Anda di halaman 1dari 21

SCROFULODERMA

DokterPembimbing :
dr. Retno Sawitri,Sp.KK
dr.Shinta J.B.Toban Rambu,Sp.KK

Oleh :
JESSICA WIRJOSOENJOTO
030.09.126

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN


KELAMIN
RSUD KOTA BEKASI
PERIODE 29 JUNI 1 AGUSTUS 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

SCROFULODERMA
Kelainan kulit yang
disebabkan oleh
Mycobacterium
tuberculosis yang
mengenai subkutan

DEFINISI

--EPIDEMIOLOGI-Insidens : masih rendah. Cina atau India: prevalen


masih tinggi,
biasanya mengenai anak-anak dan dewasa muda
terutama pada pria. Sumber lain menyebutkan
dapat terjadi pada semua umur dan perbedaan
insidens pada pria dan wanita tidak bermakna.
Negara-negara belum berkembang, daerah dengan
sanitasi kurang dan gizi kurang, penyakit lebih
mudah meluas dan lebih berat. Penyebaran lebih
mudah terjadi pada musim penghujan.

M. Tuberculosis
merupakan kuman
aerob yang patogen
pada manusia.
Mempunyai sifat
sebagai berikut :
berbentuk batang,
panjang 2-4/ dan
lebar 0,3-1,5/m ,
tahan asam dan
hidupnya
intraseluler
fakultatif, tidak
bergerak, tidak
membentuk spora
dan suhu optimal
pertumbuhan pada
370C.

ETIOLOGI
Penyebab
utama TBC
kutis
Mycobacterium
tuberculosis
(91,5%)

Mikobakteri
a Atipikal
(8.5%)

Pemeriksaan
Bakteriologik
1. Sediaan
Mikroskopik
3.
Binatang
Percobaa
n

4. Tes
biokimia

2.
Kultur
5.
Percobaa
n
Resistens
i

Patogenesis
penjalaran per
kontinuitatum dari organ
dibawah kulit (KGB,sendi
dan tulang) yang telah
diserang penyakit
tuberkulosis

Port dentre di
daerah leher
tonsil atau paru. Jika
di ketiak apex
pleura, bila dilipat
paha ekstremitas
bawah.

predileksi :
daerah yang
banyak KGB
(leher, aksila
dan lipat
paha)
Kadang-kadang
ketiga tempat
predileksi tersebut
diserang sekaligus,
yakni pada leher,
ketiak dan lipat
paha,
kemungkinan
besar terjadi
penyebaran
hematogen.

GAMBARAN KLINIS
Skrofuloderma biasanya mulai sebagai limfadenitis tuberkulosis, berupa
pembesaran kelenjar getah bening, tanpa tanda radang akut, selain
tumor. Mula-mula hanya beberapa KGB yang diserang, lalu makin banyak
dan sebagian berkonfluensi. Selain limfadenitis juga terdapat periadenitis
yang menyebabkan perlekatan KGB tersebut dengan jaringan sekitar.

Kemudian terbentuk Abses ini disebut abses dingin artinya abses


tersebut tidak panas maupun nyeri tekan, melainkan berfluktuasi
(bergerak bila ditekan, menandakan bahwa isinya cair)terjadi perkejuan
dan perlunakanfistel ulkus( bentuk memanjang dan tidak teratur,
disekitarnya berwarna merah kebiru-biruan (livid), dinding bergaung;
jaringan granulasinya tertutup oleh pus seropurulen

jika mengering menjadi krusta berwarna kuning. Ulkus-ulkus tersebut


dapat sembuh spontan membentuk sikatriks yang memanjang dan tidak
teratur dan diatasnya kadang-kadang terdapat jembatan kulit (skin
bridge). Basil tahan asam banyak dijumpai pada lesi/jaringan. Tes
tuberkulin (+)

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
2.
Pemeriksaan
Laboratoriu
m Dasar
3.
Pemeriksaan
Histopatolog
i

7.
PEMERIKSAA
N LAIN

1. Tes
Tuberkul
in
6.
Polymerase
Chain
Reaction
(PCR)

4.
Pemeriksaan
Sitologi

5. Kultur
Jaringan

DIAGNOSA BANDING
Skrofuloderma didaerah leher biasanya memiliki
gambaran klinis yang khas.
Diagnosis banding Skrofuloderma didaerah leher :
Aktinomikosis biasanya menimbulkan
deformitas atau benjolan dengan beberapa
muara fistel produktif.
Limfadenitis Bakterial Non Tuberkulosis
Limfosarkoma
Limfoma maligna.

http://dermatology.cdlib.org/123/case_pr
esentations/lymphoma/2.jpg

Diagnosis banding Lesi daerah


axilla :
Hidradenitis supurativa, yaitu
infeksi bakteri piokokus pada
kelenjar apokrin.
- bersifat akut disertai tandatanda radang akut yang jelas,
dengan gejala konstitusi dan
leukositosis.
- biasanya menimbulkan sikatriks
sehingga terjadi tarikan tarikan
yang mengakibatkan retraksi
ketiak.

Diagnosis

banding Lesi di daerah lipat paha :


Limfogranuloma Venereum (LGV)
LGV terdapat :
riwayat coitus suspectus
gejala konstitusi (demam, malaise dan artralgia)
kelima tanda radang akut.
Stadium lanjut dari LGV dijumpai bubo yang bertingkat yang
berarti terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal
medial dan fossa iliaka.
Pada skrofuloderma kelenjar limfe yang terlibat adalah
kelenjar getah bening inguinal lateral dan femoral.
Pada LGV tes frei positif, pada skrofuloderma tes tuberculin
positif.
http://childrenhivaids.wordpress.com/2009/08/09/limfogranuloma-venerium-penyakit-menular-seksual/15

Lesi
Skrofuloderma
yang supuratif
juga harus
dibedakan
dengan
supurative
lymphadenitis
dengan adanya
sinus track
misalnya
Blastomycosis
dan
Coccidiomycosi
s.

M. aviumintracellulare
lymphadenitis
dan M.
scrofulaceum
lymphadenitis
dapat
dibedakan
dengan
limfadenitis
skrofuloderma
melalui kultur
bakteri.

http://images.picturesdepot.com/photo/b/blastomycosis12692.jpg16

PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan skrofuloderma sama seperti
pengoobatan TB paru yaitu harus secara teratur, menggunakan
kombinasi dengan minimal 3 (tiga) macam obat anti-TB dan
perbaikan keadaan umum.

Obat-obat anti-TB yang antara lain:


I. Isoniazid
Merupakan anti-TB yang bersifat tuberkulostatik dan
tuberkulosidal.
Dosis : 5- 10 mg/kg BB/ hari, dosis maksimal 400 mg.
Efek samping : demam, erupsi kulit, neuritis perifer,
hepatotoksik dan komplikasi hematologi ( agranulositosis,
eosinofilia, anemia dan trombositopenia).

II. Rifampisin
Obat anti-TB yang paling efektif
namun cepat mengalami resistensi.
Dosis : 10 mg/ kg BB, dosis
maksimal 600 mg/hari.
Efek samping : ekskresi saliva dan
urin akan berwarna jingga sampai
kemerahan, gangguan hepar
(hepatotoksik).

III. Pyrazinamid
Dosis : 20-35 mg/kg BB, dosis maksimal 2 gram/ hari
Efek samping : gangguan hepar (hepatotoksik)
IV. Ethambutol
Merupakan anti-TB yang bersifat bakteriostatik dan paling sering
dikombinasi dengan rifampisin dan isoniazid.
Dosis : 15-25 mg/kg BB
Efek samping : gangguan nervus II.
Sebaiknya tidak diberikan pada penderita berusia dibawah 13
tahun.
V. Streptomycin
Antibiotik yang bersifat bakterisidal.
Dosis : 25 mg / kg BB, intramuskular. Dikombinasi dengan 2
(dua) obat anti-TB lainnya.
Tidak dapat digunakan dalam jangka panjang oleh karena efek
sampingnya yaitu : gangguan vestibular dan gangguan
pendengaran, disfingsi nervus optikus, dermatitis eksfoliatif dan
diskrasia darah.

Saat ini telah ditetapkan regimen pengobatan tuberkulosis


kutis oleh The American Thoracic Society dan Center for
Disease Control and Prevention.

Bertujuan untuk
membunuh
dengan cepat
populasi
mikobakteria yang
sangat besar,
terdiri dari
isoniazid,
rifampisin,
pyrazinamid, dan
ethambutol atau
streptomycin
(diberikan setiap
hari dalam jangka
waktu 8 minggu).

Fase Lanjutan

Fase Inisial dan Fase


Intensif

Regimen ini terdiri dari fase inisial, fase intensif dan fase
lanjutan.

Bertujuan untuk
membunuh sisasisa mikobakteria
yang mungkin
dorman dalam
tubuh, dengan
obat rifampisin
dan isoniazid baik
setiap hari, tiga
kali seminggu
atau dua kali
seminggu selama
16 minggu.

SCROFULODERMA
PADA PENDERITA HIV/AIDS

Skrofuloderma merupakan manifestasi klinis dari infeksi


oportunistik yang disebabkan M. tuberculosis pada
penderita HIV/AIDS.

Pada penderita AIDS terdapat kemungkinan infeksi


tuberkulosa kutis yang disebabkan oleh MOTT
(Mycobacterium Other Than Tuberculosis).

MOTT kurang memberikan respon terapi terhadap


antituberkulosis namun sensitif terhadap agen
kemoterapi,

Nodul, sehingga kemungkinan adanya MOTT sebagai


penyebab dapat disingkirkan. Dan setelah diberikan ARV
kondisi penderita semakin membaik secara
klineritematous subkutan dan ulkus mulai menunjukan
fase perbaikan dengan terapi OAT

PROGNOSA

Prognosa

skrofuloderma secara
umum adalah baik.
Lesi skrofuloderma dapat sembuh
secara spontan, namun memakan
waktu yang sangat lama, sebelum
lesi inflamasi dan ulserasi secara
lengkap dapat digantikan dengan
jaringan parut.
Lupus vulgaris dapat muncul pada
bekas lesi skrofuloderma.