Anda di halaman 1dari 41

MINI PROJECT

GAMBARAN PENGETAHUAN MENGENAI


DETEKSI DAN INTERVENSI DINI GIZI BURUK ANAK PADA KADER
KESEHATAN KELURAHAN SANAN WETAN, KOTA BLITAR
PROVINSI JAWA TIMUR

Disusun oleh:
Dr Bayu Primahatmaja

Pembimbing:

Dr Nunik

Puskesmas Sanan Wetan


Kota Blitar, Jawa Timur
Program Dokter Internship Periode Februari 2015 Februari 2016

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL......................................................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................................................

1. PENDAHULUAN....................................................................................................................
1.1. Latar Belakang...................................................................................................................
1.2.Rumusan Masalah...............................................................................................................
1.3.Tujuan.................................................................................................................................
1.3.1.............................................................................................................Tujuan Umum
4
1.3.2............................................................................................................Tujuan Khusus
4
1.4.Manfaat...............................................................................................................................
1.4.1..................................................................................................Manfaat bagi Penulis
4
1.4.2............................................................................................Manfaat bagi Puskesmas
5
1.4.3...........................................................................................Manfaat bagi Masyarakat
5
2. TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................................................
2.1.Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas ).......................................................................
2.1.1.Gambaran Umum Puskesmas...................................................................................
2.1.2.Profil Puskesmas Murung Pudak..............................................................................
3. METODOLOGI.....................................................................................................................
3.1.Identifikasi Penyebab Masalah.........................................................................................
3.2. A
n
a
l
i
s

i
s
M
a
s
a
l
a
h
.......
2
4
4. PEMECAHAN MASALAH..................................................................................................
4.1.Intervensi Pemecahan Masalah Berdasarkan Penyebab Masalah....................................
4.2.Perincian Intervensi Pemecahan Masalah........................................................................
LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya
dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah
dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Menurut Departemen Kesehatan
(2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 27,5% (5 juta balita kurang gizi), 3,5 juta anak
(19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan 1,5 juta anak gizi buruk (8,3%). WHO (1999)
mengelompokkan wilayah berdasarkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok

yaitu: rendah (di bawah 10%), sedang (10-19%), tinggi (20-29%), sangat tinggi (30%).4,5
Gizi buruk masih merupakan masalah di Indonesia, walaupun Pemerintah
Indonesia telah berupaya untuk menanggulanginya. Data Dusenas menunjukkan bahwa
jumlah balita yang BB/U < -3 SD Z-score WHO-NCHS sejak tahun 1989 meningkatkan
dari 6,3 % menjadi 7,2 % tahun 1992 dan mencapai puncaknya 11,6% pada tahun 1995.
Upaya Pemerintah antara lain melalui pemberian makanan tambahan dalam jaringan
pengaman sosial (JPS) dan peningkatan pelayanan gizi melalui pelatihan-pelatihan
tatalaksana gizi buruk kepada tenaga kesehatan, berhasil menurunkan angka gizi buruk
menjadi 10,1% pada tahun 1998, 8,1% pada tahun 1999, dan 6,3% tahun 2001. Namun
pada tahun 2002 terjadi peningkatan kembali 7% dan pada tahun 2003 menjadi 8,15%.4,7
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dan Laporan Survei Departemen
Kesehatan-Unicef tahun 2005, dari 343 kabupaten/kota di Indonesia penderita gizi buruk
sebanyak 169 kabupaten/kota tergolong prevalensi sangat tinggi dan 257 kabupaten/kota
lainnya prevalensi tinggi. Dari data Depkes juga terungkap masalah gizi di Indonesia
ternyata lebih serius dari yang kita bayangkan selama ini. Gizi buruk atau anemia gizi
tidak hanya diderita anak balita, tetapi semua kelompok umur. Perempuan adalah yang
paling rentan, disamping anak-anak. Sekitar 4 juta ibu hamil, setengahnya mengalami
anemia gizi dan satu juta lainnya kekurangan energi kronis (KEK). Dalam kondisi itu,
rata-rata setiap tahun lahir 350.000 bayi lahir dengan kekurangan berat badan (berat
badan rendah).4
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai ujung tombak pelayanan
kesehatan masyarakat merupakan salah satu tataran pelaksanaan pendidikan dan
pemantauan kesehatan masyarakat. Pemantauan dan deteksi tumbuh kembang anak,
termasuk di dalamnya ganguan gizi, pada usia dini merupakan bagian dari tugas tenaga
kesehatan puskesmas di wilayah kerjanya masing-masing. Apabila tidak dilakukan
pemantauan dan dan deteksi tumbuh kembang anak usia dini secara benar dan cermat,
maka disfungsi tersebut dimungkinkan akan menjadi kelainan permanen pada diri anak.
1,2,3

Mengingat pentingnya tugas tenaga kesehatan puskesmas dalam pemantauan dan


deteksi gizi buruk pada anak, maka pemahaman dan keterampilan setiap petugas tenaga
kesehatan puskesmas dalam konsep teknis deteksi dan intervensi dini gizi buruk anak

menjadi sangat penting. Atas latar belakang tersebut dilaksanakan mini project sosialisasi
dan pelatihan deteksi dan intervensi gizi buruk pada anak kepada kader kesehatan di
Kelurahan Sanan Wetan. Melalui upaya tersebut diharapkan puskesmas sebagai ujung
tombak pelayanan kesehatan masyarakat dapat turut mempersiapkan anak Indonesia
menjadi calon generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, tangguh dan berbudi luhur.

1.2 Rumusan Masalah


-

Bagaimana gambaran pengetahuan kader kesehatan terkait gizi buruk di Puskesmas


Sananwetan?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
-

Peningkatan

kualitas

pelayanan

kesehatan

masyarakat

di

Puskesmas Sanan Wetan.


1.3.2 Tujuan Khusus
-

Mengetahui gambaran pengetahuan kader kesehatan terkait diabetes mellitus di

Puskesmas Sananwetan?
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi Penulis
-

Berperan serta dalam upaya deteksi dan intervensi dini gizi buruk.
Mengaplikasikan pengetahuan mengenai program deteksi dan

intervensi dini gizi buruk.


Melaksanakan mini project dalam rangka program internship dokter
Indonesia

1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas


-

Menambah

pemahaman

para

tenaga

kesehatan

puskesmas

mengenai karakteristik dan deteksi gizi buruk.


-

Sebagai

bahan

evaluasi

bagi

Puskesmas

Sananwetan

tentang

gambaran

pengetahuan para kader kesehatan mengenai gizi buruk.

1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat


-

Masyarakat terfasilitasi dalam program deteksi dan intervensi dini gizi buruk pada
anak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Gizi buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks berat
badan menurut umur (BB/U) yang merupakan padanan istilah severely
underweight (Kemenkes RI, 2011), sedangkan menurut Depkes RI
2008, keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks
berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) <-3 SD dan atau ditemukan
tanda-tanda

klinis

marasmus,

kwashiorkor

dan

marasmus-

kwashiorkor.1,4
2. Epidemiologi
Gizi buruk masih merupakan masalah di Indonesia, walaupun
Pemerintah Indonesia telah berupaya untuk menanggulanginya. Data
Susenas menunjukkan bahwa jumlah balita yang BB/U <-3SD Z-score
WHO-NCHS sejak tahun 1989 meningka tdari 6,3% menjadi 7,2%
tahun 1992 dan mencapai puncaknya 11,6 % padatahun 1995. Upaya
pemerintahan tara lain melalui Pemberian Makanan Tambahan dalam
Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan peningkatan pelayanan gizi melalui
pelatihan-pelatihan Tatalaksana Gizi Buruk kepada tenaga kesehatan,
berhasil

menurunkan angka gizi buruk menjadi 10,1 % pada tahun

1998; 8,1% tahun 1999 dan 6,3 % tahun 2001. Namun pada tahun
2002 terjadi peningkatan kembali menjadi 8% dan pada tahun 2003
menjadi 8,15 %. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa anak gizi
buruk dengan gejala klinis (marasmus, kwashiorkor, marasmuskwashiorkor) umumnya disertai dengan penyakit infeksi seperti diare,
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Tuberkulosis (TB) serta penyakit
infeksi lainnya. Data dari WHO menunjukkan bahwa 54 % angka
kesakitan pada balita disebabkan karena gizi buruk, 19 % diare, 19%
ISPA, 18% perinatal, 7% campak, 5% malaria dan 32 % penyebab lain.5
Masalah gizi pada anak balita di Indonesia telah mengalami
perbaikan. Hal ini dapat dilihat antara lain dari penurunan prevalensi
gizi buruk pada anak balita dari 5,4% pada tahun 2007 menjadi 4,9%
6

pada tahun 2010. Meskipun terjadi penurunan, tetapi jumlah nominal


anak gizi buruk masih relatif besar.
3. Klasifikasi Gizi Buruk
Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor, dan
marasmus-kwashiorkor. Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-ciri
atau tanda klinis dari masing-masing tipe yang berbeda-beda.
3.1. Marasmus
Gambaran klinik marasmus berasal dari masukan kalori yang
tidak cukup karena diet yang tidak cukup, karena kebiasaan makan
yang tidak tepat seperti mereka yang hubungan orangtua-anak
terganggu,
congenital.

atau

karena

Gangguan

kelainan
berat

metabolic

setiap

atau

system

malformasi

tubuh

dapat

mengakibatkan malnutrisi.6
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat.
Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut),
tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah
kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan
pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak
tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan,
karena masih merasa lapar. Berikut adalah gejala pada marasmus
adalah : Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar
lemak serta otot-ototnya, tinggal tulang terbungkus kulit, wajah
seperti orang tua, Iga gambangm perut cekung, otot paha mengendor
(baggy pant), cengeng, rewel dan setelah mendapat makan anak
masih terasa lapar
3.2 Kwashiorkor
Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger
baby),

bilamana

dietnya

mengandung

cukup

energi

disamping

kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya terutama


dipantatnya terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau
edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh.

Walaupun

defisiensi

kalori

dan

nutrien

lain

mempersulit

gambaran klinik dan kimia, gejala utama malnutrisi protein disebabkan


karena masukan protein tidak cukup bernilai biologis baik. Dapat juga
karena penyerapan protein terganggu, seperti pada keadaan diare
kronik, kehilangan protein abnormal pda proteinuria (nefrosis), infeksi,
perdarahan atau luka bakar, dan gagal mensintesis protein, seperti
pada penyakit hati kronik .6
Kwashiorkor merupakan sindrom klinis akibat dari defisiensi
protein berat dan masukan kalori tidak cukup. Dari kekurangan
masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka
metabolik yang disebabkan oleh infeksi kronik, akibat defisiensi
vitamin dan mineral dapat turut menimbulkan tanda-tanda dan gejalagejala tersebut. Bentuk malnutrisi yang paling serius dan paling
menonjol di dunia saat ini terutama berada di daerah industri belum
bekembang.6
Bentuk klinik awal malnutrisi protein tidak jelas tetapi meliputi
letargi, apatis atau iritabilitas. Bila terus berlanjut, mengakibatkan
pertumbuhan tidak cukup, kurang stamuna, kehilangan jaringan
muskuler, meningkatnya kerentanan terhadap infeksi, dan udem.
Imunodefisiensi sekunder merupakan salah satu dari manifestasi yang
paling serius dan konstan. Pada anak dapat terjadi anoreksia,
kekenduran jaringan subkutan dan kehilangan tonus otot. Hati
membesar dapat terjadi awal atau lambat, sering terdapat infiltrasi
lemak. Udem biasanya terjadi awal, penurunan berat badan mungkin
ditutupi oleh udem, yang sering ada dalam organ dalam sebelum
dapat dikenali pada muka dan tungkai. Aliran plasma ginjal, laju filtrasi
glomerulus, dan fungsi tubuler ginjal menurun. Jantung

mungkin kecil

pada awal stadium penyakit tetapi biasanya kemudian membesar.


Pada kasus ini sering terdapat dermatitis. Penggelapan kulit tampak
pada daerah yang teriritasi tetapi tidak ada pada daerah yang
terpapar sinar matahari. Dispigmentasi dapat terjadi pada daerah ini
sesudah deskuamasi atau dapat generalisata. Rambut sering jarang

dan tipis dan kehilangan sifat elastisnya. Pada anak yang berambut
hitam, dispigmentasi menghasilkan corak merah atau abu-abu pada
warna rambut (hipokromotrichia) .6
Infeksi dan infestasi parasit sering ada, sebagaimana halnya
anoreksia, mual, muntah, dan diare terus menerus. Otot menjadi
lemah, tiois, dan atrofi, tetapi kadang-kadang mungkin ada kelebihan
lemak subkutan. Perubahan mental, terutama iritabilitas dan apati
sering ada. Stupor, koma dan meninggal dapat menyertai.6
Ciri-ciri dari kwashiorkor secara garis besar adalah perubahan
status

mental

cengeng,

rewel,

kadang

apatis,

rambut

tipis

kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut, pada


penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala kusam,
wajah

membulat

dan

sembab,

pandangan

mata

anak

sayu,

pembesaran hati, hati yang membesar dengan mudah dapat diraba


dan terasa kenyal pada rabaan permukaan yang licin dan pinggir yang
tajam serta kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas
dan berubah menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
3.3 Marasmik-Kwashiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala
klinik kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup
mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang
normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan
< 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor, seperti
edema,

kelainan

rambut,

kelainan

kulit,

sedangkan

kelainan

biokimiawi terlihat pula.4


4. Etiologi
Menurut Hasaroh, (2010) masalah gizi pada balita dipengaruhi
oleh berbagai faktor, baik faktor penyebab langsung maupun faktor
penyebab tidak langsung. Menurut Depkes RI (1997) dalam Mastari
(2009), faktor penyebab langsung timbulnya masalah gizi pada balita
adalah penyakit infeksi serta kesesuaian pola konsumsi makanan
9

dengan kebutuhan anak, sedangkan faktor penyebab tidak langsung


merupakan faktor sepertitingkat sosial ekonomi, pengetahuan ibu
tentang kesehatan, ketersediaan pangan ditingkat keluarga, pola
konsumsi, serta akses ke fasilitas pelayanan. Selain itu, pemeliharaan
kesehatan juga memegang peranan penting. Di bawah ini dijelaskan
beberapa faktor penyebab tidak langsung masalah gizibalita.
4.1. Tingkat Pendapatan Keluarga.
Tingkat penghasilan ikut menentukan jenis pangan apa yang
disediakan untuk

konsumsi balita

serta

kuantitas

ketersediaannya.

Pengaruh peningkatan penghasilan terhadap perbaikan kesehatan dan


kondisi keluarga lain yang mengadakan interaksi dengan status gizi yang
berlawanan hampir universal.
Selain itu diupayakan menanamkan pengertian kepada para orang
tua dalam hal memberikan makanan anak dengan cara yang tepat dan
dalam kondisi yang higienis.
4.2 Tingkatan Pengetahuan Ibu tentang Gizi.
Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan
gizi didasarkan

pada tiga kenyataan yaitu: status gizi cukup adalah

penting bagi kesehatan serta kesejahteraan, setiap orang hanya akan


cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat
gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal dan ilmu
gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat
belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi.
Pengetahuan gizi yang baik akan menyebabkan seseorang
mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. Semakin
banyak

pengetahuan

gizi

seseorang,maka

ia

akan

semakin

memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk


dikonsumsi.
Pengetahuan gizi yang dimaksud disini termasuk pengetahuan
tentang penilaian status gizi balita. Dengan demikian ibu bias lebih

10

bijak menanggapi tentang masalah yang berkaitan dengan gangguan


status gizi balita.
4.3 Tingkatan Pendidikan Ibu.
Pendidikan ibu merupakan faktor yang sangat penting. Tinggi
rendahnya tingkat pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat
pengetahuan terhadap perawatan kesehatan, kebersihan pemeriksaan
kehamilan dan pasca persalinan, serta kesadaran terhadap kesehatan
dan gizi anak-anak dan keluarganya. Disamping itu pendidikan
berpengaruh

pula

pada

factor

social

ekonomi

lainnya

seperti

pendapatan, pekerjaan, kebiasaan hidup, makanan, perumahan dan


tempat tinggal.
Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya
seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka
peroleh. Hal ini bias dijadikan landasan untuk membedakan metode
penyuluhan yang tepat. Dari kepentingan gizi keluarga, pendidikan
diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah
gizi di dalam keluarga dan bias mengambil tindakan secepatnya.
Tingkat pendidikan ibu banyak menentukan sikap dan tindaktanduk menghadapi berbagai masalah, missal memintakan vaksinasi
untuk anaknya, memberikan oralit waktu diare, atau kesediaan
menjadi peserta KB. Anak-anak dari ibu yang mempunyai latar
pendidikan lebih tinggi akan mendapat kesempatan hidup serta
tumbuh lebih baik. Keterbukaan mereka untuk menerima perubahan
atau hal baru guna pemeliharaan kesehatan anak maupun salah satu
penjelasannya.
4.4. Akses Pelayanan Kesehatan.
Sistem

akses

kesehatan

mencakup

pelayanan

kedokteran

(medical service)dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health


service).

Secara

umum

akses

kesehatan

masyarakat

adalah

merupakan subsistem akses kesehatan, yang tujuan utamanya adalah


pelayanan

preventif

(pencegahan)

dan

promotif

(peningkatan
11

kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Meskipun demikian, tidak


berarti

bahwa

akses

kesehatan

masyarakat

tidak

melakukan

pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan).


Upaya akses kesehatan dasar diarahkan kepada peningkatan
kesehatan danstatus gizi pada golongan rawan gizi seperti pada
wanita hamil, ibu menyusui, bayi dan anak-anak kecil, sehingga dapat
menurunkan angka kematian. Pusat kesehatan yang paling sering
melayani masyarakat, membantu mengatasi dan mencegah gizi
kurang melalui program-program pendidikan gizi dalam masyarakat.
Akses kesehatan yang selalu siap dan dekat dengan masyarakat akan
sangat membantu meningkatkan derajat kesehatan. Dengan akses
kesehatan

masyarakat

yang

optimal

kebutuhan

kesehatan

dan

pengetahuan gizi masyarakat akan terpenuhi.


4.4. Diagnosis
Diagnosis gizi buruk dapat diketahui melalui gejala klinis,
antropometri dan pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis gizi buruk
berbeda-beda tergantung dari derajat dan lamanya deplesi protein
dan energi, umur penderita, modifikasi disebabkan oleh karena adanya
kekurangan vitamin dan mineral yang menyertainya. Gejala klinis gizi
buruk ringan dan sedang tidak terlalu jelas, yang ditemukan hanya
pertumbuhan

yang

kurang

seperti

berat

badan

yang

kurang

dibandingkan dengan anak yang sehat.2


Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta
pengukuran antropometri. Anak didiagnosis gizi buruk apabila: BB/TB
kurang dari -3SD (marasmus). e dema pada kedua punggung kaki
sampai seluruh tubuh(kwashiorkor : BB/TB > -3SD atau marasmikkwashiorkor : BB/TB < -3SD.
Jika BB/TB ata BB/PB tidak dapat diukur dapat digunakan tanda
klinis berupa anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan
tidak mempunyai jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua

12

bahu lengan pantat dan pah; tulang iga terlihat jelas dengan atau
tanpa adanya edema.7
5. Alur dan Penatalaksanaan Gizi Buruk
5.1. Deteksi Dini
Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dapat dilakukan pada semua tingkat
pelayanan. Deteksi dini ini dilakukan dengan mengukur tinggi badan, berat badan, dan
lingkar kepala. Adapun pelaksana dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut : 1,3
Tingkat Pelayanan
Keluarga
Masyarakat

Pelaksana

Alat yang Digunakan

Orang tua
KMS
Kader kesehatan
Timbangan dacin
Petugas PADU, BKB, TPA,
dan guru TK
Dokter
Tabel BB/TB
Bidan
Grafik LK
Perawat
Timbangan
Ahli Gizi
Alat ukur tinggi badan
Petugas Lainnya
Pita pengukur lingkar kepala

Puskesmas

Keterangan:
PADU

: Pendidikan Anak Usia Dini

BKB

: Bina Keluarga Balita

TPA

: Tempat Penitipan Anak

TK

: Taman Kanak-Kanak

LK

: Lingkar Kepala

Tabel 5. Pelaksana dan Alat yang Digunakan pada Deteksi Dini Pertumbuhan
Diambil dari: Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi
Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI, 2006. Hal. 41

A. Pengukuran Berat Badan Terhadap Tinggi Badan ( BB/TB )


Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak, normal,
kurus, kurus sekali atau gemuk.Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal
deteksi dini tumbuh kembang anak ( DDTK ). Pengukuran dan penilaian BB/TB
dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.

3,7

13

- Pengukuran Berat Badan/BB :


o Menggunakan timbangan bayi
Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun

atau selama anak masih bisa berbaring/duduk tenang.


Letakan timbangan pada meja yang datar dan tidak mudah bergoyang
Lihat posisi jarum atau angka harus merujuk ke angka 0
Bayi sebaiknya telanjang, tanpa topi, kaus kaki, sarung tangan
Baringkan bayi dengan hati-hati diatas timbangan
Lihat jarum timbangan sampai berhenti
Baca angka yang ditunjukan oleh jarum timbanngan atau angka timbangan
Jika bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di
tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan kekiri

o Menggunakan timbangan injak


Letakan timbangan di lantai yang datar sehingga tidak mudah bergerak
Lihat posisi jarum atau angka harus merujuk ke angka 0
Anak sebaiknya memakai baju sehari-hari yang tipis, tidak memakai alas

kaki, jaket, topi, jam tangan, kalung, dan tidak memegang sesuatu
Anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegangi
Lihat jarum timbangan sampai berhenti
Baca angka yang ditunjukan oleh jarum timbangan atau angka timbangan
Jika anak terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di
tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri.

- Pengukuran panjang badan (PB) atau Tinggi Badan (TB)


o Cara mengukur dengan posisi berbaring
Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang
Bayi dibaringkan terlentang pada alas yang datar
Kepala bayi menempel pada angka 0
Petugas 1 : kedua tangan memegang kepala bayi agar tetap menempel pada

pembatas angka 0 ( pembatas kepala )


Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi agar lurus, tangan kanan

meluruskan batas kaki ke telapak kaki


Petugas 2 membaca angka di tepi luar pengukur

14

Gambar 1. Posisi

anak dan petugas

ketika dilakukan

pengukuran

panjang badan

Cara
mengukur
dengan
Anak tidak memakai

posisi berdiri
sandal
atau
sepatu

Berdiri tegak menghadap kedepan


Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur
Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun

Baca angka pada batas tersebut

Gambar 2. Posisi berdiri anak saat diukur tinggi badan

o Penggunaan Tabel BB/TB ( Direktorat Gizi Masyarakat )


Ukur tinggi/panjang dan timbang berat badan anak, sesuai cara di atas
Lihat kolom tinggi/panjang badan anak yang sesuai dengan hasil pengukuran
Pilih kolom berat badan untuk laki-laki ( kiri ) atau perempuan ( kanan ) sesuai jenis
kelamin anak, cari angka berat badan yang terdekat dengan berat badan anak
Dari angka berat bdan tersebut, lihat bagian atas kolom untuk mengetahui angka
standar deviasi ( SD )
Interpretasi :
Normal
: -2 SD s/d 2 SD atau Gizi baik
Kurus
: < -2 SD s/d -3 SD atau Gizi kurang
15

Kurus sekali : < -3 SD atau Gizi buruk


Gemuk
: > 2 SD atau Gizi lebih
B. Pengukuran Lingkaran Kepala Anak ( LKA )
Pengukuran lingkar kepala anak dalah cara yang biasa dipakai untuk
mengetahui perkembangan otak anak. Biasanya besar tengkorak mengikuti
perkembangan otak, sehingga jika ada hambatan pada perkembangan tengkorak maka
perkembangan otak anak juga terhambat. LKA dapat dipakai sebagai salah satu alat
pemantau perkembangan kecerdasan anak. 7
Tujuan pengukuran LKA adalah untuk mengetahui lingkaran kepala anak
dalam batas normal atau diluar batas normal. Jadwal disesuaikan dengan umur anak.
Umur 0-11 bulan, pengukuran dilakukan setiap tiga bulan. Pada anak yang lebih besar
umur 12-27 bulan, pengukuran dilakukan setiap enam bulan. Pengukuran dan
penilaian lingkaran kepala anak dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. 7
o Cara mengukur lingkar kepala anak
Alat pengukur dilingkarkan pada kepala anak melewati dahi, menutupi alis
mata, diatas kedua telinga, dan bagian belakang kepala yang menonjol, tarik

agak kencang.
Baca angka pada pertemuan dengan angka 0
Tanyakan tanggal lahir bayi / anak, hitung umur bayi / anak
Hasil pengukuran dicatat pada grafik lingkaran kepala menurut umur dan
jenis kelamin anak

Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran
sekarang

Gambar 3. Cara Pengukuran

Lingkar Kepala
Anak

Interpretasi :

Jika ukuran lingkaran kepala anak berada di dalam jalur hijau maka lingkaran
kepala anak normal

16

Jika ukuran lingkaran kepala anak berada diluar jalur hijau maka lingkaran kepala

anak tidak normal


Lingkaran kepala anak tidak normal ada 2, yaitu makrosefal jika berada diatas jalur
hijau dan mikrosefal jika berada dibawah jalur hijau.

Intervensi :

Jika ditemukan makrosefal maupun mikrosefal segera dirujuk ke rumah sakit

2.5.2 Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan Anak


Deteksi ini dilakukan di semua tingkat pelayanan. Adapun pelaksana dan alat yang
digunakan adalah sebagai berikut : 1
Tingkat Pelayanan
Keluarga
Masyarakat

Puskesmas

Pelaksana

Alat yang Digunakan

Orang tua
Buku KIA
Kader kesehatan, BKB, TPA
Petugas Pusat PADU terlatih KPSP
Guru TK terlatih
TDL
TDD
Dokter
KPSP
Bidan
TDL
Perawat
TDD

Keterangan:
PADU

: Pendidikan Anak Usia Dini

BKB

: Bina Keluarga Balita

TPA

: Tempat Penitipan Anak

TK

: Taman Kanak-Kanak

KIA

: Kesehatan Ibu dan Anak

KPSP

: Kuesioner Pra Skrining Perkembangan

TDL

: Tes Daya Lihat

TDD

: Tes Daya Dengar


Tabel 6. Pelaksana dan Alat yang Digunakan pada Deteksi Dini Pertumbuhan

Diambil dari: Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan
Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI, 2006. Hal. 41

17

o Skrining Perkembangan
Menurut batasan WHO, skrining adalah prosedur yang relatif cepat, sederhana
dan murah untuk populasi yang asimtomatik tetapi mempunyai risiko tinggi atau
dicurigai mempunyai masalah. Blackman (1992) menganjurkan agar bayi atau anak
dengan risiko tinggi (berdasarkan anamnesis atau pemeriksaan fisik rutin) harus
dilakukan skrining perkembangan secara periodik. Sedangkan bayi atau anak dengan
risiko rendah dimulai dengan kuesioner praskrining yang diisi atau dijawab oleh
orangtua. Bila dari kuesioner dicurigai ada gangguan tumbuh kembang dilanjutkan
dengan skrining. 1,3
A. Skrining/ Pemeriksaan Perkembangan Anak Menggunakan Kuesioner Pra
Skrining Perkembangan ( KPSP )
Kuesioner ini diterjemahkan dan dimodifikasi dari Denver Prescreening
Developmental Questionnaire (PDQ) oleh tim Depkes RI yang terdiri dari beberapa
dokter spesialis anak, psikiater anak, neurolog, THT, mata dan lain-lain pada tahun 1986.
Tujuan skrining / pemeriksaan perkembangan anak menggunakan KPSP adalah untuk
mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. 1,6
Jadwal skrining / pemeriksaan KPSP adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24,
30,36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72 bulan. Jika anak belum mencapai umur skrining tersebut,
minta ibu datang kembali pada umur skrining yang terdekat untuk pemeriksaan rutin.
Misalnya bayi umur 7 bulan, diminta datang kembali untuk skrining pada umur 9 bulan.
Apabila orang tua datang dengan keluhan anaknya mempunyai masalah tumbuh
kembang sedangkan umur anak bukan umur skrining maka pemeriksaan menggunakan
KPSP untuk umur skrining terdekat yang lebih muda. 6
o Alat / instrument yang digunakan adalah :

Formulir KPSP menurut umur, berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan


perkembangan yang telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur 0-72 bulan.

Alat Bantu pemeriksaan berupa : pensil, kertas, bola sebesar bola tennis, kerincingan,
kubus berukuran sisi 2,5 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah, potongan biscuit
kecil berukuran 0,5-1 cm.

Cara menggunakan KPSP : 1

18

Pada waktu pemeriksaan / skrining, anak harus dibawa.

Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir.Bila
umur anak lebih dari 16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan. Contoh : bayi umur 3 bulan
16 hari, dibulatkan menjadi 4 bulan. Bila umur bayi 3 bulan 15 hari dibulatkan
menjadi 3 bulan.

Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak.

KPSP terdiri dari 2 macam pertanyaan, yaitu:Pertanyaan yang dijawab oleh


ibu/pengasuh anak, contoh: Dapatkah bayi makan kue sendiri?

Perintahkan kepada ibu/pengasuh anak atau petugas untuk melaksanakan tugas yang
tertulis pada KPSP. Contoh: Pada posisi bayi anda telentang, tariklah bayi anda pada
pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke posisi duduk.

Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab, oleh karena itu
pastikan ibu/pengasuh anak mengerti apa yang ditanyakan kepadanya.

Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu persatu. Setiap pertanyaan hanya
ada 1 jawaban, Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut pada formulir.

Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh anak menjawab pertanyaan.

Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.

o Interpretasi hasil KPSP : 1

Hitunglah berapa jawaban Ya.


-

Jawaban Ya : Bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak bisa atau pernah atau

sering atau kadang-kadang melakukannya.


Jawaban Tidak : Bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak belum pernah
melakukan atau tidak pernah atau ibu/pengasuh anak tidak tahu.

Jumlah jawaban Ya = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap


perkembangannya (S)

Jumlah jawaban Ya =7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M)

Jumlah jawaban 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P)

Untuk jawaban Tidak, perlu dirinci jumlah jawaban tidak menurut jenis
keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan
kemandirian).
19

5.2 Pengobatan
Dalam proses pengobatan KEP berat terdapat 3 fase, adalah fase
stabilisasi, fase transisi dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus
trampil memilih langkah mana yang cocok untuk setiap fase.
Tatalaksana ini digunakan baik pada penderita kwashiorkor, marasmus
maupun marasmik-kwarshiorkor.
1. Tahap Penyesuaian
Tujuannya adalah menyesuaikan kemampuan pasien menerima
makanan hingga ia mampu menerima diet tinggi energi dan tingi
protein (TETP). Tahap penyesuaian ini dapat berlangsung singkat,
adalah selama 1-2 minggu atau lebih lama, bergantung pada
kemampuan pasien untuk menerima dan mencerna makanan. Jika
berat badan pasien kurang dari 7 kg, makanan yang diberikan berupa
makanan bayi. Makanan utama adalah formula yang dimodifikasi.
Contoh: susu rendah laktosa +2,5-5% glukosa +2% tepung. Secara
berangsur ditambahkan makanan lumat dan makanan lembek. Bila
ada, berikan ASI.
Jika berat badan pasien 7 kg atau lebih, makanan diberikan
seperti makanan untuk anak di atas 1 tahun. Pemberian makanan
dimulai dengan makanan cair, kemudian makanan lunak dan makanan
biasa, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Pemberian energi dimulai dengan 50 kkal/kg berat badan
sehari.
b. Jumlah cairan 200 ml/kg berat badan sehari.
c. Sumber protein utama adalah susu yang diberikan secara
bertahap dengan keenceran 1/3, 2/3, dan 3/3, masing-masing tahap
selama 2-3 hari. Untuk meningkatkan energi ditambahkan 5% glukosa,
dan

20

d. Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering, adalah 8-10


kali sehari tiap 2-3 jam.
Bila konsumsi per-oral tidak mencukupi, perlu diberi tambahan
makanan lewat pipa (per-sonde)
2. Tahap Penyembuhan
Bila nafsu makan dan toleransi terhadap makanan bertambah
baik, secara berangsur, tiap 1-2 hari, pemberian makanan ditingkatkan
hingga konsumsi mencapai 150-200 kkal/kg berat badan sehari dan 25 gram protein/kg berat badan sehari.
3. Tahap Lanjutan
Sebelum pasien dipulangkan, hendaknya ia sudah dibiasakan
memperoleh makanan biasa yang bukan merupakan diet TETP. Kepada
orang tua hendaknya diberikan penyuluhan kesehatan dan gizi,
khususnya tentang mengatur makanan, memilih bahan makanan, dan
mengolahnya sesuai dengan kemampuan daya belinya.
Suplementasi zat gizi yang mungkin diperlukan adalah :
a. Glukosa biasanya secara intravena diberikan bila terdapat tanda-tanda
hipoglikemia.
b. KCl, sesuai dengan kebutuhan, diberikan bila ada hipokalemia.
c. Mg, berupa MgSO4 50%, diberikan secara intra muskuler bila terdapat
hipomagnesimia.
d. Vitamin A diberikan sebagai pencegahan sebanyak 200.000 SI peroral
atau 100.000 SI secara intra muskuler. Bila terdapat xeroftalmia,
vitamin A diberikan dengan dosis total 50.000 SI/kg berat badan dan
dosis maksimal 400.000 SI.

21

e. Vitamin B dan vitamin C dapat diberikan secara suntikan per-oral. Zat


besi (Fe) dan asam folat diberikan bila terdapat anemia yang biasanya
menyertai KKP berat.
6. Dampak Gizi Buruk
Gizi Buruk bukan hanya menjadi stigma yang ditakuti, hal ini
tentu saja terkait dengan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga
maupun negara, di samping berbagai konsekuensi yang diterima anak
itu sendiri. Kondisi gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan
sistem, karena kondisi gizi buruk ini juga sering disertai dengan
defisiensi (kekurangan) asupan mikro/makro nutrien lain yang sangat
diperlukan bagi tubuh. Gizi buruk akan memporak porandakan sistem
pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan
mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi.
Secara
mengancam

garis
jiwa

besar,
karena

dalam

kondisi

berberbagai

akut, gizi

disfungsi

buruk

yang

di

bisa

alami,

ancaman yang timbul antara lain hipotermi (mudah kedinginan)


karena jaringan lemaknya tipis, hipoglikemia (kadar gula dalam darah
yang dibawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit dan cairan
tubuh. Jika fase akut tertangani dan namun tidak di follow up dengan
baik

akibatnya

anak

tidak

dapat

catch

up

dan

mengejar

ketinggalannya maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak


buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangannya.
Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan
performance anak, akibat kondisi stunting (postur tubuh kecil
pendek) yang diakibatkannya dan perkembangan anak pun terganggu.
Efek malnutrisi terhadap perkembangan mental dan otak tergantung
dangan derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu
sendiri. Dampak terhadap pertumbuhan otak ini menjadi patal karena
otak adalah salah satu aset yang vital bagi anak.

22

Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi


buruk terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis,
mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain.
Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ,
penurunan

perkembangn

kognitif,

penurunan

integrasi

sensori,

gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya


diri dan tentu saja merosotnya prestasi anak.
7.1 Gambaran Wilayah Kecamatan Sanan Wetan
7.1.1 Batas wilayah
Kecamatan

Sananwetan

berbatas

wilayah

sebelah

utara

dengan

Kecamatan.Kepanjenkidul Kota Blitar , sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan


Garum Kabupaten Blitar dan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, sebelah selatan
dengan Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar dan Kec. Kanigoro Kabupaten Blitar,
dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar dan
Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

23

7.1.2 Pembagian wilayah administrasi


Kecamatan Sananwetan terdiri dari 7 Kelurahan pada lahan seluas 12,149 km 2
yang merupakan kecamatan dengan wilayah yang paling luas di kota Blitar.

24

Sumber : BPS Kab. Blitar, 2013


Wilayah Kecamatan Sananwetan terletak pada ketinggian 156 meter dpl,suhu
rata-rata 29 0C, dan curah hujan rata-rata 13,75 mm per tahun. Secara administratif
wilayah Kecamatan Sananwetan terbagi dalam 7 Kelurahan, 74 RW dan 249 RT. Dilihat
dari komposisi RW dan RT, Kelurahan Sananwetan memiliki jumlah RW dan RT
terbanyak, yaitu 17 RW dan 60 RT, sedangkan kelurahan yang memiliki wilayah paling
besar adalah Kelurahan Gedog yakni 2,65 km2.
7.1.3 Data penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Sananwetan pada tahun 2013 telah mencapai
54.945 jiwa, bertambah 382 jiwa dibandingkan dengan tahun 2012. Jumlah penduduk
laki-laki sebesar 27.389 jiwa atau sebesar 49,84 persen dan penduduk perempuan
27.556 jiwa atau sebesar 50.16 persen dari total penduduk kecamatan Sananwetan.
Berikut merupakan tabel data penduduk di 7 desa di Kecamatan Sananwetan

25

Jumlah Penduduk sampai dengan tahun 2014 berdasarkan data statistik tiap
kelurahan di Kecamatan Sananwetan sejumlah 53.821 jiwa dengan jumlah KK 17.995
serta mayoritas penduduk memeluk agama Islam. Adapun jumlah Penduduk Gakin /
non Gakin dapat dilihat pada tabel berikut :
Distribusi jumlah penduduk gakin dan non gakin di Wilayah Kecamatan
Sananwetan tahun 2014 (berdasarkan data survei tahun 2009)

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat di


Wilayah Kecamatan Sananwetan merupakan masyarakat non gakin (88.23%),
sedangkan jumlah masyarakat miskin sebesar 11,77% untuk data tahun 2010 belum
diadakan pendataan ulang maskin 2010.

26

7.2 Profil Kelurahan Terpilih


7.2.1. Kondisi geografis
Kelurahan Sananwetan berbatas wilayah sebelah utara dengan Kelurahan
Bendogerit dan Kelurahan Gedog. Desa ini berbatas wilayah sebelah utara Sungai
Lahor Kecamatan Sumberpucung, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Gedog,
sebelah selatan dengan Kelurahan Karangtengah dan Kelurahan Plosokerep.
7.2.2. Topografi
Kelurahan Sananwetan secara umum memiliki wilayah yang cukup padat
yang ditunjang sarana jalan propinsi dan jalan kota yang rata rata hampir jalan aspal
meskipun sebagian kecil belum di aspal, dan untuk sarana transportasi menggunakan
kendaraan milik pribadi serta tersedia sarana telekomunikasi. Ketinggian wilayah
Kecamatan Sananwetan dari permukaan air laut lebih kurang 156 dpl dengan jenis
tanah dataran.

7.2.3. Kondisi demografis


Kelurahan Sananwetan memiliki luas wilayah 2,1279 km2 dengan lahan
pertanian yang terdiri dari tanah sawah 64 Ha, lahan kering 146,985 Ha, lahan lainnya
0,835 Ha.
7.2.4. Kependudukan
Kelurahan Sananwetan merupakan kelurahan dengan jumlah KK dan penduduk
terbanyak yaitu 4.241 KK dengan 18.175 orang yang terdiri dari laki-laki 13.934 orang,
perempuan 4.241 orang.

8. Pusat Kesehatan Masyarakat ( Puskesmas )


8.1. Gambaran Umum Puskesmas
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan kesehatan meliputi
pembangunan yang berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga serta
pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu.2

27

Wilayah kerja adalah batasan wilayah kerja Puskesmas dalam melaksanakan


tugas dan fungsi pembangunan kesehatan, yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota berdasarkan keadaan geografis, demografi, sarana transportasi, masalah
kesehatan setempat, keadaan sumber daya, beban kerja Puskesmas dan lain-lain. Selain
itu juga harus memperhatikan upaya untuk meningkatkan koordinasi, memperjelas
tanggung jawab pembangunan dalam wilayah kecamatan, meningkatkan sinergisme
pembangunan dalam wilayah kecamatan, meningkatkan sinergisme kegiatan dan
meningkatkan kinerja. Apabila dalam satu wilayah kecamatan terdapat lebih dari satu
Puskesmas maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menunjuk salah satu
Puskesmas sebagai koordinator pembangunan kesehatan di kecamatan. 2
Puskesmas memiliki tanggung jawab dalam hal mempromosikan kesehatan
kepada seluruh masyarakat sebagai upaya untuk memberikan pengalaman belajar,
menyediakan media informasi, dan melakukan edukasi baik untuk perorangan,
kelompok, dan masyarakan guna meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku
masyarakat. Dengan berjalanannya program kesehatan yang dijalankan oleh setiap
Puskesmas, di harapkan pada akhirnya akan berpengaruh pada perubahan kepada setiap
individu, keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara prilaku sehat serta
berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.3
8.2. Profil Puskesmas Sanan Wetan
8.2.1 Keadaan Geografi
UPTD. Puskesmas Sananwetan terletak di Kelurahan Sananwetan
dengan alamat Jl. Jawa No 07 Blitar. Akses transportasi ke Puskesmas
Sananwetan cukup mudah karena bersebelahan dengan jalan raya Bali
sehingga

mempermudah

jangkauan

masyarakat

untuk

menggunakan

Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Sananwetan.


8.2.2 Visi dan Misi Puskesmas Sanan Wetan
Visi
UPTD Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar sebagai salah
satu dari penyelenggara pembangunan kesehatan mempunyai visi :
Terwujudnya pelayanan kesehatan dasar yang bermutu untuk mencapai

28

masyarakat berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat di Kecamatan Sananwetan


tahun 2015. Pelayanan kesehatan dasar yang bermutu adalah pelayanan
kesehatan dasar yang ramah, profesional dan partisipatif sedangkan
Masyarakat yang Berperilaku Hidup Bersih dan sehat adalah suatu kondisi
dimana masyarakat Kota Blitar menyadari, mau, dan mampu untuk
mengenali,

mencegah

dan

mengatasi

permasalahan

kesehatan

yang

dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik yang


disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana,
maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
Misi
Berdasarkan Visi UPTD. Kesehatan Kecamatan Sananwetan Kota Blitar,
maka misi pembangunan kesehatan di Kota Blitar khususnya Wilayah
Kecamatan Sananwetan adalah :
1. Mewujudkan pelayanan kesehatan dasar yang transparan dan
profesional
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau dalam bentuk promotif, preventif dan kuratif
3. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
4. Membangun citra pelayanan dengan memberlakukan pengguna
layanan sebagai pusat perhatian
8.2.3. Struktur Organisasi Puskesmas Sananwetan
Struktur Organisasi Puskesmas menurut Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia no : 128/MENKES/SK/III/2004 tergantung dari kegiatan
dan beban tugas masing-masing Puskesmas. Pola struktur organisasi
Puskesmas adalah sebagai berikut :
Kepala Puskesmas
Ka Subbag Tata Usaha
Unit Tata Usaha
1.

Data dan informasi


29

2.

Perencanaan dan Penilaian

3.

Keuangan

4.

Umum dan kepegawaian

5.

Pengelola sarpras

6.

Loket

7.

Caraka
Upaya Kesehatan Masyarakat dan Perorangan
Upaya Kesehatan Wajib
Upaya Kesehatan Pengembangan
Upaya pelayanan Penunjang

1.

Unit GAwat darurat 24 jam dan Rawat Inap

2.

Laboratorium

3.

Apotik
Upaya Pelayanan Inovasi

1.

PONED

2.

MTBS

3.

PKPR/Jiwa
Jaringan Pelayanan Puskesmas
Puskesmas Pembantu
8.2.4. Susunan Kepegawaian dan Perlengkapan

a. Susunan Kepegawaian

30

Adapun Distribusi jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang ada di


UPTD. Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar dapat dilihat pada
tabel berikut :
Distribusi Jenis Tenaga Kesehatan di UPTD. Puskesmas Kecamatan
Sananwetan Kota Blitar tahun 2014

31

b.

Perlengkapan
Sarana Fisik Gedung Puskesmas
No.

BANGUNAN

KONDISI FISIK
JML
BUA
H

Pusk.Induk

Rawat Inap

Puskesmas
3 Pembantu

LUAS
TANAH

TAHUN

DAYA

LUAS
DIBANGU
BANGUNAN
N
LISTRIK

m2

m2

( WATT )

2136.4

496.5

1975

1300

420

2005

3000

a. Pustu Bendil

336

70

1980

1300

b. Pustu Bendogerit

660

70

1990

900

c. Pustu Gedog

d. Pustu Plosokerep

155.26

56

1979

900

e. Pustu Klampok

450

70

1996

900

f. Pustu Rembang

308

70

1990

900

Poskesdes

Posyandu

59

Sarana Transportasi Puskesmas


NO

Jenis

Jumlah
BAIK

Kendaraan

KONDISI

KELAYAKAN

SEDAN
G
RUSAK

YA

TIDAK

Roda 4
( Empat )
2

Kendaraan
Roda

2 ( dua )

32

Alat-alat Kesehatan
Alat alat kesehatan yang ada di UPTD puskesmas Sananwetan terdiri dari :
1. PERALATAN UNTUK DIAGNOSTIK KLINIK
2. PERALATAN UNTUK KESEHATAN GIGI
3. PERALATAN UNTUK LABORATORIUM
4. PERALATAN UNTUK TINDAKAN MEDIS
5. LINEN
6. PERALATAN UNTUK PENYULUHAN
7. PERALATAN NON-MEDIK
8.2.5. Program Kesehatan Puskesmas Kecamatan Sananwetan
Berdasarkan

Penilaian

Kinerja

Puskesmas

program

pelayanan

kesehatan Puskesmas dapat dibagi menjadi 3 Program dasar sebagai berikut :


1. Upaya Kesehatan Wajib
Upaya Kesehatan Wajib

puskesmas di Puskesmas Sananwetan terdiri

dari :
Promosi Kesehatan
Kesehatan lingkungan
Upaya Perbaikan gizi
Kesehatan Ibu Dan Anak Termasuk Keluarga Berencana
Upaya Pencegahan Dan Pemberantaasan Penyakit Menular
Pengobatan
2. Program Manajemen Puskesmas
Program manajemen puskesmas di Puskesmas Sananwetan terdiri dari :
Manajemen Operasional Puskesmas
Manajemen Alat Dan Obat
Manajemen Keuangan Di Puskesmas
Manajemen Ketenagaan
Manajemen Pengolahan Barang/Aset
3. Program Pengembangan / inovatif
Program pengembangan / inovatif di Puskesmas Sananwetan terdiri dari
:
a. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
b. Upaya kesehatan Mata/pencegahan kebutaan
c. Upaya Kesehatan Telinga / Pencegahan Gangguan Pendengaran
d. Kesehatan Jiwa

33

e. Kesehatan Olah Raga


f.

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Gigi

g. Perawatan Kesehatan Masyarakat


h. Bina Kesehatan Tradisional
i.

Bina Kesehatan Kerja

j.

Pemberdayaan Masyarakat Dalam Phbs

k. Pengembangan Ukbm
l.

Program Gizi

34

BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA, PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

3.1 Metode Pengumpulan Data


3.1.1 Rancangan Pengumpulan Data
Pengumpulan data digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai gizi
buruk bagi para kader Posyandu Kelurahan Sananwetan. Pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan kuesioner.
3.1.2

Populasi dan Sampel


a.
Populasi target adalah seluruh kader Posyandu Kelurahan Sananwetan
b.
Sampel

Kriteria sampel yang memenuhi syarat yaitu :


1. Kriteria inklusi
Sampel merupakan kader UKS Posyandu balita Kelurahan Sananwetan
2. Kriteria eksklusi
- Sampel yang tidak mengikuti pertemuan kader
- Sampel yang tidak bersedia mengisi kuisioner
Jadi total sampel dalam mini project ini adalah 50 orang
3.1.3

Waktu dan Tempat Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan ketika kegiatan pertemuan kader Posyandu Kelurahan

Sananwetan yaitu tanggal 30 Mei 2015 bertempat di Ruang Pertemuan Kelurahan


Sananwetan
3.1.4

Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data pada mini project ini adalah kuisioner, yang terdiri atas

data tentang pengetahuan terkait tanda gejala, pencegahan serta deteksi dini.
3.1.5

Cara Pengumpulan Data

Semua jenis data yang dikumpulkan pada mini project ini adalah data berupa hasil
intervensi. Pengumpulan data yang dilakukan dengan pengisian kuesioner dengan langkahlangkah sebagai berikut:
a. Pelaksana dalam hal ini dokter internship Puskesmas Sananwetan meminta persetujuan
responden untuk melakukan pengisian kuesioner.
b. Memberikan penjelasan tentang tujuan pengumpulan data dan sifat keikutsertaan
responden dalam hal ini.

35

c. Membagikan

kuesioner

kepada

responden

yaitu

kader

Posyandu

Kelurahan

Sananwetan.
d. Memberikan penjelasan kepada responden pada masing-masing pertanyaan yang belum
jelas dan mendampingi selama pengisian kuesioner.
e. Kuesioner yang telah diisi, dikumpulkan dan diperiksa kelengkapannya.
3.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi
3.2.1 Metode Intervensi
Metode intervensi yang digunakan dalam mini project ini adalah penyuluhan group
discussion dengan alat bantu slide dengan kuesioner yang dibagikan sebelumnya.
Kuesioner akan diberikan dalam bentuk soal pilihan ganda.
3.2.2

Petugas Penyuluhan

Petugas penyuluhan dari kegiatan mini project ini adalah :


1. Dokter Internship Puskesmas Sananwetan periode Februari-Juni 2015 dalam hal ini
dr.Bayu Primahatmaja selaku narasumber.
2. Petugas kesehatan lain dari Puskesmas Sananwetan
3.2.3

Lokasi dan Waktu Penyuluhan


Kegiatan mini project ini bertempat di Ruang Pertemuan Kelurahan Sananwetan.

Pelaksanaan pada tanggal 30 Mei 2015, pukul 10.00-12.00 WIB.


3.2.4

Sasaran Penyuluhan

Sasaran kegiatan mini project ini adalash kader Posyandu Kelurahan Sananwetan

36

BAB IV
HASIL
Berdasarkan hasil test yang diperoleh dari total lima puluh orang
subjek, ditemukan hasil sebagai berikut:

Perbandingan Nilai pada Tes Pengetahuan


mengenai Gizi Buruk

Nilai 85

Nilai 71

Nilai 57

Nilai 22

Nilai 100

Berdasarkan hasil test, nilai terendah didapatkan pada komponen


untuk mengenali tanda dan gejala gizi buruk. Sebanyak empat puluh satu
orang

mengalami

kesulitan

dalam

bagian

ini,

terutama

mengenai

membedakan antara marasmus dan kwashiorkor.

Rerata Nilai tiap Komponen Tes


Pencegahan

Tanda Gejala

Deteksi Dini

20

40

60

80

100

120

Berikut grafik komposisi nilai dalam komponen tanda gejala. Hanya


sembilan peserta yang dapat mengenali dan membedakan tanda dan gejala
dari gizi buruk.

37

Komposisi Hasil Tes terhadap Pengetahuan mengenai Tanda dan Gejala Gizi Buruk

Nilai 0

Nilai 50

Nilai 100

Komponen berikutnya, yakni deteksi dini, menunjukkan pemahaman


peserta yang cukup baik. Hanya empat peserta yang memperoleh nilai tidak
sempurna.

Komposisi Hasil Tes Peserta terhadap Pengetahuan mengenai Deteksi Dini Gizi Buruk

Nilai 100 Nilai 50

Komponen terakhir, yakni pencegahan, menunjukkan pemahaman


peserta yang juga cukup baik. Hanya empat peserta yang memperoleh nilai
tidak sempurna.

38

Komposisi Nilai Tes terhadap Pengetahuan mengenai Pencegahan Gizi Buruk

Nilai 66

Nilai 100

39

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan, maka dapat


disimpulkan bahwa:
Tingkat pengetahuan para kader kesehatan Kelurahan Sanan Wetan
sudah cukup memadai untuk melakukan sosialisasi terhadap warga
sekitar. Meskipun begitu terdapat peserta yang masih belum
memahami sepenuhnya tentang deteksi dini, pencegahan dan
tanda serta gejala gizi buruk.
Perlu dilakukan evaluasi secara berkala untuk menjaga dan
meningkatkan pengetahuan para kader kesehatan Kelurahan Sanan
Wetan antara lain dengan melakukan penyuluhan berkala dan
penilaian rutin perkembangan pengetahuan para kader kesehatan
mengenai gizi buruk.

40

DAFTAR PUSTAKA
1. Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI, 2006.
2. Depkes RI. Pedoman Kerja Puskesmas Mengacu Indonesia Sehat 2010. Jakarta, 2003.
3. Djauhar

Ismail.

Deteksi

Dini

Tumbuh

Kembang

Anak.

Diundur

dari:

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195604121983011ATANG_SETIAWAN/PERKEMBANGAN_ABK/DETEKSI_DINI_TUMBUH_KEMBA
NG_ANAK.pdf pada tanggal 15 Desember 2012 pukul 09.53.
4. Dinas Kesehatan Kabupaten Tabalong. Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten
Tabalong 2011. Tabalong, 2011.
5. Puskesmas Murung Pudak. Profil Puskesmas Murung Pudak Tahun 2011. Tabalong, 2011.
6. Soedjatmiko. Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita. Diunduh dari:
http://www.idai.or.id/saripediatri/pdfile/3-3-12.pdf pada tanggal 16 September 2012 pukul
9.26.
7. Riset Kesehatan Dasar 2007. Pedoman pengukuran dan Pemeriksaan. Badan Litbang dan
Pengembangan Kesehatan RI Departemen Kesehatan, Jakarta 2007.

41