0.5100

37

0.5418

60

0.5521

83

0.5574

15

0.5128

38

0.5424

61

0.5524

84

0.5576

16

0.5157

39

0.5430

62

0.5527

85

0.5578

17

0.5181

40

0.5436

63

0.5530

86

0.5580

18

0.5202

41

0.5442

64

0.5533

87

0.5581

19

0.5220

42

0.5448

65

0.5535

88

0.5583

20

0.5236

43

0.5453

66

0.5538

89

0.5585

21

0.5252

44

0.5458

67

0.5540

90

0.5586

22

0.5268

45

0.5463

68

0.5543

91

0.5587

23

0.5283

46

0.5468

69

0.5545

92

0.5589

24

0.5296

47

0.5473

70

0.5548

93

0.5591

25

0.5309

48

0.5477

71

0.5550

94

0.5592

26

0.5320

49

0.5481

72

0.5552

95

0.5593

27

0.5332

50

0.5485

73

0.5555

96

0.5595

28

0.5343

51

0.5489

74

0.5557

97

0.5596

29

0.5353

52

0.5493

75

0.5559

98

0.5598

30

0.5362

53

0.5497

76

0.5561

99

0.5599

31

0.5371

54

0.5501

77

0.5563

100

0.5600

32

0.5380

55

0.5504

78

0.5565

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 42

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tabel 5.2.6. Hubungan Deviasi Standar (Sn) dengan Jumlah Data (n)

Sn

Sn

Sn

Sn

10

0.9496

33

1.1226

56

1.1696

79

1.1930

11

0.9676

34

1.1255

57

1.1708

80

1.1938

12

0.9933

35

1.1285

58

1.1721

81

1.1945

13

0.9971

36

1.1313

59

1.1734

82

1.1953

14

1.0095

37

1.1339

60

1.1747

83

1.1959

15

1.0206

38

1.1363

61

1.1759

84

1.1967

16

1.0316

39

1.1388

62

1.1770

85

1.1973

17

1.0411

40

1.1413

63

1.1782

86

1.1980

18

1.0493

41

1.1436

64

1.1793

87

1.1987

19

1.0565

42

1.1458

65

1.1803

88

1.1994

20

1.0628

43

1.1480

66

1.1814

89

1.2001

21

1.0696

44

1.1499

67

1.1824

90

1.2007

22

1.0754

45

1.1519

68

1.1834

91

1.2013

23

1.0811

46

1.1538

69

1.1844

92

1.2020

24

1.0864

47

1.1557

70

1.1854

93

1.2026

25

1.0915

48

1.1574

71

1.1863

94

1.2032

26

1.1961

49

1.1590

72

1.1873

95

1.2038

27

1.1004

50

1.1607

73

1.1881

96

1.2044

28

1.1047

51

1.1623

74

1.1890

97

1.2049

29

1.1086

52

1.1638

75

1.1898

98

1.2055

30

1.1124

53

1.1658

76

1.1906

99

1.2060

31

1.1159

54

1.1667

77

1.1915

100

1.2065

32

1.1193

55

1.1681

78

1.1923

e) Kurva basis.
Kurva Basis digunakan untuk menentukan kurva lamanya intensitas hujan, yang
dapat diturunkan dari kurva basis ( lengkung intensitas standart ) seperti contoh
pada gambar 5.2.5a. dan gambar 5.2.5b.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 43

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

190
180
170
160

Intensitas hujan ( mm / jam )

150
140
120
110
100
90
80
70
60
50
40
30

10

20

30

40

50

60

70

80

90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240

waktu konsentrasi ( menit )

KURVA BASIS

190
180
170
160

Intensitas hujan ( mm / jam )

150
140
120
110
100
90
I rencana

80
Lengkung basis
70
60
50
40
30

10

20

30

40

50

60

70

80

90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240

waktu konsentrasi ( menit )

KURVA BASIS

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 44

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

f) Waktu konsentrasi ( TC ) , dihitung dengan rumus :


TC

t1 + t2

t1

( 2 / 3 x 3.28 x Lo.

t2

L
60V

nd 0,167
)
s

Keterangan :

TC

= waktu kosentrasi ( menit )

t1

= waktu inlet ( menit )

t1

= waktu aliran ( menit )

LO

= jarak dari titik terjauh ke fasilitas drainase ( m )

= panjang saluran ( m )

nd

= koefisien hambatan ( tabel 8 )

= kemiringan daerah pengaliran

= kecepatan air rata - rata disaluran ( m / dt )

Tabel 5.2.7. Hubungan kondisi permukaan dengan koefisien hambatan

Kondisi Lapis Permukaan

nd

1. Lapisan semen dan aspal beton

0.013

2. Permukaan licin dan kedap air

0.020

3. Permukaan licin dan kotor

0.10

4. Tanah dengan rumput tipis dan gundul dengan


permukaan sedikit kasar

0.20

5. Padang rumput dan rerumputan

0.40

6. Hutan gundul

0.60

7. Hutan rimbun dan hutan gundul rapat dengan


hamparan rumput jarang sampai rapat

0.80

2) Luas daerah pengaliran batas batasnya tergantung dari daerah pembebasan dan
derah sekelilingnya ditetapkan seperti pada gambar berikut.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 45

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

CL
L1( m)
L2( m)

L3( m)

= Batas daerah pengaliran yang diperhitungkan = ( L1 + L2 + L3 )

Keterangan :
L

ditetapkan dari as jalan sampai bagian tepi perkerasan

L2

ditetapkan dari tepi perkerasan yang ada sampai tepi bahu jalan

L3

tergantung dari keadaan daerah setempat dan panjang maksimum 100 meter

3) Harga Koefisien pengaliran ( C ) untuk berbagai kondisi ditentukan berdasarkan


Tabel di bawah ini :
Tabel 5.2.8 Hubungan kondisi permukaan tanah dan koefisien pengaliran (C)
Kondisi Permukaan Tanah
1. Jalan beton dan jalan aspal
2. Jalan kerikil dan jalan tanah
3. Bahu jalan :
- Tanah berbutir halus
- Tanah berbutir Kasar
- Batuan masif keras
- Batuan masif lunak
4. Daerah perkotaan
5. Daerah Pinggir Kota
6. Daerah industri
7. Pemukiman padat
8. Pemukiman tidak padat
9. Taman dan kebun
10. Persawahan
11. Perbukitan
12. Pegunungan

Koefisien
Pengaliran ( C )*
0.70 - 0.95
0.40 - 0.70
0.40
0.10
0.70
0.60
0.70
0.60
0.60
0.40
0.40
0.20
0.45
0.70
0.75

0.65
0.20
0.85
0.75
0.95
0.70
0.90
0.60
0.60
0.40
0.60
0.80
0.90

Keterangan :
*)

Untuk daerah datar diambil nilai C yang terkecil dan untuk daerah lereng
diambil nilai C yang besar.

Bila daerah pengaliran terdiri dari beberapa tipe kondisi permukaan yang mempunyai
nilai C yang berbeda, harga C rata rata ditentukan dengan persamaan:

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 46

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

C =

Laporan Perencanaan

C1. A1 + C2 . A2 + C3. A3 + ....


A1 + A2 + A3 + ....

Keterangan :
C1 ,C2 , C3 =

koefisien pengaliran yang sesuai dengan tipe kondisi permukaan.

A1 ,A2 , A3 =

luas daerah pengaliran yang sesuai dengan tipe kondisi


permukaan.

4) Untuk menghitung debit air ( Q ) menggunakan rumus yaitu :


Q =

1
xC.I . A Keterangan :
3.6

Q =

debit air ( m3/ detik )

C =

koefisien pengaliran

intensitas hujan ( mm / jam )

A =

luas daerah pengaliran ( km2 )

5) Debit Air Kotor


Debit air kotor secara umum diperoleh dari hasil perkalian antara luas daerah
pelayanan (ha) dikalikan dengan angka kepadatan penduduk (orang/ha). Dan dari
jumlah penduduk tersebut dapat dihitung berapa besar penggunaan air bersih,
sedangkan banyaknya air kotor yang dibuang sama dengan jumlah air bersih yang
digunakan dikalikan denga faktor tertentu.
Besarnya kebutuhan air bersih yang dikonsumsi oleh masing-masing orang menurut
WHO adalah 170 l/orang/hari. Dan menurut Linsey, 1986 jumlah air limbah rumah
tangga adalah sebesar 65 75 % dari jumlah air yang disalurkan atau ditetapkan
dengan faktor pengali sebesar 0.7 kali kebutuhan air bersih.
Rumus yang diberikan linsley untuk menghitung besarnya air limbah adalah :

Qrt = p x Qab x 0.7 x (24 x 60 x 60/1000)

m3/det

Dengan :
Qrt

= debit air buangan rata-rata (m3/dt)

= jumlah penduduk daerah layanan (orang)

Qab

= kebutuhan air bersih (l/hari/orang)

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 47

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Qp = f x Qrt

Laporan Perencanaan

m3/det

Dengan :
Qp

= debit puncak pembuangan pada jam-jam maksimum

= faktor puncak ditentukan = 3

Bahwa berdasarkan perhitungan dan pengalaman ternyata debit air kotor hasil
buangan dari rumah tangga nilainya relatif kecil dibandingkan dengan debit air yang
dihasilkan dari air hujan. Sehingga dalam perencanaan saluran drainase ini debit air
dari rumah tangga diabaikan.
5.2.8.

Penampang Basah Saluran Drainase dan Gorong - gorong


Penampang Basah Saluran drainase dan Gorong gorong dihitung berdasarkan :
1) Penampang basah yang paling ekonomis untuk menampung debit maksimum (Ae)
yaitu :
a) Saluran bentuk trapesium :

1
m

Ae

= (b + m.h) h

= b + 2h

R=

Ae
P

(1 + m 2 )

Tabel 5.2.9. Hubungan Kemiringan talud dan besarnya debit.


Debit air Q ( m3/ detik )

Kemiringan Talud

0.00 - 0.75

1 : 1

0.75 - 15

1 : 1.5

15 - 80

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

1 : 2

V - 48

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Keterangan :
b

= lebar saluran ( m )

= dalamnya saluran yang tergenang air ( m )

m = perbandingan kemiringan talud


R = jari jari hidrolis ( m )
P

= Keliling basah saluran (m)

Ae = Luas Penampang basah (m2)


b) Saluran bentuk segi empat

Ae = b h

R=

Ae
P

P = b + 2h
Keterangan :
b

= lebar saluran ( m )

= dalamnya saluran yang tergenang air ( m )

R = jari jari hidrolis ( m )


P

= Keliling basah saluran (m)

Ae = Luas Penampang basah (m2)


2) Penampang basah berdasarkan debit air dan kecepatan (V) rumus :

Ad =

Q
V

keterangan :
Ad

= Luas penampang ( m2 )

= Debit air ( m3/dtk )

= Kecepatan aliran ( m/dtk )

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 49

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

3) Selanjutnya dimensi saluran ditentukan atas dasar :


Ae = Ad
Keterangan :
Ae = Luas penampang ekonomis ( m2 )
Ad = Luas penampang berdasarkan debit air yang ada ( m2 )
4) Untuk gorong-gorong yang berbentuk metal gelombang, hanya diperhitungkan debit
air dan penentuan penampang basah disesuaikan dengan spesifikasi yang telah
ditentukan.
5.2.9.

Tinggi Jagaan Saluran Samping


Tinggi jagaan ( w ) untuk saluran samping bentuk trapesium dan segi empat ditentukan
berdasarkan rumus :
w=

0.5h

Keterangan : h = tinggi saluran yang terendam air

w
h

1
m
b

5.2.10.

Kemiringan Saluran Samping dan Gorong-gorong Pembuang Air


Untuk menghitung kemiringan saluran samping dan gorong-gorong pembuang air
digunakan rumus :

V=

( ) (i )

1
R
n

V .n
i = 2 / 3
R

2/3

1/ 2

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 50

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Keterangan :

5.2.11.

= Kecepatan aliran ( m/dtk )

= Koefisien kekasaran manning

= A/P = jari-jari hidrolis

= Luas penampang basah ( m2 )

= Keliling basah ( m )

= Kemiringan saluran yang diijinkan

Kemiringan Tanah
Kemiringan tanah di tempat dibuatnya fasilitas saluran gorong-gorong ditentukan dari
hasil pengukuran di lapangan, dihitung dengan rumus :

i%

t1 ( m )
t2 ( m )

L(m)

sta 1

Gambar 5.3.6 Kemiringan tanah

i=

t1 t2
L

x 100%

Keterangan :
t1

= tinggi tanah di bagian tertinggi ( m )

t2

= tinggi tanah di bagian terendah ( m )

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 51

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.3.

Laporan Perencanaan

Perencanaan Sistim Air Bersih


Secara umum pembangunan sarana air bersih bertujuan untuk menjamin tersedianya air
bersih yang layak di masyarakat ( baik dalam segi jumlah maupun kuantitasnya ) dan
mendorong penggunaan sarana air bersih yang sesuai dengan standar kesehatan di
Indonesia. Sedangkan tujuan khusus adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, dengan melalui program pembangunan sarana air bersih dan sarana lain,
seperti sanitasi ( air limbah ), persampahan dan sarana-sarana yang lain. Untuk proyek
sarana air bersih, sanitasi dan pelayanan kesehatan harus direncanakan

untuk

meningkatkan kepedulian / kesadaran masyarakat terhadap lingkungan disekitarnya,


sehingga sumber air tetap terpelihara dengan baik, limbah domestik dikelola dengan baik.
5.3.1.

Ruang Lingkup
Standar ini memuat tentang ketentuan yang berlaku dalam pemasangan pipa distribusi,
pemasangan alat ukur dan peralatan pelengkap yang digunakan pada pemasangan pipa.

5.3.2.

Pengertian
Yang Dimaksud dengan :
1. Pekerjaan galian adalah pekerjaan yang meliputi semua pemindahan bahan-bahan
dari dalam tanah, ataupun yang dijumpai termasuk rintangan alam yang terdapat dalam
pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan tersebut.
2. Pekerjaan pengurugan adalah pekerjaan perbaikan lapisan tanah galian yang
didapatkan setelah selesai pekerjaan pemasangan pipa.
3. Bahan pilihan adalah merupakan tanah hasil penggalian yang tidak mengandung
batuan atau bahan padat lainnya yang berukuran lebih besar dari 5 mm, mempunyai
gradasi yang baik dan tidak mengandung bahan organic seperti rumput, akar tanaman
atau bagian tumbuh-tumbuhan lainnya yang bersifat mengembang.
4. Pipa baja adalah pipa yang terbuat dari bahan baja.
5. Pipa PVC adalah pipa yang terbuat dari bahan polyvinyl chloride.
6. Pipa DCIP adalah pipa yang terbuat dari ductile cast iron.
7. Pipa GSP adalah pipa yang terbuat dari besi galvanis.
8. Pekerjaan Perbaikan adalah pekerjaan perbaikan kembali sarana yang dirusak ketika
dilakukan pekerjaan galian menjadi keadaan semula.
9. Jalan aspal adalah jalan yang lapisan atasnya adalah kerikil yang dipadatkan.
10. Jalan gravel adalah jalan yang lapisan atasnya adalah kerikil yang dipadatkan.
11. Jalan beton adalah jalan yang lapisan permukaan jalannya terbuat dari beton.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 52

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

12. Trotoar adalah lokasi disisi jalan raya yang diperuntukkan bagi pejalan kaki.
13. Pengangkatan adalah pekerjaan pemindahan pipa dari lokasi penumpukan ke dalam
kendaraan pengangkut, maupun dari kendaraan pengangkut ke lokasi pemasangan
pipa.
14. Sambungan push-on adalah proses penyambungan pipa pada pipa dengan tekanan air
yang tinggi.
15. Test radiographic adalah tes yang dilakukan terhadap pipa yang penyambungannya
dengan pengelasan.
16. Defleksi adalah besar sudut pembelokan yang diizinkan pada pipa.
17. Sambungan mechanical joint adalah proses penyambungan pipa pada pipa yang tidak
mendapatkan tekanan tinggi.
18. Testing pekerjaan pipa adalah uji coba yang dilakukan pada pipa, setelah pipa yang
terpasang.
19. Pekerjaan penggelontoran adalah pekerjaan pembersihan pipa yang telah dipasang.
20. Pipa existing adalah pipa yang telah terpasang dan telah digunakan untuk distribusi air
minum.
21. Beton adalah bahan yang diperoleh dengan mencampur pasir, kerikil, air dan semen
Portland atau bahan penguat hidrolis lain yang sejenis, dengan atau tanpa bahan
tambahan lainnya.
22. Bahan tambahan adalah bahan lain yang ditambahkan ke dalam pembuatan beton,
selain semen, pasir, kerikil dan air yang tidak memberi pengaruh yang kurang baik
pada beton.
23. Pengujian beton adalah proses yang dilakukan terhadap beton untuk mengetahui
kekuatan karakteristik beton.
24. Bekisting adalah cetakan beton.
25. Lantai kerja adalah lantai yang terbuat dari beton dan terletak paling bawah dari
lapisan struktur pondasi.
26. Pengelasan adalah merupakan proses penyambungan pipa dengan dilakukan
pemanasan dan penambahan bahan penyambungan.

5.3.3.

Ketentuan-ketentuan
5.3.3.1.

Fungsi
Standar ini berfungsi sebagai acuan dalam pelaksanaan dan pengawasan
pekerjaan pemasangan pipa distribusi, alat ukur dan peralatan perlengkapan yang
digunakan dalam pemasangan pipa air minum.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 53

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.3.3.2.

Laporan Perencanaan

Pemasangan pipa distribusi


Pemasangan pipa distribusi ini dapat bervariasi karena bahan pipa yang
digunakan juga beragam yaitu : pipa PVC, Steel, DIP dan GIP.

5.3.3.3.

Pekerjaan Galian
Galian untuk jalur pipa harus merupakan galian terbuka dengan lebar galian
sedemikian rupa agar pipa dapat diletakkan dan dapat disambung dengan baik,
lebar galian yang dianjurkan dapat dilihat pada Tabel 5.3.1 :
Tabel 5.3.1. Lebar Galian Yang Dianjurkan
Diameter W = Lebar Galian
(mm)
(mm)
80
680
100
700
150
750
200
800
250
850
300
900
350
950
400
1050
450
1100
600
1200
700
1300
800
1400
900
1500
1000
1600
1200
1800
1400
2000
1500
2100
1600
2200
2000
2600
Minimum kedalaman pipa yang dianjurkan adalah :

1200 mm untuk pipa yang tertanam di sisi jalan dan di bawah permukaan
jalan;

900 mm untuk pipa yang tertanam jauh dari jalan;

Pada tanah yang lembek kedalaman galian harus 75 cm di bawah elevasi


dasar pipa;

Panjang maksimum jalur penggalian yang diijinkan pada suatu lokasi


pengalian adalah 100 m.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 54

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.3.3.4.

Laporan Perencanaan

Pekerjaan Pengurugan.
1. Tambahan yang diperlukan adalah :

Bahan pilihan;

Pasir alam yang tersusun dari butiran halus sampai kasar, tidak
menggumpal, bebas dari kotoran, sampah, abu dan bahan-bahan organik
serta tidak boleh mengandung tanah liat dan lempung lebih dari 5% berat
seluruhnya dan tidak boleh ada butir-butir yang lebih besar dari 2 mm;

Kerikil alam mulai dari yang berbutiran halus sampai yang berbutiran
kasar dengan ukuran tidak lebih dari 3 cm, mempunyai kekerasan yang
cukup dan bergradasi kompak untuk memperoleh kepadatan yang cukup.

2. Urugan dibawah pipa


Urugan dibawah pipa mulai dari pasir atas sampai dengan baris tengah pipa
dan diletakkan secara berlapis dengan ketebalan lebih dari 15 cm, dan
dipadatkan hingga mencapai kepadatan 95 % standar proctor dan
mempunyai nilai indeks plastisitas sebesar 6 sampai 50 persen.
3. Urugan di atas pipa

Pipa baja :
Ketebalan pengurugan kurang dari 20 cm dan dipadatkan dengan
kepadatan kering maksimum 95 persen.

Pipa-pipa PVC :
Pengurugan pada kedalaman 30 cm di atas puncak pipa PVC.

4. Urugan sampai ke permukaan

Pipa Baja :
Dari kedalaman 10 cm di atas pipa sampai permukaan dengan ketebalan
tidak melebihi 20 cm.

Pipa PVC
Diuruk dengan kedalamn 30 cm di atas pipa sampai ke permukaan;

5. Perbaikan bekas galian


a. Jalan beraspal

Lapisan tanah dasar harus mencapai kepadatan 90 persen modified


proctor;

Lapisan sub pasir harus mencapai kepadatan 95 persen kepadatan


modified proctor;

Ketebalan minimum lapisan macadam adalah 60 mm, dan dipadatkan;

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 55

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Lapisan penetrasi dari tipe RC-2 bitumen disebabkan setelah lapisan


macadam dipadatkan;

b. Jalan gravel
Perbaikannya adalah 100 mm subgrade dan 100 mm bahan gravel
dengan gradasi lebih besar dari 10 dipadatkan sampai 95 persen
modified proctor;
c. Jalan beton

Beton yang digunakan harus kelas K-225;

Agregat kasar dengan ukuran 20 mm dan 38 mm boleh digunakan;

Lalu lintas diijinkan untuk lewat di atas cor-coran 7 hari dengan


menggunakan semen yang cepat mengering dan 10 hari jika
digunakan semen biasa;

6. Trotoar beton

Ketebalan lapisan beton minimum 60 mm;

Beton harus sekelas K-125

7. Perbaikan kembali saluran dan pinggir jalan


Pekerjaan perbaikan kembali harus termasuk beton dasar, bekisting
pemasangannya pada posisi lurus atau berbelok;
8. Perbaikan jalan umum
Untuk lebih jelasnya perbaikan lapisan kembali dapat dilihat pada gambar
rencana.
5.3.3.5.

Pekerjaan Pemasangan Pipa.


1. Pengangkatan
Peralatan pengangkatan ini harus mmpunyai kemampuan minimum satu ton
atau berat satu batang pipa dengan diameter terbesar yang diperlukan.
2. Pengangkutan
Peralatan ini harus dapat mengangkut pipa sesuai dengan diameter terbesar
yang dipasang dan peralatan yang dianjurkan adalah crane.
3. Perletakkan
Pipa yang akan dipasang harus diberi dasar material padat. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar.
4. Penyambungan pipa
a. Semua diameter luar pipa eksisting harus sesuai dengan diameter dalam;
b. Pipa PVC

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 56

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Penyambungan pipa PVC tidak boleh dipanaskan dan tidak boleh di cor
di dalam dinding beton;
c. Pipa DCIP, GIP dan steele

Penyambungan dengan tipe flens dan mur diputar dengan ukuran


kunci putar sesuai dengan table 5.3.2.
Tabel 5.3.2.
Standar Untir Mur Pada Sambungan Pipa Flens
Ukuran Baut
(mm)
16
20
22
24
30
36
42
48

Diameter Nominal Pipa


(mm)
75 200
250 300
350 400
450 600
700 1200
1350 1800
2000 2400
2600

Standar ulir
(kg/m)
6
9
12
18
33
50
58
70

Penyambungan dengan las

Setelah penyambungan harus dilakukan tes radiographic;

Tukang las harus memiliki pengalaman dan kualifikasi yang cukup


dan harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga yang
berwenang.

Batang las tidak boleh menyerap air dan rata-rata kelembaban tidak
boleh lebih dari 2,5 persen untuk iliminated rod dan 0,5 persen untuk
flow hydrogenious rod;

Mesin las harus dari jenis AC arc welding machine atau DC arc
welding machine.

5. Pemotongan ujung pipa untuk jembatan pipa harus dibuat miring dan
kemiringan ujung pipa tersebut harus dipotong dengan sudut 30 derajat
diukur dari garis yang sejajar dengan sumbu pipa dengan toleransi 50 100
dengan lebar permukaannya lebih luring 1/16 inch 1/32 inch;
6. Perlindungan terhadap karat sambungan flens, kopling dan flens adaptor
diluar bak kontriol dengan menggunakan pita, mastic pasta tanpa harus
dipanaskan;
7. Pada proses penyambungan pada pipa, besarnya defleksi yang diperbolehkan
dapat dilihat pada tabel berikut.
8. Sambungan dengan angkur tidak diperbolehkan ada defleksi;

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 57

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tabel 5.3.3. Defleksi pada Tanah yang Lembek


Diameter
Nominal

Push on joint

Mechanical Joint

sudut

Defleksi yang diijinkan

sudut

Defleksi yang diijinkan

defleksi

perpanjang pipa (cm)

defleksi

perpanjang pipa (cm)

yang

(mm)

diijinkan

5m

80

5o 00

35

100

5o 00

35

150

5o 00

200

5o 00

250
300

4 00
o

4 00
o

yang

9m

diijinkan

5m

9m

5o 00

35

44

52

5o 00

35

44

52

44

52

5o 00

44

52

44

52

5o 00

35
-

41
41

44

52

44

52

52

5 00
5 00

350

4 00

41

4 50

51

400

3o 30

37

4o 10

44

450

3o 30

31

3o 50

40

500

3o 30

31

3o 20

35

600

3o 30

31

47

2o 50

30

45

700

2o 30

26

39

2o 30

800
900

2 30
o

2 30
o

26
21

39
31

25

39

23

34

21

31

2 10
2 00

1000

2 00

21

31

1 50

19

29

1100

2o 00

21

31

1o 40

17

24

1200

2o 00

21

31

1o 30

16

21

1400

2o 00

21

31

1o 20

14

10

1500

2o 00

21

31

1o 10

12

24

1600

2o 00

21

31

1o 30

1800
2000

2 00
o

2 00

17
17

21
21

16

13

16

13

16

1 30
1 30

2100

1 30

10

13

2200

1o 30

10

13

2400

1o 30

10

2600

1o 30

10

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 58

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tabel 5.3.4. Besar Sudut Defleksi Yang Diijinkan Untuk Sambungan


Push Joint Pada Tanah Keras
Diameter Nominal

Besar sudut defleksi yang diizinkan


(derajat)

80 - 300

250 - 350

400

3 30

450 - 600

700 - 900

2 30

1000 - 2000

Tabel 5.3.5. Besar Sudut Defleksi Yang Diijinkan Untuk Sambungan


Mechanical Joint Pada Tanah Keras
Diameter Nominal

Besar sudut defleksi yang diizinkan


(derajat)

80 300

350

4 - 50

400

4 - 10

450

3 - 50

500

3-2

600

2 - 30

700

2 - 30

800

2 - 10

900

2 - 10

1000

1 - 50

1100

1 - 40

1200

1 - 30

1400

1 - 20

1500

1 - 10

1600 - 2600

1 - 30

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 59

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.3.4.

Laporan Perencanaan

Testing Pekerjaan Pipa


1. Uji coba secara hidrolis harus dilakukan selama pelaksanaan pembangunan jalur-jalur
pipa.
Peralatan pembantu yang digunakan adalah pompa, alat ukur dongkrak dan strust;
2. Pengujian pipa harus sesuai dengan tata cara pengujian pipa;
3. Kebocoran yang dapat diterima saat pengujian pipa;
Tabel 5.3.6.
Kebocoran Yang Diijinkan/km saat Pengujian Pipa
Diameter
(mm)

Jumlah
Kebocoran
(l / jam)
2.55
3.04
3.80
4.56
6.08
7.60

75
100
125
150
200
250
5.3.5.

Diameter
(mm)

Jumlah
Kebocoran
(l/jam)
9.12
10.64
12.16
13.68
15.20
18.24

300
350
400
450
500
600

Pekerjaan Penggelontoran atau Flushing


1. Dilaksanakan dengan menggunakan air bersih dari pipa eksisting;
2. Sumber air dari pipa eksisting hanya dari satu sumber saja;
3. Waktu penggelontoran adalah 3 menit untuk 100 m panjang pipa;
4. Jaringan pipa dapat diterima bila air hasil penggelontoran setelah melewati waktu yang
ditetapkan dalam keadaan bersih dengan membuktikan parameter warna, kekeruhan
dan pH.

5.3.6.

Lapisan perlindungan pipa


1. Lapisan pelindung bagian luar :

Pipa baja yang terekspos, lapisan pipa harus terdiri dari :


Tabel 5.3.7. Bahan Pelapisan Pipa Baja dan Fitting

No
1.

Lapisan
Pertama

Bahan
Meni besi

2.

Kedua

Cat dasar

3.

Ketiga

Dua lapis cat


terakhir

Ketebalan
Min dalam keadaan
kering = 50 mikron
Dalam keadaan kering
= 50 mikron
Dalam keadaan kering
= 25 mikron

Pipa baja yang terpendam dilapis dengan menggunakan epoxy;

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 60

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

2. Lapisan pelindung bagian dalam adalah cement mortar lining dan diberi semprotan
furnace cement ;
3. Sleeving yang terbuat dari bahan polyethylene yang berbentuk lembaran film yang
berwarna hitam.
5.3.7.

Trust block
1. Trust block diberikan pada semua percabangan pipa, bend, reducer dan tee, serta harus
diletakkan sedemikian rupa untuk memudahkan pemindahannya;
2. Bahan harus dari beton kelas D = 200 kg / cm2 diletakkan pada tanah dengan pondasi
agregat stabil minimum 20 cm.

5.3.8.

Pipa driving
1. Yang termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan driving sleeve dari beton
bertulang, concrete dan diikuti dengan pemasukan pipa
2. Dalam bagian atas pipa sleeve yang di pancang minimal 200 m;
3. Pada permukaan dasar ruang yang menembus di pasang pondasi bantuan dengan
ketebalan 15 cm pada seluruh permukaannya;
4. Pada pondasi batuan diberi lantai kerja dengan mutu beton kelas E dan ketebalan 15
cm;
Untuk lebih jelasnya pipa driving dengan metode pipa jacking dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 5.3.8.
Spesifikasi Lebar Jacking Pit dan Lubang Penerima
Diameter Nominal
(DN mm)
700
800
900
1000
1100
1200
1350
1500
1600
1800
2000
2200
2400
2600

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

A1
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00
8.00

Ukuran lubang
(meter)
A2
3.00
3.00
3.00
3.00
3.00
3.50
3.50
3.50
3.50
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00

B
3.00
3.00
3.00
3.00
3.10
3.20
3.40
3.50
3.60
3.80
4.00
4.20
4.40
4.60

V - 61

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5. Untuk pipa tembus dengan diameter 800 mm atau lebih dengan bahan dari pipa baja,
pipa tembus digunakan sebagai selubung untuk pipa jalur utama
6. Rongga-rongga yang terbentuk antara pipa selubung dengan pipa yang dimasukkan
kedalamannya harus di isi dengan beton tumpuk kelas E dengan menggunakan pompa
beton.
5.3.9.

Jembatan pipa
Batas kontruksi jembatan pipa adalah kedua ujung sambungan flexible.
1. Konstruksi bangunan bawah :
a. Pembuatan lantai kerja dengan beton K-100;
b. Tanah yang tidak sesuai untuk lapisan pondasi harus diganti;
c. Untuk pondasi pancang harus disiapkan ke dalam bangunan bawah sedalam 10 cm;
2. Perpipaan:
Cincin pendukung harus terbuat dari besi baja dengan baja tahan karat;
3. Pengelasan:
Pengelasan harus diuji test radiographic;

5.3.10. Alat Ukur


Alat ukur yang biasa digunakan di dalam system distribusi air bersih adalah meter air
dengan ketentuan yang berlaku untuk meter air.
1. Mempunyai kesalahan pengukuran maksimum adalah 5 persen dalam plus dan minus;
2. Harus mampu menahan tekanan 1600 kPa 16 bar selama 5 menit tidak bocor atau
basah;
3. Pada rumah meter air, bagian aliran masuk harus dilengkapi saringan yang mudah
dibuka dan dipasang;
4. Harus dilengkapi dengan alat penyetel untuk memperbaiki hubungan antara debit yang
ditujukan dan debit yang sebenarnya
5. Dimensi rumah meter air dapat dilihat pada tabel berikut.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 62

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tabel 5.3.9. Dimensi Rumah Meter Air


No.

Uraian

Ukuran Rumah Meter air


13

20

25

30

40

Panjang (L)

170

190

260

260

300

Lebar

90.0

90.0

105

105

130

Tinggi tanpa katup

85.0

85.0

100

100

115

Diameter luar ulir

80.0

80.0

95.0

95.0

125

Diameter dalam ulir

26.5

33.2

41.9

47.8

59.6

Pemasangan meter air :


1. Sebelum meter air dipasang, pipa harus dilakukan penggelontoran;
2. pada pipa yang akan dipasang meter air harus diberi pengganjal yang dapat berupa pipa
pada tempat dimana akan dipasang meter air;
3. Meter air harus dipasang pada posisi horizontal dan dilindungi dari udara dingin,
kerusakan dan benturan;
4. Sisi inlet dan outlet dari meter, harus dipasang persis pada suhu memanjang pipa
pelayanan;
5. Jalur pipa antara katup inlet , outlet dan perlengkapan lainnya harus cukup luas untuk
memungkinkan pemasangan meter, coupling gasket, strainer bila diperlukan dan
pemasangan pipa;
6. Meter air tidak boleh dipasang pada pipa yang bengkok karena akan menyebabkan
kerusakan pada meter air, terutama pada meter air dengan gelang plastik dan dipasang
terbuka;
7. Pada system ulir dari plastic, rubber gasket-gasket harus dari bahan karet, dan jangan
bahan dari fiber atau kulit.
5.3.11. Pekerjaan Pemasangan Alat Pelengkap;
1. Katup udara
Harus dipasang semua titik tinggi
2. Katup
Pemasangan pipa, katup dan accesoriesnya dilakukan setelah pengecoran beton lantai
bak kontrol, dan sebagian pipa tertanam dalam dinding bak control;

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 63

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

3. Washout
a. Harus dipasang pada semua titik rendah atau ujung pipa.
b. Tidak boleh dihubungkan kesuatu roil atau saluran benam yang menyebabkan
aliran kembali ke system distribusi;
4. Bend
Digunakan untuk perubahan arah vertical dan horizontal yang mendadak dan tidak
dapat dihindari;
5. Penutup ujung pipa;
a. Harus menggunakan fitting yang sesuai dengan jenis pipa yang digunakan misal :

Pipa DCIP, menggunakan balank flange untuk flange socket, untuk rubbering
joint atau bind flange dengan konstruksi penguat sementara;

Pipa PVC menggunakan cap flange socket, untuk rubbering joint atau blind
flange dengan konstruksi penguat sementara;

b. Jika pekerjaan tidak diteruskan harus bersih konstruksi penguat yang permanent
atau trust block dengan adukan 1 : 2 : 3
c. Material yang digunakan, harus bersih dan bebas dari minyak, oli, ter, aspal atau
bahan minyak pelumas lainnya;
d. jika air masuk ke dalam parit galian, sebelum pemasangan pipa dilanjutkan maka
tutup kedua ujung pipa jangan dibuka sebelum parit galian dipompa sampai kering;
6. Bak Katup
1. Konstruksi dari beton bertulang;
2. Dinding luar di cat dengan aspal cair;
3. Untuk dibawah trotoar, tutup manhole harus terbuat dari beton pra cetak;
4. Pemutar katup harus dapat dioperasikan melalui satr pot yang dicor dalam beton;
5. Untuk lokasi dibawah jalan digunakan tutup manhole dari ductile cast iron;
6. Tutup manhole harus dapat menahan beban test di atas 40 ton;
7. Tutup manhole harus dipasang dengan menggunakan baut dan mur stainless;
8. Jika tutup manhole tidak dari bahan ductile cast iron, maka dapat digunakan bahan
pengganti berupa beton bertulang pra cetak dengan mutu beton K-500;
7. Surface box
Body harus dari cast iron dan dapat menahan beban test 40 ton;

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 64

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5.3.12. Kriteria Perencanaan.


Dalam membangun suatu penyediaan air bersih sistem perpipaan diper1ukan suatu kriteria
perencanaan untuk mempermudah menghitung besaran sistem jaringan transmisi, jaringan
distribusi maupun bangunan penunjang.
Kriteria perencanaan untuk sistem perpipaan adalah sebagai berikut :

Sistim pelayanan Kran Umum/Hydran Umum dan Sambungan rumah ( SR ).

Cakupan pelayanan 60 - 100 % daerah pelayanan

Jarak minimum antara kran umum/hydran umum 200 meter

Kebutuhan air : 30-120 lt/orang/hari

Kebutuhan non domestik : 5-10 % dari kebutuhan domestik

Faktor kehilangan air : 20 % dari total kebutuhan.

Faktor hari maksimum : 1,1.

Faktor jam puncak : 15-20 %.

Kapasitas reservoir : 2 x hari maksimum.

Periode Design : 10 Tahun

Koefisien Kekasaran Pipa GI 110 dan PVC : 130

1. Bak Pelepas Tekanan ( BPT )


a. Fungsi dari bak pelepas tekanan ini adalah untuk menurunkan tekanan hidrostatis
menjadi nol pada lokasi dimana bak ini dipasang pada jalur pelayanan.
Bak ini diperlukan bilamana beda tinggi antara sumber air dengan daerah
pelayanan lebih besar dari 80 m.
b. Jumlah bak ini pada suatu sistim perpipaan bisa lebih dari satu, yang mana jumlah
tersebut tergantung pada beda tinggi seperti yang disebutkan diatas. Sebagai
standar dari bak ini, dengan ukuran sebagai berikut :
-

Panjang bersih 1,6 m

Lebar bersih 1 m

Kedalaman 1 rn

c. Bak pelepas tekanan harus dilengkapi dengan pipa penguras, pipa masuk, pipa
keluar dan pipa peluap.
d. Konstruksi dari bak pelepas tekanan ini adalah sebagaimana yang diperlihatkan
pada gambar.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 65

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

2. Valve
Valve berfungsi menghentikan aliran dan mengatur aliran. Valve harus ditempatkan
pada tempat-tempat tertentu sehingga jika ada kebocoran pipa, tidak semua sistim
terganggu tetapi dengan menutup satu atau beberapa valve, daerah yang terganggu
akibat kebocoran tersebut dapat diperkecil.
Jika terdapat perbedaan ketinggian yang cukup besar antara jalur-jalur pipa/perbedaan
sisa tekanan yang cukup besar, valve perlu ditempatkan pada persimpangan jalur pipa
tersebut.
3. Air Release Valve.
Air release valve berfungsi untuk mengeluarkan udara yang terperangkap dalam pipa
sehingga aliran air tidak terganggu. Air release valve harus ditempatkan pada tempattempat tertinggi dari jalur pipa.
Pada jaringan distribusi, tidak perlu digunakan air release valve karena kran umum
sudah berfungsi sebagai air release valve setiap saat kran dibuka.
4. Wash out.
Wash out berfungsi untuk mengeluarkan kotoran-kotoran endapan yang ada di dalam
pipa. Pada umumuya endapan akan terkumpul pada tempat-tempat terendah dan jalurjalur pipa sehingga wash out harus ditempatkan pada tempat-tempat terendah dari jalur
pipa.
5. Reservoir (Bak Penampung)
a. Bak penampung berfungsi sebagai penampung / penyimpanan air untuk mengatasi
problem naik turunnya kebutuhan air dan kecilnya sumber, juga dapat
memperbaiki mutu air melalui pengendapan. Bak ini dapat pula berfungsi sebagai
pelepas tekanan.
b. Semua sudut dinding harus dibuat lengkung untuk memudahkan pembersihan.
c. Pipa keluar harus dipasang kira-k.ira 5 - 20 cm diatas bak.
d. Pipa lubang peluap harus dipasang sedikit lebih tinggi dari pada pipa masukan.
Pipa peluap sekaligus bisa berfungsi sebagai lubang hawa.
e. Pipa peluap harus berdiameter cukup besar untuk melayani aliran maksimum yang
sudah diperhitungkan.
f.

Pipa peluap dan pipa keluaran ke jaringan distribusi harus memakai saringan.

g. Pada bak penampung harus ada lubang (manhole) yang besarnya cukup untuk
dilewati orang masuk ke dalam bak.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 66

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

h. Atap/plafon bak penampung harus mempunyai kemiringan yang cukup sehingga


air hujan tidak tergenang di atasnya.
6. Sambungan Rurnah.
Pelayanan dengan cara ini hanya mungkin dilakukan apabila debit air dapat mencukupi
kebutuhan seluruh penduduk yang dilayani, serta tingkat penghasilan masyarakat yang
sudah cukup tinggi bagi pembayaran retribusi sambungan rumah. Dalam
merencanakan penggunaan sambungan langsung sebagai sistim pelayanan hal utama
yang perlu diperhitungkan selain masalah tingkat pendapatan penduduk adalah
kapasitas debit sumber diproyeksikan terhadap jumlah penduduk yang dilayani.
7. Hydran Umum/Kran Umum.
Kran umum / Hidran umum terdiri dari suatu peralatan yang dilengkapi dengan saluran
drainase. Sebuah bangunan dibuat sebagai penyangga untuk pipa dan kran dimana
biasanya bangunan ini dilengkapi pula dengan stop kran sebagai pengatur aliran atau
penggunaan air. Bangunan penyangga dapat dibuat dari pasangan bata, batu kali
bahkan apabila keadaan memaksa, dapat menggunakan balok kayu. Umumnya kran
umum/hidran umum ditempatkan pada lokasi yang dekat dengan sebanyak mungkin
rumah, mudah dicapai oleh pemakai, namun aman dari lalu lintas kendaraan.
Jarak dari rumah pemakai yang terjauh tidak lebih dari 200 meter. Jarak yang paling
baik adalah 100 meter dari pemakai terjauh.
8. Menghitung Kebutuhan Air dan Proyeksi Penduduk
Kebutuhan air dihitung berdasarkan jumlah pemakai air yang telah diproyeksikan
untuk sepuluh tahun yang akan datang dan kebutuhan rata-rata setiap pemakai. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat dalam table
9. Menentukan Jenis Pipa
Untuk sistim penyediaan air bersih pedesaan, jenis pipa yang digunakan adalah pipa
PVC dan GI. Pada prinsipnya pada semua sistim perpipaan, pipa PVC harus
digunakan, Pipa GI hanya bisa digunakan apabila :
Pipa tidak bisa ditanam karena dipasang pada daerah berbatu keras, pada jembatan pipa
dan kran umum
10. Menentukan Diameter Pipa dan perhitungan Hydraulik
Untuk memudahkan perhitungan dan pemeriksaan disain, harus dibuat gambar skema
distribusi dan skema hydraulis, kemudian ditentukan node pada jalur pipa dan diberi

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 67

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

nomor. Gambar skema distribusi menggambarkan seluruh jaringan pipa dengan semua
node, elevasi node, panjang pipa dan kran umum yang akan dipasang dalam daerah
tersebut. Untuk lebih memepercepat perhitungan maka dapat menggunakan program
Epanet.
11. Menghitung kecepatan aliran dalarn pipa.
V = Q/A
Dimana:
V = Kecepatan aliran dalam pipa.
Q = Debit air yang mengalir
A = Luas penampang pipa
12. Hitung kehilangan tekanan per 1000 m (hf/1000) dengan menggunakan rumus Hazen
William atau tabel Hazen William.
Q = 0,282 x C x D2,63x S0,54
Dimana :
Q = debit dalam m/s
C = koefesien kekasaran pipa ( 130 )
D = diameter pipa dalam m.
S = slope
13. Detail Sambungan
Dalam membuat detail sambungan antara jalur-jalur pipa diperlukan accessories /
perlengkapan pipa. Jenis dan ukuran accesories yang disediakan dapat dilihat dalam
lampiran. Standard sambungan dan kebutuhan accesories untuk bronkaptering, pelepas
tekanan, dan taping untuk kran umum.
14. Jembatan Pipa
a. Merupakan bagian dari pipa distribusi yang menyeberang sungai/saluran atau
sejenis, di atas permukaan tanah/sungai.
b. Pipa yang digunakan untuk jembatan pipa disarankan menggunakan pipa L
c. Jika diijinkan oleh instansi yang berwenang, jembatan pipa ditempatkan pada
jembatan yang ada dengan ketentuan mengikuti peraturan yang dikeluarkan oleh
instansi tersebut.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 68

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.4.

Perencanaan Sanitasi/Sistim Air kotor

5.4.1.

Umum

Laporan Perencanaan

Air limbah yang berasal dari rumah tangga harus diolah atau dialirkan ke tempat
pengolahan agar tidak menimbulkan pencemaran yang membahayakan kehidupan manusia
dan lingkungan permukiman. Untuk itu harus ditangani dengan benar dan tuntas.
Air limbah yang dibuang sembarangan akan mengakibatkan :

Penyebaran penyakit, seperti diare, gatal-gatal, dan sebagainya.

Pencemaran lingkungan yang dapat menimbulkan kerugian berupa :


-

Pengotoran terhadap sumber air bersih

Timbulnya bau yang tidak sedap

Keadaan lingkungan yang tidak nyaman/kotor.

Untuk menanggulangi air limbah diperlukan kesadaran tinggi dari masyarakat tentang arti
kebersihan dan kesehatan sehingga diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, yang
tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi menjadi kewajiban bersama oleh
masyarakat.
Untuk menangani pembuangan air limbah terdapat beberapa sistem yaitu :

Sistim Sanitasi pembuangan setempat, yang biasa dikerjakan sendiri oleh masyarakat,
yaitu dengan membuat cubluk atau tangki septic di halaman rumah sesuai dengan
persayarat teknis yang berlaku.

Sistem Sanitasi pembuangan terpusat yaitu dengan membangun jaringan saluran air
limbah yang akan mengalirkan limbahnya ke suatu tempat pengolahan.

Sedangkan dengan kondisi dan master plan desa, maka untuk penanganan sarana sanitasi
yaitu dengan system

sanitasi setempat. Adapun sarana yang akan dibangun yaitu

Bangunan atas dan bangunan bawah yaitu untuk bangunan atas berupa jamban dan
bangunan bawah berupa septic tank beserta bidang resapan.
5.4.2.

Kriteria Teknis

5.4.2.1. Bangunan Atas ( Jamban )


1. Lokasi
a. Dapat ditempatkan diluar rumah atau didalam rumah
b. Dapat merupakan bangunan ynag berdiri sendiri atau bagian dari rumah induk.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 69

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

c. Jamban harus mudah dicapai dengan aman dan mudah bila hari hujan atau malam
hari.
d. Dapat dibangun dekat sumur gali (sumber air) dengan memperhatikan jarak
bangunan bawah terhadap sumur (10-15) meter.
2. Penyediaan Air Bersih
a. Sumber Air
Sumber air yang akan dipergunakan untuk keperluan jamban keluarga (JAGA)
atau jamban sekolah (JAMLAH) diambil dari sumber air yang dipergunakan untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga (mandi, cuci, masak)
b. Kuantitas Air
Kuantitas air bersih yang dibutuhkan sekurang-kurangnya 10 l/org/hr yang akan
digunakan untuk membilas
c. Kualitas Air
Kualitas air bersih yang dipergunakan disarankan memenuhi persyaratan air
minum /air bersih.
3. Bahan Bangunan
a. Kriteria Bahan Bangunan
i. Kemudahan penyediaan
ii. Kemudahan pelaksanaan
iii. Kekuatan dan keandalan konstruksi
iv. Dapat diterima oleh masyarakat pemakai.
b. Persyaratan Bahan Bangunan
Bahan bangunan yang digunakan harus memenuhi persyaratan seperti tercantum
dalam buku SK SNI.
4. Teknis
a. Standard Bangunan Atas (Rumah Jamban)
Rumah jamban dapat dibuat dari beberapa bentuk sesuai jenis bahan yang dapat di
pakai, untuk itu secara umum rumah jamban di bagi 3 kategori, yaitu:
1) Sederhana, yaitu dibuat dari bahan yang sangat sederhana dan paling murah,
alang - alang, daun pohon kelapa, gedeg dan lain - lain.
2) Semi permanent, yang dibuat dari bahan bambu (gedeg) untuk dinding atau
kayu dan atap dari seng gelombang.
3) Permanen, yaitu dibuat dari pasangan bata dengan atap seng gelombang.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 70

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Untuk jamban sekolah juga perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


1) Memerlukan pemisahan kelompok ruangan bagi wanita dan pria.
2) Memerlukan urinoir / tempat pembuangan air kecil yang terpisah dari jamban
pria.
3) Jumlah / ukuran jamban dan urinoir tergantung pada kapasitas pelayanaan
yang telah ditentukan berdasarkan jumlah pelajar dan pengurus sekolah
b. Tata cara pembuatan.
1) Membuat Pondasi
i. Buatlah patok batas pondasi dan buat parit pondasi dengan lebar 20-30
cm dan dalam 40 cm.
ii. Dasar pondasi harus rata.
iii. Temboklah barisan batu kali bata pertama dengan lebar sambungan
sekitar 1-5 cm
iv. Penembokan harus rata, uji dengan waterpass dan gunakan alat siku
untuk menyiku sudut-sudut.
v. Pasangan bata / batu kali menggunakan adukan semen : pasir = 1 : 4 atau
kapur : pasir = 1 : 3
vi. Pasangan harus rapi dan baik, sediakan lubang pipa masuk dari jamban
atau bak kontrol dan juga lubang pembuangan air basuhan.
vii. Pasangan batu kali / bata yang paling atas sekurang-kurangnya terletak
15 cm di atas permukaan tanah.
2) Memasang Plat Jongkok dan Leher Angsa
i. Sambungan plat jongkok ke leher angsa (bersifat sementara), sambungan
agak longgar dan permukaan plat jongkok rata dengan pondasi.
ii. Uji kelandaian pipa dan kelancaran aliran air dengan menuang air ke
dalam plat jongkok, kemudian lepaskan lagi plat jongkok.
iii. Urug tanah setebal 10 cm, padatkan.
iv. Tuangkan lapisan beton pertama setebal 7,5 cm, semen : pasir : kerikil =
1 : 6 : 12.
v. Tuangkan lapisan beton kedua setebal 2 cm, semen : pasir : kerikil = 1 :
6 : 12.
vi. Lapisi bagian dalam leher angsa dengan adukan semen : pasir = 1 : 1 dan
pasang plat jongkok ditempatnya dengan kokoh dan rata dengan lantai

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 71

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Pastikan permukaan pelat jongkok rata dengan lantai jamban. Pulas lantai
dengan papan atau sikat sehingga permukaan agar kasar.
3) Menyiapkan Kusen
i. Buatlah kusen dengan ukuran 65 cm 70 cm (lebar) dan 1,80 cm
(tinggi).
ii. Pasang kusen (harus tegak lurus) dengan memasang penyokong pada
sisi-sisinya.
iii. Pasang angker pada kusen sehingga pertemuan dengan dinding menjadi
kokoh.
4) Mendirikan Dinding
i. Dinding Bawah
ii. Pasang tiang-tiang penyongkong agar pasangan bata tetap tegak lurus.
a. Pasanglah lapisan pertama, mulai dari sudut-sudut dan berakhir di
tengah-tengah.
b. Tancap batang pengukur di sudut pertemuan bata, rentangkan tali
pengikat datar pada setiap pemasangan lapisan bata.
c. Pasang dinding bata
d. Plesterlah dengan adukan semen : pasir = 1 : 2 setebal 0,5 cm
dengan rata bagian-bagian :

Dinding luar, agar terlindung percikan air hujan;

Lantai jamban dibuat miring agar air mudah mengalir;

Dinding dalam, supaya mudah dibersihkan.

e. Ratakan permukaan plesteran sampai rata dan halus.


iii. Dinding Atas
a. Dapat dibuat dari batako, batu merah, kayu, bambu dengan dinding
papan kayu atau anyaman bambu.
b. Tiga sisi dinding dibuat setinggi 1,80 2, 0 meter dari lantai dinding
yang ke empat 20 cm hingga 40 cm lebih tinggi agar diperoleh atap
yang landai (miring)
c. Dinding dapat pula dibuat setinggi 1,5 meter (dari lantai), bagian
atas dibiarkan terbuka atau dinding setinggi 1 meter di atasnya
rangka kayu atau bambu dan dinding papan atau anyaman bambu.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 72

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5) Membuat Bak
i.

Bak air diperlukan untuk menyimpan air penggelontoran, yang dapat


menampung air sebanyak 100 liter. Ukuran minimum tinggi dan lebar 40
cm dan panjang 60 cm, dengan bahan menggunakan batako atau bata.

ii. Lantai bak harus cukup miring ke arah lubang penguras bak.
6) Memasang Atap
i. Bahan yang dapat digunakan : seng gelombang, atap plastik, daun kelapa,
daun bambu, ijuk
ii. Atap sebaiknya menurun 20 cm (atau lebih) melebihi dinding untuk
mencegah air hujan masuk melalui lubang angin.
iii. Atap genting.
a. Menggunakan gording 6/10, dengan, jarak antara gording 1,5 2 m.
b. Di atas gording dipasang kaso 5/7, jarak antara kaso 40 cm
c. Di atas kaso dipasang reng 2/3, jarak antara 25 cm dipaku dengan kuat
d. Setelah selesai genting dapat dipasang dengan rapi dan baik agar tidak
terdapat celah-celah atau bocoran
iv. Atap plastik atau seng gelombang tidak membutuhkan reng.
7) Menyelesaikan Dinding
i.

Dinding Dalam
Dinding terbuat dari batako atau batu bata
a. Plester dinding dengan adukan semen : pasir = 1 : 4 setebal 0,5 cm
b. Ratakan permukaan sampai rata dan halus
c. Bila sudah kering labur dengan cat tembok atau kapur

ii

Dinding Luar
Pengerjaannya sama dengan dinding dalam

8) Menyelesaikan Pintu
i.

Ukuran pintu tinggi 1,8 cm lebar 0,65 0,7 m

ii. Rangka pintu dapat dibuat dari kayu dan dilapisi seng atau alumunium.
9) Membenahi Sekitar Jamban
i.

Jagalah kebersihan sekitar jamban

ii. Pasang lampu agar jamban tidak gelap di malam hari


iii. Tempatkan keset di depan pintu agar sepatu atau sandal yang kotor dapat
di bersihkan sebelum masuk jamban dan sewaktu keluar dari jamban.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 73

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

5.4.2.2. Septic Tank ( tangki septik )


1. Umum
Rencana pembangunan tangki septik baru dapat dilakukan setelah memenuhi
persyaratan yang ditentukan.
a. Bahan Bangunan
1) Persyaratan Bahan Bangunan
Pemakaian bahan bangunan untuk tangki septik harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
a). Bahan bangunan harus terhadap gaya yang mungkin timbul dan memenuhi
ketentuan SK-SNI mengenai spesifikasi bahan bangunan;
b). Bahan bangunan harus lebih tahan terhadap keasaman dan kedap air.
2) Alternatif Pemakaian Bahan Bangunan
Bahan bangunan yang dapat digunakan untuk tangki septik dapat dipilih dari
daftar bahan bangunan seperti tercantum dalam table 5.4.1 sesuai dengan
komponen bangunan tangki septik.
TABEL 5.4.1 Alternatif Pemakaian Bahan Bangunan
Untuk Tanki Septic
Komponen Bangunan
Bahan Bangunan
Batu kali
Bata merah
Batako
Beton biasa
Beton bertulang
Asbes Semen
PVC
Keramik
Plat besi
Catatan : * dianjurkan

Dasar
Bangunan
*
*
*
*
*
*

Penutup

*
*
*

Pipa Penyaluran
Air Limbah

*
*
*
*

b. Bentuk dan Ukuran


Bentuk dan ukuran tanki septik adalah sebagai berikut:
1). Tangki septik empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan lebar 2
: 1 sampai 3 : 1. lebar tangki sekurang-kurangnya 0,75 m dan panjang tangki
sekurang-kurangnya 1,50 m.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 74

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tinggi air dalam tangki sekurang-kurangnya 1,00 meter dan kedalaman


maksimum 2,10 m. tinggi septik adalah tinggi air dalam tangki, ditambah
dengan ruang bebas air sebesar (0,20 0,40)m dan ruang penyimpanan
Lumpur. Dasar tangki dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu
untuk memudahkan pengurasan Lumpur. Dinding tangki septik harus dibuat
tegak;
2). Tangki septik ukuran kecil yang hanya melayani satu keluarga dapat berbentuk
bulat dengan diameter sekurang-kurangnya 1,20 m dan tinggi sekurangkurangnya 1,00m;
3). Penutup tangki septik maksimum terbenam ke dalam tanah 0,40 m
Bentuk tangki septik ditentukan seperti dalam gambar rencana sedangkan
ukuran tangki septik berdasarkan jumlah pemakai dapat dilihat pada berikut.
2. Lokasi
a. Dapat ditempatkan di luar atau di dalam rumah
b. Dapat merupakan bangunan yang berdiri sendiri atau bagian dari rumah induk
c. Jamban harus mudah dicapai dengan aman dan mudah bila hari hujan atau malam
hari
d. Dapat dibangun dekat dengan sumur gali (sumber air) dengan memperhatikan
jarak
3. Penyediaan Air Bersih
a. Sumber Air
Sumber air yang akan dipergunakan untuk keperluan jamban keluarga (JAGA)
diambil dari sumber air yang akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangga (mandi, cuci, masak)
b. Kuantitas Air
Kuantitas air bersih yang dibutuhkan untuk JAGA sekurang-kurangnya 10
l/org/hari yang akan digunakan untuk membilas.
c. Kualitas Air
Kualitas air bersih yang akan dipergunakan disarankan memenuhi persyaratan air
minum / air bersih
4. Sistem Pembuangan Air Kotor
a. Pipa Air Kotor
Ketentuan pipa air kotor :

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 75

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

1. Diameter minimum 15 cm untuk pipa yang terbuat dari tanah liat atau beton
dan minimal 10 cm untuk pipa PVC.
2. Kemiringan minimum 2% - 3%
3. Di setiap belokan melebihi 45o dan perubahan kemiringan 22,5o harus
dipasang Clean Out untuk pembersihan pipa/pengontrol.
b. Drainase (system pengeringan)
Perlengkapan drainase dimaksudkan untuk menyalurkan air hujan atau air bekas
siraman yang tersisa kesaluran pengeringan umum (parit jalan) diameter minimal
10 cm
5.4.2.3. Kriteria Perencanaan
1. Standard dan Kriteria Teknis Bangunan Atas (Rumah Jamban)
Dapat dilihat pada tata cara pembuatan bangunan atas.
Type Rumah Jamban.
Type jamban ditentukan oleh luas lantai yang akan dibangun:

Type A

Luas lantai 1,20 m2

Type B

Luas lantai 1,30 m2

Type C

Luas lantai 3,00 m2

Tabel 5.4.2. Type Jamban


Luas lantai

Pondasi

Luas Dinding

Luas Atap

(m2)

(m2)

(m2)

(m2)

1,20

3,4

7,2

2,8

1,30

3,6

9,0

3,1

2,00

5,2

16,6

4,1

Type

2. Standard dan Kriteria teknis Bangunan Bawah


a. Kriteria Teknis Tangki Septik

Berbentuk empat persegi panjang dengan perbandingan panjang : lebar adalah


2:1 s/d 3:1. Lebar tangki minimum 0,75 m dan panjang tangki minimum 1,50
m dengan konstruksi yang kedap air

Tinggi tangki septik adalah tinggi air dalam tangki ditambah dengan ruang
bebas sebesar (0,2 - 0,4 m).

Pipa outlet dan inlet berupa pipa T

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 76

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Pipa penyalur air limbah dari bangunan atas maupun pipa peresapan
mempunyai diameter minimum 7,5 cm untuk pipa PVC dan 15 cm untuk pipa
tanah liat dengan kemiringan minimum (2-3%)

Dasar tangki dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu untuk
kemudahan pengurasan Lumpur

Dinding tangki septik harus dibuat tegak

Tutup tangki septik terbuat dari beton dengan kedalaman maksimum terbenam
dalam tanah 0,40 m untuk memudahkan inspeksi

Harus dilengkapi dengan resapan yang berbentuk sumur/parit/bidang resapan


yang berjarak terdekat 10 s/d 15 meter dari sumur gali atau SPT yang menjadi
sumber air bersih masyarakat (tergantung kondisi tanah setempat).

Waktu pengurasan Lumpur 2 s/d 3 tahun

b. Standar Tangki Septik


Bila daya resap tanah < 10 l/m2/hr dan tinggi muka air tanah < 1,5 m maka dipakai
system tangki septik standard hanya untuk bangunan jamban saja ( tinja dan urine
dapat dilihat dalam tabel berikut).
Tabel 5.4.3. Ukuran Septik Tank berdasarkan pemakai
Banyaknya
Pemakai
(orang)
5
10
15
20
25
30
35

Ukuran
(meter)
Lebar
0,6
0,7
0,8
1,0
1,0
1,0
1,0

Panjang
1,2
1,4
1,5
1,8
2,0
2,0
2,2

Dalam
0,8
1,2
1,2
1,2
1,2
1,4
1,4

Tabel 5.4.4. Bidang Resapan


Jumlah
Pemakai
(orang)
5
10-15
20-25
30
35

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

Panjang Bidang Resapan


Daya Resap Tanah (lt/m2/hr)
10

15

20

25

6
11-17
22-28
33
39

4
7-11
14-18
21
25

3
6-9
12-15
18
21

2
4-6
8-10
12
14

V - 77

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.5.

Perencanaan Persampahan

5.5.1.

Pewadahan sampah

Laporan Perencanaan

Pewadahan sampah secara lebih spesifik dapat diartikan sebagai penanganan sampah pada
sumber sebelum pengumpulan, termasuk di dalamnya adalah pemisahan, penyimpanan dan
pemrosesan. Element ini dapat memiliki efek yang signifikan terhadap karakteristik
sampah, keseluruhan sistem serta kesehatan dan perilaku masyarakat.
Skenario yang ditawarkan merupakan solusi yang dapat mengakomodasi berbagai
permasalahan yang timbul.
a. Material wadah sampah
Wadah sampah yang baik adalah wadah sampah yang memiliki kapasitas yang
cukup, tahan lama (durable), seragam, dan mudah dalam proses pengumpulannya.
o

Wadah yang terbuat dari plastik atau fiber yang berpenutup (volume 0.3-0.5 m3)
merupakan opsi yang terbaik. Selain ringan bahan tersebut juga relatif tahan
terhadap perubahan cuaca.

Stainless steel merupakan bahan logam yang bisa digunakan. Keuntungannya


secara estetika memiliki kelebihan dibanding bahan plastik dan fiber, tetapi lebih
mahal dan berat.

Kombinasi stainless steel sebagai outer casing dan fiber atau plastik sebagai
inner casing yang dapat diangkat untuk pengumpulan. Kombinasi ini secara
estetis baik, tahan, dan mudah dalam proses pengumpulan namun memiliki
konsekuensi mahal dalam pembuatannya.

Gambar 5.5.1. Bin atau tempat sampah yang terbuat dari plastik

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 78

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

b. Perletakan wadah sampah


Beberapa opsi dapat diambil dalam meletakkan wadah sampah. Opsi ini berkaitan
dengan kebiasaan masyarakat dan sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan.
o

Perletakan permanen pada trotoar


Keuntungan yang didapat adalah sistem yang sederhana dan tidak mengharuskan
pengelolaan yang komplek, tepat bagi masyarakat dengan peran serta rendah,
mempermudah pengguna jalan untuk membuang sampah. Kerugiannya kurang
baik secara estetis jika tidak dikelola dengan baik.

Perletakan tidak permanen.


Wadah sampah dikelola sepenuhnya oleh penghasil sampah. Wadah sampah
bersifat fleksibel (beroda). Pada waktu tertentu (waktu pengumpulan sampah)
produsen sampah mengeluarkan wadah sampah di pinggir jalan untuk diangkut
armada pengumpul (curb-side collection), dan mengambil kembali untuk
disimpan setelah sampah diambil. Keuntungan yang didapat adalah secara estetis
wadah sampah tidak akan terlihat, dan tidak mengganggu pejalan kaki. Kerugian
sistem ini menuntut partisipasi tinggi masyarakat dan sulitnya pemakai jalan
untuk membuang sampah.

Kombinasi permanen dan non-permanen.


Merupakan kombinasi dari dua sistem di atas. Merupakan opsi yang terbaik,
karena akan mengurangi jumlah wadah sampah permanen yang ada di jalan.
Kerugiannya membutuhkan pengelolaan yang lebih komplek dan biaya yang
lebih besar.

Gambar 5.5.2. Perletakan wadah sampah non-permanen

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 79

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tabel 5.5.1. Jenis Peralatan dan Sumber Sampahnya


Sumber sampah
Daerah perumahan
teratur/belum teratur

Jenis Peralatan
sudah - kantong plastik/kertas volume sesuai yang
ada
- Bin plastik/tong volume 40-60 liter, dengan
tutup.
Pasar
- Bin/tong sampah, volume 50-60 liter yang
dipasang secara permanen
- Bin plastik, volume 120-240 liter ada
tutupnya dan memakai roda.
- Gerobak sampah, volume 1 m3
- Container dari arm roll volume 6-10 m3.
- Bak sampah isi variable.
Pertokoan
- Kantong plastik, volume bervariasi
- Bin plastik/tong, volume 50-60 liter.
- Bin plastik, volume 120-240 liter dengan
roda.
Perkantoran / hotel
- Container volume 1 m3 beroda.
- Container besar volume 6-10 m3.
Tempat umum, jalan dan taman
- Bin plastik/tong volume 50-60 liter, yang
dipasang secara permanen.
- Bin plastik, volume 120-140 liter dengan
roda.
yang

Sumber : DPU Dirjen Cipta Karya,1992.

5.5.2.

Pengumpulan sampah.
Pengumpulan sampah merupakan proses pengambilan sampah dari sumber sampah untuk
di bawa ke Tempat Penampungan Sementara (TPS).
Alternatif proses pengumpulan sampah yang bisa di lakukan adalah:
a. Individual Tak Langsung
Proses pengumpulan merupakan tanggung jawab dari masyarakat sekitar dengan alat
pengumpul berupa becak sampah ataupun truk sampah yang mengumpulkan sampah
dari rumah penduduk untuk di bawa ke TPS. Pada sistem ini keberadaan TPS yang
diletakkan di lingkungan perumahan masih dibutuhkan.
b. Individual Langsung
Proses pengumpulan dimana produsen sampah mengumpulkan sampah di rumah
masing-masing untuk dikumpulkan oleh armada pengumpul menuju TPS terpusat atau
langsung menuju TPA. Dalam sistem ini kebutuhan TPS yang diletakkan di sekitar
lingkungan perumahan sudah tidak diperlukan. Armada pengumpul yang bisa
digunakan adalah truk sampah mengingat luasnya wilayah pelayanan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 80

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Alternatif pewadahan dalam kaitannya dengan sistem pengumpulan ini adalah :


o

Pewadahan permanen : produsen sampah memiliki wadah permanen yang diletakkan


di depan rumah masing-masing.

Pewadahan tidak permanen : produsen sampah menyiapkan wadah sampah pada jam
pengumpulan dan menyimpannya kembali setelah sampah dikumpulkan oleh armada
pengumpul.

Gambar 5.5.3. Armada pengumpul sampah dengan ukuran kecil

Gambar 5.5.4. Truk pengangkut sampah


5.5.3.

Pemindahan sampah.
Pemindahan sampah merupakan proses penempatan sampah sementara dari sumber
sampah pada tempat pembuangan sementara (TPS) sebelum dibawa menuju TPS terpusat
ataupun TPA. TPS ini menampung sampah yang berasal dari perumahan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 81

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Rekomendasi yang bisa ditawarkan adalah :


a. Penggantian, perbaikan dan perawatan kontainer (eksisiting).
Kontainer yang digunakan terbuat dari kayu yang kurang tahan terhadap pelapukan,
sehingga dalam waktu tertentu akan mengalami kerusakan. Pemilihan material yang
lebih tahan seperti plastik, fiber, ataupun logam yang tahan karat dapat
dipertimbangkan untuk memperbaiki kualitas pengangkutan, memperpanjang usia
kontainer dan mengurangi biaya perawatan.
Penggunaan kontainer yang tertutup akan memperbaiki estetika dan mengurangi bau,
mencegah ceceran lindi dan sampah.
Perawatan kontainer (pencucian, pengecatan, dll) secara berkala akan memperpanjang
masa pakai dan lebih baik secara estetika.

Gambar 5.5.5. Kontainer yang terbuat dari plastik/fiber dan logam


b. Perletakan kontainer
Kontainer hanya diletakkan pada tempat-tempat yang memiliki volume timbulan
sampah yang tinggi. Di samping itu kontainer tidak direkomendasikan diletakkan pada
pemukiman penduduk. Jika harus diletakkan pada permukiman penduduk maka harus
ditempatkan pada tempat tertutup sehingga tidak menggangu kesehatan dan estetika
lingkungan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 82

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Gambar 5.5.6. Perletakkan kontainer pada tempat tertutup

Sumber
sampah

Armada
pengangkut

TPS

TPS
terpusat/TPA

Gambar 5.5.7. Skema pengelolaan sampah pada kawasan perumahan


Tabel 5.5.2. Jenis Peralatan
No

Jenis peralatan
Vol

1
2
3
4
5

6
7
8

5.5.4.

Wadah individual
- kantong plastik
- bin/tong
Wadah komunal
Gerobak sampah/sejenisnya
Container armroll truk
Transfer depo
Tipe I
Tipe II
Tipe III
Truk kecil (truk mini)
Truk sampah 3.5 ton
Armroll truk

Kapasitas Peralatan
KK

10 - 40 liter
40 liter
0,5 - 1,0 m3
1 m3
6 m3
8 m3
10 m3
(>200 m2)
(60 - 200 m2)
(10 - 20 m2)
2 m3
7-10 m3
6 m3
8 m3
10 m3

1
1
40 - 50
140
825
1.100
1.375

s/d 500
1000

Jiwa
6
6
240 - 300
800
4.950
6.600
8250

s/d 3000
10.000

Umur
teknis
(tahun)
Sekali
2-3
1-2
2-3
2-3
20
20
20
5
5
5
5
5

Optimalisasi peran serta masyarakat


Optimasi peran serta masyarakat bertujuan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat
dalam menjaga lingkungannya. Secara khusus dalam hal ini adalah pengelolaan sampah.
Sebaik apapun sistem yang digunakan dalam pengelolaan sampah, jika tidak ditunjang dan
didukung oleh peran dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan maka
sistem tersebut tidak akan berhasil.
Sasaran yang dituju adalah menumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat berhak
mendapatkan lingkungan yang bersih dan sehat, disamping itu masyarakat juga
mempunyai kewajiban utuk memelihara lingkungannya sendiri.
Beberapa opsi yang bisa digunakan untuk mendorong kesadaran dan partisipasi publik
adalah :

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 83

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

a. Sosialisasi dan Informasi


Sosialisasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah melalui instansi yang
bertanggung jawab dalam hal ini adalah dinas Kebersihan adalah penyebaran informasi
melalui media cetak (koran, majalah, dll), media elektronik (televisi, radio), maupun
sarana promosi yang lain, seperti leaflet, brosur, poster-poster, baliho dan lain-lain.
Media-media tersebut bisa disebarluaskan dan ditempatkan pada fasilitas-fasilitas
publik seperti mall, perkantoran, instansi pemerintah, pusat-pusat hiburan dll, sehingga
masyarakat selalu mendapatkan informasi tentang hak dan kewajiban mereka dalam
pengelolaan lingkungan.
b. Sistem Insentif
Sistem insentif merupakan sistem yang digunakan untuk merangsang produsen sampah
(polluter) untuk mengurangi jumlah timbulan sampahnya. Mekanisme yang digunakan
misalnya dengan membebankan biaya retribusi berdasarkan jumlah/volume timbulan
sampah.
Polluter dengan jumlah sampah yang besar akan mendapatkan jumlah retribusi yang
lebih besar di bandingkan polluter dengan kuantitas limbah yang kecil. Pilihan yang
lain yaitu dengan sistem pengurangan pajak yang dibebankan pada mereka jika polluter
dapat mengelola atau mengurangi timbulan sampahnya. Tentu saja ini membutuhkan
koordinasi yang intensif antar berbagai instansi yang terkait.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 84

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.6.

Kriteria Perencanaan Listrik

5.6.1.

Umum

Laporan Perencanaan

Perencanaan listrik disini mengacu pada Peraturan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL
2000), dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 04-0225-2000) dari Badan Standarisasi
Nasional. Namun tetap mengikuti Sistem jaringan yang sudah ada di Propinsi Nangroe
Aceh Darussalam yang di keluarkan oleh PLN wilayah Propinsi Nangroe Aceh
Darussalam.
5.6.2.

Instalasi Listrik Desa


1. Umum.
1.1. Yang dimaksud dengan instalasi listrik desa adalah instalasi listrik untuk
pembangkitan, distribusi, pelayanan, dan pemakaian tenaga listrik di desa
dengan konstruksi yang disederhanakan.
1.2. Instalasi listrik desa hanya berlaku bagi daerah pedesaan (di desa), dan
diterapkan pada satu lokasi atau kasus berdasarkan kondisi yang masih
memerlukannya dengan memperhatikan persyaratan-persyaratannya.
2. Instalasi rumah sederhana di desa.
2.1. Ketentuan Umum
Ketentuan dalam pasal ini diperuntukkan bagi instalasi rumah sederhana di desa
dengan batas alat pembatas arus maksimum 10 A dengan tegangan nominal
maksimum 230 volt fase tungggal.
2.2. Ketetuan Khusus
2.2.1.

Instalasi rumah sederhana tidak memerlukan gambar instalasi.

2.2.2.

Instalasi rumah sederhana boleh dipasang oleh pelaksana instalasi listrik


desa yang telah disahkan oleh instansi yang berwenang.

2.2.3.

Instalasi dipasang terbuka, kabelnya dipasang pada permukaan dinding,


tiang rumah dan bagian dari bangunan lainnya yang terbuat dari atau
dialasi dengan kayu/papan dan bahan lainnya yang tidak mudah tersulut
api.

2.2.4.

Instalasi hanya terdiri atas satu sirkit yang dilengkapi dengan gawai
proteksi arus lebih maksimum 10 A.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 85

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

2.2.5.

Laporan Perencanaan

PHB yang digunakan harus dari jenis tertutup dengan kotak dari bahan
yang tidak mudah terbakar. PHB dipasang pada dinding tembok atau
papan.

2.3. Penghantar
2.3.1.

Sebagai penghantar digunakan kabel berisolasi ganda (misalnya NYM)


yang terdiri atas dua atau tiga inti tembaga pejal dengan penampang tiap
intinya minimum 1.5 mm2.

2.3.2.

Kabel dicabangkan dalam kotak percabangan dengan penyambungan


yang baik.

3. Titik beban
3.1. Jumlah titik beban maksimum sembilan buah, termasuk kotak kontak sejumlah
maksimum tiga buah.
3.2. Kotak kontak yang digunakan harus dari jenis yang dilengkapi kontak proyeksi,
dan dipasang setinggi minimum 1,25 m dari lantai.
3.3. Pembumian untuk instalasi rumah sederhana dilaksanakan dengan memasang
elektrode bumi yang dihubungkan dengan terminal pembumian pengamanan
pada PHB secara langsung atau melalui meter KWh.
4. Sambungan Rumah Desa (SRD)
4.1. Ketentuan ini berlaku bagi sambungan rumah untuk instalasi sebagaimana
dimaksud dalam Instalasi Rumah sederhana di desa.
4.2. SRD terdiri dari kabel instalasi berinti dua dengan penampang setiap intinya
minimum 4 mm2 Cu atau yang setaraf.
4.3. Selain yang tersebut di atas, SRD dapat menggunakan dua penghantar yang
terdiri atas satu penghantar fase berisolasi dengan penampang minimum 4 mm2
Cu, atau yang setaraf, dan satu penghantar netral atau penghantar proteksi yang
mempunyai KHA sekurang-kurangnya sama dengan penghantar fasenya.
4.4. Bahan isolasi untuk SRD harus tahan cuaca dan sinar matahari daerah tropis.
4.4.1.

Panjang rentang SRD maksimum 45 meter dengan memperhitungkan


kekuatan tarik SRD-nya.

4.4.2.

Jumlah rumah/sambungan per SRD maksimum tujuh buah, atau panjang


SRD maksimum (seri) 200 meter.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 86

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

4.4.3.

Laporan Perencanaan

SRD harus dilengkapi dengan pengaman lebur atau MCB dengan nilai
nominal maksimum 10 A dan bila diperlukan sebuah meter KWh yang
dipasang di bagian luar rumah.

5.6.3.

Persyaratan Dasar
1. Proteksi untuk keselamatan
Persyaratan dalam hal ini dimaksudkan untuk menjamin keselamatan manusia, dan
ternak, juga keamanan harta benda dari biaya dan kerusakan yang bisa ditimbulkan
oleh penggunaan instalasi listrik secara wajar.
CATATAN : Pada instalasi listrik terdapat dua jenis resiko utama, yaitu :
a) Arus kejut listrik
b) Suhu berlebihan yang sangat mungkin mengakibatkan kebakaran, luka bakar atau
efek cedera lain.
2. Proteksi dari kejut listrik
3.1. Proteksi dari sentuh langsung
Manusia dan ternak harus dihindarkan/diselamatkan dari bahaya yang bisa
timbul karena sentuhan dengan bagian aktif instalasi (sentuh langsung) dengan
salah satu cara dibawah ini :
a) Mencegah mengalirnya arus melalui badan manusia atau ternak.
b) Membatasi arus yang mengalir melalui badan sampai suatu nilai yang lebih
kecil dari arus kejut.
3.2. Proteksi sentuh tak langsung
Manusia dan ternak harus dihindarkan/diselamatkan dari bahaya yang bisa
timbul karena sentuhan dengan bagian konduktif terbuka dalam keadaan
gangguan (sentuh tak langsung) dengan salah satu cara dibawah ini :
a)

Mencegah mengalirnya arus gangguan melalui badan manusia atau ternak

b)

Membatasi arus gangguan yang mengalir melalui badan sampai suatu nilai
yang lebih kecil dari arus kejut.

c)

Pemutusan suplai secara otomatis dalam waktu yang ditentukan pada saat
terjadi gangguan yang sangat mungkin mengakibatkan mengalirnya arus

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 87

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

melalui badan yang bersentuhan dengan bagian konduktif terbuka, yang


nilai arusnya sama dengan atau lebih besar dari arus kejut listrik.
CATATAN :

Untuk mencegah sentuh tak langsung penerapan metode ikatan


penyama potensial adalah salah satu prinsip penting untuk
keselamatan.

3.3. Proteksi dari efek termal


Instalasi listrik harus disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada resiko
tersulutnya bahan yang mudah terbakar karena tingginya suhu atau busur api
listrik, demikian pula tidak akan ada resiko luka bakar pada manusia maupun
ternak selama perlengkapan listrik beroperasi secara normal.
3.4. Proteksi dari arus lebih
Manusia atau ternak harus dihindarkan/diselamatkan dari cedera, dan harta
benda diamankan dari kerusakan karena suhu yang berlebihan atau stres
elektromekanis karena arus lebih yang sangat mungkin timbul pada penghantar
aktif.
Proteksi ini dapat dicapai dengan salah satu cara dibawah ini :
a) Pemutusan secara otomatis saat terjadi arus lebih sebelum arus lebih itu
mencapai nilai yang membahayakan dengan memperhatikan lamanya arus
lebih bertahan.
b) Pembatasan arus lebih maksimum, sehingga nilai dan lamanya yang aman
tidak terlampaui.
3.5. Proyeksi dan arus gangguan
Penghantar, selain penghantar aktif, dan bagian lain yang dimaksudkan untuk
menyalurkan arus gangguan harus mampu menyalurkan arus tersebut tanpa
menimbulkan suhu yang berlebihan.
Catatan :
a) Perhatian khusus harus diberikan pada arus gangguan bumi dan arus
bocoran.
b) Untuk penghantar aktif, terjamin proteksinya dari arus lebih yang disebabkan
oleh gangguan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 88

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

3.6. Proteksi dari tegangan lebih


a) Manusia atau ternak harus dicegah dari cedera dan harta benda harus dicegah
dari setiap efek yang berbahaya akibat adanya gangguan antara bagian aktif
sirkit yang disuplai dengan tegangan yang berbeda.
b) Manusia atau ternak harus dicegah dari cedera dan harta benda harus dicegah
dari kerusakan akibat adanya tegangan yang berlebihan yang mungkin
timbul akibat sebab lain (misalnya, fenomena atsmosfer atau tegangan lebih
penyakelaran).
3. Proteksi perlengkapan dan instalasi listrik
3.1.

Perlengkapan listrik

3.1.1.

Pada setiap perlengkapan listrik harus tercantum dengan jelas :


a) Nama pembuat dan atau merek dagang;
b) Daya, tegangan, dan/atau arus pengenal;
c) Data teknis lain seperti diisyaratkan SNI.

3.1.2.

Perlengkapan listrik hanya boleh dipasang pada instalasi jika memenuhi


ketentuan dalam PUIL 2000 dan/atau standar yang berlaku.

3.1.3.

Setiap perlengkapan listrik tidak boleh dibebani melebihi kemampuannya.

3.2.

Instalasi listrik

3.2.1.

Instalasi yang baru dipasang atau mengalami perubahan harus dipaksa dan
diuji dulu sesuai dengan ketentuan mengenai :
a) Resistansi isolasi;
b) Pengujian sistem proteksi;
c) Pemeriksaan dan pengujian instalasi listrik.

3.2.2.

Instalasi listrik yang sudah memenuhi semua ketentuan tersebut dapat


dioperasikan setelah mendapat izin atau pengesahan dari instansi yang
berwenang dengan syarat tidak boleh dibebani melebihi kemampuannya.

5.6.4.

Perancangan

5.6.4.1. Umum
Dalam merancang instalasi listrik, faktor-faktor dalam perencanaan ini harus
diperhatikan untuk menjamin :

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 89

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

a)

Keselamatan manusia dan ternak dan keamanan harta benda

b)

Berfungsinya instalasi listrik dengan baik sesuai dengan maksud penggunaannya.

Informasi yang disyaratkan sebagai dasar perancangan disebut dalam ayat di atas,
sedangkan persyaratan lainnya harus dipenuhi.
5.6.4.2.

Karakteristik suplai
1. Macam arus : arus bolak-balik (a.b.) dan/atau arus searah (a.s.).
2. Macam dan jumlah pengantar :
a) Untuk a.b. : pengantar fase, pengantar netral dan pengantar proteksi,
b) Untuk a.s. : pengantar yang setara dengan pengantar untuk a.b.
3. Nilai dan toleransi dari tegangan, frekuensi, arus maksimum yang dibolehkan, dan
arus hubungan pendek prospektif.
4. Tindakan proteksi yang melekat pada suplai, misalnya netral atau kawat tengah yang
dibumikan.
5. Persyaratan khusus dari perusahaan suplai listrik.

5.6.4.3.

Macam kebutuhan listrik


Jumlah dan jenis sirkit yang diperlukan untuk penerangan, pemanasan, daya, kendali,
sinyal, telekomunikasi dan lain-lain ditentukan oleh :

5.6.4.4.

a)

Lokasi titik kebutuhan akan listrik;

b)

Beban yang diharapkan pada semua sirkit;

c)

Variasi harian dan tahunan dari kebutuhan akan listrik;

d)

Kondisi khusus;

e)

Persyaratan untuk kendali, sinyal, telekomunikasi dan lain-lain.

Suplai darurat
Dalam hal yang dibutuhkan suplai darurat perlu memperhatikan :
a) Sumber suplai (karakteristik, macam)
b) Sirkit yang disuplai oleh sumber darurat.

5.6.4.5.

Kondisi lingkungan
Dalam menetapkan kondisi lingkungan penggunaan perlengkapan instalasi, perlu
diperhitungkan beberapa faktor dan parameter lingkungan terkait, dan dipilih tingkat
keparahan akibat parameter lingkungan tersebut. Faktor dan parameter lingkungan
tersebut, antara lain :

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 90

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

a) Kondisi iklim

Laporan Perencanaan

: dingin/panas, kelembaban, tekanan, gerakan media sekeliling

penguapan, radiasi dan air selain dari hujan.


b) Kondisi Biologis : flora dan fauna seperti jamur dan rayap.
c) Bahan kimia aktif : garam, sulfur dioksida, hidrogen sulfit, nitrogen oksida, ozon,
amonia, klor, hidrogen klorida, hidrogen flor dan hidrokarbon organik.
d) Bahan mekanis aktif : pasir, debu, debu melayang, sedimen debu, lumpur dan jelaga.
e) Cairan pengotor : berbagai minyak, cairan pendingin, gemuk, bahan bakar dan air
baterai.
f) Kondisi mekanis : getaran, jatuh bebas, benturan, gerakan berputar, deviasi sudut,
percepatan, beban statis dan roboh.
g) Gangguan listrik dan elektromagnetik :
Medan magnet, medan listrik, harmonik, tegangan sinyal, variasi tegangan dan
frekuensi, dan tegangan induksi dan transien.
5.6.5.

Pemasangan Kabel Bawah Tanah

5.6.5.1

Umum
1. Pada pemasangan kabel tanah harus diperhatikan konstruksi dan karakteristik kabel
yang bersangkutan seperti yang tercantum pada tabel 7.1-5 dan 7.1-6 (pada buku
Standar Nasional Indonesia, SNI 04-0225-2000).
2. Pemasangan kabel di dalam tanah harus dilakukan dengan cara sedemikian rupa,
sehingga kabel itu cukup terlindung terhadap kerusakan mekanis dan kimiawi yang
mungkin timbul di tempat kabel tanah tersebut dipasang.
Letak kabel tanah tersebut harus ditandai dengan patok tanda kabel yang kuat, jelas
dan tidak mudah hilang.
Catatan

: Perlindungan terhadap kerusakan mekanis pada umumnya dianggap

mencukupi bila kabel tanah itu ditanam :


a) Minimum 0.8 m di bawah permukaan tanah pada jalan yang dilewati kendaraan.
b) Minimum 0.6 m di bawah permukaan tanah yang tidak dilewati kendaraan.
3. Bahaya kebakaran, meluasnya dan akibatnya harus sejauh mungkin dikurangi dengan
cara pemasangan kabel tanah yang tepat. Selubung luar harus dibuang jika hal ini
disyaratkan untuk mencegah meluasnya bahaya api, kecuali bila selubung luar
tersebut dari bahan yang sukar terbakar.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 91

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

4. Kabel tanah harus diletakkan di dalam pasir atau tanah halus, bebas dari batu batuan,
di atas galian tanah yang stabil, kuat, rata dan bebas dari batu-batuan dengan
ketentuan tebal lapisan pasir atau tanah halus tersebut tidak kurang dari 5 cm di
sekeliling kabel tanah tersebut.
Catatan : sebagai tambahan perlindungan, maka di atas urugan pasir dapat dipasang
beton, batu, atau bata pelindung.
5. Pada umumnya kabel tanah untuk tegangan yang lebih tinggi harus dipasang
dibawah kabel tanah untuk tegangan yang lebih rendah, kabel tanah listrik arus kuat
dibawah kabel tanah telekomunikasi.
6. Pada persilangan antara bekas kabel tanah, haruslah diambil salah satu tindakan
proteksi seperti diuraikan dalam butir a) dan b) dibawah ini, kecuali jika salah satu
dari berkas kabel tanah yang bersilang itu terletak dalam saluran pasangan batu,
beton, atau bahan semacam itu yang mempunyai tebal dinding sekurang-kurangnya 6
cm.
a) Di atas berkas kabel tanah yang terletak di bawah harus dipasang tutup
pelindung dari lempengan, atau pipa belah dari beton atau sekurang-kurangnya
dari bahan tahan api yang sederajat. Tutup pelindung ini pada kedua ujungnya
harus menjorok keluar sekurang-kurangnya 0.5 m dari berkas kabel yang terletak
diatas, diukur dari kabel sisi luar, sedangkan tutup pelindung ini harus sekurangkurangnya 5 cm lebih lebar dari berkas kabel yang terletak dibawah.
b) Di atas berkas kabel tanah yang terletak diatas, dipasang pipa belah dari beton
atau dari bahan lain yang cukup kuat, tahan lama dan tahan api. Pipa belah ini
harus dipasang menjorok keluar sekurang-kurangnya 0.5 dari berkas yang
terletak dibawah, diukur dari kabel sisi luar.
5.6.5.2

Persilangan dan pendekatan kabel tanah dengan kabel tanah instalasi telekomunikasi.
1. Pada tempat persilangan dengan kabel tanah telekomunikasi, kabel tanah dilindungi
pada bagian atasnya dengan pipa belah, plat atau pipa dari bahan bangunan yang
tidak mudah terbakar. Kabel tanah tegangan menengah ataupun tegangan rendah
harus dipasang di bawah kabel tanah telekomunikasi.
2. Jika kabel tanah menyilang diatas kabel tanah telekomunikasi dengan jarak lebih
kecil dari 0.3 m untuk kabel tanah tegangan rendah dan 0.5 m untuk kabel tanah

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 92

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

tegangan menengah, maka perlu tambahan perlindungan pada sisi kabel tanah yang
menghadap kabel telekomunikasi dengan memasang plat atau pipa dari bahan
bangunan yang tidak dapat terbakar. Perlindungan menjorok keluar paling sedikit 0.5
m dari kedua sisi persilangan itu.
3. Kabel tanah telekomunikasi dan kabel tanah yang dipasang sejajar, harus dipasang
dengan jarak sejauh mungkin, misalnya dengan menempatkannya pada sisi-sisi jalan
yang berlainan. Kabel tanah yang letaknya berdekatan dengan kabel tanah
telekomunikasi dengan jarak kurang dari 0.3 m untuk kabel tanah tegangan rendah
dan kurang dari 0.5 m untuk kabel-kabel tanah tegangan menengah, harus
diselubungi sepanjang pendekatan tersebut dengan pipa belah, plat atau pipa yang
terbuat dari bahan bangunan yang tidak dapat terbakar dan diberi tanda khusus.
4. Pelindung kabel tersebut pada 7.15.2.1, 7.15.2.2 dan 7.15.2.3 (pada buku Standar
Nasional Indonesia, SNI 04-0225-2000), baik pada kabel tanah, arus kuat maupun
pada kabel tanah telekomunikasi, harus menjorok keluar paling sedikit 0.5 m dari
kedua ujung tempat persilangan pada pendekatan itu.
5. Kabel tanah di dalam tanah harus dipasang pada jarak paling sedikit 0.3 m dari
bagian instalasi telekomunikasi yang terletak dalam tanah, bila jarak tersebut sama
atau lebih dari 0.3 m, akan tetapi lebih kecil dari 0.8 m, maka kabel tanah itu harus
dilindungi dengan pipa belah, plat atau pipa, yang menjorok

keluar sepanjang

minimal 0.5 m dari kedua ujung tempat persilangan dan pendekatan itu.
6. Kalau kabel tanah arus kuat di dalam tanah berada diantara bagian-bagian tiang,
angker, atau bagian penunjang yang terletak didalam tanah dari instalasi
telekomunikasi, maka kabel tanah itu harus dilindungi dengan pipa belah, plat atau
pipa. Kestabilan tiang tidak boleh terganggu olehnya.
7. Kabel tanah telekomunikasi yang diletakkan di dalam jalur kabel dianggap telah
terlindung.
5.6.5.3

Persilangan dan pendekatan kabel tanah dengan jalan kereta api dan jalan raya.
1. Kabel tanah lazimnya tidak boleh mendekati rel kereta dalam jarak 2 m diukur secara
proyeksi mendatar, kecuali pada persilangan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 93

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

2. Kabel tanah yang dipasang berdekatan atau menyilang dengan jarak lebih kecil dari
0.3 m dari kabel instalasi listrik Perusahaan Kereta Api atau Perusahaan lain harus
diletakkan dalam jalur kabel atau pipa yang terdiri dari bahan bangunan yang tidak
dapat terbakar atau pipa PVC. Pelindung tersebut harus menjorok keluar paling
sedikit 0.5 m pada kedua ujung tempat pendekatan atau persilangan tersebut.
3. Kabel tanah dalam tanah harus mempunyai jarak minimum 0.3 m akan tetapi lebih
kecil dari 0.8 m, kabel tanah itu harus dilindungi dengan pipa, plat atau pipa, yang
panjangnya keluar paling sedikit 0.5 m pada kedua ujung tempat pendekatan.
4. Pada persilangan dengan jalan kendaraan bermotor yang dikeraskan dan jalan kereta
rel, kabel tanah harus dipasang didalam pipa atau selubung baja atau bahan yang
cukup kuat, tahan lama dan tahan api. Panjang dan garis tengah dalam dari pipa atau
selubung ini, harus dipilih sehingga kabel tanah itu dapat dikeluarkan tanpa
membongkar jalan tersebut.
5. Pipa pelindung atau jalur kabel harus menjorok keluar, paling sedikit 0.5 m dari
kedua sisi rel terluar atau tepi pinggir dari jalan kendaraan bermotor.
6. Di bawah pekarangan dan bangunan dari perusahaan kereta api atau perusahaan lain
yang dipakai untuk tempat bekerja, pemasangan semua kabel tanah harus memenuhi
persyaratan yang sama dengan untuk dibawah rel.
5.6.5.4

Persilangan dan pendekatan kabel tanah dengan saluran air dan bangunan pengairan.
1. Pada persilangan dengan saluran air, kabel tanah harus diletakkan paling sedikit 1 m
dibawah dasar saluran air yang direncanakan, dan harus ditanam dalam lapisan pasir.
2. Pada persilangan dengan saluran air laut, kabel tanah harus diletakkan sedapat
mungkin 2 m dibawah dasar saluran air laut yang direncanakan.
3. Pada persilangan kabel tanah harus diletakkan paling sesikit 0.3 m di bawah atau di
atas kabel listrik pengairan dan kabel tanah itu harus dilindungi dengan pipa yang
terbuat dari bahan bangunan yang tidak dapat terbakar, perlindungan tersebut harus
menjorok keluar paling sedikit 0.5 m dari sisi kabel yang disilangnya.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 94

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

4. Kabel tanah yang dipasang berdekatan dengan kabel listrik pengairan dengan jarak
lebih kecil dari 0.3 m harus diletakkan dalam jalur atau pipa dari bahan yang tidak
dapat terbakar.
5. Kabel tanah tidak boleh terletak lebih dekat dari 0.3 m dari bagian bangunan
pengairan yang terletak didalam tanah. Bila jarak tersebut sama atau lebih dari 0.3 m
akan tetapi kurang dari 0.8 m, maka kabel tanah tersebut harus dilindungi dengan
pipa belah, plat atau pipa yang panjangnya menjorok keluar paling sedikit 0.5 m dari
kedua tempat pendekatan.
6. Kabel tanah di bawah bangunan pengairan harus mempunyai perisai dan harus
ditutupi dengan pipa belah atau plat, kecuali hal itu tidak dibenarkan dengan alasan
elektris. Kabel tanah yang tidak mempunyai perisai mekanis harus dimasukkan
kedalam pipa atau jalur kabel.
7. Di bawah jalan pengairan kabel tanah harus ditanam sedalam paling sedikit 0.8 m.
8. Letak dari kabel tanah yang dipasang melintas di bawah saluran air harus ditandai
pada kedua tepinya sehingga dapat dilihat oleh pengemudi kapal.
5.6.5.5

Pendekatan kabel tanah dengan instalasi listrik diatas tanah.


1. Jarak kabel tanah harus dipertahankan sekurang-kurangnya 0.3 m, diukur secara
proyeksi mendatar dari bagian konstruksi pengantar listrik di atas tanah.
2. Bila jarak tersebut lebih dari 0.3 m tetapi kurang dari 0.8 m, kabel tanah itu harus
dilindungi dengan pipa dari baja atau bahan yang kuat, tahan lama dan tahan api,
atau dengan perlindungan yang sekurang-kurangnya sederajat. Perlindungan ini
harus menjorok sekurang-kurangnya 0.5 m dari kedua ujung tempat yang jaraknya
kurang dari 0.8 m.

5.6.5.6

Kabel tanah yang keluar dari tanah


Kabel tanah yang dipasang keluar dari tanah pada tempat di luar bangunan harus
dipasang di dalam pipa atau selubung dari baja atau dari bahan lain yang cukup kuat
sampai diluar jangkauan tangan, kecuali jika telah terdapat perlindungan lain yang
sekurang-kurangnya sederajat.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 95

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.7.

Laporan Perencanaan

Kriteria Perencanaan Jaringan Telepon


Telepon sebagai salah satu alat telekomunikasi merupakan bentuk dari perwujudan suatu
kemajuan teknologi. Perencanaan jaringan telepon direncanakan menggunakan kabel
bawah tanah yang diletakkan dalam boks beton dimana didalamnya terdapat casing/pipa.
Penempatan kabel telepon bersama-sama dengan kabel atau instalasi lain yaitu kabel listrik
dan pipa air bersih dimaksudkan sebagai penghematan lahan yang terbatas.
Karena pekerjaan instalasi telepon bersifat khusus yang dilaksanakan oleh PT Telkom,
maka spesifikasi dan teknis pengadaan dan pemasangannya mengacu pada standard dan
spesifikasi yang dikeluarkan oleh PT Telkom.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan dan pemasangan boks terutama
menyangkut kedalaman penanaman boks dan bilamana terjadi pertemuan/persimpangan
dengan jalan atau gorong-gorong dan instalasi lain.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 96

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

5.8.

Laporan Perencanaan

Kriteria Perencanaan Lansekap Desa


Perencanaan lansekap desa yang dimaksudkan disini adalah penanaman pohon secara
berlapis yang terdiri dari :
a.

Penanaman pohon di sepanjang jaringan jalan utama desa dan jalan lingkungan

b.

Penanaman pohon di kavling rumah dan kavling fasilitas umum dan sosial desa.

Pemilihan jenis vegetasi yang direncanakan sebagai ruan hijau kawasan antara lain
memenuhi kriteria :

5.8.1.

a.

Mudah tumbuh

b.

Kuat menahan arus gelombang tsunami

c.

Meningkatkan kualitas lingkungan

d.

Mempunyai nilai ekonomi bagi penduduk desa

Relasi antara Desain Tapak dengan Alam

Korelasi tapak dan bangunan dinilai melalui substansi perancangan Ruang Kawasan,
Ruang Hijau dan Biru Kawasan, Tata Guna Ruang/Space Use, GSB, KDB dan KLB dan
Ketinggian Bangunan, TSM dan Parkir kawasan. Berdasarkan kegiatan analisis dibawah
ini menghasilkan suatu kesimpulan bahwa diperlukan redesain pada Ruang Hijau dan
Biru Kawasan.

5.8.2.

Ruang Kawasan.

Komposisi perletakan masa/bangunan secara figuratif dan variatif dalam membentuk


morfologi ruang desa yang berkarakter amorf, linier dan square dipertahankan.

Urban space yang berupa ruang terbuka dan jalan setapak yang dimanfaatkan untuk
mewadahi suatu pergerakan dan pemberhentian (duduk-duduk/istirahat) bagi
pedestrian dari bangunan satu ke bangunan yang lain perlu dirancang ulang dengan
mempertimbangkan faktor-faktor :
1. Antrophometrik pejalan kaki pada saat berjalan (kemampuan jarak tempuh, resting
point, pola street furniture di daerah resting point)
2. Kenyamanan lingkungan (material jalan pedestrian, penerangan alam dan buatan,
pohon sebagai pengarah, peneduh dan estetis, tata bangunan dan tata lingkungan
sekeliling pergerakannya, habitat, penyediaan street furniture)

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 97

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

3. Keamanan lingkungan (penerangan alami & buatan cukup, tata hijau tidak terlalu
rimbun, relling pada ketinggian tertentu atau pada jembatan)

5.8.3.

Pohon/Tanaman Setempat dan Lokal


Beberapa jenis pohon yang ada di desa dapat digunakan untuk perencanaan lansekap desa.
Dari hasil survey dan analisis di lapangan, terdapat beberapa tanaman yang cocok
dipergunakan sebagai lansekap jalan desa. Beberapa jenis tanaman tersebut antara lain :
1. Akasia
2. Angsana
3. Asem Jawa
4. Bambu
5. Beringin
6. Cemara Laut
7. Cengkih
8. Durian
9. Jambu Air
10. Jambu Monyet
11. Jati
12. Kamboja
13. Kedondong
14. Kelapa
15. Mahoni
16. Mangga
17. Mangrove/Bakau
18. Nipah
19. Palem Raja
20. Pinang
21. Rumput Gajah
22. Waru

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

V - 98

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Bab VI
Analisa Perhitungan
6.1.

Analisa Perhitungan Struktur Jalan

6.1.1.

Data yang diperlukan :


a. Data tanah dasar

: CBR.

b. Lalu-lintas

: Volume/ADT, komposisi, konfigurasi as/sumbu dan


beban, angka pertumbuhan.

c. Material yang tersedia

: Sifat-sifatnya.

d. Ketentuan-ketentuan lain

: Umur rencana, keadaan umum di daerah sekitarnya,


alignment (faktor regional) dan lain-lain.

6.1.2.

Standart Perencanaan.
Perencanaan jalan Desa ini mengacu pada Pedoman perhitungan tebal perkerasan lentur
pada SKBI No. 2.3.26.1987 dan SK Menteri Pekerjaan Umum No. 378/KPTS/1987 tentang
Pengesahan 33 Standar Konstruksi Bangunan Indonesia, serta SNI No. 1732-1989-F, yaitu
tentang penggunaan nomogram sebagai berikut :
a. Nomogram yang ada dibuat berdasarkan analisa lalu lintas 10 tahun.
Untuk keadaan lalu lintas (umur rencana) tidak selama 10 tahun; nomogram tersebut
masih dapat digunakan dengan menggunakan faktor penyesuaian (FP).

FP =

UR
10

b. Cara Indonesia/Bina Marga ini hanya berlaku untuk material berbutir kasar (granular
material) dan tidak berlaku untuk batu-batu besar (telford).
Hal ini disebabkan karena cara Bina Marga ini didasari oleh teori yang menganggap
bahwa bahan perkerasan harus elastis isotropis (sifat sama untuk segala arah).
Dan juga mensyaratkan adanya pemeliharaan perkerasan yang terus menerus
(kontinyu).
c. Besaran-besaran yang dipergunakan.
-

Daya Dukung Tanah (DDT) : yaitu sekedar bilangan skala untuk menyatakan daya
dukung tanah dasar dan mempunyai korelasi khusus terhadap CBR, Group Index,
Kuat Tekan atau besaran lain yamg menyatakan kekuatan tanah dasar.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -1

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) : adalah jumlah kendaraan yang lewat pada
jalan yang direncanakan perhari rata-rata untuk dua jurusan/arah.

Lintas Ekivalen Permulaan (LEP) : Jumlah lintasan kendaraan rata-rata pada tahun
permulaan pada jalur rencana dengan satuan as tunggal 8,16 ton (18.000 lbs = 18
kips) atau (18 Kips Single Axle Road).

Lintas Ekivalen Akhit (LEA) : Jumlah lintasan kendaraan rata-rata pada tahun
akhir dan masa pelayanan pada jalur rencana dengan as tunggal 8,16 ton.

Lintas Ekivalen Tengah (LET) : Jumlah lintasan kendaraan rata-rata selama masa
pelayanan pada jalur rencana dengan satuan as tunggal 8,16 ton.

Jalur Rencana : adalah suatu jalur dari jalan yang paling banyak (padat) dilewati
kendaraan.
Pada jalan dua jalur biasanya salah satu jalur; sedang pada jalan berjalur banyak
terpisah (multi lane divided) adalah pada jalur terluar.

Faktor Regional (FR) : Faktor koreksi sebagai akibat adanya perbedaan antara
kondisi lapangan yang dihadapi dengan kondisi AASHO Road Test yang antara
lain dapat meliputi : iklim, curah hujan, kondisi alignment/topografi, lalu lintas,
fasilitas drainase dan lain sebagainya.

Indeks Permukaan (IP) : disebut juga serviceability adalah besaran yang


menyatakan nilai dari kerataan/kehalusan dan kekokohan perkerasan di tinjau dari
kepentingan pelayanan lalu-lintas.
Nilai/harga IP tergantung pada jenis dan kondisi perkerasan (kondisi : rut dept,
roughness, patch, crack dll; tanpa dipengaruhi geometrik dari jalan yang
bersangkutan .

IPo dan IPt : IPo adalah nilai IP pada awal tahun permulaan, sedangkan IPt adalah
IP pada akhir masa pelayanan. Pemilihan harga IPo dan IPt tergantung pada jenis
perkerasan dan klas jalan.
Pemilihan IPt menunjukkan tingkat kerusakan yang diijinkan/direncanakan pada
akhir masa pelayanan.

Faktor penyesuaian (FP) : adalah faktor koreksi sehubungan rencana yang kita
perhitungkan tidak sama dengan 10 tahun.

FP =
-

UR
10

Angka Ekivalen Beban (AE) : adalah besaran yang menyatakan jumlah lintasan as
tunggal 8,16 ton atau 18.000 lbs yang menyebabkan derajat kerusakan yang sama
dengan beban as yang mempunyai AE tersebut, bilamana lewat (lintasan) satu kali.
PT. WASTU WIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -2

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Rumus AE :
4

BebanSumbuTunggal

As tunggal : AEtg =
8
.
160
kg

BebanSumbu Tunggal
As Tandem : AEtg =
8 .160 kg

Koefisien Distribusi Kendaraan (C) : adalah koefisien yang menyatakan prosentase

x 0 .086

atau bagian dari kendaraan yang lewat dari jalur rencana dari keseluruhan
kendaraan yang lewat pada jalan yang dimaksud.
-

Indeks Tebal Perkerasan (ITP) : adalah besaran yang menyatakan nilai konstruksi
perkerasan yang besarnya tergantung pada tebal masing-masing lapisan serta
kekuatan relative dari lapisan-lapisan tersebut.

Koefisien Kekuatan Relatif (a) : adalah koefisien yang menyatakan kekuatan


relative daripada lapisan perkerasan, yang besarnya tergantung pada CBR,
stability, kuat tekan dan lain sebagainya.

Rumus ITP :

ITP = (a1xD1) + (a2xD2) + (a3xD3)


1 = lapis permukaan/surface course.
2 = lapis pondasi/base course.
3 = lapis pondasi bawah/sub base course.
6.1.3.

Penggunaan Nomogram.
a. Hitung ADT masing-masing jenis kendaraan untuk tahun ke 0 dan untuk tahun ke n (n
= umur rencana).

ADTn = ADTo(1 + i ) . ( i = pertumbuhan lalu-lintas).


n

b. Hitung ADT rata-rata selama masa pelayanan (ADTt).

ADTt =

ADTo + ADTn
2

c. Hitung angka ekivalen (AE) masing-masing jenis kendaraan.


d. Hitung lintas ekivalen tengah (LET).
Koefisien C harus dicari terlebih dahulu dari tabel yang sudah tersedia.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -3

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

e. Hitung faktor penyesuaian (FP).

FP =
f.

UR
10

Hitung CBR rata-rata.

g. Cari daya dukung tanah dasar (DDT) melalui grafik yang tersedia.
h. Pilih nomogram yang sesuai ( kombinasi IPo dan IPt ).
Jalan kelas tinggi IPo dan IPt perlu tinggi pula.
Jalan kelas sedang IPo dan IPt perlu sedang pula.
Jalan kelas rendah IPo dan IPt perlu rendah pula.
i.

Tentukan faktor regional (FR).


Dengan menggunakan table yang sudah tersedia.

j.

Dengan data DDT dan LER melalui nomogram yang sudah dipilih akan diperoleh ITP.

k. Selanjutnya dengan data ITP dan FR akan diperoleh ITP rencana.


l.

Melalui tabel yang tersedia tentukan jenis tiap lapisan perkerasan serta tebal minimum
dari masing-masing lapisan.

m. Dengan rumus ITP

rencana

= a1D1 + a1D2 + a3D3 akan diperoleh tebal dari masing-

masing lapisan perkerasan.


6.1.4.

Pelaksanaan

6.1.4.1. Analisa Komponen Perkerasan.


Perhitungan perencanaan ini didasarkan pada kekuatan relative masing-masing lapisan
perkerasan jangka panjang, dimana penentuan tebal perkerasan dinyatakan oleh ITP
(Indeks Tebal Perkerasan), dengan rumus sebagai berikut :

ITP = a1 D1 + a 2 D2 + a3 D3
a1,a2,a3
D1,D2,D3

= koefisien kekuatan bahan perkerasan (VII)


= tebal masing-masing lapis perkerasan (cm)

Angka 1, 2 dan3 : masing-masing untuk lapis permukaan, lapis pondasi dan lapis pondasi
bawah.
6.1.4.2. Metode Konstruksi Bertahap.
Metode perencanaan konstruksi bertahap didasarkan atas konsep sisa umur. Perkerasan
berikutnya direncanakan sebelum perkerasan pertama mencapai keseluruhan masa
fatique.
PT. WASTU WIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -4

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Untuk itu tahap kedua diterapkan bila jumlah kerusakan (cumulative Damage) pada tahap
pertama sudah mencapai k.1.60%. Dengan demikian sisa umur tahap pertama tinggal
k.1. 40%.
Untuk menetapkan ketentuan diatas maka perlu dipilih waktu tahap pertama antara 25% 50% dari waktu keseluruhan. Misalnya : UR = 20 tahun, maka tahapI antara 5 10 tahun
dan tahap II 5 10 tahun.
Perumusan konsep sisa umur ini dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Jika pada akhir tahap I tidak ada sisa umur (sudah mencapai fatique, misalnya timbul
retak), maka tebal perkerasan tahap I didapat dengan memasukkan lalu lintas sebesar
LER1.
b. Jika pada akhir tahap II diinginkan adanya sisa umur k.1.40% maka perkerasan tahap I
perlu ditebalkan dengan memasukkan lalu lintas sebesar x LER1
c. Dengan anggapan sisa umur linear dengan sisa lalu lintas, maka :
X LER1

(tahap I plus)

LER1

+ 40% x LER1

(tahap I)

(sisa tahap I)

Diperoleh y = 2,5.
d. Jika pada akhir tahap I tidak ada sisa umur maka tebal perkerasan tahap II didapat
dengan memasukkan lalu lintas sebesar LER2.
e. Tebal perkerasan tahap I + II didapat dengan memasukkan lalu lintas sebesar y LER2.
Karena 60% y LER2 sudah dipakai pada tahap I maka:
Y LER2

= 60% y LER2 + LER2

(tahap I+II) = (tahap I) + (tahap II)


Diperoleh y = 2,5.
f.

Tebal perkerasan tahap II diperoleh dengan mengurangkan tebal perkerasan tahap I +


II (lalu lintas y LER2) terhadap tebal perkerasan I (lalu lintas x LER1)

g. Dengan demikian pada tahap II diperkirakan ITP2 dengan rumus :


ITP2 = ITP ITP1
ITP didapat dari nomogram dengan LER = 2,5 LER2
ITP1 didapat dari nomogram dengan LER = 1,67 LER1.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -5

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.1.5.

Laporan Perencanaan

Bagan Alir Perencanaan Teknis Jalan

BAGAN ALIR PERENCANAAN TEKNIS JALAN

Start
` Beban lalu lintas

Benklement
Beam Test
Parameter Perencanaan
CBR

Geometrik
Inventory

Analisa Data
Lapangan

Menentukan
Unique Section

Tebal Perkerasan

Umur rencana &


Pertumbuhan lalu lintas

Analisa hasil desain &


Pemakaian Bahan

Selesai

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -6

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.1.6.

Laporan Perencanaan

FLOWCHART Perencanaan Perkerasan Jalan Baru

Tabel 1

Jumlah jalur

E = angka ekivalensi
Diketahui :
- Konfigurasi beban
sumbu
- Sumbu tunggal / ganda

LHR = Lalu Lintas


Harian Rerata

Fe = Faktor
Ekivalensi

C = koefisien
distribusi kend.

LEP = Lintas
Ekivalen
N

LHR
J =1

xC j xE j

LEA = Lintas
Ekivalen Akhir UR
LEA =

J =1

n = umur
rencana (tahun)

LHR J (1 + i ) UR xC j xE

LEA = Lintas
Ekivalen Tengah UR

FP = faktor
penyesuaian

II

Tabel 2

Tabel 3

LEP =

i = pertumbuhan
lalu lintas (%)

I (kend./hari)

LER = Lintas Ekivalen


Rencana

LET =

LEP + LEA
2

LER= LETxFP
n
FP =
10

Tabel 4

IPo = Indeks
Permukaan awal

ITP = Indeks Tebal


Perkerasan

Grafis

DDT

CBR

Tabel 5

FR = faktor
regional

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -7

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

ITP = Indeks Tebal


Perkerasan

a1 ; a2 ; a 3

D2&D3

Tabel 6 & Tabel 7


Koefisien kekuatan relatif

Tabel 8 & Tabel 9


Lapis pondasi, lapis pondasi bawah

D1

No

Desain

Yes

selesai

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -8

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.1.7.

Laporan Perencanaan

Data-data Teknis Perencanaan


Data-data teknis jalan yang diperlukan dalam perencanaan ini mengacu pada :
1. Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya No.13/1970, Dirjen Bina Marga,
Departeman Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik.
2. Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya Dengan Metode
Analisa Komponen (SKBI-2.3.26. 1987), Departemen PU.
Adapun data-data tersebut adalah :
-

Kondisi eksisting lapangan

Lalu lintas harian rata-rata (LHR)

Data daya dukung tanah (DDT/CBR)

Faktor Regional (FR)

Indeks Permukaan (IP)

Lintas Ekivalen Rencana (LER)

Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana (IPo)

Koefisien Kekuatan Relatif (a)

Index Tebal Perkerasan (ITP)

Data-data tersebut dapat dilihat pada table 6.1.1


6.1.8.

Analisa Perhitungan Perencanaan Jalan Baru


Perhitungan perkerasan jalan ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Menghitung LHR rencana
2. Menghitung Daya Dukung Tanah (DDT), dengan membuat korelasi/ hubungan
dengan CBR di lapangan.
3. Menghitung LEP 2006
4. Menghitung LEA 2016
5. Menghitung LET 2011
6. Menghitung LER 2016
7. Mencari ITP rencana, ditentukan berdasarkan tabel kekuatan relative dan batas-batas
minimum tebal lapis perkerasan
8. Menetapkan tebal perkerasan.
Tahapan perhitungan tebal perkerasan di atas dapat dilihat pada halaman berikut.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -9

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

6.2.

Analisa Perhitungan Drainase

6.2.1.

Tahapan Perhitungan

6.2.1.1. Perhitungan Hidrologi dan Debit aliran (Q)


1) Cari data curah hujan.
Data curah hujan dapat dicari di lembaga meteorologi dan geofisika.
2) Tentukan periode ulang rencana.
Periode ulang dalam perencanaan saluran drainase ini ditentukan 5 tahun.
3) Tentukan waktu konsentrasi hujan.
Lamanya waktu hujan yang terkonsentrasi ditentukan selama 4 jam dengan hujan
efektif sebesar 90% dari jumlah hujan selama 24 jam.
4) Hitung intensitas curah hujan dengan rumus :

XT = X +

Sx
(YT Yn )(mm)
Sn

90%. Xt
( mm/jam )
4

I=

5) Buat garis lengkung intensitas hujan rencana.


Garis lengkung intensitas hujan rencana dibuat dengan cara memplotkan harga
intensitas hujan (mm/jam), pada waktu konsentrasi 240 menit (4 jam) dan kemudian
tarik garis lengkung yang searah dengan garis lengkung basis.
6) Tentukan panjang daerah pengaliran L1, L2

dan L3, kemudian tentukan kondisi

permukaan saluran berikut koefisien hambatan (nd).


7) Tentukan kecepatan aliran V, serta panjang saluran ( L )
Kecepatan aliran diperoleh dari dimensi yang direncanakan dalam bentuk variable (b, h
dan m).
8) Hitung waktu konsentrasi ( Tc ) dengan rumus :

t1

= ( 2/3. 3,28 . L0 .

t2

nd
s

) 0,167

L
60V

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -10

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Tc

t1

Laporan Perencanaan

t2

9) Tentukan intensitas hujan rencana (I ).


Intensitas hujan rencana ditentukan dengan cara memplotkan harga Tc pada waktu
konsentrasi di kurva basis kemudian tarik garis lurus ke atas sampai memotong garis
lengkung intensitas hujan rencana, dan tarik

garis lurus sampai memotong garis

intensitas hujan ( mm / jam ).


10) Tentukan panjang daerah pengaliran (L)
11) Identifikasi jenis bahan permukaan daerah aliran.
12) Tentukan luas daerah pengaliran (A).
13) Tentukan koefisien pengaliran ( C ) sesuai dengan kondisi permukaan.
14) Hitung koefisien pengaliran rata rata dengan rumus :

C1. A1. + C2 . A2 + C3 . A3 + .......


A1. + A2 . + A3 . + .....................

C =

15) Hitung debit air ( Q ) dengan menggunakan rumus :


Q =

1
.C . I . A ( m 3 / detik )
3,6

6.2.1.2. Perhitungan dimensi saluran dan bangunan pelengkap


Perhitungan dimensi saluran dan bangunan pelengkap (gorong-gorong) dilakukan dengan
langkah sebagai berikut :
1)

Tentukan kecepatan aliran air ( V ) yang akan melewati saluran/gorong-gorong


berdasarkan jenis bahan saluran.

2)

Hitung luas penampang basah saluran /gorong-gorong ( Fd ) berdasarkan debit aliran


yang akan ditampung dengan menggunakan rumus :
Fd =

Q
( m2 )
V

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -11

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

3)

Laporan Perencanaan

Hitung luas penampang basah yang paling ekonomis yang dapat menampung debit
yang dapat menampung debit maksimum, disesuaikan dengan bentuk selokan/goronggorong.

4)

Hitung dimensi saluran dengan menggunakan rumus :


Fe = Fd
Sehingga mendapatkan tinggi selokan/gorong-gorong = d ( m )
Lebar dasar saluran/gorong-gorong = b ( m )

5)

Hitung tinggi jagaan ( w ) saluran samping dengan rumus :

0.5 d ( m ).

w =
6)

Hitung kemiringan tanah pada lokasi yang akan dibuat saluran dengan rumus :
i

= (

V .n
)2
R2 / 3

Periksa kemiringan tanah pada lokasi yang akan dibuat saluran dengan rumus :
i

t1 t2
x 100 %
L

8) Bandingkan kemiringan saluran samping hasil perhitungan ( i perhitungan ) dengan


kemiringan tanah yang diukur di lapangan ( i lapangan ).
-

( i lapangan ) < ( i perhitungan ), maka kemiringan saluran direncanakan sesuai


dengan i perhitungan.

( i lapangan ) > ( i perhitungan ), maka saluran harus dibuatkan pematah arus.

9) Bandingkan kemiringan gorong-gorong dengan kemiringan gorong-gorong dengan


kemiringan gorong-gorong yang diijinkan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -12

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.2.2.

Laporan Perencanaan

Bagan Alir Perhitungan

BAGAN ALIR PERHITUNGAN DEBIT ALIRAN UNTUK DRAINASE

Data Curah Hujan


Harian Max per Tahun
Minimum 10 th

Table . 5

Tetapkan Banjir
Rencana 5 Th

Tentukan Panjang
Daerah Pengaliran

Table . 6
Table . 7

Panjang
Daerah
Pengaliran
L.1 L.2 L.3

Tentukan
Xrt, Sx
dg Rumus Statistik

Rumus Gumbel
Sx
XT=x+
YT - Yn
Sn

Y
t

Y
n

Jenis bahan
Permukaan Daerah
Aliran

S
n

A1; A2; A3

C1; C2; C3

A = A1; A2; A3
XT

Kurva
basis

I=

90% XT

Waktu
Konsentrasi ( T C )

A1.C1+A2.C2+A3.C
R=
A

I
Rencana

Q=

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

1
3,6

C.I.A

VI -13

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

BAGAN ALIR PERHITUNGAN


DIMENSI SALURAN

Perhitungan Debit Aliran (Q)

Jenis Tanah Selokan

Fd = Q / V

Rumus Penampang
Ekonomis

Luas Penampang
Ekonomis (Fe)

F d = Fe
Tinggi = h
Lebar = b
W = (0,5 d)
R=F/P

( i ) Lapangan

Rumus manning
i = (V . n / R2/3 )2

( i ) perhitungan

( i ) lap. = ( i ) perh.
( i ) lap ( i ) perh.

Tabel 4.

( i ) lap. = ( i ) perh.

Selokan dengan
pematah arus

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

Kemiringan Selokan
tanpa pematah arus

VI -14

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.2.3.

Laporan Perencanaan

Perhitungan Hidrologi dan dimensi Saluran


Data curah hujan harian maksimum tahunan untuk wilayah perencanaan di Kabupaten
Aceh Jaya diambil dari Stasiun hujan Seulimeum (No.112).
Secara kronologis tahapan perhitungan debit rencana adalah sebagai berikut :
1.

Menentukan stasiun hujan yang akan dipakai (Tabel 6.2.1)

2.

Melakukan perhitungan parameter dasar statistik data hujan (Tabel 6.2.2)

3.

Membandingkan hasil perhitungan statistik data hujan dengan parameter sebaran


standar (Tabel 6.2.3)

4.

Setelah diketahui analisa sebaran datanya kemudian tentukan metode perhitungan


hidrologi yang digunakan (Tabel 6.2.4)

6.2.4.

5.

Melakukan perhitungan intensitas hujan (Tabel 6.2.5)

6.

Data hasil perhitungan intensitas hujan digambar dalam kurva basis (Gambar 6.2.1)

7.

Menentukan debit rencana tiap saluran (Tabel 6.2.6)

8.

Menentukan debit rencana komulatif saluran (Tabel 6.2.7)

9.

Melakukan perhitungan dimensi saluran (Tabel 6.2.8)

10.

Melakukan perhitungan elevasi dasar saluran (Tabel 6.2.9)

Perhitungan Volume pekerjaan


Perhitungan volume saluran dilakukan secara menyeluruh yang meliputi hal-hal sebagai
berikut :
-

Galian tanah manual

Pasangan batu kali 1 pc : 4 ps

Beton K.250 (saluran)

Beton bertulang (penutup saluran)

Urugan pasir bawah saluran

Plesteran 1 pc : 4 ps

Suling-suling pipa PVC 2 ( tiap 2 m2 diberi 1 bh )

Gorong-gorong, dihitung berdasarkan ROWnya

Paving blok t = 6 cm termasuk lapisan pasir dibawahnya (trotoar jalan)

Kerb kanan kiri saluran

Hasil perhitungan volume pekerjaan untuk masing-masing ruas jalan dapat dilihat pada
Laporan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -15

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.3.

Laporan Perencanaan

Analisa Perhitungan Air Bersih


Dalam membangun suatu penyediaan air bersih sistem perpipaan dier1ukan suatu kriteria
perencanaan untuk mempermudah menghitung besaran sistem jaringan transmisi, jaringan distribusi
maupun bangunan penunjang.
Kriteria perencanaan untuk sistem perpipaan adalah sebagai berikut :

Sistim pelayanan Kran Umum/Hydran Umum dan Sambungan rumah.

Cakupan pelayanan 60 - 100 % daerah pelayanan

Jarak minimum antara kran umum/hydran umum 200 meter

Kebutuhan air : 30-120 t/orang/hari

Kebutuhan non domestik : 1000 1500 l/sambungan

Faktor kehilangan air : 20 % dan total kebutuhan.

Faktorharimaksimum : 1,1.

Faktor jam puncak : 15-20 %.

Kapasitas reservoir : 2 x hari maksimum.

Periode Design : 10 Tahun

Koefisien Kekasaran Pipa GI 110 dan PVC : 130

1.

Bak Pelepas Tekanan ( BPT )


a. Fungsi dari bak pelepas tekanan ini adalah untuk menurunkan tekanan hidrostatis
menjadi nol pada lokasi dimana bak ini dipasang pada jalur pelayanan.Bak ini
diperlukan bilamana beda t.inggi antara sumber air dengan daerah pelayanan lebih
besar dari 80 m.
b. Jumlah bak ini pada suatu sistim perpipaan bisa lebih dari satu, yang mana jumlah
terebut tergantung pada beda tinggi seperti yang disebutkan diatas. Sebagai standar
dari bak ini, dengan ukuran sebagai berikut :

c.

Panjang bersih 1,6 m

Lebar bersih 1 m

Kedalaman 1 rn

Bak pelepas tekanan harus dilengkapi dengan pipa penguras, pipa masuk pipa keluar
dan pipa peluap.

d. Konstruksi dari bak pelepas tekanan ini adalah sebagaimana yang diperlihatkan pada
gambar.
2.

Valve
Valve berfungsi menghentikan aliran dan mengatur aliran. Valve harus ditempatkan pada
tempat-tempat tertentu sehingga, jika ada kebocoran pipa, tidak semua sistim terganggu
PT. WASTU WIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -16

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

tetapi dengan menutup satu atau beberapa valve, daerah yang terganggu akibat kebocoran
tersebut dapat diperkecil.
Jika terdapat perbedaan ketinggian yang cukup besar antara jalur-jalur pipa/perbedaan sisa
tekanan yang cukup besar, valve perlu ditempatkan pada persimpangan jalur pipa tersebut.
3.

Air Release Valve.


Air release valve berfungsi untuk mengeluarkan udara yang terperangkap dalam pipa
sehingga aliran air tidak terganggu. Air valve harus ditempatkan pada tempat-tempat
tertinggi dan jalur pipa.
Pada jaringan distribusi, tidak perlu digunakan air release valve karena kran umum sudah
berfungsi sebagai air release valve setiap saat kran dibuka.

4.

Wash out.
Wash out berfungsi untuk mengeluarkan kotoran-kotoran endapan yang ada didalam pipa.
Pada umumuya endapan akan terkumpul pada tempat-tcmpat terendah dan jalur-jalur pipa
sehingga wash out harus ditempatkan pada tempat-tempat terendah dari jalur pipa.

5.

Reservoir (Bak Penampung)


a.

Bak penampung berfungsi sebagai penampung / penyimpanan air untuk mengatasi


problem naik turunnya kebutuhan air dan kecilnya sumber, juga dapat memperbaiki
mutu air melalui pengendapan. Bak ini dapat pula berfungsi sebagai pelepas
tekanan.

b.

Semua sudut dinding harus dibuat lengkung untuk memudahkan pembersihan.

c.

Pipa keluar harus dipasang kira-k.ira 5 - 20 cm diatas bak.

d.

Pipa lubang peluap harus dipasang sedikit lebih tinggi dari pada pipa masukan. Pipa
peluap sekaligus bisa berfungsi sebagai lubang hawa.

e.

Pipa peluap harus berdiameter cukup besar untuk melayani aliran maksimum yang
sudah diperhitungkan.

f.

Pipa peluap dan pipa keluaran ke jaringan distribusi harus memakai saringan.

g.

Pada bak penampung harus ada lubang (manhole) yang besarnya cukup untuk
dilewati orang masuk ke dalam bak.

h.

Atap/plafon bak penampung harus mempunyai kemiringan yang cukup sehingga air
hujan tidak tergenang di atasnya.

6.

Sambungan Rurnah.
Pelayanan dengan cara ini hanya mungkin dilakukan apabila debit air dapat mencukupi
kebutuhan seluruh penduduk yang dilayani, serta tingkat penghasilan masyarakat yang
sudah cukup tinggi bagi pembayaran reslribusi sambungan rumah. Dalam merencanakan
penggunaan sambungan langsung sebagai sistim pelayanan hal utama yang perlu
PT. WASTU WIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -17

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

diperhitungkan selain masalah tingkat pendapatan penduduk adalah kapasitas debit


sumber diproyeksikan terhadap jumlah penduduk yang dilayani.
7.

Hydran Umum/Kran Umum.


Kran umum / Hidran umum terdiri dari suatu peralatan yang dilengkapi dengan saluran
drainase.. Sebuah bangunan dibuat sebagai penyangga untuk pipa dan kran dimana
biasanya bangunan inil dilengkapi pula dengan stop kran sebagai pengatur aliran atau
penggunaan air. Bangunan penyangga dapat dibuat dari pasangan bata, batu kali bahkan
apabila keadaan memaksa, dapat menggunakan balok kayu. Umurnnya kran umum/hidran
umum ditempatkan pada lokasi yang dekat dengan sebanyak mungkin rumah, mudah
dicapai oleh pemakai, namun aman dari lalu lintas kendaraan.
Jarak dari rumah pemakai yang terjauh tidak lebih dari 200 meter. Jarak yang paling baik
adalah 100 meter dari pemakai terjauh.

8.

Menghitung Kebutuhan Air dan Proyeksi Penduduk


Kebutuhan air dihitung berdasarkan jumlah pemakai air yang telah diproyeksikan untuk
sepeluh tahun yang akan datang dan kebutuhan rata-rata setiap pemakai. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat dalam table

9.

Menentukkan Jenis Pipa


Untuk sistim penyediaan air bersih pedesaan, jenis pipa yang digunakan adalah pipa PVC
dan GI. Pada prinsipnya pada semua sistim perpipaan, pipa PVC harus digunakan, Pipa GI
hanya bisa digunakan apabila :
Pipa tidak bisa ditanam karena dipasang pada daerah berbatu keras, pada jembatan pipa
dan kran umum

10.

Menentukkan Diameter Pipa dan perhitungan Hydraulik


Untuk memudahkan perhitungan dan pemeriksaan disain, harus dibuat gambar skema
distribusi dan skema hydraulis, kemudian ditentukkan node pada jalur pipa dan diberi
nomor. Gambar skema distribusi menggambarkan seluruh jaringan pipa dengan semua
node, elevasi node, panjang pipa dan kran umum yang akan dipasang dalam daerah
tersebut. Untuk lebih memepercepat perhitungan maka dapat menggunakan program
Epanet.

11.

Menghitung kecepata aliran dalarn pipa.


V = Q
A
Dimana:
V = Kecepatan aliran dalam pipa.
Q = Debit air yang mengalir
PT. WASTU WIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -18

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

A = Luas penampang pipa


12.

Hitung kehilangan tekanan per 1000 m (hf/1000) dengan menenggunakan rumus Hazen
William atau tabel Hazen William.
Rumus Hazen William:
Q = 0,282 x C x D 2,63 x S 0,54
Dimana :
Q = debit dalam m/s
S = koefesien kekasaran pipa ( 130 )
D = diameter pipa dalam m.
S = slope

13.

Detail Sambungan
Dalam membuat detail sambungan antara jalur-jalur pipa diperlukan accessories /
perlengkapan pipa. Jenis dan ukuran accesories yang disediakan dapat dilihat dalam
lampiran. Standard sambungan dan kebutuhan acccsories untuk bronkaptering, pelepas
tekanan, dan taping untuk kran umum.

14.

Jembatan Pipa
a.

Merupakan bagian dari pipa distribusi yang menyeberang sungai/saluran atau


sejenis, diatas permukaan tanah/sungai.

6.3.1.

b.

Pipa yang digunakan untuk jembatan pipa disarankan menggunakan pipa L

c.

Jika diijinkan oleh instansi yang berwenang, jembatan pipa ditempatkan pada
jembatan yang ada dengan ketentuan

Proyeksi Jumlah Penduduk dan Pengembangan Sistim Sarana Air Bersih


Berdasarkan data yang berasal dari Village Planning jumlah penduduk Desa Gampong Baro
Kecamatan Aceh Jaya adalah 626 jiwa pada tahun 2005 dan pertumbuhan rata-rata 2 %, jadi total
jumlah penduduk sampai tahun 2.016 adalah sebanyak 778 jiwa. Sedangkan untuk pelayanan air
bersih direncanakan dengan sistim perpipaan, pelayanan diasumsikan 90 % menggunakan sistim
perpipaan dan 10 % dengan sistim lain dan direncanakan kebutuhan air akan dihitung untuk 10
tahun mendatang. Dari 90 % yang dilayani oleh PDAM 70% dengan sambungan rumah dan 30 %
dengan pelayanan Kran Umum atau Hidran Umum.
Untuk lebih jelas data proyeksi penduduk dan cakupan pelayan yang direncanakan dapat dilihat
dalam table 6.3.1.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -19

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tabel 6.3.1
KEBUTUHAN AIR BERSIH
NO

PDDK
.

ZONA

(%)

2005

2006

2007

PROJECTION OF DESIGN PERIODE


201
2008
2009 2010 2011 2012
3

201
4

201
5

2016

10

11

12

13

14

15

ZONA I

282

2.00

287

293

299

305

311

317

324

330

337

343

350

ZONA II

344

2.00

351

358

365

373

380

388

395

403

411

420

428

Total

626

639

651

664

678

691

705

719

733

748

763

778

6.3.2.

Rencana Pengembangan Sistim Air Bersih Pedesaan


Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan dan sesuai dengan kesepakatan masyarakat dan
pemerintah, maka desa Gampong Baro Kecamatan Aceh Jaya akan mendapat pelayan dengan
sistim perpipaan.
Program ini berdasarkan data dari Master Plan desa hanya menyediakan sistim jaringan distribusi
saja sedangkan sumber air baku disediakan oleh PDAM.
Usulan sistim jaringan distribusi tersebut akan menggunakan pipa pvc, dengan diameter sebagai
berikut :

1. Pipa PVC
-

Panjang 136.00 m dengan diameter 150 mm

Panjang 577.00 m dengan diameter 100 mm

Panjang 84.00 m dengan diameter 50 mm

Panjang 1.252.00 m dengan diameter 25 mm

2. Assesories
Jumlah assesories yang dibutuhkan antara lain seperti pada table berikut.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -20

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Tabel 6.3.2
Jumlah Assesories yang dibutuhkan Desa Gampong Baro/Aceh Jaya
No

Assesories

Bahan/Material

Jumlah

Satuan

Tee

PVC

27

Bh

Reducer

PVC

11

Bh

Gate Valve

Bronze

11

Bh

Water Meter

Bronze

98

Bh

Water Moor

PVC

11

Bh

Double Nipple

PVC

11

Bh

Elbow

PVC

Bh

3. Hidran Umum/Kran Umum


Berdasarkan hasil perhitungan jumlah Kran Umum yang direncanakan sebanyak 6 unit dan
penempatan Kran Umum berdasarkan kesepakatan masyarakat.
Untuk lebih jelasnya hasil perhitungan, kebutuhan air, diameter pipa, panjang pipa dan jumlah
Kran Umum dapat dilihat dalam tabel 6.3.3.
Perhitungan perencanaan air bersih ini dilakukan dengan program Epanet
TABLE 6.3.3
WATER DEMAND PROJECTION
WATER DEMAN PROJECTION IN GAMPONG BARO WATER SUPPLY SYSTEM
NO.
A.

DESCRIPTION
Popolation and Service Coverage

UNIT

2006

POPULATION PROJECTION AT YEAR (GROWTH RATE IS ESTIMATE 2 %)


2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015

2016

Population in Administrative boundary

person

639

651

664

678

691

705

719

733

748

763

778

Number of population to be served

person

575

586

598

610

622

634

647

660

673

687

701

Persentage coverage services

90.00

90.00

90.00

90.00

90.00

90.00

90.00

90.00

90.00

90.00

90.00

a. Individual connection (IC)

70.00

70.00

70.00

70.00

70.00

70.00

70.00

70.00

70.00

70.00

70.00

b. Public tap connection (PT)

30.00

30.00

30.00

30.00

30.00

30.00

30.00

30.00

30.00

30.00

30.00

a. Individual connection (IC)

person

402

410

419

427

435

444

453

462

471

481

490

b. Public tap connection (PT)

person

172

176

179

183

187

190

194

198

202

206

210

B.

Service level by connection

Service connection

Population will serve by

C.

Numbers of Person per Connection

Individual connection (IC)

Person/con.

Public tap connection (PT)

Person/con.

50

50

50

50

50

50

50

50

50

50

50

D.

Number of Connection

Domestik
PT. WASTU WIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -21

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

a. Individual connection (IC)

Connection

80

82

84

85

87

89

91

92

94

96

98

b. Public tap connection (PT)

Connection

a. Governmental office

Connection

11

13

15

17

19

21

b. Publik health centre

Connection

11

13

15

17

19

21

c. Religious facilities

Connection

10

12

14

16

18

20

22

d. Others public facilities

Connection

11

13

15

17

19

21

89

99

108

118

128

138

147

157

167

177

187

Non Dommestic services

Total Connection

E.

Water Consumption

Service by connection

a. Individual connection (IC)

ltr/p/day

80

80

80

80

80

80

80

80

80

80

80

b. Public tap connection (PT)

ltr/p/day

25

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

a. Governmental office

ltr/Con/day

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

b. Public health centre

ltr/Con/day

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

c. Religious Centre

ltr/Con/day

1,500

1,500

1,500

1,500

1,500

1,500

1,500

1,500

1,500

1,500

1,500

d. Others

ltr/Con/day

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

1,000

Non Domestic

F.

Water Demand

Domestic demand

3
G.

Laporan Perencanaan

36.5

38.1

38.9

39.6

40.4

41.2

42.1

42.9

43.8

44.6

45.5

a. Individual connection (IC)

m3/day

32.2

32.8

33.5

34.2

34.8

35.5

36.2

37.0

37.7

38.5

39.2

b. Public tap connection (PT)

m3/day

4.3

5.3

5.4

5.5

5.6

5.7

5.8

5.9

6.1

6.2

6.3

6.0

15.0

24.0

33.0

42.0

51.0

60.0

69.0

78.0

87.0

96.0

a. Governmental office

m3/day

1.0

3.0

5.0

7.0

9.0

11.0

13.0

15.0

17.0

19.0

21.0

b. Publik health centre

m3/day

1.0

3.0

5.0

7.0

9.0

11.0

13.0

15.0

17.0

19.0

21.0

c. Religious

m3/day

3.0

6.0

9.0

12.0

15.0

18.0

21.0

24.0

27.0

30.0

33.0

Non Domestic

d. Others

m3/day

1.0

3.0

5.0

7.0

9.0

11.0

13.0

15.0

17.0

19.0

21.0

Total domestic + non domestic

m3/day

42.5

53.1

62.9

72.6

82.4

92.2

102.1

111.9

121.8

131.6

141.5

Water Losses

Production processeing

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

Water losses on distribution pipe

20.00

20.00

21.00

21.00

22.00

22.00

23.00

23.00

24.00

24.00

25.00

H.

Production, distribution

Total water distribution

m3/day

53.1

66.4

79.6

91.9

105.7

118.3

132.6

145.3

160.2

173.2

188.7

Net production

m3/day

53.7

67.0

80.4

92.9

106.8

119.5

133.9

146.8

161.8

175.0

190.6

Maksimum day consumption faktor

m3/day

1.15

1.15

1.15

1.15

1.15

1.15

1.15

1.15

1.15

1.15

1.15

Peak hour faktor

m3/day

1.5

1.5

1.5

1.5

1.5

1.5

1.5

1.5

1.5

1.5

1.5

Maksimum day consupmtion

m3/day

61.1

76.3

91.5

105.7

121.5

136.0

152.4

167.1

184.3

199.2

217.0

Peak hour consumption

m3/hour

3.8

4.8

5.7

6.6

7.6

8.5

9.5

10.4

11.5

12.4

13.6

Production duration

hour

24.0

24.0

24.0

24.0

24.0

24.0

24.0

24.0

24.0

24.0

24.0

Average production capacity

m3/day

61.1

76.3

91.5

105.7

121.5

136.0

152.4

167.1

184.3

199.2

217.0

ltr/sec

0.7

0.9

1.1

1.2

1.4

1.6

1.8

1.9

2.1

2.3

2.51

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -22

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.4.

Laporan Perencanaan

Analisa Perhitungan Air Kotor


Berdasarkan data Master Plan Desa, untuk pembuatan jamban keluarga, saluran pembuangan air
limbah ( SPAL ), sudah termasuk dalam pembangunan rumah sehinggga DED untuk air limbah
hanya membuat Jamban Umum , Septik Tank dan Bidang resapan.
Untuk menentukan kebutuhan jamban umum, sebetulnya menggunakan survey lapangan ke
masyarakat yang benar-benar tidak mampu untuk membuat jamban keluarga ( Jaga ), karena tidak
diadakan survey tentang hal tersebut diatas, maka jamban umum direncanakan menyesuaikan
dengan hasil survey Vilage Planning berdasarkan jumlah Kran Umum / Hidran Umum yang
direncanakan di desa tersebut.
Untuk desa gampong Baro, Aceh jaya berdasarkan perhitungan untuk 10 tahun yang akan datang,
terdapat 4 kran umum, sehingga jamban umum yang akan dibangun di desa tersebut terdapat 4 unit.

6.4.1.

Jamban Umum
Direncanakan untuk 1 (satu) jamban umum digunakan untuk 5 KK atau 25 jiwa. Lokasi pembuatan
jamban umum direncanakan menyesuaikan dengan penempatan kran umum.

6.4.1.1.

Bangunan Atas
-

Pondasi
Pondasi rumah jamban adalah pondasi pasangan batu pecah atau batu karang dengan
ketentuan sebagai berikut :

Batu pecah harus keras, bersih dan tidak ada tanda-tanda pelapukan.

Batu karang harus keras, tidak terdapat tanda-tanda pelapukan, berwarna kuning putih
atau kuning muda, tidak berwarna hitam atau abu-abu.

Ukuran pondasi sesuai dengan gambar, perekat yang digunakan adalah perekat dengan
campuran 1 semen : 4 pasir.

Pasir yang digunakan harus bersih, berbutir tajam dan keras, sebelum pondasi dipasang,
pada dasar lubang galian diberi lapisan batu kosong setebal 10 cm.

Dinding
Dinding jamban adalah pasangan batu merah dengan tebal 0.5 bata. Bata merah yang
digunakan harus berkualitas baik, keras, berwarna merah tua, dengan ukuran standar.
Dinding diplester setebal 1,5 cm, kemudian sebelum dicat dinding harus diplamir terlebih
dahulu.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -23

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Dinding diperkuat oleh sloof, kolom dan ring balok, seperti pada gambar dengan ukuran 12
cm x 12 cm dan campuran beton 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil atau batu pecah.
Pembesian adalah besi beton berdiameter 8 mm untuk tulangan pokok dan diameter 6 mm
untuk sengkang dengan jarak 16 cm.
-

Lantai Jamban
Lantai jamban berupa beton tumbuk tanpa pembesian dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3
kerikil, setebal 5 cm.
Pada bagian tertentu dari lantai, diperlukan urugan pasir yang dapat untuk mencapai
ketinggian yang diinginkan. Lantai beton tumbuk harus diplester dengan campuran 1 semen :
2 pasir dengan ketebalan rata-rata 1,5 cm dengan kemiringan 2% ke arah drain.

Atap
Atap jamban adalah atap seng gelombang BJLS 27 yang berkualitas baik. Rangka atap kayu
Kamper atau yang sederajat dengan semua permukaan diserut halus dan bertumpu pada ring
balk serta diperkuat dengan angker besi beton 10 mm.
Rangka atap setelah terpasang, harus dilapisi meni kayu sampai merata, kemudian dicat
dengan cat minyak.
Pada salah satu sisi atap dipasang talang, yang terbuat dari seng plat BJLS 27 sehingga
pada saat hujan airnya dapat dialirkan ke reservoir agar dapat dipergunakan untuk keperluan
jamban dan talang tersebut ditahan oleh kait-kait penahan talang dari besi plat dengan ukuran
2 cm, tebal 2 mm yang dipasang pada setiap jarak 50 cm.

Pintu Kayu.
Kusen pintu terbuat dari kayu kamper yang diserut halus dan berukuran sesuai gambar serta
harus di meni dan dicat dengan cat minyak yang berkualitas baik.
Rangka pintu di bagian luar dilapisi triplek dengan ketebalan 3 mm dan bagian dalam dilapisi
dengan seng plat BJLS 27.
Pintu dicat dengan cat minyak berkualitas baik, setiap pintu papan bagian dalam dipasang
kunci selot dan dibagian luar dipasang kunci gembok.

Jendela
Jendela terbuat dari kayu kamper yang diserut halus dengan ukuran sesuai gambar, serta
dimeni dan dicat minyak berkualitas.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -24

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Closet
Closet yang digunakan adalah closet jongkok leher angsa berkualitas baik dan dihubungkan
ke tangki septic oleh pipa PVC dia. 100 mm class D.
Closet dipasang di atas pasangan bata ( seperti pada gambar ) dengan campuran perekat 1
semen : 2 pasir dan diplester setebal 1,5 cm dibagian dalam dengan campuran 1 semen : 2
pasir.

6.4.1.2.

Bangunan Bawah
Dasar tangki septic adalah beton tumbuk dengan campuran 1semen : 2 pasir : 3 batu pecah.
Dindingnya terbuat dari pasangan batu merah, dengan tebal setengah bata dan dengan campuran
1 semen : 4 pasir. Dinding dan dasar tangki septic bagian dalam diplester setebal 1.5 cm dengan
campuran 1 semen : 2 pasir.
Tutup tangki septic terbuat dari beton bertulang dengan campuran 1 semen : 2pasir : 3 batu
pecah, dengan tulangan besi beton diameter 10 mm yang dipasang setiap 15 cm.
Tangki septic dilengkapi juga dengan pipa inlet dan pipa outlet PVC clas D diameter 100 mm dan
pipa T diameter 100 mm pada bagian dalam dan juga dilengkapi dengan pipa hawa (udar) dengan
jenis pipa PVC, dengan diameter 0.75. Setelah pengecoran, beton dikeringkan dan ditutup
dengan bejas sak semen selama 7 hari dan disiram pada siang hari, jangan dibiarkan terlalu
kering.
Ukuran septic tank yang direncanakan sebagai berikut :

6.4.1.3.

Panjang

= 2,0 m

Lebar

= 1,0 m

Tinggi

= 1,2 m

Bidang Resapan
-

Membuat pipa PVC berlubang-lubang sepanjang pipa

Galian tanah sesuai dengan ukuran bidang resapan

Hamparkan batu pecah ukuran 3-5 cm setebal 15 cm

Hamparkan batu kerikil 2-3 cm setebal 15 cm

Letakkan pipa berlubang dan sambungan ke septic tank

Hamparkan batu kerikil 1-2 cm setebal 15 cm

Urug dengan tanah sampai ke permukaan dan dipadatkan.

Untuk lebih jelas gambaran jamban umum, dapat dilihat dalam Album Gambar.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -25

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.5.

Laporan Perencanaan

Analisa Perhitungan Persampahan


Untuk mengetahui besarnya timbulan sampah dan jumlah penduduk yang akan terlayani,
maka harus diketahui jumlah penduduk ( jiwa ), angka pertumbuhan penduduk untuk setiap
tahunnya (%) serta target pelayanan perencanaan (%).
Tahap analisa selanjutnya adalah mengetahui asal timbulan sampah. Dibawah ini jenis asal
timbulan sampah dan standard timbulan sampah yang dihasilkan dan dapat dijadikan bahan
pegangan perhitungan :

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jenis Timbulan Sampah


Pemukiman
Pasar
Komersial
Perkantoran
Fasilitas Umum
Jalan
Saluran
Kawasan Industri
Lain - lain
Jumlah Timbulan

Jumlah Timbulan Sampah Yang Dihasilkan


( liter / orang / hari )
1.19
0.37
0.2
0.1
0.2
0.1
0.3
0.1
0.1
2.66

Setelah kita mendapatkan data jumlah penduduk yang akan terlayani dan jumlah timbulan
sampah yang dihasilkan dari jumlah penduduk yang akan terlayani, maka kita dapat
mengetahui berapa jumlah timbulan sampah yang dihasilkan. Analisa di atas tersebut
merupakan bahan pertimbangan kita untuk memilih volume tempat pewadahan dan alat
pengangkutan sampah yang sesuai dengan jumlah timbulan yang di dapat.
Beberapa standard tempat pewadahan yang biasanya di pakai antara lain :
No
1
2
3
4
5
6
7

Jenis wadah
Kantong
Bin
Bin
Bin
Kontainer
Kontainer
Bin

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

Kapasitas
( liter )
10 40
40
120
240
1000
500
30 40

VI -26

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Gampong Baro ( Aceh Jaya )


Jumlah penduduk tahun 2006
Perkiraan laju pertumbuhan penduduk
Tahun perencanaan
Rencana yang akan dilayani
No

:
:
:
:

Uraian

626 jiwa
2.0% (asumsi)
5 tahun
100%
Satuan

2006

2007

Tahun Perencanaan
2008
2009
2010

2011

1 Jumlah penduduk

jiwa

639

651

664

678

691

2 target yang akan dilayani

jiwa

639

651

664

678

691

3 Timbulan sampah :
pemukiman =

1.19

759.84

775.04

790.54

806.35

822.47

pasar =

0.37

236.25

240.98

245.80

250.71

255.73

komersial =

0.2

127.70

130.26

132.86

135.52

138.23

perkantoran =

0.1 liter /

63.85

65.13

66.43

67.76

69.12

fasilitas umum =

0.2 orang /

127.70

130.26

132.86

135.52

138.23

jalan =

0.1

63.85

65.13

66.43

67.76

69.12

saluran =

0.3

191.56

195.39

199.29

203.28

207.35

kawasan industri =

0.1

63.85

65.13

66.43

67.76

69.12

lain - lain =

0.1

63.85

65.13

66.43

67.76

69.12

1698.46

1732.43

1767.08

1802.42

1838.47

hari

Total timbulan
Kebutuhan akan wadah dan alat pengangkutan
4 Tong / Bin
5 Gerobak

120 liter

buah

15

16

16

1 m3

buah

6 Tempat pembuangan sampah


sementara (bak sampah)

buah

2.25 m3

Catatan :
1. Kebutuhan akan wadah dan alat pengangkutan sampah ( tong, gerobak dan kontainer) pada
tahun 2008 dan 2010 tidak ada, karena pertimbangan umur pemakaian maksimal dari
barang tersebut pada tahun-tahun sebelumnya.(lihat tabel 5.5.2 jenis peralatan)
2. Kebutuhan akan gerobak dilebihkan dengan alasan adanya rotasi pemakaiannya.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -27

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.6.

Laporan Perencanaan

Analisa Perhitungan Listrik


Analisa perhitungan listrik dilakukan dalam rangka menyiapkan jaringan listrik saja
beserta sarana penunjangnya yaitu box dan Casing sebagai penempatan kabel listrik.
Perencanaan mengacu pada Spesifikasi Teknis yang berlaku yaitu Peraturan Umum
Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000), dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 04-02252000) dari Badan Standarisasi Nasional. Namun demikian dalam pelaksanaannya nanti
mengikuti Sistem jaringan yang sudah ada di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan
standar daerah atau peraturan pengatur lainnya yang dikeluarkan oleh PLN wilayah
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Penempatan box bawah tanah berfungsi untuk melindungi kabel dan memudahkan dalam
perbaikan bila terjadi kerusakan. Box terbuat dari pasangan batu bata pada sisi samping
dan ditutup dengan beton bertulang. Sedangkan Casing listrik terbuat dari pipa PVC type
D dengan diameter 3 atau 7,5 cm. Dimensi box dapat dilihat pada gambar pelaksanaan.
Untuk pemeliharaan, maka dibuat Manhole yang diletakkan tiap jarak 20 m dan di tempattempat persimpangan. Manhole berukuran 1 m x 1 m sehingga memudahkan untuk
pekerjaan perbaikan dan terbuat dari beton bertulang.
Rencana Penanganan dan pengembangan jaringan listrik kawasan desa adalah :
a. Jangka Pendek
1. Penyediaan Genset untuk supply tenaga listrik sesuai kebutuhan.
2. Tingkat pelayanan daya listrik masingmasing rumah diasumsikan 100 watt (3
titik lampu @ 25 watt + cadangan).
3. Genset yang diperlukan dengan kapasitas minimal 20 KW.
b. Jangka Panjang
Penyediaan tenaga listrik melalui jaringan listrik PLN, dengan tingkat pelayanan daya
tiap masing-masing rumah :
-

Perumahan besar

: 1.300 watt

Perumahan sedang

900 watt

Perumahan kecil

450 watt

c. Jaringan kabel listrik menggunakan jaringan kabel bawah tanah mengikuti rute sisi
jalan guna mencapai pelanggan.
d. Pemasangan lampu jalan.
e. Penanganan kebutuhan beban Listrik pada kawasan
PT. WASTU WIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -28

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Daya listrik yang digunakan bersumber dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sedangkan
jeringan dan lampu penerangan direncanakan sebagai berikut :

Kondisi jaringan direncanakan sedemikian rupa supaya teratur dan aman terutama di
pemukiman padat,

Lampu penerangan jalan ditempatkan pada beberapa ruas jalan, dimana ditempatkan
untuk tiang listrik dengan jarak diatur sedemikian dengan jalur lalu-lintas (jarak lampu
penerangan jalan tiap 20 m dan jarak lampu pedestrian tiap titik titik 10 m)

Penempatan jaringan direncanakan mengikuti jaringan jalan yang ada, dan ditanam di
bawah tanah, dengan pembagian klasifikasi dalam jaringan primer, sekunder, dan
tersier.

6.7.

Analisa Perhitungan Telepon


Untuk memenuhi kebutuhan telepon, jaringan yang melalui kawasan perencanaan akan
ditingkatkan baik jumlah maupun penyebarannya

sehingga dapat lebih merata dan

menjangkau seluruh kawasan.


Kebutuhan akan prasarana telepon berdasarkan perkiraan kebutuhan fasilitas telepon
digunakan asumsi sebagai berikut :
-

1 sambungan telepon dengan penduduk pendukung 10 jiwa

1 sambungan pelayanan umum dengan penduduk pendukung 100 jiwa

Sambungan telepon didasarkan pada standar yang berlaku. Penyediaan sambungan telepon
melalui jaringan dari PT. TELKOM.
Tabel Standar Kebutuhan Fasilitas Telekomunikasi
No
1

Prasarana Telekomunikasi
Perdagangan dengan jasa, fasum, fasos,

Standar
17 SST/100 Penduduk

Pemerintahan dan Perumahan


2

Industri, pariwisata, Pergudangan

Wartel
Kios Phone

1 SST/kapling (0,5 Ha)


30.000 penduduk
Sub/pusat kegiatan

Telepon Umum

Coin

1000 penduduk

Kartu

1000 penduduk

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -29

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Rencana Penanganan dan pengembangan jaringan telepon :


a. Tingkat pelayanan disesuaikan dengan ketersediaan satuan sambungan telepon PT.
Telkom yang tersedia.
b. Jaringan kabel telepon menggunakan jaringan kabel bawah tanah mengikuti rute sisi
jalan guna mencapai pelanggan.
c. Jaringan kabel telepon bawah tanah direncanakan melalui penyediaan pipa PVC dia. 8
sebagai tempat kabel telepon dan listrik, dan penempatan manhole tiap jarak 20 m
untuk pemasangan, operasi dan pemeliharaan.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -30

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.8.

Laporan Perencanaan

Analisa Perencanaan Lansekap Desa

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VI -31

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

6.8.

Analisa Perencanaan Lansekap

6.8.1.

Rencana Pemilihan Lansekap

KARAKTER
TANAMAN

NAMA
LOKAL

NAMA LATIN

Cemara

Casuarinaceae

laut
Durian
KARAKTER
KHUSUS

Mangga

Jambu Air

Eugenia
Aquea

Asem Jawa
KARAKTER
AKSEN

RUMPUT

Kelapa

Rumput
Gajah

Polytrias Amara

WARNA

LOKASI

Rencana di sepanjang jalan utama antar


desa
Daerah perbukitan
Area pertanian (kebun)
Area belum terbangun/area pengembangan
Daerah perbukitan
Koridor jalan desa
Koridor lorong desa
Halaman rumah tinggal
Koridor jalan desa
Koridor lorong desa
Halaman rumah tinggal
Rencana di sepanjang jalan utama antar
desa
Daerah perbukitan
Area pertanian (kebun)
Area belum terbangun/area pengembangan
Daerah perbukitan
Lapangan terbuka
Halaman rumah
Tepin tambak

TINGGI TANAMAN

DAUN
Hijau

BUNGA
Ungu

BUAH
Coklat

TANAM
23m

DEWASA
8 20 m

Hijau

Putih

Hijau,
Coklat &
Kuning

23m

8 - 12 m

Hijau

Putih

Hijau

1-2m

6 - 10 m

Hijau

Putih

Putih,
Merah &
Hijau

1-2m

6 - 10 m

Hijau

Jingga

Coklat

2m

10 15 m

Kuning Hijau

Kuning

Kuning,
Hijau

12m

8 15 m

Hijau

VI - 31

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

KARAKTER
TANAMAN

Laporan Perencanaan

NAMA
LOKAL

NAMA LATIN

Cemara

Casuarinaceae

TAJUK DIAMETER
TANAM
1-2 m

DEWASA
56m

Durian

1-2 m

56m

Mangga

12m

56m

12m

56m

Asem Jawa

2m

58 m

Kelapa

0, 5 2 m

34m

laut
KARAKTER
KHUSUS

Jambu Air
KARAKTER
AKSEN
RUMPUT

Rumput
Gajah

Eugenia
Aquea

Polytrias Amara

UKURAN
LUBANG
TANAM
50 x 50 x 100
cm
50 x 50 x 100
cm
50 x 50 x 100
cm
50 x 50 x 100
cm
50 x 50 x 100
cm
50 x 50 x 100
cm
-

JARAK
TANAM

FUNGSI TANAMAN

DIAMETER BATANG
TANAM
10 20 cm

DEWASA
40 50 cm

Peneduh & Produktif

7 - 10 cm

30 - 40 cm

35m

Peneduh dan Produktif

7 - 10 cm

30 40 cm

5m

Peneduh dan Produktif

7 - 10 cm

30 40 cm

5 - 10 m

Pengarah & Peneduh

20 cm

25 35 cm

5m

Pengarah, Peneduh,
Produktif
Sebagai ground cover

15 20 cm

30 40 cm

5-8m

Peneduh, estetika &


penahan gelombang
tsunami

8m

Diatur rapat
sesuai bentuk
tempat, diatur
sesuai desain

VI - 32

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

6.8.2.

Laporan Perencanaan

Rencana Lansekap

VI - 33

DED Inrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Bab VII
Penutup
7.1.

Kesimpulan
1. Setelah dilakukan perencanaan maka diperoleh besarnya biaya konstruksi untuk
masing-masing jenis pekerjaan infrastruktur. Perhitungan Biaya (Engineer Estimate)
ini mengacu pada harga satuan bahan dan upah yang dikeluarkan oleh Bappeda
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2006. Selanjutnya dibuat analisa harga
satuan untuk setiap item pekerjaan yang akan dilaksanakan. Secara lengkap
perhitungan Biaya dapat dilihat pada Laporan Rencana Anggaran Biaya.
2. Pelaksanaan pekerjaan masing-masing infrastruktur dapat dilaksanakan secara bertahap
disesuaikan dengan kebutuhan dan teknis di lapangan.

7.2.

Saran
1. Untuk mendapatkan mutu bangunan sesuai dengan yang direncanakan, kontraktor
harus cermat dalam membaca gambar dan pemilihan material.
2. Untuk infrastruktur jalan sistim pelaksanaan timbunan dipadatkan lapis demi lapis
dengan ketebalan maksimal 20 cm menggunakan alat pemadat.
3. Untuk jalan di daerah rawa sebelum ditimbun dilakukan pembersihan terhadap kotoran
yang ada pada dasar tanah.
4. Pekerjaan pembentukan jalan di daerah rawa dilakukan sampai lapis pondasi atas
(Agregat A), sambil menunggu proses konsolidasi selama 3 bulan.
5. Bahwa pada saat perencanaan dilakukan berdasarkan data eksisting, tetapi sebelum
pelaksanaan kemungkinan telah dilaksanakan pekerjaan infrastrukturnya oleh
berbagai pihak atau atas inisiatif warga masyarakat. Untuk mengantisipasi ini
Kontraktor dan Konsultan Supervisi harus mengadakan setting ulang terutama atas
elevasi jalan atau drainase agar mendapatkan hasil yang optimal. Ketidaksamaan
kondisi di lapangan dengan gambar rencana perlu disikapi sebagai sesuatu yang tetap
harus dilaksanakan. Sehingga harus segera diambil keputusan, mengingat program ini
sangat mendesak dan dinantikan oleh masyarakat desa.

PT. WASTU WIDYAWAN


Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp. (0651) 23808

VII - 1

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

DAFTAR PUSTAKA
1. Jalan
- Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya Dengan Metode Analisa
Komponen, SKBI 2.3.26. 1987, UDC : 625.73 (02), Departemen Pekerjaan Umum.
- Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya, No.13 /1970, Direktorat Jenderal Bina
Marga, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik.
- Spesifikasi dan Standard Jembatan Pelat Beton untuk Jembatan Jalan Raya, No.02/1969,
Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik.
2. Struktur
- Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, NI 2, Direktorat Jenderal Cipta Karya,
Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik.
- Perhitungan Lentur dengan cara n, UDC : 624.012.45:620.178, Direktorat Jenderal
Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik.
- Vademekum Lengkap Teknik Sipil, Imam Subarkah Ir, Idea Dharma, 1984.
3. Drainase
- Perencanaan dan Pelaksanaan Drainase, Modul P.6.4., Pusat Pendidikan dan Pelatihan,
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, Ir. Enus Yunus, April 2000.
- Hidrologi untuk Perencanaan Bangunan Air, Imam Subarkah, Ir, 1980
- Hidrologi Terapan, Sri Harto Dipl.H Ir, 1983
4. Air Bersih
- Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Lingkungan Proyek Pemasangan Pipa Air Baku
Pejompongan, Laporan Akhir, April 1996, PT. Nusuno Karya Consultant.
5. Persampahan
- Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbunan dan Komposisi sampah
perkotaan, SK SNI M-36-1991 03, Departemen Pekerjaan Umum.
- Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, SK SNI T-13-1990-F, Departemen
Pekerjaan Umum.
- Spesifikasi Timbulan Sampah Untuk Kota Kecil dan Kota Sedang di Indonesia, SK SNI
S-04-1993-03, Departemen Pekerjaan Umum.
6. Listrik
- Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000), SNI 04-0225-2000.
7. Lain-lain
-

Penetapan Harga Satuan Pokok Kegiatan (HSPK) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,
SK Gubernur Provinsi NAD
Nomor : 050.205/414/2005, Tahun 2006, Biro
Perlengkapan Sekretariat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Penyesuaian Standar Barang dan Harga Satuan Barang Kebutuhan Pemerintah Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, SK Gubernur Provinsi NAD Nomor : 050/023/2006, Biro
Perlengkapan Sekretariat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

PT. WASTUWIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808

DED Infrastruktur Desa di Propinsi NAD

Laporan Perencanaan

Penyesuaian Standar Barang dan Harga Satuan Barang Kebutuhan Pemerintah Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam, SK Gubernur Provinsi NAD Nomor : 050/024/2006, Biro
Perlengkapan Sekretariat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Rencana dan Estimate Real Cost, Bachtiar Ibrahim H, Bumi Aksara, 1978.

Dasar Penyusunan Anggaran Biaya Bangunan, J.A.Mukomoko Ir, Kurnia Esa, 1977

PT. WASTUWIDYAWAN
Jl. Tumpang No. 3 Semarang 50232
Telp. (024) 8442614
Jl. Gabus No. 36 Banda Aceh
Telp (0651) 23808