Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

MENINGOESENFALITIS
1.1 KONSEP DASAR TEORI
a. Definisi
Meningitis Ensefalitis merupakan penyakit yang menyerang system saraf. Kebanyakan
penyakit ini menyerang pada anak-anak. Banyak yang tidak mengetahui sesungguhnya
kedua penyakit ini berbeda meskipun sebenarnya mirip.
Meningitis adalah radang membran pelindung system saraf pusat.Penyakit ini dapat
disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, obat-obatan tertentu. Meningitis adalah
penyakit serius karena letaknya dekat dengan otak dan tulang belakang, sehingga dapat
menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran,bahkan kematian. Kebanyakan ksus
meningitis disebabkan oleh mikroorganisme,seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang
menyebar dalam darah ke cairan otak (Donna D.,1999).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salahsatu
dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus
influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996). Meningitis merupakan peradangan pada
selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinalcolumn yang menyebabkan proses infeksi
pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).
Sedangkan ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi
virus.Terkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri,seperti meningitis,atau
komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan
oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis,malaria,atau primary
amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang system
kekebalan tubuhnya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap
tengkorak dan menyebabkan kematian.
b. Etiologi
Mikroorganisme meningitis: bakteri, protozoa, cacing, jamur, spirokaeta dan virus.
1) Meningitis Bakterial (Meningitis sepsis)
Sering terjadi pada musim dingin, saat terjadi infeksi saluran pernafasan. Jenis
organisme yang sering menyebabkan meningitis bacterial adalah streptokokus pneumonia
dan neisseria meningitis. Meningococal meningitis adalah tipe dari meningitis bacterial
yang sering terjadi pada daerah penduduk yang padat, spt: asrama, penjara.
Klien yang mempunyaikondisi spt: otitis media, pneumonia, sinusitis akut atau sickle
sell anemia yang dapatmeningkatkan kemungkinan terjadi meningitis. Fraktur tulang
tengkorak atau pembedahan spinal dapat juga menyebabkan meningitis .
Selain itu juga dapat terjadi pada orang dengan gangguan sistem imun, spt: AIDS dan
defisiensi imunologi baik yang congenital ataupun yang didapat.Tubuh akan berespon
terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon denganterjadinya peradangan dengan
adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudatyang terdiri dari bakteri, fibrin dan
lekosit terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akanterkumpul di dalam cairan otak

sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan
cairan ini akan menyebabkan peningkatanintrakranial. Hal ini akan menyebabkan
jaringan otak akan mengalami infark.
2) Meningitis Virus (Meningitis aseptic)
Meningitis virus adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa
sembuhsendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya infeksi awal
(misalnyasistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf
pusatmelalui sistem vaskuler.Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus spt:
campak, mumps, herpessimplek dan herpes zoster. Virus herpes simplek mengganggu
metabolisme selsehingga sell cepat mengalami nekrosis. Jenis lainnya juga mengganggu
produksienzim atau neurotransmitter yang dapat menyebabkan disfungsi sel dan
gangguanneurologik.
3) Meningitis Jamur
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem
saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari systemk
ekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi Respon inflamasi
yangditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun antara lain: bisa
demam/tidak,sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya status mental.
Faktor resiko terjadinya meningitis :
a) Infeksi sistemik
Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya menyebar secara
hematogensampai ke selaput otak, misalnya otitis media kronis, mastoiditis,
pneumonia, TBC, perikarditis, dll.
Pada meningitis bacterial, infeksi yang disebabkan olh bakteri terdiri atas
faktor
o
o
o
o
o
o
o

pencetus sebagai berikut diantaranya adalah :


Otitis media
Pneumonia
Sinusitis
Sickle cell anemia
Fraktur cranial, trauma otak
Operasi spinal
Meningitis bakteri juga bisa disebabkan oleh adanya penurunan system

kekebalantubuh seperti AIDS.


b) Trauma kepala
Bisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau pada fraktur basis cranii
yangmemungkinkan terpaparnya CSF dengan lingkungan luar melalui othorrhea
danrhinorhea3.
c) Kelainan anatomis
Terjadi pada pasien seperti post operasi di daerah mastoid, saluran telinga
tengah,operasi cranium.
Terjadinya peningkatan TIK pada meningitis, mekanismenya adalah sebagai
berikut:
o Agen penyebab reaksi local pada meninges inflamasi meninges
pe permiabilitas kapiler kebocoran cairan dari intravaskuler ke

interstisial pe volume cairan interstisial edema Postulat


Kellie Monroe, kompensasitidak adekuat pe TIK
o Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika infeksi sudah
menyebar ke jaringan otak, dimana kejang ini terjadi bila ada
kerusakan pada korteksserebri pada bagian premotor. b)
Hidrosefalus pada meningitis terjadi karena mekanisme sebagai berikut:
Inflamasi local scar tissue di daerah arahnoid ( vili ) gangguan absorbsi
CSF akumulasi CSF di dalam otak hodrosefalus.
Bila gejala yang muncul campuran kemungkinan mengalami Meningoensefalitis.
Macam-macam Encephalitis virus menurut Robin :
1) Infeksi virus yang bersifat epidermik :
a) Golongan enterovirus = Poliomyelitis, virus coxsackie, virus ECHO.
b) Golongan virus ARBO = Western equire encephalitis, St. louis encephalitis,
Eastern

e quire encephalitis, Japanese B. encephalitis, Murray valley

encephalitis.
2) Infeksi virus yang bersifat sporadic : rabies, herpes simplek, herpes zoster,
limfogranuloma, mumps, limphotic, choriomeningitis dan jenis lain yang dianggap
disebabkan oleh virus tetapi belum jelas.
3) Encephalitis pasca infeksio, pasca morbili, pasca varisela, pasca rubella, pasca
vaksinia, pasca mononucleosis, infeksious dan jenis-jenis yang mengikuti infeksi
traktus respiratorius yang tidak spesifik.
4) Reaksin toxin seperti pada thypoid fever, campak, chicken pox.
5) Keracunan : arsenik, CO.

c. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala meningitis secara umum:
1) Aktivitas / istirahat ;Malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan, gerakaninvolunter,
kelemahan, hipotonia
2) Sirkulasi ;Riwayat endokarditis, abses otak, TD , nadi , tekanan nadi berat, takikardi
dan disritmia pada fase akut
3) Eliminasi ; Adanya inkontinensia atau retensi urin.
4) Makanan / cairan ; Anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit jelek,
mukosakering
5) Higiene ; Tidak mampu merawat diri6.
6) Neurosensori ; Sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi, Hiperalgesiameningkatnya
rasa nyeri, kejang, gangguan penglihatan, diplopia fotofobia, ketulian, halusinasi
penciuman, kehilangan memori, sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor, ,
hemiparese, hemiplegia, tandaBrudzinskipositif, rigiditas nukal, refleks babinski
posistif, refkleks abdominal menurun, reflekskremasterik hilang pada laki-laki.
7) Nyeri / kenyamanan ; Sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerakan okuler,
fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh.
8) Pernafasan ; Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas , letargi dan gelisah.

9) Keamanan ; Riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi pelvis, abdomen


ataukulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel sabit, imunisasi
yang baru berlangsung, campak, chiken pox, herpes simpleks. Demam, diaforesios,meng
gigil, rash, gangguan sensasi.
10) Penyuluhan / pembelajaran ; Riwayat hipersensitif terhadap obat, penyakit
kronis,diabetes mellitus
Tanda dan gejala meningitis secara khusus:
1) Anak dan Remaja
o Demam
o Mengigil
o Sakit kepala
o Muntah
o Perubahan pada sensorium
o Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal)
o Peka rangsang
o Agitasi.
o Dapat terjadi: Fotophobia (apabila cahaya diarahkan pada mata pasien
(adanyadisfungsi pada saraf III, IV, dan VI)),Delirium, Halusinasi, perilaku
agresi,mengantuk, stupor, koma.
2) Bayi dan Anak Kecil
Gambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan dan 2 tahun.
o Demam
o Muntah
o Peka rangsang yang nyata

o Sering kejang

(sering

kali disertai denagan menangis


nada tinggi)
o Fontanel menonjol

3) Neonatus
Tanda-tanda spesifik: Secara khusus sulit untuk didiagnosa serta manifestasi
tidak jelas dan spesifik tetapi mulai terlihat menyedihkan
dan berperilaku buruk dalam beberapa hari, seperti;
o Menolak untuk makan.o Kurang gerakan.o Kemampuan menghisap menurun.- o Menangis buruk.o Muntah atau diare.o Leher biasanya lemas.o Tonus buruk. Tanda-tanda non-spesifik
o
o
o
o

Hipothermia atau demam.


Peka rangsang.
Mengantuk.
Kejang.

Ketidakteraturan

pernafasan

atau apnea
o Sianosis.
o Penurunan berat badan.

d. Pathofisiologi
Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu: duramater, arachnoid, dan piamater. Cairan otak
dihasilkan di dalam pleksus choroid ventrikel bergerak/ mengalir melalui subarachnoid
dalam sistem ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang belakang,direabsorbsi melalui
villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari di dalam lapisansubarachnoid. Organisme

masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di
bawah korteks yang dapat menyebabkan thrombus dan penurunan aliran darah serebral.
Jaringan serebral mengalami gangguan metabolismeakibat eksudat meningen, vaskulitis
dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis.
Radang juga menyebar ke dinding membranventrikel serebral. Cairan hidung (sekret
hidung) atau sekret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat
menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan,
mikroorganisme yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui ruangan subarachnoid.
Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater,
arachnoid, cairan otak dan ventrikel.
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan septikemia,
yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. Meningitis bakteri
dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan
permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan
peningkatan TIK. Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media,
mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma
kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga
bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen;
semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
WOC
Penyebab (virus, toxin, racun)
Masuk melalui kulit, sel nafas, sel cerna
Infeksi yang menyebar
melalui darah

Infeksi yang menyebar


melalui system saraf

Peradangan SSP

Peningkatan TIK

Perubahan perfusi
Jaringan

Gangguan Transmisi
Impuls

G3 Pertukaran
Gas

Gangguan perfusi
Jar. Cerebral

Disfungsi
hipotalamus

Hipermetabolik

Mual, Muntah

Gangguan Tumbang

Nyeri
Kepala

Gangguan Rasa
Nyaman : Nyeri

Peningkatan Suhu
Tubuh

Kejang
G3 Cairan dan
Elektrolit
Resiko Kejang
berulang

Kelemahan
Neurologis

Immobilisasi

Gangguan Integritas Kulit

e. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis adalah analisa cairan otak.
Analisa cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa Lumbal
Pungsi. Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan
protein.cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan TIK.
Lumbal punksi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan intra kranial.
1) Meningitis bacterial: tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, leukosit dan protein
meningkat, glukosa menurun, kultur posistif terhadap beberapa jenis bakteri.
2) Meningitis virus : tekanan bervariasi, CSF jernih, leukositosis, glukosa dan protein
normal, kultur biasanya negative.
3) Glukosa serum: meningkat (meningitis)
4) LDH serum: meningkat (meningitis bakteri)
5) Sel darah putih: sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi bakteri)
6) Elektrolit darah: Abnormal
7) ESR/LED: meningkat pada meningitis
8) MRI/CT-scan: dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel;
hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
9) Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine: dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi
atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi
10) Ronsen dada/kepala/ sinus: mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial
11) Arteriografi karotis : Letak abses
f.

Penatalaksanaan
Farmakologis
1) Obat anti inflamasi :
a) Meningitis tuberkulosa :

Isoniazid 10 20 mg/kg/24 jam oral, 2 kali sehari maksimal 500 gram selama 1

tahun.
Rifamfisin 10 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1 kali sehari selama 1 tahun.
Streptomisin sulfat 20 40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu, 1 2 kali sehari,

selama 3 bulan.
b) Meningitis bacterial, umur < 2 bulan :
Sefalosporin generasi ke 3
ampisilina 150 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4 6 kali sehari.
Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali sehari.
c) Meningitis bacterial, umur > 2 bulan :
Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari.
Sefalosforin generasi ke 3.
2) Pengobatan simtomatis :
a) Diazepam IV : 0.2 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4 0.6/mg/kg/dosis kemudian

3)
4)

5)

6)

klien dilanjutkan dengan.


b) Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.
c) Turunkan panas :
Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis.
Kompres air PAM atau es
Pengobatan suportif :
a) Cairan intravena.
b) Zat asam, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar antara 30 50%.
Perawatan
a) Pada waktu kejang
Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.
Hisap lender
Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi.
Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya jatuh).
b) Bila penderita tidak sadar lama.
Beri makanan melalui sonda.
Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah posisi penderita
sesering mungkin.
Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau saleb antibiotika.
c) Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi.
d) Pada inkontinensia alvi lakukan lavement.
Pemantauan ketat.
a) Tekanan darah
b) Respirasi
c) Nadi
d) Produksi air kemih
e) Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini adanya DC.
Pengobatan penyebab :
Diberikan apabila jenis virus diketahui Herpes encephalitis : Adenosine arabinose 15

mg/Kg BB/hari selama 5 hari.


7) Pengobatan suportif.
Sebagian besar pengobatan encephalitis adalah : pengobatan nonspesifik yang bertujuan
mempertahankan fungsi organ tubuh. Pengobatan tersebut antara lain : ABC (Airway
breathing, circulation) harus dipertahankan sebaik-baiknya.
g. Komplikasi
Dapat terjadi:

1) Akut
Edema otak
Status konvulsi
2) Kronis
Cerebral palsy
Epilepsy
Gangguan visus dan pendengaran
Komplikasi serta sequelle yang timbul biasanya berhubungan dengan proses inflamasi
pada meningen dan pembuluh darah cerebral (kejang, parese nervus cranial,lesi cerebral
fokal, hydrasefalus) serta disebabkan oleh infeksi meningococcus pada organ tubuh lainnya
(infeksi okular, arthritis, purpura, pericarditis, endocarditis, myocarditis, orchitis,
epididymitis, albuminuria atau hematuria, perdarahan adrenal). DIC dapat terjadi sebagai
komplikasi dari meningitis. Komplikasi dapat pula terjadi karena infeksi pada saluran nafas
bagian atas, telinga tengah dan paru-paru, Sequelle biasanya disebabkan karena komplikasi
dari nervous system.
1.2 KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor
register, tanggal pengkajian dan diagnosa medis. Identitas ini digunakan untuk membedakan
klien satu dengan yang lain. Jenis kelamin, umur dan alamat dan kotor dapat mempercepat
atau memperberat keadaan penyakit infeksi. ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok
umur.
2. Keluhan utama
Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
3. Riwayat penyakit sekarang
Mula-mula anak rewel ,gelisah ,muntah-muntah ,panas badan meningkat kurang lebih 1-4
hari , sakit kepala.
4. Riwayat penyakit dahulu
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit
Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh: Herpes dan lainlain. Bakteri contoh: Staphylococcus Aureus, Streptococcus , E. Coli , dan lain-lain.
6. Imunisasi
kapan terakhir diberi imunisasi DTP karena ensafalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis.
7. Pemeriksaan fisik (ROS)
a. B1 (Breathing) : Perubahan-perubahan akibat peningkatan tekanan intra cranial
menyebabakan kompresi pada batang otak yang menyebabkan pernafasan tidak teratur.
Apabila tekanan intrakranial sampai pada batas fatal akan terjadi paralisa otot
pernafasan (F. Sri Susilaningsih, 1994).
b. B2 (Blood) : Adanya kompresi pada pusat vasomotor menyebabkan terjadi iskemik
pada daerah tersebut, hal ini akan merangsaang vasokonstriktor dan menyebabkan
tekanan darah meningkat. Tekanan pada pusat vasomotor menyebabkan meningkatnya
transmitter rangsang parasimpatis ke jantung.

c. B3 (Brain) : Kesadaran menurun. Gangguan tingkat kesadaran dapat disebabkan oleh


gangguan metabolisme dan difusi serebral yang berkaitan dengan kegagalan neural
akibat prosses peradangan otak.
d. B4 (Bladder) : Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi
normal.
e. B5 (Bowel) : Penderita akan merasa mual dan muntah karena peningkatan tekanan
intrakranial yang menstimulasi hipotalamus anterior dan nervus vagus sehingga
meningkatkan sekresi asam lambung. Dapat pula terjadi diare akibat terjadi peradangan
sehingga terjadi hipermetabolisme (F. Sri Susilanigsih, 1994).
f. B6 (Bone) : Kelemahan
B. Analisa Data
DS:

Analisa Data
Nyeri kepala, Pusing,
kehilangan
bingung,

Etiologi
Peradangan SSP

memori,
kelelahan,

kehilangan

Masalah Keperawatan
Gangguan perfusi
jaringan serebral

Peningkatan TIK

visual,

kehilangan sensasi

G3 Pertukaran Gas

DO: Bingung / disorientasi,


penurunan

kesadaran,

perubahan status mental,

Gangguan perfusi
Jar. Cerebral

gelisah, perubahan motorik.


DS:DO: Pasien mengalami kejang,

Gangguan transmisi

Risiko tinggi terhadap

impuls

cedera

gangguan motorik, ataksia.


Kejang
Risiko tinggi terhadap
DS: Merasa lemah

cedera
Kejang

Gangguan mobilitas fisik

DO: Pasien terlihat pucat dan


lemah

DS : Klien merasa kedinginan

Kelemahan
Gangguan mobilitas fisik
Peradangan

Hypertermi

DO :Suhu tubuuh klien lebih


dari 37,5 C

DS : Klien mengeluh nyeri pada

Suhu tubuh
Hipertermi
Peradangan

kepala
DO : Skala nyeri 4-7

Nyeri

Nyeri

C. Diagnosa
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral yang
mengubah/menghentikan darah arteri/virus
2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan
umum.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan
kekuatan.
4. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
5. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit.
D. Intervensi
Diagnosa 1 : Gangguan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral yang mengubah/
menghentikan darah arteri/virus
Tujuan : Perfusi jaringan menjadi adekuat
Kriteri hasil : Kesadaran kompos mentis
Intervensi

Rasional

Mandiri
Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan
1. Tirah baring dengan posisi kepala datar.

potensi adanya resiko herniasi batang otak yang


memerlukan tindakan medis dengan segera
Aktivitas seperti ini akan meningkatkan tekanan

2. Bantu berkemih, membatasi batuk,


muntah mengejan.

intratorak

dan

intraabdomen

derajat.
4. Kolaborasi.

dapat

kepal

akna

men9ingkatkan TIK.
Peningkatanaliran

3. Tinggikan kepala tempat tidur 15-45

yang

vena

dari

menurunkan TIK
Meminimalkan fluktuasi dalam aliran vaskuler

Berikan cairan iv (larutan hipertonik, dan TIK.


elektrolit ).

Menurunkan

permeabilitas

kapiler

untuk

Berikan obat : steroid, clorpomasin membatasi edema serebral, mengatasi kelainan


asetaminofen

postur

tubuh

atau

menggigil

meningkatkan

TIK,

menurunkan

oksigen dan resiko kejang

yang

dapat

konsumsi

Diagnosa 2 : Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kejang umuDiagnosa 1 : Nyeri
berhubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi
Tujuan : Nyeri klien berkurang
Kriteria Hasil : Skala nyeri menjadi > 4
Intervensi

Rasional

Mandiri
1. Letakkan kantung es pada kepala, Meningkatkan
pakaian dingin di atas mata, berikan resepsi

vasokonstriksi,

sensori

yang

penumpukan

selanjutnya

akan

posisi yang nyaman kepala agak menurunkan nyeri


tinggi sedikit, latihan rentang gerak
aktif atau pasif dan masage otot
leher.
2. Dukung untuk menemukan posisi Menurunkan

iritasi

meningeal,

resultan

yang nyaman(kepala agak tinggi)


ketidaknyamanan lebih lanjut
3. Berikan latihan rentang gerak aktif/ Dapat membantu merelaksasikan ketegangan
pasif.

otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau tidak

nyaman tersebut
4. Gunakan pelembab hangat pada Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan
nyeri leher atau pinggul
Kolaborasi

rasa sakit/ rasa tidak nyaman

5. Berikan anal getik, asetaminofen, Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri


codein

yang berat

Diagnosa 3 : gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular,


penurunan kekuatan.
Tujuan : Klien dapat beraktifitas kembali dengan normal
Kriteria Hasil :Klien tidak merasa lemah
Intervensi

Rasional
Mempertahankan mobilisasi

1. Bantu latihan rentang gerak.

sendi/posisi

normal

dan

fungsi

akstremitas

dan

menurunkan terjadinya vena yang statis


Meningkatkan sirkulasi, elastisitas kulit, dan
2. Berikan

perawatan

kulit,

masase

menurunkan resiko terjadinya ekskoriasi kulit

dengan pelembab.
Menyeimbangkan
3. Berikan

matras

udara

atau

air,

meningkatkan

tekanan

sirkulasi

dan

jaringan,
membantu

meningkatkan
perhatikan kesejajaran tubuh secara

arus

balik

vena

untuk

menurunkan resiko terjadinya trauma jaringan.

fumgsional.
Proses penyembuhan yang lambat seringkali
4. Berikan

program

latihan

dan

penggunaan alat mobilisasi.

menyertai trauma kepala dan pemulihan secara


fisik merupakan bagian yang amat penting dari
suatu program pemulihan tersebut.

Diagnosa 4 : Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.


Tujuan : suhu tubuh kembali normal.
Kriteria hasil : suhu tubuh 36,5 - 37,5 C
Intervensi

Rasional

Mandiri
1. Berikan kompres hangat

1.

Pengeluaran

panas

secara

konduksi

2. Pengeluaran panas secara evaporasi


2. Anjurkan klien untuk menggunakan
baju yang tipis.

3.Menentukan keberhasilan tindakan

3. Observasi Suhu tubuh klien


Kolaborasi dengan dokter
4. berikan obat penurun panas.

1. Membantu menurunkan suhu tubuh

Diagnosa 5: Risiko tinggi terhadap terjadinya infeksi berhubungan dengan sepsis.


Tujuan : Meminimalkan proses penyebaran infeksi
Kriteria hasil : Leukosit normal 10.000-40.000
Tidak ditemukan tanda-anda inflamasi
Intervensi

Rasional

Mandiri
Pada fase awal meningitis, isolasi mungkin
1. Beri

tindakan

isolasi

sebagai

pencegahan

diperlukan sampai organisme diketahui/dosis


antibiotik yang cocok telah diberikan untuk
menurunkan resiko penyebaran pada orang
lain
Menurunkan resiko pasien terkena infeksi

2. Pertahankan teknik aseptik dan


teknik cuci tangan yang tepat.

sekunder. Mengontrol penyebaran sumber


infeksi

Memobilisasi
3. Ubah posisi pasien secara teratur,
dianjurkan nafas dalam

secret

dan

meningkatkan

kelancaran secret yang akan menurunkan


resiko

terjadinya

komplikasi

terhadap

pernapasan
Kolaborasi
Obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi
4. Berikan
penisilin

terapi

antibiotik

G,

iv:

dan sensitivitas individu

ampisilin,

klorampenikol, gentamisin.

E. Evaluasi
1. Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau
keterlibatan orang lain.
2. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik,
mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.
3. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain.
4.

Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu


tidur/istirahat dengan tepat.

5.

Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.

6. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.


7. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan
pengetahuan tentang situasi.

DAFTAR PUSTAKA

Erathenurse. 2007. Askep pada meningitis. http://erathenurse.blogspot.com/ 2007/12/askep-padameningitis.html. Di akses tanggal 18 Januari 2016 pukul 13.40 Wib
Farinqhustank.
2008. Meningitis .http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugasmakalah/kedokteran/meningitis. Di akses tanggal 18 Januari 2016pukul 18.40 Wib
Anonymous. 2010. Disitasi http://nursingbegin.com/askep-meningitis/. Diakses tanggal 18
Januari 2016
Farly, Augus. 2010. Disitasi http://augusfarly.wordpress.com/2010/07/29/asuhan-keperawatanmeningitis/. Diakses tanggal 18 Januari 2016

Anonymous. Disitasi http://health.allrefer.com/pictures-images/kernigs-sign-of-meningitis.html.


Diakses tanggal 18 Januari 2016