Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah yang sering dialami seorang pria usia lanjut yang berhubungan dengan
sistem perkemihan adalah Benign Prostatic Hyperlasia (BPH). Meskipun jarang
mengancam jiwa, BPH memberikan keluhan yang menjengkelkan dan mengganggu
aktivitas sehari-hari. Keadaan ini akibat dari pembesaran kelenjar prostat atau benign
prostate enlargement (BPE) yang menyebabkan terjadinya obstruksi pada leher buli-buli
dan uretra atau dikenal sebagai bladderoutlet obstruction (BOO). Obstruksi yang khusus
disebabkan oleh pembesaran kelenjar prostat disebut sebagai benign prostate
obstruction (BPO). Obstruksi ini lama kelamaan dapat menimbulkan perubahan struktur
buli-buli maupun ginjal sehingga menyebabkan komplikasi pada saluran kemih atas
maupun bawah.(Poernomo, 2000)
Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) merupakan perbesaran kelenjar prostat,
memanjang ke atas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
menutupi orifisium uretra akibatnya terjadi dilatasi ureter (hidroureter) dan ginjal
(hidronefrosis) secara bertahap (Smeltzer dan Bare, 2002).
BPH didefinisikan sebagai proliferasi dari sel stromal pada prostat, yang
menyebabkan perbesaran pada kelenjar prostat. Insiden BPH hanya terjadi pada laki-laki
(menurut struktur anatomi), dan gejala pertama kali akan muncul pada usia kurang lebih
30 tahun. Gejala pada BPH secara umum dikenal sebagai LUTS. LUTS secara umum
adalah gejala-gejala yang berkaitan dengan terganggunya saluran kencing bagian
bawah. Salah satu manifestasinya adalah terganggunya aliran urin, keinginan buang air
kecil (BAK) namun pancaran urin lemah (Kapoor, Anil.2012).
Di Indonesia BPH merupakan urutan kedua setelah batu saluran kemih dan
diperkirakan ditemukan pada 50% pria berusia diatas 50 tahun dengan angka harapan
hidup rata-rata di Indonesia yang sudah mencapai 65 tahun dan diperkirakan bahwa
lebih kurang 5% pria Indonesia sudah berumur 60 tahun atau lebih. Kalau dihitung dari
seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 200 juta lebih, kira-kira 100 juta terdiri dari
pria, dan yang berumur 60 tahun atau lebih kira-kira 5 juta, sehingga diperkirakan ada
2,5 juta laki-laki Indonesia yang menderita gejala saluran kemih bagian bawah (Lower
Urinary Tract Symptoms/LUTS) akibat BPH (Suryawisesa, dkk. 1998).
Oleh karena itu, BPH harus dapat dideteksi, dengan mengenali manifestasi klinik dari
BPH dan dapat dikelola secara rasional sehingga akan memberikan morbiditas dan
mortalitas yang rendah dengan biaya yang optimal (Rahardjo,1997). Seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia yang pesat, maka jumlah lansia
diperkirakan akan meningkatkan pula. Jumlah lansia yang meningkat ini berdampak
pada banyaknya angka kejadian BPH.Kejadian ini menjadi salah satu faktor bagi para
tenaga medis dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah-masalah yang akan timbul
1

di kemudian hari. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan upaya pelayanan
kesehatan secara preventif, promotif, dan kuratif, sehingga masalah tersebut dapat
diatasi dengan baik. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka kami membuat
Asuhan Keperawatan pada Benign Prostate Hyperplasia(BPH)
1.2 Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)?
2. Apa etiologiBenigna Prostate Hiperplasia (BPH)?
3. Bagaimana tanda dan gejala Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)?
4. Bagaimana patofisiologi Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)?
5. Bagaimana perjalanan penyakit Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)?
6. Bagaimana Pemeriksaan diagnostik apa yang dilakukan pada Benigna Prostate
Hiperplasia (BPH)?
7. Bagaimana Penatalaksanaan medisBenigna Prostate Hiperplasia (BPH)?
1.3 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Setelah

menyelesaikan

mempraktekkan
mahasiswa

proses

pengelolaan

dapat

pembelajaran mahasiswa diharapkan

pelayanan

menerapkan

konsep

mampu

keperawatan secara profesional


dasar

dalam

memberikan

dan

asuhan

keperawatan pada klien khususnya pada kasus BPH (Benigna Prostat Hyperplasia).
1.3.2. Tujuan Khusus
a)
b)
c)
d)
e)
f)

MengetahuidefinisiBenigna Prostate Hiperplasia (BPH)


MengetahuietiologiBenigna Prostate Hiperplasia (BPH)
Mengetahui tanda dan gejala Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)
Mengetahui patofisiologi Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)
Mengetahui perjalanan penyakit Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)
Mengetahui Pemeriksaan diagnostik apa yang dilakukan pada Benigna Prostate

Hiperplasia (BPH)
g) Mengetahui Penatalaksanaan medisBenigna Prostate Hiperplasia (BPH)

1.4 Manfaat
1.4.1

Bagi Tenaga Kesehatan


Memberikan informasi mengenai gambaran BPH sebagai tolak ukur dalam
mengidentifikasi suatu faktor risiko.

1.4.2

Bagi Peneliti Lain


Sebagai bahan referensi untuk mengembangkan pengetahuan dan informasi
mengenai gambaran kejadian pada penderita BPH.

1.4.3

Bagi Masyarakat Umum


2

Memberikan pengetahuan dan informasi mengenai BPH dalam upaya pencegahan


penyakit.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Ada beberapa pengertian penyakit Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) menurut
beberapa ahli adalah :
1. Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) merupakan perbesaran kelenjar prostat,
memanjang ke atas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
3

menutupi orifisium uretra akibatnya terjadi dilatasi ureter (hidroureter) dan ginjal
(hidronefrosis) secara bertahap(Smeltzer dan Bare, 2002).
2. BPH merupakakan pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa majemuk dalam
prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai proliferasi yang
terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa, prostat tersebut
mengelilingi uretra dan, dan pembesaran bagian periuretral menyebabkan obstruksi
leher kandung kemih dan uretra parsprostatika yang menyebabkan aliran kemih dari
kandung kemih (Price dan Wilson, 2006).
3. BPH merupakan suatu keadaan yang sering terjadi pada pria umur 50 tahun atau
lebih yang ditandai dengan terjadinya perubahan pada prostat yaitu prostat
mengalami atrofi dan menjadi nodular, pembesaran dari beberapa bagian kelenjar ini
dapat mengakibatkan obstruksi urine ( Baradero, Dayrit, dkk, 2007).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Benigna Prostat Hiperplasi
(BPH) merupakan penyakit pembesaran prostat yangdisebabkan oleh proses penuaan,
yang biasa dialami oleh pria berusia 50tahun keatas, yang mengakibatkan obstruksi
leher

kandung

kemih,

dapatmenghambat

pengosongan

kandung

kemih

dan

menyebabkan gangguanperkemihan.
2.2 Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti etiologi/penyebab terjadinya
BPH, namun beberapa hipotesisi menyebutkan bahwa BPH erat kaitanya dengan
peningkatan kadardehidrotestosteron (DHT) dan proses menua. Etiologi yang belum
jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga menjadi penyebab timbulnya
Benigna Prosat, teori penyebab BPH menurut Purnomo (2011) meliputi, Teori
Dehidrotestosteron (DHT), teori hormon (ketidakseimbangan antara estrogen dan
testosteron), faktor interaksi stroma dan epitel-epitel, teori berkurangnya kematian sel
(apoptosis), teori sel stem.

1. Teori Dehidrotestosteron (DHT)


Dehidrotestosteron/ DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Aksis hipofisis testis dan reduksi testosteron
menjadi dehidrotestosteron (DHT) dalam sel prostad merupakan factor terjadinya
penetrasi DHT kedalam inti sel yang dapat menyebabkan inskripsi pada RNA,
sehingga dapat menyebabkan terjadinya sintesis protein yang menstimulasi
pertumbuhan sel prostat. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada
BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada
4

BPH, aktivitas enzim 5alfa reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak
pada BPH. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitive terhadap
DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal.
2. Teori hormone ( ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron)
Pada usia yang semakin tua, terjadi penurunan kadar testosteron sedangkan kadar
estrogen relative tetap, sehingga terjadi perbandingan antara kadar estrogen dan
testosterone relativemeningkat. Hormon estrogen didalam prostat memiliki peranan
dalam terjadinya poliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan jumlah
reseptor androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis).
Meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosterone
meningkat, tetapi sel-sel prostat telah ada mempunyai umur yang lebih panjang
sehingga masa prostat jadi lebih besar.
3. Faktor interaksi Stroma dan epitel epitel.
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh
sel-sel stroma melalui suatu mediator yang disebut Growth factor. Setelah sel-sel
stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis
suatu growth factoryang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri intrakrin
dan autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel parakrin. Stimulasi itu menyebabkan
terjadinya poliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma. Basic Fibroblast Growth Factor
(bFGF) dapat menstimulasisel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih
besar pada pasien dengan pembesaran prostad jinak. bFGF dapat diakibatkanoleh
adanya mikrotrauma karena miksi, ejakulasi atau infeksi.
4. Teori berkurangnya kematian sel (apoptosis)
Progam kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik untuk
mempertahankan homeostatis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi
dan fragmentasi sel, yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan
difagositosis oleh sel-sel di sekitarnya, kemudian didegradasi oleh enzim lisosom.
Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju poliferasi sel dengan
kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai padaprostat dewasa,
penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan
seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat baru dengan prostat yang mengalami
apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi
meningkat, sehingga terjadi pertambahan masa prostat.
5. Teori sel stem
Sel-sel yang telah apoptosis selalu dapat diganti dengan sel-sel baru. Didalam
kelenjar prostat istilah ini dikenal dengan suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai
kemampuan berpoliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada
keberadaan hormone androgen, sehingga jika hormone androgen kadarnyamenurun,
5

akan terjadi apoptosis. Terjadinya poliferasi sel-sel BPH dipostulasikan sebagai


ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel
stroma maupun sel epitel.
2.3 Manifestasi
Pembesaran kelenjar prostat dapat terjadi asimtomatik baru terjadi kalau neoplasma
telah menekan lumen urethra prostatika, urethra menjadi panjang (elongasil), sedangkan
kelenjar prostat makin bertambah besar. Ukuran pembesaran noduler ini tidaklah
berhubungan dengan derajat obstruksi yang hebat, sedangkan yang lain dengan kelenjar
prostat yang lebih besar obstruksi yang terjadi hanya sedikit, karena dapat ditoleransi
dengan baik.
Tingkat keparahan penderita BPH dapat diukur dengan skor IPSS (Internasional
Prostate Symptom Score) diklasifikasi dengan skore 0-7 penderita ringan, 8-19 penderita
sedang dan 20-35 penderita berat (Rahardjo,1997).
Ada juga yang membagi berdasarkan derajat penderita hiperplasi prostat
berdasarkan gambaran klinis: (Sjamsuhidajat,1997).
Secara klinik derajat berat BPH dibagi menjadi 4 gradasi, yaitu :
Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan protatismus, pada DRE (colok dubur)
ditemukanpenonjolan prostat dan sisa urin kurang dari 50 ml. Penonjolan 0-1 cm ke
dalam rektum prostat menonjol pada bladder inlet. Pada derajat ini belum memerlukan
tindakan operatif, dapat diberikan pengobatan secara konservatif , misal alfa bloker,
prazozin, terazozin 1-5 mg per hari.
Derajat 2 : Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih
menonjolpenonjolan 1-2 cm ke dalam rektum, prostat menonjol diantara bladder inlet
dengan muara ureter. Batas atas masih teraba dan sisa urin lebih dari 50 ml tetapi
kurang dari 100 ml. Pada derajat ini sudah ada indikasi untuk intervensi operatif.
Derajat 3 : Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urine
lebih dari100 ml. penonjolan 2-3 cm ke dalam rektum. Prostat menonjol sampai muara
ureter. TURP masih dapat dilakukan akan tetapi bila diperkirakan reseksi tidak selesai
dalam satu jam maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka.
Derajat 4 : Terjadi retensi urin total. Penonjolan > 3 cm ke dalam rektum prostat menonjol
melewati muara ureter.
Tanda klinik terpenting pada BPH adalah ditemukannya pembesaran pada
pemeriksaancolok dubur/digital rectal examination (DRE). Pada BPH, prostat teraba
membesar dengan konsistensi kenyal.
Pada penderita BPH dengan retensi urin pemasangan kateter merupakan suatu
pertolongan awal, selain menghilangkan rasa nyeri juga mencegah akibat-akibat yang
dapat ditimbulkan karena adanya bendungan air kemih ( Sarim,1987).
6

Gejala hiperplasia prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun
keluhan di luar saluran kemih. Di antaranya adalah:
1.
Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinari Tract Symptoms
(LUTS) terdiri atas gejala iritatif dan gejala obstruktif. Gejala obstruktif disebabkan
oleh karena penyempitan uretra pars prostatika karena didesak oleh prostat yang
membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau
cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus.
Gejala obstruktif antara lain :
1) Harus menunggu pada permulaan miksi (hesistancy)
2) Pancaran miksi yang lemah (weak stream)
3) Miksi terputus (intermittency)
4) Menetes pada akhir miksi (terminal dribbling)
5) Rasa belum puas sehabis miksi (sensation of incomplete bladder emptying).
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hiperplasia prostat masih
tergantung tiga faktor, yaitu :
1) Volume kelenjar periuretral
2) Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
3) Kekuatan kontraksi otot detrusor
Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi,
sehingga meskipun volume kelenjar periuretral sudah membesar dan elastisitas leher
vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih
dikompensasi dengan kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi
belum dirasakan.
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaria yang tidak
sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh hipersensitifitas otot detrusor karena
pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering
berkontraksi meskipun belum penuh.

Gejala iritatif antara lain :


1)

Bertambahnya frekuensi miksi (frequency)

2)

Nokturia

3)

Miksi sulit ditahan (urgency)

4)

Disuria (nyeri pada waktu miksi)


Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis
derajat berat gejala prostatismus itu dibagi menjadi :
Grade I

: Gejala prostatismus + sisa kencing < 50 ml

Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml


Grade III : Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas +
sisa urin > 150 ml.
Timbulnya dekompensasi vesica urinaria biasanya didahului oleh beberapa factor
pencetus, antara lain:
1) Volume vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan
kencing

terlalu

lama,

mengkonsumsi

obat-obatan

atau

minuman

yang

mengandung diuretikum (alkohol, kopi) dan minum air dalam jumlah yang
berlebihan.
2) Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau
mengalami infeksi prostat akut.
3) Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot
detrusor atau yang dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain:
golongan antikolinergik atau alfa adrenergik.
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat penyulit hiperplasia prostat pada saluran kemih bagian atas, berupa
gejala obstruksi antara lain: nyeri pinggang, demam yang merupakan tanda dari
infeksi atau urosepsis, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari
hidronefrosis), yang selanjutnya dapat menjadi gagal ginjal dapat ditemukan uremia,
peningkatan tekanan darah, perikarditis, foetoruremik dan neuropati perifer.
8

3. Gejala di luar saluran kemih


Pasien yang berobat ke dokter biasanya mengeluh adanya hernia inguinalis dan
hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi
sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal (Poernomo, 2000, hal
77 78; Mansjoer, 2000, hal 330).
Menurut Long (1996, hal. 339-340), pada pasien post operasi BPH, mempunyai tanda
dan gejala:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hemorogi
Hematuri
Peningkatan nadi
Tekanan darah menurun
Gelisah
Kulit lembab
Temperatur dingin
Tidak mampu berkemih setelah kateter diangkat
9. Gejala-gejala intoksikasi air secara dini: bingung, agitasi, kulit lembab, anoreksia,
mual, muntah, warna urin merah cerah pada hari kedua dan ketiga postoperasi
menjadi lebih tua.

2.4 Patofisiologi
Prostat sebagai kelenjar ejakaulat memiliki hubungan fisiologis yang sangat erat
dengan dihidrotestoteron (DHT). Hormone ini merupakan hormone yang memacu
pertumbuhan prostat sebagai kelenjar ejakulasi yang nantinya akan mengoptimalkan
fungsinya. Hormon ini di sintesis dalam kelenjar prostat dari hormon testosteron dalam
darah. Proses sintesis ini dibantu oleh enzim 5 reduktase tipe 2. Selain DHT yang
sebagai perkusor,estrogen juga memiliki pengaruh terhadap pembesaran kelenjar
prostat. Seiring dengan penambahan usia, maka prostat akan lebih sensitif dengan
stimulasi androgen, sedangkan estrogen mampu memberikan proteksi terhadap BPH.
Dengan pembesaran yang sudah melebihi normal, maka akan terjaadi desakan pada
traktus urinarius. Pada tahap awal, obstruksi traktus urinarius jarang menimbulkan
keluhan, karena dengan dorongan mengejan dan kontraksi yang kuat dari m. detrusor
mampu mengeluarkan urine secara spontan.Namun, obstruksi yang sudah kronis
membuat dekompensasi dari m. detrusor untuk berkontraksi yang akhirnya menimbulkan
obstruksi saluran kemih (Mitchel, 2009).
Keluhan yang biasanya muncul dari obstruksi ini adalah dorongan mengejan saat
miksi yang kuat, pancaran urine lemah/menetes, disuria (saat kencing terasa terbakar),
palpasi rektal toucher menggambarkan hipertrofi prostat, distensi vesika.n Hipertrofi
fibromuskuler yang terjadi pada klien BPH menimbulkan penekanan pada prostat dan
jaringan sekitar, sehingga menimbulkan iritasi pada mukosa uretra. Iritabilitas inilah
nantinya akan menyebabkan keluhan frekuensi, urgensi, inkontinensia urgensi, dan
nokturia. Obstruksi yang berkelanjutan akan menimbulkan komplikasi yang lebih besar,
9

misalnya hidronefrosis, gagal ginjal, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kateterisasi
untuk tahap awal sangat efektif untuk mengurangi distensi vesika urinaria (Heffner.2002).
Pembesaran pada BPH (hyperplasia prostat) terjadi secara bertahap mulai dari zona
periuretral dan transisional.Hyperplasia ini terjadi secara nodular dan sering diirinigi oleh
proliferasi fibromuskular untuk lepas dari jaringan epitel.Oleh karena itu, hyperplasia
zona transisional ditandai oleh banyaknya jaringan kelenjar yang tumbuh pada pucuk
dan cabang dari pada duktus.Sebenarnya proliferasi zona transisional dan zona sentral
pada prostat berasal turunan duktus wolffii dan proliferasi zona perifer berasal dari sinus
urogenital. Sehingga, berdasarkan latar belakang embriologis inilah bisa diketahui
mengapa BPH terjadi pada zona transisional dan sentral, sedangkan Ca prostat terjadi
pada zona perifer (Heffner,2002).
2.5 Pathway
Degeneratif

Dehidrotestiteron

Estrogen

Testoteron

Peningkatan

meningkat

Meningkat

Turun

Epidermal
Growth Factor

Peningkatan sel stem

Proliferasi sel

Obstruksi saluran
kemih

Hiperplasia Epitel &

Penurunan

stroma prostat

Transforming
Growth factor

BPH

Beta

Penyempitan
lumen uretra
pars prostatika

Kompensasi otot
destruktor

Menghamb
at aliran
urine

Penebalan dinding
destruktor

Bendungan
vesica
urinaria

Statis
urin

Media
berkembang
nya patogen

Kontraksi otot
10

Resiko infeksi

Sulit BAK

Sensitifitas
meningkat

Gangguan

Nyeri Akut

eliminasi urine
2.6 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik Menurut Purnomo (2011) dan Baradero dkk (2007)
pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita BPH meliputi :
1. Laboratorium
a. Analisi urin dan pemeriksaan mikroskopik urin penting dilakukan untuk melihat
adanya sel leukosit, bakteri dan infeksi. Pemeriksaan kultur urin berguna untuk
menegtahui kuman penyebab infeksi dan sensitivitas kuman terhadap beberapa
antimikroba.
b. Pemeriksaan faal ginjal, untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang
menegenai saluran kemih bagian atas. Elektrolit kadar ureum dan kreatinin darah
merupakan informasi dasar dari fungsin ginjal dan status metabolic.
c. Pemeriksaan prostate specific antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan
perlunya biopsy atau sebagai deteksi dini keganasan. Bila nilai PSA <4ng/ml tidak
perlu

dilakukan biopsy.

Sedangkan

bila

nilai

PSA

4-10

ng/ml,

hitunglah prostate specific antigen density (PSAD) lebih besar sama dengan 0,15
maka sebaiknya dilakukan biopsy prostat, demikian pula bila nila PSA > 10 ng/ml.
2. Radiologis/pencitraan
a. Foto polos abdomen, untuk mengetahui kemungkinan adanya batu opak di
saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat, dan adanya bayangan buli-buli
yang penuh dengan urin sebagai tanda adanya retensi urin. Dapat juga dilihat lesi
osteoblastik sebagai tanda metastasis dari keganasan prostat, serta osteoporosis
akbibat kegagalan ginjal.
b. Pemeriksaan Pielografi intravena ( IVP ), untuk mengetahui kemungkinan adanya
kelainan pada ginjal maupun ureter yang berupa hidroureter atau hidronefrosis.
Dan memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan dengan adanya
indentasi prostat (pendesakan buli-buli oleh kelenjar prostat) atau ureter dibagian
distal yang berbentuk seperti mata kail (hooked fish)/gambaran ureter berbelokbelok di vesika, penyulit yang terjadi pada buli-buli yaitu adanya trabekulasi,
divertikel atau sakulasi buli-buli.
c. Pemeriksaan USG transektal, untuk mengetahui besar kelenjar prostat,
memeriksa masa ginjal, menentukan jumlah residual urine, menentukan volum
buli-buli, mengukur sisa urin dan batu ginjal, divertikulum atau tumor buli-buli, dan
mencari kelainan yang mungkin ada dalam buli-buli.
11

2.7 Penatalaksanaan medis


1. Menurut Sjamsuhidjat (2005)

dalam

penatalaksanaan pasien dengan BPH

tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis


a. Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan
pengobatan
konservatif,misalnyamenghambat adrenoresptormalfa sepertialfazosin dan terazo
sin.Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak
mempengaruhi proses hiperplasia prostat. Sedikitpun kekurangannya adalah obat
ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
b. Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya
dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra).
c. Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan
prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam.
Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat dilakukan
melalui trans vesika, retropubik dan perineal.
d. Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari
retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu, dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitive
dengan TUR atau pembedahan terbuka.Pada penderita yang keadaan umumnya
tidak

memungkinkan

pengobatan

konservatif

dilakukan

pembedahan

dengan

memberikan

dapat
obat

dilakukan
penghambat

adrenoreseptor alfa.Pengobatan konservatif adalah dengan memberikan obat anti


androgen yang menekan produksi LH.
2. Terapi medikamentosa
Menurut Baradero dkk (2007) tujuan dari obat-obat yang diberikan pada penderita
BPH adalah :
a. Mengurangi pembesaran prostat dan membuat otot-otot berelaksasi untuk
mengurangi tekanan pada uretra
b. Mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan alfa blocker
(penghambat alfa adrenergenik)
c. Mengurangi volum prostat dengan menentuan kadar hormone testosterone/
dehidrotestosteron (DHT).

12

3. Adapun obat-obatan yang sering digunakan pada pasien BPH, menurut Purnomo
(2011) diantaranya : penghambat adrenergenik alfa, penghambat enzin 5 alfa
reduktase, fitofarmaka.
a. Penghambat adrenergenik alfa
Obat-obat yang sering dipakai adalah prazosin, doxazosin,terazosin,afluzosin atau
yang lebih selektif alfa (Tamsulosin). Dosis dimulai 1mg/hari sedangkan dosis
tamsulosin adalah 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaaan antagonis alfa 1 adrenergenik
karena secara selektif dapat mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa merusak
kontraktilitas detrusor. Obat ini menghambat reseptor-reseptor yang banyak
ditemukan pada otot polos di trigonum, leher vesika, prostat, dan kapsul prostat
sehingga terjadi relakasi didaerah prostat. Obat-obat golongan ini dapat
memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin. Hal ini akan menurunkan
tekanan pada uretra pars prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan gejalagejala berkurang. Biasanya pasien mulai merasakan berkurangnya keluhan dalam
1-2 minggu setelah ia mulai memakai obat. Efek samping yang mungkin timbul
adalah pusing, sumbatan di hidung dan lemah. Ada obat-obat yang menyebabkan
ekasaserbasi

retensi

urin

maka

perlu

dihindari

seperti

antikolinergenik,

antidepresan, transquilizer, dekongestan, obatobat ini mempunyai efek pada otot


kandung kemih dan sfingter uretra.
b. Pengahambat enzim 5 alfa reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (proscar) dengan dosis 1X5 mg/hari. Obat
golongan ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat yang
membesar akan mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat dari golongan alfa
bloker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang besar. Efektifitasnya masih
diperdebatkan karena obat ini baru menunjukkan perbaikan sedikit 28 % dari
keluhan pasien setelah 6-12 bulan pengobatan bila dilakukan terus menerus, hal
ini dapat memperbaiki keluhan miksi dan pancaran miksi. Efek samping dari obat
ini diantaranya adalah libido, impoten dan gangguan ejakulasi.
c. Fitofarmaka/fitoterapi
Penggunaan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat. Substansinya
misalnya pygeum africanum, saw palmetto, serenoa repeus. Efeknya diharapkan
terjadi setelah pemberian selama 1- 2 bulan dapat memperkecil volum prostat.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
13

3.1 Pengkajian
A. Riwayat keperawatan
1)

Suspect BPH: umur >60 tahun

2)

Pola urinary: frekuensi, nocturia, disuria.

3)

Gejala

obstruksi

leher

buli-buli:

prostatisme

(Hesitansi,

pancaran,

melemah,intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) jika frekuensi dan


noctoria tak disertai gejala pembatas aliran obstruksi seperti infeksi
4) Keluhan Utama
Keluhan umumnya yaitu adanya rasa nyeri. Disuria yaitu nyeri pada waktu
kencing. Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali disertai
dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli
memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna
mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.
B. Pemeriksaan Fisik
1) Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat
meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai
syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik.
2) Perhatikan khusus pada abdomen: defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis
menunjukkan renal isufisiensi dari obstruksi yang lama.
3) Distensi kandung kemih
4) Inspeksi: penonjolan pada daerah supra pubik: retensi urine
5) Palpasi: akan terasa adanya ballottement dan ini akan menimbulkan pasien ingin
buang air kecil
6) Perkusi: redup: residual urine
7) Pemeriksaan penis: uretra adanya kemungkinan penyebab lain misalnya stenose
meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis
8)

Pemeriksaan rectal toucher (warna dubur) pemeriksaan colok dubur bertujuan


untuk menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan besarnya
prostat. Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
a). Derajat I = beratnya 20 gram.
b). Derajat II = beratnya antara 20 40 gram.
c). Derajat III = beratnya > 40 gram.
Syarat : buli-buli kosong/ dikosongkan

C. Pemeriksaan Radiologi
Pada pemeriksaan radiologi ditunjukkan untuk:
1) Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia
14

2) Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine


3) Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat
Hyperplasia atau tidak.
Beberapa Pemeriksaan Radiologi

1) Intra Vena Pyelografi (IVP): gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi,
dipertikel buli.
Indikasi : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasissi
Tanda BPH: impresi prostat, hockey stick ureter
2) BOF: untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
3) Retrografi dan voiding Cystouretrografi: untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko
ureter/striktur uretra.
4) USG: untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai
pembesaran prostat jinak/ ganas. (Sugeng Jitowiyono dan Weni Kristianasari,
2010: 121)
D. Pemeriksaan Endoskopi
1) Pemeriksaan Urofloemetri
Pengukuran pancaran urin pada saat miksi . Berperan penting dalam diagnose
dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli
2) Pemeriksaan Laboratorium
a) Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopik urine untuk melihat adanya sel
lekosit dan bakteri
b) Pemeriksaan PSA (prostat Spesific Antigen ) sebagai dasar penentuan
perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini keganasan
3.2 Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (fisik)
2. Gangguan eleminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomik
3. Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan lingkungan terhadap
pathogen (pemasangan kateter).

3.3 Intervensi keperawatan


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (fisik)
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, nyeri pasien
berkurang atau hilang dengan
NOC : Pain Control
Kriteria hasil :
15

1) Pasien akan memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan oleh indicator


sebagai berikut(sebutkan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering,
selalu):
2) Pasien mengenali penyebab nyeri
3) Gunakan tindakan pencegahan
4) Melaporkan nyeri dapat dikendalikan
NIC :Manajemen Nyeri
1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehesif
2) Ajarkan teknik penggunaan non farkologis seperti umpan-balik, distraksi,
relaksasi, imajinasi terbimbing.
3) Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan
berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur.
4) Kendalikan factor lingkungan yang dapat memengaruhi respon pasien terhadap
ketidaknyamanan.
5) Pastikan pemberian analgesik terapi.
2. Gangguan eleminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomik
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, pola eliminasi
pasien dapat normal kembali
NOC: Urinary Elimination
Kriteria hasil :
1)
2)
3)
4)

Kandung kemih kosong secara penuh.


Tidak ada residu urine > 100-200 cc.
Asupan cairan dalam rentang yang diharapkan.
Tidak ada spasme bladder.

NIC : Urinary Retention Care


Activity:
1) Ukur dan catat urine setiap kali berkemih (out urine,pola berkemih, fungsi kognitif,
dan masalah kencing praeksisten).
2) Anjurkan untuk berkemih setiap 2 3 jam.
3) Pantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusikandung
kemih tiap 4 jam.
4) Pantau penggunaan obat dengan sifat antikolinergik atau property alpha agonis.
5) Terapkan kateterisasi intermiten.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan lingkungan terhadap
pathogen (pemasangan kateter).
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan infeksi
tidak terjadi.
NOC 1 : Deteksi infeksi
Kriteria hasil :
1) Mengukuir tanda dan gejala yang mengindikasikan infeksi.
2) Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan.
3) Mampu menidentifikasi potensial resiko.
NOC 2 : Pengendalian Infeksi
16

Kriteria hasil :
1)
2)
3)
4)

Pengetahuan tentang adanya resiko infeksi.


Mampu memonitor faktor resiko dari lingkungan.
Membuat strategi untuk mengendalikan resiko infeksi.
Mengatur gaya hidup untuk mengurangi infeksi.

NIC : infection protection


1)
2)
3)
4)
5)

Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal


Monitor kerentanan terhadap infeksi
Pertahankan teknik isolasi
Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
Laporkan kecurigaan infeksi

3.4 Implementasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan sensitifitas meningkat
1) Melakukan pengkajian nyeri yang komprehesif meliputi lokasi, karakteristik,
awitan dan durasi,frekuensi ,kualitas,intensitas,keparahan nyeri dan factor
presipitasinya
2) Mengajarkan teknik penggunaan non farkologis seperti umpan-balik, distraksi,
relaksasi, imajinasi terbimbing.
3) Memberikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan
berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur.
4) Mengendalikan factor lingkungan yang dapat memengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan.
5) Memberikan analgesik terapi

2. Retensi urine b.d tekanan uretra tinggi karena kelemahan detrusor


1) Mengukur dan catat urine setiap kali berkemih (out urine,pola berkemih, fungsi
kognitif, dan masalah kencing praeksisten).
2) Menganjurkan untuk berkemih setiap 23 jam.
3) Memantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi kandung
kemih tiap 4 jam.
4) Memantau penggunaan obat dengan sifat antikolinergik atau property alpha
agonis.
5) Menerapkan kateterisasi intermiten.
3. Resiko infeksi b.d peningkatan paparan lingkungan terhadap pathogen
(pemasangan kateter).
1) Memantau tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
2) Memantau kerentanan terhadap infeksi
3) Mempertahankan teknik isolasi
4) menginstruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
5) Melaporkan kecurigaan infeksi
3.5 Evaluasi

17

Hasil dari evaluasi yang diharapkan dalam pemberian tindakan keperawatan melalui
proses keperawatan pada klien dengan BPH (Benigna prostatik hipertropi) berdasarkan
tujuan adalah :
1. Nyeri atau ketidaknyamanan hilang.
2. Pola berkemih normal.
3. Resiko infeksi tidak terjadi.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) merupakan perbesaran kelenjar prostat,
memanjang ke atas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan
menutupi orifisium uretra akibatnya terjadi dilatasi ureter (hidroureter) dan ginjal
(hidronefrosis) secara bertahap(Smeltzer dan Bare, 2002).
BPH merupakakan pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa majemuk dalam
prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai proliferasi yang
terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa, prostat tersebut
mengelilingi uretra dan, dan pembesaran bagian periuretral menyebabkan obstruksi leher
kandung kemih dan uretra parsprostatika yang menyebabkan aliran kemih dari kandung
kemih (Price dan Wilson, 2006).
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti etiologi/penyebab terjadinya
BPH, namun beberapa hipotesisi menyebutkan bahwa BPH erat kaitanya dengan
peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses menua. Etiologi yang belum
jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga menjadi penyebab timbulnya
Benigna Prosat, teori penyebab BPH menurut Purnomo (2011) meliputi, Teori
Dehidrotestosteron (DHT), teori hormon (ketidakseimbangan antara estrogen dan
testosteron), faktor interaksi stroma dan epitel-epitel, teori berkurangnya kematian sel
(apoptosis), teori sel stem.
18

Menurut Long (1996, hal. 339-340), pada pasien post operasi BPH, mempunyai
tanda dan gejala:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hemorogi
Hematuri
Peningkatan nadi
Tekanan darah menurun
Gelisah
Kulit lembab
Temperatur dingin
Tidak mampu berkemih setelah kateter diangkat
9. Gejala-gejala intoksikasi air secara dini:bingung, agitasi, kulit lembab, anoreksia,
mual, muntah, warna urin merah cerah pada hari ke-2 dan ke-3 post operasi menjadi
lebih tua.

4.2 Saran
1. Untuk klien : agar selalu menerapkan anjuran dari dokter dan perawat supaya tidak
terjadi masalah yang sama dan dihindari.
2.

Institusi pelayanan kesehatan : diharapakan meningkatkan kualitas, ketelitian,


perawatan, pendokumentasian dan pelayanan yang propesional.

3. Tenaga kesehatan : diharapkan dapat melakukan perawatan yang holistic,


komprehensif, serta tanggung jawab dalam melakukan tindakan

19

DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, Dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculpius, jakarta
Brunner & Sudart, 2001. Buku Ajar Medikal Keperawatan Vol 3. EGC, jakarta
Smeltzer, suzane C, 2001.Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. EGC, jakarta
www.google.com/ Askep tentang benigna Prostat hypertropi. Diakses pada tanggal 11
November 2015. Pukul 10.23 WIB

20