Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI MANAJERIAL

RINGKASAN MATERIKULIAH
VALUATION OF INVENTORIES ( PENILAIAN PERSEDIAAN)
MAKSI UNRAM 2016

OLEH:
R.DEDI DARMA PRAMANA

UNIVERISTAS MATARAM

A. Pengertian Persediaan
1. Pengertian Umum
Persediaan (inventory), adalah meliputi semua barang yang dimiliki
perusahaan pada saat tertentu, dengan tujuan untuk dijual atau dikonsumsi dalam
siklus operasi normal perusahaan. Aktiva lain yang dimiliki perusahaan, tetapi
tidak untuk dijual atau dikonsumsi tidak termasuk dalam klasifikasi persediaan.
Persediaan merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup
penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan
industri (manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi,
hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk
membeli bahan-bahan bangunan.
2. Inventory Perusahaan Dagang
Persediaan merupakan barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan
tujuan untuk dijual kembali dengan tanpa mengubah bentuk dan kualitas barang,
atau dapat dikatakan tidak ada proses produksi sejak barang dibeli sampai dijual
kembali oleh perusahaan.
3. Inventory Perusahaan Industri
Pengertian persediaan untuk perusahaan industri adalah barang-barang
atau bahan yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut
menjadi barang jadi atau setengah jadi atau mungkin menjadi bahan baku bagi
perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses usaha utama perusahaan.
Dengan gambaran diatas maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan
manufaktur pada umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
a. Bahan baku (direct material)
Barang persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses
produksi, sehingga akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai
dengan kegiatan perusahaan
b. Barang dalam proses (work in proses)

Adalah barang yang masih memerlukan proses produksi untuk menjadi barang
jadi, sehingga persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya
produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk keproses
produksi sampai dengan saat penyelesaian barang jadi.
c. Barang jadi (finished goods)
Adalah barang hasil proses produksi dalam bentuk final sehingga dapat segera
dijual, pada persediaan ini besar kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya
merupakan masalah koordinasi produksi dan penjualan.
B. Metode Pencatatan Persediaan Barang
Metode yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan pencatatan persediaan
ada dua, yaitu sebagai berikut ini.
1. Metode Stock Opname atau Metode Periodik (Fisik)
Persediaan yang merupakan komponen cost of goods sold (CGS) maka
perhitungan kuantitas persediaan yang dilakukan dengan stock opname tergantung
dari kelengkapan data atau catatan dan perhitungan barang.

Perhitungan harga pokok penjualan dilakukan dengan cara sebagai berikut:


Persediaan barang awal

Rp xxx

Pembelian
Brg tersedia untuk dijual

xxx (+)
Rp xxx

Persediaan barang akhir


Harga Pokok Penjualan

xxx (-)
Rp xxx

2. Metode Perpetual
Dalam metode perpetual ini terdapat kelemahan pada saat menentukan nilai dan
jumlah barang, karena dengan metode pencatatan yang kontinyu ini berarti saldo
persediaan setiap saat dapat diketahui, namun perlu diperhatikan bahwa dengan
hanya menghitung jumlah barang bedasarkan catatan akan mengakibatkan nilai
persediaan overstatement, karena adanya persediaan yang rusak dsb. Oleh karena
itu yang lebih tepat dalam menentukan jumlah persediaan adalah kalau
menggunakan metode gabungan antara metode perpetual dengan stock opname
(metode fisik).
C. Masalah Pemilikan Persediaan Barang
1. Kepemilikan Persediaan dalam Perjalanan
Persediaan barang dalam perjalanan, meliputi pihak yang berhak
menerima persediaan.
a. FOB (Free on Board) shipping point. Kepemilikan barang menjadi
milik pembeli pada saat diserahkan penjual kepada penyelenggara
transportasi atau pihak perusahaan pengirim barang yang independen.
b. FOB (Free on Board) destination point. Kepemilikan barang masih
berada di penjual sampai barang tersebut diterima oleh pembeli.
2. Barang-barang yang Dipisahkan (Segregated Goods)
Kadang-kadang terjadi suatu kontrak penjualan barang dalam jumlah besar
hingga pengirimannya tidak dapat dikirim sekaligus. Barang-barang yang
dipisahkan tersendiri dengan maksud untuk memenuhi kontrak-kontrak atau
pesanan-pesanan walaupun belum dikirim, haknya sudah berpindah kepada

pembeli. Oleh karena itu pada tanggal penyusunan laporan keuangan jika ada
barang-barang dipisahkan, harus dikeluarkan dari jumlah persediaan penjual dan
dicatat sebagai penjualan. Begitu pula pembeli dapat mencatat pembelian dan
menambah persediaan barangnya.
3. Barang Konsinyasi (Consignment Goods)
Dalam cara penjualan titipan, barang-barang yang dititipkan untuk
dijualkan (dikonsinyasikan) haknya masih tetap pada yang menitipkan sampai
barang-barang tersebut dijual. Sebelum barang-barang tersebut dijual masih tetap
menjadi persediaan pihak yang menitipkan (consignor). Pihak yang menerima
titipan (consignee) tidak mempunyai hak atas barang-barang tersebut sehingga
tidak mencatat barang-barang tersebut sebagai persediaannya. Apabila barangbarang itu sudah dijual maka yang menerima titipan membuat laporan pada yang
menitipkan. Pada waktu menerima laporan, pihak yang menitipkan mencatat
penjualan dan mengurangi persediaan barangnya.
4. Penjualan Angsuran (Installment Sales)
Dalam penjualan angsuran, hak atas barang tetap pada penjual sampai
seluruh harga jualnya dilunasi. Penjual akan melaporkan barang-barang tersebut
dalam persediaannya dikurangi jumla yang sudah dibayar. Pembeli akan
melaporkan barang-barang tersebut dalam persediannya sejumlah yang sudah
dibayarkannya.
Apabila dianggap bahwa kemungkinan pembatalan penjualan tersebut kecil maka
penjual dapat mengakuinya sebagai penjualan biasa yang diangsur dan pembeli
dapat mencatatnya sebagai pembelian biasa yang pembayarannya diangsur. Ada
beberapa cara penjualan angsuran di mana masing-masing cara akan ditentukan
cara mencatatnya
D. Metode Penentuan Harga Pokok Penjualan
1. Penilaian dengan pendekatan arus harga pokok (cost basic flow approach) ini
terdapat dua sistem pencatatan persediaan yaitu sistem periodik dan sistem
perpetual yang masing-masing ada tiga cara penilaian persediaan, yaitu:
a. FIFO (First in First Out), masuk pertama keluar pertama (MPKP)

Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama)
masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai
dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). Metode ini
cenderung menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada
nilai aktiva perusahaan yang dibeli.
b. LIFO (Last In First Out), masuk terakhir keluar pertama (MTKP)
Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk
akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan
dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang awal (pertama) masuk
atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang
rendah dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah.
c. Metode Rata-rata (average method)
Dengan menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai
antara nilai persediaan metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. Metode ini juga
akan berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor.
2. Penilaian Persediaan Selain Arus Harga Pokok
Dalam pendekatan ini ada tiga metode yang digunakan, yaitu:
a. Lower Cost of Market
Yaitu metode harga terendah antara harga pokok dan harga pasar. Metode ini
dapat diterapkan dalam kondisi persediaan tidak normal, misalnya cacat, rusak
dan kadaluarsa. Pokok dari metode ini adalah membandingkan nilai yang lebih
rendah antara nilai pasar (replacement value) dan nilai perolehan (cost). Nilai
pasar yang akan dipilih harus dibatasi, yaitu tidak boleh lebih rendah dari batas
bawah (floor limit) dan tidak boleh lebih tinggi dari batas atas (ceiling limit).
b. Gross Profit Method
Metode laba kotor ini bersifat estimasi dalam penilaian persediaannya. Biasanya
diterapkan karena keterbatasan dokumen yang terkait dengan persediaan,

misalnya karena terjadi bencana kebakaran dan banjir. Dasar penilaian


persediaannya adalah pada persentase laba kotor perusahaan tahun berjalan atau
rata-rata selama beberapa tahun. Langkah-langkah yang dilakukan adalah:
1) mengestimasi nilai penjualan tahun berjalan,
2) menghitung nilai harga pokok penjualan berdasarkan pada persentase laba
kotor yang telah diketahui, dan
3) menghitung estimasi nilai persediaan akhir dengan mengurangkan harga pokok
penjualan terhadap penjualan.
c. Retail Method
Metode eceran ini menilai persediaan akhir dengan cara menghitung terlebih
dahulu nilai persediaan akhir berdasarkan eceran. Nilai persediaan akhir dengan
harga pokok akan diketahui dengan cara menghitung rasio antara nilai persediaan
yang tersedia untuk dijual dengan pendekatan harga pokok dibandingkan dengan
pendekatan ritel. Kemudian rasio yang diperoleh dikalikan dengan persediaan
akhir yang dinilai dengan pendekatan eceran dapat dirumuskan sebagai berikut:
E. Penilaian Persediaan Barang
Yang dimaksud dengan penilaian persediaan barang dagang adalah menentukan
nilai persediaan yang dicantumkan dalam neraca. Persediaan akhir bisa dihitung
harga pokokny menggunakan beberapa cara penentuan harga pokok persediaan
akhir, tetapi nilai ini tidak terlalu nampak dalam neraca, jumlah yang ditampilkan
dalam neraca tergantung pada metode penilaian yang digunakan.
1. Metode Harga Pokok
Dalam metode ini harga pokok persediaan akhir akan dicantumkan dalam
neraca. Di sini tidak ada perbedaan antara harga pokok persediaan dan nilai
persediaan dalam neraca. Harga pokok persediaan barang dapat dilakukan dengan
cara MPKP (FIFO), rata-rata tertimbang, MTKP (LIFO) atau yang lain dan
hasilnya dicantumkan dalam neraca tanpa perubahan. PSAK N0. 14 tidak
membenarkan digunakannya metode harga pokok untuk menentukan nilai
persediaan dalam neraca.
2. Metode Harga Pokok atau Nilai Realisasi yang Lebih Rendah

Nilai realisasi bersih merupakan batas maksimum yang diperkenankan


untuk mencantumkan persediaan dan disebut batas atas (ceiling). Nilai realisasi
bersih dikurangi laba normal merupakan batas minimum di mana nilai persediaan
barang tidak boleh lebih rendah.
3. Metode Laba Bruto (Laba Kotor)
Menentukan jumlah persediaan dengan metode laba bruto, biasanya
dilakukan dalam keadaan-keadaan sebagai berikut ini.
a. Untuk menaksir jumlah persediaan barang yang diperlukan untuk
menyusun laporan-laporan jangka pendek, di mana perhitungan fisik
tidak mungkin dijalankan.
b. Untuk menaksir jumlah persediaan barang yang rusak karena terbakar
dan menentukan jumlah barang sebelum terjadinya kebakaran.
Perhitungan ini sering diperlukan untuk menentukan besarnya klaim
terhadap perusahaan asuransi. Dalam keadaan seperti ini metode laba
bruto dapat digunakan bila sebagian catatan-catatan yang diperlukan
ada dan tidak musnah terbakar.
c. Untuk mengecek jumlah persediaan yang dihitung dengan cara-cara
lain, disebut test laba bruto.
d. Untuk menyusun taksiran harga pokok penjualan, persediaan akhir dan
laba bruto. Taksiran ini dihitung sesudah dibuat budget penjualan.

4. Metode Harga Eceran (Retail Inventory Method)


Metode harga eceran biasanya digunakan dalam toko-toko yang menjual
bermacam-macam barang secara eceran, termasuk toko serba ada. Dalam
perusahaan-perusahaan seperti itu biasanya digunakan metode fisik untuk
pencatatan persediaan karena metode buku akan menimbulkan banyak

pekerjaan. Metode harga eceran ini memungkinkan dihitungnya jumlah


persediaan tanpa mengadakan perhitungan fisik. Metode ini bisa digunakan
untuk :
a. Menaksir jumlah persediaan barang untuk penyusunan laporan
keuangan jangka pendek
b. Mempercepat perhitungan fisik, karena jumlah yang dihitung itu
dicantumkan dengan harga jualnya, maka untuk mengubahnya ke harga
pokok ialah dengan mengalikannya dengan presentase harga pokok
tanpa perlu memperhatikan masing-masing fakturnya.
c. Mutasi barang dapat diawasi yaitu dengan membandingkan hasil
perhitungan fisik yang dinilai dengan harga jual dengan hasil
perhitungan dari metode harga eceran.
Metode persediaan eceran (retail inventory method), mensyaratkan bahwa
pencatatan dilakukan atas dasar:
a. Total biaya dan nilai eceran dari barang yang dibeli
b. Total biaya dan nilai eceran barang yang tersedia untuk dijual.
c. Penjualan periode berjalan
Ada beberapa versi metode persediaan eceran yaitu:
a. Metode Konvensional, yaitu nilai terendah antara biaya rata-rata dan harga
pasar.
b. Metode Biaya
c. Metode Eceran LIFO
d. Metode Eceran LIFO nilai-dolar
Tanpa memperhatikan versi mana yang dipakai, metode persediaan eceran
didukung oleh IRS, berbagai asosiasi perusahaan eceran, dan profesi Akuntansi.
Salah satu keunggulannya adalah saldo persediaan dapat diestimasi tanpa
perhitungan fisik. Namun untuk menghindari kemungkinan lebih-saji persediaan,

Perhitungan persediaan periodikharus dilakukan terutama dalam bisnis eceran


dimana kerugian akibat pencurian dan kerusakan sering terjadi.
Metode persediaan eceran sangat berguna bagi setiap jenis laporan Interim, karena
pengukuran nilai persediaan yang handal dan cepat biasanya dibutuhkan. Para
penaksir Asuransi biasanya memakai metode ini untuk mengestimasi kerugian
akibat kebakaran, banjir atau bencana lainnya. Metode ini juga berfungsi sebagai
perangkat pengendalian (control device) karena setiap penyimpangan dari hasil
fisik pada akhir tahun harus dijelaskan. Selain itu, metode eceran juga
mempercepat perhitungan fisik persediaan pada akhir tahun. Petugas yang
melakukan perhitungan fisik persediaan hanya perlu mencatat harga eceran setiap
barang tidak perlu melihat biaya faktur setiap barang sehingga bisa menghemat
waktu dan uang.
1) Konsep Metode Harga Eceran
Dalam praktek, harga jual sering kali di-markup atau di-markdown. Bagi peritel,
istilah di markup berarti markup tambahan atas harga eceran awal. Sedangkan
pembatalan markup (markup cancellations) adalah penurunan harga barang
dagang yang sebelumnya telah di markup di atas harga eceran awal.
Dalam pasar kompetitif, peritel seringkali perlu menggunakan markdown yakni
penurunan harga jual awal. Hal ini mungkin diperlukan karena adanya penurunan
tingkat harga umum, penjualan khusus, kerusakan barang, kelebihan persediaan,
dan persaingan. Sedangkan Pembatalan markdown (markdown cancellation)
terjadi apabila markdown kemudian di offset oleh kenaikan harga barang yang
sebelumnya sudah di markdown seperti setelah penjualan satu hari.
2) Metode Persediaan Eceran dengan Markup dan Markdown Metode
Konvensional
Metode ini dirancang untuk memperkirakan nilai terendah antara biaya rata-rata
dan harga pasar.
Pos-pos khusus yang berhubungan dengan metode Eceran

Metode persediaan eceran menjadi lebih rumit apabila pos-pos seperti transportasi
masuk, retur pembelian dan pengurangan harga, dan diskon pembelian terlibat.
Dalam metode eceran, kita memperlakukan pos-pos semacam itu sebagai berikut:
a) Biaya pengangkutan (freight cost) diperlakukan sebagai bagian dari biaya
pembelian.
b) Retur Pembelian (purchase return) biasanya dipandang sebagai pengurang baik
pada biaya maupun harga eceran.
c) Diskon pembelian dan pengurangan harga (purchase discount and allowances)
biasanya dipandang sebagai pengurang biaya pembelian.
Perlu diingat bahwa retur penjualan dan pengurangan harga (sales return and
allowance) dipandang sebagai penyesuaian terhadap penjualan kotor, namun
diskon penjualan (sales discount) tidak diakui apabila penjualan dicatat sebagai
penjualan kotor.
Selain itu, sejumlah pos-pos khusus juga memperlukan analisis yang seksama,
diantaranya :
a) Transfer-masuk (transfer-in) dari departemen lain, misalnya harus dilaporkan
dengan cra yang sama seperti pada pembelian dari perusahaan lain.
b) Kekurangan normal (normal shortages) bisa disebabkan pecah, rusak, hilang,
atau aus. Biaya semacam ini harus dicerminkan dalam harga jual karena
kekurangan dalam jumlah tertentu dipandang normal dalam perusahaan eceran.
Akibatnya, jumlah ini tidak diperhitungkan dalam menghitung rasio biaya
terhadap harga eceran. Hal ini akan ditunjukkan sebagai pengurangan terhadap
penjualan yang sama untuk mendapatkan persediaan akhir menurut harga eceran.
c) Kekurangan abnormal (abnormal shortages)
d) Diskon untuk karyawan (employee discount)
Penggunaan Metode persediaan eceran untuk menghitung persediaan karena
alasan sebagai berikut

a) Agar laba bersih dapat dihitung tanpa harus melakukan perhitungan fisik
persediaan
b) Sebagai ukuran pengendalian dalam menentukan kekurangan persediaan
c) Dalam pengaturan kuantitas barang dagang ditangan
d) Untuk informasi asuransi

DAFTAR PUSTAKA
Kieso, Donald E, dkk. Akuntansi Intermediate.2007. Jakarta: Erlangga
Zaki Baridwan. Intermediate Accounting. 2004. Yogyakarta: BPPE

Anda mungkin juga menyukai