Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Sumberdaya mineral karena keterbatasan jumlah dan sifatnya yang tidak

dapat diperbarukan memerlukan penanganan yang berbeda dengan sumberdaya


lain yang masih dapat diperbarukan. Pengembangan sumberdaya mineral
sebagai sebuah industri harus melalui perencanaan yang tepat agar dapat
diperoleh manfaat sekaligus mencegah timbulnya permasalahan lingkungan dan
dampak negatif lainnya.
Karakteristik industri mineral sangat berbeda dengan industri lain dan
bersifat kompleks karena melibatkan berbagai industri yang terintegrasi.
Kegiatan pertambangan itu sendiri dinamakan kegiatan hulu dari serangkaian
kegiatan industri mineral. Sedangkan industri hilir adalah tempat mengalir dan
bermuaranya

hasil

produk

pertambangan

sebagai

lanjutan

industri

pertambangan yang mengolah berbagai bahan mentah menjadi bahan jadi.

1.2

Maksud dan Tujuan

1.2.1

Maksud
Pembahasan

mengenai

pengembangan

sumberdaya

mineral

dimaksudkan untuk lebih memahami perlunya penanganan yang sangat serius


dan

tepat

agar

sumberdaya

tersebut

tidak

terbuang

percuma

tanpa

menghasilkan manfaat bagi kehidupan manusia. Terlebih jika ternyata kegiatan


pemanfaatan sumberdaya tersebut malah berdampak merugikan bagi manusia
dan lingkungannya.
1.2.2 Tujuan
Diharapkan terbentuk persepsi bahwa pengembangan sumberdaya
mineral yang ideal terdiri atas tahapan tahapan kegiatan yang sepantasnya
bertujuan memanfaatkan potensi mineral dengan mengingat keterbatasan
jumlahnya dan tanpa harus mengorbankan keselamatan lingkungan untuk
meningkatkan derajat hidup manusia baik di masa kini maupun bagi generasi di
masa depan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1

Pengolahan Mineral Zeolit Dan Bentonit


Zeolit adalah mineral kristal alumina silikat berpori terhidrat yang

mempunyai struktur kerangka tiga dimensi terbentuk dari tetrahedral [SiO4] 4- dan
[AlO4]5-. Kedua tetrahedral di atas dihubungkan oleh atom-atom oksigen,
menghasilkan struktur tiga dimensi terbuka dan berongga yang didalamnya diisi
oleh atom-atom logam biasanya logam-logam alkali atau alkali tanah dan
molekul air yang dapat bergerak bebas
Bentonit adalah suatu istilah nama dalam dunia perdagangan yang
sejenis lempung plastis yang mempunyai kandungan mineral monmorilonit lebih
dari 85% dengan rumus kimianya Al2O3.4SiO2 x H2O.
Untuk meningkatkan mutu dari zeolit dan bentonit tersebut, dilakukan
aktivasi skala laboratorium. Pada aktivasi zeolit dengan soda kostik, KTK
meningkat dari 79,26 meq/100 g menjadi 139,14 meq/100 g (zeolit asal
Sindangkerta) dan untuk zeolit asal Lampung dari 72,24 meq/100 g menjadi
85,63 meq/100g. Pada uji coba aktivasi dengan asam sulfat, KTK meningkat dari
79,26 menjadi 147,35 meq/100 g (zeolit asal Sindangkerta) dan dari 72,24
menjadi 80,37 meq/100g (zeolit Lampung).
Hasil uji daya pertukaran ion terhadap logam-logam berat Cu, Cd, Pb, Zn,
Cr, Ni dan Co menunjukkan bahwa hasil aktivasi menggunakan soda kostik lebih
baik bila dibandingkan dengan aktivasi menggunakan asam sulfat. Pada
bentonit, setelah diaktifasi, ternyata nilai daya pemucatnya meningkat dari
semula 40,2 - 43,8 menjadi 70,3 - 79,0 %. Sebagai bahan pembanding, daya
pemucat bentonit impor merk "Tonsil" yang diuji secara sama sebesar 82,40%.
Selain itu, kondisi aktivasi yang optimal terjadi pada konsentrasi asam 3 N, waktu
aktivasi 3 jam dan persen padatan 20 %.

Sumber : puslitbang tekmira

Foto 1
Produk Aktivasi
Bentonit

Sumber : http://www.litbang.esdm.go.id

Foto 2
Proses Aktivasi Bentonit

2.2

Pengolahan Feldspar dan Kaolin


Kaolin banyak dipakai dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku

utama maupun bahan pembantu. Hal ini karena adanya sifat-sifat kaolin
seperti kehalusan, kekuatan, warna, daya hantar listrik dan panas yang rendah,
serta sifat-sifat lainnya. Dalam

industri

kaolin

dapat berfungsi sebagai

pelapis (coater), filler, barang-barang tahan api dan isolator. Penggunaan


kaolinn yang utama adalah dalam industri keramik, kertas, cat, sabun,
karet/ban dan pestisida. Penggunaan lainnya adalah dalam industri logam,
farmasi dan obat-obatan, pupuk, bahan penyerap, pasta gigi, barang-barang
untuk bangunan dan lain sebagainya.
Pada pilot plant ini bertujuan untuk mengolah kaolin mejadi metakaolin
sebagai bahan aditif semen. Proses pengolahan kaolin dilakukan dengan cara
memisahkan kaolin dengan pengotornya seperti mika dan feldspar, caranya
dilakukan dengan metoda dekantasi sehingga didapatkan kaolin yang berkualitas
untuk bahan baku pembuatan metakaolin. Pada proses pengolahan feldspar
dilakukan dengan menggunakan flotasi pada ph 2,5-3, sehingga nantinya didapat
produk feldspar yang mempunyai kadar Na2O + K2O > 12 %. Hasil kegiatan

didapatkan kaolin yang mempunyai kadar Al2O3 sebesar 37,8 % yang dapat
digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan metakaolin.

Sumber : puslitbang tekmira

Foto 3
Produk Aktivasi
Bentonit

Sumber : http://www.litbang.esdm.go.id

Foto 4
Proses Pengolahan Kaolin dan Feldspar

2.3

Pembuatan Pupuk Majemuk


Pada pembuatan pupuk majemuk menggunakan bahan baku fospat

dengan kadar P2O5 21-24% dan dolomit dengan kadar MgO 19 % serta asama
sulfat teknis dengan kadar H2SO4 96 %. Langkah- langkah yang dilakukan untuk
pembuatan pupuk majemuk yaitu pertama bahan baku fosfat diremukan lalu
dikeringkan. Kemudian setelah itu dilakukan proses penggerusan. Lalu setelah
dilakukan

penggerusan

pencampuran.

kemudian

dilakukan

proses

pengayakan

dan

Sumber : http://www.litbang.esdm.go.id

Foto 5
Proses Pembuatan Pupuk Majemuk

Sumber : http://www.litbang.esdm.go.id

Foto 6
Proses Pembuatan Pupuk Majemuk

2.4

Proses Ekstraksi Emas


Ekstraksi adalah proses pemisahan berdasarkan pada distribusi zat

terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling
bercampur. Terdapat dua metoda pilihan yang dapat diterapkan dalam ekstraksi
emas yaitu sianidasi dan amalgamasi. Dalam mengekstraksi logam dari bijihnya,
tidak semua tahapan proses harus dilakukan. Apabila suatu bijih secara teknologi
dapat diolah langsung dengan proses hidrometalurgi, maka faktor selanjutnya
yang mempengaruhi pemilihan proses adalah faktor ekonomis.
Mineral logam:
Mineral logam dapat dicairkan untuk mendapatkan produk baru.
Beberapa contoh mineral logam adalah besi, tembaga, bauksit, timah,

dan mangan.
Mineral logam ini umumnya dikaitkan dengan batuan beku.
Mineral logam biasanya keras dan dapat bersinar atau berkilau.
Mineral logam bersifat elastis dan lentur.
Mineral logam ketika dipukul-pukul tidak akan rusak.

Mineral nonlogam:
Mineral nonlogam tidak akan menghasilkan produk baru bila dicairkan.

Beberapa contoh mineral nonlogam adalah batubara, garam, tanah liat,

dan marmer.
Mineral nonlogam ini umumnya dikaitkan dengan batuan sedimen.
Mineral nonlogam tidak begitu keras dan tidak bersinar atau berkilau.
Mineral nonlogam tidak elastis dan tidak lentur.
Mineral nonlogam ketika dipukul-pukul akan rusak menjadi potonganpotongan
Dalam skala industri, pelindian sianidasi merupakan suatu proses

hidrometalurgi yang paling ekonomis dan hingga kini telah diterapkan pada
berbagai pabrik pengolahan emas di dunia. Istilah proses pelindian yang selekt if
dipakai dengan tujuan agar dapat memilih pelarut tertentu yang dapat melarutkan
logam berharga tanpa melarutkan pengotornya. Logam emas sangat mudah larut
dalam KCN, NaCN, dan Hg, sehingga emas dapat diambil dari mineral
pengikatnya melalui amalgamasi (Hg) atau dengan menggunakan larutan sianida
(biasanya NaCN). Selain itu emas dapat larut pada aquaregia, dengan
persamaan reaksi : Au(s) + 4HCl(aq) + HNO3(aq) HAuCl4(aq) + NO (g) +
2H2O(l). Pada proses ekstraksi emas bahan bakunya berupa biji emas, sianida,
dan air. Pada proses pengolahannya dilakukan dengan cara bijih emas digiling
lalu direaksikan dengan sianid( leaching ). Hasil dari proses pengolahannya
berupa pasir/ butiran emas berkadar > 50 gram/ ton.

Sumber : puslitbang tekmira

Foto 7
Pengolahan Emas

BAB III
KESIMPULAN

Pengembangan sumberdaya mineral melalui industri pertambangan


memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri industri lainnya, antara lain
membutuhkan

modal

besar,

resiko

investasi

yang

tinggi,

memerlukan

penggunaan teknologi maju, merupakan industri jangka panjang yang tidak bisa
segera

mendapatkan

hasil

(quick

yielding),

serta

berdampak

terhadap

lingkungan sosial dan masyarakat.


Sedangkan kendala yang bisa menghambat investor masuk kedalam
dunia pertambangan di Indonesia berupa indeks kepercayaan yang rendah, iklim
usaha yang buruk akibat ketidakstabilan kondisi politik dan keamanan, lemahnya
penegakan hukum dan inkonsistensi peraturan, entry cost relatif mahal karena
banyaknya pungutan, angka korupsi, kerumitan birokrasi dan tumpang tindihnya
kewenangan pengelolaan bahan galian.

DAFTAR PUSTAKA

Soenara, Trisna dan Rochani Siti. 2013 . Puslitbang Teknologi Mineral dan
Batu Bara. Sentra Percontohan Pengolahan Mineral.
Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral.
http://www.litbang.esdm.go.id.
Www.Docstoc.Com./Docs/43318295/Bab-3-Mineral
Dan-Batuan.
21
Agustus 2012 13.20.