Anda di halaman 1dari 37

1

BAB 1
PENDAHULUAN

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran


pernafasan akut yang meliputi saluran pernafasan bagian atas seperti rhinitis,
fharingitis, dan otitis serta saluran pernafasan bagian bawah seperti laryngitis,
bronchitis, bronchiolitis dan pneumonia, yang dapat berlangsung selama 14 hari.
Batas waktu 14 hari diambil untuk menentukan batas akut dari penyakit tersebut.
Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung sampai alveoli beserta organ
seperti sinus, ruang telinga tengah dan pleura (Kemenkes RI, 2011).
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernafasan dimulai dengan
keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit
mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh
dalam keadaan kegagalan pernafasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam
kegagalan pernafasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit,
meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang
ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan
tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernafasan (Depkes RI, 2002).
ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak di diderita oleh anak-anak,
baik di negara berkembang maupun di negara maju dan sudah mampu dan banyak
dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakitpenyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi
kecacatan sampai pada masa dewasa. (Soeprajitno, 2004)
ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana
kesehatan. Dari data di rumah sakit Indonesia didapat bahwa 40% sampai 70%

anak yang berobat ke rumah sakit adalah penderita ISPA. Sebanyak 40-60%
pasien ISPA berobat ke puskesmas dan 15-30% kunjungan pasien ISPA berobat ke
bagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit. (Rahayu, 2011).
Dari hasil penghitungan mortalitas dari 10 penyakit terbesar, menurut
Subdirektorat ISPA Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada 2006
pneumonia masih merupakan penyebab kematian tertinggi pada balita yaitu
sebesar 22,5%. Tingginya mortalitas bayi dan balita karena ISPA-Pneumonia
menyebabkan penanganan penyakit ISPA-Pneumonia menjadi sangat penting
artinya. Kondisi ini disadari oleh pemerintah sehingga dalam Program
Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (P2 ISPA) telah
menggariskan untuk menurunkan angka kematian balita akibat pneumonia dari
5/1000 balita pada tahun 2000 menjadi 3/1000 balita pada tahun 2005 dan
menurunkan angka kesakitan pneumonia balita dari 10 - 20% menjadi 8 - 16%
pada tahun 2005 (Rahayu, 2011).

BAB 2
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
A. Identitas Penderita
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku
Anak ke
Alamat
Tanggal Periksa

: Anak M.S
: 4 tahun 3 bulan
: Laki Laki
: Islam
: Aceh
:7
: Lhoksukon
: 19 Mei 2015

B. Identitas Orang Tua


Nama Ayah
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Nama Ibu
Umur
Pekerjaan
Pendidkan

: Tn. M.A
: 50 tahun
: Wiraswasta
: SMA
: Ny. M
: 41 tahun
: Ibu Rumah Tangga
: SMP

2. DATA DASAR
ANAMNESIS
Alloanamnesis (Anamnesis dengan orang tua pasien)
a. Keluhan Utama
Demam
b. Keluhan Tambahan

Batuk berdahak, pilek, dan tubuh terasa lemas


c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dibawa oleh ibunya berobat ke Puskesmas Lhoksukon dengan keluhan
demam semenjak dua hari yang lalu. Demam dirasakan sepanjang hari, dan orang
tua pasien mengatakan pasien menjadi sedikit lemas.
Sebelum demam, pasien mengeluhkan batuk disertai pilek sudah lebih dari
seminggu. Dalam sehari batuk sekitar 20 30 kali, dahak berwana putih kental
kadang ada kadang tidak. Sakit tenggorokan tidak dirasakan. Pasien juga
mengeluhkan keluar lendir dari hidung, berwarna putih bening.
Riwayat mual, muntah, sakit kepala ataupun sakit perut disangkal. Nafsu makan
normal, BAB BAK juga normal.
d. Riwayat Penyakit dahulu :
Orang tua pasien mengatakan anaknya pernah beberapa kali menderita penyakit
dengan gejala yang sama. Penyakit lain yang pernah diderita tidak ada.
e. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat alergi, hipertensi dan DM disangkal
f. Riwayat penggunaan obat
Saat pasien batuk pilek atau demam, orang tua pasien biasanya memberikan obat
obat yang dijual bebas dipasaran. Bila tidak sembuh baru pasien dibawa berobat
ke puskesmas.
g. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
1.

Riwayat Kehamilan

Pasien adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara, ibu pasien tidak memiliki
riwayat keguguran sebelumnya. Selama hamil ibu sempat 3 kali melakukan
ANC di bidan dan mengaku tidak memiliki maalah apapun selama hamil.
2.

Riwayat Kelahiran

Pasien lahir di rumah dengan bantuan bidan, lahir cukup bulan, spontan
pervaginam dengan berat badan lahir 2.800 gram dan segera menangis.
h. Riwayat Makanan
Saat lahir sampai usia 21 bulan pasien masih mendapatkan ASI. Namun pasien
sudah mendapat susu formula sejak usia sekitar tiga bulan karena ibu merasa
ASInya sedikit keluar. Pasien mulai mendapat MPASI berupa nasi dan buah yang
dihaluskan saat usia 5 bulan. Saat ini pasien memiliki nafsu makan yang baik,
namun ibunya mengaku pasien kurang suka makan sayur dan sering jajan.
i. Riwayat Imunisasi
Pasien hanya mendapatkan dua imunisasi, disuntik di paha sekali, dan disuntik di
lengan sekali. Setelah imunisasi pasien selalu demam sehingga orang tua pasien
khawatir dan tidak pernah membawa anaknya imunisasi lagi.
j. Riwayat Tumbuh Kembang
Ibu pasien mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan pasien normal dan
sesuai dengan anak sebayanya. Ibu pasien tidak bisa mengingat dengan jelas
kapan kapan saja perkembangan anaknya terjadi.
3. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 19 Mei 2015
a. Kesan Umum :

Keadaan umum tampak sedikit lemas


b. Tanda Vital
1. Nadi

: 100x/menit, regular

2. Laju nafas

: 24x/menit, reguler

3. Tekanan darah : Tidak diperiksa


: 37,9 0 C

4. Suhu
5. Kesadaran

: Compos Mentis

c. Data Antropometri
1. Berat badan

: 15 kg

2. Panjang badan : 110 cm


d. Status Gizi
Status Gizi : BBS / BBI x 100%
: BBI menurut grafik CDC 17 kg
: {15 / 17} x 100%
: 0,88235 x 100 %
: 88, 23% (Gizi Baik)
e. Status General
Kepala
Bentuk

: Normocephali, luka (-).

Rambut

: Hitam, lurus, tidak mudah dicabut

Wajah

: Simetris, fascies coley (-) deformitas (-), oedema (-)

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat (+/+)

pupil isokor (+/+) reflek cahaya (+/+), sekret (-/-) oedema (-)

Hidung

: Bentuk normal, simetris, sekret (+/+), deviasi septum (-),

pernapasan cuping hidung (-), konka hiperemis (-/-)


Telinga

: Bentuk dan ukuran normal, membran timpani intak, hiperemis (-

/-) sekret (-/-) massa (-)


Mulut

: Sianosis (-), sariawan (-), beslag (-), karies gigi (-), tonsil dan

faring dalam batas normal


Kulit
Coklat terang, turgor normal, sianosis (-), ikterik (-) pucat (-)
Leher
Inspeksi

: Simetris, luka (-) hiperemis (-)

Palpasi

: Perbesaran KGB (-), perbesaran tiroid (-), massa (-)

Thorax
Inspeksi : Bentuk normal, pergerakan dinding dada simetris, retraksi
intercosta (-) luka (-) memar (-)
Palpasi
Perkusi

: Fremitus normal, massa (-)


: Sonor (+/+)

Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (+/+), Wheezing (-/-)


Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Ictus cordis tidak nampak


: Ictus cordis teraba di ICS V
: Batas atas jantung : ICS III, linea parasternal sinistra
Batas kanan jantung : ICS IV, linea parastesnal dextra
Batas kiri jantung : ICS IV, linea parasternal sinistra
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Bentuk simetris (+), datar (+) luka (-)
Palpasi
: Supel (+) hepatomegali (-) splenomegali (-) nyeri tekan (-)

Perkusi : Timpani (+), asites (-)


Auskultasi : Bising usus normal
Genitalia
Tidak diperiksa

Anus
Tidak Diperiksa

Ekstremitas :
Udema (-) sianosis (-) perabaan hangat (+)
4. DIAGNOSA BANDING
1. ISPA
2. Common Cold
3. Pneumonia
5. DIAGNOSA KERJA
ISPA
6. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa
a. Istirahat yang cukup
b. Kurangi jajan, perbanyak makan bergizi
Medikamentosa
a. Paracetamol tablet 3 x 150mg (pulvis)
b. Kotrimoksazol sirup 3 x 7,5ml
7. RENCANA PEMERIKSAAN
a. Pemeriksaan darah rutin dan urin rutin
b. Pemeriksaan sputum
8. PROGNOSIS
1. Quo ad Vitam

: Dubia ad bonam

2. Quo ad Fungsionam : Dubia ad bonam

3. Quo ad Sanactionam : Dubia ad bonam


9.

FAKTOR RESIKO LINGKUNGAN


1. Keadaan di dalam rumah yang padat penghuni. Satu ruangan berukuran
kurang lebih 3 x 4 m digunakan untuk tidur dan beraktifitas bagi 4 orang
anggota keluarga, dapur dan ruang makan tergabung menjadi satu ruangan
berukuran kurang lebih 2 x 5 m digunakan untuk makan dan berkumpul
bagi 7 orang anggota keluarga.
2. Ventilasi udara kurang baik. Keseluruhan rumah memiliki 4 pasang jendela
namun jendela jarang terbuka, bahkan pada waktu pagi. Udara masuk
hanya lewat pintu belakang yang sering dibiarkan terbuka.
3. Satu bangunan rumah berbentuk rumah panggung dengan dinding dan alas
kayu, terhubung langsung dengan dapur dan ruang makan yang berdinding
bata dan beralas tanah. Udara di dalam bangunan rumah terlalu lembap.
4. Kebersihan di dalam dan diluar rumah kurang terjaga. Binatang
berkeliaran (ayam), banyak barang tertumpuk disudut sehingga tampak
kotor dan berdebu.
5. Sering menumpuk dan membakar sampah dihalaman depan rumah
sehingga memungkinkan asap masuk ke dalam rumah
6. Ayah dan ibu tidur menggunakan kasur kapuk dengan sarung sebagai
selimutnya. Anggota keluarga nampak tidur dengan alas kasur palembang
yang diletakkan begitu saja diatas lantai kayu.
7. Keluarga ini tidur tanpa menggunakan kelambu, dan menggunakan obat
nyamuk bakar untuk menghindari nyamuk.

10

8. Keluarga ini memasak dengan menggunakan kompor minyak dan tungku


kayu, dimana letak tungku dekat dengan dapur dan ruang makan sehingga
saat memasak asap masuk kedalam rumah.
9. Sanitasi dan jamban kurang baik. Kamar mandi dan toilet berada dalam
satu ruangan yang terpisah dari rumah, namun jaraknya terlalu dekat
dengan pintu dapur.
10. Jalan disekitar rumah kering dan berdebu. Pasien dan saudaranya sering
bermain di luar rumah setiap hari.
11. Ayah dan saudara laki laki pasien seorang perokok, dan sering merokok
di dalam rumah.
10. FAKTOR RESIKO BIOLOGIS
1. ASI yang kurang memadai
2. Imunisasi yang kurang
3. Kurang diterapkan perilaku hidup besih dan konsumsi makanan sehat
11. FAKTOR RESIKO SOSIAL
1.

Sosioekonomi dan pendidikan keluarga rendah

2.

Kebiasaan lingkungan sekitar yang kurang baik seperti merokok dan


membiarkan hewan peliharaan berkeliaran

3. Keadaan lingkungan sekitar rumah yang kurang perduli PHBS


12.

Penentuan Masalah Kesehatan

11

Penentuan masalah kesehatan ISPA :


a.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering


terjadi pada anak. Insidens menurut kelompok umur Balita diperkirakan
0,29 episode per anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 episode per
anak/tahun di negara maju. Ini menunjukkan bahwa terdapat 156 juta
episode baru di dunia per tahun dimana 151 juta episode (96,7%) terjadi di
negara berkembang. Kasus terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21
juta) Pakistan (10 juta) dan Bangladesh, Indonesia, Nigeria masing-masing
6 juta episode. Dari semua kasus yang terjadi di masyarakat, 7-13% kasus
berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. Episode batuk-pilek pada
Balita di Indonesia diperkirakan 2-3 kali per tahun dan ISPA merupakan
salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas (40%-60%)
dan rumah sakit (15%-30%).

12

b.

Pneumonia adalah pembunuh utama balita di dunia, lebih banyak


dibanding dengan gabungan penyakit AIDS, malaria dan campak. Di dunia
setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta Balita meninggal karena
Pneumonia (1 Balita/20 detik) dari 9 juta total kematian Balita. Diantara 5
kematian Balita, 1 di antaranya disebabkan oleh pneumonia. Bahkan
karena besarnya kematian pneumonia ini, pneumonia disebut sebagai the
forgotten pandemic. Namun, tidak banyak perhatian terhadap penyakit ini,
sehingga pneumonia disebut juga pembunuh Balita yang terlupakan atau
the forgotten killer of children. Menurut hasil Riskesdas 2007 proporsi
kematian Balita karena pneumonia menempati urutan kedua (13,2%)
setelah diare. Sedangkan SKRT 2004 proporsi kematian Balita karena

c.

pneumonia menempati urutan pertama.


Berdasarkan RIKESDAS 2013, Provinsi Aceh merupakan provinsi ketiga
terbanyak menderita ISPA dengan proporsi 30%. ISPA terbanyak terjadi
pada usia 1 4 tahun, dan banyak didapatkan pada penduduk yang tingkat
ekonomi dan pendidikannya rendah. Di Puskesmas Lhoksukon sendiri,
ISPA adalah penyakit terbanyak yang didata berdasarkan kunjungan pasien

d.

ke poli klinik sepanjang akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015.
Berdasarkan bukti bahwa faktor risikonya adalah kurangnya pemberian
ASI eksklusif, gizi buruk, polusi udara dalam ruangan, BBLR, kepadatan
penduduk dan kurangnya imunisasi. Kesemuanya merupakan masalah
berbasis perilaku kesehatan yang harusnya bila ditekankan secara terus
menerus pada masyarakat bagaimana perilaku seharusnya, masalah

13

tersebut akan mudah untuk dihilangkan dan secara tidak langsung akan
mengurangi angka kejadia ISPA.
13. UPAYA PROMOTIF PADA ISPA
Meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga tentang :
a. Syarat syarat rumah sehat yang mencakup tentang luas rumah minimal,
kepadatan hunian minimal, ventilasi yang baik dan benar serta kadar
b.

kelembapan udara yang terbaik.


Cara cara menjaga kebersihan lingkungan rumah yang mencakup
pengelolaan dan penyimpanan barang bekas, 3R pengelolaan sampah
(Reduce Reuse Recycle), dan tatacara pengelolaan dan pembakaran

c.

sampah yang sesuai standar kesehatan


Pemeliharaan dan pembuatan kandang ternak yang sesuai standar

d.

kesehatan
Bahaya penggunakan kasur kapuk yang akan lebih banyak menyebarkan

e.

debu daripada jenis kasur lainnya


Bahaya penggunaan obat nyamuk bakar bagi kesehatan dan cara cara yang

f.

lebih sehat dalam mengusir nyamuk


Syarat syarat dapur sehat yang mencakup tentang pengaturan jarak

penggunaan kompor agar asap tidak masuk kedalam rumah


g.
Syarat syarat jamban sehat
h.
Bahaya rokok bagi kesehatan
i.
ASI eksklusif dan MPASI
j.
Pentingnya imunisasi serta efek samping yang mungkin didapatkan
k.
Gizi seimbang, 13 pokok gizi dasar, dan pengaturan menu rumahan
l.
ISPA, pencegahan penyebaran penyakit, dan APD
14.
UPAYA PREVENTIF PADA ISPA
Menganjurkan bagi pasien dan keluarga untuk :
a. Lebih sering membuka jendela agar udara segar dan sinar matahari lebih
b.

banyak masuk
Tidak menumpuk barang terlalu banyak di dalam rumah untuk

c.

menghindari daerah daerah yang kotor dan berdebu


Menerapkan 3R untuk menekan jumlah sampah yang dihasilkan

14

d.

Tidak menumpuk sampah dan membakarnya di halaman depan, tetapi

e.
f.

membuat tempat pembuangan dan pembakaran yang jauh dari rumah


Rutin bekerja bakti bersama membersihkan seluruh lingkungan rumah
Memberika pengawasan ekstra terhadap hewan peliharaan dan membuat
kandang yang lebih kokok dan tertutup agar hewan tersebut tidak

g.

berkeliaran dan membuang kotoran sembarang tempat


Jika memungkinkan mengganti kasur kapuk dengan busa agar debu bisa
diminimalisir. Jika tidak, menjemur dan menepuk kasur bisa dilakukan

lebih sering.
h. Menggunakan kelambu sebagai pengganti obat nyamuk bakar atau
semprot untuk meminimalisir efek bagi pernafasan
i. Jika memungkinkan mengganti penggunaan tungku dengan kompor
minyak agar asap yang dihasilkan bisa dikurangi. Jika tidak, memindahkan
tungku ke tempat yang agak jauh dari rumah
j. Memperhatikan kebersihan diri sendiri dan keluarga seperti cuci tangan
dengan sabun, mandi dua kali sehari, buang air pada tempat yang
disediakan, dan sebagainya
k. Mengurangi konsumsi rokok, dan melarang merokok didalam rumah
l. Mengurangi jajan, membiasakan anak untuk makan dirumah
m. Sering mengkonsumsi buah dan sayur
n. Rutin mengunjungi posyandu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
o. Memakai masker saat sakit, tidak membuang dahak dan ingus
sembarangan, serta menjaga jarak dengan orang sakit
UPAYA KURATIF PADA ISPA
Pemberian antibiotik dan obat obatan untuk mengurangi gejala yang ada
16.
UPAYA REHABILITATIF PADA ISPA
Istirahat yang cukup dan memakan makanan bergizi.
17.
UPAYA PSIKOSOSIAL PADA ISPA
a. Pemberian pengertian dan dukungan bahwa hidup yang bersih dan sehat
15.

itu tidak berarti mahal dan tidak sulit untuk dilakukan


b. Memberikan semangat untuk perlahan lahan mengurangi rokok ataupun
kebiasaan buruk yang lain

15

c.

Memberi semangat untuk senantiasa hidup sehat dan menjaga diri dari
kemungkinan segala penyebaran penyakit agar keluarga tercinta dirumah
bisa turut menjadi sehat.

16

BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definsi ISPA
ISPA adalah penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut yang berlangsung
sampai 14 hari lamanya. Saluran pernafasan adalah organ yang bermula dari
hidung hingga alveoli beserta segenap adneksanya seperti sinus-sinus, rongga
telinga tengah dan pleura. Sedangkan yang dimaksud dengan infeksi adalah
masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh dan berkembang biak
sehingga menimbulkan penyakit (Depkes, 2002).
ISPA adalah penyakit saluran pernafasan akut yang meliputi saluran
pernafasan bagian atas seperti rhinitis, fharingitis, dan otitis serta saluran
pernafasan bagian bawah seperti laryngitis, bronchitis, bronchiolitis dan
pneumonia, yang dapat berlangsung selama 14 hari. Batas waktu 14 hari diambil
untuk menentukan batas akut dari penyakit tersebut. Saluran pernafasan adalah
organ mulai dari hidung sampai alveoli beserta organ seperti sinus, ruang telinga
tengah dan pleura (Kemenkes RI, 2011).
ISPA adalah proses inflamasi yang disebabkan oleh virus, bakteri, atipikal
(mikroplasma), atau aspirasi substansi asing yang melibatkan suatu atau semua
bagian saluran pernapasan (Wong, 2003). ISPA adalah suatu penyakit yang
terbanyak di diderita oleh anak-anak, baik di negara berkembang maupun di
negara maju dan sudah mampu dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit
karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada
masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa
dewasa. (Suprajitno, 2004)
3.2 Etiologi ISPA

17

Mayoritas penyebab dari ISPA adalah oleh virus, dengan frekuensi lebih dari
90% untuk ISPA bagian atas, sedangkan untuk ISPA bagian bawah frekuensinya
lebih kecil. Penyakit ISPA bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus
paranasalis sampai dengan laring hampir 90% disebabkan oleh viral, sedangkan
ISPA bagian bawah hampir 50% diakibatkan oleh bakteri. Virus penyebabnya
antara lain golongan Micsovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus,
Micoplasma, Herpesvirus dan yang banyak ditemukan pada ISPA bagian bawah
pada bayi dan anak-anak adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV), adenovirus,
parainfluenza, dan virus influenza A & B. Sementara bakteri penyebabnya antara
lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pnemococcus, Hemofilus, Bordetella
dan Corinebakterium (Rahayu, 2011).

Sumber : http://www.kcom.edu/faculty/chamberlain/website/lectures/intraurt.htm.

18

3.3 Epidemiologi ISPA


Penyakit ISPA adalah penyakit yang dapat menyerang semua kelompok usia
dari bayi, anak-anak dan sampai orang tua. ISPA merupakan salah satu masalah
kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju. Hal ini disebabkan
karena masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA
khususnya pneumonia, terutama pada bayi dan balita. Di Amerika pneumonia
menempati peringkat ke-6 dari semua penyebab kematian dan peringkat pertama
dari seluruh penyakit infeksi. Di Spanyol angka kematian akibat pneumonia
mencapai 25% sedangkan di Inggris dan Amerika sekitar 12% atau 25-30 per
100.000 penduduk. Sedangkan untuk angka kematian akibat ISPA dan pneumonia
pada tahun 1999 untuk negara Jepang yaitu 10%, Singapura sebesar 10,6%,
Thailand sebesar 4,1%, Brunei sebesar 3,2% dan Philipins tahun 1995 sebesar
11,1% (SEAMIC Health Statistics, 2000)
ISPA sering disebut sebagai "pembunuh utama". Kasus ISPA merupakan
salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana kesehatan yaitu 40%-60%
dari seluruh kunjungan ke Puskesmas dan 15%-30% dari seluruh kunjungan rawat
jalan dan rawat inap Rumah Sakit. Diperkirakan kematian akibat ISPA khususnya
Pneumonia mencapai 5 kasus diantara 1000 balita. Ini berarti ISPA
mengakibatkan 150.000 balita meninggal tiap tahunnya, atau 12.500 korban
perbulan, atau 416 kasus perhari, atau 17 anak perjam atau seorang bayi tiap 5
menit (Depkes, 2002).
Di Indonesia, ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang utama terutama pada bayi (0-11 bulan) dan balita (1-4 tahun).

19

Diperkirakan kejadian ISPA pada balita di Indonesia yaitu sebesar 10-20%. Survei
mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA
sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari
seluruh kematia. Bukti bahwa ISPA merupakan penyebab utama kematian adalah
banyaknya penderita ISPA yang terus meningkat (Frans dkk, 2013).
Berdasarkan DEPKES (2006) juga menemukan bahwa 20-30% kematian
disebabkan oleh ISPA. Selanjutnya berdasarkan hasil laporan RISKESDAS pada
tahun 2013, prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada usia 1-4 tahun (25,8%) dan
ISPA venderung terjadi lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat
pengeluaran rumah tangga yang rendah.
Gambaran epidemiologi ISPA di Indonesia berdasarkan distribusi
frekuensi penyakit ISPA dibedakan atas 3 macam yaitu (Frans dkk, 2013) :
Menurut Orang ( person)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian
tersering pada anak di negara sedang berkembang. Daya tahan tubuh anak sangat
berbeda dengan orang dewasa karena sistim pertahanan tubuhnya belum kuat.
Kalau di dalam satu rumah seluruh anggota keluarga terkena pilek, anak-anak
akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi tubuh anak yang masih lemah, proses
penyebaran penyakit pun menjadi lebih cepat.
ISPA merupakan penyakit yang morbiditasnya sangat tinggi pada kelompok anakanak. Episode penyakit batuk pilek pada balita diperkirakan 3-6 kali per tahun
(rata-rata 4 kali per tahun), sehingga penyakit saluran pernafasan akut merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia.

20

Menurut Tempat (place)


ISPA, diare dan kurang gizi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas
pada anak di negara maju dan berkembang. ISPA merupakan penyebab morbiditas
utama pada negara maju sedangkan di negara berkembang morbiditasnya relatif
lebih kecil tetapi mortalitasnya lebih tinggi terutama disebabkan oleh ISPA bagian
bawah atau pneumonia.
Dari pengamatan epidemiologi dapat diketahui bahwa angka kesakitan ISPA di
kota cenderung lebih besar daripada di desa. Hal ini mungkin disebabkan oleh
tingkat kepadatan tempat tinggal dan pencemaran lingkungan di kota yang lebih
tinggi daripada di desa. Menurut penelitian Djaja, dkk (2001) didapatkan
prevalensi ISPA di perkotaan (11,2%) lebih tinggi daripada di pedesaan (8,4%).
Prevalensi di Jawa-Bali (10,7%) lebih tinggi daripada di luar Jawa-Bali (7,8%).
Menurut Waktu (time)
Prevalensi ISPA berfluktuasi tiap tahun, meskipun perbedaan tiap tahunnya tidak
terlalu besar. Riskesdas 2007 sebesar 25,5% dan pada Risesdas 2013 sebesar
25,0%.
3.4 Faktor Resiko ISPA
Beberapa faktor resiko kejadian ISPA pada manusia adalah (Rahayu, 2011
dan Frans dkk, 2013) :
1.

Faktor Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)


Menurut Sulistyowati dalam Djaja (2000) bayi dengan berat badan lahir
rendah mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi berat
badan lebih dari 2500 gram saat lahir selama satu tahun pertama

21

kehidupannya. Pneumonia adalah penyebab terbesar kematian akibat


infeksi pada bayi yang baru lahir dengan berat badan rendah, bila
dibandingkan dengan bayi yang beratnya diatas 2500 gram.
2.

Faktor Umur
Faktor resiko ISPA juga sering disebutkan dalam literature adalah faktor
umur. Adanya hubungan antara umur anak dengan ISPA mudah
dipahami, karena semakin muda umur balita, semakin rendah daya
tahan tubuhnya. Menurut Tupasi et al. (1998), resiko terjadi ISPA lebih
besar pada bayi berumur kurang dari satu tahun, sedangkan menurut
Sukar et al. (1996), anak berumur kurang dari dua tahun memiliki
resiko lebih tinggi untuk terserang ISPA. Depkes (2000), menyebutkan
resiko terjadinya ISPA yaitu pneumonia terjadi pada umur lebih muda
lagi yaitu kurang dari dua bulan.

3.

Faktor Jenis Kelamin


Tidak ada perbedaan yang signifikan antara angka kejadian pada laki
laki atau perempuan, naun dalam beberapa penelitian dinyatakan bahwa

4.

anak laki laki lebih sering menderita daripada perempuan.


Faktor Vitamin
Diketahui adanya hubungan antara pemberian vitamin A dengan resiko
terjadi ISPA. Anak dengan xerophthalmia ringan memiliki resiko 2 kali
untuk menderita ISPA. Depkes (2000), menyebutkan bahwa defisiensi
vitamin A merupakan salah satu faktor resiko ISPA. Defisiensi vitamin
A dapat

menghambat

pertumbuhan

balita

dan mengakibatkan

22

pengeringan jaringan epitel saluran pernafasan. Gangguan pada epitel


ini juga menjadi penyebab mudahnya terjadi ISPA.
5.

Faktor Gangguan Gizi (Malnutrisi)


Malnutrisi dianggap bertanggungjawab terhadap ISPA pada balita
terutama pada Negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini mudah
dipahami karena keadaan malnutrisi menyebabkan lemahnya daya
tahan tubuh anak. Hal tersebut memudahkan kemasukan agen penyakit
ke dalam tubuh. Malnutrisi menyebabkan resistensi terhadap infeksi
menurun oleh efek nutrisi yang buruk. Menurut WHO (2000), telah
dibuktikan adanya hubungan antara malnutrisi dengan episode ISPA.

6.

Status Imunisasi
Telah diketahui secara teoritis, bahwa imunisasi adalah cara untuk
menimbulkan kekebalan terhadap berbagai penyakit (Kresno, 2000).
Dari penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Sebodo (1996),
didapatkan proporsi kasus balita penderita ISPA terbanyak terdapat anak
yang imunisasinya tidak lengkap (10,25%).

7.

Faktor Pemberian Air Susu Ibu (ASI)


Penelitian-penelitian yang dilakukan pada sepuluh tahun terakhir ini
menunjukkan bahwa ASI kaya akan faktor antibodi cairan tubuh untuk
melawan infeksi bakteri dan virus. Penelitian di Negara-negara sedang
berkembang menunjukkan menunjukkan bahwa ASI melindungi bayi
terhadap infeksi saluran pernapasan berat (Djaja, 2000).

8.

Status Sosioekonomi dan Pendidikan

23

Diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang


rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat.
Sebuah penelitian di Filipina telah membuktikan bahwa sosiaoekonomi
orang tua yang rendah akan meningkatkan resiko ISPA pada anak usia
kurang dari 1 tahun (Tupasi et al., 1988).
Beberapa faktor resiko kejadian ISPA karena pengaruh lingkungan adalah
(Rahayu, 2011 dan Frans dkk, 2013) :
1.

Kelembaban Ruangan
Berdasarkan KepMenKes RI No. 829 tahun 1999 tentang kesehatan
perumahan menetapkan bahwa kelembaban yang sesuai untuk rumah
sehat adalah 40-70%, optimum 60%. Hasil penelitian Chahaya, dkk di
Perumnas Mandala Medan (2004), dengan desain cross sectional
didapatkan

bahwa

kelembaban

ruangan

berpengaruh

terhadap

terjadinya ISPA pada balita. Berdasarkan hasil uji regresi, diperoleh


bahwa faktor kelembaban ruangan mempunyai exp (B) 28,097, yang
artinya kelembaban ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan
menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 28 kali.
2.

Suhu Ruangan
Suhu ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor
risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 4 kali.

3. Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah
menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini

24

berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut


tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di
dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi
penghuninya menjadi meningkat. Sirkulasi udara dalam rumah akan
baik dan mendapatkan suhu yang optimum harus mempunyai ventilasi
minimal 10% dari luas lantai.
Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007), didapatkan bahwa prevalens
rate ISPA pada bayi yang memiliki ventilasi kamar tidur yang tidak
memenuhi syarat kesehatan sebesar 69,9%, sedangkan untuk yang
memenuhi syarat kesehatan sebesar 30,1%.
4. Kepadatan Hunian Rumah
Kepadatan penghuni dalam rumah dibedakan atas 5 kategori yaitu, 3,9
m2/orang, 4-4,9 m2/orang, 5-6,9 m2/orang, 7-8 m2/orang, 9 m2/orang.
Dikatakan padat jika luas lantai rumah 3,9 m2/orang, dan tidak padat
jika luas lantai rumah 4 m2/orang. Menurut Gani dalam penelitiannya
di Sumatera Selatan (2004) menemukan proses kejadian pneumonia
pada anak balita lebih besar pada anak yang tinggal di rumah yang padat
dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah yang tidak padat.
Berdasarkan hasil penelitian Chahaya tahun 2004, kepadatan hunian
rumah dapat memberikan risiko terjadinya ISPA sebesar 9 kali.
5. Penggunaan Anti Nyamuk
Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan
nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena

25

menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran udara di


lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru
sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan.
6. Bahan Bakar Untuk Memasak
Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat
menyebabkan kualitas udara menjadi rusak. Kualitas udara di 74%
wilayah pedesaan di China tidak memenuhi standar nasional pada tahun
2002, hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit paru dan
penyakit paru ini telah menyebabkan 1,3 juta kematian.
7. Keberadaan Perokok
Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif.
Asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya merupakan
racun antara lain Carbon Monoksida (CO), Polycyclic Aromatic
Hydrocarbons (PAHs) dan lain lain. Berdasarkan hasil penelitian
Pradono dan Kristanti (2003), secara keseluruhan prevalensi perokok
pasif pada semua umur di Indonesia adalah sebesar 48,9% atau
97.560.002 penduduk. Prevalensi perokok pasif pada laki-laki 32,67%
atau 31.879.188 penduduk dan pada perempuan 67,33% atau
65.680.814 penduduk. Sedangkan prevalensi perokok aktif pada lakilaki umur 10 tahun ke atas adalah sebesar 54,5%, pada perempuan
1,2%. Prevalensi perokok pasif pada balita sebesar 69,5%, pada
kelompok umur 5-9 tahun sebesar 70,6% dan kelompok umur muda 1014 tahun sebesar 70,5%. Tingginya prevalensi perokok pasif pada balita

26

dan umur muda disebabkan karena mereka masih tinggal serumah


dengan orang tua ataupun saudaranya yang merokok dalam rumah
Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernapasan dapat
menyebabkan terjadinya (Rahayu, 2011) :
a. Iritasi pada saluran pernapasan, hal ini dapat menyebabkan pergerakan
silia menjadi lambat, bahkan berhenti, sehingga mekanisme pembersihan
b.
c.
d.
e.

saluran pernapasan menjadi terganggu.


Peningkatan produksi lendir akibat iritasi bahan pencemar.
Produksi lendir dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan.
Rusaknya sel pembunuh bakteri saluran pernapasan.
Pembengkakan saluran pernapasan dan merangsang pertumbuhan sel

sehingga saluran pernapasan menjadi menyempit.


f. Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lender
Akibat hal tersebut di atas maka menyebabkan terjadinya kesulitan bernapas,
sehingga benda asing termasuk Mikroorganisme tidak dapat dikeluarkan dari
saluran pernapasan dan hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran
pernapasan (Rahayu, 2011).
3.5 Patofisiologi ISPA
Transmisi penyakit ISPA dapat melalui udara. Jasad renik yang berada di
udara akan masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dan menimbulkan
infeksi, penyakit ISPA dapat pula berasal dari penderita yang kebetulan
mengandung bibit penyakit, baik yang sedang jatuh sakit maupun karier. Jika
jasad renik bersal dari tubuh manusia maka umumnya dikeluarkan melalui sekresi
saluran pernafasan dapat berupa saliva dan sputum. Transmisi penyakit ISPA juga
dapat terjadi melalui kontak langsung/tidak langsung dari benda yang telah
dicemari jasad renik (hand to hand transmission) (Kemenkes RI 2011)

27

Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus


dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan
menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran pernafasan bergerak ke
atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus
oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan
lapisan mukosa saluran pernafasan. Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut
menyebabkan timbulnya batuk kering. Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran
pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat
pada dinding saluran pernafasan, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa
yang melebihi normal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan
gejala batuk. Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah
batuk. (Frans, dkk 2013).
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder
bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris
yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap
infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada
saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza
dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut. Infeksi sekunder
bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat
saluran pernafasan sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang
produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti
kedinginan dan malnutrisi. Dari uraian di atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini
dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu (Frans, dkk 2013) :

28

1.

Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum

2.

menunjukkan reaksi apa-apa.


Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh
menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya

3.

memang sudah rendah.


Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit. Timbul gejala

4.

demam dan batuk.


Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat

3.6

pneumonia.
Manifestasi Klinis dan Diagnosis ISPA
Penyakit ISPA meliputi hidung, telinga, tenggorokan (pharinx), trachea,

bronchioli dan paru. Tanda dan gejala penyakit ISPA pada anak bermacam-macam
seperti batuk, kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek, demam dan sakit
telinga. Sebagian besar dari gejala saluran pernapasan hanya bersifat ringan
seperti batuk dan pilek tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Namun
sebagian anak akan menderita radang paru (pneumonia) bila infeksi paru ini tidak
diobati dengan anti biotik akan menyebabkan kematian (Depkes RI, 2002).
Tanda dan gejala ISPA dibagi menjadi dua yaitu golongan umur 2 bulan
sampai 5 tahun dan golongan umur kurang dari 2 bulan, yaitu (Depkes RI 2002) :
Tanda dan gejala ISPA untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun
a.

Pneumonia berat, bila disertai napas sesak yaitu ada tarikan dinding dada
bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa
anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis/meronta).

29

b.

Pneumonia, bila disertai napas cepat, batas napas cepat adalah untuk umur 2
bulan sampai < 12 bulan sama dengan 50 kali permenit atau lebih, untuk

c.

umur 1-5 tahun sama dengan 40 kali permenit atau lebih.


Bukan pneumonia (batuk pilek biasa), bila tidak ditemukan tarikan dinding
dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.

Tanda dan gejala ISPA untuk golongan umur kurang dari 2 bulan
a.

Pneumonia berat, bila disertai tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah
atau napas cepat. Atas napas cepat untuk golongan umur kurang dari 2 bulan

b.

yaitu 60 kali permenit atau lebih.


Bukan pneumonia (batuk pilek biasa), bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat
dinding dada bagia bawah atau napas cepat.

Tanda dan gejala ISPA berdasarkan tingkat keparahan dibagi menjadi tiga, yaitu
(WHO, 2007):
Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau
lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a.
b.

Batuk
Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya

c.
d.

pada waktu berbicara atau menangis).


Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37C.

Gejala dari ISPA Sedang


Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari
ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :

30

a.

Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur
kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih dan
kelompok umur 2 bulan - <5 tahun : frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk
umur 2 <12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan

b.
c.
d.
e.
f.

<5 tahun.
Suhu lebih dari 39C (diukur dengan termometer).
Tenggorokan berwarna merah.
Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).

Gejala dari ISPA Berat


Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-gejala
ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai
berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bibir atau kulit membiru.


Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.
Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah.
Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas.
Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
Tenggorokan berwarna merah.

Cara Diagnosis
Diagnosis pnemonia pada balita didasarkan pada adanya batuk dan atau
kesukaran bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur.
Penentuan nafas cepat dilakukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan
dengan menggunkan sound timer. Batas nafas cepat adalah (Depkes RI 2002) :
a.

Pada anak usia kurang 2 bulan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per
menit atau lebih.

31

b.

Pada anak usia 2 bulan - <1 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali per

c.

menit atau lebih.


Pada anak usia 1 tahun - <5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali per

3.7

menit atau lebih.


Tatalaksana ISPA
Pola tatalaksana penderita yang dipakai dalam pelaksanaan Pengendalian

ISPA untuk penanggulangan pneumonia pada Balita didasarkan pada pola


tatalaksana penderita ISPA yang diterbitkan WHO tahun 1988 yang telah
mengalami adaptasi sesuai kondisi Indonesia (Kemenkes RI, 2011)

Pengobatan dengan menggunakan antibiotik: kotrimoksazol, amoksisilin selama 3


hari dan obat simptomatis yang diperlukan seperti parasetamol, salbutamol .
Tindak lanjut bagi penderita yang kunjungan ulang yaitu penderita 2 hari setelah
mendapat antibiotik di fasilitas pelayanan kesehatan. Persiapkan rujukan bagi
penderita pneumonia berat atau penyakit sangat berat (Kemenkes RI, 2011).

32

3.8. Pencegahan ISPA


Ada beberapa cara pencegahan ISPA, yaitu (WHO, 2008) :
Cara pencegahan berdasarkan level of prevention
1.

Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)


Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan
(health promotion) dan pencegahan khusus (spesific protection)
terhadap penyakit tertentu. Termasuk disini adalah ; Penyuluhan,
dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat
mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat
meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Imunisasi, yang merupakan
strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka kesakitan ISPA. Usaha
di bidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi. Program KIA yang
menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah. Program
Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani masalah
polusi di dalam maupun di luar rumah.

33

2.

Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)


Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan
diagnosis sedini mungkin. Dalam pelaksanaan program P2 ISPA,
seorang balita keadaan penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan
pneumonia apabila ditandai dengan batuk, serak, pilek, panas atau
demam (suhu tubuh lebih dari 370C), maka dianjurkan untuk segera
diberi pengobatan. Upaya pengobatan yang dilakukan terhadap
klasifikasi ISPA atau bukan pneumonia adalah tanpa pemberian obat
antibiotik dan diberikan perawatan di rumah. Adapun beberapa hal yang
perlu dilakukan ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA
adalah :
a. Mengatasi panas (demam).
b. Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau
dengan kompres dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada
c.

air (tidak perlu air es).


Pemberian makanan dan minuman
Memberikan makanan yang cukup tinggi gizi sedikit-sedikit tetapi
sering, memberi ASI lebih sering. Usahakan memberikan cairan
(air putih, air buah) lebih banyak dari biasanya.

3.

Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)


Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita yang bukan pneumonia
agar tidak menjadi lebih parah (pneumonia) dan mengakibatkan
kecacatan (pneumonia berat) dan berakhir dengan kematian.
Upaya yang dapat dilakukan pada pencegahan Penyakit bukan
pneumonia pada bayi dan balita yaitu perhatikan apabila timbul gejala
pneumonia seperti nafas menjadi sesak, anak tidak mampu minum dan

34

sakit menjadi bertambah parah, agar tidak bertambah parah bawalah


anak kembali pada petugas kesehatan dan pemberian perawatan yang
spesifik di rumah dengan memperhatikan asupan gizi dan lebih sering
memberikan ASI.
Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain :
1. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah kita
atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA.
Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna,
banyak minum air putih, olah raga dengan teratur, serta istirahat yang
cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap sehat. Karena
dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin
meningkat, sehingga dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan
masuk ke tubuh kita.

2. Imunisasi
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak maupun
orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh kita
supaya tidak mudah terserang berbagai macam penyakit yang disebabkan
oleh virus / bakteri.
4. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan

35

Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan


mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam rumah,
sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang bisa
menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat
memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan sehat
bagi manusia.
5. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/ bakteri
yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini melalui
udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit ini
biasanya berupa virus / bakteri di udara yang umumnya berbentuk aerosol
(anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk aerosol yakni
Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari
tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang kedua duet (campuran
antara bibit penyakit).

36

BAB 4
KESIMPULAN

Pada kasus kali ini, pasien anak M.S didiagnosa ISPA pada saat dibawa
berobat ke puskesmas. Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan keluhan yang
dialami pasien yaitu adanya demam, batuk dan pilek yang dialami sudah lebih dari
seminggu. Jika ditelaah lebih lanjut berdasarkan beberapa klasifikasi ISPA, pasien
dapat didiagnosa menderita ISPA ringan dan hanya berupa batuk pilek biasa
(bukan peneumonia).
Beberapa faktor resiko ISPA yang dimiliki pasien adalah riwayat imunisasi
yang tidak lengkap, pemberian ASI yang tidak eksklusif, serta umur dan jenis
kelamin pasien yang memang berada pada posisi tertinggi penderita ISPA
berdasarkan beberapa penelitian yang lalu.
Sementara faktor resiko lingkungan yang dimiliki pasien adalah kondisi
sosioekonomi dan pendidikan keluarga yang rendah sehingga mengakibatkan
lingkungan rumah pasien kurang layak huni dan PHBS sulit diterapkan secara
rutin. Sebagai contoh padatnya jumlah keluarga dalam rumah, vetilasi yang
kurang, dan kebiaaan ayah untuk merokok.

37

Daftar Pustaka

Depkes RI. 2002. Pedoman Pemberantasan Infeksi Saluran Pernapasan


Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta
Frans, F. Dkk, 2013. Makalah Dasar Pemberantasan Penyakit; Program
Pemberantasan Penyakit ISPA. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Diponegoro, Semarang.
Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. 2011. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran
Pernapasan Akut. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
Rahayu, Dina. 2011. Makalah Pemecahan Masalah Pelaksanaan Program
Pengendalian Penyakit ISPA di Puskesmas Inpres 5/74 Tanjung Pinang. Fakultas
Kedokteran Universitas Jambi, Jambi.
Soeprajitno, 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga ; Aplikasi dalam Praktik.
Jakarta : EGC. www.googlebook.com diakses pada 20 Mei 2013.
WHO. 2007. Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas pelayanan
kesehatan. WHO Interim Guidelines.
WHO. 2008. Pengenalan dini, pelaporan, dan manajemen pencegahan dan
pengendalian infeksi ISPA yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran. WHO
Interim Guidelines.
Wong, Donna, 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4.
Jakarta : EGC. www.googlebook.com diakses pada 20 Mei 2013.

Anda mungkin juga menyukai