Anda di halaman 1dari 20

UJI TOKSISITAS AKUT

Andy Oktaviansyah (24041315287)


Annisa Fadhilah (24041315289)
Erlanda Al Ayyubi (24041315298)
Fathia Michella T.P. (24041315299)
Hermanto H.S. (24041315303)
Hezti Azmayuda (24041315304)
Hesti Pratiwi (24041315305)
Muhammad Tahmid (24041315316)
Nur Arsita Pebruati (24041315318)
Nur Rizky Rukmana (24041315319)
Vina Aryani (24041315327)
Wina Purnama Sari (24041315328)
Yuni Sri Lestari (24041315332)

Praklinik

Umum

Akut
Subakut
Kronik

Spesifik

Uji toksisitas

Teratogenik
Karsinogenik
Mutagenik

Klinik

Lama Uji Toksisitas


Lama masuknya
dalam keadaan
sehari-hari

Lama Pemberian dlm uji toksisitas


akut

subakut

kronik

Satu kali atau


beberapa dosis

Satu kali

Paling tidak 2 Tidak perlu


minggu

Kurang dari 1
minggu

Satu kali

13-26 minggu Paling tidak 6


bulan

Lebih dari 4
minggu

Satu kali

Paling tidak
26 minggu

Paling tidak 1
tahun

DEFINISI TOKSISITAS
AKUT
Ketoksikan akut adalah derajat efek toksik suatu
senyawa yang terjadi secara singkat (24 jam) setelah
pemberian dalam dosis tunggal.
Uji toksisitas akut adalah uji yang dilakukan untuk
mengukur derajat efek suatu senyawa yang diberikan
pada hewan coba tertentu, dan pengamatannya dilakukan
pada 24 jam pertama setelah perlakuan dan dilakukan
dalam satu kesempatan saja.

DEFINISI TOKSISITAS
AKUT
Uji toksisitas akut merupakan uji untuk menentukan
Dosis Lethal (LD50), dimana LD50 didefinisikan
sebagai dosis tunggal suatu zat yang secara statistik
diharapkan akan membunuh 50 % hewan percobaan.
Uji toksisitas akut dapat memberikan gambaran tentang
gejala-gejala ketoksikan terhadap fungsi penting seperti
gerak, tingkah laku, dan pernafasan yang dapat
menyebabkan kematian.

PENDAHULU
AN
Keracunan akut dihasilkan dari jumlah racun yang relatif besar
memasuki tubuh dihitung dengan periode menit, jam, atau
beberapa hari.
Evaluasi tidak hanya mengenai LD50, tetapi juga terhadap
kelainan tingkah laku, stimulasi, aktivitas motorik, dan
pernapasan mencit atau hewan percobaan lainnya untuk
mendapatkan gambaran tentang sebab kematian (Darmansjah,
1995).

TUJUAN DAN SASARAN UJI


TOKSISITAS AKUT

Tujuan dilakukannya uji toksisitas akut adalah untuk


menentukan potensi ketoksikan akut dari suatu senyawa
dan untuk menentukan gejala yang timbul pada hewan
coba, adanya efek toksik yang khas (kualitatif) serta
mode of death (kualitatif). Sasaran uji toksisitas akut
adalah organ hati, ginjal, hemopoetik dari hewan uji.

TATA CARA PELAKSANAAN UJI


TOKSISITAS AKUT
Dalam tata cara pelaksanaan uji toksisitas akut
(Lu,2006), terdapat beberapa indikator yang
diamati, yaitu :
Pemilihan hewan uji
Orientasi dosis
Penentuan dosis
Cara pemberian
Frekuensi pemberian & Jumlah zat yg diberikan
Pengamatan

PEMILIHAN HEWAN UJI

Spesies Hewan
1.
2.
3.

4.

Sekurang-kurangnya dua spesies, yaitu rodent & non-rodent [BPOM,


2006].
Paling tidak 2 jenis hewan uji rodentia (mencit & tikus putih) dan satu
jenis non rodent (anjing & kera) [Natijan, 2006].
Umumnya digunakan mencit & tikus ordo mamalia yang paling
rendah, murah, mudah didapat & ditangani, terdapat banyak data
toksisitas tentang hewan ini sehingga mudah untuk membandingkan
toksisitas antar zat.
Dari satu galur, sehat, dewasa, BB mirip

Kelamin: jantan & betina


Jumlah Hewan: rodent minimal 5 ekor untuk tiap jenis
kelamin, non rodent minimal 2 ekor tiap jenis kelamin.

ORIENTASI DOSIS

Bertujuan mencari dosis yg kira-kira dapat mematikan 10% &


90% hewan uji.
Untuk mencit & tikus, umumnya 2 ekor, diberi dosis 0.5, 5, 50,
500, 5000mg/kgbb.
Untuk anjing & kera digunakan 1 ekor, berikan dosis tertentu
berdasarkan penggunaan empiris, tingkatkan dosis 10 kalinya
setiap hari hingga mati.
Berikan dosis tersebut untuk anjing/kera lainnya untuk
memastikan dosis tsb dapat mematikan.

PENENTUAN DOSIS

Minimal 3 tingkatan dosis.


Dapat dihitung jika diketahui dosis hasil orientasi mematikan
sekitar 10 & 90% hewan uji, dosis ke-2 atau dosis ke-3
diantaranya dapat dihitung dg rumus: [log N/n =k.log a/n]

N:

Dosis mematikan sekitar 90% hewan uji


N: Dosis mematikan sekitar 10% hewan uji
k: ragam 1 (k=jumlah kel. Tanpa kontrol)
a: Dosis setelah n, dosis berikutnya setelah a
b=a2/n, dosis c=b2/n

CARA
PEMBERIAN

Pemberian obat pada hewan disesuaikan


dg penggunaan pada manusia.
Hewan dipuaskan 8-12 jam sebelum
pemberian zat uji, akses minum ad
libitum.
Biasanya diberikan dg konsentrasi yang
tetap dengan bermacam-macan dosis
daripada berdasarkan volume tetap.

&
JUMLAH ZAT YANG
DIBERIKAN
Dosis tunggal atau berulang dalam waktu 24 jam.
Jumlah Zat yg diberikan tergantung jenis hewan yang
digunakan.

Rute Pemberian (Maks)


Hewan
po
iv
sc
im
0.05 mL
Tikus 5 mL 2-5 mL 2-5 mL

Mencit 1 mL 1 mL

0.5-1.5 mL

0.1 mL

PENGAMATAN

Pengamatan hewan uji dilakukan pada jam ke-1, 2 dan 4


setelah pemberian dan setiap hari selama 7-14 hari.
Catat jumlah hewan yg mati selama 7-14 hari.
Mati < 3 harifaktor dosis langsung.
Mati > 3 hariakibat kerusakan organ.
Amati dan catat perubahan BB, pengurangan konsumsi
makanan jika ada.
Pemeriksaan kimia darah.
Jika ada yang mati periksa PA jaringan.
Buat grafik hubungan log dosis vs % responsLD50 dapat
diketahui.

Sistem
Autonomik

Perilaku

Tanda Toksik
Membran niktitans melemas, eksoftalmos, hipersekresi hidung, saliva,
diare, keluar air seni, piloereksi
Sedasi, gelisah, posisi duduk kepala ke atas, pandangan lurus ke depan,
kepala terduduk, depresi berat, sering menjilat-jilat tubuh
Peka terhadap nyeri, righting reflex, refleks kornea, refleks labirin,

Sensorik

penempatan dan tulang belakang, peka terhadap bunyi dan sentuhan,


fonasi

Neuromuskuler
Kardiovaskuler

Aktivitas meningkat atau berkurang, fasikulasi, tremor, konvulsi,


ataksia, lemas
Denyut jantung meningkat atau berkurang, sianosis, vasokontriksi,
vasodilatasi

Pernafasana dan Mata

Hipopnea, dispnea, terengah-engah, midriasis, miosis, lakrimasi, ptosis

Gastrointestinal,

Salivasi, berdahak, diare, ingusan, berak atau kencing berdarah,

gastrourinary
Kulit

konstipasi
Piloereksi, menggigil, eritema, edema, nekrosis, bengkak

ANALISIS HASIL DAN EVALUASI

Data gejala klinis yang didapat dari fungsi vital,


dipakai sebagai pengevaluasi mekanisme penyebab
kematian secara kualitatif.
Data hasil pemeriksaan histopatologi digunakan untuk
mengevaluasi spektrum efek toksik
Data jumlah hewan yang mati digunakan untuk
menentukan nilai LD50.

ANALISIS HASIL DAN EVALUASI

Hubungan Dosis-Respon
Bila frekuensi atau efek lain dihubungkan
terhadap dosis dalam skala logaritmik, diperoleh
suatu kurva berbentuk S. Bagian tengan kuva itu
(antara 16% dan 84% respon) cukup lurus untuk
memperkirakan LD50 atau ED50.
Akan
tetapi, banyak bagian kurva dapat
diluruskan dengan menggambarkan titik-titik
tersebut berdasarkan nilai basis probit. Prosedur
ini terutama berguna untuk memperhitungkan,
misalnya LD5 atau LD95, dengan menggunakan
ujung-ujung ekstrem dari kurva.

ANALISIS HASIL DAN EVALUASI

Potensi Relatif

Potensi suatu toksikan sangat beragam. Agar nilai


LD50 lebih ada artinya dianjurkan juga untuk
menentukan simpang bakunya (atau confidence limit)
dan kemiringan (slope) pada kurva dosisi-respon.
Jika confidence limit dari dua LD50 tumpang tindih,
zat yang LD50-nya lebih kecil mungkin tidak lebih
toksik daripada zat lainnya.
Kemiringan kurva penting untuk membandingkan dua
zat yang LD40-nya hampir sama. Zat yang membentuk
kurva yang lebih datar akan menyebabkan lebih banyak
kematian daripada zat lainnya pada dosis yang lebih
kecil daripada LD50.

MANFAAT UJI
TOKSISITAS AKUT

Uji toksisitas akut merupakan bagian dari uji toksisitas


kuantitatif yang dilakukan dalam jangka waktu yang
singkat sebagai akibat dari pemaparan jangka pendek
suatu bahan kimia, pada uji ini mempunyai manfaat
sebagai pengukur derajat toksikan suatu zat kimia pada
dosis tinggi, waktu pemaparan pendek dengan efek
parah dan mendadak, dimana organ absorpsi dan
eksresi yang terkena.

TERIMA KASIH