Anda di halaman 1dari 73

SKRIPSI

DINAMIKA SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Illmu Politik

Oleh :

RIMVIALDI
98 193 024

JURUSAN ILMU POLITIK


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2005

Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui


oleh Pembimbing

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Bakaruddin RA, MS


NIP. 131 474 823

Asrinaldi S.Sos, M.Si


NIP. 132 282 153

Mengetahui
Ketua Jurusan Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Drs. Yoserizal, M.Si


NIP. 131 811 054

LEMBARAN PENGESAHAN
Skripsi ini telah diuji dan dipertahankan di depan Tim Penguji Tingkat
Sarjana Jurusan Ilmu Politik dan dinyatakan lulus pada:

Hari/tanggal

: Kamis / 25 Agustus 2005

Jam

: 14.00 WIB - Selesai

Tempat: Ruang Sidang Fakultas

Tim Penguji
No

Nama

Jabatan

Drs. Yoserizal, MSi

Yopi Fetrian S.IP., MSi

Sekeretaris

Aidinil Zetra S.IP., MA

Anggota

Drs. Bakaruddin RA.,


MS

Tandatangan

Ketua

Anggota

Mengetahui
Deekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Andalas

Drs. Bakaruddin RA., MS


NIP. 131 474 823

ABSTRAK
Rimvialdi
98 193 024

DINAMIKA SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA

Sistem kepartaian terbentuk diawali dengan terbentuknya partai politik. Di


Indonesia, perkembangan partai politik dimulai semenjak zaman penjajahan yaitu
ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda mencanangkan politik etis pada tahun
1908. Pada waktu itu mulai berdiri organisasi-organisasi kemasyarakatan yang
merupakan pelopor berdirinya partai politik. Karena bangkitnya kesadaran
nasional bangsa Indonesia,organisasi ini pun dalam perkembangannya berubah
menjadi organisasi politik yang menyarakan tuntutan untuk merdeka dan
mempunyai pemerintahan sendiri. Di masa penjajahan perkembangan organisasi
politik ini pun mengalami pasang surut. Pada masa penjajahan Belanda
oraganisasi ini bisa tumbuh dan berkembang namun pada masa penjajahan Jepang
semua organisasi politik dibubarkan dan segala bentuk kegiatan politik dilarang.
Setelah Indonesia merdeka, partai politik mulai tumbuh dan berkembaang
karena ada anjuran pemerintah untuk mendirikan partai politik melalui maklumat
pemerintah tahun 1945. Dalam perkembangannya, pada masa demokrasi
terpimpin jumlah partai mengalami pengurangan melalui penetapan presiden pada
tahun 1959 dan tahun 1960. Pengurangan jumlah partai juga terlihat pada masa
orde baru yaitu adanya penggabungan partai politik pada tahun 1973 yang dikenal
dengan program fusi. Pada masa orde baru hanya terdapat dua partai dan satu
Golongan Karya.Setelah orde baru berakhir dan berganti menjadi era reformasi
sistem kepartaian kembali mengalami perkembangan karena adanya undangundang yang dikeluarkan pemerintah. Undang-undang ini memberi kesempatan
dan kebebasan bagi masyarakat untuk mendirikan partai politik sehingga pada
masa ini jumlah partai politik menjadi cukup banyak.
Dari penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa tumbuh dan
berkembangnya partai politik di Indonesia diawali dengan dari munculnya
organisasi kemasyarakatan pada masa penjajahan. Sistem kepartaian di Indonesia
terbentuk pada tahun 1945 setelah Indonesia merdeka. Semenjak terbentuknya
system kepartaian di Indonesia tahun 1945 sampai tahun 2004, Indonesia tetap
menganut sistem multipartai. Walaupun begitu dalam hal jumlah partai politik
dalam sistem kepartaian senantiasa mengalami perkembangan. Perkembangan

sistem kepartaian ini tidak lepas dari campurtangan pemerintah melalui aturan dan
undang-undang yang dikeluarkan oleh pemerintah itu sendiri.

ABSTRACT
Rimvialdi
98 193 024
THE DYNAMICS PARTY SYSTEM IN INDONESIA

The party system formed by the political party. In Indonesia, the Growth
of Political Party was started since colonialization period that is when the colonial
government specified ethical politic in 1908. At that time was began firstly the
Social organizations which these organization as pioneer of growth the political
party in Indonesia. In order to that blooming of the political party in Indonesia,
these expansion of the organization growth became as one of the political party
Indonesia which voicing independence demand and having self rule. In the
colonial period growth have many troubles. In the colonial period could be the
essential of and known but since the colonial of Japan, most the organization was
disbanded and all of the action of that organization prohibited.
After Indonesia independence era, political party became grow and expand
the fact that governmental fomentation to found political party through
communique governmental in the year 1945. in that growing, at period of
democracy led, amount of the party experiencing reduction through stipulating of
president in the year 1959 and in 1060. Reduction political party could be seen in
new era that was existence affiliation of political party in 1973 which known as a
fusion program. in that new era there are only have two parties and other is
Golongan Karya after the new era's over or ending and changing became reform
era, the party system begun experiencing of the growth because of there are law
existence releasing by the government. These code giving the freedom and
opportunity to the people to found political party so that the end of it, so that sum
up the political party become quite a lot.
In these researches, the writer has decided that in the growth and expand
of the political party in Indonesia was started from social organization in the

colonial era. The Indonesia system party performed in the year of 1945 after
Indonesia independence era. Since the party system performed in Indonesia in
1945 until 2004, Indonesia political system still embraces to multy party system.
eventhogh in cases sum of the party is always has growth in Indonesia. The
growth of the party system should have related to the governmental under codes
and rules which is released by the government.

KATA PENGANTAR

Tiada kata selain puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT.
Berkat rahmat dan karunia-Nya berupa kemudahan, kesempatan dan kemampuan
sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi yang berjudul DINAMIKA
SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA. Tak lupa salawat dan salam penulis
doakan kepada Allah SWT, agar disampaikan-Nya kepada Nabi Muhammad SAW
yang telah memberi petunjuk dan menuntun umatnya untuk menuntut ilmu dan
hidup di jalan yang diridhai Allah SWT.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk bias meraih gelar
Sarjana Ilmu Politik. Untuk itu pada kesempatan ini izinkan penulis mengucapkan
terima kasih dan memberikan penghargaan kepada :
1. Kedua orangtua dan keluarga penulis yang selalu mendoakan, membantu
dan memberi semangat penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.
2. Bapak Drs. Bakaruddin RA, MS selaku Pembimbing I
3. Bapak Asrinaldi S.Sos, M Si selaku Pembimbing II

4. Bapak Aidinil Zetra S.IP,MA


5. Seluruh staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
6. Seluruh Pegawai biro Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
7. Pak Can dan Buk Mas sekeluarga
8. Rekan-rekan angkatan 98 Ilmu Politik ( Peank, Andi, Victor, Tajok, Fuad,
Deded, Hendra, Dewi, Sofia, Ikay, Aida, Lince, Ira) dan Keluarga Besar
Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas

9. Dilla dan Nina ( terimakasih atas buku-bukunya)


10. Anggota Pondokan Mascan ( Aji, Doel, Aldo), Dede, Fasel, Anto, Revi,
Warga C.8 ( Adis dan Arif), Lelli, Wenny, Nining dan Pak Ded beserta
Keluarga Besar Pondok Barangin
11. Semua pihak yang telah ikut membantu penilis dalam menyelesaikan
penulisan skripsi ini.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun dari semua
pihak untuk lebih baiknya skripsi ini. Penulis berharap skripsi bsa bermanfaat bagi
kita semua khususnya bagi penulis sendiri.

Padang, Agustus 2005

Penulis

DAFTAR ISI

ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................1
B. Permasalahan ................................................................................................6
C. Tujuan ...........................................................................................................7
D. Manfaat ........................................................................................................7
E. Kerangka Pemikiran .....................................................................................7
F. Metode Penelitian .......................................................................................12
G. Sistematika Penulisan ...............................................................................14
BAB II. SEJARAH SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA
A. Organisasi Kemasyarakatan sebagai Pelopor Berdirinya Partai Politik.....15
B. Terbentuknya Partai Politik dan Sistem Kepartaian....................................24
BAB III. PERKEMBANGAN SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA
A. Sistem Kepartaian Masa Awal Kemerdekaan (1945-1959)........................27
B. Sistem Kepartaian Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965)....................42
C. Sistem Kepartaian Masa Orde Baru (1965-1998).......................................44
D. Sistem Kepartaian Masa Era Reformasi (1998-2004)................................49
E. Campurtangan Pemerintah Dalam Perkembangan Sistem Kepartaian ......54

BAB IV. PENUTUP


A. Kesimpulan ................................................................................................59
B. Saran ..........................................................................................................60
DAFTAR PUSTAKA

10

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Partai politik dalam bentuk yang modern mulai dikenal di Eropa dan
Amerika Serikat pada abad ke 19 bersamaan dengan mulai dikenalkannya sistem
pemilihan dan parlementaria. Sepanjang perkembangan dan kemajuan sistem
pemilihan dan parlemen ini maka berkembang pula sistem kepartaian politik.
Istilah partai yang melekat pada partai politik dipergunakan untuk setiap bentuk
kelompok organisasi yang bertujuan untuk memperoleh kekuasaan politik baik
melalui pemilihan yang demokratis atau melalui revolusi.1
Perkembangan partai politik sejalan dengan perkembangan demokrasi,
dalam hal perluasan hak pilih dari rakyat dan perluasan hak-hak parlemen.
Semakin luas pertumbuhan fungsi-fungsi dan kebebasan majelis politik, maka
semakin tumbuh kesadaran para anggotanya untuk membentuk kelompok antar
mereka dan bersaing dalam pentas politik. Semakin meluas hak individu untuk
memberikan suaranya, semakin mendesak pula keperluan untuk pembentukan
komite untuk mengorganisir dan menyalurkan suara pemilih, serta penyediaan
calon-calon untuk mereka pilih. Kebangkitan partai sejalan dengan kebangkitan
kelompok-kelompok dalam parlemen dan komite-komite pemilihan. Sekalipun
demikian, perkembangan partai terjadi di dalam maupun di luar parlemen, dengan
karakteristik yang saling berbeda.2
1

Miftah Thoha, 2003, Birokrasi & Politik di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal
92-93
2
Ichlasul Amal, 1988, Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, PT Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta,
hal 2

11

Di Indonesia partai politik lahir dalam zaman kolonial sebagai manifestasi


bangkitnya kesadaran nasional. Dalam suasana itu semua organisasi, apakah dia
bertujuan sosial (seperti Budi Utomo dan Muhamadiyah) ataukah terang-terangan
menganut azas politik/agama (seperti Syariat Islam atau Partai Katolik) atau azas
politik

sekuler

(seperti

PNI

dan

PKI),

memainkan

peranan

penting

berkembangnya pergerakan nasional3. Partai politik dalam arti modern sebagai


suatu organisasi massa yang berusaha untuk mempengaruhi proses politik,
merombak

kebijaksanaan dan mendidik

para pemimpin

dan mengejar

penambahan anggota baru ada di Indonesia ketika didirikan Syarikat Islam pada
tanggal 10 September 1911.4
Setelah Indonesia merdeka, tumbuh dan berkembangnya partai-partai
politik mulai terlihat setelah keluarnya Maklumat Pemerintah pada tanggal 3
November 1945. Maklumat tersebut menyebutkan bahwa, Pemerintah menyukai
timbulnya partai-partai politik karena dengan adanya partai-partai itulah dapat
dipimpin ke jalan yang teratur segala aliran faham yang ada dalam masyarakat. 5
Dengan adanya maklumat ini maka berdirilah partai-partai politik seperti Partai
Sosialis, Partai Komunis Indonesia, Partai Buruh Indonesia, Partai Murba,
Masyumi, dan Serindo-PNI.6
Dalam pembentukan partai-partai politik itu pengaruh ikatan primordial
terhadap pengorganisasian sangat berpengaruh dan signifikan. Ikatan primordial

Miriam Budiarjo, 1996, Dasar-dasar Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,hal 171
Daniel Dhakidae dalam Seri Prisma I, 1985, Analisa Kekuatan Politik Di Indonesia,LP3ES,
Jakarta, hal 191
5
Mahrus Irsyam dkk,2003, Seri Buku Politik, , Menggugat Partai Politik LIP FISIP UI,Jakarta hal
113
6
P.K Poewantana,1994, Partai Politik Di Indonesia, Rineka Cipta,Jakarta hal. 33
4

12

itu semakin terlihat mempengaruhi pengorganisasian partai politik ketika


menjelang pemilu 1955. Dukungan terhadap partai juga cenderung mengikuti
garis sosial keagamaan.
Ketika pemilu 1955 dilaksanakan ada harapan akan mengurangi jumlah
partai politik yang begitu banyak dan dapat terbentuk sebuah pemerintahan
dengan kekuatan mayoritas. Karena dengan banyak jumlah partai telah
menyebabkan kabinet jatuh bangun yang dapat dilihat pada periode demokrasi
parlementer dimana terjadi enem kali pergantian kabinet, hal ini terjadi karena
tidak ada kekutan mayoritas di dalam parlemen, sehinga setiap pemerintahan tidak
dapat bertahan lama karena kurang mendapat dukungan yang besar. Ternyata hasil
pemilu 1955 tidak bisa mengurangi jumlah partai politik karena pemilu tidak
memunculkan pemenang dengan suara mayoritas. Ada empat partai politik yang
hampir mempunyai kekuatan yang sama dalam parlemen, yaitu PNI, Masyumi,
NU dan PKI.
Berdasarkan

pengalaman

demokrasi

parlementer,

ketika

Sukarno

menerapkan demokrasi terpimpin, yang dianggap sesuai dengan masyarakat


Indonesia, jumlah partai politik disederhanakan. Untuk itu keluarlah Penetapan
Presiden (Penpres) No 13 Tahun 1960 yang mengatur pengakuan dan pengawasan
dan pembubaran partai politik. Inti dari Penpres adalah partai politik yang ada
harus sesuai dengan ideologi demokrasi terpimpin yaitu Nasakom. Hal ini banyak
ditolak oleh partai politik sehingga partai-partai itu akhirnya dibubarkan oleh

13

Sukarno. Pada demokrasi terpimpin jumlah partai politik hanya 10 buah yaitu
PKI, NU, PNI, PSII, Parkindo, Partai Katholik, Perti, Pertindo dan Murba.7
Pada masa pemerintahan orde baru dilakukan penataan serta pembinaan
terhadap partai politik. Penataan kehidupan kepartaian ditempatkan sebagai
bagian dari stabilisasi politik yang vital. Bagi pemerintahan orde baru partai
politik adalah pesaing dalam memperoleh kekuasaan, pemberi pandangan dunia
lain dan penggerak keresahan rakyat. Dalam pandangan pemerintah orde baru
partai politik telah menjadi sumber penyebab instabilitas politik dan kegagalan
ekonomi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Konsekwensi pandangan
pemerintah orde baru ini terlihat dalam penataan kehidupan kepartaian pada masa
orde baru. Sikap politik orde baru dalam hal ini adalah menginginkan adanya
sistem kepartaian yang ramping dengan jumlah partai politik yang terbatas dan
terjaminnya hubungan legitimasi diantara masyarakat orde baru dengan
pemerintahan baru.
Penataan kehidupan partai politik pertama kali terlihat dengan adanya
rehabilitasi partai Murba pada bulan Oktober 1966 dan didirikannya Partai
Muslim Indonesia (Parmusi) pada tanggal 20 Februari 1968. Langkah ini
kemudian dilanjutkan dengan program fusi. Pada tanggal 9 Maret 1973, PNI,
Partai Katolik, Parkindo IPKI, dan Murba difusikan menjadi Partai Demokrasi
Indonesia (PDI) dan pada tanggal 13 Maret 1973 Parmusi, NU, PSII dan Perti
difusikan ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP)8. Organisasi sosial
politik yang ada pada awal orde baru dikelompokan menjadi dua partai politik dan
7

Mahrus, Op Cit ,hal 113-116


Eep Saefulloh Fatah, 2000, Pengkhianatan Ala Orde Baru, PT Remaja Rosdakarya, Bandung hal
194
8

14

satu golongan karya. Hasil pengelompokan tersebut dikukuhkan dan diberikan


landasan hukum dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 3 tahun 1973
tentang Partai Politik dan Golongan Karya, yang kemudian diubah dengan
Undang-Undang Nomor 3 tahun 1985.9
Setelah rezim Orba berakhir, yang ditandai dengan lengsernya Soeharto
dari puncak kekuasaan pada pertengahan tahun 1998, maka sistem politik yang
dibangun rezim orde baru kehilangan legitimasinya. Partisipasi politik yang
tersumbat pada masa orde baru mulai terbuka lebar sejalan dengan demokratisasi
politik. Undang-Undang Partai Politik dan Golongan Karya diganti dengan
Undang-undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik,yang disahkan pada 1
Februari 1999. Undang-undang tersebut tidak membatasi jumlah partai politik
yang dibentuk oleh rakyat dan pihak yang berada diluar partai tidak dibenarkan
campur tangan urusan internal suatu partai.10 Dengan demikian bermunculannya
partai baru sebagai konsekwensi dari sistem multi partai yang tertuang dalam UU
No 2 tahun 1999, dimana setiap warga negara Indonesia bisa mendirikan partai
politik sesuai dengan aturan yang dalam UU tersebut. Pada tanggal 7 Juni 1999
diadakanlah pemilu multi partai yang diikuti oleh 48 partai.
Pemilu 1999 merupakan pemilu multi partai kedua, setelah pemilu 1955
dengan partai peserta pemilu yang terfragmentasi tinggi. Partai-partai Islam
peserta pemilu 1955 terfragmentasi menjadi 42 partai dan 20 diantaranya tercatat
sebagai peserta pemilu

1999. Fragmentasi serupa juga terjadi pada partai

A.A Oka Mahendra, Soekady,2004, Sistem Multi Partai Prospek Politik Pasca 2004, Yayasan
Pancur Siwah, Jakarta hal 85
10
Ibid hal 86-87

15

nasionalis dan non-Islam. Golongan Karya harus bersaing dengan PKP dan PDI-P
harus bersaing dengan PDI.11
Pada tahun 2002 undang-undang Nomor 2 Tahun 1999 diganti dengan
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002. Hal ini dilakukan karena undang-undang
Nomor 2 Tahun 1999 dipandang tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat
dan perubahan ketatanegaraan Dengan undang-undang yang baru ini bangsa
Indonesia kembali melangsungkan pemilu pada tanggal 5 April 2004 yang diikuti
oleh 24 buah partai. Setelah penghitungan suara, ternyata Golkar memperoleh
suara terbanyak. Posisi lima besar ditempati oleh Golkar, PDI-P, PKB, Partai
Demokrat dan PPP.
B. Permasalahan
Walaupun semenjak terbentuknya sistem kepartaian di Indonesia pada
tahun 1945, sampai tahun 2004 Indonesia tetap menganut sistem multi partai.
Namun sistem kepartaian ini senantiasa mengalami perkembangan. Untuk itu
peneliti tertarik untuk mengetahui :
1. Bagaimana perkembangan sistem kepartaian di Indonesia dari tahun 1945
sampai tahun 2004?
2. Bagaimana campurtangan pemerintah dalam perkembangan sistem
kepartaian di Indonesia?

C. Tujuan

11

Imam Tholkhah, 2001, Anatomi Konflik Politik Di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, hal
225-226

16

Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah


1. Untuk mendeskripsikan perkembangan sistem kepartaian di Indonesia
2. Untuk mendeskripsikan campurtangan pemerintah dalam perkembangan
sistem kepartaian di Indonesia
D. Manfaat
1. Untuk memberikan kontribusi wawasan dan pengetahuan khusus dalam
bidang disiplin ilmu politik dalam pengembangan mata kuliah Sistem
Perwakilan Politik.
2. Hasil penelitian berguna untuk menjelaskan perkembangan sistem
kepartaian di Indonesia
E. Kerangka Pemikiran
Dinamika
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dinamika diartikan sebagai
gerakan terus menerus yang menimbulkan perubahan. Sedangkan dalam tulisan
ini yang dimaksud dengan dinamika adalah proses perkembangan sistem
kepartaian di Indonesia mulai dari terbentuknya pada tahun 1945 sampai tahun
2004
Partai Politik
Dalam UU no 31 tahun 2002 partai politik adalah organisasi politik yang
dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar
persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota,
masyarakat, bangsa dan negara melalui pemilihan umum.

17

Menurut Carl J Friedrich dalam Miriam, partai politik adalah sekelompok


manusia yang berorganisasi secra stabil dengan tujuan merebut

atau

mempertahankan penguasaan terhadap pemerintah bagi pimpinan partainya, dan


berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan
yang bersifat Idiil dan material.
Sedangkan menurut Sigmund Neumanm dalam Miriam, partai Politik
adalah organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai
kekuasaan pemerintah serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan
dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan
yang berbeda.
Secara umum dapat dikatakan bahwa Partai politik adalah suatu kelompok
yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan
cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan
politik dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusionil untuk
melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka.
Fungsi utama partai politik adalah mencari dan mempertahankan
kekuasaan guna mewujudkan program-program yang disusun berdasarkan
ideologi tertentu. Cara partai

politik mendapatkan dan mempertahankan

kekuasaan adalah dengan ikut dalam pemilihan umum. Selain fungsi tersebut
partai politik juga berfungsi sebagai12 :
1.

Sosialisasi politik
Sosialisasi politik adalah proses pembentukan sikap dan orientasi

12

Ramlan Surbakti,1992, Memahami Ilmu Politk, PT Gramedia Wdiasarana Indonesia Jakarta hal
116-121

18

politik para anggota masyarakat. Melalui proses sosialisasi inilah


masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan politik
yang berlangsung dalam masyarakat.
2.

Rekrutmen politik
Rekrutmen politik adalah seleksi dan pemilihan atau seleksi dan
pengangkatan seseorang atau kelompok orang untuk melaksanakan
sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintahan
khususnya.

3.

Partisipasi politik
Partisipasi politik adalah kegiatan warga negara biasa dalam
mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijaksanaan umum
dan dalam ikut menentukan pemimpin pemerintahan.

4.

Pemadu kepentingan
Yang dimaksud dengan memadu kepentingan adalah menampung
kepentingan-kepentingan yang berbeda bahkan bertentangan menjadi
berbagai alternatif kebijakan umum, kemudian diperjuangkan dalam
proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik.

5.

Pengendalian konflik
Konflik yang dimaksud disini dalam arti yang sangat luas, mulai
dari perbedaan pendapat sampai pada pertikaian fisik antar individu atau
kelompok dalam masyarakat. Akan tetapi sistem politik hanya akan
mentolerir

konflik

permasalahannya

yang
bukan

tidak

menghancurkan

menghilangkan

konflik

dirinya
itu

sehingga
melainkan

19

mengendalikan konflik melalui lembaga demokrasi untuk mendapat


penyelesaian dalam bentuk keputusan politik.
6.

Komunikasi politik
Komunikasi

politik

adalah

proses

penyampaian

informasi

mengenai politik dari pemerintah ke masyarakat dan dari masyarakat ke


pemerintah.
7.

Kontrol politik
Kontrol politik adalah kegiatan untuk menunjukan kesalahan,
kelemahan dan penyimpangan dalam isi suatu kebijakan atau dalam
pelaksanaan kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah.

Sistem Kepartaian
Sistem Kepartaian adalah pola prilaku dan interaksi diantara sejumlah
partai politik dalam suatu system politik13
Maurice Duverger dalam Miriam, mengemukakan 3 bentuk sistem
kepartaian yaitu sistem Partai tunggal, sistem dwi partai dan sistem multi partai14
1. Sistem Partai Tunggal
Klasifikasi partai ini dipakai untuk partai yang benar-benar merupakan
satu-satunya partai dalam suatu negara. Kecendrungan untuk mengambil pola
sistem partai tunggal karena adanya masalah dalam mengintegrasikan masyarakat
yang mempunyai perbedaan yang beranekaragam. Dikuatirkan bahwa jika

13
14

Ibid hal 124


Miriam, Op Cit, hal 167-170

20

keanekaragaman sosial dan budaya dibiarkan akan terjadi gejolak-gejolak sosial


politik yang menghambat usaha-usaha pembangunan.
2. Sistem Dwi Partai
Sistem dwi partai biasanya diartikan adanya dua partai atau adanya
beberapa partai tetapi dengan peranan dominan dari dua partai. Dalam sistem ini
partai-partai dengan jelas dibagi dalam partai yang berkuasa (karena menang
dalam pemilu) dan partai oposisi (karena kalah dalam pemilu). Sistem dwi partai
bisa berjalan dengan baik apabila terpenuhi tiga syarat, yaitu komposisi
masyarakat adalah homogen, konsensus dalam masyarakat mengenai azas dan
tujuan sosial yang pokok adalah kuat, dan adanya kuntinuitas sejarah.
3. Sistem Multi Partai
Sistem multi partai merupakan suatu sistem yang terdiri atas lebih dari dua
partai yang dominan. Sistem ini merupakan produk dari struktur keanekaragaman
dalam komposisi masyarakat menjurus ke berkembangnya sistem multi partai.
Dimana perbedaan ras, agama, atau suku bangsa adalah kuat, golongangolongan
masyarakat lebih cendrung untk menyalurkan ikatan-ikatan terbatas (primordial)
tadi dalam satu wadah saja. Sistem multi partai lebih mencerminkan
keanekaragaman budaya dan politik, dari pada pola dwi partai. Idealnya, dengan
ada sistem ini dapat menunjukan bahwa negara yang menganutnya adalah negara
yang demokratis. Karena setiap warga negara diberi kebebasan dalam mendirikan
partai yang sudah tentu melalui proses atau aturan tertentu yang tertuang didalam
UU dinegara masing-masing.
F. Metode Penelitian

21

a. Tipe Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran dengan
menggunakan informasi yang sesuai dengan topik penelitian dan kemudian
dilakukan analisa terhadap data-data atau informasi yang didapat. Dipilihnya
penelitian deskriptif karena penelitian ini nantinya akan mengambarkan
perkembangan sistem kepartaian di Indonesia dan mengambarkan campurtangan
pemerintah dalam perkembangan sistem kepartaian tersebut.
b. Teknik Pengumpulan Data
Cara pengambilan data adalah melalui library research atau studi pustaka
untuk mendapatkan data sekunder. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara
menelusuri, mengumpulkan, dan membahas bahan-bahan, informasi dari
karangan-karangan yang termuat dalam buku-buku, artikel-artikel berkaitan
dengan penelitian ini.
Adapun buku-buku yang dijadikan sebagai literatur primer antara lain :
a. M Rusli Karim. Perjalanan Partai Politik Di Indonesia, Rajawali Pers.
Jakarta.1993
b. Mahrus Irsyam, Menggugat Partai Politik, LIP FISIP UI. Jakarta 2003
c. Mahendra dan Soekadi, Sistem Multi partai Prosper Politik Pasca 2004,
Yayasan Pancur Siwah. Jakarta 2004
Disamping buku-buku primer, juga digunakan buku-buku sekunder yang
ada kaitannya dengan perkembangan sistem kepartaian di Indonesia, antara lain :

22

a. Abdul Bari Azad, Pemilu dan Partai poltik di Indonesia, Pusat Studi
Hukum Tatanegara FH-UI. Jakarta 2005.
b. Miriam Budiarjo, Dasar-DasarIlmu Politik, PT. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.1996
c. Miftah Thoha, Birokrasi dan Politik Di Indonesia, PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta. 2003
d. Eep saefulloh, Pengkhianatan Ala Orde Baru, PT Remaja Rosdakarya.
Jakarta 2000
c. Analisis Data
Setelah data-data dan informasi yang relevan dengan penelitian ini
dikumpulkan maka dilakukan analisa terhadap data. Analisa data dalam penelitian
deskriptif kualitatif menekankan kekuatan analisis datanya pada sumber-sumber
dokumentasi dan teoritis, atau hanya mengandalkan teori-teori saja, yang
selanjutnya dianalisis dan di interpretasikan secara luas, dalam dan tajam15

G. Sistematika Penulisan
Bab I.

Pendahuluan
Bab ini berisikan latarbelakang, permasalahan, tujuan, manfaat,
kerangka pemikiran, metode penelitian dan sistematika penulisan

15

Erna Widodo dan Mukhtar, 2000, Konstruksi Ke Arah Penelitian Deskriptif, Avyrouz,
Yogyakarta, hal 123

23

Bab II.

Sejarah sistem kepartaian di Indonesia


Membicarakan sejarah lahirnya partai politik di Indonesia sampai
terbentuknya sistem kepartaian

Bab III. Perkembangan Sistem Kepartaian di Indonesia


Berisikan tentang sistem kepartaian pada awal kemerdekaan,pada masa
demokrasi terpimpin, masa orde baru dan sistem kepartaian era
reformasi dan campurtangan pemerintah dalam perkembangan sistem
kepartaian di Indonesia
Bab V.

Penutup
Berisikan kesimpulan dan saran

Daftar Pustaka

24

BAB II
SEJARAH SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA

A. Organisasi Kemasyarakatan sebagai Pelopor Berdirinya Partai Politik


Terbentuknya sistem kepartaian dalam sebuah negara tidak lepas dari ada
atau tidaknya suatu partai politik. Di Indonesia, partai politik tidak langsung ada
akan tetapi diawali dengan dibentuknya organisasi-organisasi sosial ataupun
ekonomi. Organisasi sosial memang sudah ada pada waktu Indonesia masih dalam
masa penjajahan. Organisasi modern yang pertama kali ada di Inonesia adalah
Budi Utomo. Organisasi ini merupakan perwujudan akan bangkitnya rasa
nasionalisme bangsa Indonesia. Budi utomo didirkian di Jakarta pada tanggal 20
Mei 1908. Organisasi ini didirikan oleh Dr. Sutomo dan kawan-kawan yang
merupakan golongan kaum terpelajar di Indonesia. Kongres pertama Budi Utomo
dilangsungkan pada tanggal 5 Oktober 1908. dalam kongres ini ditetapkanlah
tujuan Budi Utomo, adapun tujuan Budi Utomo lebih mengarah pada usaha
memajukan rakyat dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.16
Budi Utomo dalam waktu yang cukup singkat mengalami perkembangan
pesat. Akhir tahun 1908 organisasi ini sudah memiliki 40 buah cabang dengan
10.000 anggota.17 Namun dalam perkembangan lebih lanjut, Budi Utomopun
mengalami kemunduran. Munculnya Syarekat Islam dan Indische Partij semakin
mengancam Budi Utomo. Unsur-unsur yang puas dengan Budi Utomo bergabung
ke dalam Syarekat Islam atau ke Indische Partij. Walaupun Budi Utomo
mengalami kemunduran tapi organisasi ini mempunyai peran yang besar dalam
16
17

Rusli Karim, 1993, Perjalanan Partai Politik Di Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, hal 15-16
Ibid Hal 16

25

gerakan perjuangan bangsa Indonesia dan telah menjadi pelopor berdirinya


organisasi-organisasi lain.
1. Syarekat Islam
Syarikat Islam didirikan pada tahun 1911 oleh H. Samanhudi di Solo. 18
Pada awal terbentuknya Syarekat Islam, organisasi ini hanyalah sebuah organisasi
Islam yang tujuannya untuk menyaingi kegiatan dan kedudukan golongan Cina di
bidang perdagangan dan perusahaan batik. Organisasi ini berusaha memajukan
perdagangan, memberikan pertolongan pada anggota yang mengalami kesukaran,
memajukan kepentingan jasmani dan rohani penduduk asli dan memajukan
kehidupan agama Islam. Jadi organisasi ini pada awalnya tidak lebih dari sebuah
organisasi yang bergerak dibidang ekonomi. Berdirinya Syarekat Islam
merupakan isyarat dan pertanda bahwa umat Islam sudah mulai dan sudah saatnya
unjuk kekuatan. Sejak tahun 1912 ketika syarekat Islam dibawah pimpinan H.
Oemar Said Cokroaminoto, Syarekat Islam lebih menampakkan dirinya sebagai
sebuah partai politik. Program dasar partai dan program kerja partai mulai
disusun. Dalam perkembangannya Syarekat Islam disamping mengalami
kemajuan juga mengalami kemunduran. Kemajuan Syarekat Islam bisa dilihat
dari jumlah anggota yang mana dalam waktu 4 tahun telah mempunyai anggota
sebanyak 3 juta orang. Sedangkan kemunduran Syarekat Islam terlihat dari
adanya perpecahan dalam organisasi itu sendiri yaitu lahirnya tiga golongan yang
mempunyai pendirian masing-masing yaitu golongan berhaluan komunis merah,
berhaluan Islam radikal fanatik dan yang ketiga golongan yang berhaluan

18

Ibid hal 19

26

nasional. Syarekat Islam merupakan partai politik yang pertama yang ada di
Indonesia.
2. Muhammadyah
Muhammadyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18
November 1912.19 Organisasi ini memang bukan partai politik tapi mempunyai
kaitan dengan partai politik. Muhammadyah termasuk salah satu organisasi yang
menjadi saingan Syarekat Islam. Syarekat Islam mendapat saingan dari dua segi
oleh dua kekuatan. Dari segi sosial keagamaan disaingi oleh Muhammadyah
bahkan juga Nahdatul Ulama (NU), sedangkan dari segi politik mendapat saingan
dari Indonische Studies Club. Dari segi ini terlihat relevansinya membicarakan
Muhammadyah untuk melihat seberapa jauh peranannya dalam menumbuhkan
kesadaran dan semangat nasional di kalangan umat Islam. Hal ini sejalan dengan
tema gerakan Muhammadyah sebagai organisasi pembaharu dalam paham
keagamaan. Motif utama pendiriannya adalah untuk mengembalikan ajaran Islam
kepada sumber aslinya, Al-quran dan Hadist. Di samping itu terkandung pula
maksud untuk menggerakan umat Islam dalam perjuangan dan beramal melalui
organisasi meliputi keagamaan, pendidikan, kemasyarakatan serta politik dan
kenegaraan. Muhammadyah bukanlah partai politik dan tak akan pernah menjadi
partai politik, walau kegiatannya terlibat dalam kenegaraan dan pemerintahan. Hal
ini hanyalah sebatas membela yang benar dan mencegah yang salah. Di lihat dari
segi ini memang Muhammadyah bukanlah partai politik, namun tak dapat
diingkari bahwa banyak anggota Muhammadyah yang aktif di bidang polotik.

19

Ibid hal 21

27

Faktor inilah yanh kemudian

banyak orang yang mengatakan bahwa

Muhammadyah adalah salah satu organisasi politik.


3. Indische Partij
Partai ini berdiri di atas nasionalisme yang luas menuju kemerdekaan
Indonesia. Dikenal sangat radikal dan dikenal pula sebagai penentang perang dari
pihak budak koloni yang membayar belasting kepada kerajaan penjajah, pengaut
pajak. Didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 oleh Douwes Dekker.20
Tujuannya adalah membangun patriotisme semua masyarakat terhadap tanah air
yang telah memberi lapangan hidup pada mereka, agar mereka mendapat
dorongan untuk bekerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan untuk
memajukan tanah air dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka.
Partai ini merupakan partai terlarang bagi pemerintah Hindia Belanda. Karena
partai ini radikal, maka permohonannya untuk mendapatkan badan hukum pada
Gubernur Jenderal pada tanggal 4 Maret 1913 ditolak karena

organisasi ini

berdasarkan politik akan mengancam keamanan dan ketertiban umum. Dalam


perkembangannya partai ini berubah nama menjadi Insulin namun semakin hari
partai ini semakin mengalami kemunduran. Pergantian nama ini terjadi pada tahun
1913. Kemudian dari Insulin berubah menjadi National Indische Partij. Pergantian
nama yang berkali-kali ini ternyata tidak juga membawa kemajuan . Partai ini
tidak sempat berkembang dalam masyarakat melainkan lebih merupakan
perkumpulan orang-orang terpelajar saja.
4. Partai Komunis Indonesia (PKI)

20

Ibid hal 22

28

PKI terbentuk berawal dari berdirinya Indische Sosial Demokratische


Vereniging ( ISDV ) di Semarang yang berdiri pada bulan Mei 1914. Pendirian
ISDV ini dapat dipandang sebagai usaha pertama kali memasukan ajaran
Marxisme di Indonesia.
Pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV mengganti namanya dengan PKI yang
dipimpin oleh Semaun dan Darsono. Peran PKI semakin kuat dengan adanya
Alimin dan Muso sehingga PKI secara terus-menerus meluas keseluruh Indonesia.
Setelah PKI mengadakan kongres pada bulan Juni 1924

PKI dengan giat

berusaha untuk membangun syarikat rakyat dan membentuk organisasi pemuda


yang dinamakan dengan Barisan Muda. PKI mengalami Perkembangan yang
begitu pesat sehingga mereka memiliki jumlah massa yang sangat besar. Namun,
karena jumlah anggota intinya yang terbatas maka PKI mengalmi kesulitan dalam
melakukan kontrol dan menanamkan disiplin dan ideologinya kepada massa. Hal
ini mengakibatkan beberapa cabang syarikat rakyat mengambil inisiatif sendiri
untuk mengadakan aksi-aksi teror mendukung instruksi PKI pada tahun 1924.
Tindakan tersebut menimbulkan rasa benci dikalangan masyarakat yang kukuh
dengan ajaran Islam. Karena adanya protes dari masyarakat maka pada bulan
Desember 1924 syarekat rakyat akhirnya dilebur ke dalam PKI sehingga PKI
menjadi partai yang besar. Dengan demikian PKI merasa telah mampu
melancarkan petualangan yang akhirnya membawa malapetaka bagi patriot-patriot
Indonesia.
Dalam perkembangannya, PKI melancarkan pemberontakan pada tahun 1926 di
Jakarta dan 1927 di Sumatera Barat, akan tetapi pemberontakan tetap dapat diatasi

29

oleh pemerintahan Belanda. Sehingga puluhan ribu anggotanya ditangkap dan


dipenjarakan dan ada juga yang dibuang ke Boven Digul atau tanah merah.
Karena PKI dianggap dapat membahayakan maka pada tanggal 23 Maret 1928
pemerintah memutuskan bahwa PKI dan Syarekat Rakyat merupakan partai yang
terlarang .
5. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Didirkan oleh Soekarno, dalam hal ini termasuk kaum abangan, partai ini
menganutajaran Marheinisme yang diperkenalkan Soekarno sebagai azas
utamanya. Menurut versi Soekarno, Marheinisme adalah azas dan cara
perjuanagan tegelijk menuju kepada hilangnya kapitalisme dan kolonialisme.
Namun secara positif berarti sosio nasionalisme dan sosio demokrasi, karena
nasionalismenya kaum Marhein adalah nasionalisme yang sosial berwust dan
karena demokrasinya kaum Marhein adalah demokrasi yang bersosial berwust
pula ( berkesadaran ).
Kelahiran PNI ini hampir bersamaan waktunya denga kemerosotan
syarikat Islam ( SI ). Meskipun dalam waktu yang relatif singkat SI telah mampu
menarik ratusan ribu anggota yang bersemangat namun dalam perjuangannya
pada tahun 1927 mengalami kemerosotan. Tujuan PNI adalah menolak kerjasama
dengan Belanda menetang kapitalime didasarkan atas agama, bukan berdasarkan
struktur sosial. PNI menentang kedudukan SI ataupun kepentingan Islam pada
umumnya,

dalam

rangka

pergerakan

perjuangan

kemerdekaan.

Dalam

perkembangannya partai ini akhirnya dibubarkan oleh Belanda pada bulan April
1931, sebagian pimpinan ditangkap yang selanjutnya diadili dan dijatuhi

30

hukuman. Oleh karena itu timbul kekecewaan diantara pemimpin-pemimpin


dibawahnya serta anggota-anggota PNI yang lain.
6. Partai Indonesia
Partai Indonesia didirikan pada tanggal 30 april 1931.21 Tujuan partai ini
adalah mencapai Indonesia merdeka, partai ini bersifat nonkooperatif dan netral
terhadap agama. Terbentuknya Partindo merupakan usaha untuk menghimpun
kekuatan anggota-anggota PNI yang telah dibubarkan. Guna mencapai tujuan
maka partai ini bergerak dibidang yang mengarah pada perluasan hak-hak politik,
dan keinginan menuju suatu pemerintahan rakyat berdasarkan demokrasi,
perbaikan hubungan kemasyarakatan serta perbaikan ekonomi rakyat Indonesia.
Kegiatan partai inipun mendapat pengawasan dari pemerintah Belanda. Akhirnya
pimpinan-pimpinan partai inipun ditangkap pemerintah Belanda dan pada akhir
tahun 1936 partai inipun dibubarkan.
7. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Gerakan Rakyat Indonesia dibentuk pada tahun 1937 oleh bekas-bekas
anggota Partindo.22 Partai ini menganut asas kooperasi, kerjasama dengan
pemerintah penjajah, partai ini diketuai oleh Drs A.K Gani sebagai wadah
perkumpulan rakyat umum juga berusaha mencapai bentuk pemerintahan negara
berdasarkan kemerdekaan politik, ekonomi dan soaial.
8. Partai Persatuan Indonesia (Parpindo)
Didirikan oleh M.Yamin setelah ia dipecat dari Gerindo karena mengatas
namakan dirinya sebagai wakil Gerindo di dalam dewan rakyat. Partai ini
21
22

Ibid hal 41
Ibid hal 42

31

menganut asas kooperatif, yaitu bekerjasama dengan pemerintah penjajah serta


berusaha mencapai kemajuan kearah suatu masyarakat dan bentuk negara yang
tersusun menurut keinginan rakyat. Partai ini hanyalah mrupakan pelarian dari
Gerindo sehingga partai inipun tidak mengakar di tengah-tengah masyarakat.
9. Partai Rakyat Indonesia (PRI)
Partai ini merupakan partai yang dibentuk untuk menggabungkan sisa-sisa
kekutan PNI yang telah dibubarkan. Partai ini didirikan pada tanggal 14
September 1930 di Jakarta oleh H. Tabrani.23 Tujuan partai ini adalah menuju
kemerdekaan Indonesia melalui jalan parlementer. Karena partai ini hanyalah
partai kecil jadi kurang mengakar di tengah-tengah masyarakat yang akhirnya
partai inipun hilang dari peredaran.
10. Partai Indonesia Raya
Partai ini berdiri tahun 1935.24 partai ini merupakan hasil fusi Partai
Persatuan Indonesia dan Budi Utomo. Tujuan partai ini hanya berbunyi
Indonesia Raya yaitu dengan jalan memperkokoh semangat persatuan dan
kesatuan, menjalankan aksi politik sehingga diperoleh hak-hak lengkap dalam hal
politik dan suatu sistem pemerintahan yang berdasarkan demokrasi dan
nasionalisme serta memajukan kehidupan masyarakat dalam bidang ekonomi dan
sosial. partai ini tidak jelas menganut asas kooperatif atau nonkooperatif.
Dengan berdirinya berbagai organisasi politik maka tuntutan untuk
memperoleh pemerintah sendiri disuarakan dengan lebih

nyata dan pasti.

Tuntutan ini telah memaksa pemerintah kolonial Belanda untuk membentuk


23
24

Ibid hal 43
Ibid hal 44

32

sebuah dewan rakyat. Pada tanggal 21 mei 1928 berdirilah sebuah dewan yang
dikenal dengan Volksraad. Dibentuknya volksraad hanyalah sebagai suatu usaha
pemerintah kolonial untuk memperlihatkan iktikad baiknya dalam mengatur
wilayah jajahannya. Walaupun demikian, organisai-organisasi yang ada tetap
mengambil kesempatan untuk berpartisiasi di dalamnya. Anggota Volksraad
adalah gabungan rakyat pribumi dan Belanda. Dalam perkembangan dalam
Volksraad terbentuklah Fraksi Nasional Indonesia (Frani) yang diketuai oleh
M.Husni Thamrin. Tujuan fraksi ini adalah menggapai kemerdekaan penuh untuk
Indonesia. Dengan adanya Volksraad organisasi-organisasi yang ada bisa berjuang
bersama-sama untuk mencapai Indonesia merdeka.

Usaha untuk itu terlihat

dengan dibentuknya Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Organisasi ini dibentuk


tahun 1939 yang merupakan gabungan Partai Indonesia Raya (Parindra), Gerakan
Rakyat Indonesia (Gerindo) dan Partai Syarekat Islam Indonesia (PSII).
Gabungan Politik Indonesia (GAPI) ini merupakan gabungan partai-partai yang
beraliran nasional dengan partai Islam yang tergabung dalam MIAI (Majelis
Islamil Alaa Indonesia) yang dibentuk pada tahun 1937. Gabungan partai-partai
politik ini akhirnya membentuk KRI ( Komite Rakyat Indonesia), akan tetapi pada
tahun 1941 dibentuk lagi MRI (Majelis Rakyat Indonesia) karena KRI dianggap
kurang aktif. Anggota MRI lebih terbuka, karena selain partai-partai politik,
anggotanya juga organisasi serikat pekerja dan organisasi non partai lainnya.
Pada tahun 1942, Belanda menyerah pada Jepang dalam PD II. Daerah
jajahan Belanda diduduki oleh Jepang termasuk Indonesia. Keadaaan ini
membawa perubahan terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisasi

33

pergerakan. Organisasi pergerakan mengalami kebuntuan bahkan kemunduran.


Organisasi tidak lagi dapat bergerak seperti pada zaman penjajahan Belanda.
Semua organisasi politik dibubarkan dan semua kegiatan-kegiatan politik
dilarang, yang secara otomatis Volksraad yang dibentuk Belanda pun turut
dibubarkan. Pada zaman Jepang hanya ada satu organisasi yang dibolehkan yaitu
organisasi Islam yang bernama Masyumi. Hali ini dilakukan Jepang karena
seluruh sumberdaya manusia dan sumberdaya alam dikerahkan untuk menunjang
perang Asia Timur Raya. Pada tahun 1944-1945, terlihat adanya tanda-tanda
kekalahan Jepang dalam PD II, maka Jepang dalam usaha mempertahankan
kekuasaannya dan menarik simpati bangsa Indonesia untuk ikut membantu Jepang
dalam perang maka Jepang membentuk BPUPKI (Badan Usaha Penyelidik
Kemerdekaan Indonesia). PBUPKI ini dibentuk pada tanggal 28 Mei 1945 yang
kemudian diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada
tanggal 9 Agustus 1945. Setelah Jepang menyerah pada Sekutu pada tanggal 15
Agustus 1945, maka Indonesia pun memproklamirkan kemerdekaannya pada
tanggal 17 Agustus 1945.

B. Terbentuknya Partai Politik dan Sistem Kepartaian


Dengan diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal
17 Agustus 1945 maka berdirilah negara Republik Indonesia. Tanggal 18 Agustus
1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melakukan sidang, dalam
sidang ini ditetapkan UUD 1945 sebagai UUD negara Indonesia dan menetapkan
Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs. M. Hatta sebagai wakil presiden. Dalam

34

sidang terakhir PPKI tanggal 22 Agustus 1945 diputuskan bahwa akan didirikan
sebuah partai politik sebagai alat perjuangan yakni Partai Nasional Indonesia
(PNI), yang oleh presiden Soekarno diharapkan dapat menjadi penggerak
perjuangan rakyat. Dalam sidang itu juga disepakatiakan dbentuknya sebuah
Komite Nasional. Komite ini langsung dibentuk dengan nama Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) sedangkan pembentukan PNI untuk sementara ditunda.
Keanggotaan KNIP diambil dari tokoh tokoh masyarakat dari berbagai golongan
dan daerah di Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 anggota KNIP dilantik di
Jakarta oleh presiden Soekarno. KNIP ini merupakan parlemen sementara dalam
negara Republik Indonesia.
Dalam perkembangannya, KNIP mengambil suatu tindakan menyangkut
partai politik. Gagasan utnuk mendirikan suatu partai tunggal (PNI) dianggap
beberapa kalangan berbau pasis (Jepang), untuk itu badan pekerja KNIP
mengusulkan pada pemerintah agar masyarakat diberi kesempatan untuk
mendirikan partai politik. Usul ini ternyata diterima oleh pemerintah yang
tertuang dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. Isi dari
maklumat itu menyatakan bahwa pemerintah menyukai dan setuju akan adanya
partai politik. Partai politik diharapkan bisa menjadi alat perjuangan untuk
mempertahankan kemerdekaan dan menjamin keamanan masyarakat. Dengan
adanya maklumat ini maka masyarakat mulai mendirikan partai politik seperti
Masyumi, PKI, Partai Buruh Indonesia (PBI), Partai Rakyat Jelata, Parkindo,
Partai Sosialis Indonesia, Paratai Rakyat Sosialis, Partai Katholik Republik
Indonesia (PKRI), Persatuan Rakyat Marhaens Indonesia dan Partai Nasional

35

Indonesia. Dengan banyaknya jumlah partai yang berdiri maka usaha untuk
mendirikan sebuah partai tunggal menjadi berakhir dan di Indonesia
berkembanglah sistem multi partai. Partai politik banyak memainkan peranan
dalam proses pembuatan keputusan. Wakil wakil partai duduk dalam KNIP dan
kabinet kebanyakan terdiri dari wakil partai.

36

BAB III
PERKEMBANGAN SISTEM KEPARTAIAN DI INDONESIA

A. Sistem Kepartaian Pada Awal Kemerdekaan (1945-1959)


Kemerdekaan adalah modal kuat sebuah bangsa dalam mencari identitas,
sesuai dengan yang dicita-citakan. Begitu pula dengan Indonesia yang
memperoleh kemerdekaan pada tanggai 17 Agustus 1945. Dengan demikian
bangsa Indonesia sudah bisa mengatur dan menciptakan pemerintahan sendiri.
Maka mulailah disusun dan dirumuskan dasar negara dan semua yang diperlukan
dalam sebuah negara merdeka dan berdaulat, termasuk partai politik. Munculnya
partai politik di Indonesia adalah karena adanya usulan yang diajukan oleh Badan
Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) yang pada waktu itu
berfungsi sebagai parlemen yang disampaikan pada pemerintah. Badan ini
mengusulkan agar pemerintah memberi kesempatan seluas-luasnya pada
masyarakat untuk mendirikan partai politik. Ternyata usulan badan ini mendapat
tanggapan baik oleh pemerintah, yaitu dengan keluarnya Maklumat Pemerintah
tanggal 3 November 1945. Dengan adanya maklumat ini berarti partai politik
mempunyai pegangan dan tempat yang kokoh untuk berdiri.25
Pembentukan partai politik adalah untuk menciptakan kehidupan yang
demokratis di negara Indonesia yang baru saja berdiri. Selain itu, karena negara
Indonesia baru berdiri maka anjuran mendirikan partai politik dan membentuk
sistem kepartaian adalah untuk mengontrol dan mengarahkan aliran-aliran yang
ada dalam masyarakat. Bangsa Indonesia terkelompok ke dalam beberapa aliran
25

Ibid hal 64

37

seperti nasionalis, Islam, Komunis, Sosialis dan aliran kristen. Dengan adanya
kebebasan mendirikan partai politik ini diharapkan masing-masing aliran ini bisa
tersalurkan secara teratur yaitu dengan jalan membentuk partai politik. Selain
untuk menyalurkan aliran-aliran yang ada dalam masyarakat, pembentukan partai
politik

juga

diharapkan

menjadi

alat

untuk

memperkuat

perjuangan

mempertahankan kemerdekaan.
Dengan adanya maklumat ini maka masyarakat pun mulai mendirikan
partai politik. Masyarakat yang sealiran bersama-sama mendirikan partai politik,
baik yang meneruskan partai politik yang sudah ada sebelumnya yaitu partai yang
sudah ada sebelum Indonesia maupu partai politik yang memang sama sekali baru
berdiri.
1. Masyumi
Didirikan di Jogyakarta pada tanggal 7 November tahun 1945. Pada awal
berdirinya partai ini berpusat di Jogya, namun setelah ibu kota negara Republik
Indonesia pindah ke Jakarta maka pusat partai ini pun pindah ke Jakarta.
Jogyakarta sebagai pusat Masyumi hanya sampai tanggal 1 Februari 1950. Partai
ini adalah partai yang berasaskan Islam yang bertujuan untuk menegakan
kedaulatan negara dan agama Islam serta melaksanakan cita-cita Islam dalam
urusan kenegaraan. Pimpinan partai ini kebanyakan adalah dari kaum agama, akan
tetapi sebagian lagi dari kaum intelektual dan berpendidikan. Pada masa
penjajahan Masyumi merupakan sebuah badan federatif perjuangan umat Islam
Indonesia yang beranggotakan semua organisasi umat Islam di Indoneisa yang

38

memegang peranan aktif dalam menggerakan rakyat dalam melawan penjajahan


Belanda.
2. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
Pada mulanya didirikan bersama Syarikat Dagang Islam (SDI). Pada tahun
1912 namanya diubah menjadi Syarikat Islam (SI) yang bergerak secara terangterangan dilapangan politik radikal yang diketuai oleh H. Oemar Said
Cokroaminoto. Adapun yang mendasari berdirinya partai ini adalah atas dasar
sosial, ekonomi, dasar politis dan kultural. Dasar tersebut bersendikan kepada
kekuatan agama Islam. Namun dalam perkembangannya terjadi pergeseran secara
radikal dalam keanggotaan yaitu golongan yang bersifat ekstrim (Komunis
Merah) dan golongan Islam radikal dan nasionalis. Sehingga golongan Islam
radikal dan nasional memisahkan diri. Sehingga pada tahun 1923 Si merah
memisahkan diri, dan pada tahun 1930 SI berubah nama menjadi Partai Syarikat
Islam Indonesia.
Meskipun terjadi perubahan nama, namun tidak menjadikan partai ini tetap
utuh. Hal ini terbukti pada tahun 1932 dan 1936 partai ini melebur diri dengan
mendirikan partai politik Islam baru, disamping PSI dengan nama PARII ( Partai
Islam Indonesia ) yang dipimpin Dr. Soekiman dan kawan-kawan, pada
pemisahan terakhir H Agus Salim mendirikan partai baru yang diberi nama
PENYEDAR, yang pada akhirnya muncul lagi Komite Pembela Kebenaran PSII
oleh Soekarmadjikartosoewirjo.

3. Pergerakan Tarbyah Islam ( PERTI )

39

Berdiri pada tanggal 20 Mei 1930 yang berpusat di Bukittinggi. Pendirinya


terdiri dari 5 orang, Yaitu Syekh Suleman Rasuly, Syekh M Djamil Djaho, Syekh
Akbar Ladang Laweh, Syekh A. Wahid Es Salihy dan Syekh Arifin Arsjady. Partai
ini berazazkan Islam, paham dalam Syariat dan ibadah menurut Mazhab Syafii
dan dalam lapangan akidah menurut mazhab Ahlussunnah Wal jamaah, dengan
tujuan Kalimatullah Hiyalulya ( ketinggian agama Islam) dalam arti yang luas
untuk mencapai tujuan ini maka PERTI bergerak di bidang :
1. Memperdalam rasa cinta terhadap agama, bangsa dan tanah air
2. Memperhebat penyiaran dan pertahanan agama Islam
3. Memepertahankan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia
4. Memajukan pengajaran, pendidikan dan kecerdasan pendidikan rakyat
5. Memajukan perekonomian edan mengusahajan kemakmuran rakyat
4. Partai Komunis Indonesia (PKI)
Partai ini merupakan lanjutan dari partai yang sudah ada pada masa
penjajahan. PKI pertama kali didirikan pada tanggal 23 Mei 1920. Setelah
mengalami pasang surut maka pada kongres yang berlangsung pada yanggal 1113 Januari 1947 di Surakarta, PKI kembali menunjukan eksistensinya. PKI
kembali muncul, partai ini berasaskan Marxisme-Leninisme. Tujuan PKI adalah
membentuk masyarak sosialis di Indonesia, Yaitu susunan masyarakat Indonesia,
dimana semua alat produksi dimiliki dan dipergunakan untuk kepentingan
masyarakat.
Dalam pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia, partai ini
mempunyai nama yang tidak baik dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

40

Hal ini terjadi karena partai ini pernah melakukan beberapa kali pemberontakan
terhadap pemerintah. PKI pertama kali melakukan pemeberontak pada tahun 1948
dan yang kedua pada tahun 1965 yaitu dengan adanya Gerakan 30 September.
Pemberontakan ini berhasil di padamkan oleh pemerintah dan PKI pun dinyatakan
sebagai partai terlarang di Indonesia.
5..Partai Sosialis Indonesia
Kapan berdirinya partai ini secara pasti tidak diketahui, namun partai
sosialis mulai nampak sejak tahun 1947. Partai ini berasaskan sosialis yang
disandarkan pada ajaran ilmu pengetahuan Marx Engels. Partai ini bertujuan
menciptakan masyarakat sosialis.
6. Partai Murba
Partai ini berasaskan anti fasisme, anti imperialis dan anti kapitalisme.
Partai Murba didirikan pada tanggal 7 November tahun 1948. Tujuan partai adalah
mempertahankan dan memperkokoh tegaknya kemerdekaan bagi republik dan
rakyat sesuai dengan dasar dan tujuan proklamasi 17 Agustus 1945 menuju
masyarakat sosialis.

7. Partai Indonesia Raya (Parindra)


Didirikan di Solo pada tanggal 25 Desember 1935. Akan tetapi pada masa
pendudukan Jepang dan agresi militer Belanda partai ini berdiam diri. Pada
pertengahan November tahun 1949 partai ini baru bangkit. Partai ini berasaskan
patriotisme, kerakyatan dan keadilan sosial.

41

8. Partai Nasional Indonesia (PNI)


Partai ini merupakan gabungan dari Serikat Rakyat Indoneisa, PNI Pati
dan Madiun, PNI Palembang, PNI Sulawesi, Partai Rakyat dan Partai Republik.
Partai ini resmi berdiri pada tanggal 29 Januari 1945. Ketua pertama PNI adalah
S. Mangoensarkoro. Partai ini merupakan partai yang besar pengaruhnya dalam
negara Indonesia. PNI pertama kali lahir pada tahun 1927 yang didirikan oleh
Soekarno.
9. Partai Banteng Republik Indonesia ( Partai Demokrasi Rakyat )
Didirikan berdasarkan keputusan kongres pada tanggal 25-26 Maret 1950
dengan azas sosialisme, demokrasi kemurbaan denga tujuan mempertahankan dan
menegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia merdeka, atas dasar proklamasi
kemerdekaan 17 Agustus 1945.
10. Partai Rakyat Nasional ( PRN )
Merupakan pecahan dari PNI, karena terjadi kemelut di tubuh PNI
akhirnya melahirkan PNI merdeka, yamh lahir 23 Juli 1950. Kemudian PNI
Merdeka meleburkan diri menjadi PRN, yang berazaskan paham kerakyatan
( Demokrasi, Paham Kebangsaan dan paham kekeluargaan )
11. Partai Wanita Rakyat
Didirikan pada tanggal 6 September 1946 atas inisiatif dari Ny. Sri
Mangoensarkoro, Ny. M.D Hadiprabowo dan Ny. Sri Umayati. Partai ini berasal
dari sebuah organisasi yang bernama Perwari yang didirikan pada tanggal 17

42

Desember 1945 di Klaten. Adapun azas dari partai ini adalah azas ketuhanan,
kebangsaan dan kerakyatan dengan tujuan untuk mencapai susunan masyarakat
yang sosialistis atas dasar prikemanusiaan yaqng berkebudayaan dan bertuhan.
Program

perjuangannya

meliputi

aspek

politik,

ekonomi,

budaya

dan

pertahannan-keamanan.
12. Partai Kebangsaan Indonesia ( PARKI )
Berdiri pada bulan januari 1949, pada awalnya partai ini merupakan suatu
organisasi lokal ( kedaerahan ). Yakni penguyuban Pasundan yang berdiri pada
tahun 1914, organisasi ini baru berkembang dalam politik kebangsaan Indonesia
( PPPKI ) maupun dalam Gabungan Politik Indonesia ( GAPI ).
13. Partai Kedaulatan Rakyat ( PKR )
Partai Kedaulatan Rakyat lahir di daerah yakni Sulawesi, yang didirikan
oleh Westerling pada tanggal 24 November 1946, pada awalnya bertujuan untuk
menuntut penjelmaan sulawesi khususnya daerah-daerah lain umumnya sebagai
daerah-daerah yang tidak terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
berdasarkan kedaulatan rakyat. Namun pada tahun 1948, tujuan ini berubah lagi
dan akhirnya disempurnakan kembali pada tahun 1949, sehingga menjadi lebih
sempurna disusul dengan perubahan berdasarkan kongres III pada tahun 1950.
Tujuan berdirinya partai ini adalah :
1. Menyempurnakan pemerintahan kerakyataan

43

2. Melaksanakan kerjasama dengan bangsa-bangsa lain atas dasar


persamaan hak untuk mewujudkan susunan masyarakat baru
berdasarkan prikemanusiaan dan keadilan sosial.
14. Syarikat Kerakyatan Indonesia ( SKI )
Berdiri pada tanggal 19 Januari 1946 di Banjarmasin. Pada awalnya partai
ini berasal dari Partai Persatuan Rakyat Indonesia ( PERI ) yang didirikan di kota
yang sama pada bulan September 1945. Partai ini didirikan untuk meneruskan
perjuangan mencapai kemerdekaan secara parlementer atau legal yang
disesuaikan dengan keadaaan. Sebagai sebuah Partai yang terisolir berada jauh
dari pusat pemerintahan tentu partai ini banyak mendapat tantangan yang harus
dihadapi sendiri. Partai ini berazaskan pancasila , priketuhanan, prikemanusiaan,
prikeadilan , prikebangsaaan dan prikerakyatan. Tujuannya adalah pembangunan
negara disegala lapangan masyarakat ( politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan
umumnya ), agar terwujud masyarakat yang adil, makmur dan sentosa masyarakat
dan warganya dapat hidup bebas dari kekurangan dan bebas dari rasa takut.

15. Partai Ikatan Nasional Indonesia


Didirikan di Balkpapan, yang dasar didirikannya adalah kedaulatan rakyat.
Tujuan didirikannya partai ini adalah menuju satu Indonesia merdeka dalam arti
pemerintah sendiri di atas dasar-dasar demokrasi, dengan melalui jalan nasional
dan internasional yang sah, dalam hal ini yang dijamin tidak saja kepentingan
materil tetapi juga kepentingan-kepentingan peradaban dari ikatan.

44

16. Partai Rakyat Jelata ( PRJ )


Didirikan pada tanggal 1 Oktober 1945 di Jakarta. Adapun tujuan didirikan
adalah:
1. Menunjang dan mempertahankan NKRI yang berkedaulatan rakyat
dengan segala kekuatan gerakan.
2. Menolak tiap-tiap penjajahan asing
Ide pendirian partai ini tidak terlepas dari gagasan Marheinisme Soekarno yang
secara langsung partai ini tak terlepas dari pengaruh sosialisme. Partai ini mampu
merangkul berbagai kalangan terlihat dari keanggotaannya berasal dari segala
jenis serikat kerja, tani dan pembela partai ini berupaya untuk meningkatkan taraf
hidup rakyat jelata yang diharapkan untuk menguasai pemerintahan sehingga
terjamin kesempurnaan hidup. Ini artinya bahwa partai ini mementingkan
kemakmuran masyarakat dan perdamaian.
17. Partai Tani Indonesia ( PTI )
Berdiri pada tangal 5 Desember 1945 di Purwakarta. Pada awalnya pusat
kegiatannya berada di daerah Jawa Barat. Azas dari partai ini adalah kebangsaan,
kerakyatan, keadilan, sosial/ekonomi. Tujuannya penentuan aliran politik negara
oleh rakyat petani melalui usaha disegala bidang, baik di dalam maupun di luar
parlemaen

dalam

batas-batas

yang

ditentukan

unadang-undang

negara.

Kegiatanya mencakup bidang politik , sosial dan ekonomi.


18. Perkumpulan Wanita Demokrat Indonesia
Azas dari pendirian partai ini sosial, nasional, demokrasi, sebagai
gabungan dari paham sosial nasional dan sosial demokrasi dengan tujuan :

45

1. Mempertahankan dan menegakan NKRI


2. Mewujudkan negara yang berdasarkan kedaulatan rakyat disusunan
negara yang sosialistis
19. Partai Buruh
Terdiri atas 2 yaitu partai buruh Indonesia dan partai buruh. Didirikan pada
akhir September 1948, pada saat meletusnya peristiwa Madiun. Partai ini
berazaskan

paham

demokrasi

dan

mengarahkan

perjuangannya

menuju

masyarakat sosialis. Dengan dasar perjuangan keinsyafan tentang pentingnya


kedudukan kelas buruh di dalam masyarakat.
Sedangkan partai buruh kendatipun sudah direncanakan pendiriannya
sejak tahun 1935 tapi baru terealisasikan pada tanggal 1 Mei 1950. Dengan azas
sosial demokrasi, dengan dasar perjuangan kesatuan aksi buruh yang teratur serta
bersifat progresif revolusioner, dalam rangka menuju arah masyarakat yang
demokrasitis dan sosialistis
Apabila kedua partai Buruh ini maka partai buruh merupakan partai yang
lebih memikirkan secara tegas tentang keberadaan kaum petani namun bersifat
sosialis.
20. Partai Indonesia Raya ( PIR )
Berdiri pada tanggal 10 Desember 1948. Partai ini didirikan berdasarkan
paham kebangsaan, kerakyatan dan prikemanusiaan, yang tujuannya:
1. Menyempurnakan dan mempertahankan kedaulatan bangsa dan NKRI
2. Mewujudkan suatu susuna negara demokratis yang meliputi seluruh
bangsa-bangsa tanah air Indonesia

46

3. mewujudkan keadilan sosial dan perkembangan budaya menurut bakat


rakyat sendiri dalam negara dan masyarakat Indonesia
4. Mempererat kerjasama dengan bangsa lain terutama bangsa-bangsa
yang mempunyai kepentingan dengan bangsa kita. Selanjutnya turut
serta memberi sumbangan untuk keselamatan dunia.
21. Persatuan Rakyat Marhein Indonesia ( PERMAI )
Berdiri pada tanggal 15-17 Desember 1945, kemudian dukukuhkan
melalui kongres I di Surakarta 26-27 April 1946. Partai ini berazaskan Pancasila
dan menentang semua kekuasaan yang sewenang-wenang, penindasan dan
pemerasan. Anti Facisme, imperialisme dan kapitalisme dengan dasar kerakyatan
yang disusun dan dipusatkan dalam kekuatan kekuasaan marhei yang bulat dan
satu ( Demokrasi Marheinisme Sentarlisme ).
22. Partai Demokrasi Tionghoa
Berdiri pada tanggal 23 Mei 1948 dengan tujuan :
1. Berjuang guna azas-azas demokrasi dan hak-hak perseorangan
2. Memperjuangkan realisme persamaan

hak-hak dan kewajiban-

kewajiban untuk tiap-tiap warga negara dengan tidak memandang


keturunannya, kebudayaan, adat istiadat maupun agama.

23. Partai Indo Nasional


Berdiri

pada

tanggal

Juli

1949.

Dasar

berdirinya

adalah

kewarganegaraan kesatuan kebamgsaan. Maksud pendiriannya membawa segala

47

orang Indo eropa yang menganggap Indo sebagai tanah airnya yang tunggal
bersama dengan yang lainnya setanah air kearah satu pergaulan hidup dalam
negara Indo yang berdaulat.
24. Nahdlatul Ulama ( NU )
Berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya. Pada awal berdirinya
disebut sebagai Jamiyah Nahdlatul Ulama. Belum merupkan partai politik.
Faktor utama yang mendorong berdirinya organisasi ini adalah :
1. Karena adanya rasa tanggungjawab yang besar dari para alim ulama
akan kemurnian serta keluhuran agama Islam, mengingat kuatnya
usaha Belanda untuk meruntuhkan potensi Islam untuk kepentingan
penjajahan dengan jalan infiltrasi keagamaan
2. Adanya rasa tanggungjawab yang besar dari para alim ulama sebagai
pemimpin umat sebagai penerus perjuangan pahlawan Islam
3. Adanya

rasa

tanggungjawab

alim

ulama

untuk

memelihara

ketentraman dan ketenangan bangsa Indonesia, dalam hal ini umat


Islam sebagai golongan mayoritas dan kebencian terhadap penjajah
25. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia ( IPKI )
Didirikan pada tanggal 20 Mei 1954. Tujuan didirikan partai ini adalah
untuk mengakhiri dan melenyapkan seluruh penderitaan rakyat lahir dan Bathin,
dan memberikan hikmat rohaniah dan jasmaniah, ketentraman dan kemakmuran,
menciptakan tata masyarakat Indonesia yag adil dan makmur sebagai penjelmaaan
pancasila dan jiwa proklamasi dan UUD 1945.

48

26. Partai Kristen Indonesia ( Parkindo )


Pada awal berdirinya partai ini bernama Partai Kristen Nasional ( PKN ).
Partai ini didirikan di Jakarta pada tanggal 18 November 1945. Pada waktu itu di
Sumatera juga berdiri Partai Kristen Indonesia ( PARKI ). Namun setelah
diadakan kongres pada tanggal 9 sampai 20 April 1947 di Prapat maka diperoleh
hasil bahwa masing-masing partai sepakat meleburkan diri sehingga melahirkan
Parkindo. Dengan berazazkan paham keKristenan maka partai ini memiliki tujuan
1. Mengusahakan dan memelihara keadilan
2. Turut mengusahakan terlaksananya persaudaraan bangsa-bangsa di dunia
27. Partai Katholik
Partai ini diawali dengan terbentuknya Pakempalan Politik Katholik Djawi
( PPKD ) yang tergabung dalam

IKP ( Indische Khatolieke Partij ) yaitu

gabungan perkumpulan katholik untuk kepentingan politik. Perkumpulan ini


beranggotakan orang-orang Belanda yang beragama Katholik. Pada tahun 1925
PPKD memisahkan diri dari IKP dan pada tanggal 22 Februari 1925 berdiri
sendiri sebagai partai politik.
28. Partai Rakyat Indonesia
Didirikan pada tanggal 20 Mei 1950 dengan berazazkan Pancasila dan
mendasarkan perjuangannya pada kekuatan rakyat yang sadar dan diorganisir
dengan tujuan :
1. Mempertahankan dan menegakkan kedaulatan negara kesatuan Republik
Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945

49

2. Mewujudkan susunan negara yang berdasarkan pancasila


3. Mencapai terlaksananya prikemanusiaan, ialah perdamaian dunia yang
abadi dan persahabatan antara bangsa-bangsa seluruh dunia atas dasar
kekeluargaan yang saling mengakui serta menghargai kemerdekaan dan
kedaulatan masing-masing.
Partai ini dibentuk dalam menyongsong pemilu 1955, pada awalnya
organisasi merupakan kumpulan pemilih yang memiliki inisiatif menghimpun
tenaga-tenaga pejuang kemerdekaan unutuk memperlopori perjuamgan rakyat
kembali untuk melanjutkan taraf lanjutan perjuangan setelah revolusi.
Jadi dengan adanya maklumat pemerintah melalui Maklumat Pemerintah tanggal
3 November 1945, maka mulailah di Indonesia bermunculan partai politik dari
berbagai aliran dan asas yang berbeda. Dengan adanya partai politik maka
Indonesia pun mulai mengenal mulai sistem kepartaian. Banyaknya jumlah partai
politik

yang terbentukt telah langsung membentuk suatu sistem kapartaian di

Indonesia yaitu sistem multi partai.26


Setelah kedaulatan negara Republik Indonesia diakui oleh dunia
internasional pada bulan Desember 1949, terutama setelah berlakunya UUDS
pada bulan Agustus 1950. Pertumbuhan dan perkembangan partai politik memang
terlihat nyata. Pada masa ini Indonesia tetap menganut sistem multi partai yang
ditandai dengan banyaknya jumlah partai politik. Banyaknya jumlah partai politik
mengakibatkan pemerintaha tidak stabil, kabinet sering berganti.27 Hal ini terjadi
karena adanya mosi tidak percaya dari lawan-lawan politiknya dan karena
26

Abdul Bari Azed dan Makmur Amir, 2005, Pemilu dan Partai Politik Di Indonesia, Pusat Studi
Hukum Tatanegara FH-UI, Jakarta Hal 106
27
Mahrus, Op Cit, hal 115

50

banyaknya jumlah partai politik mengakibatkan tidak adanya kekuatan yang


mayoritas dalam kabinet yang juga besar pengaruhnya untuk menjadikan kabinet
jatuh bangun. Perbedaan ideologi dalam masyarakat mengakibatkan banyaknya
muncul partai politik dan perbedaan ini mengakibatkan bangsa Indonesia menjadi
terkelompok dan terkotak-kotak menurut aliran dan ideologinya masing-masing
yang kemudian mendirikan partai yang sesuai dengan aliran mereka.
Banyaknya jumlah partai politik, menyebabkan pola kabinet Indonesia
adalah pola kabinet koalisi. Setelah kedaulatan negara Republik Indonesia diakui
oleh dunia inetrnasional pada bulan desember 1949 dan diberlakukannya UndangUndang Dasar Sementara (UUDS) pada bulan Agustus 1950, pola kabinet koalisi
tetap berjalan. Pada masa ini koalisi partai berkisar pada dua partai besar yaitu
Masyumi dan PNI. Kabinet pertama dan kedua dibawah UUDS 1950 dipimpin
Masyumi Kabinet partama ini dibentuk tanggal 6 September 1950 dan hanya
bertahan selama 7 bulan kemudian diganti dengan kabinet Sukiman yang dibentuk
tanggal 27 April 1951. Kabinet Sukiman diganti dengan kabinet Wilopo dari PNI
pada tanggal 3 April 1952 yang kemudian pada tanggal 30 Juli 1953 diganti
dengan kabinet Ali Sastroamidjojo yang masih dari PNI. Kabinet ini bertahan
sampai Agustus 1955. Kabinet Ali Sastroamidjojo diganti dengan kabinet
Burhanuddin Harahap. Pada masa kabinet ini berhasil dilangsungkan pemilu
Indonesia pertama. Pemilu Indonesia pertama dilangsungkan pada bulan
September tahun 1955.28 adalah pemilu multi partai yang diikuti oleh 28
kontestan. Pemilu pertama ini tidak menghasilkan pemenang tunggal karena hasil
pemilu didominasi oleh 4 partai besar yaitu PNI, PKI, NU dan Masyumi.
28

Op Cit, hal 80

51

Kegagalan menghasilkan pemenang tunggal ini menyebabkan jumlah partai di


parlemen menjadi lebih banyak dari jumlah partai sebelum dilakukan pemilu.
Kabinet pertama hasil pemilu 1955 dilantik pada tanggal 26 Maret 1956.
Kabinet ini adalah kabinet koalisi PNI dan Masyumi yang dipimpin oleh Ali
Sastroamidjojo. Kabinet koalisi dua partai besar ini bertahan sampai April 1957
dan diganti dengan kabinet Djuanda. Pimpinan kabinet ini bukanlah orang partai,
kabinetnya disebut Kabinet Kerja. Kabinet ini berakhir setelah Presiden Sookarno
mengeluarkan Dekrit pada tahun 1959 yang sekaligus berakhirnya periode
pemokrasi parlementer.
B. Sistem Kepartaian Pada Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Belajar dari

periode awal kemerdekaan dan demokrasi Parlementer,

dimana jumlah partai yang banyak menyebabkan tidak adanya kekuatan mayoritas
dalam parlemen. Dengan tidak adanya kekuatan mayoritas ini menyebabkan
pemerintahan tidak stabil dimana kabinet jatuh bangun dan berganti-ganti.
Melihat kenyataan ini maka pemerintah demokrasi terpimpin memandang perlu
adanya pengurangan jumlah partai politik. Pemerintah memandang kepartaian
hanya menjadi penyakit dalam masyarakat yang menyebabkan perpecahan. Partai
politik yang sebelumnya dibentuk dengan tujuan supaya aliran-aliran dalam
masyarakat bisa diarahkan secara teratur untuk memperkuat persatuan ternyata
yang terjadi sebaliknya. Banyaknya partai politik yang didasarkan pada aliran
dalam masyarakat telah menyebabkan bangsa Indonesia terpecah belah menurut
aliran-aliran yang ada. Partai politik tidak lagi mementingkan kepentingan

52

nasional akan tetapi hanya mementingkan kelompok dan alirannya masingmasing.


Pemerintah demokrasi terpimpin menilai keluarnya Maklumat Pemerintah
tanggal 3 November 1945 yang menganjurkan mendirikan partai politik
merupakan kesalahan besar yang harus diperbaiki. Pemilu pada tahun 1955 yang
diharap bisa menciptakan penyederhanaan dalam jumlah partai ternyata kurang
membawa hasil walaupun pemilu telah menghasilkan 4 partai besar yang
memperoleh suara cukup banyak yaitu PNI, Masyumi PKI dan NU. Karena
gagalnya pemilu menyederhanakan jumlah partai politik mengakibatkan
pemerintahan demokrasi terpimpin mengambil kebijakan untuk mengurangi
jumlah partai.
Pengurangan jumlah partai ini mengakibatkan pada masa demokrasi
terpimpin jumlah partai politik lebih sedikit dibandingkan jumlah partai pada
waktu sebelumnya.Dalam usaha mengurangi jumlah partai ini, pemerintah
mencabut Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 tentang anjuran
mendirikan partai dana menggantinya dengan Penetapan Presiden No 7/1957.
Dalam penetapan Presiden ini ditetapkan syarat-syarat yang harus di penuhi oleh
partai politik supaya keberadaannya diakui oleh pemerintah. Selanjutnya keluar
pula Penetapan Presiden (PenPres) No 13 Tahun 1960. Penpres ini mengatur
pengakuan dan pengawasan dan pembubaran partai politik. Inti dari Penpres ini
adalah semua partai politik yang ada harus sesuai dan sejalan dengan ideologi
demokrasi terpimpin yaitu Nasakom.29 Dengan adanya ketentuan ideologi partai
ini maka semua partai yang menolak atau bertentangan dengan nasakom akan
29

Op Cit, hal 116

53

dibubarkan oleh pemerintah. Masyumi dan PSI adalah partai yang menolak
Penpres ini, dan konsekwensi dari penolakan itu adalah pembubaran terhadap
Masyumi dan PSI. Karena adanya Penetapan Presiden dalam usaha mengurangi
jumlah partai politik maka jumlah partai politik pada masa ini hanya 10 buah
yaitu PKI, NU, PNI, PSII, Parkindo, Partai Katholik, Perti, Partindo, dan
Murba30..Partai Murba juga termasuk partai yang dibubarkan pemerintah. Partai
ini dibubarkan pemerintah karena partai ini dianggap sebagai golongan Marxis
yang telah menyeleweng. Walaupun pada masa ini terjadi pengurangan jumlah
partai politik akan tetapi Demokrasi terpimpin tetap ditopang oleh sistem multi
partai.
C. Sistem Kepartaian Pada Masa Orde Baru (1965-1998)
Periode Demokrasi Terpimpin berakhir setelah adanya pemberontakan G30-S/PKI. demokrasi terpimpin diganti oleh rezim yang dikenal dengan Orde
Baru. Pergantian ini membawa perubahan pada sistem kapartaian di Indonesia,
beberapa partai politik dibubarkan dan ada juga partai yang namanya
direhabilitasi serta pembentukan partai baru. PKI yang melakukan pemberontakan
dibubarkan, pembubaran partai ini didasarkan pada TAP MPRS No XXV Tahun
1966 dan PKI dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia. Pembubaran PKI
juga berimbas pada Partindo, partai ini mempunyai hubungan baik dengan PKI
dan dicurigai membantu PKI dalam melakukan pemberontakan sehingga partai ini
pun dibekukan pada tahun 1966. Sementara itu partai Murba yang dibubarkan
pada masa demokrasi terpimpin kembali berdiri dan namanya kembali
30

Ibid

54

direhabilitasi. Rehabilitasi partai Murba ini terjadi pada bulan Oktober tahun
1966. Pada tanggal 20 Februari 1968 sebuah partai baru didirikan yaitu Partai
Muslim Indonesia (Parmusi).31
Pada awal Orde Baru, masalah partai politik merupakan masalah yang
banyak diperdebatkan. Perdebatan ini menyangkut perlu atau tidak merombak
struktur politik dan menyederhanakan jumlah partai politik.. Pada masa ini partai
politik banyak mendapat kecaman dari masyarakat. Hal ini terjadi karena karena
partai politik dianggap memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Partai politik hanya mementingkan kepentingan dan ideologinya masing-masing.
Partai politik dipandang sebagai pengganggu stabilitas, untuk itu pemerintah orde
baru memandang perlu adanya usaha untuk mengurangi dan penataan terhadap
partai politik. Pemerintah Orde Baru menginginkan sistem kepartaian yang
ramping dengan jumlah partai yang terbatas. Walaupun ada usaha dari pemerintah,
namun tidaklah bisa cepat terwujud hal ini terlihat ketika dilangsungkan pemilu
tahun 1971 yang tetap diikuti oleh banyak partai yaitu 10 buah. Pemilu tahun
1971 merupakan pemilu ke-2 di Indonesia dan pertama pada masa Orde Baru.
Pemilu ini diikuti oleh PSII, Murba, PNI, NU, Parmusi, Partai Katholik, Golkar,
Parkindo, Perti, IPKI.32
Usaha untuk mengurang jumlah partai politik terlihat dengan adanya
program fusi pada tahun 1973. Progam fusi juga merupakan bentuk penataan
pemerintahan terhadap partai politik dan usaha untuk mencitakan sistem
kepartaian yang ramping. Fusi dilakukan terhadap semua peserta pemilu 1971
31
32

Rusli Karim, Op Cit, hal 157


Ibid hal 167

55

kecuali Golongan Karya. PNI, Partai katholik, Parkindo, IPKI,

dan Murba

digabungkan menjadi satu partai pada tanggal 9 Maret 1973. Penggabungan ini
membentuk satu partai yang bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Kemudian pada tanggal 13 Maret 1973, Parmusi, NU, PSII dan perti pun
digabung menjadi satu. Penggabungan dari beberapa partai Islam ini
menghasilkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).33
Selama 32 tahun pemerintahan Orde Baru berhasil dilakukan pemilu
sebanyak enam kali
1. Pemilu tanggal 3 Juli 1971
Pemilu pertama pada pemerintahan Orde Baru ini diikuti oleh 10
kontestan., Partai Katholik, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Nahdathul
Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Golongan Karya (Golkar),
Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Murba, PNI, Pergerakan Tarbiyah Islamiah
(Perti) dan Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Dalam pemilu kali
ini jumlah pemilih yang terdaftar sebanyak 58.558.542 orang dan suara yang sah
setelah pemilu dilaksanakan berjumlah 54.669.509. Dari hasil perolehan suara
dalam pemilu Golkar memperoleh suara terbanyak yaitu 34.348.713 suara, disusul
kemudian NU sebanyak 10.213.650 suara, Parmusi 2.930.746 suara, PNI
2.793.266 suara, PSII 1. 308.237 suara, Parkindo 733.359 suara, Partai katholitk
603.740 suara, Perti 381. 309 suara sedangkan IPKI dan Murba memperoleh suara
masing-masing 388 dan 48.126 suara.
2. Pemilu tanggal 2 Mei 1977

33

Mahrus, Op Cit, hal 118

56

Dalam jumlah peserta pemilu, pemuli tahun 1977 berbeda dengan pemilu
tahun 1971. Pemilu tahun 1977 hanya diikuti oleh 3 kontestan yaitu Partai
Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi
Indonesia (PDI). Sedikitnya jumlah peserta pemilu kali ini adalah konsekwensi
dari adanya program fusi terhadap partai-partai peserta pemilu tahun 1971. Pada
pemilu 1977 terjadi perubahan unadang-undang yang mengatur pemilu yaitu
undang-undang No 15 tahun 1969 diganti dengan undang-undang No 4 tahun
1975. Perubahan ini menegaskan bahwa yang berhak mengikuti pemilu hanya 2
partai politik dan Golongan karya. Jumlah pemilih pada pemilu tahun 1977 ini
adalah 70.378.750 jiwa sedangkan suara yang sah setelah pemilu dilaksanakan
adalah 63.998.344 suara atau 93,93%. Dari jumlah suara yang sah ini Golkar
memperoleh

sebanyak

39.

749.835

suara

(62,11%),

Partai

Persatuan

Pembangunan memperoleh sebanyak 18.745.565 suara sedangkan Partai


Demokrasi Indonesia memperoleh suara sebanyak 5.504.757 suara.
3. Pemilu tanggal 4 Mei tahun 1982
Landasan hukum pemilu 1982 adalah undang-undang No 2 tahun 1980
tentang pemilu. Sistem pemilu yang digunakan adalah sistem pemilihan
proporsional. Jumlah pemilih pada pemilu kali ini adalah 82.134.195 orang
dengan jumlah suara yang sah sebanyak 75.126.306 suara.
4. Pemilu tahun 1987
Pemilu tahun 1987 ini berlandaskan pada undang-undang No 1 tahun 1985
tentang pemilu. Sistem pemilu yang digunakan tidak berbeda dengan sistem
pemilu sebelumnya yaitu sistem proporsional. Pada pemilu kali ini undang-

57

undang Partai Politik dan Golongan Karya adalah UU No 3 Tahun 1985. Dengan
adanya undang-undang ini pluralisme politik tidak ada lagi. Golkar, PPP dan DI
tidak dibolehkan lagi memiliki azaz sendiri tapi diharuskan untuk memakai azaz
yang sama yakni Pancasila. Pada pemilu kali ini terjadi perubahan susunan dan
kedudukan jumlah anggota DPR. Pada pemilu sebelumnya berjumlah 360 orang,
pada pemilu tahun 1987 bertambah menjadi 400 orang dan diangkat 100 orang
( diangkat dari anggota ABRI). Pada pemilu ini juga mengharuskan PPP untuk
mengubah tanda gambarnya dari kabah menjadi Bintang karena tidak dibolehkan
lagi memakai tanda gambar yang lama. Hal ini dimaksidkan untuk menghindari
adanya politisasi agama. Jumlah pemilih pada pemilu kali ini adalah 93.737.633
orang denga suara yang sah sebanyak 85.869.816 suara. Golkar memperoleh
62.783.680 suara, PPP memperoleh 13.701.428 suara dan PDI memperoleh
9.384.708 suara.
5. Pemilu tahun 1992
Dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 1992 dengan landasan hukum yang
sama dengan pemilu tahun 1987 yaitu UU No 1 Tahun 1985 tentang pemilu.
Meskipun tidak ada perubahan dari segi undang-undang dari pemilu tahun 1987,
namun disisi lain bagi calon anggota DPR diperiksa secara khusus melalui
penelitian khusus (Litsus). Jumlah pemilih pada pemilu yang terdaftar adalah
107.565.697 orang

dengan suara yang sah sebanyak 97.789.534 suara. Pada

pemilu kali ini jumlah anggota DPR yang akan dipilih sama dengan jumlah pada
pemilu sebelumnya. Dari semua suara yang sah Golkar memperoleh sebanyak

58

66.599.331 suara, PPP memperoleh sebanyak 16.624.647 suara dan PDI meraih
14.565.556 suara.
6. Pemilu 1997
Diselenggarakan pada tanggal 29 Mei 1997. Landasan dan sistem pemilu
yang digunakan tidak mengalami perubahan dari pemilu sebelumnya. Namun
yang berbeda adalah jumlah anggota DPR yang akan dipilih. Pemilu kali ini
jumlah anggota DPR yang akan dipilih mengalami penambahan sebanyak 25
orang dengan demikian jumlah anggota DPR yang akan dipilih menjadi 425
orang. Hal ini terjadi karena adanya perubahan undang-undang tentang susunan
dan kedudukan anggota DPR. Dengan undang-undang No5 tahun 1995 yang
klausalnya khusus mengurangi jumlah kursi ABRI di DPR, hal ini dilakukan
untuk mengurangi kritik terhadap ABRI yang dianggap represif dan terlalu
mengedepankan peran politiknya. Pemilih pada pemilu ini adalah 124.740.987
orang dengan suara yang sah sebamyak 112.991.150 suara. Golkar meraih
84.187.907 suara, PPP meraih 25.340.018 suara dan PDI meraih 3.463.225 suara.

D. Sistem Kepartaian Era Reformasi (1998-2004)


Rezim Orde Baru yang berkuasa semenjak tahun 1965 hanya bertahan
selama 32 tahun. Pada tanggal 21 Mei 1998 kekuasaan rezim ini berakhir.
Jatuhnya kekuasaan rezim Orde Baru ditandai dengan mengundurkan dirinya
Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia. Suharto digantikan oleh BJ
Habibie yang sebelumnya adalah wakil presiden. Runtuhnya rezim Orde Baru
adalah karena banyaknya tuntutan dari rakyat yang menginginkan adanya

59

reformasi di Indonesia dan penolakan terhadap status Soeharto sebagai presiden.


Rakyat menginginkan reformasi disegala bidang dan Presiden Soeharto diganti
serta pelaksanaan pemilu dipercepat.Berakhirnya Orde baru digantikan dengan
apa yang dikenal dengan era reformasi.
Jatuhnya kekuasaan Orde Baru membawa perubahan bagi perpolitikan
tanah air. Presiden yang sebelumnya dijabat oleh Soeharto sekarang dijabat oleh B
J. Habibie. Perubahan yang menyangkut partai politik dan sistem kepartaian juga
terjadi. Presiden memberi kebebasan bagi masyarakat untuk membentuk atau
mendirikan partai politik. Kesmpatan dan kebebasan untuk mendirikan partai
politik ini disampaikan presiden pada waktu menyampaikan keterangan
pemerintah tentang RAPBN 1999/2000 pada sidang DPR tanggal 5 Januari 1999.
Pada kesempatan ini Habibie menyatakan bahwa kebebasan dan kesempatan
untuk mendirikan partai politik merupakan respon pemerintah terhadap luas dan
gencarnya tuntutan rakyat akan kebebasan politik. Tumbuh dan berkembangnya
partai politik diharapkan bisa menghasilkan sistem multi partai dan era reformasi
harus bisa mencegah kembalinya sistem kekuasaan otoriter.34
Kebebasan mendirikan partai politik tentu saja harus punya ketentuan dan
aturan, untuk perlu adanya suatu undang-undang yang mengatur. Sebelumnya,
undang-undang yang mengatur masalah kepartaian di Indonesia adalah UU No 3
Tahun 1985 tentang partai politik dan Golongan Karya. Namun setelah adanya
kebebasan mendirikan partai politik, undang ini tidak lagi sesuai dengan kepartain
di Indonesia.UU No 3 Tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya
diganti dengan UU No 2 Tahun 1999 Tentang Partai Politik. UU No 2 Tahun 1999
34

Mahendra dan Soekedy, Op Cit, hal 86

60

ini disahkan pada tanggal 1 Februari 1999.35 Undang-undang baru ini tidak
membatasi jumlah partai politik yang dibentuk dan pihak-pihak yang berada
diluar partai dilarang campurtangan dalam urusan rumah tangga sebuah partai
politik. Kebebasan mendirikan partai politik merupakan pencerminan dari
kebebasan warga negara untuk berkumpul dan berserikat serta mengeluarkan
pendapat sesuai dengan konstitusi. Keluarnya UU NO 2 Tahun 1999 adalah untuk
memberi landasan hukum yang lebih baik bagi tumbuh dan berkembangnya partai
politik.
Adanya UU No 2 Tahun 1999 yang memberikan kesempatan dan kebeasan
untuk mendirikan paratai politik maka gairah dan semangat rakyat Indonesia
untuk membentuk atau mendirikan sebuah partai politik sangatlah tinggi. Rakyat
mulai mendirikan partai politik, dari semua partai poltik yang didirkan hanya 237
partai yang sah menurut UU No 2 Tahun 1999. Dari 237 partai yangs sah hanya
141 partai politik yang memenuhi parsyaratan untuk didaftarkan di Departemen
Kehakiman Dan HAM. Akan tetapi dari 141 partai ini hanya 48 partai yang
berhak ikut dalam pemilu tahun 1999. Pemilu ini adalah pemilu yang dipercepat
yang diselenggarakan pada asa pemerintahan BJ Habibie yang menjabat presiden
pengganti presiden Suharto yang mengundurkan diri pada tanggal 21 mei 1998.
Pada pemilu tahun 1999 jumlah pemilih adalah 116.254.217 orang. Suara yang
sah akan diperebutkan oleh 48 partai politik. Setelah pemilu akhirnya sejarah
mencata bahwa PDI-P memperoleh suara terbanyak yaitu 33,8% suara. Dalam
lima besar, PDI-P berturut-turut disusul oleh Golkar 22,5% , Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB) 12,6%, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 10,7 %, dan PAN
35

Ibid hal 86-87

61

sebanyak 7,1 %. Dibawah lima besar terdapat partai yang memperoleh suara
dibawah 2% yaitu PBB, PK, PKP. Kemudian disusul oleh partai-partai yang
memperoleh suara dibawah 1% yaitu PNU, PDI, PP, PDKB, PDR, PSII, PNI-FM,
PBI, PNI-MM, IPKI dan PKU dengan perolehan antara 0,64% sampai 0,28%.
Berdasarkan ketentuan dalam UU No 2 Tahun 1999 maka kepartaian di
ndonesia menganut sistem multi partai yang ditandai dengan banyaknya jumlah
partai politik yang ambil bagian dalam pemilu 1999. Sistem multi partai yang
dianut UU No 2 tahun 1999 memiliki dampak positif dan negatif. Dampak
positifnya terlihat bahwa rakyat benar-benar menikmati iklim keterbukaan dan
kebebasan politik. Negatifnya adalah banyaknya partai politik baru yang muncul,
hal ini mengakibatkan partai-partai itu kurang mengakar ditengah-tengah
masyarakat. Kurang mendapat tempatnya partai-partai politik pada masyarakat
terlihat ketika pemilu 1999 dilangsungkan. Dari 48 partai peserta pamilu hanya 21
partai yang mnempatkan wakilnya di DPR sedangkan 27 partai yang lain tidak
memperoleh kursi di DPR.
Dalam perkembangan sistem kepartaian Indonesia UU No 2 Tahun 1999
yang mengatur partai politik juga mengalami perubahan.UU ini diganti dengan
UU NO 31 Tahun 2002.36 Walaupun mengalami perubahan namun undang-undang
ini tetap menganut sistem multi partai. Akan tetapi dalam undang-undang yang
baru ini syarat mendirikan sebuah partai politik lebih ketat dan lebih berat
dibandingkan undang-undang sebelumnya. Dalam undang-undang ini sebuah
partai politik dapat didrikan warga negara Indonesia minimal berjumlah 50 orang
dan sudah berusia 21 tahun. Partai politik yang dibentuk itu harus mempunyai
36

Ibid

62

kepengurusan sekurang-kurangnya 50% dari jumlah provinsi yang ada di


Indonesia. Dari jumlah provinsi itu, partai politik tadi juga harus punya
kepengurusan di kabupaten/kota minimal 50% untuk setiap provinsi yang ada.
Selanjutnya juga harus punya kepengurusan 25% dari jumlah kecamatan pada
setiap kabupaten/kota yang bersangkutan.37 Persyaratan yang harus dipenuhi
untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan UU NO 31 Tahun 2002 dan untuk
mendirikan partai baru memang terasa berat. Namun hal ini merupakan salah satu
cara untuk membatasi jumlah partai politik agar rasional dan membentuk partai
politik yang sehat dan mandiri dalam rangka membangun sistem multi partai.
Selain itu persyaratan ini juga dimaksudkan agar partai-partai politik yang lahir
mempunyai struktur organisasi yang menyebar luas sampai pada tingkat
kecamatan, memiliki dukungan yang riil serta mempunyai kantor tetap dan jelas.
Dengan adanya ketentuan dan persyaratan pembentukan partai politik
berdasarkan UU No 31 Tahun 2002, terdapat 122 partai politik yang mendaftar
atau mendaftar ulang di Departemen Kehakiman dan HAM. Dari 122 partai
politik yang mendaftar hanya 84 partai yang memenuhi persyaratan untuk
diverifikasi. Setelah verifikasi partai politik selesai hanya 50 partai politik yang
disahkan sebagai badan hukum dan hanya 24 partai yang berhak ikut pemilu
2004.38 .Pemilu ini dilaksanakan berlandaskan UUD 1945 perubahan ketiga, pasal
22 E ayat 2 yang menyatakan bahwa pemilu diselenggarakan untuk memilih
anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden. Pada pemilu 2004 Golkar
memperoleh suara terbanya yaitu 24.480.757 suara atau 21,58% dari 113.462.414
37
38

Lihat UU No 31 Tahun 2002 pasal 2 ayat 3


Op Cit hal 129

63

suara yang sah. Dalam lima besar berturut-turut disusul oleh PDI-P 18,53%, PKB
10,37%, PPP 8,15% dan Partai Demokrat 7,45%. Kemudian disusul oleh PKS
7,34%, Partai Amanat Nasional 6,44%. Selanjutnya terdaoat 4 partai yang
memperoleh suara dibawah 3% yaitu PBB 2,62%, PKPB 2,11%, PBR 2,44%,
PDS 2,13%.Sedangkan 13 partai berukutyan meraih suara dibawah 2% yaitu PNI,
PBSD, Partai Merdeka, PPDK, PPIB, PNBK, PKPI, PPDI, PPNUI, Partai Patriot
Pancasila, PSI, PPD, dan Partai Pelopor.
Adanya UU No 2 Tahun 1999 yang kemudian diganti dengan UU No 31
Tahun 2002 memang telah memberikan kesempatan dan kebebasan bagi rakyat
untuk bisa membentuk atau mendirikan partai politik. Rakyat bisa mendirikan
partai politik yang sesuai dengan aliran dan fahamnya masing-masing. Kebebasan
dalam mendirikan partai politik ini tentu saja harus sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan dalam UU No 2 Tahun 1999 dan
UU No 31 Tahun 2002 telah membawa perkembangan dalam sistem kepartaian di
Indonesia. Sistem multi partai yang dianut Indonesia berbeda dengan multi partai
pada masa orde baru. Hal ini dapat dilihat pada pemilu tahun 1999 yang diikuti
oleh 48 partai politik dan pemilu 2004 yang diikuti oleh 24 partai politik.

E. Campurtangan Pemerintah Dalam Perkembangan Sistem Kepartaian


Semenjak terbentuknya sistem kepartaian Indonesia pada tahun 1945
sampai tahun 2004, sistem kepartaian ini selalu mengalami perkembangan.
Terjadinya perkembangan ini adalah karena adanya campurtangan pemerintah
melalui aturan-aturan yang dikeluarkannya.

64

1. Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945


Terbentuknya sisten kepartaian di Indonesia berawal dari muncul dan
terbentuknya partai politik. Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus
1945, dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indoneisa (PPKI) diputuskan
akan didirikannya sebuah partai tunggal yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI)
yang nantinya diharapkan bisa menjadi penggerak perjuangan rakyat. Namun
ketika terbentuk Komite Nasional Indomesia Pusat (KNIP), ide untuk mendirikan
partai tunggal ini jadi tidak terlaksana. KNIP yang pada awal kemerdekaan
merupakan

parlemen

sementara

Republik

Indonesia

mengusulkan

pada

pemerintah agar menganjurkan dan memberi kebebasan serta kesempatan pada


masyarakat untuk mendirikan partai politik. Usulan KNIP ternyata direspon baik
oleh pemerintah dan keluarlah maklumat pemerintah yang menganjurkan
masyarakat untuk mendirikan partai politik. Anjuran pemerintah ini tertuang
dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3November 1945. Dengan adanya maklumat
ini maka mulailah terbentuk partai politik, Indonesia menganut sistem multi partai
yang ditandai dengan banyaknya jumlah partai politik.

2. Penetapan Presiden No 7/1959 dan Penetapan Presiden No 13 Tahun 1960


Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945, berhasil membangkitkan
semangat bangsa Indonesia untuk mendirikan partai politik sehingga di Indonesia
terdapat banyak partai politik. Banyaknya jumlah partai ini terlihat pada pemilu
tahun 1955 yang diikuti oleh 29 kontestan. Jumlah partai yang banyak

65

mengakibatkan tidak adanya kekuatan mayoritas di dalam parlemen, kabinet jatuh


bangun tidak ada yang bisa bertahan lama. Pemerintah menilai bahwa partai yang
banyak ini adalah penyebab terganggunya stabilitas politik, untuk itu jumlah
partai perlu dikurangi. Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 tentang
anjuran mendirikan partai dicabut. Presiden mengeluarkan Penetapan Presiden
(PenPres) No 7/1959 tentang pengurangan jumlah partai. Melalui PenPres ini
ditetapkan syarat yang harus dipenuhi partai politik agar bisa diakui oleh
pemerintah. Usaha untuk mengurangi jumlah partai ini juga terlihat denga
keluarnya Penetapan Presiden No 13 Tahun 1960. Inti PenPres ini adalah partai
politik yang ada harus sesuai dengan demokrasi terpimpin yaitu Nasakom. Partai
yang menolak ideologi ini dibubarkan oleh presiden. Dengan adanya dua
penetapan presiden ini, jumlah partai yang ada pada masa demokrasi terpimpin
hanya 10 buah.

3. Program Fusi Tahun 1973.


Berakhirnya periode demokrasi terpimpin memunculkan apa yang dikenal
dengan orde baru. Pada masa ini campurtangan pemerintah dalam perkembangan
sistem kepartaian terlihat dengan pembubaran dan pembekuan serta pembentukan
partai politik. Partai komunis Indonesia (PKI) yang melakukan pemberontakan
pada tahun 1965 dibubarkan oleh pemerintah orde baru dan PKI dinyatakan
sebagai partai terlarabg di Indonesia. Partai Tani Indonesia (Partindo) juga
dibekukan oleh pemerintah karena dianggap mempunyai hubungan yang erat
dengan PKI. Pada tahun 1966, pemerintah merehabilitasi Partai Murba, yang

66

mana partai ini pada masa demokrasi terpimpin dibubarkan karena dianggap
sebagai golongan Marxis yang telah menyeleweng. Dalam usaha menggabungkan
organisasi-organisasi Islam, pada tahun 1968 pemerintah mendirikan Partai
Muslimin Indonesia (Parmusi). Pada awal orde baru terdapat 10 partai politik
yang terlihat pada Pemilu tahun 1971 yang diikuti oleh 10 kontestan yaitu
Golongan Karya, NU, Parmusi, PNI, PSII, Parkindo, Partai Katholik, IPKI dan
Partai Murba.
Setelah pemilu 1971 yaitu pada tahun 1973 pemerintah mengambil suatu
kebijakan untuk mengurangi jumlah partai politik melalui program fusi.
Pengurangan jumlah partai ini lebih dimaksudkan untuk menciptakan stabilitas
dan persatuan. Pemerintah orde baru melihat pada masa lalu bahwa jumlah partai
yang banyak menyebabkan pemerintahan tidak stabil dan hanya memecah belah
bangsa Indoneia, Bangsa Indonesia akan terkotak-kotak dengan partai dan
alirannya masing-masing.Dan partai hanya mendahulukan kepentingannya
masing-masing. Untuk itu pemerintah menginginkan jumlah partai yang terbatas.
Dari 10 partai yang ada, PNI, Partai Katholik, Parkindo, IPKI dan Partai murba
pada tanggal 9 Maret 1973 digabung membentuk Partai Demokrasi Indonesia
(PDI). Pada tanggal 13 Maret 1973, Parmusi, NU, PSII dan Perti digabung
membentu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sedangkan Golongan Karya
tidak digabung tapi berdiri sendiri. Dengan adanya penggabungan partai ini maka
pemilu-pemilu orde baru mulai pemilu tahu 1977 sampai 1997 hanya diikuti oleh
3 kontestan.

67

4. Undang-Undang No 2 Tahun 1999 Tentang Partai Politik


Berakhirnya kekuasaan rezim orde baru, yang ditandai dengan
pengunduran diri Suharto sebagai presiden pada tanggal 21 Mei 1998 telah
mempengaruhi sistem kepartaian Indonesia. Sistem multi partai pada masa orde
baru hanya terdapat 3partai politik. Tetapi sistem multi partai di era reformasi
ditandai dengan jumlah partai yang banyak. Habibie yang menggantikan Soeharto
sebagai presiden mengumumkan suatu kebujakan dimana masyarakat diberi
kesempatan dan kebebasan untuk mendirikan partai politik. Kesempatan dan
kebebasan ini tertuang dalam Undang-Undang No 2 Tahun 1999. Menurut
undang-undang ini partai politik bisa dibentuk oleh warga negara Indonesia
sekurang-kurangnya 50 orang yang telah berusia 21 tahun. Dengan adanya
undang-undang ini maka mulai muncul partai politik baru sehingga di Indonesia
terdapat banyak partai politik seperti yang terlihat pada pemilu 1999 yang diikuti
oleh 48 partai politik.

5. Undang-Undang N0 31 Tahun 2002 Tentang Partai politik.


Dalam undang-undang yang baru ini, persyaratan untuk mendirikan partai
politik lebih berat dari ketentuan yang ada dalam UU No 2 Tahun 1999. Menurut
UU No 31 Tahun 2002, partai politik bisa dibentuk oleh warga negara Indonesia
sekurang-kurangnya 50 orang yang telah berusia 21 tahun. Partai politik harus
punya kepengurusan di 50% provinsi yang ada, di 50% kabupaten/kota yang ada
di provinsi yang bersangkutan dan di 25% kecamatan yang ada di kabupaten/kota
yang bersangkutan. Dengan UU yang baru ini jumlah partai politik yang ada

68

tidaklah sebanyak pemilu 1999, ketika pemilu dilaksanakan pada tahun 2004
hanya diikuti oleh 24 partai politik.

69

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Indonesia mulai mengenal sistem kepartaian setelah memperoleh
kemerdekaan pada tahun 1945. Dalam sebuah negara, sistem kepartaian
hanya dikenal apabila pada negara yang bersangkutan ada partai politik.
Setelah Indonesia merdeka, partai politik mulai tumbuh setelah adanya
Maklumat Pemerintah Tanggal 3 November 1945 tentang anjuran
pemerintah untuk mendirikan partai politik. Dengan adanya maklumat
ini maka masyarakatpun mulai mendirikan partai politik dan
Indonesiapun mulai mengenal sistem kepartaian.
2. Sepanjang sejarah sistem kepartaian di Indonesia yang mulai terbentuk
tahun 1945 sampai tahun 2004, Indonesia tetap menganut satu sistem
kepartaian yaitu sistem multipartai. Walaupun begitu, sistem kepartaian
yang dianut Indonesia ini senantiasa mengalami perkembangan.
Perkembangan in terlihat dari komposisi partai politik yang tidak sama.
Perkembangna ini terjadi karena adanya campurtangan pemerintah
melalui aturan-aturan yang dikeluarkan pemerintah.Campurtangan
pemerintah dalam perkembangan sistem kepartaian sudah terlihat dari
mulai terbentuknya sistem kepartaian itu sendiri yaitu adanya Maklumat
Pemerintah tanggal 3 November tahun 1945 yang menganjurkan
masyarakat untuk mendirikan partai politik yang merupakan langkah
awal terbentuknya sistem kepartaian. Kemudian pada masa demokrasi

70

terpimpin pemerintah mencabut Maklumat Pemerintah tanggal 3


November tahun 1945 dan mengeluarkan Penetapan Presiden No7/1959
dan No 13 Tahun 1960. Tujuan dikeluarkannya penetapan ini adalah
untuk mengurangi jumlah partai politik sehingga pada waktu itu jumlah
partai politik hanya 10 buah. Pembatasan jumlah partai politik juga
terjadi pada masa orde baru yaitu dengan adanya program fusi pada
tahun 1973, pada waktu partai politik yang ada digabung sehingga pada
masa orde baru hanya ada PDI, PPP dan Golkar.Selanjutnya setelah
rezim orde baru berakhir pemerintah kembali campurtangan dalam
perkembangan sistem kepartaian yaitu dengan adanya UU No 2 Tahun
1999 dan UU No 31 tahun 2002 yang mana dalam UU tersebut
masyarakat diberi kesempatan dan kebebasan untuk mendirikan partai
politik yang persyaratannya diatur oleh undang-undang.
B. Saran
Dengan melihat perkembangan sistem kepartaian di Indonesia
semenjak terbentuk pada awal kemerdekaan sampai era reformasi maka
diharapkan pada pemerintah Indonesia untuk bisa menemukan dan
menetapkan sistem kepartaian yang cocok dengan masyarakat Indonesia
sehingga sistem kepartaian di Indonesia tidak lagi perubahan.

71

Daftar Pustaka
I. Buku-Buku Primer
Irsyam, Mahrus, 2003, Menggugat Partai Politik, LIP FISIP UI,Jakarta
Karim, M Rusli, 1993, Perjalanan Partai Politik di Indonesia, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Mahendra, A.O dan Soekadi, 2004, Sistem Multi Partai Prospek Politik Pasca
2004, Yayasan Pancur Siwah, Jakarta
II. Buku-Buku Sekunder
Amal, Ichlasul, 1988, Teori-Teori Mutakhir Partai Politik, PT Tiara Wacana
Yogya, Yogyakarta
Azed, Abdul Bari dan Amir, Makmur, 2005, Pemilu dan Partai Politik di
Indonesia, Pusat Studi Hukum Tatanegara FH-UI, Jakarta
Budiarjo, Miriam, 1996, Dasar-DasarIlmu Politik , PT.Gramedia pustaka utama,
Jakarta.
Cipto, Bambang,1996, Prospek Dan Tantangan Partai Politik, Pustaka Pelajar,
Jogyakarta
Duverger, Maurice terj, Laila Hasyim, 1981, Partai-Partai Politik dan KelompokKelompok Penekan,PT Bina Aksara, Jakarta
Kalla, Yusuf dkk, 2004, Pergulatan Partai Politik Di Indonesia, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta
Poewantana, P.K, 1994, Partai Politik Di Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta
Rudianto, Doddy dan Sudjijono, Budi, 2003, Manajemen Pemasaran Partai
Politik, PT Citra Mandala Pratama, Jakarta
Saefulloh, Eep, 2000, Pengkhianatan Ala Orde Baru, PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung
Seri Prisma I, Analisa Kekuatan Politik Di Indonesia, LP3ES, Jakarta

72

Surbakti, Ramlan, 1992, Memahami Ilmu Politik, PT Gramedia Widiasarana


Indonesia, Jakarta
Thoha, Miftah, 2003, Birokrasi & Politik Di Indonesia, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta
Wibowo, Eddi dkk, 2004.Ilmu Politik Kontemporer,Yayasan Pembaharuan
Administrasi Publik Indonesia (YPAPI), Yogyakarta
Widagdo, Badjoeri, 2004, Manajemen Pemasaran Partai Politik Menangkan
Pemilu 2004, PT. Toko Gunung Agung, Jakarta.
III. Perundang-undangan
Undang-Undang Republik Indonesia No 3 Tahun 1973 Tentang Partai Politik dan
Golongan Karya
Undang-Undang Republik Indonesia No 3 Tahun 1985 Tentang Partai Politik dan
Golongan Karya
Undang-Undang No 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik
Undang-Undang No 31 Tahun 2002 Tentang Partai Politik
IV. Buku Metodologi
Erna Widodo dan Mukhtar, 2000, Konstruksi Ke Arah Penelitian Deskriptif,
Avyrouz, Yogyakarta

73