Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskuler setiap tahun menjadi masalah
utama di negara berkembang dan negara maju. Berdasarkan data Global Burden of
Disease (GBD) tahun 2000, 50% dari penyakit kardiovaskuler disebabkan oleh
hipertensi (Shapo, 2003).
Berdasarkan Data Lancet, jumlah penderita hipertensi di seluruh dunia terus
meningkat. Di India, misalnya, mencapai 60,4 juta orang pada 2002 dan diperkirakan
107,3 juta orang pada 2025. Di China, 98,5 juta orang dan bakal jadi 151,7 juta
orang pada 2025. Di bagian lain di Asia, tercatat 38,4 juta penderita hipertensi pada
2000 dan diprediksi jadi 67,4 juta orang pada 2025. Di Indonesia, mencapai 17-21%
dari populasi penduduk dan kebanyakan tidak terdeteksi. (Ramita, 2008)
Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES)
menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insiden hipertensi pada orang dewasa
adalah sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58-65 juta penderita hipertensi di
Amerika, dan terjadi peningkatan 15 juta dari data NHANES tahun 1988-1991
(Yogiantoro, 2006).
Sekitar 50 juta orang dewasa Amerika menderita tekanan darah tinggi. Di
Indonesia, hipertensi didapatkan pada 83 per 1000 anggota rumah tangga. Prevalensi
tekanan darah tinggi meningkat dengan seiring dengan peningkatan usia. Lebih dari
setengah penduduk berusia antara 60 sampai dengan 69 tahun dan tiga perempat
penduduk berusia 70 tahun atau lebih menderita tekanan darah tinggi. Sebuah studi
1

2
meta analisis menunjukkan bahwa sekitar seperempat dari populasi dunia, atau
sekitar satu triliun penduduk menderita hipertensi pada tahun 2000. Proporsi ini akan
meningkat sebanyak 29% atau menjadi 1,56 triliun penduduk pada tahun 2025.
(A.Ridjab, 2007).
Hasil survei kesehatan rumah tangga di kalangan penduduk umur 25 tahun ke
atas menunjukkkan bahwa 27% laki-laki dan 29% wanita menderita hipertensi; 0,3%
mengalami penyakit jantung iskemik dan stroke. Terdapat 50% penderita tidak
menyadari sebagai penderita, sehingga penyakitnya lebih berat karena tidak merubah
dan menghindari faktor risiko. Sebanyak 70% hipertensi ringan, maka banyak
diabaikan/terabaikan sehingga menjadi ganas (hipertensi maligna). (Sugiharto, Aris
dkk, 2007).
Berdasarkan data dari Rekam Medik RSUD Kepahiang didapatkan bahwa pada
tahun 2007 hipertensi menempati urutan ke -4 yaitu sebesar 176 kasus atau sekitar
9,74 % dari 10 penyakit terbanyak rawat jalan di RSUD Kepahiang. Pada tahun 2008
jumlah kasus hipertensi yaitu sebesar 116 sekitar 7,5% sedangkan pada tahun 2009
kasus hipertensi meningkat menempati urutan ke-2 yaitu sebesar 214 kasus atau
sekitar 19,7%.

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah
Apa saja faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada pasien
yang berobat di poliklinik rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Kepahiang tahun
2010

3
C.

Tujuan Penelitian
1.

Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi
pada penderita yang berobat di poliklinik Penyakit Dalam RSUD Kepahiang
tahun 2010.

2.

Tujuan Khusus
a.

Diketahuinya

distribusi

frekuensi

responden

berdasarkan usia, jenis kelamin, pola asupan garam, dan riwayat keluarga.
b.

Diketahuinya

hubungan

antara

usia

dengan

kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam


RSUD Kepahiang.
c.

Diketahuinya hubungan antara jenis kelamin


dengan kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD Kepahiang.

d.

Diketahuinya hubungan antara pola asupan garam


dengan kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD Kepahiang.

e.

Diketahuinya hubungan antara riwayat keluarga


hipertensi dengan kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di Poliklinik
Penyakit Dalam RSUD Kepahiang.

D.

Manfaat Penelitian
1.

Pendidikan/Akademik

4
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian atau
pustaka

yang

dapat

memperkaya

khasanah

ilmu

pengetahuan

dan

merupakan salah satu bahan bacaan bagi peneliti berikutnya.

2.

Rumah Sakit Umum Daerah Kepahiang


Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pihak Rumah Sakit sehingga bisa
dijadikan dasar menentukan kebijakan-kebijakan dalam menangani hipertensi.

3.

Peneliti
Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang
didapat selama pendidikan dan menambah pengetahuan, pengalaman dalam
membuat penelitian ilmiah tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian
hipertensi.

F. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang Hipertensi sudah pernah diteliti oleh banyak peneliti
sebelumnya, diantaranya dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 1.1 Jurnal-jurnal penelitian tentang hipertensi
No
Nama Peneliti
1
Seruni Arum Sari

Yasir Arifin

Judul Penelitian
Faktor-faktor risiko hipertensi
pada
laki-laki
Pengunjung
puskesmas manahan Di kota
Surakarta

Variabel yang diteliti


Var.
Dependen
Hipertensi pada lakilaki
Var.
Independen
Kebiasaan merokok,
umur, obesitas
Gambaran
pengetahuan Var.
Dependen
pasien
mengenai Hipertensi pada lansia
Hipertensi pada lansia di Var.
Independen
RSU Dr.Djoelham Binjai Pengetahuan pasien

Sally
Nasution

Rosefi Gambaran Metabolik Glukosa,


lipid, dan insulin pada keturunan
hipertensi
essensial
yang
normotensi

Var Dependen Anak


normotensi keturunan
hipertensi
Var.
Independen
Metabolisme glukosa,
lipid dan insulin

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi
1.

Definisi
Hipertensi adalah keadaan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan
tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah diukur dengan
spygmomanometer yang telah dikalibrasi dengan tepat (80% dari ukuran manset
menutupi lengan) setelah pasien beristirahat nyaman, posisi duduk punggung
tegak atau terlentang paling sedikit selama 5 menit sampai 30 menit setelah
merokok atau minum kopi (Armilawati at all, 2007).
Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi
esensial atau hipertensi primer. Hipertensi esensial merupakan 95% dari seluruh
kasus hipertensi. Sisanya adalah hipertensi sekunder, yaitu tekanan darah tinggi
yang penyebabnya dapat diklasifikasikan, diantaranya adalah kelainan organik
seperti penyakit ginjal, kelainan pada korteks adrenal, pemakaian obat-obatan
sejenis kortikosteroid, dan lain-lain (Yogiantoro, 2006).

6
Faktor risiko hipertensi antara lain adalah: faktor genetik, umur, jenis
kelamin, etnis, stress, obesitas, asupan garam, dan kebiasaan merokok.
Hipertensi bersifat diturunkan atau bersifat genetik. Individu dengan riwayat
keluarga hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita
hipertensi daripada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat
hipertensi. Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia, dan
pria memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal.
5
(Yogiantoro, 2006).
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada yang
berkulit putih. Obesitas dapat meningkatkan kejadian hipertensi. Hal ini
disebabkan lemak dapat menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah sehingga
dapat meningkatkan tekanan darah. Asupan garam yang tinggi akan
menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak
langsung akan meningkatkan tekanan darah. Kebiasaan merokok berpengaruh
dalam meningkatkan risiko hipertensi walaupun mekanisme timbulnya hipertensi
belum diketahui secara pasti (Soesanto, 2001).
2.

Epidemiologi
Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi
gejala yang berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit
jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit
ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di
Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Diperkirakan sekitar 80
% kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari
sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan menjadi 1,15 milyar kasus

7
di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini
dan pertambahan penduduk saat ini (Armilawati at all, 2007).
Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan
dan menunjukkan di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum
terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case finding maupun
penatalaksanaan pengobatannya. Jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian
besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi terbanyak
berkisar antara 6 sampai dengan 15%, tetapi angka prevalensi yang rendah
terdapat di Ungaran, Jawa Tengah sebesar 1,8% dan Lembah Balim Pegunungan
Jaya Wijaya, Irian Jaya sebesar 0,6% sedangkan angka prevalensi tertinggi di
Talang Sumatera Barat 17,8% (Wade, 2003)
3.

Etiologi
Sampai saat ini penyebab hipertensi esensial tidak diketahui dengan pasti.
Hipertensi primer tidak disebabkan oleh faktor tunggal dan khusus. Hipertensi ini
disebabkan berbagai faktor yang saling berkaitan. Hipertensi sekunder
disebabkan oleh faktor primer yang diketahui yaitu seperti kerusakan ginjal,
gangguan obat tertentu, stres akut, kerusakan vaskuler dan lain-lain. Adapun
penyebab paling umum pada penderita hipertensi maligna adalah hipertensi yang
tidak terobati. Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan
dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi
(Sharma, 2008).

4.

Klasifikasi
Tekanan darah diklasifikasikan berdasarkan pada pengukuran rata-rata dua
kali pengukuran pada masing-masing kunjungan.

Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah


Klasifikasi
Tekanan Darah
Normal
Prehipertensi
Hipertensi Tahap I
Hipertensi Tahap 2
5.

Tekanan Darah Sistolik


(mmHg)
< 120
120 139
140 159
160

Tekanan Darah Diastolik


(mmHg)
< 80
80 89
90 99
100

Sumber : (A.Ridjab, 2007).


Patofisiologi
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II
dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang
peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung
angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin
(diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang
terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II
inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua
aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik
(ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan
bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan
meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh
(antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk
mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara
menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang
pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.
Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada

9
ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi
ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya
konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume
cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan
tekanan darah (Anonim, 2009).

Patogenesis dari hipertensi esensial merupakan multifaktorial dan sangat


komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi
jaringan yang adekuat meliputi mediator hormon, aktivitas vaskuler, volume
sirkulasi darah, kaliber vaskuler, viskositas darah, curah jantung, elastisitas
pembuluh darah dan stimulasi neural. Patogenesis hipertensi esensial dapat
dipicu oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam diet,
tingkat stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi.
Perjalanan penyakit hipertensi esensial berkembang dari hipertensi yang
kadangkadang muncul menjadi hipertensi yang persisten. Setelah periode
asimtomatik yang lama, hipertensi persisten berkembang menjadi hipertensi
dengan komplikasi, dimana kerusakan organ target di aorta dan arteri kecil,
jantung, ginjal, retina dan susunan saraf pusat. Progresifitas hipertensi dimulai
dari prehipertensi pada pasien umur 10-30 tahun (dengan meningkatnya curah
jantung) kemudian menjadi hipertensi dini pada pasien umur 20-40 tahun
(dimana tahanan perifer meningkat) kemudian menjadi hipertensi pada umur 3050 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan komplikasi pada usia 40-60
tahun (Sharma, 2009).

10

Lingkungan Hereditas

Pre-Hipertensi

Hipertensi Dini

Hipertensi Menetap

Tanpa Komplikasi

Hipertensi
Maligna

Dengan Komplikasi

Jantung : hipertropi
gagal jantung infark

Pembuluh darah :
Aneurisma

Otak : Iskemia
Trombosis
perdarahan

Ginjal :
Nefrosklreosis
gagal ginjal

Gambar 2.1 Perjalanan Alamiah Hipertensi Primer yang Tidak Terobati (Anonim,
2009)
6.

Komplikasi
Mortalitas pada pasien hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak
terkontrol dan telah menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Sebab

11
kematian yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa disertai
stroke dan gagal ginjal. Dengan pendekatan sistem organ dapat diketahui
komplikasi yang mungkin terjadi akibat hipertensi, yaitu :

Tabel. 2.2 Komplikasi Hipertensi


No
1

Sistem Organ
Jantung

System Saraf Pusat

3
4
5

Ginjal
Mata
Pembuluh Darah Perifer

Komplikasi
Infark miocard
Angina Pectoris
Gagal Jantung Kongestif
Strooke
Ensefalopati Hipertensif
Gagal ginjal kronis
Retinopati Hipertensif
Penyakit Pembuluh Darah Perifer

Sumber : Hoeymans, 1999


Komplikasi yang terjadi pada hipertensi ringan dan sedang mengenai mata,
ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa perdarahan retina, gangguan
penglihatan sampai dengan kebutaan. Gagal jantung merupakan kelainan yang
sering ditemukan pada hipertensi berat selain kelainan koroner dan miokard.
Pada otak sering terjadi perdarahan yang disebabkan oleh pecahnya
mikroaneurisma yang dapat mengakibakan kematian. Kelainan lain yang dapat
terjadi adalah proses tromboemboli dan serangan iskemia otak sementara
(Transient Ischemic Attack/TIA). Gagal ginjal sering dijumpai sebagai
komplikasi hipertensi yang lama dan pada proses akut seperti pada hipertensi
maligna. Risiko penyakit kardiovaskuler pada pasien hipertensi ditentukan tidak

12
hanya tingginya tekanan darah tetapi juga telah atau belum adanya kerusakan
organ target serta faktor risiko lain seperti merokok, dislipidemia dan diabetes
melitus ( Susalit, 2008).

Tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg pada individu berusia lebih dari
50 tahun, merupakan faktor resiko kardiovaskular yang penting. Selain itu
dimulai dari tekanan darah 115/75 mmHg, kenaikan setiap 20/10 mmHg
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler sebanyak dua kali (Ridjab, 2005).
7.

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah : (Yogiantoro, 2006)
-

Target tekanan darah yatiu <140/90 mmHg dan untuk individu berisiko tinggi
seperti diabetes melitus, gagal ginjal target tekanan darah adalah <130/80
mmHg.

Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler.

Menghambat laju penyakit ginjal.

Untuk penanganan hipertensi dibagi menjadi dua yaitu dengan non farmakologi
dan farmakologi seperti dijelaskan dibawah ini :
a. Non Farmakologis
Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan merokok,
menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol berlebih, asupan garam
dan asupan lemak, latihan fisik serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur
(Cortas, 2009).
-

Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih

13
Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap
tekanan darahnya. Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat
penting dalam prevensi dan kontrol hipertensi
-

Meningkatkan aktifitas fisik


Orang yang aktivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30-50%
daripada yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30 45 menit
sebanyak >3x/hari penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi

Mengurangi asupan natrium


Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian obat
anti hipertensi oleh dokter.

Menurunkan konsumsi kafein dan alkohol


Kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan
lebih banyak cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol
lebih dari 2-3 gelas/hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.

b. Farmakologis
Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII
yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron antagonis,
beta blocker, calcium chanel blocker atau calcium antagonist, Angiotensin
Converting Enzyme Inhibitor (ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau
AT1 receptor antagonist/ blocker (ARB) (Yogiantoro, 2006).

B. Umur
Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan umur. Pasien yang
berumur di atas 60 tahun, 50 60 % mempunyai tekanan darah lebih besar atau

14
sama dengan 140/90 mmHg. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi
pada orang yang bertambah usianya (Oktora, 2005) Hipertensi merupakan penyakit
multifaktorial yang munculnya oleh karena interaksi berbagai faktor. Dengan
bertambahnya umur, maka tekanan darah juga akan meningkat. Setelah umur 45
tahun, dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena adanya penumpukan zat
kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur
menyempit dan menjadi kaku. Tekanan darah sistolik meningkat karena kelenturan
pembuluh darah besar yang berkurang pada penambahan umur sampai dekade
ketujuh sedangkan tekanan darah diastolik meningkat sampai dekade kelima dan
keenam kemudian menetap atau cenderung menurun. Peningkatan umur akan
menyebabkan beberapa perubahan fisiologis, pada usia lanjut terjadi peningkatan
resistensi perifer dan aktivitas simpatik. Pengaturan tekanan darah yaitu refleks
baroreseptor pada usia lanjut sensitivitasnya sudah berkurang, sedangkan peran
ginjal juga sudah berkurang dimana aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus
menurun (Kumar, 2005).

C. Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita. Namun wanita
terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause (Cortas, 2008). Wanita
yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan
dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL
yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses
aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap sebagai penjelasan adanya
imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause wanita mulai

15
kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi
pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut dimana hormon estrogen
tersebut berubah kuantitasnya sesuai dengan umur wanita secara alami, yang
umumnya mulai terjadi pada wanita umur 45-55 tahun (Kumar, 2005).
D. Pola asupan garam dalam diet
Badan

kesehatan

dunia

yaitu

World

Health

Organization

(WHO)

merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya


hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol
(sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari (Shapo, 2003) Konsumsi
natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan
ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar,
sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan
ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga
berdampak kepada timbulnya hipertensi (Widayanto, 2009). Karena itu disarankan
untuk mengurangi konsumsi natrium/sodium. Sumber natrium/sodium yang utama
adalah natrium klorida (garam dapur), penyedap masakan monosodium glutamate
(MSG), dan sodium karbonat. Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang
dianjurkan tidak lebih dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh. Dalam
kenyataannya, konsumsi berlebih karena budaya masakmemasak masyarakat kita
yang umumnya boros menggunakan garam dan MSG (Sianturi, 2009).

16

Tabel 2.3 Kandungan Natrium pada Beberapa Makanan.


No

Jenis Makanan

Ikan Asin
Kerang
Fried Chiken
Biskuit
Roti Putih
Kecap
Tauco
Mie instant
Sosis
Keju
Air Kaldu
Nasi Goreng
Mentega
Udang
Sarden Kaleng
Kornet
Kacang Goreng
400 mg
Sumber : Waspadji, 2004

Ukuran Rumah
Tangga
1 Potong sedang
gelas
1 potong
4 buah besar
3 iris
1 bungkus
potong
1 potong kecil
1 porsi
-

Kadar Na
200-400 mg

Kadar Na
> 400 mg

E. Riwayat Keluarga Hipertensi


Hipertensi diketahui bersifat poligenic dan multi factorial dan berhubungan
dengan riwayat keluarga yang positif hipertensi. Diketahui bahwa faktor herediter
merupakan salah satu unsur yang penting dalam predisposisi hipertensi dimana ayah
mempunyai kontribusi genetik lebih kuat dibanding ibu. Mongeu mengestimasikan
bahwa disamping faktor lingkungan faktor genetik memberikan kontribusi untuk

17
munculnya hipertensi sebanyak 30-60 %. Penelitian pada binatang tikus
membuktikan bahwa kejadian hipertensi pada kembar monozygot lebih banyak
dibandingkan kembar heterozygot, dimana menyokong bahwa faktor genetik
mempunyai peranan terhadap kejadian hipertensi (Nasution, 2005).

F. Kerangka Teori
Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan pembuluh
darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. Hipertensi tak ubahnya bom
waktu. Dia tak mengirimkan sinyal-sinyal bahaya terlebih dahulu. Vonis sebagai
pengidap tekanan darah tinggi datang begitu saja. Karena tak mengirimkan alarm
bahaya, orang kerap mengabaikannya. Hipertensi kini ditengarai sebagai penyebab
utama stroke dan jantung.
Proses terjadinya hipertensi tidak terlepas dari interaksi Faktor-faktor yang tidak
dapat dimodifikasi antara lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis.
Tipe Kepribadian
Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas
dan nutrisi

(Yogiantoro, 2006) seperti terlihat pada gambar 2.2.

Genetik

Kadar Sodium
Intraseluler
meningkat

Etnis

Sensitivitas terhadap
vasopresin lebih besar

Umur

Degenerasi atau
penebalan dinding arteri

HIPERTENSI

Stress

Resistensi pembuluh darah


perifer & cardiac output

Kadar
HDL

Hormon natriouretik
meningkat

Cardiac output & tahanan


perifer meningkat

Pola Konsumsi
Garam

Obesitas

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Wanita
estrogen

Jenis
Kelamin

Agregasi trombosit meningkat


dan peningkatan vsikositas
darah
Riwayat Merokok

18

19
G. Kerangka Konsep
Adapun Orang yang mempunyai resiko tinggi terkena Hipertensi Variabel
Dependen) adalah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis kelamin, riwayat
keluarga hipertensi, pola asupan garam (Variabel Independen) seperti dapat dilihat pada
Gambar dibawah ini.
Variabel Independen

Variabel Dependen

Umur
Genetik

Jenis Kelamin
Pola Asupan Garam

HIPERTENSI

Riwayat Keluarga

Riwayat Merokok

Tipe Kepribadian

Gambar 2.3 Kerangka Konsep


Keterangan :
Yang Diteliti
Yang Tidak Diteliti

20
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.

Desain Penelitian
Penelitian ini bersifat analitik dengan desain penelitian cross sectional dimana
dalam desain penelitian ini, variabel independen (umur, jenis kelamin, riwayat
keluarga hipertensi, pola asupan garam) dan variabel dependen (Penderita
Hipertensi) diukur dalam waktu bersamaan dengan cara pendekatan, observasi atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Point Time Approach) artinya, tiap
subyek hanya diobservasi sekali saja dan pengukurannya dilakukan terhadap status
karakter atau variabel subyek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa
semua subyek penelitian diamati pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2002).

B.

Definisi Operasional
Tabel 3.1. Definisi Operasional

No

Variabel

Definisi operasional

Hipertensi Penderita hipertensi adalah


penderita yang didiagnosis
hipertensi oleh dokter yang
bertugas
di
poliklinik
penyakit
dalam
RSUD
Kepahiang,
dan
tercatat
dalam buku register rawat
jalan poli penyakit dalam,
serta bersedia menjadi subjek
dalam penelitian ini.

Umur

Umur
penderita
yang
tercatat pada buku register
rawat jalan poli Penyakit
Dalam RSUD Kepahiang

Alat Ukur
Register
atau Status

Register

19

Hasil Ukur

Skala Ukur

0. Pasien Hipertensi
1. Tidak Hipertensi

Nominal

0. Umur 45 Tahun
(faktor resiko)
1. Umur < 45 thn
(bukan faktor resiko)

Ordinal

21
3

Jenis
Kelamin

Responden yang tercatat


pada buku register rawat
jalan poliklinik penyakit
dalam RSUD Kepahiang

Register

Riwayat
Keluarga

Asupan
Garam

Riwayat keluarga yang


menderita hipertensi yang
diketahui melalui kuesioner
terpimpin. Yang dimaksud
dengan keluarga disini
adalah ayah kandung dan
ibu kandung
yaitu tingkat asupan garam
responden yang didapatkan
dari kuesioner terpimpin dan
wawancara

C.

0. Wanita (faktor
resiko)
1. Pria (bukan faktor
resiko)

Ordinal

Kuesioner,
Register/
Status

0.

Memiliki riwayat
keluarga hipertensi
1. Tidak
Memiliki
riwayat
keluarga
hipertensi

Ordinal

Kuesioner
dan
Wawancara

0. faktor risiko.( 400


mg sodium dalam
4 kali/ minggu)
1. bukan faktor risiko
( 400 mg dalam < 4
kali/minggu)

Ordinal

Populasi dan Sampel Penelitian


1.

Populasi dan Sampel


a.

Populasi
Populasi merupakan keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam
suatu penelitian. ( Alimul, Aziz, 2007). Populasi dalam penelitian ini
adalah

pasien hipertensi yang berobat di poli penyakit dalam RSUD

Kepahiang dengan jumlah 214 orang (Profil RSUD, 2009).


b.

Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang mewakili suatu populasi
(Alimul, 2007). Sampel dalam penelitian ini adalah penderita hipertensi
yang berobat di Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang, pengambilan
sampel dilakukan secara simple random sampling.
Adapun

besar

sampel

(Stanley Lameshow, 1997) :

ditetapkan

dengan

menggunakan

rumus

22
n

N . Z 2 . (1 P )
d 2 . ( N 1) Z 2 . P (1 P )

Keterangan :
n

Perkiraan besar sampel

Perkiraan besar populasi

Nilai standar normal (1,96)


Perkiraan proporsi kejadian hipertensi = 0,5
Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,10)

214 (1,96) 2 . 0,5 (1 0,5)


(0,10) 2 . ( 214 1) (1,95) 2 . 0,5 (1 0,5)

214 (3,8416) . 0,25


(0,01) . ( 213) (3,8416) . 0,25

205,5256
2,13 0,9604

205,5256
3,0904

n = 66,5
Jadi sampel yang digunakan sebanyak 66 penderita hipertensi.
2. Kriteria Sampel
a. Kriteria Inklusi
-

Pasien hipertensi, yang tercatat di buku register rawat jalan poliklinik


Penyakit dalam RSUD Kepahiang dan berobat kembali pada saat
pengumpulan data.

Mempunyai alamat yang lengkap dan tercatat di buku register rawat jalan

23
b. Kriteria Eksklusi
-

Pasien yang menderita penyakit diabetes melitus, penyakit ginjal, dan


kelainan pada korteks adrenal.

D.

Tidak menderita penyakit psikosis.

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah
Kepahiang. Pengumpulan data dimulai pada bulan Maret sampai dengan April
Tahun 2010.

E.

Pengumpulan, Pengolahan dan Analisa Data


a. Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder. Data
primer adalah data yang diperoleh melalui kuesioner dan wawancara kepada
klien yang berobat di Poliklinik penyakit dalam RSUD Kepahiang dan data
sekunder yang diperoleh dari catatan pasien di Rekam Medik RSUD Kepahiang.
b. Metode Pengolahan
1. Pengolahan Data
Data yang terkumpul akan diolah secara manual maupun menggunakan
komputer, adapun pengolahan data dilakukan dengan tahapan;
a.

Pemeriksaan data (Editing), merupakan kegiatan pengecekan


isian angket, apakah jawaban yang ada diangket sudah lengkap, jelas,
relevan dan konsisten.

24
b.

Pemberian Kode (Coding), yaitu pengkodean data menjadi


bentuk kategori, variabel dependen (0= Hipertensi, 1= Tidak
Hipertensi) dan variabel independen (0= Faktor Resiko, 1= Bukan
Faktor Resiko), dengan dilakukannya tahap ini maka proses pengolahan
dan entry data menjadi lebih mudah.

c.

Pemberian Skor (Scoring)


Pemberian nilai skor pada data yang memerlukan scoring.

d.

Memasukkan Data (Entry Data), yaitu data yang telah diedit


dan koding dimasukkan kedalam komputer untuk dilakukan analisis.

e.

Membersihkan Data (Cleaning), yaitu pengecekan data


(variabel data) yang telah dimasukkan kedalam program komputer
sebelum dilakukan analisis lebih lanjut. Tahapan ini dimasukkan untuk
menghindari kesalahan, sehingga hasil analisa data nantinya sesuai data
sebenarnya.

C.

Analisa Data
Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan analisis bivariat.
1. Univariat
Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan variabel dependen dan
independen

untuk

memperoleh

gambaran

karakteristik

sampel

menggunakan tabel distribusi frekuensi. (Dahlan, 2006).


2. Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui Hubungan umur,
jenis kelamin, pola asupan garam dan riwayat keluarga dengan Kejadian
Hipertensi dengan menggunakan analisa statistik Chi-square (X2). Analisa

25
bivariat yang digunakan Odds Ratio (OR) dengan derajat kepercayaan
(CI) 95%, = 0,05.
Chi - square menurut Arikunto, (2002). Menggunakan tabel 2 x 2
dengan rumus;
X2 = {(ad bc) N)2 N)}
(a+c) (a+b) (c+d) (b+d)
Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan ;
1.

Jika P value , Ho ditolak, berarti ada hubungan bermakan


antara variabel dependen dengan independen.

2.

Jika P value > , Ho ditolak, berarti tidak ada hubungan


bermakan antara variabel dependen dengan independen. Untuk
melihat kekeratan hubungan, digunakan Odds Ratio (OR) dengan
rumus;
OR (Odds Ratio) = a x b = ad
bxc

bc

Kekuatan hubungan;
1.

Bila OR kurang dari 1 artinya ada hubungan negatif


(berarti mengurangi resiko kejadian hipertensi).

2.

Bila OR sama dengan 1, artinya tidak ada hubungan atau


hubungan tidak bermakna.

3.

Bila OR lebih dari 1, artinya ada hubungan positif (berarti


memperbesar resiko kejadian Diabetes Mellitus).

26

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Tempat Penelitian
1.

Profil Rumah Sakit


Kabupaten Kepahiang sebagai salah satu dari kabupaten pemekaran dibentuk
berdasarkan UU No. 39 tahun 2003 yang diresmikan oleh Mendagri di Jakarta
pada tanggal 7 Januari 2004. RSUD Kepahiang sebagai bagian dari tatanan
Pemerintah Daerah Kabupaten Kepahiang sangat relevan keberadaannya dengan
kebijakan pembangunan bidang kesehatan, sebagaimana diamanatkan UU No. 23
tahun 1992 yang diarahkan pada upaya promotif dan preventif dengan tidak
mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif serta Undang-Undang Republik
Indonesia No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. RSUD Kepahiang yang
merupakan peningkatan dari puskesmas perawatan merupakan Rumah Sakit
Kelas-D dengan luas tanah Rumah Sakit Umum Daerah Kepahiang lebih kurang
7500 meter persegi. Listrik bersumber pada perusahaan listrik negara ranting
Kepahiang dengan daya 33 KVA. Sedangkan Air bersih menggunakan sumur Bor
4 x 500 liter dengan daya 2000 liter. Sedangkan Luas bangunan terdiri dari luas
lantai 4500 meter persegi meliputi gedung administrasi dan poliklinik, gedung
rawat inap kelas I, kelas, kelas II dan kelas III, gedung perawatan dan persalinan
kelas II, gedung IPSRS, gedung kamar mayat, gedung workshop, gedung apotek
dan kantin, gedung radiology, ruang laboratorium, ruang fisioterapi. (Profil
RSUD KPH, 2010)

27

Sedangkan untuk data jumlah kepegawaian di RSUD Kepahiang dapat dilihat


pada tabel dibawah ini
Tabel 4.1
Sumber Daya Manusia RSUD Kepahiang Berdasarkan
Kualifikasi Pendidikan Tahun 2009
No
1.
2.
3.
4.
5.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18
19
20
21.
22.
23.
24.
25
26

Jenis Ketenagaan
Dokter spesialis dasar
Dokter umum
Dokter spesialis orthodontie
Dokter gigi
S2 Manajemen RS
Apoteker
SAA/SMF
D3 farmasi
SKM
S1 keperawatan
S1 Psikologi
D4 Keperawatan
D3 dan D1 kebidanan
D3 keperawatan / SPK
D3 gizi / SPAG
D3 kesling/D1 Kesling
D3 radiologi
D3 fisioterapi
D3 Refraksi Optic
Tehniker Gigi
Elektromedik
Perawat gigi
Anestesi
Pekarya kesehatan
Analis
Jumlah
Dokter PTT
Tenaga Honorer/TKS
Jumlah Total Pegawai

Jumlah
Tenaga
2
14
1
1
1
1
5
0
12
6
2
0
10
64
2
1
3
2
0
1
1
0
0
1
4
134
85
219

28

2.

Gambaran Rawat Jalan di Poli Penyakit Dalam


Poli Penyakit Dalam merupakan poli rawat jalan yang menangani kasus-kasus
penyakit dalam baik yang berasal dari pasien umum maupun pasien rujukan dari
Puskesmas. Jumlah tenaga yang ada di Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang
yaitu 1 orang dokter Umum dan 2 orang tenaga perawat. Sedangkan untuk dokter
Spesialis hanya kunjungan 2 kali seminggu.

B. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengumpulan data melalui wawancara langsung kepada
Pasien yang berobat ke Poli penyakit dalam sebanyak 66 orang yang kemudian
diolah dengan bantuan komputer dengan analisa data menggunakan uji statistik Chi
Square Test maka disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.
1. Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi
variabel yang diteliti berdasarkan subjek penelitian.
a. Kejadian Hipertensi
Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Hipertensi
Di Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010
Kejadian Hipertensi
Jumlah
Persentase
Hipertensi
43
65,2
Tdk Hipertensi
23
34,8
Jumlah
66
100,0
Sumber : Data Primer, 2010
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa kejadian hipertensi di Rumah Sakit
Umum Daerah Kepahiang cenderung tinggi mencapai 65.2%.

29
b. Umur
Tabel 4.3
Distribusi Responden Berdasarkan Umur
Di Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010
Umur
Jumlah
Persentase
. 45 Tahun
39
59,1
< 45 Tahun
27
40,9
Jumlah
66
100,0
Sumber : Data Primer, 2010
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa umur 45 tahun lebih banyak berobat
dari pada yang kurang dari 45 tahun ke poli penyakit dalam Rumah Sakit
Umum Daerah Kepahiang yang cenderung tinggi mencapai 59,1%.
c. Jenis Kelamin
Tabel 4.4
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Di Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010
Jenis Kelamin
Jumlah
Persentase
Wanita
41
62,1
Pria
25
37,9
Jumlah
66
100,0
Sumber : Data Primer, 2010
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa wanita lebih banyak berobat dari pada
laki-laki ke poli penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah Kepahiang yang
dengan prosentase mencapai 62,1%.

d. Riwayat Keluarga
Tabel 4.5
Distribusi Responden Berdasarkan Riwayat Keluarga

30
Di Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010
Riwayat Keluarga
Jumlah
Persentase
Ada riwayat keluarga
47
71,2
Tdk ada riwayat keluarga
19
28,8
Jumlah
66
100,0
Sumber : Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa cenderung memiliki
riwayat keluarga dengan hipertensi yaitu sebesar 71,2 % sedangkan yang
tidak memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi yaitu sebesar 28,8 %.
e. Asupan Garam
Tabel 4.6
Distribusi Responden Berdasarkan Asupan Garam
Di Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010
Asupan Garam
Jumlah
Persentase
Faktor Resiko
42
63,6
Bukan Faktor Resiko
24
36,4
Jumlah
66
100,0
Sumber : Data Primer, 2010
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa pola asupan garam 400
mg dalam memiliki faktor resiko lebih besar dari yang bukan faktor resiko
yang berobat ke Poli penyakit dalam RSUD Kepahiang yaitu sebesar 63,6 %.

2. Analisis Bivariat
Analisis

bivariat

dilakukan

untuk

mengetahui

hubungan

variabel

independen (Umur, jenis kelamin, riwayat keluarga dan asupan garam) dengan
variabel dependen (Kejadian Hipertensi pasien yang berobat ke RSUD

31
Kepahiang) dengan analisis Chi-Square yang diolah menggunakan sistem
komputerisasi. Dengan hasil sebagai berikut :
a. Hubungan Umur dan Kejadian hipertensi
Tabel 4.7
Hubungan Umur dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien
Yang Berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang
Tahun 2010
HIPERTENSI
HIPERTENSI

Count

TIDAK HIPERTENSI

Count

Total

Count

KAT_UMUR
>= 45 TAHUN < 45 TAHUN
30
13
69,8%
30,2%
9
14
39,1%
60,9%
39
27
59,1%
40,9%

TOTAL
Total
43
100,0%
23
100,0%
66
100,0%

Berdasarkan tabel 4.7. diatas, dari 43 pasien yang menderita hipertensi,


sebagian besar (69,8%) adalah pasien berumur 45 Tahun, sedangkan dari 23
responden yang tidak menderita hipertensi, sebagian besar (60,9%) adalah pasien
dibawah umur 45 tahun. Berdasarkan hasil analisis Chi-Square diperoleh nilai
= 0,016 < 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, artinya ada
hubungan yang bermakna antara umur Dengan Kejadian Hipertensi. Analisis
hubungan 2 variabel menunjukan nilai OR 3,590 (95% CI:1,243-10,367), artinya
pasien yang berumur 45 tahun mempunyai peluang 3 kali untuk menderita
hipertensi dibandingkan dengan pasien yang berumur < 45 tahun.
b. Hubungan Jenis Kelamin dan Kejadian hipertensi
Tabel 4.8
Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien
Yang Berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang
Tahun 2010
HIPERTENSI

KAT_JK

TOTAL

32
WANITA
HIPERTENSI

Count

TIDAK HIPERTENSI

Count

Total

Count

31
72,1%
10
43,5%
41
62,1%

PRIA

Total

12
27,9%
13
56,5%
25
37,9%

43
100,0%
23
100,0%
66
100,0%

Berdasarkan tabel 4.8. ditemukan dari 43 pasien yang menderita hipertensi,


sebagian besar (72,1%) adalah pasien wanita, sedangkan dari 23 responden yang
tidak menderita hipertensi, sebagian (56,5%) adalah pasien pria. Berdasarkan
hasil analisis Chi-Square diperoleh nilai = 0,022 < 0.05, artinya ada hubungan
yang bermakna antara jenis kelamin

Dengan Kejadian Hipertensi, sehingga

dapat disimpulkan bahwa Ha diterima. hubungan 2 variabel menunjukan nilai


OR 3,358 (95% CI:1,163-9,694), artinya pasien dengan jenis kelamin wanita
mempunyai peluang 3 kali untuk menderita hipertensi dibandingkan dengan pria.

c. Hubungan Riwayat Keluarga dan Kejadian hipertensi


Tabel 4.9
Hubungan Riwayat Keluarga dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien
Yang Berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang
Tahun 2010
HIPERTENSI

KAT_RK

TOTAL

33

HIPERTENSI

Count

TIDAK HIPERTENSI

Count

Total

Count

ADA
TIDAK ADA
RIWAYAT
RIWAYAT
KELUARGA KELUARGA
36
7
83,7%
16,3%
11
12
47,8%
52,2%
47
19
71,2%
28,8%

Total
43
100,0%
23
100,0%
66
100,0%

Dari tabel 4.9 ditemukan dari 43 pasien yang menderita hipertensi,


sebagian besar (83,7%) memiliki riwayat keluarga yang menderita hipertensi,
sedangkan dari 23 responden yang tidak menderita hipertensi, sebagian (52,2%)
tidak memiliki Riwayat keluarga dengan hipertensi. Berdasarkan hasil analisis
Chi-Square diperoleh nilai = 0,002 < 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa
Ha diterima, artinya ada hubungan yang bermakna antara riwayat keluarga
dengan Kejadian Hipertensi.
Analisis hubungan 2 variabel menunjukan nilai OR 5,610 (95% CI:1,77517,737), artinya pasien yang memiliki riwayat keluarga yang menderita
hipertensi mempunyai peluang 5 kali untuk menderita hipertensi dibandingkan
dengan pasien yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi.

d. Hubungan Asupan Garam dan Kejadian hipertensi


Tabel 4.10
Hubungan Asupan Garam dengan Kejadian Hipertensi pada Pasien
Yang Berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang
Tahun 2010
HIPERTENSI

ASUPAN_GARAM

TOTAL

34
FAKTOR
RESIKO
HIPERTENSI

Count

TIDAK HIPERTENSI

Count

Total

Count

BUKAN
FAKTOR
RESIKO

35
81,4%
7
30,4%
42
63,6%

8
18,6%
16
69,6%
24
36,4%

Total
43
100,0%
23
100,0%
66
100,0%

FAKTOR RESIKO ( 400 mg sodium dalam 4 kali/ minggu)


( 400 mg dalam < 4 kali/minggu

Dari tabel 4.10 ditemukan dari 43 pasien yang menderita hipertensi,


sebagian besar (81,4%) memiliki pola asupan garam 400 mg sodium dalam
4 kali/ minggu, sedangkan dari 23 responden yang tidak menderita hipertensi,
sebagian besar (69,6%) tidak memiliki pola asupan garam < 400 mg sodium
dalam < 4 kali/minggu . Dari hasil analisis Chi-Square diperoleh nilai = 0,000 <
0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha diterima, artinya ada hubungan yang
bermakna antara pola asupan garam dengan Kejadian Hipertensi.
Analisis hubungan 2 variabel menunjukan nilai OR 10,000 (95% CI:3,09132,356), artinya pasien yang memiliki pola asupan garam 400 mg sodium
dalam 4 kali/ minggu yang menderita hipertensi mempunyai peluang 10 kali
untuk menderita hipertensi dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki pola
asupan garam < 400 mg sodium dalam < 4 kali/minggu.

C. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengumpulan, pengolahan dan penyajian data penelitian
sebelumnya di atas maka dapat dibahas sebagai berikut.

35
1. Gambaran Hubungan Umur dan Kejadian Hipertensi pada Pasien Poli
Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010
Berdasarkan analisis univariat, didapatkan usia penderita hipertensi lebih banyak
pada 45 tahun, selanjutnya hasil ini dianalisis dengan uji chi-square dengan
nilai (p=0,016), didapatkan hasil terdapat hubungan yang bermakna secara
statistik antara usia dengan kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di
poliklinik Penyakit dalam RSUD Kepahiang. Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian Oktora (2007), didapatkan bahwa lebih dari separuh penderita
hipertensi berusia diatas 45 tahun yaitu sebesar 55,55% dan juga sesuai dengan
hasil penelitian Darmojo (2005) yang menyatakan bahwa prevalensi hipertensi
akan meningkat dengan nyata sesudah umur 45 tahun. Hal ini sesuai dengan teori
yang menyatakan bahwa setelah umur 45 tahun, dinding arteri akan mengalami
penebalan karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot sehingga
pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku (Kumar,
2005)

2. Gambaran Hubungan Jenis Kelamin dan Kejadian Hipertensi pada Pasien


Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010
Dari Data Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Poli Penyakit
Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010 penderita hipertensi lebih banyak pada

36
wanita. Yang kemudian dianalisis dengan uji chi-square dan didapatkan nilai
p=0,022, yang berarti terdapat hubungan yang bermakna secara statisik antara
jenis kelamin dengan kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di poliklinik
Penyakit Dalam RSUD Kepahiang.
Pada penelitian Rayhani (2005) didapatkan wanita lebih banyak menderita
hipertensi dibandingkan dengan pria yaitu 51% banding 49% dan hasil penelitian
Oktora (2007) juga didapatkan wanita lebih banyak menderita hipertensi
dibandingkan dengan pria yaitu 58% banding 42%. Dari beberapa literature
didapatkan berbagai pendapat mengenai hubungan antara jenis kelamin dengan
kejadian hipertensi. Menurut Cortas.K, prevalensi terjadinya hipertensi pada pria
sama dengan wanita. Namun wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler
sebelum menopause. Wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh
hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar HDL. Kadar
kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah
terjadinya proses aterosklerosis. Sedangkan menurut Julianty P (2001)
didapatkan responden wanita mempunyai risiko 1,53 kali terkena hipertensi
dibandingkan dengan pria.(Kumar, 2005)

3. Gambaran Hubungan Riwayat Keluarga dan Kejadian Hipertensi pada


Pasien Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010
Analisis univariat didapatkan hasil bahwa lebih dari setengah penderita hipertensi
memiliki riwayat keluarga hipertensi. Dari uji Chi-square nilai p=,0,002 yang berarti
bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara riwayat keluarga

37
hipertensi dengan kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di poliklinik
Penyakit Dalam RSUD Kepahiang.
Hal ini sesuai dengan penelitian Sidabutar (1998) yang mengatakan adanya
hubungan riwayat keluarga positif hipertensi untuk terjadinya hipertensi esensial dan
juga sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pada 70-80% kasus hipertensi,
didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga. Apabila riwayat hipertensi
didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan hipertensi akan lebih besar. (Kumar,
2005)

4. Gambaran Hubungan Asupan Garam dan Kejadian Hipertensi pada Pasien


Poli Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010.
Berdasarkan Distribusi Responden Berdasarkan pola asupan garam Di Poli

Penyakit Dalam RSUD Kepahiang Tahun 2010 pola asupan garam 400 mg
sodium dalam 4 kali/ minggu pada pasien hipertensi banyak dijumpai pada
penderita hipertensi.
Kemudian dianalisis dengan Chi-square dengan nilai p=0,000, yang berarti bahwa
terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara pola asupan garam dengan
kejadian hipertensi pada pasien yang berobat di poliklinik penyakit dalam RSUD
Kepahiang.

Hasil ini penelitian ini sesuai dengan teori bahwa asupan garam

(natrium klorida) dapat meningkatkan tekanan darah. Beberapa penelitian


menunjukkan bahwa rata-rata penurunan asupan natrium 1,8 gram/hari dapat
menurunkan takanan darah sistolik 4 mmHg dan diastolik 2 mmHg pada penderita
hipertensi. Respons perubahan asupan garam terhadap tekanan darah bervariasi
diantara individu. (Kumar, 2005). Hal ini dapat diartikan untuk mengurangi kejadian
hipertensi dapat dilakukan melalui diet rendah garam.

38

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.

KESIMPULAN

39
Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian hipertensi pada penderita yang berobat di poliklinik Penyakit Dalam RSUD
Kepahiang tahun 2010, maka Peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Distribusi frekuensi menunjukkan bahwa kejadian Hipertensi di Poliklinik
Penyakit Dalam RSUD Kepahiang cenderung tinggi mencapai 65,2%.
2.

Lebih dari setengah penderita hipertensi berusia 45 tahun


(69,8%).

3.

Lebih dari setengah penderita hipertensi berjenis kelamin wanita


(62,1%).

4.

Sebagian besar penderita hipertensi memiliki riwayat keluarga


hipertensi (71,2%),

5.

Sebagian besar penderita hipertensi memiliki pola asupan garam


yang tinggi (63,6%),

6.

Terdapatnya hubungan yang bermakna antara usia dengan


penderita hipertensi yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD
Kepahiang

7.

Terdapatnya hubungan yang bermakna antara jenis kelamin


dengan penderita hipertensi yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD
Kepahiang.

8.

Terdapatnya hubungan yang bermakna antara riwayat keluarga


hipertensi dengan penderita hipertensi yang berobat di Poliklinik Penyakit Dalam
RSUD Kepahiang.

40
9.

Terdapatnya hubungan yang bermakna antara pola asupan


garam dengan penderita hipertensi yang berobat di poliklinik dewasa Puskesmas
Bangkinang.

B.

SARAN
a. RSUD Kepahiang
Perlunya

peningkatan

peran

serta

program

promosi

kesehatan

untuk

meningkatkan pengetahuan penderita hipertensi tentang penyakit hipertensi agar


penderita hipertensi dapat mengatur pola hidupnya yang sesuai dengan pola
hidup sehat. Perlu ditingkatkannya juga peranan poli gizi dalam memberikan
konseling mengenai pola diet pada penderita hipertensi.
b. Penderita Hipertensi
Perlunya pemeriksaan tekanan darah, pengobatan secara rutin, dan menjalani
pola hidup yang sehat, seperti menghindari pola asupan garam yang tinggi,
menghentikan kebiasaan merokok, serta menghindari stress untuk mencegah
timbulnya komplikasi lebih lanjut.
c. Masyarakat Kepahiang
Perlunya pencegahan terjadinya penyakit hipertensi sedini mungkin terutama
pada masyarakat yang memiliki faktor risiko untuk terjadinya penyakit hipertensi
melalui salah satunya perbaikan pola hidup dengan menghindari pola asupan
garam yang tinggi serta kebiasaan-kebiasaan lain yang menyimpang dari pola
hidup sehat.

41

DAFTAR PUSTAKA

Armilawaty, Amalia H, Amirudin R.;2007.Hipertensi dan Faktor Risikonya dalam


Kajian Epidemiologi. FKM UNHAS.
Anonim.; 2009. Hipertensi.Primer.http://www.scribd.com. [Diakses pada tanggal 28
Desember 2009].
A. Ridjab Denio.; 2007. Modifikasi Gaya Hidup dan Tekanan Darah. Majalah
Kedokteran Indonesia.
Cardiology Channel. Hypertension (High Blood Pressure);
Cardiologychannel.com [diakses tanggal 13 Desember 2009].

http://www.

Cortas K, et all. Hypertension. Last update May 11 desember


http//:www.emedicine.com. [Diakses pada tangal 11 Desember 2009].

2009.

Dahlan S.; 2006. Statistika untuk kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: ; PT. Arkans.
Departemen Perindustrian dan Perdagangan Retensi Kandungan
http://www.gizi.net. [diakses pada tanggal 02 Januari 2010].

Iodium:;

2002.

Hoeymans N, Smit HA, Verkleij H, Kromhout D. ;1999. Cardiovascular Risk Factors.


Netherlands:; Eur Heart.
Kumar V, Abbas AK, Fausto N.; 2005. Hypertensive Vascular Disease. Philadelpia:;
Elsevier Saunders.
Nasution Roseffi Salli:; 2005. Gambaran Metabolik Glukosa, lipid, dan insulin pada
keturunan hipertensi essensial yang normotensi. Fakultas Kedokteran Sumatra
Utara.
Pratisto Arif . ; 2009. Statistik Menjadi Mudah dengan SPSS 17. Jakarta:; PT Elex
Media Komputindo
Profil Rumah Sakit Umum Daerah Kepahiang Tahun 2006, Tahun 2007, Tahun 2008,
Tahun 2009.

42
Ramita Vina:; 2008. Penderita Hipertensi Harus Disiplin.http://inilah.com. [Diakses
pada tangal 01 Januari 2010]
Ridjab DA.; 2005. Pengaruh Aktifitas Fisik Terhadap Tekanan Darah. Majalah
Kedokteran Atmajaya.
Sugiyono. ; 2000. Statistik Untuk Penelitian. Bandung ; CV Alfabeta.
Soesanto, A. M, Soenarto, A. A, Joesoef, A. H, Rachman, G. S. ;2001. Reaktivitas
Kardiovaskuler Individu Normotensi Dari Orang Tua Hipertensi Primer. Jurnal
Kardiologi Indonesia.
Sastroasmoro S, Ismael S.; 2002. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta:;
CV. Agung Seto.
Shapo L, dkk. ; 2003. Epidemiology of Hypertension and Associated Cardiovascular
Risk Factors in a Country in Transition. Albania:; Journal Epidemiology
Community Health.
Sianturi G. Cegah Hipertensi dengan Pola Makan. Last update 27 Februari 2003.
www.gizi.net. [Diakses pada tanggal 13 Desember 2009].
Sugiharto Aris dkk:; 2006, Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II Pada Masyarakat
(Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar).
Yunis Tri, dkk. ; 2003. Blood Presure Survey Indonesia Norvask Epidemiology Study.
Medika.
Yogiantoro, M. ; 2006. Hipertensi Esensial dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jakarta: ; FK UI.
Wade, A Hwheir, D N Cameron, A. ; 2003. Using a Problem Detection Study (PDS) to
Identify and Compare Health Care Privider and Consumer Views of
Antihypertensive therapy. Journal of Human Hypertension.
Waspadji S dkk.; 2004. Daftar Bahan Makanan Penukar. Jakarta;; Divisi Metabolik
Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam dan Instalasi Ilmu Gizi RS Cipto
Mangunkusuno.
Widayanto
D.
Apa
Manfaat
Garam
Sebagai
Bahan
Pengawat.
http://id.answers.yahoo.com. [Diakses pada tanggal 13 Desember 2009].