Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

KANKER BULI-BULI

A. Pengertian
Neoplasma

adalah

kumpulan

sel

abnormal

yang

terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus menerus secara


terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya
dan

tidak

berguna

bagi

tubuh

(dr.

Achmad

Tjarta,

yang

digunakan

Pathologi).
Kanker

adalah

Istilah

umum

untuk

menggambarkan gangguan pertumbuhan selular dan merupakan


kelompok

penyakit

dan

bukan

hanya

penyakit

tunggal

mencakup

setiap

bagian

tubuh.

(Marilynn E. Doenges, Rencana Askep.).


Cancer:
pertumbuhan

Istilah
malignan

Pertumbuhan

ini

tidak

berkembang

dengan

umum
dalam

yang
setiap

bertujuan,

mengorbankan

bersifat
manusia

parasit
yang

dan

menjadi

hospesnya. Sedangkan Carsinoma adalah pertumbuhan kanker


pada jaringan epitel. (Sue Hinchliff, Kamus Keperawatan).
Kanker buli-buli adalah tumor ganas yang didapatkan
dalam buli-buli ( kandung kemih).
B. Anatomi dan Fisiologi
Kandung

kemih

merupakan

organ

berongga

yang

terletak disebelah anterior tepat dibelakang os. pubis.


Organ

ini

menampung

berfungsi
urine.

sebagai

Sebagian

besar

wadah

sementara

dinding

kandung

untuk
kemih

tersusun

dari

otot

detrusor.

Kontraksi

polos
otot

ini

yang

dinamakan

terutama

musculus

berfungsi

untuk

mengosongkan kandung kemih pada saat buang air kecil.


Uretra muncul dari kandung kemih pada laki-laki uretra
berjalan

lewat

disebelah

penis

anterior

dan

pada

vagina.

wanita

Pada

bermuara

laki-laki

tepat

kelenjar

prostat yang terletak tepat dibawah leher kandung kemih


mengelilingi

uretra

disebelah

posterior

dan

lateral.

Spingter urinarius ekterna merupakan otot volunter yang


bulat untuk mengendalikan proses awal urinasi.
C. Etiologi
Penyebab yang pasti dari kanker kandung kemih tidak
diketahui.

Tetapi

penelitian

telah

menunjukkan

bahwa

kanker ini memiliki beberapa faktor resiko:


1. Usia, resiko terjadinya kanker kandung kemih meningkat
sejalan dengan pertambahan usia.
2. Merokok, merupakan faktor resiko yang utama.
3. Lingkungan pekerjaan, beberapa pekerja memiliki resiko
yang lebih tinggi untuk menderita kanker ini karena di
tempatnya bekerja ditemukan bahan-bahan karsinogenik
(penyebab

kanker).

Misalnya

pekerja

industri

karet,

kimia, kulit.
4. Infeksi, terutama infeksi parasit (skistosomiasis).
5. Pemakaian siklofosfamid atau arsenik untuk mengobati
kanker dan penyakit lainnya.

6. Ras, orang kulit putih memiliki resiko 2 kali lebih


besar, resiko terkecil terdapat pada orang Asia.
7. Pria, memiliki resiko 2-3 kali lebih besar.
8. Riwayat

keluarga,

orang-orang

yang

keluarganya

ada

yang menderita kanker kandung kemih memiliki resiko


lebih

tinggi

untuk

menderita

kanker

ini.

Peneliti

sedang mempelajari adanya perubahan gen tertentu yang


mungkin meningkatkan resiko terjadinya kanker ini.
D. Tanda dan Gejala
1. Kencing campur darah yang intermitten
2. Merasa panas waktu kencing
3. Merasa ingin kencing
4. Sering

kencing

terutama

malam

hari

dan

pada

fase

selanjutnya sukar kencing


5. Nyeri suprapubik yang konstan
6. Panas badan dan merasa lemah
7. Nyeri pinggang karena tekanan saraf
8. Nyeri pada satu sisi karena hydronephrosis
Gejala dari kanker kandung kemih menyerupai gejala
infeksi kandung kemih (sistitis) dan kedua penyakit ini
bisa

terjadi

kanker

jika

secara
dengan

bersamaan.
pengobatan

gejalanya tidak menghilang.

Patut
standar

dicurigai
untuk

suatu

infeksi,

E. Patofisiologi
Patofisiologi
hiroureter

diawali

secara

anatomic

terjadi

dimana

terjadinya
dengan

maupun
saja

hidronefrosis

adanya

hambatan

fisiologik.

sepanjang

aliran

Hambatan

ginjal

dan

ii

sampai

urun
dapat

meatus

uretra. Peningkatan tekanan ureter menyebabkan perubahan


dalam

filtrasi

aliran

darah

glomerulus

ginjal.

GFR

(GFR).

Fungsi

tubulus,

dan

menurun

dalam

beberapa

jam

setelah terjadinya hambatan. Kondisi ini dapat bertahan


selama beberapa minggu. Fungsi tubulus juga terganggu.
Berat dan durasi kelainan ini tergantung pada berat dan
durasi

hambatan

aliran.

Hambatan

aliran

yang

singkat

menyebabkan kelainan yang reversible sedangkan sumbatan


kronis menyebabkan atrofi tubulus dan hilangnya nefrin
secara permanen. Peningkatan tekanan ureter juga aliran
balik

pielovena

dan

pielolimpatik.

Dalam

duktus

kolektivus, dilatasi dibatasi oleh parenkim ginjal. Namun


komponen di luar ginjal dapat berdilatasi maksimal.
Pada
gambaran

urogram,
kalik-kalik

hidronefrosis
yang

dini

mendatar

memberikan
(flattening).

Sementara pada keadaan lanjut, memperlihatkan kalik-kalik


berupa tongkat (clubbing). Pada tingkat yang lebih parah
terjadi
urinarius,

destruksi
kompresi

parenkimdan
papilla,

pembesaran

penipisan

traktus

parenkim

di

sekitar kalises, dan dapat terjadi atrofi korteks yang

berjalan

progresif

dan

akhirnya

terbentuk

kantung

hidronefrotik (balloning).
Sementara pada USG, derajat hidronefrosis terbagi
menjadi

3.

hipoekoik
sedang
baiknya

Hidronefrosis

di

terlihat

jelas.

ekonomi

tengah

pelebaran

seperti

hidronefrosis
bebas

bagian

berat
yang

pada
tampak

ringan

memberiakan

ginjal.

Pada

hidronefrosis

peilokalikises
urografi.
kalises

lobulated,

gambaran

yang

Sedangkan
berupa

parenkim

suatu

ginjal

sama
pada
zona
tidak

F. Pathway

Usia
Merokok
Lingkungan pekerjaan
Infeksi
Pemakain siklofosframid
Ras
Jensi kelamin
Riwayat keluarga
Buli-buli
Ca Buli-buli

Ulserasi

Metastase
e

Infeksi
sekunder
Panas waktu
kencing
Merasa panas
dan tubuh
lemah
Hematuria

Oklusi
ureter/pelvic
renal

Invasi pada bladder

Refluks
Hidronefrosis
Nyeri supra
pubic
Nyeri pinggang

Retensio urin

Nyeri

Ginjal membesar

Penatalaksanaan

Nyeri
Operasi
Diskontinuitas
Jaringan
Nyeri

Sosio ekonomi,
perubahan
kesehatan,
situasi krisis
Takut

Kemoterapi
Tidak adekuat
terapi
Efek samping
kemoterapi

Kurangnya
informasi tentang
penyakit
Kurang
pengetahuan

Imun

Kecemasan

Resiko kerusakan
membrane mulut

Panas tubuh
dan lemah

Resiko kurangnya
volme cairan

Resiko Infeksi
Anoreksia

Intoleransi
aktifitas

Hb
Resiko kerusakan
integritas kulit

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Laboratorium
a. Pemeriksaan Hb
Hb

menurun

oleh

karena

kehilangan

darah,

infeksi, uremia, gros atau micros hematuria


b. Pemeriksaan Leukosit
1) Leukositosis bila terjadi infeksi sekunder dan
terdapat pus dan bakteri dalam urine
2) Acid

phospatase

meningkat;

kanker

prostat

metastase.
3) CTH meningkat kanker paru
4) Alkaline

phosphatase

meningkat;

kanker

tulang

atau metastase ke tulang, kanker hati, lymphoma,


leukemia.
5) Calsium
mamae,

meningkat;
leukemia,

metastase
lymphoma,

tulang,

multiple

kanker
myeloma,

kanker; paru, ginjal, bladder, hati, paratiroid.


6) LDH meningkat; kanker hati, metastase ke hati,
lymphoma, leukemia akut
7) SGPT

(AST),

SGOT

(ALT)

meningkat;

kanker

metastase ke hati.
8) Testosteron meningkat; kanker adrenal, ovarium.
2. Radiology
a. Excretory

urogram

biasanya

normal,

tapi

dapat menunjukkan tumornya.


b. Retrograde cystogram dapat menunjukkan tumor

mungkin

c. Fractionated

cystogram

adanya

invasi

tumor

dalam

dinding buli-buli
d. Angography untuk mengetahui adanya metastase lewat
pembuluh lymphe
3. Cystocopy dan biopsy
a. cystoscopy hampir selalu menghasilkan tumor
b. Biopsi

dari

pada

lesi

selalu

dikerjakan

secara

rutin.
4. Cystologi
Pengecatan

sieman/papanicelaou

pada

sedimen

urine terdapat transionil cel daripada tumor.


H. Penatalaksanaan Medis
1. Operasi
a. Reseksi

tranurethral

untuk

single/multiple

papiloma.
b. Dilakukan

pada

stage

0,A,B1

dan

grade

I-II-low

kel.

Prostate

grade.
c. Total

cystotomy

dengan

pegangkatan

dan urinary diversion untuk:


1) Transurethral cel tumor pada grade 2 atau lebih
2) Aquamosa cal Ca pada stage B-C.
2. Radioterapy
a. Diberikan

pada

tumor

yang

radiosensitive

seperti

undifferentiated pada grade III-IV dan stage B2-C.

b. Radiasi

diberikan

sebelum

operasi

selama

3-4

minggu, dosis 3000-4000 Rads. Penderita dievaluasi


selam 2-4 minggu dengan iinterval cystoscopy, foto
thoraks dan IVP, kemudian 6 minggu setelah radiasi
direncanakan operasi. Post operasi radiasi tambahan
2000-3000 Rads selam 2-3 minggu.
3. Chemoterapi
Obat-obat anti kanker
a. Citral, 5 fluoro urasil
b. Topical chemotherapy yaitu Thic-TEPA, Chemotherapy
merupakan

paliatif.

doxorubicin

5-

(adriamycin)

Fluorouracil
merupakan

(5-FU)
bahan

dan
yang

paling sering dipakai. Thiotepa dapat diamsukkan ke


dalam Buli-buli sebagai pengobatan topikal. Klien
dibiarkan
sebelum

menderita
pengobatan

dehidrasi
dengan

sampai

theotipa

12

dan

jam
obat

diabiarkan dalam Buli-buli selama dua jam.


I. Komplikasi
1. Infeksi sekunder bila tumor mengalami ulserasi
2. Retensi urine bila tumor mengadakan invasi ke bladder
neck
3. Hydronephrosis oleh karena ureter menglami oklusi
J. Diagnosa Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji
1. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
a. Cemas

b. Nyeri
c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
d. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis
dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya
informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif
e. Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut
f. Resiko tinggi kurangnya volume cairan
g. Resiko tinggi infeksi
h. Resiko tinggi gangguan fungsi seksual
i. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit
2. Data yang perlu dikaji
a. Pengkajian
1) Identitas
Yang paling sering dijangkiti kanker dari
alat perkemihan adalah buli-buli. Kanker Bulibuli terjadi tiga kali lebih banyak pada pria
dibandingkan

pada

wanita,

dan

tumor-tumor

multipel juga lebih sering, kira-kira 25% klien


mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali
dibuat diagnosa.
2) Riwayat keperawatan
Keluhan

penderita

yang

utama

adalah

mengeluh kencing darah yang intermitten, merasa


panas waktu kening. Merasa ingin kencing, sering
kencing

terutama

malam

hari

dan

pada

fase

selanjutnya sukar kencing, nyeri suprapubik yang

konstan,

panas

pinggang

karena

badan

dan

tekanan

merasa

saraf,

lemah,

dan

nyeri

nyeri

pada

satu sisi karena hydronephrosis


3) Pemeriksaan fisik dan klinis
Inspeksi , tampak warna kencing campur darah,
pembesaran suprapubic bila tumor sudah besar.
Palpasi,

teraba

tumor

masa

suprapubic,

pemeriksaan bimanual teraba tumor pada dasar


buli-buli dengan bantuan general anestesi baik
waktu VT atau RT.
4) Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Radiology
Cysticopy dan biopsy
Cystologi
K. Prioritas dan Diagnosa Keperawatan
1. Cemas

(kanker),
dan

takut

berhubungan

perubahan

fungsi,

dengan

kesehatan,

bentuk

interaksi,

situasi

sosio

krisis

ekonomi,

persiapan

peran

kematian,

pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan


tegangan,
peran,

kelelahan,

perasaan

mengekspresikan

tergantung,

tidak

kecanggungan

adekuat

kemampuan

proses

penyakit

menolong diri, stimulasi simpatetik.


2. Nyeri

(akut)

berhubungan

(penekanan/kerusakan

dengan

jaringan

syaraf,

infiltrasi

sistem

suplay

inflamasi),

syaraf,

efek

obstruksi

samping

therapi

jalur

syaraf,

kanker

ditandai

dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak


mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
3. Gangguan

nutrisi

berhubungan
dengan

(kurang

dengan

kanker,

dari

kebutuhan

hipermetabolik

konsekwensi

yang

tubuh)

berhubungan

khemotherapi,

radiasi,

pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa


kecap,

nausea),

emotional

distress,

fatigue,

ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien


mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap,
kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau
lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak
subkutan, konstipasi, abdominal cramping.
4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan
pengobatan

berhubungan

dengan

kurangnya

informasi,

misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan


sering

bertanya,

miskonsepsi,

menyatakan

tidak

masalahnya,

akurat

dalam

pernyataan
mengikiuti

intruksi/pencegahan komplikasi.
L. Intervensi
1. Cemas

(kanker),
dan

takut

berhubungan

perubahan

fungsi,

bentuk

dengan

kesehatan,
interaksi,

sosio

situasi
ekonomi,

persiapan

krisis
peran

kematian,

pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan

tegangan,
peran,

kelelahan,

perasaan

mengekspresikan

tergantung,

tidak

kecanggungan

adekuat

kemampuan

menolong diri, stimulasi simpatetik.


a. Tujuan
Cemas klien berkurang
b. Kriteria hasil
1) Klien dapat mengurangi rasa cemasnya
2) Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.
3) Menunjukkan

koping

yang

efektif

serta

mampu

berpartisipasi dalam pengobatan.


c. Rencana tindakan
1) Tentukan

pengalaman

klien

sebelumnya

terhadap

penyakit yang dideritanya.


Rasional: Data-data

mengenai

pengalaman

klien

sebelumnya akan memberikan dasar untuk


penyuluhan

dan

menghindari

adanya

prognosis

secara

duplikasi.
2) Berikan

informasi

tentang

akurat.
Rasional: Pemberian
klien

informasi
dalam

dapat

membantu

memahami

proses

penyakitnya.
3) Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan
rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi
dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai
Rasional: Dapat menurunkan kecemasan klien

4) Jelaskan

pengobatan,

tujuan

dan

efek

samping.

Bantu klien mempersiapkan diri dalam pengobatan.


Rasional: Membantu

klien

kebutuhan

untuk

dalam

memahami

pengobatan

dan

efek

sampingnya
5) Catat koping yang tidak efektif seperti kurang
interaksi sosial, ketidak berdayaan dll.
Rasional: Mengetahui
klien

dan

serta

solusi

menggali

pola

koping

mengatasinya/memberikan

dalam

upaya

meningkatkan

kekuatan dalam mengatasi kecemasan.


6) Anjurkan

untuk

mengembangkan

interaksi

dengan

support system.
Rasional: Agar

klien

memperoleh

dukungan

dari

orang yang terdekat / keluarga.


7) Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman
Rasional: Memberikan kesempatan pada klien untuk
berpikir/merenung/istirahat.
8) Pertahankan

kontak

dengan

klien,

bicara

dan

sentuhlah dengan wajar.


Rasional: Klien mendapatkan kepercayaan diri dan
keyakinan

bahwa

dia

benar-benar

ditolong
2. Nyeri

(akut)

berhubungan

(penekanan/kerusakan

dengan

jaringan

proses

syaraf,

penyakit
infiltrasi

sistem

suplay

inflamasi),

syaraf,

efek

obstruksi

samping

therapi

jalur

syaraf,

kanker

ditandai

dengan klien mngatakan nyeri, klien sulit tidur, tidak


mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
a. Tujuan
Nyeri klien berkurang
b. Kriteria hasil
1) Klien

mampu

mengontrol

rasa

nyeri

melalui

aktivitas.
2) elaporkan nyeri yang dialaminya.
3) Mengikuti program pengobatan.
4) Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan
rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin.
c. Rencana tindakan
1) Tentukan

riwayat

nyeri,

lokasi,

durasi

dan

intensitas.
Rasional: Memberikan

informasi

yang

diperlukan

untuk merencanakan asuhan.


2) Evaluasi

therapi:

khemotherapi,

pembedahan,

biotherapi,

ajarkan

radiasi,
klien

dan

keluarga tentang cara menghadapinya.


Rasional: Untuk mengetahui terapi yang dilakukan
sesuai

atau

tidak,

menyebabkan komplikasi.

atau

malah

3) Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas


menyenangkan

seperti

mendengarkan

musik

atau

nonton TV.
Rasional: Untuk

meningkatkan

kenyamanan

dengan

mengalihkan perhatian klien dari rasa


nyeri.
4) Menganjurkan

tehnik

penanganan

stress

(tehnik

relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan


berikan sentuhan therapeutic.
Rasional: Meningkatkan
samping

kontrol

dengan

diri

menurunkan

atas

efek

stress

dan

ansietas.
5) Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu
Rasional: Untuk

mengetahui

penanganan
sampai

nyeri,

tingkat

sejauhmana

menahannya

serta

efektifitas
nyeri

klien
untuk

dan

mampu

mengetahui

kebutuhan klien akan obat-obatan anti


nyeri.
6) Diskusikan

penanganan

nyeri

dengan

dokter

dan

juga dengan klien.


Rasional: Agar

terapi

yang

diberikan

tepat

sasaran.
7) Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin,
methadone, narkotik dll.
Rasional: Untuk mengatasi nyeri

3. Gangguan

nutrisi

berhubungan
dengan

(kurang

dengan

kanker,

dari

kebutuhan

hipermetabolik

konsekwensi

yang

tubuh)

berhubungan

khemotherapi,

radiasi,

pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa


kecap,

nausea),

emotional

distress,

fatigue,

ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan klien


mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap,
kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau
lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak
subkutan, konstipasi, abdominal cramping.
a. Tujuan
Berat badan klien stabil
b. Kriteria hasil
1) Klien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil
lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi.
2) Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake
yang adekuat.
3) Berpartisipasi

dalam

penatalaksanaan

diet

yang

berhubungan dengan penyakitnya


c. Rencana tindakan
1) Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien
makan sesuai dengan kebutuhannya.
Rasional: Memberikan
gizi klien.

informasi

tentang

status

2) Timbang

dan

ukur

berat

badan,

ukuran

triceps

serta amati penurunan berat badan.


Rasional: Memberikan
penambahan

informasi
dan

tentang

penurunan

berat

badan

klien.
3) Kaji

pucat,

penyembuhan

luka

yang

lambat

dan

pembesaran kelenjar parotis.


Rasional: Menunjukkan keadaan gizi klien sangat
buruk.
4) Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi
kalori

dengan

intake

cairan

yang

adekuat.

Anjurkan pula makanan kecil untuk klien.


Rasional: Kalori merupakan sumber energy.
5) Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau
bising.

Hindarkan

makanan

yang

terlalu

manis,

berlemak dan pedas.


Rasional: Mencegah

mual

muntah,

distensi

berlebihan, dispepsia yang menyebabkan


penurunan nafsu makan serta mengurangi
stimulus

berbahaya

yang

dapat

meningkatkan ansietas.
6) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya
makan bersama teman atau keluarga.
Rasional: Agar

klien

merasa

dirumah sendiri.

seperti

berada

7) Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan


moderate sebelum makan.
Rasional: Untuk

menimbulkan

perasaan

ingin

makan/membangkitkan selera makan.


8) Anjurkan

komunikasi

terbuka

tentang

problem

anoreksia yang dialami klien.


Rasional: Agar dapat diatasi secara bersama-sama
(dengan ahli gizi, perawat dan klien).
9) Kolaboratif
Rasional: Untuk mengetahui/menegakkan terjadinya
gangguan

nutrisi

perjalanan

penyakit,

sebagi

akibat

pengobatan

dan

perawatan terhadap klien.


10) Amati studi laboraturium seperti total limposit,
serum transferin dan albumin.
Rasional: Membantu
penyakit,

menghilangkan
efek

gejala

samping

dan

meningkatkan status kesehatan klien.


11) Berikan pengobatan sesuai indikasi.
Rasional: Mempermudah intake makanan dan minuman
dengan hasil yang maksimal dan tepat
sesuai kebutuhan.
4. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan
pengobatan

berhubungan

dengan

kurangnya

informasi,

misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan

sering

bertanya,

miskonsepsi,

menyatakan

tidak

masalahnya,

akurat

pernyataan

dalam

mengikiuti

intruksi/pencegahan komplikasi.
a. Tujuan
Pengetahuan klien tentang penyakitnya bertambah
b. Kriteria hasil
1) Klien

dapat

mengatakan

secara

akurat

tentang

diagnosis dan pengobatan pada ting-katan siap.


2) Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan
tentang alasan mengikuti prosedur tersebut.
3) Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup
dan berpartisipasi dalam pengo- batan.
4) Bekerjasama dengan pemberi informasi.
c. Rencana tindakan
1) Review

pengertian

klien

dan

keluarga

tentang

diagnosa, pengobatan dan akibatnya.


Rasional: Menghindari

adanya

pengulangan

duplikasi

terhadap

dan

pengetahuan

klien.
2) Tentukan

persepsi

pengobatannya,

klien

ceritakan

tentang
pada

kanker

klien

dan

tentang

pengalaman klien lain yang menderita kanker


Rasional: Memungkinkan
terhadap

dilakukan

kesalahan

pembenaran

persepsi

dan

konsepsi serta kesalahan pengertian.

3) Beri

informasi

yang

akurat

dan

faktual.

Jawab

pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi


yang tidak diperlukan.
Rasional: Membantu

klien

dalam

memahami

proses

penyakit.
4) Berikan bimbingan kepada klien/keluarga sebelum
mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama,
komplikasi. Jujurlah pada klien.
Rasional: Membantu

klien

dan

keluarga

dalam

membuat keputusan pengobatan.


5) Anjurkan
verbal

klien
dan

untuk

memberikan

mengkoreksi

umpan

miskonsepsi

balik
tentang

penyakitnya
Rasional: Mengetahui sampai sejauhmana pemahaman
klien

dan

keluarga

mengenai

penyakit

klien.
6) Review klien /keluarga tentang pentingnya status
nutrisi yang optimal.
Rasional: Meningkatkan
keluarga

pengetahuan

mengenai

klien

dan

nutrisi

yang

membran

mukosa

adekuat.
7) Anjurkan

klien

untuk

mengkaji

mulutnya secara rutin, perhatikan adanya eritema,


ulcerasi.
Rasional: Mengkaji

perkembangan

penyembuhan

dan

proses-proses

tanda-tanda

infeksi

serta

masalah

dengan

kesehatan

mulut

yang dapat mempengaruhi intake makanan


dan minuman.
8) Anjurkan klien memelihara kebersihan kulit dan
rambut.
Rasional: Meningkatkan

integritas

kulit

dan

kepala.

DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M & Esther Matassarin-Jacobs. 1997. Medical


Surgical Nursing : Clinical Management for Continuity
of Care, Edisi 5, W.B. Saunders Company: Philadelphia
Carpenito,
Lynda
Juall.
2001.
Keperawatan. EGC: Jakarta

Buku

Saku

Diagnosa

Doenges, Marilyn E, et all. 1993. Nursing Care Plans :


Guidelines for Planning and Documenting Patient Care,
Edition 3, F.A. Davis Company: Philadelphia
Gale,

Danielle & Charette, Jane. 2000.


Keperawatan Onkologi. EGC: Jakarta

Rencana

Asuhan

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Alih Bahasa:


Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran
Bandung,
Edisi
1.
Yayasan
IAPK
Pajajaran: Bandung