Anda di halaman 1dari 19

rFRApf #pffiffiffi?

Ftr
FfS T U LA PRtrA [fRfK U LA $d#f,f Gffiruf TA f,

Dr. Hj. Abla Ghanie, Sp.TffiT-KI (K)

".l

t,
I
$

il

?nd ENT = I{AAD & NH,CK SURGKRV


CONFER.ENCE AND 3nd ANN{JAL #T{}f-,{^}
MHATTNG (PXTG 3)
13

- 15 NOPEMBTR ZtlCIE SI $I{K,A.R?A

Teropi Operatif Fistul a Preau fi kula

TERAPI OPERATIF
FISTULA PREAURIKULA KONGENITAL
I

Abla Ghanie

ABSTRAK

Fistula preaurikula merupakan suatu kelainan kongenital, berupa


cekungan kecil atau pit yang letaknya berdekatan dengan liang telinga pada
margin anterior dari timb heliks asenden. Kelainan ini bervariasi dari hanya
lubang buntu hingga bentuk yang lebih kompreks yang bercabang eabang.

Kelainan ini biasanya asimptomatik, meskipun adapula yang mengalami


infeksi dari yang keluar cairan terus menerus ataupun telah terbentuk abses.

Terapi operatif berupa eksisi fistula nrerupakan penatalaksanaan utama,


terutama bila infeksinya rekuren ataupun persisten. Dilaporkan dari
Departemen THT RS.Dr. Moh.Hoesin Palemb ang, 7 kasus fistula preaurikula

yang dilakukan operasi dengan teknik sederhana dan standar,

yang

sebelumnya didahului dengan penyuntikan metilen biru untuk mengetahui


saiuran fistuta, selanna periode Januari 2006 sampai Januari 200g. Tidak
terdapat angka kekarnbuhan.

Kata kunci: Fistula preaurikula, sinus preaurikula, preauicular

pit,

terapi operatif

PENDAFIULUAN

Fistula preaurikula adalah kelainan malformasi kongenital pada daun

telinga berupa lubang atau cekungan kecil yang terbuka pada daerah
preaurikula. Bervariasi dapat dikenal sebagai preauricular pit, preauricular
srnus, preauricular fistula, preauricular tract dan preauricular cysf.

1-5

Fistula preaurikula pertama kali diperkenalkan oleh Van Heusinger


tahun 1864, yang awal terjadinya berasal dari fusi tidak komplet dan tidak

sempurna dari 6 hillocks yang membentuk saluran yang dilapisi epitel. Jika
saluran berhubungan dengan permukaan kulit, maka akan bertendensi untuk
keluarnya cairan yang terqs nrenerus atau intermiten. Biasanya tampak
berdekatan dengan telinga luar, dan terletak pada margin anterior dari limb
heliks asenden. Kelainan ini paling sering terjadi pada telinga kanan.l-7

Secara klinis, pasien kadang tidak sadar bila memiliki fistula


preaurikula, pasien baru mengetahui pada saat pemeriksaan THT. Sehingga
dikatakan asimptomatik. Kebanyakan pasien baru berobat setelah adanya
tanda

- tanda infeksi.o

Terapi operatif biasanya direkomendasikan pada kasus kasus


dengan infeksi yang berulang. Biasanya diterapi dengan eksisi setelah
infeksinya reda dengan pemberiqn antibiotik. Angka kekambuhan lebih kecil
bila eksisi komplet dilakukan padd saluran fistula 2-s

Dilaporkan ada

7 kasus fistula preaurikula

yang dilakukan terapi

operatif standar dengan eksisi fistula di Departemen THT RS. Dr. Moh.Hoesin
Palembang selama 3 tahun terakhir. 6 kasus terinfeksi, sed:n.,ka'' 1, kasus
tidak terinfeksi. Setelah 1 tahun di follow
rekurensi

up

pasca operasi tidak didapatkan

ANATCMI

secara anatomi, teringa dibagi menjadi tiga bagian meliputi telinga


l';ar, tengah, dan dalam. reringa luar dan tengah berkembang dari alat
brankial sedangkan telinga dalam seluruhnya berasal dari plakoda optik.
Telinga luar termasuk daun telinga atau pinna dan liang telinga. Daun telinga
atau pinna berasal dari pinggir

brankial pertama

dan

- pinggir celah brankial pertama dan arkus

kedua. Daun telinga dipeisarafi oleh cahang


aurikulotemporalis dari saraf mandibularis serta saraf aurikularis mayor dan
o
oksipitalis minor yang merupakan cabang pleksus servikalis B,e

Daun telinga mempunyai kerangka dari tulang rawan yang dilapisi


kulit. Di bagian anterior daun telinga, kulit tersebut melekat erat pada

..-..

'

, *

perikondrium sedangkan

di

,t",

irL!.rl:!!:tlia!Jiir,.:!:.!"

,,ry

bagian posteriornya, kulit melekat secara

longgar. Daun telinga terdiri dari bagian yang bertulang rawan dan bagian
yang tidak bertulang rawan. Bagian yang bertulang rawan terdiri dari heliks,
antiheliks, tragus, antitragus, konka, sulkus retroaurikula. Sedangkan bagian
yang tidak bertulang rawan terdiri dari lobulus. B,s

Fc-ss"

trrrnrrlaii(

iTlbs.cllum :uiaulrE:,

--

Sntihdiri

lierix -

Cg',iha nureulie .-. -tleiir,r'


Ar.ttrag,rl /

iccL)lus a.,if,ulae -'

Gambar 1. Daun Telinga; tampak lateral

(ka)10

Daun telinga, terbentuk dari sebuah kartilago yang elastik, kecuali di


daerah lobul yang kekurangan rangka kartilago. Kulit tipis meiekat erat pada

aspek lateral daun telinga, sedangkan pada aspek medial lebih tebal dan
longgar

Aspek medial kartilago konka mendekati tulang mastoid dan buttress


telinga, pegangan telinga menjauhi kepala. Antiheliks lembut, seperti bukit
yang meninggiyang melingkari batas lateral konka.
r
Ke arah superior, antiheliks membagi menjadi krus superior dan krus
inferior dan membentuk lekukan (penurunan) yang dangkal, dikenal sebagai

fossa triangutaris. Antara antiheliks dan heliks ada bagian yang melingkari

"t

' r

":"

sebagian membagi kavitas


heliks disebut fossa skapoid. Krus heliks anterior
konka menjadi simba konka dan kavum konka'

Kearahinferior,antiheliksberhubungandenganpinggiranluar
dikenal sebagai isthmus'
kartilago auditori oleh kartilago yang menyempit
11
yang berhadaPan dengan tragus

'I

'l

SINUS PREAURIKULA

Sinusaurikuladansinuspreaurikulabiasanyaberdirisendiridanhalini
tags dan abnormalitas
sering dihubungkan dengan aksesoris auricular

pinna.12

;
dan melekat pada
Lokasi sinus preaurikula adalah disamping tragus
limb heliks ascenden
anterior superior heliks. Biasanya pada margin anterior

(Gambar 2)a'5

Congdonpernahmelaporkantempat-tempatyangbiasanvaterdapat
yang sering terdapat
orificium kutaneus dari sinus aurikula, namun tempat
12

sinus preaurikula dijelaskan pada gambar 2'1'


tetapi
Biasanya Sir]rlS preaurikula sempit, panjangnya bervariasi,
Biasanya terlindungi dan
biasanya pendek dan c,rificiurnnya biasanya kecil'
lateral' superior dan
bercabang sekitar telinga'luar. Biasanya ditemukan
jarang sekali meluas'
posterior dari saraf fasial da..n kelenjar parotis yang
perikondrium kartilago
Pada beberapa kasus, saluran berhubungan dengan
telinga.

a'5

Chapmanmelaporkanberdasarkanpengalamannyapada6pasien,
yang meluas ke
sinus preaurikula terdiri dari srnus sac dengan salurannya
kartilago anterior MAE'
anterior dan posterior, berhubtrngan dengan dinding
juga berhubungan dengan kartilago antiheliks (Gambar 2'21,t2'tt

relatif
saluran sinus umLlmnya meluas ke anterior' saluran
dan salurarfnya
membesar ke posterior ke arah mastoid process' Sinus
ke kelenjar panotis dan
terletak pada dasar subplatismal ke arah superfisial

temporal superfisial'
lapisan fasia temporalis yang berdekatan dengan arteri

.r'l,,:,. .,.,!i:."i,. ]iill!*,i,:,',

i;:

,,

t -'''"

pada 2 bagian. Fada bagian


Saluran sinus terletak dekat dengan saraf fasial
(trunk\ N. fasial bisa saja rusak pada saat pengangkatan saluran

badan

dan 5nedial yang berlanjut dengan kaftilago MA['


pada saat pengangkatan
Pada bagian cabang dari N. fasial bisa saja rusak
sampai perbratasan kelenjar
saluran fistula ke aralr anterior dan yang meluas

fistula ke arah posterior

parotisl2

I
I

Ilt,

lrtE
!k rt

't

ift

fo{ [ENiirl

iiU

.&tr.Ih:!r

{
\\
\\
\

ifr';rrJ rldiltct
\;\llri

t
I
I

tJ'-lit

*--*1

rn

1i'l

.,1

__.*_

'Urn"vt'
Gambar 2. Fistula Preaurikula

la

inclikasi insisi dan anak panah


Gambar 2.1. Ilustrasi dari tipe sinus preaurikula. Garis i
terdapat oriJicittrn
mengindikasikan ellips yang mengitari tempat yang yallg biasanya
kutaneus sinus

]'biasanya diternukari
Gambar 2.2. Ilustrasi saluran yang menyebar dari badatl sinus'
saluran berhubungan
postaurikula yang meluas;2. saluran berhubungan riengan antihelir;3'

dengan eksternal cartilago rneatus;

4.

saluran menyebar

ke anterior; Anak panatr

rnengindikas ikan badan sinus

EMBRIoLoGI

1'4'5'15

Pembentukan sinus preaurikula terjadi sejak pro$e$ ernbriogenesis


geslasi'
dan berkaitan erat dengan pembentukan telinga $elarna 6 nringgu
eusta$iu$
Telinga terbentuk dari arkus brankial ke - 1 clan ke - 2,' Tutta
kleft pridi'iia-rJai, i
tumbuh dari faringear pouch pertama. Jaringan dari brankiar

Ter

api Operatif Fistala Praou tiku la

auditori hillocks, yang menyatu untuk


membentuk telinga luar. Jadi telinga terbentuk dari proliferasi 6 mesenkim,
yang dikenal sebagai hillocks. tebih khusus lagi, 3 hillocks dari batas kaudal
arkus brankial pertama. Dan 3 lainnya tumbuh dari batas sefalik arkus
kedua berkembang menjadi

brankial kedua. Hillocks

hitlocks ini nantinya menyatu untuk membentuk

telinga.

Terdapat 3 teori yang, menjelaskan pembentukan sinus preaurikula'


Teori pertama mengatakan terjadi dari fusi yang tidak sempurna dari 6
pertama
hittocks aurikula sehingga menghasilkan fistula preaurikula._ Hillocks
membentuk tragus, kedua menjadi krus heliks, ketiga menjadi sisa atau
kelebihan heliks, keempat membentuk antiheliks, kelima menjadi antitragus,
dan keenam berkembang menjadi heliks bawah dan lobul
Teori kedua menyatakan adanya penutupan yang tidak sempurna
pada bagian dorsal daritonjolan faringeal pertama.

Teori ketig: menyatakan bahwa perkembangan sinus preaurikula dari


lekukan .;rtodermal yarig terpisah pisah selama pembentukan aurikula'

Sinus preaurikula sering dikaburkan dengan fistula bnankial. Dimana


?rroffi?li kleft brankial berk.ritan erat dan melibatkan meatus akustikus
eksternus, membran timpani, atau angulus mandibula. Sedangkan sinus
preaurikula tidak demikian. Serupa dengan diatas sinus preaurikula tidak
melibatkan cabang saraf fasial, meskipun penatalaksanaannya dapat saja
merusak saraf fasial.

Fenomena perkembangan spesifik pada kelainan kongenital


diklasifikasikan sebagai migrasi abnormal sel, proliferasi abnormal sel, dan
kematian sel yang atipikal. Pada kasus

kasus telinga luar, seharucnya

berada pada tempatnya selama usia janin 4 sampai 12 minggu, ini disebut
periode kritis pembentukan telinga luar yang hampir lengkap'

Terapi Operatif Fistula Preaurikala

li, $r '*"-{
.-/ "J
/

Gambar

4.

ii{'

Embriologi Aurikulas

EPIDEMIOLOGI

Kista dan sinus preaurikula merupakan kelainan yang umum terjadi,


dengan insiden 15,5 sampai 43,7 per 10.000 kelahiran lridup. Selkrik dan
Skokan melaporkan insiden fistula kurang dari 1 % pada ras Eropa dan
Amerika, 5,2o/o pada ras Negro dan 10 % pada ras oriental. Laki dan
perempuan perbandingannya hampir seimbang. Kasus bilateral sekitar 35

50 %.3

Di usA insidennya 0,1-0,9


2,5o/o

dan

Afrika 4

Yo,

Hungaria 0,47o/o, lnggris a,go/o, Taiwan

10 %. Namun insiden yang sebenarnya tidak tercatat.

Karena banyak yang tidak mengeluhkan gejaranya dan hanya pasien pasien yang terinfeksi yang baru datang untuk berobat" Di Scoflandia
0,06%.3,16

Ellies dkk, melaporkan secara retrospektif antara tahun 1970 hi;rgga


1996 pada 62 pasien fistula preaurikula. Pada operasi pe.rtama bervariasi
antara usia

hingga 59 tahun dan pada operasi kedua bervariasi antara usia

3 hingga 57 tahun. Didapatka n 46 % pria dan 54 % wanita.1s

Dilaporkan ada

kasus fistula preaurikula yang dilakukan terapi

operatif standar dengan eksisi fistula di Departemen THT RS. Dr. Moh.Hoesin

-'

-*

'"'*

-''

Palembang selama 2 tahun terakhir. ( Januari 2006

januari 2008 ), Laki

laki 3 pasien dan perempuan 4 pasien.

ETIOLOGI

Fistula preaurikula merupakan kelainan anomali telinga luar yang


penyebabnya tidak diketahui. Hipotesa yang paling bisa diterima adalah
autosomal dominan yang diturunkan atpu bawaan'

Sinus preaurikula terjadinya sioradik atau bawaan. Lebih dari 50%


pada
kasus seluruhnya unilateral, dan tersering sporadik. Kebanyakan terjadi
sebelah kanan. Pada 25- lQo/o kasus sinus terjadi bilateral. Biasanya
diturunkan, dimana terjadi pola inkomplet autosomal dominan yang berkurang
B5%. Penelitian terbaru di China terdapat adanya lokus pada

sekitar

kromosom 8q11,1-q13,3 untuk terjadinya fistula preaurikula kongenital.


Penelitian tersebut menggunakan hubungan analisis familial yang
terpengaruh atauPun tidak.

: 3'a

tustin menyatakan aktivasi gen sekuensial diperlukan

untuk

perkembangan telinga dan fasial yang normal. TerganEgunya aktivasi gen


lekuensial pada binatarrg percobaan , mengganggu perkembangan telinga'17
a,
menyatakan bahwa
Merlob dkk, seperti yang dikutip dari Scheinfeld
sinus merupakan penanda adanya paparan teratogenik dan mengatakan
bahwa penurunan prevalensi fistula preaurikula di lsrael merupakan tanda

menurunnya pula paparan terhadap zal

- zat teratogen

GEJALA KLINIS

Fistula preaurikula berupa lubang kecil yang berdekatan clengan


telinga luar, biasanya terletak pada margin anterior hari limb heliks
asenden.a'5 Pernah dilaporkan juga sepanjang margin posterosuperior heliks,

pada tragus ataupun lobul.

Pif

yang tampak menggambarkan deformitas'

yang luas, ukuran panjang sinus yang bervariasi, cabang dan .ialan yang
berliku. Hal ini biasanya melibatkan masalah kosmetik .16

:r11iiii;aiilliil&itai !:irs{,

--=-

,,,

,,.-.

-r r

t},r.

!r:::;:d.*.,

_^

"'"ffi

Sinus preaurikula dapat mengakibatkan terbentuknya kista subkutan

yang berkaitan dengan kartilago tragus dan anterior krr-rs heliks. Pada
keseluruhan kasus, bagian , dari saluran sinus bercampur dengan
perikondrium kartilago aurikula. Kebanyakan pasien dengan kelainan ini
asimtomatik. Hanya 1 dari 3 pasien yang menyadari memiliki kelainan ini.
Saluran sinus biasanya lateral dan superior dari saraf fasialis dan
kelenjar parotis, hal ini kontras dengan branchiar c/eft pertama, yang
berhubungan erat dengan struktur

,-

Gejala fistula

ini.1,15

yakni adanya pembengkakan, nyeri dan

keruar cairan.

Keluarnya cairan memudahkan terjadinya infeksi. Beberapa pasien rnengeluh

keluarnya cairan purulen kronis dan intermiten dari lubang tersebut.


Sekalinya sudah terinfeksi, sinus tersebut biasanya jarang asimptomatik.,
seringnya terjadi infeksi kronis eksaserbasi akut, kemudian dapat terbentuk
jaringan parut dan rusaknya kulit secara kosmetik.1,4,5'16'
Pada beberapa pasien mengeluh selurlitis fasial atau ulserasi pada
bagian anterior telinga. Ulserasi sering diterapi tanpa mencari sumber yang
jelas dan sisa sinus preaurikula tidak diperhatikan.l

Elliesls melaporkan dari penelitiannya, pasien dengan tanda dan


gejala seperti palpasi yang resisten, ostium yang tampak, adanya inflamasi,
rasa gatal, keluarnya sekret yang intermiten dan persisten, Keluhan yang
terbanyak adalah pembengkakan dan nyreri, hal ini menunjukkan
peradangan.l Masahiro dkk, melaporkan kasus dengan riwayat infeksi sekitar
5,8 o/o 18

PATOLOGI

sinus preaurikula biasanya sempit, ukurannya bervariasi tetapi


biasanya pendek dan orificiumnya kecir. pada hampir semua kjsus-salurannya berhubungan dengan perikondrium kartirago

telinga.a

'

Bisa unilateral ataupun bilateral, dan bervariasi dari yang saluran


simple yang buntu hingga sinus yanq bercabang

cabang kompleks, sampai

i.

ti

t ,

,-

,tt-,

t-t. :

..t.,

60% mempunyai komponen kistik. Ellies 15 melaporkan dari 62 kasus

, 13

kasus (21To) bilateral. Masahiro dkk18 menemukan 103 dari 396 kasus i26%)
bilateral.

Ukuran panjang dari saluran fistula bervariasi antara 3 hingga 22 mm.

Beberapa penulis mengatakan bahwa inflamasi pada fistula mungkin


memperpanjang saluran fistula. Elliesls menernukan panjang fistula sekitar
25mm. Metilen biru dapat memprediksi panjang saluran. fl/letode lain dengan
menyuntikkan liquid kontras melalui lubang sinus (fistuiognaphy) 'e
Sinus preaurikula biasanya lateral, superior dan pcrstericlr cjari saraf
fasialis dan kelenjar parotis

h{lsroloct

4'5

Dari pemeriks;an secara kasar, sinus preaurikula terdiri dari'struktur

tubular yang simpel alau p'ola yang berlekuk

lekuk, hisa tipis dan

berk;iauan atau benruarna purlh tebal.

Epitelnya skuamous stratlfikasi yang menunjukkan lriperkeratosls dan


parakeratosis yang melapisi h-rbang sinus dan terisi dengan materl seperti
smegma dan mengandung kelenjar sebaseus atau sebocit, kelenjar keringat

dan folikel rambut. Jaringan sekitar" mengandung plasrna sei, linifcsit

elan

netrofil. Jika terjadi inflamasi. Lapisan epitel sering tertutup jaringan granulasi.

BAKTERI

Dari beberapa literatur, kolonisasi bakteri yang terseriniT

i"ri*iiiruii

streptokokus salivarius, stapilokokus pyogenes, bakteri Srfim positip dan iliasil

gram negatip.

15

Etliesls rnelaporkan penelitiannya terbanyak arialair

stapiioknkirm,

epidermidis, aureus, streptokokus viriclans, pepi*kr:kus clan proteus


Pada salah satu penelitian, terCepat 5? % pasir:n drtngan ini.larn;rsi
pada sinus, 34 o/o dengan ab*es sinus, 18 'r; tiengnn irrfeksi s+ini"is. Liruiarr

**ej

'l'eropi Opentif Fistula Preaurikula

terbanyak yakni Stapilokokus epidermidis (31%), Stapilokokus aureus (3'l%),


Stretokokus viridan (15%), Peptokokus (15%) dan Proteus i8%)1'5'15

DIAGNOSIS

Diagnosis dari fistula preaurikula berdasarkan anamnesis dan gejala


klinis. Pemeriksaan mikrobiologi dan patologi anatomi dapat mendukung
diagnosis dan terapi.

DIAGNOSIS BANDING
Banyak diagnosis banding yang dapat dipertimbangkan , kecuali pada
preauricular pit.

Furunkel, atau infeksi kiste sebaseL!s, seringkali salah didiagnosis


menjadi diagnosis banding pada sinus preaurikula yang telah terbentuk
abses.20

PENATALAKSANAAN

Mayoritas

pasien

pasien dengan sinus preaurikula

adalah

asimptomatik. Terapi dari kista dan fistula baru diindikasikan bila ada geiala

dan keluhan. Hal ini d'ljadikan prinsip bagi sebagian besar ahli THT.
Meskipun ada beberapa yang beranggapan pada sinus yang tenang tetap
harus diterapi karena mekanismenya yang belum jelas.

::

ii
tl

ll

ii
1i
1{

lr
!1

Pengangkatan saluran secara komplet sangat perlu untuk mencegah

i:

kekambuhan dan infeksi berulang. Diseksi teliti pada sinus oleh ahli THT

dengan anestesi umum akan memininralkan r"esiko kekambuhan.


Pengalaman ahli bedah dalam mengangkat sinus merupakan kunclgukses
terapetik.

Teknik operasi standar berupa insisi elips yang mengitari sinus dan

jarang melakukan diseksi pada, lubang saluran. Sebelr"rmnya dilakukhn


lnfiltrasi dengan vasokontriksi. Mbmeriksa saluran fistula dapat nnembantu
diseksi secara tepat. $ebelumnya dilakukan pewarnaan dengan metilen biru

1'l

ii,!
't

.iit

;!

Terapi Opemtif Fistuls Preaurikula

untuk mengikuti aliran lubang saluran dan pewarnaan fistula. Beberapa ahli
berpendapat dengan menggunakan mikroskop operasi dapat memberikan
keuntungan yang berbeda ketika mengikuti saluran fistula dan mempermudah
eksisi secara komplet.

a'21

Anggapan bahwa teknik yang lebih sukses dengan pendekatan supra


aurikula, dimana tidak seperti teknik sebelumnya, tidak ada kesulitan untuk
mengidentifikasi saluran. Pendekatan supra aurikula meluas hingga insisi
postaurikula.a

.,

Pembedahan baru bisa dilakukan setelah infeksi sinus preaurikula


mereda. Aspirasi jarum diperuntukkan pada pasien - pasien dengan lesi
infeksi yang tid:k respon dengan terapi antibiotik oral.

'tVide

eksisi

berguna

17

jika terjadi edema dan inflamasi yanE

bernubungan dengan rnfeksi berulang sirtus yang tidak sembuh dengan


antibiotik. a'5 Ada banyak .rhli THT yang melakukan berbagai variasi terapi
pada kelainan ini.
Ellies

15

menyuntikkan lubang dengan metilen biru sebelum dilakukan

eksisi lalu dilanjutkan dengan sirkumskripsi oval pada arificiurn

dan eksisi keseluruhan pada panjangnya saluran, dibantu dengan

kaca

pembesar atau mikroskop operasi

Granizo dkk memperkenalkan teknik operasi kombinasi. Dengan


menggunakan lakrimal probe untuk mengkanalisasi lubang saluran dan
penyuntikan metilen biru yang biasanya refluks nnelalui arificium tersebut.
Sebelum dilakukan operasi diberikan antibiotika.
Beberapa ahli bedah, mulai dari $cheinfeld melakukan-kanalisasi
orificium dan menyuntikkan pewarnaan metilen biru ke"dalam saluran selarna

3 hari sebelum operasi dalam keadaan yang steril. Lubang yang

terbuka

dijahit dengan benang. Teknik ini menggembungkan saluran dan memperluas

saluran oleh pewarnaan metilen biru tersebut.

15

El-Mallah memberikan antibiotik pada keadaan infeksi


kultur dan resistensi. Bila terbentuk abse$,

tr"larus

akut,

setelah

diin*lsi pada Earis eksisi^

12

Tr

Coatesworth

rapi ()perttiJ' I;istula Preou

ril<u Ia

dkk menjelaskan tehnik untuk draenase abses

preaurikula dengan lakrimal probe. Mereka melaporkan kesuksesan teknik


tersebut pada 6 dari 7 pasien. Tekniknya dijelaskan termasuk anestesi topikal

dan memasukkan probe lakrimal berujung tumpul ke dalam sinus untuk


draenase abses. Prosedur tersebut dapat diulangi bila diperlukan.

1'16'20

Teknik bedah yang bervariasi tujuannya tetap sama untuk mengangkat

secara komplet saluran dari sinus. Eksisi inkomplet dapat menyebabkan


rekurensi dari sinus preaurikula. Dilaporkan angka rekurensi sinus
,preaurikula nol dan

42o/o.1'3

Beberapa penulis, mulai dari Chang merekgmendasikan single sfage


excision pada keseiuruhan kista dan saluran secara bersamaan pada sinus

preaurikula yang terinfeksi tanpa insisi sebelurnnya untuk draenase pus,


penyembuhan komplet lesi tersebut.
,1

ti

Tehnik standar adalah eksisi bentuk elips pada kulit rnengelilingi

li.l

dan mengangkat saluran sinus., dikenal sebagai


simpel sinektomi. Adapula peneliti yang membandingkan teknik ini dengan

iil

lubang sinus yang terbuka

teknik radical supraauricular approach yang dikenal sebagai wide local


excision. Hal ini dilaporkan oleh Prasad dkk 1990 dan Lam dkktahun zAU.
Pada pendekatan supra aurikula dapat melibatkan post aurikula dengan insisi

elips mengitari orificium sinus. Diseksi untuk mengidentifikasi


,;itl

;ilt
iili

,il
".i$.:

,i;,

fascia

temporalis sebagai batas medial diseksi dan berlanjut sampai kartilago


anterior heliks, sebagai batas posterior diseksi. Jaringan superflsial sampai
fasia temporalis diangkat bersama dengan sinus preaurikula. Bagian kartilago

atau perikondrium dari heliks pada dasar sinus harus diekgjd,U$uk


mengangkat secara komplet epitel. Dead space harus ditutup dengan lapis
demi lapis dengan atau tanpa drain ataupun bebat tekan.

1'2'a'5

Untuk membantu reseksirkomplet dari sinus dan salurannya, dengan

berbagai metode pilihan perhbedahan digunakan teknik tambahdn


Pencitraan sonographik preoperasi, sinogram preoperatif, penyuntikan
metilen biru intraoperatif dan penggunaan lakrimal probe. Pemeriksaan

l3

':att. :ryae{ -sutn l**nrkuu

Saluran fistula akan membantu diseksi Secara tepat. Dengan pewarnaan


metilen biru, akan menelusuri saluran sinus dan memberi sedikit pewarnaan
pada fistula.

1'a'5

'

Baatenburg de Jong3 *emp"rf"nalkan teknik terbaru 2005 tentang

modifikasi teknik wide lokal eksisi. Yang hampir sama tetapi dimodifikasi
untuk meminimalkan resiko kekambuhan. Prosedur teknik ini diperkenalkan
sebagai "inside out". yang pertamakalinya dulu pernah diperkenalkan oleh
Jesma dari Rotterdam, tetapi tidak dipublikasikan. Metode ini menggunakan

*mikroskop. Sinus yang tampak diikuti baik dari luar ( seperti teknik klasik )
dan dalam. Cahang - cabang trakturs yang terbuka diikuti sampai ujungnya
diident:iikasi dan drcksisi. Menurut Baatenburg de Jong angka rekurensi

dilaporkan 0% dengan teknik inside ouf ini. Saat ini rnetode

ini

bukan

rnerupskdn metode yang oroakai secara luas tetapi hal ini nrenarik dan perlu
untuk dicoba.l'3

Penulis lain merekomendasikan destruksi saluran sinus dengan


solusio sklerotik atau elektrodiatermi sebagai alternatif untuk diseksi, yang
hasilnya bervariasi, dengan keuntungan yang belum jelas.l
PROGNOSIS

Eksisi yang tidak komplet akan mengakibatkan rekurensi dari sinus


preaurikula. Angka rekurensi pernah dilaporkan 0 dan 42 %. Tingginya angka

rekurensi berkaitan dengan kenyataan bahwa sinus preaurikula sering


dianggap keadaan yang sepele dan operasinya dilakukan oleh ahli yang tidak
berpengalaman.

1' 13'17

Currie dkk

13

melakukan penelitian secara retrospektif selama periode

B tahun di Hongkong untuk mencari faktor

faktor yufg **tpengaruhi hasil

dilanjutkan eksisi bedah sinus preaurikula. Dari 159 pasien dilakukan operasi

pada 117 pasien. Ditemukan eksisi sebelumnya, penggunaan probe rjntuk


alur sinus, luka sepsis post operatif dan selama operasi dengan anestesi
lokal. Keseluruhan mempengaruhi peningkatan rekurensi. ( faktor pernbedah

LI

t'+

Terupi (ipemrif Fistul$ I'reouilhalc

dan pasien tidak dihitung, dan anali$i$ statistilt tidak dibuai).


rnengobservasi faktor

Mereka

faktor yang muncul untuk mngurangi kemungkinan

rekuren. Hal ini tennasuli ctiseksi yang teliti pnela *inus berclasarkan
pengalaman ahli THT dalam anestesi umum. menggunakan pendekatan
supra-aurikula

ke fasia ternporalis,

menghindari rupturnya sinus dart

penutupan wound dead space (space bekas c,perasi),

Perbandingan teknik simpel sinektomi dengan pefidekatan supra


aurikula yang dilaporkan Prasad dkk tahun 1990 dan Lanr tahun 2001 *dalah

''sebagai berikut; teknik pendekatan supra aurikula memiliki iasio rekurensi


lebih rendah yaitu sekitar 5 % pada 21 pasien, dibandingkan sin'lpel sinektomi
42

o/o

pada 12 pasien. Dan 3,70/o (27 pasien) dibandingkan 32% {25 pasien)1'3

Sedangkan Baatenburg de 'long nrenjelaskan angka rekurensl


pada 23 pasien berdasarkan teknik inside - ouf.3

0?b

LAPORAN KASUS

Dilaporkan ada

pasien yans didiagnosis fistula preaurikuia

kongenital yang dilakukan operasi di Deparfemen THT RS. Dr. Mohammad


Hoesin Palembang. Periode Januari 2006 hingga Janurari 2008. 3 Laki -.laki

dan 4 wanita. Usia berkisar g


sama

35 tahun. 6 pasien dengan kelulran yang

yakni adanya infeksi berulang di depan telinga kanan,mulai dari

keluarnya cairan dari oificiunr (pit), pembenEkakan, rnerah, terbentuk abses


hingga terbentuk scar atau sikatrik. Sedangkan 1 pasien denEan tidak ada
keluhan infeksi, hanya untuk kepentingan kosrnetik. 2 dari 7 pasien nremiliki
fistula preaurikula bilateral, sedang 5 lalnnya unilateral. ? pada telinga kiri dan

3 pada telinEa kanan. Letak fistula


margin anterior linrb heliks
Rata

preaurilru[fr secara ke:*e$uruhan padd

"u""fldenu.

- rata pasien telah berobat di dokter"un'luril dan clr:rkter lain cliberi

antibiotik tetapi belum ada perubahan.

Dari pemeriksaan fislk didapatkan pasien dalam kondisi baril{" $nri


pemeriksaan THT diternr:kan adanya penebalan, &rea hiperemrs, tlan scffi-

t5

Teropi Operatif F

E'jtiai; ctriniii;aia- --"-*-'-"':'-

ataupun abses. Didapatkan pula 1 lubang kecil (pit) pada margin anterior
heliks asendens. Ukuran area hiperemis 0,5 x 0,5 x 0,5 cm. Tidak ada pit di
kanalis telinga, dan membran tinipani utuh.

Diberikan terapi Clindamicin untuk mengurangi infeksi. Operasi


dilakukan dalam narkose dengan teknik eksisi simpel (sinektomi) dan wide

eksisi (supra-aurikular approach\. Setelah dilakukan tindakan , aseptik


antiseptik, lokasi sekitar pit diinfiltrasi dengan epinefrin. Dilakukan
penyuntikan metilen biru ke dalam prT, dengan menggunakan abbocath
*needlo tube no ?2 G untuk mewarnai saluran fistula. Kemudian dilakukan
insisi elips mengitarr pif segaris dengan garis wajah. Kemudian dilakukan
eksisi mengikuti saluran .fistula yang telah diwarnai metilen biru hingga ke
ujungnya. Harus dipastikarr seluruh saluran fistula benar - benar terangkat
dan bersih. Kemudian daerah operasi dijahit lapis demi lapis.

DISKUSI

Fistula preaurikula merupakan kelainan kongenital, dimana terdapat

I
{
*

lubang kecil atau pit dan saluran sinus pada regio preaurikula .'-5 Kelainan lni

'i

biasnya bersifat asimptomatik atau tanpa gejala, sehingga kadang pasien


tidak menyadari rnerniliki fistula preaurikula. Pasien baru menyadari setelah

tanpa disengaja melakukan pemeriksaan T'HT"

,'i

Dilaporkan 7 kasus pasien fistr;la preaurikula yang dilakukan operasi.

Periode Januari 2006 hingga Januari 2008. Terdapat 3 pria dan 4 wanita. Hal

ini sesuai dengan literatur bahwa insiden antara pria dan wanlta seimbang"3
Ugia bervaniasi dari 9

35 tahun.

15

Dari 7 pasien didapatkan

memiliki fistula preaurikula bilateral dan 5 unilateral.

"pada

pasien

telinga kiri dan 3

pada telinga kanan. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa kebanyakan
didapat pada telinga kanan.l-7 6 dari 7 pasien rata - rata merniliki riwayat
infeksi berulang pada telinganya, sesuai .dengan literatur dan t'rdt ini
merupakan indikasi untuk dilakukan operasi,l'1u'18 Hanya 'l pa*ien yang tlrJak
i,i
,!.

memiliki keluhan infeksi dan dilakukan operasi karena alasan kosmetik.l-6

'{

.:]il*
,,,lif
:i

i.rf

,,:iii,*

'.''i$
,,

rl.,,{

'I

:,!

,lll.

lrl

,i:l;

.J

rlil

,i.l;.lli

t6

, a, ^

:rr

r'',

lnsisi abses tidak dilakukan untuk menghindari diskontinuitas saluran

.a

fistula dan rekurensi infeksi. Biasanya diberikan antibiotik agar infeksinya


mereda. Bila tidak respon dengan antibiotik bisa dilakukan aspirasi pada

I
I

r
!
u

abses.17

Pada pasien ini sebelumnya diberikan terapi clindamicin. Hal ini sesuai

dengan literatur bahwa bakteri yang biasanya ditemukan Stapilokokus


epidermidis dan aureus. Bakteri ini lebih sensitif dengan pemberian penicillin,
sefalosporin, eritromicin, linkomicin atau clindamicin.l'5'15

*.

Tujuh pasien dilakukan operasi dalam narkose , dengan teknik eksisi


sirnpel (sinektomi) dan ada pula yang dilakukan dengan teknik wide eksisi

(supra auricular approach).a'5'21 Hal ini tergantung panjang dan luas saluran
fistel seperti yang disebutkan di literatur. Sebelum dilakukan eksisi fistula,
dilakukan infiltrasi dengan vasokonstriksi yang kemudian dilanjutkan dengan
menyuntikkan metilen biru pada orificium alau pit untuk mengikuti saluran

fistula atau sebagai

petunjuk pada saat dilakukan eksisi.15 Kemudian

dilakukan insisi mengitari prt sesuai garis wajah. Tahapan selanjutnya adalah
eksisi komplet untuk mengangkat seluruh saluran sinus atau fistula. Tahapan
tersebut diatas sesuai dengan literatur.a's'21'2s'24'

- tahapan

Pengalaman ahli bedah atau jam terbang yang tinggi dari operator

dalam hal

ini juga sangat mempengaruhi keberhasilan dan meminimalkan

adanya angka rekurensi seperti yang disebutkan dalam literatur.22-24

7 pasien, setelah di lakukan follow up 1 tahun, tidak dijumpai


rekurensi. Hal ini juga sesuai literatur bahwa eksisi komplet dan
Dari

pengangkatan saluran fistula sebersih mungkin akan rnenurunkan angka


rekurensi

21-24

I7

- -*:{:ry

Terapi Operail Fistula Preauilkula


I

.i

,r,.@
.r

il*

trAFTAR FUATAH3&
{' tpn t, Cren{igafifilllsc H, Mltopsll 1.ts, rnn Fnrsdurrqur'dt glt"rrJbi A flsVtsw et li*
aetiology, clinical presentation and management. lnternational Journal of Pediatric
Otorhinolaryngology. 2005;69: 1 469-74

2. Lam HCK, Soo G, Wormald PJ. Excision cf the Preauricr;lar Sinus: A Comparison of
Two Surgical Techniques. The Laryngoscope 2001 ; 111:317 - e1v
3. De Jong RJB. A new surgical technique for treatment of preauricular sinus. Surgery
2005;137(5):567-70
4. Scheinfeld NS, Silverberg NB, Weinberg Jttd, Nozad V. The preauricular sinus: a
review
P

of its

6,;rFrc,

clinical presentation, treatment and association. Clinical Review.

^rmdskr2y .2(fr4'.21

3). 1 9 1

5. Scheinfeld itS. Preauricular Sinuses. (cited 2005 February 2) Available from:


U R L. Http i/www r1 qd]q! e-cgq(l rlnl.lo;' . l I r',r_tt-, I
6. Leung AK, Robsor, WLM. Association of Preauricular Sinuses and RenalAnomalies.
Urology. September 1.005; (a0);259
7. Lee KJ. Noninfectio't,s Disorders of the ear. ln Lee KJ editor. Essential
Otolaryngology 7ih ed. Appleton & Lange;1 999.p.7 i
8. Gulya J. Developmental Anatomy of Temporal Bone and Skull Base. ln Glasscock.
.

9.

Surgery of the Ear 2003;ed.5:3-5

Liston S, Duvall A. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Tetinga. ln Boies, Buku Ajar
Penyakit THT,1997;ed.6:27 - 38

10. Putz R, Pabst R, Telinga. ln Suyono J. Ailas Anatomi Manusia $obotta 2000;ed
z1:382
11. LarrabeeWF, Makielski KH, Henderson JL. SurgicalAnatomy of the Face. Lippincott
W&W, USA. 2004:P. 167-80
12. Chapman P. The surgical management of congenital pre-auricular sinus.lnt J of
Pediatric Otorhinolaryngology.

98 2;4:

S-21

13. Currie AR, King \n /VK, Vlantis AC, LiAKC. Fitfalls in the management of preauricular
sinuses^ British Journal of Surg. tslckwell Science Ltd.19g6;83:1772-74
1 4. Atlas Adams cited at embryology. med. unsw. edv. avlNoteslears. htm
15. Ellies M, Laskawi R, Arglebe C, Altroggef C. Clinical Evaluation anrJ $urgical

Management

of

Congenital Preauricular Fistulas. American Ass

Maxilofac Surg. 1 998;56:827-30

of Oral and

16. Tom LWC, Samadi DS. Surgical Treatment of Preauricular Sinus/Cysts. Operative
Techniques in Otolaryngology-Head and Neck Surgery. March 2AO2;(13),4447
17. Austin M .Preauricular Cysts,Pits, and Fissures (cited 2002 November 22) Availabte
f rom

U R L : h !_tpllUfUry

pmgdfSl n9

Q!

Ir

il, \.,, :tr


r

:tl I I

!r 1lj

il,r_

18. lida M, Sakai M. A statistical study of fistula auris congenital in Japen. Tokai J Exp
Clin Med.1 997;22(3):133-1 36

19. Sosialisman , Heli'ni. Kelainan Telinga luar. Dalam Soepardi EA, lskandar N editors.
Buku Ajar llmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, 41h ed. Batai Ponerbit FKUI,
Jakarta;2000. p.44-8

20. coatesworth AP, Patmore H, Jose J. short cornrnunication, Management of an


U8infected preauricular sinus, using a lacrimal probe. The Journal of Laryngology &
Otology.

2003;117:983-4

21. Kumar KK, Narayanamurthy VB, Sumathi V, Vijay R. Preauricular Sinus: Operating
Microscop lnput Outcome. lndian Journal of Otolaryngology and head and neck
surgery. 2006;58( 1 ):6-8

22. Yeo SW, Jun tsC, Fark SN,et al. The Preauricular Sinus : Factors contribriting to
recurrence after surgery. Am J Ototaryngot.2006;22(6):396-400
23. Gur E,Yeung A, Al Azzawi M, Thomson H. the excised preauricular sinus in 14 years
of experience. ls there a problem?. Plastic Reconstr.surg 1 9g8; 1 02(s): 1a0s-g
24. Choi SJ, Choung YH, Park K, Bae J, Park HY. The varian type of Preauricular"sinus:
t
postauricular sinus.Laryngoscope

2OO7;117(10):1798-802

t8