Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan berbagai infeksi yang dapat


menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Infeksi Menular
Seksual (IMS) lebih berisiko bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. IMS yang populer di Indonesia
antara lain gonore dan sifilis. Salah satu penyakit dari IMS yang belum dapat
disembuhkan adalah HIV/AIDS. Faktor terjadinya penyebaran IMS disebabkan
karena perilaku seks bebas, merosotnya nilai agama, gaya hidup, pekerjaan, dan
gagalnya membina rumah tangga. Infeksi menular seksual dapat disebabkan seperti,
gonore, trikomoniasis, herpes genitalis, kondiloma akuminata (Dessi, 2015).
Diperkirakan bahwa lebih dari 19,7 juta IMS dengan kasus baru di Amerika
Serikat setiap tahun (CDC, 2013). Data dari Dinkes Provinsi Jateng (2013)
menyebutkan bahwa jumlah kasus baru IMS mencapai 8.671 kasus, jumlah kasus
IMS menurun dibandingkan tahun 2011 yaitu sebanyak 10.752 kasus, meskipun
demikian kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum
terdeteksi.
Perempuan memiliki resiko tinggi terhadap penyakit yang berkaitan dengan
kehamilan dan persalinan, juga terhadap penyakit kronik dan infeksi. Selama masa
kehamilan,

perempuan mengalami

berbagai perubahan,

yang secara

alamiah

sebenarnya diperlukan untuk kelangsungan hidup janin dalam kandungannya.


Namun, ternyata berbagai perubahan tersebut dapat mengubah kerentanan dan juga
mempermudah terjadinya infeksi selama kehamilan (Dessi, 2015).
Infeksi menular seksual yang tidak diobati seringkali dihubungkan dengan
infeksi kongenital atau perinatal pada neonatus, terutama di daerah dengan angka

infeksi yang tinggi. Perempuan hamil dengan sifilis dini yang tidak diobati, sebanyak
25% mengakibatkan janin lahir mati dan 14% kematian neonatus, keseluruhan
menyebabkan kematian perinatal sebesar 40%. Kehamilan pada perempuan dengan
infeksi gonokokus yang tidak diobati, sebesar 35% akan menimbulkan abortus
spontan dan kelahiran prematur, dan sampai 10% akan menyebabkan kematian
perinatal. Dalam ketiadaan upaya pencegahan, 30% sampai 50% bayi yang lahir dari
ibu dengan gonore tanpa pengobatan dan sampai 30% bayi yang lahir dari ibu dengan
klamidiosis tanpa diobati, akan mengalami oftalmia neonatorum yang dapat
mengakibatkan kebutaan (Kemenkes RI, 2011)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Infeksi Menular Seksual


Infeksi menular Seksual (IMS) merupakan berbagai infeksi yang dapat
menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual, lebih dari
30jenis pathogen dapat ditularkan dengan manifestasi klinis bervariasi menurut
umurdan jenis kelamin. Meskipun IMS dapat ditularkan melalui hubungan
seksual, namun penularan dapat terjadi dari ibu ke janin dalam kandungan atau
saat kelahiran. Salah satu gejala dari IMS adalah Leukore (Vaginal discharge).
Misalnya, gonore, infeksi genital nonspesifik, trikomoniasis, bacterial vaginosis,
dan kandidiasis vulvovagina (Kemenkes RI, 2011).
1. Gonore
a. Definisi
Gonore adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae, merupakan diplokokus gram negatif yang reservoir pada
manusia. Infeksi ini hampir selalu ditularkan melalui aktifitas seksual
(Irwin, 2003).
b. Etiologi
Menurut Djuanda (2011) Gonore disebabkan oleh gonokok yang
dimasukkan

ke

dalam

kelompok

Neisseria,sebagai

Neisseria

Gonorrhoeae. Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi


dengan lebar 0,8 u, panjang 1,6 u, dan bersifat tahan asam. Kuman ini juga
bersifat gram negatif, tampak di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan
lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan suhu di
atas 39o C, dan tidak tahan zat desinfektan. Daerah yang paling mudah

terinfeksi adalah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang
belum berkembang (imatur), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.
c. Epidemiologi
Sekitar 820,000 orang dilaporkan terinfeksi gonore dari 19,7 miliar
infeksi menular seksual setiap tahunnya yang terjadi di Amerika Serikat
dan 70% penderita gonore berusia 15 24 tahun (CDC, 2013).
d. Gejala klinis
1) Masa tunas sulit untuk ditemukan karena pada umumnya asimtomatik,
2) Pada wanita, penyakit akut atau kronik jarang ditemukan gejala
subjektif dan objektifnya.
3) Infeksi pada wanita, pada mulanya hanya mengenai serviks uteri
4) Keluhan:
kadang-kadang
menimbulkan
rasa
nyeri
pada
panggul

bawah,

demam,keluarnya

cairan

dari

vagina,

nyeri

ketika berkemih dan desakan untuk berkemih,perdarahan antara


masa haid dan menoragia.
5) Pada pemeriksaan serviks tampak merah dengan erosi dan sekret
mukopurulen, duhtubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servitis
akut.
e. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis,dan
pemeriksaan pembantuyang terdiri atas 5 tahapan menurut Djuanda (2011)
1) Sediaan langsung
Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan
gonokokus gram negatif, intraseluler dan ekstraseluler. Sampel dapat
diambil dari daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil
dari uretra, muara kelenjar bartholin, serviks, dan rectum.
2) Kultur
Untuk identifikasi perlu dilakukan pembiakan (kultur). Dua macam
media yang dapat digunakan : media transport dan media
pertumbuhan.
3) Tes definitif
a) tes oksidasi

reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-pfenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok.
Semua Neisseria memberi reaksi positif dengan perubahan warna
koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda sampai
merah lembayung.
b) tes fermentasi
tes oksidasi positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai
glukosa, maltose, dan sukrosa.
4) Tes beta lactamase
Menggunakan cefinase yang mengandung chromogenic cephalosporin
akan

menyebabkan

perubahan

warna

dari

kuning

menjadi

merahapabila kuman mengandung enzim beta-laktamase


5) Tes Thomson
Untuk mengetahui dimana infeksi berlangsung. Dengan syarat :
dilakukan setelah bangun pagi, urin dibagi dalam 2 gelas, dan tidak
boleh menahan kencing dari gelas 1 ke gelas 2.
f. Pengobatan
Pengobatan dapat diberikan sefiksim 400 mg dosis tunggal atau
levofloksasin 500 mg dosis tunggal, dengan pilihan obat lain yaitu
kanamisin 2 gram, injeksi IM dosis tunggal atau tiamfenikol 3,5 gram
peroral dengan dosis tunggal atau seftriakson 250 mg injeksi IM, dosis
tunggal. Pada ibu hamil boleh diberikan kecuali levofloksasin karena
termasuk antibiotik golongan floroquinolone. Dalam penggunaannya pada
wanita hamil, golongan ini termasuk ke dalam kategori C (Kemenkes,
2011).
Menurut CDC (2015) terapi kombinasi dengan mekanisme yang
berbeda sangat dianjurkan karena dapat meningkatkan efektivitas dalam
pengobatan, yaitu dengan ceftriakson 250 mg IM dalam dosis tunggal
dengan kombinasi azitromisin 1 gram oral dalam dosis tunggal. Dengan
alternatif sefiksim 400 mg peroral dalam dosis tunggal dengan kombinasi
azitromisin 1 gram oral dalam dosis tunggal.

Ibu hamil yang terinfeksi N. gonorrhoeae tetap diobati dengan


terapi ganda yang terdiri dari ceftriakson 250 mg dalam dosis IM tunggal
dan azitromisin 1 gram peroral sebagai dosis tunggal, untuk alternatifnya
atau jika sefalosporin bisa diberikan spektinomisin (CDC, 2015).
2. Infeksi Genital Nonspesifik
a. Definisi
Infeksi Genital Nonspesifik (IGNS) adalah infeksi menular seksual
berupa peradangan di uretra, rectum, atau serviks yang disebabkan oleh
kuman nonspesifik ( Djuanda, 2011).
b. Etiologi
Kurang lebih 75% telah diselidiki penyebabnya adalah Chlamydia
trachomatis, Ureplasma urealytikum, Garnella vaginalis dan mycoplasma
hominis (Djuanda, 2011).
c. Epidemiologi
Di dunia, WHO memperkirakan terdapat 140 juta kasus yang
terjadi akibat infeksi C.trachomatis. Terdapat 1,1 juta kasus dilaporkan di
Amerika Serikat dengan prevalensi tertinggi terjadi pada wanita diusia 15
sampai 24 tahun pada tahun 2007 (Struble, 2010).
d. Gejala klinis
Menurut Pedoman Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual
Kemenkes RI, infeksi melalui hubungan seksual ini pada pria muncul
sebagai uretritis dan pada wanita sebagai servisitis mukopurulen.
Manifestasi klinis dari uretritis kadang sulit dibedakan dengan gonorrhea
dan termasuk adanya discharge mukopurulen dalam jumlah sedikit atau
sedang, terutama pada pagi hari (morning drops) dan dapat pula berupa
bercak di celana dalam, gatal pada uretra dan rasa panas ketika buang air
kecil. Infeksi tanpa gejala bisa ditemukan pada 1- 25% pria dengan
aktivitas seksual aktif. Pada wanita, manifestasi klinis mungkin sama

dengan gonorrhea, dan seringkali muncul sebagai discharge endoservik


mukopurulen, disertai dengan pembengkakan, eritema dan mudah
mengakibatkan perdarahan endoservik disebabkan oleh peradangan dari
epitel kolumner endoservik. Namun, 70 % dari wanita dengan aktivitas
seksual aktif yang menderita klamidia, biasanya tidak menunjukkan
gejala. Infeksi kronis tanpa gejala dari endometrium dan saluran tuba
bisa memberikan hasil yang sama. Manifestasi klinis lain namun jarang
terjadi seperti bartolinitis, sindroma uretral dengan disuria dan pyuria,
perihepatitis (sindroma Fitz-Hugh-Curtis) dan proktitis. Infeksi yang
terjadi selama kehamilan bisa mengakibatkan ketuban pecah dini dan
menyebabkan terjadinya kelahiran prematur, serta dapat menyebabkan
konjungtivitis dan radang paru pada bayi baru lahir.
e. Diagnosis
Diagnosis secara klinis sukar untuk membedakan infeksi karena
gonore atau nongonore. Untuk mendeteksi antigen ada beberapa cara :
1) Direct Fluorescent Antibody (DFA)
2) Enzime Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA)
Metode terbaru dengan mendeteksi asam nukleat C. trachomatis :
1) Hibridinase DNA probe, dikenal dengan istilah gen probe
2) Amplifikasi asam nukleat
f. Pengobatan
Pengobatan dapat diberikan azitromisin 1 gram dosis tunggal
peroral atau doksisiklin 2x100 mg/hari, peroral selama 7 hari, dengan
alternatif pengobatan lain yaitu eritromisin 4x500 mg/hari, peroral selama
7 hari. Doksisiklin tidak dianjurkan kepada ibu hamil dan menyusui
(Kemenkes RI, 2011).
Menurut CDC (2015) azitromisin 1 gram oral dengan dosis
tunggal atau doksisiklin 2x100 mg/hari selama 7 hari sangat efektif

dalam

mengobati

nongonokokus,

dengan

alternatif

pengobatan

eritromisin 4x500 mg/hari selama 7 hari atau eritromisin etilsusilat 4x800


mg/hari selama 7 hari atau levofloksasin 1x500 mg/hari selama 7 hari
atau ofloksasin 2x300 mg selama 7 hari.
Ibu hamil dikontraindikasikan dengan penggunaan doksisiklin
karena dapat menyebabkan cacat lahir pada janin yang bersifat
ireversibel,disarankan menggunakan alternatif pengobatan lainnya (CDC,
2015).

3. Trikomoniasis Vaginalis
a. Definisi
Trikomoniasis adalah infeksi pada wanita yang mengenai saluran
urogenital bagian bawah, disebabkan oleh Trichomonas vaginalis (Daili,
2010).
b. Etiologi
T. vaginalis merupakan protozoa yang menginfeksi vagina, epitel
uretra dan menyebabkan mikroulserasi (Garcia, et al. 2008). Parasit
Trichomonas vaginalis tersebar melalui hubungan seksual yaitu hubungan
penis dengan vagina atau vulva dengan vulva (daerah kelamin luar vagina)
jika kontak dengan pasangan yang terinfeksi. Wanita dapat terkena penyakit
ini dari infeksi pria atau wanita, tetapi pria biasanya hanya mendapatkan dari
wanita yang terinfeksi (Center for Disease Control, 2015).
c. Epidemilogi
Penelitian yang dipublikasi oleh UNAIDS dan WHO (1997) yaitu
Sexual Transmitted Disease Policies dan Principles for Prevention and Care,
memperkirakan insidens terjadi trikomononiasis pada tahun 1995 di seluruh

dunia adalah sebanyak 170 juta. Publikasi WHO (2001) di Geneva tentang
Global Prevalence Incidence of Selected Curable STI, penyakit menular
seksual akibat trikomoniasis yang terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara
adalah sebanyak 75.43 juta pada 1995. Publikasi yang sama juga
menunjukkan angka kejadian trikomoniasis di
Tenggara

Asia Selatan dan Asia

pada 1999 meningkat yaitu ke 76.42 juta. Sangat sulit

memperkirakan jumlah pria yang terkena, karena memberikan gejala


asimtomatis. 30-40% dari data yang dicatat terdeteksi memiliki organisme ini
(Garcia, et al. 2008).
d. Patogenesis
T. vaginalis menyebabkan perdangan pada vagina dan uretra dengan
menginvasi bagian epitel dan subepitel (Daili, 2010). Inkubasi dari T.
vaginalis adalah 4-28 hari. Pada wanita gejala dapat asimtomatis hingga
vaginitis. Biasanya meningkat pada saat terjadinya peningkatan keasaman dari
vagina timbul selama atau sesudah menstruasi (Garcia, et al. 2008).
e. Gejala Klinis
Wanita yang terinfeksi mungkin mengeluh malodorus, discharge
vagina yang kuning kehijauan, vulva yang gatal dan kemerahan, perut bawah
yang tidak nyaman, dan disuria (Garcia, et al. 2008). Kadang terbentuk abses
kecil pada dinding vagina dan serviks, tampak sebagai granulasi merah yang
disebut strawberry appearance (Daili, 2010).
Pada pria, trikomoniasis tidak menimbulkan gejala atau asimtomatis.
Beberapa mengeluhkan gejala discharge uretra dan rasa terbakar saat buang
air kecil. Balanitis, epididimitis dan prostatitis kadang juga terjadi pada pria
(Garcia, et al. 2008).
f. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan, pH vagina mungkin bisa meningkat di bawah 5.
Pemeriksaan vaginal swab wet mount adalah pemeriksaan yang biasanya

dilakukan. Pemeriksaan mikroskop medan gelap merupakan pemeriksaan


terbaik untuk melihat protozoa. Pemeriksaan kultur merupakan pemeriksaan
sensitif bagi trikomoniasis. Biasanya positif dalam 48 jam dan merupakan
pemeriksaan yang dianjurkan bagi pria (Garcia, et al. 2008).
g. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada Trikomoniasis adalah dengan menggunakan
Metronidazol oral 2 gram dosis tunggal atau bisa juga dengan Metronidazol
oral 500 miligram 2 kali sehari selama 7 hari (Kemenkes RI, 2011). Alternatif
terapi lainnya adalah dengan menggunakan preparat Tinidazole oral 2 gram
dosis tunggal (Garcia, et al. 2008). Penatalaksaan terhadap pasangan juga
sangat dibutuhkan agar tidak terjadi infeksi yang berulang (Center for Disease
Control, 2015).
h. Penatalaksanaan pada Kehamilan
Trikomoniasis dihubungkan dengan kelahiran prematur dan berat bayi
lahir rendah. Terapi dengan menggunakan metronidazol diketahui tidak
menyebabkan kematian pada janin. Beberapa penelitian melaporkan bahwa
metronidazol dapat meningkatkan resiko kelahiran prematur, namun hal
tersebut belum terbukti dalam penelitian yang lebih banyak. Terapi
metronidazol oral 2 gram dosis tunggal dapat digunakan pada berbagai
tahapan kehamilan. Menurut penelitian yang telah dilakukan, metronidazol
tidak memiliki efek teratogenik, sedangkan tinidazol belum dievaluasi secara
maksimal. Metronidazol juga aman bagi ibu menyusui, karena akan menurun
jumlahnya 12-24 jam setelah pemberian (Center for Disease Control, 2015).
i. Prognosis
Prognosis baik ditemukan pada pasien trikomoniasis dengan terapi
yang adekuat. Agar tidak terjadi infeksi berulang, pasangan juga harus diterapi
(Garcia, et al. 2008).

10

4. Bakterial Vaginosis
a. Definisi
Bakterial

vaginosis

adalah

suatu

kelainan

klinis

akibat

ketidakseimbangan bakteri normal di vagina yang menyebabkan kelainan


berupa discharge vagina yang berbau (malodorus) (Brotman, et al. 2010).
b. Etiologi
Bakterial vaginosis terjadi ketika terdapat ketidakseimbangan bakteri
normal pada vagina. Pergeseran yang terjadi karena hidrogen peroksida
memproduksi lactobacili dengan jumlah yang besar dari bakteri lain
termasuk Gardnerella vaginalis, Mobiluncus sp., M. hominis, dan gram
negatif

Prevotella,

Porphyromonas,

dan

Bacteroides,

dan

Peptostreptococcus sp (Garcia, et al. 2008).


c. Epidemilogi
Baktrial vaginosis merupakan penyebab yang paling sering dari
discharge vagina yang berbau (malodorus) pada usia reproduktif. Tingkat
pengetahuan yang rendah tentang penyakit ini menyebabkan banyak yang
salah dalam mengobatinya (Menard, 2011). Sebanyak 16 % wanita hamil di
Amerika Serikat dilaporkan terinfeksi bakterial vaginosis. Menurut beberapa
penelitian, terjadi peningkatan terhadap wanita yang berhubungan seks
dengan wanita. Angka kejadian sangat sulit untuk diperkirakan karena
tingginya infeksi dengan gejala asimtomatis dan rendahnya metode deteksi
(Garcia, et al. 2008).

d. Faktor Resiko

11

Menurut Cherpes et al dalam Gillet (2011) terdapat beberapa faktor


resiko bagi bakterial vaginosis yaitu : penggunaan alat kontrasepsi intrauterina, sering menyiram vagina, bergonta ganti pasangan, berusia muda saat
hubungan seksual pertama (Gillet, et al. 2011).
e. Patogenesis
Patogenesis bakterial vaginosis hingga saat ini belum jelas. Mungkin
terdapat hubungan yang menguntungkan antara G. vaginalis dengan bakteri
anaerobyang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikan pH
vagina dan menjadi tempat berkembang biaknya G. vaginalis. Beberapa
amin diketahui menjadi penyebab discharge vagina yang berbau karena
menyebabkan iritasi kulit dan mengikatkan pelepasan epitel vagina
(Schwebke, 2014).
f. Gejala Klinis
Sebagian besar wanita yang terkena bakterial vaginosis memiliki
keluhaan asimtomatis. Beberapa wanita mengeluh vagina yang berbau
dengan discharge yang putih atau abu-abu (Garcia, et al. 2008). Kriteria
diagnostik bakterial vaginosis

berdasarkan gejala yang dipakai adalah

kriteria Amsel, yaitu : pH vagina >4,5, discharge vagina yang homogen, tipis
dan keputihan, sel-sel yang menjadi petunjuk pada pemeriksaan mikroskopis
cairan vagina (misal : sel-sel epitel vagina yang diikuti coccoobacilli),
vagina dischare yang berbau amis. Diagnosis ditegakkan dengan memenuhi
3 dari 4 kriteria (Menard, 2010).
g. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan mikroskopis cairan vagina, clue cell (sel epitel yang
ditutupi oleh bakteri) merupakan indikator bakterial vaginosis. Paling kurang
20 persen sel epitel pada pemeriksaan mikroskopis dengan garam wet mount.
Pemeriksaan lain adalah dengan kultur bakteri yang ada di vagina, namun
pemeriksaan tersebut tidak bisa dilakukan secara cepat sehingga jarang
dilakukan (Garcia, et al. 2008).
12

h. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan

pada

bakterial

vaginosis

adalah

dengan

menggunakan preparat metronidazol oral dengan dosis 2 gram dosis tunggal.


Pengobatan alternatif lain bisa dengan menggunakan metronidazol oral 500
mg dua kali sehari selama 7 hari, atau klindamisin oral 300 mg dua kali
sehari selama 7 hari (Kemenkes RI, 2011). Menurut Center for Disease
Control (2015), penggunaan Klindamisin topikal 2 % sebanyak 5 gram
penuh sebelum tidur selama 7 hari juga dapat dipakai dalam pengobatan
bakterial vaginosis (Center for Disease Control, 2015).
i. Penatalaksanaan pada Kehamilan
Pengobatan yang dianjurkan untuk bakterial vaginosis pada ibu hamil
adalah dengan metronidazol. Metronidazol telah diteliti, dan tidak memiliki
efek teratogenik dan mutagenik terhadap janin. Data yang didapat dari
penelitian juga mendapatkan bukti bahwa metronidazol tidak berbahaya bagi
kehamilan. Belum ada bukti bahwa terapi menggunakan rejimen oral lebih
unggul dibanding rejimen topikal. Maka dari itu, terapi dapat dilakukan
dengan pemilihan salah satu rejimen tersebut. Trapi metronidazol juga aman
bagi ibu yang menyusui karena kadarnya akan menurun lebih rendah
dibanding kadar dalam plasma darah (Center for Disease Control, 2010).
j. Prognosis
Bakterial vaginosis memiliki prognosis yang baik dengan dilakukan
terapi yang adekuat. Beberapa infeksi dapat sembuh dengan sendiri.
Sebagian besar infeksi memberi gejala asimtomatis dan jarang memiliki
komplikasi. (Garcia, et al.2008).
5. Kandidiasis Vulvovagina
a. Definisi

13

Kandidiasis vulvovagina merupakan sekumpulan keluhan dan gejala


inflamasi pada vulva dan vagina yang disebabkan oleh Candida Sp (Achkar
dan Fries, 2010).
b. Etiologi
Candida albicans merupakan oraganisme tersering dalam kandidiasis
vulvovagina yakni sebesar 80 hingga 90 persen. Sisanya adalah C. glabrata
(Garcia, et al. 2008). C. albicans merupakan organisme normal yang berada di
vagina, dan dapat menjadi patogen oportunis (Cassone, 2014).
c. Epidemilogi
Penyakit Kandidiasis ini dapat menyerang berbagai kelompok usia dan
terdapat diberbagai belahan dunia. Penyebab Kandidiasis merupakan
organisme normal yang terdapat pada orang sehat sehingga sulit diketahui
penyebarannya secara tepat (Kuswadji, 2010). Dari sebuah penelitian di
Amerika

Serikat

didapatkan

56

pernah

mengalami

kandidiasis

vulvovaginalis dan 8 % diantaranya mengalami infeksi berulang (Achkar dan


Fries, 2010).
d. Patogenesis
Candida

albicans

adalah

mikroorganisme

eukariotik

dengan

kemampuan yang luar biasa untuk beradaptasi dengan lingkungan yang


berbeda. Sifat unik ini memungkinkan C. albicans untuk mempunyai dua
peran yakni, yang baik sebagai komensal dan juga sebagai patogen bagi
manusia dan mamalia lainnya. Dualitas ini memiliki korespondensi morfologi
dalam kapasitas C. albicans untuk menjalani perubahan morfogenetik dari
round-ovoid typical yeast cell (Y) dengan miselium hifa (H) Transisi ini
adalah relevansi terbaik bagi patogenitas dari C. Albicans.

14

Terdapat bukti yang cukup bahwa bentuk Y dominan terkait dengan


komensalisme, sedangkan Bentuk H dikaitkan dengan patogenisitas. Dalam
bentuk Y, C. albicans dapat ditemukan di usus dan vagina dan > 50% dari
subyek yang sehat, sedangkan bentuk H ini selalu ditemukan dalam spesimen
patologis yang diperoleh dari jaringan yang terinfeksi, termasuk wanita
dengan Kandidiasis Vulvovagina. Sel Y ditoleransi oleh host dan
dipertahankan pada angka rendah pada permukaan epitel vagina dengan
berbagai mekanisme yang menghambat transisi ke bentuk H. Hal ini masih
harus ditentukan apakah kehadiran C. albicans mempunyai manfaat bagi host
dalam hal komposisi mikrobiota yang seimbang dan pemeliharaan
homeostasis imun lokal. Namun, ketika mekanisme toleransi menjadi rusak,
bentuk Y berubah menjadi bentuk H. Hifa ini membentuk lapisan biofilm
yang kuat dan kemudian menyerang lapisan terluar epitel vagina. Pelepasan
bentuk H dari epitel, dengan memicu sel-sel inflamasi, puing-puing dari sel
yang lisis dan cairan vagina membentuk discharge vagina yang merupakan
salah satu klinik tanda-tanda dan gejala yang khas kandidiasis vulvovagina
(Cassone. 2014).
e. Gejala Klinis
Pasien mengeluhkan discharge vagina yang kental dan bersamaan
dengan rasa panas, gatal saat buang air kecil dan kadang disuria (Garcia, et al.
2008). Pada pemeriksaan fisik didapatkan vulva dan vagina yang eritem,
edema, terdapat fisura dan discharge vagina yang kental (Achkar dan Fries,
2010).
f. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan KOH atau pemeriksaan gram dari discharge vagina
didapatkan tunas, hifa atau pseudohifa. Alternatif lain adalah dengan
pemeriksaan kultur dan didapatkan spesies dari Candida Sp (Center for
Disease Control, 2015).

15

g. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Kandidiasis vulvovaginalis di Indonesia adalah
menggunakan preparat mikonazol atau klotrimazol 200 mg intravagina atau
klotrimazol 500 mg intravagina dosis tunggal. Terapi lain yang dapat
digunakan adalah dengan terapi sistemik yaitu flukonazol oral 150 mg dosis
tunggal atau itrakonazol oral 200 mg dosis tunggal. (Kemenkes RI, 2011).
h. Penatalaksanaan pada Kehamilan
Kandidiasis vulvovagina sering terjadi pada wanita hamil. Terapi yang
diperbolehkan adalah dengan menggunakan preparat azol topikal selama
paling lama 7 hari. Terapi sistemik tidak dianjurkan pada ibu hamil (Center
for Disease Control, 2015).

B. Hubungan Terjadinya Infeksi Menular Seksual Dengan

Ibu Hamil

Secara gender perempuan memiliki resiko tinggi terhadap penyakit yang


berkaitan dengan kehamilan dan persalinan, juga terhadap penyakit kronik dan
infeksi. Selama masa kehamilan, perempuan mengalami berbagai perubahan, yang
secara alamiah sebenarnya diperlukan untuk kelangsungan hidup janin dalam
kandungannya. Namun, ternyata berbagai perubahan tersebut dapat mengubah
kerentanan dan juga mempermudah terjadinya infeksi selama kehamilan, perubahan
tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Perubahan Imunologik
Selama kehamilan
yang

terjadi

supresi

imunokempetensi

dapat mempengaruhi terjadinya berbagai penyakit

ibu

infeksi.

Supresi sistem imunakan semakin meningkat seiring berlanjutnya usia


kehamilan. Limfosit T jumlahnya berkurang dalam sampel darah tepi
perempuan hamil, tetapi tidak demikian halnya dengan limfosit B.
Pengurangan maksimal CD4+ limfosit T terjadi pada trimester 3.
2. Perubahan Anatomik

16

Anatomi saluran
Dinding

sangat berubah

vagina menjadi hipertrofik

mengalami
pada

genital

hipertrofi, dan semakin

ektoserviks

yang

dan penuh
luas

daerah

saat

kehamilan.

darah.
epitel

reaktivasi laten.

kolumnar

terpadan mikroorganisme. Perluasan ektopi

serviks selama kehamilan mengakibatkan mudahnya infeksi


atau

Serviks

Serviks akan

serviks

mensekresi mukus yang sangat

kental, membentuk mucous plug.


3. Perubahan mikrobial servikovaginalis
Mikroorganisme vagina merupakan ekosistem heterogen untuk
berbagai bakteri anaerob dan
mekanisme

yang

bakteri

fakultatif

anaerob.

Diduga

menyebabkan perubahan tersebut adalah pH vagina,

kandungan glikogen, dan vaskularisasi genital bagian bawah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Infeksi menular seksual merupakan kejadian infeksi yang dapat dialami semua
wanita, salah satunya adalah wanita yang sedang hamil. Salah satu gejala infeksi
menular seksual adalah leukore (discharge vagina). Pada ibu hamil, sangat rentan
terjadi infeksi menular seksual karena terjadi perubahan anatomi, imunologi dan
perubahan mikroba servikovaginalis. Penatalaksanaan pada ibu hamil memiliki
beberapa perbedaan dengan penatalaksanaan pada orang biasa. Hal tersebut agar
tidak terjadi efek samping yang tidak diinginkan bagi ibu dan janin seperti efek
teratogenik dan mutagenik.

17

DAFTAR PUSTAKA
Achkar, J. M., & Fries, B. C., 2010. Candida Infections of the Genitourinary Tract.
Dalam Clinical Microbiology Reviews. New York : American Society for
Microbiology. P 253-273.
Brotman et al., 2010. Bacterial Vaginosis Assessed by Gram Stainand Diminished
Colonization Resistance to Incident Gonococcal, Chlamydial, and
Trichomonal Genital Infection. Royal College of Obstetricians and
Gynaecologists. http://bjog.org. Diakses : tanggal 8 Oktober 2015.
Cassone. A., 2014. Vulvovaginal Candida albicans infections: pathogenesis,
immunity and vaccine prospects. BMC Infectious Diseases 2011, 11:10.
http://www.biomedcentral.com/1471-2334/11/10. Diakses : tanggal 7 Oktober
2015.
Center for Disease Control and Prevention, 2013. Incidence, Prevalence, and Cost of
Sexually Transmitted Infections in the United States. Available from
http://www.cdc.gov/std/stats/sti-estimates-fact-sheet-feb-2013

[accessed

Oktober 2015].

18

Center for Disease Control., 2015. Diseases Characterized by Vaginal Discharge.


Dalam Sexually Transmitted Disease Treatment Guidelines 2015. Centers for
Disease Control and Prevention (CDC), U.S. Department of Health and
Human Services. Vol. 64 : 3 P 69-78.
Daili, S.F., 2010. Trikomoniasis. Dalam Adhi Djuanda, Mochtar Hamzah, Siti Aisyah,
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi VI. Jakarta : Badan Penerbit FK UI. P
383-4.
Dessi Aryani, Mardiana., Anggraini, Dina., 2015. Perilaku Pencegahan Infeksi
Menular Seksual Pada Wanita Pekerja Seksual Kabupaten Tegal. Jurnal
Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri
Semarang. 160 168
Djuanda, Adhi, dkk., 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Garcia, et al., 2008. Gonorrhea and Other Veneral Disease. Dalam Klaus Wolf,
Lowell Goldsmith, Stephen Katz, Barbara Gilchres, Amy Paller, David Leffel,
Fitzpatricks Dermatology in General Medicine edisi VII. USA : McGraw-Hill
Companies. P 1993-2000.
Gillet et al., 2011. Bacterial vaginosis is associated with uterine cervical human
papillomavirus infection: a meta-analysis. BMC Infectious Diseases 2011,
11:10. http://www.biomedcentral.com/1471-2334/11/10. Diakses : tanggal 7
Oktober 2015.
Irwin, M. Freedberg, et al., 2003. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine
sixth edition. Mc Graw Hill : Medical.
Janik, M. P. & Hefferman M. P., 2008. Yeast Infections : Candidiasis and Tinea
Versicolor. Dalam Klaus Wolf, Lowell Goldsmith, Stephen Katz, Barbara
Gilchres, Amy Paller, David Leffel, Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine edisi VII. USA : McGraw-Hill Companies. P 1822-1828.
Judanarso, J., 2010. Bakterial Vaginosis. Dalam Adhi Djuanda, Mochtar Hamzah, Siti
Aisyah, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi VI. Jakarta : Badan Penerbit
FK UI. P 385-391.
Kemenkes RI, 2011. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual 2011.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
19

Klaus Wolff, et al., 2008. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine seventh


edition. Mc Graw Hill : Medical.
Menard et al., 2011. Antibacterial treatment of bacterial vaginosis: current and
emerging therapies. International Journal of Womens Health. Vol. 3.
http://dx.doi.org/10.2147/IJWHI.S23814. Diakses : tanggal 6 Oktober 2015.
Schwebke et al., 2014. Role of Gardnerella vaginalis in the Pathogenesis of Bacterial
Vaginosis: A Conceptual Model. Journal of Infectious Disease.
http://jid.oxfordjournals.org. Diakses : tanggal 7 Oktober 2015.
Struble, K. & Lutwick, L.I., 2010. Chlamydial Genitourinary Infections. University
of
Oklahoma
College
of
Medicine.
Available
from:
http://emedicine.medscape.com/article/214823-overview [8 Oktober 2015].

20