Anda di halaman 1dari 20

BAB I

LAPORAN KASUS
A. ANAMNESIS
1. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Nn.FDY

Umur

: 14 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pelajar

Status

: Belum menikah

Alamat

: Wujil 6/1 Bergas, Bergas Kab. Semarang

No.RM

: 053074-2014

Tanggal masuk

: 13 Juni 2014

Tanggal pulang

: 19 Juni 2014

Kelompok pasien : JAMKESDA


Pasien bangsal

: Teratai

2. DATA DASAR
a. Keluhan utama : Demam
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Demam dirasakan sejak 4 hari yang lalu, demam naik turun, demam
terutama pada sore hari dan pada malam hari kadang pasien menggigil, pusing
(+), mual (-), muntah(-), nafsu makan menurun tetapi tetapi dapat makan
seperti biasa, pasien belum BAB sejak 5 hari yang lalu dan BAK normal.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Maag
: disangkal
Riwayat mondok
: disangkal
Alergi makanan
: disangkal
Riwayat Alergi /obat
: disangkal
Riwayat Hipertensi
: disangkal
Riwayat Diabetes Melitus : disangkal
Riwayat Pengobatan Lama : disangkal
d. Riwayat Penyakit pada Anggota Keluarga
Riwayat hipertensi : disangkal
1

Riwayat DM
: disangkal
Riwayat sesak nafas : disangkal
Riwayat sakit serupa : disangkal
Riwayat alergi
: disangkal
e. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien belum menikah, belum memiliki pekerjaan dan penghasilan,
sosial ekonomi kurang.
f. Riwayat penggunaan obat
Dirumah pasien menggunakan obat bodrex untuk penurun panas.
g. Riwayat kebiasaan
Merokok (-), makan tidak teratur (+), makan diluar (kadang-kadang),
minum alkohol (-), kebiasaan makan pedas (-).
h. Anamnesis sistem
1. Kepala : Pusing + , sakit kepala 2. Mata : kabur -/- , gatal -/- , kuning -/- , sekret -/3. Hidung : tersumbat -, keluar darah - , keluar lendir - , gatal 4. Telinga : penurunan pendengaran -, berdenging -, keluar sekret atau
darah 5. Mulut : bibir kering -, gusi mudah berdarah -,
6. Tenggorokan : rasa kering dan gatal -, serak -, sukar menelan 7. Sistem respirasi : sesak -, batuk -, dahak - , nyeri dada -, mengi
8. Kardiovaskular : berdebar-debar -, nyeri dada
9. Gastrointestinal : nyeri -, mual -, sebah -, cepat kenyang - nafsu makan
menurun +, diare -, sulit bab +, bab berdarah 10. Genitourinaria : nyeri saat bak -, panas saat bak -, sulit keluar pada
awal bak -, bak menetes -, warna seperti teh -, nanah -, gatal
11. Ekstremitas :nyeri sendi -, edema
B.

PEMERIKSAAN FISIK
A.

Keadaan Umum

Sakit sedang, compos mentis

B.

Status gizi

BB

40 kg

TB

146 cm

BMI 18,77 kg/ m2


Kesan
Tanda Vital

: Status gizi normoweight

TD : 100/60 mmHg
Nadi : 80x/menit, isi dan tegangan cukup
Frekuensi Respirasi : 20 x/menit
2

Suhu : 36,8 0C
Rumple leed: (-)
C.

Kulit

Warna sawo matang, ikterik (-), anemis (-)

D.

Kepala

Bentuk mesocephal, rambut warna hitam,

E.

Mata

Konjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (+/+), pupil


isokor dengan diameter 3 mm/3 mm, refleks
cahaya (+/+)

F.

Mulut

Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-) pucat


(-), coated tongue (+), papil lidah atrofi (-)
stomatitis (-), luka pada sudut bibir (-)

G.

Leher

JVP (-), trakea di tengah, simetris, pembesaran


tiroid (-), pembesaran limfonodi cervical (-)

H.

Thorax

Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostal


(-), pernafasan torakoabdominal, sela iga melebar
(-), pembesaran KGB axilla (-/-)

Jantung :
Inspeksi

Iktus kordis tidak tampak

Palpasi

Iktus kordis teraba di SIC V linea midclavicula


sinistra, tidak kuat angkat.

Perkusi

Batas jantung kanan


parasternalis dextra

atas

SIC

II

linea

Batas jantung kanan bawah SIC IV linea


parasternalis dextra
Batas jantung kiri atas SIC II linea parasternalis
sinistra
Batas jantung kiri bawah SIC IV linea media
clavicularis sinistra
Auskultasi

Bunyi jantung I-II murni,


intensitas normal reguler, bising (-), gallop (-),
murmur (-).

Pulmo :
Inspeksi

Statis

Normochest, simetris

Dinamis

Pengembangan dada kanan = kiri, sela iga tidak


3

melebar, retraksi intercostal (-)


Palpasi
Perkusi

Auskultasi

Pergerakan dada kanan = kiri,


kanan = kiri

fremitus raba

Kanan

Sonor

Kiri

Sonor

Kanan

Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan (-)

Kiri

Suara dasar vesikuler (+), suara tambahan (-)

K. Punggung

kifosis (-), lordosis (-), skoliosis (-)

L. Abdomen
Inspeksi

Dinding perut sejajar dengan dinding thorax,


venektasi (-), caput medusae (-)

Auskultasi

Bising usus (+) normal

Perkusi

Timpani, pekak sisi (-), pekak alih


undulasi (-)

Palpasi

Supel, hepar tidak teraba, bruit (-), lien tidak


teraba. Nyeri tekan abdomen regio epigastrium,
lumbal sinistra, umbilikus.

M. Genitourinaria
N.

(-), tes

sekret (-), radang (-)

Ekstremitas
Superior dekstra

Pitting edema (-), spoon nail (-), kuku pucat (-),


clubing finger (-), palmar eritema (-), palmar
ikterik (-)

Superior sinistra

Pitting edema (-) spoon nail (-), kuku pucat (-),


clubing finger (-), palmar eritema (-), palmar
ikterik (-)

Inferior dekstra

Pitting edema (-), spoon nail (-) kuku pucat (-),


clubing finger (-), nyeri genu (-), oedem genu (-),
plantar pedis ikterik (-)

Inferior Sinistra

Pitting edema (-), spoon nail (-) kuku pucat (-),


clubing finger (-), nyeri genu (-), oedem genu (-),
plantar pedis ikterik (-)

C.

RESUME
Demam (+) sejak 4 hari yang lalu, demam dirasakan naik turun, panas
terutama pada sore hari dan turun jika minum obat warung, BAB (-) sejak 5
hari yang lalu, mual(-), muntah (-), BAK normal.
Pasien mengaku makan tidak teratur dan tidak ada riwayat mondok
dengan keluhan yang sama. Dari pemeriksaan fisik didapatkan pasien dalam
keadaan kompos mentis, status gizi normoweight, lidah coated tongue, bising
usus meningkat 10x/menit, nyeri tekan abdomen regio epigastrium, lumbal
sinistra, umbilikus, tes RL (-)

D.

ASSESSMENT
Observasi febris suspek demam tifoid
Diagnosis differential :
Demam dengue

E.

PLANNING
Lab. Darah rutin
SGPT & SGOT
Uji widal
F.
TERAPI
Non farmakologi
-

Istirahat
Diet Lambung II

Farmakologi
Inf. RL 16 tpm
Inj. Ceftriakson 2x1 gram (skin test)
Parasetamol 3x1
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.Pemeriksaan Laboratorium
a. Laboratorium Darah
Tanggal 14 Juni 2014
Hematologi
Pemeriksaan

Hasil

Nilai rujukan

Satuan

Hemoglobin

11,8

11.5-14,5

g/dl

Lekosit

4,2

5.0-11

Ribu
5

Eritrosit

3,99

4.0-5,4

Juta

Hematokrit

34.3

37-45

Trombosit

211

150-400

Ribu

MCV

86

77-91

Mikro m3

MCH

29,6

24-30

Pg

MCHC

34,4

32-36

g/dl

RDW

13,5

10-16

MPV

8,6

7-11

Mikro m3

Limfosit

3.5

1.5-6.5

10^3/mikroL

Monosit

0.4

0-0.8

10^3/mikroL

Eosinofil

0.0

0-0.6

10^3/mikroL

Basofil

0.0

0-0.2

Neutrofil

2.4

1.8-8.0

Limfosit%

31.0

25-40

Monosit %

8.6

2-8

Eosinofil %

0.1

2-4

Basofil %

0.1

0-1

Neutrofil %

57.2

50-70

PCT

0.181

0.2-0.5

PDW

13

10-18

SGOT

105

<25

U/L

SGPT

108

<25

U/L

Negatif

Negatif

Kimia Klinik

Serologi
Widal
S.Thyphi O

S. Paratyphi A-H

Positif 1/320

Negatif

S. Typhi H

Positif 1/160

Negatif

Tanggal 18 Juni 2014


Hematologi

Pemeriksaan

Hasil

Nilai rujukan

Satuan

Hemoglobin

11,1

11.5-14,5

g/dl

Lekosit

6.7

5.0-11

Ribu

Eritrosit

3,74

4.0-5,4

Juta

Hematokrit

32.5

37-45

Trombosit

412

150-400

Ribu

MCV

86.9

77-91

Mikro m3

MCH

29,7

24-30

Pg

MCHC

34,2

32-36

g/dl

RDW

13,5

10-16

MPV

7.2

7-11

Mikro m3

Limfosit

2.9

1.5-6.5

10^3/mikroL

Monosit

0.8

0-0.8

10^3/mikroL

Eosinofil

0.1

0-0.6

10^3/mikroL

Basofil

0.0

0-0.2

Neutrofil

2.9

1.8-8.0

Limfosit%

43.5

25-40

Monosit %

11.9

2-8

Eosinofil %

1.0

2-4

Basofil %

0.3

0-1

Neutrofil %

43.3

50-70

%
7

PCT

0.293

0.2-0.5

PDW

13

10-18

SGOT

45

<25

U/L

SGPT

64

<25

U/L

S.Thyphi O

Positif 1/80

Negatif

S. Paratyphi A-H

Positif 1/320

Negatif

S. Typhi H

Negatif

Negatif

Kimia Klinik

Serologi
Widal

H.
Tanggal
14-62014

Follow up dari tanggal 14 Juni 2014 - 19 Juni 2014


Subject
pusing, lemas,

Object
-

sedikit mual (+),


muntah (-),
demam(+), BAB

(-) sejak 5 hari


yang lalu, BAK

normal
-

Assessment

Planning

TD : 100/60 mmHg, -

Obs.

N: 80x/mnt, RR :

Febris hari -

Inj.

20x/mnt, S : 36,8C
Bising
usus

ke-5 susp.

Ceftriakson

Tifoid
meningkat 10x/mnt , Dd : demam
coated tongue,
Nyeri tekan
abdomen regio
epigastrium, lumbal
sinistra, umbilikus,
tes RL (-)

dengue

Inf. RL 16 tpm

2x1 gram (skin


test)
-

Parasetamol 3
x1
Pemeriksaan:
Darah rutin
Kimia
darah
(SGOT,SG
PT)
Tes Widal
8

15-62014

Pusing(+),
mual(-),
muntah(-),
panas(+), BAB (-),

TD : 100/60 mmHg N : 76 x/m


RR : 18 x/m
S : 37 C
KU : baik, compos
mentis.Bising

BAK normal

usus -

6x/menit, , coated
tongue, Nyeri tekan
abdomen

Obs.
Febris
hari ke-6
susp.
Tifoid
Dd :
demam
dengue

Terapi lanjut

Hepatitis
tifosa

Terapi lanjut

Curcuma 3x1

Hepatitis

Terapi lanjut

regio

epigastrium, lumbal
sinistra, umbilikus
-

16-62014

pusing,

lemas, -

TD : 90/60 mmHg, -

mual (-), muntah

N: 88x/mnt, RR :

(-), BAB (-) sejak

20x/mnt, S : 36,4C
Bising
usus

minggu

yang

6x/menit,coated

lalu, BAK normal


-

tongue (+)
Nyeri

tekan

abdomen (-)

17-62014

Pusing(+),mual(-),
muntah(-),
panas(+),BAB (-)

TD : 100/60 mmHg N : 76 x/m


RR : 18 x/m
S : 36,3 C
KU : baik, compos
mentis.Bising

tifosa

usus

6x/menit,

coated

tongue(+)
Nyeri

tekan
9

abdomen (-)

18-62014

Pusing(-),

sudah -

TD : 100/70 mmHg, -

Hepatitis

tidak panas dari

N: 80x/mnt, RR :

tifosa

kemarin

20x/mnt, S : 36,8C
Bising usus dbn,

coated tongue(-)
Nyeri
tekan

sore(+),

BAB(-)

Pusing(-),mual(-),

muntah(-),
panas(-), BAB(-) 11 hari

dbn,

nyeri

darah

(SGOT,SGPT)
- Tes Widal

TD : 100/70 mmHg N : 76 x/m


RR : 18 x/m
S : 36,3 C
KU : baik, compos
mentis.Bising

- Darah rutin
- Kimia

abdomen (-)

19-62014

Pemeriksaan:

Hepatitis
tifosa

pulang

usus
tekan

abdomen (-),

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
10

II.1. Definisi
Demam tifoid adalah Adalah demam akut yg disebabkan oleh Salmonella typhii bisa
juga oleh Salmonella enteriditis bioserotip paratyphii A dan Salmonela enteriditis serotip
paratyphi B disebut demam paratifoid.
II.2. Etiologi
Bakteri salmonella bentuk Batang, tidak berspora, Gram negatif, warna merah, ukuran
1-3,5 um X 0,5-0,8 um. Mempunyai flagel peritrikh kecuali Salmonella pullorum dan
Salmonella gallinarum, Aerob dan fakultatif anaerob pd suhu 15-41O C suhu pertumbuhan
optimum 37,5 C pH pertumbuhan 6-8, kuman mati pada suhu 56OC juga pada keadaan kering.
Dalam air biasa tahan selama 4 minggu. Hidup subur pada medium mngandung garam
empedu.
Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu :
1. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman. Bagian ini
mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin. Antigen ini tahan
terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.
2. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari kuman.
Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi
tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
3. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi
kuman terhadap fagositosis.
Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan
pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.

II.3. Patofisiologi

11

12

Salmonella typhi masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.


Sebagian dimusnahkan dalam lambung dan sebagian masuk ke dalam usus dan selanjutnya
berkembang biak. Bakteri akan menembus sel epitel dan menuju lamina propia. Di lamina
propia bakteri berkembang biak kemudian difagositosis terutama oleh makrofag selanjutnya
dibawa ke plak Peyeri ileum selanjutnya menuju kelenjar getah bening mesentrika. Melalui
duktus torasikus bakteri yang berada dalam makrofag beredar dalam sirkulasi darah
(mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) menuju organ retokuloendotelial
terutama hati dan limpa. Di organ-organ tersebut bakteri meninggalkan sel fagosit untuk
berkembang biak di luar sel atau ruang sinosoid selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah
lagi mengakibatkan bakterimia kedua yang menyebabkan tanda dan gejala penyakit infeksi.
Di hati kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak, bersama cairan
empedu keluar secara intermiten ke dalam lumen usus, sebagian kuman dikeluarkan melalui
feses dan sebagian lagi masuk ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama
terulang kembali, karena makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat fagositosis
bakteri S. typhi terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan
menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala,
sakit perut, gangguan mental, dan koagulasi.

II.4. Gejala klinis


a) Demam
Demam atau panas adalah gejala utama tifoid. Pada awalnya demam hanya samarsamar saja, selanjutnya suhu tubuh sering turun naik. Pagi lebih rendah atau normal, sore atau
malam lebih tinggi dari normal (demam intermitten). Semakin hari intensitas demam makin
tinggi disertai gejala lain seperti pusing, sakit kepala, mual-muntah, diare, nyeri otot pegal,
anoreksia.
b) Gangguan saluran pencernaan
Sering ditemukan bau mulut yang tidak sedap karena demam yang lama. Bibir kering
kadang pecah-pecah. Lidah kelihatan kotor ditutupi selaput putih. Pada ujung lidah
ditemukan kemerahan dan tremor (coated tongue dan selaput putih). Terdapat gejala nyeri
perut terutama di regio epigastrik (daerah ulu hati), disertai nausea, mual dan muntah. Pada

13

awal muntah sering meteorismus dan konstipasi. Pada minggu selanjutnya kadang timbul
diare.
c) Gangguan kesadaran
Umumnya terjadi gangguan kesadaran berupa penurunan kesadaran ringan. Sering
pasien menjadi apatis, bila keadaan klinis berat bisa menjadi somnolen dan koma atau dengan
gejala psychosis (Organic Brain Syndrome). Pada penderita toksik, gejala delirium lebih
menonjol.
d) Hepatosplenomegali
Hati dan limpa dapat ditemukan sering membesar. Hati teraba kenyal dan nyeri tekan.
e) Bradikardi relatif dan gejala lain
Bradikardi relatif adalah peningkatan suhu tubuh yang tidak disertai dengan
peningkatan frekuensi nadi. Gejala ini jarang ditemukan, mungkin karena pemeriksaan
yang sulit dilakukan. Patokan yang sering dipakai adalah bila kenaikan suhu tubuh
sekitar 1C disertai dengan peningkatan frekuensi nadi sebanyak 8 denyut dalam 1
menit. Gejala lain adalah Rose spot biasanya ditemukan di regio abdomen atas, pada
anak sangat jarang terjadi kebanyakan terjadi adalah epitaksis.
Berdasarkan waktunya biasanya:
-

Minggu I: demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah,
obstipasi/diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, epistaksis.

Minggu II: demam, bradikardi relatif, hepatomegali, splenomegali, gangguan mental


seperti stupor, somnolen, koma, delirium. Roseola jarang ditemukan pada orang di
Indonesia.

Minggu III : minggu penyembuhan/konvelesen. Jika terawat dengan baik panasnya


akan turun. Jika tidak terawat dengan baik makan akan terjadi perforasi usus dan
pasien dapat meninggal.

II.5. Pemeriksaan Laboratorium


Biasanya leukopenia
Anemia ringan
Trombositopenia
Aneosinofilia maupun limfopenia
LED meningkat
14

SGOT dan SGPT seringkali meningkat, kembli normal setelah sembuh


Kultur darah
Uji widal
Untuk deteksi antibodi kuman S.typhi . Terjadi suatu reaksi aglutinasi antara
antigen kuman dengan antibodi yg disebut aglutinin. Aglutinin O (dr tubuh kuman).
Aglutinin H (flagela kuman) dan Aglutinin Vi (simpai kuman) dari ke3nya hanya
aglutinin O dan H untuk diagnosis. Pembentukan aglutinin mula-mula terjadi pada
akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat secara cepat dan mencapai kadar
puncak pada minggu ke-4 dan tetap tinggi selama beberapa minggu. Pada fase akut
mula-mula timbul aglutinin O, kemudian diikuti aglutinin H. Pada orang sembuh,
aglutinin O masih tetap dijumpai setelah 4-6 bulan, sedangkan aglutinin H menetap
lebih lama yaitu 9-12 bulan.
Dikatakan widal positif jika :
Kenaikan titer 4 kali dari nilai normal pada pemeriksaan ulangan 5-7 hari
Pada endemik : titer >= 1/80 pada O dan H
Pada non-endemik : titer >= 1/160 pada O dan H

Faktor yang mempengaruhi uji widal :


-

Pengobatan dini dengan antibiotik


Gangguan pembentukan antibodi, dan pemberian kortikosteroid
Waktu pengambilan darah
Daerah endemik atau non endemik
Riwayat vaksinasi
Reaksi amnestik, yaitu peningkatan titer aglutinin pada infeksi bukan demam tifoid
akibat infeksi demam tifoid masa lalu atau vaksinasi
Faktor teknik pemeriksaan laboratorium, akibat aglutinasi silang, dan strain
salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen.

Uji Tubex
Uji semikuantitatif kolometrik yang cepat (beberapa menit) dan mudah utk dikerjakan
Mendeteksi antibodi anti S.typhi 09 pd serum pasien dgn cara menghambat ikatan
antara IgM anti 09 yg trkonjugasi pada partikel latex yg brwarna dgn lipopolisakarida
S.typhi yg terkonjugasi pd partikel magnetik latex.

15

Hasil positif menunjukan infeksi Salmonella serogroup D walau tdk spesifik.


S.paratyphi memberikan hasil negatif.
Skor

Interpretasi

<2

Negatif : tidak menunjuk infeksi tifoid


aktif

Borderline : pengukuran tdk dpt


disimpulkan. Ulangi pengujian apabila
msh meragukan lakukan pengulangan
bbrp hr kemudian

4-5

Positif : menunjukan infeksi tifoid aktif

>6

Positif : indikasi kuat infeksi tifoid aktif

Uji tyhphidot
Mendeteksi antibodi IgM dan IgG yg terdapat pd protein membran luar S.typhi.
Hasil positif : 2-3 hari setelah infeksi dan dpt mengidentifikasi secara spesifik
antibodi IgM dan IgG thdp antigen S.typhi seberat 50 kD yg tdpt pd strip
nitroselulosa.
Uji IgM dipstick
Mendeteksi antibodi IgM spesifik S.typhi pada spesimen serum atau whole blood.
Menggunakan strip yg mengandung LPS S.typhoid dan anti IgM (kontrol).
Secara semikuatitatif diberikan penilaian terhadap garis uji dengan
membandingkannya dengan reference strip.

II.6. Diagnosis
a) Diagnosis klinis
Gejala klinis yang sering ditemukan yaitu demam, sakit kepala, kelemahan, nausea,
nyeri abdomen, anoreksia, muntah, gangguan gastrointestinal, insomnia, hepatomegali,
splenomegali, penurunan kesadaran, bradikardi relatif, feses berdarah. Suspek demam tifoid
16

diambil dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, didapatkan gejala demam, gangguan cerna,
dan petanda gangguan kesadaran. Jadi sindrom tifoid didapatkan belum lengkap. Diagnosis
suspek tifoid dibuat hanya berdasarkan pelayanan kesehatan dasar. Demam tifoid klinis
diambil jika didapatkan gejala klinis yang lengkap atau hampir lengkap, serta didukung oleh
gambaran laboratorium yang menunjukkan tifoid.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memastikan adanya bakteri S. typhi.
1. Biakan S. typhi
Metode ini dengan isolasi S. typhi dengan medium differensial yaitu medium EMB,
atau MacConkey. Medium selektifnya dengan agar salmonella-shigella (SSA). Jika
hasil biakan tidak tumbuh maka dilakukan tes serologi.
2. Test serologi
Test ini diambil daru serum penderita. Uji aglutinasi dengan cara mencampur
diatas slide,serum pasien dan biakan yang tidak diketahui. Bila terjadi gumpalan,
dapat dilihat dalam beberapa menit. Uji aglutinasi pengenceran tabung (tes Widal)
prinsip uji ini adalah memeriksa reaksi antara antibodi dengan aglutinin dalam
serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen
somatik (O) dan flagela yang telah ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga
terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi titer
antibodi dalam serum. kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan Widal II, 5-7
hari kemudian. Interpretasi jika uji Widal titer-O yang tinggi atau meningkat (
1:160) menandakan adanya infeksi aktif. Namun saat ini belum ada kesamaan
pendapat mengenai titer aglutinin yang bermakna diagnosis untuk demam tifoid.
Batas titer yang sering dipakai hanya kesepakatan saja, hanya berlaku setempat dan
batas ini bahkan dapat berbeda di berbagai laboratorium setempat.
3. Pemeriksaan pelacak DNA S. typhi dengan PCR (Polimerase Chain Reaction)
b) Komplikasi
Adanya komplikasi dilakukan secara klinis, dibantu oleh pemeriksaan penunjang,
laboratorium dan radiologik.
II.7. Komplikasi
Komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
1. Komplikasi Intestinal
a. Perdarahan Usus
17

Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak
membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita mengalami
syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila terdapat perdarahan
sebanyak 5 ml/kgBB/jam.
b. Perforasi Usus
Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada minggu ketiga
namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita demam tifoid dengan perforasi
mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah yang kemudian
meyebar ke seluruh perut. Tanda perforasi lainnya adalah nadi cepat, tekanan darah turun dan
bahkan sampai syok.
2. Komplikasi Ekstraintestinal
a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis), miokarditis,
trombosis dan tromboflebitis.
b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, koaguolasi intravaskuler
diseminata, dan sindrom uremia hemolitik.
c. Komplikasi paru : pneumoni, empiema, dan pleuritis
d. Komplikasi hepar dan kandung kemih : hepatitis dan kolelitiasis
Pembengkakkan hati ringan sampai sedang dijumpai pada 50% kasus dengan
demam tifoid dan lebih banyak dijumpai pada S. thypi daripada S. parathypi. Untuk
membedakan apakah hepatitis ini karena thypoid, virus, malaria, atau amuba maka perlu
diperhatikan kelainan fisik, parameter laboratorium, dan bila perlu histopatologik hati.
Pada demam tiroid kenaikan enzin transaminase tidak relevan dengan kenaikan serum
bilirubin (untuk membedakan dengan hepatitis oleh karena virus). Hepatitis tifosa dapat
terjadi pada pasien dengan malnutrisi dan sistem imun yang kurang.
e. Komplikasi ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis
f. Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis
g. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer,
psikosis, dan sindrom katatonia.
II.8. Penatalaksanaan
Trilogi penatalaksanaan demam tifoid
1.
2.
3.

Istirahat dan perawatan


Diet dan terapi penunjang (simtomatik dan suportif)
Pemeberian antimikroba

Tirah baring dan perawatan mencegah terjadinya komplikasi. Makanan padat dini yaitu
nasi dan lauk pauk rendah selulosa ( menghindari sementara sayuran yang berserat) dapat
diberikan dengan aman pada pasien demam tifoid.
Pemberian antimikroba :
18

Kloramfenikol : obat pilihan utama. Dosis 4x500mg/hari peroral atau IV. Diberikan 7
hari bebas panas.
Tiamfenikol : dosis 4x500mg, demam rata2 menurun pada hari ke 5 sampai ke-6
Kotrimikazol : dosis 2x2 (1 tablet mengandung sulfametoksazol 400mg dan 80mg
trimetoprim) diberikan selama 2 minggu.
Ampisilin dan amoksisilin : kemampuan menurunkan panas lebih rendah dibanding
yg lain. Dosis 50-150 mg/kgBB dan digunakan selama 2minggu.
Sefalosporin generasi ke-3 : seftriakson dosis 3-4 gr dlm dekstrosa 100cc diberikan
selama jam perinfus sekali sehari, diberikan selama 3 -5 hari.

golongan fluorokuinolon : Norfloksasin dosis 2x400mg/hr slm 14hari.


siprofloksasin dosis 2x500mg/hr slm 6 hr. Ofloksasin dosis 2x400mg/hr selama 7hr.
Pefloksasin dosis 400mg/hr selama 7hari. Fleroksasin dosis 400 mg/hr slm 7 hari.

DAFTAR PUSTAKA
Jawetz et al. 2008. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23. Jakarta : EGC.
Keputusan

Menteri

Kesehatan.

2006.

Pedoman

Pengendalian

Demam

Tifoid.

http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%20364%20ttg
%20Pedoman%20Pengendalian%20Demam%20Tifoid.pdf.
Mansjoer Arif. 2009. Kapita Selekta Kedokteran edisi III volume 1. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Price A. Sylvia. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit edisi VI volume 2. Jakarta:
EGC.
Widodo, Djoko. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Kelima Jilid III. Jakarta :
InternaPublishing

19

20