Anda di halaman 1dari 10

TINEA UNGUIUM

PENDAHULUAN
Tinea unguium adalah kelainan kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofita.
Infeksi pada kuku dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan yeast. Infeksi jamur
adalah yang paling sering terjadi pada kuku. Infeksi pada kuku yang disebabkan oleh
jamur dermatofita, yeasts atau moulds disebut juga onikomikosis. Tinea unguium adalah
onikomikosis yang disebabkan oleh jamur dermatofita. Walaupun kelainan tersebut
biasanya mudah didiagnosis tetapi dapat juga sulit dibedakan dengan psoriasis kuku dan
kondisi ini mungkin saja terjadi bersamaan.
Dermatofita adalah jamur yang mudah menyerang kulit, rambut, dan kuku dengan
enzim keratolitik. Prevalensi onikomikosis 10-40% dari populasi, meningkat dengan
pertambahan usia. Faktor predisposisinya adalah riwayat keluarga dengan onikomikosis,
diabetes melitus, immunosupresi dan trauma pada kuku. Faktor eksaserbasinya adalah
keringat, alas kaki yang tidak tepat, dan kaki yang basah.
Tinea unguium, kadang-kadang muncul sebagai akibat tinea pedis, dengan
karakteristik onikolisis dan penebalan, perubahan warna (putih, kuning, coklat, dam
hitam), rapuh, dan kuku kekurangan nutrisi. Walaupun inflamasi jarang terjadi, beberapa
pasien merasakan nyeri. Tinea unguium pada kuku kaki dapat menyebabkan nyeri dan
sebagai predisposisi infeksi sekunder bakteri dan ulserasi pada dasar kuku. Komplikasi
ini banyak terjadi pada individu dengan immunocompromised dan diabetes.
Onikomikosis adalah 20% dari seluruh kelainan pada kuku. Dengan frekuensi
etiologi tersering adalah tinea unguium (80-90%) yang disebabkan oleh Trichophyton
rubrum dan Trychophyton mentagrophytes var.interdigitable.

BAB II
PENDAHULUAN ANATOMI
Kuku merupakan salah satu dermal appendages yang mengandung lapisan tanduk
yang terdapat pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, gunanya selain membantu jari-jari
untuk memegang juga digunakan sebagai cermin kecantikan. Lempeng kuku terbentuk
dari sel-sel keratin yang mempunyai dua sisi berhubungan dengan udara luar dan sisi
lainnya tidak.

Gambar 1. Anatomi kuku


(dikutip dari kepustakaan 4)

Bagian Kuku
1

Matriks kuku
merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru

Kutikel (cuticle)

Merupakan penghubung dua permukaan epitel dari lipatan kulit proximal.


Melindungi struktur dasar kuku (matrix germinatif) dari iritasi, alergi, bakteri/jamur
patogen.
3

Lipatan kuku lateral


Menutupi sisi lateral lempeng kuku

Lunula
Dasar dari lipatan proximal. Merupakan bagian lempeng kuku yang berwarna putih
di dekat akar kuku berbentuk bulan sabit,sering tertutup oleh kulit.

Dasar kuku (nail bed)


Terdiri dari bagian epidermal dan mendasari dermis yang berhubungan dengan
periosteum dari distal phalanx. Normal berwarna merah muda karena vaskularisasi
yang nampak melaui lempeng kuku yang translusen.

Hiponikium
Ruang di bawah kuku yang bebas, memisahkan lempeng kuku dan dasar kuku pada
ujung distal.

Lempeng kuku (nail plate)


Sebagai proteksi yang keras. Statis dan dengan kuat menempel pada dasar kuku.
Dikelilingi tiga sisi lipatan kuku. Terbentuk dari tiga lapiasn horisontal: lamina dorsal
tipis, lamina intermedit tebal, lapisan ventral dari dasar kuku. Kerasnya lempeng
kuku karena high sulfur matrix protein.

Sisi bebas

ETIOPATOGENESIS

Antara 95-97% penyebab tinea unguium adalah T. rubrum dan T. mentagrophytes.


Sebagian kecil oleh : Epidermophyton floccosum, T. violaceum, T. schoenleinii, T.
verrucosum (biasanya pada kuku jari).
Tinea unguium yang disebabkan oleh T.rubrum biasanya diawali pada sisi distal
kuku dan meliputi lempeng kuku hingga dasarnya. Perubahan warna kekuningan yang
menyebar sampai lapisan kuku. Setelah itu, hiperkeratosis subungual menjadi prominent
dan menyebar hingga ke dalam kuku. Secara berangsur-angsur kuku menjadi rapuh dan
terpisah dari dasarnya menyebabkan pengumpulan keratin subungual. Kuku tangan dan
kaki memberikan penampakan yang hampir sama, dan pada kulit telapak kaki
mengelupas dan kemerahan.

Gambar 2. Onikomikosis. Di bawah kuku tampak subungual keratosis


(dikutip dari kepustakaan 10)

Onikomikosis yang disebabkan oleh T.mentagrophytes biasanya superfisial dan tidak


ada inflamasi paronikia. Infeksi khususnya dimulai dengan scaling di bawah kutikel dan
sebagian melekat di bawah kuku. Onikomikosis superfisial putih adalah infeksi kuku
superfisial yang disebabkan jamur yang kecil dan tampak titik putih seperti kapur. Letak
sangat superfisial dan mudah hilang.

GEJALA KLINIS

Keluhan utama berupa kerusakan kuku. Kuku menjadi suram, lapuk dan rapuh,
dapat dimulai dari arah distal (perimarginal) atau proksimal. Bagian yang bebas tampak
menebal. Terdapat 3 tipe tinea unguium :
1 Onikomikosis Subungual Distal/Lateral
Bentuk yang paling sering. Jamur penetrasi pada hiponikium dan proses ini menjalar
ke proksimal menyerang bagian ventral lempeng kuku dan mengakibatkan
onycholysis dan rapuh. Kuku dapat dapat berubah warna dan tampak putih hingga
coklat.

Gambar 1. Onikomikosis pada jari kaki: onikomikosis subungual distal/lateral


(dikutip dari kepustakaan 4)

Gambar 2. Onikomikosis pada jari kaki: onikomikosis tipe subungual distal/lateral


Hiperkeratosis subungual distal dan onikolisis hingga dasar kuku pada ibu jari kaki
(dikutip dari kepustakaan 4)

Onikomikosis superficial putih (leukonikia trikofita)


Kelainan dimulai dari bercak putih berbatas tegas pada lempeng kuku selanjutnya
kuku menjadi kasar dan rapuh. Lebih sering pada kuku jari kaki. T.mentagrophytes
adalah penyebabnya.

Gambar 3. onikomikosis superficial putih (leukonikia trikofita). Lempeng kuku dorsal tampak
berkapur (dikutip dari kepustakaan 4)

Onikomikosis subungual proksimal


Bentuk ini mulai dari pangkal kuku bagian proksimal dan membentuk gambaran
klinis yang khas, yaitu terlihat kuku di bagian distal masih utuh, sedangkan bagian
proksimal rusak. Disebabkan oleh T.rubrum dan T.megninii dan mungkin indikasi
infeksi HIV.

Gambar 4. onikomikosis subungual proksimal.


Lempeng kuku bagian proksimal tampak berkapur
(dikutip dari kepustakaan 4)

DIAGNOSIS
Onikomikosis (tinea unguium) dapat didiagnosis dari gejala yang tampak.
Bagaimanapun, kondisi lain dan infeksi pada kuku dapat nampak seperti onikomikosis.
Onikomikosis memerlukan pemeriksaan laboratorium sebelum memulai terapi, karena
waktu terapi yang lama, mahal, dan dosis memiliki resiko.
Metode sederhana dan cepat dapat menggunakan preparat Potassium Hydroxide
(KOH). Dapat juga dengan pemeriksaan histologi lempeng kuku atau dasar kuku dengan
metode Periodic Acid-Schiff (PAS), atau kultur kuku adalah gold standar.

Gambar 5. Kultur untuk identifikasi jamur


(dikutip dari kepustakaan2)

DIAGNOSIS BANDING
1) Kuku Psorias
Gejala berupa adanya pits, terowongan, dan cekungan yang transversal (Beaus line)
leukonikia dengan permukaan yang kasar atau licin. Pada dasar kuku terdapat perdarahan
dan berwarna merah. Hiponikia berwarna hija kekuningan pada daerah onikolisis.
Karena adanya keratosis subungual zat tanduk di bawah lempeng kuku dapat menjadi
medium untuk pertumbuhan bakteri atau jamur.
2) Paronikia
Adanya penebalan pada lempeng kuku. Tebal kuku jari tangan yang normal adalah 0,5
mm dan kuku jari kaki dua kali lebih tebal. Penebalan kuku terjadi karena adanya
hiperkeratosis dari dasar kuku atau karena perubahan matriks kuku.

PENGOBATAN
Penggunaaa obat terapi onikomikosis tidak terlalu efektif. Onikomikois sulit di
tangani karena kuku tumbuh sanagt lambat dan menerima sedikit aliran darah. Pasien

dengan diabetes atau neuropati perifer mempunyai resiko komplikasi yang berhubungan
dengan onikomikosis.
Ada beberapa obat antifungal oral yang dapat digunalan. Dahulu, griseofulvin dan
ketokonazole (nizoral) digunakan tetapi keduanya memiliki batasan. Griseofulvin adalah
fungistatik dan membutuhkan dosis yang tinggi selama 1 tahun atau lebih untuk kuku
kaki. Ketokonazole dibatasi penggunaannya karena hepatotoksik. Tiga obat baru dapat
menjadi suplemen bagi obat lama. Terbinafine yang merupakan allylamine dan diberikan
250mg per hari selama 12 minggu untuk kuku kaki dan 6 minggu untuk kuku tangan.
Itraconazole dapat diberikan setiap hari 100mg 2 kali sehari selama 12 minggu atau dosis
200mg 2 kali sehari untuk 1 minggu tiap bulan dalam waktu 3 bulan. Fluconazole adalah
triazole untuk yeast dan dermatofita. Diberikan dengan dosis 200mg satu kali seminggu
hingga kuku menjadi normal, pada kuku kaki diberikan 12 bulan dan kuku tangan 9
bulan. Fluzonazole tidak di setujui oleh FDA(the Food and Drug Administration)
sebagai onikomikosis.
Terapi topikal untuk onikomikosis bersifat progresif. Obat antifungal topikal yang
disetujui oleh FDA untuk pengobatan onikomikosis yaitu cyclopirox dan ada beberapa
jenis antifungal topikal yang lain yang digunakan untuk terapi onikomikosis(2).

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA
1.

Haneke,Eckart. Histopathology of Common Nail Conditions in Robert Baran, eds -A


Text Atlas of Nail Disorders Tecniques in Investigation and Diagnosis. United
Kingdom:-Martin Dunitz.2003. p268-270

2.

Rich,Phoebe. Infection causes of nail disorders in An Atlas of Disease of The Nail. New
York, Washington DC:-Parthenon Publishing.2005. p61-9

3.

Tullio,V dkk. Journal of Medical Microbiology. Tinea pedis and tinea unguim in a 7
years

old

child.

2007,

March,

26.

P1122-1123.

Available

from

URL:

http://jmm.sgmjournals.org/content/56/8/1122.full
4.

Jonhson, Wolf. Disorders of the Nails Apparatus in Fitzpatrick Color Atlas & Synopsis
of Clinical Dermatology.

5.

Perea,Sofia dkk. Journal of Clinical Mikrobiologi. Prevalence and Risk Factors of


Tinea Unguim and Tinea Pedis in the General Population in Spain. 2000, Sept. P32263230. Available from URL: http://jcm.asm.org

6.

Habif, Thomas P. Nail Disease in Clinical Dermatology: A Color Guide to Diagnosis


and Therapy 4th edition.USA.Mosby.2003.p874-879

7.

Ratz,

John.

Onycomhycosis.

2011.

Available

from

URL:

http://www.emedicinehealth.com
8

James, William dkk. Disease resulting from fungi and yeast in Andrews Disease of the
Skin: Clinical Dermatology. Pensylvania.2006. Saunders Elsevier.2006.p305-306

9.

Djuanda, Adi. Mikosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima.
Jakarta.2007. Balai Penerbit FKUI

10.

Siregar,R.S. Tinea Unguium dalam Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit edisi
2.Jakarta.2005.EGC