Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN TERKAIT ASUHAN KEPERAWATAN PADA AKTIVITAS, ISTIRAHAT DAN TIDUR

Untuk Memenuhi Tugas Sebelum PKKDM I

Dosen Pengampu: Ns. Renny Wulan A., S.Kep.

LAPORAN PENDAHULUAN TERKAIT ASUHAN KEPERAWATAN PADA AKTIVITAS, ISTIRAHAT DAN TIDUR Untuk Memenuhi Tugas Sebelum PKKDM I

Nama Kelompok :

1.

Budi Prasetyo

2.

Endah Widyastuti

3.

Liftriyantri

4.

Yus Iqbal Alaziz

Kelas : PSIK 3A

LAPORAN PENDAHULUAN TERKAIT ASUHAN KEPERAWATAN PADA AKTIVITAS, ISTIRAHAT DAN TIDUR Untuk Memenuhi Tugas Sebelum PKKDM I

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CENDEKIA UTAMA KUDUS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

2013

LAPORAN PENDAHULUAN AKTIVITAS

LAPORAN PENDAHULUAN AKTIVITAS 1.1 DEFINISI AKTIVITAS Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan seseorang melakukan aktivitas,
  • 1.1 DEFINISI AKTIVITAS Salah satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan seseorang melakukan aktivitas, seperti berdiri, berjalan dan bekerja. Kemampuan aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan muskuloskeletal. Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana manusia memerlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup.

  • 1.2 FISIOLOGI AKTIVITAS

Pergerakan

merupakan

rangkaian

yang

terintegrasi

muskuloskeletal dan sistem persarafan.

Sistem skeletal berfungsi:

antara

sistem

  • a. Mendukung dan memberi bentuk jaringan tubuh

  • b. Melindungi bagian tubuh tertentu seperti paru, hati, ginjal, otak

  • c. Tempat melekatnya otot dan tendon

  • d. Sumber mineral seperti garam dan fosfat

  • e. Tempat produksi sel darah.

Ada 206 tulang dalam struktur tubuh manusia yang kemudian dikelompokkan menjadi tulang panjang, tulang pendek, tulang keras, tulang ekstremitas dan tulang tak beraturan. Antara tulang yang satu dengan tulang yang lain dihubungkan dengan sendi yang yang memungkinkan terjadinya pergerakan. Tulang dan sendi membentuk rangka, sedangkan sistem otot berfungsi sebagai:

  • a. Pergerakan

  • b. Membentuk postur

  • c. Produksi panas karena adanya kontraksi dan relaksasi Sistem persarafan berfungsi sebagai:

  • a. Saraf afferent menerima rangsangan dari luar kemudian diteruskan ke susuna saraf pusat

  • b. Sel saraf atau neuron membawa impuls dan kemudian memberikan respons melalui saraf efferent

  • c. Saraf efferent menerima respond an diteruskan ke otot rangka. Ada tiga faktor penting proses terjadinya pergerakan atau kontraksi yaitu:

  • a. Stimulasi saraf motorik Kontraksi otot dimulai karena adanya stimulasi dari saraf motorik yang dikontrol oleh korteks serebri, cerebellum, batang otak, dan bangsal ganglia. Upper motor neuron merupakan saraf yang berjalan dari otak ke sinaps pada bagian anterior horn medulla spinalis sedangkan lower motor neuron merupakan saraf-saraf yang keluar dari medulla spinalis menuju ke otot rangka. Signal listrik dan potensial aksi terjadi sepanjang mealin sepanjang akson saraf motorik yang berjalan secara salutatory conduction. Impuls listrik berjalan dari saraf motorik ke sel otot melalui sinaps dengan bantuan neurotransmitter aserilkolin.

  • b. Transmisi neuromuscular Aserilkolin

dihasilkan

dari

vesikel

pada

akson terminal. Adanya

depolarisasi dan potensial aksi pada akson terminal merangsang ion

kalsium dari cairan ekstraseluler kemudian terjadi perpindahan ke

membran akson terminal. Bersamaan dengan itu, molekul asetilkolin masuk ke celah sinaps yang

selanjutnya akan ditangkap oleh reseptor maka terjadilah potensial aksi pada sel otot dan terjadilah kontraksi. Setelah asetilkolin terpakai selanjutnya dipecah atau dihidrolis oleh enzim asetilkolnesterase menjadi kolin yang kemudian ditranspor kembali ke akson untuk bahan pembentukan asetilkolin.

  • c. Eksitasi-kontraksi coupling Merupakan mekanisme molekuler peristiwa kontraksi. Adanya impuls di neuron motorik menimbulkan ujung akson melepaskan asetilkolin dan

menimbulkan potensial aksi di serat otot. Potensial aksi menyebar ke seluruh serat otot sampai ke sistem T. keadaan ini mempengaruhi retikulum sarkoplasma melepaskan ion kalsium yang kemudian diikat oleh troponin C, sehingga ikatan troponin I dengan aktin terlepas. Lepasnya ikatan troponin I dengan aktin menimbulkan tropomiosin bergeser dan terbukalah celah atau biding site aktin sehingga terjadi ikatan antara aktin dan miosin serta kontraksi otot terjadi.

  • 1.3 ENERGI UNTUK KONTRAKSI

Energi

untuk

kontraksi

diperoleh

dari

Adenosine

Triphospat

(ATP),

sebelum dapat digunakan ATP dipecah menjadi ADP dan ionorganik fosfat oleh enzim adenosine triphospat yang terjadi pada miosin.

ATP+H2O ADP Fosfokreatin + ADP Asam lemak bebas + O2

menimbulkan potensial aksi di serat otot. Potensial aksi menyebar ke seluruh serat otot sampai ke sistem

+ H2PO4 + 1200 kal

kreatin + ATP

CO2 + H2O + ATP

Hasil metabolisme anaerobpada otot setelah oksigen habis untuk kontraksi adalah asam laktat yang mempunyai efek nyeri. Asam laktat akan terurai kembali setelah suplai oksigen normal.

  • 1.4 TIPE KONTRAKSI

    • a. Kontraksi isometrik terjadi saat otot membentuk daya atau tegangan tanpa harus memendek untuk memindahkan suatu beban, misalnya gerakan mendorong meja dengan tangan lurus, tegangan yang terbentuk dalam otot untuk mempertahankan kepala dan tubuh untuk tetap tegak.

    • b. Kontraksi isotonik adalah kontraksi yang terjadi saat otot memendek untuk mengangkat atau memindahkan suatu beban.

Masalah yang terjadi berhubungan dengan otot:

  • a. Atropi Otot merupakan keadaan dimana otot menjadi mengecil karena tidak terpakai dan pada akhirnya serabut otot akan diinfiltrasi dan diganti dengan jaringan fibrosa dan lemak.

  • b. Hipertropi otot merupakan pembesaran otot, terjadi akibat aktivitas otot yang kuat dan berulang, jumlah serabut tidak bertambah tetapi ada peningkatan diameter dan panjang serabut terkait dengan unsur-unsur filamen

  • c. Nekrosis (jaringan mati) terjadi akibat trauma atau iskemia dimana proses regenerasi otot sangat minim.

  • 1.5 MEKANIKA TUBUH Mekanika tubuh (Body Mechanic) adalah penggunaan organ secara efisien dan efektif sesuai dengan fungsinya. Melakukan aktivitas dan istirahat pada posisi yang benar akan meningkatkan kesehatan. Setiap aktivitas yang dilakukan perawat harus memperhatikan body mechanic yang benar seperti

kegiatan mengangkat/memindahkan pasien. Ortopedik adalah pencegahan dan perbaikan dari kerusakan struktur tubuh, seperti pada orang yang mengalami gangguan otot. Orang yang bedrest lama juga akan menurunkan tonus otot. Tonus adalah istilah yangmenggambarkan kontraksi otot rangka. Pada keadaan bedrest yang lama kemungkinan terjadi kontraktur sehingga body mechanic juga terganggu. Untuk mempermudah penjelasan body mechanic maka perlu dipahami body alignment, keseimbangan dan koordinasi pergerakan.

  • a. Body alignment atau postur Postur yang baik karena menggunakan otot dan rangka tersebut secara benar. Misalnya pada posisi duduk, berdiri, mengangkat benda dan lain- lain.

  • b. Keseimbangan

 

Keadaan

postur

yang

seimbang

sesuai

dengan

garis

sumbu

dengan

sentralnya adalah gravitasi.

  • c. Koordinasi pergerakan tubuh Kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan seperti kemampuan mengangkat benda, maksimal 57 % dari berat badan.

  • 1.6 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERGERAKAN

    • a. Tingkat perkembangan tubuh Usia akan mempengaruhi tingkat perkembangan neuromuskuler dan tubuh secara proporsional, postur, pergerakan dan reflek akan berfungsi secara optimal.

    • b. Kesehatan fisik

Penyakit, cacat tubuh, dan imobilisasi akan mempengaruhi pergerakan tubuh.

  • c. Keadaan nutrisi Kurangnya nutrisi dapat menyebabkan kelemahan otot, dan obesitas dapat menyebabkan pergerakan menjadi kurang bebas.

  • d. Emosi Rasa aman dan gembira dapat mempengaruhi aktivitas tubuh seseorang. Keresahan dan kesusahan dapat menghilangkan semangat yang kemudian dapat dimanifestasikan dengan kurangnya aktivitas.

  • e. Kelemahan neuromuskuler dan skeletal Adanya abnormal postur seperti skoliosis, lordosis, dan kiposis dapat berpengaruh terhadap pergerakan.

  • f. Pekerjaan Seseorang yang bekerja dikantor kurang melakukan aktivitas bila dibandingkan dengan petani atau buruh.

1.7 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURANGNYA PERGERAKAN

  • a. Gangguan muskuloskeletal

1)

Osteoporosis

2)

Atropi

3)

Kontraktur

4)

Kekakuan dan sakit sendi

  • b. Gangguan kardiovaskuler

 

1)

Postural hipotensi

2)

Vasodilatasi vena

3)

Peningkatan penggunaan valsava manuver

  • c. Gangguan sistem respirasi Penurunan gerak pernapasan

1)

2)

Bertambahnya sekresi paru

3)

Atelektasis

4)

Hipostatis pneumonia.

ASUHAN KEPERWATAN TERKAIT AKTIVITAS

2.1 PENGKAJIAN

  • a. Tingkat aktivitas sehari-hari

1)

Pola aktivitas sehari-hari

2)

Jenis, frekuensi, dan lamanya latihan fisik

  • b. Tingkat kelelahan

1)

Aktivitas yang membuat lelah

2)

Riwayat sesak napas

  • c. Gangguan pergerakan

1)

Penyebab gangguan pergerakan

2)

Tanda dan gejala

3)

Efek dari gangguan pergerakan

  • d. Pemeriksaan fisik

1)

Tingkat kesadaran

2)

Postur atau bentuk tubuh: skoliosis, kiposis, lordosis, cara berjalan

3) Ekstremitas:

  • a) Kelemahan

  • b) Gangguan sensorik

  • c) Tonus otot

  • d) Atropi

  • e) Tremor

  • f) Gerakan tak terkendali

  • g) Kekuatan otot

  • h) Kemampuan berjalan, duduk, berdiri

  • i) Nyeri sendi

  • j) Kekakuan sendi

2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

a.

Intoleransi aktifitas

 

Definisi

:

kondisi

dimana

seseorang

mengalami

penurunan

energy

fisiologis untuk melkukan aktifitas sehari-hari. Kemungkinan berhubungan dengan:

1)

Kelemahan umum

 

2)

Bedrest yang lama/ imobilisasi

3)

Motivasi yang kurang

4)

Pembatasan pergerakan

5) Nyeri

 

Kemungkinan data yang ditemuakan:

 

1)

Verbal adanya kelemahan

 

2)

Sesak nafas / pucat

3)

Kesulitan dalam pergerakan

4)

Abnormal nadi, tekanan darah terhadap respons aktivitas

Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :

 

1)

Anemia

 

2)

Gagal jantung

3)

Gangguan jantung

4)

Kardiak aritmia

5)

COPD

6)

Gangguan metabolisme

7)

Gangguan muskuloskelatal

Tujuan yang diharapakan:

1)

Kelemahan berkurang

 

2)

Berpartisipasi dalam perawatan diri

3)

Mempertahankan kemampuan aktivitas septimal mungkin.

N

   

INTERVENSI

RASIONAL

 

O

   

1

 

Monitor keterbatasan aktivitas, kelemahan

merencankan intervensi tepat

saat aktivitas

 

2

 

Bantu

pasien

dalam

melakuakn

aktivitas

pasien

dapat

memilih

dan

sendiri

merencanakannya sendiri

3

Catat

tanda

vital

sebelum

dan

sesudah

mengkaji sejauh mana perbedaan

 

aktivitas

peningkatan selama aktifitas

4

Koloborasi denagn dokter dan fisioterapi

Meningkatkan kerjasama tim dan

dalam latihan aktivitas

 

perawatan holistic

5

Istirahat

yang

adekuat

setelah

latihan

membantu mengembalikan energy

aktivitas

6

berikan diet yang adekuat dengan kolaborasi

metabolisme

membutuhkan

ahli diet

energy

7

Berikan pendidikan tentang:

 

meningkatkan pengetahuan dalam

  • 1. perubahan gaya hidup untuk menyimpan

perawatan diri

energy

  • 2. Penggunaan alat bantu gerak

 

b.

Keletihan

Definisi

: kondisi dimana sesearang mengalami perasaan letih yang

 

berlebihan

secara

terusmenerus

dan

penurunan

kapasitas

kerja

fisik

dan

mental

yang

tidak

dapat

hilang

dengan

istirahat. Kemungkinan berhubungan dengan:

1)

Menurunya produksi metabolisme

2)

Pembatasan diet

3)

Anemia

4)

Ketidakseimbangan glukosa dan elektrolit

Kemungkinan yang ditemukan:

1)

Kekurangan energy

2)

Ketidakmampuan melakukan aktivitas

3)

Menurunya penampilan

4)

Lethargi

Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada:

1)

Anemia

2)

Kanker

3)

Depresi

4)

Diabetes militus

Tujuan yang diharapkan :

1)

Pasien mengatakan keletihan berkurang

 

2)

Meningkanya tingkat energy

3)

Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuanya secara bertahap.

N

 

INTERVENSI

   

RASIONAL

 

O

   

1

Monitor keterbatasan aktivitas,

merencankan intervensi tepat

 

kelemahan saat aktivitas

   

2

Bantu

pasien

dalam

melakuakn

pasien

dapat

memilih

dan

aktivitas sendiri

merencanakannya sendiri

 

3

Catat

tanda

vital

sebelum

dan

mengkaji sejauh mana perbedaan

sesudah aktivitas

 

peningkatan selama aktifitas

 

4

Koloborasi denagn dokter dan

Meningkatkan

kerjasama

tim

dan

fisioterapi dalam latihan aktivitas

 

perawatan holistic

 

5

Istirahat yang adekuat setelah latihan

membantu mengembalikan energy

aktivitas

 

6

berikan diet yang adekuat dengan kolaborasi ahli diet

metabolisme membutuhkan energy

7

Berikan pendidikan tentang:

 

meningkatkan

pengetahuan

dalam

  • a. perubahan gaya hidup untuk

perawatan diri

 

menyimpan energy

   
  • b. Penggunaan alat bantu gerak

  • c. Ganggauan mobilitas fisik Definisi : kondisi dimana pasien tidak mampu melakukan pergerakan

secara mandiri.

Kemungkinan berhubungan dengan:

1)

Gangguan persepsi kognitif

2) Imobilisasi

3)

Gangguan neuromuskuler

4)

Kelemahan /paralisis

5)

Pasien dengan traksi

Kemungkinan data yang ditemukan:

1)

Gangguan dalam pergerakan

2)

Keterbatasan dalam pergerakan

3)

Menurunnya kekuatan otot

4)

Nyeri saat pergerakan

5)

Kontraksi dan atropi otot

Kondisi klinis terjadi pada:

1)

Fraktur kasus dengan traksi

2)

Reumatik atritis

3)

Stroke

4)

Depresi

5)

Ganggaun neuromuskuler

Tujuan yang diharapkan:

 

1)

Pasien dapat menunjukkan peningkatan mobilitas

2)

Pasien mengatakn terjadi peningkatan aktivitas

N

 

INTERVENSI

RASIONAL

O

 

1

 

Pertahankan body aligmnet dan

Mencegah iritasi dan komplikasi

posisi yang nyaman

 

2

 

Cegah pasien jatuh, berikan pagar

Mempertahankan keamanan pasien

pemngaman pada temapt tidur

 

3

 

Lakukan latihan aktif maupun pasif

Meningkatkan sirkulasi dan mencegah

 

kntraktur

4

 

Lakuakan

fisioterapi

dada

dan

Meningkatkan fungsi paru

postural drainase

5

 

Monitr kulit yang tertekan, amati

Memonitor ganggaun integritas kulit

kemungkinan dekubitus

 

6

 

Tingkatkan

aktivitas

sesuai

batas

Mempertahankan tonus otot

toleransi

7

 

Berikan

terapi

nyeri

jika ada

Mengurangi rasa nyeri

indikasi nyeri sebelum atau setelah

latihan

8

 

Pertahankan nutrisi yang adekuat

Nutisi diperlukan unutk energy

denga klaborasi ahli diet

 

9

 

Kolaborasi dnegan fisioterapi dalam

Kerjasama dengan perawatan holistik

progam latihan

 

N

INTERVENSI

   

RASIONAL

O

   

10

Lakukan pengetahuan tentang :

Memberikan

pengetahuan

dan

  • a. Pencegahan konstipasi

 

perawatan diri

  • b. Body mekanik dan posisi

  • c. Latihan dan istirahat

 

11

Lakukan

kerjasama

dengan

Meneruskan perawatan setelah pulang

keluarga dalam perawatan pasien

12

Bantu pasien dalam memutuskan

Menentukan pilihan yang tepat dalam

penggunaan alat bantu berjalan

penggunaan alat

13

Lakukan ambulasi sebanyak

Imobilisasi

yang

lama

dapat

mungkin jika memungkinkan

 

menimbulkan dekubitus

 
  • d. Defisit perawatan diri Definisi : kondisi dimana pasien tidak dapat melakukan sebagian atau seluruh aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian mandi dll. Kemungkinan berhubungan dengan:

1)

Gangguan neuromuskuler

2)

Menurunnya kekuatan otot

3)

Menurunkan kontrl otot dan koordinasi

4)

Kerusakan persepsi kognitif

5)

Depresi

6)

Gangguan fisik

Kemungkinan data yang ditemukan:

1)

Ketidakmampuan melakukan aktifitas sehari-hari

2)

Frustasi

Kondisi klinis memungkinkan terjadi pada:

1)

Gangguan serebral vaskuler

2)

Trauma medulla spinalis

3)

Demensia

4)

Depresi

5)

Kekurangan energy

6)

Gangguan otot

7)

Kerusakan kognitif

Tujuan yang diharapkan:

Pasien dapat melakukan perawatan diri secara aman

N

INTERVENSI

 

RASIONAL

 

O

 

1

Lakukan kajian kemampuan pasien

Memberikan informasi dasar dalam

dalam perawatan diri terutama ADL

menentukan rencana perawatan

 

2

Jadwalkan jam kegiatan tertentu untuk

Perencanaan yang matang dalam

ADL

melakukan kegiatan sehari-hari

 

3

Jaga privasi dan keamanan pasien

Memberikan keamanan

 

selama memberikan perawatan

 

4

Berikan penjelasan sebelum melakukan

Meningkatkan

self

esteem

dan

tindakan

motivasi

5

Selama melakukan aktivitas berikan

: Meningkatkan self esteem

 

dukungan dan pujian kepada pasien

6

Lakukan latihan aktif dan pasif

Meningkatkan sirkulasi darah

 

7

Monitor tanda vital , tekanan darah,

Mengecek perubahan keadaan pasien

sebelum dan sesudah ADL

8

Berikan obat nyeri jika dalam aktivitas

Pasien

lebih

kooperatif

dalam

terasa nyeri dengan kolaborasi dokter

beraktivitas

 

9

Berikan diet tinggi protein

Meningkatkan dan membantu

membangun jaringan tubuh

 

10

Monitor pergerakan usus dan bladder

mengetahui fungsi usus dan bl adder

11

Berikan pendidikan kesehatan:

Meningkatkan pengetahuan dan

  • a. Perawatan diri seperti mandi, perawatan kuku, rambut dan lain- lain

motivasi dalam perawatan diri

 
  • b. Latihan pasif dan aktif

 
  • c. Keamanan aktifitas dirumah

  • d. Komplikasi yang mungkin timbul

LAPORAN PENDAHULUAN ISTIRAHAT DAN TIDUR

  • 1.1 DEFINISI ISTIRAHAT DAN TIDUR Kesempatan untuk istirahat dan tidur sama pentingnya dengan kebutuhan makan, aktivitas maupun kebutuhan dasar lainnya. Setiap individu membutuhkan istirahat dan tidur untuk memulihkan kembali kesehatannya. Istirahat adalah sesuatu keadaan dimana kegiatan jasmaniah menurun yang berakibat badan menjadi lebih segar. Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badan yang berbeda.

  • 1.2 FISIOLOGI ISTIRAHAT DAN TIDUR

    • a. Irama Sirkardian Irama siklus 24 jam siang-malam disebut irama sirkardian. Irama sirkardian mempengaruhi perilaku dan pola fungsi biologis utama seperti suhu tubuh, denyut jantung, tekanan darah, sekresi hormone, kemampuan sensorik dan suasana hati. Irama sirkardian dipengaruhi cahaya, suhu dan faktor eksternal (aktivitas social dan rutinitas pekerjaan). Setiap individu memiliki jam biologis sendiri. Kecemasan, kurang istirahat, mudah tersinggung, dan gangguan penilaian merupakan gejala gangguan tidur. SAR merupakan sel khusus yang mempertahankan kewaspadaan dan terjaga. Pengeluaran serotonin dari pons dan otak bagian tengah menimbulkan rasa kantuk yang selanjutnya tidur. Terjaganya seseorang bergantung dari keseimbangan impuls, reseptor sensori perifer dan sistem limbik.

    • b. Tahapan Tidur Normalnya tidur dibagi menjadi dua, yaitu nonrapied eye movement (NREM) dan rapied eye movement (REM). Selama masa NREM seseorang terbagi menadi empat tahapan dan memerlukan kira-kira 90 menit selama siklus tidur. Sedangkan tahap REM adalah tahapan terakhir kira-kira 90 menit sebelum tidur berakhir.

Tahapan tidur NREM:

1)

Tahap I NREM

2)

Tingkat transisi, merespons cahaya, berlangsung beberapa menit, mudah terbangun dengan rangsangan, aktivitas fisik menurun, tanda vital, dan metabolisme menurun, bila terbangun terasa sedang bermimpi Tahap II NREM

3)

Periode suara tidur, mulai relaksasi otot, berlangsung 10-20 menit, fungsi tubuh berlangsung lambat, Dapat dibangunkan dengan mudah Tahap III NREM

4)

Awal tahap dari keadaan tidur nyenyak, sulit dibangunkan, relaksasi otot menyeluruh, tekanan darah menurun, berlangsung 15-30 menit Tahap IV NREM

Tidur nyenyak, Sulit untuk dibangunkan, butuh stimulus intensif, UntUk restorasi dan istirahat, tonus otot menurun, Sekresi lambung menurun, Gerak bola mata cepat. Tahapan tidur REM:

1)

Lebih sulit dibangunkan dibandingkan dengan tidur NREM.

2)

Pada orang dewasa normal REM yaitu 20-25% dari tidur malamnya.

3)

Jika individu terbangun pada tidur REM maka biasanya terjadi mimpi

4) Tidur REM penting untuk keseimbangan mental, emosi juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi. Karakteristik tidur REM yaitu :

mata (cepat tertutup dan terbuka), otot-otot (kejang otot kecil, otot besar imobilisasi), pernapasan (tidak teratur, kadang dengan apnea), nadi (cepat dan ireguler), tekanan darah (meningkat atau fluktuasi), sekresi gaster (meningkat), metabolisme (meningkat, temperatur tubuh naik), gelombang otak (EEG aktif), siklus tidur (sulit dibangunkan)

1.3 POLA TIDUR NORMAL

  • a. Neonatus sampai dengan 3 bulan

Kira-kira membutuhkan 16jam/hari, mudah berespons terhadap stimulus,

pada minggu pertama kelahiran 50% adalah tahap REM.

  • b. Bayi Pada malam hari kira-kira tidur 8-10 jam, usia 1 bulan sampai dengan 1 tahun kira-kira tidur 14jam/hari, tahap Rem 20-30%.

  • c. Toddler Tidur 10-12 jam/hari, tahap REM 25%.

  • d. Preschooler Tidur 11 jam pada malam hari, tahap REM 20%.

  • e. Usia sekolah Tidur 10 jam pada malam hari, tahap REM 18,5%.

  • f. Adolensia Tidur 8,5 jam pada malam hari, Tahap REM 20%.

  • g. Dewasa muda. Tidur 7-9jam/ hari, tahap REM 20-25%.

  • h. Usia dewasa pertengahan Tidur ± 6jam /hari, tahap REM 20%.

  • i. Usia Tua Tidur ± 6 jam/ hari, tahap REM 20-25%, Tahap IV NREM menurun dan kadang-kadang absen, sering terbangun pada malam

1.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIDUR

  • a. Penyakit Seseorang yang mengalami sakit memerlukan waktu tidur yang lebih banyak dari normal. Namun demikian, keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur.

  • b. Lingkungan Pasien yang biasa tidur pada lingkungan yang tenang dan nyama, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat tidurnya.

  • c. Motivasi Motivasi dapat mempengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.

  • d. Kelelahan Apabila mengalami kelelahan dapat memperpendek periode pertama dari tahap REM.

  • e. Kecemasan

Pada keadaaan cemas seseorang mungkin maeningkatkan sasraf

simpastissehingga terjadi tidurnya.

  • f. Alkohol Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum alkohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.

 
  • g. Obat-obatan

Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidur antara lain:

1)

Diuretik: menyebabkan insomnia

2)

Anti depresan: supresi REM

3)

Kafein: meningkatkan saraf simpatis

4)

Beta bloker: menimbulkan insomnia

5)

Narkotika: mensupresi REM.

1.5 GANGGUAN TIDUR

  • a. Insomnia Adalah ketidakmampuan memperoleh secara cukup kualitas dan kuantitass tidur. Ada 3 macam insomnia yaitu initial Insomnia adalah ketidakmampuan untuk tidur tidak ada, Intermitet Insomnia merupakan ketidakmampuan untuk tetap mempertahankan tidur sebab sering terbangun, dan Terminal Insomnia adalah bangun lebih awal tetapi tidak pernah tertidur kembali. Penyebab insomnia adalah ketidakmampuan fisik, kecemasan, dan kebiasaan minum alkohol dalam jumlah jumlah banyak.

  • b. Hipersomnia Berlebihan jam tidur pada malam hari, lebih dari 9 jam, biasanya disebabkan oleh depresi, kerusakan saraf tepi, beberapa penyakit ginjal, liver, dan metabolisme

  • c. Parasomnia Merupakan sekumpulan penyakit yang mengganggu tidut anank seperti samnohebalisme (tidur sambil berjalan).

  • d. Narcolepsy Suatu keadaan atau kondisi yang ditandai oleh keinginana yang tidak terkendali untuk tidur. Gelombang otak penderita pada saat tidur sama dengan orang yang tidur normal, juga tidak terdapat gas darah atau edokrin.

  • e. Apnoe tidur dan mendengkur Mendengkur bukan dianggap sebvagai gangguan tidur, namun bila disertai apnoe maka bisa menjadi masalah. Mendengkur disebabkan oleh adanya rintangan pengeluaran udara di hidung dan mulut, misalnya amandel,

adenoid, otot-otot dibelakang mulut mengendor dan bergetar. Periode

f.

apnoe berlangsung selama 10 detik sampai 3 menit. Mengigau Hampir semua orang pernah mengigau, hal itu terjadi sebelum tidur REM.

ASUHAN KEPERAWATAN

TERKAIT ISTIRAHAT DAN TIDUR

2.1 PENGKAJIAN

  • a. Riwayat keperawatan Kebiasaaan pola tidur bangun, apakah ada perubahan: waktu tidur,

1)

jumlah jam tidur, kualitas tidur, apakah mengalami kesulitan tidur, sering bangunpada saat tidur, apakah mengalami mimpi yang

2)

mnegancam. Dampak pola tidur terhadap fungsi sehari-hari: apakah merasa segar

3)

saat bangun, apa yang terjadi jika kurang tidur. Adakah alat bantu tidur: apa yang anda lakukan sebelum tidur, apakah

4)

menggunakan obat-obatan untuk membantu tidur. Gangguan tidur / faktor-faktor kontribusi: jenis gangguan tidur, kapan

masalah itu terjadi.

  • b. Pemeriksaan fisik

1)

Observasi penampilan wajah, perilaku, dan tingkat energi pasien.

2)

Adanya lingkaran hitam disekitar mata, mata sayu, dan konjungtiva

3)

merah. Perilaku: iretabel, kurang perhatian, pergerakan lambat, bicara lambat, postur tubuh tidak stabil, tangan tremor, sering menguap, mata tampak

lengket, memarik diri, bingung, dan kurang koordinasi.

  • c. Pemeriksaan diagnostic

1)

electroencephalogram (EEG).

2)

electromiogram (EMG).

3)

electrooculogram (EOG).

1.1 DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

  • a. Gangguan pola tidur Definisi: kondisi dimana seseorang mengalami gangguan dan perubahan waktu tidur yang menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Kemungkianan berhubungan dengan:

1)

Kerusakan neurologi.

2)

Tempat yang asing.

3)

Terpasangnya tube.

4)

Prosedur invasif.

5)

Nyeri.

6)

Kecemasan.

7)

Ketidaknormalan status fisiologi.

8)

Pengobatan.

Kemungkinan data yang ditemukan:

1)

Perubahan penampilan dan perilaku.

2) Iritabilitas/letargi.

3)

Sering menguap.

4)

Lingkaran hitam disekitar mata.

5)

Perubahan tingkat aktivitas.

6)

Mata merah.

Kondisi klinis memumngkinkan terjadinya pada:

1)

Kecemasan.

2)

Depresi.

3)

COPD/asma

4)

Kondisi setelah operasi

5)

Nyerin kronik.

Tujuan yang diharapkan:

 

1)

Pasien dapat tidur 6-8 jam setiap malam.

2)

Secara verbal mengatakan dapat lebih rileks dan lebih segar.

N

   

INTERVENSI

 

RASIONAL

O

 

1.

 

Lakukan kajian masalah gangguan tidur pasien, karakteristik, dan penyebab kurang

Memberikan informasi dasar dalam memnentukan rencana

tidur.

keperawatan.

2.

 

Lakukan persiapan untuk tidur malam seperti pada jam 9 malam sesuai dengan

Mengatur pola tidur.

pola tidur pasien.

 

3.

Lakukan mandi air hangat sebelum tidur.

Meningkatkan tidur.

4.

Anjurkan

makan

yang

cukup

satu

jam

Meningkatkan tidur.

 

sebelum tidur.

5.

Berikan susu hangat sebelum tidur.

 

Meningkatkan tidur.

6.

Keadaan tempat tidur yang nyaman,

Meningkatkan tidur.

bersih, dan bantal yang nyaman.

 

7.

Bunyi telepon, dan alarm dikecilkan.

 

Mengurangi gangguan tidur.

8.

Berikan pengobatan seperti analgetikdan

Mengurangi gangguan tidur.

sedatif setengah jam sebelum tidur.

 

9.

Lakukan masase pada daerah belakang,

Mengurangi gangguan tidur.

tutup jendela / pintu juka perlu.

 

10.

Tingkatkan aktivitas sehari-hari dan

Mengurangi tidur.

kurangi aktivitas sebelum tidur.

 

11.

Pengetahuan

kesehatan:

jadwal

tidur

Mengingkatkan pola tidur.

mengurangi stress,

cemas,

dan latihan

relaksasi.

DAFTAR PUSTAKA

Saryono dan Anggriyana. 2010. Catatan Kuliah Kebutuhan Dasar Manusia (KDM). Yogyakarta: Nuha Medika.

Tarwoto

dan

Wartonah.

2006.

Kebutuhan

Dasar

Manusia

dan

Proses

Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.