Anda di halaman 1dari 42

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016


PENENTUAN DOSIS OPTIMUM KOMBINASI KOAGULAN DAN FLOKULAN
DALAM PROSES KOAGULASI-FLOKULASI UNTUK PENGOLAHAN AIR
LIMBAH PENCUCIAN JEANS
PEMBIMBING

: Dianty Rosirda Dewi Kurnia, ST., MT

Praktikum : 20 Oktober 2015


Penyerahan : 27 Oktober 2015

Oleh :
Kelompok

VI

Nama

1. Rd. Ajeng Feby L.

(131411023)

2. Rika Mustika

(131411024)

3. Sahara Tulaini

(131411025)

4. Shofiya Wardah Nabila (131411026)


Kelas

3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB 1
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Air limbah merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh berbagai industri termasuk

industri pencelupan atau pencucian jeans. Keberadaan air limbah yang dihasilkan dari
industri ini memberikan dampak yang luas terhadap lingkungan. Hal ini disebabkan oleh
karakteristik fisik maupun karakteristik kimianya yang memberikan dampak negatif terhadap
lingkungan. Untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan terhadap lingkungan, maka
diperlukan pengolahan air limbah yang tepat sehingga resiko beban pencemaran yang ada
dapat diminimalisir.
Salah satu teknologi pengolahan air limbah pencucian jeans yang dapat dilakukan adalah
dengan proses koagulasi-flokulasi. Koagulasi-flokulasi merupakan proses penggabungan
partikel-partikel koloid dengan menambahkan zat kimia untuk membantu proses
pengendapan (Endang, 2012). Proses ini berlangsung dalam 2 tahap, yaitu dengan melakukan
pengadukan yang cepat (koagulasi) dan diikuti dengan pengadukan yang lambat (flokulasi).
Sebagian besar pengolahan limbah secara koagulasi-flokulasi dilakukan dengan cara
menambahkan bahan kimia, seperti tawas, garam Fe (II), garam Fe (III) dan PAC yang
berperan sebagai penggumpal. Flokulan yang digunakan adalah polyacrylamide (aquaclear)
karena memiliki daya ikat yang kuat terhadap partikel yang tersuspensi dalam air. Untuk
mengetahui optimasi kondisi dalam proses koagulasi-flokulasi untuk pengolahan air limbah
pencucian jeans ini, maka dari itu dilakukan percobaan dengan judul, Penentuan dosis
optimum kombinasi koagulan dan flokulan dalam proses koagulasi-flokulasi untuk
pengolahan air limbah pencucian jeans.
2

Tujuan
Dalam percobaan ini, terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai, antara lain:
- Membandingkan efektifitas dari penggunaan koagulan tawas dan FeSO 4 terhadap air
-

limbah pencucian jeans.


Menentukan dosis optimum flokulan aquaclear yang paling efektif dalam pengolahan

air limbah pencucian jeans.


Menentukan dosis optimum koagulan yang paling efektif dengan dikombinasikan
flokulan aquaclear dalam mereduksi komponen-komponen koloid dan partikel
tersuspensi pada air limbah pencucian jeans.

Ruang Lingkup

Percobaan dilakukan di Laboratorium Pengolahan Limbah Industri (PLI) Teknik Kimia


POLBAN pada tanggal 20 Oktober 2015. Percobaan ini berlangsung selama 3-4 jam. Air
limbah yang akan diolah berasal dari air sintetis limbah industri pencucian jeans. Adapun
variabel-variabel yang diamati pada percobaan ini adalah :
1
2
3

Koagulan yang digunakan adalah tawas dan FeSO4.


Flokulan yang digunakan adalah polyacrylamide (aquaclear).
Dosis koagulan yang dimasukkan ke dalam gelas kimia bervariasi yaitu 225 ppm, 250

ppm, 275 ppm, 300 ppm, 325 ppm, dan 350 ppm pada masing-masing gelas kimia.
Dosis flokulan yang ditambahkan adalah sebanyak 7.142 ppm pada masing-masing gelas

5
6

kimia.
Metode pengujian koagulasi-flokulasi dengan cara jartest.
Proses koagulasi-flokulasi dengan cara jartest terdiri dari 3 langkah, yaitu :
Proses koagulasi melalui pengadukan cepat dengan kecepatan 100 rpm selama 1

menit.
Proses flokulasi melalui pengadukan yang diperlambat dengan kecepatan 40 rpm

selama 15 menit.
Proses sedimentasi selama 60 menit.
7 Parameter yang akan diuji melingkupi :
a pH
b Padatan terlarut (TDS)
c Kondutivitas (DHL)
d Kekeruhan
e Tinggi endapan

BAB 2
LANDASAN TEORI

Industri tekstil menghasilkan limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Oleh
karena itu perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum melakukan pembuangan
limbah ke lingkungan. Salah satu metoda yang dapat digunakan dalam proses pengolahan air
limbah adalah koagulasi dan flokulasi.
2.1 Koagulan dan Flokulan yang Digunakan
2.1.1 Tawas
Persenyawaan Al2(SO4)3, disebut juga tawas, merupakan bahan koagulan yang
paling banyak digunakan karena bahan ini paling ekonomis (murah), mudah didapatkan
di pasaran, serta mudah penyimpanannya. Selain itu bahan ini cukup efektif untuk
menurunkan kadar karbonat. Dengan demikian, makin banyak dosis tawas yang
ditambahkan pH makin turun karena dihasilkan asam sulfat, sehingga perlu dicari dosis
tawas optimum yang harus ditambahkan. Pemakaian tawas paling efektif antara pH 5,87,4.
2.1.2 Ferro Sulfat
Besi (II) sulfat adalah garam berupa kristal hijau muda dengan rumus kimia
FeSO4.7H2O. Garam ini digunakan untuk memberi warna hitam kepada tekstil juga
digunakan untuk pembuatan tinta. Selain itu, zat ini digunakan sebagai desinfektan dan
bahan pembersih air. Larutan yang semula jernih kehijauan akan cepat berubah menjadi
keruh dan cokelat. Perubahan tersebut disebabkan oleh oksidasi dari fero menjadi feri,
sementara feri hidroksida tak semudah fero hidroksida saat larut dalam air. Sifat-sifat
inilah yang dimanfaatkan untuk membersihkan air karena feri hidroksida akan
mengambang atau tenggelam bersama kotoran.
2.1.3 Poli Akril Amida (PAA)/ Aquaclear
Poli Akril Amida (PAA) merupakan polimer dari akril amida. Polimer ini banyak
digunakan sebagai koagulan atau flokulan sintetik untuk menjernihkan air minum dan
pengolahan limah air. Selain itu digunakan dalam penyulingan minyak, pengolahan
tanah, pertanian, dan digunakan dalam bidang biomedical. PAA merupakan cairan yang
sangat viskos, bahkan sulit larut dalam air sehingga biasanya digunakan larutan yang
hanya mengandung sekian persen PAA. PAA memiliki berat molekul yang sangat tinggi

sehingga sangat efektif digunakan untuk pembentukan mikroflok pada waktu koagulasi
untuk menghasilkan mikroflok yang besar (Ricky, 2008).

Gambar 2.1 Struktur Poli Akril Amida (PAA)


2.2 Koagulasi dan Flokulasi
Koagulasi-flokulasi merupakan dua proses yang terangkai menjadi kesatuan proses tak
terpisahkan. Pada proses koagulasi terjadi destabilisasi koloid dan partikel dalam air sebagai
akibat dari pengadukan cepat dan pembubuhan bahan kimia (disebut koagulan). Akibat
pengadukan cepat, koloid dan partikel yang stabil berubah menjadi tidak stabil karena terurai
menjadi partikel yang bermuatan positif dan negatif. Pembentukan ion positif dan negatif
juga dihasilkan dari proses penguraian koagulan. Proses ini berlanjut dengan pembentukan
ikatan antara ion positif dari koagulan (misal Al 3+) dengan ion negatif dari partikel (misal
OH-) dan antara ion positif dari partikel (misal Ca2+) dengan ion negatif dari koagulan (misal
SO42-) yang menyebabkan pembentukan inti flok (presipitat).
Segera setelah terbentuk inti flok, diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan inti
flok menjadi flok berukuran lebih besar yang memungkinkan partikel dapat mengendap.
Penggabungan flok kecil menjadi flok besar terjadi karena adanya tumbukan antar flok.
Tumbukan ini terjadi akibat adanya pengadukan lambat.
Faktor utama yang mempengaruhi proses koagulasi-flokulasi air adalah kekeruhan,
padatan tersuspensi, temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi dan
tingkat agitasi selama koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika diperlukan, koagulanpembantu.
2.2.1 Penentuan Parameter Koagulasi dan Flokulasi
2.2.1.1 Jar Test
Secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu metode untuk mendapatkan
proses yang optimal dengan penambahan sejumlah bahan kimia (koagulan dan
flokulan) pada dosis tertentu dan kondisi tertentu. Dari definisi tersebut, Jar Test

selain dipergunakan untuk menentukan dosis chemical yang paling tepat juga dapat
digunakan untuk menentukan jenis bahan kimia yang paling tepat untuk proses
koagulasi pada air.
Jar Test dilakukan pada skala laboratorium sehingga Jar test adalah langkah pra
pengolahan. Prinsip dasar Jar Test adalah membandingkan hasil koagulasi dan
pengendapan yang terbentuk setelah sejumlah tertentu air (air limbah) ditambahkan
dengan sejumlah dosis bahan koagulan dan flokulan pada suhu kamar disertai
pengadukan kontinyu.
Pada pengolahan air bersih atau air limbah dengan proses kimia selalu dibutuhkan
bahan kimia tertentu pula untuk menurunkan kadar polutan yang ada di dalam air atau
air limbah. Penambahan bahan kimia tidak dapat dilakukan sembarang, harus dengan
dosis yang tepat dan bahan kimia yang cocok serta harus memperhatikan pHnya.
Sehingga jartest bertujuan untuk menpotimalkan pengurangan polutan dengan:

Mengevaluasi koagulan dan flokulan,


Menentukan dosis bahan kimia,
Mencari pH yang optimal
Pada metode Jar Test, terdapat dua tahap proses yaitu koagulasi dan flokulasi. Jar
Test dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut dengan flokulator (seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.1).
Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi. Saat ini banyak kita
menjumpai berbagai macam flokulator, tetapi berdasarkan cara kerjanya flokulator
dibedakan menjadi 3 macam : yaitu pneumatic, mekanik, dan baffle. Flokulator pada
prinsipnya bertugas untuk melakukan pengadukan lambat agar jangan sampai mikro
flok yang sudah menggumpal pecah kembali menjadi bentuk semula, maka perlu
adanya desain khusus bentuk flokulator tersebut.

Gambar 2.2 Flokulator


Flokulator secara pneumatik misalnya, dirancang dengan cara mensuplai udara
ke dalam bak flokulasi, cara kerjanya sama seperti yang dilakukan pada aerasi,
bedanya suplai udara yang diberikan ke bak flokulasi tidak sebesar pada bak aerasi.
Jenis flokulator ini jarang sekali kita temukan saat ini, tetapi yang paling sering adalah
flokulator secara mekanis. Flokulator secara mekanis paling banyak kita jumpai saat
ini, bentuk serta desainnya pun bermacam-macam. Prinsip kerja jenis flokulator ini
adalah dengan cara pengadukan (mixing), karena bentuknya yang bermacam-macam
inilah maka bentuk ini sangat familiar bagi seorang engineer. Bentuk yang terakhir
adalah dengan Baffle, jika dibandingkan dengan 2 jenis flokulator di atas, maka jenis
flokulator ini jarang atau bahkan tidak pernah kita jumpai sekarang ini, pasalnya
sistem Baffle mempunyai tingkat velositas G dan GT sangat terbatas.
Perlakuan yang dilakukan pertama kali adalah penambahan koagulan pada air
yang akan diuji, selanjutnya adalah tahap koagulasi dengan pengadukan kecepatan
tinggi hingga partikel besar terentuk akibat proses netralisasi. Setelah koagulasi
dilanjutkan dengan flokulasi yang dilakukan dengan pengadukan kecepatan rendah
setelah ditambahkan flokulan.
2.2.1.2 TDS
Zat Padat Terlarut (TDS) merupakan konsentrasi jumlah ion kation (bermuatan
positif) dan anion (bermuatan negatif) di dalam air. Oleh karena itu, analisa total
padatan terlarut menyediakan pengukuran kualitatif dari jumlah ion terlarut, tetapi
tidak menjelaskan pada sifat atau hubungan ion. Selain itu, pengujian tidak
memberikan wawasan dalam masalah kualitas air yang spesifik. Oleh karena itu,
analisa total padatan terlarut digunakan sebagai uji indikator untuk menentukan

kualitas umum dari air. Sumber padatan terlarut total dapat mencakup semua kation
dan anion terlarut (Oram, B.,2010). Sumber utama untuk TDS dalam perairan adalah
limpahan dari pertanian, limbah rumah tangga, dan industri. Unsur kimia yang paling
umum adalah kalsium, fosfat, nitrat, natrium, kalium dan klorida. Bahan kimia dapat
berupa kation, anion, molekul atau aglomerasi dari ribuan molekul. Kandungan TDS
yang berbahaya adalah pestisida yang timbul dari aliran permukaan. Beberapa padatan
total terlarut alami berasal dari pelapukan dan pelarutan batu dan tanah. Standar
kualitas air minum yang telah ditentukan oleh Amerika Serikat sebesar 500 mg / l.
Banyaknya dissolved solid (zat terlarut) dalam air perlu disesuaikan agar cocok
dipakai untuk keperluan rumah

tangga dan industri, karena disolved

solid

mempunyai pengaruh cukup besar terhadap penyediaan air. Prinsip pengukuran zat
padat yang terkandung dalam air berdasarkan gravimetri, yakni dengan melakukan
penimbangan

berat. Penentuan solid di lakukan dengan cara penyaringan,

pengisatan, pemanasan dan penimbangan.


2.2.1.3 pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan

tingkat

keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai
kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Dalam penerapan koagulasiflokulasi, pH digunakan sebagai parameter karena air yang jernih atau terbebas dari
limbah memiliki pH yang netral. Selain itu air yang asam mengindikasikan bahwa air
tersebut telah tercemar. Sehingga dengan adanya pengukuran pH maka dapat
diketahui bahwa koagulasi-flokulasi yang dilakukan

berhasil atau tidak serta

optimum atau tidak. Koagulasi-flokulasi berjalan optimum dimana air yang telah
mengalami koagulasi-flokulasi memiliki pH mendekati netral atau bahkan netral.
2.3 Limbah Cair Industri Pewarna
Limbah tekstil merupakan limbah cair dominan yang dihasilkan industri tekstil karena
terjadi proses pemberian warna (dying) yang memerlukan bahan kimia juga memerlukan air
sebagai

media

pelarut. Limbah

industri

tekstil

tergolong limbah cair dari proses

pewarnaan yang merupakan senyawa kimia sintetis, mempunyai kekuatan pencemar


yang kuat. Zat warna tekstil merupakan gabungan dari senyawa organik tidak jenuh,
kromofor dan auksokrom sebagai pengaktif kerja kromofor dan pengikat antara warna
dengan serat. Limbah cair mendapat perhatian yang lebih serius dibandingkan bentuk
limbah yang lain karena limbah cair dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dalam

bentuk pencemaran fisik, pencemaran kimia, pencemaran biologis dan pencemaran


radioaktif.
Industri pencelupan atau pencucian tekstil termasuk salah satu industri yang sangat
banyak mengeluarkan limbah cair. Namun penanganan pengolahan limbah cair pada industri
yang termasuk berskala kecil umumnya kurang baik . Limbah industri tekstil berasal dari
beberapa kegiatan proses misalnya percucucian tekstil yang meliputi desizing, boiling,
degreasing dan mercerizing; pencelupan dan sistem perwarnaan lain dan pengolahan akhir
seperti pencucian kembali (Tjahyono, 1993 : 13).
Limbah cair dari industri tekstil umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Berwarna
Bersifat sangat basa
BOD sangat tinggi
Padatan tersuspensi tinggi
Suhu tinggi
Tekstil terbagi menjadi tiga kelompok yaitu katun, wol dan bahan sintetis yang

pengerjaan dan proses pewarnaanya berlain-lain. Disamping itu dari masingmasing


kelompok dapat diproses dengan berbagai cara dengan menggunakan bahan kimia yang
berbeda-beda pula terutama pada proses pewarnaannya. Oleh karena itu, limbahnya juga
berlainan sehingga mempersulit proses pengolahannya. Di Indonesia tidak memproduksi wol
sehingga yang ada hanya industri tekstil katun dan sintetis.
2.3.1 Katun
Menurut Maseli dan Burford (Nemerrow 1978) limbah yang dikeluarkan dari
tahapan proses dan beban BOD yang dikandungnya.
2.3.2 Bahan Sintetis Serat
Sintetis merupakan polimer, terdiri atas senyawa kimia murni dan tidak
mengandung

kotoran

bahan

alami, oleh

karena itu hanya dilakukan proses

Scouring dan pemucatan ringan, sehingga limbah yang keluar dari kedua proses ini
juga lebih ringan dibanding yang keluar dari proses yang sama pada industri katun.
Proses selanjutnya dilakukan pada alat yang sama serta dengan cara yang sama
dengan penanganan katun. Potensi pencemaran air buangan industri tekstil sangat
bervariasi tergantung pada proses dan kapasitas produksi serta kondisi lingkungan
tempat pembuangan, sehingga akibat pencemaran juga berbeda-beda.

Harus diakui bahwa masih banyak industri tekstil yang hingga saat ini belum atau
kurang memperhatikan masalah air buangan bekas proses pengolahan tekstil hingga
tidak mengherankan apabila kadang-kadang terjadi keluhan maupun protes dari
masyarakat yang merasa terganggu oleh adanya air buangan tersebut. Industri
pencucian jeans adalah industri pencucian yang mengembangkan kegiatan menjadi
industri pencucican dan pelunturan, keberadaan industri pencucian pengolahan air
jeans berkembang sejalan dengan meningkatnya komoditi pakaian jadi Indonesia.
Dalam hal ini industri pakaian jadi (konveksi) mengadakan kerjasama dengan
industri pencucian. Dalam

melaksanakan kegiatan

sehari-hari industri pencucian

jeans tidak selalu mengadakan proses-proses seperti tersebut diatas tetapi kegiatannya
berdasarkan pesanan dari industri konveksi, misalnya industri konveksi hanya
membutukan

proses pencucian saja tanpa proses pencucian sekaligus proses

pelunturan.
Berdasarkan proses kegiatan industri pencucian jeans dibagi menjadi:

Proses pencucian (Garment Wash)


Proses ini bertujuan untuk membuang kanji dengan maksud melemaskan
pakaian jeans yang masih kaku. Bahan yang di gunakan adalah air sebanyak
500 liter, detergent merk Blue-J Scour (cair dan berwarna coklat) sebanyak
250-300 ml dan sebagai bahan pengganti detergent dapat digunakan zat
kimia Genencor Desize-HT (cair dan berwarna biru) sebanyak 1,5 Kg. Pada
proses Garment Wash ini suhu diusahakan 40C-50C dan pakaian digiling
dalam mesin selama 25 menit. Apabila pihak konsumen hanya membutuhkan

pencucian saja, maka proses selanjutnya tidak lakukan.


Proses Pelunturan
Setelah proses pelemasan atau pencucian, kemudian dilakukan proses
pelunturan atau pemucatan jeans dengan maksud melunturkan warna asli
jeans menjadi warna dasarnya atau lebih pucat dari warna aslinya. Proses ini
dilakukan tergantung pada permintaan. Proses pelunturan ada dua macam:
(a) proses stone wash yaitu proses pelunturan warna pakaian

jadi jeans

dengan menggunakan bahan yang sama dengan batu apung sebagai bahan
penggosok atau peluntur.

(b) Proses stone bleanching yaitu proses pelunturan warna pakaian jadi
selain menggunakan bahan yang sama dengan stone wash juga ditambah
dengan sodium hipochlorite yang berfungsi untuk pemutih. Penggunaan
sodium Hipochlorite ini tidak banyak tentunya tergantung permintaan (sesuai

dengan warna putih yang di inginkan).


Proses pembilasan
Setelah proses pencucian dan pelunturan maka dilakuakan proses
pembilasan diman dalam proses ini diperlukan air sebanyak 500 l, softener
sebagai pelembut sebanyak 0,6 ml dan OBA untuk mencerahkan warna
sebanyak 0,3 ml. Suhu disesuaikan tetap 30C dan dapat diputar selama 10
menit sedangkan untuk proses pembilasan dimana dalam proses pembilasan
yang berasal dari stone bleancing selain bahan-bahan di atas ditambahkan pula
sodium hipocrit dan mengilangkan bau sebanyak 1 Kg permesin serta
hidrogen perioksida (H2O2) yang berfungsi untuk membuat bersih atau warna

terang sebanyak 1 kg.


Proses Pemerasan
Proses pemerasan adalah proses untuk menghilangkan air dari pakaian jadi
jeans. Proses ini bertujuan untuk mempercepat proses pengeringan. Pada
proses pemerasan ini digunakan mesin ekstrator yang berkapasitas 30 - 40
potong pakaian yang diputar selama 5 menit. Proses Pengeringan Proses
pengeringan adalah proses yang dilakukan setelah pakaian jadi telah
mengalami proses pembilasan dengan maksud untuk mengeringkan pakaian
jadi jeans. Proses pengeringan dapat dilakukan melalui penjemuran dengan
sinar matahari maupun menggunakan mesin pengering berupa oven yang
berkapasitas 50-70 potong pakaian . Proses ini memerlukan waktu sekitar 45

menit sampai 1 jam.


Proses pewarnaan
Pada proses ini pakaian jadi jeans diberi warna yang sesuai dengan
perintaan dengan menggunakan bahan-bahan kimia. Sebagai hasil sampingan
dari proses kegiatan industri pencucian jeans adalah limbah yang dihasilkan
dari proses pencucian jeans. Limbah pencucian jeans secara fisik berwarna
biru atau ungu berbau kaporit yang menyengat serta terdapat busa berwarna.
Selain itu ada zat-zat tersuspensi dari batu apung yang hancur dari proses
pelunturan banyak mengendap di saluran air sehingga menyebabkan
pendangkalan. seperti limbah industri lainnya, limbah pencucian jeans ini

dapat menimbulkan gangguan terhadap manusia, biota air maupun gangguan


estetika.

BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
1
1

Alat dan Bahan


Alat
Tabel 3.1 Peralatan yang Digunakan dalam Praktikum
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Nama Alat
Bola hisap
Gelas kimia
Gelas kimia
Kerucut imhoff
Konduktometer
Peralatan Jar-Test
pH-meter
Pipet ukur
Pipet ukur
Turbidity meter

Spesifikasi

Jumlah

1000 mL
100 mL
25 mL
5 mL
-

1 buah
6 buah
6 buah
12 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Bahan
Tabel 3.2 Bahan yang Digunakan dalam Praktikum
No
.
1
2
3
4
5

Nama Bahan
Aquadest
Air kran
FeSO4
Limbah cair pencucian jeans
sintetis (Wantex)
Tawas

Spesifikasi
250;265;280;295;310;325 ppm
250;265;280;295;310;325 ppm

Skema Kerja
Limbah Cair Pencucian
Jeans Sintetis

Analisa Umpan

Kekeruhan
pH
DHL
TDS

Proses
Koagulasi

Koagulan
Tawas

Pengendapan

Koagulan
FeSO4

Kekeruhan
pH
DHL
TDS
Tinggi Endapan

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil praktikum dibahas dalam pembahasan sebagai berikut.
Oleh : Rd. Ajeng Feby Lailani Belladina (NIM. 131411023)
Pada praktikum kali ini dilakukan proses pengolahan limbah cair pewarnaan jeans dengan
cara koagulasi-flokulasi. Limbah cair yang digunakan merupakan limbah sintetis dimana
limbah diperoleh dengan cara melarutkan wantex sintetis dalam air. Kondisi fisik dari limbah
cair pewarnaan jeans berwarna biru, ungu atau hitam, berbau kaporit yang menyengat serta
terdapat busa berwarna. Selain itu terdapat zat- zat tersuspensi dari batu apung yang hancur
dari proses pelunturan sehingga dapat mengendap di saluran air dan menyebabkan
pendangkalan. Sedangkan kondisi limbah cair sintetis yang digunakan pada saat praktikum
berupa cairan berwarna hitam pekat. Data pengamatan awal limbah cair sintetis ialah adalah
diantaranya nilai pH sebesar 6,7; nilai kekeruhan sebesar 74,92 NTU; nilai TDS sebesar 253
mg/L; dan nilai DHL sebesar 0,376 mS. Pengukuran awal pada parameter-parameter tersebut
bertujuan untuk menentukan perubahan kualitas limbah setelah dan sebelum diolah, selain itu
untuk menentukan yang kondisi optimal untuk pengolahan. Tujuan dari percobaan ini ialah
membandingkan efektifitas dari penggunaan koagulan tawas dan FeSO4 terhadap air limbah
pencucian jeans, menentukan dosis optimum flokulan aquaclear yang paling efektif dalam
pengolahan air limbah pencucian jeans, dan menentukan dosis optimum koagulan yang
paling efektif dengan dikombinasikan flokulan aquaclear dalam mereduksi komponenkomponen koloid dan partikel tersuspensi pada air limbah pencucian jeans.
Proses koagulasi merupakan proses pengumpulan partikel-partikel penyusun kekeruhan
yang tidak dapat diendapkan secara gravitasi untuk menjadi partikel yang lebih besar
sehingga perlu diendapkan dengan cara pemberian koagulan yang merupakan bahan kimia.
Pada proses koagulasi dilakukan pengadukan cepat yaitu 100 rpm selama 1 menit., hal
tersebut bertujuan agar koloid menjadi tidak stabil. Koloid dan partikel yang stabil berubah
menjadi tidak stabil karena terurai menjadi partikel yang bermuatan positif dan negatif.
Pembentukan ion positif dan negatif juga dihasilkan dari proses penguraian koagulan. Proses
ini berlanjut dengan pembentukan ikatan antara ion positif dari koagulan dengan ion negatif
dari partikel yang menyebabkan pembentukan inti flok (presipitat). Setelah terbentuk inti
flok, dilakukan proses flokulasi, yaitu penggabungan inti flok menjadi flok berukuran lebih
besar yang memungkinkan partikel dapat mengendap. Penggabungan flok kecil menjadi flok

besar terjadi karena adanya tumbukan antar flok. Pada flokulasi dilakukan pengadukan
lambat yaitu 40 rpm selama 15 menit, hal tersebut bertujuan agar rantai-rantai yang terbentuk
dari masing-masing ion yang tak stabil tersebut tidak rusak atau tidak terurai kembali menjadi
ion-ion tak stabil.
Proses koagulasi-flokulasi dilakukan dengan secara Batch dengan metode Jar-Test. Jar
test merupakan suatu percobaan yang berfungsi untuk menentukan dosis optimal dari
koagulan dan flokulan yang digunakan. Koagulan yang digunakan ialah tawas dan FeSO4
dengan variasi dosis tawas yang digunakan ialah . FeSO4 yang digunakan adalah 225, 250,
275, 300, 325 dan 350 ppm. dan flokulan Poli Akril Amida (PAA)/aquaclear dengan
konsentrasi 1% sebanyak 0.5 mL. Berikut terlampir spesifikasi jenis koagulan yang
digunakan beserta pH optimumnya.
Tabel 4.1 Jenis Koagulan Yang Sering Digunakan
Nama

Formula

Bentuk

Tawas/Aluminium

Al2(SO4)3.xH2O,x =

Bongkah,

sulfat,Alum sulfat,

14,16,18

bubuk

Alum, Salum
Ferro sulfat

FeSO4.7H2O

Kristal halus

Reaksi

pH

Dengan Air

Optimum

Asam

6,0 7,8

Asam

> 8,5

Setelah proses koagulasi dan flokulasi selesai, dilanjutkan dengan proses sedimentasi
yang merupakan proses terakhir dari pengolahan limbah cair tersebut. Limbah cair yang telah
diolah secara koagulasi dan flokulasi dimasukan kedalam imhoff cone selama 1 jam untuk
mengetahui tinggi endapan yang terbentuk. Setelah itu dilakukan pengukuran serta
perbandinginganparameter akhir setelah pengolahan dengan parameter awal sebelum limbah
cair diolah.

4.1 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 serta Flokulan Aquaclear terhadap pH

Gambar 4.1 Hubungan Konsentrasi terhadap pH


Pada gambar 4.1 dapat terlihat hubungan konsentrasi terhadap pH tersebut, semakin
besar konsentrasi koagulan (tawas dan FeSO4) yang ditambahkan pada sampel air limbah
pencucian jeans, menyebabkan harga pH semakin turun. Pengolahan air limbah dianggap
baik jika pH air limbah yang dihasilkan adalah netral. Kondisi pH optimum diperoleh pada
penambahan koagulan tawas maupun FeSO4 dengan konsentrasi 250 ppm. Penambahan
konsentrasi koagulan berikutnya hanya akan menyebabkan larutan pH semakin turun,
sehingga perlu dilakukan pengolahan air limbah lebih lanjut sebelum dibuang ke lingkungan.
4.2 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 serta Flokulan Aquaclear terhadap
Kekeruhan

Gambar 4.2 Hubungan Konsentrasi terhadap Kekeruhan


Pada prinsipnya proses koagulasi-flokulasi bertujuan untuk mengurangi kekeruhan dalam
air limbah, maka pengolahan air limbah dianggap baik jika air limbah memiliki nilai
kekeruhan yang kecil. Berdasarkan gambar 4.2, pada penggunaan koagulan tawas, nilai
kekeruhan terendah yaitu 17.75 NTU dicapai pada penambahan konsentrai koagulan sebesar
300 ppm. Sedangkan pada penggunaan koagulan FeSO4, nilai kekeruhan terendah yaitu 35.7
NTU dicapai pada penambahan konsentrai koagulan sebesar 250 ppm.
4.3 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 serta Flokulan Aquaclear terhadap TDS

Gambar 4.3 Hubungan Konsentrasi terhadap TDS (mg/L)


Berdasarkan grafik tersebut diperoleh nilai TDS minimum sebesar 271 mg/L pada
penambahan konsentrasi koagulan tawas sebesar

225 ppm, sedangkan TDS minimum

sebesar 247 mg/L pada penambahan konsentrasi koagulan FeSO4 sebesar 250 ppm. TDS

(Total Dissolved Solid) menunjukkan jumlah padatan terlarut yang terdiri dari semua mineral,
garam, logam, serta kation anion yang terlarut dalam air. Penggunaan koagulan dan flokulan
pada pengolahan air limbah seharusnya menyebabkan penurunan nilai TDS karena proses
koagulasi-flokulasi bertujuan untuk mengubah TDS menjadi TSS sehingga mudah
mengalami pengendapan. Kenaikan harga TDS dapat terjadi karena penambahan bahan
koagulan dan flokulan yang terbaca sebagai TDS.

4.4 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap DHL

Gambar 4.4 Hubungan Konsentrasi Koagulan (ppm) terhadap DHL (mS)


Besarnya nilai DHL bergantung kepada kehadiran ion-ion anorganik, valensi, suhu, serta
konsentrasi total maupun relatifnya. DHL berbanding lurus dengan TDS dimana garamgaram mineral yang terlarut dalam air akan mengalami disosiasi ion sehingga mampu
menghantarkan listrik. Sama seperti nilai TDS, nilai DHL seharusnya semakin berkurang
seiring bertambahnya konsentrasi koagulan yang ditambahkan. Penambahan koagulan
ataupun flokulan dapat menyebabkan ion-ion bebas dalam air akan bertambah sehingga nilai
DHL akan meningkat. Berdasarkan gambar 4.5 tersebut diperoleh nilai DHL minimum
sebesar 0.42 mS pada penambahan konsentrasi koagulan tawas sebesar 225 ppm, sedangkan
DHL minimum sebesar 0.399 mS pada penambahan konsentrasi koagulan FeSO 4 sebesar 250
ppm.
4.5 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap Tinggi Endapan

Gambar 4.5 Hubungan Konsentrasi Koagulan (ppm) terhadap tinggi endapan

Berdasarkan gambar 4.5, pembentukan endapan maksimum yaitu sebesar 23 mL dicapai pada
penambahan konsentrasi koagulan tawas sebesar 300 ppm, sedangkan pembentukan endapan
maksimum yaitu sebesar 9 mL dicapai pada penambahan konsentrasi koagulan FeSO 4 sebesar
275 ppm. Secara teoritis, semakin jernih air limbah yang dihasilkan maka semakin banyak
flok-flok yang terbentuk dan terendapkan. Dengan demikian, semakin besar konsentrasi
koagulan yang ditambahkan dalam pengolahan air limbah, maka semakin banyak endapan
yang terbentuk.
Penentuan dosis optimum flokulan aquaclear
Penentuan dosis optimum flokulan aquaclear dilakukan dengan membandingkan hasil
percobaan ini dengan hasil percobaan yang telah dilakukan sebelumnya dengan koagulan dan
flokulan yang digunakan sama, namun yang membedakan ialah konsentrasi flokulan yang
dipakai, dimana pada percobaan sebelumnya digunakan flokulan aquaclear 1% sebanyak 1
mL atau konsentrasi sebesar 14.284 ppm. Pada penentuan dosis optimum flokulan aquaclear,
digunakan parameter kekeruhan dan tinggi endapan, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 4.2 Penentuan Dosis Optimum Flokulan Aquaclear
Tawas
Parameter

Tanpa

Flokulan

Flokulan

Tanpa

Flokulan

Flokulan

7.142 ppm

14.284 ppm

flokulan

7.142 ppm

14.284 ppm

18.01

17.75

19.81

27.52

35.7

30

21

23

21

flokula
n

Kekeruhan
(NTU)
Tinggi
endapan (mL)

FeSO4

Berdasarkan hasil percobaan pada tabel 4.2, maka diperoleh konsentrasi optimum
penambahan flokulan aquaclear dalam proses pengolahan air limbah pencucian jeans adalah
sebesar 7.142 ppm. Selain itu, penggunaan koagulan tawas juga lebih efektif dibanding
penggunaan FeSO4 dengan dosis optimum penggunaan koagulan tawas yang dikombinasikan
dengan flokulan aquaclear 7.142 ppm adalah sebesar 300 ppm.

Oleh : Rika Mustika (131411024)


Industri pencucian jeans menghasilkan air limbah yang cukup banyak dan
memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut,
maka diperlukan pengolahan air limbah yang tepat sebelum melakukan pembuangan limbah
ke lingkungan sehingga resiko beban pencemaran yang ada dapat diminimalisir. Pada
praktikum ini dilakukan percobaan pengolahan air limbah pencucian jeans dengan
menggunakan salah satu metoda pengolahan air limbah, yaitu koagulasi dan flokulasi. Air
limbah yang akan diolah tersebut berasal dari air sintetis limbah industri pencucian jeans.
Pengolahan air limbah yang dilakukan dengan proses koagulasi dan flokulasi
bertujuan untuk memisahkan polutan koloid tersuspensi dari dalam air dengan memperbesar
ukuran partikel-partikel padat yang terkandung di dalamnya (Yeti, 2006). Dengan kata lain,
proses koagulasi-flokulasi bertujuan untuk mengubah Total Dissolved Solid (TDS) menjadi
Total Suspended Solid (TSS) agar limbah lebih mudah mengendap dan dapat dipisahkan.
Sebelum proses koagulasi-flokulasi dilakukan, air sintetis limbah industri pencucian
jeans dianalisis terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi awal air limbah sebelum dilakukan
pengolahan. Hasil analisis awal diperoleh pH 6.7, kekeruhan 74.92 NTU, TDS 253 mg/L, dan
DHL 0.376 mS. Dengan pH tersebut, maka tidak perlu dilakukan penambahan asam ataupun
basa karena pH larutan berada di daerah pH optimum (6.5-8.5) untuk dilakukannya koagulasi
dengan menggunakan koagulan tawas dan FeSO4. Selanjutnya dilakukan proses koagulasiflokulasi terhadap air limbah pencucian jeans dengan cara jastest, meliputi tahapan
penambahan koagulan, penambahan flokulan, serta pengendapan.
Koagulan merupakan zat kimia yang ditambahkan ke dalam air baku dengan maksud
mengurangi gaya tolak-menolak antar partikel koloid, sehingga partikelpartikel tersebut
dapat bergabung menjadi flok-flok halus. Koagulan yang digunakan dalam percobaan ini
adalah tawas (run 1) dan FeSO 4 (run 2) dengan 6 variasi konsentrasi yang berbeda, yaitu 225
ppm, 250 ppm, 275 ppm, 300 ppm, 325 ppm, dan 350 ppm. Sedangkan flokulan merupakan
zat kimia yang ditambahkan untuk mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah
dibibitkan pada proses koagulasi. Flokulan yang digunakan pada kedua run percobaan adalah
polyacrylamide (aquaclear) dengan konsentrasi 7.142 ppm. Dari percobaan ini, maka dapat
dibandingkan efektifitas dari penggunaan koagulan tawas dan FeSO 4 terhadap air limbah
pencucian jeans dan dapat ditentukan dosis optimum koagulan yang paling efektif dengan
dikombinasikan flokulan aquaclear dalam mereduksi komponen-komponen koloid dan
partikel tersuspensi pada air limbah pencucian jeans. Sementara penentuan dosis optimum

flokulan aquaclear yang paling efektif

dalam pengolahan air limbah pencucian jeans

dilakukan dengan membandingkan hasil percobaan ini dengan hasil percobaan yang
dilakukan kelompok sebelumnya.
Pada proses koagulasi dilakukan pengadukan cepat dengan kecepatan 100 rpm selama
1 menit. Pengadukan cepat ini bertujuan untuk mempercepat dan menyeragamkan
penyebaran zat kimia melalui air yang diolah, untuk menghasilkan dispersi yang seragam dari
partikel-partikel koloid, serta untuk meningkatkan kesempatan partikel untuk kontak dan
bertumbukan satu sama lain. Kemudian pada proses flokulasi dilakukan pengadukan lambat
dengan kecepatan 40 rpm selama 15 menit. Pengadukan lambat ini bertujuan untuk untuk
menggumpalkan partikel-partikel terfokulasi berukuran mikro menjadi partikel-partikel flok
yang lebih besar. Flok-flok ini kemudian akan berkumpul dengan partikel-partikel tersuspensi
lainnya (Duliman, 1998). Proses selanjutnya adalah sedimentasi agar flok-flok yang telah
terbentuk mengendap dengan sendirinya. Proses sedimentasi dilakukan dalam imhoff cone
dan dibiarkan selama 60 menit. Setalah proses sedimentasi berakhir, selanjutnya dilakukan
pengukuran parameter akhir setelah pengolahan yang meliputi pengukuran pH, TDS, DHL,
kekeruhan, serta tinggi endapan yang terbentuk. Berikut adalah hasil analisis air limbah
pencucian jeans setelah dilakukan pengolahan :
4.1 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 serta Flokulan Aquaclear terhadap pH
PH merupakan salah satu parameter yang penting dalam penentuan kelayakan sebagai
air minum. pH dalam air akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisiensi klorinasi
(Anggriani, 2008). Penurunan pH biasanya disebabkan oleh peningkatan kadar sulfur, dalam
hal ini sulfur yang berasal dari koagulan tawas (Al 2(SO4)3) dan FeSO4 (Shammas, 2005).
Selain itu, pada penggunaan koagulan tawas terjadi reaksi pembebasan ion H+ sehingga pH
larutan berkurang.

Berdasarkan grafik hubungan konsentrasi terhadap pH tersebut, semakin besar


konsentrasi koagulan yang ditambahkan pada sampel air limbah pencucian jeans, baik
koagulan tawas maupun FeSO4, menyebabkan harga pH semakin turun. Pengolahan air
limbah dianggap baik jika pH air limbah yang dihasilkan adalah netral. Pada percobaan ini,
kondisi pH optimum dicapai pada penambahan koagulan tawas maupun FeSO 4 dengan
konsentrasi 250 ppm. Penambahan konsentrasi koagulan berikutnya hanya akan
menyebabkan larutan pH semakin turun, sehingga perlu dilakukan pengolahan air limbah
lebih lanjut sebelum dibuang ke lingkungan.
4.2 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 serta Flokulan Aquaclear terhadap
Kekeruhan

Kekeruhan adalah keadaan dimana suatu cairan tidak dapat meneruskan cahaya yang
dipaparkan disebabkan oleh partikel yang terperangkap dalam air yang terdiri dari bahan
organik dan anorganik.Semakin besar konsentrasi koagulan yang ditambahkan pada air
limbah maka semakin banyak pula partikel-partikel koloid yang akan terdestabilisasi lalu
berikatan dengan koagulan, sehingga flok yang terbentuk semakin banyak. Karena pada
prinsipnya proses koagulasi-flokulasi bertujuan untuk mengurangi kekeruhan dalam air
limbah, maka pengolahan air limbah dianggap baik jika air limbah memiliki nilai kekeruhan
yang kecil. Pada penggunaan koagulan tawas, nilai kekeruhan terendah yaitu 17.75 NTU
dicapai pada penambahan konsentrai koagulan sebesar

300 ppm. Sedangkan pada

penggunaan koagulan FeSO4, nilai kekeruhan terendah yaitu 35.7 NTU dicapai pada
penambahan konsentrai koagulan sebesar 250 ppm.

4.3 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 serta Flokulan Aquaclear terhadap TDS

TDS (Total Dissolved Solid) menunjukkan jumlah padatan terlarut yang terdiri dari
semua mineral, garam, logam, serta kation anion yang terlarut dalam air. Penggunaan
koagulan dan flokulan pada pengolahan air limbah seharusnya menyebabkan penurunan nilai
TDS karena proses koagulasi-flokulasi bertujuan untuk mengubah TDS menjadi TSS
sehingga mudah mengalami pengendapan. Kenaikan harga TDS mungkin saja terjadi karena
penambahan koagulan dan flokulan yang terlalu banyak sehingga terjadi restabilisasi flokflok yang telah terbentuk dan menyebabkan terbentuknya kembali partikel koloid dalam air.
Berdasarkan grafik tersebut diperoleh nilai TDS minimum sebesar 271 mg/L pada
penambahan konsentrasi koagulan tawas sebesar

225 ppm, sedangkan TDS minimum

sebesar 247 mg/L pada penambahan konsentrasi koagulan FeSO4 sebesar 250 ppm.
4.4 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap DHL

Daya hantar listrik (DHL) merupakan kemampuan suatu cairan untuk menghantarkan
arus listrik (disebut juga konduktivitas). DHL pada air merupakan ekspresi numerik yang
menunjukkan kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan arus listrik Besarnya nilai
DHL bergantung kepada kehadiran ion-ion anorganik, valensi, suhu, serta konsentrasi total
maupun relatifnya. (http://analisisairdanmineralarmilah16.blogspot.co.id/).
DHL memiliki korelasi dengan TDS dimana garam-garam mineral yang terlarut dalam
air akan mengalami disosiasi ion sehingga mampu menghantarkan listrik. Sama seperti nilai
TDS, nilai DHL seharusnya semakin berkurang seiring bertambahnya konsentrasi koagulan
yang ditambahkan. Penambahan koagulan terlalu banyak dapat menyebabkan ion-ion bebas
dalam air akan bertambah sehingga nilai DHL akan meningkat. Berdasarkan grafik tersebut
diperoleh nilai DHL minimum sebesar 0.42 mS pada penambahan konsentrasi koagulan
tawas sebesar 225 ppm, sedangkan DHL minimum sebesar 0.399 mS pada penambahan
konsentrasi koagulan FeSO4 sebesar 250 ppm.
4.5 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap Tinggi Endapan

Dalam pengolahan limbah air, semakin jernih air limbah yang dihasilkan maka
semakin banyak flok-flok yang terbentuk dan terendapkan. Dengan demikian, semakin besar
konsentrasi koagulan yang ditambahkan dalam pengolahan air limbah, maka semakin banyak
endapan yang terbentuk. Berdasarkan grafik tersebut, pembentukan endapan maksimum yaitu
sebesar 23 mL dicapai pada penambahan konsentrasi koagulan tawas sebesar 300 ppm,
sedangkan pembentukan endapan maksimum yaitu sebesar 9 mL dicapai pada penambahan
konsentrasi koagulan FeSO4 sebesar 275 ppm.

Penentuan dosis optimum flokulan aquaclear


Penentuan dosis optimum flokulan aquaclear dilakukan dengan membandingkan hasil
percobaan ini dengan hasil percobaan kelompok sebelumnya dimana pada percobaan
sebelumnya dilakukan proses pengolahan air limbah pencucian jeans menggunakan metode
koagulasi-flokulasi dengan menggunakan koagulan tawas dan FeSO4 tanpa dikombinasikan
dengan flokulan, serta proses koagulasi-flokulasi menggunakan koagulan tawas dan FeSO4
dengan dikombinasikan flokulan aquaclear sebanyak 14.284 ppm. Dengan menggunakan
parameter kekeruhan dan tinggi endapan sebagai parameter utama dalam menentukan
optimasi koagulan-flokulan, maka diperoleh hasil :
Tawas
Parameter

Tanpa

Flokulan

Flokulan

Tanpa

Flokulan

Flokulan

7.142 ppm

14.284 ppm

flokulan

7.142 ppm

14.284 ppm

18.01

17.75

19.81

27.52

35.7

30

21

23

21

flokula
n

Kekeruhan
(NTU)
Tinggi
endapan (mL)

FeSO4

Berdasarkan tabel tersebut, maka konsentrasi optimum penambahan flokulan


aquaclear dalam proses pengolahan air limbah pencucian jeans adalah sebesar 7.142 ppm.
Selain itu, penggunaan koagulan tawas juga lebih efektif dibanding penggunaan FeSO 4
dengan dosis optimum penggunaan koagulan tawas yang dikombinasikan dengan flokulan
aquaclear 7.142 ppm adalah sebesar 300 ppm.

Oleh : Shofiya Wardah Nabilah (131411026)


Pada praktikum kali ini dilakukan pengolahan limbah cair pencucian jeans dengan
metode koagulasi dan flokulasi. Koagulasi merupakan proses penambahan bahan kimia
(koagulan) dengan dibantu pengadukan selama waktu tertentu dimana bahan tersebut dapat
masuk kedalam padatan tersuspensi yang terkandung dalam suatu cairan (dalam hal ini
limbah) karena tertarik oleh muatan negatif dalam padatan tersuspensi tersebut sehingga
membuat padatan terlarut dalam limbah menjadi tidak stabil, partikel-partikel padatan akan
saling tarik-menarik dan membentuk flok-flok halus yang kemudian dapat diendapkan.
Flokulasi merupakan proses penambahan bahan kimia (flokulan) dengan dibantu pengadukan
selama waktu tertentu dimana bahan tersebut dapat menggabungkan flok-flok halus yang
sudah terbentuk pada proses koagulasi menjadi berukuran lebih besar dan lebih mudah untuk
diendapkan. Limbah pencucian jeans diperoleh dengan cara melarutkan wantex kedalam air.
Pada proses koagulasi, dilakukan perbandingan penggunaan dua macam koagulan, yaitu
Tawas dengan FeSO4, dimana rentang konsentrasi koagulan dioptimalkan pada 225-350ppm.
Pada proses flokulasi, digunakan flokulan Poli Akril Amida (PAA)/Aquaclear dengan
konsentrai 0,1%.
Pengaruh pengolahan koagulasi dan flokulasi yang dilakukan dapat diketahui dengan
melalui parameter yang diukur sebelum dan setelah proses. Parameter yang digunakan
diantaranya pH, kekeruhan, TDS (Total Dissolved Solid/Jumlah Padatan Terlarut), DHL
(Daya Hantar Listrik), dan tinggi endapan yang dihasilkan (setelah proses koagulasiflokulasi).
Limbah cair pencucian jeans merupakan cairan berwarna biru kehitaman dan sedikit
berbusa. Data pengamatan awal adalah diantaranya nilai pH sebesar 6,7; nilai kekeruhan
sebesar 74,92 NTU; nilai TDS sebesar 253 mg/L; dan nilai DHL sebesar 0,376 mS.
Proses koagulasi dan flokulasi dilakukan secara batch dalam alat Jar-Test. Pada proses
koagulasi dilakukan selama 1 menit dengan pengadukan cepat yaitu 100rpm, pengadukan
cepat bertujuan untuk mempercepat atau menyeragamkan penyebaran koagulan dalam
limbah. Koagulan yang digunakan pada run I ini adalah Tawas. Selanjutnya pada proses
flokulasi dilakukan selama 15 menit dengan pengadukan lambat yaitu pada 40 rpm,
pengadukan lambat bertujuan agar tidak memecah flok-flok halus yang akan bergabung.
Selanjutnya dilakukan proses pengendapan (sedimentasi) dalam inhoff cone selama 1 jam.
Selanjutnya dilakukan run II yaitu dengan menggunakan koagulan FeSO4.

4.1 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap pH

Grafik 1 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap pH

Berdasarkan Grafik 1 penambahan koagulan tawas maupun FeSO 4 dengan flokulan


aquaclear tidak terlalu berpengaruh terhadap pH, hanya menurunkan pH sebesar 0,4 yang
semula bernilai 6,7.
4.2 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap Kekeruhan

Grafik 2 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap Kekeruhan

Berdasarkan Grafik 2 penurunan nilai kekeruhan dengan penambahan koagulan tawas


lebih besar yaitu pada kisaran nilai 20 NTU, sedangkan pada penambahan koagulan FeSO 4
hanya pada kisaran 40 NTU dari nilai semula sebesar 74,92 NTU. Nilai konsentrasi koagulan
optimum baik tawas maupun FeSO4 yaitu pada 300ppm. Penurunan nilai kekeruhan dapat
disebabkan karena pengotor pada air telah membentuk flok-flok yang sudah mengendap
sehingga air menjadi lebih jernih.
4.3 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap TDS

Grafik 3 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap TDS

Berdasarkan Grafik 3 semakin besar konsentrasi koagulan maka semakin tinggi nilai
TDS (Total Dissolved Solid/Jumlah Padatan Terlarut) yang diperoleh, hal ini disebabkan
masih belum sempurnanya proses pembentukkan flok sehingga pengotor (wantex), koagulan,
maupun flokulan menambah jumlah padatan yang terlarut.
4.4 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap DHL

Grafik 4 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap DHL

Berdasarkan Grafik 4 sama halnya dengan data TDS yang diperoleh bahwa semakin besar
konsentrasi koagulan yang digunakan baik tawas maupun FeSO 4, semakin tinggi nilai DHL
yang diperoleh hal ini dapat disebabkan oleh ion-ion yang terkandung dalam pengotor
(wantex), koagulan, dan flokulan yang belum bergabung sempurna menjadi flok menambah
jumlah daya hantar listrik.
4.5 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap Tinggi Endapan

Grafik 5 Pengaruh Koagulan Tawas dan FeSO4 terhadap tinggi endapan

Berdasarkan Grafik 5 baik pada penambahan koagulan tawas diperoleh tinggi


endapan optimum pada konsentrasi koagulan sebesar 300ppm. Sedangkan pada penambahan
koagulan FeSO4 diperoleh tinggi endapan optimum pada konsentrasi koagulan 250ppm.
Tinggi endapan yang dihasilkan pada penambahan koagulan tawas lebih tinggi (pada kisaran
20mm) dari tinggi endapan yang dihasilan pada penambahan koagulan FeSO 4 (kisaran
7,5mm).
Oleh karena itu, pada proses koagulasi dan flokulasi dapat disimpulkan bahwa penggunaan
koagulan

tawas

lebih efektif daripada koagulan FeSO4. Dosis optimum penggunaan

koagulan tawas sebesar 300 ppm karena memiliki nilai kekeruhan paling rendah dan tinggi
endapan yang paling besar. Untuk konsentrasi flokulan aquaclear, tinggi endapan yang
dihasilkan dengan konsentrasi aquaclear 7,142ppm lebih tinggi dari penelitian sebelumnya
yaitu pada konsentrasi aquaclear 14,284ppm.

Oleh : Sahara Tulaini (131411025)


Praktikum kali ini dilakukan proses pengolahan limbah cair dengan cara koagulasiflokulasi. Limbah cair yang digunakan adalah limbah pewarnaan jeans (wantex) sintetis yaitu
dengan melarutkan wantex sintetis dalam air. Secara umum limbah cair pewarnaan jeans
secara fisik berwarna biru, ungu atau hitam, berbau kaporit yang menyengat serta terdapat
busa berwarna. Selain itu ada zat- zat tersuspensi dari batu apung yang hancur dari proses
pelunturan sehingga dapat mengendap di saluran air dan menyebabkan pendangkalan. Proses
koagulasi-flokulasi dilakukan 3 tahap yaitu pertama pengadukan cepat selama 1 menit
dengan kecepatan 100 rpm, kedua pengadukan lambat selama 15 menit dengan kecepatan 40
rpm dan ketiga dengan pengendapan selama 60 menit.
Percobaan proses koagulasi-flokulasi dilakukan dengan cara Batch atau Jar-Test dengan
menggunakan koagulan FeSO4 dan tawas dengan penambahan flokulan Poli Akril Amida
(PAA)/aquaclear. Pada percobaan ini diketahui ukuran flok yang terbentuk dan daya
pembersihan dari koagulan dan flokulan. Untuk mengetahui besarnya daya pembersihan dari
koagulan dan flokulan maka limbah hasil pengolahan akan dianalisa atau diuji nilai parameter
pH, kekeruhan, TDS (Total Dissolved Solid), DHL dan tinggi endapan. Adapun tujuan dari
percobaan ini adalah mengetahui pengaruh dosis optimum koagulan terhadap nilai pH,
kekeruhan, TDS (Total Dissolved Solid), DHL dan tinggi endapan serta mengetahui pengaruh
penambahan flokulan pada pengendapan. Variasi dosis FeSO4 dan tawas yang digunakan
adalah 225, 250, 275, 300, 325 dan 350 ppm. Sedangkan flokulan yang digunakan adalah
aquaclear 1% sebanyak 0.5 mL.
PH awal air

limbah pencucian jeans sebesar 6,7 yang berarti limbah tersebut

memiliki pH netral. Proses koagulasi-flokulasi menggunakan alum (tawas) efektif pada


rentang pH optimal adalah antara 5.5 6.5 dengan proses koagulasi yang memadai
rentangnya dapat antara pH 5.0 8.0 pada beberapa kondisi ( Cornwell, 1998 ), sedangkan
proses koagulasi-flokulasi menggunakan FeSO4 efektif rentang pH optimal adalah antara 4.5
- 8. pH mempunyai peranan penting dalam keberlangsungan proses koagulasi-flokulasi. pH
ditentukan dan diukur dari kandungan H + dan OH- yang terkandung dalam dalam air.
Keberadaan ion inidalam air akan mengubah partikel koloid menjadi lebih positif atau lebih
negatif (Shammas,2001).
Pada penelitian penentuan dosis optimum kombinasi koagulan dan flokulan dalam
pengolahan limbah pencucian jeans dosis optimum koagulannya adalah 22 mg/L dengan
interval 2-36 mg/L (Amir,2007), akan tetapi pada praktikum ini rentang dosisnya adalah 225-

350 ppm. Dosis ini dipertimbangkan setelah melihat kondisi awal dari limbah pencucian
jeans kelompok praktikum sebelumya. Kondisi awal limbah pencucian jeans kelompok
sebelumya pH 7, kekeruhan 73,53 NTU, TDS 257 mg/L dan DHL 0,371 mS, sedangkan
kondisi awal limbah pencucian jeans praktikan adalah pH 6.7, TDS sebesar 253 mg/L,
kekeruhan 74,92 NTU dan DHL sebesar 0.376 mS . kondisi awal limbah kelompok praktikan
memiliki nilai TDS yang lebih besar dibanding limbah pencucian jeans kelompok sebelumya,
namun limbah pencucian jeans kelompok sebelumya memiliki nilai pH yang lebih besar
dibanding limbah pencucian jeans praktikan.
PH merupakan salah satu parameter yang diukur dalam penelitian ini karena dalam
pengolahan air limbah parameter ini penting sebelum air dibuang ke lingkungan. pH dalam
air akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisiensi klorinasi (Anggriani, 2008).
4.1 Pengaruh Dosis Koagulan FeSO4 dan Tawas terhadap pH
Dilihat dari gambar 4.1, pH optimum pada penggunaan koagulan tawas maupun
penggunaan koagulan FeSO4, yaitu dosis koagulan sebesar 250 ppm dengan pH 6.8 untuk
penggunaan koagulan tawas dan dosis koagulan dengan rentang 225-250 ppm dengan pH 6.5
untuk penggunaan koagulan FeSO4.

gambar 4.1 Kurva Hubungan antara Dosis Koagulan terhadap pH

pada gambar 4.1 penambahan koagulan menyebabkan kenaikan pH tetapi


selanjutnnya mengalami penurunan. Hal tersebut sesuai dengan teori penambahan koagulan
yang menyebabkan penurunan pH. Menurut Shammas (2005) penurunan pH biasanya
disebabkan oleh peningkatan kadar sulfur, dalam hal ini sulfur yang berasal dari koagulan
tawas (Al2(SO4)3) dan FeSO4.

4.2 Pengaruh Koagulan FeSO4 dan Tawas terhadap Kekeruhan

Kekeruhan adalah keadaan dimana suatu cairan tidak dapat meneruskan cahaya yang
dipaparkan disebabkan oleh partikel yang terperangkap dalam air yang terdiri dari bahan
organik dan anorganik.

gambar 4.2 Kurva Hubungan antara Dosis Koagulan terhadap Kekeruhan

Pada gambar 4.2, dapat dilihat baik penggunaan koagulan tawas maupun penggunaan
koagulan FeSO4 dapat ditentukan dosis koagulan maksimum. Dosis optimum koagulan dapat
diketahui apabila setelah penurunan kekeruhan terjadi kenaikan kekeruhan secara kontinyu.
Pada penggunaan koagulan tawas nilai kekeruhan meningkat dibandingkan run penggunaan
koagulan FeSO4. Penambahan flokulan sebesar 0.5 ml mempengaruhi nilai kekeruhan apabila
flokulan yang ditambahkan melebihi dosis optimum yang seharusnya. Pemberian flokulan
diatas dosis maksimum dapat menyebabkan kenaikan kembali nilai kekeruhannya, hal ini
diakibatkan oleh restabilisasi partikel koloid.
Pada gambar tersebut, dapat dilihat baik penggunaan koagulan tawas maupun
penggunaan koagulan FeSO4 dapat ditentukan dosis koagulan maksimum, yaitu pada
konsentrasi 300 ppm dengan kekeruhan sebesar 17.75 NTU untuk penggunaan koagulan
tawas dan pada konsentrasi 250 ppm dengan kekeruhan sebesar 18.04 NTU untuk
penggunaan koagulan FeSO4. penggunaan koagulan tawas lebih efektif dibandingkan
penggunaan koagulan FeSO4
4.3 Pengaruh Koagulan FeSO4 terhadap TDS (Total Dissolved Solid)
Total dissolved Solid (TDS) merupakan seluruh padatan terlarut yang terdiri dari
semua mineral, garam, logam, serta kation anion yang terlarut dalam air

gambar 4.3 Kurva Hubungan antara Dosis Koagulan terhadap TDS

Pada gambar 4.3 dapat dilihat bahwa nilai TDS minimum koagulan untuk penggunaan
koagulan tawas dan penggunaan koagulan FeSO4 dapat diketahui , yaitu pada konsentrasi 225
ppm dengan kekeruhan sebesar 271 mg/l untuk penggunaan koagulan tawas dan pada
konsentrasi 250 ppm dengan kekeruhan sebesar 247 mg/l untuk penggunaan koagulan FeSO 4.
Penambahan flokulan untuk parameter TDS tidak terlalu mempengaruhi hasil pengukuran
TDS, karena tidak semua padatan terlarut dapat mengion walaupun ditambahkan bahan
kimia.
4.4 Pengaruh Koagulan FeSO4 terhadap DHL (Daya Hantar Listrik)
Parameter DHL menentukan banyaknya ion-ion terlarut di dalam air.

gambar 4.4 Kurva Hubungan antara Dosis Koagulan terhadap DHL

Berdasarkan gambar 4.4 dapat dilihat bahwa nilai DHL minimum untuk penggunaan
koagulan tawas dan penggunaan koagulan FeSO4 dapat diketahui , yaitu pada konsentrasi 225

ppm dengan kekeruhan sebesar 0.42 mS untuk penggunaan koagulan tawas dan pada
konsentrasi 225-250 ppm dengan kekeruhan sebesar 0.399 mS untuk penggunaan koagulan
FeSO4. Penambahan flokulan untuk parameter DHL tidak terlalu mempengaruhi hasil
pengukuran DHL sama seperti parameter TDS. Akan tetapi, penambahan koagulan
mempengaruhi nilai parameter DHL. Penambahan terlalu banyak koagulan dapat
menyebabkan ion-ion bebas dalam air akan bertambah sehingga nilai DHL akan meningkat.
Nilai DHL berbanding lurus dengan TDS, semakin besar nilai TDS maka semakin besar nilai
DHL.
4.5 Pengaruh Koagulan FeSO4 terhadap Tinggi Endapan
Parameter tinggi endapan bisa menjadi acuan dalam pemilihan koagulan. Semakin
tinggi endapan yang diperoleh dari proses pengendapan maka proses koagulasi-flokulasi
semakin efektif karena proses pembentukan flok-flok cepat sehingga pada saat pengendapan
flok-flok yang terendapkan semakin banyak.

gambar 4.5 Kurva Hubungan antara Dosis Koagulan terhadap Tinggi endapan

Proses koagulasi-flokulasi tahap ketiga adalah pengendapan selama 60 menit. Proses


pengendapan selama 60 menit di dalam corong inhoff. Proses pengendapan ini bertujuan
untuk mengendapkan flok-flok yang terbentuk dari proses sebelumnya. Berdasarkan gambar
4.5 penggunaan koagulan tawas

dengan flokulan menghasilkan lebih banyak endapan

dibandingkan dengan koagulan FeSO4 dengan flokulan. Dosis optimum koagulan tawas
dengan flokulan, yaitu pada dosis 300 ppm dengan tinggi endapan sebesar 23 ml. Sedangkan
dosis optimum koagulan FeSO4 dengan flokulan didapat pada dosis 275 ppm dengan tinggi
endapan sebesar 9 ml.

BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal

sebagai berikut :
1. Penggunaan koagulan Tawas lebih efektif dari koagulan FeSO4, karena pada penggunaan
koagulan Tawas tinggi endapan yang dihasilkan lebih tinggi dan nilai kekeruhan yang
diperoleh lebih rendah
2. Dosis flokulan PAA/aquaclear pada 7,142 ppm menghasilkan tinggi endapan lebih tinggi
dari penggunaan flokulan pada penelitian sebelumnya yaitu pada 14,284 ppm.
3. Dosis koagulan Tawas optimum yang diperoleh pada 300 ppm.

5.2 Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka ada beberapa saran yang dapat
dijadikan sebagai masukkan untuk kelompok selanjutnya, yaitu sebagai berikut :
1. Dosis flokulan yang digunakan berada pada 7,142 ppm hanya menambah tinggi endapan
sebesar 1 mm, sehingga untuk memperoleh dosis yang tepat nilai tersebut sebaiknya
diperluas.
2. Proses flokulasi sebaiknya dapat dilakukan dalam waktu yang lebih lama dari 15 menit.
3. Proses pengendapan dalam imhoff cone sebaiknya dilakukan dalam waktu yang lebih
lama, untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal..
4. Pada penelitian ini belum dilakukan korelasi antara nilai kekeruhan terhadap nilai COD
dan BOD, oleh karena itu pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan parameter
penurunan nilai COD dan BOD sehingga karakteristik air limbah dapat ditinjau secara
kimiawi dan biologi. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan pembahasan
mengenai pemanfaatan air buangan dari hasil pengolahan ini menjadi sumber air bersih
untuk air produksi, dimana pengolahannya bisa dilakukan secara kimia dengan
penambahan desinfektan atau bahan kimia lainnya maupun secara fisika dengan sistem
membran atau adsorpsi menggunakan karbon aktif.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Dewi. 2008. Pemilihan Koagulan Untuk Pengolahan Air Bersih Di PDAM Badak
Singa Kota Bandung. Bandung: Jurusan Teknik Lingkungan ITB.
Permatasari, Tri Juliana dan Erna Apriliani. 2013. Optimasi Penggunaan Koagulan Dalam
Proses Penjernihan Air. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Rambe, Ahmad. 2009. Pemanfaatan Biji Kelor (Moringga Oleifi) Sebagai Koagulan
Alternatif dalam Proses Penjernihan Limbah Cair Industri Tekstil. Medan: Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Shammas, Nazih K. 2005. Physicochemical Treatment Processes Volume 3 Human Press:
Lenox.
Sutapa, Ignasius D.A. Kajian Jar Test Koagulasi-Flokulasi sebagai Dasar Perancangan
Instalasi Pengolahan Air Gambut (Ipag) Menjadi Air Bersih. Bogor: Research Centre
for Limnology LIPI.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto Pada Saat Praktikum
N
o
1.

Gambar

Keterangan
Proses koagulasi limbah pencucian jeans
tanpa flokulan dengan kecepatan putaran
cepat 100 rpm selama 1 menit dan
dilanjutkan dengan proses flokulasi dengan
kecepatan putaran 40 rpm selama 30 menit.

2.
Setelah proses koagulasi dan flokulasi,
dilakukan proses sedimentasi dalam corong
inchoff selama 1 jam untuk mengetahui
tinggi endapan yang terbentuk.
3.
Flokulan aquaclear 1% yang ditambahkan
secara bersamaan pada saat proses flokulasi
sebanyak 0.5 mL pada masing-masing
sampel dengan dosis koagulan berbeda.
4.
Dosis koagulan FeSO4 yang ditambahkan
secara bersamaan pada saat proses koagulasi
dengan pengadukan cepat.

5.
Kecepatan putar pengaduk yang tak stabil
harus dijaga agar tetap konstan.

Lampiran 2. Perhitungan
a. Konsentrasi Koagulan Tawas
Konsentrasi Tawas I = 10.000 ppm
Volume Tawas II = 700 mL
C1 V 1=C 2 V 2
V 1=

C2 V 2
C1

V 1=

21 mL

Tawas 325 ppm

250 ppm 700 mL


10.000 ppm

V 1=

325 ppm 700 mL


10.000 ppm
22,75 mL

Tawas 275 ppm

V 1=

300 ppm 700 mL


10.000 ppm

17,5 mL

V 1=

Tawas 250 ppm

V 1=

Tawas 300 ppm

225 ppm 700 mL


10.000 ppm
15,75 mL

Tawas 225 ppm

Tawas 350 ppm

275 ppm 700 mL


10.000 ppm

V 1=

19,25 mL

350 ppm 700 mL


10.000 ppm
24,5 mL

b. Konsentrasi Koagulan FeSO4

FeSO4 225 ppm

x mg
225 mg
1L
=

700 mL
1L
1000 mL

225 mg
x=
700 mL
1000mL

x= 157,5 mg =

0,1575 g

FeSO4 250 ppm

x mg
250 mg
1L
=

700 mL
1L
1000 mL

x=

250 mg
700 mL
1000mL

0,175 g

x= 175 mg =

FeSO4 275 ppm

x mg
275 mg
1L
=

700 mL
1L
1000 mL

x=

x=

FeSO4 325 ppm

x mg
325 mg
1L
=

700 mL
1L
1000 mL

275 mg
700 mL
1000mL

x= 192,5 mg

= 0,1925 g

FeSO4 300 ppm

x mg
300 mg
1L
=

700 mL
1L
1000 mL

300 mg
700 mL
1000mL

x= 210 mg = 0,21 g

x=

325 mg
700 mL
1000mL

x= 227,5 mg =

0,2275 g
FeSO4 350 ppm

x mg
350 mg
1L
=

700 mL
1L
1000 mL

x=

350 mg
700 mL
1000mL

x= 245 mg = 0, 245

c. Konsentrasi Flokulan Aquaclear


Aquaclear 1% = 10.000 ppm
C1 V 1=C 2 V 2

10.000 ppm 0,5 mL=


C2

C2 700 mL
7,142 ppm