Anda di halaman 1dari 25

Perencanaan Campuran Metoda Bina Marga (BM)

1. Pendahuluan
Metoda ini merupakan adaptasi langsung dari Metoda Campuran Metoda
Asphalt Institut (AI) untuk penggunaan di Indonesia. Sebagaimana halnya
Metoda AI, maka cakupan metoda ini adalah untuk perencanaan campuran panas
dengan gradasi agregat menerus yang disebut sebagai Lapisan Aspal Beton
(LASTON). Dalam aplikasinya, campuran Laston dapat digunakan sebagai
lapisan permukaan, levelling course, dan binder atau intermediate course.
Dalam terminologi perkerasan di Indonesia, dikenal juga jenis campuran
Laston Atas dan Laston Bawah. Laston Atas adalah Lapis Aspal Beton yang
digunakan sebagai material Lapis Pondasi dan termasuk sebagai Base Course
(Amerika Serikat) atau Road Base (Inggris). Sementara itu Laston Bawah adalah
Lapisan Aspal Beton yang digunakan sebagai material Pondasi Bawah yang
dipasang di atas tanah dasar. Kedua jenis Laston ini (Laston Atas dan Laston
Bawah) berbeda dengan jenis Laston yang dibahas ini.
2. Tujuan
a. Untuk menentukan proses berat aspal
b. Untuk menentukan kuantitatif aspal cair dalam campuran
c. Untuk menentukan kadar aspal yang digunakan pada campuran
3. Spesifikasi Material
Untuk agregat kasar sangat disarankan menggunakan batu pecah atau kerikil pecah
yang bersih, kering kuat dan awet serta bebas dari bahan organik, asam dan bahan
lain yang mengganggu.

Tabel 1. Spesifikasi untuk agregat kasar dan halus secara kuantitatif.

Spesifikasi Agregat

Standar Pengujian

Keausan, LA Abrasion Test,


500 Putaran

SNI 03-2417-1991
AASHTO T-96-87
SNI 03-2439-1991
AASHTO T-182-84

Kelekatan dengan aspal


Jumlah butiran tertahan
saringan no.4 yang memiliki
minimal dua bidang pecah
Indeks kepipihan dan
kelonjongan butiran
tertahan saringan 3/8 (9,5
mm)
Penyerapan air
Berat jenis curah
(bulk),khusus untuk terak
Bagian yang lunak
Sand equivalent (khusus
agregat halus)

Batasa
Minimu
Maksimu
m
m
-

40%

95%

Visual

50%

SK SNI M-29-1993-03
BS 812:1975

25%

3%

2,5

5%

50%

SNI 1969-1990-F
AASHTO T-85-88
SNI 1969-1990-F
AASHTO T-85-88
AASHTO T-189
AASHTO T-176-86

Campuran Laston, jika diperlukan dapat menggunakan bahan pengisi (filler) dimana
bahan tersebut harus terdiri dari abu batu, abu batu kapur, kapur padam, portland
cement, atau bahan non plastis lainnya. Gradasi bahan pengisi adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Gradasi bahan pengisi
Ukuran Saringan
No. 30 (0,590 mm)
No.50(0,279 mm)
No. 100 (0,149 mm)
No.200 (0,074 mm)

Persentase berat yang lolos (%)


100
95-100
90-100
65-100

Tabel 3. Batasan gradasi agregat untuk Laston


No. Campuran

II

III

IV

VI

VII

VIII

IX

XI

Gradasi/tekstur

kasar

kasar

rapat

rapat

rapat

rapat

rapat

rapat

rapat

rapat

rapat

Tebal padat (mm)

20-40

25-50

20-40

25-50

40-65

50-75

40-50

20-40

40-65

40-65

40-50

Ukuran saringan

% BERAT YANG LOLOS SARINGAN

1 1/2" (58,1 mm)

100

1" (25,4 mm)

100

90-100

100

100

100

1/4" (19,1 mm)

100

100

80-100

82-100

100

84-100

85-100

1/2" (12,7 mm)

100

75-100

100

80-100

72-90

80-100

100

3/8" (9,52 mm)

75-100

60-85

80-100

70-90

60-80

65-85

56-78

74-92

No.4 (4,76 mm)

35-55

35-55

55-75

50-70

48-65

52-70

54-72

62-80

46-65

38-60

48-70

No.8 (2,38 mm)

20-35

20-35

35-50

35-50

35-50

40-56

42-58

44-60

34-54

27-47

35-53

No.30 (0,59 mm)

10-22

10-22

18-29

18-29

19-30

24-36

26-38

28-40

20-35

13-28

15-30

No.50 (0,279 mm)

6-16

6-16

13-23

13-23

13-23

16-26

18-28

20-30

16-26

9-20

10-20

No.100 (0,149 mm)

4-12

4-12

8-16

8-16

7-15

10-18

12-20

12-20

10-18

No.200 (0,074 mm)

2-8

2-8

4-10

4-10

1-8

6-12

6-12

6-12

5-10

4-8

4-9

Catatan: No. Campuran: I, III, IV, VI, VII, VIII, IX X, dan XI digunakan utnuk
lapis permukaan
No. Campuran: II, digunakan untuk lapis permukaan, perata (leveling)
dan lapis antara (binder)
No. Campuran: V,digunakan untuk lapis permukaan dan lapis antara
(binder)
Tabel 4. Persyaratan kualitas (spesifikasi) untuk aspal pada Laston
menggunakan Pen 60/70 atau 80/70
Jenis Pemeriksaan

Standar Pengujian

Penetrasi (25oC, 100


gr, 5 detik)
Titik lembek (ring
and ball)
Titik Nyala
(cleveland open cup)
Kehilangan Berat
(163oC, 5 jam)
Kelarutan
Daktilitas (25oC, 5

SNI 06-2456-1991
AASHTO T-49-89
SNI 06-2434-1991
AASHTO T-83-89:1990
SNI 06-2433-1991
AASHTO T-48-99
SNI 06-2440-1991
AASHTO T-47-83
AASHTO T-4-90
SNI 06-2432-1991

Batasan
Pen 60/70
Pen 80/100
Maks
Maks
Min.
Min.
.
.
60

79

80

99

48oC

58oC

46oC

54oC

200oC

225oC

0,8

0,1

99%
100

99%
100

cm/menit)
Penetrasi setelah
kehilangan berat
Daktilitas setelah
kehilangan berat
Berat jenis (25oC)

AASHTO T-51-89
SNI 06-2456-1991
AASHTO T-49-89
SNI 06-2432-1991
AASHTO T-49-89
SNI 06-2441-1991
AASHTO T-228-90

cm

cm

54

50

50 cm

75 cm

4. Perencanaan Campuran
Persiapan Material
Kadar aspal optimum untuk Laston umumnya berkisar antara 4% sampai 7 %
terhadap berat campuran. Dalam menentukan kadar aspal optimum dengan
menggunakan pengujian Marshall, maka diperlukan sedikitnya enam variasi kadar aspal
dengan kenaikan %. Setiap nilai kadar aspal diperlukan minimal 3 sampel atau
spesimen Marshall, sehingga untuk mencari kadar aspal optimum diperlukan setidaknya
18 sampel. Berat satu sampel Marshall adalah sekitar 1200 gram agregat dan secara
umum, maka diperlukan sekitar 23 kg agregat dan sekitar 4 kg sampai 5 kg aspal.
Namun, pada pengujian ini, digunakan 3 sampel setiap kadar aspal dengan 4 macam
kadar aspal (5%, 5,5%, 6%, 6,5%), sehingga jumlah total spesimen yang dibuat sekitar
12 benda uji dan berat satu sampel Marshall adalah 1100 gram agregat.
5. Peralatan dan Benda Uji

Peralatan
a. Tiga buah cetakan benda uji dari logam diameter 10,16 cm dan tinggi 7,62
cm, lengkap dengan pelat alas dan leher sambung.
b. Mesin penumbuk manual lengkap dengan:
- Penumbuk yang mempunyai permukaan tumbuk rata yang berbentuk
-

silinder, dengan berat 4,536 kg dan tinggi jatuh bebas 45,7 cm.
Landasan pemadat terdiri dari balok kayu berukuran 20,32 x 20,32 x 45,72
cm dilapisi dengan pelat baja berukuran 30,48 x 30,48 x 2,54 dan

dijangkarkan pada lantai beton di keempat sudutnya.


- Pemegang cetakan benda uji.
c. Alat pengeluar benda uji, untuk mengeluarkan benda uji yang sudah
dipadatkan dari dalam cetakan benda uji dipakai sebuah alat ekstruder yang
berdiameter 10 cm.
d. Alat Marshall lengkap dengan:
Kepala penekan (breaking head) berbentuk lengkung

Cincin penguji (proving ring) kapasitas 2500 kg dan atau 5000 kg,

dilengkapi arloji (dial) tekan dengan ketelitian 0,0025 mm.


Arloji pengukur pelelehan (flow) dengan ketelitian 0,25 mm beserta

perlengkapannya.
e. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu yang mampu memanasi sampai
200oC (3oC).
f. Bak perendam (waterbath) dilengkapi dengan pengatur suhu mulai 20-60 oC
(1oC).
g. Timbangan yang dilengkapi dengan penggantung benda uji berkapasitas 2 kg
dengan ketelitian 0,1 gr dan berkapasitas 5 kg dengan ketelitian 1 gr.
h. Pengukur suhu dari logam (metal thermometer) berkapasitas 250oC dan
100oC dengan ketelitian 1% dari kapasitas.
i. Perlengkapan lain:
Panci-panci untuk memanaskan agregat, aspal, dan campuran aspal
Sendok pengaduk dan spatula
Kompor dan pemanas (hot plate)
Sarung tangan dari asbes, sarung tangan dari karet dan pelindung

pernapasan atau masker.


Kantong plastik kapasitas 2 kg.
Kompor gas elpiji atau minyak tanah.

Pembuatan benda uji


Agar pencampuran dan pemadatan dapat menghasilkan campuran yang baik,
maka salah satu syaratnya adalah kekentalan aspal harus cukup sedemikian
sehingga peran aspal dalam proses pencampuran dan pemadatan dapat
maksimal. Metode AI menyarankan bahwa pada saat pencampuran
kekentalan (viskositas) kinetis aspal adalah 17020 centistokes dan untuk
pemadatan dibutuhkan viskostitas kinetis aspal sebesar 28030 centistokes.
Nilai kekentalan ini dapat dicapai pada rentang suhu tertentu yang sering
disebut sebagai suhu pencampuran dan suhu pemadatan. Kedua rentang suhu
ini dapat dicari dengan viskositas yang dapat dikembangkan untuk setiap jenis
aspal.

Gambar 1. Grafik hubungan antara suhu dengan viskositas

Tahapan pembuatan benda uji atau spesimen pengujian Marshall


a. Keringkan agregat pada suhu 105 110 oC minimum selama 4 jam, keluarkan
dari alat pengering (oven) dan tunggu sampai beratnya tetap.
b. Pisah-pisahkan agregat ke dalam fraksi-fraksi yang dikehendaki (sesuai spek)
dengan cara penyaringan.
c. Siapkan bahan untuk setiap benda uji yang diperlukan yaitu sebanyak 1100
gr sehingga menghasilkan tinggi benda uji kira-kira 63.5 mm 1.27 mm.
d. Pencampuran agragat agar sesuai dengan gradasi yang diinginkan dilakukan
dengan cara diambil nilai tengah dari batas aspek. Untuk memperoleh berat
agregat yang diperlukan dari masing-masing fraksi untuk membuat suatu benda
uji adalah dengan mengalikan nilai tengah tersebut terhadap total berat agregat.
e. Panaskan panci pencampur beserta agregat kira-kira 28oC di atas suhu
pencampuran untuk aspal padat, bila menggunakan aspal cair pemanasan
sampai 14oC di atas suhu pencampuran.

f. Tuangkan aspal yang sudah mencapai tingkat kekentalan sebanyak yang


dibutuhkan ke dalam agregat yang sudah dipanaskan tersebut, kemudian
aduklah dengan cepat, dengan tetap mempertahankan masih di dalam rentang
suhu pemadatan, sampai agregat terselimuti aspal secara merata.
g. Sementara itu, atau sebelumnya, perlu dipersiapkan alat untuk memadatkan,
yaitu dengan membersihkan perlengkapan cetakan benda uji serta bagian muka
penumbuk.
h. Letakkan cetakan di atas landasan pemadat dan tahan dengan pemegang
cetakan.
i. Letakkan selembar kertas saring atau kertas penghisap yang sudah digunting
menurut ukuran cetakan ke dalam dasar cetakan.
j. Masukkan seluruh campuran kedalam cetakan dan tusuk-tusuk campuran
keras-keras dengan spatula yang dipanaskan sebanyak 15 kali keliling
pinggirannya dan 10 kali dibagian tengah.
k. Siapkan alat pemadat dan lakukan pemadatan dengan menumbuk spesimen
dengan jumlah tumbukan sebanyak 35, 50, atau 70 yang disesuaikan dengan
jenis lalu lintas yang direncanakan.
l. Tumbukan dilakukan dengan tinggi jatuh 457,2 mm dan selama pemadatan
harus diperhatikan agar kedudukan sumbu palu pemadat tegak lurus pada alas
cetakan.
m. Lepaskan pelat alas berikut leher sambing dari cetakan benda uji, kemudian
cetakan yang berisi benda uji dibalikkan dan pasang kembali pelat berikut leher
tersambung pada cetakan yang dibalikkan tadi. Lakukaan penumbukan dengan
jumlah yang sama.
n. Lepaskan keping alas dan dinginkan sampai diperkirakan tidak akan terjadi
perubahan bentuk jika benda uji dikeluarkan dari mold. Untuk mempercepat
proses pendinginan, dapat digunakan kipas angin. Proses pendinginan biasanya
dilakukan sekitar 2-3 jam.
o. Keluarkan benda uji atau spesimen Marshall dari mold dengan hati-hati dan
kemudian letakkan spesimen permukaan yang rata dan biarkan sampai benarbenar dingin. Sebaiknya diamkan pada suhu ruang selama 24 jam.
p. Buat benda uji dengan variasi kadar aspal 5%, 5,5%, 6%, 6,5%,. Tiap kadar
aspal dibuat 3 benda uji, sehingga total benda uji berjumlah 12 buah.
6. Langkah Langkah Pengujian
a. Pengujian spesimen Marshall

Ada tiga tahap pengujian yang dilakukan dari metoda Marshall, yaitu tahap
pertama adalah melakukan pengukuran berat jenis, pengukuran stabilitas dan flow,
serta pengukuran kerapatan dan analisa rongga. Sebelum dilakukan pengujian
spesimen, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Benda uji harus bersih dari kotoran organik, minyak, kertas dan sebagainya.
2. Setiap benda uji diberi tanda pengenal yang mencirikan minimal jumlah aspal
yang diberikan.
3. Ukur tinggi masing-masing benda uji dengan menggunakan jangka sorong
dengan ketelitian 0,01 mm. tinggi benda uji adalah rata-rata dari tiga kali
pengukuran.
b. Pengukuran berat jenis campuran didasarkan pada ASTM D 2726
1. Timbang benda uji dan didapatkan berat benda uji kering.
2. Masukkan benda uji kedalam air bersuhu 25oC selama 3 sampai 5 menit
kemudian ditimbang untuk mendapatkan berat benda uji dalam air.
3. Angkat benda uji dari dalam air, selimuti dengan kain yang dapat menyerap air,
dan segera timbang untuk mendapatkan berat benda uji kondisi jenuh-kering
permukaan

(SSD).

Penyelimutan

dengan

kain

adalah

hanya

untuk

menghilangkan air yang berada di permukaan dan dilakukan dengan cepat.


Proses dari sejak pengambilan benda uji dari dalam air, menyelimutkan dengan
kain dan penimbangan sebaiknya dilakukan tidak lebih dari 30 detik.
4. Berat jenis curah (Bulk Specific Gravity) benda uji adalah Berat Benda Uji
Kering/(Berat Benda Uji Kondisi SSD-Berat Benda Uji dalam Air)
c. Pengukuran stabilitas dan flow
1. Rendam benda uji dalam bak perendam (water bath) selama 30-40 menit
dengan suhu tetap (601)OC.
2. Keluarkan benda uji dari bak perendam dan letakkan kedalam segmen, bawah
kepala penekan dengan catatan bahwa waktu yang diperlukan dari saat
diangkatnya benda uji dari bak perendam sampai tercapainya beban maksimum
tidak lebih dari 30 detik.
3. Pasang segmen atas di atas benda dan letakkan keseluruhannya dalam mesin
penguji.
4. Pasang arloji pengukur kelelehan (flow) pada kedudukannya diatas salah satu
batang penuntun atau atur kedudukan jarum penunjuk pada angka nol,
sementara selubung tangkai arloji (sleeve) dipegang teguh terhadap segmen
atas kepala penekan.

5. Naikkan kepala penekan berserta benda ujinya dinaikkan hingga menyentuh


alas cincin penguji, sebelum pembebanan diberikan.
6. Atur jarum arloji tekan pada kedudukan nol.
7. Berikan pembebanan pada benda uji dengan kecepatan tetap sekitar 50 mm per
menit sampai pembebanan maksimum tercapai, atau pembebanan menurun
seperti yang ditunjukkan oleh jarum arloji tekan dan catat pembebanan
maksimum.
8. Catat nilai pelelehan (flow) yang ditunjukkan oleh jarum arloji pengukur
pelelehan pada saat pembebanan maksimum tercapai.
7. Langkah Langkah Pengujian
a. Rumus-rumus yang digunakan dalam perhitungan
- Perhitungan Bulk Specific Gravity Agregat:
100
Agregat Kasar
Agregat Halus
Filler
+
+
BJ bulk Agregat Kasar BJ bulk Agregat Halus BJ Filler

Perhitungan Effective Specific Gravity Agregat:


100
Agregat Kasar
Agregat Halus
Filler
+
+
BJ efektif Agregat Kasar BJ efektif Agregat Halus BJ Filler

Perhitungan Bulk Spesific Gravity Campuran:


Berat BendaUji Kering
Berat BendaUji SSD Berat Benda Ujidalam Air

Berat Jenis Maksimum Campuran Teoritis (Max. Theoritical Specific


Gravity):

100
agregat dalam campuran aspal dalam campuran
+
BJ efektif agregat
BJ aspal

Volume Benda Uji Campuran:


Berat Benda Uji SSDBerat BendaUji Dalam Air

Berat Isi Benda Uji (Campuran):


Bulk SpesificGravity Campuran
Volume Benda Uji(Campuran)

Perhitungan Total Rongga dalam Campuran, VIM:


100 Berat Isi Benda Uji
100
Berat Jenis Maksimum Campuran Teoritis

Perhitungan jumlah rongga dalam agregat (VMA, void in tthe mineral


aggregate):
( 100Kadar Aspal thd Camp ) Bulk Specific Gravity Camp
100
Bulk Specific Gravity Agregat

Rongga terisi aspal, VFA (void filled with asphalt)


100 ( VMAVIM )
VFA=
VMA

b. Analisis data
- Koreksi nilai stabilitas perlu dilakukan jika tinggi benda uji tidak sama
-

dengan 63,5 mm (2 1/2) dengan menggunakan tabel koreksi (lihat tabel)


Hitunglah nilai rata-rata yang mewakili setiap nilai kadar aspal untuk nilai

stabilitas, flow, stabilitas/flow, berat isi campuran, VIM, VMA, dan VFA.
Buatlah grafik untuk masing-masing stabilitas, flow, stabilitas/flow, berat
isi campuran, VIM, VMA, dan VFA. Kecenderungan yang umum ada
grafik tersebut adalah sebagai berikut:
Nilai stabilitas naik dengan bertambahnya kadar aspal, dan akan
mencapai puncaknya pada suatu kadar aspal tertentu. Setelah itu

pertambahan kadar aspal akan menurunkan nilai stabilitas.


Nilai flow akan naik sesuai pertambahan kadar aspal.
Kurva untuk berat isi campuran kecenderungannya sama dengan kurva
untuk stabilitas, tetapi biasanya (tidak selalu) nilai maksimum untuk
berat isi akan diperoleh untuk kadar aspal yang sedikit lebih tinggi

daripada kadar aspal untuk stabilitas maksimum.


Kandungan rongga dalam campuran (VIM) akan menurun dengan

bertambahnya kadar aspal.


Kandungan rongga dalam agregat (VMA) akan turun ke suatu nilai
minimum kemudian akan naik lagi sesuai dengan pertambahan kadar

aspal.
Rongga yang terisi aspal (VFA) akan naik sesuai pertambahan kadar
aspal, karena VMA terisi oleh aspal.

Tabel 5. Tabel koreksi nilai stabilitas


Isi Benda Uji
(cm3)

Tebal Benda Uji


inci
mm

Angka Korelasi / Koreksi

200 213
214 225
226 237
238 250
251 264
265 276
277 289
290 301
302 316
317 328
329 - 340
341 - 353
354 - 367
368 - 379
380 - 392
393 - 405
406 - 420
421 - 432
433 - 443
444 - 456
457 - 470
471 - 482
483 - 495
496 - 508
509 - 522
523 - 535
536 - 546
547 - 559
560 - 573
574 - 585
586 - 598
599 - 610
611 - 625

1
1 1/16
1 1/8
1 3/16
1 1/4
1 5/16
1 3/8
1 7/16
1 1/2
1 9/16
1 5/8
1 11/16
1 3/4
1 13/16
1 7/8
1 15/16
2
2 1/6
2 1/8
1 3/16
2 1/4
1 5/16
2 3/8
2 1/16
2 1/2
2 9/16
2 5/8
2 11/16
2 3/4
2 13/16
2 7/8
2 15/16
3

25,4
27,0
28,6
30,2
31,8
33,3
34,9
36,5
38,1
39,7
41,3
42,9
44,4
46,0
47,6
49,2
50,8
52,4
54,0
55,6
57,2
58,7
60,3
61,9
63,9
64,0
65,1
66,7
68,3
71,4
73,0
74,6
76,2

5,56
5,00
4,55
4,17
3,85
3,57
3,33
3,03
2,78
2,50
2,27
2,07
1,97
1,79
1,67
1,56
1,47
1,39
1,32
1,25
1,19
1,14
1,09
1,04
1,00
0,96
0,93
0,89
0,86
0,83
0,81
0,78
0,76

Berdasarkan kriteria perencanaan maka di suatu nilai kadar aspal atau rentang nilai
kadar aspal yang sedemikian memenuhi kriteria yang ada. Kriteria yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Tabel 6. Kirteria Perencanaan Campuran

Lalulintas
Lalulintas
Lalulintas
Berat (2x75
Sedang (2x50
Riangan (2x35
tumb.)
tumb.)
tumb.)
Sifat Campuran
Maks
Maks
Min.
Min.
Min. Maks.
.
.
Stabilitas (kg)
550
450
350
Kelelehan (mm)
2,0
4,0
2,0
4,5
2,0
5,0
Stabilitas/kelelehan (kg/mm)
200
350
200
350
200
350
Rongga dalam campuran (%)
3
5
3
5
3
5
Indeks perendaman (%)
75
75
75
Persentase Minimum Rongga dalam Agregat (VMA)
Ukuran Maksimum Nominal Agregat Persentase Minimum Rongga dalam Agregat
No.16 (1,18 mm)
23,5
No.8 (2,36 mm)
21,0
No.4 (4,75 mm)
18,0
3/8 inch (9,50 mm)
16,0
inch (12,50 mm)
15,0
inch (19,00 mm)
14,0
1 inch (25,00 mm)
13,0
2 inch (37,50 mm)
12,0
2 inch (50,00 mm)
11,5
2 inch (63,00 mm)
11,0

Tanggal Pengujian
Dikerjakan

: 21 Oktober 28 Oktober 2015


: Kelompok 3

Tabel 7. Hasil pengujian Marshall

Gambar 2.10. Grafik hubungan Antara Kadar Aspal dengan Berat Jenis

Gambar 2.11. Grafik hubungan Antara Kadar Aspal dengan


Rongga dalam campuran

Gambar 2.12. Grafik hubungan Antara Kadar Aspal dengan


Rongga terisi aspal

Gambar 2.13. Grafik hubungan Antara Kadar Aspal dengan


Stabilitas

Gambar 2.14. Grafik hubungan Antara Kadar Aspal dengan


kelelehan

Gambar 2.15. Grafik Kadar aspal optimum

Tabel 2.34 Rekapitulasi hasil pengujian

No

Kadar Aspal
(%)

Berat Isi
(gr/cm3)

Rongga
Dalam
Campuran
(%)

Rongga
Terisi
Aspal (%)

Stabilitas
(kg)

Kelelehan
(mm)

1
2
3
4

5
5,5
6
6,5

2,144
2,162
2,229
2,243

7,93
6,56
2,98
1,73

55,03
61,62
78,43
85,69

1371
1737
1813
1770

1,63
2,80
3,33
4,73

Tabel 2.35 Tabel kadar aspal optimum


No

Data Marshall

Data Spesifik

1
2
3
4
5

Berat Isi (gr/cm3)


Rongga dalam campuran (%)
Rongga terisi aspal (%)
Stabilitas (Kg)
Flow (mm)

3-5
75 - 85
650
2 - 4,5

Hasil Pengujian
Min.
Maks
5,12
6,21
5,70
6,17
6,00
6,40
5,00
6,50
5,20
6,47

KAO
Min Maks.

6,1

Ratarata

6,05

Kesimpulan:
Setelah melakukan perencanaan campuran dengan Metoda Bina Marga, dan dilakukan
pengujian marshall, didapatkan nilai kadar aspal optimum minimal 6% dan maksimum 6,1%,
sehingga didapat nilai rata-rata sebesar 6,05%. Berdasarkan hasil uji yang dilaksanakan,
kadar aspal optimum tersebut memenuhi syarat sebagai bahan pencampuran dalam konstruksi
jalan raya.

1. Lampiran

Gambar 1. Sieve and pan

Gambar 2. Timbangan

Gambar 3. Alat pengeluar benda uji

Gambar 4. Mesin penumbuk manual

Gambar 5. Alat marshall

Gambar 6. Cetakan benda uji

Gambar 7. Waterbath

P : oven, wadah
C : oven dalam suhu 105-110C 4 jam

Pisahkan agregat sesuai fraksi/tertahan no saringan

Persiapan Cetakan

Persiapan Benda Uji

Oven Agregat Campuran

Gambar 8. Termometer

Siapkan Alat Pemadat

Bersihkan alat
P: solar, lap

P: wadah, ayakan, timbangan


alatgram
pencetak di landasan pemadat
C: pisahkan setiap agregat yg tertahan, lalu timbang untuk agregat campuran dg total beratTaruh
1100

Panaskan Agregat Campuran


P : wajan, termometer
C : masak agregat mencapai suhu 170C

Masukkan aspal ke dalam campuran agregat


C: aspal harus dalam suhu 140C

Masukkan bahan uji ke alat pemadat


C: bahan uji bersuhu 140C

Diagram Alir Pengujian Marshall


Tumbuk Benda Uji
C: tusuk benda uji sebanyak 15 dan 10 kali lalu tumbuk benda uji sebanyak 50 kali bolak balik

Lepaskan benda uji dari mold

Keterangan :
P : Peralatan
C : Catatan

P: alat pelepas benda uji dari mold


C: pastikan benda uji sudah padat dan tidak berubah bentuk, biasanya didiamkan 24jam

Pengujian

Ukur Tinggi Benda Uji


P : jangka sorong
C : ukur benda uji di 5 bagian lalu di rata-rata

Timbang Benda Uji (Berat Kering)

Masukkan benda uji dalam air (Berat Dalam Air)


C : air dalam suhu 25C , rendam selama 3-5 menit lalu timbang

Angkat Benda Uji dari Air dan timbang (Berat SSD)


C : angkat lalu lap benda uji untuk menghilangkan air yang menempel

Rendam Benda Uji dalam Water Bath


P : water bath
C : rendam sekitar 30-40 menit dengan suhu 65C

Angkat dan taruh di Alat Marshall

Pasang arloji pengukur kelelehan dan taruh benda uji tepat di bawah cincin penguji

Beri pembebanan pada benda uji dg kec 50 mm/menit

Perhitungan dan

Pencatatan Data
C : catat hasil angka stabilitas dan flow

Perhitungan dan Pelaporan Data


C : Marshall Quotient

elaporan Data

No.

Gambar

Keterangan
Memisahkan agregat ke dalam
fraksi-fraksi yang dikehendaki
(sesuai spek) dengan cara
penyaringan

Menyiapkan bahan untuk setiap


benda uji yang diperlukan yaitu
sebanyak 1200 gr sehingga
menghasilkan tinggi benda uji
kira-kira 63.5 mm 1.27 mm.
Pencampuran agragat agar sesuai
dengan gradasi yang diinginkan
dilakukan dengan cara diambil
nilai tengah dari batas aspek.
Untuk memperoleh berat agregat
yang diperlukan dari masingmasing fraksi untuk membuat
suatu benda uji adalah dengan
mengalikan nilai tengah tersebut
terhadap total berat agregat
Memanaskan panci pencampur
beserta agregat kira-kira 28oC di
atas suhu pencampuran untuk
aspal padat, bila menggunakan
aspal cair pemanasan sampai
14oC di atas suhu pencampuran
Menuangkan aspal yang sudah
mencapai tingkat kekentalan
sebanyak yang dibutuhkan ke
dalam agregat yang sudah
dipanaskan tersebut, kemudian
aduklah dengan cepat, dengan
tetap mempertahankan masih di
dalam rentang suhu pemadatan,
sampai agregat terselimuti aspal
secara merata.

Mempersiapkan alat untuk


memadatkan, yaitu dengan
membersihkan perlengkapan
cetakan benda uji serta bagian
muka penumbuk
Meletakkan cetakan di atas
landasan pemadat dan tahan
dengan pemegang cetakan.
Meletakkan selembar kertas
saring atau kertas penghisap yang
sudah digunting menurut ukuran
cetakan ke dalam dasar cetakan
Memasukkan seluruh campuran
kedalam cetakan dan tusuk-tusuk
campuran keras-keras dengan
spatula yang dipanaskan sebanyak
15 kali keliling pinggirannya dan
10 kali dibagian tengah
Menyiapkan alat pemadat dan
lakukan
pemadatan
dengan
menumbuk spesimen dengan
jumlah tumbukan sebanyak 35,
50, atau 70 yang disesuaikan
dengan jenis lalu lintas yang
direncanakan.
Tumbukan dilakukan dengan
tinggi jatuh 457,2 mm dan selama
pemadatan harus diperhatikan
agar kedudukan sumbu palu
pemadat tegak lurus pada alas
cetakan.
Melepaskan pelat alas berikut
leher samping dari cetakan benda
uji, kemudian cetakan yang berisi
benda uji dibalikkan dan pasang
kembali pelat berikut leher
tersambung pada cetakan yang
dibalikkan tadi. Lakukaan
penumbukan dengan jumlah yang
sama.
Melepaskan keping alas dan

dinginkan sampai diperkirakan


tidak akan terjadi perubahan
bentuk jika benda uji dikeluarkan
dari mold. Untuk mempercepat
proses
pendinginan,
dapat
digunakan kipas angin. Proses
pendinginan biasanya dilakukan
sekitar 2-3 jam.
Mengeluarkan benda uji atau
spesimen Marshall dari mold
dengan hati-hati dan kemudian
letakkan spesimen permukaan
yang rata dan biarkan sampai
benar-benar dingin. Kemudian
diamkan pada suhu ruang selama
24 jam

Pengujian Marshall
Benda uji harus bersih dari kotoran organik,
minyak, kertas dan sebagainya.
Setiap benda uji diberi tanda pengenal yang
mencirikan minimal jumlah aspal yang
diberikan
Ukur tinggi masing-masing benda uji dengan
menggunakan jangka sorong dengan
ketelitian 0,01 mm. tinggi benda uji adalah
rata-rata dari tiga kali pengukuran
Pengukuran berat jenis
Timbang benda uji dan didapatkan berat
benda uji kering
Masukkan benda uji kedalam air bersuhu
25oC selama 3 sampai 5 menit kemudian
ditimbang untuk mendapatkan berat benda
uji dalam air.
Angkat benda uji dari dalam air, selimuti
dengan kain yang dapat menyerap air, dan

segera timbang untuk mendapatkan berat


benda uji kondisi jenuh-kering permukaan
(SSD). Penyelimutan dengan kain adalah
hanya untuk menghilangkan air yang berada
di permukaan dan dilakukan dengan cepat.
Proses dari sejak pengambilan benda uji dari
dalam air, menyelimutkan dengan kain dan
penimbangan sebaiknya dilakukan tidak lebih
dari 30 detik.

Berat jenis curah (Bulk Specific Gravity)


benda uji adalah Berat Benda Uji Kering/
(Berat Benda Uji Kondisi SSD-Berat Benda
Uji dalam Air)

Pengukuran Stabilitas dan Flow


Merendam benda uji dalam bak perendam
(water bath) selama 30-40 menit dengan
suhu tetap (601)OC.
Mengeluarkan benda uji dari bak perendam
dan letakkan kedalam segmen, bawah kepala
penekan dengan catatan bahwa waktu yang
diperlukan dari saat diangkatnya benda uji
dari bak perendam sampai tercapainya beban
maksimum tidak lebih dari 30 detik.
Memasang segmen atas di atas benda dan
letakkan keseluruhannya dalam mesin
penguji
Memasang arloji pengukur kelelehan (flow)
pada kedudukannya diatas salah satu batang
penuntun atau atur kedudukan jarum
penunjuk pada angka nol, sementara
selubung tangkai arloji (sleeve) dipegang
teguh terhadap segmen atas kepala penekan
Menaikkan kepala penekan berserta benda
ujinya dinaikkan hingga menyentuh alas
cincin penguji, sebelum pembebanan

diberikan dan mengatur arloji tekan pada


kedudukan nol.
Berikan pembebanan pada benda uji dengan
kecepatan tetap sekitar 50 mm per menit
sampai pembebanan maksimum tercapai,
atau pembebanan menurun seperti yang
ditunjukkan oleh jarum arloji tekan dan catat
pembebanan maksimum.

Mencatat nilai pelelehan (flow) yang


ditunjukkan oleh jarum arloji pengukur
pelelehan pada saat pembebanan maksimum
tercapai.