Anda di halaman 1dari 5

Euthanasia dilihat dari sudut etika, moral, hukum serta agama katolik

1. Euthanasia dilihat dari sudut etika


Etik berasal dari kata Yunani ethos, yang berarti yang baik, yang layak. Etik merupakan
morma-norma, nilai-nilai atau pola tingkah laku kelompok profesi terentu dalam memberikan
pelayanan jasa kepada masyarakat.
Etik merupakan prinsip yang menyangkut benar dan salah, baik dan buruk dalam hubungan
dengan orang lain.
Etik merupakan studi tentang perilaku, karakter dan motif yang baik serta ditekankan pada
penetapan apa yang baik dan berharga bagi semua orang. Secara umum, terminologi etik dan
moral adalah sama. Etik memiliki terminologi yang berbeda dengan moral bila istilah etik
mengarahkan terminologinya untuk penyelidikan filosofis atau kajian tentang masalah atau
dilema tertentu. Moral mendeskripsikan perilaku aktual, kebiasaan dan kepercayaan sekelompok
orang atau kelompok tertentu.
Etik juga dapat digunakan untuk mendeskripsikan suatu pola atau cara hidup, sehingga etik
merefleksikan sifat, prinsip dan standar seseorang yang mempengaruhi perilaku profesional.
Cara hidup moral perawat telah dideskripsikan sebagai etik perawatan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa etik merupakan istilah yang digunakan
untuk merefleksikan bagaimana seharusnya manusia berperilaku, apa yang seharusnya dilakukan
seseorang terhadap orang lain.
Dari sudut pandang etika, euthanasia dan aborsi menghadapi kesulitan yang sama. Suatu
prinsip etika yang sangat mendasar ialah kita harus menghormati kehidupan manusia. Bahkan
kita harus menghormatinya dengan mutlak. Tidak pernah boleh kita mengorbankan manusia
kepada suatu tujuan lain.
Dalam etika, prinsip ini sudah lama dirumuskan sebagai "kesucian kehidupan" (The Sanctity
Of Life). Kehidupan manusia adalah suci karena mempunyai nilai absolut, karena itu di manamana harus selalu dihormati. Jika kita dengan konsekuen mengakui kehidupan manusia sebagai
suci, menjadi sulit untuk membenarkan eksperimentasi laboratorium dengan embrio muda, meski
usianya baru beberapa hari, dan menjadi sulit pula untuk menerima praktik euthanasia dan
aborsi, yang dengan sengaja mengakhiri kehidupan manusia. Prinsip kesucian kehidupan ini
bukan saja menandai suatu tradisi etika yang sudah lama, tetapi dalam salah satu bentuk
dicantumkan juga dalam sistem hukum beberapa Negara.
2. Euthanasia dilihat dari sudut moral
Dalam menilai masalah euthanasia, perlu disadari bahwa masalah euthanasia amat kompleks.
Masalah euthanasia tidak pernah berdiri sendiri tetapi selalu berkait dengan soal lain, misalnya
sosial, politik dan ekonomi. Di sini, hanya disajikan premis untuk penilaian euthanasia dari segi
moral kehidupan.

a.

Pandangan mengenai hidup


Euthanasia pada dasarnya berkaitan dengan hidup itu sendiri.Pandangan tentang hidup itu
sendiri amat menentukan sikap dan pilihan atas euthanasia. Yang dibahas di sini adalah
pandangan hidup secara etis dan teologis
b.

Hidup sebagai anugerah


Banyak peristiwa dalam hidup kita mengatasi perhitungan dan perencanaan manusia
(kemandulan, kesembuhan atau kematian di luar dugaan) dan menimbulkan keyakinan bahwa
hidup itu pada akhirnya adalah anugerah. Memang manusia meneruskan atau mewariskan
kehidupan, tetapi kehidupan itu sendiri tidak berasal dari padanya, melainkan dalam bahasa
religius dari Tuhan sebagai pencipta dan sumber kehidupan. Dibandingkan dengan Tuhan, hidup
manusia itu kontingen, dapat ada, dapat tidak ada, tetapi memang de facto ada karena diciptakan
Tuhan. Deklarasi tentang euthanasia sendiri menegaskan hal ini dengan mengutip perkataan
Santo Paulus Bila kita hidup, kita hidup bagi Tuhan, bila kita mati, kita mati bagi Tuhan.
Apakah kita hidup atau mati, Kita adalah milik Tuhan (Rom 14:8 )
Manusia bukanlah pemilik mutlak dari hidupnya sendiri. manusia administrator hidup manusia
yang harus mempertahankan hidup itu. Dengan demikian, manusia tidak mempunyai hak apapun
untuk mengambil atau memutuskan hidup baik hidupnya sendiri maupun hidup orang lain.
Euthanasia adalah bentuk dari pembunuhan tu karena euthanasia mengambil hidup orang lain
atau hidupnya sendiri (Assisted Suicide). Euthanasia menjadi salah satu cermin di mana manusia
ingin merebut hak prerogatif dari Allah sendiri adalah Tuhan atas kehidupan.
c.

Hidup sebagai nilai asasi yang sangat tinggi.


Dari sekian banyak nilai, kiranya jelas bahwa hidup merupakan nilai dasar. Tanpa hidup
banyak nilai lainnya menjadi tidak atau kurang berarti. Karena itu, hidup juga merupakan nilai
yang sangat tinggi, bahkan dalam arti tertentu juga nilai tertinggi di antara nilai-nilai dunia
fana. Martabat hidup manusia tidak berubah meskipun ia berada dalam status vegetatif
(PVS=Persistent Vegetative Status). Hidup manusia adalah dasar dari segala sesuatu. Tanpa
hidup, manusia tidak punya apapun, termasuk hak-haknya. Karena itu, hidup manusia adalah hak
dasar dan sumber segala kebaikan. Martabat manusia tidak berubah meskipun dia dalam keadaan
koma. Ia tetap manusia yang bermartabat. Dia bukan vegetatif=tumbuh-tumbuhan. Oleh
karena itu, ia tetap harus dihormati.
d.

Hidup sebagai hak asasi dan nilai yang harus dilindungi.


Karena hidup merupakan anugerah dengan nilai asasi dan sangat tinggi, maka hidup
merupakan hak asasi manusia dan karenanya juga harus dilindungi terhadap segala hal yang
mengancamnya.

e.

Hidup sebagai tugas


Anugerah dan tugas bersifat korelatif, artinya hidup sebagai anugerah sekaligus berarti hidup
mengembangkannya seutuhnya (menurut segala seginya, seperti biologis, fisik, psikis, kultural,
sosial, religius, moral dan seterusnya). Dalam tugas mengembangkan kehidupan tersirat
tanggung jawab dan hak untuk mempergunakan sarana-sarana yang perlu atau bermanfaat untuk
memenuhi tugas itu sebaik-baiknya.
f.

Pandangan mengenai Penderitaan dan Kematian


Selain berkaitan dengan kehidupan, euthanasia juga berurusan dengan kematian. Maka perlu
diperhatikan pula pandangan tentang kematian.

g.

Penderitaan sebagai beban atas anugerah hidup


Hidup memang anugerah, tetapi tak jarang anugerah ini dibebani kekurangan kualitas
kehidupan berupa penderitaan. Memang penderitaan juga dapat mempunyai segi positif dan
nilainya, tetapi secara manusiawi penderitaan pertama-tama dirasakan sebagai beban. Menurut
ajaran kristiani, rasa sakit, terutama pada waktu meninggal, dalam rencana penyelamatan Allah
mendapat makna khusus. Penderitaan merupakan partisipasi dalam penderitaan Kristus dan
menghubungkan dengan kurban penebusan.
h.

Mati dan kematian sebagai keterbatasan anugerah.


Hidup memang anugerah, namun anugerah yang terbatas. Oleh karena itu hidup harus juga
diterima dalam keterbatasannya yaitu kematian. Keterbatasan sebenarnya bukanlah keburukan,
tetapi seringkali dirasakan sebagai keburukan, meskipun di lain pihak juga dapat diinginkan
sebagai pembebasan. Soalnya sekarang ialah di mana batas itu, kapan saatnya tiba, sebab
manusia dewasa ini makin mampu menunda saat kematian atau memperpanjang hidup.
3. Euthanasia dilihat dari sudut hukum
Setiap makhluk hidup, termasuk manusia, akan mengalami siklus kehidupan yang dimulai
dari proses pembuahan, kelahiran, kehidupan di dunia dengan berbagai permasalahannya, serta
diakhiri dengan kematian.Dari proses siklus kehidupan tersebut, kematian merupakan salah satu
yang masih mengandung misteri besar, & ilmu pengetahuan belum berhasil menguaknya.
Untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai individu diperlukan kriteria diagnostik
yang benar berdasarkan konsep diagnostik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Kematian sebagai akhir dari rangkaian kehidupan adalah hak dari Tuhan. Tak seorangpun yang
berhak menundanya sedetikpun, termasuk mempercepat waktu kematian.
Mati itu sendiri sebetulnya dapat didefinisikan secara sederhana sebagai berhentinya
kehidupan secara permanen (Permanent Cessation Of Life). Hanya saja, untuk memahaminya
terlebih dahulu perlu memahami apa yang disebut hidup.

Pada dewasa ini, para dokter dan petugas kesehatan lain menghadapi sejumlah masalah
dalam bidang kesehatan yang cukup berat ditinjau dari sudut medis-etis-yuridis Dari semua
masalah yang ada itu. Euthanasia merupakan salah satu permasalahan yang menyulitkan bagi
para dokter & tenaga kesehatan. Mereka seringkali dihadapkan pada kasus di mana seorang
pasien menderita penyakit yang tidak dapat diobati lagi, misalnya kanker stadium lanjut, yang
seringkali menimbulkan penderitaan berat pada penderitanya. Pasien tersebut berulangkali
memohon dokter untuk mengakhiri hidupnya. Di sini yang dihadapi adalah kasus yang dapat
disebut euthanasia.
A. Kesimpulan
Dari keseluruhan makalah ini penulis dapat disimpulkan bahwa:
a.
-

Euthanasia dilihat dari sudut etika

Euthanasia tidak bisa dipandang hanya dari satu sudut pandang saja.
Euthanasia tidak bisa disamakan dengan pembunuhan berencana.
Euthanasia bisa merupakan kebenaran pada salah satu aspek, tetapi belum tentu merupakan
kebenaran, bahkan pelanggaran kebenaran pada aspek lainnya.
Euthanasia belum mempunyai kesamaan sudut pandang antara hak azasi manusia, hukum,
ilmu pengetahuan dan agama.
Euthanasia pada dasarnya berkaitan dengan hidup itu sendiri.Pandangan tentang hidup itu
sendiri amat menentukan sikap dan pilihan atas euthanasia.
Hidup manusia adalah hak dasar dan sumber segala kebaikan.
b. Euthanasia dilihat dari sudut moral
Perhatian dan kasih sayang sangat diperlukan bagi penderita sakit terminal, bukan lagi bagi
kebutuhan fisik, tetapi lebih pada kebutuhan psikis dan emosional, sehingga baik secara langsung
maupun tidak, kita dapat membantu si pasien menyelesaikan persoalan-persoalan pribadinya dan
kemudian siap menerima kematian penuh penyerahan kepada penyelenggaraan Tuhan Yang
Maha Esa. Bagaimanapun si pasien adalah manusia yang masih hidup, maka perlakuan yang
seharusnya adalah perlakuan yang manusiawi kepadanya.
Dengan demikian, manusia tidak mempunyai hak apapun untuk mengambil atau memutuskan
hidup baik hidupnya sendiri maupun hidup orang lain.
Euthanasia dilihat dari sudut hukum bahwa kematian sebagai akhir dari rangkaian kehidupan
adalah hak dari Tuhan. Tak seorangpun yang berhak menundanya sedetikpun, termasuk
mempercepat waktu kematian.
d.
Euthanasia dilihat dari sudut agama katolik
Kelahiran dan kematian merupakan hak dari Tuhan sehingga tidak ada seorang pun di dunia
ini yang mempunyai hak untuk memperpanjang atau memperpendek umurnya
sendiri. Pernyataan ahli-ahli agama secara tegas melarang tindakan euthanasia, apapun
alasannya. Dokter bisa dikategorikan melakukan dosa besar dan melawan kehendak Tuhan yaitu
memperpendek umur.

B. Saran
Dari keseluruhan makalah ini penulis di sarankan bahwa dalam penulisan makalah
Euthanasia ini masih banyak kekurangan yang ada maka penulis mengharap saran dan kritikan
dari para pembaca (desen, kakak semester serta teman serekam) sangat di harapkan untuk penulis
dari penyempurnaan makalah berikutnya atau masa yang akan datang.