Anda di halaman 1dari 45

GEOLOGI REGIONAL

I.1.

Tatanan Geologi Lapangan Panas Bumi Kamojang


Lapangan panas bumi Kamojang terletak 42 km arah tenggara kota Bandung,

Jawa Barat. Lapangan ini membentang pada deretan pegunungan api Rakutak-Guntur dan
terletak 1500 m di atas permukaan

laut. Lapangan Kamojang memiliki reservoir

dengan tipe sistem dominasi uap. Bentuk manifestasi panas bumi di permukaan yang
ada di lapangan ini terdiri dari kolam air panas, kubangan lumpur panas, tanah beruap dan
mata air panas yang tersebar di area Kamojang.
Secara geologi lapangan Kamojang memiliki 7 litologi (satuan batuan) dengan
urutan dari tua ke muda yaitu [1] :
a. Satuan batuan gunung Cibatuipis (hornblande andesite lava)
b. Satuan batuan gunung Pangkalan ( Labradorite lava dan tuff)
c. Satuan batuan gunung Gandapura (pyroxene andesite lava dan tuff)
d. Satuan batuan gunung Kancing (pyroclastic deposits dan basaltic andesite lava)
e. Satuan batuan gunung Masigit ( basaltic andesite lava)
f. Satuan batuan gunung Gajah ( basaltic andesite lava)
g. Satuan batuan gunung Guntur (pyroxene andesite lava)

Berdasarkan data litologi di atas, diketahui bahwa sebagian besar batuan di lapangan
Kamojang merupakan jenis batuan andesit. Batuan ini memiliki kandungan

18

O sekitar +6,5

18
, Komposisi ini cukup rendah bila dibandingkan dengan komposisi O dari jenis
batuan lain, seperti batuan karbonat dengan
18
kandungan O sekitar +20 hingga +30 dan mineral kuarsa dengan

18
kandungan O sekitar +9,0 hingga +10 [2]. Peta geologi lapangan

Kamojang dapat dilihat pada Gambar 1.1 di bawah ini.

Gambar 1.1 A. Peta geologi lapangan panas bumi Kamojang; B. Area Kamojang
(blok warna merah muda) [

I.2.

Latar Belakang
Lapangan Kamojang adalah lapangan panas bumi pertama di Indonesia. Lapangan

ini mulai beroperasi secara komersial tahun 1983. Uap kering diproduksi dari reservoir
sebesar 1100 ton/jam atau setara dengan 200 MWe (Laporan Harian Fungsi Produksi PT
Pertamina Geothermal Energy area Kamojang, 2013.Tidak dipublikasikan).
18

O (oksigen-18) dan D (deuterium) merupakan salah satu parameter geokimia panas

bumi yang berfungsi sebagai perunut untuk mengetahui asal-usul fluida hidrotermal dan
hubungan interkoneksi antara sumur reinjeksi dan sumur produksi. Selain itu, dapat juga
diaplikasikan untuk mengetahui nilai

18

O-shift (perubahan komposisi

18
O) dan evaluasi

mass recovery air reinjeksi yang muncul di sumur produksi.


Lapangan panas bumi Kamojang telah dieksploitasi lebih dari 30 tahun. Agar
pasokan uap untuk pembangkitan energi listrik di PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas
bumi) Kamojang tetap terpenuhi, maka diperlukan suatu strategi manajemen lapangan uap
dalam upaya menjaga kesetimbangan panas dan massa di lapangan bersangkutan.
Manajemen

lapangan uap di lapangan panas bumi yakni mengatur strategi produksi uap,

sehingga uap dapat diperoleh secara berkesinambungan dari reservoir dan dapat dimanfaatkan
untuk pembangkitan energi listrik, dimana fluida reservoir yang diproduksi dikembalikan
melalui sumur reinjeksi sebagai upaya meminimalkan efek polutif produksi fluida panas bumi
serta

menjaga

kesetimbangan

massa

dalam

reservoir.

Salah

satu

upaya dalam

penyusunan strategi manajemen lapangan uap adalah dengan pengumpulan data, meliputi
data geologi, geofisika, geokimia dan data sumur. Seluruh data yang diperoleh akan
digunakan untuk mengetahui perubahan karakteristik reservoir yang mungkin terjadi akibat
eksploitasi, yang selanjutnya akan diolah dalam rangka penyusunan strategi manajemen
lapangan uap di lapangan panas bumi Kamojang.

Evaluasi fluida di lapangan panas bumi merupakan salah satu strategi untuk mendeteksi
perubahan

karakteristik

reservoir

yang

terjadi

selama

masa operasional produksi.

Lapangan Kamojang merupakan lapangan panas bumi yang berasosiasi dengan sistem
vulkanisme, sehingga mempunyai probabilitas tinggi untuk mengalami intervensi air
magmatik dalam jumlah yang signifikan. Keberadaan air magmatik dengan proporsi yang
cukup tinggi dalam sistem hidrotermal sangat dihindari karena meningkatkan laju korosi pada
fasilitas produksi. Hal ini akan membuat pengembangan suatu lapangan panas bumi tidak
ekonomis. Oleh karena itu, penting dilakukan evaluasi mengenai asal usul fluida hidrotermal
di lapangan Kamojang.
Interaksi antara air dan batuan merupakan salah satu parameter penting yang akan
menentukan komposisi akhir fluida dan batuan penyusun reservoir di suatu area panas bumi.
Untuk mengetahui kondisi reservoir lapangan Kamojang setelah
30 tahun lebih dieksploitasi ditinjau dari komposisi isotop batuan penyusun reservoir dapat
digunakan metode isotop stabil. Melalui metode ini dapat diperoleh nilai

18

O-shift

sebagai indikator terjadinya interaksi antara air dan batuan serta hubungannya dengan
nilai w/r (water/rock ratio). Nilai w/r adalah perbandingan jumlah persentase atom oksigen
yang terkandung dalam air dan batuan yang mengalami proses pertukaran dalam interaksi air
dan batuan di reservoir.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh R. Simatupang (1993), penurunan
produksi rata-rata lapangan panas bumi Kamojang adalah sekitar 3-4
%/tahun, sedangkan dari data EPT Kamojang (2000), diketahui penurunan produksi ratarata lapangan panas bumi Kamojang adalah sekitar 6-7 %/tahun. Untuk mendukung pasokan
uap ke PLTP, diperlukan usaha pengelolaan reservoir yang baik guna menjaga keseimbangan
massa dalam reservoir. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan penataan sistem
reinjeksi yang tepat sasaran. Yang dimaksud dengan reinjeksi di lapangan panas bumi
yaitu mengembalikan sebagian atau semua air yang diproduksi dari reservoir ke dalam sistem
setelah energi panas diekstrak dari air tersebut. Untuk memantau pengaruh air reinjeksi

terhadap produksi uap dapat dilakukan melalui monitoring isotop stabil oksigen-

18 dan deuterium guna mengetahui hubungan interkoneksi antara sumur reinjeksi dan sumur
produksi serta menentukan nilai mass recovery air renjeksi yang muncul di sumur
produksi. Informasi yang diperoleh akan digunakan dalam rangka evaluasi sistem
reinjeksi di lapangan Kamojang.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis kandungan isotop oksigen-18 dan
deuterium yang terkandung dalam sampel air yang terdiri dari kondensat sumur
produksi, air reinjeksi dan beberapa mata air dingin di sekitar lapangan panas bumi
Kamojang, Jawa Barat.

ANALISI SISTEM PANAS BUMI


Energi panasbumi merupakan sumber panasbumi alami di dalam bumi yang Terperangkap pada
kedalaman tertentu dan dapat dimanfaatkan secara ekonomis. Energi panasbumi merupakan hasil
interaksi batuan panas dan air yang mengalir di sekitar dan dapat diperbaharui. Terdapat beberapa
persyaratan terbentuknya sistem panasbumi yaitu:
1. Adanya sumber panasbumi berupa magma atau sisa panas dari batuan terobosan
2. Persediaan air yang cukup dan terjadi sirkulasi dekat sumber panasbumi agar terbentuk uap
air panas
3. Adanya batuan reservoir, berupa batuan porous yang dapat menyimpan uap air
4. Adanya batuan penudung (caprock) yang dapat menahan hilangnya uap air, berupa batuan
kedap, biasanya batulempung teralterasi
5. Adanya rekahan sebagai media transport uap air panas
6. Adanya fluida panas dengan temperatur 45-240 C
Sistem panasbumi berdasarkan lokasi dan tatanan hidrologinya dibagi menjadi dua, yaitu (Browne,
1989):
1. Sistem panasbumi relief rendah
Sistem panasbumi ini dicirikan oleh topografi yang relatif rendah yang memungkinkan fluida
panasbumi dari dalam mencapai permukaan, dan keluar sebagaimanifestasi seperti kolam air
alkali korida dan endapan sinter silika. Air panas ini berasal dari air meteorik yang memiliki
pH mendekati netral dan biasanya memiliki alinitas rendah.
2. Sistem panasbumi relief tinggi
Sistem panasbumi ini sangat umum di Indonesia dimana tatanan busur kepulauan yang
memungkinkan terbentuknya morfologi curam dan volkanisme andesitik berpengaruh
terhadaphidrologi yang berasosiasi dengan sistem panasbumi. Air alkali klorida dari dalam
sangat jarang mencapai permukaan tanah, maka sebagai penggantinya, pada sistem
panasbumi ini terdapat zona dua fasa dengan ketebalan
beberapa ribu meter yang diekspresikan oleh manifestasi di permukaan sepertI fumarol,
steaming ground, dan solfatara. Air meteorik yang berasal dari air hujan yang jatuh pada
lereng yang curam akan tercampur dan mengalami kondensasi dengan gas dan uap yang naik
ke permukaan, membentuk satu atau lebih lapisan kondensat (condensate layer) pada level
yang lebih tinggidaripada air alkali klorida yang berada di dalam. Fluida kondensat asam ini
bisa juga bergerak secara lateral di bawah permukaan dan keluar sebagai mata air panas asam.

Sistem hidrothermal berdasarkan siklus pembentukannya dibagi menjadi dua tipe (Ellis dan
Mahon,1977), yaitu sistem berputar (cyclic system) dan sistem tersimpan (storage system). Sistem
berputar (cyclic system), dimulai dari masuknya air (permukaan) terpanaskan oleh sumber panas di
dalam berupa magma lalu muncul kembali ke permukaan sebagai akibat gravitasi sehingga
memungkinkan adanya gejala artesis. Pada sistem ini terdapat lapisan batuan dengan permeabilitas
yang baik sehingga. memungkinkan sistem ini terus berputar. Sedangkan pada sistem tersimpan
(storage system), air akan tersimpan dalam akuifer

dan terpanaskan di tempat dan tidak

menunjukkan gejala apapun di permukaan. Pada sistem tertutup terdapat lapisan batuan yang
impermeabel sebagai lapisan penutup. Pembentukan sistem berputar antara lain membutuhkan:
1.
2.
3.
4.

formasi batuan yang memungkinkan air mengalami sirkulasi,


sumber panas,
ketersediaan air yang cukup,
ketersediaan waktu dan area permukaan untuk pertukaran panas sehingga memungkinkan

air terpanaskan,
5. terdapatjalur air untuk naik ke permukaan.
Berdasarkan aktivitas volkanik, sistem berputar dibagi menjadi:
1. sistem temperatur tinggi yang berasosiasi dengan volkanisme resen,
2. sistem temperatur tinggi zona nonvolcanicpada aktivitas tektonik Kenozoik, dan,
3. sistem air hangat dekat zona aliran panas normal.

Daerah penelitian memiliki sistem panasbumi berputar (cyclic system) yang ditandai oleh hadirnya
manifestasi permukaanberupa mata air panas sebagai akibat aktivitas volkanik resen dengan
temperatur tinggi

Kondisi Umum Sumur KMJ-X


Objek penelitian dalam studi khusus mengenai panasbumi diambil dari sumur KMJ-X pada
area panasbumi Kamojang yang terletak pada koordinat X dan Y, berada pada elevasi 1483 mdpl.
Target pemboran adalah struktur sesar normal Kendang yang diperkirakan berada pada kedalaman
1200-1600 mKU (meter Kedalaman Ukur). Pemboran sumur KMJ-X berupa pemboran miring
sebesar 240, dan total kedalaman sumur sekitar 1748 mKU atau 1625 mKT (meter Kedalaman
Tegak). Dari hasil pemboran tersebut diperoleh zona hilang sirkulasi total (TLC = Total Loss
Circulation) pada kedalaman 548-554 mKU (akibat rekahan), 914-917 mKU (akibat rekahan), dan
1206-1611 mKU (akibat sesar Kendang). Conto batuan hasil pemboran berupa serbuk bor (cutting)
dari kedalaman 0 1206 mKU dan batu inti (core) pada kedalaman 1611-1611,6 mKU.
Analisis Litologi Sumur KMJ-X
Analisis litologi sumur KMJ-X dilakukan secara mikroskopis dan megaskopis. Analisis
mikroskopis dilakukan setiap interval kedalaman 100 mKU, dan analisis megaskopis dilakukan
setiap interval kedalaman 25 m. Data sekunder yang digunakan yaitu hasil analisis X-Ray
Diffractometer, analisis metil biru, dan analisis inklusi fluida.

Metode X-Ray Diffractometer


Metode X-RD (X-Ray Diffractometer) merupakan salah satu cara untuk menentukan
komposisi mineral berukuran sangat halus (<2 mikrometer) yang tidak dapat dilihat dengan
mikroskop polarisasi. Metode ini bekerja berdasarkan perpendaran elastis sinar-X yang akan
menghasilkan perpindahan (displacement) tiap unit sel dan menjadi penciri mineral tertentu.
Analisis pada sumur KMJ-X dilakukan pada tiga conto serbuk bor, yaitu pada kedalaman
(mKU) 770, 1091-1094, dan 1199-1202. Analisis dilakukan melalui tiga cara, yaitu: 1. secara
menyeluruh (bulk analysis) untuk mendapatkan semua jenis mineral, 2. pada kondisi kering (air
dried), dan 3. ditambah glikol (glycolated). Cara kedua dan ketiga ditujukan untuk mendapatkan

mineral tertentu seperti mineral lempung yang sensitif terhadap pengaruh temperatur ataupun
proses

kimia.

Hasil analisis berupa grafik posisi derajat dua theta terhadap intensitas dan

menunjukkan bacaan nilai refleksi tiap-tiap mineral (grafik terlampir).


Hasil analisis pada serbuk bor sumur KMJ-X
Pada kedalaman 770 mKU, mineral yang hadir yaitu: kuarsa, smektit (hadir pada kondisi air dried
dan glycolated).

Pada kedalaman 1091-1094 mKU, mineral yang hadir yaitu: kuarsa, klorit, anhidrit,

kalsit, smektit (hadir pada kondisi air dried dan glycolated).


Pada kedalaman 1199-1202 mKU, mineral yang hadir yaitu: kuarsa, klorit, kalsit,
pirit, illit (hadir pada kondisi air dried).

Metode Larutan Metil Biru


Metode ini dilakukan untuk mengetahui kehadiran mineral lempung bertemperatur rendah
(smektit) dengan cara lebih sederhana melalui reaksi kimia dengan menggunakan larutan kimia
metil biru. Metode ini dilakukan pada 10 conto serbuk bor sumur KMJ-X pada interval kedalaman
700 1205 mKU.
Hasil analisis disajikan dalam bentuk grafik persentase kehadiran mineral smektit
terhadap kedalaman yang menunjukkan kehadiran smektit yang sangat bervariasi (grafik
terlampir). Persentase smektit pada litologi sumur KMJ-X mengalami penurunan yang mencolok,
yaitu 3.5-2.25 % pada kedalaman 1000-1050 mKU menjadi1.6-0.65% pada kedalaman 1067-1205
mKU. Penurunan nilai tersebut menunjukkan kedalaman 700 hingga 1050 mKU, litologi sumur
KMJ-X memiliki tipe ubahan yang sebanding dengan zona Argilik yang didominasi oleh mineral
lempung (smektit) dan berperan sebagai zona penudung (clay cap).
Alterasi Hidrothermal
Teori Dasar
Alterasi hidrothermal merupakan suatu proses interaksi fluida dan batuan yang berhubungan
dengan respon mineral, tekstur, dan kimiawi batuan sebagai akibat dari perubahan temperatur dan
kondisi kimiawi lingkungan melalui kehadiran air panas, uap, atau gas (Henley & Ellis, 1983, op.
cit., Wohletz & Heiken, 1992). Proses alterasi hidrothermal meliputi proses penggantian
(replacement) mineral, pelarutan (leaching), dan pengendapan mineral secara langsung yang mengisi

urat ataupun rongga (vug). Pada proses ini, tipe dan intensitas alterasi hidrothermal yang sedang
berlangsung dapat merefleksikan lingkungan baru bagi batuan reservoir.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi alterasi hidrothermal (Browne, 1989) yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Temperatur dan perbedaan temperatur antara host rock dan fluida yang hadir
Komposisi kimiawi fluida
Konsentrasi fluida hidrohermal
Komposisi host rock
Kinetika reaksi atau tingkat alterasi/ pengendapan mineral
Lamanya (durasi) interaksi antara fluida dan batuan
Permeabilitas

Terdapat dua tipe alterasi hidrothermal yang mempengarui tipe fluida pada sistem
panasbumi volkanik, yaitu tipe asam sulfat dan tipe adularia-serisit (Henley & Ellis, 1983, dan
Heald, et. al., 1987, op. cit., Wohletz & Heiken, 1992). Daerah penelitian memiliki tipe
alterasi adularia-serisit yang terbentuk pada kondisi rezim aliran tinggi pada level lebih dalam
dan lebih dekat dengan sumber panas yang dicirikan oleh kondisi pH netral dan tipe air alkali
klorida. Sedangkan tipe asam sulfat biasanya berada pada bagian paling atas tubuh gunungapi atau
sepanjang rekahan rim kaldera purba Pangkalan.
Stabilitas mineral hidrothermal dinyatakan dalam fungsi temperatur terhadap pH fluida,
dimana konsentrasi dan rasio unsur fluida serta tekanan dianggap konstan (Gambar 4.2). Corbett dan
Leach (1998) membagi kelompok mineral berdasarkan tipe alterasinya menjadi enam grup mineral
sebagai berikut:

Grup Silika
Merupakan grup mineral yang paling stabil pada fluida dengan pH rendah (biasanya <2)
yang biasanya berasosiasi dengan sedikit fasa titanium-iron, seperti rutile. Dibawah
kondisi asam yang ekstrim, opaline silika, kristobalit, dan tridimit akan bertemu di
permukaan di atas level sistem hidrothermal klorida, atau pada temperatur <1000C
(Leach, et. al., 1985). Pada pH fluida yang lebih tinggi, silika amorf akan terbentuk pada
temperatur <1000C. Kuarsa hampir selalu hadir pada temperatur lebih tinggi, sedangkan
kalsedon hadir pada temperatur menengah (100-2000C), khususnya pada kondisi
pengendapa

relatif

cepat.

Perbedaan

tipe

fasa

silika

dipengaruhi

kinetika

pengendapannya, contohnya silika amorf yang terbentuk pada temperatur >2000C pada

lingkungan pengendapan cepat.


Grup Alunit

Pada kondisi fluida dengan pH >2, mineral alunit akan terbentuk bersama mineral
silika pada kisaran temperatur yang panjang (Stoffregen, 1987, op. cit., Leach, 1994).
Kehadiran alunit berasosiasi dengan andalusit pada temperatur tinggi (biasanya >3504000C). Lingkungan pembentukan mineral alunit dibagi berdasarkan bentuk kristalnya
(Rye, et. al., 1992, op. cit., Leach, 1994), yaitu: 1. steam-heated alunite, 2. supergene

alunite, 3. magmatic alunite, dan 4. magmatic vein/ breccia alunite.


Grup Kaolin
Mineral pada grup kaolin akan terbentuk pada kondisi fluida dengan pH sekitar
4, dan akan hadir bersamaan dengan mineral grup alunit pada kondisi fluida transisi (pH
sekitar 3-4). Berdasarkan penelitian pada sistem geothermal di Filipina (Leach, et. al.,
1985), diperoleh zonasi pembentukan mineal grup kaolin yang terbentuk seiring dengan
peningkatan kedalaman dan temperatur. Kaolin terbentuk pada kedalaman dangkal pada
temperatur rendah (<150-2500C), dan pirofilit terbentuk pada kedalaman dan temperatur
lebih besar (<200-2500C). Dickite terbentuk pada zona transisi antara level pembentukan
kaolin dan pirofilit. Diaspor hadir bersama alunit dan/ atau fasa grup kaolin, umumnya

hadir pada zona silisifikasi.


Grup Illit
Mineral dari grup illit akan terbentuk pada kondisi fluida dengan pH 5-6, dan akan hadir
bersamaan dengan mineral grup kaolin pada pH 4-5, tergantung dari temperatur dan
salinitas fluida. Smektit hadir pada temperatur rendah (<100-1500C), illit-smektit hadir
pada temperatur 100-2000C, illit pada temperatur 200-2500C, dan muskovit pada
temperatur >2500C. Serisit yang merupakan muskovit halus (fine- grained muscovite)
dapat berisi mineral illit, dan bertemu pada level transisi antara illit dan kristal muskovit
yang lebih kasar. Mineral smektit yang hadir pada mineral lempung illit-smektit akan
menurun secara progresif seiring dengan peningkatan temperatur sampai melebihi sekitar
100-2000C. Kristalinitas mineral illlit dan serisit akan meningkat seiring peningkatan

temperatur, dan dapat diketahui dari hasil analisis X-RD.


Grup Klorit
Mineral klorit-karbonat dominan hadir pada kondisi fluida mendekati netral, dan akan
hadir bersama mineal grup illit pada kondisi fluida dengan pH 5-6. Interlayer kloritsmektit hadir pada temperatur rendah, dan berubah menjadi klorit pada temperatur lebih

tinggi.
Grup Kalk-Silikat
Mineral grup kalk-silikat terbentuk pada kondisi fluida dengan pH netral-alkalin. Zeolitklorit-karbonat terbentuk pada kondisi dingin, dan pembentukan epidot yang diikuti
amfibol sekunder (aktinolit) terbentuk secara progresif pada temperatur lebih tinggi.

Zeolit merupakan mineral yang sensitif terhadap temperatur, dan hydrous zeolite hadir
mendominasi pada kondisi dingin (<150-2000C), sedangkan hydrated zeolite seperti
laumontit (150-2000C) dan wairakit (200-3000C) hadir secara progresif pada level
lebih dalam dan temperatur lebih tinggi pada sistem hidrothermal. Mineral epidot hadir
sebagai butiran awal kristal pada temperatur sekitar 180-2200C, dan mengkristal lebih
sempurna pada temperatur lebih tinggi (>220-2500C). Amfibol sekunder (biasanya
aktinolit) hadir pada sistem hidrothermal aktif dan stabil pada temperatur >2803000C.

Biotit

hadir mendominasi pada tubuh intrusi porfiri. Pada sistem aktif, biotit

sekunder tumbuh pada temperatur >300-3250C.


Pembagian zona alterasi hidrothermal dilakukan untuk menentukan tipe alterasi pada tiaptiap grup mineral. Corbett dan Leach (1998) membagi zona alterasi menjadi lima zona,
yaitu: zona argilik lanjut (advanced argillik), argilik (argilic), filik (phyllic), propilitik

(propylitic), dan potasik (potassic).


Zona Argilik Lanjut
Terdiri dari mineral yang terbentuk pada kondisi pH rendah (<4) (contohnya:grup mineral
silika dan alunit) dan hadir melimpah bersama grup mineral alunit dan kaolinit. Zona ini
memiliki variasi temperatur tinggi rendah, dan mencakup ubahan sulfida tinggi

(high sulphidation) dan ubahan asam sulfat.


Zona Argilik
Terdiri dari mineral yang terbentuk pada kondisi pH sekitar 4-6 dan temperatur rendah
(>200-2500C). Zona ini dicirikan oleh kehadiran mineral kaolin dan smektit yang
melimpah, serta mineral illit/ illit-smektit yang kadang hadir, dan klorit yang kadang

hadir.
Zona Filik
Mineral pada zona filik terbentuk pada kondisi pH sekitar 4-6 dan temperatur lebih tinggi
(>200-2500C). Zona ini dicirikan oleh kehadiran mineral serisit (atau muskovit), dan pada

temperatur tinggi kadang hadir pirofilit-andalusit, dan kadang hadir mineral klorit.
Zona Propilitik
Mineral pada zona propilitik terbentuk pada kondisi fluida dengan pH netral- alkalin dan
temperatur rendah-tinggi. Pada temperatur rendah (<200-2500C) disebut sebagai zona
sub-propilitik, dicirikan oleh

kehadiran mineral zeolit yang menggantikan epidot. Pada

temperatur lebih tinggi (>280-3000C) disebut sebagai zona propilitik dalam (inner
proyllitic zone), dicirikan oleh kehadiran mineral amfibol sekunder (biasanya aktinolit).
Sedangkan mineral yang umumnya hadir pada semua zona propilitik yaitu albit atau K

felspar sekunder.
Zona Potasik

Mineral pada zona potasik terbentuk pada kondisi fluida dengan pH netral- alkalin dan
temperatur tinggi (>300-3500C). Zona ini dicirikan oleh kehadiran mineral biotit, Kfelspar, magnetit, aktinolit, klinopiroksen. Pada kondisi yang sama, mineralogi skarn
dapat terbentuk jika batuan asal (host rock) berupa sedimen
karbonatan yang akan membentuk zona mineral kalk-silikat

seperti

garnet,

klinopiroksen, dan tremolit.

4.3.2 Intensitas Alterasi


Derajat alterasi (alteration rank) digunakan sebagai indikasi empiris dari temperatur dan
permeabilitas di lapangan gunungapi yang dapat ditunjukkan melalui studi kehadiran
mineral sekunder. Intensitas merupakan istilah objektif yang ditujukan bagi batuan yang

telah mengalami alterasi (perubahan) dan dapat diukur secara kuantitatif (Browne, 1989).
Intensitas alterasi dapat dilihat berdasarkan perhitungan rasio

persentase

mineral

sekunder (SM) terhadap total mineral (TM) pada tiap


kedalaman (tabel 4.2).
Intensitas Alterasi

Kondisi Batuan

0.01-0.25

Massadasar/ matriks atau fenokris/ fragmen telah terubah

0.25-0.50

Massadasar/ matriks dan fenokris/ fragmen telah terubah tapi

0.50-0.75

Massadasar/ matriks dan fenokris/ fragmen telah terubah tapi

0.75-1

Massadasar/ matriks dan fenokris/ fragmen seluruhnya telah

Tabel 4.1 Intensitas alterasi (Browne, 1989)


4.3.3 Alterasi Hidrothermal di Daerah Penelitian
Berdasarkan kumpulan mineral sekunder yang hadir pada tiap kedalaman, daerah
penelitian pada sumur KMJ-X terdiri dari zona kuarsa-epidot-klorit, zona kuarsaserisit-kalsit, dan zona kaolin-smektit-kuarsa. Mengacu pada Corbett dan Leach (1998),
zona kumpulan mineral sekunder tersebut sebanding dengan zona propilitik, filik, dan
argilik (Gambar 4.2).

Zona Kuarsa-Epidot-Klorit
Zona kuarsa-epidot-klorit hadir pada interval kedalaman 1100-1611,6 mKU sebagai
ubahan pada litologi berupa andesit, breksi andesit, andesit-basaltik, dan tuff. Mengacu
pada Corbett dan Leach (1998), zona ini sebanding dengan zona alterasi propilitik. Zona
ini dicirikan oleh kehadiran mineral kuarsa yang melimpah, epidot, dan klorit, sedangkan
mineral lain yang hadir sedikit berupa adularia. Mineral kuarsa hadir pada zona ini
dan

semakin

bertambah

seiring bertambahnya kedalaman. Kuarsa terbentuk pada

kondisi fluida dengan pH netral, pada temperatur sekitar 150-3300C. Kuarsa hadir
mengisi rekahan sebagai urat dan sebagai ubahan pada massadasar. Epidot hadir mulai
kedalaman 1100 mKU dan dijadikan sebagai batas dari zona ini. Epidot terbentuk pada
kondisi fluida dengan pH netral pada temperatur 230-3000C. Epidot hadir sebagai

ubahan pada massadasar berupa penggantian (replacement) mineral plagioklas, dan


sebagian kecil hadir mengisi rekahan sebagai urat bersama kuarsa dan adularia. Kehadiran
epidot pada massadasar (pada interval kedalaman 1100-1611,6 mKU) kemungkinan
sebagai akibat interaksi fluida hidrothermal berupa uap panas dengan batuan asal.
Sedangkan kehadiran epidot yang mengisi rekahan (pada inteval
1611,6

mKU),

kemungkinan

akibat

hadirnya

kedalaman

1611-

fluida hidrothermal berupa larutan

panas yang langsung mengisi rekahan dan mengalami presipitasi mineral. Kehadiran
epidot pada massadasar ini menjadi penciri hadirnya fasa uap dengan temperatur tinggi
pada interval kedalaman 110-1611,6 mKU yang juga berperan sebagai zona reservoir
dalam sistem panasbumi sumur KMJ-X.
Klorit terbentuk pada kondisi fluida dengan pH netral dan temperatur >1200C, hadir pada
interval kedalaman 1100-1202 mKU. Klorit hadir sebagai ubahan pada massadasar berupa
replacement mineral plagioklas. Sebagian klorit juga hadir mengisi rongga dan
mengalami presipitasi. Adularia hadir sedikit pada interval kedalaman 1611-1611,6 mKU,
mengsisi rekahan sebagai urat bersama kuarsa, dan epidot. Adularia terbentuk pada
kondisi fluida dengan pH mendekati netral-alkalin dan temperatur >1800C. Kehadiran
adularia dapat dijadikan sebagai indikator masuknya sistem panasbumi pada level boiling
zone, dan kehadirannya mengisi rekahan berasosiasi dengan permeabilitas yang baik.

Zona Kuarsa-Serisit-Kalsit
Zona kuarsa-serisit-kalsit hadir pada interval kedalaman 1000-1100 mKU sebagai
ubahan pada litologi berupa andesit-basaltik, breksi andesit, dan tuff. Mengacu pada
Corbett dan leach (1998), zona ini sebanding dengan zona alterasi filik. Zona ini dicirikan
oleh kehadiran mineral kuarsa dan serisit yang dominan, kalsit, serta sedikit mineral illit
yang hanya dapat diidentifikasi melalui analisis X-RD. Mineral kuarsa hadir paling
banyak pada zona ini atau disebut juga mengalami silisifikasi. Kuarsa hadir baik sebagai
pengisi rekahan sebagai urat, maupun sebagai replacement massadasar plagioklas.
Serisit terbentuk pada kondisi fluida dengan pH mendekati netral-asam dan temperatur
>2600C. Serisit hadir sebagai ubahan pada massadasar plagioklas dan juga pada fenokris
mineral primer.
Kalsit dapat terbentuk pada berbagai rentang temperatur, pada kondisi fluida dengan pH
netral. Kalsit hadir sebagai ubahan menggantikan plagioklas.

Zona Kaolin-Smektit-Kuarsa
Zona kaolin-smektit-kuarsa hadir pada interval kedalaman 185-1000 mKU sebagai
ubahan pada litologi berupa andeit, andesit-basaltik, breksi andesit, dan tuff. Mengacu

pada Corbett dan leach (1998), zona ini sebanding dengan zona alterasi argilik.
Zona ini dicirikan oleh kehadiran mineral lempung yang dominan berupa kaolin dan
smektit,

serta

kuarsa

yang

hadir

semakin

bertambah

seiring

bertambahnya

kedalaman. Kaolin terbentuk pada kondisi fluida dengan pH 4 dan temperatur <1502500C. Mineral kaolin dan smektit yang termasuk ke dalam grup illit-kaolin hadir
bersamaan dan dapat ditemukan secara megaskopis (berupa mineral lempung berwarna
putih) dan melalui hasil analisis X-RD. Mineral lempung ini hanya dapat hadir pada
kedalaman yang relatif dangkal, karena semakin bertambahnya kedalaman dan temperatur
maka mineral lempung tersebut akan berubah menjadi illit dan/ atau serisit yang hadir
pada zona alterasi sebanding zona filik.
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan berbagai metode, diperoleh nilai
persentase mineral sekunder yang bervariasi pada sumur KMJ-X dan menunjukkan intensitas lemah
sampai sangat kuat (tabel 4.2).
KEDALAM

LITOLOGI

PERSENTA

AN
300
400
500
600
700
800
900
100
110
0
120
0
160
0

Breksi Andesit
Andesit-Basaltik
Andes
Breksi
it Andesit
Andes
Breksi
it Andesit
Breksi Andesit
Andesit-Basaltik
Breksi Andesit
Breksi Andesit
Andes

SE
5-9
81418
1020
1515
2218
2255
2055
1524
2820
581

INTENSITAS
ALTERASI
Lema
Lema
h
Lema
h
Lema
h
Lema
h
Lemah-Kuat
h
Lemah-Kuat
Lema
Lema
h
Sedang-Sangat
Kuat
h
Lemah-Sedang

0
it
50
Tabel 4.2 Persentase mineral ubahan sumur KMJ-X (hasil analisis mikroskopis dan
megaskopis)
IV.4 Temperatur Sumur KMJ-X
Penentuan temperatur bawah permukaan diperoleh dari kisaran temperatur pembentukan
mineral sekunder, data inklusi fluida untuk menentukan temperatur uap dalam zona
reservoir, dan pengukuran temperatur sumur pada kondisi mulai memanas (heating up).
4.4.1 Kisaran Temperatur Zona Alterasi

Kehadiran mineral sekunder pada tiap zona alterasi dapat dijadikan dasar penentuan
temperatur purba saat pembentukan batuan. Kisaran temperatur zona alterasi ditentukan
berdasarkan temperatur pembentukan mineral spesifik yang memberikan kisaran yang

pendek.
Zona Kuarsa-Epidot-Klorit
Berdasarkan kehadiran mineral sekundernya, zona ini memberikan kisaran temperatur
pembentukan yang ditunjukkan oleh mineral spesifik berupa epidot yang terbentuk pada
temperatur >200-3000C.

Tabel 4.3 Temperatur pembentukan mineral sekunder (Morrison, 1995)

Zona Kuarsa-Serisit-Kalsit
Berdasarkan kehadiran mineral sekundernya, zona ini memberikan kisaran temperatur
pembentukan yang ditunjukkan oleh mineral spesifik berupa serisit yang terbentuk pada
temperatur >2600C.

Tabel 4.4 Temperatur pembentukan mineral sekunder (Morrison, 1995)

Zona Kaolin-Smektit-Kuarsa
Berdasarkan kehadiran mineral sekundernya, zona ini memberikan kisaran temperatur
pembentukan yang ditunjukkan oleh mineral spesifik berupa kaolin dan smektit yang
terbentuk pada temperatur <100-2500C.

Tabel 4.5 Temperatur pembentukan mineral sekunder (Morrison, 1995)


4.4.2 Analisis Inklusi Fluida

Tujuan dilakukannya analisis inklusi fluida yaitu:


Determinasi temperatur fasa pengendapan mineral sekunder
Determinasi salinitas fluida (mineralisasi dan ubahan)
Determinasi pola/kecenderungan temperatur dan salinitas dalam ruang dan waktu
Pemodelan proses-proses fisis seperti boiling, dilusi, percampuran, conductive

cooling yang berhubungan dengan mineralisasi


Pemodelan hidrologi purba (paleo-hydrological model) dari sistem mineralisasi
Membantu dalam interpretasi kedalaman erosi, kehadiran sesar dan gejala tektonik

lainnya yang berpengaruh


Pembuatan
paragenesa mineral. Analisis inklusi fluida digunakan untuk
menentukan temperatur pembentukan fluida yang terperangkap dalam mineral yang
dianggap sebagai temperatur pembentukan mineral tersebut.

Inklusi fluida terjadi sebagai akibat kerusakan di dalam kristal yang terjadi
selama pembentukan maupun setelahnya yang terisi fluida baik dalam fasa gas maupun
cair. Gelembung gas didalam kebanyakan inklusi fluida terbentuk akibat perbedaan
koefisien penyusutan dari cairan dan mineral yang mengelilinginya selama masa
pendinginan dari suhu yang lebih tinggi pada saat terjadinya inklusi (Tt: temperature of
trapping) dan temperatur pada saat dilakukan observasi. Dengan teknik pemanasan,
gelembung gas tersebut akan hilang apabila mencapai suhu tertentu yaitu suhu saat
menghilangnya gelembung yang disebut sebagai suhu homogenisasi (Th: temperature of
homogenization) yang dianggap sebagai Tt. Suatu teknik pendinginan dapat
dilakukan terhadap inklusi cair sampai terjadinya fasa padat (Tf: temperature of freezing),
dilanjutkan dengan pemanasan kembali sampai seluruh es mencair dan mencapai suhu
peleburan (Tm: temperature of melting). Hasil pengukuran Tm dari inklusi fluida
memberikan informasi mengenai salinitas saat pembentukan mineral tempat fluida
tersebut terperangkap. Dengan diketahuinya Th, Tf, dan Tm maka akan didapat banyak
informasi dari lingkungan fisik dan maupun kimiawi di dalam kristal induknya. Mineral
yang dapat dianalisis antara lain kuarsa, anhidrit, karbonat, sfalerit, barit, fluorit, dan
adularia.
Analisis inklusi fluida sumur KMJ- X dilakukan pada satu conto serbuk bor (cutting)
pada interval kedalaman 1064-1067 mKU dan dua conto batu inti (core) pada kedalaman
1611.5 mKU. Pada kedua conto batu inti tidak dijumpai inklusi fluida baik pada urat
maupun batuan induk (host rock), sedangkan pada conto serbuk bor terdapat inklusi fluida
pada urat kuarsa, terdistribusi sangat jarang, dan berukuran sangat halus (<3 mikrometer).
Hasil analisis disajikan dalam bentuk histogram temperatur terhadap

frekuensi (histogram terlampir). Inklusi fluida disusun oleh satu fasa baik uap maupun air
dengan Th sebesar 2250C dan nilail salinitas 4.1% wt NaCL.

Gambar 4.3 Perbandingan temperatur purba dan temperatur pengukuran sumur KMJ-X

IV. 5 AKUISISI, ANALISIS DAN INTERPRETASI


5.1 Akuisisi Data Gayaberat
Akuisisi data dilakukan dilapangan geothermal Kamojang, Jawa Barat sebanyak
tiga kali yaitu pada bulan Juni 2006, November 2006 dan Juli

2007 (Tabel 1). Jumlah stasiun dalam setiap pengukuran sebanyak 62 stasiun.

Pengambilan Data

Waktu pengambilan data

Keterangan

30 Mei 3 Juni 2006

kemarau

II

III

7 November - 11 November 2006

9 Juli - 13 Juli 2007

Spasi yang dilakukan dalam pengukuran


m.

Distribusi

penghujan

kemarau

antar stasiun adalah sejauh 500

stasiun gayaberat mikro 4D daerah geothermal Kamojang

diperlihatkan seperti pada Gambar 1


Tabel 1. Periode survei gayaberatmikro lapangan Kamojang

Gambar 1. Distribusi stasiun gayaberat mikro 4D daerah geothermal Kamojang

4.2 Gayaberatmikro Observasi


Gayaberat observasi merupakan nilai gayaberat hasil pengukuran yang telah diikatkan
dengan nilai gayaberat observasi yang telah diketahui. Pada penelitian ini digunakan titik ikat
di PG-55 yang memiliki nilai gayaberat 977866.513 mGal (Divisi Panasbumi Pertamina, 2000).
Pada gayaberat observasi lapangan panasbumi Kamojang pengukuran
ditunjukkan pada Gambar 2, Gambar 3 dan Gambar 4

ke-1, ke-2 dan ke-3

Gambar 2. Peta gayaberat


observasi Kamojang Juni
2006

Gambar 3. Peta gayaberat


observasi Kamojang November
2006

Gambar 4. Peta gayaberat observasi Kamojang Juli 2007

4.3 Pengambilan Data Ketinggian


Ketinggian titik ukur gayaberat diambil dari database Divisi Panasbumi, Pertamina
tahun 2000. Peta topografi daerah penelitian yang digambar

dari

titik-titik

ukur

gayaberat ditunjukkan pada Gambar 5. Daerah fokus penelitian, yaitu pusat produksi uap Kamojang
ditunjukkan dengan area yang dibatasi garis putus-putus putih (Gambar 5).

Gambar 5. Topografi daerah geothermal Kamojang

4.4 Interpretasi dan Pemodelan Inversi 3D


Dari 3 kali data pengukuran, maka didapat dua peta anomali gayabertamikro
antarwaktu. Peta gayaberatmikro antarwaktu tersebut dikoreksi oleh

faktor-

faktor luar seperti tidal, drift, pergerakan vertikal dan perubahan muka airtanah (MAT) agar peta anomali yang didapat hanyalah berasal dari dinamika
reservoir saja.

4.4.1. Interpretasi Gayaberatmikro Selang Waktu dan Model Perubahan


Rapat- massa Periode Juni 2006 - November
2006
Dari pengukuran Juni 2006 dan November
2006, maka didapatkan peta gayaberatmikro selang waktu Juni November
2006 (Gambar 6). Dari peta gayaberatmikro

selang waktu pada Gambar 6.

tersebut dapat kita lihat bahwa pada peta tersebut didominasi

oleh anomali

negatif. Anomali negatif kecil sampai mendekati nol ada pada sebelah Tengah
daerah penelitian. Anomali negatif besar terdapat disebelah Utara dan Tenggara
daerah penelitian. Ada beberapa kemungkinan terjadinya anomali negatif pada
peta gayaberatmikro selang waktu, yaitu volume injeksi lebih kecil dari pada
volume produksi atau fluida yang diinjeksikan tidak masuk kedalam reservoir di
area bernilai negatif tersebut.

Untuk

mengetahui

kemungkinan mana yang

dapat menjelaskan penyebab nilai anomali negatif tersebut maka dibutuhkan data
penunjang lainnya seperti data volume injeksi- produksi dan pembanding metoda
lain untuk mengetahui arah pergerakan fluida secara jelas seperti
metoda trace isotope atau gempa mikro (MEQ).

penggunaan

Gambar 6. Peta gayaberatmikro antarwaktu periode Juni - November 2006


Dari

peta

gayaberat

selang

waktu

tersebut maka dimodelkan sebaran densitas seperti

diperlihatkan pada Gambar 7. Model perubahan rapat-massa periode Juni 2006 - November 2006
di-slice pada top FZ I, yaitu model

perubahan

rapat-massa

pada

elevasi +800 m asl yang

ditunjukkan pada Gambar 8 dan pada top FZ II, yaitu model perubahan rapat-massa pada elevasi
+600 m asl yang ditunjukkan pada Gambar 9, serta satu penampang hasil slicing di A-A yang
ditunjukkan pada Gambar 10.
Sumur injeksi yang efektif diindikasikan dengan sebaran massa-jenis yang bernilai nol.
Dari kedua gambar slicing tersebut (Gambar 8 dan Gambar 9) terlihat bahwa sumur injeksi KMJ-35
dan

KMJ-32

relatif

lebih

efektif dalam mempertahankan keseimbangan massa reservoir (pada

slicing +600m asl / FZ II) jika dibandingkan dengan sumur-sumur injeksi lainnya (KMJ-55, KMJ-13,
KMJ-47, KMJ-15, KMJ-21, dan KMJ-46)

Pada periode Juni - November 2006

Gambar 7. Model sebaran massa-jenis hasil


inversi gayaberatmikro antarwaktu

48

Periode Juni - November 2006.

Gambar 8. Distribusi perubahan rapat-massa


pada elevasi +800 m asl (FZ I)

49

Periode Juni - November 2006

Gambar 9. Distribusi perubahan rapat-massa pada elevasi +600 m asl


(FZ I)

50

Gambar 10. Penampang A-A hasil inversi gayaberatmikro


antarwaktu pada periode Juni - November 2006

Untuk mengetahui seberapa besar massa fluida .Untuk

mengetahui

massa

fluida

yan
yang diinjeksikan dan yang d produksikan Diproduksikan

dalam

lapangan geothermal

dalam lapangan geothermal Kamojang pada peride Juni November 2006, maka perubahan
Kamojang pada periode Juni 2006 November 2006, maka perubahan rapat massa akibat
rapat massa akibat aktivitas sumur injeksi saya aktivitas sumur produksi saya interpretasi
interpretasi sebagai nilai rapat massa pada sebagai nilai rapat massa padar ange -0.02
range 0.02 gr/cc sampai 0.08 gr/cc. Sebaran rapat massa akibat proses injeksi diperlihatkan
pada Gambar 11. gr/cc sampai -0.08 gr/cc.
Sebaran rapat massa akibat proses injeksi diperlihatkan pada Gambar 12.

51

52

Gambar 11. Distribusi perubahan rapat-massa pada range 0.02 gr/cc sampai 0.08 gr/cc
periode Juni - November 2006 dan sumur injeksi yang bertanggungjawab dalam perubahan
massa-jenis tersebut

Gambar 12. Distribusi perubahan rapat-massa pada range -0.02 gr/cc sampai -0.08 gr/cc
periode Juni - November 2006 dan beberapa sumur produksi yang
bertanggungjawab dalam perubahan massa jenis tersebut

Jika

kita

bandingkan

dari

kedua

gambar (Gambar 11 dan Gambar 12), maka secara

kualitatif terlihat bahwa pada Gambar 12 lebih besar volume massanya dibandingkan dengan
pada Gambar 11. Dari gambar tersebut dapat kita simpulkan bahwa pada perode Juni November

2006

massa

fluida

lebih

banyak yang diproduksi

dibandingkan

yang

diinjeksikan. Hal tersebut cocok dengan respon anomali gayaberatmikro pada perioda Juni
-November 2006, yaitu didominasi nilai gayaberat yang bernilai negatif.

4.4.2. Interpretasi Gayaberatmikro Selang Waktu dan Model Perubahan Rapat- massa
Periode Juni 2006 - Juli 2007
Dari pengukuran Juni 2006 dan Juli 2007,
maka didapatkan peta gayaberatmikro selang waktu Juni 2006 Juli 2007 (Gambar 13). Dari
peta

gayaberatmikro

selang

waktu

pada gambar 13. tersebut dapat kita lihat bahwa

pada peta tersebut didominasi oleh anomali negatif. Anomali negatif kecil sampai positif kecil
ada pada sebelah Utara daerah penelitian. Anomali positif besar terdapat disebelah Selatan
daerah
waktu,

penelitian. Kemungkinan terjadinya anomali positif pada peta gayaberatmikro selang


yaitu

volume

injeksi

lebih

besar

dari

pada

volume

produksi.

Untuk

mengetahui/memvalidasi interpretasi tersebut maka dibutuhkan data penunjang data volume


injeksi-produksi daerah penelitian.

Gambar 13. Model sebaran massa-jenis hasil pemodelan inversi


gayaberatmikro pada periode Juni 2006 - Juli 2007

Untuk memudahkan interpretasi maka model sebaran

massa-jenis

3D tersebut

di-slice

pada

kedalaman yang ingin diamati. Model perubahan rapat-massa periode Juni 2006 Juli 2007 dislice

pada

top FZ I, yaitu

model perubahan rapat-massa pada elevasi +800 masl yang

ditunjukkan pada Gambar 14. dan pada top FZ II, yaitu model perubahan rapat- massa pada
elevasi +600 m asl yang ditunjukkan pada Gambar 15. Serta satu penampang hasil slicing di A-A
yang ditunjukkan pada Gambar 16

Gambar 14. Distribusi perubahan rapat-massa


pada elevasi +800 m asl (FZ I)

Gambar 15. Distribusi perubahan rapat-massa pada elevasi +600 m asl


(FZ I) periode Juni 2006 Juli 2007

Gambar 16. Penampang A-A hasil inversi gayaberatmikro antarwaktu


pada periode Juni 2006 Juli 2007
Secara umum, perubahan rapat-massa positif dan negatif akibat kegiatan
tersebar diseluruh area lapangan. Walaupun artinya hasil

injeksi-produksi

inversi tersebut sudah cocok

dengan model yang seharusnya (secara teoritik).


tidak begitu jelas, pola sebaran massa-jenis
tetap mengikuti sesar-sesar utama, seperti rim- structure disebelah Barat dan sesar Ciwelirang
disebelah Utara. Jika kita bandingkan peta pada Gambar 14. dengan Gambar 15. dan
Gambar 16. dapat kita lihat bahwa pada daerah Selatan yang memiliki anomali positif besar
Dari kedua gambar slicing tersebut (Gambar 14. dan Gambar 15) terlihat bahwa sumur
injeksi KMJ-46 dan KMJ-35 disebelah Barat dan KMJ-32 disebelah Selatan cukup efektif
dalam mempertahankan mass balance pada reservoir,

yang

diindikasikan

dengan

nilai

memiliki nilai kontras densitas yang positif. Ini massa-jenis yang mendekati nol. Sedangkan

umur

injeksi

sisanya

(KMJ-55,

KMJ-13, KMJ-47, KMJ-15 dan KMJ-21) belum cukup

efektif dalam mempertahankan keseimbangan massa reservoir.

Untuk mengetahui seberapa besar massa fluida yang diinjeksikan

dan yang diproduksikan

dalam lapangan geothermal Kamojang pada peride Juni 2006 - Juli 2007, perubahan rapat
massa akibat aktivitas sumur injeksi, saya interpretasi sebagai nilai rapat massa pada
range 0.02 gr/cc sampai dengan 0.08 gr/cc. Sebaran rapat massa akibat proses injeksi
diperlihatkan pada Gambar 17.
Untuk

mengetahui

massa

fluida

yang diproduksikan dalam lapangan geothermal

Kamojang pada periode Juni 2006 - Juli 2007, maka perubahan rapat massa akibat aktivitas
sumur produksi saya interpretasi sebagai nilai rapat massa pada range -0.02 gr/cc sampai
-0.08 gr/cc. Sebaran rapat massa akibat proses injeksi diperlihatkan pada Gambar 18.

Gambar 17. Distribusi perubahan rapat-massa pada range 0.02 gr/cc


sampai dengan 0.08 gr/cc periode Juni 2006 - Juli 2007

Gambar 18. Distribusi perubahan rapat-massa pada range -0.02 gr/cc sampai dengan
-0.08 gr/cc periode Juni 2006 - Juli 2

IV.6 Sistem Panasbumi


Berdasarkan beberapa persyaratan terbentuknya sistem panasbumi, maka sumur KMJX dibagi menjadi zona overburden, zona penudung (cap rock/ clay cap) dan zona
reservoir pada interval kedalaman 0-1611,6 mKU. Pembagian tiap zona berdasarkan
kehadiran mineral sekunder sebagai indikator tipe alterasi hidrothermal yang juga
berperan dalam penentuan zona dalam sistem panasbumi.
Zona Overburden
Zona ini berada pada kedalaman 0-185 mKU, terdiri dari tefra berukuran lapili. Zona
ini hanya berupa lapisan penutup antara bidang permukaan sumur dengan zona penudung.
Intensitas alterasi tergolong lemah dan berdasarkan pengamatan megaskopis pada zona
ini hanya terjadi proses ubahan berupa pelapukan yang memberikan warna kekuningan
sampai coklat pada serbuk bor. Zona overburden menunjukkan kisaran temperatur 22340C.
Zona penudung (cap rock)
Merupakan suatu lapisan impermeabel yang memiliki kemampuan menahan uap
panas di dalam reservoir. Untuk zona ini dibutuhkan lapisan batuan yang didominasi oleh
mineral lempung. Pada sumur KMJ-X, zona penudung hadir pada kedalaman 1851100 mKU dengan litologi berupa tuff, andesit, andesit-basaltik, dan breksi andesit.
Intensitas alterasi lemah-kuat, dan zona alterasi kaolin-smektit-kuarsa atau sebanding
dengan zona ubahan argilik. Zona penudung menunjukkan kisaran temperatur 252200C.
Zona Reservoir
Zona ini merupakan tempat tersimpannya uap panas dan dijadikan sebagai target
pemboran sumur panasbumi. Zona reservoir panasbumi dibagi menjadi zona dominasi
uap dan zona dominasi air yang dicirikan oleh kehadiran air dan uapnya. Sumur KMJ-X
memiliki reservoir yang didominasi oleh uap, dicirikan oleh grafik pengukuran
temperatur sumur yang menunjukkan pola konstan pada temperatur maksimum
pembentukan uap atau pada kedalaman >1100 mKU. Zona ini dicirikan oleh kehadiran
mineral bertemperatur tinggi seperti epidot pada zona ubahan kuarsa-epidot-klorit
dengan intensitas alterasi lemah-sangat kuat. Mineral epidot yang hadir pada
massadasar dijadikan sebagai penciri hadirnya uap yang membawa larutan pembentuk
mineral tersebut.

Secara umum daerah penelitian (area panasbumi Kamojang) memiliki sistem


panasbumi dimana kondisi reservoir didominasi oleh uap. Sistem panasbumi dominasi
uap dicirikan oleh kehadiran uap lebih dari 85%. Sistem ini biasanya hadir pada kondisi
yang memiliki aliran panas sangat tinggi tetapi recharge air yang rendah. Gas-gas dekat
permukaan pada reservoir dominasi uap mengalami kondensasi membentuk asam yang
melarutkan batuan di sekitar area mata air. Manifestasi yang hadir pada sistem panasbumi
dominasi uap dicirikan oleh batuan yang mengalami pelarutan, mata air dengan
komposisi asam-sulfat, dan tidak hadirnya air klorida. Mata air dengan pH<6 (asam) hadir
diiringi oleh mudspots, geysers, dan fumarol. Manifestasi permukaan di area panasbumi
Kamojang hadir di sebelah Timur laut daerah penelitian (di luar daerah penelitian)
sedangkan pada sumur KMJ-X tidak ditemukan manifestasi permukaan.

Sumur KMJ-X memiliki sistem reservoir panasbumi dominasi uap yang dicirikan
oleh grafik temperatur sumur yang mengalami kondisi puncak (suhu tertinggi) mulai
kedalaman 1100 mKU dan temperatur konstan pada 220-2280C. Temperatur ini
menunjukkan temperatur maksimal pada kondisi uap sehingga memberikan nilai yang
konstan pada kedalaman >1100mKU.

Geokimia Panas Bumi Kamojang


Manifestasi panas geothermal permukaan pada lokasi Kamojang telah berangsur berubah,
selama periode produksi uap panas daerah Kamojang. Kosentrasi manifestasi gas dipermukaaan
semakin meningkat, dari tahun 2006 hingga 2008. Berkurangnya rasio CO2/H2S di Kawah
Kamojang dan Kawah Hujan menunjukkan bahwa reservoar pada kawah Kamojang mengandung
uap yang superheated.

V. KESIMPULAN
Selama selang waktu penelitian anomali time-lapse yang
nilai

dihasilkan

didominasi

oleh

anomali negatif. Hal ini mengindikasikan adanya pengurangan massa reservoir akibat

fluida yang diproduksi lebih besar dari fluida yang diinjeksikan atau fluida yang diinjeksikan tidak
masuk kedalam reservoir di area bernilai negatif tersebut. Untuk mengetahui kemungkinan mana
yang dapat menjelaskan penyebab nilai anomali negatif tersebut maka dibutuhkan data penunjang
lainnya seperti data volume injeksi-produksi dan pembanding metoda lain untuk mengetahui arah
pergerakan fluida secara jelas.
Daerah penelitian terletak pada sistem panasbumi relief tinggi yang memiliki sistem dua fasa
(Browne, 1989). Berdasarkan siklus pembentukkannya (Ellis dan Mahon, 1977) daerah penelitian
memiliki

sistem

berputar

(cyclic

system)

bertemperatur tinggi yang berasosiasi dengan

volkanisme resen.
Sumur KMJ-X yang menjadi objek studi khusus dibagi menjadi 5 satuan batuan, yaitu: satuan
tefra lapili, satuan tuff, satuan andesit, satuan andesit-basaltik, dan satuan breksi andesit.
Zona alterasi pada litologi sumur KMJ-X (Corbett dan Leach, 1998) tediri dari zona kuarsaepidot-klorit, kuarsa-serisit-kalsit, dan kaolin-smektit-kuarsa; atau sebanding dengan zona
propilitik, filik, dan argilik.
Sumur KMJ-X dibagi menjadi zona overburden pada kedalaman 0-185 mKU, zona penudung
pada kedalaman 185-1100 mKU (tipe ubahan argilik dan filik), dan zona reservoir pada
kedalaman >1100 mKU (tipe ubahan propilitik).
Hasil perbandingan temperatur purba yang dicirikan oleh temperatur pembentukan mineral
sekunder dengan temperatur sumur, menunjukkan kondisi sumber panas yang mulai
mendingin.
Sumur KMJ-X memiliki sistem reservoir dominasi uap, dicirikan oleh grafik temperatur
sumur yang menunjukkan pola konstan pada temperatur maksimum pembentukan uap (2280C).
Secara petrografi juga dicirikan oleh kehadiran mineral epidot yang hadir sebagai ubahan pada
sebagian massadasar pada zona reservoir dan sebagai penciri temperatur tinggi, sedangkan
adularia sebagai penciri zona didih (boiling zone) atau indikator permeabilitas reservoir yang
baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Asikin, S., 1998. Geologi Struktur Indonesia:
Lab Geologi Dinamis, Jurusan Teknik Geologi, ITB, Bandung.
2. Allis, R.G., and Hunt, T.M. 1986.

Analisis of exploration induced gravity changes at

Wairakei geothermal field, Geophysics, 51, 1647-1660.

3. Blakely, R., 1995. Potential Theory in Gravity and


York: Cambridge Univ. Press.

Magnetic

Application,

New