Anda di halaman 1dari 50

KELOMPOK II MODUL LBM 4 KEPERAWATAN PERIOPERATIF

Ketua

: Ermila Susanti

Sekretaris

: Helwatin Najwa
: Hj. Munawarah

Anggota

: Arief Dwi Saputro


Fitria Raudatul Jannah
M. Rifqi
Orien Ratna Sari
Suhaimi

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH (LBM 4)
Tn.K usia 45 tahun dating ke RS dengan keluhan sulit BAK semenjak 3 hari
yang lalu dan pancaran urin menurun. Pada pemeriksaan awal tampak distensi
kandung kemih. Pasien didiagnosa mengalami striktur uretra dan telah
dilakukan pembedahan siststomi suprapubis dengan spinal anastesi. Pasien
sekarang berada di recovery room dengan status kesadaran compos mentis, TD
: 110/70 mmHg, N : 78x/m, dan T : 38,5C. Terpasang ketorolac 2mg in RL tpm.
15 menit kemudian pasien sudah berada diruang perawatan dan pasien
mengeluh lapar dan meminta perawat untuk memberikan makanan.
B. TUGAS MAHASISWA
Membuat sebnanyak mungkin pertanyaan yang timbul setelah menganalisi LBM
tersebut diatas.
C. CARA BELAJAR
1. Menerapkan metode SEVEN JUMP.
2. Diskusi kelompok tanpa tutor untuk mengidentifikasi pertanyaan teori,
sumber belajar, dan pertanyaan praktik.
3. Diskusi kelompok dengan tutor untuk mengkonfirmasikan sumber
sumber belajar dan alternative jawaban.
4. Konsultasi untuk memperdalam pemahaman.
5. Lecture dan atau hand-out.

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

BAB 2
METODE SEVEN JUMP
A. JUMP 1 : IDENTIFIKASI MASALAH
1. Distensi kandung kemih : pembesaran atau penggelembungan pada bagian
kandung kemih (vesika urinaria/bladder)
2. Striktur uretra :
Striktur Uretra adalah berkurangnya diameter dan atau elastisitas uretra
akibat digantinya jaringan uretra dengan jaringan ikat yang kemudian

mengerut sehingga lumen uretra mengecil (Mansjoer, Arif. 2000).


Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan

parut dan kontraksi (C. Smeltzer, Suzanne. 2002).


Striktur uretra adalah penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra
sebagai akibat dari pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut pada

uretra dan atau pada daerah peri uretra). (Nursalam. 2008).


Striktur uretra adalah suatu kondisi penyempitan lumen uretra. Striktur
uretra menyebabkan gangguan dalam berkemih, mulai dari aliran
berkemih yang kecil sampai tidak dapat mengeluarkan urin keluar dari

tubuh. (Muttaqin, Arif. 2012)


Dari beberapa pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa striktur
uretra adalah suatu kondisi penyempitan atau penyumbatan lumen
uretra akibat dari adanya pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut)
sehingga dapat menyebabkan gangguan dalam berkemih. (Rahmadani,

Siti. 2013).
3. Sistostomi suprapubis :
Suatu tindakan pembedahan untuk mengalirkan kencing melalui lubang
yang dibuat supra pubik untuk mengatasi retensi urin dan menghindari
komplikasi.
3

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

4. Spinal anastesi :
Anestesi spinal adalah teknik anestesi lokal di mana obat ditempatkan ke
dalam kanal tulang belakang menggunakan jarum yang sangat kecil.
Pasien menjadi benar-benar mati rasa dan tidak bisa bergerak dari sekitar
bagian bawah tulang rusuk menurun sampai ke jari kaki. Pasien tetap
terjaga untuk prosedur ini tetapi mereka seringkali juga menerima sedasi
melalui tulang belakang.
5. Recovery room :
Recovery Room (RR) adalah suatu ruang Pemulihan

pasien pasca

operasi, yang terletak di dekat kamar bedah, dekat dengan perawat bedah,
ahli anesthesia dan ahli bedah sendiri, sehingga apabila timbul keadaan
gawat pasca-bedah, klien dapat segera diberi pertolongan.
Setelah selesai tindakan pembedahan, paseien harus dirawat sementara di
ruang pulih sadar (recovery room : RR) sampai kondisi pasien stabil, tidak
mengalami komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke
ruang perawatan (bangsal perawatan).
PACU atau RR biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. Hal ini
disebabkan untuk mempermudah akses bagi pasien untuk mendapat
perawatan.
6. Ketorolac :
Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik non-narkotik. Obat ini
merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan aktivitas
antipiretik

yang

lemah

dan

anti-inflamasi.

Ketorolac

tromethamine

menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai analgesik


yang bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap reseptor opiat.
Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap
nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah. Durasi total
Ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari. Ketorolac secara parenteral
dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Harus diganti ke analgesik
4

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi Ketorolac tidak melebihi 5 hari.


Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai obat prabedah obstetri
atau untuk analgesia obstetri karena belum diadakan penelitian yang
adekuat mengenai hal ini dan karena diketahui mempunyai efek
menghambat biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi
fetus.
7. Compos Mentis (conscious) :
Kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan
tentang keadaan sekelilingnya..
B. JUMP 2 : ANALISA DATA
Tn.K usia 45 tahun dating kerumah sakit mengeluh sulit BAK
Pancaran urin Tn.K menurun, tampak distensi kandung kemih
Tn.K telah dilakukan pembedahan Sistostomi suprapubis dengan spinal

anastesi
Tn.K berada diruangan RR dengan status kesadaran compos mentis TD:

110/70, nadi : 78x/m, R : 18x/m, T: 35,8C


Terpasang ketorolac 2mg infuse RL 20tpm
Tn.K mengeluh lapar dan meminta makan kepada perawat
Diagnosa Medis : STRIKTUR URETRA

C. JUMP 3 : ANALISIS MASALAH


1. Apakah ada sumbatan disaluran kemih klien?
Jawaban :
Pada striktur uretra terjadi penyempitan dari lumen uretra akibat terbentuknya
jaringan fibrotic pada dinding uretra. Striktur uretra menyebabkan gangguan
dalam berkemih, mulai dari aliran berkemih yang mengecil sampai sama
sekali tidak dapat mengalirkan urin keluar dari tubuh.Jadi bukan ada nya
sumbatan tpi karena ada nya penyempitan dari lumen uretra.
2. Kenapa klien mengalami hipotermi ?
Jawaban :

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Karena suhu di ruang operasi yang sangat dingin mengakibatkan klien


mengalami penurunan suhu badan, didalam kasus yang sedang di bahas
klien melakukan operasi yang mengakibatkan klien berada lama di ruang
operasi.
3. Apakah perawat boleh memberikan makanan pasca operasi ?
Jawaban :
Perawat boleh memberikan makan pada tn.m karena operasi yang dilakukan
adalah operasi dengan pemberian anestesi local, anestesi local adalah
anestesi yang diberikan melalui spinal / lumbal 1-5 yang memberikan efek
fungsi organ dari pinggul sampai ekstremitas bawah,sehingga tidak
mengganggu sistem pencernaan
4. Bagaimana dampak yang akan terjadi pada kasus?
Jawaban :
Pada klien urethra akan timbul beberapa masalah, dengan gejala yang telah
di uraikan pada sub bab patopisiologi. Masalah ini dapat berdampak pada
pola fungsi kesehatan klien. Di mana klien sebagai mahluk bio, psiko, sosial,
spiritual. Dampak masalah yang muncul dapat di bagi menjadi 2 yaitu
dampak masalah pre operasi dan post operasi.
5. Apakah pada kasus ini perlu pemasangan cateter urine ?
jawab :
Indikasi tindakan kateterisasi untuk tujuan diagnosis, yaitu :
a. Pemeriksaan kultur urin.
b. Mengukur residu urin pada pembesaran prostat
c. Memasukkan bahan kontras pemeriksaan seperti pada sistogram
d. Mengukur tekanan tekanan buli-buli seperti pada sindrom kompartemen
abdomen
e. Untuk mengukur produksi urin yang merupakan cerminan keadaan
f.

perfusi ginjal pada penderita shock


Mengetahui perbaikan atau perburukan pada trauma ginjal dari urin yang
bertambah merah atau jernih yang keluar dari kateter

Tindakan kateterisasi untuk tujuan terapi, antara lain :


a. Mengeluarkan urin pada retensio urinae
6

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

b. Membilas / irigasi buli-buli setelah operasi batu buli-buli, tumor buli atau
prostat
c. Sebagai splint setelah operasi uretra seperti pada hipospadia
d. Untuk memasukkan obat ke buli-buli, misalnya pada carcinoma buli-buli
Pada kasus striktur uretra didapatkan penyempitan lumen uretra akibat
jaringan parut. Striktur uretra merujuk pada penyakit uretra anterior, atau
proses yang melibatkan jaringan parut pada jaringan korpus spongiosum
(spongiofibrosis). Striktur diawali dengan trauma pada lumen uretra yang
diikuti proses penyembuhan dan kontaksi bekas luka tersebut mengurangi
ukuran lumen uretra. Sehingga pemasangan cateter urine akan dilihat
tergantung dari seberapa besar terjadinya penyempitan pada uretra, jika
penyempitan uretra terlalu banyak, maka tindakan pemasangan kateterisasi
urine tidak dapat dilakukan, karena jika dipaksakan akan menyebabkan
terjadinya komplikasi yaitu ruptur uretra.
Pada kasus ini klien telah dilakukan operasi sistostomi dimana operasi ini
dilakukan agar memudahkan klien mengeluarkan urine melewati selang yang
disambungkan pada bladder, sehingga operasi ini bersifat sementara, dan
selanjutnya bisa akan dilakukan operasi kembali.
Pada beberapa kasus pemasangan cateter urine juga menjadi penyebab
terjadinya striktur uretra. Pemasangan kateter haruslah dilakukan dengan
langkah-langkah yang benar. Pemasangan kateter uretra adalah tindakan
pertama kali yang dilakukan pada pasien dengan retensi urin akut. Faktorfaktor yang menghubungkan pemasangan kateter uretra dengan striktur
uretra adalah proses inflamasi dan infeksi. Patogenesis terperinci mengenai
infeksi menyebabkan striktur uretra belum jelas. Namun kebaradaan infeksi
pada lumen uretra tentu akan berlanjut pada proses penyembuhan, yaitu
inflamasi.

Jaringan

fibrosa

yang

dihasilkan

pada

proses

inflamasi

bertanggung jawab terhadap terjadinya striktur uretra.


6. Kenapa pancaran urine klien menurun?
Jawaban :
7

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Karena ada nya penyempitan dari lumen uretra akibat terbentuknya jaringan
fibrotic pada dinding uretra.Itu yg menyebabkan pancaran urine kx menurun
7. Bagaimana prognosis pasien post operasi sistostomi suprapubis ?
Jawab :
Prognosis pasien pasca bedah sistostomi suprapubis umumnya yang terjadi
ialah perdarahan dan resiko infeksi luka operasi. Karena itu peran kita
sebagai tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya
keadaan yang buruk pasca operasi.

8. Bagaimana gambaran operasi sistostomi pada kasus tersebut ?


Jawab :
a. Definisi : Suatu tindakan pembedahan untuk mengalirkan kencing
melalui lubang yang dibuat supra pubik untuk mengatasi retensi urin
dan menghindari komplikasi.
b. Ruang lingkup
Semua penderita yang datang dengan keluhan berupa tidak bisa
kencing, keluar darah lewat uretra, ekstravasasi urin sekitar uretra,

hematom pada perineum atau prostat melayang.


Trauma uretra adalah trauma yang mengenai uretra berupa trauma
tajam, trauma tumpul atau akibat instrumentasi uretra seperti

pemasangan kateter dan sistoskopi.


Dalam kaitan penegakan diagnosis dan pengobatan, diperlukan
beberapa disiplin ilmu yang terkait antara lain Patologi Klinik dan

Radiologi.
c. Indikasi operasi sistostomi trokar
retensio urin dimana:
kateterisasi gagal: striktura uretra, batu uretra yang menancap

(impacted)
kateterisasi tidak dibenarkan: ruptur uretra

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

d. Syarat pada sistostomi trokar:


buli-buli jelas penuh dan secara palpasi teraba
tidak ada sikatrik bekas operasi didaerah abdomen bawah
tidak dicurigai adanya perivesikal hematom, seperti pada fraktur
e.

pelvis
Indikasi operasi sistostomi terbuka, retensio urin dimana :
kateterisasi gagal : striktura uretra, batu uretra yang menancap

(impacted)
kateterisasi tidak dibenarkan: ruptur uretra
bila sistostomi trokar gagal
bila akan dilakukan tindakan tambahan sepertimengambil batu
dalam buli-buli, evakuasi gumpalan darah, memasang drain di

f.

kavum Retzii dan sebagainya.


Pemeriksaan Penunjang
Darah lengkap, tes faal ginjal, sedimen urin, foto polos abdomen/pelvis,

uretrografi.
g. Tehnik Operasi
Secara singkat tehnik dari sistostomi trokar dapat dijelaskan sebagai
berikut :

Posisi terlentang

Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.

Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.

Dengan pembiusan lokal secara infiltrasi dengan larutan xylocain di


daerah yang akan di insisi.

Insisi kulit di garis tengah mulai 2 jari diatas simfisis ke arah


umbilikus sepanjang lebih kurang 1 cm. Insisi diperdalam lapis
demi lapis sampai linea alba.

Trokar set, dimana kanula dalam keadaan terkunci pada Sheath


ditusukkan melalui insisi tadi ke arah buli-buli dengan posisi
telentang miring ke bawah. Sebagai pedoman arah trokar adalah
tegak miring ke arah kaudal sebesar 15-30%.

Telah masuknya trokar ke dalam buli-buli ditandai dengan:


-

Hilangnya hambatan pada trokar


Keluarnya urin melalui lubang pada canulla

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Trokar terus dimasukkan sedikit lagi.

Secepatnya canulla dilepaskan dari Sheathnya dan secepatnya


pula kateter Foley, maksimal Ch 20, dimasukkan dalam buli-buli
melalui kanal dari sheath yang masih terpasang.

Segera hubungkan pangkal kateter dengan kantong urin dan balon


kateter dikembangkan dengan air sebanyak kurang lebih 10 cc.

Lepas sheath dan kateter ditarik keluar sampai balon menempel


pada dinding buli-buli.

Insisi ditutup dengan kasa steril, kateter difiksasi ke kulit dengan


plester.

Secara singkat tehnik dari sistostomi terbuka dapat dijelaskan sebagai


berikut :

Posisi terlentang
Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
Dengan pembiusan lokal secara infiltrasi dengan larutan xylocain di

daerah yang akan di insisi.


Insisi kulit di garis tengah mulai 2 jari diatas simfisis ke arah
umbilikus sepanjang lebih kurang 10 cm. Disamping itu dikenal
beberapa macam irisan yaitu transversal menurut Cherney. Insisi
diperdalam lapis demi lapis sampai fasia anterior muskulus rektus
abdominis. Muskulus rektus abdominis dipisahkan secara tumpul

pada linea alba.


Sisihkan lipatan peritoneum diatas buli-buli keatas, selanjutnya

pasang retraktor.
Buat jahitan penyangga di sisi kanan dan kiri dinding buli.
Lakukan tes aspirasi buli dengan spuit 5 cc, bila yang keluar urin,

buat irisan di tempat titik aspirasi tadi lalu perlebar dengan klem.
Setelah dilakukan eksplorasi dari buli, masukkan kateter Foley Ch

20-24.
Luka buli-buli ditutup kembali dengan jahitan benang chromic
catgut.

10

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Bila diperlukan diversi suprapubik untuk jangka lama maka dinding


buli digantungkan di dinding perut dengan jalan menjahit dinding

buli-buli pada otot rektus kanan dan kiri.


Jahit luka operasi lapis demi lapis.
Untuk mencegah terlepasnya kateter maka selain balon kateter
dikembangkan juga dilakukan penjahitan fiksasi kateter dengan

kulit.
h. Perawatan Pascabedah
Pelepasan benang jahitan keseluruhan 10 hari pasca operasi.
Pelepasan kateter sesuai indikasi.

9. Peran perawat pasca operatif ?


Jawab :
a. Menentukan respon langsung pasien terhadap intervensi pembedahan.
a. Mengevaluasi efektivitas dari asuhan keperawatan di ruangan operasi
b. Menentukan tingkat kepuasan pasien dengan asuhan yang diberikan
selama periode peri operatif
c. Mengevaluasi produk-produk yang digunakan pada pasien di ruang
operasi
d. Menentukan status psikologis pasien
e. Membantu dalam perencanaan pemulangan
10. Apakah striktur uretra bisa terjadi infeksi ?
Jawaban :
Iya bisa, karena merupakan faktor yang paling sering menimbulkan striktur
uretra, seperti infeksi oleh kuman gonokokus yang menyebabkan uretritis
gonorrhoika atau non gonorrhoika telah menginfeksi uretra beberapa tahun
sebelumnya namun sekarang sudah jarang akibat pemakaian antibiotik,
kebanyakan striktur ini terletak di pars membranasea, walaupun juga
terdapat pada tempat lain; infeksi chlamidia sekarang merupakan penyebab
utama tapi dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan individu yang
terinfeksi atau menggunakan kondom..

11. Apa peran perawat di dalam recovery room (RR) ?


Jawab :
11

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Recovery Room (RR) adalah suatu ruangan yang terletak di dekat kamar
bedah, dekat dengan perawat bedah, ahli anesthesia dan ahli bedah sendiri,
sehingga apabila timbul keadaan gawat pasca-bedah, klien dapat segera
diberi pertolongan. Selama belum sadar betul, klien dibiarkan tetap tinggal di
RR. Setelah operasi, klien diberikan perawatan yang sebaik-baiknya dan
dirawat

oleh

perawat

yang

berkompeten

di

bidangnya

(ahli

dan

berpengalaman). Bila pengaruh obat bius sudah tidak berbahaya lagi,


tekanan darah stabil-bagus, perafasan lancar-adekuat dan kesadaran sudah
mencukupi (lihat Aldered Score), barulah klien dipindahkan ke kamarnya
semula (bangsal perawatan).
Tugas perawat di RR
1) Selama 2 jam pertama, periksalah nadi dan pernafasan setiap 15
menit, lalu setiap 30 menit selama 2 jam berikutnya. Setelah itu bila
keadaan tetap baik, pemeriksaan dapat diperlambat. Bila tidak ada
petunjuk khusus, lakukan setiap 30 menit. Laporkan pula bila ada tandatanda syok, perdarahan dan menggigil.
2) Infus, kateter dan drain yang terpasang perlu juga diperhatikan
3) Jagalah agar saluran pernafasan tetap lancar. Klien yang muntah
dimiringkan kepalanya, kemudian bersihkan hidung dan mulutnya dari
sisa muntahan. Bila perlu, suction sisa muntahan dari tenggorokan.
4) Klien yang belum sadar jangan diberi bantal agar tidakmenyumbat
saluran pernafasan. Bila perlu, pasang bantal di bawah punggung,
sehingga kepala berada dalam sikap mendongak. Pada klien dengan
laparatomi, tekuk sedikit lututnya agar perut menjadi lemas dan tidak
merenggangkan jahitan luka.
5) Usahakan agar klien bersikap tenang dan rileks.
6) Tidak perlu segan untuk melaporkan semua gejala yang perawat
anggap perlu untuk mendapatkan perhatian, termasuk gejala yang
tampaknya tidak berbahaya.
KRITERIA PEMULIHAN PASCA OPERASI
(Aldered Score)
POIN
12

SAAT

SETELAH

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

AREA PENGKAJIAN
Pernafasan :
1) Kemampuan untuk bernafas
dengan dalam dan batuk
2) Upaya bernafas terbatas
(dyspnea atau membebat)
3) Tidak ada upaya spontan
Sirkulasi : Tekanan Arteri Sistolik
1) >80% dari tingkat praanesthetik
2) 50% 80% dari tingkat praanesthetik
3) <50% dari tingkat pra

NILAI

PENERIMAAN

1 jam 2 jam 3 jam

2
1
0

2
1

anesthetic
Tingkat kesadaran :
1) Respon secara verbal

terhadap
pertanyaan/terorientasi
terhadap tempat
2) Terbangun ketika dipanggil
namanya
3) Tidak memberikan respon

terhadap perintah
Warna :
1) Warna dan penampilan kulit

normal
2) Warna kulit berubah : pucat,

agak kehitaman, keputihan,


ikterik
3) Sianosis jelas
Aktivitas otot :

Bergerak secara spontan atau atas


perintah :
1) Kemampuan untuk
menggerakkan semua
13

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

ekstremitas
2) Kemampuan untuk
menggerakkan 2 ekstremitas
3) Tidak mampu untuk
mengontrol setiap ekstremitas
Waktu keluar :

1
0
Tanda tangan perawat :

Jumlah point :

12. Bagaimana PENGKAJIAN POST OPERATIF SEGERA?


a. Diagnosis medis dan jenis pembedahan yang dilakukan
b. Kondisi umum pasien, kepatenan jalan nafas, tanda-tanda vital
c. Anesthetik dan medikasi lain yang digunakan (mis : narkotik, relaksan
otot, antibiotik)
d. Segala masalah yang terjadi selama fase pembedahan yang sekiranya
dapat mempengaruhi perawatan pasca-operatif (Ex : hemorrhagi, syok,
dan henti jantung)
e. Patologi yang dihadapi (pemberitahuan kepada keluarga apabila
ditemukan adanya keganasan)
f. Cairan yang diberikan, kehilangan darah dan penggantian cairan
g. Segala selang, drain, kateter atau alat bantu pendukung lainnya
h. Informasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau ahli anesthesia yang
i.

akan diberitahu
Evaluasi saturasi oksigen dengan oksimetri, pengkajian nadi-volume-

keteraturan
j. Evaluasi pernafasan : kedalaman, frakuensi, sifat pernafasan
k. Kaji status kesadaran, warna kulit dan kemampuan berespon terhadap
perintah.
13. Apa komplikasi yang bisa terjadi setelah operasi ?
Jawaban :
Perdarahan
Infeksi post-operasi
Haluaran urine yang tidak terkontrol
Dehisensi (terbukanya luka kembali)
14. Apa komplikasi pemberian spinal anastesi ?
Jawaban :
Komplikasi Anastesi Spinal
14

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Komplikasi anastesi spinal dibagi menjadi komplikasi tindakan (komplikasi


dini) dan komplikasi pasca tindakan (komplikasi delayed).
Komplikasi tindakan :

Hipotensi berat: Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. Pada


dewasa dicegah dengan memberikan infus cairan elektrolit 1000ml

atau koloid 500ml sebelum tindakan.


Bradikardia : Dapat terjadi tanpa

hipoksia,terjadi akibat blok sampai T-2


Hipoventilasi : Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat

kendali nafas
Trauma pembuluh saraf
Trauma saraf
Mual-muntah
Gangguan pendengaran
Blok spinal tinggi atau spinal total

disertai

hipotensi

atau

Komplikasi pasca tindakan:

Nyeri tempat suntikan


Nyeri punggung
Nyeri kepala karena kebocoran likuor
Retensio urine
Meningitis

15. Apa tujuan dari pembedahan sistostomi ?


Jawaban :
Mengalirkan kencing melalui lubang yang dibuat supra pubik untuk
mengatasi retensi urin dan menghindari komplikasi.
16. Sebutkan jenis pembedahan sistostomi dan perbedaannya ?
Jawaban :
Sistostomi ada 2 yaitu :
Sistostomi trokar
Indikasi operasi sistostomi trokar
Retensio urin dimana:
- Kateterisasi gagal: striktura uretra, batu uretra yang menancap
(impacted)
- Kateterisasi tidak dibenarkan: ruptur uretra
Syarat pada sistostomi trokar:
15

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Buli-buli jelas penuh dan secara palpasi teraba


Tidak ada sikatrik bekas operasi didaerah abdomen bawah
Tidak dicurigai adanya perivesikal hematom, seperti pada fraktur

pelvis
Sistostomi Terbuka
Indikasi operasi sistostomi terbuka
retensio urin dimana:
- Kateterisasi gagal: striktura uretra, batu uretra yang menancap
-

(impacted)
Kateterisasi tidak dibenarkan: ruptur uretra
Bila sistostomi trokar gagal
Bila akan dilakukan tindakan tambahan seperti mengambil batu dalam
buli-buli, evakuasi gumpalan darah, memasang drain di kavum retzii
dan sebagainya.

17. Penkes apa yang diberikan pasca operasi pada klien ?


Jawaban :
Selalu menjaga kebersihan organ intim sehingga terhindar dari infeksi
Konsultasikan perawatan yang akan dilakukan selama dirumah
Hindari munuman beralkohol dan obat-obatan tanpa resep dokter yang

dapat memperparah penyakit


Konsumsi selalu air mineral

18. Apa persiapan anestesi spinal?


Jawaban :
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan pada
anastesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti apakah akan
menimbulkan kesulitan, misalnya ada kelainan anatomis tulang punggung
atau pasien gemuk sekali sehingga tak teraba tonjolan prosesus spinosus.
Selain itu perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini:
Informed consent : tidak boleh memaksa pasien untuk menyetujui
anesthesia spinal
Pemeriksaan fisik : tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang
punggung
Pemeriksaan laboratorium anjuran : Hb, ht,pt,ptt
Peralatan analgesia spinal :Peralatan monitor: tekanan darah, pulse
oximetri, ekg Peralatan resusitasi Jarum spinal

16

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Jarum spinal dengan ujung tajam (ujung bamboo runcing, quinckebacock)


atau jarum spinal dengan ujung pensil (pencil point whitecare).
19. Bagaimana teknik anestesi spinal?
Jawaban :
Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis
tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya dikerjakan di atas
meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan
posisi pasien. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan
menyebabkan

menyebarnya

obat.Setelah

dimonitor,

tidurkan

pasien

misalkan dalam posisi lateral dekubitus. Beri bantal kepala, selain enak untuk
pasien juga supaya tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk
maximal agar processus spinosus mudah teraba. Posisi lain adalah
duduk.Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista
iliaka, misal L2-L3, L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya
berisiko trauma terhadap medulla spinalis.Sterilkan tempat tusukan dengan
betadine atau alkohol.Beri anastesi lokal pada tempat tusukan (Bupivacain
20 mg)Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar
22G, 23G, 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27G
atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu jarum suntik biasa
semprit 10cc. Tusukkan introduser sedalam kira-kira 2cm agak sedikit kearah
sefal, kemudian masukkan jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum
tersebut. Jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babcock) irisan jarum
(bevel) harus sejajar dengan serat duramater, yaitu pada posisi tidur miring
bevel mengarah keatas atau kebawah, untuk menghindari kebocoran likuor
yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Setelah resensi
menghilang, mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit
berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5ml/detik) diselingi
aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Kalau anda
yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan likuor tidak keluar, putar
arah jarum 90 biasanya likuor keluar. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat
17

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

dimasukan kateter.Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal


misalnya bedah hemoroid dengan anestetik hiperbarik. Jarak kulitligamentum flavum dewasa 6cm. Posisi:Posisi DudukPasien duduk di atas
meja operasiDagu di dadaTangan istirahat di lutut
Posisi Lateral:Bahu sejajar dengan meja operasi Posisikan pinggul di pinggir
meja operasiMemeluk bantal/knee chest position
Tinggi blok analgesia spinal :
Faktor yang mempengaruhi:Volume obat analgetik lokal: makin besar makin
tinggi daerah analgesiaKonsentrasi obat: makin pekat makin tinggi batas
daerah analgesiaBarbotase: penyuntikan dan aspirasi berulang-ulang
meninggikan batas daerah analgetik.Kecepatan: penyuntikan yang cepat
menghasilkan batas analgesia yang tinggi. Kecepatan penyuntikan yang
dianjurkan: 3 detik untuk 1 ml larutan.Maneuver valsava: mengejan
meninggikan tekanan liquor serebrospinal dengan akibat batas analgesia
bertambah tinggi.Tempat pungsi: pengaruhnya besar pada L4-5 obat
hiperbarik cenderung berkumpul ke kaudal(saddle blok) pungsi L2-3 atau L34 obat cenderung menyebar ke cranial.Berat jenis larutan: hiper,iso atau hipo
barikTekanan abdominal yang meningkat: dengan dosis yang sama didapat
batas analgesia yang lebih tinggi.Tinggi pasien: makin tinggi makin panjang
kolumna

vertebralis

makin

besar

dosis

yang

diperlukan.(BB

tidak

berpengaruh terhadap dosis obat)Waktu: setelah 15 menit dari saat


penyuntikan,umumnya larutan analgetik sudah menetap sehingga batas
analgesia tidak dapat lagi diubah dengan posisi pasien.
20. Apa indikasi dan kontra indikasi anestesi spinal?
Jawaban :
Indikasi :
Bedah ekstremitas bawah
Bedah panggul Tindakan sekitar rektum perineum
Bedah obstetrik-ginekologi
Bedah urologi
Bedah abdomen bawah
Pada bedah abdomen atas dan bawah

pediatrik

biasanya

dikombinasikan dengan anesthesia umum ringan.


18

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Kontra indikasi absolut: pasien menolak infeksi pada tempat suntikan


hipovolemia berat, syok koagulapatia atau mendapat terapi koagulan tekanan
intrakranial meningkat fasilitas resusitasi minim kurang pengalaman tanpa
didampingi konsulen anestesi.
Kontra indikasi relatif:

Infeksi sistemik infeksi sekitar tempat suntikan


Kelainan neurologis, kelainan psikis
Bedah lama penyakit jantung hipovolemia ringan
Nyeri punggung kronik

21. Apa bahaya anastesi general dan ragional ?


Jawaban :
Bahaya anastesi tersebur :
Cedera di lokasi penyuntikan
Infeksi
Gangguan pernapasan
Kerusakan saraf jangka pendek\
Reaksi alergi, misalnya serangan asma
Masih memiliki kesadaran atau rasa sakit selama operasi
Cedera pada mulut, gigi, bibir atau lidah
Kerusakan pita suara atau laring
Kerusakan paru-paru
Serangan jantung
Kerusakan otak
Stroke
Gagal ginjal
Gagal hati
Paraplegia (ekstremitas bawah mengalami kelumpuhan)
Quadriplegia (kelumpuhan pada 4 anggota tubuh).
22. Dampak masalah post operasi ?
Jawaban :
Pola eliminasi
Klien post operasi Sachse dapat mengalami perubahan eliminasi. Hal ini
terjadi bila terdapat bekuan darah yang menyumbat kateter, edema dan
prosedur pembedahan . Perdarahan dapat terjadi pada klien post operasi
Sachse karena fiksasi dari traksi yang kurang tepat. Infeksi karena

19

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

pemasangan kateter yang kurang tepat atau perawatan kateter kurang


atau tidak aseptik dapat juga terjadi.
Pada klien post Sachse dapat mengalami gangguan tidur karena klien
merasakan nyeri pada lika operasi atau spasme dari kandung kemih.
Karena gangguan ini maka lama/ waktu tidur klien berkurang.

Pola aktifitas.
Klien post Sachse aktifitasnya akan berkurang dari aktifitas biasa. Klien
cenderung mengurangi aktifitas karena nyeri yang dirasakan akibat dari
Sachse nya. Klien akan banyak memilih di tempat tidur dari pada
beraktifitas pada hari

pertama dan hari yang kedua post Sachse

Sedangkan kebutuhan klien dibantu.

Pola reproduksi dan seksual.


Klien post Sachse dapat mengalami disfungsi seksual. Hal ini di sebabkan
karena

situasi

krisis

inkontinensia,

kebocoran

urine

setelah

pengangkatan kateter ). Dengan terjadinya disfungsi seksual maka dapat


terjadi ancaman terhadap konsep diri karena perubahan status kesehatan.

Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat.


23. Perawatan setelah Op ?
Jawaban :
Perubahan penatalaksanaan dan pemeliharaan kesehatan dirumah dapat
menimbulkan masalah dalam perawatan diri selanjutnya. Sehingga klien
perlu informasi tentang perawatan selanjutnya khususnya saat dirumah
supaya tidak terjadi perdarahan atau tanda tanda infeksi. Perubahan pola
eliminasi urine sehubungan dengan obstruksi sekunder dari Sachse:
bekuan darah, edema.
Tujuan: Eliminasi urine normal dan tidak terjadi retensi urine.
Kriteria hasil:
-

Klien akan berkemih dalam jumlah normal tanpa retensi.


Klien akan menunjukan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung
kemih.

20

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Tidak terdapat bekuan darah sehingga urine lancar lewat kateter.


Rencana tindakan:
1. Kaji output urine dan karakteristiknya
a) Pertahankan irigasi kandung kemih yang konstan selama 24 jam
pertama
b) Pertahankan posisi dower kateter dan irigasi kateter.
c) Anjurkan intake cairan 2500-3000 ml sesuai toleransi.
d) Setalah kateter diangkat, pantau waktu, jumlah urine dan ukuran
aliran.

Perhatikan

keluhan

rasa

penuh

kandung

kemih,

ketidakmampuan berkemih, urgensi atau gejala gejala retensi.


Rasional:
1. Mencegah retensi pada saat dini.
2. Mencegah bekuan darah karena dapat menghambat aliran urine.
3. Mencegah bekuan darah menyumbat aliran urine.
4. Melancarkan aliran urine.
5. Mendeteksi dini gangguan miksi
24. Upaya apa saja untuk mempercepat penyembuhan luka ?
Jawaban :
a. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin C.
b. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
c. Pencegahan infeksi.
d. Pengembalian Fungsi fisik. Pengembalian fungsi fisik dilakukan
segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektif,
latihan mobilisasi dini.
25. Apa Indikasi ketorolac ?
Jawaban :
Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap
nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah. Durasi total
Ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari. Ketorolac secara parenteral
dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Harus diganti ke analgesik
alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi Ketorolac tidak melebihi 5 hari.
Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai obat prabedah obstetri
21

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

atau untuk analgesia obstetri karena belum diadakan penelitian yang


adekuat mengenai hal ini dan karena diketahui mempunyai efek
menghambat biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi
fetus.
26. Kontraindikasi ketorolac ?
Jawaban :

Pasien yang sebelumnya pernah mengalami alergi dengan obat ini,


karena ada kemungkinan sensitivitas silang.

Pasien yang menunjukkan manifestasi alergi serius akibat pemberian


Asetosal atau obat anti-inflamasi nonsteroid lain.

Pasien yang menderita ulkus peptikum aktif.

Penyakit serebrovaskular yang dicurigai maupun yang sudah pasti.

Diatesis hemoragik termasuk gangguan koagulasi.

Sindrom

polip

nasal

lengkap

atau

parsial,

angioedema

atau

bronkospasme.

Terapi bersamaan dengan ASA dan NSAID lain.

Hipovolemia akibat dehidrasi atau sebab lain.

Gangguan ginjal derajat sedang sampai berat (kreatinin serum >160


mmol/L).

Riwayat asma.

Pasien pasca operasi dengan risiko tinggi terjadi perdarahan atau


hemostasis inkomplit, pasien dengan antikoagulan termasuk Heparin
dosis rendah (2.5005.000 unit setiap 12 jam).

Terapi bersamaan dengan Ospentyfilline, Probenecid atau garam lithium.

Selama kehamilan, persalinan, melahirkan atau laktasi.

Anak < 16 tahun.

Pasien yang mempunyai riwayat sindrom Steven-Johnson atau ruam


vesikulobulosa.

22

Pemberian neuraksial (epidural atau intratekal).

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Pemberian profilaksis sebelum bedah mayor atau intra-operatif jika


hemostasis benar-benar dibutuhkan karena tingginya risiko perdarahan.

27. Efek samping pada keterolak ?


Jawaban :
Sistem Syaraf (23% dari pemberian IV) : Sakit kepala, pusing, cemas,
depresi, sulit berkonsentrasi, nervous, kejang , tremor bermimpi, halusinasi,
insomnia vertigo, psikosis;Gastro Intestin : (12-13% ) Mual, diare, konstipasi,
sakit lambung, perasaan kenyang, muntah, kembung, luka lambung, tidak
ada

nafsu

makan,

sampai

pendarahan

lambung

&

saluran

pembuangan;Kulit : (2-4% dari pemberian IV) Sakit di daerah tmp.


Penyuntikan

(IM),

kemerahan,

hematoma

gatal,

berkeringat,;Reaksi

sensitifitas : Syok anafilaksis Ginjal, elektrolit & efek genitourinari : Kerusakan


fungsi ginjal pada pemberian jangka panjang (2-3%);Efek pada hati :
Kenaikan konsentrasi SGOT & SGPT dalam serum Efek ke Jantung &
saluran

darah

(4%

dari

pemberian

IV)

hipertensi,

hipotensi,

pembengkakan.;Efek pada darah : meningkatkan risiko pendarahan,


trombositopenia,;Efek pada mata & telinga : Gangguan penglihatan &
pendengaran Sindrom Stevens-Johnson

28. Apa tujuan perawatan di PACU?


Mempertahankan jalan nafas
Dengan mengatur posisi, memasang

suction

dan

pemasangan

mayo/gudel.
Mempertahankan ventilasi/oksigenasi
Ventilasi dan oksigenasi dapat dipertahankan dengan pemberian bantuan
nafas melalui ventilator mekanik atau nasal kanul Balance cairan
Harus diperhatikan input dan output cairan klien.
Cairan harus balance untuk mencegah komplikasi lanjutan, seperti
dehidrasi akibat perdarahan atau justru kelebihan cairan yg justru menjadi

23

beban bagi jantung dan juga mungkin terkait dgn fungsi eleminasi pasien.
Mempertahankan kenyamanan dan mencegah resiko injury
Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra
Kelompok II PSIK VI B

Pasien post anastesi biasanya akan mengalami kecemasan, disorientasi

dan beresiko besar untuk jatuh jatuh.


Tempatkan pasien pada tempat tidur yang nyaman dan pasang side

railnya.
Nyeri biasanya

sangat

dirasakan

pasien,

diperlukan

intervensi

keperawatan yang tepat juga kolaborasi dengan medis terkait dgn agen
pemblok nyerinya.
29. Hal-hal apa yang harus diketahui oleh perawat anastesi di ruang PACU?
Jenis pembedahan
Jenis pembedahan yg berkaitan pada jenis perawatan post anastesi . Hal

ini sangat terkait dgn jenis posisi yg akan diberikan pada pasien.?
Jenis anastesi
Hal ini penting u/ pemberian posisi kepada pasien post operasi. Pada
pasien dgn anastesi spinal maka posisi kepala harus agak ditinggikan
u/mencegah depresi otot-otot pernafasan oleh obat-obatan anastesi,
sedangkan untuk pasien dgn anastesi umum, maka pasien diposisikan

supine dgn posisi kepala sejajar dgn tubuh.


Kondisi patologis klien
Sebelum operasi harus diperhatikan dgn baik u/ memberikan informasi

awal terkait dgn perawatan post anastesi.


Jumlah perdarahan intra operatif
Untuk mengetahui apa yg terjadi selama operasi (dgn melihat laporan
operasi) terutama jumlah perdarahan yg terjadi. Karena dgn mengetahui

jumlah perdarahan akan menentukan transfusi yg diberikan.


Pemberian tranfusi selama operasi
Apakah selama operasi pasien telah diberikan transfusi atau belum,
jumlahnya berapa dan sebagainya. Hal ini diperlukan u/ menentukan

apakah pasien masih layak u/ diberikan transfusi ulangan atau tidak.


Jumlah dan jenis terapi cairan selama operasi
Harus diperhatikan dan dihitung dibandingkan dgn keluarannya.
Keluaran urine yg terbatas < 30 ml/jam kemungkinan menunjukkan
gangguan pada fungsi ginjalnya.
Komplikasi selama pembedahan
Paling sering muncul adalah hipotensi, hipotermi dan hipertermi malignan.
Apakah ada faktor penyulit dan sebagainya.

24

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

30. Apa kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien
untuk dikeluarkan dari PACU?
Fungsi pulmonal yang tidak terganggu
Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat
Tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah
Orientasi Pasien terhadap tempat, waktu dan orang Haluaran urine tidak
kurang dari 30 ml/jam Mual dan muntah dalam kontrol
Nyeri minimal
31. Dalam merencanakan kepulangan pasien, apa yang harus kita lakukan?
Home care preparation
Memodifikasi lingkungan rumah sehingga tidak mengganggu kondisi
klien. Contoh : klien harus diatas kursi roda/pakai alat bantu jalan, buat
agar lantai rumah tidak licin. Kita harus juga

memastikan ada yang

merawat klien di rumah.


Client/family education
Berikan edukasi tentang kondisi klien. Cara merawat luka dan hal-hal
yang harus dilakukan atau dihindari kepada keluarga klien, terutama

orang yang merawat klien.


Psychososial preparation
Tujuan dari persiapan ini adalah untuk memastikan hubungan

interpersonal sosial dan aspek psikososial klien tetap terjaga.


Health care resources
Pastikan bahwa klien atau keluarga mengetahui adanya pusat layanan
kesehatan yang terdekat dari rumah klien, seperti rumah sakit,
puskesmas dan lain-lain. Jadi jika dalam keadaan darurat bisa segera
ada pertolongan.

32. Bagaimana dengan pengobatan alternatif, apa bisa disembuhkan tanpa


melalui operasi?
Jawaban :
Sampai sekarang belum ada masih pengobatan alternaif laen untuk
pengobatan striktur uretra.Striktur Uretra adalah kondisi medis yang
ditandai oleh penyempitan abnormal uretra, yakni saluran yang mengalirkan
urin dari kandung kemih keluar dari tubuh.
25

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Penyakit ini terjadi akibat berkurangnya diameter atau elastisitas saluran


kencing, dalam hal ini uretra, akibat terbentuknya jaringan parut (sikatriks)
yang menyumbat saluran kencing sehingga aliran kencing menjadi tidak
lancar.
Penyakit ini paling banyak disebabkan oleh infeksi terutama golongan
bakteri gonokokus. Infeksi bakteri gonokokus pada saluran kencing
biasanya ditandai oleh nyeri saat kencing, nyeri pada penis dan kadang
keluar nanah melalui lubang kencing yang ditandai oleh bercak kuning di
celana dalam
Striktur uretra sering menyertai trauma pada daerah panggul, misalnya
patah tulang panggul akibat kecelakaan atau tabrakan keras yang
mengenai daerah panggul atau selangkangan.
Gejala sumbatan pada uretra yang khas adalah pancaran kencing yang
kecil dan bercabang. Apabila derajat sumbatan sudah parah dapat terjadi
retensi urin (tidak bisa kencing). Akibat sumbatan dapat mengakibatkan
aliran kencing mencari jalan keluar lain dan terkumpul di rongga periuretra.
Hal ini misalnya dirasakan sebagai kantong buah pelir yang semakin
membesar.
Untuk mengukur kekuatan dan kecepatan pancaran urin biasanya dilakukan
dengan pemeriksaan uroflometri. Untuk mengetahui letak sumbatan
dilakukan dengan pemeriksaan foto rontgen uretrografi atau sistografi
bipolar.
Dalam pengobatan secara medis, terapi penyakit ini biasanya dilakukan
dengan operasi minimal invasive yaitu uretrotomi interna (sachse). Alat ini
berupa teropong berukuran kecil dan panjang yang dimasukkan melalui
saluran kencing.
33. Komplikasi apa yang terjadi pada pembedahan sistostomi?
Jawaban:
a. Perdarahan
b. Infeksi post-opersai
c. Haluaran urine yang tidak terkontrol
d. Dehisensi (terbukanya luka kembali)

26

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

27

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

D. JUMP 4 : KERANGKA KONSEP


DEFINISI :
ETIOLOGI :

MENIFESTASI KLINIS :
STRIKTUR URETRA

PENATALAKSANAAN

KEPERAWATAN

PENGOBATAN

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
PENCEGAHAN :

MEDIS :

KOMPLIKASI :
ASKEP,NIC,NOC
FARMAKOLOGI

OPERATIF

PATOFISIOLOGI
Pre Op

Intra Op

Post Op

Pre
operatif
Post
operatif

28

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Intra
operatif

E. JUMP 5 : TUJUAN MINIMAL


Secara umum tujuan yang diharapkan adalah mahasiswa mampu menjelaskan
asuhan keperawatan perioperatif. Sedangkan tujuan khusus yang diharapkan
mahasiswa mampu :
1. Mengindentifikasikan pengertian penyakit atau gangguan kesehatan bedah
keperawatan perioperatif Sistem Urologi.
2. Menjelaskan clinical pathway dari manifestasi klinis yang ada pada
keperawatan bedah perioperatif Sistem Urologi.
3. Mengidentifikasi proses timbulnya komplikasi yang dapat terjadi pada
keperawatan bedah perioperatif Sistem Urologi..
4. Menjelaskan berbagai pemeriksaan fisik dan penunjang yang diperlukan.
5. Menjelaskan pengakajian keperawatan yang spesifik dan diperlukan pada
6.
7.
8.
9.

klien.
Menyebutkan diagnosis keperawatan yang mungkin dialami klien.
Menjelaskan perencanaan keperawatan untuk mengatasi masalah klien.
Menjelaskan tindakan keperawatan yang harus dilakukan.
Menjelaskan terapi yang diberikan untuk mengatasi keperawatan bedah

perioperatif dan implikasi keperawatannya.


10. Merumuskan berbagai pendidikan kesehatan pada klien dalam kerangka
persiapan klien pulang.

29

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

F. JUMP 6 : PERTANYAAN TEORITIS


1. ANATOMI DAN FISIOLOGI URETRA
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine keluar dari buli-buli
melalui proses miksi. Pada pria organ ini

berfungsi juga dalam

menyalurkan cairan mani.


Uretra ini diperlengkapi dengan spingter uretra interna yang terletak pada
perbatasan buli-buli dan uretra, dinding terdiri atas otot polos yang disyarafi
oleh sistem otonomik dan spingter uretra eksterna yang terletak pada
perbatasan uretra anterior dan posterior, dinding terdiri atas otot bergaris
yang dapat diperintah sesuai dengan keingian seseorang. Panjang uretra
dewasa 23-25 cm.
Secara anatomis uetra terdiri dari dua bagian yaitu uretra posterior dan
uretra anterior. Kedua uretra ini dipisahkan oleh spingter uretra eksternal.
Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yaitu bagian
uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea.
Dibagian posterior lumen uretra prostatika terdapat suatu tonjolan
verumontanum, dan disebelah kranial dan kaudal dari verumontanum ini
terdapat krista uretralis. Bagian akhir dari vasdeferen yaitu kedua duktus
ejakulatorius terdapat dipinggir kanan dan kiri verumontanum, sedangkan
sekresi kelenjar prostat bermuara didalam duktus prostatiks yang tersebar
di uretra prostatika.
Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus
spongiosum penis. Uretra anterior terdiri atas: 1. Pars bulbosa, 2. Pars
pendularis, 3. Fossa navikulare, dan 4. Meatus uretra eksterna. Didalam
lumen uretra anterior terdapat beberapa muara kelenjar yang berfungsi
dalam proses reproduksi, yaitu kelenjar Cowperi berada didalam diafragma
urogenitalis bermuara diuretra pars bulbosa, serta kelenjar Littre yaitu
kelenjar para uretralis yang bermuara di uretra pars pendularis.
2. DEFINISI STRIKTUR URETRA
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan
parut dan kontraksi. ( C. Smelzer, Suzanne;2002 hal 1468 ).
30

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama
karena perbedaan panjangnya uretra. ( C. Long, Barbara;1996 hal 338).
Striktur urethra adalah penyempitan akibat dari adanya pembentukan
jaringan fibrotik (jaringan parut) pada urethra atau daerah urethra. (UPF
Ilmu Bedah, 1994)
Striktur uretra adalah suatu kondisi penyempitan lumen uretra. Striktur
uretra menyebabkan gangguan dalam berkemih, mulai dari aliran berkemih
yang kecil sampai tidak dapat mengeluarkan urine keluar dari tubuh.
(Muttaqin.A, 2011, hal 232)
Striktur uretra adalah penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra
sebagai akibat dari pembentukan jaringan fibrotic (jaringan parut pada
uretra dan / atau pada daerah peri uretra). (Nursalam, 2008 , hal 85)
3. KLASIFIKASI STRIKTUR URETRA
Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra dibagi
menjadi tiga tingkatan, yaitu derajat:
1. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra
2. Sedang: jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan diameter lumen uretra
3. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra
Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di
korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.

31

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

4. ETIOLOGI STRIKTUR URETRA


a) Kelainan Kongenital
Misalnya kongenital meatus stenosis, klep uretra posterior.
b) Operasi rekonstruksi dari kelainan kongenital seperti hipospadia,
epispadia.
c) Trauma,
Misalnya fraktur tulang pelvis yang mengenai uretra pars membranasea;
trauma tumpul pada selangkangan (straddle injuries) yang mengenai
uretra pars bulbosa, dapat terjadi pada anak yang naik sepeda dan
32

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

kakinya terpeleset dari pedal sepeda sehingga jatuh dengan uretra pada
bingkai sepeda pria; trauma langsung pada penis, instrumentasi
transuretra yang kurang hati-hati (iatrogenik) seperti pemasangan kateter
yang kasar, fiksasi kateter yang salah.
d) Post operasi,
Beberapa operasi pada saluran kemih dapat menimbulkan striktur uretra,
seperti operasi prostat, operasi dengan alat endoskopi.
e) Infeksi,
Merupakan faktor yang paling sering menimbulkan striktur uretra, seperti
infeksi oleh kuman gonokokus yang menyebabkan uretritis gonorrhoika
atau non gonorrhoika telah menginfeksi uretra beberapa tahun
sebelumnya namun sekarang sudah jarang akibat pemakaian antibiotik,
kebanyakan striktur ini terletak di pars membranasea, walaupun juga
terdapat pada tempat lain; infeksi chlamidia sekarang merupakan
penyebab utama tapi dapat dicegah dengan menghindari kontak dengan
individu yang terinfeksi atau menggunakan kondom.

ETIOLOGI :
a) Kongenital, uretritis gonore atau non gonore, ruptur uretra anterior
atau posterior secara iatrogenik maupun bukan. Pada wanita
umumnya disebabkan radang kronis. Biasanya wanita tersebut
berusia di atas 40 tahun dengan sindrom sistitis berulang (Mansjoer,
Arif. 2000).
b) Penyebab striktur umumnya adalah cedera uretral (akibat insersi
peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling, atau
prosedur sistoskopi), cedera akibat peregangan dan cedera yang
33

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

berhubungan dengan kecelakaan mobil, uretritis gonorheal yang


tidak ditangani, dan abnormalitas kongenital (Brunner & Suddarth.
2002).
c) Striktur uretra dapat disebabkan oleh setiap radang kronik atau
cedera. Radang karena gonore merupakan penyebab penting tetapi
radang lain yang kebanyakan disebabkan penyakit kelamin lain.
Kebanyakan striktur terletak di pars membranasea walaupun juga
terdapat di tempat lain, trauma internal maupun eksternal pada
uretra, kelainan bawaan (Nursalam. 2008).
d) Penyebab umum suatu penyempitan uretra adalah akibat traumatik
atau

iatrogenik.

Penyebab

lainnya

adalah

inflamasi,

proses

keganasan, dan kelainan bawaan pada uretra (Muttaqin, Arif. 2012).

5. EPIDEMIOLOGI STRIKTUR URETRA


Kejadian striktur uretra telah didokumentasikan sejak 600 tahun sebelum
masehi. Menurut pendapat para ahli, pada abad ke-19 sekitar 15-20% pria
dewasapernah mengalami striktur. Pada abad ke-21 ini diperkirakan di
Inggris 16.000 pria dirawat di rumah sakit karena striktur uretra dan lebih
dari 12.000 dari mereka memerlukan operasi dengan biaya 10 juta euro.
Estimasi prevalensi di inggris sendiri adalah 10/100.000 pada masa dewasa
awal dan meningkat 20/100.000 pada umur 55 sedangkan pada umur 65
tahun menjadi 40/100.000. Angka ini meningkat terus untuk pasien tua
sampai 100/100.000. Hal yang sama juga dilaporkan di Amerika Serikat.

Sebuah studi19 di Nigeria melaporkan pola striktur uretra. Dalam studi ini
menyebutkan delapan puluh empat pasien (83 laki-laki dan 1 perempuan)
dengan striktur uretra dilihat dalam sebuah periode dengan usia rata-rata
43,1 tahun. Trauma bertanggung jawab untuk 60 (72,3%) kasus, dengan
kecelakaan lalu lintas sebanyak 29 orang (34,9%), dengan trauma
34

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

iatrogenik

sebesar

17

(20,5%)

dari

semua

kasus

striktur

uretra.

Pemasangan kateter uretra bertanggung jawab pada 13 pasien (76,5%)


dari kasus iatrogenik. Uretritis purulen bertanggung jawab untuk 22 (26,5%)
kasus. Lima puluh (60,2%) kasus terletak di uretra anterior sedangkan dua
puluh tiga (39,8%) berada di posterior. Lima puluh tujuh pasien dilakukan
urethroplasty dengan kekambuhan 14% dan 8 pasien mengalami dilatasi
uretra dengan kekambuhan 50% pada 1 tahun.

6. PROGNOSIS STRIKTUR URETRA


Striktur uretra masih merupakan masalah yang sering ditemukan pada
bagian negara tertentu. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria
dibanding wanita. Karena uretra pada wanita lebih pendek dan jarang
terkena infeksi. Segala sesuatu yang melukai uretra dapat menyebabkan
striktur. Orang dapat terlahir dengan striktur uretra meskipun hal itu jarang
terjadi (Muttaqin.A, 2011).

7. MANIFESTASI KLINIS STRIKTUR URETRA


a. kekuatan pancaran dan jumlah urine berkurang
b. gejala infeksi
c. retensi urine
d. adannya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan
pielonefritis
e. kesukaran kencing
f. harus mengejan
g. pancaran bercabang
35

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

h. pembengkakan/nanah diperineum
i. kadang bercak darah didalam nanh
j. bila sistemik : febris, warna urine keruh
8. PATOFISIOLOGI STRIKTUR URETRA
Pada keadaan ini, kandung kemih harus berkontraksi lebih kuat hingga
sampai pada suatu saat kemudian akan melemah. Otot kandung kemih
semula menebal sehingga terjadi trabekulasi pada fase kompensasi,
kemudian timbul sakulasi (penonjolan mukosa masih di dalam otot) dan
divertikel (menonjol ke luar) pada fase dekompensasi. Pada fase ini akan
timbul residu urin yang memudahkan terjadinya infeksi. Tekanan di dalam
kandung kemih yang tinggi akan menyebabkan refluks sehingga urin masuk
kembali ke ureter, bahkan sampai ke ginjal. Infeksi dan refluks dapat
menyebabkan pielonefritis akut atau kronik yang kemudian menyebabkan
gagal ginjal. (Mansjoer, Arif. 2000).
Lesi pada epitel uretra atau putusnya kontinuitas, baik oleh proses infeksi
maupun akibat trauma, akan menimbulkan terjadinya reaksi peradangan
dan fibroblastik. Iritasi dan urin pada uretra akan mengundang reaksi
fibroblastik yang berkelanjutan dan proses fibrosis makin menghebat
sehingga terjadilah penyempitan bahkan penyumbatan dari lumen uretra
serta

aliran

urin

mengalami

hambatan

dengan

segala

akibatnya.

Ekstravasasi urin pada uretra yang mengalami lesi akan mengundang


terjadinya peradangan periuretra yang dapat berkembang menjadi abses
periuretra dan terbentuk fistula uretrokutan (lokalisasi pada penis, perineum
dan atau skrotum). (Nursalam, 2008).
Struktur uretra terdiri atas lapisan mukosa dan lapisan submukosa. Lapisan
mukosa pada uretra merupakan lanjutan dari mukosa buli-buli, ureter, dan
ginjal. Mukosanya terdiri atas epitel kolumnar, kecuali pada daerah dekat
orifisium eksterna epitelnya skuamosa dan berlapis. Submukosanya terdiri
atas lapisan erektil vaskular. Striktur uretra dapat diakibatkan dari proses
peradangan, iskemik, atau traumatik. Apabila terjadi iritasi uretra, maka
akan terjadi proses penyembuhan cara epimorfosis, artinya jaringan yang
36

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

rusak diganti oleh jaringan ikat yang tidak sama dengan semula. Jaringan
ikat ini menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang memberikan
manifestasi hilangnya elastisitas dan memperkecil lumen uretra. (Muttaqin,
Arif. 2012).

9. PATHWAY STRIKTUR URETRA

37

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

10. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada striktur urethra, yaitu :
Infeksi saluran kemih.
Gagal ginjal.
Refluks vesio uretra.
Retensi urine.
11. PEMERIKSAAN PENUNJANG STRIKTUR URETRA
a. Trabekulasi, sakulasi dan divertikel
Pada striktur uretra kandung kencing harus berkontraksi lebih kuat,
maka otot kalau diberi beban akan berkontraksi lebih kuat sampai pada
suatu saat kemudian akan melemah. Jadi pada striktur uretra otot bulibuli mula-mula akan menebal terjadi trabekulasi pada fase kompensasi,
setelah itu pada fase dekompensasi timbul sakulasi dan divertikel.
Perbedaan antara sakulasi dan divertikel adalah penonjolan mukosa
buli pada sakulasi masih di dalam otot buli sedangkan divertikel
menonjol di luar buli-buli, jadi divertikel buli-buli adalah tonjolan mukosa
keluar buli-buli tanpa dinding otot.
b. Residu urine
38

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Pada fase kompensasi dimana otot buli-buli berkontraksi makin kuat


tidak timbul residu. Pada fase dekompensasi maka akan timbul residu.
Residu adalah keadaan dimana setelah kencing masih ada urine dalam
vesika urinaria. Dalam keadaan normal residu ini tidak ada.
c. Refluks vesiko uretral
Dalam keadaan normal pada waktu buang air kecil urine dikeluarkan
buli-buli melalui uretra. Pada striktur uretra dimana terdapat tekanan
intravesika yang meninggi maka akan terjadi refluks, yaitu keadaan
dimana urine dari buli-buli akan masuk kembali ke uretra bahkan
sampai ginjal
d. Infeksi saluran kemih dan gagal ginjal
Dalam keadaan nirmal, buli-buli dalam keadaan steril. Salahsatu cara
tubuh memepertahankan buli-buli dalam keadaan steril adalah dengan
jalan setiap saat mengosongkan buli-buli waktu buang air kecil. Dalam
keadaan dekompensasi maka akan timbul residu, akibatnya maka bulibuli mudah terkena infeksi. Adannya kuman yang berkembangbiak di
buli-buli dan timbul refluks, maka akan timbul pyelonefritis akut maupun
kronik yang akhirnya timbul gagal ginjal dengan segala akibatnya.
e. Infiltrat urine, abses dan fistulasi
Adannya sumbatan pada uretra, tekanan intravesika yang meninggi
maka bisa timbul inhibisi urine keluar buli-buli atau iretra proksimal dari
striktur. Urine yang terinfeksi keluar dari buli-buli atau uretra
menyebabltkan timbulnya infitrat urine, kalau tidak diobati infiltrat urine
akan timbul abses, abses akan pecah timbul fistula di suprapubicatau
uretra proksimal dari striktur
Pemeriksaan Penunjang
1.
2.
3.

Colok dubur
Kalibrasi dengan kateter lunak akan ditemukan hambatan
Uretrografi : untuk melihat letak penyempitan dan besarnya
penyempitan uretra. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai
panjang striktur adalah dengan membuat foto bipolar sistouretrografi
dengan cara memasukkan bahan kontras secara antegrad dari buli-

39

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

buli dan secara retrograd dari uretra. Dengan pemeriksaan ini


panjang

striktur

dapat

diketahui

sehingga

penting

untuk

4.

perencanaan terapi atau operasi.


Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra bila

5.

sudah sistostomi : bipolar uretro-sistografi


Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi.
Volume urin yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi dengan
lamanya proses miksi. Kecepatan pancaran urin normal pada pria
adalah 20 ml/detik dan pada wanita 25 ml/detik. Bila kecepatan

6.

pancaran kurang dari harga normal menandakan ada obstruksi.


Pada kasus-kasus individual tertentu : dapat dilakukan IVP, USG
(pada striktur yang lama, dapat terjadi perubahan sekunder pada
kelenjar prostat; batu, perkapuran, abses prostat, epididimitis,
fibrosis epididimis

12. GAMBARAN KLINIS STRIKTUR URETRA


Sumbatan pada uretra dan tekanan kandung kemih yang tinggi dapat
menyebabkan imbibisi urin keluar kandung kemih atau uretra proksimal dari
striktur. Gejala yang khas adalah pancaran miksi kecil dan bercabang.
Gejala yang lain adalah iritasi dan infeksi seperti frekuensi, urgensi, disuria,
kadang-kadang dengan infiltrat, abses dan fistel. Gejala lanjut adalah
retensio urin. (Mansjoer, Arif. 2000).
Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang dan gejala infeksi dan
retensi urinarius terjadi. Sriktur menyebabkan urin mengalir balik dan
mencetuskan sistitis, prostatitis, dan pielonefritis. Gejala dan tanda striktur
biasanya mulai dengan hambatan arus kemih dan kemudian timbul sindrom
lengkap obstruksi leher kandung kemih seperti digambarkan pada
hipertrofia prostat. Striktur akibat radang uretra sering agak luas dan
mungkin multiple. (C. Smeltzer, Suzanne. 2002).
Keluhan: kesulitan dalam berkemih, harus mengejan, pancaran mengecil,
pancaran bercabang dan menetes sampai retensi urin. Pembengkakan dan
getah atau nanah di daerah perineum, skrotum dan terkadang timbul bercak
40

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

darah di celana dalam. Bila terjadi infeksi sistemik penderita febris, warna
urin bisa keruh (Nursalam, 2008).
13. PENCEGAHAN STRIKTUR URETRA
a. Menghindari terjadinya trauma pada uretra dan pelvis
b. Tindakan transuretra dengan hati-hati, seperti pada pemasangan
kateter
c. Menghindari kontak langsung dengan penderita yang terinfeksi
penyakit menular seksual seperti gonorrhea, dengan jalan setia pada
satu pasangan dan memakai kondom
d. Pengobatan dini striktur uretra dapat menghindari komplikasi seperti
infeksi dan gagal ginjal
b. Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral
dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu
lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada
setiap jenis alat uretral termasuk kateter.
.
14. PENATALAKSANAAN STRIKTUR URETRA
Tergantung pada :

lokalisasi,

panjang pendeknya striktur

Keadaan darurat

a) Filiform bougies untuk membuka jalan jika striktur menghambat


pemasangan kateter
b) Medika mentosa analgesic non narkotik utk mengendalikan nyeri.
Medikasi antimicrobial untuk mencegah infeksi
c) Pembedahan sistostomi suprapubis. Businasi (dilatasi )dengan busi
logam yang dilakukan secara hati2.
d) Urotrotomi interna ; memotong jaringan sikatrik uretra. Otis dimasukkan
secara blind kedalam buli-buli jika striktur belum total. Jika berat dengan
pisau sachse secara visual.
e) Uretremi eksterna : tindakan operasi terbuka berupa pemotongan
jaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan
uretra yang masih baik.
41

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

15. PEMERIKSAAN FISIK STRIKTUR URETRA


a. Inspeksi
Memeriksa uretra dari bagian meastus dan jaringan sekitarnya
Observasi kulit dan mukosa membran disekitar jaringan
Observasi adannya penyempitan, perdarahan, mukus atau cairan

purulent
Perhatikan adannya lesi hiperemi atau keadaan abnormal lainnya

pada penis, scrotum, labia dan orifisium vagina


Iritasi pada uretra ditunjukkan pada klien dengan keluhan

ketidaknyamanan pada saat akan miksi


b. Pengkajian psikososial
Respon emosional pada penderita sisitem perkemihan, yaitu

menarik diri, cemas, kelemahan, gelisah, dan kesakitan


Respon emosi pada perubahan masalah pada gambaran diri,

takut, dan kemampuan seks menurun dan takut akan kematian


c. Pengkajian diagnostik
Sedimen urine untuk mengetahui pertikel-pertikel urin yaitu sel, eritrosit,
leukosit, bakteria, kristal, dan protein
d. Eliminasi
Penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan
kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekurnsi berkemih
Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra
e. Nutrisi
Anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan
f. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)

Sistem pernafasan, perlu dikaji mulai dari bentuk hidung, ada tidaknya
sakit pada lubang hidung, pergerakan cuping hidung pada waktu
bernafas, kesimetrisan gerakan dada pada saat bernafas, auskultasi
bunyi nafas dan gangguan pernafasan yang timbul. Apakah bersih atau
ada ronchi, serta frekuensi nafas. Hal ini penting karena imobilisasi
berpengaruh pada pengembangan paru dan mobilisasi secret pada jalan
nafas.

42

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Sistem kardiovaskuler, mulai dikaji warna konjungtiva, warna bibir, ada


tidaknya peninggian vena jugularis dengan auskultasi dapat dikaji bunyi
jantung pada dada dan pengukuran tekanan darah dengan palpasi dapat

dihitung frekuensi denyut nadi.


Sistem pencernaan, yang dikaji meliputi keadaan gigi, bibir, lidah, nafsu
makan, peristaltik usus, dan BAB (Buang Air Besar). Tujuan pengkajian

ini untuk mengetahui secara dini penyimpangan pada sistem ini.


Sistem genitourinaria, dapat dikaji dari ada tidaknya pembengkakan dan
nyeri pada daerah pinggang, observasi dan palpasi pada daerah
abdomen bawah untuk mengetahui adanya retensi urin dan kaji tentang
keadaan alat-alat genitourinaria bagian luar mengenai bentuknya ada
tidaknya nyeri tekan dan benjolan serta bagaimana pengeluaran urinnya,

lancar atau ada nyeri waktu miksi, serta bagaimana warna urin.
Sistem muskuloskeletal, yang perlu dikaji pada sistem ini adalah derajat
Range of Motion dari pergerakan sendi mulai dari kepala sampai
anggota gerak bawah, ketidaknyamanan atau nyeri yang dilaporkan klien
waktu bergerak, toleransi klien waktu bergerak dan observasi adanya
luka pada otot harus dikaji juga, karena klien imobilitas biasanya tonus

dan kekuatan ototnya menurun.


Sistem integument, yang perlu dikaji adalah keadaan kulitnya, rambut
dan kuku, pemeriksaan kulit meliputi : tekstur, kelembaban, turgor, warna

dan fungsi perabaan.


Sistem neurosensori, yang dikaji adalah fungsi serebral, fungsi saraf

cranial, fungsi sensori serta fungsi refleks.


Pola aktivitas sehari-hari, pola aktivitas sehari-hari pada klien yang
mengalami post operasi striktur uretra meliputi frekuensi makan, jenis
makanan, porsi makan, jenis dan kuantitas minum dan eliminasi yang
meliputi buang air besar (Frekuensi, warna, konsistensi) serta buang air
kecil (frekuensi, banyaknya urin yang keluar setiap hari dan warna urin).
Kebersihan diri (frekuensi mandi, mencuci rambut, gosok gigi, ganti
pakaian, menyisir rambut dan menggunting kuku). Olahraga (frekuensi
dan jenis) serta rekreasi (frekuensi dan tempat rekreasi).

43

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Data psikososial, pengkajian yang dilakukan pada klien imobilisasi pada


dasarnya sama dengan pengkajian psikososial pada gangguan sistem
lain yaitu mengenai konsep diri (gambaran diri, ideal diri, harga diri,
peran diri, dan identitas diri) dan hubungan interaksi klien baik dengan
anggota keluarganya maupun dengan lingkungan dimana ia berada.
Pada klien dengan post operasi striktur uretra dan imobilisasi adanya
perubahan pada konsep diri secara perlahan-lahan yang mana dapat
dikenali melalui observasi terhadap adanya perubahan yang kurang
wajar dan status emosional perubahan tingkah laku, menurunnya
kemampuan dalam pemecahan masalah dan perubahan status tidur.
Data spiritual Klien dengan post operasi striktur uretra perlu dikaji
tentang agama dan kepribadiannya, keyakinan : harapan serta semangat
yang terkandung dalam diri klien yang merupakan aspek penting untuk
kesembuhan penyakitnya.

16. DIAGNOSA KEPERAWATAN STRIKTUR URETRA


1. Gangguan pemenuhan eliminasi urin berhubungan dengan retensi urin,
obstruksi uretra sekunder dari penyempitan lumen uretra.
2. Risiko tinggi trauma berhubungan dengan kerusakan

jaringan

pascaprosedur pembedahan.
3. Nyeri berhubungan dengan peregangan dari terminal saraf, disuria,
resistensi otot prostat, efek mengejan saat miksi sekunder dari
obstruksi uretra, nyeri pascabedah.
4. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entree luka
pascabedah.
5. Kecemasan berhubungan dengan prognosis pembedahan, tindakan
diagnostik invasif.
6. Gangguan konsep diri (gambaran diri) berhubungan dengan risiko
kerusakan organ seksual.
17. NOC NIC STRIKTUR URETRA
1. Gangguan pemenuhan eliminasi urin berhubungan dengan retensi urin,
obstruksi uretra sekunder dari penyempitan lumen uretra.
Kriteria Evaluasi :
44

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Eliminasi urin tanpa ada keluhan subjektif, seperti nyeri dan urgensi.
Eliminasi urin tanpa meggunakan kateter.
Pascabedah tanpa ada komplikasi.
Frekuensi miksi dalam batas 5-8 x/jam.
Intervensi :
1. Kaji pola berkemih dan catat produksi urin tiap 6 jam.
2. Monitor adanya keluhan subjektif pada saat melakukan eliminasi
urin.
3. Kolaborasi :
Pelebaran

uretra,

baik

secara

uretrotomi

inernal

atau

pemasangan stent uretra.


Bedah rekonstruksi
4. Evaluasi pasca-intervensi pelebaran uretra
2. Risiko tinggi trauma berhubungan dengan kerusakan jaringan pasca
prosedur pembedahan.
Kriteria Evaluasi :

Tidak ada keluhan subjektif, seperti disuria, dan urgensi.


Eliminasi urin tanpa menggunakan kateter.
Pascabedah tanpa ada komplikasi.

Intervensi :
1. Monitor adanya keluhan subjektif pada saat melakukan eliminasi urin.
2. Istirahatkan pasien setelah pembedahan.
3. Lepas kateter pada hari ke 1-3 pascaoperasi
4. Evaluasi pasca-intervensi pelebaran uretra.
5. Kolaborasi :
Antibiotik intravena pascaoperasi
Agen antimuskarinik
3. Nyeri berhubungan dengan peregangan dari terminal saraf, disuria,
resistensi otot prostat, efek mengejan saat miksi sekunder dari
obstruksi uretra, nyeri pascabedah.
Kriteria Evaluasi :

45

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Secara

diadaptasi. Skala nyeri 0-1 (0-4).


Dapat mengidentifikasi aktivitas

menurunkan nyeri.
Ekspresi pasien rileks.

subjektif

melaporkan

nyeri

berkurang

yang

atau

meningkatkan

dapat
atau

Intervensi :
1. Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan
non invasif.
2. Lakukan manajemen nyeri keperawatan :
Istirahatkan pasien
Manajemen lingkungan tenang dan batasi pengunjung.
Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam
Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
3. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri.
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik.
4. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entree luka
pascabedah.
Kriteria hasil :

Suhu tetap dalam rentang normal.


Hitung Sel Darah Putih (SDP) dan hitung diferensial Sel Darah

Putih (SDP) tetap dalam rentang normal.


Pasien mempertahankan kepribadian dan hygiene perorangan

yang baik.
Urin tetap berwarna kuning jernih, tidak berbau, tidak ada endapan.
Luka dan insisi terlihat bersih, merah muda, dan bebas dari

drainase purulen.
Tempat masuk intravena tidak memperlihatkan tanda-tanda

inflamasi.
Pasien tidak memperlihatkan adanya bukti gangguan kulit.
Pasien menyatakan faktor resiko infeksi.
Pasien mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala infeksi.
Pasien tetap terbebas dari infeksi.
Intervensi :
1. Mencuci tangan sebelum dan setelah memberikan perawatan.

46

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

2. Menggunakan sarung tangan untuk mempertahankan asepsis pada saat


memberikan perawatan langsung.
3. Pantau suhu minimal setiap 4 jam dan catat pada kertas grafik. Laporkan
evaluasi segera.
4. Bantu pasien mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan setelah dari
kamar mandi.
5. Ganti slang IV dan berikan perawatan daerah pemasukan setiap 24 sampai
48 jam atau sesuai kebijakan yang diterapkan di rumah sakit.
6. Yakinkan asupan nutrisi yang adekuat.
7. Beri pendidikan kepada pasien mengenai :
Teknik mencuci tangan yang baik
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko infeksi
Tanda-tanda dan gejala infeksi
5. Kecemasan berhubungan dengan prognosis pembedahan, tindakan
diagnostik invasif.
Kriteria Evaluasi :

Pasien menyatakan kecemasan berkurang


Mengenal perasaannya
Mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhinya
Kooperatif terhadap tindakan, dan
Wajah rileks.

Intervensi :
1. Bantu pasien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan, dan takut
2. Beri dukungan prabedah
3. Hindari konfrontasi
4. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat
5. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan ansietasnya.
6. Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat
7. Kolaborasi :
8. Berikan anticemas sesuai indikasi, contohnya diazepam.
6. Gangguan konsep diri ( gambaran diri ) berhubungan dengan risiko
kerusakan organ seksual.
Kriteria evaluasi :
Pasien kooperatif pada setiap intervensi keperawatan.

47

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

Mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang

terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi.


Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi
Mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri
dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatif.

Intervensi :
1. Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat
ketidakmampuan.
2. Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada pasien.
3. Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaan.
4. Catat ketika pasien menyatakan terpengaruh seperti

sekarat

atau

mengingkari dan menyatakan inilah kematian.


5. Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan kembali
fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang
sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
6. Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan.
7. Anjurkan orang yang terdekat untuk mengijinkan pasien melakukan
sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya.
8. Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam
aktivitas rehabilitasi.
9. Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi, dan
withdrawl.
10. Kolaborasi: rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi.

48

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

G. JUMP 7 : DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
ECG
Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif : Konsep,
Proses, Aplikasi. Selemba Medika : Jakarta.
Sabiston, David C. 1994. Uretra. Dalam: Sistem Urogenital, Buku Ajar Bedah
Bagian 2, hal.463. EGC. Jakarta.
Sabiston, David C. 1994. Penyakit Striktur Uretra. Dalam: Sistem Urogenital,
Buku Ajar Bedah Bagian 2, hal.488. EGC. Jakarta.
Jong, Wim De, R. Sjamsuhidayat. 2004. Striktur Uretra. Dalam: Saluran Kemih
Dan Alat Kelamin Lelaki, Buku Ajar Ilmu Bedah hal.752. EGC. Jakarta.
Anonim. 1992. Striktura Uretra. Dalam: Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu
Bedah RSUP Denpasar, hal.99. LAB/ UPF ILMU BEDAH FK UNUD. Bali.
Mansjoer, A et all 2000, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, ed. 3, Media
Aesculapius, Jakarta
Tambajong, J 2000, Patofisiologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta
Smeltzer, C. Suzanne, Bare, G. Brenda. Brunner and Suddarths Text Book of
Medical Surgical Nursing. 8th vol 2 alih bahasa Kuncoro, Andry Hartono,
Monica Ester, Yasmin Asih. Jakarta: EGC; 2001
Perry, Anne, Griffin, Potter A. Patricia. Pocket Guide to Basic Skills and
Procedures. Alih bahasa: Monica Ester, Jakarta: EGC; 2000
Purnomo BB., Seto S. Striktur Urethra. Dalam: Dasar-Dasar Urologi. Edisi Kedua.
Penerbit fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Malang. 2003

49

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B

50

Modul Keperawatan Perioperatif Lbm 4 Kasus Striktur Uretra


Kelompok II PSIK VI B