Anda di halaman 1dari 70

Dimulai pada tahun 1970

KTG tersebar luas, digunakan

secara

umum
Aplikasinya, kemudahan penggunaan
Dikembangkan dengan harapan
insidens cerebral palsy hingga 50%
Saat ini, KTG merupakan standar
dalam pelayanan ante-intrapartum

Sumber: Williams B. Cardiotocography and medicolegal issues. Best.2004 .18(3):457-466

Sulitnya interpretasi hasil KTG


Banyak patofisiologi yang terkait
Temuan KTG yang sama pada kondisi

yang berbeda simpulan yang


berbeda
Konsensus terkini:
Pada kasus serebral palsy, 10%
yang terkait dengan proses
intrapartum
Sumber: Royal College of Obstetrician And Gynaecologist.The Use of electronic fetal monitoring:the use and
interpretation of cardiotocography in intrapartum fetal surveillance

INTERNAL
Kateter intra uterin
Lebih obyektif
Hanya pada persalinan
EKSTERNAL
Dinding abdomen
Kurang obyektif

Normal : 120 160


dpm

Takikardia : 160 180


dpm

Bradikardia : 100
120 dpm

Gawat Janin : 180


dpm atau 100 dpm

Silent
: variabilitas 0 5 dpm
Berkurang
: variabilitas 6 10 dpm
Normal
: variabilitas 10 25 dpm
Saltatory : variabilitas > 25 dpm
Cari penyebab berkurangnya variabilitas

Hipoksia / asidosis
Obat-obatan: CNS depressants,
parasympatholytic

Bayi tidur
Anomali kongetnital
Prematuritas
Kelainan neurologis abnormal

Freeman RK et al, 2003

Akselerasi

Deselerasi Dini

Deselerasi Lambat

Deselerasi Variabel

Deselerasi lama (Prolonged


decelerations)

Mulai bersamaan kontraksi dan kembali


pada frekuensi dasar bersamaan dengan
hilangnya kontraksi uterus.

Berbentuk uniform.

Kompresi kepala janin.

DESELERASI DINI

Pressure on Fetal Head

Alteration in Cerebral Blood Flow

Central Vagal Stimulation

FHR Deceleration

Freeman RK et al, 2003

Mulainya terlambat
15 30 detik dari
kontraksi rahim dan
berakhirnya juga
lebih lambat 15 30
detik.

Proses kronik atau


akut

Indikasi adanya
asfiksia

DESELERASI LAMBAT
DECREASED UTEROPLACENTAL OXYGEN
TRANSFER TO THE FETUS

Chemoreceptor Stimulus
Alpha Adrenergic Stimulus
Without anemia
With anemia

Fetal Hypertension
Baroreceptor Stimulus
Parasympathetic Response
Freeman RK et al, 2003

Myocardial Depression
Deceleration

Mempunyai bentuk bervariasi


(U, V, atau W).

Timbulnya deselerasi
bervariasi pada saat
kontraksi.

Paling sering dijumpai akibat


kontraksi, terutama pada
partus kala II (50% - 80%).

Terjadinya akibat lilitan,


oklusi, kompresi, prolaps,
atau oligohidramnion

Oligohydramnios

Descent

Cord prolapse

Freeman RK et al, 2003

Umbilical Arterial Occlusion


DESELERASI
VARIABEL
Fetal Hypertension

Fetal Hypoxemia

Fetal Baroreceptor
Chemoreceptor
Stimulation

Blocked by Atropine

Central Vagal
Stimulation

Fetal
Stimulation
Hypoxemic
Myocardial
Depression

FHR Deceleration
Freeman RK et al, 2003

Derajat ringan:
- penurunan DJJ tidak
mencapai
80 dpm.
- lamanya < 30 detik.
Derajat sedang:- penurunan DJJ mencapai
70 - 80
dpm.
- lamanya 30 60 detik.
Derajat berat :- penurunan DJJ sampai di
bawah 70 dpm.
- lamanya > 60 detik.

Timbul dan
menghilangnya
deselerasi variabel
berlangsung cepat.

Variabilitas DJJ
masih normal.

Terdapat akselerasi
DJJ pada saat
deselerasi.

Waktu pulih lama


Variabilitas menghilang
dalam deselerasi
Sebelum dan sesudah
deselerasi tidak terdapat
akselerasi
Akselerasi pasca
deselerasi yang
berlebihan
Setelah deselerasi
frekuensi dasar DJJ
berubah
Deselerasi bifasik

DJJ 60 dpm di
bawah frekuensi
dasar

Deselerasi
mencapai 60 dpm

Lamanya
deselerasi 60
detik

Isolated decelerations lasting > 2 minutes

Difficult to classify in terms of


pathophysiology because they may be seen in
a multitude of situation

Causes : cord compression, cord prolapse, recurrent


prolonged decelerations, profound placental
insufficiency, etc

Hypertonic or tetanic uterine contractions may


precipitate uteroplacental insufficiency
induced prolonged decelerations
Freeman RK et al, 2003

Hipoksia janin
Demam ibu
Obat
parasimpatolitik
(atropine,
phenothiazine,
hydroxyzine
hydrochloride)

Hipertiroid ibu
Anemia janin

Sepsis janin
Gagal jantung
janin
Korioamnionitis
Tachyaritmia
jantung
Obat beta
mimetik

Freeman RK et al, 2003

DJJ < 120 bpm

Bradikardia , (antara 80-120) dengan


variabilitas yang baik bisaanya reassuring

FHR < 70 bpm without variability may


represent congenital heart block

Freeman RK et al, 2003

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Signal loss
Contraction peaks
Fetal movements (per hour)
Basal heart rate (bpm)
Acceleration
Decelerations
Short term variability

Menunjukkan

jumlah input DJJ, gerak


janin dan kontraksi rahim yang hilang
saat perekaman CTG oleh komputer

Toleransi

kehilangan : < 10%

10 % : pemeriksaan harus
diulangi. Perbaiki posisi ibu, punktum
maksimum DJJ dan letak transduser.

Bila

Kontraksi

akan terekam apabila


tekanan intra uterin meningkat
melebihi 16% dari nilai dasar dan
lamanya 30 detik.

Jumlah

kontraksi akan tertulis pada


hasil rekaman KTG

Setiap

kali ibu merasakan gerakan


janin, tekan bel yang disediakan.

Bila

jumlah gerakan kurang, akan


tampak tulisan Check pada layar
monitor.

Tertulis

jumlah rata-rata gerakan janin


per jam.

Normal

: 110 160 dpm

Merupakan
Nilai

nilai rata-rata

< 115 dpm : cari kausanya dan


atasi segera.

15 dpm di atas base-line selama


15 detik

maksimal 15 dpm selama 15 detik

Deselerasi

> 20 dpm tampak sebagai


garis merah pada layar monitor

Cari

penyebabnya dan atasi segera

Parameter

terpenting dan paling


baik dalam menggambarkan
kesejahteraan janin.

Rekaman

setiap menit dengan


interval 1/16 menit

Nilai

STV rendah tanpa disertai


high variation berkorelasi kuat
dg asidosis metabolik dan IUFD

STV (mili detik)

Persentase kemungkinan asidosis


metabolik atau IUFD (%)

3,5 4

3,0 3,5

29

2,5 3

33

< 2,5

72

FHR

tracings include ALL of the following:

Baseline rate: 110160 beats per minute

(bpm)
Baseline FHR variability: moderate
Late or variable decelerations: absent
Early decelerations: present or absent
Accelerations: present or absent

Strongly

predictive of normal acid-base


status at time of observation.
Routine care; no specific action required
41

FHR

tracings include EITHER of the

ff:
Absent baseline FHR variability and any

of the ff:
Recurrent late decelerations
Recurrent variable decelerations
Bradycardia

Sinusoidal pattern

includes

all FHR tracings NOT


categorized as Category I or III.
tracings may represent an appreciable
fraction of those encountered in clinical
care.
NOT predictive of either normal or
abnormal fetal acid-base status.
requires continued surveillance and reevaluation- second recommendation is
incomplete

The

3-tier system based on visual


recognition of CTG patterns was
adopted b y the AOFOGs Committee
on Maternal and Perinatal Health
during a workshop held in Miyazaki,
Japan (February 2009).
Available at the AOFOG website
<www.aofog.org)

The

heterogeneity of the Category II


patterns is so great that meaningful
studies cannot be done without
creating subcategories, preferably by
creating at least a 5-tier system.

Gambaran

DJJ di luar kontraksi


uterus dalam hubungan dengan
aktivitas gerak janin

Dinilai

frekuensi dasar, variabilitas


dan timbulnya akselerasi DJJ akibat
gerak janin

Berbaring dlm posisi setengah duduk


atau duduk atau sedikit miring ke kiri

TD diukur setiap 15 menit, tulis dikertas


KTG

Nilai aktivitas gerak janin (anamnesis,


palpasi, melihat gerakan tajam pada
alat pencatat tokodinamometer)

Bila dalam beberapa menit


pemeriksaan, tidak ada gerak janin,
maka gerakkan kepala/tubuh janin atau
beri rangsang vibroakustik

Perhatikan frekuensi dasar DJJ (normal 120 160


dpm)

Setiap terjadi gerakan janin, catat pada kertas


KTG.

Perhatikan apakah ada akselerasi (minimal 10


dpm)

Perhatikan variabilitas DJJ, khususnya variabilitas


jangka panjang

Lama pemeriksaan minimal 20 menit

NST

Reassuring / Reaktif

NST

Non Reassuring / Non


Reaktif

NST

Meragukan

Gerak

janin minimal 4 kali dalam 20


menit, akselerasi 10 15 dpm

Frekuensi

dasar DJJ : 120 160 dpm

Variabilitas

dpm

jangka panjang 10 25

Gerak

janin tidak ada dalam 20


menit atau tidak ada akselerasi saat
janin bergerak

Frekuensi

dasar DJJ < 120 dpm atau


>160 dpm

Variabilitas

< 5 dpm

Gerak

janin : < 4 kali / 20 menit


atau akselerasi < 10 15 dpm

Frekuensi

dasar DJJ : < 120 dpm


atau >160 dpm

Variabilitas

: 5 - 10 dpm

Gambaran

DJJ dalam hubungan


dengan kontraksi uterus atau inpartu

Dinilai

frekuensi dasar, variabilitas


dan perubahan periodik DJJ akibat
kontraksi uterus

Tes

pembebanan dengan
memberikan oksitosin

1.
2.
3.

Negative
Positive
Equivocal Test Results
- Suspicious
- Hyperstimulation
- Unsatisfactory

Frekuensi

dasar DJJ normal

Variabilitas
Deselerasi
Ada

jangka panjang normal


lambat tidak ada

akselerasi pada saat terjadi


aktivitas janin

Deselerasi lambat persisten pada saat


kontraksi uterus

Variabilitas jangka panjang berkurang atau


tidak ada

Akselerasi ada atau tidak ada pada saat


aktivitas janin

Pertimbangkan terminasi, kecuali maturitas


paru (-) atau perinatologi tidak mampu

Deselerasi lambat tidak persisten

Dalam 10 menit : kontraksi (+) atau (-)

Deselerasi variabel pada oligohidramnion

Takikardia

Ulangi dalam 1 2 hari / 1 2 JAM BILA INPARTU

Hasil

pencatatan kurang baik, misal


ibu obesitas, gerak janin berlebihan

Kontraksi

tidak adekuat ( kurang dari


3 kali dalam 10 menit)

Ulangi

esok hari (TIDAK INPARTU)

Kontraksi

lebih dari 5 kali dalam 10


menit atau lebih dari 90 detik

Sering

disertai deselerasi lambat


atau bradikardia

Tonus

basal uterus meningkat

Bekas

SC

HAP
Resiko

persalinan preterm : KPD,


gemelli, inkompetensia serviks,
dll

sinoatrial node

Symphatic system

Parasymphatic system

Baroreseptor

Chemoreseptor

CNS

Hormonal regulation
system

Complex system

SSA : PS dan S nodus sino-atrial

SSS : frekuensi, kekuatan kontraksi, curah


jantung (hormon norepinefrin)

SSPS : N. Vagus asetilkolin : DJJ

Respon simpatis janin lebih awal dari PS

Aktivitas S dan PS : beat-to-beat

Baroreseptor, Kemoreseptor, SSP, Sistem


Hormonal

Ritme jantung

Dikendalikan oleh SSS dan SSPS

Norepinefrin (SSS) : aktivasi

N. Vagus (SSPS) : deaktivasi

Variabilitas beat to beat

Respons SSS berkembang lebih awal

Arkus aorta dan Sinus karotikus

Perubahan tekanan intra vaskular


akut (hipotensi atau hipertensi)
baroreseptor bradikardia curah
jantung

Kausa tersering : kompresi tali pusat

Contoh : oligohidramnion dan lilitan


tali pusat

Perifer : Karotis dan Korpus Aortikus

Sentral : Medulla Oblongata

Mengatur perubahan kadar O2 dan


CO2 darah dan liquor cerebro spinalis

Bila O2 dan CO2 reseptor sentral


dan perifer takikardi dan tekanan
darah