Anda di halaman 1dari 37

EXECUTIVE SUMMARY

STUDI KELAYAKAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK)


DI WILAYAH MAMUJU-TAMPAPADANG-BELANGBELANG (MATABE)
PROVINSI SULAWESI BARAT
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ekonomi Nasional dalam gerak dan kiprahnya tidak terlepas dari
kontribusi ekonomi regional maupun ekonomi lokal, hal ini sudah disadari
oleh Pemerintah. Oleh karena itu setiap daerah diharapkan dapat
mengembangkan

perekonomiannya

sesuai

dengan

potensi

yang

dimilikinya. Untuk mempercepat pengembangan ekonomi di wilayah


tertentu yang bersifat strategis bagi pengembangan ekonomi nasional
dan untuk menjaga keseimbangan kemajuan suatu daerah dalam
kesatuan ekonomi nasional, perlu dikembangkan Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK). Kebijakan ini diamanatkan dalam pasal 31 ayat 3
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal terkait
ketentuan mengenai Kawasan Ekonomi Khusus.
Pembangunan KEK di daerah penting mengingat Indonesia sebagai
negara

kepulauan

dengan

keanekaragaman

sumber

daya

alam

seharusnya dikelola dengan tepat untuk mencapai tujuan pembangunan


nasional yang makmur, adil dan sejahtera secara berkelanjutan.
Perencanaan pembangunan regional dengan industri dan perdagangan
sebagai penggerak utama perlu dilakukan secara terkoordinasi dan
terpadu mengacu kepada tata ruang, sehingga menjadi satu kesatuan
tatanan pembangunan yang dinamis serta tetap memelihara kemampuan
daya dukung lingkungannya sesuai paradigma pembangunan yang
berwawasan

lingkungan

dan

memantapkan

ketahanan

nasional.

Penataan ruang harus dapat menciptakan pemberdayaan ekonomi


kerakyatan. Kondisi industri nasional yang lebih dari 60% terkonsentrasi
di Pulau Jawa, di samping berdampak tidak meratanya aktivitas ekonomi,

juga semakin mengakibatkan semakin berkurangnya daya dukung


lingkungan Pulau Jawa serta terjadi pergeseran tata guna tanah subur.
Saat ini lapangan kerja pertanian dan perkebunan merupakan sektor
utama di Provinsi Sulawesi Barat dan wilayah sekitarnya yang sesuai dan
mudah dilakukan oleh masyarakat perdesaan. Berbagai tahapan proses
dari pembibitan penanaman panen pengolahan penyimpanan
penjualan, yang dengan berbagai kegiatan pendukungnya membuka
lapangan kerja bidang agroindustri dan agrobisnis yang perlu dilandasi
oleh kompetensi dan kapasitas para pelaku usahanya. Tahapan proses
pengolahan hasil panen komoditi pertanian, perkebunan, kehutanan,
peternakan dan perikanan mencakup bahan pangan, kayu dan hasil
hutan lainnya, ternak dan ikan serta komoditi laut lainnya mendukung
agro-industri yang sangat menentukan nilai tambah dan kualitas barang
siap pakai dari wilayah Sulawesi Barat. Selain daripada itu pertambangan
minyak

maupun

jenis

tambang

lainnya

yang

sangat

potensiil

dikembangkan di Provinsi Sulawesi Barat akan saling sinergis dalam


usaha peningkatan industri dan perdagangan di wilayah ini. Usaha
komoditi pertambangan akan menambah lapangan kerja dan lebih
menggerakan perekonomian wilayah Provinsi Sulawesi Barat kalau
dilakukan proses eksplorasi eksploitasi pengolahan (industri
manufaktur menghasilkan bahan siap pakai) penyimpanan, di wilayah
Provinsi Sulawesi Barat, baru dijual ke pasar wilayah sendiri dan di luar
wilayah sampai ke luar negeri. Selain daripada itu potensi geografis
Matabe yang berada di tepi selat Makassar, dengan aksesibilitas tinggi,
memungkinkan untuk mendatangkan beragam bahan baku komoditas
dari wilayah ekstarnal untuk diolah di KEK dan dipasarkan ke berbagai
wilayah baik luar negeri maupun dalam negeri. Inilah mengapa di Matabe,
Provinsi Sulawesi Barat sangat layak dijadikan Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) sesuai yang diamanatkan Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 39 tahun 2009.

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat


2014-2034, Kawasan Mamuju-Tampapadang-Belangbelang (Matabe)
direncanakan menjadi kawasan strategis dari kepentingan pertumbuhan
ekonomi. Posisi geografis kawasan Matabe di tepi selat Selat Makassar,
keberadaan pelabuhan laut Belangbelang dan Bandara Tampapadang,
posisi kawasan Matabe sebagai Pusat Kegiatan Nasional Promosi
(PKNp) dalam struktur ruang Provinsi Sulawesi Barat serta penentuan
kawasan Matabe sebagai kawasan terpadu pelabuhan, bandara, industri,
perdagangan, pergudangan dan petikemas. Inti sentra pertumbuhan
ekonomi Matabe adalah pelabuhan Belangbelang dan sekitarnya yang
potensiil dikembangkan menjadi KEK.
Oleh karena itu, jika mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan
Ekonomi Khusus diperlukan adanya sebuah studi kelayakan (feasibility
study) untuk mendukung usulan kawasan pelabuhan Belangbelang dan
sekitarnya menjadi KEK, sebagai subsistem kawasan terpadu pelabuhan,
bandara, industri, perdagangan, pergudangan dan petikemas Matabe.
2. Maksud, Tujuan dan Sasaran
a. Maksud
Kawasan perkotaan Mamuju-Tampapadang-Belangbelang (Matabe)
ditinjau dari segi ekonomi, potensiil dikembangkan menjadi kota
metropolitan yang didukung oleh aksesibiltas tinggi baik transportasi laut,
transportasi darat termasuk rel kereta api, serta transportasi udara
dianggap strategis ditinjau dari aspek ekonomi. Belang-belang sebagai
simpul transportasi laut, jalan raya dan kereta api, yang didukung oleh
bandara Tampapadang, dipandang sangat potensiil untuk dikembangkan
menjadi simpul kegiatan industry dan perdagangan global. Uraian ini
mendasari maksud kegiatan ini yaitu mengkaji kelayakan Belangbelang
sebagai

sebagai

inti

kawasan

Mamuju-Tampapadang-Belangbelang

(Matabe) untuk dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus.


Selanjutnya pengembangan KEK Belangbelang juga menjawab masalah

kesenjangan ekonomi antar wilayah, serta diharapkan dapat berperan


menjadi salah satu pilar pengembangan ekonomi nasional.
b. Tujuan
Studi Kelayakan KEK di Matabe dengan focus pengembangan
Belangbelang sebagai inti kawasan bertujuan untuk:
i. Eksplorasi potensi geografis, potensi beragam SDA regional, nasional
termasuk dalam skup global yang potensiil diolah di kawasan Ecoindustrial park Belangbelang, yang terpadu dengan pengembangan
pelabuhan, petikemas, industri dan pergudangan, yang didukung oleh
aksesibilitas tinggi transportasi darat termasuk real
ii.

KA, dan

transportasi udara;
Mengukur tingkat kelayakan pengembangan KEK Matabe dengan
Belangbelang sebagai focus pengembangan dari perspektif ekonomi,

iii.

lingkungan dan sosiokultur; dan


Menyusun rencana tindak lanjut berupa Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) kawasan perkotaan Matabe, yang dilanjutkan dengan
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Belangbelang
sebagai focus pengembangan KEK Matabe.
c. Sasaran
Sasaran dari kegiatan studi kelayakan KEK Matabe dengan

pengembangan Belangbelang sebagai inti kawasan adalah sbb:


i. Profil ragam komoditi olahan unggulan, sentra produksi, volume, dan
pasarnya, yang layak dikelola di Eco-industrial park sebagai KEK
Matabe
ii. Deliniasi dan kondisi lingkungan darat maupun perairan laut kawasan
pelabuhan Belangbelang dan sekitarnya, yang layak dikembangkan
menjadi KEK, sebagai subsistem kawasan perkotaan Matabe;
iii. Penetapan tingkat kelayakan dan konsekuensi pengembangan KEK
Matabe;
iv. Tersusunnya program tindak lanjut berupa kerangka acuan kerja
penyusunan RDTR kawasan perkotaan MATABE, dan kerangka acuan
kerja

RTBL Kawasan Belangbelang sebagai focus pengembangan

KEK Matabe;

B. Pemahaman terhadap Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)


1. Pengertian dan Prinsip Kawasan Ekonomi Khusus
Pada dasarnya KEK adalah kawasan industri khusus. KEK sebagai
kawasan industri, tidak berbeda dengan kawasan industri yang telah ada,
yaitu berisi sekumpulan perusahaan yang

relatif

dalam

dengan

konteks ini,

KEK tidak

berbeda

sejenis.

Sehingga

kawasan industri

tradisional, kawasan berikat, kawasan ekonomi terpadu, kawasan industri


estate, Free Economic Zones, Free Trade Zones, Enterprise Free Zones,
Enterprise Trade Zones, Export Processing Zones, Free Ports, Foreign
Trade Zones, New Export Distribution Centers; dan Regional Foreign
Trade Zones. Walaupun dibeberapa negara seperti India, kawasan
industrinya kemudian dikonversi menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK)
atau special economic zone (SEZ) setelah adanya UU tentang KEK.
Aspek khusus disini karena KEK diberikan fasilitas kemudahan,
insentif dan infrastruktur yang relatif lebih lengkap (kepabeanan (custom
dan

excise),

perpajakan,

perijinan

(licensing)

one

stop

service,

keimigrasian serta ketenagakerjaan). Disamping itu di dalam UU RI no


39/2009, tentang KEK, ditambah dengan batas-batas yang jelas (batas
buatan misalnya : pagar atau batas alamiah seperti sungai atau
pegunungan atau laut).
Menurut UU 39/2009, pasal 1,

Kawasan Ekonomi Khusus, yang

selanjutnya disebut KEK, adalah kawasan dengan batas tertentu dalam


wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan
untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas
tertentu.
Pembentukan KEK, didasari pada konsep cluster, atau zoning. Zona
adalah area di dalam KEK dengan batas tertentu yang pemanfaatannya
sesuai dengan peruntukannya. Oleh karena bersifat zoning maka
dibutuhkan peraturan untuk mengaturnya. Menurut penjelasan UU
39/2009, Yang dimaksudkan dengan peraturan zonasi adalah ketentuan
yang

mengatur

persyaratan

pemanfaatan

ruang

dan

ketentuan

pengendaliannya dan disusun untuk setiap Zona peruntukkan yang


penetapan Zonanya dilakukan dengan rencana rinci tata ruang. Menurut
UU 39/2009, pasal 3, bahwa aspek zoning dalam KEK dapat
diklasifikasikan menjadi 7 (tujuh) zona, yaitu: pengolahan ekspor; logistik;
industri; pengembangan teknologi; pariwisata; energi; dan/atau ekonomi
lain.
KEK dapat terdiri atas satu atau beberapa Zona, didalam kawasan
KEK, harus ada fasilitas pendukung dan perumahan bagi pekerja. Dan di
dalam setiap KEK disediakan lokasi untuk usaha mikro, kecil, menengah
(UMKM), dan koperasi, baik sebagai Pelaku Usaha maupun sebagai
pendukung kegiatan perusahaan yang berada di dalam KEK.
2. Lokasi KEK
Menurut UU 39/2009, pasal 4, KEK harus memenuhi kriteria :
1. sesuai

dengan

Rencana

Tata

Ruang

Wilayah

dan

tidak

berpotensi mengganggu kawasan lindung;


2. pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang bersangkutan mendukung
KEK;
3. terletak

pada

posisi

yang

dekat

dengan

jalur

perdagangan

internasional atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di


Indonesia atau terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan;
dan
4. mempunyai batas yang jelas.
Untuk point 3, Yang dimaksud dengan jalur pelayaran internasional
adalah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI); jaringan pelayaran yang
menghubungkan antarpelabuhan internasional hub di Indonesia dan
pelabuhan internasional di Indonesia; dan jaringan pelayaran yang
menghubungkan antara pelabuhan internasional hub dan pelabuhan
internasional dengan pelabuhan internasional di negara lain.
Untuk point 4, Yang dimaksud dengan mempunyai batas yang jelas
adalah batas alam (sungai atau laut) atau batas buatan (pagar atau
tembok). Juga menurut PP 2/2011, pasal 11, pada batas KEK harus
ditetapkan pintu keluar dan masuk barang untuk keperluan pengawasan

barang yang masih terkandung kewajiban kepabeanan.


2/2011, pasal 6, lokasi KEK

Menurut PP

yang diusulkan, bisa berupa lokasi KEK

yang baru atau lokasi perluasan KEK yang telah ada.


3. Kajian Menentukan Kelayakan KEK
Adanya ketentuan khusus di bidang kepabeanan, perpajakan,
perijinan, keimigrasian dan ketenagakerjaan, pembedaan ketentuan
khusus tersebut pada umumnya akan meminimalkan tarif atau retribusi
yang berkaitan dengan perpajakan dan kepabeanan sehingga pendapatan
negara

yang

berhubungan

dengan

perpajakan

dan

kepabeanan

berkurang. Ketentuan khusus dalam pengembangan KEK merupakan


strategi memacu pertumbuhan sektor investasi dengan paket investasi
yang

menarik

berupa

insentif

fiskal

agar

investasi

memberikan

keuntungan dan memiliki tingkat pengembalian yang tinggi (return of


investment), memberikan manfaat bagi investor, masyarakat dan negara,
menyerap tenaga kerja, dan menghemat devisa. Dalam kajian menggali
potensi-potensi investasi daerah diperlukan kajian ekonomi dan finansial
serta kebijakan-kebijakan yang menggali sumber-sumber pembiayaan
atau menarik minat investor untuk menunjukkan potensi investasi pada
kawasan yang layak menjadi kawasan klaster industri. Dalam jangka
panjang pasar bebas membawa manfaat berupa arus perdagangan yang
lebih lancar, pasar yang lebih luas dan skala ekonomi yang besar
sehingga menghasilkan alokasi sumber daya yang rasional dan
meningkatkan efisiensi. Dalam jangka pendek pembentukan pasar bebas
bagi negara yang belum siap bersaing dapat menimbulkan masalah. KEK
dengan tawaran paket investasi yang menarik, segala cara yang ditempuh
untuk

mewujudkan

perbaikan

iklim

investasi

sekaligus

dapat

mengoptimalkan potensi daerah. Dan juga menyediakan infrastruktur yang


memadai dan terus berkembang mengikuti investasi di KEK, dengan
anggaran pemerintah yang terbatas penyediaan infrastruktur dapat
berbentuk PublicPrivatePatnership (PPP), pengaturan implementasi

dan periode teknik perlu ditetapkan. Dari uraian di atas Kajian untuk
menentukan kelayakan KEK melingkupi:
- Mengkaji mengenai kondisi umum dan fasilitas yang ada dan yang
-

perlu ditingkatkan untuk mendukung sektor investasi di kek;


Menganalisa potensi investasi yang ada dan perkiraan mengenai

investasi yang menarik investor;


Mengkaji aspek finansial dan ekonomi serta keterkaitannya dengan
keputusan pendanaan dari investasi yang dapat berkembang,
menganalisa sumber-sumber pembiayaan yang dapat digunakan
untuk pengembangan kek setelah diketahui investasi-investasi yang
menguntungkan (profitable) dengan tingkat pengembalian (return of
investment) yang tinggi dan memberikan manfaat bagi masyarakat;

Menyusun paket investasi yang menarik yang pengembangannya


akan ditawarkan kepada pihak swasta, menganalisa kebijakankebijakan yang diperlukan untuk mendukung sektor investasi di KEK.

C. Gambaran Umum Wilayah


1. Gambaran Umum Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Barat adalah daerah yang terletak pada sisi barat
Pulau Sulawesi yang merupakan pecahan dari Provinsi Sulawesi Selatan.
Provinsi ini terbentuk pada tanggal 5 Oktober tahun 2004 berdasarkan UU
No 26 Tahun 2004 yang menetapkan Mamuju sebagai ibukota provinsi.
Secara geografis provinsi ini terletak pada 012'-338'LS dan 11843'1511954'3BT. Batas geografis Provinsi Sulawesi Barat adalah :
Sebelah Utara

: Provinsi Sulawesi Tengah

Sebelah Selatan : Provinsi Sulawesi Selatan


Sebelah Barat

: Selat Makassar

Sebelah Timur

: Provinsi Sulawesi Selatan

Luas wilayah Provinsi Sulawes Barat tercatat 16.937,16 kilometer


persegi yang meliputi 6 kabupaten Kabupaten Mamuju merupakan
kabupaten terluas dengan luas 4.999,69 kilometer persegi atau meliputi
29,52 persen dari seluruh wilayah Sulawesi Barat. Sedangkan Kabupaten

Majene merupakan kabupaten terkecil dengan luas sekitar 5,60 persen


atau sekitar 947,84 kilometer persegi.
Jarak ibukota provinsi ke ibukota kabupaten cukup beragam.
Kabupaten Mamasa merupakan daerah terjauh dari Mamuju sebagai
ibukota provinsi yaitu sekitar 292 KM dan Pasangkayu (Mamuju Utara)
sekitar 276 KM.
Tabel 1 Luas Wilayah Menurut Kabupaten di Sulawesi Barat Tahun 2014
No

Kabupaten

Luas (Km2)

Presentase

Majene

947,84

5,60

Polewali Mandar

2022,3

11,94

Mamasa

2909,21

17,18

Mamuju

4999,69

29,52

Mamuju Utara

3043,75

17,97

Mamuju Tengah

3014,37

17,80

16937,16

100

Total

Sumber : Sulawesi Barat Dalam Angka, 2014

2. Gambaran Umum Kabupaten Mamuju


Secara geografis, Kabupaten Mamuju terletak pada posisi 1 0 38
110 - 20 54 552 Lintang Selatan dan 110 54 47 130 5 35 Bujur Timur,
dengan luas wilayah 5.056,19 Km2, secara administrasi pemerintahan
terbagi atas 11 kecamatan, terdiri dari 88 desa, 11 kelurahan. Secara
administratif, Kabupaten Mamuju yang beribukota di Mamuju, berbatasan
dengan:
Sebelah utara

: Kabupaten Mamuju Tengah

Sebelah timur

: Provinsi Sulawesi Selatan

Sebelah selatan : Kabupaten Mamasa dan Provinsi Sulawesi Selatan


Sebelah barat

: Selat Makasar.

Komoditi unggulan Kabupaten Mamuju yaitu sektor pertambangan,


pertanian,

prkebunan

dan

jasa.

Sektor

pertambangan

komoditi

unggulannya yaitu marmer, sektor pertanian komoditi unggulannya adalah


jagung dan ubi kayu, sub sektor perekbunan komoditi yang diunggulkan
berupa kopi, kepala sawit, kakao, lada, jambu mete, kelapa dan cngkeh.
Pariwisatanya yaitu wisata alam, wisata adat dan budaya.
Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di Kabupaten ini
tersedia 1 bandar udara, yaitu Bandara Tampa Padang. Untuk transportasi
laut tersedia 4 pelabuhan, antara lain Pelabuhan Simbuang, Pelabuhan
Samudera belang, Pelabuhan Mamuju, Pelabuhan Belang-Belang.
Wilayah perencanaan RTRW Kabupaten Mamuju meliputi seluruh
wilayah Kabupaten Mamuju yang terdiri atas 11 kecamatan meliputi:
Tabel 2 Luas Wilayah, Jumlah Desa, Kelurahan dan UPT pada Masing-masing
Kecamatan di Kabupaten Mamuju
No
.

Kecamatan

Luas
(km2)

Prosentase

Desa/UPT

Kelurahan

1.
2.

Tapalang
Tapalang Barat

283,31
131,72

5,59
2,60

7
7

2
-

3.
4
5.
6.
7.
8.

Mamuju
Simboro
Balabalakang
Kalukku
Papalang
Sampaga

206,64
111,94
21,86
470,26
197,60
119,40

4,08
2,21
0,43
9,29
3,90
2,36

4
6
2
10
9
7

4
2
3
-

827,35
1.731,99
962,12
5.064,19

16,34
34,20
19,00
100

14
13
9
88

11

9.
Tommo
10
Kalumpang
11
Bonehau
Jumlah

Sumber : BPS, Mamuju Dalam Angka, 2014

10

Gambar 1 Peta Administrasi Kabupaten Mamuju

3. Gambaran Umum Kawasan Mamuju-Tampapadang-Belangbelang


(MATABE)
Rencana Tata ruang Kawasan Matabe ini terdiri dari 2 wilayah
administrasi kecamatan yaitu Kecamatan Mamuju dan Kecamatan
Kalukku. Wilayah Matabe yakni terdiri dari Mamuju, Tampa Padang dan
Belang-belang berada di dalam lingkup administrasi kedua kecamatan
tersebut.
Luas (Km2)

Kecamatan
Kecamatan Mamuju

206,64

Kecamatan Kalukku

470,27

Jumlah

676,91

Secara

geografis,

Kawasan

Matabe

terletak

pada

posisi

22644,89 - 24757,154 Lintang Selatan dan 1185140,205 1191351,327 Bujur Timur. Batas administrasi Kawasan Matabe adalah
Sebelah utara Berbatasan dengan Selat Makassar dan Kecamatan
Sampaga, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tappalang,
sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bonehau dan Kabupaten
Mamasa, dan sebelah barat berbatasan Selat Makassar.
Lokasi perencanaan yang berada di Kawasan Matabe dinilai
sebagai kawasan strategis dengan posisi kawasan berada pusat
perkotaan dan pusat pemerintahan dari Provinsi Sulawesi Barat dan
Kabupaten Mamuju sehingga arahan pembangunan lebih di prioritaskan
ke kawasan tersebut.
Tabel 3 Luas wilayah administrasi Kawasan Matabe Tahun 2013

Sumber : Analisis GIS, 2015

11

Gambar 2 Peta Administrasi Kawasan Matabe

D. Konsep Eco-Industrial Park sebagai dasar pengembangan Kawasan


Ekonomi Khusus di wilayah MATABE
Munculnya gagasan tentang eco-industrial park (EIP) bisa dirunut
dari munculnya konsep ekologi industri, yang di tulis oleh Frosch dan
Gallopoulos pada tahun 1989. Menurut mereka, ekologi industri muncul
sebagai suatu pendekatan yang menerapkan konsep ramah lingkungan
dalam

pembangunan

ekonomi.

Kajian

dibidang

ekologi industri

bertujuan untuk menemukan strategi dan metode guna meminimalkan


dampak negatif dari sistem industri terhadap sistem disekitarnya yang
terjadi pada eksploitasi sumberdaya, pengelolaan dan pembuangan
limbah. Hidayat (2011).

12

Namun secara formal, konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh


Indigo Development (USA) pada tahun 1992 yang selanjutnya diadopsi
oleh US-EPA (environmental protection authority) pada tahun 1993 untuk
diterapkan dalam pengembangan dan revitalisasi kawasan industri.
Definisi dari Hidayat (2011), menunjukkan bahwa model ecoindustrial park (EIP) adalah model pembangunan kawasan industri yang
berbasis pada konsep ramah lingkungan. Model ini berasumsi bahwa
untuk mencapai kerberlangsungan/keberlanjutan hidup suatu kawasan
industri maka kawasan industri tersebut haruslah memandang sebagai
bagian ekologi dari lingkungan sekitar (lingkungan alam, sosial, budaya
dan ekonomi). Apabila kawasan industri mengabaikan lingkungan maka
dapat dipastikan kawasan industri tersebut tidak dapat bertahan lama.
Definisi yang mirip, juga disampaikan oleh beberapa pendapat,
antara lain :
1. Djajadiningrat dalam konsep eco industrial park (EIP), EIP adalah
sekumpulan industri yang berlokasi pada suatu tempat dimana
pelaku-pelaku didalamnya secara bersama meningkatkan performansi
industri dan lingkungannya.
2. Lowe (2001), konsep eco industrial park (EIP), merupakan penjabaran
dri konsep industrial ecology, yaitu konsep yang memandang kawasan
industri sebagai bagian dari ekosistem dimana terjadi interaksi antara
sistem

lingkungan,

ekonomi

dan

social

sehingga

dalam

pengembangnnya harus mempertimbangkan tercapainya ekologis,


peningkatan

kualitas

hidup

dan

keberlanjutan

ekonomi

untuk

kegiatan industri secara seimbang. Selanjutnya dikatakan bahwa


defenisi

umum

yang

digunakan untuk EIP adalah pemusatan

komunitas industri dan jasa dalam suatu kawasan, yang saling


bekerjasma

dalam

pengelolaan

lingkungan

dan

sumberdaya

(informasi, energy, air,bahan baku, infrastruktur dan lingkungan) untuk


meningkatkan

kinerja

lingkungan,

ekonomi

dan

social

serta

13

memperoleh manfaat kolektif yang lebih besar dibandingkan bila


pengelolaan dilakukan oleh masing-masing industri secara parsial.
3. Hidayat (2011), mengutip Oginawati dan Sofyan (2007), mereka
mendefenisikan eco- industrial

park

(EIP)

adalah

sebuah

komunitas industri dan bisnis yang terletak bersama dalam sebuah


kawasan. komunitas tersebut mencari kinerja lingkungan, ekonomi
dan

social

terbaiknya

melalui

kolaborasi

dalam

pengelolaan

lingkungan dan sumberdaya alam. Dengan bekerja sama, komunitas


bisnis tersebut mencari keuntungan kolektif. Tujuan EIP adalah
meningkatkan

kinerja

ekonomi

perusahaan

perusahaan

yang

tergabung/ berpartisipasi sambil meminimalisasi dampak lingkungan


yang terjadi.
4. Mulyadi dan
adalah

Monstiska,

salah

bahwa

eco-industrial

park,

satu bentuk kawasan industri yang berwawasan

lingkungan. Konsep
ekonomi

(2011:9)

perusahaan

ini bertujuan untuk memaksimalkan kinerja


yang

tergabung

di

dalamnya

sekaligus

meninimalisir dampak lingkungan yang terjadi. Selanjutnya dikatakan


bahwa komponen dari eco-industrial park adalah green design dari
infrastruktur dan pabrik baik baru maupun penyempurnaan,produksi
bersih, pencegahan pencemaran, efisiensi energy dan kerja sama
antar perusahaan.
Berdasarkan beberapa definisi diatas maka pada dasarnya EIP
merupakan suatu pendekatan untuk mewujudkan pilar pembangunan
berkelanjutan dalam konteks mikro. Istilah eco juga berarti bahwa
pengembangan

kawasan

harus

disesuaikan

dengan

karakteristik

ekosistem, sumberdaya dan kebutuhan ekonomi local dan regional, serta


tidak menyebabkan hilangnya atau rusaknya ekosistem lingkungan
yang

bernilai ekologis tinggi. Konsep EIP ini juga mengarah pada

transormasi sistem dan pendekatan dalam pengembangan industri di


suatu negara/daerah.
Ekologi
transformasi

industri

sebagai

kerangka

untuk

mengarahkan

sistem industri. Filosofi dasarnya adalah merubah proses


14

produksi linear (bahan baku diubah menjadi produk/output, produk


sampingan dan limbah) ke dalam suatu proses yang saling memanfaatkan
dimana output suatu industri / perusahaan kemudian digunakan oleh
perusahaan / industri lain, dengan meniru siklus sumber daya dalam
sistem lingkungan yang alami. Tujuannya adalah membawa sistem
industri menjadi sedekat mungkin, seperti sistem / proses tertutup,
dimana

mampu

mendaur

ulang

semua material yang dipakai dan

dihasilkannya. EIP disamping sebagai suatu pendekatan, juga dapat


dijadikan suatu strategi pengembangan kawasan industri.
Hidayat (2011), menyatakan bahwa eco-industrial park adalah
salah satu strategi untuk menerapkan konsep ekologi industri yang
dilakukan melalui kerjasama antar perusahaan. Beberapa defenisi yang
berkaitan dengan eco-industrial park adalah :
Eco-industrial park adalah sebuah komunitas bisnis manufaktur
dan jasa yang mencari peningkatan kinerja lingkungan dan ekonomi
melalui kerjasama dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya
termasuk energy, air dan bahan bahan lainnya. dengan bekerja
sama,komunitas bisnis mencari manfaat kolektif yang lebih besar daripada
jumlah dari setiap manfaat individu perusahaan.
By-product exchange network adalah sebuah komunitas atau
jaringan perusahaan dan organisasi di suatu daerah yang memilih untuk
berinteraksi dengan mempertukarkan
samping

dan

limbah

dan

memanfaatkan

produk

guna menguranginya menjadi seseidkit

mungkin dengan cara menjadikannya input dalam proses produksinya


masing-masing.
Ekosistem industri adalah sebuah sistem dimana konsumsi energy
dan bahan dioptimalkan ,limbah diminimalkan, produk samping serta
limbah dari suatu proses dijadikan input bagi proses lainnya.
Simbiosis

industri

adalah

hubungan

yang

sangat

saling

bergantung antara dua perusahaan, dalam pertukaran bahan baku dan

15

energy dalam suasana kerja yang saling menguntungkan, di mana


masing-masing menyumbang kepada kesejahtraan pihak lain.
Untuk merealisasikan EIP maka harus ada elemen atau
komponen yang dipertimbangkan . Menurut Hidayat (2011), mengutip
Oginawatidan Sofyan (2007), menyatakan bahwa EIP terdiri dari lima
komponen utama yaitu :

Green design dari infrastruktur dan pabrik baik baru maupun lama
Produksi bersih
Pencegahan pencemaran
Efisiensi energy
Kerjasama antar perusahaan
Salah satu unsur atau elemen dalam EIP adalah aspek

infrastruktur yang sesuai dengan konsep EIP (green design). Menurut


Hidayat (2011), bahwa ada tiga prinsip dalam penyediaan infrastruktur
bagi EIP yaitu :
-

Desain

tunggal

menghubungkan

infrastruktur

yang

terintegrasi,

yang

semua kebutuhan unit unit pabrik / perusahaan ke

dalam suatu sistem tunggal, baik standar fisik, operasi dan perawatan.
Infrastruktur berwawasan hijau / ramah lingkungan, yang mengalirkan

energy ke semua pengguna


Bangun berkonsep hijau yang hemat sumberdaya.
Konsep

EIP juga

memiliki konsekuensi

logis,

artinya

ada

keuntungan dan masalah yang akan dihadapi dalam implementasinya.


Menurut Mulyadi dan Monstiska, (2011:9) bahwa keuntungan dari ecoindustrial park dapat terjadi pada sisi industri dan lngkungan, antara lain :
1) penurunan ongkos produksi melalui peningkatan efisiensi material dan
energy, pemanfaatan kembali air, dan menghindari sanksi peraturan
pemerintah.
2) peningkatan efisiensi dalam menghasilkan produk-produk yang
kompetitif.
3) Berbagi jasa konsultasi dan akses informasi
4) Berbagi pelayanan umum: pengelolaan limbah, pelatihan, pengadaan
barang, tim penanggulangan bencana, sistem informasi lingkungan
dan lain lain
16

5) Meningkatkan nilai property


6) Mengurangi banyak sumber polusi dan limbah sejalan dengan
berkurangnya kebutuhan akan sumber daya alam
7) Mengurangi beban lingkungan melalui pendekatan yang lebih
inovatif

menuju produksi yang lebih bersih yang meliputi upaya

pencegahan pencemaran, efisiensi energy, manajemen air, perbaikan


alam dan lain lain.
8) Keputusan mengenai lokasi eco-industrial park, infrastruktur dan
target rekrutmen tergantung pada batasan kapasitas pendukung local
dan karakteristik ekologi dari lokasi yang potensial.
E. Perencanaan Kawasan Ekonomi Khusus
1. Penentuan Lokasi Kawasan Ekonomi Khusus
Kawasan MATABE yang terdiri dari dua kecamatan yaitu Kalukku
dan Mamuju memiliki luas total 67.691 Ha, tidak memungkinkan seluruh
kawasan MATABE dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus. Sehingga, perlu
ditentukan lagi kawasan yang lebih detail untuk menentukan lokasi KEK di
kawasan MATABE.
Perencanaan Pelabuhan Belangbelang dan Bandara Tampapadang
dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Barat tahun 20142034, dimana pelabuhan Belangbelang dijadikan pelabuhan utama yang
melayani kapal-kapal samudera angkutan kontainer dan dan penumpang
serta bandara Tampapadang yang sangat mendukung aksesibilitas
wilayah pada rute penerbangan Mamuju Makassar, Mamuju
Balikpapan, Mamuju Palu, Mamuju Gorontalo, Mamuju Surabaya,
Mamuju

Jakarta

diarahkan

pengembangannya

sampai

mampu

mengakomodir pesawat berbadan lebar. Hal ini dijadikan dasar sehingga


kawasan di sekitar dua Sarana tersebut menjadi alternatif lokasi peletakan
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di kawasan MATABE. Lebih jelas
mengenai kedua kawasan tersebut bisa dilihat pada gambar berikut:

17

Gambar 3 Alternatif Lokasi Peletakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)


di kawasan Matabe

Dari dua alternatif tersebut, akan dipilih satu yang dijadikan lokasi
tepat dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Beberapa kriteria yang
digunakan dalam menetukan alternatif kawasan yang terpilih yaitu pola
ruang kawasan, kemudahan pembebasan lahan dan kemudahan
pengadaan infrastruktur kawasan.
Dari Beberapa pertimbangan dan analisis tiga kriteria penentuan
lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa lokasi yang paling strategis di kawasan MATABE untuk dijadikan
KEK adalah Kawasan Belangbelang, sehingga ke depan perencanaan
KEK ini akan digunakan nama
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang
2. Deliniasi Wilayah KEK Belangbelang
Meskipun lokasi KEK Belangbelang direncanakan berada di wilayah
belangbelang,

namun

KEK

Belangbelang

tidak

akan

mengambil

Pelabuhan Belangbelang sebagai bagian dari wilayah Kawasan Ekonomi


Khusus (KEK) Belangbelang. Sehingga, KEK Belangbelang direncanakan
berada diluar kawasan pelabuhan Belangbelang.

18

Beberapa pertimbangan KEK Belangbelang direncanakan diluar


Pelabuhan Belangbelang antara lain:
1. Dalam RTRW Provinsi Sulawesi Barat, Pelabuhan Belangbelang
diarahkan menjadi pelabuhan utama yang melayani kapal-kapal
samudera angkutan kontainer dan penumpang.
2. Kondisi batimetrik perairan di depan pelabuhan Belangbelang yang
kurang potensial untuk arus keluar masuk kapal intensitas tinggi,
sementara

untuk

pengembangan

KEK

dibutuhkan

prasarana

transportasi dengan arus distribusi intensitas tinggi.


Dari beberapa pertimbangan di atas dan hasil diskusi beberapa
stakeholder serta hasil analisis tim penyusun, maka Kawasan Ekonomi
(KEK) Belangbelang diarahkan di tanjung Belangbelang.
Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala
Badan Pertanahan Nasional nomor 5 tahun 2015 tentang izin lokasi,
dikatakan bahwa izin lokasi untuk usaha kawasan industri tidak lebih dari
400 Ha dalam satu provinsi. Meskipun pemerintah pusat sekarang sedang
menyusun rancangan undang-undang KEK dimana salah satu poin
pentingnya mengatakan luasan Kawasan Ekonomi Khusus tidak dibatasi
hingga 400 Ha, namun tim penyusun KEK Belangbelang tetap mengacu
pada aturan yang sudah ada yaitu luasan KEK tidak lebih dari 400 Ha.
Deliniasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang adalah seperti
gambar berikut:

19

Gambar 4 Deliniasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang

Dari Hasil Interpretasi peta di atas diketahui bahwa Kawasan


Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang direncanakan memiliki luas wilayah
374.2 Ha. Fokus kawasan berada di tanjung Belangbelang, dan wilayah
perencanaan terdiri atas daratan dan lautan.
3. Gambaran Umum Wilayah KEK Belangbelang
a. Topografi dan Morfologi Kawasan
Morfologi wilayah tanjung belangbelang dan sekitarnya yang
direncanakan sebagai lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) relatif
beragam jika dilihat dari kelas reliefnya. Utara kawasan morfologi
kawasannya didominasi oleh kelas bergelombang-berbukit dengan
perbedaan ketinggian 75-100 meter. Di bagian pertengahan kawasan
dominan

morfologi

kawasannya

berombak-bergelombang

dengan

perbedaan ketinggian 25-75 meter. Sementara di bagian selatan kawasan


atau bagian tanjung Belangbelang morfologi kawasannya datar-hampir
datar dan sebagian kecil berombak dengan perbedaan ketinggian 0-50
meter. Ilustrasi morfologi kawasan di wilayah perencanaan dapat dilihat
pada gambar berikut:

20

Gambar 5 Morfologi Kawasan di KEK Belangbelang dan sekitarnya

Morfologi yang beragam ini dengan perbedaan ketinggian yang


cukup signifikan ini sebenarnya memiliki dampak negatif dan positif.
Dalam pematangan lahan kawasan memerlukan biaya yang tidak sedikit
karena memerlukan proses cutting di beberapa bagian kawasan. Namun,
dampak positifnya hasil cutting beberapa bukit yang ada di dalam
kawasan bisa dimanfaatkan untuk proses reklamasi bagian perairan
perencanaan KEK Belangbelang sehingga menghemat dalam proses
reklamasinya.
Selain morfologi kawasan yang bisa tergambar dari gambar di atas,
dari gambar di atas juga nampak topografi di kawasan perencanaan
berkisar antara 0-120 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan
lereng berkisar antara 0-40%. Lebih jelas mengenai topografi di kawasan
perencanaan dapat dilihat pada gambar profil topografi kawasan di
bawah:

21

Gambar 6 Profil Ketinggian di rencana KEK Belangbelang

b. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di kawasan perencanaan KEK Belangbelang
didominasi oleh lahan-lahan yang belum tergarap seperti lahan kosong
dan semak belukar. Lebih jelas mengenai penggunaan lahan di kawasan
perencanaan KEK Belangbelang dapat dilihat pada tabel dan peta berikut:
Tabel 4 Penggunaan Lahan di Kawasan Perencanaan
KEK Belangbelang
Jenis Penggunaan Lahan
Jalan
Kebun
Lahan Kosong
Mangrove
Perairan
Permukiman
Sawah
Semak Belukar
Tambak
TOTAL

Luasan (Ha)
3.24
27.98
29.98
3.97
72.48
20.06
50.63
153.89
12.60
374.82

Persentase (%)
0.86%
7.46%
8.00%
1.06%
19.34%
5.35%
13.51%
41.06%
3.36%
100.00%

22

Gambar 7 Penggunaan Lahan di kawasan KEK Belangbelang

Dari tabel dan peta di atas dapat dilihat bahwa penggunaan lahan di
kawasan perencanaan KEK Belangbelang terdiri atas Jalan, Kebun,
Lahan Kosong, Mangrove, Perairan, Permukiman, Sawah, Semak Belukar
dan Tambak. Penggunaan Lahan yang dominan adalah semak belukar
yang memiliki luas 41,06% dari luas keseluruhan kawasan perencanaan
KEK Belangbelang. Karena hal tersebut, Kawasan tanjung belangbelang
sangat potensial dikembangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK).
4. Perencanaan Tahapan Pengembangan KEK Belangbelang
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang diusulkan oleh
pemerintah provinsi Sulawesi Barat. Pemerintah provinsi Sulawesi Barat
menggenjot agar usulan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang
ini dapat disahkan oleh Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
dan segera dilakukan pembangunan dan pengembangan. Namun,

23

pembangunan dan pengembangan KEK Belangbelang yang segera ingin


direalisasikan ini kadang kala mengalami hambatan terutama dari segi
pengadaan anggaran.
Agar pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang
ini bisa segera terealisasi dengan anggaran yang tersedia salah satu
caranya yaitu melakukan pentahapan pengembangan. Pentahapan
pengembangan ini adalah perencanaan pengembangan sebuah kawasan
dengan membaginya menjadi beberapa tahap dimana tiap tahapnya
memiliki kurun waktu tertentu. Lebih jelas mengenai pentahapan
pengembangan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang ini
dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 8 Pembagian Tahapan Pengembangan KEK BelangbelanG

Tabel 5 Luasan Tahapan Pengembangan KEK Belangbelang


Tahap
Tahap I
Tahap II

Luasan
Persentase
(Ha)
(%)
82.18
21.93%
78.80
21.02%
24

213.84
374.82

Tahap III
Luasan
Total

57.05%
100.00%

Dari gambar dan tabel di atas terlihat bahwa pembangunan/


pengembangan KEK Belangbelang dibagi menjadi tiga tahapan. Tahapan
pertama seluas 82.18 Ha atau hanya 21.93% dari total seluruh kawasan
KEK yang diusulkan. Tahapan pertama ini diharapkan segera untuk
dilaksanakan pembangunannya agar investor bisa segera masuk dan
KEK bisa segera beroperasi. Setelah tahapan pertama ini berjalan
beberapa tahun, tahap kedua mulai dibangun dengan anggaran dari
pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Pemerintah Pusat dan anggaran dari
KEK Belangbelang itu sendiri. Tahap kedua ini dikembangankan dengan
luas wilayah 78.80 Ha atau sekitar 21.02% dari luas wilayah KEK
Belangbelang yang diusulkan. Setelah KEK Belangbelang tahap pertama
dan kedua sudah berjalan, dan investor semakin banyak yang masuk
dilanjutkan dengan pembangunan KEK Belangbelang tahap ketiga. Pada
pembangunan tahap ketiga ini diharapan KEK Belangbelang sudah mulai
mandiri dan sebagian besar anggaran pembangunan KEK Belangbelang
ini berasal dari KEK Belangbelang itu sendiri meskipun nantinya
mendapat bantuan anggaran dari pemerintah provinsi Sulawesi Barat dan
pemerintah pusat.
5. Rencana Peruntukan Lahan
Peruntukan

lahan

pada

Kawasan

Ekonomi

Khusus

(KEK)

Belangbelang ini direncanakan terdiri dari beberapa peruntukan lahan.


Peruntukan lahan utama adalah industri (dalam hal ini pabrik) yang terbagi
menjadi tiga peruntukan yang lebih detail yaitu peruntukan lahan pabrik
ukuran besar, pabrik ukuran sedang dan pabrik ukuran kecil. Peruntukan
lahan yang lain yaitu pelataran peti kemas, pergudangan, perkantoran,
fasilitas sosial, ruko pendukung KEK, Service Engineering, silo bahan
curah serta peruntukan lahan usaha kecil dan menengah. Karena konsep
pembangunan dan pengembangan di KEK belangbelang ini adalah EcoIndustrial Park maka direncanakan beberapa peruntukan lahan yang
25

bersifat ekologis seperti peruntukan lahan ruang terbuka hijau, ruang


terbuka multifungsi (evakuasi, olahraga, dan rekreasi) dan Waste water
treatment plant yang berfungsi mendaur ulang limbah industri sebelum
dialirkan lebih lanjut. Lebih jelas mengenai peruntukan lahan di KEK
Belangbelang pada tahap pertama dapat dilihat pada tabel dan gambar di
bawah ini:

Gambar 9 Peta Rencana Peruntukan Lahan KEK Belangbelang Tahap I

Tabel 6 Luasan Rencana Peruntukan Lahan

26

Jenis Peruntukan Lahan

Luasan (Ha)

Pabrik Ukuran Besar


Pabrik Ukuran Kecil
Pabrik Ukuran Sedang
Pelataran Peti Kemas
Pergudangan
Perkantoran
Perkantoran dan Fasos
Ruang Terbuka Hijau
Ruang Terbuka Multifungsi
Ruko Pendukung KEK
Service Engineering
Silo Bahan Curah
Usaha Kecil dan Menengah
Waste Water Treatment Plant
Grand Total

Persentasi

14.69
7.50
10.07
8.05
3.32
1.41
2.22
19.66
1.83
2.61
2.16
3.44
2.67
2.81
82

18%
9%
12%
10%
4%
2%
3%
24%
2%
3%
3%
4%
3%
3%
100%

6. Rencana Jaringan Transportasi


Jaringan Transportasi di KEK Belangbelang tahap pertama ini terdiri
dari jaringan jalan dan jaringan jalur kereta api. Pengadaan jalur kereta api
ini langsung sampai ke pelataran peti kemas untuk memudahkan arus
distribusi barang masuk dan keluar dari KEK Belangbelang. Dengan
distribusi

barang

yang

lebih

cepat

makan

perekonomi

di

KEK

Belangbelang juga akan bergerak lebih cepat. Jaringan transportasi di


Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Belangbelang dapat dilihat pada peta
berikut:

27

Gambar 10 Peta Rencana Jaringan Transportasi di KEK Belangbelang Tahap Pertama

Jaringan jalan di dalam KEK Belangbelang tahap pertama ini terdiri


dari dua jenis jalan. Jaringan jalan pertama merupakan jaringan jalan
utama yang terdiri dari dua jalur jalan dan median ruang terbuka hijau.
Detail potongan jalan utama ini dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 11 Potongan Jalan Utama KEK Belangbelang Tahap I

Jaringan jalan berikutnya merupakan jaringan jalan antar klaster,


yaitu jaringan jalan penghubung antara satu klaster dengan klaster yang
lainnya. Jalan ini direncanakan cukup lebar walaupun hanya penghubung
antar klaster mengingat kendaraan yang akan melalu jalan ini dominan

28

merupakan kendaraan-kendaraan besar. Lebih jelas mengenai jalan


penghubung antar klaster ini dapat dilihat pada gambar potongan berikut:

Gambar 12 Potongan Jalan Penghubung antar Klaster

7. Perencanaan Kavling/Persil Lahan


Penataan

Kavling/persil

lahan

dilakukan

dengan

pembagian

peruntukan lahan dalam blok menjadi kavling atau petak lahan. Penataan
kavling/ persil lahan ini sangat penting dan menjadi acuan bagi investor
untuk berinventasi di dalam KEK Belangbelang. Kavling/persil lahan inilah
nantinya yang akan menjadi jualan pengelola KEK kepada para investor.
Kavling/persil lahan untuk pabrik ukuran besar di KEK Belangbelang
memliliki luas kavling rata-rata 2500m 2 per kavlingnya. Pabrik ukuran
sedang direncanakan dengan luas kavling rata 1500m 2 per kavlingnya,
sementara untuk pabrik ukuran kecil direncanakan luas rata-ratanya 180
m2 per kavlingnya. Fungsi Pergudangan direncanakan dengan kavling
yang agak besar yaitu kira-kira 3000m 2 per kavlingnya.
Perkantoran yang terdiri dari kantor pengelola KEK Belangbelang itu
sendiri

maupun

kantor

perusahaan

yang

berinvestasi

di

KEK

Belangbelang direncanakan dengan luas kavling 400 m 2 perkavlingnya.


Sementara untuk fasilitas sosial seperti fasilitas kesehatan, ibadah dan
lain-lain direncanakan dengan kavling rata-rata 500m 2 perkavlingnya.
Lebih jelas mengenai pembagian kavling di Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK) Belangbelang, dapat dilihat pada peta di bawah:

29

Gambar 13 Siteplan KEK Belangbelang Tahap I

F. Aspek Studi Kelayakan KEK Belangbelang


1. Aspek Keuangan dan Ekonomi
Secara ekonomi, investor yang menanamkan modalnya di dalam
KEK akan memperoleh beberapa keuntungan yang tidak akan diperoleh
oleh investor yang menanamkan modalnya di luar KEK. Keuntungankeuntungan tersebut antara lain:
1.

Investor Asing yang menghubungi pengelola KEK dapat melakukan


konsultasi dan meminta penjelasan secara cuma-cuma tentang tata
cara berinvestasi seperti tentang perolehan hak atas tanah;
pembangunan industri; pengelolaan lingkungan; ketenagakerjaan;
perpajakan, dan lainnya.

2.

Investor dibebaskan dari persyaratan peizinan tertentu yaitu tidak


memerlukan persetujuan prinsip, bagi investor yang telah memperoleh
izin usaha; bebas dari memperoleh izin lokasi; bebas AMDAL; dan
undang-undang gangguan.

3.

Izin IMB dan HGB dapat diuruskan oleh Pengelola KEK.

4.

Legalitas kepastian memperoleh hak atas tanah lebih terjamin,


30

karena HGB yang dimiliki merupakan pecahan dari HGB induk KEK.
5.

Jangka

waktu

proses

pembangunan

industri

lebih

cepat

diselesaikan karena tanah telah siap bangun; perizinan mudah dan


singkat; prasarana dan fasilitas telah disediakan.
6.

Skim pembayaran tanah dapat diatur secara ringan , karena dapat


diangsur. Untuk meringankan beban investasi bagi para investor, KEK
memberikan kemudahan dalam cara pembayaran kavling industri,
yaitu bisa di bayar secara cash ataupun angsuran. Pembayaran
kavling industri dengan cara mengangsur akan meringankan investor,
karena bagi para investor yang dananya terbatas, dana pembayaran
kavling industri yang ditunda tersebut, dapat dialihkan untuk investasi
lain seperti pembangunan pabrik, membeli peralatan / mesin pabrik.
Dengan demikian pabrik sudah dapat dioperasionalkan dengan dana
yang terbatas, sedangkan untuk mengangsur harga kavling industri
selanjutnya dapat menggunakan dana dari hasil penjualan produk.

7.

Investor tidak perlu membiayai pembangun infrastruktur karena


telah disiapkan oleh pengelola KEK seperti, listrik, telepon, jalan air,
pengelolaan air limbah.

8.

Keamananan dan kebersihan lingkungan pabrik lebih terjamin


karena dikelola oleh perusahaan KEK.

9.

Tersedia fasilitas pendukung yang diperlukan investor seperti


kantor pelayanan (pengelola) KEK, pos keamanan, poliklinik,
ambulan, pemadam kebakaran, wartel, bank, rumah ibadah, restauran
(kantin), perumahan, sarana olah raga, taman dan lain-lain.
Selain

investor, pemerintah daerah juga akan

mendapatkan

keuntungan dengan adanya kawasan industri antara lain :


1. Pemerintah mudah dalam pengelolaan lingkungan, karena semua
industri terintegrasi dalam satu hamparan kavling-kavling industri yang
tertata dengan baik.
2. Pemerintah tidak perlu membangun dan membiayai penyediaan
prasarana dan fasilitas karena semua prasarana dan fasilitas

31

dibangun atas biaya pengelola KEK seperti penyediaan aliran listrik;


penyediaan

sambungan

telepon;

penyediaan

jaringan

jalan;

penyediaan pengolahan air limbah; dan penyediaan instalasi air


bersih.
3. Peningkatan harga (nilai) tanah; peningkatan harga dan nilai tanah
mempunyai nilai tersendiri dari hamparan tanah kritis yang kosong
dengan dibangunnya infrastruktur oleh pengelola KEK akan merubah
status tanah dan peningkatan investasi yang tinggi.
4. Penerimaan pajak-pajak meningkat seperti : PBB, PPN, PPh dan
BPHTB.
5. Promosi

investasi

potensi

daerah,

pengelola

KEK

selalu

mengadakan promosi investasi ke luar negeri maupun di dalam negeri


dan

memberikan

informasi

(konsultasi)

tentang

investasi

dan

prosedur-prosedur lainya yang berkaitan dengan industri.


6. Pengelola KEK sesuai peraturan yang berlaku wajib membantu
pengurusan perizinan yang dibutuhkan investor, dengan demikian
akan meringankan tugas pemerintah dan membantu kelancaran
investor.
7. Dengan berdirinya pabrik-pabrik di dalam KEK, akan membantu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.
Instrumen finansial KEK-BB-SULBAR adalah biaya investasi
secara keseluruhan (rencana 3 tahap) minimal Rp. 1.500.000.000.000,-.
Untuk tahap 1 diperkirakan sebesar Rp. 488.170.000.000,-. Biaya
tersebut digunakan antara lain untuk (1) pengadaan/pembebasan lahan
seluas 70,93 Hektar; (2) Pembangunan 1 unit kantor seluas 300 M 2; dan
(3) Pembangunan jalan dan drainase sepanjang 16,54 km. Adapun
rincian biaya investasi pembangunan KEK-BB-SULBAR adalah sebagai
berikut :
Tabel 7 Rencana Anggaran Biaya Investasi KEK-BB-SULBAR
Provinsi Sulawesi Barat
No. Uraian Pekerjaan

Volume

Harga (000) Jumlah (000)

Pekerjaan Persiapan

1.

Pembebasan Lahan

2.

Pembangunan Kantor

70,93 ha

500.000,-

300 m2

4.000,-

354.650.000,1.200.000,-

32

3.

Pembangunan Jalan dan Drainase

16,54 km

Total Investasi

8.000.000,-

132.320.000,488.170.000,-

Sumber : Data Diolah (2015)


Kebutuhan biaya investasi tersebut belum memperhatikan biaya
perizinan, pembangunan utilitas (jaringan listrik, telepon, air, dll) yang
merupakan daya tarik bagi investor. Adapun spesifikasi kebutuhannya
sebagai berikut:
1. Listrik dari PLN dengan kapasitas 180 MVA (occupied 140 MVA).
2. Air dari PDAM dengan kapasitas 100 liter/detik yang dapat
ditingkatkan hingga 2.000 liter/detik (occupied 50 liter/detik).
3. Gas dari PGN dengan nilai kadar panas standar 8.700 KCal/meter
kubik atau rata-rata 1.008 BTU/SCF @ berat jenis 0,577.
4. Komunikasi untuk telepon dari PT Telkom Indonesia dengan
kapasitas 4.000 SST (occupied 3.000 SST), sementara untuk akses
Internet dari PT Indosat atau PT Telkom Indonesia.
5. Jaringan Kereta Api dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI)
6. Pembangunan Ruko pendukung KEK dengan luas area 1,3 Hektar
7. Pembangunan Pergudangan dengan luas area 2,2 Hektar
8. Pembangunan Area Peti Kemas dengan luas area 8,06 Hektar
9. Pembangunan Silo Bahan Curah dengan luas`area 2,21 Hektar
10. Pembangunan Waste Water Treatment Plant dengan luas area 2,29
Hektar
Fasilitas pendukung berupa Perumahan untuk karyawan, Mobil
pemadam kebakaran, Kantor Pos, Poliklinik 24 jam, Telepon umum.
Fasilitas komersial, berupa

Bank,

rumah makan/restoran, dan mini

market. Ukuran kavling Minimum 3.000 meter persegi, kepemilikan tanah


Hak Guna Bangunan (HGB) selama 30 tahun, dapat diperpanjang
selama 20 tahun dan diperbaharui untuk selama 30 tahun lagi.
diasumsikan bahwa pengembangan tersebut dibiayai oleh pemerintah
Pusat.
Sementara biaya operasi yang diperuntukan menjalankan kegiatan
KEK (biaya umum, depresiasi dan pemeliharaan) adalah sebesar Rp.
4.139.512.780,-. Biaya ini memakai asumsi bahwa setiap tahun akan
terjadi peningkatan kegiatan bisnis yang signifikan. Berikut adalah
estimasi biaya operasional KEK-BB-SULBAR.

33

Tabel 8 Estimasi Biaya Operasional


No.

A.

B.

Uraian
Biaya Operasional
Biaya Umum :
1.Alat Tulis Kantor
2.Listrik
3.Air
4.Telepon
5.Pemeliharaan
6.Asuransi
7.Depresiasi
Total Harga
Gaji
1.General Manajer
2.Manajer Tehnik
Operasional

Satuan

Volume

Harga

Harga/tahun (Rp)

(Rp)

&

3.Manajer Pemasaran
4.Manajer Personalia
5.Manajer Keuangan
6.Staff
7.Satpam & Kebersihan
Total Harga
Biaya Pemasaran
Biaya Total

Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Tahun

1 500.000
1 15.000.0
1 4.000.00
1 2.000.00
1 3.506.51
1
0
1
0

Bulan
Bulan

15.000
12.500

6.000.000
180.000.000
48.000.000
24.000.000
3.506.512.78
5.000.000
0
3.769.512.78
60.000.000
30.000.000

.000
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan
Bulan

12.500
12.500
12.500
101.500
61.500

30.000.000
30.000.000
30.000.000
180.000.000
108.000.000
360.000.000
10.000.000
4.139.512.78

Sumber : Data Diolah (2011)

Berdasarkan sejumlah infrastruktur yang direncanakan akan


dibangun dalam lingkungan KEK, maka dapat diprediksi potensi
pendapatan KEK-BB-SULBAR sebagai berikut:
Tabel 9 Potensi Pendapatan KEK-BB-SULBAR
NO
1
2
3
4
Total

Infrastruktur
Ruko / Pertokoan
Kapling Pabrik
Pergudangan
Terminal Petikemas

Ukuran
(M2)
38.400
166.300
22.000
80.600

Harga
Satuan
(Rp)
350.000,150.000,250.000,200.000,-

Jumlah
(Rp)
13.440.000.000,24.945.000.000,5.500.000.000,16.120.000.000,60.005.000.000,-

Sumber: Data diolah (2015)


2. Analisis Kelayakan Ekonomi

34

Untuk menentukan layak tidaknya suatu investasi ditinjau dari


aspek keuangan perlu dilakukan berbagai criteria. Kriteria yang
digunakan adalah : (1) analisis cashflow; (2) payback period,yaitu jangka
waktu pengembalian investasi; (3) net present value, yaitu nilai bersih
sekarang; dan (4) internal rate of return, dimana apabila > dari tingkat
bunga pinjaman maka investasi diterima. Adapun hasil analisis
kelayakan pengembangan KEK adalah sebagai berikut :
Tabel 10 Hasil Analisis Kelayakan Pengembangan KEK-BB-SULBAR
No.

Uraian

Nilai (Rp)

Nilai investasi
1.
Masa Investasi
2.
Cash in Flow
3.
Net Present Value DF= 15%
4.
Pay Back Periode
5.
IRR
6.
B/C Rasio
7.
Sumber : Data Diolah (2011)

488.170.000.000,30 tahun
715.150.183.146,145.839.733.128,> 5 tahun
21%
1,39

Analisis Studi Kelayakan Investasi Pembangunan KEK-BBSULBAR dapat dirangkum dalam tabel berikut:
Tabel 11 Hasil Penelitian
No
1

Metode
Penilaian
PP

Hasil

Keterangan

5 tahun 5,78 bulan

Investasi diterima, karena lebih


cepat dari perkiraan, yaitu 10

NPV

Rp 145,839.733.128,-

tahun
Investasi

diterima,

karena

menghasilkan nilai yang positif.


3

IRR

21%

Investasi diterima, karena hasilnya


lebih

PI

1,36

besar

dari

tingkat

suku

bunga yang ditentukan, yaitu 15%


Investasi diterima, karena hasilnya
lebih besar dari 1

Maka berdasarkan tabel diatas dapat diambil suatu keputusan


bahwa usulan investasi pengembangan usaha yang akan dilakukan oleh
KEK-BB-SULBAR dapat diterima dan layak untuk dilanjutkan.
35

G. Penutup
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diperoleh, maka tim
penyusun menyimpulkan bahwa:
1. Lokasi Kawasan Ekonomi Khusus yang oleh pemerintah Provinsi
Sulawesi Barat diarahkan pada kawasan Mamuju-TampapadangBelangbelang setelah dianalisis lebih lanjut berada pada wilayah
sekitar pelabuhan Belangbelang (tanjung Belangbelang) dan
kedepannya akan diusulkan menjadi " Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK) Belangbelang
2. Dari keseluruhan aspek yang diteliti, yaitu aspek pasar dan
pemasaran,

aspek

teknis

produksi

dan

teknologis,

aspek

manajemen dan sumber daya manusia, aspek hukum dan legalitas,


serta aspek keuangan dan ekonomi menunjukkan bahwa kondisi
KEK-BB-SULBAR

pada

saat

ini

layak

untuk

dilanjutkan

pembangunannya.
3. Rencana pembangunan KEK-BB-SULBAR dikaji dengan 4 metode
kelayakan investasi dengan hasil sebagai berikut:
a. Metode Payback Period menunjukkan bahwa waktu yang
diperlukan

untuk

menutup

investasi

sebesar

Rp

488.170.000.000,- adalah 5 tahun 5,78 bulan.


b. Metode NPV (Net Present Value) didapat nilai yang positif
sebesar Rp 145,839.733.128,c. Metode IRR (Internal Rate of Return) diperoleh tingkat bunga
sebesar 21%.
d. Metode PI (Profitabilitas Indeks) menunjukkan hasil yang
diperoleh sebesar 1,36.
3. Berdasarkan perhitungan PI didapat hasil yang menguntungkan
dimana setiap Rp 1,00 dapat menghasilkan Rp 1,36.
2. Tindak Lanjut
Setelah penyusunan Studi Kelayakan ini, perlu ada tindak lanjut dari
pemerintah

provinsi

Sulawesi

Barat

dan

para

stakeholder

agar

bagaimana KEK Belangbelang segera diusulkan ke Dewan Nasional

36

Kawasan Ekonomi Khusus sehingga dapat disahkan menjadi Kawasan


Ekonomi Khusus, antara lain:
1. Pengembangan KEK Belangbelang ke depannya
a. Komitmen, konsistensi dan kooperasi dalam pengembangan KEK
ke depan
b. Pembentukan badan pengelola/otorita Kawasan Eco-Industrial
Park Belangbelang (EIPB)
c. Business Plan (jaringan Indag hulu-hilir)
d. Pemasaran EIPB
e. Komitmen para saudagar Mandar dan lainnya untuk berinvestasi
di EIPB
2. Pengembangan Fisik KEK Belangbelang
a. Pembebasan lahan untuk pengembangan Kawasan EIPB
b. Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan
EIPB
c. Pematangan lahan (perataan bukit dan reklamasi)
d. Pembangunan infrastruktur pada Kawasan EIPB
e. Operasional, pemeliharaan dan pengembangan EIPB secara
ekologis dan berkelanjutan
f. Pengembangan new garden city bertaraf internasional

37

Anda mungkin juga menyukai