Anda di halaman 1dari 2

Diabetes mellitus (DM) merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar

glukosa dalam darah atau hiperglikemia.


Angka kejadian DM di seluruh dunia diperkirakan 2,8 % pada tahun 2000 dan 4,4 % pada 2030.
Jumlah penderita DM diperkirakan meningkat dari 171 juta pada tahun 2000 dan mencapai jumlah 366 juta pada
tahun 2030. Jumlah penduduk perkotaan dinegara-negara berkembang pada kelompok usia 45 sampai 65 tahun
diperkirakan meningkat dua kali lipat antara tahun 2000 sampai tahun 2030 yang beresiko mengalami DM
(World Health Organization/WHO, 2013).
Angka kejadian DM di Indonesia menurut hasil RISKESDAS tahun 2007 menunjukan tingginya
penderita DM di daerah mencapai 1,1 % sedangkan di perkotaan penderita DM mencapai 5,7 % pada kelompok
usia 45 54 tahun. Angka kesakitan dan Kematian yang terjadi akibat DM di pedesaan maupun di perkotaan
mencapai 14,7 %. Setiap tahunnya penderita DM akan terus bertambah karena gaya hidup yang tidak sehat
menimbulkan faktor resiko seperti obesitas umum 19,1 % yang terdiri berat badan lebih 8,8 % dan obesitas 10,3
% (Depkes RI, 2013).
Pasien diabetes mellitus yang melakukan rawat jalan di beberapa rumah sakit di Jawa Barat pada tahun
2007 berjumlah 39.853 orang, sedangkan yang menjalani rawat inap sebanyak 6.668 orang. Bandung
merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang memiliki 10% dari penduduknya mengidap penyakit diabetes
melitus. Penyakit diabetes mellitus di kota Bandung menempati sebagai penyakit sepuluh besar (Profil
Kesehatan Kota Bandung, 2010).
Ulkus diabetik merupakan salah satu komplikasi yang umum terjadi pada penderita diabetes mellitus,
sekitar 50 - 75% penderita diabetes mellitus telah dilakukan amputasi pada ekstremitas bawah.
Diperkirakan setiap tahun terdapat kurang lebih 4 juta orang yang menderita diabetes mellitus
mengalami ulkus diabetikum pada bagian ekstremitas bawahnya atau sering disebut juga ulkus kaki diabetikum
(IWGDF, 2012). Di Amerika, amputasi pada ekstremitas bagian bawah 10 kali lebih sering terjadi pada
penderita diabetes melitus dibandingkan non-diabetes (WHO, 2010). Sekitar 85% amputasi yang dilakukan pada
penderita dibetes melitus yang sebelumnya diawali dengan ulkus diabetik (Diabetic Foot Ulcer, 2010).
Salah satu upaya untuk mencegah perluasan luka dan membantu proses penyembuhan maka perlu
dilakukan perawatan luka diabetik dengan baik. Perawatan luka membuat pasien merasa tidak nyaman karena
adanya rasa nyeri yang timbul akibat rangsangan, iritasi atau trauma pada saraf. Dalam jurnal Pengaruh
Hipnoterapi Terhadap Intensitas Nyeri Saat Perawatan Luka Diabetik Di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal
untuk mengatasi nyeri dapat dilakukan melalui terapi farmakologi dan non farmakologi.
Saat dilakukan perawatan luka biasanya pasien merasakan seperti sakit terbakar, panas, tersengat
listrik, meskipun luka diabetik bersifat nyeri neuropati perifer.
Nyeri sendiri merupakan sutu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh
stimulus tertentu. Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual.
Salah satu upaya untuk mengatasi nyeri dapat dilakukan melalui dua cara yaitu terapi farmakologi
dan nonfarmakologi. Metode pereda nyeri nonfarmakologi biasanya mempunyai risiko sangat rendah jadi lebih
aman untuk dilakukan tanpa adanya komplikasi yang mungkin timbul.
Nafas dalam merupakan relaksasi yang mudah dipelajari dan berkontribusi dalam menurunkan atau
meredakan nyeri dengan mengurangi tekanan otot dan ansietas. Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu
teknik mandiri dalam bidang keperawatan untuk mengatasi dan mengurangi intensitas nyeri. Perawat akan
mengajarkan bagaimana melakukan teknik nafas dalam, nafas lambat dan menghembuskan nafas secara
perlahan. Teknik ini juga mampu meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi dalam darah
(Smeltzer & Bare, 2002).
Teknik relaksasi nafas dalam juga merupakan latihan pernapasan yang menurunkan konsumsi O 2,
frekuensi pernapasan, frekuensi jantung, dan ketegangan otot yang dapat menghentikan siklus nyeri, ansietas
dan ketegangan otot (Mc Caffery 1989).

a. Teori Pengontrolan Nyeri (Gate Control)


Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka
dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut
merupakan dasar terapi menghilangkan nyeri. Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron
sensori dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta A
dan C melepaskan substansi P untuk mentransmisi impuls melalui mekanisme pertahanan.
Selain itu, terdapat mekanoreseptor, neuron beta A yang lebih tebal, yang lebih cepat
melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari
serabut beta A, maka akan menutup mekanisme pertahanan. Diyakini mekanisme penutupan
ini dapat terlihat saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan
yang dihasilkan akan menstimulasi mekanoreseptor.
Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta A dan serabut C, maka
akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika
impuls nyeri dihantar ke otak, terdapat pusat korteks yang lebih tinggi di otak yang
memodifikasi persepsi nyeri.

Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen, seperti

endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang berasal dari tubuh. Neuromodulator
ini menutup mekanisme pertahanan dengan menghambat pelepasan substansi P. Teknik
distraksi, konseling, dan pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin.
Peneliti tidak mengetahui bagaimana individu dapat mengaktifkan endorfin mereka (Potter &
Perry, 2006).
Serabut Saraf Tipe Delta A

Daya hantar sinyal relatif cepat


Bermielin halus dengan diameter
2-5 mm
Membawa rangsangan nyeri yang
menusuk
Serabut saraf tipe ini berakhir di
kornu dursalis dan lamina I

Serabut Saraf Tipe Delta C

Daya hantar sinyal lebih lambat


Tidak bermielin dengan diameter
0,4-1,2 mm
Membawa rangsangan nyeri
terbakar dan tumpul
Serabut saraf tipe ini berakhir di
lamina II, III, dan IV

Tabel 2.3 Perbedaan serabut saraf nyeri tipe delta A dan C


Sumber: Asmadi. Teknik prosedural keperawatan: konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien.
Jakarta: Salemba Medika; 2008 halm 148.