Anda di halaman 1dari 14

Kerajaan-kerajaan HinduBudha di Indonesia

Kerajaan Kutai

02/03/16

Perbedaan Hindu-Budha

02/03/16

Pola Perdagangan

02/03/16

Jalur Perdagangan Dunia

02/03/16

Wilayah Kutai

02/03/16

Ditinjau dari sejarah Indonesia kuno,


Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua
di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan
ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis
diatas yupa (tugu batu) yang ditulis dalam
bahasa Sansekerta dengan menggunakan
huruf Pallawa.
Berdasarkan paleografinya (Yunani
palais, "kuno" dan
graphein, "menulis") adalah ilmu yang
meneliti perkembangan bentuk tulisan
atau tulisan kuno, tulisan tersebut
diperkirakan berasal dari abad ke-5
Masehi.
02/03/16

Prasati Yupa

02/03/16

Dari prasasti tersebut dapat


diketahui adanya sebuah kerajaan
dibawah kepemimpinan Sang Raja
Mulawarman, putera dari Raja
Aswawarman, cucu dari Maharaja
Kudungga. Kerajaan yang diperintah
oleh Mulawarman ini bernama
Kerajaan Kutai Martadipura, dan
berlokasi di seberang kota Muara
Kaman.
02/03/16

Kehidupan Politik
Dalam kehidupan politik masyarakat
Kutai mulai menggalami perubahan
terlebih setelah kemunculan dan
berkembangnya pengaruh Hindu
(India).
Pemerintahan Kepala Suku
Pemerintahan Kerajaan
02/03/16

Kehidupan Sosial
Perubahan pola kerajaan dari pola
suku.
Menjadi pola kerajaan yang relatif
teratur.
Masyarakat Indonesia berkembang
dan menerima unsur-unsur yang
datang dari luar (india).
02/03/16

10

Kehidupan Budaya
Yupa Budaya Megalithikum
Vaprakecvara
Lapangan luas
tempat pemujaan (Agama Siwa).
Peranan Kaum Brahmana (Agama
Siwa) dalam upacara pengorbanan.
Upacara pelepasan kuda
Perluasan
wilayah (raja Aswawarman).

02/03/16

11

Kehidupan Ekonomi
Aktivitas pelayaran dan perdagangan
antara Timur dan Barat (China-IndiaRomawi).
Letak kutai yang berada di daerah
pedalaman membuat daerah Kutai
berkembang (perdagangan).

02/03/16

12

Peninggalan budaya

02/03/16

13

Ketopong Sultan Kutai Kartanegara


Ketopong atau Mahkota Sultan Kutai Kartanegara
terbuat dari emas yang dihiasi dengan batu-batu
permata. Bentuk mahkota brunjungan dan bagian
muka berbentuk meru bertingkat, dihiasi dengan
motif ikal atau spiral yang dikombinasikan dengan
motif sulur. Hiasan belakang berupa garuda
mungkur berhiaskan ukiran motif bunga, kijang dan
burung.
Ketopong dari emas ini telah mulai digunakan
semenjak Sultan Aji Muhammad Sulaiman bertahta
( 1845 - 1899 ). Diperkirakan mahkota ini dibuat
pada pertengahan abad ke-19 oleh pandai emas
dari kerajaan Kutai sendiri. Seperti yang dijelaskan
oleh Carl Bock dalam bukunya The Head-Hunters of
Borneo (1881) bahwa Sultan Sulaiman memiliki 6
hingga 8 pandai emas yang dipekerjakan khusus
untuk membuat barang-barang emas dan perak
bagi Sultan.
02/03/16

14