Anda di halaman 1dari 7

1.

Peredam Energi
Bila sebuah konstruksi bendung dibangun pada aliran sungai baik pada palung
maupun pada sodetan, maka pada sebelah hilir bendung akan terjadi loncatan air.
Kecepatan pada daerah itu masih tinggi, hal ini akan menimbulkan gerusan setempat
(local scauring). Untuk meredam kecepatan yang tinggi itu, dibuat suatu konstruksi
peredam energi. Bentuk hidrolisnya adalah merupakan suatu bentuk pertemuan antara
penampang miring, penampang lengkung, dan penampang lurus. Secara garis besar
konstruksi peredam energi dibagi menjadi 4 (empat) tipe, yaitu
Ruang Olak Tipe Vlughter
Ruang olak ini dipakai pada tanah aluvial dengan aliran sungai tidak
membawa batuan besar. Bentuk hidrolis kolam ini akan dipengaruhi oleh tinggi
energi di hulu di atas mercu dan perbedaan energi di hulu dengan muka air banjir
hilir.
Ruang Olak Tipe Schoklitsch
Peredam tipe ini mempunyai bentuk hidrolis yang sama sifatnya dengan
peredam energi tipe Vlughter. Berdasarkan percobaan, bentuk hidrolis kolam
peredam energi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu tinggi energi di atas
mercu dan perbedaan tinggi energi di hulu dengan muka air banjir di hilir.
Ruang Olak Tipe Bucket
Kolam peredam energi ini terdiri dari tiga tipe, yaitu solid bucket, slotted
rooler bucket atau dentated roller bucket, dan sky jump. Ketiga tipe ini
mempunyai bentuk hampir sama dengan tipe Vlughter, namun perbedaanya
sedikit pada ujung ruang olakan. Umumnya peredam ini digunakan bilamana
sungai membawa batuan sebesar kelapa (boulder). Untuk menghindarkan
kerusakan lantai belakang maka dibuat lantai yang melengkung sehingga
bilamana ada batuan yang terbawa akan melanting ke arah hilirnya.
Ruang Olak Tipe USBR
Tipe ini biasanya dipakai untuk head drop yang lebih tinggi dari 10 meter.
Ruang olakan ini memiliki berbagai variasi dan yang terpenting ada empat tipe
yang dibedakan oleh rezim hidraulik aliran dan konstruksinya. Tipe-tipe tersebut,
yaitu ruang olakan tipe USBR I merupakan ruang olakan datar dimana peredaman
terjadi akibat benturan langsung dari aliran dengan permukaan dasar kolam,
ruang olakan tipe USBR II merupakan ruang olakan yang memiliki blok-blok
saluran tajam (gigi pemencar) di ujung hulu dan di dekat ujung hilir (end sill) dan
tipe ini cocok untuk aliran dengan tekanan hidrostatis lebih besar dari 60 m, ruang
olakan tipe USBR III merupakan ruang olakan yang memiliki gigi pemencar di
ujung hulu, pada dasar ruang olak dibuat gigi penghadang aliran, di ujung hilir
dibuat perata aliran, dan tipe ini cocok untuk mengalirkan air dengan tekanan
hidrostatis rendah, dan ruang olakan tipe USBR VI merupakan ruang olakan yang
dipasang gigi pemencar di ujung hulu, di ujung hilir dibuat perata aliran, cocok
untuk mengalirkan air dengan tekanan hidrostatis rendah, dan Bilangan Froud
antara 2,5 - 4,5.

Ruang Olak Tipe The SAF Stilling Basin (SAF = Saint Anthony Falls)

Ruang olakan tipe ini memiliki bentuk trapesium yang berbeda dengan
bentuk ruang olakan lain dimana ruang olakan lain berbentuk melebar. Bentuk
hidrolis tipe ini mensyaratkan Fr (Bilangan Froude) berkisar antara 1,7 sampai
dengan 17. Pada pembuatan kolam ini dapat diperhatikan bahwa panjang kolam
dan tinggi loncatan dapat di reduksi sekitar 80% dari seluruh perlengkapan.
Kolam ini akan lebih pendek dan lebih ekonomis akan tetapi mempunyai
beberapa kelemahan, yaitu faktor keselamatan rendah (Open Channel Hidraulics,
V.T.Chow : 417-420)
Contoh perencanaan peredam energi :
Karena banjir diperkirakan akan mengangkut/menghanyutkan batu-batu bongkah
(couble), maka peredam energi (energy dissipator) direncanakan tipe bak (bucket
type).
Data-data untuk perhitungan :
Debit persatuan lebar q = (Q/B) = 800 / 62.4 = 12.80 m3/dt/m

hc 3

q2
g

Kedalaman kritis

3
=

12.8 2
9.81
= 2.55 m

Tinggi energi di hulu = elevasi puncak pelimpah + H1 = 16.70 + 3.4 = +20.10


Muka air di hilir pelimpah = +16.45 (Didapat dari perhitungan kapacitas sungai pada
saat Q100).
Tinggi kecepatan di hilir (v2/2g) = 0.1 m (asumsi)
Ttinggi energi di hilir = muka air di hilir pelimpah + tinggi kecepatan
= +16.45 + 0.1 = +16.55
Sehingga didapat :
H = Tinggi energi di hulu pelimpah Tinggi energi di hilir pelimpah
= +20.10 16.55
= 3.55 m
Menentukan jari-jari bucket :
Untuk H/hc = 3.55 / 2.55 = 1.38, maka dari gambar 3.22 didapat
Rmin / hc = 1.55, sehingga Rmin = 1.55 x hc = 1.55 x 2.55 = 3.95 m,
R direncanakan 4.5 m

Menentukan Batas muka air hilir minimum (Tmin) :


Untuk H/hc = 3.55 / 2.55 = 1.38, maka dari gambar 3.23 didapat :
Tmin / hc = 2, sehingga Tmin = 2 x hc = 2 x 2.55 = 5.10 m,
T direncanakan 5.5 m
Contoh Perhitungan Dimensi Peredam Energi

Pemilihan tipe peredam energi


Sungai di daerah ini mengandung tanah yang sedikit berpasir sebagai
angkutan sedimen, maka bangunan peredam energi yang dipilih yaitu
lantai datar dengan ambang akhir berkotak-kotak atau Tipe MDO.

Desain dimensi peredam energi


-

Kedalaman air di hilir: D2 = Y


3/2

Q = C * L* Y
3

Q = 3600 m /dt
C = 2,10 (diperkirakan)
L = bentang sungai rata-rata di hilir = 70 m
Y = (Q/ C * L)

2/3

= (3600 / 2,10 * 70)

2/3

= 8,40 m
-

Kecepatan awal loncat air (v1)


1

v1 = [2g ( /2 Ha + P)]

1/2

2 1

= [2 * 9,81 m/dt ( /2 6,0 m + 4,2 m)]

= 11,885 m/dt
-

Debit desain persatuan lebar (q)


q = Q / Be
= 3600 / 61
3

= 60 m /dt/m
-

Perbedaan tinggi muka air di udik dan hilir (z) V1


= (2g*z)

13,065 = (2 * 9,81*z)
13,065 = 4,43 z
z

= 13,065 / 4,43 z

= 8,7025 m
-

Parameter energi (E) E


3

= q / (gz )
3

= 60 / (9,81 * 8,7025 )
= 0,7462
-

Panjang lantai dan kedalaman lantai peredam energi E


= 0,7462

L/D2 = 1,70 (Grafik MDO) L =

1,70 * 8,40 = 14,00 m


E = 0,7462

D/D2 = 1,13 (Grafik MDO) D

= 1,13 * 8,40 = 9,50 m

Gambar 3. Grafik MDO - Direktorat Penyelidikan Masalah Air

Tinggi ambang akhir


a = 0,3 D2

= 0,3 * 8,40 = 2,52 m

Lebar ambang akhir


b =2a

= 2 * 2,52 = 5,04 m

Gambar 1. Bentuk dan Ukuran Peredam Energi Bendung

2. Bangunan Pembilas
Bangunan pembilas adalah salah satu perlengkapan pokok bendung yang terletak
di dekat dan menjadi satu kesatuan dengan intake. Berfungsi untuk menghindarkan
angkutan muatan sedimen dasar dan mengurangi angkutan muatan sedimen layang masuk
ke Pengambilan. Bangunan pembilas dirancang pada bendung yang dibangun di sungai
dengan volume angkutan muatan sedimen dasar relatif besar, yang dikhawatirkan
mengganggu pengaliran ke Pengambilan. Tinggi tekan yang cukup diperlukan untuk
efektivitas pembilasan sehingga penentuan elevasi mercu bendung perlu
mempertimbangkan hal ini. Selain itu perlu pula diusahakan pengaliran dengan sifat
aliran sempurna melalui atas pintu bilas.
Juga harus mempertimbangkan tidak akan mengakibatkan penggerusan setempat
hilir bangunan yang akan membahayakan bangunan. Bangunan pembilas dibedakan
menjadi:
1. Bangunan pembilas konvensional terdiri satu dan dua lubang pintu, umumnya
dibangun pada bendung-bendung kecil dengan batang sekitar 20 m.
2. Bangunan pembilas dengan undersluice ditempatkan pada bentang di bagian sisi yang
arahnya tegak lurus sumbu bending.
3. Bangunan pembilas shunt undersluice digunakan pada bendung di sungai ruas hulu,
untuk menghindarkan benturan batu dan benda padat lainnya terhadap bangunan.
Guna mencapai pembilasan yang sempurna maka akhir bangunan pembilas yang
masuk di sungai disarankan mempunyai beda tinggi yang cukup. Bila terlalu curam
(dalam) disarankan dilengkapi dengan bangunan terjun dalam kolam olak serta got miring
sepanjang saluran. Kecepatan dalam saluran pembilas berkisar 1 1.5 m/dt dan besarnya

debit pembilas adalah : Qs = 1,2 Qn (Qn = debit rata-rata yang lewat kantong lumpur
(m3/dt). Guna mengetahui sejauh mana sedimen di kantong lumpur dapat dibilas dengan
sempurna, maka diperlukan perhitungan efisiensi pembilas. Efisiensi pembilas tergantung
dari besarnya gaya geser sedimen yang selalu mengendap.
Komponen bangunan pembilas terdiri dari pintu pembilas, pilar penempatan pintu,
tembok baya-baya, jembatan pelayan, rumah pintu, sponeng pintu, sponeng cadangan,
tembok pangkal, tangga, (Alfabeta, Desain Hidraulik Bendung Tetap untuk Irigasi Teknis,
2002).
Pintu pembilas merupakan bagian dari bendung, pada umumnya dipilih jenis
sorong dari kayu dengan rangka baja, atau plat besi dengan rangka baja. Dapat dibuat satu
pintu atau dua pintu (pintu atas dan pintu bawah). Fungsi pintu pembilas:
1. Pintu bawah untuk pembilas sedimen yang terdapat di dalam, di udik, dan di sekitar
underslice. Pengoperasian pintu dengan cara mengangkat pintu.
2. Pintu atas untuk menghanyutkan benda-benda padat yang terapung di udik pintu.
Pengoperasian pintu dengan cara menurunkan pintu.
Dalam mendesain pintu, faktor-faktor yang harus dipertimbangkan adalah beban yang
bekerja pada pintu, alat pengangkat (tenaga manusia atau mesin),sistem kedap air, bahan
bangunan. Sedangkan untuk ukuran pintu adalah:
1. Untuk satu lubang/ruang pintu sorong yang dioperasikan dengan tenagamanusia, lebar
maksimum 2,50m. Sedangkan ukuran untuk satu balok kayu pintu harus dihitung;
biasanya berukuran 0,2 x 2,5 m.
2. Untuk pintu yang dioperasikan dengan mesin dapat dibuat lebih lebar 2,5m tapi tidak
lebih dari 5m. ketinggian mercu pintu pembilas ditentukan sama tinggi yang terakhir
iniumumnya yang digunakan dan ketentuan ini untuk pembilas tanpa dinding banjir.
Lantai pembilas merupakan kantong tempat mengendapnya bahan-bahan kasar
didepan pembilas pengambilan. Sedimen yang terkumpul dapat dibilas dengan
jalanmembuka pintu pembilas secara berkala guna menciptakan aliran terkonsentrasitepat
di depan pengambilan. Pengalaman yang diperoleh dari banyak bendung dan pembilas
yang sudah dibangun, telah menghasilkan beberapa pedoman menentukan lebar pembilas:
1. Lebar pembilas ditambah tebal pilar pembagi sebaiknya sama dengan 1/6 -1/10 dari
lebar bersih bendung, untuk sungai-sungai yang lebarnya kuramg dari 100m
2. Lebar pembilas sebaiknya diambil 60% dari lebar total pengambilan termasuk pilarpilar
Contoh Penetapan dimensi hidraulik bangunan pembilas
Bangunan pembilas direncanakan dengan undersluice lurus. Dimensi
lubang undersluice:

Lebar lubang

= 2,50 m

Tinggi lubang

= 1,25 m

Lebar mulut
= 11,0 m
Lebar pilar
= 1,50 m
Undersluice dibagi 2 bagian

Gambar 2. Bentuk Denah Pembilas Bendung