Anda di halaman 1dari 6

OSMOREGULASI 2

Keseimbangan Cairan Tubuh


Hidup tak akan ada tanpa air. Air merupakan awal dan produk akhir dari
reaksi biokimia yang tak terhingga jumlahnya. Air berfungsi sebagai pelarut, alat
transportasi, peyangga panas, dan masih banyak fungsi yang bervariasi. Air
terdapat di dalam sel sebagai cairan intraseluler dan terdapat disekitar sel sebagai
cairan ekstraseluler.
Volume dari cairan dalam tubuh relatif akan konstan ketika keseimbangan
air teregulasi dengan baik. Pemasukan cairan rata-rata dari sayuran, makanan
padat dan oksidasi metabolik adalah 25 L/hari. Pemasukan cairan harus cukup
tinggi agar kehilangan air dari sekresi urine, proses pernafasan, keringat, dan
defekasi dapat teratasi.
Fraksi total air
dalam tubuh
terhadap berat
badan adalah
antara 46% - 75%
tergantung pada
umur dan jenis
kelamin seseorang. Fraksi total air dalam tubuh pada bayi adalah 75%. Pada
wanita muda fraksi total air dalam tubuhnya sebesar 53%, sedang pada wanita tua
hanya mencapai 46%. Pada pria muda fraksi total air dalam tubuhnya mencapai
64%, sedang pada pria tua fraksi total air dalam tubuhnya mencapai 53%. Fraksi
rata-rata air pada kebanyakan jaringan tubuh (pada orang dewasa) adalah 73%
dibandingkan dengan fraksi air pada lemak yang hanya 20%.

Regulasi Air dan Garam


Osmoregulasi adalah proses dimana tubuh menjaga agar konsentrasi
sejumlah air dan elektrolit dalam darah tetap seimbang. Tubuh kita membutuhkan
cairan yang konstan dalam bernafas, berkeringat, urine, dan feses seperti sel-sel
tubuh kita yang tidak dapat bekerja tanpa air. Jika terlalu banyak air, tubuh akan
memindahkannya melalui mekanisme osmosis ke dalam sel. Keseimbangan
sangat diperlukan, dan keseimbangn air ini diatur oleh hipotalamus.
Osmolaritas dari kebanyakan cairan tubuh adalah 290 mOsm/kg H2O.
Peningkatan osmolaritas cairan ekstraseluler contohnya terjadi pada penyerapan
Defisit air
NaCl atau saat kehilangan air. Osmolaritas cairan ekstraseluler sangat diatur
sedemikian rupa sehingga tetap konstan, untuk melindungi sel dari jumlah cairan
yang selalu berubah-ubah yang masuk dalam tubuh kita. Osmoregulasi diatur oleh
Osmoralitas ekstraseluler >>
osmoreseptor, ditemukan terutama di hipotalamus, hormon(contohnya
ADH=antidiuretic hormone), dan ginjal yang merupakan organ target dari ADH.

Sekresi ADH >>

ADH plasma >>

Permeabilitas H2O
Tubulus ginjal, ductus
koligentes >>

Reabsorpsi air >>

Ekskresi H2O <<

Urine pekat
Kehilangan air (hipovolemia) contohnya pada saat berkeringat, respirasi,
dan pengeluaran urine, membuat cairan ekstraseluler hipertonik. Osmolaritas akan
meningkat 1-2 % atau lebih. Hal ini akan membuat hipotalamus mensekresikan
ADH dari kelenjar pituitari posterior. ADH disekresikan untuk menurunkan kadar
ekskresi H2O dalam urine. Karena kandungan air dalam urine sedikit, maka urine
yang disekresikan menjadi pekat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari diagram
disamping.
Pada saat kelebihan air, absorpsi dari cairan hipotonok akan menurunkan
tingkat osmolaritas cairan ekstraseluler. Hal ini akan menghambat sekresi dari
ADH, sehingga menyebabkan diuresis air dan normalisasi dari osmolaritas plasma
dalam waktu kurang dari 1 jam. Pada keadaan kelebihan air juga dapat terjadi
mabuk air. Mabuk air ini terjadi ketika kelebihan volume air diabsorpsi terlalu
cepat, menyebabkan simtom nausea, muntah, dan shock. Kondisi ini disebabkan
oleh penurunan dari osmolaritas plasma sebelum inhibisi yang adekuat dari
sekresi ADH terjadi.
Dalam regulasi garam, sekitar 8-15 gr. NaCl diserap tiap harinya. Ginjal
mengekskresikan jumlah yang sama dari ion Na dan menjaga homeostasis dari
cairan ekstraseluler. Karena ion Na+ merupakan ion yang dominan dalam cairan
ekstraseluler, maka ion Na+ diubah dari Na+ dari total tubuh menjadi volume
cairan ekstraseluler. Hal ini diatur oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Renin-angiotensin system (RAS) yang merupakan promoter
aktivasi penyimpanan dari ion Na+ via Angiotensin II, aldosteron, dan ADH.
2. Atriopeptin (atrial natriuretic peptide;ANP) adalah hormon
peptida yang disekresikan oleh sel spesifik dari atrium jantung untuk
merespon peningkatan volume cairan ekstraseluler dan tekanan atrium. ANP
mempromoter ekskresi ginjal terhadap Na+ dengan meningkatkan fraksi
filtrasi dan menghambat reabsorpsi Na+ dari ductus kolekticus.
3. Sekresi ADH yang distimulasi oleh :
• Peningkatan osmolaritas plasma dan CSF. Pada penurunan
volume darah yang berat, refleks-refleks kardiovaskular memainkan
perana penting dalam menstimulasi ADH. Akan tetapi pengaturan sekresi
ADH sehari-hari selama dehidrasi ringan terutama diefektifkan oleh
perubahan osmolaritas plasma.
• Gauer-Henry refleks, yang terjadi ketika reseptor di atrium
memberi sinyal kepada hipotalamus untuk menurunkan volume cairan
ekstraseluler
• Angiotensin II
4. Tekanan diuretis yang disebabkan oleh elevasi tekanan darah
arterial, contohnya pada elevasi volume cairan ekstraseluler yang akhirnya
meningkatkan ekskresi Na+ dan air. Hal inilah yang menyebabkan turunnya
volume cairan ekstraseluler dan tekanan darah. Kontrol inilah yang menjadi
mekanisme mayor untuk regulasi tekanan darah.
Pengaturan osmolaritas cairan ekstraseluler berhubungan erat dengan
konsentrasi natrium, karena ion natrium paling banyak jumlahnya di ruang
ekstraseluler. Ion natrium dan anion lain yang berhubungan dengannya (HCO3
dan cl-) mewakili sekitar 94 % dari osmolaritas ekstraseluler, dengan glukosa dan
ureum sekitar 3-5 % dari osmolaritas total.
Sistem yang terlibat khusus dalam pengaturan konsentrasi Na dan osmolaritas
cairan ekstraseluler adalah :
1. Sistem osmoreseptor ADH
2. Mekanisme rasa haus
Rasa haus distimulasi oleh dehidrasi melalui tiga cara:
1. Dehidrasi mengurangi produksi air liur, sehingga menyebabkan mulut dan
esofagus kering. Tactile receptors in the mucosa relay nerve impulses to the
thirst center of the hypothalamus, giving rise to a thirst sensation.
2. Dehidrasi meningkatkan tekanan osmotic darah, menstimulasi
osmoreseptor di hipotalamus yang memberi sinyal kepada pusat rasa haus.
3. Dehidrasi menyebabkan penurunan volume darah dan tekanan darah juga
ikut menurun, sehingga menyebabkan ginjal mengaktivasi system rennin-
angiotensin. Angiotensin II secara langsung menstimulasi pusat rasa haus di
hipotalamus. Dan sebagai hasil dari stimulasi tersebut sensasi rasa haus dan
keinginan untuk minum menjadi bertambah.
Peningkatan ADH dapat dipengaruhi oleh obat-obatan seperti morfin,
nikotin siklofosfamid dan selain itu juga peningkatannya ADH dipengaruhi oleh
terjadinya hipoksia sehungga menyebabkan osmolaritas plasma meningkat dan
volume serta tekanan darah menurun.
Penurunan sekresi ADH dipengaruhi oleh Alkohol,
klonidin(antihipertensi), haloperidrol(penghambat dopamin) yang mengakibatkan
osmolaritas plasma menurun dan volume serta tekanan darah meningkat.
Kekurangan garam: ketika hiponatermia terjadi saat volume air dalam
tubuh normal, osmolaritas darah dan oleh karena sekresi ADH menurun, yang
meningkatkan ekskresi dari H2O oleh ginjal. Volume cairan ekstraseluler, plasma,
dan tekanan darah akan menurun. Hal ini mengaktivasi Renin-Angiotensin II
sistem (RAS) yang merupakan pemicu dari hipovolemia (rangsang haus) oleh
sekresi Angiotensin II dan menyebabkan penurunan Na+ dengan sekresi
aldosteron. Na+ yang keluar menyebabkan osmolaritas plasma meningkat dan
mensekresi ADH, dan akhirnya reabsorpsi air ditingkatkan. Pengambilan cairan
tambahan yang merespon rasa haus juga membantu dalam menormalisasi volume
cairan ekstraseluler.
Kelebihan Garam: Garam dalam kadar tinggi yang abnormal di dalam
tubuh membuat tubuh bekerja untuk membuat kadar H2O kembali normal dengan
meningkatkan osmolaritas plasma (respon rasa haus) dan sekresi ADH.
Peningkatan volume cairan ekstraseluler dan aktivitas RS ditahan. Sekresi
tambahan dari ANP, mungkin juga bersama hormon natriuretik yang memiliki
masa hidup ½ kali lebih panjang dari ANP, terutama meningkatkan ekskresi NaCl
dan H2O dan menyebabkan normalisasi volume cairan ekstraseluler.

DIURESIS dan DIURETIK


Peningkatan ekskresi urine diatas 1 ml/min. (diuresis) bisa menyebabkan hal-
hal sebagai berikut :
1. Diuresis Air : Peningkatan osmolaritas plasma dan/atau meningkatkan
vlume darah yang mengakibatkan reduksi dari ADH , kemudian hal ini
menyebabkan ekskresi “free water”.
2. Diuresis osmotik : Berakibat dari ketidakmampuan reabsorpsi, substansi
untuk aktivasi osmotik (manitol) di tubulus renalis. Substansi ini menahan
H2O di lumen tubulus, yang kemudian diekskresikan. Osmotik diuresis bisa
juga terjadi ketika konsentrasi dari substansi yang dapat direabsorpsi melebihi
kapasitas reabsorpsi oleh tubular, contohnya pada keadaan hiperglikemia.
Glikosuria terjadi pada diabetes melitus yang oleh karena itu diikuti oleh
diuresis dan pada keadaan sekunder peningkatan rasa haus(thirst).
3. Tekanan diuresis, terjadi ketika osmolaritas di tubulus renalis medula
menurun untuk menunjukkan peningkatan aliran darah di mendula renalis
terjadi pada kebanyakan kasus misalnya hipertensi.
4. Diuretik adalah obat untuk menurunkan diuresis. Sebagian besar dari
mereka bekerja terutama dengan inhibisi reabsorpsi NaCl dan sekundernya
dengan menurunkan reabsorpsi air. Tujuan utama dari terapi diuresis ini
(misalnya pada edema dan hipertensi) adalah untuk menurunkan volume
cairan ekstraseluler. Walaupun diuretik pada dasarnya menginhibisi NaCl
transpor ke seluruh tubuh, mereka memiliki derajat karena faal mereka dari
lumen tubular, dimana konsentrasinya bisa lebih tinggi untuk sekresi tubular
dan reabsorpsi air oleh tubular.