Anda di halaman 1dari 27

The Atomic Nucleus

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak permulaan abad 19, penelitian mengenai inti atom sudah mulai
dilakukan. Semua ilmuwan berlomba-lomba dalam mencari kebenaran mengenai
struktur atomik yang mampu menjelaskan keberadaan inti atom sesuai dengan
hasil eksperimen yang telah dilakukan. Sejak abad tersebut, para ilmuwan fisika
yang dahulunya lebih tertarik untuk membahas dan mengkaji fenomenafenomena alam yang nampak, kini beralih untuk meneliti hal-hal yang bersifat
mikroskopik.
Secara umum ilmu fisika dibagi menjadi dua bagian utama yaitu fisika
makroskopik yang menjelaskan mengenai fenomena-fenomena alam yang
nampak secara kasat mata dan fisika mikroskopik yang kebanyakan menelaah
fisika atom maupun nuklir. Hukum-hukum fisika yang bersifat makroskopik
sudah ada sejak zaman dulu seperti hukum Newton tentang gerak yang secara
sederhana dapat diamati secara kasat mata, sedangkan untuk fenomena-fenomena
alam dalam skala atomik baru mulai diteliti sejak tahun 1913 dengan melakukan
berbagai eksperimen yang dilakukan oleh para fisikawan seperti Thomson,
Rutherford, Joliot, Chadwick, dan ilmuwan lainnya.
Permulaan dari fisika nuklir adalah ditemukannya radioaktivitas oleh H.
Becquerel pada tahun 1896. Hingga akhirnya, eksperimen mengenai atom nuklir
terus diteliti sejak tahun 1911 yang diawali oleh Rutherford. Pada tahun 1911,
banyak ilmuwan meneliti berbagai aspek dari inti atom. Hasilnya , meskipun
masih jauh dari harapan yang diinginkan tetapi para ilmuwan terus saja
mempelajari aspek tersebut dengan lebih serius dan kompleks. Adapun beberapa
topik yang dikaji dalam membahas fisika nuklir adalah sebagai berikut. (1)
mempelajari ukuran, massa dan substansi dari nuklide; (2) Persamaan-persamaan
radiasi yang diberikan oleh beberapa nuklide dalam berbagai kondisi dan
interaksi pada saat terjadinya radiasi tersebut; (3) mempelajari tentang susunan
dari substansi-substansi di dalam inti atom; dan (4) mempelajari tentang gaya inti
yang menyebabkan semua komponen atom dapat menjadi inti yang mantap.
1

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


Begitu banyak fenomena mikroskopik yang dapat dipelajari dalam fisika
nuklir sehingga dalam tulisan ini akan dibahas mengenai teori atom, hipotesis
proton-elektron, penemuan neutron dan hipotesis proton-neutron.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah sebagai berikut.
1.3.1 Bagaimana perkembangan teori atom?
1.3.2 Bagaimana keberadaan dan kemapanan hipotesis proton-elektron?
1.3.3 Bagaimana sejarah penemuan neutron?
1.3.4 Bagaimana keberadaan dan kemapanan hipotesis proton-neutron?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.3.1 Untuk mengetahui perkembangan teori atom.
1.3.2 Untuk menjelaskan keberadaan dan kemapanan hipotesis proton-elektron.
1.3.3 Untuk menjelaskan sejarah penemuan neutron.
1.3.4 Untuk menjelaskan keberadaan dan kemapanan hipotesis proton-neutron.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah bagi penulis dan
pembaca dapat memperoleh pengetahuan mengenai teori atom, hipotesis protonelektron, penemuan neutron dan hipotesis proton-neutron.
1.5 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode kajian
pustaka, yaitu penulis mengumpulkan berbagai sumber referensi yang relevan
dengan materi yang disajikan dan kemudian dilakukan pengkajian terhadap materi
tersebut.

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori Atom
Walaupun ilmuwan pada abad 19 menerima gagasan bahwa unsur-unsur
kimia terdiri dari atom-atom, mereka tidak mengetahui tentang atom itu sendiri.
Penemuan elektron pada tahun 1897 dan adanya pengetahuan bahwa semua atom
mengandung elektron memberikan pengetahuan yang penting mengenai struktur
atomik. Model atom yang pertama kali dikenal adalah model atom yang
ditawarkan oleh Dalton. Namun model atom Dalton ini tidak mampu bertahan
lama dan gagal dipertahankan untuk menjelaskan model atom sebab tidak
memiliki koreksi yang lengkap untuk menjelaskannya.
Kemudian pada tahun 1898, ahli fisika berkebangsaan Inggris, J.J Thomson,
mengusulkan bahwa atom merupakan bola bermuatan positif serba sama yang
mengandung elektron, hipotesisnya ini dianggap sangat masuk akal. Model atom
yang ia tawarkan dikenal dengan sebutan roti kismis. Disebut seperti itu karena
model atom yang ditawarkan mirip dengan roti kismis (perhatikan gambar 1).

+
+

Gambar (1)
Thomson juga menyatakan bahwa atom tersusun oleh proton dan elektron
yang mana atom bersifat netral sehingga jumlah proton dan elektron haruslah
sama. Disamping itu ditemukan juga bahwa massa elektron sangat kecil dan
massa proton lebih besar dari massa elektron serta massa proton memberikan
kontribusi yang sangat besar dari massa atom. Sehingga dikatakan massa atom
terpusat pada massa elektron.

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


Teori ini bertahan cukup lama karena didukung oleh adanya penemuan
radioaktivitas, Namun akhirnya gagal karena tidak mampu menjelaskan hasil
eksperimen Geiger dan Marsden mengenai peluruhan partikel alfa, terutama
partikel alfa yang terhambur dengan sudut azimuth besar sampai dengan 180o.
Setelah itu muncullah model atom Rutherford yang sudah mengenal adanya
inti atom, yang mana inti atom didefinisikan sebagai suatu ruang yang sangat
kecil dan sebagai pusat massa inti dan muatan atom. Adapun model atom
Rutherford ditunjukkan pada gambar (2).

Gambar (2)
Beranjak dari teori atom Rutherford ini kemudian penelitian mengenai
struktur atomik terus dilakukan.
2.2 Hipotesis Proton-Elektron
Sebelum ditemukannya neutron oleh Chadwick pada tahun 1932, terdapat
asumsi dasar bahwa inti atom terdiri dari proton dan elektron. Pernyataan ini
dikenal dengan hipotesis proton elektron yang menyatakan bahwa:
Atom terdiri dari inti atom, yang mana inti atom tersusun oleh proton dan
elektron.
Inti atom memiliki sejumlah A proton dan A-Z elektron serta total muatan
positif Z.
Sejumlah Z elektron terluar/orbital.
Kenyataannya, hipotesis proton-elektron gagal untuk menjelaskan terjadinya
struktur Hyperfine. Ada tiga hal yang mendukung hal tersebut yaitu: (1)
momentum anguler inti atom, (2) momen magnetik, dan (3) mekanika
gelombang.
4

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


2.2.1 Momentum Anguler Inti Atom
Penemuan spektroskop dengan resolusi yang sangat tinggi, yang mana
dengan bantuan alat ini garis spektrum yang sebelumnya terlihat tunggal
ternyata dapat terlihat lebih halus dan kompleks. Spektroskop dengan resolusi
rendah, menunjukkan bahwa transisi dari 3P3S pada sodium adalah berupa
garis tunggal. Sedangkan dengan spektroskop moderate, menunjukkan
adanya garis ganda yang lebih halus pada transisi tersebut yang ditemukan
akibat adanya spin elektron. Akhirnya untuk sodium dikenal dengan nama
garis-D yang bertugas pada transisi 3P-3S Tetapi dengan menggunakan
spektroskop resolusi tinggi, garis-garis spektrum yang terlihat terbagi menjadi
beberapa level (tingkatan-tingkatan), dimana antara level tersebut jaraknya
sangat dekat satu sama lainnya. Antara level tersebut memiliki perbedaan
energi sebesar 10-5 dengan transisi utamanya. Jenis spektrum garis seperti itu
disebut dengan struktur hyperfine dan ini dapat terjadi karena adanya: (1)
efek isotop pada suatu unsur; dan (2) momentum anguler nuklir.
Isotop merupakan unsur yang memiliki nomor atom (Z) sama Namun

1 1(A) berbeda. Untuk unsur yang tidak memiliki


1nomor massanya
formula
RM untuk
nilai2 transisi pada atom adalah sebagai berikut.
2
n n

f i

isotop,

dengan: = panjang gelombang yang dihasilkan sebagai akibat adanya


transisi elektron dari tingkatan awal ke tingkatan akhir.
RM = tetapan Rydberg yang didapat dari: RM

M
R
M m

dengan nilai R = 1,097 x 10-3 A-1


m = massa elektron
M = massa inti atom
Sedangkan untuk unsur yang memiliki dua atau lebih isotop, maka nilai R M
akan berbeda untuk masing-masing isotop, artinya bila suatu unsur memiliki
2 buah isotop maka unsur tersebut akan memiliki 2 buah nilai RM yang
berbeda yaitu RM1 dan RM2. Sedangkan untuk unsur yang memiliki tiga buah
5

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


isotop seperti karbon yaitu
1
1

11
7

C,

12
7

C dan

13
7

C serta hidrogen yaitu:

H , 12H dan 13H , memiliki 3 buah nilai RM yang berbeda dan terjadi tiga

buah transisi yaitu dari M1M2, M1M3, dan M2M3.


Contoh unsur yang memiliki dua buah isotop adalah Lithium (Li) yaitu
6
3

Li dan 37Li .

Sehingga: RM 1

M1
R
M1 m

Untuk kedua isotop didapat :

dan

RM 2

M2
R
M2 m

R M R M 1 R M 2

persamaan di atas dapat dituliskan menjadi : RM

m M 1 M 2
R
M 1 m M 2 m

m M
R
M 1M 2

Dengan asumsi bahwa nilai M sangat kecil bila dibandingkan dengan nilai
M1 dan M2, akibatnya nilai R juga sangat kecil.
Hasilnya, untuk unsur yang memiliki dua buah isotop terjadi 1 transisi
dari M1M2, dimana transisi itu menghubungkan panjang gelombang 1
dengan 2. Perbedaan 1-2 memiliki nilai yang sangat kecil, sehingga
menyebabkan garis yang dulunya hanya terlihat tunggal pecah menjadi garis
ganda yang lebih halus dengan adanya kehadiran isotop tersebut. Dengan kata
lain, nilai RM mengindikasikan bahwa spektrum atom yang tunggal pecah
menjadi dua (dengan struktur yang lebih halus dan tidak tunggal lagi) atau
menghasilkan struktur hyperfine akibat adanya isotop. Efek isotop pada
spektrum garis dalam berbagai unsur terus diteliti dengan menggunakan
spektroskop resolusi tinggi.
Ternyata keberadaan struktur hyperfine tidak mampu dijelaskan pada
semua keadaan dengan menggunakan efek isotop sebab ada unsur yang tidak
mempunyai isotop tetapi mengalami struktur hyperfine. Sehingga gagallah
penjelasan efek isotop tersebut. Kemudian sebagai solusinya inti atom
dianggap seperti elektron yang memiliki momentum anguler. Nilai
momentum anguler nuklir menurut mekanika gelombang adalah:
6

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus

I I 1

dimana

h
2

h merupakan konstanta planck dan I adalah spin nuklir. Nama spin nuklir
untuk I biasanya disalah artikan, sebab total momentum anguler inti didukung
oleh jumlah vektor momentum anguler orbital dan momentum anguler spin
partikel-partikel yang berada di dalam inti atom. I merupakan nomor
kuantum nuklir, dan nilai maksimum untuk komponen mmomentum sudut
dalam berbagai arah adalah sebesar I. Setiap atom dengan isotop yang
berbeda-beda pada unsure yang sama memiliki nilai I yang berbeda pula.
Seperti atom, inti atom juga mengalami kuantisasi ruang sebesar 2I+1 pada
berbagai arah orientasi. Orientasi tersebut sama seperti vektor momentum
anguler yang diproyeksikan pada medan magnetik sehingga memiliki nilai
sebagai berikut.
I, I-1, I-2, I-3, , -(I-3), -(I-2), -(I-1), -I

Sedangkan vektor momentum anguler atom (F) dapat dicari dengan


menjumlahkan nilai vektor momentum anguler nuklir (I) dan vektor
momentum anguler elektron pada atom (J), yang dapat dituliskan sebagai
berikut.

F=J+I

Bila nilai J dan I diketahui maka dapat ditentukan semua


kemungkinan nilai F yang dihasilkan dari pengkombinasian nilai J dan I
(perhatikan gambar 3). Sehingga dapat memprediksi transisi yang mungkin
terjadi di antara ruang tersebut. Transisi yang diperbolehkan bila mematuhi
aturan berikut: nilai J = 0, 1 tetapi untuk transisi dari 00 tidak
diperbolehkan meskipun nilai J=0.
J

Created by Widiarini

Gambar (3)

The Atomic Nucleus

Banyaknya garis yang terbentuk pada transisi tersebut dapat


ditentukan dengan cara sebagai berikut.
2I+1 bila I< J
2J+1 bila J< I
Dengan mengetahui nilai J maka memungkinkan untuk memprediksi nilai I
atau spin nuklir. Disamping itu, ada cara lain untuk menghitung I yang
terbentuk pada struktur hyperfine yaitu dengan menunjukkan hubungan
antara I dan nomor massa (A) sebuah inti atom. Adapun aturannya adalah
sebagai berikut.
Inti dengan nomor massa genap harus memiliki spin bilangan bulat,
sedangkan inti dengan nomor massa ganjil harus memiliki spin setengah
bilangan bulat.
Untuk A ganjil, I =

1
2

, 32 , 52 ,.....

Untuk A genap, I = 0, 1, 2, 3, 4, .....


Kenyataannya proton dan elektron merupakan partikel fermi dengan
spin , ini berarti momentum sudutnya . Hasil eksperimen ini
bertentangan dengan hipotesis proton-elektron yang telah dipaparkan
sebelumnya. Pada kondisi tersebut, contohnya nitrogen

14
7

N yang memiliki

nomor massa (A=14) dan nomor atom (Z=7). Menurut hipotesis protonelektron,

14
7

N memiliki 14 proton, 7 elektron dan total partikel dalam inti

sebanyak 21 buah.Karena proton an elektron memiliki spin , maka

14
7

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


harusnya memiliki spin setengah bilangan bulat tetapi hasil eksperimemn
menyatakan bahwa

14
7

N memiliki spin (I=1). Contoh lainnya, deutron yang

merupakan inti isotop hidrogen mempunyai nomor atomik 1 dan nomor


massa 2, harus ditafsirkan timbul dari kehadiran dua buah proton dan sebuah
elektron. Bergantung dari orientasi partikel spin deutron harus menjadi atau
3

. Namun, spin deutron menurut pengamatan ialah 1, ini sangat tidak sesuai

dengan hipotesis terdapatnya elektron nuklir.


Hasil yang didapatkan tersebut menyatakan bahwa hipotesis protonelektron belum mapan untuk menjelaskan kemantapan struktur inti atom.
2.2.2 Momen Magnetik
Dengan adanya kontradiksi bahwa hipotesis proton-elektron tidak
mapan untuk menjelaskan spin nuklir atau momentum anguler suatu atom
maka pengujian dialihkan lagi pada momen magnetik inti atom untuk
menguji keberadaan hipotesis proton-elektron. Berdasarkan garis spektrum
yang didapatkan pada atom menyatakan bahwa rotasi elektron dengan
momentum anguler sebesar I menghasilkan momen magnetik yang disebut
Magneton Bohr yang identik dengan nilai B pada elektron atom.
B

eh
e
erg

0,927 x10 20
4me c 2me c
gauss

dengan: e = muatan elektron (1,6 x 10-19 C)


me = massa elektron (9,11 x 10-31 kg)
c = kecepatan cahaya (3 x 108 m/s)
Setiap inti atom memiliki muatan dan jika spin I tidak nol, maka
gerakan partikel bermuatan di dalam inti atom seharusnya menghasilkan
momen magnetik terhadap intinya. Muatan yang terdistribusi pada inti
diasumsikan seperti bola yang simetris sehingga menghasilkan momen
dipole.
Proton memiliki massa 1836 kali massa elektron, maka besar momen
magnetiknya adalah:
N

B
eh
e
erg

5,05 x 10 24
4m p c 2m p c 1836
gauss

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


dengan: mp = massa proton (9,11 x 10-31 kg)
N = magneton nuklir

c = kecepatan cahaya (3 x 108 m/s)


Magneton nuklir sering digunakan sebagai besaran yang menyatakan momen
magnetik nuklir. Secara fakta, nilai momen magnetik inti atom seharusnya
lebih kecil dari momen magnetik elektron. Contohnya untuk proton nilai N
lebih kecil dari magneton Bohr. Bila elektron berada di dalam inti atom maka
seharusnya elektron memiliki momen magnetik yang sama dengan inti atom.
Tetapi hanya proton yang memiliki momen magnetik sama dengan momen
magnetik Bohr sehingga kecil kemungkinannya elektron berada di dalam inti
atom.
Karena nilai I sangat kecil maka interaksi antara inti dengan
elektron juga sangat kecil. Ini menjadi sebab didapatkannya pemisahan yang
sangat halus dan kecil pada struktur hyperfine pada spektrum garis yang
dihasilkan. Faktanya, nilai I dapat ditentukan melalui pemisahan struktur
hyperfine yang dapat dinyatakan dalam magneton nuklir.
Momen magnetik inti atom dapat ditentukan melalui persamaan berikut.
I g I I I 1

e
2m p c

dengan: gI = faktor nuklir g, yang tidak sama dengan faktor g Lande


Faktor ini tidak dapat diprediksi secara komplet karena kurangnya
pengetahuan mengenai jenis partikel yang berada di dalam inti atom.
Perbandingan momen magnetik nuklir, I , dalam magneton nuklir dengan
nilai momentum anguler nuklir disebut dengan gyromagnetik ratio yang
disimbolkan dengan I , dengan:

g I I

e
2m p c

gI

e
2m p c

10

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


Bila momen magnetik inti atom dipengaruhi oleh medan magnetik dari luar
maka perubahan energinya menjadi:
U I H I H cos

Dengan H merupakan medan magnetik yang diberikan dari luar pada pusat
inti dan merupakan sudut yang dibentuk antara I dan H yang ditentukan
berdasarkan gambar 4.

cos

I I 1 J J 1 F F 1
2 I I 1 J J 1

mI = 3
2
H

I I 1

1
0
-1

-2
-3

Gambar (4)

Gambar (5)
Bila persamaan I dan U dikombinasikan maka didapat:
U g I

I I 1

e
H cos
2m p c

atau

U g I

I I 1

eh
H cos
4m p c

dengan
I I 1 cos m I
dimana
m I I , I 1, ....., ( I 1), I

karena I mengalami kuantisasi ruang di dalam medan magnetik luar maka mI


disebut nomor kuantum spin magnetik (gambar 5), maka:
U g I mI

eh
H
4m p c

11

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


Berdasarkan hasil eksperimen nilai momen magnetik dapat ditentukan
melalui:

mI I

gI I

eh
4m p c

Nilai I dapat juga ditentukan melalui persamaan: U I H e dengan


mengetahui dulu nilai U dan H. Struktur hyperfine dapat terjadi akibat adanya
interaksi antara I dengan medan magnetik H yang diberikan pada pusat
inti. Nilai dari medan He dapat berkisar antara 105 sampai 107 gauss untuk
berbagai atom. Untuk tujuan tersebut yaitu mencari nilai I , maka dipilih
nilai He adalah 106 gauss yang menghasilkan pemisahan panjang gelombang,
, sebesar 1/100.000 dimana nilai ini berada pada panjang gelombang
cahaya tampak. Misalnya diambil contoh panjang gelombang cahaya tampak
sebesar 6000 A yang menghasilkan energi kuantum sebesar 2 eV atau 3 x 10 12

erg, seperti hasil perhitungan berikut.

6,6252 x 10 34 J .s 3 x 10 8 m
c
s
h h

6 x 10 7 m

Jadi
h 3 x 10 19 J 3 x 10 12 erg 2 eV

Karena pada pemisahan tersebut memiliki orde 10-5 maka U = 3 x 10-17 erg.
Melalui hubungan U I H e , dimana nilai He = 106 gauss maka didapat
nilai

I 10 23 amu . Nilai I yang didapatkan ini kira-kira dua kali nilai


magneton nuklir, N , dan ini sebanding dengan 1/1.000 nilai magneton
Bohr, B . Hasil ini sangat jelas menyatakan bahwa nilai momen magnetik
inti atom hampir sama dengan nilai magneton nuklir bukannya magneton
Bohr, yang menandakan bahwa tidak ada elektron di dalam inti atom.

12

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


Kesimpulan: Proton memiliki momen magnetik sekitar 0,15% dari momen
magnetik elektron, sehingga momen magnetik nuklir harus ber-orde sama
seperti elektron jika elektron berada dalam inti atom. Namun, momen
magnetik inti yang teramati hampir sama dengan momen magnetik proton
bukan dengan momen magnetik elektron. Ini merupakan penyimpangan yang
tidak dapat dimengerti jika benar elektron merupakan unsur penyusun
nuklir.
2.2.3 Mekanika Gelombang
Untuk menguji kemapanan hipotesis proton-elektron maka dilakukan
lagi pengujian dari segi mekanika gelombang. Berdasarkan mekanika
gelombang, panjang gelombang elektron ditentukan melalui persamaan de
Broglie yaitu:

h
h

p me v

dengan: p, me, dan v berturut-turut merupakan momentum, massa dan


kecepatan elektron. Jika benar elektron berada di dalam inti atom maka
panjang gelombang elektron seharusnya kurang atau sama dengan diameter
inti atom.
Menurut prinsip ketidakpastian didapat: x p h , dimana x dan p
menyatakan ketidakpastian posisi dan momentum dari elektron. Oleh karena
radius inti untuk atom yang memiliki nomor massa 200 adalah 0,6 x 10 -12 cm,
x 2 R 1,2 x 10 12 cm .

maka ketidakpastian posisi elektron adalah

Sehingga ketidakpastian momentum elektron adalah:


p

6,6 x 10 27 erg .s
h

5,5 x 10 15 erg .s
cm
x
1,2 x 10 12 cm

Sedangkan energi elektron dapat ditentukan melalui hubungan berikut.


E 2 p 2 c 2 mo2 c 2

2 2
Dimana mo c merupakan energi massa diam elektron. Asumsikan bahwa

nilai momentum elektron p tidak lebih besar dari p (sebab nilai p yang lebih
besar akan menyebabkan nilai E yang lebih besar pula). Substitusikan nilai p
ke persamaan (*) sehingga didapat:
13

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


E 2 p 2 c 2 mo2 c 2

E 2 5,5 x 10 15 3 x 10 8 9,11 x 10 28
2

E 2 2,7 x 10 8 6,5 x 10 13 erg 2


E 1,65 x 10 4 erg

3 x 10

8 2

1,65 x 10 4 erg
1,6 x 10 12 erg
eV

E 10,5 x 10 7 eV
E 105 MeV

Ternyata, energi kinetik elektron yang didapatkan memiliki orde 100,


sehingga dapat dipastikan bahwa nilai energi kinetik elektron akan bertambah
besar bila nilai momentum elektron lebih besar dari nilai p atau (p > p).
Sesuai dengan konsep ketidakpastian maka seharusnya energi kinetik elektron
sekurang-kurangnya 20 MeV. Namun elektron yang terpancar pada peluruhan
beta hanya berenergi 2 atau 3 MeV. Satu orde besar lebih kecil dari energi
yang seharusnya dimiliki jika elektron berada dalam inti.
Dari uraian di atas telah jelas menunjukkan bahwa proton yang
memiliki massa lebih besar dari elektron lebih pantas berada di dalam inti
daripada elektron. Oleh karena energi massa diam proton sebesar 938 MeV,
ini menunjukkan bahwa proton yang berada di dalam inti memiliki energi
kinetik sekitar 2-3 MeV, yang mana hasil ini sesuai dengan hasil eksperimen
yang telah didapatkan.
Berdasarkan pengujian terhadap ketiga hal tersebut di atas yaitu:
momentum anguler inti atom, momen magnetik dan mekanika gelombang
didapatkan bahwa hipotesis proton-elektron tidak mampu menjelaskan
keberadaan struktur inti atom yang mantap. Sehingga gagallah hipotesis
proton-elektron untuk menjelaskan keberadaan inti atom.
2.3 Penemuan tentang Neutron
Ketidakmapanan

hipotesis

proton-elektron

dalam

menjelaskan

keberadaan struktur inti atom menyebabkan para ilmuwan kembali mengadakan


eksperimen untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan dan mapan dalam
menjelaskan kemantapan suatu atom. Oleh karena itu, pada tahun 1920,
Rutherford sudah mulai mengidentifikasikan keberadaan neutron dalam inti
atom. Ia menyatakan bahwa neutron merupakan kombinasi tertutup proton dan
14

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


elektron. Eksperimen Rutherford mengenai hal tersebut menjadi cikal bakal bagi
penemuan neutron oleh Chadwik pada tahun 1932.
Adapun sejarah penemuan neutron akan diuraikan sebagai berikut. Pada
tahun 1930, fisikawan Jerman W. Bothe dan H. Becker menembaki berilium
dengan partikel alfa dari sampel polonium dan menemukan bahwa ada pancaran
radiasi yang mampu menembus bahan-bahan dengan mudah. Both dan Becker
meyakinkan bahwa radiasi ini bukan merupakan partikel bermuatan, dan
menganggapnya

bahwa

radiasi

itu

ialah

sinar

gamma

(gelombang

elektromagnetik yang panjang gelombangnya sangat kecil). Kemampuan radiasi


untuk menembus timbal yang tebalnya beberapa sentimeter tanpa terabsorbsi
menyatakan bahwa sinar gamma memiliki panjang gelombang sangat kecil.

polonium

radiasi

Berillium
Gambar (6)

Adapun sifat-sifat radiasi tersebut adalah:


a. Memiliki energi yang besar
b. Dapat menembus selembar bahan yang tebal
c. Tidak dapat mengionisasi
d. Tidak dapat menimbulkan jejak pada chamber awan
e. Tidak dipengaruhi oleh medan listrik dan magnetik
Untuk sifat pada point (a) dan (b) menunjukkan bahwa partikel memiliki energi
yang besar sedangkan point (c), (d) dan (e) menunjukkan sifat-sifat partikel tidak
bermuatan.
Ketika partikel alfa (memiliki energi kinetik K sebesar 5,7 MeV) dari
polonium ditembakkan pada berillium, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
9
4

Be 24 He K 136C 136 C h

15

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


dimana tanda (*) mengindikasikan bahwa atom karbon tersebut belum stabil.
Partikel alfa dan
karbon stabil

4
2

He bergabung membentuk

13
6

yang menghasilkan atom

C dan energi foton sebesar h . Besarnya energi foton yang

13
6

dihasilkan dapat diketahui melalui perhitungan sebagai berikut.


Cari dulu energi yang dihasilkan akibat adanya pengurangan massa pada reaksi
tersebut.
m Be m mC c 2

9,01505 4,00387 13,00748 amu


0,01144 amu
0,01144 931,4 MeV
10,7 MeV

E sebelum E sesudah
m Be c 2 K Be m c 2 K mC c 2 K C h

mBe m mC c 2 K K C
h 10,7 5,3 2 MeV

h 14 MeV

Jadi, energi foton yang dihasilkan dari reaksi tersebut sebesar 14 MeV,
energi ini cukup besar bila dihasilkan dari radiasi tersebut sehingga sangat tidak
mungkin bila energi ini dihasilkan dari sinar gamma pada unsur radioaktif
alamiah.
Fisikawan lain pun tertarik pada radiasi ini, dan sejumlah eksperimen
dilakukan untuk menentukan sifat-sifatnya secara terinci. Dalam salah satu
eksperimen semacam itu, Irene Curie dan F. Joliot mengamati bahwa jika radiasi
tersebut jatuh pada lempengan parafin, bahan yang kaya hidrogen, protonnya
terpukul keluar. Sepintas hal ini tidak mengejutkan, sinar-X dapat memberikan
energinya pada elektron dalam tumbukan Compton, dan tidak ada alasan mengapa
sinar gamma yang memiliki panjang gelombang kecil tidak dapat memberikan
energinya pada proton dalam proses yang sama.

poloniu
m

radiasi
Berillium

timbal

Created by Widiarini
Gambar (7). Partikel alfa yang jatuh pada selaput berillium menyebabkan adanya pancaran
radiasi yang memiliki daya tembus yang besar sehingga dapat menembus timbal.

16

The Atomic Nucleus

poloniu
m

radiasi

Berillium

Proton 5,7 MeV

parafin

Gambar (8). Proton berenergi hingga 5,7 MeV terlempar keluar bila radiasi tersebut
dijatuhkan pada lempengan parafin

55 MeV
Sinar gamma

parafin

Gambar (9). Jika radiasi tersebut adalah sinar gamma, maka energinya sekurangkurangnya harus sebesar 55 MeV.

5,7 MeV

Neutron

parafin

Gambar (10). Jika radiasi itu terdiri dari partikel netral yang massanya hampir sama
dengan massa proton, maka energinya tidak melebihi 5,7 MeV.

Curie dan Joliot melakukan eksperimen dengan meletakkan parafin


(materi yang banyak mengandung hidrogen) diantara sumber radioaktif alamiah
yaitu polonium dengan pengionisasi chamber. Hasilnya, proton terlempar keluar
sejauh 40 cm pada chamber tersebut. Kemudian percobaan ini diujikan lagi pada
17

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


material yang mengandung nitrogen, hasilnya mereka menemukan bahwa energi
rekoil proton sampai sekitar 5,7 MeV dan nitrogen sebesar 1,4 MeV.

h '

diam

Inti rekoil terhambur

Gambar (11)

Berdasarkan gambar di atas, jika radiasi yang tidak diketahui tersebut


diasumsikan sebagai sebuah foton berenergi tinggi sehingga mengakibatkan
adanya tumbukan antara foton dengan inti dan tumbukan ini diperlakukan sebagai
tumbukan Compton. Bila energi foton yang datang sebesar h maka besarnya
energi foton yang terhambur akibat bertumbukan dengan inti bermassa m yaitu
h ' dapat ditentukan melalui persamaan berikut.

h '

h
1 cos
mc 2

dengan adalah sudut yang dibentuk oleh foton terhambur dengan arah foton
datang (lihat gambar 10). Sedangkan energi inti rekoil bermassa m dapat
ditentukan melalui persamaan berikut.

h h ' h 1
h

1 cos
1

2
mc

Energi maksimum inti rekoil dapat ditentukan dengan mensubstitusikan nilai


= 180o maka nilai cos = -1. Sehingga persamaan di atas menjadi:

h h ' h 1
h

1
)

mc 2

18

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus

1
h h ' h 1
2h

1 2
mc

h h ' h

2h
1 2 1
mc
h

2 h
1

mc 2

2h

2
mc 2 h 2h : mc 2h
mc 2
2h
mc 2

1 2
mc

2h
mc 2
2 h

h 2
h h ' h 2 x 2

mc 2h
mc mc 2h

bagi dengan h

Maka diperoleh :

mc 2
2
h

h h '

Oleh karena, energi rekoil proton dan nitrogen telah diketahui maka sangat
mungkin untuk menentukan energi foton datang atau energi dari radiasi yang tidak
diketahui tersebut yaitu h . Berdasarkan persamaan (**), Curie dan Joliot
menemukan bahwa energi foton datang, h , yang diperlukan untuk mentransfer
energi kinetik proton (Kp) adalah sebesar 55 MeV. Sedangkan untuk nitrogen
adalah sebesar 90 MeV. Padahal energi dari radiasi yang tidak diketahui tersebut
adalah 12 MeV. Hasil yang didapat ini sangat mengherankan karena radiasi nuklir
yang telah diketahui hingga saat ini tidak sampai memiliki energi sebesar itu.
Pada tahun 1932, James Chadwick, rekan Rutherford berhasil memberikan
penjelasan yang lebih mantap mengenai radiasi yang tidak diketahui tersebut yang
mampu menjawab teka-teki tersebut. Pada percobaannya, ia tetap menggunakan
asumsi dasar Rutherford yang menyatakan neutron merupakan kombinasi tertutup
proton dan elektron. Chadwick menganggap bahwa radiasi yang tidak diketahui
tersebut merupakan partikel tidak bermuatan yang memiliki sifat-sifat yaitu: tidak
dapat mengionisasi, tidak dapat menimbulkan jejak pada chamber awan, dan tidak
dipengaruhi oleh medan listrik dan magnetik. Ia juga menyatakan bahwa radiasi
tersebut bukan radiasi kuantum artinya radiasi tersebut terdiri dari partikelpartikel

yang

massanya

sebanding

dengan

massa

proton.

Dengan
19

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


mengkombinasikan data mengenai energi rekoil proton dan nitrogen maka
didapatkan bahwa massa neutron hampir sama dengan massa proton. Massa
partikel tersebut dapat dicari dengan mengganggap bahwa tumbukan yang terjadi
adalah tumbukan berhadapan (head-on) antara partikel bermassa m1 dengan
kecepatan u dengan partikel bermassa m2 yang diam. Kecepatan kedua partikel
setelah bertumbukan adalah u1 dan u2 (perhatikan gambar 12).
m1 u1
m2
diam

m1 u

m2 u2

Gambar (12)

Karena tumbukan yang terjadi adalah head-on maka dalam peristiwa


tumbukan tersebut berlaku hukum kekekalan energi dan momentum. Sehingga:
EK awal EK akhir
1
2

m1u 2 12 m1u12 12 m2 u 22

Pawal Pakhir
m1u m1u1 m2 u 2
u1

m1u m2 u 2
m1

Substitusi persamaan (2) ke persamaan (1) maka didapat:

m1u m2u2 1
2 m2u22
m1

1
2

m1u 2 12 m1

1
2

m1u 2 12 m1

1
2

m1u 2 12 m1u 2 m2uu 2 12

1
2

m22u22 1
2 m2u22 m2uu 2
m1

m12u 2 2m1m2uu 2 m2 2u2 2 1


2 m2u22

m
1

m22u22 1
2 m2u22
m1

20

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus

1
2

m22

m2 u 22 m2 uu 2
m1

reduksi m2 dan u 2

m2

1 u 2 2 u
m1
m2 m1

u 2 2 u
m1

2m1
u
m1 m2

u 2

Bila persamaan (3) diterapkan pada proton dan elektron maka didapatkan
kecepatan maksimum up dan uN , dengan m1 adalah massa neutron yang akan
disimbolkan dengan m, sedangkan m2 merupakan massa proton atau nitrogen,
yang mana massa proton adala 1 amu dan nitrogen adalah 14 amu. Sehingga
persamaannya akan menjadi sebagai berikut:
up

2m
u
m 1

(4)

2m
u
m 14

(5)

dan
uN

Berdasarkan persamaan (4) dan (5), kita dapart mencari massa neutron:
2m
9 cm

u
m 1 3,3 x 10
m 1
s

u N 2m
m 14 4,7 x 10 8 cm
s

u
m 14
up

maka didapatkan :
m 1,15 amu

Nilai up dan uN yang dicantumkan didapatkan dari hasil eksperimen.


Adapun massa neutron yang didapatkan berdasarkan cara di atas memiliki
kesalahan sebesar 10%. Akan lebih baik bila menentukan massa neutron melalui
reaksi berikut.
11
5

B 24He147 N 01n

Massa neutron yang didapatkan melalui cara ini adalah berkisar antara (1,005 dan
1,008) amu.

Adapun massa neutron yang didapatkan adalah (1,008982

0,000003) amu.

21

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


Dengan menggunakan asumsi bahwa radiasi yang tidak diketahui itu
adalah neutron yang massanya hampir sama dengan proton maka reaksi antara
partikel alfa dengan

9
4
4
2

Be dapat ditulis menjadi:

He 49Be

12
6

C 01n

Efek pengurangan massa yang terjadi adalah:


M 126 C M 01 n M 49 Be M 24 He
0,00616 amu
0,00616 931,4 MeV
5,7 MeV

bila nilai tersebut dijumlahkan dengan energi kinetik partikel alfa sebesar 5,3
MeV maka didapatkan energi yang tersedia sebesar 11 MeV. Ini dapat digunakan
untuk menghitung energi rekoil atom lainnya seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya.
Bila tumbukan yang terjadi bukan tumbukan head-on, maka energi kinetik
K2 yang ditransfer ke m2 oleh partikel m1 dan energi kenetik K ditentukan melalui
persamaan berikut.
4 cos 2

K2

dengan

1 2

m2
dan adalah sudut yang dibentuk oleh m2 dengan arah awal
m1

partikel m1, dengan mensubstitusikan nilai = 180o maka nilai cos2 = 1.


Sehingga energi maksimum rekoil menjadi:
K2

1 2

Untuk proton nilai 1 sedangkan nitrogen nilai 14 , maka K p K dan


KN

56
1
K K . Sehingga untuk mendapatkan nilai K p 5,7 MeV dan nilai
225
4

K N 1,4 MeV

maka nilai K haruslah sebesar 5,7 MeV. Sehingga dapat

dinyatakan bahwa keberadaan neutron sebagai partikel tak bermuatan yang


memiliki massa hampir sama dengan proton adalah benar.

22

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


2.4 Hipotesis Proton-Neutron
Telah dibuktikan sebelumnya bahwa hipotesis proton-elektron mengenai
inti atom tidak mampu menjelaskan hasil-hasil eksperimen yang telah didapatkan.
Kesalahan utamanya terletak pada asumsi yang menyatakan bahwa elektron
berada di dalam inti atom. Sebelum adanya penemuan neutron, tidak ada alternatif
lain untuk menghitung banyaknya muatan yang terdapat di dalam inti atom
kecuali dengan menggunakan prinsip bahwa adanya sejumlah A-Z elektron di
dalam inti yang menetralisasikan muatan sebesar A-Z proton. Akhirnya, dengan
adanya penemuan neutron mengubah paradigma tersebut. Pada tahun 1932,
Heisenberg menyarankan bahwa ada partikel baru yang disebut neutron yang
menjadi dasar dari semuanya itu. Menurutnya, semua inti atom tersusun oleh
proton dan neutron, dan tidak ada elektron di dalamnya. Sebagai akibatnya, massa
neutron hampir sama dengan proton, dan tidak bermuatan. Sehingga massa inti
atom sama dengan massa proton ditambah dengan massa neutron yang ada di
dalam inti tersebut, sedangkan muatannya sama dengan total muatan proton yang
ada di dalam inti atom. Nama nukleon diberikan pada proton atau neutron.
Setelah ditemukannya neutron maka hipotesis proton-elektron digantikan
dengan hipotesis proton-neutron yang menyatakan bahwa:
Atom terdiri dari inti atom, yang mana inti atom tersusun oleh proton dan
neutron.
Pada inti atom terdapat Z proton dan A-Z neutron
Neutron tidak bermuatan sehingga muatan inti sama dengan total muatan
proton yang ada di dalam inti tersebut.
Berikut ini disajikan tabel mengenai sifat proton, neutron dan elektron.
Tabel 1.
Beberapa besaran dari neutron, proton dan elektron
Besaran
Massa
Muatan
Spin
Momen magnetik
Faktor g

Neutron
1,008982 amu
0
1/2
-1,9135 N
-3,83

Proton
1,00759 amu
+e
1/2
+2,7927 N
5,59

Elektron
1/1837 amu
-e
1/2
-1,0021 N
2
23

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


Berdasarkan tabel di atas dapat dinyatakan bahwa neutron, proton dan
elektron memiliki spin . Meskipun neutron tidak bermuatan tetapi ia memilki
nilai momen magnetik negatif, ini menandakan bahwa vektor momen magnetik
dan spin neutron berlawanan arah.
Model proton-neutron ini mampu menjelaskan semua hal yang tidak
mampu dijelaskan oleh hipotesis proton-elektron. Contohnya, bila terdapat A
partikel di dalam inti yang masing-masing partikel memilki spin , maka secara
teori inti dengan nomor massa genap harus memiliki spin bilangan bulat,
sedangkan inti dengan nomor massa ganjil harus memiliki spin setengah
bilangan bulat. Pertama, berdasarkan hipotesis proton-neutron, untuk

14
7

memiliki 7 proton, 7 neutron dan 14 partikel di dalam intinya sehingga nitrogen


memiliki spin berupa bilangan bulat. Prediksi ini cocok dengan hasil eksperimen
yang mendapatkan spin

14
7

adalah 1. Kedua, menurut hipotesis proton-

neutron, tidak ada elektron di dalam ini atom sehingga tidak perlu mungharapkan
momen magnetik inti sama dengan magneton Bohr. Dengan kata lain, momen
magnetik nuklir sama dengan magnetik nuklir. Ini sesuai dengan hasil
eksperimen yaitu I .

Selain itu, menurut prinsip ketikpastian Heisenberg

karena massa neutron hampir sama dengan massa proton maka sangat mungkin
neutron berada di dalam inti atom.

24

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


BAB III
PENUTUP
3.1

Simpulan
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut.
1. Beragamnya

pendapat

ahli

tentang

teori

atom

terjadi

seiring

berkembangnya eksperimen para ahli sehingga memberikan penjelasan


yang kurang jelas mengenai inti atom. Dalam hal ini Rutherford
memberikan penjelasan yang lebih jelas tentang konsep inti atom. Dia
berpandangan bahwa sebagian besar massa dan muatan positif atom
terkonsentrasi pada sebuah volume yang sangat kecil yang dinamakan inti
atom, sedangkan ruang yang lainnya di dalam atom hampir kosong. Dan
keseluruhan atom adalah netral.
2. Atom terdiri dari sebuah inti, dengan proton A dan elektron A-Z, dengan
sebuah muatan positif total Z dan inti diasumsikan dikelilingi oleh
elektron Z untuk membentuk atom yang netral. Hipotesis proton-elektron
mengalami kegagalan karena tidak mampu menjelaskan struktur
Hyperfine, ditemukan bahwa inti atom memiliki momentum sudut atau
spin berdasarkan garis Spektrum yang apabila dihubungkan dengan
momen magnet.
3. Ditemukannya Neutron diawali dengan penembakan partikel alpha
terhadap unsur radioaktif dan memiliki sifat memiiki energi yang besar,
dapat menembus selembar bahan yang cukup tebal, tidak dapat
mengionisasi,

tidak

dipengaruhi

oleh

medan

listrik,

dan

tidak

menimbulkan jejak pada chamber awan. Neutron merupakan suatu bentuk


interaksi tertutup antara proton elektron. Neutron adalah partikel yang
tidak memiliki muatan. Jika netron dengan kecepatan tinggi dapat
menembus inti atom, ia dapat mengeluarkan proton.
4. Hipotesis proton-neutron pertama kali digunakan oleh Heisenberg tahun
1932. Heisenberg megemukakan bahwa jumlah total partikel dasar dalam
A dari inti yang berat atomnya mendekati Z dan jumlah neutron A-Z.
25

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


Neutron memiliki spin setengah bulat yaitu 1/2h/2. Sesuai aturan bahwa
neutron dan proton akan merupakan bilangan bulat atau setengah bulat
kelipatan dari h/2 sesuai dengan A genap maupun ganjil.
3.2

Saran
Melalui pemahaman mengenai inti atom maka diharapkan kita sebagai calon
pendidik nantinya mampu mentransfer ilmu yang telah kita miliki kepada anak
didik dengan baik. Sehingga sangat perlu untuk memperdalam lagi pemahaman
kita mengenai materi tersebut.

26

Created by Widiarini

The Atomic Nucleus


DAFTAR PUSTAKA
Allya.

. Physics Nuclear.

Beiser, Arthur.1999. Konsep Fisika Modern Edisi Keempat. Jakarta: Penerbit


Erlangga.
Kanginan, Marthen. 2002. Fisika Untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Penerbit Erlangga.

27

Created by Widiarini