Anda di halaman 1dari 14

PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI

DENGAN JUDUL :
HUBUNGAN OBESITAS DAN PEKERJAAN
DENGAN KEJADIAN OSTEOARTHTRITIS
DI PUSKESMAS PADANG TEPONG
KABUPATEN EMPAT LAWANG

Oleh :
ANWAR HUSIN
Program S1 Keperawatan

Bengkulu,

Februari 2014

Mengetahui
Pembimbing 1

Pembimbing 2

WIDARYOTO, SKM, M. Kes

RANU PUSPO WIBOWO, S.Kep

A. Latar Belakang
Pembangunan

Indonesia

termasuk

pembangunan

bidang

kesehatan

membawa perubahan pada kondisi masyarakat di Indonesia. Perubahan


pola/struktur penduduk yang ditandai dengan semakin banyaknya warga lanjut
usia (lansia) karena meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH). Angka UHH di
Indonesia yang pada tahun 19952000 sebesar 64,71 tahun meningkat menjadi
67,68 tahun pada tahun 20002005. Proporsi penduduk lansia (di atas 60 tahun)
meningkat dari 16 juta jiwa (7,6%) pada tahun 2000 menjadi 18,4 juta jiwa (8,4%)
pada tahun 2005. Sedangkan dari data USABureau of the Cencus, Indonesia
diperkirakan akan mengalami pertambahan warga lansia terbesar di seluruh dunia
antara tahun 1990-2025, yaitu sebesar 414%. Umur Harapan Hidup orang
Indonesia diperkirakan mencapai 70 tahun atau lebih pada tahun 2015-2020.
Penyakit yang berkaitan dengan faktor penuaan itu sering disebut sebagai penyakit
degeneratif, yang salah satu diantaranya adalah Osteoarthritis (Pratiwi E, 2007 ).
Osteoarthritis dimasukkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World
Health Organitation (WHO) kedalam salah satu dari empat kondisi otot dan
tulang yang membebani individu, sistem kesehatan maupun sistem perawatan
sosial dengan biaya yang cukup besar. Di seluruh dunia dipekirakan 9.6 % pria
dan wanita diatas 60 tahun menderita Osteoarthritis. Pada tahun 2020, WHO
memperkirakan penyakit ini menjadi penyebab utama disabilitas umat manusia
setelah Arthritis Reumatoid (jenis penyakit yang mengenai jari/tangan dan kaki).
Osteoporosis (keropos tulang)

dan nyeri punggung

bawah, Indonesia

merupakan Negara ke-4 dengan jumlah terbanyak sesudah Cina, India, dan
Amerika Serikat (Moerdiputro, 2006).
Osteoarthritis mempengaruhi hampir 27 juta orang di Amerika Serikat,
akuntansi untuk 25% dari kunjungan ke dokter perawatan primer, dan separuh
dari semua (non-steroid anti-inflamasi obat) resep NSAID. Diperkirakan bahwa
80% dari populasi akan memiliki bukti radiografi Osteoarthritis pada usia 65,
walaupun hanya 60% dari mereka akan menunjukkan gejala. Di Amerika Serikat,
rawat inap untuk Osteoarthritis melonjak dari sekitar 322.000 pada tahun 2006
menjadi 735.000 (Moerdiputro, 2006)
Australia pada tahun 2002, diperkirakan
biaya nasional untuk Osteoarthritis
1
sebesar 1% dari Gout Nucleus Pulposis (GNP), mencapai 2700/orang/pertahun.
Dapat dibayangkan begitu besarnya dampak negatif yang ditimbulkan oleh
penyakit tulang rawan dan sendi termasuk Osteoarthritis, seluruh dunia harus
mewaspadainya. Bahkan sejak tahun 2001 hingga 2010 dicanangkan sebagai
dekade penyakit tulang dan sendi di seluruh dunia (Indra, 2008)
Prevalensi Osteoarthritis lutut secara radiologis di Indonesia cukup tinggi, yaitu
mencapai 15,5% padapria dan 12,7% pada wanita. Pasien Osteoarthritis biasanya mengeluh
nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada sendi yang terkena.
Pada derajat yang lebih berat nyeri dapat dirasakan terus menerus, sehingga sangat
mengganggu mobilitas pasien (Soeroso et al, 2006).
Osteoarthritis merupakan kelainan sendi yang paling banyak dijumpai
terutama pada usia lanjut. Kejadian Osteoarthritis di Indonesia pada tahun 2006
merupakan penyakit rematik yang paling banyak ditemui dengan risiko mencapai
65% dari total kasus penyakit, sedangkan faktor usia cukup tinggi yaitu 5% pada

usia <40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun dan 65% pada usia >61 tahun. Di
Kabupaten Malang dan Kota Malang ditemukan prevalensi Osteoarthritis sebesar
10% dan 13,5%. Di Poliklinik Subbagian Rematologi RSCM sebanyak 43,82%
penderita yang mengalami Osteoarthritis (Setyohadi, 2006).
Lebih dari 85% pasien Osteoarthritis terganggu aktivitasnya terutama untuk kegiatan
jongkok, naik tangga dan berjalan. Arti dari gangguan jongkok dan menekuk lutut sangat
penting bagi pasien Osteoarthritis di Indonesia oleh karena banyak kegiatan sehari-hari yang
bergantung kegiatan ini, khususnya sholat dan buang air besar (Nasution & Sumariyono,
2006).
Osteoarthritis terjadi akibat kondrosit (sel pembentuk proteoglikan dan
kolagen pada rawan sendi) gagal dalam memelihara keseimbangan antara
degradasi dan sintesis matriks ekstraseluler, sehingga terjadi perubahan diameter
dan orientasi serat kolagen yang mengubah biomekanik dari tulang rawan, yang
menjadikan tulang rawan sendi kehilangan sifat kompresibilitasnya yang unik
(Putri, 2008).
Proses penuaan dianggap sebagai penyebab peningkatan kelemahan di
sekitar sendi, penurunan kelenturan sendi, kalsifikasi tulang rawan dan
menurunkan

fungsi

kondrosit,

yang

semuanya

mendukung

terjadinya

Osteoarthritis. Studi Framingham menunjukkan bahwa 27% orang berusia 63 70


tahun memiliki bukti radiografik menderita Osteoarthritis usia lanjut, yang
meningkat hingga 40% pada usia 80 tahun atau lebih.
Obesitas dan pekerjaan merupakan faktor yang penting dalam hal
terjadinya gangguan Osteoarthritis. Semakin berat badan dan banyak aktivitas
maka kemungkinan terjadinya penurunan fungsi sendi dapat terjadi lebih besar.

Sendi berfungsi ekstra menompang berat badan dalam posisi yang terkadang
tidak komportable terhadap kondisi dalam bekerja. Faktor-faktor lain seperti
kebiasaan merokok, lama paparan serta riwayat penyakit yang berkaitan dengan
persendian juga akan memperburuk resiko terserang Osteoarthritis.
Berat Badan (BB) merupakan faktor risiko terkuat yang dapat dimodifikasi.
Selama berjalan, setengah berat badan bertumpu pada sendi. Peningkatan berat
badan akan melipatgandakan beban sendi saat berjalan. Studi di Chingford
menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT)
sebesar 2 unit (kira-kira 5 kg berat 36 badan), odds rasio untuk menderita
Osteoarthritis
Penelitian

usia lanjut secara radiografik meningkat sebesar 1,36 poin.


tersebut

menyimpulkan

bahwa

semakin

berat

tubuh

akan

meningkatkan risiko menderita Osteoarthritis usia. Kegemukan pada usia 36 37


tahun merupakan faktor risiko menderita Osteoarthritis usia lanjut pada usia tua
(70 tahun atau lebih). Kehilangan 5 kg berat badan akan mengurangi risiko
Osteoarthritis usia lanjut secara simtomatik pada wanita sebesar 50%. Demikian
juga peningkatan risiko mengalami Osteoarthritis

usia lanjut yang progresif

tampak pada orang-orang yang kelebihan berat badan dengan penyakit pada
bagian tubuh tertentu.
Perilaku yang berhubungan dengan Osteoarthritis Aktivitas fisik berat seperti
berdiri lama (2 jam atau lebih setiap hari), berjalan jarak jauh (2 jam atau lebih
setiap hari), mengangkat barang berat (10 kg 50 kg selama 10 kali atau lebih
setiap minggu), mendorong objek yang berat (10 kg 50 kg selama 10 kali atau
lebih setiap minggu), naik turun tangga setiap hari merupakan faktor resiko

Osteoarthritis. Atlit olah raga benturan keras dan membebani seperti sepak bola,
lari maraton dan kungfu memiliki resiko meningkat untuk menderita Osteoarthritis
usia lanjut. Kelemahan otot kuadrisep primer merupakan faktor risiko bagi
terjadinya Osteoarthritis dengan proses menurunkan stabilitas sendi dan
mengurangi shock yang menyerap materi otot. Osteoarthritis banyak ditemukan
pada pekerja fisik berat, terutama yang banyak menggunakan kekuatan sendi.
Kuli pelabuhan, Petani dan penambang memiliki prevalensi lebih tinggi
menderita Osteoarthritis usia lanjut dibandingkan pekerjaan yang tidak banyak
menggunakan kekuatan sendi seperti pekerja administrasi. Terdapat hubungan
signifikan antara pekerjaan yang menggunakan kekuatan sendi pada Osteoarthritis
usia lanjut. Banyak penelitian yang telah membuktikan hubungan positif antara
merokok dengan Osteoarthritis. Merokok meningkatkan kandungan racun dalam
darah dan mematikan jaringan akibat kekurangan oksigen, yang memungkinkan
terjadinya kerusakan tulang rawan. Rokok juga dapat merusakkan sel tulang
rawan sendi (Pratiwi E, 2007)
Mengingat besarnya kerugian yang dapat ditimbulkan akibat Osteoarthritis,
maka perlu dilakukan upaya pencegahan terjadinya Osteoarthritis. Salah satu
upaya tersebut adalah dengan mendeskripsikan hubungan obesitas dan pekerjaan
dengan resiko terjadinya Osteoarthritis.
Berdasarkan data kunjungan pasien di poli umum Puskesmas Padang
Tepong tahun 2011 terdapat 35 penderita Osteoarthritis (27.6%), pada tahun 2012
meningkat menjadi 42 kasus, tahun 2013 meningkat lagi menjadi 66 kasus dan

pada tahun 2014 juga meningkat menjadi 112 kasus. (Profil Puskesmas Padang
Tepong, 2011 - 2014).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul Hubungan Obesitas dan Pekerjaan dengan
Kejadian Osteoarthtritis Di Puskesmas

Padang Tepong Kab.

Empat Lawang.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui Hubungan antara Obesitas dan Pekerjaan
dengan Kejadian Osteoarthtritis Di Puskesmas Padang Tepong
Kab. Empat Lawang.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui gambaran Obesitas Di Puskesmas

Padang Tepong

Kab. Empat Lawang


b. Mengetahui gambaran Pekerjaan Di Puskesmas

Padang

Tepong Kab. Empat Lawang


c. Untuk mengetahui hubungan antara Obesitas dengan Kejadian
Osteoarthtritis Di Puskesmas

Padang Tepong Kab. Empat

Lawang
d. Untuk mengetahui hubungan antara pekerjaan dengan Kejadian
Osteoarthtritis Di Puskesmas

Padang Tepong Kab. Empat

Lawang
C. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :

1. Untuk memperluas pengetahuan tentang Hubungan antara Obesitas


dan Pekerjaan dengan Kejadian Osteoarthtritis Di Puskesmas
Padang Tepong Kab. Empat Lawang.
2. Dapat mengetahui bagaimana mencegah

faktor

resiko

terjadinya

Osteoathritis.
D. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang kebenarannya masih harus diuji,
atau rangkuman kesimpulan teoritis yang diperoleh dari tinjauan pustaka (Martono,
2012). Pada penelitian ini hipotesisnya adalah :
Ha1

=Ada

Hubungan

antara

Obesitas

dengan

Kejadian

Osteoarthtritis di Puskesmas Padang Tepong Kab. Empat


Lawang.
Ha1

=Ada

Hubungan

antara

Pekerjaan

dengan

Kejadian

Osteoarthtritis di Puskesmas Padang Tepong Kab. Empat


Lawang.
E. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat analitik dengan desain penelitian cross sectional dimana
dalam desain penelitian ini, variabel independen (obesitas dan pekerjaan) dan
variabel dependen (Osteoarthtritis) diukur dalam waktu bersamaan dengan cara
pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Point Time
Approach) artinya, tiap subyek hanya diobservasi sekali saja dan pengukurannya

dilakukan terhadap status karakter atau variabel subyek pada saat pemeriksaan. Hal
ini tidak berarti bahwa semua subyek penelitian diamati pada waktu yang sama
(Notoadmojo, 2002).
F. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti
(Notoatmojo, 2005). Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek
maupun objek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu untuk dipelajari
dan ditarik kesimpulannya (Arikunto, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah
keseluruhan pasien Osteoarthtritis tahun 2014 yang berjumlah 112 orang.
Sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri atau keadaan tertentu
yang akan diteliti. Atau sampel dapat didefinisikan sebagai anggota populasi yang
dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili
populasi (Martono, 2012). Adapun besar sampel pada penelitian ini adalah mengacu
pada teori dari Stanlei Lameshow (1997), dengan rumus
n=

Z P ( 1P ) N
d ( N1 ) + Z 2.a/ 2 P(1P)
2

Keterangan

= Besar Populasi

= Jumlah Sampel yang diperlukan

Z= Standar Deviasi normal, ditetapkan pada 1,96 yang sesuai dengan


derajat kepercayaan (CI:Confidence Interval) 95%.

P= Asumsi Proporsi
d = Penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan (0.1)

( 1.96 )2 x 0.5 ( 10.5 ) 112


n=
( 0.1 )2 ( 1121 ) + ( 1.96 )2 x 0.5 (10.5)

n=

3.8416 x 0.25 x 112


1,11+3.8416 x 0.25

n=

107,56
2,070

n = 51,9 orang dibulat 52 orang


Jadi sampel yang digunakan sebesar 52 orang
dengan kriteria :
1. Penderita yang berobat ke Puskesmas Padang Tepong
2. Bersedia untuk menjadi responden
3. Bisa Baca dan tulis
Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
metode Accidental sampling, dimana penelitian ini hanya di lakukan dengan
mengambil responden yang kebetulan ada atau tersedia.
G. Variabel Penelitian
1. Perilaku perawat dalam memberikan implementasi
keperawatan
2. Tingkat Kepuasan pasien
H. Defenisi Operasional
No

Variabel

Defenisi Operasional

Hasil Ukur

Obesitas

Hasil
pengitungan
Berat Badan (BB)
dalam kilogram dibagi
kuadrat dari tinggi
badan (TB) dalam
meter, dengan satuan
kg/m
Pekerjaan responden

Indek Masa Tubuh (IMT)=


BB(kg)/TB (m),Kriteria :
Normal, IMT : 20-25
Obesitas Tk 1, IMT : 25-30
Obesitas Tk 2, IMT : >30

1= Obesitas
(Tk 1&Tk 2)
2 = Normal

Pekerjaan

Format Dokumentasi

1 = PNS/Swasta

Skala
Ukur
Ordinal

Nominal

sehari-hari
yang
merupakan
mata
pencaharian utama
Osteoartrhit
is

Diagnosis menderita
Osteoarthritis
oleh
dokter dilihat dari
tanda dan gejala yang
berdasarkan diagnosis
rekam medik

/Dagang/Tani
2 = IRT
Dokumentasi
(Diagnosa Dokter)

1. Osteoarthritis
2. Tidak
Osteoarthritis

I. Cara Pengumpulan Data


Data dikumpulkan melalui status pasien dan kuesioner yang berisikan pertanyaan
yang berhubungan dengan variabel yang diteliti. Sumber data diperoleh dari :

1.

Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden melalui
kuesioner/wawancara

2.

Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari Catatan Medik Puskesmas
Padang Tepong

J. Pengolahan Data
Data yang terkumpul akan diolah secara manual maupun menggunakan komputer,
adapun pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.

Pemeriksaan Data (Editing)


Merupakan kegiatan pengecekan isian angket, apakah jawaban yang ada
diangket sudah lengkap, jelas, relevan dan konsisten

Nominal

2.

Pemberian Kode (Coding)


Yaitu pengkodean data menjadi bentuk kategori, variabel dependen dan
independen dengan dilakukannya tahap ini maka proses pengolahan dan entry
data menjadi mudah.

3.

Pemberian Skor (Scoring)


Pemberian nilai skor pada data yang memerlukan scoring.

4.

Tabulating
Yaitu mentabulasi data berdasarkan kelompok data yang telah ditentukan
kedalam master tabel.

5.

Memasukkan Data (Entry Data)


Data yang telah dikoding dimasukkan kemudian dianalisis dengan
menggunakan komputer.

6.

Membersihkan Data (Cleaning Data)


Yaitu pengecekan data (variabel data) yang telah dimasukkan kedalam
program komputer sebelum dilakukan analisis lebih lanjut. untuk menghindari
kesalahan, sehingga hasil analisa data nantinya sesuai data sebenarnya.

K. Analisa Data
Tekhnik analisis data yang digunakan adalah
1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi
dan proporsi dari variabel yang diteliti, baik variabel dependen maupun
independen.

Analisis ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masingmasing variabel penelitian dengan menggunakan ukuran proporsi (Arikunto,
2002)
Dengan Rumus
P=

f
= x 100%
n

Keterangan :
P : Proporsi / jumlah persentase
f : Jumlah responden setiap kategori
n : Jumlah Sampel
Persentase yang diperoleh disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi dan
diinterpretasikan sebagai berikut :
0% - 25%
26% - 49%
50%
51% - 75%`
76% - 99%
100%

= Sebagian kecil responden


= Hampir sebagian dari responden
= Setengah/sebagian dari responden
= Sebagian besar responden
= Hampir seluruh responden
= Seluruh responden

2. Analisis Bivariat
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent
dengan variabel dependent. Jenis Uji Statistik yang digunakan X2 (Chi-Square)
dengan derajat kepercayaan 95%.
Chi - square menurut Arikunto, (2002). Menggunakan tabel 2 x 2 dengan
rumus;
X2 = {(ad bc) N)2 N)}
(a+c) (a+b) (c+d) (b+d)

Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan :


a) Jika P value (0,05), Ho ditolak, berarti ada hubungan bermakna antara
variabel independen dengan dependen.
b) Jika P value > (0,05), Ho diterima, berarti tidak ada hubungan bermakna
antara variabel independen dengan dependen.