Anda di halaman 1dari 38

MINI PROJECT

GAMBARAN PENGETAHUAN MENGENAI


DETEKSI DAN INTERVENSI DINI DIARE ANAK PADA KADER
KESEHATAN KELURAHAN SANAN WETAN, KOTA BLITAR
PROVINSI JAWA TIMUR

Disusun oleh:

Pembimbing:

Puskesmas Sanan Wetan


Kota Blitar, Jawa Timur
Program Dokter Internship Periode Februari 2015 Februari 2016

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL......................................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Puskesmas

merupakan

Unit Pelaksana Teknis

Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan


kesehatan di wilayah kerjanya. Sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan,
puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan per orangan
dan upaya kesehatan masyarakat, yang ditinjau dari Sistem Kesehatan Nasional
merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Sebagai salah satu perangkat
pemerintahan yang berkecimpung dalam kesehatan, Puskesmas memiliki
program P2PM yang bertugas untuk melakukan pemberantasan penyakit
menular, salah satunya adalah diare.
Diare adalah penyebab nomor satu kematian anak di dunia. The United
Nations Childrens Fund (UNICEF) memperkirakan bahwa setiap 30 detik ada
anak meninggal karena diare. Penyakit diare masih merupakan masalah
kesehatan Masyarakat di Indonesia baik ditinjau dari angka kesakitan dan angka
kematian serta kejadian luar biasa (KLB) yang ditimbulkan. Diare akut adalah
buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan
berlansung kurang dari 1 minggu. Diare

juga merupakan

sindrome yang

menyertai berbagai penyakit tertentu atau akibat gangguan pada saluran


pencernaan yang disebabkan oleh adanya gangguan gizi, alergi, kekurangan
enzim pencernaan, gangguan mental, dan kekhawatiran. Atau secara tidak
sengaja zat yang bersifat konstifasi ikut terkonsumsi. Gangguan terjadinya diare
sangat beragam dapat disebabkan oleh pengaruh salah satu atau gabungan dari 3
mekanisme yang terdiri atas proses osmotis, gangguan transport air elektrolit dan
perubahan mortilitas usus. Diare merupakan salah satu penyakit paling sering
menyerang anak di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Diperkirakan angka kejadian di Negara berkembang berkisar 3,5-7
episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2-5 episode per
anak per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Penyebab diare antara lain
infeksi (bakteri, virus, protozoa, dan parasit), alergi, malabsorbsi, keracunan
bahan makanan, pbat dan defisiensi imun. Diare memperlihatkan gejala berupa

keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali
pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat
bercampur lendir dan darah. Epidemiologi pathogen diare bervariasi sesuai
dengan lokasi geografis. Anak anak di Negara berkembang banyak yang
terinfeksi oleh bakteri pathogen dan parasit, sementara dinegara maju lerbih
banyak terinfeksi oleh rotavirus. Beberapa penelitian yang telah dilakukan
didapatkan enteropatogen dari diare memperlihatkan hasil prevalensi rotavirus 30
%, E. Coli patogen 45,9%, E. Coli Toksigenik 14, 3%, Salmonella 22,3%,
Shigella 1,2%, Campylobacter 5,8% dan V. Cholera 1,2%. Dibeberapa penelitian
yang dilakukan diIndonesia mendapatak prevalensi infeksi rotavirus sebnyak
45,5 % pada anak berusia 1-60 bulan yang menderita diare akut.
Menurut Schwartz, tanda dan gejala diare pada anak antara lain termasuk
dalam gejala umum yaitu, berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas
diare, muntah (biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut), demam (dapat
mendahului atau tidak mendahului gejala diare), gejala dehidrasi (mata cekung,
ketegangan kulit menurun, dan apatis bahkan gelisah). Sedangkan yang termasuk
dalam gejala spesifik adalah Vibrio cholera(diare hebat, warna tinja seperti
cucian beras dan berbau amis), dan Disenteriform (tinja berlendir dan atau
berdarah). Hal yang penting dan perlu diperhatikan dari diare adalah komplikasi
yang sering terjadi berupa dehidrasi. Derajat dehidrasi akibat diare menurut
Widoyono dibedakan menjadi tiga, yaitu 1. Tanpa dehidrasi, biasanya anak
merasa normal, tidak rewel, masih bisa bermain seperti biasa. Umumnya karena
diarenya tidak berat, anak masih mau makan dan minum seperti biasa, 2.
Dehidrasi ringan atau sedang, menyebabkan anak rewel atau gelisah, mata sedikit
cekung, turgor kulit masih kembali dengan cepat jika dicubit, 3. Dehidrasi berat,
anak apatis (kesadaran berkabut), mata cekung, pada cubitan kulit turgor kembali
lambat, nafas cepat, anak terlihat lemah.
Dengan adanya program P2PM di Puskesmas, diharapkan kasus kasus
yang berkaitan dengan dengan penyakit menular karena infeksi salah satunya
diare ini bisa di deteksi sedini mungkin dan menjadi tugas utama Puskesmas
untuk menjadi lini pertama bidang kesehatan agar tidak terjadi suatu out break
dimasyarakat, maupun komplikasi dari diare yang sangat mematikan berupa
dehidrasi.
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai ujung tombak pelayanan
4

kesehatan masyarakat merupakan salah satu tataran pelaksanaan pendidikan dan


pemantauan kesehatan masyarakat. Pemantauan dan deteksi diare pada anak sedini
mungkin merupakan bagian dari tugas tenaga kesehatan puskesmas di wilayah kerjanya
masing-masing.
Mengingat pentingnya tugas tenaga kesehatan puskesmas dalam pemantauan dan
deteksi diare pada anak, maka pemahaman dan keterampilan setiap petugas tenaga
kesehatan puskesmas dalam konsep teknis deteksi dan intervensi dini diare pada anak
menjadi sangat penting. Atas latar belakang tersebut dilaksanakan mini project sosialisasi
dan pelatihan deteksi dan intervensi diare pada anak kepada kader kesehatan di
Kelurahan Sanan Wetan.

1.2 Rumusan Masalah


-

Bagaimana upaya stimulasi, deteksi dan intervensi dini diare pada anak di Puskesmas

Sanan Wetan?
Bagaimana proses deteksi dan intervensi dini diare pada anak yang dapat memantau
secara cermat proses tumbuh kembang anak usia dini beserta kemungkinan disfungsi

yang ada di Puskesmas Sanan Wetan?


Bagaimana pemahaman tenaga kesehatan di Puskesmas Sanan Wetan mengenai
program deteksi dan intervensi dini diare pada anak di puskesmas Murung Pudak ?

1.2 Rumusan Masalah


-

Bagaimana gambaran pengetahuan kader kesehatan terkait diare di Puskesmas

Sananwetan?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
-

Peningkatan

kualitas

pelayanan

kesehatan

masyarakat

di

Puskesmas Sanan Wetan.


1.3.2 Tujuan Khusus
-

Mengetahui gambaran pengetahuan kader kesehatan terkait diare di Puskesmas

Sananwetan?.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi Penulis
-

Berperan serta dalam upaya deteksi dan intervensi dini diare


Mengaplikasikan pengetahuan mengenai program deteksi dan

intervensi dini diare.


Melaksanakan mini project dalam rangka program internship dokter
Indonesia

1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas


-

Menambah

pemahaman

para

tenaga

kesehatan

puskesmas

mengenai karakteristik dan deteksi diare.


-

Sebagai

bahan

evaluasi

bagi

Puskesmas

Sananwetan

tentang

gambaran

pengetahuan para kader kesehatan mengenai diare.

1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat


-

Masyarakat terfasilitasi dalam program deteksi dan intervensi dini


diabetes melitus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pendahuluan
Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di
negara yang sedang berkembang. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan Rumah Tangga
diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab kematian bayi di
Indonesia1. Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang terjadi
karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan
gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan
keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi sel epitel,
penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili dapat menimbulkan keadaan maldiges
dan malabsorpsi2. Bila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat
mengalami invasi sistemik2.
Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah atau menanggulangi
dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya
intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi
serta mengobati penyakit penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara komprehensif,
efisien dan efekstif harus dilakukan secara rasional. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara
umum efektif dalam mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika
terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan
terganggunya masukan oral oleh karena infeksi. Beberapa cara pencegahan dengan vaksinasi
serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap dan penanganan menggunakan antibiotika
yang spesifik dan antiparasit3.

2. Definisi
Diare akut menurut Cohen4 adalah keluarnya buang air besar sekali atau lebih yang
berbentuk cair dalam satu hari dan berlangsung kurang 14 hari. Menurut Noerasid5 diare akut
ialah diare yang terjadi secara mendakak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat.
Sedangkan American Academy of Pediatrics (AAP) mendefinisikan diare dengan
karakteristik peningkatan frekuensi dan/atau perubahan konsistensi, dapat disertai atau tanpa
gejala dan tanda seperti mual, muntah, demam atau sakit perut yang berlangsung selama 3 7
hari6.
3. Epidemiologi
Setiap tahun diperikirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta
kasus kematian sebagai akibatnya7. Diperkirakan angka kejadian di negara berkembang
berkisar 3,5 7 episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2 5
episode per anak per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan8. Hasil survei oleh Depkes.
diperoleh angka kesakitan diare tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk angka ini
meningkat bila dibanding survei pada tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk. Diare
masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita. Hasil Surkesnas 2001 didapat
proporsi kematian bayi 9,4% dengan peringkat 3 dan proporsi kematian balita 13,2% dengan
peringkat 29. Diare pada anak merupakan penyakit yang mahal yang berhubungan secara
langsung atau tidak terdapat pembiayaan dalam masyarakat. Biaya untuk infeksi rotavirus
ditaksir lebih dari 6,3 juta poundsterling setiap tahunya di Inggris dan 352 juta dollar di
Amerika Serikat.
4. Klasifikasi
Diare secara garis besar dibagi atas radang dan non radang. Diare radang dibagi lagi
atas infeksi dan non infeksi. Diare non radang bisa karena hormonal, anatomis, obat-obatan
dan lain-lain. Penyebab infeksi bisa virus, bakteri, parasit dan jamur, sedangkan non infeksi
karena alergi, radiasi10.
5. Etiologi
Penyebab diare akut pada anak secara garis besar dapat disebabkan oleh
gastroenteritis, keracunan makanan karena antibiotika dan infeksi sistemik. Etiologi diare

pada 25 tahun yang lalu sebagian besar belum diketahui, akan tetapi kini, telah lebih dari
80% penyebabnya diketahui. Pada saat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis
mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi7.
Penyebab utama oleh virus yang terutama ialah Rotavirus (40 60%) sedangkan virus
lainya ialah virus Norwalk, Astrovirus, Cacivirus, Coronavirus, Minirotavirus.
Bakteri yang dapat menyebabkan diare adalah Aeromonas hydrophilia, Bacillus
cereus, Compylobacter jejuni, Clostridium defficile,Clostridium perfringens, E coli,
Pleisiomonas, Shigelloides, Salmonella spp, staphylococus aureus, vibrio cholerae dan
Yersinia enterocolitica, Sedangkan penyebab diare oleh parasit adalah Balantidium coli,
Capillaria phiplippinensis, Cryptosporodium, Entamoba hystolitica, Giardia lambdia,
Isospora billi, Fasiolopsis buski, Sarcocystis suihominis, Strongiloides stercorlis, dan
trichuris trichiura. 4,7,11,12
Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang masuk melalui
makanan dan minuman sampai ke enterosit, akan menyebabkan infeksi dan kerusakan villi
usus halus. Enterosit yang rusak diganti dengan yang baru yang fungsinya belum matang,
villi mengalami atropi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik, akan
meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan meningkatkan motilitasnya sehingga timbul
diare.4,7
Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan dengan
pengaturan transpor ion dalam sel-sel usus cAMP,cGMP, dan Ca dependen. Patogenesis
terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E coli agak berbeda dengan patogenesis diare oleh
virus, tetapi prinsipnya hampir sama. Bedanya bekteri ini dapat menembus (invasi) sel
mukosa usus halus sehingga depat menyebakan reaksi sistemik.Toksin shigella juga dapat
masuk ke dalam serabut saraf otak sehingga menimbulkan kejang. Diare oleh kedua bakteri
ini dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja yang disebut disentri. 5,7
Sebuah studi tentang maslah diare akut yang terjadi karena infeksi pada anak di
bawah 3 tahun di Cina, India, Meksiko, Myanmar, Burma dan Pakistan, hanya tiga agen
infektif yang secara konsisten atau secara pokok ditemukan meningkat pada anak penderita
diare. Agen ini adalah Rotavirus,Shigella spp dan E. Coli enterotoksigenik Rotavirus jelas
merupakan penyebab diare akut yang paling sering diidentifikasi pada anak dalam komunitas
tropis dan iklim sedang.13 Diare dapat disebabkan oleh alergi atau intoleransi makanan
9

tertentu seperti susu, produk susu, makanan asing terdapat individu tertentu yang pedas atau
tidak sesuai kondisi usus dapat pula disebabkan oleh keracunan makanan dan bahan-bahan
kimia. Beberapa macam obat, terutama antibiotika dapat juga menjadi penyebab diare.
Antibiotika akan menekan flora normal usus sehingga organisme yang tidak biasa atau yang
kebal antibiotika akan berkembang bebas.7,14 Di samping itu sifat farmakokinetik dari obat itu
sendiri juga memegang peranan penting. Diare juga berhubungan dengan penyakit lain
misalnya malaria, schistosomiasis, campak atau pada infeksi sistemik lainnya misalnya,
pneumonia, radang tenggorokan, dan otitis media.4,7
6. Patofisiologi
Menurut patofisiologinya diare dibedakan dalam beberapa kategori yaitu diare
osmotik, sekretorik dan diare karena gangguan motilitas usus. Diare osmotik terjadi karena
terdapatnya bahan yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus akan difermentasi oleh bahteri usus
sehingga tekanan osmotik di lumen usus meningkat yang akan menarik cairan. Diare
sekretorik terjadi karena toxin dari bakteri akan menstimulasi c AMP dan cGMP yang akan
menstimulasi sekresi cairan dan elektrolit. Sedangkan diare karena gangguan motilitas usus
terjadi akibat adanya gangguan pada kontrol otonomik,misal pada diabetik neuropathi, post
vagotomi, post reseksi usus serta hipertiroid.7
7. Manifestasi kinis
Diare menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit dan sering disertai
dengan asidosis metabolik karena kehilangan basa. Dehidrasi dapat diklasifikasikan
berdasarkan defisit air dan atau keseimbangan elektrolit. Dehidrasi ringan bila penurunan
berat badan kurang dari 5%,dehidrasi sedang bila penurunan berat badan antara 5%-10% dan
dhidrasi berat bila penurunan lebih dari 10%.7,15
Derajat Dehidrasi

Gejala &
Tanda

Keadaan
Mata
Umum

Mulut/
Lidah

Estimasi
Rasa Haus

Kulit

BB %

def.
cairan

10

Tanpa
Dehidrasi

Baik, Sadar

Normal

Basah

Gelisah Rewel

Cekung

Kering

Letargik,

Sangat

Kesadaran

cekung dan

Menurun

kering

Dehidrasi
Ringan
Sedang

Dehidrasi
Berat

Minum Normal,
Tidak Haus

Turgor baik

Tampak

Turgor

Kehausan

lambat

Sangat

Sulit, tidak bisa

kering

minum

<5

5 10

50 %

50100
%

Turgor
sangat

>10

>100 %

lambat

Sumber : Sandhu 200116


Berdasarkan konsentrasi Natrium plasma tipe dehidrasi dibagi 3 yaitu : dehidrasi
hiponatremia ( < 130 mEg/L ), dehidrasi iso-natrema (130m 150 mEg/L) dan dehidrasi
hipernatremia ( > 150 mEg/L ). Pada umunya dehidrasi yang terjadi adalah tipe iso
natremia (80%) tanpa disertai gangguan osmolalitas cairan tubuh, sisanya 15 % adalah diare
hipernatremia dan 5% adalah diare hiponatremia.
Kehilangan bikarbonat bersama dengan diare dapat menimbulkan asidosis metabolik
dengan anion gap yang normal ( 8-16 mEg/L), biasanya disertai hiperkloremia. Selain
penurunan bikarbonat serum terdapat pula penurunan pH darah kenaikan pCO2. Hal ini akan
merangsang pusat pernapasan untuk meningkatkan kecepatan pernapasan sebagai upaya
meningkatkan eksresi CO2 melalui paru (pernapasan Kussmaul) Untuk pemenuhan
kebutuhan kalori terjadi pemecahan protein dan lemak yang mengakibatkan meningkatnya
produksi asam sehingga menyebabkan turunnya nafsu makan bayi. Keadaan dehidrasi berat
dengan hipoperfusi ginjal serta eksresi asam yang menurun dan akumulasi anion asam secara
bersamaan menyebabkan berlanjutnya keadaan asidosis.17
Kadar kalium plasma dipengaruhi oleh keseimbangan asam basa , sehingga pada
keadaan asidosis metebolik dapat terjadi hipokalemia. Kehilangan kalium juga melalui cairan
tinja dan perpindahan K+ ke dalam sel pada saat koreksi asidosis dapat pula menimbulkan
hipokalemia. Kelemahan otot merupakan manifestasi awal dari hipokalemia, pertama kali
pada otot anggota badan dan otot pernapasan. Dapat terjadi arefleks, paralisis dan kematian

11

karena kegagalan pernapasan. Disfungsi otot harus menimbulkan ileus paralitik, dan dilatasi
lambung. EKG mnunjukkan gelombang T yang mendatar atau menurun dengan munculnya
gelombang U. Pada ginjal kekurangan K+ mengakibatkan perubahan vakuola dan epitel
tubulus dan menimbulkan sklerosis ginjal yang berlanjut menjadi oliguria dan gagal ginjal.7
8. Penatalaksanaan
Pengantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting dalam terapi efektif
diare akut.6 Beratnya dehidrasi secara akurat dinilai berdasarkan berat badan yang hilang
sebagai persentasi kehilangan total berat badan dibandingkan berat badan sebelumnya
sebagai baku emas.18
Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parateral. Pemberian secara
oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat menggunakan pipa
nasogastrik, walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang. Bila diare profus dengan
pengeluaran air tinja yang banyak ( > 100 ml/kgBB/hari ) atau muntah hebat (severe
vomiting) sehingga penderita tak dapat minum sama sekali, atau kembung yang sangat hebat
(violent meteorism) sehingga upaya rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat
dilakukan rehidrasi parenteral walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya
untuk dehidrasi berat dengan gangguan sirkulasi15. Keuntungan upaya terapi oral karena
murah dan dapat diberikan dimana-mana. AAP merekomendasikan cairan rehidrasi oral
(ORS) untuk rehidrasi dengan kadar natrium berkisar antara 75-90 mEq/L dan untuk
pencegahan dan pemeliharaan dengan natrium antara 40-60mEq/L 11 Anak yang diare dan
tidak lagi dehidrasi harus dilanjutkan segera pemberian makanannya sesuai umur6.
8.1.

Dehidrasi Ringan Sedang


Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan pemberian oral

sesuai dengan defisit yang terjadi namun jika gagal dapat diberikan secara intravena sebanyak
: 75 ml/kg bb/3jam. Pemberian cairan oral dapat dilakukan setelah anak dapat minum
sebanyak 5ml/kgbb/jam. Biasanya dapat dilakukan setelah 3-4 jam pada bayi dan 1-2 jam
pada anak . Penggantian cairan bila masih ada diare atau muntah dapat diberikan sebanyak
10ml/kgbb setiap diare atau muntah.17
Secara ringkas kelompok Ahli gastroenterologi dunia memberikan 9 pilar yang perlu
diperhatikan dalam penatalaksanaan diare akut dehidrasi ringan sedang pada anak, yaitu12 :

12

1. Menggunakan CRO ( Cairan rehidrasi oral )


2. Cairan hipotonik
3. Rehidrasi oral cepat 3 4 jam
4. Realiminasi cepat dengan makanan normal
5. Tidak dibenarkan memberikan susu formula khusus
6. Tidak dibenarkan memberikan susu yang diencerkan
7. ASI diteruskan
8. Suplemen dnegan CRO ( CRO rumatan )
9. Anti diare tidak diperlukan
8.2. Dehidrasi Berat
Penderita dengan dehidrasi berat, yaitu dehidrasi lebih dari 10% untuk bayi dan anak
dan menunjukkan gangguan tanda-tanda vital tubuh ( somnolen-koma, pernafasan Kussmaul,
gangguan dinamik sirkulasi ) memerlukan pemberian cairan elektrolit parenteral. Penggantian
cairan parenteral menurut panduan WHO diberikan sebagai berikut 12,15,17 :
Usia <12 bln: 30ml/kgbb/1jam, selanjutnya 70ml/kgbb/5jam
Usia >12 bln: 30ml/kgbb/1/2-1jam, selanjutnya 70ml/kgbb/2-2 jam
Walaupun pada diare terapi cairan parenteral tidak cukup bagi kebutuhan penderita
akan kalori, namun hal ini tidaklah menjadi masalah besar karena hanya menyangkut waktu
yang pendek. Apabila penderita telah kembali diberikan diet sebagaimana biasanya . Segala
kekurangan tubuh akan karbohidrat, lemak dan protein akan segera dapat dipenuhi. Itulah
sebabnya mengapa pada pemberian terapi cairan diusahakan agar penderita bila
memungkinkan cepat mendapatkan makanan / minuman sebagai biasanya bahkan pada
dehidrasi ringan sedang yang tidak memerlukan terapi cairan parenteral makan dan minum
tetap dapat dilanjutkan.18
8.3. Pemilihan jenis cairan
Cairan Parenteral dibutuhkan terutama untuk dehidrasi berat dengan atau tanpa syok,
sehingga dapat mengembalikan dengan cepat volume darahnya, serta memperbaiki renjatan
hipovolemiknya. Cairan Ringer Laktat (RL) adalah cairan yang banyak diperdagangkan dan

13

mengandung konsentrasi natrium yang tepat serta cukup laktat yang akan dimetabolisme
menjadi bikarbonat. Namun demikian kosentrasi kaliumnya rendah dan tidak mengandung
glukosa untuk mencegah hipoglikemia. Cairan NaCL dengan atau tanpa dekstrosa dapat
dipakai, tetapi tidak mengandung elektrolit yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup. Jenis
cairan parenteral yang saat ini beredar dan dapat memenuhi kebutuhan sebagai cairan
pengganti diare dengan dehidrasi adalah Ka-EN 3B.16 Sejumlah cairan rehidrasi oral dengan
osmolaliti 210 268 mmol/1 dengan Na berkisar 50 75 mEg/L, memperlihatkan efikasi
pada diare anak dengan kolera atau tanpa kolera.19
Komposisi cairan Parenteral dan Oral :
Osmolalitas
(mOsm/L)
NaCl 0,9 %

Glukosa(g/L) Na+(mEq/L) CI-(mEq/L) K+(mEq/L) Basa(mEq/L)

308

154

154

428

50

77

77

253

50

38,5

38,5

Riger Laktat

273

130

109

Laktat 28

Ka-En 3B

290

27

50

50

20

Laktat 20

Ka-En 3B

264

38

30

28

Laktat 10

311

111

90

80

20

Citrat 10

245

70

75

65

20

Citrat 10

NaCl 0,45 %
+D5
NaCl 0,225%
+D5

Standard WHOORS
Reduced
osmalarity

14

WHO-ORS
EPSGAN
recommendation

213

60

60

70

20

Citrat 3

15

Komposisi elektrolit pada diare akut :

Komposisi rata-rata elektrolit


mmol/L

Macam

Diare Kolera
Dewasa
Diare Kolera Balita
Diare Non Kolera
Balita

Na

Cl

HCO3

140

13

104

44

101

27

92

32

56

26

55

14

Sumber : Ditjen PPM dan PLP,199920


8.4. Mengobati kausa Diare
Tidak ada bukti klinis dari anti diare dan anti motilitis dari beberapa uji klinis.18 Obat
anti diare hanya simtomatis bukan spesifik untuk mengobati kausa, tidak memperbaiki
kehilangan air dan elektrolit serta menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.
Antibiotik yang tidak diserap usus seperti streptomisin, neomisin, hidroksikuinolon dan
sulfonamid dapat memperberat yang resisten dan menyebabkan malabsorpsi.21 Sebagian
besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh karena pada
umumnya sembuh sendiri (self limiting).12 Antibiotik hanya diperlukan pada sebagian kecil
penderita diare misalnya kholera shigella, karena penyebab terbesar dari diare pada anak
adalah virus (Rotavirus). Kecuali pada bayi berusia di bawah 2 bulan karena potensi
terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi kedalam sirkulasi, atau
pada anak/bayi yang menunjukkan secara klinis gajala yang berat serta berulang atau
menunjukkan gejala diare dengan darah dan lendir yang jelas atau segala sepsis15. Anti
motilitis seperti difenosilat dan loperamid dapat menimbulkan paralisis obstruksi sehingga
terjadi bacterial overgrowth, gangguan absorpsi dan sirkulasi.21

16

Beberapa antimikroba yang sering menjadi etiologi diare pada anak15,18


Kolera :
Tetrasiklin 50mg/kg/hari dibagi 4 dosis (2 hari)
Furasolidon 5mg/kg/hari dibagi 4 dosis (3 hari)
Shigella :
Trimetroprim 5-10mg/kg/hari
Sulfametoksasol 25mg/kg/hari Diabgi 2 dosis (5 hari)
Asam Nalidiksat : 55mg/kg/hari dibagi 4 (5 hari)
Amebiasis:
Metronidasol 30mg/kg/hari dibari 4 dosis 9 5-10 hari)
Untuk kasus berat : Dehidro emetin hidrokhlorida 1-1,5 mg/kg (maks 90mg) (im) s/d
5 hari tergantung reaksi (untuk semua umur)
Giardiasis :
Metronidasol 15mg.kg/hari dibagi 4 dosis ( 5 hari )
Antisekretorik - Antidiare
Salazerlindo E dkk22 dari Department of Pedittrics, Hospital Nacional Cayetano
Heredia, Lima,Peru, melaporkan bahwa pemakaian Racecadotril (acetorphan) yang
merupakan enkephalinace inhibitor dengan efek anti sekretorik serta anti diare ternyata cukup
efektif dan aman bila diberikan pada anak dengan diare akut oleh karena tidak mengganggu
motilitas usus sehingga penderita tidak kembung .Bila diberikan bersamaan dengan cairan
rehidrasi oral akan memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan hanya
memberikan cairan rehidrasi oral saja .Hasil yang sama juga didapatkan oleh Cojocaru dkk
dan cejard dkk.untuk pemakaian yang lebih luas masih memerlukan penelitian lebih lanjut
yang bersifat multi senter dan melibatkan sampel yang lebih besar.23
Probiotik

17

Probiotik merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang menguntungkan pada
host dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik didalam lumen saluran cerna
sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui reseptor
dalam sel epitel usus. Dengan mencermati penomena tersebut bakteri probiotik dapat dipakai
dengan cara untuk pencegahan dan pengobatn diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus
maupun mikroorganisme lain, speudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh
karena pemakaian antibiotika yang tidak rasional rasional (antibiotik asociatek diarrhea ) dan
travellers,s diarrhea. 14,15,24
Terdapat banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana diare akut
pada anak. Hasil meta analisa Van Niel dkk 25 menyatakan lactobacillus aman dan efektif
dalam pengobatan diare akut infeksi pada anak, menurunkan lamanya diare kira-kira 2/3
lamanya diare, dan menurunkan frekuensi diare pada hari ke dua pemberian sebanyak 1 2
kali. Kemungkinan mekanisme efekprobiotik dalam pengobatan diare adalah : Perubahan
lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan anti mikroba terhadap beberapa patogen,
kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen pada anterosit, modifikasi toksin atau reseptor
toksin, efektrofik pada mukosa usus dan imunno modulasi.14,24
Mikronutrien
Dasar pemikiran pengunaan mikronutrien dalam pengobatan diare akut didasarkan
kepada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan
terhadap proses perbaikan epitel seluran cerna selama diare. Seng telah dikenali berperan di
dalam metallo enzymes, polyribosomes , selaput sel, dan fungsi sel, juga berperan penting
di dalam pertumbuhan sel dan fungsi kekebalan .19 Sazawal S dkk 26 melaporkan pada bayi
dan anak lebih kecil dengan diare akut, suplementasi seng secara klinis penting dalam
menurunkan lama dan beratnya diare. Strand 27 Menyatakan efek pemberian seng tidak
dipengaruhi atau meningkat bila diberikan bersama dengan vit A. Pengobatan diare akut
dengan vitamin A tidak memperlihatkan perbaikan baik terhadap lamanya diare maupun
frekuensi diare. 19 Bhandari dkk 28 mendapatkan pemberian vitamin A 60mg dibanding
dengan plasebo selama diare akut dapat menurunkan beratnya episode dan risiko menjadi
diare persisten pada anak yang tidak mendapatkan ASI tapi tidak demikian pada yang
mendapat ASI.
Mencegah / Menanggulangi Gangguan Gizi

18

Amatlah penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama
pada anak dengan gizi yang kurang. Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih dari 24
jam, karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup.Bila tidak makalah ini
akan merupakan faktor yang memudahkan terjadinya diare kronik29 Pemberian kembali
makanan atau minuman (refeeding) secara cepat sangatlah penting bagi anak dengan gizi
kurang yang mengalami diare akut dan hal ini akan mencegah berkurangnya berat badan
lebih lanjut dan mempercepat kesembuhan. Air susu ibu dan susu formula serta makanan
pada umumnya harus dilanjutkan pemberiannya selama diare penelitian yang dilakukan oleh
Lama more RA dkk30 menunjukkan bahwa suplemen nukleotida pada susu formula secara
signifikan mengurangi lama dan beratnya diare pada anak oleh karena nucleotide adalah
bahan yang sangat diperlukan untuk replikasi sel termasuk sel epitel usus dan sel
imunokompeten. Pada anak lebih besar makanan yang direkomendasikan meliputi tajin
( beras, kentang, mi, dan pisang) dan gandum ( beras, gandum, dan cereal). Makanan yang
harus dihindarkan adalah makanan dengan kandungan tinggi, gula sederhana yang dapat
memperburuk diare seperti minuman kaleng dan sari buah apel. Juga makanan tinggi lemak
yang sulit ditoleransi karena karena menyebabkan lambatnya pengosongan lambung.31
Pemberian susu rendah laktosa atau bebas laktosa diberikan pada penderita yang
menunjukkan gejala klinik dan laboratorium intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa
berspektrum dari yang ringan sampai yang berat dan kebanyakan adalah tipe yang ringan
sehingga cukup memberikan formula susu biasanya diminum dengan pengenceran oleh
karena intoleransi laktosa ringan bersifat sementara dan dalam waktu 2 3 hari akan sembuh
terutama pada anak gizi yang baik. Namun bila terdapat intoleransi laktosa yang berat dan
berkepanjangan tetap diperlukan susu formula bebas laktosa untuk waktu yang lebih lama.
Untuk intoleransi laktosa ringan dan sedang sebaiknya diberikan formula susu rendah laktosa.
Sabagaimana halnya intoleransi laktosa, maka intoleransi lemak pada diare akut sifatnya
sementara dan biasanya tidak terlalu berat sehingga tidak memerlukan formula khusus.Pada
situasi yang memerlukan banyak energi seperti pada fase penyembuhan diare, diet rendah
lemak justru dapat memperburuk keadaan malnutrisi dan dapat menimbulkan diare kronik 32
Menanggulangi Penyakit Penyerta
Anak yang menderita diare mungkin juga disertai dengan penyakit lain. Sehingga
dalam menangani diarenya juga perlu diperhatikan penyakit penyerta yang ada. Beberapa
penyakit penyerta yang sering terjadi bersamaan dengan diare antara lain : infeksi saluran

19

nafas, infeksi susunan saraf pusat, infeksi saluran kemih, infeksi sistemik lain
(sepsis,campak ), kurang gizi, penyakit jantung dan penyakit ginjal 33.
9.1Gambaran Wilayah Kecamatan Sanan Wetan
9.1.1 Batas wilayah
Kecamatan

Sananwetan

berbatas

wilayah

sebelah

utara

dengan

Kecamatan.Kepanjenkidul Kota Blitar , sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan


Garum Kabupaten Blitar dan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, sebelah selatan
dengan Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar dan Kec. Kanigoro Kabupaten Blitar,
dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar dan
Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

9.1.2 Pembagian wilayah administrasi

20

Kecamatan Sananwetan terdiri dari 7 Kelurahan pada lahan seluas 12,149 km 2


yang merupakan kecamatan dengan wilayah yang paling luas di kota Blitar.

Sumber : BPS Kab. Blitar, 2013


Wilayah Kecamatan Sananwetan terletak pada ketinggian 156 meter dpl,suhu
rata-rata 29 0C, dan curah hujan rata-rata 13,75 mm per tahun. Secara administratif
wilayah Kecamatan Sananwetan terbagi dalam 7 Kelurahan, 74 RW dan 249 RT. Dilihat
dari komposisi RW dan RT, Kelurahan Sananwetan memiliki jumlah RW dan RT
terbanyak, yaitu 17 RW dan 60 RT, sedangkan kelurahan yang memiliki wilayah paling
besar adalah Kelurahan Gedog yakni 2,65 km2.
9.1.3 Data penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Sananwetan pada tahun 2013 telah mencapai
54.945 jiwa, bertambah 382 jiwa dibandingkan dengan tahun 2012. Jumlah penduduk
laki-laki sebesar 27.389 jiwa atau sebesar 49,84 persen dan penduduk perempuan
27.556 jiwa atau sebesar 50.16 persen dari total penduduk kecamatan Sananwetan.
Berikut merupakan tabel data penduduk di 7 desa di Kecamatan Sananwetan

21

Jumlah Penduduk sampai dengan tahun 2014 berdasarkan data statistik tiap
kelurahan di Kecamatan Sananwetan sejumlah 53.821 jiwa dengan jumlah KK 17.995
serta mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Adapun jumlah Penduduk Gakin /
non Gakin dapat dilihat pada tabel berikut :
Distribusi jumlah penduduk gakin dan non gakin di Wilayah Kecamatan
Sananwetan tahun 2014 (berdasarkan data survei tahun 2009)

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat di


Wilayah Kecamatan Sananwetan merupakan masyarakat non gakin (88.23%),
sedangkan jumlah masyarakat miskin sebesar 11,77% untuk data tahun 2010 belum
diadakan pendataan ulang maskin 2010.

22

9.2 Profil Kelurahan Terpilih


9.2.1. Kondisi geografis
Kelurahan Sananwetan berbatas wilayah sebelah utara dengan Kelurahan
Bendogerit dan Kelurahan Gedog. Desa ini berbatas wilayah sebelah utara Sungai
Lahor Kecamatan Sumberpucung, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Gedog,
sebelah selatan dengan Kelurahan Karangtengah dan Kelurahan Plosokerep.
9.2.2. Topografi
Kelurahan Sananwetan secara umum memiliki wilayah yang cukup padat
yang ditunjang sarana jalan propinsi dan jalan kota yang rata rata hampir jalan aspal
meskipun sebagian kecil belum di aspal, dan untuk sarana transportasi menggunakan
kendaraan milik pribadi serta tersedia sarana telekomunikasi. Ketinggian wilayah
Kecamatan Sananwetan dari permukaan air laut lebih kurang 156 dpl dengan jenis
tanah dataran.

9.2.3. Kondisi demografis


Kelurahan Sananwetan memiliki luas wilayah 2,1279 km2 dengan lahan
pertanian yang terdiri dari tanah sawah 64 Ha, lahan kering 146,985 Ha, lahan lainnya
0,835 Ha.
9.2.4. Kependudukan
Kelurahan Sananwetan merupakan kelurahan dengan jumlah KK dan penduduk
terbanyak yaitu 4.241 KK dengan 18.175 orang yang terdiri dari laki-laki 13.934 orang,
perempuan 4.241 orang.

10. Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas )


10.1. Gambaran Umum Puskesmas
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan kesehatan meliputi
pembangunan yang berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga serta
pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu.2

23

Wilayah kerja adalah batasan wilayah kerja Puskesmas dalam melaksanakan


tugas dan fungsi pembangunan kesehatan, yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota berdasarkan keadaan geografis, demografi, sarana transportasi, masalah
kesehatan setempat, keadaan sumber daya, beban kerja Puskesmas dan lain-lain. Selain
itu juga harus memperhatikan upaya untuk meningkatkan koordinasi, memperjelas
tanggung jawab pembangunan dalam wilayah kecamatan, meningkatkan sinergisme
pembangunan dalam wilayah kecamatan, meningkatkan sinergisme kegiatan dan
meningkatkan kinerja. Apabila dalam satu wilayah kecamatan terdapat lebih dari satu
Puskesmas maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menunjuk salah satu
Puskesmas sebagai koordinator pembangunan kesehatan di kecamatan. 2
Puskesmas memiliki tanggung jawab dalam hal mempromosikan kesehatan
kepada seluruh masyarakat sebagai upaya untuk memberikan pengalaman belajar,
menyediakan media informasi, dan melakukan edukasi baik untuk perorangan,
kelompok, dan masyarakan guna meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku
masyarakat. Dengan berjalanannya program kesehatan yang dijalankan oleh setiap
Puskesmas, di harapkan pada akhirnya akan berpengaruh pada perubahan kepada setiap
individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara prilaku sehat serta
berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.3
10.2. Profil Puskesmas Sanan Wetan
10.2.1 Keadaan Geografi
UPTD. Puskesmas Sananwetan terletak di Kelurahan Sananwetan
dengan alamat Jl. Jawa No 07 Blitar. Akses transportasi ke Puskesmas
Sananwetan cukup mudah karena bersebelahan dengan jalan raya Bali
sehingga

mempermudah

jangkauan

masyarakat

untuk

menggunakan

Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Sananwetan.


10.2.2 Visi dan Misi Puskesmas Sanan Wetan
Visi
UPTD Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar sebagai salah
satu dari penyelenggara pembangunan kesehatan mempunyai visi :
Terwujudnya pelayanan kesehatan dasar yang bermutu untuk mencapai

24

masyarakat berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat di Kecamatan Sananwetan


tahun 2015. Pelayanan kesehatan dasar yang bermutu adalah pelayanan
kesehatan dasar yang ramah, profesional dan partisipatif sedangkan
Masyarakat yang Berperilaku Hidup Bersih dan sehat adalah suatu kondisi
dimana masyarakat Kota Blitar menyadari, mau, dan mampu untuk
mengenali,

mencegah

dan

mengatasi

permasalahan

kesehatan

yang

dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik yang


disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana,
maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
Misi
Berdasarkan Visi UPTD. Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar,
maka misi pembangunan kesehatan di Kota Blitar khususnya Wilayah
Kecamatan Sananwetan adalah :
1. Mewujudkan pelayanan kesehatan dasar yang transparan dan
profesional
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau dalam bentuk promotif, preventif dan kuratif
3. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
4. Membangun citra pelayanan dengan memberlakukan pengguna
layanan sebagai pusat perhatian
10.2.3. Struktur Organisasi Puskesmas Sananwetan
Struktur Organisasi Puskesmas menurut Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia no : 128/MENKES/SK/III/2004 tergantung dari kegiatan
dan beban tugas masing-masing Puskesmas. Pola struktur organisasi
Puskesmas adalah sebagai berikut :
Kepala Puskesmas
Ka Subbag Tata Usaha
Unit Tata Usaha
1.

Data dan informasi


25

2.

Perencanaan dan Penilaian

3.

Keuangan

4.

Umum dan kepegawaian

5.

Pengelola sarpras

6.

Loket

7.

Caraka
Upaya Kesehatan Masyarakat dan Perorangan
Upaya Kesehatan Wajib
Upaya Kesehatan Pengembangan
Upaya pelayanan Penunjang

1.

Unit GAwat darurat 24 jam dan Rawat Inap

2.

Laboratorium

3.

Apotik
Upaya Pelayanan Inovasi

1.

PONED

2.

MTBS

3.

PKPR/Jiwa
Jaringan Pelayanan Puskesmas
Puskesmas Pembantu
10.2.4. Susunan Kepegawaian dan Perlengkapan

a. Susunan Kepegawaian

26

Adapun Distribusi jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang ada di


UPTD. Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar dapat dilihat pada
tabel berikut :
Distribusi Jenis Tenaga Kesehatan di UPTD. Puskesmas Kecamatan
Sananwetan Kota Blitar tahun 2014

27

b.

Perlengkapan
Sarana Fisik Gedung Puskesmas
No.

BANGUNAN

KONDISI FISIK
JML
BUA
H

Pusk.Induk

Rawat Inap

Puskesmas
3 Pembantu

LUAS
TANAH

TAHUN

DAYA

LUAS
DIBANGU
BANGUNAN
N
LISTRIK

m2

m2

( WATT )

2136.4

496.5

1975

1300

420

2005

3000

a. Pustu Bendil

336

70

1980

1300

b. Pustu Bendogerit

660

70

1990

900

c. Pustu Gedog

d. Pustu Plosokerep

155.26

56

1979

900

e. Pustu Klampok

450

70

1996

900

f. Pustu Rembang

308

70

1990

900

Poskesdes

Posyandu

59

Sarana Transportasi Puskesmas


NO

Jenis

Jumlah
BAIK

Kendaraan

KONDISI

KELAYAKAN

SEDAN
G
RUSAK

YA

TIDAK

Roda 4
( Empat )
2

Kendaraan
Roda

2 ( dua )

28

Alat-alat Kesehatan
Alat alat kesehatan yang ada di UPTD puskesmas Sananwetan terdiri dari :
1. PERALATAN UNTUK DIAGNOSTIK KLINIK
2. PERALATAN UNTUK KESEHATAN GIGI
3. PERALATAN UNTUK LABORATORIUM
4. PERALATAN UNTUK TINDAKAN MEDIS
5. LINEN
6. PERALATAN UNTUK PENYULUHAN
7. PERALATAN NON-MEDIK
10.2.5. Program Kesehatan Puskesmas Kecamatan Sananwetan
Berdasarkan

Penilaian

Kinerja

Puskesmas

program

pelayanan

kesehatan Puskesmas dapat dibagi menjadi 3 Program dasar sebagai berikut :


1. Upaya Kesehatan Wajib
Upaya Kesehatan Wajib

puskesmas di Puskesmas Sananwetan terdiri

dari :
Promosi Kesehatan
Kesehatan lingkungan
Upaya Perbaikan gizi
Kesehatan Ibu Dan Anak Termasuk Keluarga Berencana
Upaya Pencegahan Dan Pemberantaasan Penyakit Menular
Pengobatan
2. Program Manajemen Puskesmas
Program manajemen puskesmas di Puskesmas Sananwetan terdiri dari :
Manajemen Operasional Puskesmas
Manajemen Alat Dan Obat
Manajemen Keuangan Di Puskesmas
Manajemen Ketenagaan
Manajemen Pengolahan Barang/Aset
3. Program Pengembangan / inovatif
Program pengembangan / inovatif di Puskesmas Sananwetan terdiri dari
:
a. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
b. Upaya kesehatan Mata/pencegahan kebutaan
c. Upaya Kesehatan Telinga / Pencegahan Gangguan Pendengaran
d. Kesehatan Jiwa

29

e. Kesehatan Olah Raga


f.

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi

g. Perawatan Kesehatan Masyarakat


h. Bina Kesehatan Tradisional
i.

Bina Kesehatan Kerja

j.

Pemberdayaan Masyarakat Dalam Phbs

k. Pengembangan Ukbm
l.

Program Gizi

30

BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA, PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

3.1 Metode Pengumpulan Data


3.1.1 Rancangan Pengumpulan Data
Pengumpulan data digunakan untuk mengetahui pengetahuan tentang diare bagi para
kader

Posyandu

Kelurahan

Sananwetan.

Pengumpulan

data

dilakukan

dengan

menggunakan kuesioner.
3.1.2

Populasi dan Sampel


a.
Populasi target adalah seluruh kader Posyandu Kelurahan Sananwetan
b.
Sampel

Kriteria sampel yang memenuhi syarat yaitu :


1. Kriteria inklusi
Sampel merupakan kader UKS Posyandu balita Kelurahan Sananwetan
2. Kriteria eksklusi
- Sampel yang tidak mengikuti pertemuan kader
- Sampel yang tidak bersedia mengisi kuisioner
Jadi total sampel dalam mini project ini adalah 50 orang
3.1.3

Waktu dan Tempat Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan ketika kegiatan pertemuan kader Posyandu Kelurahan

Sananwetan yaitu tanggal 30 Mei 2015 bertempat di Ruang Pertemuan Kelurahan


Sananwetan
3.1.4

Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data pada mini project ini adalah kuisioner, yang terdiri atas

data tentang pengetahuan terkait definisi, tanda dan gejala, komplikasi serta pencegahan
diare
3.1.5

Cara Pengumpulan Data

Semua jenis data yang dikumpulkan pada mini project ini adalah data berupa hasil
intervensi. Pengumpulan data yang dilakukan dengan pengisian kuesioner dengan langkahlangkah sebagai berikut:
a. Pelaksana dalam hal ini dokter internship Puskesmas Sananwetan meminta persetujuan
responden untuk melakukan pengisian kuesioner.
b. Memberikan penjelasan tentang tujuan pengumpulan data dan sifat keikutsertaan
responden dalam hal ini.

31

c. Membagikan

kuesioner

kepada

responden

yaitu

kader

Posyandu

Kelurahan

Sananwetan.
d. Memberikan penjelasan kepada responden pada masing-masing pertanyaan yang belum
jelas dan mendampingi selama pengisian kuesioner.
e. Kuesioner yang telah diisi, dikumpulkan dan diperiksa kelengkapannya.
3.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi
3.2.1 Metode Intervensi
Metode intervensi yang digunakan dalam mini project ini adalah penyuluhan group
discussion dengan alat bantu slide dengan kuesioner yang dibagikan sebelumnya.
Kuesioner akan diberikan dalam bentuk soal pilihan ganda.
3.2.2

Petugas Penyuluhan

Petugas penyuluhan dari kegiatan mini project ini adalah :


1. Dokter Internship Puskesmas Sananwetan periode Februari-Juni 2015 dalam hal ini dr.
Azhar Firman Sudjatmoko selaku narasumber.
2. Petugas kesehatan lain dari Puskesmas Sananwetan
3.2.3

Lokasi dan Waktu Penyuluhan


Kegiatan mini project ini bertempat di Ruang Pertemuan Kelurahan Sananwetan.

Pelaksanaan pada tanggal 30 Mei 2015, pukul 10.00-12.00 WIB.


3.2.4

Sasaran Penyuluhan
Sasaran kegiatan mini project ini adalash kader Posyandu Kelurahan
Sananwetan

32

BAB IV
HASIL
Berdasarkan hasil test yang diperoleh dari total lima puluh orang
subjek, ditemukan komposisi nilai sebagai berikut.

Perbandingan Nilai pada Tes Pengetahuan mengenai Diare

Nilai 60

Nilai 70

Nilai 90

Nilai 100

Nilai 0

Berdasarkan hasil test, nilai terendah didapatkan pada komponen


untuk mengenali pengertian dasar dari diare.

Rerata Nilai Tiap Komponen Test


Pencegahan

Komplikasi

Sign Symptom

Definisi
88

89

90

91

92

93

94

95

Berikut grafik komposisi nilai dalam komponen definisi diare.

33

Perbandingan Nilai pada Tes Pengetahuan mengenai Definisi Diare

Nilai 0 Nilai 50 Nilai 100

Komponen

berikutnya,

yakni

etiologi,

menunjukkan

pemahaman

peserta yang cukup baik.

Perbandingan Nilai pada Tes Pengetahuan mengenai Etiologi Diare

Nilai 0 Nilai 66 Nilai 100

Komponen berikutnya, yakni komplikasi, menunjukkan pemahaman


peserta yang juga cukup baik.

34

Perbandingan Nilai pada Tes Pengetahuan mengenai Komplikasi Diare

Nilai 0 Nilai 66 Nilai 100

Komponen terakhir, yakni penanganan sederhana, menunjukkan


pemahaman peserta yang juga cukup baik.

Perbandingan Nilai pada Tes Pengetahuan mengenai Penanganan Awal Diare

Nilai 100 Nilai 50 Nilai 0

35

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan, maka dapat


disimpulkan bahwa:
Tingkat pengetahuan para kader kesehatan Kelurahan Sanan Wetan
sudah cukup memadai untuk melakukan sosialisasi terhadap warga
sekitar. Meskipun begitu terdapat peserta yang masih belum
memahami sepenuhnya tentang penangan awal, komplikasi, etiologi
dan definisi diare.
Perlu dilakukan evaluasi secara berkala untuk menjaga dan
meningkatkan pengetahuan para kader kesehatan Kelurahan Sanan
Wetan antara lain dengan melakukan penyuluhan berkala dan
penilaian rutin perkembangan pengetahuan para kader kesehatan
mengenai diare.

36

DAFTAR PUSTAKA
1.

Kandun NI. Upaya pencegahan diare ditinjau dari aspek kesehatan masyarakat dalam
kumpulan makalah Kongres nasional II BKGAI juli 2003 hal 29

2.

Barkin RM Fluid and Electrolyte Problems. Problem Oriented Pediatric Diagnosis Little
Brown and Company 1990;20 23.

3.

Booth IW, CuttingWAM. Current Concept in The Managemnt of Acute in Children Postgraad
Doct Asia 1984 : Dec : 268 274

4.

Coken MB Evaluation of the child with acute diarrhea dalam:Rudolp AM,Hofman JIE,Ed
Rudolp?s pediatrics: edisi ke 20 USA 1994 : prstice Hall international,inc hal 1034-36

5.

Irwanto,Roim A, Sudarmo SM.Diare akut anak dalam ilmu penyakit anak diagnosa dan
penatalaksanaan ,Ed Soegijanto S : edisi ke 1 jakarta 2002 : Salemba Medika hal 73-103

6.

Barnes GL,Uren E, stevens KB dan Bishop RS Etiologi of acute Gastroenteritis in


Hospitalized Children in Melbourne, Australia,from April 1980 to March 1993 Journal of
clinical microbiology, Jan 1998,p,133-138

7.

Departemen kesehatan RI Profil Kesehatan Indonesia 2001. Jakarta 2002

8.

Lung E. Acute diarrheal Diseases dalam Current diagnosis abd treatment in


gastroenterology.Ed.Friedman S ; edisi ke 2 New Tork 2003 :McGraw Hill,hal 131-49

9.

Firmansyah A. Terapi probiotik dan prebiotik pada penyakit saluran cerna. dalam Sari
pediatric Vol 2,No. 4 maret 2001

10.

Subijanto MS,Ranuh R, Djupri Lm, Soeparto P. Managemen disre pada bayi dan anak.
Dikutip dari URL : http://www.pediatrik.com/

11.

Dwipoerwantoro PG.Pengembangan rehidrasi perenteral pada tatalaksana diare akut dalam


kumpulan makalah Kongres Nasional II BKGAI Juli 2003

12.

Ditjen PPM dan PLP, 1999, Tatalaksana Kasus Diare Departemen Kesehatan RI hal 24-25

13.

Sinuhaji AB Peranan obat antidiare pada tatalaksana diare akut dalam kumpulan makalah
Kongres Nasional II BKGAI juli 2003

14.

Rohim A, Soebijanto MS. Probiotik dan flora normal usus dalam Ilmu penyakit anak
diagnosa dan penatalaksanaan . Ed Soegijanto S. Edisi ke 1 Jakarta 2002 Selemba Medika hal
93-103

15.

Suharyono.Terapi nutrisi diare kronik Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan ilmu Kesehatan


Anak ke XXXI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1994

16.

Ditjen PPM&PLP Depkes RI.Tatalaksana Kasus Diare Bermaslah. Depkes RI 1999 ; 31

37

38