Anda di halaman 1dari 5

209

Stigma Volume XII No.2, April Juni 2004

PENGARUH KONSENTRASI NAA DAN BAP TERHADAP KULTUR


EMBRIO PINANG SIRIH (Areca catechu L.) SECARA IN VITRO.
(Effect of NAA and BAP concentration on embryo culture of Pinang sirih (Areca catechu L)
by in vitro )

Tamsil Bustamam, Nalwida Rozen, dan Wawan Kurniawan *)


ABSTRACT
An experiment to study the effect of NAA and BAP concentration on embryo culture of Pinang sirih was conducted at Tissue Culture Laboratory, Faculty of Agriculture,
Andalas University from June to October 2002.The objective of the experiment was to get the best combination of
NAA and BAP concentration in forming good plantlet
through embryo culture. The experiment was a factorial
experiment with two factors, and it was arranged in Completely Randomized Design with three observations. The
first factor consisted of three levels of NAA concentration,
that is, 4, 6, and 8 ppm, and the second factor consisted of
three levels BAP concentration, namely, 0, 0.5, and 1.0
ppm. The result of this experiment showed that at 4 ppm
NAA gave very good formation of shootlet. The formation
of shootlet and rootlet were also very good at 0 ppm BAP.
Key wods : Areca catechu L., embryo culture, shootlet,
rootlet.

PENDAHULUAN
Pinang (Areca catechu L.) termasuk salah satu
komoditi ekspor yang diandalkan untuk menambah devisa negara. Bagian yang digunakan untuk
ekspor adalah biji. Perkembangan ekspor biji
pinang Indonesia terus meningkat dari tahun ke
tahun, dengan negara tujuan utama adalah India
dan Pakistan, diikuti Singapura, Nepal, Bangladesh, Malaysia (Biro Pusat Statistik, 2000).
Pinang mempunyai nilai ekonomis yang cukup baik dengan manfaat yang beragam dan daerah penyebarannya cukup luas. Manfaat biji pinang antara lain untuk bahan industri seperti dalam penyamakan kulit, industri tekstil, industri zat
pewarna, kosmetik, minuman dan farmasi, disamping itu sebagai bahan makanan stimulansia dan
bumbu masak. Daun dari tanaman pinang juga
dapat digunakan sebagai obat gangguan saluran
pernafasan. Batang digunakan untuk bahan
bangunan, saluran air, dan sering dipakai sebagai
perlombaan panjat pinang dalam rangka memperingati hari-hari besar. Akar dimanfaatkan untuk
obat cacing dan gangguan pencernaan.

*)

Budidaya tanaman pinang secara intensif telah


dilakukan di India, Bangladesh dan Srilangka,
sedangkan di Indonesia belum dilakukan secara
intensif. Pemeliharaan pinang selama ini hanya
seadanya tanpa dipelihara dengan baik. Tanaman
pinang yang tumbuh dengan baik diambil hasilnya
tanpa adanya langkah-langkah pembudidayaan.
Apabila keadaan ini berlanjut terus-menerus,
dikhawatirkan akan terjadi pengurangan secara
signifikan karena sampai sekarang belum ada
peremajaan pinang apalagi budidaya secara
intensif seperti tanaman perkebunan lainnya.
Melihat keadaan yang demikian sudah seharusnya
kita pikirkan untuk pengembangan pinang agar
terhindar dari kelangkaan akibat eksploitasi
pinang yang berlebihan.
Dalam rangka mengupayakan pengembangan
tanaman pinang, penyediaan bibit merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam peremajaan dan perluasan areal penanaman pinang. Selama
ini perbanyakan pinang dilakukan secara konvensional yang sampai sekarang masih menghadapai
banyak kendala. Kendala tersebut antara lain
lamanya waktu yang diperlukan untuk perkecambahan dari benih dan rentannya bibit terhadap
kondisi lingkungan, serta serangan dari hama dan
penyakit.
Menurut Untu (1995) benih pinang akan berkecambah setelah 2 - 3 bulan, dalam persemaian
dan selama persemaian terjadi kerusakan benih
akibat hama dan penyakit. Perbanyakan tanaman
pinang secara konvensional mempunyai beberapa
kendala, antara lain biji memiliki masa dormansi,
untuk berkecambah memerlukan waktu 54 hari
bahkan lebih. Untuk mendapatkan bibit pinang
yang siap ditanam di lapangan membutuhkan
waktu 18 - 30 bulan, bibit pada umur ini memiliki
5-7 helai daun (Bhat, 1978). Untuk itu perlu
dicarikan suatu metoda yang dapat mempercepat
perkecambahan dan aman dari gangguan hama
ataupun penyakit.

Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang

ISSN 0853-3776

AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002

210
Stigma Volume XII No.2, April Juni 2004

Pada berbagai jenis tanaman palem


(Arecaceae), diketahui teknik kultur in vitro
merupakan salah satu solusi yang cukup efektif
untuk mengatasi masalah dalam penyediaan bibit.
Pinang termasuk salah satu tanaman yang sulit
berkecambah maka dengan teknik kultur in vitro
akan dapat mengatasi masalah tersebut, karena
kultur in vitro termasuk salah satu cara budidaya
untuk tanaman yang sulit berkecambah
(Wattimena, 1996).
Salah satu teknik kultur in vitro yang cukup
luas penggunaannya adalah kultur embrio, karena
kultur embrio merupakan studi awal untuk
mendapatkan atau menentukan media yang paling
cocok bagi suatu jenis tanaman, memiliki tingkat
keberhasilan yang tinggi dan dapat tumbuh langsung membentuk tunas. Selanjutnya tunas tersebut dapat dijadikan eksplan yng bebas dari microorganisme sehingga tidak perlu disterilisasi lagi.
Menurut Monnier (1990) melalui kultur embrio
dapat dipelajari perkembangan embrio lebih dini.
Di bidang pemuliaan tanaman, kultur embrio dapat mempercepat siklus hibridisasi. Teixeira,
Sondahl, dan Kirby (1993) menyatakan bahwa
dipilihnya embrio sebagai eksplan karena tersedianya buah, memiliki keseragaman fisiologis yang
tinggi dan dapat dibawa dalam waktu dan jarak
yang cukup panjang.
Lestari (1999) menyatakan embrio enau
(Arenga pinnata Wurmb. Merr.) yang berasal dari
buah muda mempunyai kemampuan menghasilkan
kalus yang lebih tinggi dibanding embrio yang
berasal dari buah yang lebih tua. Hal ini disebabkan karena proses pematangan benih. Menurut
Heddy tahun 1996 cit Lestari (1999) pada saat
benih memasuki tahap matang fisiologis maka
jaringan-jaringan embrio mengering dan organelaorganela seluler menjadi tidak berfungsi.
Pertumbuhan dan morfogenesis tanaman secara in vitro, dikendalikan oleh keseimbangan dan
interaksi dari zat pengatur tumbuh (ZPT) yang
berada dalam eksplan, baik ZPT endogen maupun
eksogen yang diserap dari media tumbuh. Hasil
penelitian Hendaryono dan Wijayani (1994) menyatakan bahwa pembentukan kalus terbaik dari
embrio melinjo adalah dengan pemberian 4 ppm
NAA tanpa penambahan ZPT lain. Yuriko (2001)
menyatakan kultur embrio pinang dengan penambahan 6 ppm NAA pada media MS dapat memberikan pertumbuhan yang optimum.
Pengkajian mengenai kultur embrio pada
pinang belum banyak dilakukan. Berdasarkan hal
tersebut, maka perlu dilakukan penelitian dalam
rangka memperoleh bibit yang baik dan bermutu
serta bebas hama dan penyakit dalam jumlah yang
relatif banyak dan seragam.

ISSN 0853-3776

BAHAN DAN METODE


Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, dengan waktu dari bulan Juni sampai
Oktober 2002.
Bahan penelitian: embrio buah pinang yang
masih muda, zat kimia penyusun media MS,
Naphthalene Acetic Acid (NAA), Benzyl Amino
Purine (BAP), NaOH 1N, HCl 1N, alkohol 70%,
Bayclin, sukrosa, akuades, agar konsumsi, air
kelapa muda, deterjen, aluminum foil, dan plastic
wrap.
Alat yang digunakan : timbangan analitik,
autoclave, kompor listrik, pH meter, laminar air
flow cabinet (LAFC), lemari es, oven, hotplate
dengan magnetic stirer, gelas piala, labu ukur, cawan petri, erlenmeyer, pisau scalpel, pinset, karet
hisap, hand sprayer, botol kultur, lampu neon,
lampu spiritus, gunting buah, cutter, dan ruang
pemeliharaan yang dilengkapi dengan pengatur
suhu.
Percobaan disusun dalam bentuk faktorial
dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2
faktor dan masing-masing faktor terdiri dari 3
taraf. Faktor pertama adalah tingkat konsentrasi
NAA yang terdiri dari : 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, dan
faktor kedua adalah tingkat konsentrasi BAP yang
terdiri dari : 0 ppm, 0,5 ppm, dan 1 ppm, sehingga
didapatkan 9 kombinasi perlakuan.
Masing-masing perlakuan terdiri dari 5
ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 botol
kultur, sehingga diperoleh 225 botol kultur yang
digunakan. Data yang diperoleh diuji secara statistika dengan uji F pada taraf nyata 5% dan disajikan dalam bentuk tabel. Apabila berbeda nyata
dilanjutkan dengan uji lanjutan Duncans New
Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf nyata
5 %.

Pelaksanaan percobaan
Sterilisasi alat
Alat-alat yang dipakai terlebih dulu disterilkan
dengan cara mencuci alat-alat tersebut dengan
deterjen dan dibilas hingga bersih, setelah itu direndam dengan bayclin 5 ml/ l air selama satu
malam. Kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoclave pada tekanan 15 psi, suhu 121oC
selama 30 menit. Setelah itu diovenkan pada suhu
75oC sampai saat dipergunakan.

AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002

211
Stigma Volume XII No.2, April Juni 2004

Persiapan media
Dalam pembuatan media pertama sekali dibuat larutan stok dan diberi kode A, B, C, D, E, dan
F berdasarkan jenis garamnya. Larutan vitamin
ditempatkan dalam botol yang terpisah. Pada
larutan stok ini, media dipekatkan sehingga pada
saat pembuatan media hanya dengan memipet
sejumlah volume tertentu sesuai dengan takaran
yang diperlukan. Kedalam larutan ditambahkan
BAP dan NAA sesuai dengan perlakuan dengan
cara memipet larutan stok yang sudah ada.
Kemudian ditambah arang aktif dan ditambah
sukrosa 3%. Kemudian diatur pH agar mencapai
5,8. Media selanjutnya ditambah agar sebanyak
8g/l dan dimasak sampai mendidih. Selanjutnya
media dimasukkan kedalam botol kultur sebanyak
10 ml tiap botol dan ditutup rapat dengan aluminium foil, kemudian disterilkan dalam autoclave
pada tekanan 15 psi pada suhu 121oC selama 20
menit setelah itu dipindahkan dan disimpan di
ruang inkubasi selama 1 minggu.
Persiapan eksplan
Buah pinang dicuci dengan deterjen sambil disikat dengan sikat gigi untuk mengangkat kotoran
yang melekat. Kemudian dibilas bersih, setelah
bersih buah dipotong pada ujung dan pangkalnya
masing-masing 0,5 cm, kemudian langsung direndam dalam alkohol 70%. Buah dibawa ke dalam
LAFC dan dibiarkan selama 30 menit.
Embrio merupakan bagian tanaman yang tertutup dan bebas mikroorganisme, karenanya tidak
dilakukan sterilisasi terhadap embrio itu sendiri.
Embrio dipisahkan dari buah dengan menggunakan pisau scalpel dan diambil dengan pinset.
Embrio yang telah dipisahkan tersebut langsung
ditanam di dalam botol kultur, tanpa melalui
proses sterilisasi.
Penanaman eksplan
Penanaman eksplan dilakukan di dalam
LAFC. Embrio yang sudah dipisahkan dari buahnya tadi ditanam dalam botol kultur yang telah
berisi media, masing-masing satu embrio untuk
setiap botol kultur, kemudian ditutup dengan
aluminimum foil dan dibalut dengan plastik wrap.
Penggelapan
Untuk menghindari terjadinya browning, maka dilakukan penggelapan. Botol kultur ditempatkan di ruangan gelap pada suhu 25 - 27 oC selama
14 hari.
Pemeliharaan kultur eksplan
Botol-botol kultur dipindahlan ke ruangan terang setelah 14 hari dalam ruangan gelap. dan di-

ISSN 0853-3776

susun pada rak-rak kultur dalam ruangan pemeliharaan dengan suhu ruangan tetap 25 - 27 oC,
cahaya lampu rata-rata 2000 luks dan setiap hari
disemprot dengan alkohol 70%.
Pengamatan
Variabel yang diamati pada penelitian ini meliputi : persentase eksplan yang hidup (%), persentase eksplan yang mengalami pencoklatan (%),
persentase eksplan membentuk kalus (%), persentase eksplan yang membentuk shootlet,, persentase eksplan yang membentuk rootlet, dan
perubahan warna eksplan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Persentase eksplan yang hidup
Pemberian NAA dan BAPmemberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap persentase eksplan
yang hidup, tetapi persentasenya cukup tinggi
bervariasi antara 71,0 88,7 % seperti tertera
pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Persentase eksplan embrio muda pinang sirih
yang hidup dengan pemberian berbagai
konsentrasi NAA dan BAP umur 14 minggu
setelah tanam
Konsentrasi NAA
(ppm)

Konsentrasi BAP (ppm)


0,0
0,5
1,0

4
83,7
6
88,7
8
88,7
KK = 16,7%
Angka-angka pada baris dan kolom
tidak nyata menurut uji F pada
taraf nyata 5 %.

76,0
88,7
71,0

81,1
78,6
73,5

yang sama berbeda

Data di atas menunjukkan bahwa kemampuan


hidup eksplan cukup tinggi, hal ini disebabkan
karena NAA dan BAP yang diberikan sudah
mampu mendorong eksplan untuk hidup, disamping itu jenis media yang digunakan juga telah
sesuai bagi pertumbuhan eksplan. Sesuai dengan
pendapat Hendaryono dan Wijayani (1994) bahwa
media tumbuh kultur in vitro sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan
eksplan serta bibit yang dihasilkannya.
2. Persentase eksplan
pencoklatan

yang

mengalami

Persentase eksplan yang mengalami pencoklatan cukup rendah pada setiap kombinasi perlakuan, bervariasi antara 0,71 1,47% dan berbeda
tidak nyata sesamanya (Tabel 2 ).

AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002

212
Stigma Volume XII No.2, April Juni 2004

Tabel 2. Persentase eksplan embrio muda pinang sirih


yang mengalami pencoklatan dengan pemberian
berbagai konsentrasi NAA dan BAP umur 14
minggu setelah tanam
Konsentrasi
NAA (ppm)

Konsentrasi BAP (ppm)


0,0
0,5

4
1,47
1,47
6
0,71
0,71
8
0,71
1,47
Angka-angka pada baris dan kolom yang sama
tidak nyata menurut uji F pada taraf nyata 5 %.

1,0
0,71
1,47
0,71
berbeda

Pemberian auksin dan sitokinin menyebabkan


pencoklatan yang rendah terhadap eksplan.
Menurut Zaid cit. Subardianto (2001) diduga
NAA sebagai auksin memperkecil pengaruh sitokinin yang bersifat merangsang sintesis senyawa
fenol yang menyebabkan pencoklatan.
3. Persentase eksplan yang membentuk kalus
Pembentukan kalus tertinggi yaitu 19,0%
diberikan oleh kombinasi 8 ppm NAA dengan 0
ppm BAP, tetapi pemberian NAA dan BAP secara umum belum memperlihatkan pengaruh yang
nyata terhadap persentase eksplan yang membentuk kalus. Hal ini diduga bahwa zat pengatur
tumbuh endogen telah mampu menunjang pertumbuhan eksplan ke arah pembentukan kalus.
Menurut Wiendi et al (1991) di dalam kultur in
vitro pertumbuhan dan morfogenesis tanaman
dikendalikan oleh keseimbangan dan interaksi dari
zat pengatur tumbuh yang berada dalam eksplan.
Pada tanaman monokotil pembentukan kalus
hanya membutuhkan auksin yang tinggi tanpa
sitokinin. Ternyata dari hasil memang terlihat
bahwa dengan pemberian auksin memperlihatkan
kalus yang terbentuk semakin banyak tanpa
pemberian sitokinin.
Tabel 3. Persentase eksplan embrio muda pinang sirih
yang membentuk kalus dengan pemberian
berbagai konsentrasi NAA dan BAP umur 14
minggu setelah tanam
Konsentrasi NAA
(ppm)

Konsentrasi BAP (ppm)


0,0
0,5
1,0

4
6,3
6,3
6
6,3
1,3
8
19,0
1,3
Angka-angka pada baris dan kolom yang sama
tidak nyata menurut uji F pada taraf nyata 5 %.

4. Persentase
hootlet.

ISSN 0853-3776

eksplan

yang

Pemberian NAA dan BAP secara bersamaan


dengan berbagai konsentrasi ternyata tidak
memberikan interaksi yang nyata, tetapiNAA dan
BAP secara tunggal masing-masing menunjukan
pengaruh yang nyata seperti terlihat pada Tabel 4
berikut.

1,3
6,3
1,3
berbeda

membentuk

Tabel 4. Persentase eksplan embrio muda pinang sirih


yang membentuk shootlet dengan pemberian
berbagai konsentrasi NAA dan BAP umur 14
minggu setelah tanam
Konsentrasi
NAA (ppm)

Konsentrasi BAP (ppm)


0,0

0,5

1,0

Ratarata

63,7

34,0

43,8

47,1 A

41,5

21,3

31,6

31,5 B

38,8

13,9

11,4

21,4 B

Rata-rata

48,0 a

23,1 b

29,0 b

KK = 51,2%
Angka-angka pada baris yang sama diikuti huruf kecil
yang sama dan angka-angka pada kolom yang sama diikuti huruf besar yang sama berbeda tidak nyata menurut
uji DNMRT pada taraf nyata 5 %.

Pada Tabel 4 terlihat bahwa semakin tinggi


konsentrasi NAA ataupun BAP menurunkan persentase eksplan yang membentuk shootlet sehingga persentase tertinggi didapatkan pada kombinasi
4 ppm NAA dengan 0 ppm BAP yaitu 63,7 %.
Menurut Wiendi et al (1991) dan Nasir (2002)
bahwa keseimbangan dan interaksi dari zat
pengatur tumbuh yang berada dalam eksplan akan
memepengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis
tanaman dalam kultur in vitro.

5. Persentase eksplan yang membentuk rootlet


Tabel 5. Persentase eksplan embrio muda pinang sirih
yang membentuk rootlet dengan pemberian
berbagai konsentrasi NAA dan BAP umur 14
minggu setelah tanam
Konsentrasi
NAA (ppm)

Konsentrasi BAP (ppm)


0,0

0,5

1,0

Ratarata

44,4

31,7

82,3

52,8

94,9

31,7

44,4

57,0
52,4

94,4

6,4

6,4

Rata-rata

94,6 a

23,3 b

44,3 b

KK =
Angka-angka pada baris yang sama diikuti huruf kecil
yang sama berbeda tidak nyata menurut uji DNMRT
pada taraf nyata 5 %.

Dari hasil analisis (Tabel 5) ternyata pemberian NAA berpengaruh tidak nyata sedangkan
pemberian BAP memperlihatkan pengaruh yang

AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002

213
Stigma Volume XII No.2, April Juni 2004

nyata. terhadap eksplan yang membetnuk rootlet.


Pemberian 0 ppm BAP memperlihatkan hasil yang
tinggi dibanding perlakuan lainnya. Hal ini
disebabkan karena BAP dalam pembentukan rootlet kurang dibutuhkan. Sesuai dengan pendapat
Wiendi et al (1991) bahwa pembentukan akar
pada kultur in vitro membutuhkan sitokinin dalam
konsentrasi yang rendah sekali. Hal ini berarti
bahwa pada konsentrasi 4 ppm NAA dan 0 ppm
BAP keseimbangan zat pengatur tumbuh eksogen
dengan endogen sudah tercapai dalam pembentukan rootlet.
6. Perubahan warna eksplan
Perubahan warna eksplan tidak dianalisis secara statistika, hanya diamati secara visual saja.
Eksplan yang membetuk kalus dan rootlet bewarna kuning muda, sedangkan yang membentuk
shootlet bewarna hijau. Menurut Wiendi et al
(1991) bahwa dengan terbentuknya warna hijau
pada eksplan merupakan awal terjadinya morfogenesis.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaanan ini dapat disimpulkan bahwa pemberian 4 ppm NAA dapat
mendorong pertumbuhan shootlet dan pemberian
0 ppm BAP mendorong pertumbuhan shootlet
dan rootlet.
DAFTAR PUSTAKA

Bhat, K.S. 1978. Agronomic research in arecanut a review.


Journal of planttation Crops volome 6 no. 2 Institut
Regional Station. India. Pp 67-80.
Biro Pusat Statistik. 2000. Statistik perdagangan luar negeri
Indonesia : ekspor 1999 jilid 1. Biro Pusat Statistik. Jakarta. Hal. 32.
Hendaryono, D.P.S. dan A.Wijayani. 1994. Teknik kultur
jaringan. Peberbit Kanisius. Yokjakarta. 139 hal.
Lestari, M. 1999. Kultur embrio tanaman enau (Arenga
pinnata (Wurmb) Merr) secara in vitro dengan berbagai
tingkat kematangan buah. Skripsi Fakultas Pertanian
Universitas Andalas Padang. 147 hal.
Monnier, M. 1990. Zygotic embryo culture. S.S.Bhojwani
(editor). Development ini crop science 19 plant tissue
culture (applications and limitations). Elsevier Science
Publishers B.V. Amsterdam, Netherlands. Pp. 336-390.
Nasir, M. 2002. Bioteknologi potensi dan keberhasilannya
dalam bidang pertanian. PT Grafindo Persada. Jakarta.
286 hal.
Subardianto. 2001. Pengaruh konsentrasi NAA dan kinetin
terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan tunas
kenanga (Canangium odorata Baill) secara in vitro.
Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.
44 hal.
Teixeira, J.B, M.R.Sondahl, and E.G.Kirby. 1993. Somatic
embryogenesis from immature zygotic embryos of palm
oil. Plant Cell, Tissue and Organ Culture no.34. Kluwer
Academic Pulishers. Netherlands. Pp 227-233.
Untu, Z. 1995. Penggunaan zat pengatur tumbuh pada pembibitan pinang. Buletin Balitka no.24. Balai Penelitian
Tanaman Kelapa. Menado. Hal. 60-65.
Wattimena,G.A. 1996. Zat pengatur tumbuh tanaman.
Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman. PAU
Bioteknologi. IPB Bogor. 247 hal.
Wiendi, N.A, G.A.Wattimena, dan L.W.Gunawan. 1991.
Perbanyakan tanaman dalam bioteknologi tanaman. PAU
Bioteknologi. IPB Bogor. 507 hal.
Yuriko, H. 2001. Kultur embrio pinang sirih (Areca catechu
L.) secara in vitro pada beberapa tingkat kematangan
buah. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Andalas
Padang. 48 hal.

------------------------------oo0oo------------------------------

ISSN 0853-3776

AKREDITASI DIKTI No. 52/DIKTI/KEP/1999 tgl. 12 Nopember 2002