Anda di halaman 1dari 9

EBM

CRITICAL APPRAISAL
A Randomized Comparison of Dihydroartemisinin-Piperaquine
and Artesunate-Amodiaquine Combined With Primaquine for
Radical Treatment of Vivax Malaria in Sumatera, Indonesia

Disusun oleh :
Fadhillah Syafitri

(1102011091)

Faradiba Febriani

(1102011096)

Mainurtika

(1102011151)

Dosen Pembimbing :
dr. Citra Dewi, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2013/2014
TUGAS EVIDENCE BASED MEDICINE
Skenario
Ibu berusia 30 tahun datang ke dokter dengan keluhan tidak hamil sedangkan sudah 5 tahun
menikah, Setahun ini, menstruasinya tidak teratur, rata-rata 2 bulan sekali baru mendapat
menstruasi, namun dia tidak merasa terganggu dengan keadaan tersebut. Saat datang ke
dokter, mengeluhkan menstruasinya yang sudah tidak datang 4 bulan ini, dirasakan nyeri
panggul sudah selama 5 minggu, kenaikan berat badan dan perut membuncit. Pasien juga
mengatakan bahwa sering tumbuh jerawat banyak di wajah dan tumbuh banyak rambut di
dada. Pasien baru pertama ke dokter dan belum pernah minum obat untuk penyakitnya ini.
Riwayat penyakit terdahulu tidak ada. Riwayat penyakit dikeluarga tidak ada. Tidak ada
riwayat penggunaan alat kontrasepsi.
Pada pemeriksaan fisik didapati nyeri tekan panggul, perut membuncit, banyak tumbuh
rambut di dada. Dokter menyarankan pemeriksaan serum HCG. Namun hasil pemeriksaan
serum HCG test, hasilnya negatif, jadi bukan menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dokter
juga menyarankan untuk melakukan pemeriksaan USG. Didapatkan hasil terdapat kista kecil
15 buah dengan diameter rata-rata 3mm dan terdapat peningkatan volume ovarium 12ml.
Dokter mendiagnosis bahwa ibu mengalami infertilitas karena menderita Sindrom ovarium
polikistik (SOPK). Dokter menyarankan untuk menurunkan berat badan dan memberikan
terapi clomiphene untuk induksi kehamilan. Pasien menanyakan apakah ada obat yang lebih
efektif untuk induksi kehamilannya ?, kemudian dokter menyarankan obat letrozole.
Pertanyaan (Foreground Question)
Apakah terapi Letrozole lebih efektif dibandingkan dengan Clomiphene sebagai terapi
induksi persalinan ?
PICO
Population

: Ibu 30tahun dengan infertilitas dan Sindrom ovarium polikistik (SOPK )

Intervention

: Terapi Letrozole

Comparison

: Terapi Clomiphene
1

Outcomes

: Letrozole lebih efektif untuk mengatasi infertilitas pada pasien Sindrom

ovarium polikistik ( SOPK )


Pencarian bukti ilmiah
Alamat website

: http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMoa1313517

Kata kunci

: Infertility AND Polycystic Ovary Syndrome Treatment with


Letrozole OR Clomiphene

Limitasi

: December 2010 - Desember 2015

Hasil Pencarian

: 2 artikel

Dipilih artikel berjudul


Letrozole versus Clomiphene for Infertility in the Polycystic Ovary Syndrome
REVIEW JURNAL
Latar belakang
Clomiphene is the current first-line infertility treatment in women with the polycystic ovary
syndrome, but aromatase inhibitors, including letrozole, might result in better pregnancy
outcomes.
Metode
In this double-blind, multicenter trial, we randomly assigned 750 women, in a 1:1 ratio, to
receive letrozole or clomiphene for up to five treatment cycles, with visits to determine
ovulation and pregnancy, followed by tracking of pregnancies. The polycystic ovary
syndrome was defined according to modified Rotterdam criteria (anovulation with either
hyperandrogenism or polycystic ovaries). Participants were 18 to 40 years of age, had at least
one patent fallopian tube and a normal uterine cavity, and had a male partner with a sperm
concentration of at least 14 million per milliliter; the women and their partners agreed to have
regular intercourse with the intent of conception during the study. The primary outcome was
live birth during the treatment period.
Hasil
Women who received letrozole had more cumulative live births than those who received
clomiphene (103 of 374 [27.5%] vs. 72 of 376 [19.1%], P=0.007; rate ratio for live birth,
1.44; 95% confidence interval, 1.10 to 1.87) without significant differences in overall
congenital anomalies, though there were four major congenital anomalies in the letrozole
group versus one in the clomiphene group (P=0.65). The cumulative ovulation rate was
higher with letrozole than with clomiphene (834 of 1352 treatment cycles [61.7%] vs. 688 of
1425 treatment cycles [48.3%], P<0.001). There were no significant between-group
differences in pregnancy loss (49 of 154 pregnancies in the letrozole group [31.8%] and 30 of
103 pregnancies in the clomiphene group [29.1%]) or twin pregnancy (3.4% and 7.4%,
2

respectively). Clomiphene was associated with a higher incidence of hot flushes, and
letrozole was associated with higher incidences of fatigue and dizziness. Rates of other
adverse events were similar in the two treatment groups.
Kesimpulan
As compared with clomiphene, letrozole was associated with higher live-birth and
ovulation rates among infertile women with the polycystic ovary syndrome. (Funded
by the Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development
and others; ClinicalTrials.gov number, NCT00719186.)
APAKAH HASIL PENELITIAN TERSEBUT VALID?
A. Petunjuk Primer
1. Apakah terdapat sampel yang representatif, terdefinisi jelas, dan berada pada kondisi yang
sama dalam perjalanan penyakitnya?

2. Apakah follow-up cukup lama dan lengkap?

B. Petunjuk sekunder
1. Apakah kriteria outcome yang digunakan obyektif dan tanpa bias?

2. Bila ditemukan subgrup dengan prognosis yang beda, apakah dilakukan adjustment untuk
faktor-faktor prognostik yang penting?

3. Apakah dilakukan validasi pada suatu kelompok independen (test-set)?


TIDAK
APA HASILNYA?
1.

Bagaimana gambaran outcome menurut waktu?

2. Seberapa tepat perkiraan prognosis?

APAKAH HASIL PENELITIAN INI DAPAT DIAPLIKASIKAN?


1. Apakah pasien dalam penelitian tersebut serupa dengan pasien saya?
YA

2. Apakah hasil tersebut membantu memilih atau menghindari terapi tertentu?

YA

3. Apakah hasilnya membantu dalam memberikan konseling kepada pasien saya?


TIDAK