Anda di halaman 1dari 13

AKHLAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN DAN HADIST

Globalisasi menyisakan dampak-dampak negatif bagi perkembangan etika moral masyarakat


kita. Pengaruh arus informasi yang deras tanpa batas dan mudah di akses baik melalui internet ,
handphone, dan media lainnya, telah menjadikan anak-anak kita tumbuh dengan tidak sesuai
fitrahnya.
Di Negara-negara Islam gelombang dekadensi moral semakin meningkat. Gelobang yang berasal
dari barat tersebut sama sekali tidak mengindahkan urgensi agama dalam menjaga moral. Dalam
pandangan barat semua hal yang berhubungan dengan keyakinan tidaklah relevan dengan
kehidupan, apalagi dalam hal penyembahan Tuhan.[1] Ironisnya budaya barat yang sudah
mengalami kerusakan moral ini tersebar dengan mudah , baik melalui media cetak maupun
elektronik. Akibatnya, budaya lokal masyarakat muslim terkontaminasi dengan budaya barat,
dan pada akhirnya budaya lokal mengalami kegoncangan dan semakin dekat dengan gaya hidup
barat.
Indonesia Negeri kita tercinta adalah salah satu korban dari dekadensi moral tersebut. Hal itu
tergambar dengan jelas betapa merosotnya akhlak sebagian umat Islam Indonesia saat ini
terutama di kalangan remaja. Gaya hidup hedonis, seks bebas dan pengunaan obat-obatan
penenang sudah menjadi tontonan biasa dikalangan masyarakat. Sementara pembendungannya
masih sangat lemah dan dengan konsep yang tidak jelas. Padahal kejayaan suatu bangsa itu
ditentukan oleh moralnya, sebagaimana sya'ir berikut ini :
*
Sesunggunya umat suatu bangsa itu ditentukan oleh akhlaknya, jika akhlak telah hilang dari
mereka maka hilang pula kejayaanya.[2]
Maka dari itulah diperlukan kajian khusus mengenai akhlak ini yang sesuai dengan Al-Qur'an
dan Assunnah, karena dengan akhlak mulia, seorang muslim akan meraih kesempurnaan dalam
imannya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling
baik akhlaknya.[3]
Adapun judul makalah ini adalah : " AKHLAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN DAN
HADIST " . Makalah ini merupakan studi kepustakaan ( Library research ) dengan pendekatan
tafsir maudhu'i yang memfokuskan pada kajian akhlak menurut pandangan Al-Qur'an dan AlHadist, bukan dari sudut pandang filsafat barat.
Sumber primer kajian ini adalah Al-Qur'an dan Al-Hadist, dan sumber skunder mencakup kitabkitab akhlak yang ditulis ulama' salaf, seperti ihya' ulum addin, tahdzib al-akhlak, kitab al-adab
yang tercantum di kutub as-sunan dan lain-lain.
PENGERTIAN AKHLAK SECARA BAHASA DAN ISTILAH

Pengertian Akhlak menurut bahasa


Secara bahasa ( etimologi ) Kata akhlak ( ) merupakan jama' dari khuluq ( ) yang
masing-masing berakar dari kata khalaqa ( ) yang secara bahasa memiliki arti sebagai berikut
:

menaqdirkan, menciptakan[4] () , sebagaimana firman Allah :

(44 : )Dialah ( Allah ) yang menciptakan langit dan bumi .[5]
Tabiat kepribadian[6] ( )
Harga diri [7]()
kebaikan ( [) 8]
Agama[9] ( )
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kata khalaqa ( ) lebih cenderung pada
bentuk lahirnya, sedangkan kata khuluq ( ) lebih cenderung pada bentuk batinnya. Sehingga
ada ungkapan : ( sifulan baik lahirnya dan batinnya ). Hal itu sebagaimana
disinyalir oleh Ar-raghib al-asfihani .[10]Sebagaimana tercakup dalam salah satu do'a Rasullah
saw adalah : " Ya Allah, jadikanlah pada akhlakku mulia seperti Engkau menjadikan jasadku
baik.[11] Hal itu karena manusia tersusun dari fisik lahir yang bisa dilihat dengan mata kepala,
dan ruh yang dapat ditangkap dengan mata batin.[12] Dari dua unsur ini tidak bisa dipisahpisahkan, karena keduanya saling terkait antara yang satu dengan lainnya. Jika baik maka
memang keluar dari akhlaq yang baik, dan ada pula yang buruk jika keluar dari akhlaq yang
buruk.[13] Miqdad yalijin menambahkan, akhlak terbentuk dari dua sisi yaitu nafsi ( dorongan
jiwa ) dan suluki ( perilaku kebiasaan ) yang keduanya harus berjalan secara bersamaan.[14]
Adapun kata akhlak kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia identik dengan kata moral ,
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai keadaan baik dan buruk yang
diterima secara umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti dan susila. Moral juga
berarti kondisi mental yang terungkap dalam bentuk perbuatan. Selain itu moral berarti sebagai
ajaran Kesusilaan.[15] Kata moral sendiri berasal dari bahasa Latin mores yang berarti tata
cara dalam kehidupan, adat istiadat dan kebiasaan.[16]
Pengertian Akhlak secara Istilah
1. Imam Ghazali dalam kitab ulumuddin, akhlak adalah suatu gejala kejiwaan yang sudah mapan
dan menetap dalam jiwa, yang dari padanya timbul dan terungkap perbuatan dengan mudah,
tanpa mempergunakan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.[17]
2. Abu Usman al-Jahidz dalam kitab Tahdhib Al-Ahlak, akhlak adalah suatu gejala jiwa yang
dengannya manusia berperilaku tanpa berfikir dan memilih, terkadang perilku ini terjadi secara
spontanitas karena insting dan tabiat, dan terkadang pula membutuhkan sebuah latihan.[18].
3. Ibnu Maskawaih dalam kitab tahzibul akhlaq watathirul araq, mendifinisikan bahwa akhlaq itu
sebagai sikap jiwa seserorang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui
pertimbangan pikiran.[19]

4. Prof. Ahmad Amin dalam kitab Al-Akhlak mendifinisikan, akhlaq adalah adatul iradah
(kehendak yang dibiasakan) lalu menjadi kelaziman (kebiasaan).[20]
5. Ibrahim Anis dalam kitab Al-Mu'jam Al-Wasith mengatakan, Akhlak adalah ilmu yang
objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan, dapat disifatkan dengan baik
dan buruknya.[21]
6. Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq al Hasani dalam kitab Tajjul Arusy, Hakikatnya
(akhlak) adalah gambaran batin manusia, yakni jiwanya, sifat-sifatnya, dan makna-maknanya
yang spesifik, yang dengannya terlihat kedudukan makhluk, lantaran gambarannya secara zahir,
baik sifat-sifatnya dan makna-maknanya, dan keduanya memeliki sifat yang baik atau buruk,
mendapat pahala dan sanksi, yang kaitan keduanya dengan sifat-sifat yang tergambar secara
batin adalah lebih banyak, dibanding apa-apa yang yang terkait dengan gambaran zahirnya.[22]
7. Al-Jurjani dalam kitab Al-Ta'rifat, Akhlak merupakan keadaan jiwa yang mendalam (rasyikhah
) yang melahirkan perilaku dengan mudah tanpa harus berfikir panjang, jika perilaku itu baik
maka disebut khuluqan hasanan dan sebaliknya jika buruk maka disebut khuluqan sayyi'an.[23]
8. Ibn A'syur dalam kitab Tafsir al-Tahrir wa At-Tanwir, Akhlak adalah tabi'at jiwa yang akan
memunculkan perilaku yang baik jika tidak dipengaruhi hal-hal yang mengiringinya, akhlak akan
selalu tertanam pada jiwa, dan akan melahirkan perbuatan yang bisa dilihat dari tutur katanya,
raut wajahnya, ketegarannya, kebijakannya, gerak diamnya, pola makan minumnya, sikap
terhadap keluarganya dan seterusnya.[24]
Dari pengertian-pengertian Akhlak yang berbeda-beda tersebut di atas, dapatlah penulis
menyimpulkan, sebagaimana yang disimpulkan oleh Abdurrahman Hasan Al-Medani, bahwa
akhlak adalah sebuah sifat yang tertanam dalam jiwa ( Al-Shifah Al-Nafsiyyah ) seseorang baik
secara fitrah atau usaha ( fitriyah/muktasabah ) yang melahirkan kehendak kebiasaan, baik yang
terpuji maupun yang tercela.[25] Hal itu berbeda dengan " Suluk " ( Behavior ) karena ia
merupakan perilaku yang tanpak secara dhahir saja dan tidak secara batin.
Adapun skemanya sebagai berikut :
JIWA
FIKIRAN
TINDAKAN
HATI
KEBIASAAN
PERJALANAN HIDUP
AKHLAK
FAKTOR PENDORONG AKHLAK
1. Akal

Akal secara bahasa dari mashdar Yaqilu, Aqala, Aqlaa, jika dia menahan dan memegang erat
apa yang dia ketahui.[26] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :
" Kata akal, menahan, mengekang, menjaga dan semacamnya adalah lawan dari kata melepas,
membiarkan, menelantarkan, dan semacamnya. Keduanya nampak pada jisim yang nampak
untuk jisim yang nampak, dan terdapat pada hati untuk ilmu batin, maka akal adalah menahan
dan memegang erat ilmu, yang mengharuskan untuk mengikutinya. Karena inilah maka lafadz
akal dimuthlakkan pada berakal dengan ilmu" .[27]
Akal bisa juga disebut Hijr yang memiliki makna pembatas yang membatasi seseorang terjatuh
kejurang kemungkaran. Menurut Ibn Kastir kamar rumah dalam bahasa arab disebut Hijr, karena
membatasi aib dari penglihatan. [28] Diantaranya firman Allah :

Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.
[29]
Ibn Kastir berkata :
:
" Maksud dari kata " Hijr " adalah orang yang memiliki akal, nurani, agama, sesungguhnya akal
disebut "hijr" karena akal mencegah manusia dari perbuatan yang tidak layak, baik dari tindakan
maupun ucapan " .[30]
Imam Al-Mawardi memberi perhatian khusus tentang pentingnya peran akal ini, sehingga beliau
meletakkan bab tentang keutamaan akal pada bab pertama dalam kitabnya Adab Al-Dunya wa
Al-Din, beliau menegaskan :



" Ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap keutamaan memiliki inti dan setiap adab memiliki
sumber, dan inti keutamaan dan sumber adab adalah akal "[31]
Sementara itu, Hujjatul Islam Imam al Ghazali, mengakui bahwa akal merupakan faktor
pendorong akhlak menuju kebaikan , beliau berkata :


Sesungguhnya, yang dimaksudkan dengan akhlak yang indah adalah ilmu, akal, iffah (rasa
malu berbuat dosa), keberanian, taqwa, kemuliaan, dan semua perkara yang baik, dan semua

sifat-sifat ini tidak hanya ditampilkan oleh panca indera yang lima, tetapi juga oleh cahaya mata
hati dan batin.[32]
2. Hawa nafsu
Hawa nafsu mengandung pengertian kecondongan jiwa yang mendorong manusia untuk
berakhlak menyimpang, baik yang berupa syahwat maupun syubhat, sebagaimana yang
ditegaskan Imam Ibnu Abi Izz Al-Hanafi dalam Syarh Aqidah Thahawiyah.[33]. hal itu
sebagaimana firman Allah :



''Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, niscaya ia akan menyesatkan engkau dari jalan
Allah.'' [34]
Ayat di atas mengandung perintah kepada kita untuk mengekang hawa nafsu. Karena nafsu
adalah pendorong utama menuju kesesatan.
(41) ( 40)
Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya,
maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.''[35]


Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan
Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuannya dan Allah telah mengunci pendengaran
dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu
memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil
pengajaran).[36]


Bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru tuhanNYA pada pagi dan petang dengan
mengharap keredhaannya dan jangan kedua matamu berpaling dari mereka kerana
mengharapkan perhiasan kehidupan duniawi. Jangan sesekali mentaati orang-orang yang hatinya
telah kami lalaikan dari mengingati kami serta menurut hawa nafsunya dan ia keadaannya ia
sudah terlalu melampaui batas.[37]
.

: :


[
]

Dari Abu Muhammad Abdillah bin Amr bin Ash radhiallahuanhuma dia berkata : Rasulullah
Shallallahualaihi wasallam bersabda : "Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga
hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari
kitab Al Hujjah dengan sanad yang shahih.[38]
AKHLAK ANTARA SIFAT ALAMI DAN USAHA
Akhlaq ada yang merupakan tabiat atau ketetapan asli ( al maurus/al jibiliyyah/thabi'ah ) , ada
juga yang bisa diupayakan dengan jalan berusaha ( al muktasabah ). Hal itu sebagaimana Nabi
Shallallahu alaihi wa Sallam berkata kepada Asyajj 'Abdul Qais:
: , , :
:
"Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allah sukai;sifat santun dan tidak tergesagesa"Ia berkata: Wahai Rasulullah, Apakah kedua akhlaq tersebut merupakanhasil usahaku, atau
Allah-kah yang telah menetapkan keduanyapadaku?Beliau menjawab: "Allahlah yang telah
mengaruniakan keduanya padamu".Kemudian ia berkata:Segala puji bagi Allah yang telah
memberiku dua akhlaq yangdicintai oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya.[39]
Ibn Qoyyim dalam kitab Madarijussalikin berkata :

Hadist ini menunjukkan bahwa sesungguhnya diantara akhlak ada yang tabi'at atau sifat alami
dan ada pula sifat yang diusahakan.[40]
Senada dengan Ibn Qoyyim, Muhammad bin Sholeh Ustaimin menambahkan bahwa dari hadist
ini menunjukan bahwa akhlaq mulia bisa berupa perilaku alami (yakni karunia dari Allah
Subhanahu wa Taala kepada hamba-Nya-pent) dan juga dapat berupa sifat yang dapat
diusahakan atau diupayakan. Akan tetapi, tidakdiragukan lagi bahwa sifat yang alami tentu lebih
baik dari sifat yang diusahakan. Karena akhlaq yang baik jika bersifat alamiakan menjadi
perangai dan kebiasaan bagi seseorang. Ia tidak membutuhkan sikap berlebih - lebihan dalam
membiasakannya. Juga tidak membutuhkan tenaga dan kesulitan dalammenghadirkannya. Akan
tetapi, ini adalah karunia dari AllahSubhanahu wa Taala yang Ia diberikan kepada seorang
hambayang dikehendaki oleh-Nya.[41]
Adapun yang terhalang dari tabiat alami, maka sangat mungkin baginya untuk memperolehnya
dengan jalan berusaha dan berupaya untuk membiasakannya, karena Nabi Shallallahu alaihi wa
Sallam telah mengabarkan bahwa diantara salah satu tujuan dari diutusnya beliau adalah untuk
menyempurnakan akhlaq yang mulia. Beliau Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:
sebagaimana tercantum dalam sabdanya :

Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.[42]

Hadist ini menunjukkan usaha Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam untuk merubah akhlak yang
buruk menuju akhlak yang mulia, hal itu juga dikuatkan oleh firman Allah :



Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar
dalam kesesatan yang nyata,[43]
:




) :




Dari Abi Sa'id Al-Khudri, berkata : Sesungguhnya sekelompok orang dari sahabat anshar
meminta sesuatu dari rasulallah saw, kemudin beliau memberinya, kemudian mereka meminta
lagi dan Rasullah saw memberinya lagi, sehingga semua habis . maka Rasulallah bersabda : apa
saja yang aku miliki dari kebaikan maka aku tidak pernah menyimpannya dari kalian, barang
siapa menjaga sifat iffah maka Allah akan memberikannya, dan barangsiapa yang merasa cukup
maka Allah mencukupinya, barangsiapa mencoba untuk sabar maka Allah akan
menyabarkannya, dan tidaklah seseorang diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih luas
daripada kesabaran.[44]
Ibn Qoyyim mengomentari hadis ini, dan berkata :
: :

Jika kamu bertanya , apakah mungkin akhlak bisa diusahakan ataukah dia tidak bisa
diusahakan ?, maka aku jawab : ya mungkin , akhlak bisa diusahakan dan dipaksakan, sehingga
menjadi sebuah karakter dan malakah.[45]
URGENSI AKHLAK DALAM AL-QUR'AN DAN AL-HADIST
Akhlak sebagai misi Nabi Muhammad saw

Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.[46]
Al-Fairuz Abadi berkata :

Ingatlah sesungguhnya agama adalah akhlak secara keseluruhan, barangsiapa yang menambah
tasmu akhlak maka bertambah pula atasmu agama.[47]


Dan seseungguhnya engkau (Muhammad), benar-benar berbudi pekerti agung.[48]
Berkata Imam Abu Jafar bin Jarir Ath Thabari Rahimahullah :
.
Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, benar-benar di atas adab (etika) yang mulia, itulah
adab Al Quran yang dengannya Allah telah mendidiknya, yakni (adab) Islam dan syariatsyariatnya.[49]
Ucapan Imam Ibnu Jarir ini merupakan rangkuman dari berbagai tafsir tentang makna Khuluqun
Azhim, yang dimaknai oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Adh Dhahak, dan Ibnu Zaid, di mana
mereka mengartikannya dengan makna agama mulia, yakni Islam. Sedangkan Athiyah
memaknainya dengan Adabul Quranetika al Quran)[50]. Ibn Kastir dan Assyaukani
menambahkan dengan makna ' tabi'at yang mulia ( al-tab'u al-karim ) serta adab yang agung ( aladab al-adzim )'[51] . [52] Sementara itu, Aisyah Radhiallahu Anha memaknai ayat
sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti agung adalah Al Quran. Sebagaimana
riwayat berikut :
: : ) (
: : :

Dari Saad bin Hisyam bin Amir, tentang firmanNya Sesungguhnya engkau benar-benar
berbudi pekerti agung, dia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah Radhiallahu Anha: Wahai
Ummul Muminin, kabarkan kepada saya tentang akhlaq Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam. Beliau menjawab: Apakah engkau membaca Al Quran? Aku menjawab: Tentu. Dia
berkata: Sesungguhnya Akhlaq Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Al Quran.[53]
Akhlak sebagai salah satu rukun dakwah para Rasul

.

Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada
mereka:Mengapa kamu tidak bertaqwa?Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan
(yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekalikali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb
semesta alam.Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku".[54]
Akhlak sebagai barometer

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal

mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang
paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
[55]


Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk fisik kalian dan banyaknya harta kalian, akan
tetapi Ia melihat pada pada hati dan Amal kalian.[56]

Sesungguhnya sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik akhlaknya.[57]
Akhlak sebagai pilar kebaikan



Dari An Nawas bin Saman al Anshari, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam tentang Al Birr (kebaikan) dan Dosa, beliau bersabda: Al Birr adalah akhlak
yang baik dan dosa adalah apa-apa yang membuat dadamu tidak nyaman, dan engkau
membencinya jika manusia melihatnya.[58]
An Nawawi Rahimahullah mengomentari hadits ini



:


Berkata para ulama: Al Birr dimaknai dengan Ash Shilah (hubungan), dan bermakna
kelembutan, kebaikan, persahabatan yang baik, dan pergaulan yang baik, dan juga bermakna
ketaatan. Semuanya ini terhimpun pada kata Akhlak.[59]
As syaukani berkata :

Al-Birr adalah nama yang mencakup seluruh kebaian.[60]
Akhlak penyebab masuk Syurga


Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya tentang
hal apa yang menyebabkan paling banyak manusia masuk ke surga, maka beliau menjawab:
Taqwa kepada Allah, dan akhlaq yang baik " .[61]
Al Mubarkafuri berkata tentang makna husnul khuluq:




Yaitu akhlak terhadap makhluk, dia mendekatkan diri dan menjauhkan dari sikap menyakiti
mereka, dan lebih tinggi kebaikannya kepada siapa-siapa yang telah berbuat buruk kepadanya

dari mereka.[62]
Sementara Imam At tirmidzi meriwayatkan dari Imam Abdullah bin Mubarak tentang makna
Husnul Khuluq (akhlaq yang baik):


Dari Abdullah bin Mubarak, bahwa dia menyifati akhlak yang baik adalah wajah yang ceria,
suka memberikan hal-hal yang baik, dan menahan tangannya dari menyakiti manusia .[63]
Akhlak sebagai pemberat timbangan amal



Dari Abu Darda, dia berkata: Aku mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
Tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di atas timbangan lebih berat dibandingkan akhlak yang
baik.[64]
Imam Abu Thayyib Rahimahullah berkata tentang maksud hadits di atas


Yaitu pahala akhlak yang baik, catatannya dan nilai akhlak baik itu sendiri. [65]
Akhlak sebagai Syafa'at


Sesungguhnya diantara kalian yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku besok di
akhirat adalah yang terbaik akhlaknya, Sesungguhnya diantara kalian yang paling aku benci dan
yang paling jauh denganku besok di akhirat adalah yang terburuk akhlaknya.[66]
RUANG LINGKUP AKHLAK
Sesuai dengan asal kata " Akhlak " yaitu masdar Khuluq, ini bisa dikembangkan menjadi isim
fa'il yaitu Kholiq, maupun isim maf'ul yaitu " Makhluq ", berangkat dari sini maka ruang lingkup
Akhlak terbagi menjadi dua yaitu Akhlak terhadap Kholiq dan Akhlak terhadap Makhluk. Hal itu
sebagaimana ditegaskan oleh Ibn Qoyyim[67] dan Ibn Rajab[68], Yang semua itu secara ringkas
tercakup dengan utuh dalam kandungan hadist berikut ini :

Bertakwalah kamu kepada Alloh di mana pun kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan
kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti
yang baik.[69]
Ibn Rajab mensyarah hadist ini seraya berkata :
.
" Ini adalah wasiat yang agung yang mencakup akhlak terhadap Allah dan Akhlak terhadap
sesame manusia secara keseluruhan ".[70]
Ath Thayyibi berkata :



.

" Taqwa kepada Allah merupakan isyarat terhadap baiknya pergaulan dengan Sang Pencipta,
yakni dengan cara menjalankan semua yang diperintahkanNya dan menjauhi dari dari apa-apa
yang dilarangNya. Akhlak yang baik merupakan isyarat terhadap baiknya pergaulan dengan
sesama makhluk. Dua perangai ini akan mengantarkan kepada surga, sedangkan yang
bertentangan dengan keduanya akan masuk ke neraka. Apa yang biasa dilakukan Mulut dan
kemaluan, merupakan lawan dari kedua perangai itu."[71]
Adapun perincian ruang lingkup akhlak sebagai berikut :
Akhlak terhadap kholik ( / vertikal )
MenjadikanNya satu-satunya mabud (sembahan) yang haq dan murni. (QS. 1: 5)(QS. 98:5)
Taat kepadaNya secara mutlak. (QS. 4:65)
Tidak menyekutukanNya dengan apa pun. (QS. 4: 116)
MenjadikanNya sebagai tempat minta pertolongan. (QS. 1:5)
Memberikan hak rububiyah, uluhiyah, asmaul husna dan sifatul ulya, hanya kepadaNya. (QS.
1;2), (QS. 114: 3)
Tidak menyerupakanNya dengan apa pun (QS. 42: 11)
Menetapkan apa-apa yang ditetapkanNya, mengingkari apa-apa yang diingkariNya,
mengharamkan apa-apa yang diharamkanNya, dan menghalalkan apa-apa yang dihalalkanNya.
(QS. 5: 48-49)
MenjadikanNya sebagai satu-satunya pembuat syariat. (QS. 6: 57)
Berserah diri kepadaNya (QS. 20:72)
Akhlak terhadap makhluk ( haq adami/horisontal )
A. Akhlak kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
Mengakui dan mengimani bahwa Beliau adalah hamba Allah dan RasulNya. (QS. 18:110)
Meyakini bahwa Beliau adalah Rasul dan NabiNya yang terakhir, dan risalahnya pun juga risalah
terakhir. (QS. 30:40)
Taat kepadanya secara mutlak. (QS. 4:65)
Menjadikannya sebagai teladan yang baik dalam kehidupan, beragama, keluarga, sosial, dan lainlain. (QS. 30:21)
Meyakini bahwa syafaat darinya hanya terjadi dengan idzin Allah taala. (QS. 10:3), (QS.
20:109)
Bershalawat padanya. (QS. 30:56)
Menerima keputusannya secara lapang. (QS. 4: 59)
Mencintai keluarganya (ahli baitnya). (HR. At tirmidzi, Juz.12, Hal. 260, No. 3722. Al Maktabah
asy Syamilah)
Mencintai para sahabatnya dan mengakui bahwa mereka adalah umat terbaik dan semuanya adil.
(QS. 3: 110)
Mencintai yang dicintainya dan membenci yang dibencinya. (QS. Al-Hasr : 7 )
Memanggil Nabi dengan namanya ( QS. 24:63, 49:4, 49:5 )
Meninggikan suara melebihi suara Nabi ( QS. 49:1, 49:2, 49:3 )
Etika berbicara dengan Nabi ( QS. 2:104, 49:3, 49:4, 49:5 )
Memohon diri kepada Nabi saat meninggalkan majlisnya (QS. 24:62 )
Pembicaraan khusus dengan Nabi ( QS 58:12, 58:13 )

B. Akhlak Pribadi ( al-Khuluq al-fardi )


Tidak menjerumuskan diri pada jurang kerusakan ( QS.Al-baqarah : 195 )
Menjauhi dusta ( QS. Al-Hajj : 30, Al-Nahl: 105 )
Menjauhi sifat kemunafikan ( QS. Al-Baqarah : 204-206 )
Menyerasikan antara ucapan dan perbuatan ( QS. Al-Baqarah : 44 , As-Shaff : 2-3 )
Menjauhi sifat kikir ( QS. Al-Hasr : 9, Al-Baqarah : 268, An-Nisa' : 37 )
Menjauhi kemubadziran ( QS.AL-Isra' : 26-27 )
Menjauhi riya' ( QS. An-Nisa : 38, Al-Ma'un : 3-7 )
Menjauhi Sombong ( QS. Luqman : 18, Al-Isra : 37, An-Nahl : 23 )
C.Akhlak keluarga ( al-akhlak al-usariyah )
Memuliakan orang tua ( QS. An-Nisa' : 36 , al-Isra' : 23-24, luqman : 14-15 )
Menyayangi Anak dan mendidiknya ( QS. Al- An'am : 151, Attakwir : 8,9,14, al-tahrim : 6 )
Hak dan kewajiban suami istri ( QS. An-nisa' : 22, 34, 19, 24 )
Berbuat baik terhadap kerabat ( QS. Arrum :38, al-baqarah : 180, an-nisa' : 7 ,
D.Akhlak kemasyarakatan ( al-akhlaq al- ijtima'iyyah )
Saling memaafkan terhadap sesama ( QS. As syura : 37 )
Berlaku amanah dan menjauhi khianat ( QS.Al-Anfal : 27, annahl : 91 )
Menjauhi kedzaliman ( QS. Thoha : 111, Assyura : 40, al-furqon : 19 )
Menjauhi kesaksian palsu ( QS. Al-haj : 30 )
Tidak menyembunyikan persaksian ( QS. Al-Baqarah : 283 )
Menjaga lisan ( QS. Annisa' : 148-149 )
Menyantuni anak yatim ( QS. Addhuha : 9-10 )
Menjauhi ghosip ( QS. Al Hujurat : 12 )
Menepati janji ( QS. al-maidah : 1 , al-isra' : 34 )
Etika berbicara ( QS. 31:19, 49:314:24, 14:25, 14:26, 24:26, 28:55, 39:18 )
Menghormati dan meluaskan tempat kepada orang saat berkumpul ( QS . 58:11 : 58:8, 58:9 :
24:62 )
Memberi salam ( QS. 15:52, 16:32, 19:15, 51:25 : 58:8 , 4:86, 51:25 )
Menghormati dan melayani tamu ( Qs18:77, 51:26, 51:27 : 11:69, 24:61, 33:53, 51:26, 51:27 )
Menghormati tetangga ( QS 4:36 , 4:36, 107:7 )
Akhlak terhadap hamba sahaya ( QS. 4:36 , 4:36 , 4:36, 4:36 )
KESIMPULAN
Akhlak adalah sebuah sifat yang tertanam dalam jiwa ( Al-Shifah Al-Nafsiyyah ) seseorang baik
secara fitrah atau usaha ( fitriyah/muktasabah ) yang melahirkan kehendak kebiasaan, baik yang
terpuji maupun yang tercela.
Konsep Akhlak dalam Islam berbeda jauh dari konsep barat, Islam melihat akhlak dari dua sisi
yang tidak bisa dipisahkan yaitu sisi lahir dan batin, sementara barat hanya melihat dari sisi

lahirnya saja ( behavior ), hal itu karena barat melihatnya dari sudut pandang logika semata dan
tidak mengenal konsep wahyu.
Akal dan Nafsu merupakan dua pendorong terwujudnya akhlak, jika akal yang dominan maka
akan melahirkan akhlak mulia, dan sebaliknya, jika nafsu yang dominant maka akan melahirkan
akhlak yang tercela.
Akhlaq ada yang merupakan tabiat atau ketetapan asli ( al maurus/al jibiliyyah/thabi'ah ) , ada
juga yang bisa diupayakan dengan jalan berusaha ( al muktasabah ).
Ruang lingkup Akhlak terbagi menjadi dua yaitu Akhlak terhadap Kholiq dan Akhlak terhadap
Makhluk.
Akhlak yang mulia memiliki kedudukan yang tinggi dan urgensi sangat penting dalam
membangun masyarakat islam
Akhlak yang mulia merupakan tonggak kejayaan satu bangsa atau umat.
Akhlak yang mulia merupakan salah satu rukun dakwah para Rasul
Akhlak yang mulia meliputi akhlak terhadap Allah dan makhluknya.