Anda di halaman 1dari 39

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl. Terusan Arjuna No. 6 Kebon Jeruk Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/Tanggal Ujian/Presentasi Kasus : Refrat Hepatitis
SMF ANAK
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAKARTA UTARA KOJA

Nama : Wahyu Purbo Pangesti


Nim

Tanda Tangan

: 11 2014 186

Dr. Pembibing/Penguji : dr. Elfrieda Simatupang Sp.A

HEPATITIS VIRUS

I.

Pendahuluan 1,2

Hepatitis adalah proses terjadinya inflamasi dan atau nekrosis jaringan hati yang dapat
disebabkan oleh infeksi obat-obatan, toksin, gangguan metabolik, maupun kelainan autoimun.
Infeksi yang disebabkan virus, bakteri, maupun parasit merupakan penyebab terbanyak hepatitis
akut. Virus hepatitis merupakan penyebab terbanyak dari infeksi tersebut. Hepatitis virus masih

1 | Page

merupakan masalah kesehatan utama, baik di negara yang sedang berkembang maupun negara
maju.
Infeksi virus hepatitis merupakan infeksi sistemik di mana hati merupakan organ target
utama dengan kerusakan yang berupa inflamasi atau nekrosis hepatosit serta inflitrasi
panlobuaroleh sel mononuclear. Dengan kemajuan di bidang biologi molekular, saat ini
identifikasi dan pengetian pathogenesis hepatitis virus menjadi lebih baik. Terdapat sedikitnya 6
jenis virus hepatotropik penyebab utama infeksi akut, yaitu virus Hepatitis A, B,C, D,Edan G
semunya memberi gejala klinis hampirr sama bervariasi mulai dari, asimtopmatik, bentuk
klasik,sampai hepatitis pulminan yang dapat menyebabakan kematian. Kecuali virus hepatitis G
yang memberikan gejala sangat ringan. Semua infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis dapat
berlanjut dlam bentuk sub klinis atau penyakit hati yang progresif dengan komplikasi sirosis atau
timbulnya karsinoma hepatoselular. Virus hepatitis A,C,D,E dan G adalah virus RNA sedang
virus hepatitis B adalah virus DNA. Virus Hepatitis A dan Virus hepatitis E tidak menyebabkan
penyakit kronis, sedangkan virus hepatitis B D dan C dapat menyebabkan infeksi kronis.

2 | Page

II.

Pembahasan

2.1 Hepatitis A1,2


Hepatitis A merupakan penyakit self-limiting dan memberikan kekebalan seumur hidup.
Insidensi tinggi banyak didapatkan di negara berkembang seperti Asia, Aliika, Mediterania, dan
Amerika Selatan dimana anak yang berusia sampai 5 tahun mengalami infeksi virus hepatitis A
(HAV) daiam bentuk subklinis sehingga lebih dari 75% memiliki and HAV
Pada anak yang terinfeksi HAV, hanya 30% yang menunjukkan gejala klinis (simtomatis),
sedangkan 70% adalah subklinis (asimtomatis). Bentuk klasik yang meliputi 80% penderita
simtomatis biasanya akut dan sembuh dalam waktu 8 rninggu, tetapi dapat terjadi bentuk yang
berbeda yakni protracted, relapsing, fulminant, cholestatic, autoimmune trigger, dan manifestasi
ekstrahepatik seperti gagal ginjal akut, hemolisis yang sering terjadi pada penderita defisiensi
glucose-6-phosphate dehydrogeriase

(G6PD), efusi pleural dan perikardial, gangguan neurologis,

vaskulitis, dan artritis. Manifestasi ekstrahepatik timbul karena adanya kcmpleks imun yang
beredar dalam sirkulasi.

Epideimiologi
Infeksi HAV terjadi di seluruh dunia, tetapi paling sering di Negara yang sedang berkembang, di
mana angka prevalensinya mendekati 100 % pada anak umur 5 tahun. Di Amerika Serikat,
sekitar 30% populasi dewasa mempunyai bukti infeksi HAV sebelumnya; frekuensi infeksi
serupa pada usia dekade pertama, kedua dan ketiga. Hepatitis A hanya menyebabkan Hepatitis
akut. Penyakit ini jauh lebih mungkin bergejala pada orang dewasa; kebanyakan infeksi pada
anak sebelum umur 5 tahun tidak bergejala atau mempunyai manifestasi non spesifik, ringan.
Penularan HIV hampir selalu dengan kontak orang ke orang. Penyebaran pertama dengan rute
fekal-oral; penularan perkutan merupakan kejadian yang jarang dan penularan ibu-neonatus tidak
dikenali sebagai wujud epidemiologis. Infeksi HAV selama kehamilan atau persalinan tidak
tampak menimbulkan komplikasi kehamilan atau penyakit klinis pada neonatus infektivitas
ludah, urin dan semen manusia belum diketahui. Di Amerika Serikat, kenaikan resiko infeksi
ditemukan pada rumah tangga, pusat-pusat perawatan harian, kontak rumah tangga anak pada
pusat-pusat perawatan harian, dan populasi homoseksual. Wabah dari sumber yang lazim dibawa
3 | Page

makanan atau air telah terjadi, termasuk beberapa akibat dari kerang yang terkontaminasi.
Ekskresi virus melalui tinja terjadi pada akhir masa inkubasi, mencapai puncaknya tepat sebelum
mulainya gejala, dan adalah minimal pada minggu sesudah mularikterus. Rata-rata masa
inkubasi HAV sekitar 4 minggu.
Etiologi.
HAV adalah virus yang mengandung RNA berdiameter 27 nm yang adalah anggota
family Picornavirus. Virus ini diisolasi pada mulanya dari tinja penderita yang terinfeksi. Strain
HAV laboratorium telah diperbanyak pembiakan jaringan. Infeksi akut didiagnosis dengan
mendeteksi immunoglobulin (Ig)M, antibodi (IgM) (anti-HAV) dengan radioimmunoassay
(Gb.1) atau jarang dengan mengidentifikasi partikel virus dalam tinja.

Gambar. 1 virus hepatitis A


Manifestasi Klinis 1,2
Mulainya infeksi HAV biasanya mendadak dan disertai oleh keluhan sistemik demam,
malaise, mual, muntah, anoreksia dan perut tidak enak. Prodromal ini mungkin ringan dan sering
tidak kentara pada bayi dan anak pra-sekolah. Diare sering terjadi pada anak, tidak konstipasi
lebih lazim pada orang dewasa. Ikterus dapat juga begitu tidak kentara pada anak kecil (muda)
sehingga ia dapat terdeteksi hanya dengan ujian laboratorium. Bila terjadi, ikterus dan urin
berwarna gelap biasanya terjadi sesudah gejala-gejala sistemik. Berbeda dengan infeksi HAV
pada anak, kebanyakan infeksi HAV pada orang dewasa bergejala dan dapat berat. Gejala-gejala
infeksi HAV meliputi nyeri kuadran kanan atas, urin berwarna gelap, dan ikterus. Lama gejalagejala biasanya kurang dari 1 bulan, dan nafsu makan, toleransi berlebihan, dan perasaan sehat

4 | Page

perlahan-lahan kembali. Hampir semua penderita dengan infeksi HAV akan sembuh sempurna,
tetapi kumat dalam terjadi selama beberapa bulan. Hapatitis fulminan yang menyebabkan
kematian jarang, dan infeksi kronis tidak terjadi.
DIAGNOSIS.
Diagnosis infeksi HAV harus dipikirkan bila ada riwayat ikterus pada kontak keluarga,
teman, teman sekolah, teman bermain perawatan harian, atau personel sekolah atau jika anak
atau keluarga telah berwisata ke daerah endemik. Diagnosis dibuat denga kriteria serologis,
biopsi hati jarang dilakukan. Anti HAV terdeteksi pada mulainya gejala-gejala hepatitis A akut
dan menetap seumur hidup. Infeksi akut didiagnosis dengan adanya IgM anti-HAV yang dapat
terdeteksi selama 3-12 bulan; sesudah IgG anti-HAV ditemukan. Virus terekskresi pada tinja dari
2 minggu sebelum sampai 1 minggu sesudah mulai penyakit. Kenaikan hampir secara universal
ditemukan pada ALT, AST, bilirubin, alkali fosfatase 5-nukleotidase, dan ~glutamil
transpeptidase dan tidak membantu membedakan penyebab. PT harus selalu diukur pada anak
dengan hepatitis untuk membantu menilai luasnya cedera hati; pemanjangannya adalah tanda
serius yang mengharuskan rawat inap di rumah sakit.
DIAGNOSIS BANDING.
Kemungkinan penyebab hepatitis agak bervariasi menurut umur. Ikterus fisiologis,
penyakit hemolotik dan sepsis pada neonates biasanya dibedakan dengan mudah dari hepatitis .
Segera sesudah masa neonatus, infeksi tetap merupakan penyebab penting hiperbilirubinemia,
tetapi penyebab metabolic dan anatomic (atresia biliaris dan kista koledokhus) juga harus
dipikirkan. Pemasukan sayuran berpigmen pada diet bayi dapat menyebabkan karotenemia, yang
dapat terancukan dengan ikterus.
Pada masa bayi dan anak selanjutnya, sindrom hemolitik-uremik pada mulanya dapat
terancukan dengan hepatistis . Sindrom Reye dan seperti-Reye datang dengan cara yang sama
dengan hepatitis fulminan akut. Ikterus juga dapat terjadi pada malaria, leptopirosis, dan brusellosis dan pada infeksi berat pada anak yang lebih tua, terutama pada mereka yang dengan
gangguan maligna atau yang dengan imunodefisiensi. Batu empedu dapat menyumbat drainaseempedu dan menimbulkan ikterus pada remaja serta pada anak dengan proses hemolitik kronis.
Hepatitis mungkin merupakan tand awal penyakit Wilson, kistik fibrosis, defisiensi 1-anti-

5 | Page

tripsin, dan sakit muntah Jamaika. Hati mungkin dilibatkan pada penyakit vaskuler kolagen
termasuk lupus eritematosus sistemik.
Obat-obatan,

termasuk

overdosis

asetaminofen,

asam

valproat,

dan

berbagai

hepatotoksin, dapat disertai dengan gambaran seperti hepatitis. Obat-obatan ditoleransi baik pada
anak sehat yang dapat menyebabkan disfungsi hati pada anak dengan penyakit tertentuKadang
bisa saja seorang yang terinfeksi HAV tidak menunjukkan gejala yang berarti, namun walaupun
ditemukan kejadian seperti ini feses dari orang tersebut tetaplah infeksius. Gejala yang biasanya
diderita adalah: meriang / tidak enak badan, nausea, vomiting, dan diare, kehilangan nafsu
makann sehingga berat badan turun, ikterik, kulit gatal, sakit di bagian abdominal. Masa infeksi
biasanya berakhir dalam dua bulan, tetapi kadang-kadang menjadi lebih lama pada sebagian
orang. Sekali terinfeksi dan tubuh dapat mengalahkan virus maka tubuh akan memiliki
kekebalan.
EPIDEMIOLOGI.

Infeksi HAV terjadi di seluruh dunia, tetapi paling sering di Negara yang sedang
berkembang, di mana angka prevalensinya mendekati 100 % pada anak umur 5 tahun. Di
Amerika Serikat, sekitar 30% populasi dewasa mempunyai bukti infeksi HAV sebelumnya;
frekuensi infeksi serupa pada usia dekade pertama, kedua dan ketiga. Hepatitis A hanya
menyebabkan Hepatitis akut. Penyakit ini jauh lebih mungkin bergejala pada orang dewasa;
kebanyakan infeksi pada anak sebelum umur 5 tahun tidak bergejala atau mempunyai
manifestasi non spesifik, ringan. Penularan HIV hampir selalu dengan kontak orang ke orang.
Penyebaran pertama dengan rute fekal-oral; penularan perkutan merupakan kejadian yang jarang
dan penularan ibu-neonatus tidak dikenali sebagai wujud epidemiologis. Infeksi HAV selama
kehamilan atau persalinan tidak tampak menimbulkan komplikasi kehamilan atau penyakit klinis
pada neonatus infektivitas ludah, urin dan semen manusia belum diketahui. Di Amerika Serikat,
kenaikan resiko infeksi ditemukan pada rumah tangga, pusat-pusat perawatan harian, kontak
rumah tangga anak pada pusat-pusat perawatan harian, dan populasi homoseksual. Wabah dari
sumber yang lazim dibawa makanan atau air telah terjadi, termasuk beberapa akibat dari kerang
yang terkontaminasi. Ekskresi virus melalui tinja terjadi pada akhir masa inkubasi, mencapai
puncaknya tepat sebelum mulainya gejala, dan adalah minimal pada minggu sesudah
mularikterus. Rata-rata masa inkubasi HAV sekitar 4 minggu.

6 | Page

PATOLOGI.
Respon akut hati terhadap HAV serupa dengan respon akut empat virus Hepatitis yang lain.
Seluruh hati terlibat nekrosis, paling mencolok pada daerah sentrilobuler dan bertambah
selularitas, yang adalah dominan pada daerah Porta Arsitektur lobularnya tetap utuh, walaupun
terjadi degenerasi balon dan nekrosis sel parenkim pada mulanya. Perubahan lemak jarang.
Reaksi radang sel mononuclear difus menyebabkan perluasan dalam saluran porta; sering ada
proliferasi duktus, tetapi cedera saluran empedu tidak sering ditemukan. Hiperplasia sel Kupfer
difus ada dalam sinusoid bersama dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear dan eosinofil.
Neonatus berespon terhadap cedera hati dengan membentuk sel raksasa. Pada Hepatitis fulminan
terjadi destruksi total parenkim, hanya membiarkan jaringan pengikat sehat. Pada 3 bulan
sesudah mulai hepatitis akut akibat HAV, hati biasanya secara morfologis normal.
Sistem organ lain dapat terkena selama infeksi HAV. Limfonodi regional dan limpa
mungkin membesar. Sumsum tulang mungkin hipoplastik sedang, dan telah dilaporkan ada
anemia aplastik. Jaringan usus halus mungkin menunjukkan perubahan pada struktur villi, dan
ulserasi saluran cerna dapat terjadi; terutama pada kasus yang mematikan. Pankreatitis dan
miokarditis akut jarang dilaporkan, dan keterlibatan ginjal, sendi, dan kulit dapat akibat dari
kompleks imun dalam sirkulasi.
TABEL. 221-2. Tanda-tanda virus hepatitis
Enterovirus
HAV

Repadnavirus
HBV

Flavivirus
HCV

HDV tidak
sempurna

Kalsivirus
HEV

(RNA)

(DNA)

(RNA)

(RNA)

(RNA)

Perkutan

++++

++++

++++

Fekal-orall

++++

++++

Seksual

Transplasenta

+++

Rute
Penularan

HAV = virus hepatitis A; HBV = virus hepatitis B; HCV = virus hepatitis C; HDV = virus
hepatitis D; HEV = virus

7 | Page

hepatitis E; + = minimal; +++ = sedang; ++++ = sering


Hepatitis B
Pada tahun 1955, Blumberg dan -elcan-rekannya di Philadelphia menemukan antibodi pada
penderita hemofilia yang bereaksi terhadap antigen pada serum dari orang Aborigin Australia.
Antigen ini ditemukan pada penderita hepatitis virus dan dinamai antigen Australia yang
sekarang telah diketahui sebagai HBsAg.
Virologi
Virus hepatitis B (HBV) manusia (human HBV) termasuk golongan hepadnavirus tipe 1 dan
merupakan virus hepadna yang pertama kali ditemukan. Hepadnavirus juga ditemukan pada
marmut, tupai, dan bebek tetapi virus yang menginfeksi binatang tersebut tidak dapat terlihat
pada manusia. Selain manusia, Human HBV juga dapat menginfeksi simpanse. Virus
hepatotropik ini mengandung DNA dengan cincin ganda sirkular yang terdiri dari 3200
nukleotida dengan. diameter 42 nm dan dan terdiri dari 4 gen. HBV dapat ditemukan dalam 3
komponen yaitu partikel lengkap berdiameter 42 nm, partikel bulat berdiameter .22 nm, dan
partikel barang dengan lebar 22 nm dengan panjang bervariasi sarapai 200 run, Pada sirkulasi,
komponen terbanyak adalah bentuk bulat dan batang yang terdiri atas protein, cairan, dan
karbohidrat yang membentuk hepatitis B surface antigen (HBsAg) dan antigen pre-S. Bagian
dalam dari virion adalah core. Core dibentuk oleh selubung hepatitis B core antigen (HBcAg)
yang membungkus DNA DNA polimerase, trikaptase, dan protein kinase untuk replikasi virus.
Komponen antigen yang terdapat dalam core adalah hepatitis B t antigen (KBeAg). Antigen ini
menjadi petunjuk adanya replikasi virus yang terjadi pada limfosit, limpa, ginjal pankreas, dan
terutama hati. HBeAg merupakan petanda tak langsung derajat beratnya infeksi.
Telah ditemukan beberapa genotip dan serotip antigen berdasar pada subdeterminan HBsAg.
Grup "a" paling banyak terdapat pada semua isolat, dan antibodi terhadap determinan "a" ini
memberi kekebalan terhadap semua serotipe HBV. Subdeterminan yang lain adalah d, y, w dan r
sehingga 4 determinan utama mencakup adw, adr, ayw, dan ayr. Selain 4 subdeterminan tersebut.
mutasi jangka lama juga menghasilkan 9 subtipe minor. Terdapat 7 genotipe yaitu A-G.
Pembagian genotip dan serotip ini penting karena masing-masing mempunyai distribusi geografi
tertentu; seperti genotip B dan C banyak didapat di Asia, A dan D di Eropa dan India, E di
Afrika, F di Amerika Tengah dan Selatan, serta G di Francis dan Amerika Utara. Genotip B dan
8 | Page

C banyak terdapat di daerah dengan endemisitas tinggi seperti Asia, dimana penularan secara
vertikal atau perinatal memegang peranan penting. Sebaliknya genotip A, D, E, F, dan G banyak
terdapat di daerah dengan transmisi horisontal.
Epidermiologi
WHO memperkirakan adanya 400 juta orang sebagai pengidap HBV pada tahun 2000. Pola
prevalensi hepatitis B dibagi menjadi 3 golongan yaitu prevalensi rendah (HBsAg 0,2%-0,5%
dan anti-HBs 4%-6%), prevalensi sedang (HBsAg 2%-7% dan anti-HBs 20%-55%), dan
prevalensi tinggi (HBsAg 7%-20% dan anu-HBs 70%-95%). Di negara fnaju seperti Inggris,
Amerika Serikat, dan negara-negara Skandinavia prevalensi HBsAg bervariasi antara 0,1960,2% sedangkan di Afrika dan Timur 10%-15%. Pada komunitas terisolasi seDerti orang Eskimo
di Alaska prevalensi dapat mencapai 45% dan Aborigin di Australia mencapai 85%. Pada daerah
dengan endemisitas tinggi infeksi sering terjadi pada usia dini, dituiarkan secara vertikal dari ibu
ke anak maupun horisontal diantara anak kecil Sebagai contoh di daerah pedesaan Senegal
(Afrika Barat) angka infeksi mencapai 25% populasi pada umur 2 tahun, 50% pada umur 7
tahun, dan 80% pada umur 15 tahun. Sedangkan pada daerah dengan endemisitas sedang-tinggi
antara 8%-20% infeksi terjadi pada urnur yang lebih tua, ditularkan secara horisontal pada masa
anak dengan kontak erat seperti penggunaan sikat gigi, pisau cukur atau berciuman, dan kontak
seksual pada dewasa muda. Sebaliknya pada daerah dengan prevalensi rendah penularan secara
horisontal terjadi oleh penyalahgunaan obat, penggunaan instrumen yang tidak steril pada klinik
gigi, tusuk jarum, tindik daun telinga, dan tatu (taroo). Di Indonesia pada penelirian terhadap
donor darah di beberapa kota besar didapatkan angka prevalensi antara 20%-36,2%
Pada ibu yang melahirkan dengan HBeAg positif, bayi memililci risiko tertular sebesar
90%, sedangkan bila hanya HBsAg yang positif maka risikonya 10% apabila tidak dilakukan
tindakan imunoprofilaksis. Sembilan puluh persen bayi yang tertular akan berkembang menjadi
infeksi kronis dan 25% akan meninggal karena penyakit hati kronis. Penularan vertikal dapat
terjadi pada masa intrauterin maupun pada saat kelahiran dan masa perinatal. HBV tidak selalu
didapatkan dalam air susu ibu, namun yang dikhawatirkan adalah luka pada puting susu sehingga
bayi menelan ASI yang mengandung darah dan HBV Bayi dari ibu pengidap HBV yang
mendapat ASI dan belum menerima imunoprofilaksis mempunyai risiko tertular hampir sama
besar dengan bayi yang rainum susu formula (PASI).
9 | Page

Di Indonesia, jalur penularan infeksi VHB (virus hepatitis B) yang terbanyak adalah secara
parenteral yaitu secara vertikal (transmisi) maternal-neonatal atau horisontal (kontak antar
individu yang sangat erat dan lama, seksual, penggunaan jarum suntdk bersama). HBV dapat
dideteksi pada semua sekret dan cairan tubuh manusia, dengan konsentrasi tertinggi terdapat
pada serum. Infeksi terjadi apabila seseorang mendapat paparan terhadap cairan tubuh orang
yang terinfeksi melalui kulit atau mukosa.
Bayi dari ibu dengan HBsAg positif berisiko terinfeksi HBV akan tetapi infeksi HBV paling
sering terjadi pada bayi dengan ibu HBeAg positif atau menderita hepatitis, B akut pada
trimester ketiga kehamilan. Faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan keadaan HBsAg
positif pada bayi, antara lain :
1. Titer HBsAg ibu
2. Status HBeAg ibu (hampir 90% bayi yang lahir dari ibu dengan HBeAg positif menderita
hepatitis B kronis; sedangkan bayi dari ibu dengan HBeAg negatif karier memiliki risiko
sebesar 20%)
3. DNA HBV positif pada serum ibu
4. HBsAg positif pada darah plasenta
5. Saudara kandung dengan HBsAg positif
98% transmisi terjadi pada saat proses kelahiran, diduga melalui ingesti darah maternal oleh
bayi pada saat proses kelahiran. Meskipun demikian, transmisi virus dapat terjadi in utero
melalui kebocoran transplasenta (2%). HBeAg dapat menembus plasenta dari ibu ke fetus.
Belum ditemukan bukti bahwa menyusui merupakari salah satu rute transmisi HBV.
Bayi yang terinfeksi HBV dari ibu dengan HBsAg positif tidak akan menunjukkan
manifestasi infeksi HBV secara serologis sampai berumur 1-3 bulan. Meskipun infeksi H3V
perinatal memiliki manifestasi klinis yang minimal, akan tetapi 90% bayi dengan HBsAg positif
akan menderita hepatitis kronis atau keadaan karier kronis. Hai ini diduga disebabkan karena
sistem imun bayi yang belum matur. Hepatitis numinan dapat terjadi pada transmisi perinatal ini,
meskipun jarang terjadi (1-2%). Bayi yang terinfeksi juga memiliki risiko tinggi menderita
hepatitis B kronis, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler.
Risiko terinfeksi HBV tidak lianya pada periode perinatal saja, namun bayi yang rentan
10 | P a g e

berisiko terinfeksi HBV dari anggota keluarga yang lain. Infeksi posnatal dapat terjadi di
lingkungan dirmana banyak dijurnpai karier HBsAg dan rendahnya vaksinasi.
Virus hepatitis B merupakan virus nonsitopatik dan menyebabkan kerusakan jaringan
melalui reaksi imunologis. Beratnya kerusakan jaringan hati menggambarkan derajat respons
imunologis. Pada hepatosit yang terinfeksi oleh HBV melalui mekanisme imunitas selular terjadi
eksposisi antigen Vitus, yaitu HBeAg dan HbeAg, pada permukaan sel yang bergabung dengan
class I major hdstocompaabiiky complex (MHC I) dari menjadi target dari sel T sitotoksik (CTL)
untuk terjadinya proses lisis. Partikel virus yang tidak utuh dan berasal dari sel yang lisis tidak
menimbulkan infeksi, sedangkan virus utuh yang keluar akan dinetralisir oleh antibodi penetral.
Mekanisme imunologis juga berperan pada manifestasi ekstrahepatik. Kompleks imun yang
mengandung HBsAg dapat merumbulkan poliarteritis nodosa, glomerulonefritis membranosa,
polimialgia, vaskulitis, dan sindroma Guillain-BAR.

Infektif

~~8

.16

24

32

40

52

Minggu

Gambar 16.2. Pola respons terhadap infeksi akut H8Y.

Mekanisme timbulnya infeksi kronis mungkin disebabkan oleh gangguan irnunologis;


sehingga KBcAg dan MCH I tidak dapat dieksposisi pada pemukaan sel, atau sel T sitotoksik
tidak teraktivasL Anak laki-laki lebih mudah mengalami infeksi kronis daripada anak
perempuan. Selain itu umum timbulnya infeksi sangat berpengaruh terhadap kejadian infeksi
kronis. Infeksi HBV dibawah umur 3 tahun lebih sering menimbulkan hepatiris kronis daripada
infeksi diatas umur 3 tahun.

11 | P a g e

Gejala Kiinis
1. Hepatitis akut
Manifestasi kiinis infeksi HBV cenderung ringan. Kondisi asimtomatis ini terbukti dari
tingginya angka pengidap tanpa adanya riwayat hepatitis akut, Apabila menimbulkan gejala
hepatitis, gejalanya menyerupai hepatitis virus yang lain tetapi dengan intensitas yang lebih
berat, Gejala yang muncul terdiri atas gejala seperti flu dengan malaise, lelah, anoreksiaj mual
dan muritah, timbul kuning atau iktems dan pembesarah hati dan berakhir setelah 6-8 minggu.
Dari pemeriksaan laboratotium didapatkan peningkatan kadar ALT dsn AST sebelum timbulnya
gejala kliinis, yaitu 6-7 minggu setelah terinfeksi Pada beberapa kasus dapat didahului gejala
seperti serum sickness, yaitu nyeri sendi dan lesi kulit (urtikaria, purpura, makula dan
makulopapular). Ikterus terdapat pada 25% penderita, biasanya mulai timbul saat 8 minggu
setelah infeksi dan berlangsung selama 4 minggu. Gejala kiinis ini jarang terjadi pada infeksi
neonatus, 10% pada anak dibawah umur 4 tahun, dan 30% pada dewasa. Sebagian besar
penderita hepatitis B simtomaris akan sembuh tetapi dapat menjadi kronis pada 10% dewasa,
25% anak, dan 80% bayi.
2. Hepatitis kronis
Definisi hepatitis kronis adalah terdapatnya peningkatan kadar aminotransferase atau
HBsAg dalam serum, nunimal selama 6 bulan. Sebagian besar penderita hepatitis kronis adalah
asimtomatis atau bergejala ringan dan tidak spesifik. Peningkatan kadar aminotransferase serum
(bervariasi mulai dari minimal sampai 20 kali nilai normal) menunjukkan adanya kerusakan
jaringan hati yang berlanjut, Ruktuasi kadar aminotransferase serum mempunyai korelasi dengan
respons imun terhadap HBV. Pada saat kadar aminotransferase serum meningkat dapat timbul
gejala kiinis hepatitis dan IgM anti-HBc. Namun gejala kiinis ini tidak berhubungan langsung
dengan beratnya penyakit, tingginya kadar aminotransferase serum, atau kerusakan jaringan hati
pada biopsi. Fada j anderita hepatitis kronis-akrif yang berat (pada pemeriksaan histopatologis
didapatkan bridging necrosis), 50% diantaranya akan berkembang menjadi sifosis hati setelah 4
tahun, sedangkan penderita hepatitis kronis-aktif sedang akan menjadi sirosis setelah 6 tahun.
Kecepatan terjadinya sirosis mungkin berhubungan dengan beratnya nekrosis jaringan had yang
dapat berubah dari waktu ke waktu sehingga untuk melakukan perkiraan kapan timbulnya sirosis
pada individu sukar untuk ditentukan.
12 | P a g e

3. Gagal hati fulminan


Gagal hati fulminan terjadi pada tidak lebih dari 1% penderita hepatitis B akut simtomatik,
Gagal hati fulminan ditandai dengan timbulnya ensefalopati hepatikum dalarn beberapa minggu
setelah munculnya gejala pertama hepatitis, disertai ikterus, gangguan pembekuan, dan
peningkatan kadar aminotransferase serum hingga ribuan unit. Hal ini mungkin disebabkan oleh
adanya reaksi imunologis yang berlebihan dan menyebabkan nekrosis jaringan hati yang luas.
4. Pengidap Sehat
Pada golongan ini tidak didapatkan gejala penyakit hati dan kadar aminotransferase serum
berada dalam batas normal. Dalam hal ini terjadi toleransi irnunologis sehingga tidak terjadi
kerusakan pada jaringan had Kondisi ini sering terjadi pada bayi di daerah endemik yang
terinfeksi secara vertika! dari ibunya. Prognosis bagi pengidap sehat adalah (1) membaik (antiHBe positif) sebesar 10% setiap tahun, (2) menderira sirosis pada umur diatas 30 tahuii sebesar
1%, dan (3) menderita karsinoma hati kurang dari 1%.
Diagnosis
Dasar diagnosis hepatitis B adalah diagnosis klinis dan serologis. Pada saat awal infeksi HBV
terjadi toleransi imunologis, dimana virus masuk ke dalam sel hati melalui aliran darah dan dapat
melakukan replikasi tarpa adanya kerusakan jaringan hati dan tanpa gejala kiinis. Pada saat ini
DNA HBV, HBsAg, HBeAg, dan anti-HBc terdeteksi dalam serum. Keadaan ini berlangsung
terus selama bertahun-tahun terutama pada neonarus dan anak yang dinamakan sebagai pengidap
sehat Pada tahap selanjutnya terjadi reaksi irnunologis dengan akibat kerusakan sel hati yang
terinfeksi. Pada akhirnya penderita dapat sembuh atau berkembang menjadi hepatitis kronis.

13 | P a g e

Pengobatan
Pada hepatitis virus akut, sebagian besar kasus akan sembuh dan sebagian kecil menjadi
kronis. Prinsipnya adalah suportif dan pemantauan gejala penyakit. Pasien dirawat bila ada
dehidrasi betat dengan kestilitan masukan per oral, kadar SGOT-SGPT > 10 kali nilai normal,
atau bila ada kecurigaan hepatitis fulminan. Namun tidak demikian pada neonatus, bayi, dan
anak di bawah 3 tahun dimana infeksi HBV tidak menimbulkan gejala klinis hepatitis akut dan
sebagian besar (80%) akan menjadi kronis. Pengobatan hepatitis B kronis merupakan masalah
yang sulit; sampai saat ini hasilnya tidak memuaskan, terutama pada anak Tujuan pengobatan
hepatitis B kronis adalah penyembuhan total dari infeksi HBV sehingga virus tersebut
dielirainasi dari tubuh dan kerusakan yang (menimbulkan oleh reaksi imunologis didalam hati
terutama sirosis serta komplikasinya dapat dicegah. Hanya penderita dengan replikasi aktif
(ditandai dengan HBeAg dan DNA HBV serum positif) dan hepatitis kronis dengan peningkatan
14 | P a g e

kadar ammotransferase serum yang akan memberikan hasil baik terhadap pengobatan.
1. Interferon alfa
Pengobatan dengan interferon-alfa-2b (IFN-ot2b) adaiah pengobatan standar untuk
penderita hepatitis B kronis dengan gejala dekompensasi hati (asites, ensefalopati, koagulopati,
dan hipoalbimunemia) dengan penanda replikasi aktif (HBeAg dan Dh4A HBV) serta
peningkatan kadar aminotransferase serum. Kontraindikasi penggunaan interferon adaiah
neutropenia, trombositopenia, ganguan jiwa, adiksi terhadap alkohol, dan penyalahgunaan obat.
Dosis interferon adaiah 3 MU/m2 secara subkutan tiga kali dalam seminggu, diberikan selama 16
minggu.
Efek samping interferon dapat berupa efek sistemik, autoimun, hematologik, imunologis,
nerologis, dan psikologis. Efek sistemik dapat berupa lelah, panas, nyeri kepala, nyeri
otot, nyeri sendi, anoreksia, penurunan berat badan, mual, muntah, diare, nyeri perut, dan
rambut rontok. Efek autoimun ditandai dengan timbulnya auto-antibodi, antibodi anti-interferon,
hipertiroidisme, hipotiroidisme, diabetes, anemia hemolitik, dan purpura trombositopenik. Efek
hematologis berupa penurunan jumlah trombosit, jumlah sel darah putih dan kadar hemoglobin.
Efek imunologis berupa mudah terkena infeksi bakterial seperti bronkitis, sinusitis, abses kulit,
infeksi saluran kemih, peritonitis, dan sepsis. Efek nerologis berupa kesulitan konsentrasi,
kurang motivasi, gangguan tidur, delirium dan disorientasi, kejang, koma, penurunah
pendengaran, tinitus, vertigo, penurunan penglihatan, dan perdarahan retina. Sedangkan efek
psikologis berupa gelisah, iritabel, depresi, paranoid, penurunan libido, dan usaha bunuh diri.1824 Penderita yang mendapat pengobatan interferon haras dievaluasi secara klinis dan laboratoris
(ALT dan AST, albumin, bilirubin, pemeriksaan darah tepi) setiap 4 minggu selama pengobatan.
Pemeriksaan KBsAg, HBeAg, dan DNA HBV dilakukan pada saat mulai, selesai pengobatan dan
6 bulan paska pengobatan. Dosis interferon harus diturunkan atau pengobatan dihentikan apabila
didapatkan gejala dekompensasi hati, depresi sumsum tulang, depresi kejiwaan berat, dan efek
samping yang berat. Antara 10%-40% penderita memerlukan pengurangan dosis, dan 5%-10%
pengobatan hirus dihentikan. Sekitar 2% timbul efek samping berat termasuk infeksi bakteri,
penyskit autoimun, depresi kejiwaan berat, kejang, gagal jantung, gagal ginjal, dan pneumonia.
Keberhasilan pengobatan dipengaruhi oleh tingginya kadar transarninase serum, relarif '
rendahnya kadar DNA HBV serum, jenis kelamin perempuan, tidak berasal dari Asia, serta
15 | P a g e

adanya gambaran hepatitis kronis-aktif pada biopsi. Dari beberapa penelitian didapatkan 46%
penderita yang diobati mengalami serokonversi dengan timbulnya antibodi anti-HBe dan 8%
dengan timbulnya antibodi anti-HBs. Timbulnya anti-Hbe dan hilangnya DNA HBV
menurunkan kejadian gagai hati dan angka kernatian. Relaps terjsdi pada 14% penderita pada
tahun pertama setelah pengobatan.
2. Analog nukleosida
Lamivudin, . famsiklovir, dan adefovir adalah golongan analog nukleosida yang
menghambat replikasi HBV Lamivudin efektif dan kurang menimbulkan efek samping daripada
interferon. Dosisnya 3 mg/kgBB sekah sehari selama 52 rninggu atau 1 tahun. Terjadi perbaikan
gambaran histologis pada 52%-67% kasus, sedangkan hilangnya HBeAg dan timbulnya antiHBe sebesar 17-18%. Penelitian pada anak menunjukkan serokonversi HBeAg menjadi anti-HBe
sebesar 23%. Pada penderita dekompensasi hati, lamivudin mempeibaiki skor Chitd-Pugh.
Lamivudin adalah obat utama untuk penderita dengan replikasi aktif dan peningkatan kadar
anunotransierase serum dengan spesifikasi: kontraindikasi penggunaan interferon terutama
penderita yarig mengalami dekompensasi hati. Penderita dengan mutasipre-core HBV mendapat
imuncsupresif dalam jangka lama dan kemoterapi. Pada penderita yang mengalami kegagalan
pengobatan dengan interferon dapat diberikan lamivudin. Apabila dengan pemberian lamivudin
terjadi mutasi YMDD pada HBV, maka dapat diberikan adefovir atau gansiklovir.
Penggunaan lamivudin pada anak selama 52 rninggu dengan dosis 3 mg/kgBB memberi
respons yang signifikan terhadap virus. Kombinasi terapi antara interferon dengan lamivudine
tidak lebih baik dibanding pengobatan dengan lamivudine saja.
Pencegahan
Indonesia termasuk negara dengan endemisitas sedang-tinggi maka. Semua orang di
Indonesia mempunyai kemungkinan untuk tertular. Saat ini program irnunisasi masal HBV
dilakukan di 130 dari 216 negara, tetapi pada negara berkembang cakupan irnunisasi masih
terbatas karena permasalahan dana. Vaksin pertama yang beredar sejak tahun 1981 adalah derivat
plasma. Vaksin jenis ini relatif murah, diproduksi dengan cara konsentrasi, pemurnian, dan
pemrosesan kirniawi HBsAgyang diisolasi dari plasma karier HBV. Vaksin ini mempunyai
imunogenisitas dan efikasi perlindungan yang sangat baik. Vaksin HBV rekombinan pertama
16 | P a g e

diperkenalkari pada tahun 1986 dan yang kedua pada tahun 1989. Saat ini ada 10 produk vaksin
rekombinan.
Prioritas utama vaksinasi adalah bayi, anak, kelompok berisiko tinggi (misalnya kontak erat
dengan pengidap), petugas laboratorium, petugas rumah sakit (terutama unit hemodialisis), dan
penderita penyakit darah.
Untuk pencegahan penularan secara vertikal pada masa perinatal, terhadap seorang ibu yang
melahirkan dengan HBsAg positif dengan atau tanpa adanya HbeAg, maka kepada bayinya
diberikan vaksinasi pasif HBIG dan vaksinasi aktif. Pemberian HBIG saja tanpa vaksinasi aktif
hanya memberi perlindungan selama 6 bulan sehingga masih memugkinkan terjadinya infeksi
HBV Faktor yang berpengaruh dalam reaksi imunologis adaiah dosis vaksin, umur, dan kondisi
imunologis. Sebaiknya diberikan dosis sesuai dengan rekomendasi yaitu antara 5-10 meg. Bila
dosis dikurangi maka nilai titer antibodi juga turun. Lebih tua umur, serokonvensi makin
berkurang. Biasanya nonresponder terdapat pada mereka yang mengalami gangguan imunitas.
Kadang terjadi nonresponder palsu karena kesalahan tempat penyunnkan yaitu masuk ke
subkutan bukan ke otot.
1. Uji saring sebelurn vaksinasi
Uji saring pravaksinasi dianjurkan pada kelompok khusus berisiko tinggi termasuk
pengguna obat secara intravena, homoseksual, multiple sex partner, dan kentak erat dengan
penderita HBV Hasil uji saring sangat bervariasi antara 0.1%-20% dengan anti-HBc positif dan
80% dari mereka memberi respons positif terhadap vaksinasi Hal ini menyebabkan
direkomendasikannya vaksinasi hanya untuk penderita dengan anti-HBc positif. Bayi baru lahir
dengan risiko rendah (ibu HBsAg negatif saat melahirkan) dan anak-anak di luar Asia atau
Kepulauan Pasifik uji saring, dan imunisasi dapat diselesaikan dalarm wakta 6-18 bulan.
2. Pemeriksaan paska vaksinasi
Secara luas, dalam program vaksinasi tidak dilakukan pemeriksaan paska vaksinasi.
Pemeriksaan ini biasanya hanya dilakukan pada pekerja kesehatan dengan risiko tinggi
tertular melalui darah maupun cairan tubuh. Pemeriksaan paska vaksinasi dilakukan satu atau
dua bulan setelah suntikan ketiga. Pada bayi dengan ibu HBsAg positif yang telah divaksinasi
sebaiknya dilakukan pemeriksaan penanda infeksi HBV pada umur 12 bulan.
17 | P a g e

3. Penanganan nonresponder
Untuk para nonresponder dilakukan vaksinasi ulangan dengan 3 kali suntikan. Biasanya setengah
dari mereka akan mencapai kadar seroprotektif. Bagi yang anti-HBs-nya tidak muncul atau antiHBs-nya kurang darf 10 mlU/ml, tampaknya tidak akan rnemberikan hasil yang memuaskan
walaupun dilakukan penggantian jenis vaksin. Untuk masa mendatang, bagi para nonresponder
ini dapat dilakukan: (1) pemberian vaksin yang merigandung pre-S2 HBsAg, (2) pemberian
vaksin HBV bersama-sama T-helper cell peptide, (3) pemberian kombinasi HBsAg dengan
HBeAg, atau (4) transfer limfosit dari responder. Untuk penderita dengan dialisis yang respon
imunologisnya sangat rendah hal-hal tersebut diatas kurang bermanfaat. Sebaiknya para
penderita penyakit ginjal diberi vaksinasi sebelum penyakitnya lanjut dan menjalani dialisis.
HEPATITIS C
Pendahuluan
Virus Hepatitis C (HCV), pada dekade tahun 1970-an dikenal sebagai penyebab kasus
Hepatitis Hon A Non B (NANB) yang merupakan sebagian besar atau lebih dari 90% kejadian
Hepatitis paska transfusi. Saat ini Virus Hepatitis C merupakan salah satu penyebab utama
penyakit hati kronis. Hanya sekitar 20%-30% penderita yang terinfeksi Virus hepatitis C sembuh
setelah fase akut. Fase kronis penyakit HCV ini ditandai dengan gejala klinis yang minimal dan
apabila timbul, gejala tersebut ringan dan tidak spesiflk seperti rasa leiah, lemah, mual, nafsu
makan turun, dan mialgiaiu
Pada tahun 1987 Chiron Corperation Emmerville.CA, USA bersama dengan Centre for
Desease Control (CE)C) berhasil melakukan cloning genom virus hepatitis C. Choo (1987) dan
Quo (1989) berhasil menemukan teknik pemeriksaan anti-HCV yaitu suatu uji yang sensitif dan
spesiflk terhadap antibodi virus pada penderita hepatitis NANB.4,5
Kemudian secara berturut-turut ditemukan susunan nukleotida yang lengkap dari genom
HCV oleh Choo dkk (1991) dan Han dkk (1991), yaitu isolat HCV- dan HCV-H di Ametika
Serikat. Kato dkk (1990) menemukan isolat HCV-J, Takamizawa dkk (1991) menemukan isolat
HCV-BK, Okamoto dkk (1990) menemukan isolat HCV-J4 dan HCV-J6 dari Jepang, Kremsdorf
dkk (1991) menemukan isolat HCV-E1 dari Perancis, Fuch dkk (1991) menemukan isolat HCVGM 1 dan 2 dari Jerman, sedangkan Chen dkk (1991) menemukan isolat HCVT3 dari
18 | P a g e

Taiwan.6-'
Sampai saat ini telah ditemukan 6 genorip HCV. Masing-masing genotip mempunyai
beberapa subtipe, dan rnasmg-masing subtipe mempunyai banyak isolat. Aspek medis dari
infeksi HCV terutama adaiah resiko terjadinya sirosis hati dan keganasan oleh karena perjalanan
penyakirnya adaiah infeksi kronis.
Virologi
HCV merupakan virus RN A dengan genom positif, termasuk famili Flaviviridae dan
Pestivirus karena organisasi genetikanya yang saling menyerupai HCV berdiameter30-60 ran,
dengan. panjang 9,4 kb atau 9413 nukleotida, mempunyai suatu open reading frame (ORF) dapat
melakukan mengkode suatu protein yang tersusun atas 3010 asarn arnino.1'6^'1011 RNAHCV
terdiri atas bagian-bagian :
1. 5 noricoding Tigion
2. Gen yang mengkode core protein
3. Gen yang mengkode envelope protein
4- Gen yang mengkode protein nonstruktural (NS1 sampai NS5) 5. 3' noncodmg region
Saat ini telah ditemukan 6 group HCV dengan 11 subtipe dan isolat yang san banyak.
Pemberian tatanama HCV adaiah dengan cara membandingkan persent kesamaan nukleotida.
Dikatakan adanya group atau ripe baru apabila tetdapat kesarnaa susunan nukleotida kurang dari
72% daripada ripe atau group yang telah diketahui
Apabila kesamaan susunan nukleotida terjadi antara 75%86% maka yang ditemukan
adaiah subtipe baru. Tetapi apabila persamaan urutan nukleotida'Iebih dari 88%, maka yang
Jitemukan adaiah isolat baru.
Heterogenitas tersebut merupakan akibat dari mutasi selama proses replikasi, yang
merupakan mekanisme untuk menghindarkan diri dari sistem kekebalan tubuh sehingga infeksi
dapat terus terjadi. Ini berarti bahwa dalam tubuh seseorang penderita HCV dapat ditemukan
virus-virus yang berbeda susunan nukleotidanya. akibat dari heterogenitas tersebut adalah :
1. HCV mempunyai kemampuan untuk menghindarkan diri dari respon imunologis
menyebabkan kurangnya daya proteksi dan terjadinya persistensi virus.
2. Mempengaruhi patogenesis peijaknan penyakit,'seperti genotipe I dan infeksi dengan
19 | P a g e

beberapa quasispecies menyebabkan penyaku had yang berat.


3. Kemampuan host dalam hal respons terhadap pengobatan and virus adaiah rendah seperti
pada genotipe 1 dan 4.
4. Kesulitan menentukan region yang dipakai sebagai target dalam tes diagnosis.
5. Kesulitan dalam pembuatan vaksin karena respons imun diduga sangat spesiflk terhadap
ripe.
Terdapat variasi yang signifxkan secara regional dari distribusi genodp; Genotip 1, 2, dan 3
tesebar di seluruh dunia, genotipe 4 terutama ditemukan di Mesir dan Zaire, genotipe 5 di Afrika
Selatan dan genotipe 6 banyak ditemukan di Asia. Subtipe HCV-la dan HCV-lb banyak
ditemukan di USA dan Jepang walaupun ripe yang lain juga ada di kedua negara tersebut. EH
Belanda HCV-lb merupakan subtipe yang dominan. Di daratan Eropa pada umumnya yang
dominan adaiah subtipe la dan lb.'HCV group 3 dan group 1 banyak dijumpai di Skotlandia. Di
Surabaya subtipe lb lebih dominan daripada subtipe yang Iain diikuti subtipe 2a. Telah
ditemukan subtipe baru yaitu HCV-ld yang belum pernah dijumpai sebelumnya'. Di Jakarta
ditemukan isolat baru yang termasuk dalam subtipe 2e dan 2f seita l0a dan lla."'10'u'H
Epidemiologi
1. Prevalensi
Survey epidemiologi memperkirakan terdapatnya 170 juta pengidap HCV kronis di seluruh
dunia. Prevalensi infeksi kronis pada dewasa betvariasi antara 0,5%-25%. Di Amerika Serikat
seroprevalensi infeksi HCV adaiah 1,8% dari seluruh populasi. Untuk anak dibawah usia 12
tahun, seroprevalensinya adaiah 0,2%, dan untuk usia 12-18 tahun seroprevalensi sebesar 0,4%.
Di Jepang seroprevalensi HCV adaiah 1.3% untuk seluruh populasi; sampai usia 20 tahun jumlah
carrier rendah dan meningkat semua.
pertambahan umur. Sebelum skrining dengan cara pemeriksaan serologis terhadap and HCV
insidensi hepatitis paska transfusi adaiah 5%-16%; dengan pemeriksaan ClOO-3 assay,
insidensinya turun menjadi 2%-3%.15'16-17'18
Dengan perbaikan skrining melaiui penambahan pemeriksaan and NS-3, maka 99% darah
donor pengidap HCV dapat diketahui. Di Mesir prevalensi HCV pada seluruh populasi adaiah
14% dan pada donor darah sebesar 14,5%; pada penelitian AlxH Azis dkk di delta sungai Nil
didapat angka 25%. Pi Arab Saudi, Bank Darah Ryad mendapat angka seropositif sebesar 26,2%.
20 | P a g e

Di Perancis jumlah pengidap kronis antara 50.000 sampai 600.00C dari total 60.000.000
penduduk. Di Italia prevalensi and HCV dilaporkan sebesar 3,2% Uituk selurh populasi dari
umur 12-65 tahun, tetapi hanya 0,2% pada anak-anak.
Di Indonesia prevalensi HCV sangat bervariasi, sekitar 0,5% sampai 337%. Dari
pemeriksaan darah donor di kota-kcta, yaitu Jakarta sebesar 2,5%, Surabaya 2,3%, Medan 1,5%,
Bandung 2,7%, Yogyakarta 1 %, Bali 1,3%,- Mataram 0,5%, Manado 3,0%, Makassar 1,0%, dan
Banjarmasin 1,0%.
Angka tersebut akan sangat berbeda apabila kelompok yang diteliti merupakan kelompok
yang lebih khusus, misalnya: penderita yang mendapat hemodialisis berulang sebesar 763%,
penderita hepatitis kronis sebesar 80,4%, dan penderita talasemia pada anak yang mendapat
transfusi berulang sebesar 21,4%. Sedangkan penderita karsinoma hepatoselular mempunyai
prevalensi and HCV sebesar 64,7%.
Secara umum, angka tertinggi prevalensi and HCV didapatkan pada mereka yang sering
mengalami direct percutaneous exposure seperti pada pengguna obat bius dengan suntikan dan
penderita yang mendapat transfusi berulang (antara 60%-90%). Angka yang sedang didapatkan
pada penderita hemodialisis (20%) dan harga yang rendah didapat oada tnapparent parenteral
atau paparan terhadap mukosa seperti kelakuan seksual yang berisiko tinggi, kontak seksual
maupun keluarga dari penderita (1%-10%).
2. Penularan
Epidemiologi virus hepatitis- C (HCV) masih belum jeias karena lebih dari separuh jumlah
pengidap kronis tidak diketahui dengan jelas dari mana sumber infeksinya. ; Walaupun dapat
mengenai seluruh golongan umur, tetapi infeksi pada anak relatif sangat jarang terjadi.
Distribusi yang beikaitan erat dengan umur ini, berhubungan erat dengan cara penularannya.
Penularan melaiui tranfusi darah, penggunaan obat-obatan intravena, hemodialisis, tertusuk
jarum suntik, tatu, dan hubungan seksual, lebih banyak terjadi pada orang dewasa daripada anakanak. Penularan melaiui kontak keluarga adaiah rendah. Transmisi vertikal saat ini merupakan
cara penularan yang paling sering dijumpai pada anak-Dibawah ini diuraikan cara penularan
virus hepatitis C.
Pemaparan terhadap darah dan produk yang berasal dari darah.
Cara penularan paling efisien adaiah dengan pemaparan langsung kerusakan kulit
21 | P a g e

dengan darah penderita HCV, misalnya transfusi darah yang terinfeksi HCV dan produkproduknya, transplantasi organ dari donor pengidap kronis HCV dan pengguna. obat bius dengan
suntikan intravena.
Di Amerika Serikat sebelum tahun 1986 kejadian hepatitis C paska transfusi betkisar 5%
sampai 13%. Dari tahun 1986 sampai 1990, dengan adanya larangan bagi golongan berisiko
tinggi untuk menjadi donor dan dilakukannya pemeriksaan LFT pada donor, angka tersebut turun
menjadi 1,5%. Dengan adanya pemeriksaan and. HCV untuk slaining donor, angka kejadian
hepatitis C paska transfusi menjadi 1,0% pada awalnya dan akhirnya menjadi <0,1%.
Apabila dengan cara ini masih terjadi infeksi hepatitis C paska transfusi, hal ini mungkin
disebabkan oleh ketidakmampuan pemeriksaan anti HCV generasi kedua untuk mendeteksi anti
HCV pada penderita yang berada dalam masa antara mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya
anti HCV (antara 4-6 minggu).
Pada tahun 1994 di Amerika Serikat terjadi outbreak infeksi HCV yang disebabkan oleh
intravenous immunoglobulin. Hal serupa juga terjadi di Eropa. Pada saat ini, semua produk
imunoglobulin dengan standard RNA HCVnegatif saja yang boleh beredar di Amerika Serikat.
Cara yang paling aman dalam pencegahan penularan melaiui tranfusi darah adaiah memeriksan
sampel darah dengan uji anti HCV sebelum diberikan kepada penderita.3-22-23
Penularan melaiui hubungan seksual
Diantara pasangan seksual pengidap HCV kronis yang tidak mempunyai risiko lain untuk
terjadinya infeksi, rata-rata prevalensi anti HCV adaiah 5% (antara 0%-15%). Ada studi yang
mendapatkan hasil bahwa pasangan wanita dari pria pengidap HCV lebih banyak temiiar
dibanding apabila yang menderita pengidap kronis adaiah wanitanya.Penularan infeksi HCV juga
meningkat dengan bertambahnya jumlah pasangan hubungan seksual dan tidak digunakannya
kondom. Diago melaporkan angka 11,4% penularan dari pasangan seksual pengidap HCV
kronis. Kihara mendapatkan prevalensi yang lebih tinggi pada wanita pelacur yaitu 11%
dibandingkan masyarakat umum.
Di Indonesia belum diketahui secara jelas cara penyebaran infeksi HCV* apakah kontak erat
dapat merupakan penyebab penularan seiain transfusi darah, jarum suntik pada pengguna obat
bius secara intra vena, dan hubungan seksual. Sumarto pada penelitian di daerah rural Tengger
tidak mendapatkan anti HCV positif dari 103 orang yang diteliti.
22 | P a g e

Penularan vertikal dari ibu ke bayi


Penularan (transmisi) vertikal HCV dari ibu kepada bayinya relatif lebih jarang terjadi
daripada penularan vertikal HBV, karena titer HCV secara umum lebih rendah daripada HBV.
Penularan vertikal HCV dapat terjadi pada proses kelahiran, baik pervaginam maupun operasi.
Pecahnya ketuban lebih dari 6 jam merupakan faktor risiko terjadinya penularan HCV.
* Pada bayi yang lahir dari ibu dengan anti HCV positif, didapatkan angka 5% (antara 3%6%). Dengan metode polymerase chain reaction (PCR) untuk mendetelcsi adanya RNA HCV
tidak memberi angka yang lebih tinggi.
Bila Ibu menderita infeksi HIV bersama dengan infeksi HCV maka kemungkinan tertular
bagi bayi yang lahir akan lebih besar yaitu 14% (antara 5%-36%) daripada Ibu yang hanya
menderita infeksi HCV saja. Dihipotesiskan bahwa Ibu yang mengidap infeksi HIV mengalami
penurunan daya imunitas sehingga mengalami viral load dari HCV yang lebih tinggi
menyebabkan mudahnya penularan secara vertikal. Tingginya titet RNA HCV mempunyai
peranan penting terhadap terjadinya penularan. Pada Ibu dengan anti HCV positif, tetapi RNA
HCV negatif tidak ditemukan viremia pada bayinya dan tidak perlu dilakukan pemeriksaan RNA
HCV
Ohto dkk mendapatkan bahwa Ibu dengan titer RNA HCV sebesar lOVml akan menularkan
infeksi kepada bayinya. Disamping tingginya titer RNA HCV. genotip juga diduga mempunyai
peranan dalam penularan vertikal dari ibu ke bayi. Zucati dkk mendapatkan dalam penelitiannya
bahwa hanya Ibu yang terinfeksi HCV ber-genotip lb dan 3a yang menularkan infeksi HCV
terhadap bayinya. Genotip 3a dan lb mempunyai virulensi tinggi dan kurang responsif terhadap
pengobatan dengan interferon. Kemungkinan penularan in-utero dibuktikan dengan ditemukanya
viremia pada bayi baru lahir. Tetapi viremia mungkin saja tidak terjadi pada waktu lahir; dalam
hal ini apabila seorang bayi dicurigai tertular HCV maka sebaiknya uji anti HCV dilakukan pada
usia 15 bulan dimana antibodi ibu sudah sangat turun. Selain pemeriksaan and HCV pemeriksaan
fungsi hati juga penting pada bayi walaupun RNA HCV negatif waktu lahir; tetapi bila terjadi
peningkatan hasil uji fungsi hati, yainr ALT setelah umur 3 bulan, diduga kuat bahwa bayi
tersebut tertular secara perinatal. Gejala klinis hepatitis akan terlihat pada usia diatas 3 bulan,
apabila bayi berumur 3 bulan sampai 18 bulan tidak terjadi gejala hepatitis, maka kemungkinan
23 | P a g e

tidak terjadi penularan secara perinatal.


Penularan infeksi HCV melaiui air susu ibu (AST) belum pemah dilaporkan walaupun and
HCV dan RNA HCV juga ditemukan pada ASI. Angka penularan HCV dari bayi yang i minum
ASI sama dengan bayi yang rnmum susu bctoL sehingga infeksi HCV pada ibu i bukan
merupakan kontxaindikasi untuk pemberian ASI. Kemungkinan adanya RNA HCV pada ASI
adaiah karena terjadinya lecet puling susu sehingga terjadi occult "lernorrnage
Kemungkinan rendahnya penularan infeksi HCV melaiui ASI dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Jumlah RNA HCV pada ASI sangat rendah sehingga tidak terjadi infeksi
2. Mungkin jumlah yang kecil tersebut dapat dinetralisir pada saluran cema
3. Mukosa saluran cerna yang intak mencegah penularan melaiui oral
Penularan dalam anggota keluarga
Yang dimaksud di sini adaiah adanya anggota keluarga yang menderita infeksi HCV kronis
melaiui penularan dengan atau tanpa hubungan seksual. Tanpa adanya faktor risiko yang lain,
nilai yang didapat berkisar antara 0% sampai 11% dengan harga rata-rata 4%. Penularan dari
penderita anak kepada saudaranya adaiah rendah. Vignente mendapat angka tidak adanya
penularan pada 56 saudara dari 44 penderita anak. Camarero dkk hanya mendapat 1 otang
tertular dari 80 anggota keluarga 27 anak penderita infeksi kronis HCV Rosenthal mendapat 0%
dari 103 anggota keluarga 26 penderita talasemia dengan infeksi HCV Di Surabaya, Widawati
mendapatkan angka penularan 2,06% pada 97 anggota keluarga dari 34 penderita hepatitis C
kronis. Sedangkan Arief mendapatkan angka 0% dari 28 anggota keluarga 6 anak penderita
talasemia yang menderita hepatitis C kronis.
Patogenesis
HCV mempunyai kemampuan menimbulkan infeksi kronis yang tergantung pada infeksi
non-sitopatik terhadap sel hati dan respons imunologis dari host. Seperti pada infeksi virus
lainnya, eradikasi HCV melibatkan antibodi penetrai (neurralising antibodies) terhadap virus
yang beredar dalam sirkulasi dan aktivasi sel T sitotoksik untuk merusak sel yang terinfeksi dan
menghambat replikasi intraselular. melaiui pelepasan sitokin. HCV dapat menghindar dari
24 | P a g e

aktivitas antibodi penetrai dengan cara mutasi komposisi antigeniknya. Mekanisme ini dapat
menyebabkan timbulnya kuasi spesies (quasi'Species) yakni dalam sirkulasi seorang penderita
terdapat virus yang homogen tetapi mempunyai variasi imunologis yang menyebabkan efikasi
dari antibodi penetrai turun. HCV mungkin juga menurunkan respons imun antivirus dengan cara
infeksi langsung pada sel limfoid dan mengganggu. produksi interferon. Kerusakan hepatoselular
masih menjadi pertanyaan. Diduga terjadi melaiui efek sitopatik dengan ditemukannya
perubahan degeneratif yang disertai infiltrasi sel radang. Genotip HCV lb miingkin lebih bersifat
sitopatik daripada genotip yang lain. Mekanisme sitotoksisitas yang diperantarai sel (cell
mediated cytotoxicity) diduga juga berperari dalam kerusakan sel hati, yang ditunjukkan dengan
ditemukannya sel T sitotoksik yang bereaksi dengan HLA kelas I dan core beserta antigen
envelope HCV pada serum penderita HO/ kronis. Infeksi HCV juga dihubungkan dengan
gangguan imunologis seperti krioglobulinernia, vaskulitis, glomerulonefritis, artritis, dan
tiroidiris. Kejadian ini tergantung pada lamanya stimulasi virus terhadap sistem imun yang
menyebabkan timbulnya reaksi antibodi monoklonal dan pembentukan kompleks imun dari IgG
dan IgM atau karena HCV langsung menyerang jaringan liirifoid. Reaksi ini mungkin juga
menirnbulkan limfoma.
Gambaran Klinis Infeksi
1. Hepatitis C akut.
Infeksi HCV merupakan 20% bagian dari hepatitis akut di Amenka Serikat. Perkiraan masa
inkubasi sekitar 7 rninggu yakni antara 2-30 rninggu. Anak maupun dewasa yang terkena infeksi
biasanya tidak menunjukkan gejala dan apabila ada, gejalanya tidak spesifik yaitu rasa lelah,
lemah, anoreksia, dan penurunan berat badan. Sehingga dapat dikatakan bahwa diagnosis
hepatitis C pada fase akut sangat jarang. Pada penderita dewasa dengan gejala klinis, 30%
menunjukkan adanya ikterus. Pada pemeriksaan LFT, harga ALT dapat meningkat sampai 10 kali
harga normal. Antibodi terhadap HCV (and HCV) mungkin belum terdeteksi, dan didapatkan
setelah beberapa rninggu atau bulan setelah terjadinya infeksi akut. Kadar ttansaminase serum
meningkat selama fase akut, dan pada 40% penderita akan menjadi normal walaupun tidak
berhubungan dengan status virologis. Hanya 15% penderita sembuh secara .spontan dengan
pembuktian menggunakan metode PCR, dan 85% akan menjadi kroriis. Tidak seperti HAV
maupun HBV, infeksi HCV jarang menyebabkan kegagalan hati fulminan.
25 | P a g e

2. Hepatitis C kronis
Tidak kurang dari 85% penderita hepatitis C akut berkembang menjadi kronis. Mekanisme
mengenai mengapa virus masih tetap ada atau persisten setelah infeksi akut belum diketahui.
Data menuriiukkan adanya diversitas dan kemampuan virus untuk melakukan mutasi secara
cepat. Sebagian besar penderita tidak sadar akan penyakitnya, selain gejala minimal.dan tidak
spesiflk seperti rasa lelah, mual, mialgia, rasa tidak enak pada perut kanan atas, gatal-gatal dan
penurunan berat badari. Beberapa penderita menunjukkan gejala-gejala ekstrahepatik yang dapat
mengenai organ lain seolah-olah tidak berhubungan dengan penyakit had. Gejala ekstrahepaik
bisa meiiputi gejala hematologis, autoimun, mata, persendian, kulit, ginjal, paru, dan sistem
saraf. Sekitar 30% penderita menunjukkan kadar ALT serum yang normal sedangkan yang
lainnya meningkat sekitar 3 kali harga normal. Kadar bilirubin dan fosfatase alkali serum
biasanya normal kecuali pada fase lanjut.
3. Sirosis hati
Perkembangan dari hepatitis C kronis menjadi sirosis berlangsung dalam dua atau tiga
dekade. Prevalensi terjadinya sirosis pada penderita hepatitis C kronis bervarisi antara 20%-30%
bahkan ada yang dilaporkan mencapai 76%. Gejala klinis sangat minimal sampai timbulnya
komplikasi akibat sirosis. Terdapat beberapa faktor prediktif terjadinya progresifitas penyakit
yaitu:
1. Umur lebih dari 40 tahun saat terinfeksi
2. Laki-laki
3. Derajat fibrosis pada saat biopsi awal
4. Status imunologi
5. Ko-infeksi dengan virus hepatotropik lainnya atau dengan virus HIV
6. Infeksi genotip 1
7. Adanya quasi-species
8. Overload besi
9. Konsumsi alkohol
Prognosis penderita sirosis dengan infeksi HCV secara umum .adaiah baik sampai
terjadinya dekompensasi. Fattovich dkk mendapatkan dari 384 penderita sirosis kompensasi,
26 | P a g e

survival ratavja mencapai 96%, 91%, dan 79% untuk waktu 3, 5, dan 10 tahun. Niederau dkk
melaiui studi prospektif tethadap 838 penderita hepatitis C kronis mendapatkan bahwa apabila
terjadi dekompensasi hati, maka memiliki 5-year survival rate kurang dari 50%. Ini merupakan
suatu indikasi untuk dilakukan transplantasi hati. Dengan adanya resiko terjadinya karsinoma
hepatoselular, maka secara berkala setiap 6 bulan perlu dilakukan USG dan pemeriksaan alfafetoprotein.
4. Karsinoma hepatoselular
Perkiraan insidens karsinoma hepatoselular karsinoma sekitar 0,25-1,2 juta kasus baru setiap
tahun, sebagian besar berasal dari penderita dengan sirosis. Resiko terjadinya karsinoma
hepatoselular pada penderita sirosis karena hepatitis C kronis dipeikirakan sekitar 1 %-4%.
Perkembangan sejak terjadinya infeksi HCV sampai timbulnya karsinoma hepatoselular berkisar
antara 10-50 tahun. DiBisceglie memperkirakan bahwa antara l,9%-6,7% penderita sirosis HCV
berkembang menjadi HCC setelah 10 tahun.
Diagnosis
Secara garis besar diagnosis terhadap infeksi HCV dibagi dalam 2 golongan besar yaitu:
1. Uji saring
Uji saring merupakan uji terhadap antibodi Uji ini mempunyai beberapa keuntungan yaitu
mudah tersedia, mudah dilakukan dan murah Negatif pabu didapatkan pada penderita dengan
gangguan imunologi yang tidak mampu membentuk antibodi, misalnya pada penderita
transplantasi organ, hemodialisis, penderita HTv" dan juga pada awal perjalanan penyakit
dengan adanya window period yakni belum terbentuknya antibody.
2. Uji konfirmasi
Oleh karena uji saring kurang sensitif dan spesifik, diperlukan uji konfirmasi walaupun
perbaikan pemeriksaan serologis EIA generasi ketiga dapat menyamai atau tidak memerlukan uji
konfirmasi. Tes konfirmasi digunakan juga pada mereka dengan hasil pemeriksaan yang rendah
tetapi dicurigai tertular HCV seperti pada donor darah. Uji konfirmasi ini meliputi:
a. Recombinant immunoblot assay (PJBA-1, RIBA-2, RIBA-3 )
b. Deteksi virologis
27 | P a g e

c. Biopsi hati
Tes konfirmasi dan genotip rutin dilakukan sebelum memulai pengobatan dengan obat-obat anti
virus. Pembagian lain untuk pemeriksaan HCV dapat digolongkar. dalam 2 golongan besar, yaitu
pemeriksaan serologis dan pemeriksaan molekular
Pemeriksaan serologis
Pemeriksaan serologis dilakukan untuk menemukan antibodi dari berbagai bagian dari
antigen HCV Juga disebut sebagai diagnosis serologis untuk menemukan adanya IgG anti HCV.
IgM anti HCV tidak digunakan secara rutin. Pemeriksaan paling populer adaiah dengan cara
Enzyme Immuno Assays (EIA). EIA generasi pertama ditujukan untuk menemukan antibodi
terhadap protein nonstruktuia! (C-100) NS-4 dari HCV EIA generasi kedua merupakan
kombinasi antara protein struktural yaitu antigen core atau C-22 dengan protein nonstraktural
dari NS-3 yaitu C-33 cdanNS-4 yaitu C-100danC5-l-l dengan cara mencari antibodi yang
spesifik. EIA generasi kedua jauh lebih sensitif dan spesifik daripada EIA generasi pertama,
dimana generasi kedua ini dapat menemukan 95% penderita infeksi HCV Disamping itu generasi
kedua dapat menemukan timbulnya serokonversi anti HCV dengan lebih cepat yaitu antara 4-6
minggu paska infeksi
Pemeriksaan IgM anti HCV kurang bermanfaat karena. IgM anti HCV dari daerah core tidak
tirnbul pada semua penderita hepatitis C akut, tetapi tetap ada pada penderita hepatitis C kronis.
Chey menemukan adanya IgM anti HCV pada 50%'penderita infeksi kronis. Sedangkan titer IgG
anti HCV berhubungan erat dengan viremia, sehingga mungkin titer IgG tersebut tidak terdapat
pada penderita dengan viremia yang rendah.
EIA generasi ketiga merupakan peningkatan sensitifitas dari generasi kedua, sebab selain
antibodi terhadap protein yang berasal dari core, NS-3 dan NS-4, masih ditambah dengan protein
rekombinan dari daerah NS-5. Penggunaan protein daerah NS-5 ini dapat menyebabkan hasil
positif palsu.
Pemeriksaan serologis untuk korifirmasi dari EIA adaiah RIBA (recornbinat imrnunoblot
assay) yang melakukan deteksi antibodi monospesifik HCV.cleh protein rekoiubinan yang diikat
lapisan nirroselulosa. Pemeriksaan ini bukan merupakan konfirmasi yang sebenamya karena
menggunakan antigen yang sama, dan dapat terjadi kesalahan interpretasi dalam pembacaan
hasil. RIBA 3 merupakan perbaikan dari RTBA 2 dengan cara mengurangi hasil yang meragukan
28 | P a g e

(Indeterminate).
Chien dkk berusaha meningkatkan sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan anti HCV
dengan menambahkan epitop dari daerah E1-E2 dengan cara menggabungkan semua epitop yang
imunodcrninandari 7 daerah genom HCV, yang diriamakan single multiple epitope fusion
antigen (MEFA, MEFA-6) yaitu protein dari daerah core, E1-E2, NS-2, NS-3, NS-4, dan NS-5.
Hasilnya adaiah sensitivitasnya sesuai dengan EIA generasi ketiga.
Aoyagi dkk menggunakan pemeriksaan terhadap HCV-c antigen dengan metoda EIA dan
menyatakan bahwa dengan cara ini dapat dideteksi adanya viremia pada fase akut, di mana
antibodi terhadap antigen-c belum terbentuk (window period). Pemeriksaan ini juga dapat
digunakan pada penderita HCV dengan gangguan imunitas seperti infeksi HIV; sensitivitasnya
mendekati pemeriksaan RNA HCV.
Pemeriksaan molekular
Pemeriksaan secara molekukr bertujuan untuk menemukan nukleotida virus, dan juga dapat
untuk melakukan penghitungan densitas virus.
Ada 4 cara diagnosis molekuler terhadap HCV :
1. Polymerase chain reaction (PCR)
2. Nucleic acid sequence based amplification (NASBA)
3. Ugase chain reaction (LCR)
4. Branched DNA assay (b DNA assay)
PCR, NASBA, dan LCR merupakan pemeriksaan yang brdasar pada teknik target
amplification, sedangkan branched DNA assay berdasar pada teknik signal amplification.
Kelebihan lain dari b DNA assay adalah prosedur ekstraksi RNA yang mudah (dilakukan dan
seperti deteksi signal pada ELISA reader, pemeriksaan ini lebih toleran terhadap adanya
kontaminasi.
Pengobatan
Tujuan pengobatan adaiah mengelirrrinasi virus dan mencegah progresivitas penyakit
menjadi sirosis maupun karsinoma hepatoselular. Saat ini rekomendasi dari FDA adaiah
pengobatan dengan kombinasi interferon dan ribafirin.
Kontra indikasi pada Contraindikasi pada
Interferon
Ribavirin
29 | P a g e

PenLngkatan
Depresi berat
AST/L5T
Ditemukan KCV- Dekompensasi hati
RNA
Hbrosi portal atau Pengguna alkohol
innamasi
pada biopsi had
Pengguna obatobatan
Penyakit autoimun
Penyakit penyerta
berat
Diabetes berat
Hipertensi berat

Anemia (Hgb <11 g/dl)


Tidak tahan 'm^rt'ia
Penyakit j an rung
coroner
Kehamilan
Tidak tahan kontrasepsi
fVnyakir vasknlar perifer
Gagal grnjai
Gout

Sampai saat ini belum ada laporan yang memadai untuk pengobatan infeksi HCV akut pada
anak. Sedangkan pada infeksi kronis ada beberapa laporan tetapi tidak berskala besar, bukan
penelitian multisenter, dan bukan uji klinis. Dari laporan- laporan tersebut didapatkan sustained1
virotogic responcc berkisar 33% -45%. Hasil ini temyata lebih besar. daripada respon pada orang
dewasa. Kemungkinan penyebabnya adaiah: (1) penyakit masih pada stadium awal, (2) tidak ada
faktor yang mcmperberat penyakit, dan (3) dosis interferon relatif lebih tinggi. Atau mungkin
karena penelitiannya dalam ruang lingkup yang sempit dan bukan uji klinis sehingga terjadi
artefak statistik.
Dosis interferon adaiah 3 MU/m2 tiga kali dalam seminggu. Dosis ribavirin adaiah 8, 12,
atau 15 mg/kg BB per hari. Pada penderita hepatitis C kronis yang mengalami ko-infeksi dengan
HIV, konsentrasi virus lebih tinggi dan gambaran histologis cenderung lebih progresif; maka
pemberian pegylated interferon bersama ribavirin diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih
baik.

Tabel 16.6. Evaluasi Pada Pengobatan Hepatitis C kronis.


Pilihan terapi Obat
Penjelasan
30 | P a g e

Interferon
tungga!
Interferon alfa- Roferon-A
2a
interferon alfa- Intron-A
2b
Interferon alfa- Wellferon,
nl
h/mphoblastoid
IFN
Interferon beta
Interferon
Infergen,
alfaccr.-l
Consensus IFN
Ribavirin
Rebetol
tunggal
Kombinasi
Interferon and
Ribavirin
Pegylated
interferon alfa2a
Arnaritadin;rir
nantadin
Recombinant
interleukins
Ursodeoxycholi
c acid
(UDCA)
Phlebotomy
Thymosin
alpha-1
Nonsteroidal

Rebetron
Symmetrel

Dosis dapat
ditingkatkan/
diperpanjang.
Induksi.

P.espon bioiogis dan


histologis (+), respon
virologis (-)
Sustained respons'. raxes
sekitar 40%.
Terapi utama.
Masih diteliti, hasil lebih
baik

Flumadin

Dalam penelitian

1L-2,IM0,IL12
Ursodiol

Dalam penelitian, hasil


lebih baik'
Kurang baik

Actigail
(TA1)

Hasil diperdebatkan
Kurang memuaskan

NSAIDs

Kurang baik

Tidak seperti HAV atau HBV dimana imunglobulin memainkan peranan penting dalam
profilaksis primer, pada HCV belum ditemukan jenis imunoglobulin yang efektif untuk
pencegahan post exposure. Peinbuatan vaksin juga terhambat karena tingginya derajat diversitas
genetik.

Sehingga pencegahan dititikberatkan pada :


31 | P a g e

1. Uji saring yang efektif terhadap donor darali, jaringan, maupun organ.
2. Uji saring terhadap individu yang berada pada daerah dengan prevalensi HCV yang
tinggi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
3. Pendidikan kesehatan pada pekerja yang erat kerjanya dengan darah dan cairan tubuh.

HEPATITIS D
Pendahuluan
Virus hepatitis delta (HDV) ditemukan pertama kali oleh Rizzetto dkk di Italia pada tahun
1977 dengan menemukan adanya antigen hepatitis delta pada sediaan biopsi hati. Pemeriksaan
serologis untuk mendiagnosis HDV baru dikembangkan pada tahun 1980.
' Vitus hepatitis D (HDV) merupakan virus terkecil, tidak dapat menyebabkan infeksi bila
tidak bersamaan dengan infeksi HBV dan ditemukan pertama kali sebagai Intd antigen pada sel
had dari penderita yang terinfeksi HBV Dahulu HDV dianggap sebagai bagian dari HB\' namun
tcmyata merupakan suatu virus RNA lain yang tidak dapat rr.emproduksi protein penutup
sehingga bagian luar dari virus ini ditutup oleh antigen permukaan dari HBV (HBsAg) dan selalu
dihubungkan dengan gejala.klinis.
Virologi
HDV adalah RNA berdiameter 36mm, genom RNA dan antigen delta. Genom ini terdiri dari
170Q nukleotida rantai tunggal sirkular dengan kandungan G dan C yang tinggi (60%). HDAg
adaiah protein yang dikode oleh RNA-HDV ditemukan pada serum dan set hati penderita dengan
massa moleku! 27000 kD dan 24000 kD. Oleh karena dibungkus oleh HBsAg maka cara
masuknya HDV ke dalam sel hati kemungkinan besar menggunakan reseptor untuk HBV
Apabila sudah berada di daiam sel hati maka HDV melakukan replikasi tanpa adanya HBV
Replikasi dari HDV terjadi di dalam inti sel hati dengan cara yang sama seperti virus lain
walaupun mekanisme transkripsi RNA-HDV belum jelas. Cara interaksi antara HDAg dengan
HBsAg masih belum jalas.
Epidemiologi
32 | P a g e

Diperkirakan terdapat minimal 15 juta orang terinfeksi HDV di seluruh dunia dengan
asumsi 5% pengidap HBV terinfeksi oleh HDV. Infeksi HDV terjadi di seluruh dunia dengan
prevalensi tinggi di Amerika Selatan, Afrika Barat, Timur Tengah, Mediterania, dan

Sirosis 70%-80
Karsinoma hepatoselular

0 1 2 3 " 4 5 6
' ' 12
24
Gambar 16.4. Perubahan serologis dan biokimia pada superinfeksi HDV.4

Gambar 16.5. Kemungkinan akibat dari infeksi HDV.


beberapa pulau di Kepulauan Pasifik. Masa inkubasi pada superinfeksi antara 2-8 rninggu
sedangkan pada ko-infeksi sama dengan infeksi HBV HDV tidak menimbulkan infeksi tanpa
adanya HBV sebagai virus pembantu. Infeksi HDV dapat terjadi pada saat awal yang sama
dengan infeksi HBV (koinfeksi) atau menimbulkan infeksi pada penderita yang sudah terinfeksi
HBV (superinfeksi). HDV adaiah virus blood bom sehingga penularan terjadi secara parenteral
Penularan biasanya terjadi melaiui kontak yang erat dalam keluarga pada daerah dengan
prevalensi tinggi terutama di negara berkembang dengan cara inapparent parenteral Sedangkan
di daerah dengan prevalensi rendah maka penularan melaiui lesi ' pada kulit lebih sering terjadi
33 | P a g e

terutama pada penggunaan obat secara suntikan, transfusi pada penderita penyakit darah, dan
infeksi nosocomial.
Patogenesis
Oleh karena dibungkus HBsAg maka cara masuknya HDV ke dalam sel hati kemungkinan
besar juga menggunakan reseptor untuk HBV HDV merupakan virus sitopatik menyebabkan
kerusakan langsung pada sel hati. Tidak ditemukan adanya gambaran spesifik pada pemeriksaan
histopatolcgi hati kecuaii tingkat kerusakan yang lebih berat.
Mekanisme bagaimana infeksi HDV menyebabkan kerusakan' hati masih belum jelas. Pada
binatang percobaan tidak terbukti adanya efek sitopatik, namun pada penderita dengan infeksi
HDV kronis terjadi replikasi lntraseluiar yang hebat dimana pada kondisi ini beban replikasi
virus yang tinggi dapat memberi efek langsung berupa kerusakan sel hati (sitopatik). Peran
sistem imun pada infeksiHDV tidak jelas. Terjadi infiltrasi sel radang kronis. Pada portal trek
yang menandakan peranan sistem imun, narnun pengobatan kortikosteroid tidak memberikan
efek yang menguntungkan. Terdapat beberapa auto-antibodi pada serum penderita dan infeksi
kronis HDV namun peranannya pada terjadinya kerusakan sel had tidak jelas.
Gambaran klinis
Gambaran klinis infeksi HDV tergantung pada mekanisme infeksi. Pada koinfeksi gejala
vklinis hepatitis akut lebih berat daripada gejala klinis HBV saja. Namun untuk menjadi hepatitis
kronis kemungldnannya adaiah rendah. Pada superinfeksi jarang terjadi gejal-klinis hepatitis akut
namun sering terjadi hepatitis kronis dan pada kejadian superinfeksi risiko terjadinya hepatitis
fulminan lebih tinggi. Pada anak yang menderita gaga! hati fulminan harus dipikirkan
kemungkinan infeksi HDV.
Terdapat bencuk gejala klinis yang khusus berupa ikterus yang diikuti dengan panas
mendadak, hematemesis, dan gejala gagal hati fulminan. Terjadi terutama di daerah lerabah
sungai Amazon, Amerika Selatan dan disebut sebagai hepatitis Labrea, black fever atau hepatitis
santa marta.
Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan adanya IgM anti HDV yang timbul sekitar 2-4 rninggu setelah
infeksi secara' koinfeksi dan 10 rninggu pada superinfeksi, menggunakan metoda RIA atau Elisa.
34 | P a g e

HDAg dapat ditemukan pada sel had menggunakan.pengecatan khusus mrrrcmojhurescence.


HDAg juga terdapat pada serum penderita menggunakan nietode analisis Western bhc RNA
HDV hapatik dan RNA HDV serum dapat ditemukan dengan cara Norrhren blot, Hibridisasi
Insitu. Metoda PCR juga dapat digunakan untuk mencari HDV RNAIU3
Pengobatan
Adanya infeksi secara bersamaan antara HBV dengan HDV menyebabkan pengobatan lebih
sukar daripada pengobatan pada infeksi kronis HBV Penggunaan interferon-alfa pada penderita
HDV kronis minimal dilakukan selama satu tahun. Bila tidak ada hasil dimana kadar ALT tetap
tinggi dan RNA HDV tetap ada, maka pengobatan dihentikan. Bila terjadi respons positif
ditandai dengan hilangnya RNA HDV dan AIT menjadi normal, maka pemberian interferon
diteruskan sampai HBsAg hilang dari serum.
Pencegahan
Belum ditemukan vaksin terhadap HDV, namun karena replikasi HDV tidak dapat terjadi
tanpa adanya infeksi HBV maka irnunisasi terhadap HBV juga mencegah terjadinya infeksi
HDV5'10
HEPATITIS E

Pendahuluan
Hepatitis E ini duiu disebut sebagai hepatitis non-A non-B dengan transmisi secara enterik
(ET-NANB). Jenis hepatitis ini ditemukan pertama kali di New Delhi, India pada tahun 1955 di
mana terdapat 29000 kasus ikterus yang diidentiSkasi penyebarannya melaiui air dari perusahaan
air minum kota yang tercemar tinja. Pada tahun 1980 ditemukan bahwa jenis h patitis ini secara
pemeriksaan serologis bukari hepatitis A (HAV) dan juga bukan hepatitisB (HBV).
Virologi
Virus hepatitis E mempunyai berdiameter 32-34 run, berbentuk sferis dan merupakan
partikel yang tidak mempunyai penutup. Merupakan virus RNA yang terdiri dari 7500 pasangan
35 | P a g e

nukleotida rantai tunggal


Epidemiologi
Sclain di India, epidemi juga terjadi di Republik Kirgiz, Uni Soviet pada tahun 1955-1956
yang menyerang 10800 penderita terutama anak muda sampai usia pertengahan. Juga terjadi di
Burma dan Nepal pada tahun 1976 dengan 20000 dan 10000 kasus. Epidemi juga terjadi di
Afrika pada tahun 1980-1981. Di Indonesia terjadi wabah hepatitis E di Kalimantan Tengah pada
tahun 1987-1988 dengan jumlah penderita 2000 orang.
Patogenesis
HEV dianggap sebagai virus yang bersifat sitopatik. Gambaran histopatologisnya
menyerupai hepatitis virus yang lain. Terdapat 2 macam gambaran histopatologis yaitu tipe
kolestatik dan tipe standar. Tipe standar ini sama dengan perubahan pada infeksi virus hepatitis
lain yaitu pembengkaan sel hati, digenerasi asidofilik serta infiltrasi leukosit PNM pada daerah
intralobular dan traktus portal. Sedangkan pada tipe kolestatik ditandai dengan stasis empedu
pada kanalikuli dan parenkim sel. Respons imun humoral menimbulkan IgM dan IgG anti HEV
IgM menumn dengan cepst dan hampir hilang pada masa konvalesens sedangkan IgG anti HEV
dapat bertahan sampai 10 tahun. Mekanisme kerusakan sel hati pada infeksi HEV masih belum
jelas; namun adanya infiltiasi lknfosit di hati dan ditemukannya cytotoxic supression
irrjramophenotypc menandakan bahwa kerusakan sel hati disebabkan oleh mekanisme
imunologis selular dan humoral.
Gambaran klinis
Gambaran klinis hepatitis E bervariasi antara bentuk ringan atau subklinis sampai kasus
fatal yang menyebabkan kematian. Masa inkubasinya 2-9 rninggu. Bentuk subklinisnya tidak
dapat dikenali karena memberikan gejala seperti flu. Bentuk klinis yang manifes dengan ikterus
akan sembuh sendiri seperti hepatitis A. Perbaikan hipetbilirubinemia dan ALT dicapai setelah 3
rninggu sejak mulai timbulnya sakit. Kasus yang ringan terutama terjadi pada kelompok anak
muda berupa gejala subklinis. Bentuk klinis dan simtomatis timbul pada dewasa muda dan umur
pertengahan. Kasus yang berat dan menyebabkan kematian terjadi pada wanita hamil. Tidak
pemah didapatkan bentuk kronis.
36 | P a g e

Diagnosis
Diagnosis hepatitis E akut ditentukan dengan cara:
1. Mikroskop elektron imun (IEM); memeriksa virus pada tinja penderita.
2.Deteksi antibodi spesifik terhadap virus menggunakan fluorescent armbody-buxktng

.t

assay.
3. IgM dan IgG anti HEV secara Western blot dan EIA; IgM anti HEV ditemukan satu
rninggu timbulnya gejala klinis.
4. PCR untuk mencari RNA HEV dari serum dan tinja.
Pencegahan
Belum terdapat vaksin terhadap HEV Imunog'obulin tidak efektif untuk mehcegah HEV Karena
tidak adanya vaksin pencegah hepatitis E, maka usaha utama untuk pencegahan adaiah
penyediaan air yang bersih. Belum ada data yang menjelaskan efikasi pemberian klor untuk
mencegah infeksi HEV.

Hepatitis G
Epidemiologi
HGV atau virus GB-C adalah virus yang di tularkan melalui darah, sering didapatkan
pada penderita penyakit darah yang mengalami transfuse berulang. Juga pengguna obat secara
intravena. Cara lain adalah inapparent parenteral. Juga dikenal penularan secara secara vertical
dari ibu ke bayi yang terjadi selama proses kelahiran dan perinatal. HGV tidak mampu
menembus plasenta. Prevalensi HGV atau virus GB-C pada donor dan populasi umum di Negara
maju antara 1-2%. Di Negara tropis dan sub tropis prevalensi antara 5% -10%. Tingginya
prevalensi HGV atau VGB-C di daerah tropis dan subtropis mungkin disebabkan adanya
serangga dan vector lain. Sebagian besar penderita yang terinfeksi di masyarakat mempunyai
kadar ALT serum normal.
Patogenesis

37 | P a g e

Sebagian besar penderita yang terinfeksi HGV/virus GB-C mengalami viremia tetapi
tidak didapatkan perubahan gambaran histopatologis yang berarti dan kadar ALT dalam batas
normal. Sampai saat ini tidak didapatkan bukti bahwa infeksi HGV menyebabkan gejala klinis.
Ditemukannya HGV atau GB-C pada limfosit dianggap bahwa virus ini mempunyai sifat
biologis seperti virus. Epstein-Barr atau CMV
Gambaran Klinis
Infeksi HGV atau virus GB-C tidak menimbulkan gejala peradangan pada hati. Koinfeksi
dengan virus lain tidak memperberat perjalanan penyakit HBV maupun HCV. Tidak ditemukan
kasus hepatitis kronis pada penderita yang terinfeksi HGV atau virus GB-C.
Diagnosis
Diagnosis HGV/ virus GB-C berdasarkan di temukannya virus RNA dengan cara RT-PCR. Cara
lain adalah metode branched DNA. Anti bodi terhadap protein E2 secara ELISA dapat ditemukan
pada fase kesembuhan atau infeksi lampau.

III.

Penutup
38 | P a g e

3.1 Kesimpulan
Hepatitis adalah peradangan hati yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit dan
lain-lain.Peradangan ini dapat berdiri sendiri atau merupakan ikutan dari infeksi sistemis.
Hepatitis virus hepatotropik adalah keradangan hati yang disebabkan oleh virus yang target
utamanya adalah hati. Contoh dari virus hepatotropik adalah virus hepatitis A, B, C, D, dan E,
yang kemudian penyakitnya disebut sesuai virus penyebabnya. Contohnya hepatitis yang
disebabkan oleh virus hepatitis B dikenal sebagai hepatitis B. Diantara hepatitis virus tersebut
yang dapat dicegah dengan imunisasi saat ini adalah hepatitis A dan hepatitis B. Hepatitis A
sampai saat ini tidak pernah dilaporkan menyebabkan penyakit hati kronis (kronisitas), namun
sebaliknya hepatitis B dan C merupakann penyebab utama kronisitas, yang kemudian dapat
menjadi sirosis dan kanker hati. Hal inilah yang kemudian menjadikan hepatitis B dan C menjadi
masalah di dunia termasuk di Indonesia. Kejadian hepatitis B ini sangat berbeda di berbagai
tempat di dunia dan berdasarkan pemetaan yang dibuat oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO),
Indonesia termasuk daerah dengan endemisitas sedang sampai tinggi.

Daftar Pustaka
1. Juffrie, M, Sri Supar Yati Soenarto, Hanifah Oswari, dkk, Buku Ajar GastroenterologiHepatologi, Jilid I, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Tahun 2010.
2. Nelson, Waldo E, Richard E. Behrman, Kliegman Robert, Ann M. Arvin, Nelson Ilmu
Kesehatan Anak Edisi 15, Volume 2, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta tahun
2000.

39 | P a g e