Anda di halaman 1dari 6

Tugas Review II Teori Hubungan Internasional I

NPM: 1406618820
Bahan Utama:
Fischer, Markus. Machiavellis Theory of Foreign Policy. Dalam Roots of Realism, diedit oleh
Benjamin Frankel, 248-79. London : Frank Class and Company, 1996.
Negara, Akumulasi Power, dan Dampaknya.
Bagi para realis, politik internasional bersinonim dengan power politics.1 Di dalam sistem
internasional yang anarki, saran para scholar realis bagi negara adalah untuk mengejar kepemilikan
power. Saran ini sudah sama tuanya dengan konsep balance of power. Salah satu tokoh klasik yang
mendukung pemikiran ini adalah Machiavelli. Ketika menulis karyanya yang terkenal, Il Principe,
Machiavelli mengajukan pertanyaan sampai sejauh apa sebuah negara harus mengejar power?
Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai pertanyaan tersebut. Penulis akan memakai
bahan utama Machiavellis Theory of Foreign Policy karya Markus Fischer dalam buku Benjamin
Frankel Roots of Realism. Penulis akan membuka tulisan dengan ringkasan tulisan Markus Fischer;
dilanjutkan dengan penjabaran offensive dan defensive realism dari berbagai sumber; dan akhirnya
ditutup dengan analisis dan kesimpulan penulis.
Fischer memulai pembahasannya dari asumsi Machiavelli mengenai sifat alamiah manusia.
Menurut Machiavelli, terdapat dua tingkatan sifat alamiah manusia. Tingkat pertama (first nature)
adalah sifat manusia yang ambisius dan tamak. Pada dasarnya, manusia menginginkan kejayaan,
dominasi, dan kemakmuran. Sementara tingkat kedua (second nature) adalah kebiasaan kooperatif.
2

Dalam ketiadaan otoritas sentral, ambisi beserta fear akan menyebabkan konflik. Sifat
manusia yang ambisius tidak memiliki batas dan relatif. Sehingga, dalam mencapai kejayaan,
dominasi, serta kekayaan manusia dapat saja menghambat atau mengurangi pencapaian kepuasan
pihak lain dan akhirnya akan menyebabkan konflik. Fischer berpendapat bahwa meski penjelasan
Machiavelli di atas tergolong tradisional, namun gagasan tersebut sangat inovatif. Fischer
mengatakan: the proximate presence of other individuals poses a threat to one preservation in the
absence of central protection, because one can never be certain that they will not use their
capabilities to assault ones life, limb, or goods. Regardless of their presumed or professed
intention.3 Dalam kondisi yang demikian, maka hal rasional yang dilakukan seseorang adalah

John J. Mearsheimer, Structural Realism dalam International Relations Theories: Discipline and Diversity 2 nd
editin, diedit oleh Tim Dunne, MilJa Kurki, dan Steve Smith, (New York: Oxford UP, 2010), 77.
2
Markus Fischer, Machiavellis Theory of Foreign Policy, dalam Roots of Realism, diedit oleh Benjamin Frankel
(London : Frank Class and Company, 1996), 252-54.
3
Fischer, Machiavelli, 256.
1

menghancurkan pihak lain untuk mengurangi kemungkinan diserang maupun diduduki terlebih
dahulu.4
Ambisi dan fear pun menjadi alasan negara berperang. Dalam Discourses, Machiavelli
menulis, war is made on a republic for two causes: one, to become the master of it; the other, for
fear lest it seize you. Perang adalah cara untuk memenuhi ambisi akan kejayaan, kekuasaan, dan
kekayaan. Di sisi lain, perang juga merupakan cara untuk menghilangkan fear.

Ketakutan akan

menimbulkan ketidakpercayaan suatu pihak akan kekuatan pihak lain. Maka, Machiavelli
menyarankan negara harus menganggap semua pihak yang dinilai mampu menguasai daerahnya
sebagai musuh. Ketika dihadapkan oleh ancaman dari negara lain, negara harus memiliki kekuatan
militer yang cukup sehingga membuat negara lain berpikir dua kali untuk menyerang. Maka dari itu,
negara harus terus membangun kekuatan militernya.
Machiavelli menyadari bahwa strategi deterrence mengabaikan security dilemma yang akan
muncul. Negara lain, yang tidak mengetahui niat dan penggunaan jangka panjang terhadap kekuatan
yang dibangun, akan merasa terancam. Kekuatan militer yang dibangun untuk mempertahankan diri,
pada akhirnya dapat menjadi pemicu perang. Machiavelli menyebutkan security dilemma yang
muncul sebagai efek yang tidak disengaja. 6 Untuk menghindari perlombaan senjata, bisa saja negara
membangun kekuatan yang cukup kuat untuk pertahanan namun tidak cukup kuat untuk mengancam
negara lain. Namun, Machiavelli mengatakan bahwa hal tersebut merupakan suatu kemustahilan
praktis. Tidak ada jalan tengah bagi negara untuk menghindari dunia yang dinamis serta dipenuhi
pergantian kekuatan.7 Negara yang netral akan dibenci oleh para pecundang dan dianggap sebagai
mangsa yang lemah bagi pemenang. Tak ada cara bagi negara untuk menghindari perang yang hadir
sebagai konsekuensi dari absennya central authority.8
Sampai sejauh mana negara harus membangun kekuatan masih menjadi perdebatan para
realis hingga saat ini. Sejalan dengan Machiavelli, John J. Mearsheimer meyakini bahwa negara harus
mengakumulasi power sebanyak-banyaknya dengan kata lain menerapkan offensive realism. Teori
offensive realism merupakan bantahan untuk teori defensive realism yang dicetuskan oleh Kenneth
Waltz. Waltz meyakini bahwa negara hanya perlu mengejar power secukupnya untuk melindungi
dirinya sendiri.9

Ibid., 260.
Ibid., 257.
6
Ibid., 259.
7
Ibid., 259.
8
Ibid., 260.
9
Mearsheimer, Structural, 78.
5

Kedua tokoh kurang lebih beranggapan bahwa alasan negara harus mengejar power bukanlah
karena ambisi manusia, seperti yang dipikirkan para classical realist.10 Alasan para Neorealis
dijelaskan dalam lima poin asumsi mengenai sistem internasional: (1) great powers adalah aktor
utama dalam politik dunia yang beroprasi dalam sistem yang anarki; (2) semua negara memiliki
kekuatan militer ofensif, sehingga dapat menimbulkan ancaman bagi tetangganya; (3) negara tidak
akan bisa yakin mengenai niat negara lain; (4) tujuan utama negara adalah survival; dan (5) negara
adalah aktor rasional yang dapat menyusun strategi untuk memaksimalkan harapan akan survival.11
Kelima poin tersebut dapat dirangkum sebagai berikut: ketika semua negara memiliki kemampuan
untuk menyerang satu sama lain, tiap negara terdorong untuk mengumpulkan power sebanyak
mungkin untuk menjaga dirinya dari serangan pihak lain.12
Dalam rangka mewujudkan survival, para offensive realist berargumen bahwa negara harus
selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak power kapanpun memungkinkan.
Semakin banyak power yang didapat negara, semakin besar pula peluang negara tersebut untuk
menjadi hegemon. Peluang negara tersebut untuk survive pun semakin terjamin.13 Sementara itu,
defensive realist percaya bahwa sistem internasional akan menghukum aktor yang terus-menerus
menambah power-nya. Ketika sebuah negara menjadi terlalu powerful, maka mekanisme balancing
akan terjadi. Secara spesifik, kekuatan besar lain akan turut membangun kekuatan militernya dan
membentuk

koalisi

penyeimbang

guna

menakuti

sang

emerging

power

atau

malah

menghancurkannya. Hal tersebut terjadi pada Prancis di bawah Napoleon dan Jerman di bawah
pimpinan Nazi ketika mereka berusaha mendominasi Eropa. Maka dari itu, negara menyarankan para
defensive realist sebaiknya mengejar power secukupnya.14

Analisis
Dari penjabaran di atas, dapat terlihat bahwa pemikiran Mearsheimer memiliki kesamaan dengan
pemikiran Machiavelli. Keduanya sama-sama menyarankan untuk membangun power dan
mendominasi pihak lain sebanyak-banyaknya supaya tidak menjadi korban power politics. Namun,
keduanya berbeda pendapat mengenai penyebab perang. Mearsheimer menganggap bahwa perang
adalah cara yang digunakan untuk mencapai security negara yang pada akhirnya akan menjamin
survival-nya. Sementara Machiavelli berpendapat bahwa perang adalah cara yang digunakan
manusia untuk memenuhi ambisinya.

10

Glenn H. Snyder, "Mearsheimer's WorldOffensive Realism and the Struggle for Security: A Review Essay,"
International Security 27, no. 1 (2002): 15, diakses pada 5 Oktober, 2015, http://www.jstor.org/stable/1978286.
11
Mearsheimer, Structural, 79.
12
Snyder, Mearsheimer, 154.
13
Mearsheimer, Structural, 80.
14
Ibid.

Setelah melihat perbandingan argumen Mearsheimer (yang secara garis besar sama dengan
pemikiran Machiavelli) dan Waltz, penulis lebih cenderung berpihak kepada teori defensive realism.
Pasalnya, defensive realism masih memberikan ruang bagi kemungkinan dunia tanpa konflik.
Argumen Mearsheimer seakan tidak menyisakan ruang bagi kestabilan dunia dengan menganggap
bahwa negara harus senantiasa membangun power dan mendominasi negara lain. Memang, isu
keamanan merupakan isu yang paling penting bagi para realis. Pada kenyataannya, banyak isu yang
dikategorikan low politics, namun tak kalah pentingnya dengan isu keamanan, yang memerlukan
perhatian negara. Sehingga, penulis berpendapat bahwa negara sebaiknya menerapkan defensive
realism, yaitu membatasi pengejaran power agar menyediakan ruang bagi penyelesaian isu-isu lain.
Dengan memberi ruang bagi isu non-keamanan, penulis berargumen bahwa suatu negara
dapat berkembang lebih pesat. Penulis mengambil contoh Republik Rakyat Tiongkok yang menurut
Tang Shiping telah bergerak dari paham offensive realism menuju defensive realism. Shiping
memberi dua kriteria untuk membedakan kedua jenis negara. Pertama,

apakah suatu negara

mengakui keberadaan security dilemma dan memahami implikasi defensifnya? Ketika suatu negara
menyadari bahwa ia tak dapat lari dari security dilemma hanya dengan mengakumulasi power, maka
negara tersebut akan mencoba menguranginya dengan melakukan kerjasama. Kedua, apakah negara
melakukan self-restraint dan bersedia terikat dengan negara lain? Negara penganut defensive realism
akan bersedia mengikatkan diri karena ia tidak mencoba mengeksploitasi kerjasama untuk
melemahkan pihak lain. 15
Menurut beberapa scholar, RRT di bawah Mao Ze-dong adalah penganut paham offensive
realism. Hal itu ditandai dengan aktifnya RRT dalam mendukung revolusi di banyak negara
berkembang, yang menandakan bahwa RRT secara sengaja mengancam negara-negara yang
mengidentifikasi dirinya sebagai imperialis dari negara-negara baru tersebut. Kemudian Mao juga
memercayai bahwa konflik dalam tingkat internasional memang perlu dan tidak terelakkan.
Sehingga, di bawah pemerintahan Mao, mencapai keamanan lewat kerjasama tidak banyak muncul
dalam agendra strategi Tiongkok pada saat itu. Terakhir, Mao dianggap tidak memiliki pemahaman
yang baik mengenai dinamika security dilemma. Pasalnya, Tiongkok pada saat itu umumnya
memercayai bahwa masalah keamanannya pada saat itu adalah akibat dari kebijakan negara lain yang
merugikan.16
Di bawah Deng Xiaoping, Tiongkok bergerak ke arah defensive realism. Setidaknya,
kebanyakan analis menolak menyebutkan bahwa Tiongkok saat ini menganut offensive realism.

Shiping Tang, "From offensive to defensive realism: A social evolutionary interpretation of Chinas security
strategy," dalam Chinas ascent: Power, security, and the future of international politics, diedit oleh Robert S. Ross
dan Zhu Feng (Ithaca: Cornell University Press, 2008), 152.
16
Tang, From, 153-154.
15

Tiongkok di bawah kepemimpinan Deng telah berhenti mendukung pemberontakan di negara lain,
meski dicetuskan oleh elemen komunis. Kemudian, Tiongkok juga sudah memiliki pemahaman yang
lebih baik mengenai security dilemma dan implikasinya. Tiongkok kini menyadari bahwa masalahmasalah keamanan yang terjadi di pada tahun 1960-an hingga 1970-an bukanlah hanya berasal dari
luar, namun merupakan hasil dari perilaku Tiongkok dalam interaksinya dengan dunia luar.
Kemudian, Tiongkok kini sudah mau mengikatkan diri dengan institusi dan organisasi internasional.
Terakhir, di bawah Deng Tiongkok telah mengadopsi prinsip security through cooperation sebagai
strategi keamanannya. 17
Pergerakan dari offensive ke defensive realism turut memungkinkan liberalisasi pasar yang
menjadi kunci sukses reformasi ekonomi Tiongkok. Langkah-langkah yang dilakukan di antaranya
adalah menghilangkan hambatan perdagangan yang menyuburkan persaingan ekonomi dan menarik
arus Foreign Direct Investment.18 Setelah diberlakukannya reformasi ekonomi, menurut Morrison,
Tiongkok berhasil menggandakan ukuran ekonominya tiap delapan tahun.19 Akibatnya, Tiongkok
mengalami ledakan pertumbuhan ekonomi yang berhasil meningkatkan kualitas hidup 1,2 milyar
rakyatnya.20 Lebih dari itu, menurut Cheng dan Zang, reformasi Tiongkok mengubah keseimbangan
power dunia dan juga mempromosikan multipolarisasi dunia.21
Penulis menyimpulkan bahwa pemikiran Machiavelli menjadi sumbangan penting bagi
fondasi pemikiran Realisme; mulai dari sifat alamiah manusia, sifat negara, dan konsekuensi dari
sifat-sifat tersebut. Berkembangnya diskursi mengenai akumulasi power menunjukkan tak
terpisahnya prinsip struggle for power dari kelangsungan hidup negara., terutama dalam dunia yang
anarki. Kebijakan pembangunan dan penggunaan power semakin terasa penting karena akan
menentukan pola hubungan luar negeri suatu negara, yang tidak hanya berdampak pada dimensi
keamanan, namun juga dimensi lain seperti ekonomi dan sosial.

17

Ibid., 155.
Wayne M. Morrison, "China's economic rise: history, trends, challenges, and implications for the United States,"
Library of Congress, Congressional Research Service (2013): 11, diakses pada 5 Oktober 2015,
http://www.refworld.org/pdfid/52cfef6b4.pdf.
19
Morrison, China, 11.
20
Deng Xiaoping: A Political Wizard Who Put China on the Capitalist Road, Patrick E. Tyler, The New York Times,
diakses pada 6 Oktober 2015, http://www.nytimes.com/learning/general/onthisday/bday/0822.html.
21
Joseph Yu-Shek Cheng dan Franklin Wakung Zhan, Chinese Foreign Relation Strategies Under Mao and Deng: A
Systematic and Comparative Analysis," Kasarinlan: Philippine Journal of Third World Studies 14, no. 3 (2009):106,
diakses pada tanggal 5 Oktober 2015,
http://www.journals.upd.edu.ph/index.php/kasarinlan/article/viewFile/1415/pdf_59.
18

Daftar Pustaka

Cheng, Joseph Yu-Shek, dan Franklin Wakung Zhan. "Chinese Foreign Relation Strategies Under
Mao and Deng: A Systematic and Comparative Analysis." Kasarinlan: Philippine Journal of
Third World Studies 14, no. 3 (2009): 91-104. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2015.
http://www.journals.upd.edu.ph/index.php/kasarinlan/article/viewFile/1415/pdf_59.
Fischer, Markus. Machiavellis Theory of Foreign Policy. Dalam Roots of Realism, diedit oleh
Benjamin Frankel, 248-79. London : Frank Class and Company, 1996.
Mearsheimer, John J. Structural Realism. Dalam International Relations Theories: Discipline and
Diversity 2nd edition, diedit oleh Tim Dunne, Milja Kurki, dan Steve Smith, 77-91. New York:
Oxford UP, 2010.
Morrison, Wayne M. "China's economic rise: history, trends, challenges, and implications for the
United States." Library of Congress, Congressional Research Service, 2013. Diakses pada 5
Oktober 2015, http://www.refworld.org/pdfid/52cfef6b4.pdf.
Snyder, Glenn H. "Mearsheimer's WorldOffensive Realism and the Struggle for Security: A
Review Essay." International Security 27, no. 1 (2002): 149-173. Diakses pada tanggal 5
Oktober 2015. http://www.jstor.org/stable/3092155.
Tang, Shiping. "From offensive to defensive realism: A social evolutionary interpretation of Chinas
security strategy." Chinas ascent: Power, security, and the future of international politics
(2008): 141-162.
Tyler, Patrick E. Deng Xiaoping: A Political Wizard Who Put China on the Capitalist Road. The
New York Times. Diakses pada 6 Oktober 2015.
http://www.nytimes.com/learning/general/onthisday/bday/0822.html.