Anda di halaman 1dari 18

j Sari Kepustakaan 2

Supervisor

Divisi Alergi Immunologi,


Bagian Ilmu Penyakit Dalam

dr. T Mamfaluti, Mkes, Sp.PD

Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms


(DRESS)
Riyandy Pratama*,T Mamfaluti **
Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala/ RSUD dr.Zainoel Abidin Banda Aceh*
Divisi Alergi Immunologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala / RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh**

PENDAHULUAN
Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS)
syndrome juga dikenal dengan nama Drug Induced Hypersensitivity Syndrome
(DIHS) dan Acute Generalized Exanthematous Pustulosis (AGEP). Drug Reaction
with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) syndrome adalah reaksi obat
yang ditandai oleh ruam kulit, demam, pembesaran kelenjar getah bening dan
keterlibatan beberapa organ.1
Karakteristik Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms
(DRESS) syndrome pertama kali dideskripsikan oleh Chaiken et al pada tahun
1950 dengan karakteristik klinis berupa demam, ruam kulit, eosinophilia dan
kegagalan multi organ yang terjadi 1 - 8 minggu setelah pemberian antikonvulsan.
Kegagalan multi organ merupakan salah satu karakteristik yang membedakan
Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) syndrome dari
reaksi efek samping obat lainnya seperti Steven Johnson Syndrome (SJS) dan
Toxic Epidermal Necrolitic (TEN).2
Setiap obat diduga dapat menimbulkan terjadinya Drug Reaction with
Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) syndrome. Antibiotik, obat anti
inflamasi non steroid, obat antiepilepsi dan obat anti HIV merupakan kelompok
obat yang umumnya bertanggung jawab terjadinya Drug Reaction with
Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) syndrome.3
Insiden Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms
(DRESS) syndrome memiliki insiden 1,2 6 kasus per 1.000.000 orang per tahun.
1

Orang dewasa lebih cenderung terkena dibandingkan anak-anak, dan angka


kejadian relatif sama antara pria maupun wanita. Sindrom ini sering terjadi dari
pada sindrom Stevens-Johnson, tingkat kematian sekitar 10% - 20% .4

DEFINISI
Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS)
syndrome adalah suatu adverse-drug reaction yang berat dan jarang terjadi,
berpotensi mengancam nyawa yang terjadi pada pemberian obat dalam dosis
terapi, yang ditandai adanya erupsi eritematus, demam, kelainan hematologi
terutama adanya eosinofilia dan adanya keterlibatan organ dalam seperti:
limfadenopati, hepatitis, pneumonitis, miokarditis, nefritis.5,6,7

EPIDEMIOLOGI
Insiden Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms
(DRESS) syndrome memiliki insiden 1,2 6 kasus per 1.000.000 orang per tahun.
Orang dewasa lebih cenderung terkena dibandingkan anak-anak, dan angka
kejadian relatif sama antara pria maupun wanita. Sindrom ini sering terjadi dari
pada sindrom Stevens-Johnson, tingkat kematian sekitar 10% - 20% .4
ETIOLOGI
Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS)
syndrome terjadi sekitar 80% karena reaksi obat dan sebagian karena HHV-6.5,9
Sekitar 10 sampai 20 persen dari kasus yang memenuhi kriteria diagnostik untuk
DRESS berhubungan dengan obat.10
Obat

antiepilepsi

(misalnya:

carbamazepine,

lamotrigin,

fenitoin,

fenobarbital) dan allopurinol adalah penyebab yang paling sering dilaporkan.


Sulfonamid (terutama sulfasalazine), dapson, minocycline, dan vankomisin dapat
juga menyebabkan DRESS.

Tabel 1 Kelompok obat yang sering menimbulkan DRESS 5

Kelompok Obat
Antikonvulsan

Contoh Obat
Phenytoin, carbamazepine, phenobarbital,
primidone, mexiletine, lamotrigine, valproate,

Antidepresant
Sulfonamide dan sulfa

ethosuximide, zonisamide
desipramine, amitriptyline, fluoxetine
dapsone, sulfasalazine, trimethoprim-

Obat antiinflamasi

sulfamethoxazole, salozosulphopyridine
piroxicam, naproxen, diclofenac,

Antibiotik

sundilac, phenylbutazone, ibuprofen


(abacavir, cidofovir, terbinafine, nevirapine,
minocycline,

linezolid,

doxycycline,

telaprevir, nitrofurantoin,
zalcitabine,

spiramycin,

metronidazole,

piperacillintazobactam,
ceftriaxone
Ace inhibitor
captopril, enalapril
beta-blockers
atenolol, celiprolol
Studi farmakogenetik telah menemukan hubungan antara HLA haplotype
dan kerentanan terhadap DRESS.10 Populasi Han keturunan Cina, HLA-B * 5801
sangat terkaitan dengan reaksi obat allopurinol yang menginduksi tingkat
keparahan kulit dimasukkan kedalam kelompok DRESS.11,12

PATOGENESIS
Hipersensitivitas terhadap obat dapat didefinisikan sebagai reaksi
immunologis yang tidak diharapkan terhadap obat-obatan yang dianggap aman
dan efektif. Berdasarkan onsetnya reaksi hipersensitivitas terhadap obat dapat
dibedakan menjadi immediate reaction dan non-immediate reaction. Immediate
reaction pada umumnya melibatkan sistem imun humoral (IgE spesifik),
sedangkan non-immediate reaction melibatkan Sel T. Semua obat dapat
menimbulkan reaksi hipersensitivitas, beberapa kelas obat yang sering dikaitkan
antara lain antibiotik, antiepilepsi, anti-HIV, NSAID, anestesi dan media zat
kontras merupakan kelas yang sering berkaitan dengan reaksi hipersensitivitas.3
DRESS, SJS dan TEN merupakan beberapa bentuk manifestasi klinis dari nonimmediate reaction yang pada umumnya melibatkan gejala pada kulit seperti
urtikaria, dermatosis, dermatitis, exantema dan eritroderma. Non-immediate
reaction dapat terjadi 1 jam hingga beberapa hari setelah pemberian obat.
3

Karenanya diperlukan anamnesis yang lengkap dan teliti serta pengenalan yang
cepat akan gejala klinis reaksi hipersensitivitas kelompok ini. Mekanisme Nonimmediate reaction dapat dilihat pada gambar 1.3

Gambar 1. Mekanisme delayed drug hipersensitivity pada kulit.3


Kulit merupakan organ yang paling sering menjadi target dari sel T yang
teraktivasi oleh obat (drug-responsive T cells). Berat ringannya reaksi pada kulit
bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Variasi ini terjadi
bahkan pada pemberian obat yang sama dengan dosis dan cara pemberian yang
identik. Secara immunologis, reaksi hipersensitivitas obat melibatkan sel
dendritik. Sel dendritik yang berada di kulit mengenali drug antigen, berikatan
dengannya dan mempresentasikannya pada Sel T yang berada pada kelenjar limfe
regional. Drug antigen ini diyakini berupa suatu complex drug-protein hapten.
Antigen-spesific T cells kemudian bermigrasi ke organ target, dalam hal ini
kulit, dan akan teraktivasi pada paparan ulang oleh obat yang sama. Bila
teraktivasi, sel T akan memproduksi cytokine dan cytotoxine seperti perforin,
granzymes dan granulysins. Hal ini selanjutnya menyebabkan kelainan klinis
yang beragam pada kulit. Bisa berupa erytema, exantema, eritroderma maupun
pembentukan bula.13

Antigen-spesific T cells yang bermigrasi ke kulit diketahui dapat memproduksi


IL-5 dan eotaxin (CCL-11). Keduanya diketahui merupakan faktor kunci pada
regulasi perkembangan, diferensiasi dan aktivasi eosinofil. Infiltrasi eosinofil ke
jaringan diyakini sebagai penyebab multiple organ failure pada DRESS.14
Umum diketahui bahwa non-immediate reaction dapat dicetuskan oleh adanya
interaksi obat dengan virus.14 Pada DRESS, studi terkini menunjukkan adanya
keterkaitan reaktivasi Human Herpes Virus 6 (HHV-6). Virus ini berada pada
tubuh manusia dalam kondisi dorman. Infeksi HHV-6 umumnya didapatkan pada
usia 2 tahun, yang diduga terjadi melalui saliva. HHV-6 DNA dapat terintegrasi
secara kromosomal pada DNA host sehingga dapat diturunkan secara
kromosomal. Reaktivasi HHV-6 menstimulasi sel T yang selanjutnya dapat
menimbulkan reaksi silang dengan obat.14 Mekanisme terjadinya DRESS dari
awal exposure obat sampai timbulnya symptom dan replikasi virus ditunjukkan
pada gambar 2 .

Gambar 2. DRESS (Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms): awal
exposure obat sampai timbulnya symptom dan replikasi virus.13

Mekanisme yang tepat dari DRESS / DIHS masih harus ditentukan. tetapi
dalam kasus-kasus yang berkaitan dengan antikonvulsan obat, tiga komponen
yang dianggap penting sebagai berikut: (i) defisiensi atau kelainan enzim

hidroksilase epoksida yang mendetoksifikasi metabolit amina aromatic


antikonvulsan (jalur metabolisme); (ii) terkait reaktivasi berurutan dari famili
virus herpes; dan (iii) kecenderungan etnis dengan antigen alel leukosit
manusia tertentu (HLA) (respon imun). Kasus-kasus yang lebih konsisten
dengan

disebabkan

oleh

antikonvulsan

aromatik,

dapson,

salozosulphopyridine, allopurinol dan minocycline.9


Cacoub et al baru-baru ini menerbitkan literatur kasus DRESS dan
menemukan 44 obat terkait untuk 172 laporan kasus yang dipublikasikan
dalam literatur di PubMed / MEDLINE dari Januari 1997 sampai Mei 2009
seperti ditunjukkan pada tabel 15

Tabel 1. Literatur kasus DRESS terkait obat.5


Obat
Abacavir
Allopurinol
Amoxicillin plus clavulanic acid
Amitriptyline
Atorvastatin
Aspirin
Captopril
Carbamazepine
Cafadroxil
Celecoxib
Chlorambucil
Clomipramine
Clopidrogrel
Codein phosphate
Cotrimoxazole / Cefixime
Cyanamide
Dapsone
Diaphenylsulfone
Efalizumab
Esomeprazole
Hydroxichloroquine
Ibuprofen
Imatinib
Lamotrigine
Mexiletine
Minocycline
Nevirapine

Kasus terkait untuk Obat


5
19
1
2
1
1
1
47
1
1
1
1
1
1
1
1
4
1
1
1
2
2
1
10
5
3
8

Olanzapine

Obat

Kasus terkait untuk Obat

Oxacarbamazepine
Phenobarbital
Phenylbutazone
Phenytoin
Quinine and thiamine
Salazosulfapirydine
Sodium meglumine ioxitalamate
Sodium valproate/ethosuximide
Spironolactone
Streptomycin
Strontium ranelate
Sulfalazine
Sulfamethoxazole
Tribenoside
Vancomycin
Zinosamide

3
10
1
7
1
2
1
1
1
1
2
10
2
1
4
1

Aspek Keterlibatan sistem imun pada DRESS


Pasien dengan DRESS / DIHS mengalami penurunan Total serum IgG, IgA
dan IgM, dan limfosit B count pada onset sementara terjadi ekspansi sel T
memori yang bereaksi silang dengan obat dan virus. Hal Ini perlu dicatat
bahwa tes transformasi limfosit negatif pada minggu pertama penyakit dan
sisa-sisa negatif dalam 90% dari pasien setelah dua minggu dari timbulnya
gejala, menjadi positif hanya 5-7 minggu setelah memulai reaksi obat. Hal ini
dapat disebabkan oleh ekspansi sel T regulator (yang menekan proliferasi sel
memori T) pada tahap awal penyakit dan pengurangan selanjutnya oleh
apoptosis.7,9,13
Beberapa sitokin meningkat selama DRESS / DIHS. Secara khusus, tingkat
TNF-Alfa dan IL-6, biasanya sitokin pro-inflamasi tersebut meningkat pada
sindrom ini sebelum reaktivasi HHV-6. Menariknya, IL-6 menjadi tidak
terdeteksi selama replikasi virus dan meningkat lagi setelah infeksi pada
kebanyakan pasien.13
DRESS / DIHS adalah entitas yang berbeda dari reaksi obat lainnya yang
harus mendapat perhatian khusus karena dinamika perubahan respon imun
diamati selama perjalanan penyakit. Fenotip beredar Sel T CD4 + diubah

menjadi CD8 + fenotip pada saat reaktivasi virus. Sel T

yang awalnya

meningkat jumlahnya dalam sirkulasi dan kulit, tetapi menurun secara paralel
dengan penurunan fungsional organ atau sistem yang berbeda. Penurunan IgG,
IgA dan IgM diamati di awal dan tingkat terendah biasanya terdeteksi beberapa
hari atau seminggu setelah penarikan obat pemicu. Setelah immunoglobulin
yang nadir, pemulihan ke tingkat normal dapat diamati dalam 1 sampai 2
minggu setelah dimulainya reaksi dan tingkat normal biasanya dicapai selama
pemulihan penyakit. Selain itu, partisipasi peradangan kulit mungkin terlibat
dalam induksi kondisi imunosupresif. Sugita et al menunjukkan pengurangan
jumlah dendritik plasmasitoid sel (PDC) dalam darah perifer pasien, tetapi
peningkatan ekspresi sel-sel ini di kulit dipengaruhi oleh ruam. PDC subtipe
leukosit manusia mampu menghasilkan jumlah besar interferon alfa (IFN),
yang menginduksi pematangan sel B untuk menghasilkan IgG dan bekerja
dengan baik dengan peran penting dalam pertahanan antivirus. PDC dari
peredaran dapat menumpuk di kulit dan dengan demikian mengurangi jumlah
PDC dalam sirkulasi.9,13,15,16 Mekanisme keterlibatan sistem imun pada DRESS
ditunjukkan pada gambar 3.

Gambar 3. Interaksi virus dan imun sistem pada alergi akibat reaksi obat .
DC :Dendrit cel, IL : interleukin15

SIGN & SIMPTOMS


8

DRESS biasanya diawali dengan demam yang segera diikuti oleh ruam
kulit. Onsetnya terjadi 3 minggu 3 bulan setelah penggunaan obat.
Selanjutnya muncul 2 atau lebih gejala lain yang bisa saja menyerupai infeksi
virus pada umumnya atau sepsis. Reaktivasi HHV-6 dapat terdeteksi 3 minggu
setelah penghentian obat. Hal ini diketahui dari adanya peningkatan titer IgG
anti HHV-6 dan HHV-6 DNA.14,17

Gb.4. Perjalanan klinis DRESS syndrome14


DRESS biasanya berkembang dalam waktu 2 bulan setelah konsumsi obat,
lebih sering di 3 minggu sampai 3 bulan dari konsumsi obat, atau lebih singkat
jika merupakan administrasi ulang.

Demam, sering tinggi (38-40 0C), yang

merupakan gejala paling umum (terlihat pada 90-100% kasus) dan ruam
(87% dari kasus) adalah tanda-tanda pertama, terutama ketika berhubungan
dengan obat antiepilepsi. Ruam kulit terdiri dari ruam morbiliformis, yang juga
umum tejadi pada reaksi obat lainnya. Wajah, badan bagian atas dan ekstremitas
atas adalah yang awalnya terpengaruh, dengan perkembangan selanjutnya ke
ekstremitas bawah, terjadi pada sekitar 90% kasus, yang kemudian menyebar ke
kaki dan ruam eritroderma kemudian dapat berkembang.7,13

HISTOPATOLOGI
Pemeriksaan histopatologi dari biopsi kulit mengungkapkan spongiosis
ringan dan infiltrat limfositik di dermis superfisial, terutama perivaskular, dengan
eosinofil dan edema dermal. Kadang-kadang, infiltrat limfositik mengandung sel-

sel atipikal atau cukup padat untuk meningkatkan kecurigaan limfoma kulit.
Meskipun tidak selalu dilakukan, gambaran histopatologi dari kelenjar getah
bening, hati, dan biopsi ginjal adalah sebagai berikut:

Temuan patologis pada kelenjar getah bening berkisar dari reaktif jinak
hiperplasia dengan adanya limfosit atipikal sugestif dari limfoma. Paling
sering, kelenjar getah bening menunjukkan gambaran jinak mirip dengan
limfadenopati diinduksi virus, dengan penipisan sebagian atau seluruhnya
bentuk nodul oleh infiltrat polimorf dari immunoblasts, limfosit kecil,
eosinofil, dan sel plasma.8
Biopsi hati menunjukkan pola cedera hepatitis akut dengan peradangan
lobular, fokus tersebar hepatosit nekrotik, dan infiltrat granulomatosa
mengandung eosinofil. Inflamasi portal dan kolestasis juga dapat dilihat.
Konfluen hepatosit nekrosis dan kekacauan lobular karena peradangan dan
regeneratif perubahan terlihat pada kasus yang berat.18
Biopsi ginjal menunjukkan nefritis tubulointerstitial dengan edema
interstitial dan infiltrat limfosit, histiosit, eosinofil, dan sel plasma.19

Manifestasi klinis
Beberapa obat yang oleh The Japanese Research Committee on Severe
Cutaneous Adverse Reaction (J-SCAR) dilaporkan sebagai obat yang sering
menyebabkan

DRESS

adalah

carbamazepine,

dapsone,

phenytoin,

salazosulfapyridine, phenobarbital, allopurinol, mexiletine dan minocycline.14


Daftar yang hampir sama dilaporkan oleh Cacoub P et al dengan beberapa
tambahan seperti abacavir, vancomycin dan ibuprofen.5
Hingga saat ini belum ada konsensus tentang kriteria diagnostik DRESS.
Selain 2 kriteria yang sering digunakan untuk mendiagnosis DRESS yaitu
RegiSCAR dan J-SCAR, perlu dicatat pula kriteria diagnosis Allopurinol Induced
Hypersensitivity yang diusulkan oleh Alfonso et al.20

10

Tabel 1 Kriteria RegiSCAR untuk diagnosis DRESS20

Score

-1

Demam > 38,5 C


Pembesaran kelenjar getah

tidakdiketahui

ya
Tidak diketahui

Ya

bening
Tidak diketahui

Eosinophilia
Eosinophil
Eosinophil jika leukosit <
4000
Lymphosit atipical

0,7-1,499x109L

>1,5X109L

10%-19,9%

>20%

Tidak diketahui

Ya

Tidak diketahui

>50%

Tidak
Tidak

Tidak diketahui
Tidak diketahui

Ya

Ya
Ya
Ya
Ya
Ya

Tidakdiketahui

Tidak diketahui
Tidak diketahui
Tidak diketahui
Tidak diketahui
Tidakdiketahui
ya

Keterlibatan kulit
Ruam kulit batas tegas ( %
luas permukaan tubuh)
Ruam kulit diduga DRESS
Biopsi diduga DRESS
Keterlibatan organ*

Liver
Ginjal
Otot/Jantung
Pankreas
Organ lain
Resolusi > 15 hari
Evaluasi
penyebab
potensial lainnya
ANA profil
Kultur Darah
Serologi

untuk

HAV/HBV/HCV
Klamidia/Mikoplasma
jika tidak ada positif dan> 3

Ya

negatif atas

*setelah pengecualian penjelasan lain ;1 : satu organ ; 2 : 2 atau lebih organ


Score : < 2 : Bukan kasus
2-3 : Mungkin kasus
4-5 : Mungkin kasus
>5 : Suatu DRESS
Kriteria J-SCAR untuk diagnosis DRESS14
1. Maculopapular rash timbul > 3 minggu setelah memulai dengan sejumlah
obat
2. Gejala klinis yang berkepanjangan setelah penghentian obat
11

3. Demam >38o C
4. Hati tidak normal ALT > 100 U/L
5. Leukosit tidak normal ( salah satu kelainan dibawah ini )
a. Leukositosis ( > 11x109/L)
b. Lymphositosis atipikal ( > 5%)
c. Eosinophilia ( > 1,5x109/L)
6. Lymfadenopati
7. Reaksi HHV-6
DRESS Tipikal bila ada semua kriteria di atas.
DRESS Atipikal bila hanya ada 5 atau 6
Kriteria diagnosis Allopurinol Hypersensitivity Syndrome20
riwayat yang jelas dari paparan allopurinol kurangnya paparan obat lain yang
mungkin telah menyebabkan gambaran klinis yang serupa
gambaran klinis termasuk
1. setidaknya dua dari kriteria utama berikut:
> memburuknya fungsi ginjal
> cedera hepatoseluler akut
> Ruam, termasuk baik Toxic epidermal necrolysis, erythema multiforme, atau
diffuse maculopapular atau exfoliative dermatitis
2. salah satu kriteria utama ditambah setidaknya salah satu kriteria minor sebagai
berikut:
Demam, eosinophilia, leukositosis

DIAGNOSA BANDING
Diagnosa

banding

dari

sindrom

DRESS

adalah

SJS,

TEN,

Hypereosinophilic syndrome, Kawasaki disease dan Stills disease.21 Perbedaan


dari penyakit-penyakit tersebut dijelaskan pada tabel 2
Tabel 2. Differensial Diagnosis DRESS sindrom.21

12

GAMBAR DRESS

GAMBAR SJS/TEN

13

GAMBAR HYPEROSINOPHILIC SYNDROM

GAMBAR KAWASAKI DISEASE

GAMBAR STILLs Disease

14

Manajemen Terapi
Berdasarkan literature review yang dilakukannya, Cacoub P et al
menyimpulkan bahwa terapi utama DRESS adalah berupa penghentian pemberian
obat penyebab dan pemberian kortikosteroid.10 Kortikosteroid oral yang setara
dengan prednisone 1 - 1,5 mg/kgBB/hari merupakan terapi awal yang dianjurkan.
Bila tidak terjadi perbaika setelah pemberian kortiksteroid oral, Criado et al
menyarankan pemberian methylprednisolon intravena 30 mg/kg BB selama 3 hari,
immunoglobulin intravena, plasmapheresis atau kombinasi ketiganya.14
Konsensus penatalaksanaan DRESS yang dikeluarkan oleh French Society of
Dermatology menyarankan tatalaksana DRESS sebagai berikut:14
1. Tidak adanya tanda tanda keparahan, diberikan kortikosteroid topikal,
emolsien dan antihistamin H1
2. Adanya tanda tanda keparahan (transaminase > 5 kali nilai normal,
keterlibatan renal, pneumonia, hemophagocytosis, keterlibatan jantung
dll), diberikan kortikosteroid yang ekuivalen dengan prednisone
1 mg/kgBB/hari. Serta dilakukan evaluasi multidisiplin
3. Adanya tanda tanda yang mengancam jiwa (hemophagocytosis dengan
bone marrow failure, enchephalitis, severe hepatitis, renal failure,
respiratory failure), diberikan kortikosteroid yang ekuivalen dengan
prednisone dosis 0,5 2 mg/kgBB/Hari bersama-sama dengan
immunoglobulin intravena dengan dosis 2g/kgBB/hari selama 5 hari.

15

Immunoglobulin intravena (IVIG) tidak boleh diberikan tanpa steroid.


Terapi dilakukan dengan evaluasi multidisiplin.
4. Adanya tanda tanda berat dengan konfirmasi dari reaktivasi virus
Diberikan terapi kombinasi steroid dengan antiviral (Ganciclovir) dan atau
IVIG.

MONITORING
DRESS harus dipantau untuk perkembangan erupsi kulit dan / atau
pengembangan gejala klinis atau laboratorium yang berkaitan dengan keterlibatan
organ. Pemantauan laboratorium termasuk hitung darah lengkap dengan
diferensial, tes fungsi hati (aminotransferase serum, bilirubin, waktu protrombin),
nitrogen urea darah (BUN), dan kreatinin. Tes laboratorium dilakukan pada
interval tiap minggu.

PROGNOSIS
DRESS

dapat sembuh sempurna dalam beberapa minggu atau bulan

setelah penghentian obat. Prevalensi gejala sisa tidak diketahui. 22,23. Penelitian
retrospektif dari 43 pasien dengan DRESS di follow up untuk satu tahun, empat
pasien menjadi penyakit autoimun (penyakit Graves, diabetes melitus tipe 1, dan
anemia hemolitik autoimun) dan dua pasien mengalami gagal ginjal kronis. 22
Tingkat kematian DRESS adalah 5 sampai 10 persen apakah mereka menerima
kortikosteroid sistemik.24 Penyebab utama kematian adalah gagal akut hati, gagal
multiorgan, miokarditis fulminan, atau hemophagocytosis.25

Kesimpulan
DRESS syndrome juga dikenal dengan nama Drug Induced Hypersensitivity
Syndrome (DIHS) adalah suatu adverse-drug reaction dengan manifestasi klinis
berupa ruam mukokutan yang luas, disertai demam, limfadenopati, hepatitis,
kelainan hematologi dengan eosinofilia dan limfosit atipikal, dan mungkin
melibatkan organ lain dengan infiltrasi eosinofilik, dan menyebabkan kerusakan
pada beberapa sistem, terutama pada ginjal, jantung, paru-paru, dan pankreas.
Sindrom ini sangat penting, karena tingkat kematian sekitar 10% sampai 20%, dan
terapi khusus sangat diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA
16

1. Yun-Jin Jeung, Jin-Young Lee,Mi-Jung Oh, Dong-Chull Choi, ByungJae Lee: Comparison of the Causes and Clinical Features of Drug
Rash With Eosinophilia and Systemic Symptoms and StevensJohnson Syndrome: Allergy Asthma Immunol Res. 2010
April;2(2):123-126.
2. Mona Ben m_rad, MD, Stephanie Leclerc-Mercier, MD, Philippe
Blanche et all. Drug-Induced Hypersensitivity Syndrome; Clinical
and Biologic Disease Patterns in 24 Patients. In MD Journal. Vol 88
No.3. Lippincot, Williams & Wilkins : 2009.
3. Park B Kevin, Naisbitt Dean, Demoly Pascal. Drug Hypersensitivity.
In: Holgate ST, Chruch MK, Broide DH, Martinez FD,eds. Allergy,
4th Ed. Elsevier ; 2012:321-330
4. Paulo R. Criado MD, Joo Avancini MD, Claudia G. Santi MD, Ana
T. Amoedo Medrado MD, Carlos E. Rodrigues MD and Jozlio F. de
Carvalho MD: Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic
Symptoms (DRESS ): A Complex Interaction of Drugs,Viruses and
the Immune SystemIMAJ VOL 14 september 2012:
5. Cacoub P, Musette P, Descamps V, et al. The DRESS syndrome: a
literature review. Am J Med 2011; 124:588.
6. Narin Sri ratanaviriyakul, Lam-phuong Nguyen, Mark C Henderson
and Timothy E Albertson; Drug reaction with eosinophilia and
systemic symptoms syndrome ( DRESS) syndrome associated with
azitromycin presenting like septic shock; a case report; journal of
medicine 2014; 1 5
7. Gentile et al. Isathetdrug-induced hypersensitivity syndrome (DIHS)
due to human herpesvirus 6 infection or to allergy-mediated viral
reactivation/ Report of a case and literature review BMC Infectious
Diseases 2010, 10-49
8. T Askandar, B purnama, S Djoko; Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Fak. Kedokteran Universitas Airlangga RSUD Dr Sutomo
Surabaya;2007; Hal 9 -19
9. Shiohara T, Iijima M, Ikezawa Z, Hashimoto K. The diagnosis of a
DRESS syndrome has been sufficiently established on the basis of
typical clinical features and viral reactivations. Br J Dermatol
2007;156(5):1083-4.
10. Phillips EJ, Chung WH, Mockenhaupt M, et al. Drug
hypersensitivity: pharmacogenetics and clinical syndromes. J Allergy
Clin Immunol 2011; 127:S60.
11. Hung SI, Chung WH, Liou LB, et al. HLA-B*5801 allele as a genetic
marker for severe cutaneous adverse reactions caused by allopurinol.
Proc Natl Acad Sci U S A 2005; 102:4134.
12. Cao ZH, Wei ZY, Zhu QY, et al. HLA-B*58:01 allele is associated
with augmented risk for both mild and severe cutaneous adverse
reactions induced by allopurinol in Han Chinese. Pharmacogenomics
2012; 13:1193.

17

13. Criado PR, Criado RFJ, Avancini JM, Santi CG. Drug Reaction with
Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) / Drug-Induced
Hypersensitivity Syndrome (DIHS): a review of current concepts. In
An Bras Dermatol. 2012;87(3):435-49
14. Tetsuo SHIOHARA,Yoko KANO, Ryo TAKAHASHI. Current
Concepts on the Diagnosis and Pathogenesis of Drug-induced
Hypersensitivity Syndrome. JMAJ 52(5). Japanese Dermatological
Association : 2009; Vol.52(5): 347352.
15. MJ Torres, C Mayorga,M Blanca. Nonimmediate Allergic Reactions
Induced by Drugs: Pathogenesis and Diagnostic Tests. J Investig
Allergol Clin Immunol Esmon Publicidad : 2009; Vol. 19(2): 80-90
16. Tohyama M, Hashimoto K. New aspects of drug-induced
hypersensitivity syndrome. J Dermatol. 2011;38:228
17. Pierangeli SS. Involvement of p38 MAPK in the up-regulation of
tissue factor on endothelial cells by antiphospholipid
antibodies.Arthritis Rheum 2005; 52: 1545 54.
18. Kleiner DE. The pathology of drug-induced liver injury. Semin Liver
Dis 2009; 29:364
19. Lebargy F, Wolkenstein P, Gisselbrecht M, et al. Pulmonary
complications in toxic epidermal necrolysis: a prospective clinical
study. Intensive Care Med 1997; 23:1237
20. Alfonso Gutirrez-Macas, Eva Lizarralde-Palacios, Pedro MartnezOdriozola, Felipe Miguel-De la Villa. Fatal allopurinol
hypersensitivity syndrome after treatment of asymptomatic
hyperuricaemia. British Medical Journal.(2005) 331:623-624
21. S. Tas T. Simonart. Management of Drug Rash with Eosinophilia and
Systemic Symptoms (DRESS Syndrome): An Update. 2003
22. Chen YC, Chang CY, Cho YT, et al. Long-term sequelae of drug
reaction with eosinophilia and systemic symptoms: a retrospective
cohort study from Taiwan. J Am Acad Dermatol 2013; 68:459
23. Ushigome Y, Kano Y, Ishida T, et al. Short- and long-term outcomes
of 34 patients with drug-induced hypersensitivity syndrome in a
single institution. J Am Acad Dermatol 2012.
24. Chen YC, Chiu HC, Chu CY. Drug reaction with eosinophilia and
systemic symptoms: a retrospective study of 60 cases. Arch Dermatol
2010; 146:1373
25. Bourgeois GP, Cafardi JA, Groysman V, Hughey LC. A review of
DRESS-associated myocarditis. J Am Acad Dermatol 2012; 66:e229

18