Anda di halaman 1dari 18

PENDEKATAN FILOSOFIS DALAM KAJIAN

ISLAM
BAB I
PENDAHULUAN
A. PENDAHULUAN
Islam yang kita kenal dan yakini selama ini sebagai agama yang akan membawa kita kepada
kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun apakah Islam yang kita kenal dan yakini itu memang
begitu adanya atau banyak hal yang pada hakikatnya tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya
diajarkan Nabi Muhammad SAW, sebagai penyampai wahyu dari Allah SWT. Berbagai
pertanyaan menelisik tentang Islam masih sering bergelayut di pikiran kita.
Islam bagaikan sebuah bola yang mengapung di atas air, permukaannya yang menyentuh air
hanya sepersepuluh, kita tidak bisa mengetahui bola itu secara utuh hanya dari sepersepuluh
yang mengapung di atas air tersebut. Begitu pula dengan Islam, Islam bukan monodimensi tapi
multidimensi, jika ingin memahaminya secara menyeluruh walau kelak tidak akan pernah
mencapai finalitas keimanan kita, tetapi usaha untuk memahaminya itu lebih penting, kita perlu
memahami Islam melalui berbagai dimensi dan dengan berbagai pendekatan. Salah satunya
dengan pendekatan filosofis.
Pendekatan filosofis dalam kajian Islam, berusaha untuk sampai kepada kesimpulankesimpulan yang universal dengan meneliti akar permasalahannya. Metode ini bersifat
mendasar dengan cara radikal dan integral, karena memperbincangkan sesuatu dari segi esensi
(hakikat sesuatu). Harun Nasution mengemukakan, bahwa berfilsafat intinya adalah berfikir
secara mendalam, seluas-luasnya dan sebebasbebasnya, tidak terikat kepada apapun, sehingga
sampai kepada dasar segala dasar.[1]
Menggunakan pendekatan filosofis atau filsafat dalam mengkaji Islam, ibarat menjadikan
filsafat sebagai pisau analisis untuk membedah Islam secara mendalam, integral dan
komprehensif untuk melahirkan pemahaman dan pemikiran tentang Islam yang
senantiasashalih fi kulli zaman wal makan (relevan pada setiap waktu dan ruang), karena
dengan pendekatan filosofis, sumber-sumber otentik ajaran Islam digali dengan menggunakan
akal, yang menjadi alat tak terpisahkan dalam proses penggunaan metode ijtihad, tanpa lelah
tak kunjung henti.
Dan pendekatan filosofis berperan membuka wawasan berpikir umat untuk menyadari
fenomena perkembangan wacana keagamaan kontemporer yang menyuarakan nilai-nilai
keterbukaan, pluralitas dan inklusivitas. Studi filosofis atau filsafat sebagai pilar utama
rekonstruksi pemikiran dapat membongkar formalisme agama dan kekakuan pemahaman
agama atau dalam istilah M. Arkoun sebagai taqdis al-afkar at-diniyyah, sebagai salah satu
sumber ekslusivisme agama dan kejumudan umat. Salah satu problem krusial pemikiran dan
pemahaman keagamaan sekarang ini, misalnya, adalah perumusan pemahaman agama yang
dapat mengintegrasikan secara utuh visi Ilahi dan visi manusiawi tanpa dikotomi sedikitpun. [2]
Mengacu pada pendahuluan diatas, maka makalah ini akan membahas pengertian pendekatan
filosofis, pola dan metode pendekatan filosofis dalam kajian Islam, model pendekatan filosofis
dalam kajian Islam dan pendekatan filosofis dalam kajian Islam.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari pendekatan filosofis?
2. Bagaimana pola dan metode pendekatan filosofis dalam kajian Islam?

3. Bagaimana model pendekatan filosofis dalam kajian Islam?


4. Bagaimana pendekatan filosofis dalam kajian Islam?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Mengetahui pengertian dari pendekatan filosofis.
2. Menjelaskan pola dan metode pendekatan filosofis dalam kajian Islam.
3. Menjelaskan model pendekatan filosofis dalam kajian Islam.
4. Menjelaskan pendekatan filosofis dalam kajian Islam.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PENDEKATAN FILOSOFIS
Kata filosof berasal dari kata filsafat dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua
kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah,
kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara
etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Plato menyebut Socrates
sebagai philosophos (filosof) dalam pengertian pencinta kebijaksanaan. Kata falsafahberasal
dari bahasa Arab yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu
pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal
dan hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal
sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersifat spiritual.[3]
Dan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta mengartikan filsafat sebagai
pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan
sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran
arti"adanya" sesuatu.[4]
Pengertian filsafat yang umumnya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan oleh Sidi
Gazalba. Menurutnya, filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal dan
universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu
yang ada.[5] Dan menurut Rene Descartes, yang dikenal sebagai "Bapak Filsafat Modern",
filsafat baginya adalah merupakan kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan
manusia menjadi pokok penyelidikan.[6]
Dari berbagai definisi di atas, dapat diketahui bahwa filsafat pada dasarnya adalah pertanyaan
atas segala hal yang "ada". Pertanyaan akan muncul tentu dengan berpikir, berpikir pasti
menggunakan akal. Dan filsafat juga bisa dikatakan sebagai upaya menjelaskan inti, hakikat
atau hikmah mengenai segala sesuatu yang ada dengan memanfaatkan atau memberdayakan
secara penuh akal budi manusia yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama,
dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan
dipahami secara seksama. Pendekatan filosofis yang demikian sebenarnya sudah banyak
digunakan oleh para ahli. Misalnya dalam hikmah al-tasyri wa falsafatuhu oleh Muhammad
Al-Jurjawi, di dalam buku tersebut ia berusaha mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik
ajaran-ajaran agama Islam.[7]
Ajaran agama dalam mengajarkan agar shalat berjamaah. Tujuannya antara lain agar seseorang
merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Dengan mengerjakan

puasa misalnya agar seseorang dapat merasakan lapar dan menimbulkan rasa iba kepada
sesamanya yang hidup serba kekurangan, dan berbagai contoh lainnya.
Dalam Islam ada dua inti dari segala sesuatu yakni sesuatu yang bersifat Ke-Tuhanan (Ilahi),
yang bersumber dari Al-Qur'an, As-Sunnah dan berbagai Kitab Allah SWT. Ia bersifat muthlak.
Dan yang kedua adalah yang bersifat kemanusiaan (insani), berbentuk fiqh atau pemahaman
manusia, kesan di otak manusia yang muncul dari berbagai teks yang dia baca dan alami
(pengalaman) atau latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial, psikologi dan lain sebagainya.
Bahkan Ibnu Khaldun menambahkan satu aspek yakni iklim, kemudian inilah yang dinamakan
Historisitas Keagamaan. Ia lalu menjadi tafsir atau perspektif (setiap individu beragama).
Filsafat sebagai salah satu bentuk metodologi pendekatan keilmuan, sama halnya dengan
cabang keilmuan yang lain.[8] Sering kali dikaburkan dan dirancukan dengan paham
ataualiran-aliran filsafat tertentu seperti rasionalisme, eksistensialisme, pragmatisme, dan
lain-lain. Ada perbedaan antara kedua wilayah tersebut, bahwasanya wilayah pertama bersifat
keilmuan, open-ended, terbuka dan dinamis. Sedangkan wilayah kedua bersifat ideologis,
tertutup dan statis. Yang pertama bersifat inklusif (seperti sifat pure sciences), tidak bersekatsekat dan tidak terkotak-kotak, sedang yang kedua bersifat ekslusif (seperti halnya applied
sciences), seolah-olah terkotak-kotak dan tersekat-sekat oleh perbedaan tradisi, kultur, latar
belakang pergumulan sosial dan bahasa.[9]
Siapa pun yang bergerak pada wilayah ''applied sciences'' pada dasarnya harus dibekali
persoalan-persoalan dasar yang digeluti oleh ''pure sciences'', sedang yang bergerak pada
wilayah ''pure sciences'', tidak harus tahu dan menjadi expert pada setiap wilayah ''applied
sciences''.[10] Cara berpikir dan pendekatan kefilsafatan yang pertama, yakni yang bersifat
keilmuan, open-ended, terbuka, dinamis dan inklusif yang tepat dan cocok untuk diapreasiasi
dan diangkat kembali ke permukaan kajian keilmuan.
Filsafat sebagai pendekatan keilmuan setidaknya ditandai antara lain dengan tiga ciri, yaitu
sebagai berikut:[11]
1. Kajian
Telaah dan penelitian filsafat selalu terarah kepada pencarian atau perumusan ide-ide dasar
atau gagasan yang bersifat mendasar-fundamental (fundamental ideas) terhadap objek
persoalan yang dikaji. Ide atau pemikiran fundamental biasanya diterjemahkan dengan istilah
teknis kefilsafatan sebagai al-falsafatu al-ula, substansi, hakekat atau esensi.Pemikiran
fundamental biasanya bersifat umum (general), mendasar dan abstrak.
2. Pengenalan
Pendalaman persoalan-persoalan dan isu-isu fundamental dapat membentuk cara berpikir
kritis (critical thought).
3. Kajian dan pendekatan falsafati
Kajian dan pendekatan falsafati yang bersifat seperti dua hal diatas, akan dapat membentuk
mentalitas, cara berpikir dan kepribadian yang mengutamakan kebebasan intelektual
(intellectual freedom), sekaligus mempunyai sikap toleran terhadap berbagai pandangan dan
kepercayaan yang berbeda serta terbebas dari dogmatisme dan fanatisme.
Mengkaji Islam secara filosofis, akan menjadikan segala sesuatu disandarkan kepada konteks
baik itu berupa kebaiksan sosial, local wisdom, social impact, rasionalitas dan lain-lain ().
Ia juga akan bersandar pada analisa rasio manusia, yang akan bersifat relatif. Kegiatan
berfilsafat menurut Louis O. Kattsoff adalah kegiatan berpikir secara: [12]
1. Mendalam: dilakukan sedemikian rupa hingga dicari sampai ke batas akal tidak sanggup lagi.
2. Radikal: sampai ke akar-akar nya sehingga tidak ada lagi yang tersisa.
3. Sistematik: dilakukan secara teratur dengan menggunakan metode berpikir tertentu.
4. Universal: tidak dibatasi hanya pada satu kepentingan kelompok tertentu, tetapi menyeluruh.
Filsafat dalam segala usaha nya untuk mengetahui berbagai hakikat dari segala sesuatu, begitu
pula ketika ia dipakai dalam mengkaji Islam, tidak selalu mencapai hasil yang maksimal, yang

1.
2.
3.
4.
5.

B.

1.

2.

1.

2.

3.

4.

terpenting adalah upaya (memanfaatkan hasil usaha), yang akan membuat suatu perubahan ke
arah yang lebih baik lagi atau kemajuan. Manfaat yang bisa didapat ketika seseorang
menggunakan pendekatan filosofis dalam kajian nya adalah sebagai berikut: [13]
Agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara
seksama.
Setiap individu dapat memberi makna terhadap segala sesuatu yang dijumpainya dan
mengambil hikmah sehingga ketika melakukan ibadah atau apa pun, ia tidak mengalami
degradasi spriritualitas yang menimbulkan kebosanan.
Membentuk pribadi yang selalu berpikir kritis (critical thought).
Adanya kebebasan intelektual (intellectual freedom).
Membentuk pribadi yang selalu toleran.

POLA PENDEKATAN FILOSOFIS DALAM KAJIAN ISLAM


Menggunakan pendekatan filosofis dalam kajian Islam dapat dideskripsikan dalam dua
pola:[14]
Upaya ilmiah yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui dan memahami serta
membahas secara mendalam seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam,
baik ajaran, sejarah maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan
sehari-hari, sepanjang sejarahnya dengan menggunakan paradigma dan metodologi disiplin
filsafat.
Upaya ilmiah yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui dan memahami serta
membahas nilai-nilai filosofis (hikmah) yang terkandung dalam doktrin-doktrin ajaran Islam
yang bersumber pada Al-Qur'an dan As-Sunnah yang selanjutnya dilaksanakan dalam praktekpraktek keagamaan.
Untuk menjelaskan pola yang pertama, ada baiknya jika dijelaskan terlebih dahulu
metode yang dapat ditempuh dalam kajian Islam melalui pendekatan filosofis. Sebagai suatu
metode, pengembangan suatu ilmu, dalam hal ini kajian Islam, memerlukan empat hal sebagai
berikut:[15]
Bahan
Bahan-bahan yang akan digunakan untuk pengembangan didiplin ilmu. Dalam hal ini dapat
berupa bahan tertulis yaitu, Al-Qur'an dan As-Sunnahserta pendapat para ulama atau filosof. Dan
bahan yang diambil dari pengalaman empirik dalam praktek keberagamaan.
Metode pencarian bahan
Metode pencarian bahan, untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan
melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur
sedemikian rupa.
Metode pembahasan,
Metode pembahasan, untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analitis-sintetis,
yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara
induktif, deduktif, dan analisa ilmiah.
Pendekatan.
Pendekatan biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan
tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini

C.

1.

a.
b.
c.

a.
b.

pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma
(cara pandang) yang digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena. Hal ini selanjutnya erat
hubungannya dengan disiplin keilmuan.
Sedangkan dalam pola kedua, pendekatan filosofis dilakukan untuk mengurai nilai-nilai
filosofis atau hikmah yang terkandung dalam doktrin-doktrin ajaran Islam yang terdapat dalam
Al-Qur'an dan As-Sunnah, seperti hikmah dalam penerapan syariat Islam atau hikmah dalam
perintah tentang shalat, puasa, haji, dan sebagainya. Pola ini banyak ditempuh oleh beberapa
ulama, antara lain Imam As-Syatibi melalui karyanya: Al-Muwafaqatu fi Ushul Al-Syariati.
Pola pendekatan tersebut diharapkan agar seseorang tidak akan terjebak pada
pengamalan agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah
tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari pengamalan
agama tersebut hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun
Islam yang kelima, dan berhenti sampai di situ. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai
spiritual yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak
berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengamalan agama yang bersifat formal. Filsafat
mempelajari segi batin yang bersifat esoterik, sedangkan bentuk (forma) memfokuskan segi
lahiriah yang bersifat eksoterik.[16]
MODEL PENDEKATAN FILOSOFIS DALAM KAJIAN ISLAM
Jamali Sahrodi menyebutkan setidaknya ada tiga jenis atau model yang termasuk
pendekatan filsafat modern (kontemporer) yang digunakan dalam kajian Islam, yaitu: pendekatan
hermeneutika, pendekatan teologi-filosofis, dan pendekatan tafsir falsafi.
Pendekatan Hermeneutik
Kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berartimenafsirkan,
dan dari kata hermeneuein ini dapat ditarik kata benda hermenia yang berarti penafisran atau
interprestasi dan hermeneutes yang berarti interpreter (penafsir). Kata ini sering diasosiasikan
dengan nama salah seorang dewa Yunani, Hermes yang dianggap sebagai utusan para dewa bagi
manusia. Hermes adalah utusan para dewa di langit untuk membawa pesan kepada manusia.[17]
Hermeneutika secara terminologis dapat didefinisikan sebagai tiga hal:[18]
Mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata, menerjemahkan dan bertindak sebagai
penafsir.
Usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam
bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca.
Pemindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas, diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih
jelas.
Fungsi hermeneutika adalah untuk mengetahui makna dalam kata, kalimat dan teks.
Hermeneutika juga berfungsi menemukan instruksi dari simbol. Menurut Josef Bleicherr,
hermeneutika dapat dipetakan menjadi tiga bagian, yaitu:[19]
Hermeneutika sebagai metodologi.
Hermeneutika sebagai filsafat/filosofis.

c.

Hermeneutika sebagai kritik.


Salah satu kajian penting hermeneutik adalah bagaimana merumuskan relasi yang pas
antara nash (text), penulis atau pengarang (author), dan pembaca (reader)dalam dinamika
pergumulan penafsiran/pemikiran nash termasuk dalam nash-nashkeagamaan dalam Islam. Perlu
disadari, semestinya kekuasaan (otoritas) atas nash adalah hanya mutlak menjadi hak Tuhan.
Hanya Tuhan sajalah yang (author) yang tahu persis apa yang sebenarnya Dia kehendaki dan
maui dalam firman-firman-Nya sebagaimana tertuang dalam nash. Manusia sebagai
penafsir (reader), hanya mampu memosisikan dirinya sebagai penafsir atas nash yang
diungkapkan Tuhan dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Dengan demikian,
penafsiran yang paling relevan dan paling benar mestinya hanyalah keinginan dan kehendak si
pengarang, dan bukan terletak di tangan penafsir.[20]
Istilah hermeneutika dalam pengertian teori penafsiran kitab suci ini pertama kali
dimunculkan oleh J.C. Dannhauer dalam bukunya Hermeneutica Sacra Siva Methodus
Expondarum Sacrarum Litterarum. Istilah hermeneutika dalam hal ini dimaksudkan sebagai
kegiatan memahami kitab-kitab suci yang dilakukan para agamawan. Kata hermeneutika dalam
pengertian ini muncul pada abad 17-an, meskipun sebenarnya kegiatan penafsiran dan
pembicaraan tentang teori-teori penafsiran, baik itu terhadap kitab suci, sastra maupun dalam
bidang hukum, sudah berlangsung sejak lama. Dalam agama Yahudi misalnya, tafsir terhadap
teks-teks Taurat dilakukan oleh para ahli kitab, yaitu mereka yang membaktikan hidupnya untuk
mempelajari dan menafsirkan hukum-hukum agama yang dibawa oleh para Nabi. Berbeda
dengan kaum Yahudi, awal tradisi Kristen dengan pengalaman akan Yesus yang dianggap wafat
dan bangkit lagi, juga menerapkan tafsir pada teks-teks Perjanjian Lama, dimana tafsir tersebut
bisa dikategorikan hermeneutika, karena Perjanjian Lama dipahami secara Kristiani dan hasilnya
kemudian disebut Perjanjian Baru.[21]
Pada perkembangan selanjutnya ketika memasuki zaman modern, munculah Friedrich
Ernst Daniel Schleiermacher, seorang pendeta yang nantinya dianggap sebagai bapak hermeutika
modern karena ''melahirkan kembali'' hermeneutika melalui konsep hermeneutikanya yang
disebut sebagai Hermeneutika Romantik.[22]
Istilah hermeneutika sendiri dalam sejarah keilmuan Islam, khususnya tafsir AlQur'an klasik, memang tidak ditemukan. Istilah tersebut popular justru dalam masa kemunduran.
Meski demikian, menurut Farid Esack, sebagaimana dikutip Fakhruddin Faiz, dalam
bukunya Qur`an: Liberation and Pluralism, praktik hermeneutika sebenarnya telah dilakukan
oleh umat Islam sejak lama, khususnya ketika menghadapi Al-Qur'an. Bukti dari hal itu adalah:
[23]
a. Problematika Hermeneutik senantiasa dialami dan dikaji, meski tidak ditampilkan secara
definitif. Hal ini terbukti dari kajian-kajian mengenai asbabun nuzul dannasakh-mansukh.
b. Perbedaan antara komentar komentar yang aktual terhadap Al-Qur'an (tafsir) dengan aturan,
teori atau metode penafsiran telah ada sejak mulai munculnya literatur-literatur tafsir yang
disusun dalam bentuk ilmu tafsir.

c.

Tafsir tradisional itu selalu dimasukkan dalam kategori-kategori, misalnya tafsir syiah, tafsir
mu'tazilah, tafsir hukum, tafsir filsafat, dan lain sebagainya. Hal itu menunjukan adanya
kelompok-kelompok tertentu, ideologi-ideologi tertentu, periode-periode tertentu, maupun
horisonhorison tertentu dari tafsir.
Dalam dunia pemikiran Islam, Hassan Hanafi yang pertama kalimemperkenalkan
Hermeneutika dalam bukunya berjudul: Les Methods d'Exeges, Essai sur La Science de
Fordements de la Comprehension, ilm Ushul Al-Fiqh.[24] Selain Hassan Hanafi, di Mesir ada
Muhammad Abduh dan Nasr Hamid Abu Zayd tokoh islam yang menggeluti kajian
hermeneutika, di India, Ahmad Khan, Amir Ali dan Ghulam Ahmad Parves, yang
berusaha melakukan demitologisasi konsep-konsep dalam Al- Qur'an yang dianggap bersifat
mitologis, di Aljazair, muncul Mohammed Arkoun yang menggagas ide cara baca semiotik
terhadap Al-Qur'an, kemudian Fazlurrahman yang merumuskan hermeneutika semantik terhadap
Al-Qur'an, dan kemudian dikenal sebagaidouble movement.[25]
2. Pendekatan Teologis Filosofis
Kajian keislaman dengan menggunakan pendekatan teologi-filosofis bermula dari
kemunculan pemahaman rasional di kalangan mutakallimin (ahli kalam) di kalangan umat Islam
yaitu Mazhab Mu'tazilah.
Mu'tazilah menyodorkan konsep-konsep teologi (ilmu kalam) dengan berbasiskan
metodologi dan epistemologi disiplin filsafat Yunani yang pada saat itu tengah berpenetrasi
dalam perkembangan intelektual dunia Islam (masa pemerintahan Bani Abbas) akibat proyek
penterjemahan ilteraturliteratur Yunani yang dilakukan para sarjana muslim pada kurun waktu
tersebut. Kehadiran mazhab teologi rasional ini berupaya memberikan jawaban-jawaban dengan
pendekatan filosofis atas doktrin-doktrin pokok Tauhid yang pada saat itu tengah menjadi materimateri perdebatan dalam blantika pemikiran Islam.
Kemunculan gerakan Mu'tazilah merupakan tahap yang amat terpenting dalam sejarah
perkembangan intelektual Islam. Meskipun bukan golongan rasionalis murni, namun jelas
mereka adalah pelopor yang amat bersungguhsungguh untuk digiatkannya pemikiran tentang
tentang ajaran-ajaran pokok Islam secara lebih sistematis. Sikap mereka yang rasionalistik
dimulai dengan titik tolak bahwa akal mempunyai kedudukan yang sama dengan wahyu dalam
memahami agama. Sikap ini adalah konsekwensi logis dari dambaan mereka kepada pemikiran
sistematis. Kebetulan pula pada masa-masa akhir kekuasaan Umayyah itu sudah terasa adanya
gelombang pengaruh Hellenisme dikalangan umat Islam. Karena pembawa rasional mereka,
kaum Mu'tazilah merupakan kelompok pemikir muslim yang dengan cukup antusias menyambut
invasi filsafat itu. Meskipun terdapat berbagai kesenjangan untuk memberi sistem kepada faham
Mu'tazilah tingkat awal itu, namun tesis-tesis mereka jelas merupakan sekumpulan dogma yang
ditegakkan di atas prinsip-prinsip rasional tertentu. Karena berpikir rasional dan sistematis itu
sesungguhnya tuntutan alami agama Islam, maka penalarannya, di bidang lain, juga
menghasilkan pemikiran yang rasional dan sistematis pula, seperti di bidang hukum syari'ah

yang dirintis oleh Imam Syafi'i, perumus pertama prinsip-prinsip jurisprudensi (Ushul Al-Fiqh).
[26]
Pada era pemikiran Islam kontemporer, kajian Islam dengan pendekatan teologifilosofis banyak dilakukan oleh beberapa tokoh orientalis (outsider) seperti dilakukan oleh W.
Montgomery Watt melalui karyanya, Free Will and Predestination in Early Islam (1948), Islamic
Theology and Theology (1960), dan The Formative Period of Islamic Thought (1973). Sumbersumber kajian kalam (teologi oleh para sarjana barat banyak memanfaatkan literatur teologi
Islam klasik seperti karya-karya Al-Syahrastani seperti Al-Milal wa Al-Nihal, Al-Baghdadi, AlFarq Bayn Al-Firaq dan Al-Asy'ari, Maqalat Al-Islamiyyin.[27]
3. Pendekatan Tafsir Falsafi
Al-Dzahabi, sebagaimana dikutip Jamali Sahrodi, menjelaskan bahwa tafsir falsafi adalah
penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an berdasarkan pendekatan-pendekatan filosofis, baik yang berusaha
untuk mengadakan sintesis dan sinkretisasi antara teori-teori filsafat dengan ayat-ayat Al-Qur'an
maupun yang berusaha menolak teori-teori filsafat yang dianggap bertentangan dengan ayat-ayat
Al-Qur'an. Timbulnya tafsir jenis ini tidak terlepas dari perkenalan umat Islam dengan filsafat
Hellenisme yang kemudian merangsang mereka untuk menggelutinya kemudian menjadikannya
sebagai alat untuk menganalisis ajaran-ajaran Islam, khususnya Al-Qur'an.[28]
Tafsir falsafi juga diartikan sebagai suatu tafsir yang bercorak filsafat. Dalam
menjelaskan makna suatu ayat, mufassir mengutip atau merujuk pendapat para filsuf. Persoalan
yang diperbincangkan dalam suatu ayat dimaknai atau didefinisikan berdasarkan pandangan para
ahli filsafat. Makna suatu ayat ditakwilkan sehingga sesuai dengan pandangan mereka.[29]
Ibnu Sina adalah salah satu contoh tokoh yang berkecenderungan tafsir jenis ini ketika
menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an. Salah satu karyanya dalam bidang ini adalah al-isyarat wal
tanbihat: al-qismu tsani al-taii'ah, salah satu contoh dari tafsir falsafi Ibnu Sina, dalam hal
penafsiran filosofis, sebagai berikut:[30]








Artinya:
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti
sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan)
kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak
dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu)
dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun
tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ibnu Sina mengatakan bahwa Nur mempunyai makna ganda, denotatif dan konotatif.
Makna denotatifnya adalah penerangan yang sempurna, sedangkan makna konotatfnya adalah
kebaikan dan faktor penyampai kepada kebaikan. Makna yang dimaksudkan disini adalah keduaduanya, yakni bahwa Allah SWT adalah dzat yang maha baik dan penyebab dari semua
kebaikan. Ungkapan as-samawati wal-ardhimerupakan ungkapan dari universalitas.
Kata misykat (lentera) merupakan ungkapan dari akal material (al-aqlul-huyuli) dan jiwa yang
berakal. Karena misykat itu dekat dengan dinding, maka daya pantulnya lebih kuat dan
cahayanya lebih banyak. Demikian juga dengan akal, sebenarnya menyerupai cahaya (nur). Yang
dilambangkan dengan misykat(lentera) adalah akal material yang kaitannya dengan
akal mustafad (acquired
intelect)adalah
bagaikan
kaitan misykat dengan
cahaya.
Sementara mishbah (lampu) sebenarnya merupakan ungkapan dari akal mustafad itu sendiri.
Hubungan
akal mustafad dengan
akal material adalah
seperti
hubungan mishbah dengan misykat. Adapun kata fi zujajah (kaca), ditafsirkan bahwa hubungan
antara akal material dan akal mustafadpada sisi lain adalah seperti hubungan yang terjadi antara
penerang dan mishbah. Hubungan ini tidak dapat dicapai kecuali dengan perantara sumbu. Dari
sumbu itu munculaz-zujajah karena dia adalah penerang yang menerima cahaya.[31]
Selain tiga model pendekatan filsafat dalam kajian Islam yang telah disebut di atas,
Tasawuf Falsafi juga bisa disebut sebagai disiplin kajian berpendekatan filsafat. Tasawuf falsafi,
atau biasa juga disebut tasawuf nazhari, merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan
antara visi mistis dan visi rasional sebagai pengasasannya. Tasawuf falsafi menggunakan
terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi filosofis tersebut berasal dari
bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[32]
D. PENDEKATAN FILOSOFIS DALAM KAJIAN ISLAM
Untuk memahami pendekatan filosofis dalam kajian Islam, maka akan diuraikan
menjadi dua yaitu: filsafat dalam islam dan aplikasi pendekatan filosofis dalam kajian Islam.
1. Filsafat dalam Islam
Dalam bahasa Arab "hikmah dan hakim", bisa diterjemahkan dengan arti "filsafat dan
filsofol". Kata "hukamul islam" bisa berarti "falasifatul islam". Hikmah adalah perkara tertinggi
yang bisa dicapai oleh manusia dengan melalui alat-alat tertentu, yaitu akal dan metode
berpikirnya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT:[33]








Artinya:
Atau (tidakkah engkau pelik memikirkan wahai Muhammad) tentang orang yang melalui sebuah
negeri yang telah runtuh segala bangunannya, orang itu berkata: "Bagaimana Allah akan

menghidupkan (membina semula) negeri ini sesudah matinya (rosak binasanya)?" Lalu ia
dimatikan oleh Allah (dan dibiarkan tidak berubah) selama seratus tahun, kemudian Allah
hidupkan dia semula lalu bertanya kepadanya: "Berapa lama engkau tinggal (di sini)?" Ia
menjawab: "Aku telah tinggal (di sini) sehari atau setengah hari". Allah berfirman: "(Tidak
benar), bahkan engkau telah tinggal (berkeadaan demikian) selama seratus tahun. Oleh itu,
perhatikanlah kepada makanan dan minumanmu, masih tidak berubah keadaannya, dan
perhatikanlah pula kepada keldaimu (hanya tinggal tulang-tulangnya bersepah), dan Kami
(lakukan ini ialah untuk) menjadikan engkau sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi umat
manusia; dan lihatlah kepada tulang-tulang (keldai) itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali,
kemudian Kami menyalutnya dengan daging". Maka apabila telah jelas kepadanya (apa yang
berlaku itu), berkatalah dia: Sekarang aku mengetahuinya (dengan yakin), sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu".
Ayat diatas, memiliki pengertian bahwa Allah SWT menganugerahkan Al-Hikmah
(kefahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendakinNya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-beanr telah dianugerahi karunia yang
banyak. Dan hanya orangorang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran (dari fiman Allah
SWT).
Datangnya hikmah itu bukan dari penglihatan saja, tetapi juga dari penglihatan dan dan
hati, atau dengan mata hati dan pikiran yang tertuju kepada alam yang ada disekitarnya. Karena
itu kadangkala ada orang yang melihat tetapi tidak memperhatikan (melihat dengan mata hati
dan berpikir), sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT:[34]



Artinya:
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam
dada.
Agama Islam memberikan memberikan penghargaan yang tinggi terhadap akal, tidak
sedikit ayat-ayat Al-Qur'an yang mengajurkan dan mendorong supaya manusia banyak berpikir
dan menggunakan akalnya. Di dalam Al-Qur'an dijumpai perkataan yang berakar dari aql (akal)
sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja aktif, seperti aquluh, taqilun, naqil,
yaqiluha, dan yaqilun. Dan masih banyak lagi kata yang di pakai dalam Al-Qur'an yang
menggambarkan perbuatan berpikir diantaranya:
a. Nazhara[35]


Artinya:
Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia memikirkan: dari apa ia
diciptakan(5) Ia diciptakan dari air (mani) yang memancut (ke dalam rahim)(6) Yang keluar
dari "tulang sulbi" lelaki dan "tulang dada" perempuan(7)

b. Tadabbara[36]


Artinya:
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai
fikiran.
Selain itu di dalam Al Quran juga terdapat sebutan-sebutan yang memberi sifat berpikir
bagi seorang muslim, diantaranya:
a. Ulul Al-Bab[37]





Artinya:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang
mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan
(kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat
bagi kaum yang beriman.
b. Ulul Abshar[38]


Artinya:
Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
pelajaran yang besar bagi orang-orang yang berpikir.
c.

Ulin Nuha[39]



Artinya:
Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami
membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat
tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang
yang berakal.

Semuanya bentuk ayat-ayat tersebut mengandung anjuran, dorongan bahkan


memerintahkan kepada pemeluknya untuk berfilsafat. Manusia adalah makhluk berfikir, yang
dalam segala aktifitas kehidupannya selaluu berujung kepada mencari kebenaran tentang sesuatu.
Misalnya dalam mencari jawaban tentang hidup, berarti dia mencari kebenaran tentang hidup.
Jadi dengan demikian manusia adalah makhluk pencari kebenaran . dalam proses mencari
kebenaran ini manusia menggunakan tiga instrumen, yaitu dengan agama, filsafat dan dengan
ilmu pengetahuan. Antara ketiganya mempunyai titik persamaan, dan titik singgung.[40]
2. Aplikasi Pendekatan Filosofis dalam Kajian Islam

Untuk membawa pendekatan filosofis dalam tataran aplikasi kita tidak bisa lepas dari
pengertian pendekatan filosofis yang bersifat mendalam, radikal, sistematik dan universal.
Karena sumber pengetahuan pendekatan filosofis adalah rasio, maka untuk melakukan kajian
dengan pendekatan ini akal mempunyai peranan yang sangat signifikan.
Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terdapat di balik yang
bersifat lahiriah, sebagai contoh "kita jumpai berbagai bentuk rumah dengan kualitas yang
berbeda, tatapi semua rumah itu intinya adalah sebagai tempat tinggal". Kegiatan berpikir untuk
menemukan hakikat itu dilakukan secara mendalam, berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya
dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti
dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.
Menurut Musa Asyari Filsafat islam dapatlah diartikan sebagai kegiatan pemikiran
yang bercorak islami, islam di sini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran, filsafat disebut
islam bukan karena yang melakukan aktivitas kefilsafatan itu orang yang beragama islam, atau
orang yang berkebanggaan Arab atau dari segi obyeknya yang membahas mengenai pokokpokok keislaman.[41]
Menurut Muhamad Al-Jurjawi, pendekatan filosofis dalam kajian Islam
berusaha mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran agama Islam. Agama
misalnya mengajarkan agar melaksanakan shalat berjamaah. Tujuannya antara lain agar
seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain. Melalui
pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat
formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa,
kosong tanpa arti. Yang mereka dapatkan dari pengalaman agama tersebut hanyalah pengakuan
formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun Islam yang kelima, dan berhenti
sampai di situ. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk
pengalaman agama secara formal. Filsafat mempelajari segi batin yang bersifat esoterik.
Sedangkan bentuk (formal) memfokuskan segi lahiriah yang bersifat eksoterik.[42]
Untuk lebih memperjelas aplikasi pendekatan filosofis dalam kajian Islam berdasarkan
penjelasan dari berbagai ahli, maka akan dipaparkan contoh dari hadist Rasullullah SAW yang
berkenan dengan larangan melukis, sebagai berikut:
) )): :
(
Artinya:
Dari Abdillah bin Mas'ud, berkata: saya mendengarkan Nabi Muhammad SAW, berkata:
sesungguhnya orang yang paling dahsyat siksanya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para
pelukis.[43]
Secara tekstual hadist ini memberi pengertin adanya larangan melukis (makhluk yang
bernyawa), bahkan para imam mazhab sepakat akan keharaman menggambar, memajangnya
dan menjualnya.[44] Kesimpulan seperti ini bisa dipahami, karena banyaknya riwayat
mengenai masalah tersebut. Sebagaimana juga diriwayatkan pada hadist yang lain, bahwa para
pelukis pada hari kiamat kelak dituntut untuk memberikan nyawa kepada apa yang pernah
dilukisnya di dunia. Malaikat juga tidak akan masuk di rumah yang di dalamnya ada lukisannya.

Kita perlu melihat kembali kondisi sosio-historis pada waktu hadist tersebut dituturkan Nabi.
Hal tersebut berkaitan dengan kondisi kejiwaan masyarakat ketika itu, di mana mereka secara
psikologis belum lama terlepas dari kepercayaan menyekutukan Allah SWT, yakni menyembah
patung-patung berhala. Dalam kapasitasnya sebagai Rasulullah SAW, Nabi berusaha keras agar
umat Islam terlepas dari kemusyrikan tersebut. Salah satu cara yang ditempuh dengan
mengeluarkan larangan untuk memproduksi dan memajang lukisan atau berhala. Jika tidak
dilakukan, maka mereka akan sulit melepaskan kepercayaan lama. Jadi hadist ini, secara psikisantropologis sebenarnya disabdakan dalam kondisi masyarakat transisi dari kepercayaan
animisme ke monoteisme, sehingga perlu adanya larangan keras terhadap praktik yang dapat
menjerumuskan ke dalam kemusyrikan.
Persoalannya sekarang adalah bagaimana jika kondisi masyarakat sudah berubah, di mana
masyarakat dengan perkembangan pemikirannya sudah berada pada tahap yang lebih baik atau
dimungkinkan tidak lagi dikhawatirkan terjerumus ke dalam kemusyrikan. Apakah melukis
patung masih tidak dibenarkan? Atau mungkin bisa saja, saat ini bukan lagi simbolik patung
yang menyebabkan seseorang menjadi syirik, tetapi pemujaan terhadap figurfigur di bidang
kesenian yang membuat penggemarnya gila dan histeris, misalnya seperti yang terjadi pada
para fans berat Noah, Shoimah, Maroon 5, Adele, dan lain sebagainya.
Paparan diatas adalah bentuk penjelasan dan analisa singkat tentang prinsip-prinsip temporal
dan universalitas hadist Nabi sehingga terealisasi dalam konteks historis dan sosial yang
berbeda. Salah satu perangkat metodologis dalam upaya memahami masa lampau dan
kemudian merekonstruksi makna sebuah matan hadist dalam wacana kekinian dan kedisinian
adalah pendekatan hermeneutik. Dalam pendekatan ini, sebuah matan hadist tidak mesti
dipahami dalam bentuk pemahaman yang monolitik "seragam", karena sebuah hadist muncul
dipengaruhi oleh berbagai segi seperti keadaan social, alam pikiran, budaya, bahasa
pembacanya dan lain sebagainya.

Sehingga dapat dipahami, bahwa Islam sebagai agama yang banyak menyuruh
penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan
pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya. Pendekatan filosofis adalah cara
pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai
sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah
upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak. Memahami
ajaran Islam dengan pendekatan filosofis ini dimaksudkan agar seseorang melakukan
pengamalan agama sekaligus mampu menyerap inti, hakikat atau hikmah dari apa yang
diyakininya, bukan sebaliknya melakukan tanpa makna.

BAB III
PENUTUP
Pendekatan filosofis merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam kajian
Islam untuk memahami aspek-aspek ajaran Islam dengan metodologi yang biasa digunakan
filsafat atau menelaah dan mengurai nilai-nilai filosofis (hikmah) yang terkandung dalam
doktrin-doktrin ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah sehingga diharapkan
ajaran-ajaran Islam tersebut dapat diinternalisasikan dan diamalkan secara lebih subtansial dan
sarat fungsi, tak kering makna.
Pendekatan filsafat dalam kajian Islam telah dilakukan banyak tokoh sejak masa klasik
sampai masa kontemporer dalam berbagai disiplin ilmu. Beberapa model pendekatan filsafat
tersebut antara lain: 1). Pendekatan Hermeneutik, 2). Pendekatan Teologi-Filosofis, 3).
Pendekatan Tafsir Falsafi, dan 4). Pendekatan Tasawuf Falsafi.
Filsafat, dengan beragam karakteristik dasarnya yang inheren, sendiri berperan
mengasah dan mempertajam penalaran kita, dan juga membongkar kejumudan pola pikir yang
kita warisi begitu saja yang seakan turun dari langit, taken for granted, pula bagaikan mata kunci
yang membuka hijab-hijab formalisme dan irasionalisme untuk menembus dan menangkap
substansi persoalan. Idealitas filsafat inilah yang diharapkan juga meruhi upaya-upaya kajian
Islam dengan menggunakan pendekatan filsafat agar produk pemikiran yang dilahirkan benarbenar menunjukan universalitas dan ke-rahmat-an Islam bagi umat, bagi manusia, dan bagi alam
semesta.
Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk
menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya.
Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan
apa dibalik sesuatu yang nampak. Memahami ajaran Islam dengan pendekatan filosofis ini

dimaksudkan agar seseorang melakukan pengamalan agama sekaligus mampu menyerap inti,
hakikat atau hikmah dari apa yang diyakininya, bukan sebaliknya melakukan tanpa makna.

DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010)
E. Sumaryono, Hermeneutika: Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1999)
Fakhruddin Faiz, Hermeutika Qurani, (Yogyakarta: Qalam, 2007)
Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qurani, tema-tema Kontroversial, (Yoyakarta: elSAQ, 2005)
Husein Heriyanto, Nalar Saintifik Peradaban Islam, (Bandung : Mizan, 2011)
Husein Aziz, Bahasa Al-Quran Perspektif Filsafat Ilmu, (Pasuruan: Pustaka Sidogiri, 2010)

Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001)


J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cet. XII, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991)
Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008)
Kadar M. Yusuf, Studi Al-Qur'an, (Jakarta: Amzah, 2012)
Khoiruddin Nasution, Peran Hermeneutika dan Pengelompokan Nash dalam Studi Hukum Islam
Integratif-Interkonektif dalam Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Pustaka
Setia, 2008)
Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hal.21-22
M. Amin Abdullah, Antologi Studi Islam, Teori&Metodologi, Cet.I, (Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press,
2000)
Mark B. Woodhouse, A Preface to Philosophy, (Belmont California: Wadsworth Publishing Company,
1984)
Musa Asyari, Filsafat Islam Suatu Tinjauan Ontologis, (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam,
1992)
Muzairi, Hermeneutika dalam Pemikiran Islam dalam Hermeneutika Al-Qur'an Mazhab Yogya,
(Bandung: Pustaka Islamika, 2003)
Peter Connoly, Aneka Pendekatan Studi Agama, (Yogyakarta : Elkis, 2009)
Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jilid I, Cet. II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1967)
Solihin, Ilmu Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2008)
Supiana, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: DitjenPendisKemenag RI, 2012)
Suparlan Suhartono, Dasar-Dasar Filsafat Cogito Ergo Sum Aku Berpikir Maka Aku Ada (Rene
Descartes), Cet. V, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009)
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008)
______________, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi, Pendekatan Integratif-Interkonektif, Cet.I,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006)

[1] Supiana, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: DitjenPendisKemenag RI, 2012),


hal.96
hal.355

[2] Husein Heriyanto, Nalar Saintifik Peradaban Islam, (Bandung: Mizan, 2011),

[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia,


(Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), hal.414
[4] J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1991), hal.280
[5] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jilid I, (Jakarta: Bulan Bintang,
1967), hal.15
[6] Suparlan Suhartono, Dasar-Dasar Filsafat Cogito Ergo Sum Aku
Berpikir Maka Aku Ada (Rene Descartes), (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009),
hal.46
[7] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2010), hal.43
[8] M.
Amin
Abdullah, Antologi
Studi
Islam, Teori&Metodologi, (Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press, 2000), hal.8
[9] Ibid, hal.9

[10]______________, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi, Pendekatan


Integratif-Interkonektif, Cet.I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hal.13
[11] Ibid, hal.14-15
[12] Mark B. Woodhouse, A Preface to Philosophy, (Belmont California:
Wadsworth Publishing Company, 1984), hal.16-19
[13] Omar Mohammad at-Toumy Al-Syaibani, Filsafat Pendidikan Islam,
(Jakarta: Bulan Bintang, , 1979), hal.35
[14] Abuddin Nata, Op.cit, hal.22
[15] Ibid, hal.22-23
[16] Ibid, hal.45
[17] E.
Sumaryono, Hermeneutika:

Sebuah

Metode

Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1999), hal.23


[18] Fakhruddin Faiz, Hermeutika Qurani, (Yogyakarta: Qalam, 2007), hal.19
[19] Khoiruddin Nasution, Peran Hermeneutika dan Pengelompokan Nash
dalam Studi Hukum Islam Integratif-Interkonektif dalam Jamali Sahrodi,
Metodologi Studi Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal.18-19
[20] Syahiron
Syamsuddin, Hermeneutika
Al-Quran, (Yogyakarta:

Islamika, 2003), hal.103


[21] Ibid, hal.20-21
[22] Ibid, hal.22
[23] Ibid, hal.38-39
[24] Muzairi, Hermeneutika

dalam
Pemikiran
Islam dalam
Hermeneutika Al-Qur'an Mazhab Yogya, (Bandung: Pustaka Islamika, 2003),
hal.30
[25] Fakhruddin Faiz, Hermeneutika
(Yoyakarta: elSAQ, 2005), hal.14-15

Al-Qurani,

tema-tema

Kontroversial,

[26] Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,


1994), hal.21-22
[27] Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008),
hal.113
[28] Kadar M. Yusuf, Studi Al-Qur'an, (Jakarta: Amzah, 2012), hal.163
[29] Jamali Sahrodi, Op.cit, hal.113-114
[30] Surat An-Nur, Ayat:35
[31] Husein Aziz, Bahasa Al-Quran Perspektif Filsafat Ilmu, (Pasuruan:

Pustaka Sidogiri, 2010), hal.23


[32] Solihin, Ilmu Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hal.67
[33] Surat Al-Baqarah, Ayat 259
[34] Surat Al-Hajj, Ayat:46
[35] Surat Ath-Thoriq, Ayat:5-7
[36] Surat Ash-Shaad, Ayat:29
[37] Surat Yusuf, Ayat:111
[38] Surat An-Nur, Ayat:44
[39] Surat Thaha, Ayat:128
[40] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama,
2001), hal.18
[41] Musa
Asyari, Filsafat
Islam
Suatu
Ontologis, (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992), hal.13
[42] Abuddin Nata, Op.cit, hal.45
[43] Imam Muslim, Shahih Muslim, Juz I, hal.323-324

Tinjauan

[44] Lukman S. Thahir, Studi Islam Interdisipliner, Aplikasi Pendekatan


Filsafat, Sosiologi dan Sejarah, (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2003), hal.19